Arsip Kategori: Pendidikan

Apa Yang Salah?

Apa yang salah dari gambar ini? What’s wrong with this picture?

whats-wrong


Bercerita (Story Telling)

Melihat beberapa video dari TED.com, saya terkagum-kagum dengan cara bercerita para pembicara di sana. Cara mereka bercerita (mendongeng) sunggu luar biasa. Menarik. Pertanyaan saya kemudian adalah, mengapa kita di Indonesia tidak banyak yang dapat bercerita seperti mereka? Padahal saya tadinya mengira bahwa di Indonesia ini ada banyak story tellers (pendongeng). Kan ada banyak dongeng di Indonesia. Semestinya banyak juga pendongengnya dong?

fajar yuliawanSaya menduga ada dua hal yang kita salah atau kurang. Pertama adalah kemampuan ini tidak kita ajarkan. Di sekolah-sekolah, anak-anak diuji dengan pertanyaan dalam bentuk pilihan berganda (multiple choice). Mereka tidak diberi kesempatan untuk bercerita. Soal ujian dalam bentuk essay sudah jarang digunakan. Mungkin ini dilakukan karena kemudahan memerika ujian seperti itu. Memang memeriksa soal essay lebih sulit, tetapi jika kita ingin Indonesia lebih baik semestinya itulah yang dilakukan.

Kedua, lingkungan. Lingkungan di kita harus memberi dukungan kepada cerita-cerita dan pendongeng yang baik. Saat ini yang terjadi adalah cerita jelek, buruk, kacangan yang digemari orang-orang. Lihatlah TV. Pendongeng yang baik menjadi tersisih. Seniman – in the true sense – terlihat menjadi manusia yang aneh. Mereka malah menjadi bukan mainstream. Ini juga salah kita. Seharusnya kita lebih banyak mendukung para pendongeng seniman ini.

Sudah miskin secara finansial, kita juga miskin kemampuan bercerita. Glodak …


Dongeng Kesukaan Mahasiswa

Tadi siang, saya memberikan presentasi mengenai teknik mengajar saya. Dalam diskusi dibahas mengenai cara untuk memulai kelas dengan mendongeng dulu. Ternyata topik yang disukai oleh mahasiswa adalah dongeng tentang hantu dan cerita-cerita motivasi. Hantu? Iya. hi hi hi. Tipikal orang Indonesia ya?

Nah, kayaknya saya harus mengumpulkan humor-humor tentang hantu nih. hi hi hi.


Keysigning Party

Salah satu yang direncanakan pada kuliah saya tadi pagi adalah melakukan “keysigning party”. Setiap mahasiswa harus membuat pasangan kunci privat dan kunci publik. Kunci publik ini kemudian disimpan (upload) ke tempat tertentu. Kunci ini dapat “ditandatangani” oleh orang lain untuk meningkatkan keabsahannya. Jika saya menandatangani kunci tersebut, saya mengatakan bahwa kunci tersebut memang benar-benar diasosiasikan dengan orang ini. Demikian pula orang lain juga dapat menandatangani kunci publik saya untuk mengatakan bahwa memang kunci publik itu milik saya. Saling percaya ini menimbulkan kepercayaan yang disebut “web of trust”.

IMG_3954 keysign 1000

Foto di atas menunjukkan suasana kelas ketika melakukan keysigning ini. Hanya sayangnya network yang tersedia tidak mendukung untuk melakukan keysigning ini. Kami berada di belakang proxy yang membuat beberapa aplikasi (saya menggunakan GPG suite) sulit untuk melakukan proses keysigning ini. Sebetulnya bisa, tetapi manual dan laborious. he he he. Inginnya sih yang lebih otomatis. Lain kali kita akan mengadakan keysigning lagi ah.


Kalau Tidak Tahu, Tanya

Kenapa ya kok banyak orang yang tidak mau bertanya ketika mereka tidak tahu? Apa karena malu? Takut salah? Atau apa ya?

Sering kali terjadi situasi di mana tugas atau kerjaan tidak berlangsung karena yang mengerjakannya tidak tahu dan tidak mau bertanya. Setelah direview, ternyata ada masalah – tidak mengerti tentang sesuatu. Repotnya, kita sudah kehilangan waktu karena yang bersangkutan (mahasiswa, pekerja) tidak mau bertanya. Padahal kalau dia bertanya, pekerjaan dapat selesai. Sekarang menjadi molor lagi.

Saya memberi tugas kepada mahasiswa. “Ada pertanyaan?” Tidak ada yang bertanya. Seminggu kemudian baru mahasiswa bertanya. Nah. Harus dibagaimanakan ini?


Berkarya (itu) Untuk Diri Sendiri

Twitter crawler yang saya buat beberapa waktu yang lalu berhenti bekerja. Pesannya (error message) tidak jelas. Saya tidak tahu apa sebabnya. Dalam pertemuan penelitian minggu lalu, Andry (mahasiswa saya yang juga meneliti tentang ini) mengatakan bahwa ternyata akses ke twitter sekarang diharuskan menggunakan SSL/TLS. Oh begitu toh. Baru hari ini saya punya kesempatan untuk melihat kode saya dan mengaktifkan SSL, yang ternyata hanya 1 baris saja perubahannya. Beres. Jalan lagi.

Saya membuat crawler ini untuk sebuah penelitian, tetapi sesungguhnya saya membuatnya untuk diri sendiri. Saya tertarik dengan data dari twitter. Khususnya yang saya cari adalah struktur dari follower saya. Maka saya membuat kode twitter itu. Setelah data terkumpul nanti saya akan buatkan ceritanya. Saya akan menulis makalah tentang ini, tetapi sesungguhnya saya membuat ini juga untuk diri sendiri. Out of curiousity.

Di luar ini semua, banyak orang yang hanya pandai berteori dan tidak menghasilkan karya. Mahasiswa juga hanya pandai kuliah tetapi tidak menghasilkan karya. Bagaimana perusahaan calon tempat bekerja mereka dapat menilai kualitas mereka? Kalau hanya sekedar melihat ijasah saja tidak ada bedanya. Karya merupakan salah satu bukti. Karya untuk diri sendiri merupakan hal yang terbaik sebab ini menunjukkan passion yang bersangkutan. Why can’t they – the students – see this?


Untuk Apa Internet Cepat?

Sebuah pertanyaan yang agak aneh bagi saya; “untuk apa internet cepat?”. Bagi saya itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban, tetapi mungkin jawaban pertanyaan ini tidak terlalu mudah dilihat bagi banyak orang. Baiklah, saya coba jawab.

Ada banyak aplikasi yang membutuhkan layanan internet cepat. Saya ambil satu contoh saja ya, bidang pendidikan.

Di negara-negara maju, pemanfaatan teknologi informasi untuk pendidikan sudah menjadi hal yang umum. Bahkan saat ini online learning dalam skala yang masif sedang menjadi tren. Perguruan tinggi seperti MIT membuat kuliah-kuliahnya online. Atau Khan Academy yang sangat ekstensif menggunakan YouTube. Start up di bidang ini juga mulai bermunculan, Coursera, misalnya. Di Indonesia juga sudah ada beberapa yang memulai.

Salah satu kebutuhan dari online learning adalah adanya jaringan internet yang stabil (reliable) dan cepat. Sebagai contoh, banyak materi yang membutuhkan layanan video. Bagaimana kita dapat menonton video yang ukurannya ratusan Megabytes jika internet kita lambat dan putus-putus? Sebagai contoh, saya suka menonton presentasi yang ada di TED.com. Luar biasa bagus-bagus. Hanya saja saya tidak dapat menonton secara streaming karena internet di tempat saya agak lambat. Yang saya lakukan adalah mengunduh (download) videonya dulu dan kemudian ditonton setelah semuanya berhasil saya peroleh. Bergantung kepada kecepatan internet saat itu, kadang saya harus nunggu cukup lama. Orang lain (siswa lain) di negara yang sudah maju sudah berhasil mendengarkan presentasi 10 kali, di sini mungkin baru selesai download. Belum lagi kalau ada situs yang tidak memperkenankan videonya diunduh, mampuslah kita.

Okelah, mungkin saya masih mengkhayal untuk bisa sampai menggunakan video untuk belajar, meskipun di negara maju ini bukan lagi khayalan. Untuk menyediakan layanan download berkas kuliah dengan jumlah siswa yang besar pun sudah menjadi masalah. Perlu diingat skala siswa Indonesia yang jauh sangat besar jumlahnya. Belum lagi jangkauannya yang sangat luas.

Kondisi internet saya memang tidak begitu cepat. Ini di kota besar di Indonesia, bung! Bayangkan kondisinya di kota yang kecil atau daerah-daerah yang terpelosok. Maka itu dia ada istilah “digital divide“. Yang kaya, yang memiliki akses digital dengan cepat akan semakin maju, sementara yang fakir bandwidth akan semakin tertinggal. Mungkin kalau dianalogikan, siswa di Indonesia hanya bisa baca 3 halaman buku sementara itu siswa di luar negeri bisa baca 300 buku. Mau dibandingkan hasilnya?

Misalnya, anak Anda dapat tugas dari sekolah untuk membuat tulisan tentang punahnya dinosaurus; lengkap dengan gambar kalau perlu. Maka anak yang punya akses internet cepat dapat mengerjakan itu dalam waktu kurang dari satu jam. Cari ceritanya di internet, cari gambarnya, tonton videonya, kemudian mulai mengarang ceritanya. Sementara itu anak yang hanya punya akses GPRS … tiga hari tiga malam begadang tidak selesai download. Kira-kira yang dapat nilai bagus siapa ya? Salah anaknya? Salah internet yang lambat!

Salah satu layanan yang juga sekarang mulai lazim digunakan adalah Dropbox. Dropbox digunakan oleh mahasiswa untuk backup tugas-tugasnya. Ada satu mahasiswa yang nyaris stress karena notebook yang dia gunakan untuk mengerjakan tugas akhir tercuri. Dia belum melakukan backup, sementara teman-temannya menggunakan Dropbox untuk backup tulisan tugas akhirnya. Kami menggunakan Dropbox untuk  mengerjakan makalah bersama-sama. Silahkan cek di kampus-kampus, Dropbox sekarang menempati posisi yang tinggi juga. Dapat dibayangkan apabila layanan internet super lambat. Kampus yang bersangkutan akan punya masalah kredibilitas.

Ini baru bidang pendidikan. Bidang lain, hampir sama. Internet itu merupakan infrastruktur. Sama seperti jalan. Kita tidak boleh hanya puas dengan jalan yang berbatu – bahkan mungkin lumpur – yang hanya dapat dilewati motor atau sepeda saja. Dibutuhkan jalan untuk angkutan umum, bis sekolah, truk untuk mengangkut barang dagangan, dan seterusnya. Jalan harus lebar dan mulus. Internet juga harus demikian.

[sementara itu saya sedang pusing update OS dan aplikasi dari perangkat-perangkat saya karena gak selesai-selesai; gara-gara internetnya lambat! ini masalah nyata saya, sebagai fakir bandwidth. dan untuk download ISO OS - masing-masing sekian GigaBytes ukurannya - sementara harus tunda dulu sampai ke tempat yang internetnya lebih cepat (atau ada mirrornya). Yang repot itu kalau upgrade desktop, ya gak bisa dibawa pergi komputernya. Ini dia screenshot "apt-get upgrade" di komputer desktop saya yang menggunakan Linux Mint.]

apt-get-upgrade-crop


Budaya Komentar

Melihat tampilan di media sosial seperti Facebook, saya melihat sebuah pola; kebanyakan orang menampilkan tulisan dari media lain (seperti Detik, Kompasiana, YouTube, dan lain-lan) dan kemudian memberi komentar. Ternyata kebisaan kebanyakan orang Indonesia adalah membuat komentar. Ini cukup memprihatinkan. (Ya, terpaksa saya menggunakan kata itu juga.) Komentar biasanya berukuran pendek, satu kalimat atau bahkan hanya beberapa kata saja.

Ini menunjukkan kurangnya kemampuan kita – orang Indonesia – untuk menulis dalam ukuran yang lebih panjang. Atau kalau mau kita generalisir, kemampuan analisis kita ternyata masih minim. Eh, jangan-jangan kita memang tidak mampu menulis. Maka dari itu kita harus banyak belajar dan berlatih untuk melakukan analisis dan menulis. Jika tidak, maka kita memang hanya jagoan komentar saja. Sayangnya di sekolah-sekolah, yang diajarkan adalah kemampuan menjawab pertanyaan, bukan melakukan analisis, sintesa, dan menulis. Bahkan untuk sekedar mengkhayal dan menuliskannyapun kita tidak mampu. Hadoh!


Kuliah Semester Ini

Semester baru sudah dimulai di ITB. Ini sudah memasuki minggu kedua. Tentu saja langsung kesibukan datang. Tapi, lebih baik sibuk dengan pekerjaan daripada tidak ada pekerjaan, bukan?

Semester ini ternyata saya mengajar kuliah yang terkait dengan security saja. Ada tiga kuliah, (1) Keamanan Informasi (untuk S1), (2) network security (untuk S2), dan (3) incident handling (untuk S2 juga). Sebetulnya ada satu kuliah lagi – security juga, Security Architecture – tetapi saya batalkan karena saya sudah banyak mengajar dan pesertanya hanya 4 orang (sebelum PRS).

Mengajar tiga kuliah sudah cukup berat bagi saya. Saya heran ada dosen yang mengajar banyak kuliah. Entah mereka serius mengajarnya atau hanya ingin mendapatkan hal lain, seperti honor tambahan atau kenaikan pangkat atau pujian karena mengajar banyak. Entahlah.

Dan mulailah sibuk saya memperbaiki materi kuliah. Waduh.


Tidak Bertanya Artinya Tidak Mengerti

Biasanya orang bertanya karena tidak mengerti. Saya sekarang justru berpendapat bahwa orang yang tidak bertanya sebetulnya justru yang tidak mengerti. Mereka tidak bertanya karena tidak mengerti sehingga tidak tahu apa yang akan ditanyakan. Itu dia. Benar tidak ya logika saya ini?

Ada perbedaan antara mengajar anak-anak Indonesia (dan mungkin Asia secara umum) dengan mengajar anak-anak di luar negeri (notabene North American). Di sana, yang tidak mengerti akan bertanya. Pengajarpun tidak merasa aneh jika ada yang bertanya. Biasa-biasa saja. Di Indonesia, pengajar merasa terintimidasi jika ditanya. Aneh juga. Siswa pun tidak bertanya meskipun mereka tidak mengerti. Ini yang membuat saya berpikiran bahwa tidak bertanya bukan berarti sudah mengerti, tetapi justru karena tidak mengerti. Paham?


Lagi-lagi Soal Pengujian

Seharian ini urusan saya adalah menguji thesis mahasiswa. Salah satu hal yang saya temui berulang kali adalah mahasiswa belum paham yang namanya pengujian. Hampir selalu yang dilakukan mahasiswa adalah menjalankan aplikasi (sistem) yang dia buat sekali dan kemudian mengatakan bahwa itu jalan. Wah ini salah besar. Bahwa sesuatu itu jalan belum tentu dia jalan benar. Topik ini rasanya sudah pernah saya tulis, tapi nampaknya perlu saya tulis berulang kali :)

Pengujian fungsional yang baik pada awalnya dilakukan dengan menggunakan data yang terkendali (controlled environment). Misalnya kita membuat aplikasi untuk menghitung jumlah kata dalam sebuah dokumen, maka kita buat beberapa dokumen dengan jumlah kata yang kita ketahui. Kita jalankan aplikasi ini beberapa kali dengan data yang sama dan kemudian dengan data yang berbeda. Ini untuk data yang normal. Kemudian kita coba lagi dengan data yang abnormal, misalnya dokumen tanpa kata atau dokumen dengan satu kata yang superpanjang. Begitulah seterusnya. (Baca lebih lanjut tentang regression.) Jadi pengujian itu tidak hanya satu kali jalan kemudian dikatakan berfungsi dengan baik :)

Setelah yakin bahwa aplikasi berjalan dengan baik di lingkungan dan data yang terkendali, baru kita “lepas” aplikasi di lingkungan sesungguhnya. Di lingkungan ini kita uji juga. Pengujiannya juga mirip seperti sebelumnya tetapi ada banyak hal yang kadang di luar kendali kita. Ada dokument yang corrupt atau tidak sesuai dengan spek dan seterusnya. Begitulah.

Sebetulnya masih banyak hal lagi tentang pengujian fungsional tetapi yang utama seperti yang saya uraikan di atas. Nanti kalau kebanyakan uraiannya malah jadi tambah pusing. Hadoh.

Di luar pengujian fungsional masih ada pengujian kinerja dan security. Ini topik pembahasan lain kali saja ya. Sekarang kita fokus kepada aspek fungsional dulu.

Untuk hasil penelitian yang bentuknya bukan sesuatu yang dapat dijalankan (executable), seperti misalnya yang masih dalam bentuk rancangan (atau bahkan requirement) tetap harus diuji, tetapi caranya tentunya lain lagi. Demikian pula yang hasil penelitiannya berbentuk kebijakan atau pedoman harus juga diuji. Nah, bagaimana mengujinya?

 


Manusia 1/2 Dimensi

Dalam sebuah tes (PISA) baru-baru ini didapati anak-anak Indonesia berada di ranking paling bawah. Ada yang tidak setuju dengan hasil ini dengan berbagai alasan. Saya agak sepakat dengan hasil tes ini jika melihat kondisi yang ada di Indonesia.

Lingkungan di Indonesia membuat anak-anak Indonesia menjadi seperti katak dalam tempurung. Mereka tidak tahu apa yang ada di luar sana. Pengetahuan, selain yang diajarkan di sekolah, sangat terbatas. Mereka hanya fokus kepada sekolah dan ujian yang akan dihadapi. Itu saja. Itupun hanya fokus kepada ujiannya. Mana mereka tahu sejarah dunia (world history).

Dalam sebuah episode Indonesian Idol yang kebetulan tertonton (saya belum pernah nonton sebelumnya), Ahmad Dhani sebagai salah satu juri meminta kepada beberapa kontestan untuk menyebutkan 10 nama penyanyi wanita dari luar negeri. Hasilnya banyak yang tidak bisa! HAH!!! Aneh juga mereka tidak bisa. Harusnya mereka bisa. Jika seseorang ingin menjadi penyanyi / musisi, semestinya dia mempelajari seluk beluk dunia itu. Sebagai contoh, akan aneh bagi seorang penggemar sepak bola kalau tidak dapat menyebutkan 10 nama pemain sepak bola. Lantas yang ada di kepala mereka apa ya?

Saya memiliki pendekatan yang sama. Ketika saya mengajari atau membimbing mahasiswa saya ke dalam satu topik, saya minta mereka mencari tahu siapa tokoh-tokoh (saya sebut dengan istilah “gate keeper”) dalam bidang itu. Istilah kerennya sih studi literatur, tetapi salah satu intinya adalah mengetahui siapa yang mbahurekso di bidang itu.

Jangankan untuk mendapatkan multi dimensi, wawasan satu dimensi saja mungkin anak-anak ini masih kurang. Mungkin sistem pendidikan dan lingkungan kita juga yang membuat demikian.  Anak-anak ini kita jadikan manusia 1/2 dimensi. Relakah kita?


Potret Pendidikan di Indonesia

Entah mau tertawa atau menangis melihat gambaran pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain. Lihat saja diagram berikut ini (sumber dari sini):

happy-at-school

Indonesia terletak di kanan bawah. Secara ranking test, Indonesia hanya berada di atas Peru. Alias, nomor dua dari bawah! Sementara untuk urusan “happy”, ya jelas nomor satu. Ampuuunnn.

Bagaimana menurut Anda?


(mengajari) Disiplin

Salah satu topik diskusi terkait dengan mahasiswa adalah masalah disiplin. Banyak orang yang mengatakan bahwa penerapan daftar hadir (absensi) merupakan salah satu cara untuk mengajari tentang disiplin. Meskipun saya sebetulnya tidak peduli dengan kehadiran mahasiswa, saya sepakat dengan pendapat itu. Masalahnya banyak mahasiswa yang memang harus diajari tentang disiplin. Jangankan mahasiswa, yang sudah lulus pun sering tidak mengerti masalah disiplin.

Masalahnya adalah banyak orang yang tidak paham akan kemampuannya dan menganggap remeh masalah disiplin ini. Ada orang yang memang sudah memiliki disiplin – khususnya terhadap waktu – sehingga dia boleh jadi begadang (atau tidur pukul 3 pagi) dan jam 7 pagi sudah berada di kantor (atau tempat klien / bandara / pelabuhan / …). Atau mereka bisa bangun pas waktu shalat Subuh. Mereka sudah dapat mendisiplinkan dirinya. Nah, yang repot adalah ada yang merasa bisa melakukan hal itu (begadang main game, noton bola) dan ternyata pagi harinya ketinggalan transportasi, lewat waktu shalat Subuh,  atau tidak dapat bekerja dengan baik.

Anak-anak dahulu diajari disiplin di sekolah dasar dan bahkan terus sampai SMA. Di luar itu mereka juga mendapatkan disiplin dari kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka atau olah raga. Salah satu alasan saya mengapa saya masih rajin berolahraga yang kelompok adalah agar tetap menerapkan disiplin; datang tepat waktunya, berkordinasi, demikian pula ketika main juga disiplin. Shalat juga mengajarkan disiplin. Sementara sekarang anak-anak lebih “percaya” kepada games. Apakah ada games yang mengajarkan disiplin ya?

Jadi, mungkin ada benarnya juga mengharuskan hadir dan mengisi daftar hadir. Wah…


Multitasking

Dalam tulisan terdahulu saya mengatakan bahwa generasi sekarang harus menghadapi masalah terkait dengan (kurangnya) atensi. Ada terlalu banyak distractions, seperti SMS / email / internet / media sosial. Generasi muda terlalu banyak melakukan multitasking. Ini menjadi masalah ketika mereka belajar. Para pendidik meminta mereka untuk fokus kepada satu hal dan tidak melakukan multitasking ini.

Saya justru berpendapat sebaliknya. Saya melihat banyak lulusan perguruan tinggi – para pekerja – sekarang yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan multitasking. Mereka hanya dapat mengerjakan satu hal saja. Padahal kemampuan multitasking ini sangat dibutuhkan. Terlebih lagi untuk kita yang tinggal di Indonesia. Di luar negeri, kita bisa hanya fokus kepada satu hal saja. Misalnya, kita bisa menjadi seorang peneliti (researcher) dan fokus kepada itu. Di Indonesia, selain menjadi peneliti kita juga harus mengajar, menjadi anggota ini dan itu, mengerjakan proyek ini dan itu, menjadi ketua RT, dan lain sebagainya. Harus multitasking.

Di lihat dari kacamata pekerjaan juga demikian. Seorang pekerja di industri yang high-tech harus dapat menghasilkan pekerjaan minimal senilai Rp. 100 juta (atau US $10.000) per-tahunnya. Harus lebih dari itu. Pekerja pijit refleksi saja mungkin menghasilkan lebih dari itu ya (kalau dilihat dari ongkos per-jamnya). Seorang peneliti di kampus atau lembaga penelitian harus mendapatkan dana penelitian minimal segitu. Jadi untuk sebuah penelitian dengan tiga (3) orang peneliti, sedikitnya harus mendapatkan dana sebesar Rp. 300 juta. Kenyataannya tidak demikian. Sulit untuk mendapatkan sebuah proyek penelitian sebesar itu. Akibatnya mereka harus melakukan dua (2) penelitian atau lebih. Harus bisa multitasking.

Masalahnya, kapan multitasking ini diajarkan? Apakah kemampuan ini dapat tumbuh demikian saja? Semestinya tidak. Maka seharusnya dia diajarkan. Harus terprogram. Saat ini tidak. Semua dianggap harus bisa saja. Nah.

Sebetulnya kita sudah melakukan multitasking dari dahulu. Hanya saya perpindahan dari satu task ke task berikutnya lebih cepat saja. Sebagai contoh, kalau dahulu mungkin bisa begini.

Kuliah 1 jam. Cek email 30 menit. Kuliah 1 jam lagi. dst. …

Task #1 | … | … | task #2 | … | task #3 | … | … | task #1 | … dst.

Kalau sekarang mungkin seperti ini:

perhatian ke kuliah 5 menit | cek email 5 menit | kembali fokus ke kuliah 5 menit | cek SMS 3 menit | kembali fokus ke kuliah lagi | dst.

Task #1 | #2 | #1 | #3 | #2 | #1

Yang menjadi masalah dengan semakin cepatnya perpindahan antar task tersebut adalah context switching. Dibutuhkan waktu dan usaha untuk melakukan context switching tersebut. Semakin cepat terjadinya context switching ini, semakin cepat membuat otak menjadi lelah. Mungkin. Apalagi bagi yang tidak terlatih. Jadi, memang mungkin perlu ada pelatihan untuk mempelajari multitasking.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.586 pengikut lainnya.