Arsip Kategori: Opini

Bolehkah Pakai Handphone di Pesawat?

Tadi pagi saya diwawancara via telepon oleh sebuah radio swasta di Jakarta. Pertanyaannya adalah seputar pemakaian handphone di pesawat. Bolehkah? Kalau tidak boleh kenapa?

Jawaban singkat saya, matikan handphone di pesawat.

Jawaban panjangnya begini. Memang benar bahwa sistem handphone memiliki frekuensi kerja yang berbeda dengan sistem komunikasi (dan navigasi) pesawat. Teorinya mereka tidak saling berinterferensi. Itu teorinya lho. Bagaimana dengan implementasinya?

Perangkat atau sistem komunikasi diimplementasikan dengan menggunakan rakaian elektronik serta lengkap dengan kabel-kabelnya. Sering implementasi menghasilkan interferensi jika diimplementasikan tidak sempurna. Untuk rangkaian yang sederhana dan yang beroperasi dengan frekuensi rendah tidak terlalu masalah, tetapi untuk rangkaian dengan frekuensi tinggi (seperti yang digunakan di handphone dan sistem komunikasi lainnya) kebocoran frekuensi dapat terjadi.

Masih ingat jaman dahulu ketika masih hobby radio amatir ada istilah spleteran … he he he. Desain amplifier gak beres dan sinyal bocor kemana-mana (bukan di frekuensi yang dikehendaki saja). Pada marah-marah. he he he.

Mungkin kita pernah pergi ke acara kawinan atau acara musik yang menggunakan speaker besar. Eh, terdengar radio masuk ke dalam sound system yang digunakan. Padahal sound system ini tidak dirancang untuk jadi radio kan? he he he. Toh nyatanya terjadi juga interferensi seperti itu. Yang salah bisa jadi sound system-nya (atau bahkan cara menggelar kabel-kabelnya).

Beberapa tahun yang lalu saya coba eksperimen (dan mungkin sekarang masih bisa?). Dekatkan handphone Anda dengan monitor komputer (yang masih menggunakan CRT) atau layar TV (yang menggunakan CRT) yang sedang hidup. Lantas coba Anda panggil (telepon) handphone Anda. Maka layar komputer akan berdansa! Terganggu! Nah. Bayangkan jika layar itu digunakan di pesawat. he he he.

Atau, pernahkah Anda mendengarkan pidato / ceramah yang tiba-tiba ada suara keras “kretek kretek kretek” karena handphone sang pembicara ditelepon dan sinyalnya masuk ke microphone? Ini untuk menunjukkan bahwa interferensi itu terjadi.

Alat-alat elektronik yang beredar seharusnya mendapatkan sertifikasi pengujian lolos interferensi itu. Kenyataannya kan tidak. Anda membeli handphone atau tablet dari luar negeri terus dibawa ke Indonesia. Nah. Gimana tuh.

Airplane mode? Ah ini saya bahas di lain kesempatan saja.

Singkatnya, matikan handphone di pesawat.


Tahun 80an dan Optimisme

Minggu ini National Geographic Channel (NGC) menampilkan tema “the 80s”, tahun 80an. Saya langsung tertarik karena tahun 80an adalah tahun dimana saya mulai menjadi dewasa. (Saya masuk ke ITB tahun 1981.)

Ada banyak cuplikan sejarah yang ditampilkan di sana. Hancurnya batasan antara musik kulit putih dan kulit hitam dengan adanya kolaborasi antara Aerosmith (rock) dan Run DMC (rap) dalam bentuk lagu “Walk This Way”. Lagu ini mulanya adalah lagu andalan Aerosmith yang kemudian ditambahkan versi rap yang menggabungkan keduanya. Ternyata kolaborasi ini menjadi populer.

Tidak hanya di dunia hiburan, di dunia nyatapun dinding runtuh. Dinding Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Timur tumbang. Tidak terbayangkan hal ini akan bakal terjadi.

Kolaborasi antara Amerika dan Uni Soviet pun terjadi. Masih ingat games Tetris? Ternyata ada cerita yang menarik di belakangnya. Bagaimana Tetris ini menjadi killer application dari Game Boy. Film the Simpsons, yang menjadi bagian dari pop culture Amerika, pun muncul di tahun 80an. Masih banyak artifak-artifak lainnya. Tonton saja “the 80s” di NGC ini. Seri dokumenter yang sangat menarik.

Ada satu tema yang muncul berulang-ulang dalam kejadian di tahun 80an, yaitu optimisme. Banyak hal yang tadinya dianggap tidak mungkin terjadi, ternyata terjadi. Ini membuka mata generasi tahun 80an bahwa anything can happen. Mungkin ini yang menyebabkan kami memiliki semangat optimisme yang tinggi?

Bagaimana dengan generasi Anda?


Harus Baca Buku

Bagaimana kita menjadi semakin lebih baik (pintar) di bidang kita? Salah satu caranya adalah dengan membaca buku. Masalahnya adalah membaca buku menjadi semakin kurang digemari. Apalagi dengan adanya internet yang membuat kita ingin cepat mengetahui tentang sesuatu topik dengan hanya membaca twitter. he he he. Mana bisa menjadi pakar dengan hanya membaca twitter.

Mengapa buku? Karena buku memungkinkan pembahasan yang mendalam. Apa yang kita baca di berita (news) atau artikel di internet – termasuk blog ini – biasanya hanya membahas kulitnya atau hanya membahas kesimpulannya saja. Bahasan yang lebih dalam atau bagaimana sang penulis sampai kepada kesimpulan tersebut tidak dapat (jarang sekali) dibahas dalam artikel online. Kalaupun dituliskan dalam blog, misalnya, kemungkinan tidak ada yang tertarik untuk membaca. Apakah Anda mau membaca tulisan di blog yang panjangnya 75 halaman (screen, layar)? he he he. Saya yakin jawabannya adalah tidak!

Menulis buku juga tidak mudah. Buku yang bagus maksudnya :)   . Sang penulis harus mengumpulkan data untuk isnya, merangkumkan, membuat analisis, dan memilih kata-kata yang pas agar menyenangkan untuk dibaca. Tidak seperti menulis di blog ini yang asal mangap. Eh, asal ketik. hi hi hi. Yakinlah bahwa menulis buku itu bukan sebuah pekerjaan yang main-main. Ini tercermin dalam produknya; buku.

Oleh sebab, maka, daripada itu, … membaca buku masih merupakan sebuah keharusan.

Buku apa yang sedang Anda baca? (Atau, buku apa yang terakhir Anda baca? Kapan?)


Dukung Ridwan Kamil

Hari Minggu kemarin, saya menghadiri acara fund raising untuk Ridwan Kamil sebagai calon walikota Bandung. Sebetulnya sih kehadiran saya adalah dalam rangka untuk manggung dengan BanDos, seperti di postingan terakhir, tetapi kesempatan ini saya gunakan juga untuk mengenali apa yang ditawarkan oleh Ridwan Kamil.

CIMG4723 bandung juara 1000

Ridwan Kamil memberi presentasi mengenai program kerjanya dia. Menurut saya apa yang ditawarkan tidak muluk-muluk, dapat diimplementasikan, dan memang dibutuhkan oleh warga kota Bandung. Jalan yang rusak, berlubang, dan buruk kondisinya harus diperbaiki. Ridwan Kamil dan kawan-kawan juga tidak hanya janji-janji saja karena mereka sudah mengerjakan hal ini (perbaikan jalan). Kemudian mereka juga memperbaiki taman-taman yang dibutuhkan oleh anak-anak (dan tentunya juga orang tuanya) agar mereka ada tempat bermain. Dan masih banyak lainnya.

[Kalau ada rekan-rekan yang punya materi presentasinya, mohon diberitahu link-nya.]

Terus terang, saya adalah orang yang apatis terhadap pemilu-pemilu. Sama dengan banyak orang lainnya. Namun untuk kali ini, saya berpendapat bahwa Ridwan Kamil pantas untuk didukung. Kita sudah muak dipermalukan dengan kondisi Bandung. Untuk membuktikan dukungan, saya akan transfer uang ke rekening kampanye Ridwan Kamil. Semoga penduduk kota Bandung – dan juga bukan penduduk kota Bandung (misalnya rekan-rekan dari Jakarta yang sering datang ke Bandung dan kesal dengan jalan-jalan Bandung yang buruk) – ikut mendukung Ridwan Kamil.

Bandung, Juara … Juara … Juara … Juara …


Tidak Logis

Salah satu hal yang sering membuat saya kesal adalah kalau orang membuat keputusan yang tidak logis, tidak runut, tidak masuk akal. Mungkin ini gara-gara latar belakang engineering saya sehingga semuanya harus logis.

Saya tidak dapat mengatakan bahwa jumlah pengguna internet Indonesia ada sekitar 20% tanpa ada data yang jelas. Saya tidak boleh mengatakan bahwa itu “menurut saya”. Suka-suka saya. Tidak bisa.

Baru saja saya ngomel melihat orang membuat pernyataan “10 situs web terpopuler (menurut xyz)”. Pasalnya ada banyak situs web yang lebih populer dari yang ada di daftar tersebut. Mengapa mereka tidak dimasukkan? Saya tanyakan bagaimana metodologinya, data setnya, dan hal-hal yang terkait. Jawabannya tidak memuaskan. Intinya adalah ya itu menurut saya (xyz). Ini bagi saya tidak masuk akal dan cenderung menyesatkan.

Mahasiswa memberikan presentasi tentang tugas akhir | thesis | disertasi. Saya tanyakan bagaimana dia yakin bahwa sistem yang dia buat itu berfungsi (sesuai dengan spesifikasinya). Jawabannya sering tidak masuk akal. Ya dicoba saja. He he he. Dicoba itu harus jelas. Data masukan (input) yang diberikan itu apa? Keluarannya seperti apa? Dilakukan berapa kali? dan seterusnya. Lagi-lagi tidak logis.

Berdiskusi tentang sebuah rancangan regulasi yang akan dikeluarkan pemerintah. Ada beberapa hal yang saya tanyakan; mengapa ada pasal | ayat ini dan itu. Membuat regulasi itu tidak asal-asalan. Jangan memalukan. Untungnya teman-teman mengakomodasi hal ini. Saya sering lihat ada banyak keputusan pemerintah (atau pimpinan) yang nggak logis. Bahkan di lingkungan perguruan tinggipun kadang ada hal-hal yang tidak logis. Bikin kesel aja.

Oleh sebab maka dari itu … kalau membuat sesuatu, buat yang logis ya. Kalau tidak, nanti saya kritik. hi hi hi.


Menolak Untuk Menjadi Bebek

Satu hal yang akhir-akhir ini banyak membuat saya jengkel adalah kebiasaan orang meneruskan (forward) berita-berita dari internet baik di milis maupun di media sosial. Biasanya hal ini ini dilakukan tanpa pikir panjang. Pokoknya forward. Mengenai beritanya benar atau tidak, baru atau basi, tidak peduli. Forward dulu, urusan belakangan.

Hal ini semakin diperparah dengan kemudahaan aplikasi / situs untuk melakukan forward. Tinggal tekan tombol atau linkshare“, maka tulisan langsung diteruskan. (Kadang malah dalam sebuah milis ada dua orang yang meneruskan berita yang sama.)

Akibat dari ini saya menjadi bosan karena di milis, di media sosial, situs web, topik yang dibahas juga sama semua. Itu lagi itu lagi. Kalau sekarang yang sedang ngetren misalnya “pengusiran orang cakep di Timur Tengah”, “dosen abal-abal”, apa lagi? Bosen. Mbok ya buat topik baru gitu.

Satu hal yang tidak terpikirkan oleh banyak orang adalah kebiasaan ini membuat kita tidak kreatif. Kita hanya bisa meneruskan, membebek, ngikut, alias tidak kreatif.

Saya menolak untuk menjadi bebek. he he he.


Mencari Popularitas?

Ada beberapa orang yang bertanya kepada saya bagaimana caranya agar populer (di internet, via blog). Saya kemudian bertanya

setelah terkenal, lantas mau apa?

Banyak orang yang tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Dalam pikirannya terkenal itu enak. Padahal itu adalah fatamorgana yang diciptakan oleh media massa saja.

Pernahkan terpikirkan oleh kita hal-hal yang tidak menyenangkan kalau kita terkenal? Biasanya sih tidak. hi hi hi.

Kembali kepada inti permasalahannya. Banyak orang yang ingin terkenal. Padahal dari orang-orang yang sukses, saya mendapat pelajaran bahwa mereka tidak mencari popularitas atau ketenaran. Mereka berkarya dan karena karyanya bagus, maka mereka terkenal. Jadi terkenal itu hanya efek sampingan. Bukan tujuan.


Kini, Sekarang, Saat Ini

Jejaring sosial mengubah ekspektasi seseorang. Misalnya ketika saya menampilkan sebuah foto di sebuah tempat, orang lantas berpendapat bahwa saya sedang berada di tempat tersebut. Padahal foto tersebut saya ambil beberapa hari yang lalu.

Kemudian muncul komentar atau pertanyaan apakah saya sedang berada di tempat tersebut. Tentu saja pertanyaan ini tidak salah. Namanya juga bertanya. Apalagi mereka tidak tahu sekarang saya sedang berada di mana. Hanya saja saya menjadi bosan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Ini hanya masalah perbedaan harapan (ekspektasi) dari penulis dan pembaca.

Status di facebook juga “mengharuskan” ini adalah kondisi sekarang. Namanya juga status ya? Demikian pula twitter diharapkan bercerita tentang yang sekarang. Pokoknya urusannya adalah sekarang. Untung blog masih memberikan keleluasaan waktu.

Padahal sering saya ingin mengangkat tulisan dan foto yang bukan saat ini. Mungkin jejaring sosial bukan tempatnya? Mungkin itu sebabnya saya lebih suka menulis di blog?


Sukses Instan!

Barusan mau ketawa ngakak melihat iklan jualan sukses secara instan. Kali ini yang dijual adalah sebuah buku, tetapi jualannya bisa sapa saja. Ada yang memberikan pelatihan agar dapat sukses bisnis secara instan. Padahal mungkin yang memberikan pelatihan dapat pemasukannya ya dari pelatihannya itu sendiri. hi hi hi.

Kemudian saya lihat anak muda yang membuat situs web kemudian berharap akan dapat pengunjung banyak secara mendadak. Lah? Emangnya siapa kamu? Kalau selebriti atau anggota parpol mungkin banyak yang berkunjung secara mendadak.

Tidak ada sukses yang instan. Kalau kopi instan sih ada. Mari kita menyeduh kopi dulu…


Murahnya Ide

Dalam pembicaraan mengenai pengembangan sebuah startup, sering dikatikan dengan ide. Dari mana mendapatkan ide bisnis? Ide ini dianggap penting dalam sebuah binis. Bagi saya ide memang penting karena tanpa ide lantas kita ingin membuat apa, tetapi tidak sepenting eksekusi membuat ide itu menjadi kenyataan. Eksekusi itulah yang paling penting.

Ide itu murah. Ideas are cheap. Banyak yang tidak percaya ini. Kalau ide itu tidak murah, maka mungkin saya sudah kaya luar biasa karena saya punya banyak ide. Yang membuat saya tidak kaya raya adalah karena ide-ide tersebut tidak saya eksekusi menjadi kenyataan. Berikut ini adalah beberapa ide yang pernah saya miliki.

  1. Membuat sistem (hardware & software) yang membantu dokter untuk melakukan operasi (laparoscopy surgical system) dengan bantuan alat pendeteksi gerakan bola mata. Sempat dieksekusi. Kehabisan uang dan juga ide terlalu advanced. Terlalu cepat untuk waktunya. Ini sekitar tahun 1988an. Sehingga harus ditutup.
  2. Membuat software untuk mendeteksi penyakit (expert system). (Sekitar tahun 1989) Gagal dieksekusi karena waktu itu tidak memiliki uang untuk membayar programmer.
  3. Membuat hardware/software untuk melakukan pitch detection sehingga musik bisa mengikuti note/nada yang dinyanyikan penyanyi. Waktu itu sempat buat kodenya dengan menggunakan IBM PC XT. (Lupa tahun berapa. Mungkin sekitar tahun 1990?) Sempat juga buat VLSI chipnya. Tetapi karena waktu itu teknologinya masih mahal sehingga tidak terlaksanan. Ada perusahaan lain yang akhirnya membuat produk yang saya inginkan.
  4. Membuat browser yang mudah digunakan. Ini jaman ketika Tim Berners-Lee masih mengembangkan WWW. Waktu itu browser yang ada sangat minimal. Ini jaman sebelum Marc Andreessen mengembangan Mosaic, yang menjadi awal dari Netscape, yang menjadi awal dari Mozilla. Tidak saya eksekusi karena waktu itu belum banyak orang yang mengerti WWW dan saya sedang sibuk sekolah.
  5. Membuat perusahaan komersil yang mendukung Linux. Ide ini saya lontarkan ke kawan ketika dahulu mengoprek Linux di awal-awal pembuatannya (bahkan X Window / X11 pun belum jalan di Linux). Tidak kami eksekusi karena kami sibuk dengan sekolahan. Ini jaman sebelum ada perusahaan seperti Redhat.
  6. Membuat personal digital assistant, yang berupa sebuah software untuk memantau dan mengelola kegiatan email-email saya. Misalnya ketika mailbox saya mulai membengkak, dia akan mengarchive mail-mail lama, mengunsubscribe milis yang jarang saya baca, dan seterusnya. Saya menerima 500 s/d 1000 email setiap harinya. Yang ini sudah pernah saya coba buat tetapi macet. Terbengkalai.
  7. Mekanisme pembayaran dengan menggunakan pulsa. Ide ini saya lontarkan di tahun 1997 ke beberapa operator seluler, tetapi tidak ada yang menanggapi karena belum mengerti dan ketakutan (terhadap aturan).
  8. Menjual musik MP3 legal. Ide ini saya lontarkan sebelum ada iTunes. Sudah saya buat beserta kawan-kawan (Digital Beat Store), tetapi harus ditutup karena kesalahan dalam eksekusi. Akan saya buat lagi dalam bentuk yang lain.
  9. Membuat program yang menghasilkan topik-topik / ide-ide baru :) Yang ini kalah cepat dengan Plinky. Saya sudah buat software kecil-kecilan untuk mainan pribadi saja.
  10. Membuat car stereo dengan menggunakan embeded system atau komputer kecil. Dulu belum ada Arduino atau Raspberry Pi. Belum diekesekusi karena gak punya waktu.
  11. Menggabungkan steganography dan cryptography. Ada beberapa ide yang mungkin sebetulnya dapat dipatenkan. Sayangnya orang yang diajak mikir tentang ini sudah kabur ke luar negeri (untuk sekolah). Tidak sanggup untuk mengembangkan ide ini menjadi kenyataan.
  12. Membuat software untuk membuat tarian semudah orang membuat musik. Musik punya MIDI. Sendratari punya apa ya? Lanjutan dari ini adalah membuat Digital Mahabarata, di mana ratusan orang bisa memerankan cerita tersebut secara online.
  13. Membuat sistem untuk mengelola lawakan, bed-time stories, dan sejenisnya. “Bodor dot net”? wk wk wk. Orang tinggal telepon ke sebuah nomor, melawak atau ngoceh, lantas ocehan ini masuk ke database. Kalau ada orang lain yang dengar (mendengarkan humor atau cerita bobo untuk anak-anak), maka yang bercerita dapat duit (atau pulsa?). Yah Rp 100,- lah. Semacam app store tapi isinya adalah lawakan atau dongeng. Yang ini malah saya sudah punya corat-corentnya dan bahkan sudah saya presentasikan (misalnya di talk saya di Tedx Bandung).
  14. Jualan lagu digital di SPBU (via bluetooth / WiFi). Jadi orang ngisi bensin sekalian ngisi lagu. Bensin 100 rebu, lagu 7 biji.

Selain ide-ide di atas, saya masih punya banyak ide. BANYAK SEKALI! Mungkin saya harus buat software untuk membantu saya menuliskan ide-ide tersebut. Saking banyaknya. ha ha ha.

Kalau saja ide-ide tidak murah, mestinya saya sudah kaya raya. hi hi hi. Karena ide murah, saya tidak terlalu takut berbagi ide dengan orang-orang. Maka dari itu saya sebetulnya tidak setuju dengan mengunci ide melalui intellectual property rights. Ini topik bahasan lain kali ya.

Ide itu bukannya tidak penting. Dia penting, tetapi lebih penting eksekusinya. Mungkin ide itu dapat dianalogikannya dengan niat. Misalnya Anda punya niat untuk pergi ke Singapura, tetapi Anda tidak melakukan apa-apa maka tidak bakalan sampai ke Singapura. Tentu saja orang lain yang tidak punya niat ke Singapura pun mungkin tidak sampai di Singapura, tetapi ke Jakarta, Kuala Lumpur, Sydney, dan bulan(?). Anda pun tidak boleh marah kalau ada orang yang pergi dan sampai ke Singapura. Kan Anda hanya niat saja :)   Demikian pula Anda tidak boleh iri ketika orang sukses mengeksekusi sebuah ide menjadi kenyataan meskipun ide tersebut mirip atau sama dengan ide Anda.

Mengapa saya punya banyak ide? Saya selalu melatih diri saya untuk mencari ide *setiap hari*. Ini adalah bagian dari saya untuk melatih kreatifitas. Perlu diingat bahwa kreatifitas tidak hanya untuk bisnis saja, tetapi dia menjadi kebutuhan untuk dunia seni (menciptakan lagu, tulisan, cerita, novel) dan untuk memecahkan masalah (business problems, research problems).


Bekerja Seadanya Saja

Salah satu kebiasaan buruk yang saya amati adalah bekerja seadanya. Bekerja sekedar memenuhi kewajiban administratif. Kalau disuruh buat laporan, ya buat laporan asal ada laporan. Dia tidak ingin membuat laporan yang excellent. Tidak ingin membuat laporannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Mungkin kebiasaan ini dibina sejak jadi mahasiswa, yaitu dibiasakan mengerjakan tugas seadanya. Asal kumpul tugas. Ketika mahasiswa diajari bahwa yang kerja ekstra dan kerja asal-asalan nilainya sama saja. Ngapain juga kerja ekstra? Ini kemudian terbawa juga setelah bekerja.

Padahal orang akan menilai beda; orang yang asal-asalan dan orang yang serius dan mencintai pekerjaannya. Jelas berbeda!


Budaya Repost

Layanan media sosial yang ada saat ini memperkenankan seseorang untuk menampilkan-ulang (repost) karya orang lain, yang dapat berbentuk foto, musik, tulisan, berita dan lain-lain. Repost ini dapat dilakukan dengan sangat mudah. Pada tampilan ada tombol untuk “berbagi”, “pin”, dan sejenisnya.

Saya ingin mengambil contoh foto dulu saja. Banyak foto yang di-repost. Terus terang saya agak khawatir dengan fenomena ini. Saya khawatir lama kelamaan orang lebih memilih untuk melakukan repost daripada membuat karya original. Lama-kelamaan dia menjadi kebiasaan, kebudayaan.

Saya sendiri lebih menyukai menampilkan foto buatan sendiri meskipun kualitasnya ala kadarnya. Yang penting orisinal.

Bagaimana menurut Anda?


Perlukah Pelajaran XYZ?

Di sebuah milis saya mengikuti perdebatan tentang kurikulum. Berbagai masalah dilontarkan. Salah satunya adalah perlukah pelajaran tertentu, sebut saja XYZ, diajarkan? Perdebatan kemudian terjadi karena ada orang yang menginginkan mata pelajaran / kuliah tertentu hadir dengan jumlah SKS tertentu. Sementara itu ada batas SKS maksimum yang diambil oleh mahasiswa. Memilih mana yang perlu dan mana yang tidak ternyata sulit.

Saya melantur. Mencoba mengerti lebih jauh. Perlukah sebuah pengetahuan tertentu diajarkan? Kalau pertanyaannya perlu, mungkin jawabannya adalah memang perlu. Hanya masalahnya apakah dia perlu diajarkan secara formal dalam bentuk sebuah mata pelajaran atau tidak? Itu kan masalahnya.

Ini juga sebetulnya terkait dengan harapan keluaran yang diinginkan. Yang ini juga ternyata masih menjadi perdebatan.

Saya dapat membayangkan ada beberapa pengetahuan yang nampaknya akan terdesak, yaitu hal-hal yang sulit sekali secara teknis (sehingga tidak banyak peminatnya) dan hal-hal yang dianggap remeh. Kesusasteraan, misalnya, tidak mungkin akan muncul dalam bidang ilmu teknis. Padahal menurut banyak orang, hal ini sangat penting. Liberal arts mulai mendapat porsi yang besar di luar negeri.

Saya berpikir, apakah “English Literature” akan mendapat porsi di Indonesia? Demikian pula dengan “World History”? Dugaan saya jawabannya adalah TIDAK! (Dengan tanda seru.) Ini budaya Barat yang tidak penting amat untuk dipelajari. Apalagi dimengerti.

Padahal ada banyak hal di dunia teknis sekalipun yang terpengaruh oleh budaya Barat. Di dunia saya ada banyak pengaruh tulisan science fiction yang mempengarui teknologi. 1984? 2001 Space Oddysey? Bahkan skit Monty Python pun menyebabkan munculnya istilah spam di email. Beberapa pemikiran pengarang seperti Asimov juga mempengaruhi banyak hal. Belum lagi soal Star Trek :)

Saya beruntung karena pernah bersinggungan dengan budaya Barat untuk waktu yang cukup lama, lebih dari 10 tahun, ketika saya mengambil S2 dan S3 di Kanada. Ada banyak hal yang akhirnya saya ketahui dan itu memudahkan saya untuk memahami dan berdiskusi dengan kolega-kolega di luar negeri.

Pemahaman World Culture menurut saya semetinya penting untuk diajarkan. Nah, apakah kita perlu juga membaca Shakespeare? Hmm…


Iri Hati Dalam Bekerja

Hari-hari ini adalah hari yang terjepit di antara liburan. Ada yang libur, tetapi ada juga yang bekerja. Maka sering timbul perasaan iri; mengapa saya harus bekerja sementara dia libur? Perasaan iri hati ini memang manusiawi, tetapi sebetulnya dapat diatasi.

Kita merasa iri kepada orang yang berlibur karena bekerja kita anggap sebagai siksaan. he he he. Itu dia masalahnya. Coba kalau bekerja itu sama seperti bermain, atau makan, atau hal yang kita sukai, pasti kita tidak iri bahkan diiri. Contohnya pemain sepak bola. Kalau kita diturunkan main sepak bola tentu kita bakalan lelah, tetapi pemain bola tidak suka kalau dia disuruh duduk di bangku cadangan. Bayaran tetap sama, tapi tidak main. Pasti kalau ditanya, mereka lebih suka main alias bekerja. Bahkan ada pemain bola yang ngamuk dan pindah klub gara-gara lebih sering duduk di bangku cadangan. Contoh lain adalah artis musik. Mereka juga akan lebih suka tampil lebih lama daripada lebih lama duduk di belakang panggung.

Inti utamanya adalah bagaimana kita membuat bekerja menjadi menyenangkan. Pekerjaan kita harus sesuatu yang kita sukai. Lingkungannya juga yang coock dengan kita. Begitulah. Make it fun. Buatlah menjadi menyenangkan sehingga kita tidak terlalu iri untuk melihat orang lain berlibur. Saya jadi ingat kata-kata teman saya:

If work is so much fun, why take a holiday?


the Voice

Sekarang saya sedang senang nonton the Voice. Itulho acara TV yang mencari bakat penyanyi, seperti American Idol, tetapi ada bedanya. (Silahkan lihat deh informasinya di Internet.)

Yang membuat saya suka adalah penyanyi-penyanyinya. Pada musim ketiga ini mereka mendapatkan penyanyi yang keren-keren. Berikut ini adalah penyanyi yang keren menurut saya.

Yang pertama adalah Nicholas David. Ini penyanyi yang tampangnya kelihatan seperti terlalu tua, dengan jenggotnya yang panjang dan tidak teratur. Ini mengingatkan saya kepada para artis jaman tahun 70an atau setidaknya band ZZ Top. he he he. Begitu dia nyanyi, wah kerasa sekali nuansa soul-nya. Cengkok-nya itu khas sekali. Soul. Bahkan gara-gara dia saya menjadi suka (kembali) lagunya Al Green – Let’s stay together. Dia ini adalah favorit utama saya di musim ini.

Yang kedua adalah Terry McDermmott. Pada awalnya saya merasa biasa-biasa saja, tetapi lama kelamaan saya suka karena konsistensi dia dalam jenis musik yang dia bawakan yaitu Classic Rock. You know me. Saya penggemar musik berjenis classic rock. Jadi selama dia ada di acara, saya akan mendengar lagu-lagu classic rock. A big plus. Yang paling saya sukai adalah ketika dia menyanyikan lagunya Wings / Paul McCartney, Maybe I’m Amazed. Keren.

Perlu diingat bahwa vokalis classic rock biasanya memiliki  suara yang tinggi. Kalau sekarang sih semakin rendah semakin bagus. Growling di musik metal misalnya. Nah, mencari penyanyi yang memiliki suara tinggi itu susah. Contoh jagoan saya dari jaman dulu adalah Steven Tyler (Aerosmith), Steve Perry (Journey), dan sejenisnya.

Go the Voice!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.125 pengikut lainnya.