Arsip Kategori: Musik

Karakteristik Bandung Car Free Day

Hari ini untuk kedua kalinya kami buka lapak toko musik digital kami (Insan Music Store) di Bandung Car Free Day (CFD). Tujuannya masih seperti sebelumnya, yaitu untuk memperkenalkan layanan kami. To test the market, sort of speak.

Saya melihat bahwa tujuan mayoritas dari pengunjung CFD adalah untuk berjalan-jalan. Berolahraga sambil rileks dengan keluarga atau teman. Tadinya saya pikir kebanyakan adalah duduk nongkrong beli ini dan itu. Ternyata mereka tidak membeli. Mereka berjalan. Saya perhatikan yang jualan minuman di samping stand kami tidak berhasil menjual minumannya. Sebetulnya terjual tetapi nampaknya tidak seperti yang dia harapkan. Di depannya, jualan es lilin, demikian pula. Samping kanan jauh, jualan otak-otak juga demikian. Ada yang beli tetapi tidak banyak.

Untungnya tujuan kami berada di sana bukan – belum – untuk berjualan tetapi justru untuk mendapatkan lagu-lagu dari artis / band yang sudah memiliki lagu dalam format digital. Nampaknya kalau untuk berjualan, mungkin CFD bukan tempatnya. Entahlah kalau kami nanti sudah mulai menggelar lapak digital kami; lengkap dengan access point dan notebook untuk mendengarkan musik. We’ll see.

Saya belum tahu apakah yang berjualan di Gasibu (sekarang seberangnya, yang lebih dekat ke Unpad) memiliki karakterisik yang sama atau tidak. Mungkin ada yang tahu? Sementara ini kalau Anda ingin berjualan dengan skala yang besar di CFD, pikir-pikir dulu.


Masih Soal Toko Musik Digital

Beberapa hari ini saya masih memikirkan soal toko musik digital kami. Hari Minggu – ya, betul, besok! – kami mau buka lapak di Bandung Car Free Day. Ini sih modal nekad saja. Pasalnya kalau tidak diniatkan dan dinekadkan begini mungkin tidak maju-maju. Jadi besok mau buka lapak saja.

Tujuan utama besok adalah untuk melihat situasi pasar, memperkenalkan diri, dan mencari band / artis / musisi yang berminat memasukkan lagunya di toko musik kami. Itu saja. Jadi hari ini saya masih kirim email ke sana ke mari untuk memberitahu soal ini. Dadakan juga sih. Soalnya hari-hari sebelumnya saya disibukkan oleh urusan kuliah dan sejenisnya.

Semoga lancar besok. Jreng!


Jual Beli Musik Digital

Setelah vakum (2 tahun?) saya akan mulai jual beli musik digital (MP3) lagi. Aplikasi sistem pengelolaan jual beli musik digital ini sudah siap dan hari Minggu ini akan kita cobakan di tempat Bandung Car Free Day. Bagi Anda (band, pemusik, dll.) yang telah memiliki lagu-lagu dalam format MP3 dan siap dijualkan, silahkan hadir di sana.

Insan Musik FAQ


Musik Yang Saya Dengarkan

Hebatnya teknologi informasi adalah dia dapat membantu untuk mengerti tentang diri kita sendiri. Saya ingin tahu sebetulnya musik apa saja yang saya dengarkan dan siapa saja yang saya sukai. Ada layanan “Last.fm” yang mencatat lagu-lagu apa saja yang saya dengarkan dan membuat statistik tentang hal itu. Berikut ini adalah top 5 artis / band yang saya dengarkan.

last-fm-2014

Saya tidak heran dengan hasilnya. Memang saya menggemari musik berjenis progressive rock. Maka dari itu tempat teratas adalah Genesis. Saya tidak perlu menjelaskan tentang Genesis ya karena dia sudah merupakan band yang sangat populer.

Dua band lagi, Blackfield dan Jadis juga memiliki jenis musik yang berbau progressive rock meskipun yang Blackfield sendiri lebih pop. Blackfield merupakan kolaborasi dari Steven Wilson (yang biasanya dikenal orang sebagai gitaris dan composer band Porcupine Tree) dan penyanyi Aviv Geffen. Bau-bau progressive rock muncul dari Steven Wilson – yang mana saya menyukai komposisinya. Jadis merupakan band dari gitaris Gary Chandler. Dia biasanya mengajak kawannya dari band IQ, yang merupakan band progressive rock. Jadi itulah warna progressive rocknya. Oh ya ini juga menunjukkan betapa saya menyukai komposisi yang dibuat oleh gitaris :)

Beatles? Tak perlu saya jelaskan meskipun saya sempat kaget anak-anak muda sekarang banyak yang tidak tahu siapa itu Beatles. Hadoh. Ampuuunnn deh.

Ada Band merupakan band favorit saya – sampai-sampai saya pernah membuat situs web untuk mendaftar lagunya. hi hi hi. Sayang sekali mereka tidak seproduktif dulu. (Saya juga menyayangkan Khrisna Balagita tidak di situ lagi, tetapi saya menyukai keduanya – karya Ada Band dan karya Khrisna. I just wish they can be together again.) Yang menarik dari statistik ini adalah ada band dari Indonesia yang ternyata mencuat di dalam statistik saya. Satu lagi yang dulunya menempati tempat teratas adalah Chrisye, tetapi sayangnya saya sekarang mulai jarang mendengarkan lagu Chrisye sehingga dia hanya ada di urutan nomor 10. Tapi jangan salah, saya selalu menyukai karya alm. Chrisye.

Jreng!


Menemukan Sound System Lama (Pioneer, Sansui, Akai)

Bongkar-bongkar gudang, eh nemu sound system lama saya yang dulu saya gunakan ketika SMA sampai dengan mahasiswa. Sound system ini masuk gudang rumah orang tua saya ketika saya sekolah ke Kanada untuk waktu yang cukup lama. Terakhir saya pakai sound system ini di tahun 1987. Sudah lebih dari 20 tahun! Dan selama ini dia berada di gudang.

Peralatan sound system saya ini ternyata masuk kategori “vintage solid state”. Pastinya “vintage” karena sudah kuno. ha ha ha. Tetapi secara serius, peralatan ini cukup bagus untuk jamannya. Saya yakin suaranya juga lebih mantap dari ampli-ampli murahan sekarang.

Yang pertama adalah amplifier Pioneer SA-500. (Foto di bawah.) Suaranya boleh juga lah. Dia memiliki beberapa input yang bisa dipilih. Dulu saya gunakan untuk tape deck dan turn table (pemutar piringan hitam).

DSC_2207 ampli 1000

Yang kedua adalah equalizer Sansui SE-5. Dulu, Sansui ini cukup terkenal untuk equalizer.

DSC_2218 sansui 1000

Yang ketiga adalah reel-to-reel player Akai X-150D. Sayang sekali saya sudah tidak punya reel (pita yang digulung) yang bisa dipasang untuk perangkat ini. Kalau dijual berapa ya harganya? Oh ya, belum saya cek juga dia masih jalan atau tidak karena ini banyak mekaniknya. Dulu ini saya pakai untuk merekam. Lumayan, bisa 4 track … eh, atau hanya dua track tapi bisa rekam kiri dan kanan secara terpisah gitu?

DSC_2234 akai 1000

Sayang juga kalau sound system ini hanya teronggok di gudang ya. Dugaan saya, kecuali yang reel to reel player, mereka masih berfungsi. Nanti harus saya coba lagi. Kalau tidak jalan pun mereka masih bisa bermanfaat sebagai parts bagi yang membutuhkannya. Saya akan mencoba menyalakan amplifier dan equalizernya. Soalnya saya juga menemukan kembali turn table (pemutar piringan hitam) saya. Dia membutuhkan amplifier ini. Hanya saja turn table saya jarumnya sudah hilang. Hayah.

Vintage sound system memang keren euy.


Analog Media

Dua minggu yang lalu saya menjelaskan tentang analog dan digital media di kelas. Maka kemarin, saya bawa piringan hitam untuk menunjukkan kepada mahasiswa. Kebetulan yang saya bawa adalah album dari Boston dan Lionel Richie. Sayangnya saya tidak punya pemutarnya yang bisa dibawa ke kelas. Jadi pas muter lagu Boston, kurang terdengar garangnya. he he he. (Sebelum kelas dimulai, saya putar videonya Steven Wilson, Drive Home.)

vinyl 1000

[Ini foto kedua album tersebut. Dipotret di ruang kerja saya.]

Sebetulnya saya juga membawa kaset ke kelas, tetapi ini tidak begitu menarik. Mereka sudah tahu apa itu kaset dan tidak menarik bagi anak-anak sekarang, yang notabene mendengarkan MP3.

Sebetulnya saya ingin menunjukkan musik digital, yaitu dengan MIDI dan kawan-kawannya. Tapi persiapannya nampaknya harus lebih berat lagi. Ya kapan-kapan deh.


Belajar Memotret Acara Musik

Memotret music show bukanlah pekerjaan yang mudah. Masalah yang dihadapi adalah cahaya yang sedikit (lemah) dan musisi yang banyak bergerak. hi hi hi. Sementara itu kamera saya juga yang masih kelas pemula. Eh, masalahnya bukan di kameranya saja, tetapi lebih karena saya baru pemula untuk urusan ini. Akibatnya, potret sering terlihat kabur.

Semalam saya hadir di acara musik “And then there were two for the show”, yang merupakan acara musik progressive rock Genesis dan Kansas. Sekalian karena saya menyukai musik ini, saya gunakan juga sebagai latihan memotret. Maka saya bawa Nikon D3100 saya.

Hasilnya lumayanlah. Untuk kelas pemula. hi hi hi. Foto-foto (mungkin lebih dari 60 buah) baru saja saya upload ke account Facebook saya. Nantinya akan saya upload ke Picasa juga sehingga bisa dinikmati tanpa harus berlangganan ke facebook atau sejenisnya.

DSC_0874 magnum 1000

Jreng!


Lagu Adalah Perjalanan Hidup

Secara tidak sengaja saya melihat film di TV, the Lake House. Iya itu yang pemeran utamanya adalah Sandra Bullock dan Keanu Reeves. Salah satu yang menarik bagi saya adalah lagu-lagu soundtracknya.

Ketika saya mendengar lagunya Carole King, It’s too late, langsung saya mengenali. Oke, itu lagunya Carole King. Terus tidak lama lagi ada lagunya Paul McCartney, This Never Happened Before. Saya juga mengenali lagu itu. Hmm… ada yang aneh. Ada kesan dejavu. Setelah saya pikir-pikir, nampaknya saya memang mengenali lagu itu ketika dulu nonton film ini. Jadi memang lagu-lagu ini dalam memori saya melekat dengan film itu.

Demikian pula dengan lagu-lagu lain. Mereka melekat dengan perjalanan hidup kita. Begitu mendengar lagu tertentu maka yang terbayang adalah kisah-kisah yang kita alami pada masa itu. Itulah sebabnya kalau kita seumuran, probabilitas mendengarkan lagu yang sama sangat besar. Jadi kalau ada acara reunian maka lagu-lagu itulah yang dikeluarkan karena lagu adalah perjalanan hidup.

Sekarang saya malah jadi berpikir, bagaimana data | memori disimpan dalam otak kita ya? Rasanya tidak mungkin kalau dia disimpan seperti dokumen dalam folder. Nampaknya dia disimpan secara berurutan berdasarkan waktu, seperti “time line” di facebook. Kemudian, ada semacam mekanisme pencarian (search) yang berbasis pola (pattern) yang agak samar-samar (fuzzy), bukan berbasiskan address. Lho kok jadi seperti kuliah arsitektur komputer begini. hi hi hi.


Jreng!

Tadi siang sampai dengan sore, kami (BanDos) manggung di Lawang Wangi Creative Artspace dalam rangka ikut meramaikan acara fund raising bagi Ridwan Kamil sebagai calon walikota Bandung. Komentar saya mengenai Ridwan Kamil akan saya tuliskan secara terpisah ya. Cerita tentang manggungnya dulu aja.

Manggungnya cukup sukses. Tentu saja ini menurut saya. Saya lupa berapa lagu yang kami mainkan, 20-an gitu? Masih banyak lagu-lagu kami yang belum sempat dibawakan. Untuk acara ini saja kami sudah latihan sekitar 40 lagu :)

CIMG4710 guitars 1000

Satu hal yang perlu saya catat adalah musik kami cukup keras (loud) meskipun jenis musiknya adalah pop / funky. Mungkin ini disebabkan karena kami full band dengan banyak personel pemain band dan penyanyinya. Mungkin juga style kami yang lebih ke arah show di tempat terbuka bukan di ruangan cafe.  Berikutnya nampaknya kami harus juga memiliki versi akustikan.

Jreng!


Pemutar MP3 Portable Yang Mana?

Situasinya begini. Koleksi lagu-lagu saya sudah pindah dari bentuk fisik kaset+CD ke bentuk digital (MP3 dan sebagian ada yang FLAC). Berkas-berkas MP3 ini ada banyak – sekitar 180 GB – sekali sehingga saya simpan di dalam satu komputer, yang sekarang adalah komputer desktop berbasis Ubuntu. Kalau saya ingin mendengarkan lagu, terpaksa saya nyalakan komputer tersebut.

Problemnya adalah menyalakan komputer itu butuh waktu, tidak bisa dalam 2 detik bisa langsung memutar lagu. Jadi kalau mau mendengarkan sebuah lagu harus sabar dulu sampai semuanya nyala. Masalah kedua adalah saya harus duduk di depan komputer untuk mendengarkan lagu. Saya tidak dapat mendengarkan lagu di mobil misalnya. Tidak portable. Masalah ketiga, yang ini sangat tergabung kepada setup saya, adalah kebetulan disk dari komputer desktop saya ini saya pasang secara eksternal. Kotak dari disk ini membutuhkan power supply dan kipas, yang sayangnya bising sekali bunyinya. Alih-alih mau mendengarkan lagu, malah mendengarkan suara kipas seperti kapal terbang!

Saya sekarang ingin mencari pemutar MP3 yang agak portable. Syarat yang utamanya adalah:

  • kualitas suaranya bagus;
  • dapat memputar MP3 (dan kalau bisa juga FLAC);
  • memiliki storage yang cukup besar (di atas 180 GB) – yang ini kalau tidak bisa sebesar itu ya tidak apa-apa tetapi saya harus repot memindah-mindahkan lagu yang diinginkan, setidaknya di atas 32 GB lah.

Sementara ini yang terbayang oleh saya adalah Apple iPod versi yang pertama dulu, yang disknya besar itu. Tapi itu kan dulu. Mungkin sekarang sudah ada yang lebih bagus lagi. Kalau handphone dan sejenisnya, storagenya sangat kecil (mungkin hanya 8 GB). Ini terlalu kecil.

Ada saran?


Hari Ibu

Dalam rangka merayakan hari Ibu, 22 Desember, saya upload lagu buatan saya. Judulnya adalah “Untuk Ibu“. Tersedia di Soundcloud.

Selamat menikmati dan selamat Hari Ibu.


the Voice

Sekarang saya sedang senang nonton the Voice. Itulho acara TV yang mencari bakat penyanyi, seperti American Idol, tetapi ada bedanya. (Silahkan lihat deh informasinya di Internet.)

Yang membuat saya suka adalah penyanyi-penyanyinya. Pada musim ketiga ini mereka mendapatkan penyanyi yang keren-keren. Berikut ini adalah penyanyi yang keren menurut saya.

Yang pertama adalah Nicholas David. Ini penyanyi yang tampangnya kelihatan seperti terlalu tua, dengan jenggotnya yang panjang dan tidak teratur. Ini mengingatkan saya kepada para artis jaman tahun 70an atau setidaknya band ZZ Top. he he he. Begitu dia nyanyi, wah kerasa sekali nuansa soul-nya. Cengkok-nya itu khas sekali. Soul. Bahkan gara-gara dia saya menjadi suka (kembali) lagunya Al Green – Let’s stay together. Dia ini adalah favorit utama saya di musim ini.

Yang kedua adalah Terry McDermmott. Pada awalnya saya merasa biasa-biasa saja, tetapi lama kelamaan saya suka karena konsistensi dia dalam jenis musik yang dia bawakan yaitu Classic Rock. You know me. Saya penggemar musik berjenis classic rock. Jadi selama dia ada di acara, saya akan mendengar lagu-lagu classic rock. A big plus. Yang paling saya sukai adalah ketika dia menyanyikan lagunya Wings / Paul McCartney, Maybe I’m Amazed. Keren.

Perlu diingat bahwa vokalis classic rock biasanya memiliki  suara yang tinggi. Kalau sekarang sih semakin rendah semakin bagus. Growling di musik metal misalnya. Nah, mencari penyanyi yang memiliki suara tinggi itu susah. Contoh jagoan saya dari jaman dulu adalah Steven Tyler (Aerosmith), Steve Perry (Journey), dan sejenisnya.

Go the Voice!


Riset Musik Pribadi

Hanya karena tertarik saja, saya mencoba memahami musik progressive rock. Baca buku dan dokumen sana sini. Ada banyak yang belum saya mengerti. Salah satunya adalah tentang multi-movement dan single-movement. Apa sih itu?

Sambil baca-baca saya corat-coret di kertas untuk mengumpulkan bahan-bahan lain, yang dalam hal ini berupa lagu-lagu. Ini dia contoh corat-coretan kertas saya (yang bakalan hilang kalau tidak saya potret – he he he). Nampaknya link-link ke lagu tersebut (setidaknya yang ada di YouTube) bagusnya saya tampilkan juga di halaman ini ya?


Musik dan Elektronik

Terpicu oleh sebuah diskusi di milis tentang musik, saya mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah saya lakukan terkait dengan musik. Latar belakang akademik saya terkait dengan elektronika dan komputer. Musik bagi saya adalah hobby tetapi juga passion. Saya belum berani melakukan hal-hal yang terkait dengan musik secara akademik. Namun itu bukan berarti saya tidak peduli lho.

Ketika bersekolah di Kanada dahulu saya sempat mengambil kuliah Computer Music, yang diselenggarakan di departemen musik. Saya ingin mengetahui banyak hal yang terkait dengan hal itu. Memang kuliahnya menarik. Kami diajari tentang sound. Ada tugas untuk mendengarkan karya John Cage, “musik” eksperimental itu. Avant-garde. Seru juga. Ini sangat jauh dari musik pop. Kemudian kami juga diajarkan tentang bagaimana menghasilkan suara instrumen secara elektronik, seperti yang digunakan pada synthesizers dan keyboard.

Saya juga sempat berkolaborasi dengan seorang musisi (gitaris) yang berencana untuk membuat software musik. Waktu itu kami sama-sama tertarik tentang bagaimana mendeteksi pitch secara real-time. Idenya adalah seorang penyanyi dapat mengendalikan keyboard (via MIDI) dengan cara bernyanyi. Harus ada sebuah alat yang melakukan pitch tracking.

Saya akhirnya harus membuat soundcard sendiri dengan menggunakan komponen elektronika yang tersedia dan melakukan wirewrap di PCB sendiri. Ini waktu jaman sebelum ada Soundblaster dari Creative Labs itu. Saya juga harus membuat driver softwarenya sendiri yang berjalan di atas MS-DOS. Akhirnya saya juga membuat chip untuk pitch tracking tetapi saya gunakan untuk aplikasi biomedik, yang ini kemudian menjadi basis penelitian S2 saya waktu itu. Dari musik dipelesetkan ke medis. hi hi hi.

Secara keilmuan nampaknya harus ada kolaborasi dari orang teknis – dengan latar belakang elektronika, pemrograman – dan orang musik ya. Sebetulnya ini bukan hal yang baru. Lihat saja Dr. Moog, yang terkenal dengan Moog synthesizersnya. Atau lihat juga Ray Kurzweil dengan keyboard Kurzweil yang memiliki sound luar biasa.

Sayangnya kolaborasi seperti ini belum terjadi di Indonesia. Suatu saat?


Musik Adalah Perjalanan Hidup

Kadang saya bertanya-tanya mengapa seseorang menyukai jenis musik tertentu, sementara orang lain jenis yang lain. Pertanyaan ini hadir karena saya merasa memiliki selera musik yang termasuk golongan minoritas. Saya menggemari musik jenis progressive rock atau classic rock, yang mana tidak begitu banyak penggemarnya di Indonesia. Jangankan di Indonesia, di dunia pun penggemar musik jenis ini sangat terbatas.

Setelah menelusuri ke sana ke mari, akhirnya saya berkesimpulan bahwa musik terkait dengan perjalanan hidup seseorang. Musik yang dia dengarkan ketika dia kecil atau ketika menderita ikut membekas dalam diri. Itulah sebabnya seseorang yang terekspos ke satu jenis musik tertentu akan menyenangi musik jenis itu.

“… music exists as a form of communication between people of a certain time, place, and culture…” (Pleasants & Small)

Saya mencoba mengingat-ingat perjalnan hidup saya. Ketika muda dahulu saya sering mendengarkan lagu-lagu American Top 40 dari radio Australia atau radio yang ditemukan melalui channel SW. Wah, ini jadul sekali. Kemudian di rumah kami tinggal banyak saudara yang notabene adalah mahasiswa. Pada tahun 70-an para mahasiswa ini menggemari musik jenis classic rock. Saya mulai terekspos musik-musik dari Yes, Genesis, Gentle Giant, dan yang lebih aneh-aneh lagi.

Bandung. Ini lagi. Di Indonesia ada dua kota yang nampaknya secara musik membekas bagi warganya, Bandung dan Malang. Di Bandung ada tempat membuat kaset dengan label “Yess”. Jangan bayangkan ini label yang legal menurut HaKI jaman sekarang tentunya. Lihat konteksnya ya. Yess ini memproduksi album-album band yang progressive / classic rock itu. Saya pun mulai mengoleksi kaset-kaset keluaran Yess ini.

Bahasa Inggris dan Kultur. Ini yang agak sedikit twisted. Musik jenis progressive rock bukanlah musik dari jenis yang bisa digunakan untuk menari, bergoyang. Kalau berlirik, liriknya menggunakan bahasa Inggris yang kental dengan cerita kultur orang Barat. Saya sendiri kursus bahasa Inggris sejak masih kecil (SD) sehingga bahasa Inggris bukan masalah bagi saya. Nah soal kultur Barat, itu yang tidak saya mengerti. Bagaimana saya dapat mengerti apa yang diceritakan dalam lagu-lagu progressive rock itu ya? Ini masih pertanyaan.

Ketika kawan-kawan saya di SMA mendengarkan lagu-lagu disko, saya asyik mendengarkan Rush. Bahkan lagu “subdivision” merupakan lagu anthem bagi saya. Ternyata di belahan dunia yang lain, anak-anak seumuran saya juga mengambil lagu ini sebagai anthem mereka. Maka tidak heran ketika di kemudian hari saya pindah ke Kanada dan menemui rekan-rekan seumuran yang memiliki interest yang sama. Ini sebetulnya bertentangan dengan pendapat Pleasants & Small di atas. Mungkin saya termasuk anomali untuk kebanyakan orang Indonesia. Heh?

Tapi saya tetap meyakini bahwa musik adalah perjalanan hidup.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.596 pengikut lainnya.