Category Archives: Opini

Linieritas Dalam Pendidikan

Sekarang sedang ramai dibahas tentang linieritas (kelinieran) dalam pendidikan. Maksudnya begini. Seseorang yang mengambil S1 di bidang Teknik Elektro tidak disarankan (atau malah dilarang?) untuk mengambil S2 di bidang Biologi dan mengambil S3 di bidang Ekonomi. Begitu.

Mungkin contoh di atas agak ekstrim, tetapi ada banyak orang yang mengambil jalur seperti itu. Contohnya:

  • S1 Elektro, S2 Management, S3 Hukum
  • S1 Informatika, S2 Matematika, S3 Matematika

Mungkin linieritas ini diterapkan karena ada orang-orang yang meng-abuse kemudahan mendapatkan S2 di bidang tertentu yang bukan bidangnya tetapi relatif lebih “mudah” untuk mendapatkannya hanya untuk mendapatkan kenaikan pangkat. Sebagai contoh ada teknisi lab yang mengambil S1 ekonomi (atau sastra) agar dia dapat naik pangkat. [Catatan: "mudah" di sini jangan dianggap mengecilkan bidang ilmu tersebut.]

Hal lain yang menyebabkan penerapan linieritas ini adalah untuk memastikan mahasiswa memiliki dasar yang kuat dibidang itu agar dapat menyelesaikan studinya. Misalnya, seseorang yang S1 di bidang Ekonomi akan sulit menyelesaikan S2 di bidang Teknik Elektro. Begitu.

Masalahnya sekarang bidang ilmu itu sulit untuk dikotak-kotakkan. Bahkan inovasi sering terjadi karena adanya multi disiplin. Cross pollination. Jika kita membuat kotak-kotak atau sekat-sekat yang terlalu ketat, maka sulit bagi kita untuk menghasilkan inovasi.

Memang umumnya sebagaian besar akan cederung linier, tetapi membatasi – dengan menerapkan linieritas ini – membuat orang-orang hebat yang seharusnya dapat berkarya secara multidisiplin menjadi tidak mungkin terjadi.

Nah. Pusing? Saya pribadi cenderung untuk tidak menerapkan linieritas.


Terinspirasi

Great leaders inspire action

Terus terang saya sedang terkesima melihat kreatifitas yang muncul dengan fenomena Jokowi. Banyak pendukung Jokowi yang membuat komik, lagu (original song), musik, video, games, dan banyak lagi. Keren-keren. Hebatnya adalah bukan satu atau dua orang, tetapi banyak orang.

Saya mencoba mengingat-ingat kapan terakhir ada tokoh yang begitu menginspirasi banyak orang secara positif? Saya juga ikut terinspirasi untuk berbuat baik. Tetap positif. Keren.


Adakah Orang Baik?

Konon, kita ini termasuk ke kategori distrust society. Maksudnya kita ini senengnya curiga. Curiga dulu baru setelah terbukti, percaya. Kalau di tempat lain, katakanlah di daerah Amerika Utara, mereka percaya kepada orang. Bahwa orang itu pada dasarnya baik, kecuali terbukti jahat.

Tadinya saya pikir kita ini bangsa yang ramah dan percaya kepada orang lain. Entah kapan kita menjadi berubah. Penyebabnya juga apa ya? Mungkin karena kita terlalu banyak ditipu sehingga kita menjadi begini?

Pertanyaan “adakah orang baik” di Indonesia ini mungkin dulu akan saya jawab, ada tapi susah. Jarang. Atau bahkan, tidak! Itu dulu ketika saya curigaan. Setelah di luar negeri saya melihat bahwa pada dasarnya justru orang itu baik. Saya berbalik. Kembali ke Indonesia pada awalnya saya juga ragu. Eh, tetapi ternyata saya menemukan orang-orang baik di Indonesia. Orang-orang yang “gila” (atau waras ya?) karena mau berbuat baik. Ada orang yang menggelontorkan uangnya untuk kepentingan komunitas. Dan hebatnya, ini ternyata tidak tergantung kepada kekayaan yang bersangkutan. Kaya atau miskin ternyata tetap saja ada orang yang gila bener baiknya. Akhirnya saya memilih untuk mendekat dengan orang-orang seperti ini.

Repotnya, sebagian besar orang Indonesia tidak percaya adanya orang yang baik. Belum apa-apa yang muncul adalah tuduhan ini dan itu. Yang paling sering sih tuduhan pencitraan. he he he. Dari mana kita tahu itu beneran atau bukan? Ya kita harus berinteraksi dengan yang bersangkutan untuk jangka waktu yang lama. he he he.

Untuk mengubah mind set dari banyak orang memang tidak mudah. Dibutuhkan keteguhan – atau kegilaan? – untuk menyadari bahwa ada orang baik di Indonesia ini. Mereka adalah orang yang berkarya membuat perubahaan meskipun diolok-olok. They keep my hope alive. And they make me want to be a better person.


Komentar Itu Mudah, Berkarya Itu Susah

Hal yang paling menyolok dari media sosial saat ini adalah banyaknya komentar, copy-paste berita, retweet, dan sejenisnya. Yang membuat tulisan / foto / video sendiri itu jarang. Pelajaran apa yang dapat ditarik dari fenomena ini? Ya seperti judul dari tulisan ini.

Membuat komentar itu mudah.
Berkarya itu susah.

Mengurutkan dua huruf sudah jadi komentar; “wk wk wk” atau “hi hi hi”. Mungkin kalau kita ketikkan dua huruf secara random-pun dapat menjadi komentar yang sah.

Saya khawatir kalau kebiasaan tidak berkarya ini diteruskan dia akan menjadi kebudayaan. Budaya tidak kreatif. Padahal katanya kita sudah masuk ke era ekonomi kreatif. Kalau kita tidak kreatif, kita bakalan dibantai lagi secara ekonomi. Penjajahan 3.0.

Untuk menjadi kreatif modalnya tidak susah kok. Murah. Hanya sekedar mengkhayal. Eh, jangan-jangan untuk sekedar mengkhayalpun kita tidak sanggup. Hadoh. Pingsan saya …


Menikmati Hidup

Beberapa hari terakhir ini ada beberapa orang (sebetulnya hanya 3) yang bertanya kepada saya kenapa saya terlihat happy-happy saja. Menikmati hidup. hi hi hi. Bahkan mas Sobur mengatakan bahwa bagi pak Budi ini semuanya adalah perayaan. ha ha ha.

Jawaban saya terhadap pertanyaan “kenapa” adalah mengapa tidak? Why not? ha ha ha. Ini jawaban model apa sih? Lha pertanyaannya adalah kenapa. Kalau pertanyaannya adalah “bagaimana agar dapat menikmati hidup”, jawabannya lebih susah. Saya sendiri sebetulnya belum tahu jawaban tepatnya.

Mungkin ini disebabkan karena saya melihat “1/2 gelas yang terisi” sedangkan orang lain banyak yang melihat “1/2 gelas kosong”. Dalam bahasa lain, saya lebih positive-thinking.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar kita dapat menjadi lebih positive-thinking? Yang saya lakukan adalah belajar dari orang lain. Melihat pengalaman-pengalaman orang lain. Atau malah lebih tepatnya adalah belajar dari kegagalan-kegagalan orang lain sehingga kita dapat lebih menghargai apa yang kita peroleh. Ada banyak biografi yang menceritakan kesulitan dalam hidup orang-orang yang sukses. Alhamdulillah kita tidak mengalami kesulitan yang mereka hadapi. Jika mereka dapat mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut dan kemudian menjadi sukses, mengapa kita tidak?

Hal lain yang saya lakukan adalah mencari orang-orang yang memiliki pemikiran atau values yang sejalan. Berkumpul dengan orang-orang yang waras. Eh, atau yang tidak waras ya? hi hi hi. Saya melihat bahwa ternyata kumpulan yang saya dekati adalah kumpulan orang-orang yang berpikiran positif juga. Nampaknya ini juga merupakan salah satu cara untuk lebih meningkatkan ke-positif-an kita. Reinforcement learning? Mungkin itu juga sebabnya Anda bergabung dengan blog ini? Agar lebih positif. hi hi hi.

Begitulah kira-kiranya cara saya agar dapat lebih menikmati hidup. Semoga bermanfaat.


Gagal Golput Karena Jokowi

Posting kali ini bertema politik. Saya ingin menunjukkan di mana saya berdiri. Mohon maaf bagi yang tidak berkenan.

Pada awalnya saya berniat untuk golput, seperti yang sudah-sudah. Saya sudah antipati terhadap retorika-retorika politik. Kebanyakan politisi hanya pandai bicara tetapi tidak ada yang dilakukannya. Saya, sebagai rakyat biasa, hanya menjadi obyek. Pelengkap penderita, bahkan.

Namun rencana saya untuk menjadi golput ini batal gara-gara Jokowi mencalonkan diri.

gagak golput karena jokowi

Saya tidak ingin berkampanye untuk Jokowi atau bahkan menjelek-jelekkan Prabowo. Tidak. Ada banyak alasan saya untuk memilih Jokowi. Ada banyak hal yang saya tahu secara langsung dan kemudian menjadi fitnah. (Saya tahu 1st hand. Langsung.) Yang saya sedih juga adalah orang-orang yang saya duga baik ternyata termasuk yang menyebar fitnah. Luar biasa buasnya mereka menyebar fitnah. Maka saya memutuskan untuk memilih Jokowi. Tidak golput.

Satu suara saya mungkin tidak berpengaruh banyak dalam hasil, tetapi dalam hati saya tahu bahwa saya sudah memilih sesuai dengan hati nurani saya. I can make peace with myself. There.


Kecenderungan

Ternyata ada satu hal yang sama dalam pekerjaan yaitu selalu berbeda. Banyak orang berharap semua pekerjaan adalah sama dan dapat diselesaikan dengan template. Ternyata kenyataannya berbeda. Setiap pekerjaan yang datang selalu berbeda. Maka dibutuhkan orang yang dapat memecahkan masalah dengan kondisi yang selalu berbeda.

Cara orang menyelesaikan masalah atau tugas memiliki kecenderungan-kecenderungan tertentu. Ada yang bersifat defensif dan menunggu. Ada yang agresif. Ada yang tertutup dan terbuka. Ada yang marah-marah. Ada yang sabar. Dan seterusnya. Kecenderungan ini juga merupakan hal yang selalu sama.

Bagaimana dengan kecenderunganmu?


Menjadi Lebih Terkurung Dengan Internet

Internet membuka dunia. Kalau dahulu kita hanya dapat mengakses informasi yang sifatnya lokal, atau paling jauh dengan bantuan surat kabar, sekarang kita dapat mendengar langsung kabar dari dunia yang sangat jauh. Langsung dari sumbernya. Seharusnya ini membuat orang menjadi lebih terbuka wawasannya. Menjadi lebih arif dan bijaksana. Sayangnya ini tidak terjadi.

Dalam memilih informasi yang kita baca, kita cenderung mencari informasi yang sesuai dengan yang kita inginkan. Sesuai dengan filter kacamata yang kita pakai. Jadi jika kita condong kepada warna (aliran, pendapat, style) A, maka sumber berita yang kita cari adalah yang memberikan konfirmasi kepada A. A itu bagus. Sementara itu sumber informasi yang memberikan warna B, C, D, dan seterusnya tidak disentuh.

Kalau dahulu kita seperti katak dalam tempurung, sekarang malah katak dalam bola besi. hi hi hi. Kalau tempurung masih dapat ditembus oleh sinyal handphone, bola besi seperti sangkar Faraday sehingga sinyal pembawa beritapun tidak masuk. Semakin tertutup pandangan atau pendengaran kita. Jadinya seperti ini, bertengkar terus di internet.


Serba Salah

Serba salah. Begitulah pengamatan saya terhadap situasi yang dihadapi pak Jokowi. Setidaknya itu yang saya amati di internet.

  • bertemu dengan duta negara Amerika dan Barat, dianggap antek kapitalis;
  • bertemu dengan duta dari negara Timur Tengah, dianggap antek Arab;
  • bertemu dengan pimpinan pesantren dan organisasi Islam, dianggap gak sopan;
  • bertemu dengan pimpinan agama non-Islam, tuh kaaannn;
  • bertemu dengan rakyat, dianggap pencitraan;
  • tidak menemui rakyat, dianggap membuat jarak dengan rakyat dan tidak mengayomi.

Jadi harusnya bagaimana? Tidak usah kerja. Duduk-duduk saja di rumah.

Saya jadi teringat sebuah cerita sufi tentang seorang bapak dan anaknya yang bepergian ke luar kota dengan menunggangi keledai. Berikut adalah komentar-komentar dari orang yang melihat

  • sang bapak naik keledai dan anak berjalan: orang tua gak sayang anak, mosok dia tega naik keledai dan membiarkan anaknya jalan?
  • sang anak naik keledai dan bapak berjalan:  anak kurang ajar. mosok orang tua disuruh jalan sementara dia enak-enak naik keledai
  • keduanya menaiki keledai: ini orang mikir gak sih? keledainya apa gak mampus tuh dinaiki dua orang
  • keduanya berjalan dan keledai dituntun: orang ini goblok, ada keledai kok tidak dipakai.

Ya sudah. Batalkan saja perjalanan. Tidur saja?

Sebagai seorang pemimpin, kita tidak boleh takut menjalankan apa yang kita anggap benar. Kita tidak bisa membuat semua orang senang. Yang penting adalah kita lakukan sesuai dengan kebenaran yang kita pahami.

 

 


Tekun

Salah satu topik obrolan kemarin dengan beberapa orang adalah tentang kesuksesan. Kerja keras harus dilakukan agar mencapai tingkat yang lebih tinggi, dari pekerja terus ke management terus ke owner. Saya bilang mungkin hanya sampai ke management saja ya. Soalnya menjadi owner itu mungkin jalurnya beda. Itu jalur entrepreneurship bukan jalur profesional. Hmm… benar gak ya?

Menurut saya, salah satu kunci kesuksesan – selain kerja keras – adalah tekun. Persisten. Terus menerus. Tidak menyerah. Istiqomah? Sering orang merasa sudah kerja keras dan sukses belum juga hadir. Dia kemudian menyerah. Padahal sedikit lagi saja dia bisa sukses. (Tahunya dari mana ya?)

Sebagai contoh ya blog ini. Banyak orang yang baru nulis satu, dua, sampai puluhan halaman blog, kemudian sudah menyerah. Maunya sukses seketika. Ya ndak bisa. Harus tekun. Tulisan ini adalah tulisan yang ke 4470. Yup, sudah lebih dari 4000 tulisan. Bayangkan kalau satu hari saya menulis satu tulisan, maka itu sudah lebih dari 10 tahun. hi hi hi. Kalau dijadikan buku, 4000 halaman itu setebal apa ya?

T e k u n . . .


Memahami Bahasa (dan Budaya?) Inggris

Baru saja saya mendengarkan beberapa lagu (aliran rock – hi hi hi) berbahasa Inggris. Salah satu lagu tersebut bercerita tentang Lord of the Rings. Lagu lainnya bercerita tentang hal-hal lain tetapi masih berkaitan dengan budaya Barat. Hal yang sama terjadi ketika saya menonton film dan membaca buku. Ada banyak konteks yang hilang jika kita tidak memahami bahasa dan budaya Barat itu. Lantas saya berpikir, apakah kita – orang Indonesia – perlu belajar bahasa Inggris dan memahami budaya Barat? Pertanyaan yang mirip pernah dilontarkan; apakah perlu kita belajar English literature?

Saya ingin menjawab dengan YA, tetapi itu untuk diri saya sendiri. Untuk keseluruhan Indonesia? Ah, nanti dulu. Mempelajari bahasa Indonesia dan sejarah Indonesia sendiri belum cukup untuk dipelajari, mengapa kita lantas seolah-olah ikutan menjadi ke-Barat-Baratan? Begitulah pertanyaan yang mungkin dilontarkan. Betul juga ya.

Di sisi lain, sebagai warga dunia, semestinya kita tidak membatasi diri untuk menjadi katak dalam tempurung. Dunia kan tidak hanya Indonesia saja. Memahami bahasa dan budaya asing memberi kita wawasan yang lebih luas dan bahkan dapat mengambil keputusan yang lebih baik secara lokal.

Bagaimana?


Lebih Dari Itu

Beberapa hari (minggu?) yang lalu saya betermu dengan seorang rekan yang mengeluhkan bahwa pegawai di kantornya hanya kerja sesuai dengan tugas administratifnya saja. Jika tugasnya sudah selesai – misalnya harus mengerjakan ini dan itu – maka berhentilah dia. Dia tidak mau bekerja lebih, meskipun dia bisa. Dia tidak termotivasi untuk berpikir lebih dari itu. Bahkan dalam menyelesaikan tugasnyapun dia harus diberitahu. Tidak ada inisiatif sama sekali. Kalau tugasnya adalah menyusun kursi, maka setelah kursi tersusun dia tidak mau mengerjakan hal lain; menyusun meja, memasang taplak meja, ngepel lantai, dan seterusnya. Kan tugas saya nyusun kursi sudah selesai. Lantas apa lagi?

Keluhan rekan ini dapat saya pahami. Bahkan saya dapat melihat masalah yang dia hadapi bukan hanya terjadi di tempatnya saja tetapi hampir di seluruh tempat di Indonesia. (Anda termasuk?)

Saya dapat membayangkan pertanyaan orang-orang tersebut, untuk apa saya bekerja lebih banyak? Toh gaji saya sama dengan yang lain (yang kerjanya pas-pasan saja). Nah itu dia. Tolok ukur yang mereka gunakan adalah aspek finansial. Mereka bekerja hanya mengharapkan dapat gaji saja. Tidak ada kepuasan diri dalam bekerja.

Orang-orang sukses yang saya kenal tidak pernah menggunakan aspek finsansial sebagai ukuran. Mereka berpikiran lain, seperti bagaimana kontribusinya terhadap masyarakat, bagaimana kontribusi mereka terhadap perusahaan / instansi. Bagaimana agar perusahaannya (instansinya) itu menjadi lebih baik, meski entitas itu bukan milik pribadinya. Lagi-lagi karena ukurannya bukan finansial. Mereka termotivasi oleh berkontribusi.

Mereka yang sukses ini juga tidak mengukur dirinya dengan orang lain. Mereka mengukur dirinya dengan dirinya sendiri. Be the yardstick. Kalau dibanding-bandingkan, orang lain puas bekerja 70% maka dia bekerja 150%. Bahkan lebih dari itu. Angka-angka orang lain ini tidak penting bagi mereka karena mereka mengukur dirinya sendiri.

Nah, masalahnya adalah bagaimana memotivasi mayoritas orang-orang yang hanya berpikir bekerja pas-pasan saja ya?


Pemimpin Pilihan Orang Indonesia

Setelah saya pikir-pikir dan amati, nampaknya tipe pemimpin pilihan orang Indonesia itu bukan tipe yang dapat menginspirasi kita tetapi yang dapat memecahkan masalah dalam jangka pendek. Fix short term problems.

Yang bisa menyelesaikan masalah kita tanpa kita ikut campur. Sebagai contoh, kita punya masalah dengan sampah, banjir, kemacetan, dan seterusnya. Kita mau cari pemimpin yang dapat memecahkan masalah itu tanpa kita peduli. Kita tidak perlu peduli dengan bagaimana kita membuang sampah. Kita lempar saja itu bekas botol aqua ke jalan. Atau, kalau di rumah, kita sapu itu sampah ke selokan. Itu bukan masalah kita lagi. Itu sudah masalah pemerintah. Demikian pula dalam bekendaraan kita tidak peduli dengan aturan lalu lintas; serobot saja, halangi jalan orang, tidak mau berbagi. Macet? Itu bukan salah kita. Itu salah pemerintah. Kita tidak mau memikirkan tentang resapan air. Semua tanah yang kita miliki, kita bangun gedung. Banjir? Bukan salah saya.

Kalaupun ada yang mau ikut berpartisipasi memecahkan masalah, yang dicari adalah pemimpin yang memberi instruksi (detail) bagaimana memecahkan masalah itu. Kita tidak mau memikirkan bagaimana memecahkan masalah itu. Kita minta diberitahu. Disuruh. Baru kita lakukan. Kita cari pemimpin yang penuh dengan instruksi-instruksi. Tanpa itu, kita tidak bergerak. Salah pemimpin tidak memberitahu kami.

Ya kalau tingkat pemikiran bangsa kita masih baru sampai segini, mosok kita perlu memilih pemimpin yang penuh dengan inspirasi, memiliki visi yang ke depan. Tidak perlulah. Bukankah begitu?

[sarcasm mode=off]


Mengamati Pengaruh Jejaring Sosial

Banyak orang yang merasa bahwa jejaring sosial / media sosial (seperti facebook dan twitter) itu demikian hebatnya. Wow banget. Padahal sesungguhnya kita belum tahu seberapa besar dampaknya. Mari kita amati beberapa hal.

Beberapa kali diskusi dengan pakar jejaring sosial membuat saya lebih memahami bahwa media konvensional – seperti televisi, surat kabar, majalah – sesungguhnya masih yang paling mempengaruhi masyarakat. Orang-orang yang menggeluti bidang teknologi informasi (ICT) merasa bahwa jejaring sosial sudah sedemikian hebatnya sehingga mempengaruhi orang banyak. Ternyata belum terbukti. Kita masih membutuhkan data dan penelitian yang lebih lanjut untuk menyatakan hal ini.

Citizen journalism yang dianggap akan memiliki peran dan dampak yang mendalam belum terbukti. Topik-topik yang dibahas dalam media sosial (facebook, twitter) sesungguhnya masih dimotivasi (driven) dari topik yang diangkat oleh media konvensional. Masih mainstream juga. (Itulah sebabnya blog ini mengambil topik-topik yang tidak mainstream. Berbeda dengan yang ada di media konvensional.) Blog ini belum punya pengaruh yang signifikan. hi hi hi.

Jadi jangan dulu percaya bahwa jejaring sosial itu sangat berpengaruh dalam branding (untuk bisnis dan politik). Kemungkinan besar memang ada pengaruhnya, tetapi tidak sehebat yang diperkirakan oleh orang IT. Jangan terlalu percaya bahwa kalau sesuatu itu heboh di jejaring sosial berarti dia heboh di dunia sesungguhnya. Masih terlalu dini untuk mempercayai itu. Jadi biarlah ada tim sukses ini dan itu di dunia politik cyber. Mereka belum tentu punya pengaruh :)


Karakteristik Bandung Car Free Day

Hari ini untuk kedua kalinya kami buka lapak toko musik digital kami (Insan Music Store) di Bandung Car Free Day (CFD). Tujuannya masih seperti sebelumnya, yaitu untuk memperkenalkan layanan kami. To test the market, sort of speak.

Saya melihat bahwa tujuan mayoritas dari pengunjung CFD adalah untuk berjalan-jalan. Berolahraga sambil rileks dengan keluarga atau teman. Tadinya saya pikir kebanyakan adalah duduk nongkrong beli ini dan itu. Ternyata mereka tidak membeli. Mereka berjalan. Saya perhatikan yang jualan minuman di samping stand kami tidak berhasil menjual minumannya. Sebetulnya terjual tetapi nampaknya tidak seperti yang dia harapkan. Di depannya, jualan es lilin, demikian pula. Samping kanan jauh, jualan otak-otak juga demikian. Ada yang beli tetapi tidak banyak.

Untungnya tujuan kami berada di sana bukan – belum – untuk berjualan tetapi justru untuk mendapatkan lagu-lagu dari artis / band yang sudah memiliki lagu dalam format digital. Nampaknya kalau untuk berjualan, mungkin CFD bukan tempatnya. Entahlah kalau kami nanti sudah mulai menggelar lapak digital kami; lengkap dengan access point dan notebook untuk mendengarkan musik. We’ll see.

Saya belum tahu apakah yang berjualan di Gasibu (sekarang seberangnya, yang lebih dekat ke Unpad) memiliki karakterisik yang sama atau tidak. Mungkin ada yang tahu? Sementara ini kalau Anda ingin berjualan dengan skala yang besar di CFD, pikir-pikir dulu.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.