Category Archives: Musik

Memilih Lagu Untuk Penampilan

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh seorang performer dalam manggung adalah memilih lagu yang akan dibawakan. Ada batasan waktu, (jenis) penonton, tema dari acara, ketersediaan alat, dan kesiapan sang performer sendiri. Masalah selera juga menjadi bahan pertimbangan.

Dalam manggung beberapa hari yang lalu, saya dan anak saya harus memilih lagu untuk tampil berdua. Masalahnya adalah apakah lagu yang kami pilih itu berdasarkan yang disukai oleh penonton – biasanya lagu yang terkenal – ataukah lagu yang kami sukai (yang boleh jadi agak sedikit eksperimental)? Ada perbedaan dari selera. Akhirnya kami pilih jalan tengah; kami pilih satu lagu yang mungkin dikenal banyak orang dan lagu lainnya adalah lagu yang kami sukai. Pilihan ini  berisiko penonton tidak terlalu suka. Biar saja. Mumpung kesempatannya cocok untuk eksperimen. Ini yang kami pilih.

IMG_6380 playlist

  1. Extreme – More than words
  2. Bullet for My Valentine – A place where you belong
  3. Goo Goo Dolls – Name
  4. Hall & Oates – Do it for love
  5. Boston – More than a feeling

Lagu nomor 4 dan 5 itu hanya untuk cadangan saja. Lagu pertama banyak yang kenal sehingga mudah dinikmati. Lagu-lagu selanjutnya sebetulnya juga lagu yang dikenal oleh para follower dari band-band tersebut. hi hi hi. Lagu no 2 merupakan lagu beraliran metal, tetapi kami coba bawakan dengan akustikan. Lagu no 3 menggunakan tuning gitar yang aneh (dua string di bawah adalah E) tetapi karena kami tidak mungkin berganti-ganti gitar untuk setiap lagu akhirnya kami menggunakan tuning yang biasa. Ini membuat chordnya menjadi sulit dan suaranya kurang persis dengan aslinya.

Begitulah kesulitan yang dihadapi oleh musisi/artis/performer ketika akan manggung, milih lagu. Dan kesulitan ini akan terjadi lagi untuk manggung berikutnya. Oh ya, saya juga harus milih satu lagu untuk penampilan band saya yang lain di ruang terbuka. Yang ini harus lagu yang gembira dan sedikit funky. Hmmm… apa ya? Ada banyak lagu yang sebetulnya saya ingin bawakan tapi sudah hampir pasti bandnya tidak setuju. hi hi hi. Mikir dulu ah.

Jreng!


Acara Insan Music Store

Eh, jangan lupa, siang ini (Minggu, 12 Oktober 2014) … mulai pukul 13:00 Insan Music Store akan hadir di Krang Kring Cafe (jl. Ciliwung, Bandung). Selain akan memberikan penjelasan mengenai toko musik digital kami, ada penampilan dari beberapa band yang sudah ada di toko musik kami.

Sampai jumpa di sana …


Acara Toko Musik Digital: Insan Music Store

Bagi Anda yang ingin mengetahui toko musik digital kami, Insan Music Store, silahkan hadir di acara kami yang akan diselenggarakan.

Minggu, 12 Oktober 2014

Tempat: Krang Kring Cafe (Jl. Ciliwing, Bandung)

Bagi band-band atau artis-artis yang ingin memasukkan lagu-lagunya ke toko musik digital kami, silahkan langsung hadir di sana dengan membawa lagu-lagunya. Ditunggu …

Flyer Insan Music


Top Progressive Rock Album

Kemarin, 21 September 2014, adalah hari prog internasional. Maka para penggemar musik progressive rock membuat daftar 10 album terbaik musik progressive rock menurut masing-masing. Sekarang saya mau ikutan mencoba.

international prog day

Ternyata untuk memilah-milah mana album yang perlu masuk ke dalam ranking 10 itu tidak mudah. Mari saya coba.

  1. Genesis – And Then There Were Three
  2. Genesis – Foxtrot
  3. Genesis – Selling England by the Pound
  4. Kansas – Leftoverture
  5. Yes – Going for the One
  6. Marillion – Misplaced Childhood
  7. Genesis – Duke
  8. Blackfield
  9. Jadis – More Than Meets the Eye
  10. Genesis – Nursery Crime

Secara saya itu penggemar musik Genesis, sehingga tentu saja saya akan meletakkan album-album Genesis pada daftar album progressive rock. Ini mungkin tidak aneh. Sebetulnya saya mau masukkan semua albumnya, tapi jadi tidak lucu. Itu alasan mengapa banyak album Genesis di sana. Secara album, banyak orang yang tidak suka album “and then there were three”. Bagi saya ini album yang paling banyak saya putar ketika saya masih SMA. Jadi dia yang paling melekat.

Untuk album Kansas Leftoverture, ini album yang mungkin bagi sebagian orang bukan masuk kategori prog tetapi lebih ke arah (classic) rock. Kita bisa berdiskusi – berdebat – tentang definisi dari prog. Bagi saya album ini termasuk album progressive rock. Selain lagu-lagunya, cover dari album ini merupakan salah satu cover art yang saya sukai.

Album yang sebetulnya sering saya suka putar  secara komplit adalah Yes – Going for the one. Seharusnya album ini saya letakkan di paling atas. Hmmm… mikir …

Kalau album Marillion yang itu, merupakan album pertama kalinya saya mengenal Marillion dengan lebih intensif.

Blackfield merupakan album proyekan yang sebetulnya lebih condong ke pop, tetapi saya masukkan ke dalam list ini deh karena ini proyekan dari Steven Wilson (dedengkot / gitaris Porcupine Tree).

Tentang Jadis. Tidak banyak yang tahu band dari Inggris ini. Mereka mengeluarkan banyak album juga tetapi diterima biasa-biasa saja. Bagi saya album-album Jadis banyak yang bagus. Nah, album ini yang banyak saya putar. Maka dia saya tampilkan dalam daftar.

Album-album lain yang saya sukai juga, tetapi karena tugasnya hanya top-10 sehingga tidak masuk di daftar atas, antara lain:

  1. Pink Floyd – Animals
  2. Camel – Raindances
  3. Genesis – a trick of the tail
  4. Transatlantic – Whilrwind
  5. Chris Squire – Fish Out of Water
  6. Porcupine Tree – In Absentia
  7. Supertramp – Breakfast in America
  8. Asia
  9. Dream Theater – Images and Words
  10. Richard Wright – Wet Dream
  11. … dan banyak lagi … hi hi hi … (ini karena saya di komputer mobile, tidak ingat koleksi progrock saya lainnya)

Oh ya, salah satu cara saya memantau lagu-lagu yang saya putar (untuk mendapatkan statistik diri sendiri) adalah dengan menggunakan last.fm. Asyik mengetahui sebetulnya lagu apa saja yang kita dengarkan.


Kapan Memberikan Brosur?

[Seri tulisan entrepreneurship]

Ceritanya begini. Anda sering melihat orang-orang membagikan brosur yang menawarkan produk atau layanan, bukan? Saya juga. Kadang kita sebal karena orang yang menawarkan brosur tersebut tampak maksa. Padahal kita tidak tertarik. Nah, saya akan memberikan pandangan dari sisi lain – dari sisi yang memberikan brosur tersebut.

Selebaran brosur itu bermanfaat untuk memberikan informasi kepada (calon) pelanggan mengenai produk atau layanan kita. Seringkali orang malu atau enggan bertanya. Mereka hanya melihat tulisan atau banner tetapi masih banyak pertanyaan. Sayangnya mereka sungkan untuk bertanya. Nah, untuk orang-orang seperti ini brosur sangat tepat.

Memberikan brosur kepada orang yang tidak memerlukan merupakan hal yang tidak efektif. Selain itu, brosur yang terbuang ini akan menjadi sampah dan tidak ramah lingkungan. Pegawai kadang diberikan target untuk memberikan brosur. Mereka tidak peduli tepat atau tidaknya. Yang penting brosur habis. Ini yang salah. Uang untuk brosur jadi tidak manfaat.

Mengenai kepada siapa brosur tersebut diberikan ternyata tidak mudah. Seperti tadi pagi, di acara Bandung Car Free Day, kami membuka lapak Insan Music Store. Kami juga membagi-bagikan brosur tetapi selektif kepada orang yang kelihatan berminat saja. Menentukan orang yang berminat ini yang susah. Jadi, saya melihat orang-orang yang lewat. Kalau mereka membaca banner kami dengan waktu yang cukup lama dan kelihatan tertarik barulah saya mendekat dan membagikan brosur. Kebanyakan orang hanya melengos saja. (Ini juga mungkin karena sulitnya penempatan banner kami. Di masa yang akan datang, enaknya kami membawa layar komputer yang besar dan biar mereka melihat sendiri saja. Ini lebih menarik.) Akibat pendekatan ini brosur tidak banyak yang kami bagikan, tetapi nampaknya efektif. Itu yang penting.

Next time: bawa genset + layar besar + sound system. Eh, ini mah buat panggung sendiri saja ya? hi hi hi.


Lagu Kritik Sosial

Perhatikan lagu-lagu Indonesia saat ini. Perhatikan liriknya. Apa yang kita dapati? Kebanyakan liriknya bernuansa cinta. Bahkan lebih spesifik lagi, liriknya bertemaka “aku cinta aku”. hi hi hi. Ya, Anda tidak salah baca. Aku cinta aku. Narsis. hi hi hi.

Nampaknya lirik lagu yang bertemakan kritik sosial sudah hampir punah. Atau jangan-jangan memang sudah punah. Seniman sudah tergerus oleh jaman. Selling out. Menggadaikan diri kepada industri. Maka senimanpun tersingkirkan.

Barusan saya mendengarkan lagu ini, “Jesus He Knows Me” yang dibawakan oleh group Genesis. Lagu ini menceritakan komersialisasi agama. Ah, ternyata tidak hanya di Indonesia, di luar negeri pun sama saja. Agama sudah dikomersialisasikan. Ayat-ayat suci dijadikan pembenaran.

Kalau lagu seperti ini dibuat di Indonesia, mungkin artisnya bakalan digeruduk massa ya? Soalnya ini sangat menyindir “ustadz”. hi hi hi. Bagaimana menurut Anda?

Sebetulnya bukan tidak ada lagu-lagu yang berisi kritik sosial, tetapi langka. Apa lagu kesukaan Anda?


Lagu Super Lawas

Seperti yang sudah-sudah, tadi pagi kami buka lapak Insan Music Store di Bandung Car Free Day (CFD). Saya berdiri di pinggir jalan dengan mengalungi gitar. Pura-puranya ngamen gitu.

Untuk ketiga kalinya ada seorang tua yang datang ke tempat kami. Dia mengira saya menerima permintaan untuk menyanyikan lagu. Maka mulailah dia menyanyikan lagu super lawas. Kalau sebelumnya, yang diminta adalah lagu “Masiro ki Fujino”(?) maka kali ini adalah lagu “Saputangan Bandung Selatan”. Saya pernah mendengar kedua lagu tersebut ketika masih kecil. (SD?) Maka dengan terbata-bata saya mencoba menyanyikan lagu itu dengan mereka.

Ternyata ada pasar lagu super lawas untuk orang-orang seperti mereka. Mereka ingin mengenang masa lalu, ketika mereka masih muda atau masa perjuangan dahulu. Sayangnya lagu-lagu seperti itu tidak ada di toko dan tidak ada lagi orang yang memainkannya. Diputar di radio? Rasanya sangat jarang atau bahkan tidak pernah. Maka begitu ada yang menyanyikan lagu tersebut, mereka senang sekali. Ada rasa senang juga karena membuat mereka senang. They have contributed a lot to this country. The very least we can do is to make them happy. At least for a moment.

Jenis lagu yang dekat dengan lagu-lagu yang mereka sukai mungkin adalah keroncong. Hmmm


Buka Lapak Musik di Bandung CFD

Tadi, kami buka lapak (start up) toko musik digital kami Insan Music Store (twitter: @insanmusic, facebook: insan music store) lagi di Bandung Car Free Day. Kali ini lokasinya di depan kantor BRI (depan hotel Patra Jasa). Kebetulan rekan-rekan di sana mendukung kegiatan ini. Terima kasih BRI.

Kali ini acaranya merupakan gabungan dari tiga kegiatan; (1) Insan Music Store saya, (2) C-generation-nya pak Suhono, dan (3) Kelompok robotnya pak Soni AVRG. Acara ini juga didukung oleh Telkomsel (dengan Simpati Loop-nya). Seru acaranya. Pak Suhono dan pak Soni nanti biar cerita yang lainnya, saya mau cerita tentang lapak musik digital saya saja ya.

IMG_4625 robot avrg 1000

Robot (hexapod?) karya mahasiswa ITB asuhan pak Soni AVRG.

Kesempatan kali ini kami manfaatkan untuk manggung. Saya dan anak (Luqman) manggung 2 lagu, kemudian dilanjutkan dengan band Kasmaran (4 lagu), dan band Memories (2 lagu). Sebetulnya kami menunggu band-band lainnya untuk ikut tampil, tetapi acara kali ini terlalu singkat. Jadi lumayanlah tadi. Tiga band saja sudah habis waktunya. Lain kali kita buat waktunya yang lebih panjang sehingga bisa lebih banyak yang manggung ya.

DSC_3417 LR BR 1000

Father and Son Music

IMG_4629 kasmaran band 1000

Kasmaran Band

DSC_3456 memories band 1000

Memories Band

Sebagaian foto  dapat dilihat di akun twitter dan halaman facebook Insan Music Store. Foto-foto lainnya menyusul.

Minggu ini fokus kami memang masih pada pengenalan toko musik digital kami dan mencari band atau artis yang ingin bergabung. Dua minggu lagi kami akan mulai melakukan penjulan dan tentunya masih juga mencari lagu-lagu yang akan kami jualkan.

Sukses! Jreng!


Insan Music Store

Progress dari toko musik digital kami.

Pertama, situs web sudah siap di www.insanmusic.com. Masih sederhana dan akan diperbaharui secara berkala. Yang penting up and running dulu. hi hi hi.

Kedua, hari Minggu ini (4 Mei 2014) kami akan buka lapak kembali di Bandung Car Free Day (CFD). Tempatnya di depan Bank BRI. Acaranya jam 7 pagi sampai jam 10 pagi. Jika Anda memiliki lagu dan siap untukj didistribusikan melalui toko musik kami, bawa langsung ke sana dan tanda tangan kontrak di sana.


Software Musik Open Source

Kemarin saya memberikan presentasi tentang software-software musik open source di acara ICrOSS 2014 (Indonesia Creative Open Source Software), yang diselenggarakan di hotel Bumi Surabaya. Pada intinya sekarang sudah banyak software untuk musik yang berbasis open source; mulai dari music player, composer, MIDI sequencer, sampai ke untuk rekaman dengan kualitas studio.

Salah satu yang kami demokan di acara itu adalah Ardour. Lihat situs webnya deh. Ini sebuah aplikasi yang komplit, yang dapat digunakan untuk merekam lagu dalam bentuk audio dan MIDI. Kualitasnya tidak kalah dengan yang proprietary. Saya sendiri lebih sering menggunakan Audacity, untuk merekam genjrengan sendiri atau bahkan untuk mengubah dari kaset ke MP3. Sayangnya tidak banyak studio yang tahu tentang aplikasi-aplikasi ini. Kebanyakan masih menggunakan software bajakan atau menggunakan versi gratisannya yang terbatas.

Di akhir presentasi ada tanya jawab. Salah satu pertanyaannya adalah adakah komunitas yang ngoprek software musik open source ini di Indonesia?


Karakteristik Bandung Car Free Day

Hari ini untuk kedua kalinya kami buka lapak toko musik digital kami (Insan Music Store) di Bandung Car Free Day (CFD). Tujuannya masih seperti sebelumnya, yaitu untuk memperkenalkan layanan kami. To test the market, sort of speak.

Saya melihat bahwa tujuan mayoritas dari pengunjung CFD adalah untuk berjalan-jalan. Berolahraga sambil rileks dengan keluarga atau teman. Tadinya saya pikir kebanyakan adalah duduk nongkrong beli ini dan itu. Ternyata mereka tidak membeli. Mereka berjalan. Saya perhatikan yang jualan minuman di samping stand kami tidak berhasil menjual minumannya. Sebetulnya terjual tetapi nampaknya tidak seperti yang dia harapkan. Di depannya, jualan es lilin, demikian pula. Samping kanan jauh, jualan otak-otak juga demikian. Ada yang beli tetapi tidak banyak.

Untungnya tujuan kami berada di sana bukan – belum – untuk berjualan tetapi justru untuk mendapatkan lagu-lagu dari artis / band yang sudah memiliki lagu dalam format digital. Nampaknya kalau untuk berjualan, mungkin CFD bukan tempatnya. Entahlah kalau kami nanti sudah mulai menggelar lapak digital kami; lengkap dengan access point dan notebook untuk mendengarkan musik. We’ll see.

Saya belum tahu apakah yang berjualan di Gasibu (sekarang seberangnya, yang lebih dekat ke Unpad) memiliki karakterisik yang sama atau tidak. Mungkin ada yang tahu? Sementara ini kalau Anda ingin berjualan dengan skala yang besar di CFD, pikir-pikir dulu.


Masih Soal Toko Musik Digital

Beberapa hari ini saya masih memikirkan soal toko musik digital kami. Hari Minggu – ya, betul, besok! – kami mau buka lapak di Bandung Car Free Day. Ini sih modal nekad saja. Pasalnya kalau tidak diniatkan dan dinekadkan begini mungkin tidak maju-maju. Jadi besok mau buka lapak saja.

Tujuan utama besok adalah untuk melihat situasi pasar, memperkenalkan diri, dan mencari band / artis / musisi yang berminat memasukkan lagunya di toko musik kami. Itu saja. Jadi hari ini saya masih kirim email ke sana ke mari untuk memberitahu soal ini. Dadakan juga sih. Soalnya hari-hari sebelumnya saya disibukkan oleh urusan kuliah dan sejenisnya.

Semoga lancar besok. Jreng!


Jual Beli Musik Digital

Setelah vakum (2 tahun?) saya akan mulai jual beli musik digital (MP3) lagi. Aplikasi sistem pengelolaan jual beli musik digital ini sudah siap dan hari Minggu ini akan kita cobakan di tempat Bandung Car Free Day. Bagi Anda (band, pemusik, dll.) yang telah memiliki lagu-lagu dalam format MP3 dan siap dijualkan, silahkan hadir di sana.

Insan Musik FAQ


Musik Yang Saya Dengarkan

Hebatnya teknologi informasi adalah dia dapat membantu untuk mengerti tentang diri kita sendiri. Saya ingin tahu sebetulnya musik apa saja yang saya dengarkan dan siapa saja yang saya sukai. Ada layanan “Last.fm” yang mencatat lagu-lagu apa saja yang saya dengarkan dan membuat statistik tentang hal itu. Berikut ini adalah top 5 artis / band yang saya dengarkan.

last-fm-2014

Saya tidak heran dengan hasilnya. Memang saya menggemari musik berjenis progressive rock. Maka dari itu tempat teratas adalah Genesis. Saya tidak perlu menjelaskan tentang Genesis ya karena dia sudah merupakan band yang sangat populer.

Dua band lagi, Blackfield dan Jadis juga memiliki jenis musik yang berbau progressive rock meskipun yang Blackfield sendiri lebih pop. Blackfield merupakan kolaborasi dari Steven Wilson (yang biasanya dikenal orang sebagai gitaris dan composer band Porcupine Tree) dan penyanyi Aviv Geffen. Bau-bau progressive rock muncul dari Steven Wilson – yang mana saya menyukai komposisinya. Jadis merupakan band dari gitaris Gary Chandler. Dia biasanya mengajak kawannya dari band IQ, yang merupakan band progressive rock. Jadi itulah warna progressive rocknya. Oh ya ini juga menunjukkan betapa saya menyukai komposisi yang dibuat oleh gitaris :)

Beatles? Tak perlu saya jelaskan meskipun saya sempat kaget anak-anak muda sekarang banyak yang tidak tahu siapa itu Beatles. Hadoh. Ampuuunnn deh.

Ada Band merupakan band favorit saya – sampai-sampai saya pernah membuat situs web untuk mendaftar lagunya. hi hi hi. Sayang sekali mereka tidak seproduktif dulu. (Saya juga menyayangkan Khrisna Balagita tidak di situ lagi, tetapi saya menyukai keduanya – karya Ada Band dan karya Khrisna. I just wish they can be together again.) Yang menarik dari statistik ini adalah ada band dari Indonesia yang ternyata mencuat di dalam statistik saya. Satu lagi yang dulunya menempati tempat teratas adalah Chrisye, tetapi sayangnya saya sekarang mulai jarang mendengarkan lagu Chrisye sehingga dia hanya ada di urutan nomor 10. Tapi jangan salah, saya selalu menyukai karya alm. Chrisye.

Jreng!


Menemukan Sound System Lama (Pioneer, Sansui, Akai)

Bongkar-bongkar gudang, eh nemu sound system lama saya yang dulu saya gunakan ketika SMA sampai dengan mahasiswa. Sound system ini masuk gudang rumah orang tua saya ketika saya sekolah ke Kanada untuk waktu yang cukup lama. Terakhir saya pakai sound system ini di tahun 1987. Sudah lebih dari 20 tahun! Dan selama ini dia berada di gudang.

Peralatan sound system saya ini ternyata masuk kategori “vintage solid state”. Pastinya “vintage” karena sudah kuno. ha ha ha. Tetapi secara serius, peralatan ini cukup bagus untuk jamannya. Saya yakin suaranya juga lebih mantap dari ampli-ampli murahan sekarang.

Yang pertama adalah amplifier Pioneer SA-500. (Foto di bawah.) Suaranya boleh juga lah. Dia memiliki beberapa input yang bisa dipilih. Dulu saya gunakan untuk tape deck dan turn table (pemutar piringan hitam).

DSC_2207 ampli 1000

Yang kedua adalah equalizer Sansui SE-5. Dulu, Sansui ini cukup terkenal untuk equalizer.

DSC_2218 sansui 1000

Yang ketiga adalah reel-to-reel player Akai X-150D. Sayang sekali saya sudah tidak punya reel (pita yang digulung) yang bisa dipasang untuk perangkat ini. Kalau dijual berapa ya harganya? Oh ya, belum saya cek juga dia masih jalan atau tidak karena ini banyak mekaniknya. Dulu ini saya pakai untuk merekam. Lumayan, bisa 4 track … eh, atau hanya dua track tapi bisa rekam kiri dan kanan secara terpisah gitu?

DSC_2234 akai 1000

Sayang juga kalau sound system ini hanya teronggok di gudang ya. Dugaan saya, kecuali yang reel to reel player, mereka masih berfungsi. Nanti harus saya coba lagi. Kalau tidak jalan pun mereka masih bisa bermanfaat sebagai parts bagi yang membutuhkannya. Saya akan mencoba menyalakan amplifier dan equalizernya. Soalnya saya juga menemukan kembali turn table (pemutar piringan hitam) saya. Dia membutuhkan amplifier ini. Hanya saja turn table saya jarumnya sudah hilang. Hayah.

Vintage sound system memang keren euy.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.852 pengikut lainnya.