Arsip Kategori: Opini

Mengamati Pengaruh Jejaring Sosial

Banyak orang yang merasa bahwa jejaring sosial / media sosial (seperti facebook dan twitter) itu demikian hebatnya. Wow banget. Padahal sesungguhnya kita belum tahu seberapa besar dampaknya. Mari kita amati beberapa hal.

Beberapa kali diskusi dengan pakar jejaring sosial membuat saya lebih memahami bahwa media konvensional – seperti televisi, surat kabar, majalah – sesungguhnya masih yang paling mempengaruhi masyarakat. Orang-orang yang menggeluti bidang teknologi informasi (ICT) merasa bahwa jejaring sosial sudah sedemikian hebatnya sehingga mempengaruhi orang banyak. Ternyata belum terbukti. Kita masih membutuhkan data dan penelitian yang lebih lanjut untuk menyatakan hal ini.

Citizen journalism yang dianggap akan memiliki peran dan dampak yang mendalam belum terbukti. Topik-topik yang dibahas dalam media sosial (facebook, twitter) sesungguhnya masih dimotivasi (driven) dari topik yang diangkat oleh media konvensional. Masih mainstream juga. (Itulah sebabnya blog ini mengambil topik-topik yang tidak mainstream. Berbeda dengan yang ada di media konvensional.) Blog ini belum punya pengaruh yang signifikan. hi hi hi.

Jadi jangan dulu percaya bahwa jejaring sosial itu sangat berpengaruh dalam branding (untuk bisnis dan politik). Kemungkinan besar memang ada pengaruhnya, tetapi tidak sehebat yang diperkirakan oleh orang IT. Jangan terlalu percaya bahwa kalau sesuatu itu heboh di jejaring sosial berarti dia heboh di dunia sesungguhnya. Masih terlalu dini untuk mempercayai itu. Jadi biarlah ada tim sukses ini dan itu di dunia politik cyber. Mereka belum tentu punya pengaruh :)


Karakteristik Bandung Car Free Day

Hari ini untuk kedua kalinya kami buka lapak toko musik digital kami (Insan Music Store) di Bandung Car Free Day (CFD). Tujuannya masih seperti sebelumnya, yaitu untuk memperkenalkan layanan kami. To test the market, sort of speak.

Saya melihat bahwa tujuan mayoritas dari pengunjung CFD adalah untuk berjalan-jalan. Berolahraga sambil rileks dengan keluarga atau teman. Tadinya saya pikir kebanyakan adalah duduk nongkrong beli ini dan itu. Ternyata mereka tidak membeli. Mereka berjalan. Saya perhatikan yang jualan minuman di samping stand kami tidak berhasil menjual minumannya. Sebetulnya terjual tetapi nampaknya tidak seperti yang dia harapkan. Di depannya, jualan es lilin, demikian pula. Samping kanan jauh, jualan otak-otak juga demikian. Ada yang beli tetapi tidak banyak.

Untungnya tujuan kami berada di sana bukan – belum – untuk berjualan tetapi justru untuk mendapatkan lagu-lagu dari artis / band yang sudah memiliki lagu dalam format digital. Nampaknya kalau untuk berjualan, mungkin CFD bukan tempatnya. Entahlah kalau kami nanti sudah mulai menggelar lapak digital kami; lengkap dengan access point dan notebook untuk mendengarkan musik. We’ll see.

Saya belum tahu apakah yang berjualan di Gasibu (sekarang seberangnya, yang lebih dekat ke Unpad) memiliki karakterisik yang sama atau tidak. Mungkin ada yang tahu? Sementara ini kalau Anda ingin berjualan dengan skala yang besar di CFD, pikir-pikir dulu.


Inovasi Dari Indonesia?

Diskusi (atau mungkin lebih tepatnya debat kusir) yang sedang ramai kali ini adalah masalah politik. Bosen ah. Lebih baik kita diskusi topik lain saja. Saya mau mengangkat topik inovasi. Mumpung lusa saya akan berbicara tentang hal ini.

Pertanyaan saya adalah “apa ada inovasi yang muncul dari Indonesia?”.

Sebagai contoh, saya melihat beberapa “inovasi” yang terkait dengan start up di Indonesia lebih ke arah menjiplak yang sudah ada. Misalnya ada yang membuat sesuatu yang mirip Facebook, Twitter, Groupon, dan seterusnya. Saya belum melihat sesuatu yang betul-betul baru. Inovasi. Ada contoh?

Yang kedua, mengapa inovasi pada jaman sekarang banyak datang dari Amerika? Padahal orang-orang yang cerdas banyak di Asia. Apakah ini terkait dengan cara pendidikan di Asia? Atau faktor lain? Lingkungan? Alam? Budaya? Agama? Atau apa ya?


Refleksi Pileg 2014

Ini merupakan catatan saya terhadap pileg 2014. Saya bukan pelaku politik. Bahkan pengamat yang cermatpun bukan. Jadi ini hanya sekedar catatan pribadi yang mungkin menarik bagi sebagian orang. Apa yang saya tuliskan tentunya menjadi sangat subyektif. Sah-sah saja jika Anda tidak sependapat.

Yang pertama dahulu. Banyak orang yang menginginkan Jokowi menjadi presiden tetapi tidak ingin memilih PDIP sebagai partai pilihannya. Ini merupakan hal yang sulit. Bagaimana kalau golput (tidak memilih partai) dan PDIP tidak mendapatkan suara yang cukup sehingga tidak dapat mengajukan Jokowi? Atau lebih parah lagi memilih partai lain dan kemudian partai lain ini mengusuk calon presiden yang tidak kita inginkan. Maka banyak orang yang  terpaksa memilih PDIP. Dugaan saya sih lebih banyak yang golput untuk urusan ini.

Coba saja partai lain mengajukan Jokowi sebagai capresnya, saya menduga akan banyak suara yang mengalir ke mereka. Eh, malah partai lain tersebut mengajukan calon yang mboten-mboten. hi hi hi. Coba saja PBB, PKB, atau PPP mengajukan – atau bahkan sekedar mengindikasikan – Jokowi jadi calon presiden mereka, mungkin mereka mendapat tambahan suara dari orang yang ingin Jokowi tapi tidak PDIP.

Hal kedua, banyak simpatisan PKS yang nampaknya sekarang tidak menjadi simpatisan lagi. Mereka saya duga memilih untuk menjadi golput atau memilih partai Islam lainnya, mungkin ke PKB. Jangankan untuk menjadi juara, untuk mengalahkan Golkar saja tidak bisa. hi hi hi. Jangankan Golkar, yang lainnya juga tidak bisa.

Saya melihat PKS menjadi kurang simpatik, terlalu arogan dan eksklusif. Sebagai contoh, mereka merasa bakal mendapatkan suara sangat banyak. Padahal sudah diberitahu oleh simpatisannya bahwa mereka tidak memilih PKS lagi. Ada perbedaan antara memiliki target dan arogan. hi hi hi. PKS memang sedang kena gempur berbagai kasus. Sebetulnya kalau saja mereka mengakui kekurangan dan kesalahan yang ada dan melakukan perubahan dan berjanji tidak lagi, bukannya mencari-cari alasan atau pembenaran, maka simpatisan akan memaafkan mereka. Dan akan memilih mereka lagi. Para simpatisan ini tahu bahwa banyak orang PKS yang baik-baik dan sungguh-sungguh. Hanya saja di jajaran atasannya yang parah. Masih ada kesempatan bagi PKS untuk memperbaiki dan mendapatkan dukungan dari rakyat.

Selesai pileg. Sekarang pilpres, menurut saya sudah mudah. Saya tidak perlu sebutkan capresnya, kan? :)


Mengalah Itu Bukan Kalah

Salah satu penyebab kemacetan di jalan adalah adanya orang-orang yang tidak mau mengalah. Mereka merasa harus duluan. Akibatnya jalan menjadi terkunci karena tidak ada yang mau mengalah, memberikan jalan. Padahal seringkali dengan kita memberikan jalan maka terjadi pergerakan dan kemacetan pun terhindari atau berkurang.

Dalam diskusi, di media sosial misalnya, banyak orang yang tidak mau mengalah. Pendapatnya harus “menang”. (Whatever definition of winning is.) Dia harus menunjukkan kepada dunia bahwa dia tidak kalah. Padahal kalau kita sudah mengemukakan ide atau argumentasi kita itu sudah cukup. Para pembaca (audience) dapat mengerti. Mereka tidak bodoh.

Mengalah itu bukan kalah. Kalaupun kalah, memangnya kenapa?


Jangan Menyerah!

Baru-baru ini ada mahasiswa yang datang ke saya. Mau konsultasi tentang masalah thesisnya. Saya persilahkan datang. Maka datanglah sang mahasiswa. Singkat katanya sang mahasiswa mengalami banyak permasalahan dengan thesisnya, teknis dan non-teknis. Waktu sudah banyak terbuang dan dia mau menyerah. Bahkan punya ide untuk pindah thesis ke saya, yang mana bagi saya ini malah jadi masalah baru karena ini akan memulai yang baru. Bakalan lama lagi.

Saran saya kepada yang bersangkutan adalah untuk tetap melanjutkan thesisnya saja. Tetap maju. Kalau kata orang Barat, “bit the bullet and keep on walking”. Tinggal sedikit lagi saja. Kalau perlu harus menggelandang di kampus, menggelandanglah. Begitu. Dan sang mahasiswa menurut. Singkat ceritanya, yang bersangkutan lulus.

Ada cerita yang mirip juga, tetapi waktu itu mahasiswanya merasa tidak ada value untuk meneruskan kuliahnya. Saya bujuk untuk tetap meneruskanlah. Tinggal 6  bulan lagi. Tetapi yang bersangkutan memilih untuk men-dropout-kan dirinya. Sayang sekali, meskipun mungkin ini sudah menjadi jalan hidupnya. Dia merasa yakin tidak perlu lulus dari perguruan tinggipun dia bisa tetap sukses. Ada benarnya juga. Semoga sukses!

Dalam olah raga juga demikian. Saya temui beberapa kejadian yang mana dalam pertandingan pemain-pemainnya sudah menyerah untuk berjuang padahal waktu belum habis. Apalagi kalau posisi tim sedang kalah. Semakin tidak bersemangatlah para pemain tersebut.  Saya pribadi untuk hal seperti ini berusaha untuk tetap semangat. It ain’t over until the fat lady sings. Begitulah peribahasanya.

Mari kita coret kata menyerah dalam kamus kita.


Industri Berita Palsu

Sudah banyak kita temukan berita atau cerita palsu di berbagai media sosial. Berita bohong ini dikenal dengan istilah “hoax”. Sebagai contoh baru-baru ini ada berita tentang seorang pegawai yang mengundurkan diri dari perusahaan dengan membuat beberapa foto lucu-lucu. Kemudian pengunduran dirinya ini ditanggapi oleh bekas atasannya dengan foto-foto yang lucu-lucu juga. Eh, ternyata ini pura-pura. (Baca di sini.) Kalau yang terakit dengan Indonesia adalah berita tentang PM Singapura meng-unfriend SBY di Facebook dan meng-untag foto-fotonya. Ini juga berita bohong.

Ada yang bisa kasih contoh lain?

Masalahnya ada banyak orang yang menerima berita itu sebagai hal yang benar, kemudian meneruskannya (forward, share, retweet) ke teman-temannya. Akibatnya berita bohong ini makin tersebar. Bahkan, yang menyedihkannya, media konvensional seperti surat kabarpun kemudian menyebarkan berita bohong ini tanpa melakukan check & recheck. Padahal di internet ada beberapa situs yang mendata hoax ini.

Awalnya mungkin cerita bohong ini hanya untuk iseng saja. Namun ada juga yang membuat cerita bohong ini untuk menyudutkan atau menjatuhkan pihak lain. Bahkan saya menduga ini sudah menjadi industri. Ngeri sekali. Kerjaan kok membuat orang lain menderita? Bukannya membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih menyenangkan? Aneh saja.

Nah, apakah pembuat berita palsu ini dapat dituntut secara hukum? Menurut saya sih iya, tetapi karena saya bukan pakar hukum saya hanya dapat menduga-duga. Atau kita tuntut secara “hukum rimba” saja ya? he he he.

Sementara itu, kita harus lebih selektif lagi dalam membaca berita. Boleh jadi itu adalah berita bohong. Nah, apakah tulisan ini termasuk yang hoax juga? hi hi hi. Silahkan Anda menjadi jurinya.


Jokowi Bukan Pencitraan Semata

Salah satu tuduhan yang ditujukan kepada Jokowi adalah dia dipromosikan besar-besaran oleh berbagai pihak, media, dan lain sebagainya dengan bayaran. Katanya ini pencitraan semata. Saya akan tunjukkan bahwa itu tidak benar.

Tulisan ini bernuansa mendukung Jokowi, bukan mendukung menjadi presiden atau apa, tapi mendukung kegiatan-kegiatan (pembenahan) yang sudah dilakukannya. Jadi agak membingungkan juga kalau disebut mendukung, mendukung apa ya? hi hi hi. Mendukung kegiatannya sajalah. Yang pasti adalah satu hal, saya menulis ini bukan karena dibayar oleh Jokowi (atau pihak-pihak yang mendapat keuntungan darinya). Saya hanya seorang warga Indonesia yang senang ada orang membuat perubahan yang positif.

Pencitraan boleh jadi ada, tetapi dapat kita lihat beberapa upaya pencitraan terhadap figur publik yang gagal. Saya tidak perlu menyebutkan nama. Ada banyak dan Anda tahu sendiri. Biar uang sebesar apapun digelontorkan, kalau memang orangnya sendiri tidak cocok dengan apa yang dicitrakan ya hasilnya juga tidak maksimal. Publik kita juga bukan orang yang bodoh yang dapat ditipu dengan pencitraan semata. Males mungkin iya, tapi tidak bodoh. he he he. Maaf ya.

Lantas kenapa Jokowi mendapat sorotan yang demikian besar dari publik? Apakah dia sedemikian hebatnyakah? Menurut saya Jokowi biasa-biasa saja, tetapi *justru* itulah kehebatannya. Biasa-biasa saja tetapi membuat perubahan. Rakyat sudah hilang kesabarannya dengan politisi yang hanya pandai bicara. Sedikit saja action, ternyata dampaknya luar biasa. Boleh jadi yang dilakukan oleh Jowoki belum hebat amat, tetapi dia melakukan sesuatu. He is doing something. Something!!! Not everything. Just something. Usaha itu yang paling penting. Hasil akan menyusul.

Saya banyak belajar dari membuat blog ini. Banyak orang yang hanya sekedar berbicara mengenai media sosial tetapi tidak berbuat sesuatu apapun. Saya tidak hebat dalam menulis. Saya hanya bisa menulis biasa saja. Maka menulislah saya di blog ini. Blog yang sederhana seperti ini saja sudah mendapat banyak perhatian dan dianggap populer. Mungkin itulah sebabnya orang menyoriti Jokowi, karena dia melakukan sesuatu.


Untuk Apa Internet Cepat?

Sebuah pertanyaan yang agak aneh bagi saya; “untuk apa internet cepat?”. Bagi saya itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban, tetapi mungkin jawaban pertanyaan ini tidak terlalu mudah dilihat bagi banyak orang. Baiklah, saya coba jawab.

Ada banyak aplikasi yang membutuhkan layanan internet cepat. Saya ambil satu contoh saja ya, bidang pendidikan.

Di negara-negara maju, pemanfaatan teknologi informasi untuk pendidikan sudah menjadi hal yang umum. Bahkan saat ini online learning dalam skala yang masif sedang menjadi tren. Perguruan tinggi seperti MIT membuat kuliah-kuliahnya online. Atau Khan Academy yang sangat ekstensif menggunakan YouTube. Start up di bidang ini juga mulai bermunculan, Coursera, misalnya. Di Indonesia juga sudah ada beberapa yang memulai.

Salah satu kebutuhan dari online learning adalah adanya jaringan internet yang stabil (reliable) dan cepat. Sebagai contoh, banyak materi yang membutuhkan layanan video. Bagaimana kita dapat menonton video yang ukurannya ratusan Megabytes jika internet kita lambat dan putus-putus? Sebagai contoh, saya suka menonton presentasi yang ada di TED.com. Luar biasa bagus-bagus. Hanya saja saya tidak dapat menonton secara streaming karena internet di tempat saya agak lambat. Yang saya lakukan adalah mengunduh (download) videonya dulu dan kemudian ditonton setelah semuanya berhasil saya peroleh. Bergantung kepada kecepatan internet saat itu, kadang saya harus nunggu cukup lama. Orang lain (siswa lain) di negara yang sudah maju sudah berhasil mendengarkan presentasi 10 kali, di sini mungkin baru selesai download. Belum lagi kalau ada situs yang tidak memperkenankan videonya diunduh, mampuslah kita.

Okelah, mungkin saya masih mengkhayal untuk bisa sampai menggunakan video untuk belajar, meskipun di negara maju ini bukan lagi khayalan. Untuk menyediakan layanan download berkas kuliah dengan jumlah siswa yang besar pun sudah menjadi masalah. Perlu diingat skala siswa Indonesia yang jauh sangat besar jumlahnya. Belum lagi jangkauannya yang sangat luas.

Kondisi internet saya memang tidak begitu cepat. Ini di kota besar di Indonesia, bung! Bayangkan kondisinya di kota yang kecil atau daerah-daerah yang terpelosok. Maka itu dia ada istilah “digital divide“. Yang kaya, yang memiliki akses digital dengan cepat akan semakin maju, sementara yang fakir bandwidth akan semakin tertinggal. Mungkin kalau dianalogikan, siswa di Indonesia hanya bisa baca 3 halaman buku sementara itu siswa di luar negeri bisa baca 300 buku. Mau dibandingkan hasilnya?

Misalnya, anak Anda dapat tugas dari sekolah untuk membuat tulisan tentang punahnya dinosaurus; lengkap dengan gambar kalau perlu. Maka anak yang punya akses internet cepat dapat mengerjakan itu dalam waktu kurang dari satu jam. Cari ceritanya di internet, cari gambarnya, tonton videonya, kemudian mulai mengarang ceritanya. Sementara itu anak yang hanya punya akses GPRS … tiga hari tiga malam begadang tidak selesai download. Kira-kira yang dapat nilai bagus siapa ya? Salah anaknya? Salah internet yang lambat!

Salah satu layanan yang juga sekarang mulai lazim digunakan adalah Dropbox. Dropbox digunakan oleh mahasiswa untuk backup tugas-tugasnya. Ada satu mahasiswa yang nyaris stress karena notebook yang dia gunakan untuk mengerjakan tugas akhir tercuri. Dia belum melakukan backup, sementara teman-temannya menggunakan Dropbox untuk backup tulisan tugas akhirnya. Kami menggunakan Dropbox untuk  mengerjakan makalah bersama-sama. Silahkan cek di kampus-kampus, Dropbox sekarang menempati posisi yang tinggi juga. Dapat dibayangkan apabila layanan internet super lambat. Kampus yang bersangkutan akan punya masalah kredibilitas.

Ini baru bidang pendidikan. Bidang lain, hampir sama. Internet itu merupakan infrastruktur. Sama seperti jalan. Kita tidak boleh hanya puas dengan jalan yang berbatu – bahkan mungkin lumpur – yang hanya dapat dilewati motor atau sepeda saja. Dibutuhkan jalan untuk angkutan umum, bis sekolah, truk untuk mengangkut barang dagangan, dan seterusnya. Jalan harus lebar dan mulus. Internet juga harus demikian.

[sementara itu saya sedang pusing update OS dan aplikasi dari perangkat-perangkat saya karena gak selesai-selesai; gara-gara internetnya lambat! ini masalah nyata saya, sebagai fakir bandwidth. dan untuk download ISO OS - masing-masing sekian GigaBytes ukurannya - sementara harus tunda dulu sampai ke tempat yang internetnya lebih cepat (atau ada mirrornya). Yang repot itu kalau upgrade desktop, ya gak bisa dibawa pergi komputernya. Ini dia screenshot "apt-get upgrade" di komputer desktop saya yang menggunakan Linux Mint.]

apt-get-upgrade-crop


Kekuatan Berita Positif

Dalam diskusi tentang media sosial beberapa hari yang lalu, ada yang berkomentar bahwa media Indonesia sekarang terlalu banyak menampilkan berita yang negatif. Aha. Saya setuju berat. Itulah sebabnya saya tidak membaca surat kabar Indonesia. hi hi hi. Sekarang kami hanya berlangganan Pikiran Rakyat (PR). Itupun karena dulu berhenti berlangganan semua surat kabar tapi entah kenapa kok PR tetap datang. Ah biarlah. Biar mendukung surat kabar lokal saja. Tapi tidak saya baca. Kadang hanya saya lirik headlinenya kalau ada gambar Persib saja. he he he.

Saya pun sudah jaraaaanggg sekali melihat siaran TV Indonesia. Saya berlangganan Indovision dan menonton acara BBC Knowledge, National Geographic Channel, History, dan sejenisnya. Alasannya sederhana, TV Indonesia isinya negatif melulu. Bahkan dibandingkan Channel News Asia, yang merupakan saluran berita Singapura saja, isinya jauh berbeda. Yang ini isinya kebanyakan positif.

Lantas apa yang dapat kita perbuat? Mengeluh itu merupakan salah satu cara. Cara lain adalah membuat perubahan. Itulah sebabnya tulisan di blog saya (inginnya) selalu bernuansa positif. Berbeda dengan mainstream Indonesia yang negatif. Dan saya kira ini yang menyebabkan blog saya ini banyak pengunjung. Setelah didera banyak cerita negatif, kita lelah. Kita ingin membutuhkan yang positif-positif. Maka dari itu, saya menganjurkan banyak orang untuk menulis berita atau cerita yang positif. Untuk menyemangati kita dalam kehidupan ini.

Positif +


Tergesa-gesa Membaca

Di jaman sekarang ini nampaknya kebanyakan orang tergesa-gesa. Makan, ada fastfood. Sekolah, beli gelar. Blog, baca yang singkat-singkat seperti blog ini. he he he. Membaca pun tergesa-gesa sehingga sering kali  salah mengerti apa yang dibacanya. Saya ambil satu contoh yang sedang populer saat ini.

Baru-baru ini ada komentar yang bertanya kepada bu Ani Yudhoyono tentang perangkat kameranya:

Ini kamera yang ibu pakai buat foto di instagram, punya pribadi atau puny (punya) Negara bu?

Kemudian dijawab oleh bu Ani:

@adhityaanp pertanyaan anda agak keterlaluan, tapi akan saya jawab biar gamblang. Yang dipakai oleh biro pers, kemungkinan punya Negara. Kalau yang dipakai saya tentu milik pribadi. Ingat jauh sebelum jadi ibu Negara, pada tahun 1976 saya mendapat hadiah perkawinan sebuah tustel dari ortu (orang tua). Paham?

Tulisan bu Ani dibaca orang dengan tergesa-gesa. Maka muncul kesan bahwa kamera SLR yang digunakan bu Ani adalah hadiah perkawinan tahun 1976. Maka mulailah muncul olok-olok lanjutan. Mosok tahun 1976 sudah ada SLR dan seterusnya. Padahal menurut saya orang-orang tidak cermat membaca tulisan bu Ani. Saya bukannya membela bu Ani, tapi cobalah baca sekali lagi. Jangan tergesa-gesa. Bagaimana? Sudah?

Bu Ani mengatakan bahwa tahun 1976 sudah mendapatkan hadiah kamera. Tentu saja bukan yang SLR dipakai sekarang ini. (Di mana dikatakan kamera yang sekarang ini yang merupakan kado tahun 1976?) Tersirat di sana bahwa bu Ani sudah lama menggunakan kamera dan bukan anak kemarin sore. Punya kamera sendiri juga sudah biasa. Layaklah kalau sekarang menggunakan kamera. Bahkan lebih dari sekedar layak.

Menurut saya, jika bu Ani memang sudah rajin memotret sejak 1976 maka memang tidak pantas untuk diejek-ejek. Lagi pula untuk beli kamera seperti yang digunakannya pastilah mampu. Mosok yang kayak gini perlu ditanyakan. (BTW, menurut saya sebaiknya bu Ani tidak usah menjawab pertanyaan yang seperti ini. Itulah sebabnya kebijakan saya adalah untuk tidak membalas komentar. hi hi hi.)

Tentang kata “Paham?” di akhir komentarnya itu nampaknya sekarang menjadi masuk akal karena banyak orang yang tidak dapat membaca apa yang ditulis. Tidak paham. Mungkin tergesa-gesa membacanya.

Paham?


Tekun

Kadang sedih juga melihat banyak orang yang tidak tekun dalam mengerjakan berbagai hal; ini bisa terkait dengan urusan belajar (sekolah), bekerja, hobby, atau bermain. Seringnya begitu ada hambatan sedikit saja, dia langsung menyerah. Padahal hambatan ini dapat kita lihat sebagai ujian “naik kelas”.

Sebagai contoh ya blog ini. Saya menulis blog ini sudah tahunan. Sebelumnya saya ngeblog di gbt.blogspot.com. Yang itu saya mulai di tahun 2002. Kalau dihitung-hitung, saya sudah ngeblog lebih dari 11 tahun. Maka dari itu jangan heran kalau blog ini ada banyak pengunjungnya. Saya memperkirakan ini lebih banyak disebabkan oleh ketekunan saya menulis. Bukan kehebatan isinya.

Maka dari itu, saya sedih dan kadang kesal melihat orang yang hanya ingin blognya (atau apapun situs dagangannya) banyak dapat pengunjung dengan cepat. Harus ada ketekunan dalam berusaha. Tidak ada yang instan. Yang ada adalah tekun.

Note: By the way, entah kenapa tadinya saya mau menggunakan kata “istiqomah” sebagai judul dari tulisan ini. Saya cek di internet, artinya berbeda dengan yang ada di kepala saya. hi hi hi. Akhirnya terpilih kata “tekun”.


Memupuk Kebencian

Perbedaan itu rahmat. Eh, tapi pada kenyataan tidak begitu. Nampaknya banyak orang yang tidak mudah menerima perbedaan, baik itu yang disebabkan oleh agama, kepercayaan, suku, ras, aliran politik, kelompok, pendapat, dan seterusnya. Mereka beranggapan bahwa orang lain yang berbeda itu mengancam dirinya. Maka, belum apa-apa mereka sudah pasang kuda-kuda. Defensif. Bahkan ada yang langsung offensif. Mungkin mereka penganut aliran “the best defence is offence“.

Media sosial mempermudah peruncingan perbedaan ini. Amati saja. Begitu seseorang dari kubu lain muncul – entah dalam pemberitaan, gambar, atau tulisan orang lain – langsung muncul komentar negatif. Sumpah serapah. Bahkan ada yang sengaja memulai dengan menampilkan potret jelek dari kubu lain. Proaktif dalam memupuk kebencian.

Misal, begitu ada berita tentang Jokowi, maka mereka yang anti-Jokowi mulai memberi komentar negatif. Demikian pula ketika ada berita tentang PKS, maka yang anti PKS (dan juga mungkin anti Islam) menuangkan serapah. Ketika ada yang memberi ucapan selamat natal kepada yang merayakannya, maka muncul serangan-serangan. Dan masih banyak lainnya. Perhatikan saja. (Maukah kita memperhatikan lingkungan kita dan  belajar?)

Mengapa kita tidak belajar untuk menerima perbedaan itu? Bahwa mereka yang berbeda itu bukan ancaman. Bahwa kita adalah kita dan mereka adalah mereka. Bukan musuh. Bahwa kita berbeda itu memang benar-benar rahmat. Indahnya warna warni. Semestinya internet dan media sosial dapat membuka wawasan kita dan lebih mudah menerima perbedaan itu. Harusnya.


Multitasking

Dalam tulisan terdahulu saya mengatakan bahwa generasi sekarang harus menghadapi masalah terkait dengan (kurangnya) atensi. Ada terlalu banyak distractions, seperti SMS / email / internet / media sosial. Generasi muda terlalu banyak melakukan multitasking. Ini menjadi masalah ketika mereka belajar. Para pendidik meminta mereka untuk fokus kepada satu hal dan tidak melakukan multitasking ini.

Saya justru berpendapat sebaliknya. Saya melihat banyak lulusan perguruan tinggi – para pekerja – sekarang yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan multitasking. Mereka hanya dapat mengerjakan satu hal saja. Padahal kemampuan multitasking ini sangat dibutuhkan. Terlebih lagi untuk kita yang tinggal di Indonesia. Di luar negeri, kita bisa hanya fokus kepada satu hal saja. Misalnya, kita bisa menjadi seorang peneliti (researcher) dan fokus kepada itu. Di Indonesia, selain menjadi peneliti kita juga harus mengajar, menjadi anggota ini dan itu, mengerjakan proyek ini dan itu, menjadi ketua RT, dan lain sebagainya. Harus multitasking.

Di lihat dari kacamata pekerjaan juga demikian. Seorang pekerja di industri yang high-tech harus dapat menghasilkan pekerjaan minimal senilai Rp. 100 juta (atau US $10.000) per-tahunnya. Harus lebih dari itu. Pekerja pijit refleksi saja mungkin menghasilkan lebih dari itu ya (kalau dilihat dari ongkos per-jamnya). Seorang peneliti di kampus atau lembaga penelitian harus mendapatkan dana penelitian minimal segitu. Jadi untuk sebuah penelitian dengan tiga (3) orang peneliti, sedikitnya harus mendapatkan dana sebesar Rp. 300 juta. Kenyataannya tidak demikian. Sulit untuk mendapatkan sebuah proyek penelitian sebesar itu. Akibatnya mereka harus melakukan dua (2) penelitian atau lebih. Harus bisa multitasking.

Masalahnya, kapan multitasking ini diajarkan? Apakah kemampuan ini dapat tumbuh demikian saja? Semestinya tidak. Maka seharusnya dia diajarkan. Harus terprogram. Saat ini tidak. Semua dianggap harus bisa saja. Nah.

Sebetulnya kita sudah melakukan multitasking dari dahulu. Hanya saya perpindahan dari satu task ke task berikutnya lebih cepat saja. Sebagai contoh, kalau dahulu mungkin bisa begini.

Kuliah 1 jam. Cek email 30 menit. Kuliah 1 jam lagi. dst. …

Task #1 | … | … | task #2 | … | task #3 | … | … | task #1 | … dst.

Kalau sekarang mungkin seperti ini:

perhatian ke kuliah 5 menit | cek email 5 menit | kembali fokus ke kuliah 5 menit | cek SMS 3 menit | kembali fokus ke kuliah lagi | dst.

Task #1 | #2 | #1 | #3 | #2 | #1

Yang menjadi masalah dengan semakin cepatnya perpindahan antar task tersebut adalah context switching. Dibutuhkan waktu dan usaha untuk melakukan context switching tersebut. Semakin cepat terjadinya context switching ini, semakin cepat membuat otak menjadi lelah. Mungkin. Apalagi bagi yang tidak terlatih. Jadi, memang mungkin perlu ada pelatihan untuk mempelajari multitasking.


Pimpinan Yang Tidak Pernah Turun Ke Bawah

Membaca (mendengar) berita akhir-akhir ini rasanya mau mules. Ada banyak menteri yang tidak tahu kondisi rakyat. Kasus terakhir adalah harga LPG 12 kg yang melejit naik. Eh, masih ada menteri yang bilang tidak tahu. Hardy har har. He he he. Kalau kata orang Sunda, kamana wungkul yeuuhhh

Inilah contoh pimpinan yang  tidak pernah turun ke bawah. Hanya duduk di kantor dan meeting-meeting. Kalau pun pergi, ya ke acara untuk memberikan sambutan ini dan itu. Pulang ke rumah juga hanya untuk tidur dan kembali ngantor lagi. Maka dia tidak pernah turun ke bawah. (Kalau turun ya kebawah? Mosok ada turun ke atas.) Tidak pernah ngobrol dengan rakyat biasa yang tidak difilter oleh bawahaan yang asal bapak senang. Apakah mereka hidup dalam tempurung ya?

Apa mereka tidak pendapat keluhan dari istirnya tentang kenaikan harga? Bagaimana dengan keluhan dari orang tuanya? Keluarganya? Kawan-kawannya? Mosok tidak pernah komunikasi dengan mereka?

Maka dari itu banyak orang yang mengelu-elukan Jokowi (Jakarta), Bu Risma (Surabaya), Ridwan Kamil (Bandung) karena mereka mau turun ke bawah. Hanya sekedar turun ke bawah. Apa susahnya sih?

Ternyata memang ada penyakit, yaitu penyakit pimpinan. Begitu pegang jabatan, maka dia sudah terlalu sibuk untuk turun ke bawah. Ya saya tahun Anda sibuk, tetapi setiap orang juga sibuk. Jangan mengira bahwa apa yang Anda kerjakan itu lebih penting dari pekerjaan orang lain. (Saya kerap menolak bertemu dengan bos / pimpinan jika tidak ada yang urgen dan yang saya kerjakan lebih penting. Bahkan sekedar mengajar di kelas boleh jadi lebih penting daripada sekedar ha ha hi hi dengan menteri.)

Penyakit ini saya temui di segala lini bidang. Bidang pendidikan pun sama saja. Lihat saja institusi-institusi pendidikan. Banyak “pimpinan” yang besar kepala karena menjadi ketua ini dan itu, Dekan, Rektor. Biasa sajalah. Maka dari itu saya cukup salut kepada orang yang tidak terkena penyakit ini. Semoga kita terhidar dari penyakit ini.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.596 pengikut lainnya.