Arsip Kategori: Pendidikan

Harus Baca Buku

Bagaimana kita menjadi semakin lebih baik (pintar) di bidang kita? Salah satu caranya adalah dengan membaca buku. Masalahnya adalah membaca buku menjadi semakin kurang digemari. Apalagi dengan adanya internet yang membuat kita ingin cepat mengetahui tentang sesuatu topik dengan hanya membaca twitter. he he he. Mana bisa menjadi pakar dengan hanya membaca twitter.

Mengapa buku? Karena buku memungkinkan pembahasan yang mendalam. Apa yang kita baca di berita (news) atau artikel di internet – termasuk blog ini – biasanya hanya membahas kulitnya atau hanya membahas kesimpulannya saja. Bahasan yang lebih dalam atau bagaimana sang penulis sampai kepada kesimpulan tersebut tidak dapat (jarang sekali) dibahas dalam artikel online. Kalaupun dituliskan dalam blog, misalnya, kemungkinan tidak ada yang tertarik untuk membaca. Apakah Anda mau membaca tulisan di blog yang panjangnya 75 halaman (screen, layar)? he he he. Saya yakin jawabannya adalah tidak!

Menulis buku juga tidak mudah. Buku yang bagus maksudnya :)   . Sang penulis harus mengumpulkan data untuk isnya, merangkumkan, membuat analisis, dan memilih kata-kata yang pas agar menyenangkan untuk dibaca. Tidak seperti menulis di blog ini yang asal mangap. Eh, asal ketik. hi hi hi. Yakinlah bahwa menulis buku itu bukan sebuah pekerjaan yang main-main. Ini tercermin dalam produknya; buku.

Oleh sebab, maka, daripada itu, … membaca buku masih merupakan sebuah keharusan.

Buku apa yang sedang Anda baca? (Atau, buku apa yang terakhir Anda baca? Kapan?)


Kredibilitas Makalah

Ada mahasiswa yang bertanya apakah cukup menggunakan dua referensi di makalahnya. Wah. Hanya dua? Menurut saya ini kurang. Kesannya hanya menerjemahkan dari dua referensi tersebut.

Saya tidak tahu apakah kurangnya referensi ini karena memang topiknya demikian baru dan susah sehingga jarang (belum ada) orang yang menulis atau karena sang mahasiswa belum optimal (baca: malas) dalam mencari referensi. Jaman sebelum ada internet, kesulitan mencari referensi memang dapat dimengerti. Hanya tempat yang memiliki perpustakaan yang bagus saja yang tidak memiliki masalah. Kalau sekarang? Hampir semuanya dapat diakses melalui internet sehingga tidak ada alasan untuk tidak mendapatkan referensi. (Ada kasus-kasus tertentu, tetapi ini anomali.)

Kredibilitas dari sebuah makalah salah satunya ditentukan dengan referensi yang digunakannya. Memang jumlah bukanlah satu-satunya ukuran yang dapat digunakan. Biarpun jumlahnya banyak tetapi referensinya tidak bagus hasilnya juga tidak bagus. Hanya saja, kalau dua itu nampaknya masih kurang.


Akademik vs. Populer

Saat ini saya menugaskan mahasiswa untuk membuat makalah sebagai bagian dari penilaian kuliah keamanan informasi (information security). Saya meminta mahasiswa untuk membuat makalah yang akademik, bukan artikel populer. Resminya sih namanya technical report. Ternyata mahasiswa banyak yang bingung karena belum mengerti maksudnya artikel yang akademik. Maklum mereka mungkin belum pernah menulis makalah untuk seminar atau jurnal.

Ukuran tingkat kesulitan dari makalah tersebut kira-kira begini. Tulisan tersebut kalau dikirimkan ke majalah – bahkan majalah komputerpun – akan dianggap terlalu teknis dan tidak ada pembacanya. Tulisan akan ditolak editor. Sementara itu kalau makalah dikirimkan ke jurnal akan dianggap terlalu rendah (tidak ada kebaharuan).

Makalah juga tidak boleh menjelaskan secara normatif. Kalimat di bawah ini kurang kena (seperti politisi saja – hi hi hi):

Penggunaan kartu kredit memiliki risiko sehingga pengamanan harus dilakukan dengan baik.

Jika kalimat di atas hanya digunakan sebagai kalimat pembuka tentu saja boleh, tetapi kalau pembahasannya hanya sebatas itu maka tidak boleh. Kurang teknis. Kurang akademik. Pembahasan yang saya maksud misalnya adalah menggunakan kriptografi sehingga brute force attack terhadap passwordnya membutuhkan 2^299 kombinasi. Something like that … Adanya persamaan matematik juga dapat menunjukkan ke-akademik-annya. hi hi hji.

Tentu saja maksud saya bukan membuat makalah menjadi lebih pelik dengan menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti. Banyak orang yang melakukan hal ini dengan tujuan untuk membingungkan. Bingung = akademik? Salah. Ini juga akan mengurangi penilaian karena sisi kejelasan (clarity) akan mendapatkan nilai kecil.

Tulisan ini jelas tidak akademik. Ini masuk ke kategori tulisan populer.


Pendidik < Buruh

Kemarin ramai sekali dibicarakan tentang Hari Buruh. Hari ini, Hari Pendidikan, sepi-sepi saja. Saya yakin sebagian besar orang Indonesia lupa. Ingatkah Anda?

Pertanyaan selanjutnya adalah memang ada apa dengan hari pendidikan? Ya memang tidak ada apa-apa. Sepi-sepi saja. Demikianlah potret yang ada.

Di sisi lain saya menangkap kesan bahwa pendidik (guru, dosen, …) ternyata menganggap dirinya juga sebagai buruh. Mungkin sebentara lagi juga akan ada tuntutan kenaikan gaji. he he he. Dan ndilalah, ada cuplikan pembicaraan di radio yang saya dengarkan dalam perjalanan menuju kampus. Sang pembicara – saya tidak tahu siapa dia karena mendengarkannya di tengah-tengah – mengatakan bahwa ruh pendidikan sudah hilang dari para pendidik. Yang dipikirkannya adalah imbalannya. Padahal sebanyak apapun gaji atau imbalan yang diperoleh pasti tidak cukup. Nah …

Saya pikir memang kita tidak perlu menafikkan atau mengharamkan uang. Bukan itu poinnya. Yang menjadi masalah adalah kalau itu menjadi hal yang utama sehingga menjadi pikiran terus. Nah itu masalah.

Dipikir-pikir nampaknya pendidik < buruh?


Kemampuan Bertanya

Kemarin ngobrol dengan anak dan topiknya beralih kepada persepsi. Terus anak saya bilang bahwa yang membedakan manusia dengan monyet adalah manusia bertanya, sementara monyet tidak. he he he. Wah ini pernyataan yang bagus.

Kalau kita perhatikan memang kemampuan bertanya kita ini agak rendah. Adalah yang mengaitkan ini dengan kultur orang Timur (Asia) yang malu bertanya dibandingkan dengan kawannya yang berasal dari Barat. Ada juga yang mengatakan bahwa kita ini takut salah (tetapi anehnya tidak mau bertanya). Boleh jadi ini benar, tetapi menurut saya memang kemampuan bertanya kita agar rendah.

Kemampuan bertanya juga tidak muncul secara tiba-tiba. Dia harus diajarkan dan diasah. Sama dengan kemampuan menulis yang tidak muncul secara tiba-tiba juga. Kita mulai dari yang sederhana dahulu kemudian meningkat ke yang lebih sulit. Kalau tidak diajarkan, kemampuan ini akan hilang.

glasbergen-tech-support

Perhatikan kalau orang Indonesia bertanya. Terlalu banyak pengantarnya; “… seperti kita ketahui … ” (dan 10 menit kemudian, pertanyaannya belum muncul juga – he he he). Apakah Anda juga demikian?

Hal terkait adalah ada banyak pimpinan yang mengambil keputusan tanpa bertanya dahulu. Mungkin mereka merasa sudah tahu semua? Atau mereka malu bertanya? Atau, memang mereka tidak tahu cara bertanya?

Hari ini saya mau mengajarkan bertanya ah di kelas. See you in class.


Belajar Menulis (dengan tablet)

Satu hal yang masih mengganjal saya dalam menggunakan iPad (atau tablet secara umum) adalah menulis dengan tangan. Tulisan saya sangat buruk. Jadinya ini mengingatkan saya akan orang tua yang sering marah-marah kalau melihat tulisan anaknya yang jelek. Masalahnya (sang orang tua ini) lupa bahwa belajar itu tidak mudah. Lihat saja tulisan kita di tablet. Super jelek.

Kita lupa bahwa anak-anak itu belum bisa menulis dan kemudian diperkenalkan dengan media kertas untuk menuangkan tulisannya. Sama seperti kita yang masih gagap dengan tablet. Kalau belum biasa tentunya hasilnya belum dapat dikatakan bagus. Ini normal, kan?

Saya mau belajar menulis halus di tablet ah. Ada aplikasi yang disarankan? (Saya pakai iPad dan Android – di handphone.)

Update: memenuhi permintaan, berikut saya tampilkan contoh tulisan tangan saya (menggunakan jari) di smartphone.

Foto2005 tulisan tangan 1000


Kreatif

Saya ditunjukkan sebuah video yang lucu di Youtube. Ini coba dilihat di sini:
http://www.youtube.com/watch?v=7Lgki-fgPN0

Ini video tentang guru yang mengajari antonim ke murid-muridnya dalam bahasa Jawa (Cilacap). He he he. Lumayan lucu. Menghibur. Ada lagi yang seperti ini?

Nah, sebetulnya kita ini bisa buat materi (content) yang bagus-bagus seperti ini. Yang ini lucu, tetapi yang lain mungkin serius. Kalau dikumpulkan dalam sebuah direktori mungkin akan menarik ya.


Mengajari Membaca Buku

Pertanyaan yang sering saya lemparkan kepada mahasiswa saya adalah “buku apa yang sedang kalian baca”. Seringnya dijawab dengan pandangan yang kosong. Kemudian dilengkapi dengan alasan sibuk tugas kuliah. Yaelah…

Membaca mungkin belum menjadi budaya bangsa kita ya? Yang saya maksudkan dengan membaca di sini bukan membaca buku teks atau buku pelajaran, tetapi buku-buku (atau apa saja) dengan topik yang bervariasi. Liar.

Mungkin memang budaya baca adalah budaya orang Barat. Sementara itu kita memiliki budaya Timur. Beda saja. Bukan berarti budaya Barat lebih bagus bukan? Hanya saja saya merasa bahwa seharusnya kebiasaan membaca ini dapat kita jadikan budaya kita.

Kalau dahulu kita kesulitan akses terhadap bahan bacaan. Buku-buku yang bagus banyak beredar di luar Indonesia. Akses terhadap buku itu susah dan kalaupun dapat bukunya harganya mahal sekali. Perpustakaan di Indonesia juga kualitasnya buruk sekali. Maka hanya sebagian orang saja yang dapat menyisihkan uang untuk membeli buku. Maka makin sedikit yang membaca buku. Ini menjadi siklus yang makin menjauhkan orang Indonesia dari kebiasaan membaca.

Sekarang dengan adanya internet sangat mudah untuk mendapatkan buku, baik secara legal ataupun tidak. (hi hi hi.) Intinya adalah sekarang akses ke buku apapun lebih mudah. Ini bukan masalah seperti jaman dahulu.

Saya ingin mengajak mahasiswa saya untuk menggemari membaca. Tapi bagaimana caranya ya? Salah satu cara yang saya lakukan adalah menunjukkan – mencotohkan – kepada mereka buku-buku yang sedang saya baca. Semoga mereka ketularan dan dapat merasakan nikmatnya serta manfaatnya membaca.

Ya, membaca memang nampaknya masih harus diajarkan. Dibutuhkan waktu yang lama serta kesabaran yang luar biasa untuk mengubah budaya.

[baca buku dulu ah.]


Kehilangan Idealisme

Sedih juga melihat beberapa anak muda yang kehilangan idealisme. Mereka melakukan sesuatu hanya untuk jangka dekat dan pragmatis sekali. Padahal lingkungan mereka memberikan kemungkinan untuk berlatih dan mengembangkan idealisme.

Sebagai contoh di lingkungan kampus saya mencoba mengajak mahasiswa saya untuk melatih diri menjadi idealis. Ujian tidak perlu nyontek karena kalau tidak lulus nanti ada perbaikan (remedial) sampai lulus. Yang dibutuhkan hanya kemauan diri untuk melakukannya.

Di luar kampus nanti akan ada banyak tantangan. Salah satunya adalah lingkungan yang tidak idealis. Jika di dalam kampus saja tidak berusaha untuk melatih diri mengembangkan idealisme, bagaimana nanti di luar sana ya?

Beberapa anak muda ini juga mencoba mengembangkan bisnis tanpa mengindahkan etika. Selama menghasilkan uang yang lebih banyak apapun dilakukannya. Padahal pengalaman saya – dan juga pengalaman banyak orang yang berhasil – etika itu sangat penting. Bahkan dalam bisnis sekalipun. Ada banyak hal yang tidak dapat diukur dengan uang. Pertemanan, sebagai salah satu contohnya. Dalam bisnispun aspek pertemanan ini sangat penting. Lebih baik kehilangan uang sedikit tetapi mendapat teman (tetap berteman), daripada mendapatkan uang yang lebih tetapi kehilangan teman.

Dicari: idealisme


Pengalaman Ujian Online

Tadi pagi saya menyelenggarakan UTS (Ujian Tengah Semester) secara online. Kami menggunakan sistem yang berbasis Moodle.

Sebetulnya mahasiswa dapat mengakses sistem dari mana saja karena sistem kami ini dapat diakses melalui internet. Hanya saja karena saya tidak yakin semua mahasiswa memiliki akses internet di tempat tinggalnya masing-masing, maka saya menyediakan fasilitas untuk ujiannya.

Kelas saya cukup besar, 160 orang! Maka saya meminjam lab komputer. Dua lab komputer. Gabungan dari kedua lab tersebut memberikan 120 komputer. Masih kurang 40 komputer lagi. Tidak apa-apa. Ujian pagi ini saya menduga akan ada yang telat. Kalau yang telatnya adalah 40 orang maka pas lah :)   Atau kalau tidak ada yang telat, mahasiswa dapat bergantian ujian.

Waktu yang saya berikan untuk ujian adalah 90 menit. Sementara soal yang saya buat ada 34 buah dan dapat dikerjakan kurang dari 30 menit. Itu dengan asumsi mahasiswanya paham apa yang saya tanyakan. Kenyataannya memang demikian. Banyak mahasiswa yang dengan cepat menyelesaikan UTS sehingga yang menunggu untuk ujian hanya beberapa orang. Itu pun menunggu kurang dari 10 menit.

Foto1891 mhs antri ttd 1000

[Foto mahasiswa ngantri untuk mengisi daftar hadir. Lebih lama mengantri ini daripada mengerjakaan soalnya sendiri.]

Poin pertama yang ingin saya sampaikan adalah kita harus menyediakan jumlah komputer yang cukup untuk melakukan ujian online.

Ketika ujian ada beberapa kejadian. Ada satu baris komputer, 4 komputer, yang tiba-tiba mati listriknya. Ternyata mahasiswa yang duduk di dekat dinding secara tidak sengaja kursinya menekan switch on/off dari power bar di dinding. Maka matilah 4 komputer tersebut. Setelah dinyalakan maka keempat mahasiswa tersebut harus mengulang kembali ujainnya. Untung sistem yang digunakan memperkenankan itu.

Ada juga mahasiswa yang komputernya tiba-tiba restart. Ada juga mahasiswa yang datang dengan membawa notebook dan minta ijin untuk menggunakan notebook tersebut daripada menunggu giliran mendapatkan komputer. Saya perkenankan. Eh, ternyata akses wifinya tidak stabil. Jadi mereka harus mengulang ujian dua kali. Akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan komputer desktop yang mulai ditinggalkan oleh mahasiswa yang sudah selesai.

Poin yang ingin disampaikan adalah infrastruktur harus reliable.

Ada masalah besar dalam menyelenggarakan ujian online. Saya ingin ujiannya bersifat “closed book”, tetapi bagaimana caranya? Browser yang digunakan kan bisa diarahkan ke Google untuk mencari jawaban di internet. Lebih parah lagi, di sistem blended learning yang saya gunakan untuk UTS ini juga saya gunakan untuk menyimpan materi kuliah dalam bentuk berkas presentasi. Mereka dapat melihat berkas ini untuk mencari jawaban.

Untuk itulah saya memberikan instruksi di kelas bahwa (1) mereka hanya diperkenankan untuk membuka UTS saja, (2) mereka harus memiliki kejujuran 100%. Bagaimana cara untuk memastikan hal ini secara teknis? Saya tidak tahu. Saya hanya mengingatkan mereka bahwa nilai dari UTS ini nilainya tidak terlalu penting dibandingkan dengan nilai kejujuran mereka. (Bobot dari nilai UTS ini akan sangat kecil.) Dengan kata lain mereka ujian terhadap diri sendiri. Jika mereka tidak dapat jujur kepada diri sendiri di lingkungan kampus yang notabene steril, bagaimana mereka dapat jujur di luar nanti?

Ujian ini adalah ujian terhadap kejujuran. Luluskah Anda?


UTS Kuliah II3062

Hari ini saya menyiapkan soal-soal untuk UTS kuliah II 3062 (Keamanan Informasi) yang akan dilakukan besok pagi, 19 Juli Maret 2013. Bagi mahasiswa saya, silahkan lihat instruksinya di halaman kuliah di server Blended Learning (BL).


Membuat Slide Presentasi

Baru selesai membuat slide materi presentasi. Fiyuh. Saya sadar bahwa membuat slide presentasi itu tidak mudah. Maksudnya adalah slide presentasi yang enak (indah) untuk dilihat dan tentunya mudah dimengerti.

Kebanyakan orang membuat materi presentasi asal-asalan. Pokoknya asal memenuhi syarat administratif saja, yaitu asal poin-poinnya nampak di materi presentasinya. Mereka tidak mempertimbangkan kata-kata yang digunakan.

Desainnya pun asal-asalan. Yang saya maksud dengan asal-asalan adalah yang terlalu banyak animasi atau gambar yang malah membuat bingung. Kalau isi dari presentasi kosong melompong, biar didesain bagus pun tetap akan kosong melompong. he he he.

Ada banyak tempat untuk melihat contoh-contoh slide yang bagus, misalnya Slide Share. Untuk yang di Indonesia ada presentonomics.


Seni Teknik Presentasi

Tadi saya mencoba menjabarkan teknik presentasi yang saya ketahui. Saya sampaikan “seni” (the art) dari presentasi. Saya gunakan kata seni karena saya belum yakin apa yang saya jelaskan dapat dikategorikan kepada ilmu :)   Jadi saya gunakan seni dulu saja.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita memberikan presentasi. Yang pertama adalah presentasi bukan pameran. Jadi pendengar tidak hanya sekedar menonton, seperti halnya pada pameran lukisan, misalnya. Pada presentasi yang bagus seharusnya terjadi dialog, baik secara verbal maupun secara telepati. he he he.

Yang kedua, ketika kita memberikan presentasi, kita harus hadir dalam presentasi tersebut. Maksudnya hadir di sini bukan secara fisik berada di tempat, tetapi secara emosi ikut terlibat dalam presentasi tersebut. Mungkin “immerse” kata yang lebih tepat. Kita masuk ke dalam presentasi kita.

Dan seterusnya. Lho kok? Iya, saya rapikan materi presentasi saya dulu. Nanti saya upload dan link-nya akan saya berikan di sini. Tulisan ini hanya sekedar iming-iming dulu. hi hi hi.


Belajar di Abad 21

Tadi pagi saya melihat status facebook kawan saya (Jay Diamond) yang sedang mendengarkan presentasi dari Tim O’Reilly di Stanford. Langsung saya bertanya bagaimana caranya untuk mendapatkan rekaman presentasinya. Eh, ternyata ada di situsnya (Stanford University’s Entrepreneurial Corner). Whoa. Langsung saya download. Sebetulnya tadinya saya dengarkan secara online, tetapi karena saking bagusnya saya download MP3-nya. Sekarang (menjelang tengah malam) saya dengarkan lagi.

Beginilah nampaknya belajar di abad 21.

Yang pertama adalah ketertarikan berasal dari sebuah status di facebook. Artinya media sosial memang dapat digunakan untuk memicu ketertarikan atas sebuah pelajaran. Hanya dari sebuah status.

Yang kedua adalah hilangnya batas fisik. Mungkin ini yang paling menarik. Saya dan kawan saya terpisah dalam jarak yang luar biasa jauhnya – di sisi lain dari dunia dengan beda waktu 12 jam – tetapi ternyata dapat belajar bersama. Saya yang berada jauh dari Stanford memiliki akses yang sama dengan orang yang secara fisik berada di sana. Luar biasa.


Jangan Cepat-Cepat Lulus

“Jangan cepat-cepat lulus”, demikianlah saran saya kepada mahasiswa di kelas. Mereka terbelalak. Tidak percaya saya menyarankan demikian. Saran ini ada alasannya.

Pertama, begitu Anda lulus maka akan ada tuntutan ini dan itu dari keluarga dan masyarakat. Tuntutan pertama adalah Anda harus menghasilkan uang. Bagaimana mungkin? Wong baru lulus kok harus menghasilkan uang. Ya, Anda dituntut untuk bekerja yang langsung menghasilkan uang. Ini merupakan tekanan bagi para lulusan. Percayalah.

Salah sendiri cepat-cepat lulus. Semestinya ketika Anda masih jadi mahasiswa Anda sudah mulai mencari pekerjaan. Atau sebetulnya lebih bagus lagi adalah Anda membuat portfolio sehingga pekerjaan yang mencari Anda. Lakukan itu ketika masih menjadi mahasiswa.

Kedua, begitu Anda lulus maka keberadaan Anda di kampus tidak dikehendaki oleh pimpinan atau pengelola kampus. You are not welcome. Apa status Anda? Anda kan bukan mahasiswa? Ngapain luntang lantung di sini. Sana pergi cari kerja. Padahal Anda di kampus ini dalam rangka mencari kerja.

Karena Anda tidak boleh di kampus, maka Anda akan sulit menggunakan fasilitas kampus. Tidak boleh! Padahal kampus adalah tempat yang paling cocok untuk memulai startup company. Lihatlah perusahaan-perusahaan startup yang sukses. Banyak yang dimulai dari kampus.

Maka dari itu, jangan cepat-cepat lulus.

Tetapi ingat juga, Anda harus tetap lulus. Jangan karena berlambat-lambat lulus dan akhirnya malah lupa lulus alias drop out. Wogh.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.071 pengikut lainnya.