Category Archives: Pendidikan

Internet Cepat Untuk Pendidikan

Tadi pagi saya memberikan presentasi tentang pemanfaatan teknologi informasi. Salah satu poin yang saya sampaikan adalah infrastruktur internet di Indonesia masih belum cepat dan belum merata. Pada acara tanya jawab ada yang bertanya, kalau internet cepat untuk pendidikan itu contohnya apa.

Salah satu situs favorit saya adalah TED.com. Situs ini berisi kumpulan video dari orang-orang yang kompeten di bidangnya dari seluruh dunia. Bidang-bidang yang ditampilkan di TED sangat bervariasi. Saya sendiri sering melihat di bagian pendidikan, desain, kepemimpinan (leadership), dan … banyak lagi. Karena situs ini berisi video, maka internet yang digunakan harus cukup cepat meskipun tidak harus super cepat. Saya sering kesulitan untuk mengakses situs ini dari layanan internet yang saya gunakan. Apalagi kalau saya akses dari handphone. hi hi hi. Sering saya akses TED dari kampus. Sayangnya di kampus ada quota jumlah data yang dapat didownload dalam satuan waktu. Kalau ini terlewati, biasanya ada surat cinta dari admin yang mengatakan bahwa saya mendownload terlalu banyak. hi hi hi.

TED.com ini hanya salah satu contoh situs yang terkait dengan pendidikan yang membutuhkan internet cepat. Oh ya, bahkan YouTube pun memiliki banyak video yang terkait dengan pendidikan. Sering saya diberikan (ditunjukkan) URL yang berisi tentang topik-topik tertentu. Misalnya ketika menjelaskan tentang sorting algorithms, ada video yang membandingkan berbagai jenis algoritma untuk mengurutkan data ini. Dengan melihat tampilan secara visual kita dapat memahami konsep yang dijelaskan dengan lebih baik.

Saya juga mulai mengumpulkan video kuliah yang saya buat sendiri. Beberapa tahun yang lalu sempat dibuatkan video kuliah security saya untuk kuliah jarak jauh. Seingat saya videonya adalah 8 DVD. Satu pertemuan menghasilkan 1 DVD. Nah kalau ini didownload dengan menggunakan internet yang lambat mungkin baru selesai harian. Padahal ini baru satu topik saja. Kalau kita mengambil beberapa mata kuliah, dapat dibayangkan kebutuhan internet kita.

Jadi internet yang cepat itu sebuah kebutuhan bagi pendidikan. Sama pentingnya dengan listrik. Mungkin seperti tidak nyambung ya, tetapi tanpa listrik sekarang sulit untuk menjalankan pendidikan. Silahkan coba kuliah tanpa menggunakan listrik :)

Nah, situs-situs pendidikan apa (yang membutuhkan internet cepat) yang biasanya Anda kunjungi?


Susahnya Membaca Jurnal

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa pasca sarjana adalah membaca makalah dari jurnal. Terlebih ini terjadi pada level S3. Ada banyak masalah di sini.

Pertama, seringkali makalah itu tidak dapat dimengerti dalam satu kali baca. Penulis makalah seringkali dibatasi oleh jumlah halaman dari jurnal sehingga harus menjelaskan bagian-bagian yang penting saja. Ada banyak bagian rinci (detail) yang terpaksa dilewatkan. (Kelebihan halaman harus dibayar oleh penulis dan itu tidak murah!) Maka sang pembaca kadang kebingungan ketika membaca makalah itu. Ada bagian yang hilang. Dibutuhkan waktu untuk mengerti itu. Makalah harus dibaca berulang kali. (Padahal waktu terbatas.)

Kadang memang ada peneliti yang meskipun sangat cerdas tetapi tidak mahir menulis sehingga tulisannya membingungkan. Atau, memang kadang (meski jarang) ada yang menutup-nutupi penelitiannya (misalnya karena ada bagian yang sedang / akan dia patenkan).

Kedua, dalam membaca makalah tersebut, sang mahasiswa membacanya sendirian. Dalam topik penelitian S3, seringkali dia adalah satu-satunya yang meneliti tentang itu di lingkungannya. Mau tanya kepada siapa? Mau tanya kepada pembimbing atau promotorpun kadang mereka tidak memahami sedetail yang ingin dibahas. Jadi dia frustasi sendirian. Mahasiswa S3 yang lainnya pun demikian. Jadi ini adalah kumpulan mahasiswa yang frustasi. ha ha ha.

Lebih parahnya lagi banyak orang yang menganggap membaca itu mudah. Mereka tidak dapat mengerti mengapa mahasiswa S3 lama selesai sekolahnya. Kan hanya membaca? Memang seberapa susahnya membaca sih? hi hi hi. Maka pusinglah sang mahasiswa S3 menjelaskan ini kepada keluarganya, koleganya, tetangganya, bahwa membaca (makalah jurnal) itu tidak mudah. he he he. Semakin frustasi dia … Hadoh.


Menulis Karya Ilmiah

Ya, saya masih memeriksa revisi tugas mahasiswa. Masih banyak – atau bahkan sebagian besar? – mahasiswa kita belum mahir menulis karya ilmiah. Mungkin dapat saya generalisir lebih lanjut, mahasiswa belum mahir menulis. Titik. Kejam amat ya?

Masalah utama bagi mahasiswa adalah mereka menyepelekan penulisan. Dianggapnya menulis itu hanya sekedar mengurutkan kata-kata. Atau lebih ekstrim lagi menulis itu mengurutkan huruf-huruf. a i u e o. Bagi mereka, memilih kata itu tidak penting. Padahal kata yang berbeda memiliki makna dan efek yang berbeda kepada pembaca. “Kamu salah!” atau “Anda kurang tepat” memiliki efek yang berbeda, bukan?

Menuangkan alur pemikiran dalam tulisan yang runut merupakan sebuah tantangan. Kita tidak dapat mencampurkan semuanya dalam satu bagian. Untuk makanan, gado-gado pun harus dipilih apa yang akan dicampur. Kalau gado-gado dicampur dengan cumi-cumi dan bajigur rasanya jadi kacau balau. he he he.

Bahkan untuk sekedar menuliskan dalam format yang konsistenpun ternyata banyak yang belum paham. Ngasal saja. Padahal tulisan yang tidak enak dipandang akan menghasilkan nilai yang buruk karena pembaca sudah antipati duluan. Seharusnya memang isi yang lebih penting, tetapi penampilan pada kenyataannya adalah yang membukakan pintu kepada pembaca. Setelah pintu terbuka, kita sodorkan isinya. Bagaimana pembaca atau penguji akan memeriksa tulisan kita jika “pintu” tertutup?

Lantas bagaimana caranya agar kita dapat menulis karya ilmiah yang baik (dan indah)? Latihan, latihan, dan latihan menulis. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar latihan-latihan ini menyenangkan sehingga kita melakukannya? Itu merupakan topik bahasan di lain kesempatan.


Menikmati Hidup

Beberapa hari terakhir ini ada beberapa orang (sebetulnya hanya 3) yang bertanya kepada saya kenapa saya terlihat happy-happy saja. Menikmati hidup. hi hi hi. Bahkan mas Sobur mengatakan bahwa bagi pak Budi ini semuanya adalah perayaan. ha ha ha.

Jawaban saya terhadap pertanyaan “kenapa” adalah mengapa tidak? Why not? ha ha ha. Ini jawaban model apa sih? Lha pertanyaannya adalah kenapa. Kalau pertanyaannya adalah “bagaimana agar dapat menikmati hidup”, jawabannya lebih susah. Saya sendiri sebetulnya belum tahu jawaban tepatnya.

Mungkin ini disebabkan karena saya melihat “1/2 gelas yang terisi” sedangkan orang lain banyak yang melihat “1/2 gelas kosong”. Dalam bahasa lain, saya lebih positive-thinking.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar kita dapat menjadi lebih positive-thinking? Yang saya lakukan adalah belajar dari orang lain. Melihat pengalaman-pengalaman orang lain. Atau malah lebih tepatnya adalah belajar dari kegagalan-kegagalan orang lain sehingga kita dapat lebih menghargai apa yang kita peroleh. Ada banyak biografi yang menceritakan kesulitan dalam hidup orang-orang yang sukses. Alhamdulillah kita tidak mengalami kesulitan yang mereka hadapi. Jika mereka dapat mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut dan kemudian menjadi sukses, mengapa kita tidak?

Hal lain yang saya lakukan adalah mencari orang-orang yang memiliki pemikiran atau values yang sejalan. Berkumpul dengan orang-orang yang waras. Eh, atau yang tidak waras ya? hi hi hi. Saya melihat bahwa ternyata kumpulan yang saya dekati adalah kumpulan orang-orang yang berpikiran positif juga. Nampaknya ini juga merupakan salah satu cara untuk lebih meningkatkan ke-positif-an kita. Reinforcement learning? Mungkin itu juga sebabnya Anda bergabung dengan blog ini? Agar lebih positif. hi hi hi.

Begitulah kira-kiranya cara saya agar dapat lebih menikmati hidup. Semoga bermanfaat.


Hambatan Menjadi Entrepreneur

Salah satu hambatan terbesar untuk menjadi entrepreneur adalah mengatasi ego. Yang saya maksud dengan ego di sini adalah rasa arogansi, kebangsawanan, ketinggian, atau sejenisnya. Saya masih mencari kata yang lebih tepat. Contohnya begini, misalnya seorang lulusan perguruan tinggi dengan gelar S2 merasa malu kalau berjualan mie baso di pinggir jalan. Saya kan lulusan perguruan tinggi! Begitu kira-kira ekstrimnya.

Itulah sebabnya lulusan perguruan tinggi sering sulit untuk diajak menjadi entrepreneur. Saya kan sudah susah-susah sekolah, sudah bayar mahal, mengapa hanya jadi entrepreneur? “Hanya”? Nah itu dia. Padahal menjadi entrepreneur dapat menjadi solusi masalah ekonomi (dan sosial) di negara kita.

Bagaimana mengatasi ego ini? Atau setidaknya mengurangi rasa malu ini? Jawaban yang singkat adalah “just do it”. Langsung dikerjakan saja. Kalau berenang, langsung loncat ke kolam renang. he he he. Tentu saja ada cara-cara agar risiko kegagalan menjadi minimal. Misalnya kalau mau loncat ke kolam renang, ya setidaknya harus bisa ngambang lah. Jangan gaya batu. hi hi hi. Atau, ada penjaga kolam renang yang dapat menolong ketika kita akan karam.,

Sebetulnya ada latihan-latihan yang dapat dilakukan untuk mengurangi ego ini. Salah satu contohnya adalah mencoba dengan hal yang kecil. Ambil contoh begini. Beli kacang bungkus (atau permen, kertas tissue, atau apa saja yang mudah dibeli dan tidak rusak). Kemudian Anda coba jual itu di pasar malam, acara-acara, atau ke teman. Harganya buat sama dengan harga belinya. Tujuannya bukan untuk mencari keuntungan tetapi mencoba apakah Anda mau melakukannya. Sekedar “mau” saja. Itu saja. Latihan seperti ini dapat dilakukan untuk mengurangi rasa ego tersebut.

Semoga semakin banyak generasi muda entrepreneur yang sukses di Indonesia.


Latihan Presentasi

Dua atau tiga minggu terakhir ini saya disibukkan dengan sidang mahasiswa S2 dan S3. Untuk yang S2, ada sidang yang terkait dengan thesisnya mereka. Sementara itu untuk yang S3 ada sidang kualifikasi dan seminar kemajuan penelitian mereka. Dalam satu hari saya mendengarkan dua (2) sampai tujuh (7) presentasi. Pokoknya sampai kenyang dengan presentasi.

Hampir semuanya memiliki masalah dengan presentasi, yaitu mereka tidak tahu cara presentasi. Wah. Ada beberapa mahasiswa yang sempat mengikuti kuliah saya dan sempat mendengarkan kuliah teknik presentasi, tetapi ada juga yang tidak pernah.

Presentasi itu bukan hanya maju ke depan dan tinggal bicara. Asal mangap. ha ha ha. Presentasi yang baik dan menarik itu ada dasar-dasarnya. Sebagai contoh, ketepatan waktu dalam presentasi adalah sangat esensial. Presentasi TIDAK BOLEH MELEBIHI WAKTU yang sudah diberikan. Sengaja itu saya tulis dengan huruf besar dan bold. Begitu melewati waktu, maka nilai akan jatuh. Tetap saja ada mahasiswa yang melanggar hal ini. Misalnya, waktu kemarin itu mahasiswa diberi waktu sekitar 15 menit untuk mempresentasikan thesisnya. Eh, ada mahasiswa yang presentasi hampir 30 menit! Ya ampun! Padahal yang menguju sudah ngantuk, bosan, menguap, dan menunjukkan tanda-tanda ketidaksetujuan. Sayangnya sang mahasiswa asyik melihat ke layar sehingga dia tidak mengetahui ini. Nilai jadi buruk.

Kalau presentasi tidak menarik, 5 menitpun terasa lamaaa … sekali.

Bagaimana berdiri, menatap, meletakkan tangan, dan seterusnya saya ajarkan juga di kelas. Contoh saya ambil dari cara Steve Jobs – sang maestro – memberikan presentasi. Mungkin yang pernah ikutan teater menyadari pentingnya hal ini.

Hal yang juga sering diremehkan adalah persiapan. Ada orang yang mengatakan bahwa persiapan menentukan 50% kesuksesan dari presentasi. Ini ada benarnya. Tahukah Anda bahwa cerita, jokes, lawakan, yang dibawakan oleh presenter-presenter yang keren itu sebetulnya sudah dipersiapkan sebelumnya? Ini juga saya lakukan. Ada contoh lawakan yang probabilitasnya mengena untuk kawula muda dan ada juga yang  hanya dapat dimengerti oleh penguji sidang. Dalam mempresentasikan thesis, misalnya, saya mengusulkan agar tidak menceritakan semua. Justru ada bagian-bagian yang kita buat seperti mengambang sehingga nanti ditanya. Kelihatannya kita tidak siap dengan itu. Padahal justru itu sudah dipersiapkan dari awal. hi hi hi.

Kalau itu semua sudah dilakukan apakah seseorang lantas bisa berubah menjadi jagoan presentasi? Belum. Harus berlatih, berlatih, dan berlatih. Berlatih dapat dilakukan di tempat sendiri dan dapat juga dilakukan di tempat sesungguhnya (jika memungkinkan). Itulah sebabnya ada gladiresik (dan gladikotor he he he). Kalau dalam bahasa Inggrisnya, rehersal. Mengambil contoh Steve Jobs, dia berlatih presentasi sampai berjam-jam. Dia tidak mau berhenti sebelum semuanya *sempurna*. Timing tepat. Warna tepat. Dan seterusnya. Memang dia perfectionist.

Contoh lain yang juga dapat dilihat adalah artis atau band. Mereka berlatih jam-jaman, eh bahkan berhari-hari, untuk sebuah konser. Bahkan artis / band yang sudah kawakanpun juga berlatih.

Maka dari itu, saya tersenyum-senyum ketika orang mempertanyakan salah satu capres yang berlatih debat. Justru itu harus dilakukan. That’s the way you do it. Semua harus melalui persiapan dan berlatih jika ingin mendapatkan hasil yang baik. Tidak bisa asal ngablak. hi hi hi.


Perlukah (Kebuasan) Orientasi Studi

Sebentara lagi kampus-kampus (dan sekolahan) akan kedatangan mahasiswa baru. Maka ritual tahunan itu akan muncul lagi. Ya, orientasi studi atau OS. Ini bukan OS operating system ya.

Saya pribadi sebetulnya saya setuju dengan OS, tetapi bukan jenis OS yang berorientasi kepada kekerasan. Banyak mahasiswa yang merasa bahwa leadership hanya muncul dari kekerasan OS. Kepemimpinan itu harus orang yang berbicara keras dalam format baris berbaris. (Saya pernah menulis tentang kelucuan “ketegasan” korlap di acara mahasiswa.)

Hasil dari OS yang berbasis kekerasan adalah kebuasan. Korban berjatuhan pada saat OS berlangsung dan trauma ini akan membekas di kemudian hari. Lihatlah yang terjadi di masyarakat kita. Masyarakat yang tempramental. Mudah marah, mencela, memfitnah, dan … marah lagi. Kekerasan muncul. Kebuasan. Itukah yang kita inginkan? (Itulah sebabnya saya tidak memilih calon presiden yang tempramental. hi hi hi.)

Kemampuan berdialog, berdiskusi, di meja (bundar) sekarang sangat dibutuhkan. Kita banyak kalah dalam deal-deal karena tidak memiliki kemampuan, kesabaran, kecerdasan dalam bernegosiasi. Sekarang bukan jamannya lagi menunjukkan kekerasan.

Sudah saatnya kita pikirkan OS yang lebih positif tanpa kekerasan. Atau, tidak ada OS sama sekali. Dapatkah?


Nilai Kuliah Terpaksa T

Ternyata saya salah informasi mengenai batas waktu pemasukan nilai kuliah. Teryata nilai harus masuk hari ini! Wadoh. Padahal saya memberitahu mahasiswa bahwa batas akhir tugas masuk adalah Jum’at kemarin dan saya membutuhkan waktu dua minggu untuk menilai. Eh, salah dong. Akibatnya mahasiswa menyerahkan tugas hari Jum’at kemarin (selalu di batas akhir – hi hi hi) dan saya tidak punya kesempatan untuk memeriksa. Jadi, hari ini nilai saya masukkan “T” (incomplete). Mohon maaf kepada para mahasiswa.

Ada beberapa mahasiswa yang sudah saya periksa tugasnya. Mereka yang memasukkan tugas jauh sebelum batas akhir sehingga sudah sempat saya periksa. Untuk mahasiswa-mahasiswa ini ada yang sudah mendapat nilai “A” dan ada beberapa yang harus memperbaiki dulu sebelum mendapatkan nilai “A”.

Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan ini.


Kredibilitas Sumber Berita Online

Kualitas dari sebuah karya ilmiah (makalah, artikel, atau tulisan secara umum) bergantung kepada referensi yang digunakan. Salah satu cara yang lazim digunakan oleh reviewer adalah melihat daftar referensinya. Jika referensinya dari sumber-sumber yang terpercaya dan pakar di bidangnya, maka karya ilmiah tersebut memiliki potensi untuk mendapat nilai baik. Jika sumbernya tidak terpercaya, lemah, meragukan, atau tidak dapat ditelusuri kebenarannya maka karya ilmiah tersebut diragukan untuk mendapat penilaian yang baik.

Salah satu masalah yang dihadapi saat ini adalah kredibilitas dari sumber online. Banyak jurnal dan bahkan institusi pendidikan yang tidak memperkenankan mahasiswa menggunakan Wikipedia sebagai sumber rujukan. Bahkan dapat digeneralisir, penggunaan sumber online tidak disarankan. (Frowned upon.) Salah satu alasan yang digunakan adalah ketidakjelasan orang (sumber) yang mengisi data di Wikipedia. Hal berikutnya adalah sumber di Wikipedia sering berubah. Akan menjadi masalah jika pada saat ini fakta yang ditulis adalah A dan kemudian pada saat yang lain faktanya adalag B (non-A). Mana yang benar? Yang terakhir? Atau yang mana?

Terlebih lagi sekarang marak bermunculan situs-situs “berita” yang sebetulnya adalah situs yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ada yang bentuknya memang sungguhan main-main (parodi), tetapi tidak sedikit yang sebetulnya palsu dan seolah-olah sungguhan. Yang terakhir ini yang berbahaya karena informasinya dapat menyesatkan. Sayangnya justru sekarang banyak orang yang tidak mau sedikit meluangkan waktu untuk memeriksa kredibilitas sumber informasinya. Entah tidak mau atau mungkin tidak memiliki kemampuan (skill, kesabaran) untuk melakukan itu. Dia tidak sadar bahwa orang dapat menilai kualitasnya berdasarkan sumber informasinya itu. You are what you read. Akan sangat menyedihkan jika semakin banyak orang yang terjerumus kepada kebodohan ini. Saran saya, cobalah luangkan sedikit waktu untuk memeriksa kredibilitas dari sumber informasi yang Anda gunakan.

Semakin banyak masalah dengan sumber berita online, semakin menjadi pembenaran bahwa sumber online memang tidak memiliki kredibilitas untuk digunakan sebagai referensi dalam karya ilmiah. Nampaknya Wikipedia bakalan tetap sulit untuk diperkenankan sebagai sumber referensi karya ilmiah. Wah. Padahal isinya sangat membantu bagi mahasiswa yang mencari sumber rujukan. Mosok kita masih dibatasi dengan  penggunaan jurunal dan buku konvensional sebagai rujukan?


Menilai Tugas Mahasiswa

Dan tibalah saatnya saya harus menghadapi pekerjaan yang menyebalkan, menilai tugas mahasiswa. Kalau boleh sih, sambil tutup mata semuanya saya beri nilai “A” saja. Ha ha ha. Tapi ini tidak adil bagi yang sudah bekerja keras dalam belajar dan mengerjakan tugas. Mereka pantas untuk mendapatkan nilai “A”. Sisanya? Ya kurang dari A lah. Apalagi yang super malas, ya paling tinggi “C” lah. Atau, sekalian tidak diluluskan saja. wogh.

Kali ini saya salah perhitungan. Tadinya nilai terakhir masuk pertengahan bulan Juni. Eh, ternyata nilai masuk minggu depan. Senin! Padahal saya memberitahukan mahasiswa bahwa batas terakhir memasukkan tugas adalah lusa. Maka akhir pekan ini saya harus bekerja keras untuk memeriksa dan memberi nilai. Hadoh.

Derita dosen tiada akhir …


Kuliah Adalah Berkelompok

Hari ini saya disibukkan dengan beberapa mahasiswa S2 bimbingan yang siap-siap maju sidang thesis. Mereka seakan-akan dalam sebuah rombongan. Kemudian saya mengingat-ingat perjalan sejarah saya. Nampaknya memang perjalanan perkuliahan saya juga seperti ini.

Ketika S1 dulu, saya sempat sedikit tertunda di akhir kuliah. Tugas akhir sempat tertunda beberapa bulan. Apa yang saya lakukan adalah ke kampus tapi lebih banyak duduk-duduk di himpunan dan becanda dengan teman-teman. Tiba-tiba ada salah seorang dari kelompok kami yang siap maju sidang. Maka seperti ditampar, semuanya langsung kembali ke lab masing-masing dan mengerjakan tugas akhir. Akhirnya (sebagian dari) kami lulus bersamaan.

S2 saya di Kanada juga hampir seperti ini, meskipun kawan-kawan saya jumlahnya lebih sedikit. Yang berdekatan sidangnya juga teman satu kelompok, yang mana sekarang kawan-kawan saya ini tersebar di berbagai negara. Begitu salah satu menyelesaikan thesisnya maka ini memicu kami untuk cepat-cepat menyelesaikan thesis kami juga. S3 juga demikian, satu grup kami (yang jumlah anggotanya lebih kecil lagi) tiba-tiba ada yang disertasinya hampir selesai. Maka kami juga ngebut supaya bisa selesai sama-sama.

Kelompok, teman-teman ini, bagi saya bermanfaat untuk  memotivasi  menyelesaikan  tugas akhir, thesis, dan disertasi. Kalau sendirian, mungkin semangat untuk cepat-cepat selesainya menjadi rendah. Eh, mungkin ini karena sifat saya saja ya yang lebih suka berkelompok. Mungkin ada yang lebih suka kerja sendirian. Entahlah. Bagi saya, kuliah ada berkelompok. Siapa tahu strategi ini dapat mempercepat proses kelulusan Anda.


Tulisan Yang Akademik

Saat ini saya sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan mahasiswa terkait dengan tugas kuliah mereka, yaitu membuat makalah. Salah satu hal yang nampaknya mereka belum mengerti adalah bahwa makalah yang harus mereka buat harus bersifat akademik. Apa maksudnya “akademik” di sini? Nah itu dia.

Tingkat kesulitan dari makalah yang mereka buat kira-kira seperti ini. Jika makalah itu dikirimkan ke majalah komputer, maka makalah tersebut akan ditolak karena terlalu teknis. Pembaca akan pusing. Sementara itu jika makalah ini dikirim ke jurnal, maka makalah tersebut akan ditolak karena kurang aspek kebaharuannya atau kurang teknis. Jadi tingkat kesulitannya di antaranya.

Cara lain untuk mengukur apakah makalah kita itu akademik atau tidak adalah dengan melihat referensinya. Jika referensinya menggunakan artikel dari jurnal (yang kredibel), maka tulisan kita itu boleh jadi akademik. Jika referensinya tidak ada artikel jurnal, malah banyak menggunakan artikel majalah umum, maka ke-akademik-an dari makalah tersebut dapat dipertanyakan. Begitulah.

[Saya ingin memberi contoh yang lebih banyak, tapi belum sempat. Tulisan ini juga saya buat di dalam mobil di parkiran. hi hi hi]


Memahami Bahasa (dan Budaya?) Inggris

Baru saja saya mendengarkan beberapa lagu (aliran rock – hi hi hi) berbahasa Inggris. Salah satu lagu tersebut bercerita tentang Lord of the Rings. Lagu lainnya bercerita tentang hal-hal lain tetapi masih berkaitan dengan budaya Barat. Hal yang sama terjadi ketika saya menonton film dan membaca buku. Ada banyak konteks yang hilang jika kita tidak memahami bahasa dan budaya Barat itu. Lantas saya berpikir, apakah kita – orang Indonesia – perlu belajar bahasa Inggris dan memahami budaya Barat? Pertanyaan yang mirip pernah dilontarkan; apakah perlu kita belajar English literature?

Saya ingin menjawab dengan YA, tetapi itu untuk diri saya sendiri. Untuk keseluruhan Indonesia? Ah, nanti dulu. Mempelajari bahasa Indonesia dan sejarah Indonesia sendiri belum cukup untuk dipelajari, mengapa kita lantas seolah-olah ikutan menjadi ke-Barat-Baratan? Begitulah pertanyaan yang mungkin dilontarkan. Betul juga ya.

Di sisi lain, sebagai warga dunia, semestinya kita tidak membatasi diri untuk menjadi katak dalam tempurung. Dunia kan tidak hanya Indonesia saja. Memahami bahasa dan budaya asing memberi kita wawasan yang lebih luas dan bahkan dapat mengambil keputusan yang lebih baik secara lokal.

Bagaimana?


Sterilisasi Kampus?

Kemarin saya mendapat kabar bahwa Jokowi akan memberikan kuliah terbuka di kampus ITB hari ini. Maka setelah turun dari pesawat (saya baru kembali dari acara InnovFest 2014 di Singapura – cerita menyusul), saya menuju kampus ITB. Tadinya saya pikir acaranya biasa-biasa saja. Yang datang cukup satu aula (Barat atau Timur) saja lah. Biasanya kan kalau pejabat datang ke kampus ya segitu saja pesertanya. Eh, ternyata begitu sampai kampus heboh banget.

Banyak mahasiswa di luar yang mendemo kedatangan Jokowi ke kampus ITB. Katanya mungkin mendekati 100 orang. Ada spanduk dan ada yang berorasi di depan Aula Timur. Saya bergegas menuju pintu masuk yang sudah dikunci. Ada penjaga yang mengenal saya sebagai dosen dan memperbolehkan saya masuk. Maka saya masuk dan menuju bagian belakang aula yang sudah padat. Jumlahnya? Wuih gak tahu saya. Yang pasti, Aula Timur penuh sesak. Nampaknya yang mau mendengarkan Jokowi lebih banyak.

Pak Jokowi baru maju ke dapan setelah acara dibuka Rektor ITB. Setelah mengucapkan salam, pak Jokowi menjelaskan bahwa kedatangannya ke kampus adalah atas undangan ITB untuk menandatangani kerjasama ITB dengan DKI. Kesempatan ini digunakan pula untuk mengisi kuliah terbuka. Tetapi karena ada pro dan kontra dan agar tidak ada keributan di dalam, maka pak Jokowi memutuskan untuk tidak jadi mengisi kuliah terbuka. Begitu dia menutup. Mungkin kurang dari 5 menit. Wah. Bagi saya, sebetulnya perbedaan pendapat di kampus itu adalah yang biasa. Jokowi bisa saja memberikan kuliah tentang DKI.

Di akhir ada mahasiswa yang memberikan penjelasan (berorasi) bahwa mahasiswa tidak mendukung capres tertentu. Ok no problem. Yang heran adalah mahasiswa menginginkan sterilisasi kampus dari politik.

Hmmm… saya jadi berpikir puluhan tahun ke belakang. Akhir tahun 70-an terjadi kericuhan di kampus ITB (dan kampus-kampus lain di Indonesia), antara mahasiswa dengan militer. Pemerintah mencoba membuat kampus steril dari politik. Mahasiswa tentu saja tidak mau diatur oleh pemerintah. Maka para mahasiswa ini melawan. Kampus bahkan diduduki militer. Pada akhirnya kampus berhasil ditundukkan. Disterilkan.

Sangat terbalik dengan sekarang. Mahasiswa bahkan ingin memandulkan dirinya sendiri.

Saya ingat sebuah pendapat dari seorang Profesor (yang saya lupa sumbernya). Mahasiswa (ITB) tidak perlu terlibat politik praktis, tetapi mahasiswa tidak boleh buta/bodoh politik. Nah. Lantas bagaimana mahasiswa dapat mengerti politik jika tidak belajar di kampus? Hadirkan tokoh-tokoh di kampus. Treat them like a regular person. Biasa-biasa wae lah. Mengapa demikian ketakutannya mahasiswa dengan politik? Demikian lemahnyakah mahasiswa sekarang? Mahasiswa seharusnya dapat membuat dirinya kuat dan tidak terpengaruh dengan (partai) politik, tetapi tidak dengan membuat dirinya steril.

Nampaknya usaha pemerintah mengendalikan mahasiswa berhasil. Mahasiswa sekarang memang sudah menjadi anak baik yang fokus kepada kuliah dan lulus saja. Mahasiswa menjadi tidak relevan dan tidak perlu ditakuti oleh pemerintah lagi. Mahasiswa sudah menjadi kucing, bukan harimau. Kita tunggu saja nanti. Kekurangan pemimpin akan terus berlangsung. Golput akan tetap menjadi dominan.

Rasakno

Link serupa:

 


Apa Yang Salah?

Apa yang salah dari gambar ini? What’s wrong with this picture?

whats-wrong


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.895 pengikut lainnya.