Arsip Kategori: Opini

Kerja Asal-Asalan

Beberapa kali saya mendapati kondisi pekerja yang kerjanya asal-asalan. Maksudnya, dia bekerja hanya sekedar untuk memenuhi persyaratan administratif bahwa dia bekerja, tetapi sesungguhnya dia tidak peduli dengan apa yang dikerjakan. Contohnya begini.

Suatu saat saya ke counter yang menjual sebuah produk. Saya menanyakan dimana tempat servis produk tersebut di kota Bandung atau adakah yang dapat memberikan servis di gedung ini (kejadiannya di BEC, Bandung). Sang penjaga counter ini tidak dapat menjawab apa-apa karena bagi dia mungkin yang penting adalah duduk di belakang counter. Bagi dia bekerja adalah duduk di belakang counter. Mengenai produknya sendiri, dia tidak peduli. Berbeda dengan penjaga lain yang berada di toko yang lain. Ketika ditanya, dia dapat memberi tahu tempat servis resminya, servis di lokal, dan perkiraan harganya kalau harus bayar. Dengan kata lain dia mau belajar tentang produk yang dia jual.

Tentu saja kerja asal-asalan ini juga terjadi di industri / instansi lain. Banyak orang yang merasa bahwa bekerja itu adalah hadir. Sesunguhnya dia tidak menyukai apa yang dia kerjakan dan dia merasa tidak nyaman atau bahkan tersiksa. Dia tidak peduli dengan kualitas pekerjaannya, apa lagi untuk meningkatkan kualitas hasil dan layanannya.

Sebagai contoh, ketika orang membuat laporan (report, dokumen) maka ada kecederungan dia membuat seadanya. Asal ada saja dokumen itu untuk memenuhi syarat. Isinya? Ya seadaanya saja. Tidak banyak orang yang memikirkan isinya, bagaimana membuat isi laporan tersebut lebih mudah dimengerti, lebih cepat dibaca, lebih bermanfaat, dan seterusnya. Ada orang yang seperti ini – berbuat lebih – tetapi tidak banyak. Sebagian besar ya kerjanya asal-asalan saja.

Lantas apa maunya orang seperti ini? Dia berpikir bahwa dia dapat bekerja di tempat lain dan mendapat apresiasi yang berbeda (lebih). Sesungguhnya di tempat lainpun dia tidak akan dihargai. Pemberi kerja akan menghargai orang yang berusaha bekerja sesungguh hati. Bahkan dalam tingkat pesuruh pun akan menjadi rebutan orang banyak. Orang yang bekerja dengan sepenuh hati tidak akan mendapat kesulitan mencari pekerjaan karena bukan dia yang mencari, tetapi orang atau pekerjaan yang mencari dia.

Mentalitas seperti ini mungkin sudah muncul ketika menjadi mahasiswa. Banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas asal-asalan. Asal ada saja. Asal selesai. Dia tidak ingin membuat tugas yang bagus. Padahal ini tercermin dalam hasilnya. Akhirnya mahasiswa ini terbiasa dengan seadanya dan ketika luluspun kebiasaan ini terbawa. Hadoh.

Bagaimana dengan Anda?


Belajar Memotret

Belajar memotret sekarang sangat mudah dan murah. Kamera digital harganya sudah sangat terjangkau; hanya ratusan ribu rupiah. Bahkan hampir semua handphone sekarang dilengkapi dengan kamera meskipun kualitasnya tidak begitu bagus.

Jaman dahulu, kalau mau belajar memotret sangat mahal biayanya. Kita harus beli kamera yang tidak murah dan – yang paling penting – biaya operasionalnya yang mahal. Kita harus membeli film dan mencetaknya. Sudah begitu harus menunggu sampai foto dicetak untuk mengetahui bahwa foto kita jelek hasilnya.

Sekarang? Tinggal jepret, jepret, jepret. Tidak suka? Jelek? Tinggal hapus (delete). Selesai. Atau untuk satu obyek bisa kita potret berkali-kali sampai sesuai dengan yang kita inginkan. Proses belajar juga dapat diulang-ulang sebanyak mungkin. Sampai bisa. Jadi semestinya tidak ada alasan lagi bagi yang ingin belajar memotret. Sekarang tinggal tertarik atau tidaknya.

Namun kemampuan asal jepret ini juga membuat proses belajar menjadi agak kacau. Kalau dahulu, kita harus berpikir panjang sebelum memutuskan untuk mengambil foto tersebut. Foto yang diambil mungkin lebih baik karena dipikirkan secara masak-masak. Shoot to kill. Kita hanya diberi kesempatan terbatas untuk memotret ini. Salah? Ya mahal harganya. Jadinya orang yang belajar memotret memang lebih serius.

Itu sebabnya saya tidak belajar memotret dulu-dulu. Mahal. Ha ha ha. Nah sekarang tidak ada alasan lagi ya? Kalau begitu saya mau njepret-njepret dulu ah.

[gloomy tree]

[red]


Bangga Menjadi Insinyur

Pagi ini saya mencoba membaca tumpukan buku dan majalah yang sudah menanti giliran untuk dibaca. Kali ini saya mulai dengan beberapa majalah IEEE. Dimulai dari majalah IEEE Spectrum dahulu.

Untuk pembaca yang non-Elektro, IEEE ini merupakan asosiasi dari orang-orang Elektro di seluruh dunia. Saya menjadi anggota ini ketika masih menjadi mahasiswa. Sekarang masih menjadi anggota, meskipun masih meminta diskon karena berpenghasilan rendah. Hey, standar gaji dosen ITB BHMN tidak dapat dibandingkan dengan dosen di luar negeri tentunya :) Which reminds me, I have to renew my IEEE membership.

Membaca majalah IEEE ini membangkitkan lagi semangat kenapa saya menyukai bidang engineering. Bangga menjadi engineer. (Wah, nanti bangga dianggap sama dengan arogan ya? he he he) Masih teringat grafiti di kampus dulu; Engineers Rule! (I’d say, some proudness are necessary.)

Kali ini yang menarik adalah cerita tentang Steve Furber, seorang profesor dari University of Manchester. Sebelumnya dia adalah peneliti di bidang aerodynamics di Univ. of Cambridge. Kemudian dia ditarik perusahaan Acorn Computers (ini di Inggris) untuk mengembangkan prosesor ARM. Lo and behold, prosesor ARM ini merajai dunia. Nyaris semua handphone menggunakan prosesor ARM ini. Intel? Mampus.

(Ada diskusi tambahan; ARM memang merajai dunia handphone / embedded system, tetapi di dunia server Intel masih rajanya. Nah sekarang ARM mau masuk ke dunia server dan Intel juga masih tetap berusaha masuk ke dunia gadget meskipun sudah pernah gagal. Kita lihat nanti hasilnya.)

Yang membuat saya mesem-mesem adalah saya sempat ketemu dengan profesor ini karena dulu dia adalah salah satu pakar di bidang penelitian saya, asynchronous systems. Groupnya menciptakan Asynchronous ARM processor. Seru juga. Mengembalikan kenangan lama.

Betapa menyenangkannya menjadi engineer. Menciptakan hal-hal untuk membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. To me the world a better place to live.


Berkomunikasi Ala Orang Indonesia

Cara orang berkomunikasi ternyata terkait dengan kultur orang yang bersangkutan. Orang Amerika terbiasa berkata dengan blak-blakan. Orang Indonesia – dan mungkin Asia secara umum – cenderung tidak demikian. Kita cenderung berdiskusi di belakang layar.

Mari kita ambil contoh. Dalam perkuliahan, misalnya. Dosen sering bertanya kepada mahasiswa, “ada pertanyaan?” atau “ada yang belum dimengerti?”. Di Indonesia, biasanya pertanyaan seperti ini tidak mendapat tanggapan. Mahasiswa tertunduk, meskipun banyak yang belum mengerti. Setelah kuliah selesai barulah ada satu dua mahasiswa yang maju ke meja dosen dan bertanya. Halah. Mengapa tidak bertanya tadi-tadi? Kalau orang Amerika, biasanya bertanya ketika belum mengerti dan ada kesempatan untuk bertanya. Bahkan mereka akan mengacungkan tanya sebelum kita bertanya apakah ada yang ingin bertanya.

Ternyata kebiasaan ini terbawa juga ke dunia maya. Dalam sebuah mailing list, misalnya, ada diskusi. Kemudian ternyata ada yang berpendapat bahwa sebaiknya topik diskusi tersebut didiskusikan antar orang saja atau ketemuan di darat saja. Ini mirip seperti kondisi di kelas tadi. Yang mau nanya, nanti saja langsung ke dosennya. Kita tidak terbiasa berdiskusi di publik.

Dan ternyata kalau berdiskusi di publik pun, banyak yang ngaco. Masalahnya, mereka tidak terlatih untuk berdiskusi di publik. Adalah yang bicaranya muter-muter (lama sekali untuk mengatakan intinya), ngeyel kalau berdiskusi (berdebat), atau bahkan tidak fokus. Cape deh.

Ini masalah kultur. Tidak mungkin untuk diubah dalam waktu singkat. Entah apakah generasi nanti akan tetap sama atau berubah. Kalau melihat mahasiswa saya, nampaknya belum akan berubah. Oh well.


Industri TV Yang Tidak Kreatif

Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah wawancara. Kalau tidak salah yang diwawancara adalah will.i.am. Topik yang dibahas adalah tentang kreativitas. Salah satu yang dijadikan contoh tidak kreatif adalah TV.

Sejak dari jaman dahulu sampai sekarang tidak ada perubahaan isi / acara TV. Setelah saya pikir-pikir, benar juga. Acara berita di TV dari jaman dahulu (saya ingatnya tahun 70-an) sampai sekarang masih tetap sama. Inovasi yang terjadi di dunia TV hanya MTV. Setelah itu apa lagi?

Kalau para pelaku yang berada di industri TV adalah kreatif, mereka tentunya yang meghasilkan Facebook. Contoh lain yang juga seru adalah masalah popularitas. Lihatlah fenomena Psy dengan Gangnam Style-nya. Sudah lebih dari 700 juta view! Bayangkan. Acara TV mana yang memiliki pepularitas seperti itu?

Hmm… menarik, bukan?


Mengapa Harus Beli Pertamax?

Akhir-akhir ini saya jadi lebih memperhatikan orang-orang yang membeli bensin di SPBU. Ternyata lebih banyak orang yang membeli bensin premium ketimbang pertamax. Yang membeli bensin premium termasuk mobil-mobil mewah lho. Lantas saya jadi berpikir-pikir. Apakah saya yang bodoh karena tetap membeli pertamax? Apakah sebaiknya saya pindah ke premium saja?

Alasan orang tentang penggunaan timbal dan sejenisnya sebetulnya bagus, tetapi bukankah kita bertahun-tahun telah menggunakan bensin premium dan tidak apa-apa? Bahkan dahulu pun kualitas bensin mungkin tidak sebagus sekarang dan kendaraan oke-oke saja. Apakah sekarang memang desain mesin kendaraan lebih sensitif? Ini bukannya memburuk? Semestinya kan mesin harus didesain lebih tahan bantingan.

Oktan yang tinggi. Untuk apa oktan yang lebih tinggi? Mesin yang lebih bersih katanya. Seberapa bersih sih perbedaannya? (Asumsinya dibelinya dari SPBU yang bagus bukan yang nakal.) Kalau premium diberitakan menyebabkan kerusakan fuel pump, dan seterusnya, mengapa premium masih boleh dijual secara resmi?

Perlu diingat bahwa saya – dan sebagian besar orang – menggunakan mobil untuk keperluan dalam kota. Ataupun kalau ke luar kota tidak untuk balapan (ngebut). Rasanya premium oke-oke saja tuh.

Permasalahan yang dihadapi adalah harga pertamax itu DUA KALI LEBIH MAHAL (atau bahkan lebih lagi) daripada harga premium. Perbedaan harga ini cukup lumayan kalau dihitung sebulan.

Jadi? Kembali ke premium kita?


Solusi Dengan Karakter Lokal

Salah satu permasalahan yang kita hadapi adalah transportasi. Di Bandung mulai terjadi banyak kemacetan seperti di Jakarta. Bagaimana solusinya?

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah penggunakan kendaraan umum (public transportation). Ini sebetulnya dapat dilakukan secara teori tetapi entah kenapa banyak sekali halangannya. Saya bukan ahli transportasi sehingga saya tidak ingin membahas ini secara detail. Yang ingin saya bahas adalah banyak orang yang melihat negara lain untuk mencari solusinya. Ini tentu saja tidak salah. Selama ada solusi, kemana saja mau belajar tidak masalah.

Satu hal yang sering dilupakan adalah solusi yang menerapkan karakter, kebudayaan, atau kebiasaan setempat. Sebagai contoh adalah ojek. Fenomena ojek tidak dikenal di Amerika, misalnya. Kalau kita mengusulkan orang Amerika agar menerapkan ojek, maka kita akan dianggap gila. Padahal di Indonesia, ojek adalah solusi yang nyata. Ini yang saya maksud dengan solusi berkarakter lokal. Jangan paksakan kita dengan solusi dari tempat lain – yang bisa jadi sangat bagus akan tetapi sulit untuk diterapkan di kita.

Masalah transportasi merupakan satu hal. Ada masalah-masalah lain yang serupa (buang sampah sembarangan, tidak mau ngantri, dan masih banyak lainnya.). Usulan saya, jangan sisihkan ide-ide aneh yang mencoba menerapkan karakter lokal.


Republik Sinetron

Sebetulnya saya tidak suka menulis blog dengan topik yang sedang ngetrend. Harus topik yang lain. Namun kali ini saya terpaksa menulis sesuatu yang sedang ngetrend. Ini tentang pencalonan Gubernur Jawa Barat.

Kalau dilihat dari daftar calon, ternyata kebanyakan adalah artis. Tanpa bermaksud mengecilkan para artis ini, saya hanya bertanya-tanya mengapa demikian? Apakah mereka tidak punya pekerjaan lain? Saya pikir tadinya passion mereka adalah di seni. Secara mereka sebagai aktor / aktris begitu. Apakah pekerjaan mereka sebelumnya itu hanya dolanan? Mengapa mereka tidak menekuni hal itu sampai akhir hayatnya?

Cara para artis ini menjadi calon bagi partai politik itu juga menurut saya mengecilkan peran kader-kader parpol yang sudah membina karir mereka di sana. Bahkan bisa jadi politik memang passion dari para kader ini. Setidaknya, para kader ini lebih lama menimba ilmu politiknya. Tiba-tiba mereka terdepak begitu saja? Demi partai, demikian mungkin alasannya? Saya yakin banyak yang sakit hati.

Mungkin memang Indonesia kita ini adalah Republik Sinetron. Hanya itu alasan logis yang dapat saya terima.


Beda Kultur

Hari ini saya menjadi guess lecture di SBM. Saya bercerita berbagai hal, mulai dari entrepreneurship, creativity, innovation, digital entertainment, dan seterusnya. Ternyata di kelas ini ada mahasiswa asingnya, maka saya diminta untuk mengajar dalam bahasa Inggris. No problem. So I swicthed my mind set (and character) as a Westerner and the problem began.

Problem yang saya hadapi adalah problem perbedaan kultur. Mahasiswa Indonesia di kelas tersebut paham bahasa Inggris dan mereka tidak ada masalah dalam menangkap apa yang saya utarakan. Hanya memang ada masalah dalam penangkapan hal-hal yang tersirat. Sebagai contoh, joke tidak jalan. (Silahkan coba terjemahkan joke ke dalam bahasa lain, pasti gak nyambung.) Sementara itu joke yang dalam bahasa Inggris sering kali juga harus dipahami dalam konteks kulturnya. Sebagai contoh, saya putarkan video Sir Ken Robinson tentang pendidikan dan kreativitas. Dia sangat lucu. Most of them didn’t get the jokes. Oh okay, so I learned.

Yang membuat saya cukup kaget juga adalah mahasiswa asingnya juga nampaknya tidak terlalu mengerti jokenya pak Robinson ini. Hmm … Or maybe I have a weird kind sense of humor. But, Sir Ken Robinson is hilarious. Nampaknya terjadi masalah kultur juga di sini. Mungkin? Come to think of it, maybe English is not their mother tongue!


Berkelimpahan (yang membingungkan)

Sering saya melihat orang mengambil makanan yang berlebihan di acara-acara kondangan atau makan-makan. Kemudian makanan ini tidak dia makan sampai habis. Sementara itu tamu yang datang belakangan kehabisan makanan. Mengapa orang-orang ini mengambil makanan yang berlebihan dan tidak secukupnya saja? Saya mendapat kesan seperti tidak mau rugi.

Hal yang serupa terjadi di restoran, yang mungkin bersifat all you can eat atau kalau dibayari. Ngambilnya juga banyak-banyak dan tidak habis juga.

Ternyata hal serupa terjadi di dunia digital. “Wah ini ada 2GB sisa kuota. Bagaimana menghabiskannya?” Lantas download hal-hal yang tidak penting dan tidak akan digunakan hanya untuk menghabiskan kuota. Mengapa harus dihabiskan? Aji mumpung?

Saya menduga kita hidup di dunia yang serba kurang. Begitu kita berhadapan dengan situasi yang berlimpahan maka kita justru kebingungan. Bagai seorang anak yang tidak pernah permen, tiba-tiba masuk ke toko permen dan boleh makan sepuasnya. Malah bingung …


(Tidak Sanggup) Mengkhayal

Bagaimana jika Anda diminta untuk membuat sebuah cerita tentang sebuah kota, yang mana Anda belum pernah ke kota tersebut. Sanggupkah Anda melakukannya? Maukah Anda melakukannya? Apa yang menghalangi Anda?

Beberapa kali saya membaca cerita fiksi yang ceritanya berlangsung di sebuah tempat tertentu. Saya tahu cerita ini fiksi karena memang yang sedang saya baca ini sebuah novel. Bukan hanya itu, keakuratan dari tempat yang diceritakan berbeda dengan kenyataan yang ada. Saya tahu karena saya tinggal di tempat itu. Namun ini tidak menjadi halangan bagi sang penulis untuk bercerita. Ceritanya tetap menarik untuk disimak.

Salah satu kehebatan dari para penulis yang jagoan adalah kemampuan mereka dalam mengkhayal. Herannya kita merasa susah untuk mengkhayal. Padahal apa halangan kita untuk mengkhayal? Kita tidak perlu membayar mahal untuk melakukannya. Gratis. Kita tidak perlu memiliki atau menggunakan alat tertentu. Tanpa harus memiliki skill tertentu. Biarpun demikian, kita merasa tidak sanggup mengkhayal. Aneh bukan?

Jika mengkhayal saja sudah susah, apalagi melakukan pekerjaan yang membutuhkan skill khusus. Atau, memang kita ini pemalas. Bahkan untuk sekedar mengkhayalpun kita merasa tidak sanggup.


Perlukah Bahasa Inggris Untuk Anak-Anak?

Sekarang sedang ribut soal kurikulum SD. Ada banyak “eksperimen” di sana. Heran sekali ya. Kenapa kok tidak ada diskusi akademik secara terbuka? Tentu saja akan ada pro dan kontranya, tetapi dengan diskusi yang terbuka kita dapat menjadi lebih well informed. (Lah ini pakai Bahasa Inggris???)

Ada ribut soal IPA-IPS dan yang ingin saya bahas adalah soal Bahasa Inggris. Perlukah Bahasa Inggris dipelajari oleh anak-anak SD? Kalau pertanyaannya seperti ini, jawaban saya adalah perlu. Kalau pertanyaannya, perlukah masuk ke kurikulum? Nah, ini saya agak ragu. Perlu diingat bahwa Indonesia itu bukan hanya kota besar saja dan anak-anak seumuran SD membutuhkan waktu untuk bermain. Jadi saya sebetulnya condong untuk tidak memasukkan bahasa Inggris ke kurikulum dengan catatan, waktu main anak-anak ditambah. Kalau kemudian waktu yang tadinya dipakai oleh Bahasa Inggris kemudian diganti dengan mata pelajaran lain sih saya tidak terlalu setuju,

Soal pentingnya bahasa Inggris, saya rasa kita sudah menyadari pentingnya. Hanya seberapa besar kadar pentingnya. Itu kan? Apakah memang harus dipaksa untuk belajar bahasa Inggris?

Bagaimana dengan saya sendiri? Ketika masih SD dulu seingat saya tidak ada pelajaran bahasa Inggris. Hanya saja orang tua saya mengirim kami semua (kakak beradik) untuk kursus bahasa Inggris. Seingat saya, kelas 6 SD pun saya sudah lulus ujian bahasa Inggris. Memang akhirnya saya tidak mengalami kesulitan dalam membaca atau mendengar pembicaraan dalam bahasa Inggris.

Kemampuan bahasa Inggris ini yang membuka dunia bagi saya. Saya menyukai komputer. Dari mana belajar komputer? Saya dari majalah bekas yang saya beli di emperan kantor PLN di samping sungai Cikapundung, di alun-alun. Kalau saya tidak menguasai bahasa Inggris, dapat dibayangkan betapa terbelenggunya saya.

Jadi menurut saya penguasaan bahasa Inggris itu sangat penting. Jika memang memungkinkan, sebaiknya diajarkan sedini mungkin. Untuk setingkat SD pun bagus. Mumpung mereka masih terbuka, bagai kertas yang masih bersih. Namun memang boleh jadi saya dituduh sudah Westernized.


Musik Adalah Perjalanan Hidup

Kadang saya bertanya-tanya mengapa seseorang menyukai jenis musik tertentu, sementara orang lain jenis yang lain. Pertanyaan ini hadir karena saya merasa memiliki selera musik yang termasuk golongan minoritas. Saya menggemari musik jenis progressive rock atau classic rock, yang mana tidak begitu banyak penggemarnya di Indonesia. Jangankan di Indonesia, di dunia pun penggemar musik jenis ini sangat terbatas.

Setelah menelusuri ke sana ke mari, akhirnya saya berkesimpulan bahwa musik terkait dengan perjalanan hidup seseorang. Musik yang dia dengarkan ketika dia kecil atau ketika menderita ikut membekas dalam diri. Itulah sebabnya seseorang yang terekspos ke satu jenis musik tertentu akan menyenangi musik jenis itu.

“… music exists as a form of communication between people of a certain time, place, and culture…” (Pleasants & Small)

Saya mencoba mengingat-ingat perjalnan hidup saya. Ketika muda dahulu saya sering mendengarkan lagu-lagu American Top 40 dari radio Australia atau radio yang ditemukan melalui channel SW. Wah, ini jadul sekali. Kemudian di rumah kami tinggal banyak saudara yang notabene adalah mahasiswa. Pada tahun 70-an para mahasiswa ini menggemari musik jenis classic rock. Saya mulai terekspos musik-musik dari Yes, Genesis, Gentle Giant, dan yang lebih aneh-aneh lagi.

Bandung. Ini lagi. Di Indonesia ada dua kota yang nampaknya secara musik membekas bagi warganya, Bandung dan Malang. Di Bandung ada tempat membuat kaset dengan label “Yess”. Jangan bayangkan ini label yang legal menurut HaKI jaman sekarang tentunya. Lihat konteksnya ya. Yess ini memproduksi album-album band yang progressive / classic rock itu. Saya pun mulai mengoleksi kaset-kaset keluaran Yess ini.

Bahasa Inggris dan Kultur. Ini yang agak sedikit twisted. Musik jenis progressive rock bukanlah musik dari jenis yang bisa digunakan untuk menari, bergoyang. Kalau berlirik, liriknya menggunakan bahasa Inggris yang kental dengan cerita kultur orang Barat. Saya sendiri kursus bahasa Inggris sejak masih kecil (SD) sehingga bahasa Inggris bukan masalah bagi saya. Nah soal kultur Barat, itu yang tidak saya mengerti. Bagaimana saya dapat mengerti apa yang diceritakan dalam lagu-lagu progressive rock itu ya? Ini masih pertanyaan.

Ketika kawan-kawan saya di SMA mendengarkan lagu-lagu disko, saya asyik mendengarkan Rush. Bahkan lagu “subdivision” merupakan lagu anthem bagi saya. Ternyata di belahan dunia yang lain, anak-anak seumuran saya juga mengambil lagu ini sebagai anthem mereka. Maka tidak heran ketika di kemudian hari saya pindah ke Kanada dan menemui rekan-rekan seumuran yang memiliki interest yang sama. Ini sebetulnya bertentangan dengan pendapat Pleasants & Small di atas. Mungkin saya termasuk anomali untuk kebanyakan orang Indonesia. Heh?

Tapi saya tetap meyakini bahwa musik adalah perjalanan hidup.


Cloud Computing Untuk Pendidikan

Hari ini Saya berpartisipasi pada acara seminar Cloud Computing yang diselenggarakan oleh Inixindo di Surabaya. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah “(aplikasi) apa dari cloud computing yang cocok untuk dunia pendidikan”? Kemudian ada pertanyaan lagi yang nampaknya terkait, “apakah cloud computing dapat digunakan untuk menjalankan aplikasi seperti Matlab”?

Saya pikir ini pertanyaan yang baik. Memang dunia pendidikan (dan penelitian) membutuhkan fasilitas komputasi yang kadang sulit untuk dimiliki sendiri. Sebagai contoh, dosen atau peneliti di bidang rekayasa membutuhkan fasilitas komputasi untuk aplikasi yang terkait dengan finite elemen. Bidang Biologi membutuhkan fasilitas komputasi untuk DNA sequencing. Bidang kriptografi membutuhkan komputasi yang besar untuk melakukan penyerangan (attack) terhadap algoritma tertentu. Peneliti jejaring sosial membutuhkan storage dan komputasi untuk melakukan analisis dengan jumlah data yang sangat besar. Intinya ada kebutuhan komputasi yang mungkin dapat diberikan oleh cloud computing.

Mengapa ini belum terjadi juga? Mungkin ini karena penyedia jasa cloud computing lebih membidik pelaku bisnis yang mampu membayar layanan mereka. Sementara itu dunia akademik tidak memiliki dana yang besar untuk membeli layanan itu. Jadi?


(menganggap orang) Bodoh!

Sering saya melihat orang mencari alasan-alasan yang tidak masuk akal. Terlebih lagi, akhir-akhir ini, (maaf) yang terkait dengan partai politik atau pejabat. Ada saja alasan pembenaran terhadap apa yang mereka lakukan. Alasan-alasan ini demikian bodohnya. Apa mereka pikir bahwa kita-kita itu bodoh ya? Mudah dibodoh-bodohi? Betul-betul sebuah penghinaan terhadap kita semua. It’s an insult to us.

Dalam perjalanan hidup saya (ketika masih muda), beberapa kali saya ketanggor. Meremehkan orang untuk kemudian mendapati bahwa orang tersebut lebih tahu dari saya. Duluuu sekali saya pikir saya mengerti banyak soal komputer. Di sebuah bis perjalanan luar kota antar propinsi di Amerika, saya dapati seorang tua yang terlihat seperti gembel. Dia mengenakan parka ala tentara dengan menggendong karung yang mungkin berisi baju-bajunya. Tentu saja saya tidak mengira bahwa dia tahu banyak soal komputer. Ketika saya membuka majalah komputer dan membacanya, maka dia mulai mengajak bicara soal komputer. Ternyata dia tidak sebodoh yang saya perkirakan. Jauh melesetnya. Betapa bodohnya saya! Pelajaran seperti ini membuat saya tidak berani memandang rendah orang lain. Siapa tahu justru mereka adalah pakarnya.

Di kejadian lain saya menemui biker kekar yang saya kira tadinya pembuat onar. Eh, ternyata dia pakar desain chip dari sebuah perusahaan besar. Demikian pula saya dapati dosen yang kurus kering ternyata dia adalah pendaki yang handal, yang menghabiskan waktu liburnya untuk mendaki gunung-gunung tertinggi di berbagai tempat di dunia. Dan tentu saja masih banyak contoh-contoh lain. Untungnya saya mau belajar :)

Sering saya tersenyum-senyum melihat anak muda yang merasa paling jago di bidangnya. Ah, mereka masih muda. Biarlah mereka menemukan “pelajaran”nya sendiri-sendiri. Dan semoga mereka belajar (untuk tidak menganggap orang lain bodoh) sehingga ketika mereka lebih tua, mereka tidak membuat alasan-alasan bodoh yang sering saya jumpai akhir-akhir ini.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.070 pengikut lainnya.