Category Archives: Pendidikan

Tulisan Yang Akademik

Saat ini saya sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan mahasiswa terkait dengan tugas kuliah mereka, yaitu membuat makalah. Salah satu hal yang nampaknya mereka belum mengerti adalah bahwa makalah yang harus mereka buat harus bersifat akademik. Apa maksudnya “akademik” di sini? Nah itu dia.

Tingkat kesulitan dari makalah yang mereka buat kira-kira seperti ini. Jika makalah itu dikirimkan ke majalah komputer, maka makalah tersebut akan ditolak karena terlalu teknis. Pembaca akan pusing. Sementara itu jika makalah ini dikirim ke jurnal, maka makalah tersebut akan ditolak karena kurang aspek kebaharuannya atau kurang teknis. Jadi tingkat kesulitannya di antaranya.

Cara lain untuk mengukur apakah makalah kita itu akademik atau tidak adalah dengan melihat referensinya. Jika referensinya menggunakan artikel dari jurnal (yang kredibel), maka tulisan kita itu boleh jadi akademik. Jika referensinya tidak ada artikel jurnal, malah banyak menggunakan artikel majalah umum, maka ke-akademik-an dari makalah tersebut dapat dipertanyakan. Begitulah.

[Saya ingin memberi contoh yang lebih banyak, tapi belum sempat. Tulisan ini juga saya buat di dalam mobil di parkiran. hi hi hi]


Memahami Bahasa (dan Budaya?) Inggris

Baru saja saya mendengarkan beberapa lagu (aliran rock – hi hi hi) berbahasa Inggris. Salah satu lagu tersebut bercerita tentang Lord of the Rings. Lagu lainnya bercerita tentang hal-hal lain tetapi masih berkaitan dengan budaya Barat. Hal yang sama terjadi ketika saya menonton film dan membaca buku. Ada banyak konteks yang hilang jika kita tidak memahami bahasa dan budaya Barat itu. Lantas saya berpikir, apakah kita – orang Indonesia – perlu belajar bahasa Inggris dan memahami budaya Barat? Pertanyaan yang mirip pernah dilontarkan; apakah perlu kita belajar English literature?

Saya ingin menjawab dengan YA, tetapi itu untuk diri saya sendiri. Untuk keseluruhan Indonesia? Ah, nanti dulu. Mempelajari bahasa Indonesia dan sejarah Indonesia sendiri belum cukup untuk dipelajari, mengapa kita lantas seolah-olah ikutan menjadi ke-Barat-Baratan? Begitulah pertanyaan yang mungkin dilontarkan. Betul juga ya.

Di sisi lain, sebagai warga dunia, semestinya kita tidak membatasi diri untuk menjadi katak dalam tempurung. Dunia kan tidak hanya Indonesia saja. Memahami bahasa dan budaya asing memberi kita wawasan yang lebih luas dan bahkan dapat mengambil keputusan yang lebih baik secara lokal.

Bagaimana?


Sterilisasi Kampus?

Kemarin saya mendapat kabar bahwa Jokowi akan memberikan kuliah terbuka di kampus ITB hari ini. Maka setelah turun dari pesawat (saya baru kembali dari acara InnovFest 2014 di Singapura – cerita menyusul), saya menuju kampus ITB. Tadinya saya pikir acaranya biasa-biasa saja. Yang datang cukup satu aula (Barat atau Timur) saja lah. Biasanya kan kalau pejabat datang ke kampus ya segitu saja pesertanya. Eh, ternyata begitu sampai kampus heboh banget.

Banyak mahasiswa di luar yang mendemo kedatangan Jokowi ke kampus ITB. Katanya mungkin mendekati 100 orang. Ada spanduk dan ada yang berorasi di depan Aula Timur. Saya bergegas menuju pintu masuk yang sudah dikunci. Ada penjaga yang mengenal saya sebagai dosen dan memperbolehkan saya masuk. Maka saya masuk dan menuju bagian belakang aula yang sudah padat. Jumlahnya? Wuih gak tahu saya. Yang pasti, Aula Timur penuh sesak. Nampaknya yang mau mendengarkan Jokowi lebih banyak.

Pak Jokowi baru maju ke dapan setelah acara dibuka Rektor ITB. Setelah mengucapkan salam, pak Jokowi menjelaskan bahwa kedatangannya ke kampus adalah atas undangan ITB untuk menandatangani kerjasama ITB dengan DKI. Kesempatan ini digunakan pula untuk mengisi kuliah terbuka. Tetapi karena ada pro dan kontra dan agar tidak ada keributan di dalam, maka pak Jokowi memutuskan untuk tidak jadi mengisi kuliah terbuka. Begitu dia menutup. Mungkin kurang dari 5 menit. Wah. Bagi saya, sebetulnya perbedaan pendapat di kampus itu adalah yang biasa. Jokowi bisa saja memberikan kuliah tentang DKI.

Di akhir ada mahasiswa yang memberikan penjelasan (berorasi) bahwa mahasiswa tidak mendukung capres tertentu. Ok no problem. Yang heran adalah mahasiswa menginginkan sterilisasi kampus dari politik.

Hmmm… saya jadi berpikir puluhan tahun ke belakang. Akhir tahun 70-an terjadi kericuhan di kampus ITB (dan kampus-kampus lain di Indonesia), antara mahasiswa dengan militer. Pemerintah mencoba membuat kampus steril dari politik. Mahasiswa tentu saja tidak mau diatur oleh pemerintah. Maka para mahasiswa ini melawan. Kampus bahkan diduduki militer. Pada akhirnya kampus berhasil ditundukkan. Disterilkan.

Sangat terbalik dengan sekarang. Mahasiswa bahkan ingin memandulkan dirinya sendiri.

Saya ingat sebuah pendapat dari seorang Profesor (yang saya lupa sumbernya). Mahasiswa (ITB) tidak perlu terlibat politik praktis, tetapi mahasiswa tidak boleh buta/bodoh politik. Nah. Lantas bagaimana mahasiswa dapat mengerti politik jika tidak belajar di kampus? Hadirkan tokoh-tokoh di kampus. Treat them like a regular person. Biasa-biasa wae lah. Mengapa demikian ketakutannya mahasiswa dengan politik? Demikian lemahnyakah mahasiswa sekarang? Mahasiswa seharusnya dapat membuat dirinya kuat dan tidak terpengaruh dengan (partai) politik, tetapi tidak dengan membuat dirinya steril.

Nampaknya usaha pemerintah mengendalikan mahasiswa berhasil. Mahasiswa sekarang memang sudah menjadi anak baik yang fokus kepada kuliah dan lulus saja. Mahasiswa menjadi tidak relevan dan tidak perlu ditakuti oleh pemerintah lagi. Mahasiswa sudah menjadi kucing, bukan harimau. Kita tunggu saja nanti. Kekurangan pemimpin akan terus berlangsung. Golput akan tetap menjadi dominan.

Rasakno

Link serupa:

 


Apa Yang Salah?

Apa yang salah dari gambar ini? What’s wrong with this picture?

whats-wrong


Bercerita (Story Telling)

Melihat beberapa video dari TED.com, saya terkagum-kagum dengan cara bercerita para pembicara di sana. Cara mereka bercerita (mendongeng) sunggu luar biasa. Menarik. Pertanyaan saya kemudian adalah, mengapa kita di Indonesia tidak banyak yang dapat bercerita seperti mereka? Padahal saya tadinya mengira bahwa di Indonesia ini ada banyak story tellers (pendongeng). Kan ada banyak dongeng di Indonesia. Semestinya banyak juga pendongengnya dong?

fajar yuliawanSaya menduga ada dua hal yang kita salah atau kurang. Pertama adalah kemampuan ini tidak kita ajarkan. Di sekolah-sekolah, anak-anak diuji dengan pertanyaan dalam bentuk pilihan berganda (multiple choice). Mereka tidak diberi kesempatan untuk bercerita. Soal ujian dalam bentuk essay sudah jarang digunakan. Mungkin ini dilakukan karena kemudahan memerika ujian seperti itu. Memang memeriksa soal essay lebih sulit, tetapi jika kita ingin Indonesia lebih baik semestinya itulah yang dilakukan.

Kedua, lingkungan. Lingkungan di kita harus memberi dukungan kepada cerita-cerita dan pendongeng yang baik. Saat ini yang terjadi adalah cerita jelek, buruk, kacangan yang digemari orang-orang. Lihatlah TV. Pendongeng yang baik menjadi tersisih. Seniman – in the true sense – terlihat menjadi manusia yang aneh. Mereka malah menjadi bukan mainstream. Ini juga salah kita. Seharusnya kita lebih banyak mendukung para pendongeng seniman ini.

Sudah miskin secara finansial, kita juga miskin kemampuan bercerita. Glodak …


Dongeng Kesukaan Mahasiswa

Tadi siang, saya memberikan presentasi mengenai teknik mengajar saya. Dalam diskusi dibahas mengenai cara untuk memulai kelas dengan mendongeng dulu. Ternyata topik yang disukai oleh mahasiswa adalah dongeng tentang hantu dan cerita-cerita motivasi. Hantu? Iya. hi hi hi. Tipikal orang Indonesia ya?

Nah, kayaknya saya harus mengumpulkan humor-humor tentang hantu nih. hi hi hi.


Keysigning Party

Salah satu yang direncanakan pada kuliah saya tadi pagi adalah melakukan “keysigning party”. Setiap mahasiswa harus membuat pasangan kunci privat dan kunci publik. Kunci publik ini kemudian disimpan (upload) ke tempat tertentu. Kunci ini dapat “ditandatangani” oleh orang lain untuk meningkatkan keabsahannya. Jika saya menandatangani kunci tersebut, saya mengatakan bahwa kunci tersebut memang benar-benar diasosiasikan dengan orang ini. Demikian pula orang lain juga dapat menandatangani kunci publik saya untuk mengatakan bahwa memang kunci publik itu milik saya. Saling percaya ini menimbulkan kepercayaan yang disebut “web of trust”.

IMG_3954 keysign 1000

Foto di atas menunjukkan suasana kelas ketika melakukan keysigning ini. Hanya sayangnya network yang tersedia tidak mendukung untuk melakukan keysigning ini. Kami berada di belakang proxy yang membuat beberapa aplikasi (saya menggunakan GPG suite) sulit untuk melakukan proses keysigning ini. Sebetulnya bisa, tetapi manual dan laborious. he he he. Inginnya sih yang lebih otomatis. Lain kali kita akan mengadakan keysigning lagi ah.


Kalau Tidak Tahu, Tanya

Kenapa ya kok banyak orang yang tidak mau bertanya ketika mereka tidak tahu? Apa karena malu? Takut salah? Atau apa ya?

Sering kali terjadi situasi di mana tugas atau kerjaan tidak berlangsung karena yang mengerjakannya tidak tahu dan tidak mau bertanya. Setelah direview, ternyata ada masalah – tidak mengerti tentang sesuatu. Repotnya, kita sudah kehilangan waktu karena yang bersangkutan (mahasiswa, pekerja) tidak mau bertanya. Padahal kalau dia bertanya, pekerjaan dapat selesai. Sekarang menjadi molor lagi.

Saya memberi tugas kepada mahasiswa. “Ada pertanyaan?” Tidak ada yang bertanya. Seminggu kemudian baru mahasiswa bertanya. Nah. Harus dibagaimanakan ini?


Berkarya (itu) Untuk Diri Sendiri

Twitter crawler yang saya buat beberapa waktu yang lalu berhenti bekerja. Pesannya (error message) tidak jelas. Saya tidak tahu apa sebabnya. Dalam pertemuan penelitian minggu lalu, Andry (mahasiswa saya yang juga meneliti tentang ini) mengatakan bahwa ternyata akses ke twitter sekarang diharuskan menggunakan SSL/TLS. Oh begitu toh. Baru hari ini saya punya kesempatan untuk melihat kode saya dan mengaktifkan SSL, yang ternyata hanya 1 baris saja perubahannya. Beres. Jalan lagi.

Saya membuat crawler ini untuk sebuah penelitian, tetapi sesungguhnya saya membuatnya untuk diri sendiri. Saya tertarik dengan data dari twitter. Khususnya yang saya cari adalah struktur dari follower saya. Maka saya membuat kode twitter itu. Setelah data terkumpul nanti saya akan buatkan ceritanya. Saya akan menulis makalah tentang ini, tetapi sesungguhnya saya membuat ini juga untuk diri sendiri. Out of curiousity.

Di luar ini semua, banyak orang yang hanya pandai berteori dan tidak menghasilkan karya. Mahasiswa juga hanya pandai kuliah tetapi tidak menghasilkan karya. Bagaimana perusahaan calon tempat bekerja mereka dapat menilai kualitas mereka? Kalau hanya sekedar melihat ijasah saja tidak ada bedanya. Karya merupakan salah satu bukti. Karya untuk diri sendiri merupakan hal yang terbaik sebab ini menunjukkan passion yang bersangkutan. Why can’t they – the students – see this?


Untuk Apa Internet Cepat?

Sebuah pertanyaan yang agak aneh bagi saya; “untuk apa internet cepat?”. Bagi saya itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban, tetapi mungkin jawaban pertanyaan ini tidak terlalu mudah dilihat bagi banyak orang. Baiklah, saya coba jawab.

Ada banyak aplikasi yang membutuhkan layanan internet cepat. Saya ambil satu contoh saja ya, bidang pendidikan.

Di negara-negara maju, pemanfaatan teknologi informasi untuk pendidikan sudah menjadi hal yang umum. Bahkan saat ini online learning dalam skala yang masif sedang menjadi tren. Perguruan tinggi seperti MIT membuat kuliah-kuliahnya online. Atau Khan Academy yang sangat ekstensif menggunakan YouTube. Start up di bidang ini juga mulai bermunculan, Coursera, misalnya. Di Indonesia juga sudah ada beberapa yang memulai.

Salah satu kebutuhan dari online learning adalah adanya jaringan internet yang stabil (reliable) dan cepat. Sebagai contoh, banyak materi yang membutuhkan layanan video. Bagaimana kita dapat menonton video yang ukurannya ratusan Megabytes jika internet kita lambat dan putus-putus? Sebagai contoh, saya suka menonton presentasi yang ada di TED.com. Luar biasa bagus-bagus. Hanya saja saya tidak dapat menonton secara streaming karena internet di tempat saya agak lambat. Yang saya lakukan adalah mengunduh (download) videonya dulu dan kemudian ditonton setelah semuanya berhasil saya peroleh. Bergantung kepada kecepatan internet saat itu, kadang saya harus nunggu cukup lama. Orang lain (siswa lain) di negara yang sudah maju sudah berhasil mendengarkan presentasi 10 kali, di sini mungkin baru selesai download. Belum lagi kalau ada situs yang tidak memperkenankan videonya diunduh, mampuslah kita.

Okelah, mungkin saya masih mengkhayal untuk bisa sampai menggunakan video untuk belajar, meskipun di negara maju ini bukan lagi khayalan. Untuk menyediakan layanan download berkas kuliah dengan jumlah siswa yang besar pun sudah menjadi masalah. Perlu diingat skala siswa Indonesia yang jauh sangat besar jumlahnya. Belum lagi jangkauannya yang sangat luas.

Kondisi internet saya memang tidak begitu cepat. Ini di kota besar di Indonesia, bung! Bayangkan kondisinya di kota yang kecil atau daerah-daerah yang terpelosok. Maka itu dia ada istilah “digital divide“. Yang kaya, yang memiliki akses digital dengan cepat akan semakin maju, sementara yang fakir bandwidth akan semakin tertinggal. Mungkin kalau dianalogikan, siswa di Indonesia hanya bisa baca 3 halaman buku sementara itu siswa di luar negeri bisa baca 300 buku. Mau dibandingkan hasilnya?

Misalnya, anak Anda dapat tugas dari sekolah untuk membuat tulisan tentang punahnya dinosaurus; lengkap dengan gambar kalau perlu. Maka anak yang punya akses internet cepat dapat mengerjakan itu dalam waktu kurang dari satu jam. Cari ceritanya di internet, cari gambarnya, tonton videonya, kemudian mulai mengarang ceritanya. Sementara itu anak yang hanya punya akses GPRS … tiga hari tiga malam begadang tidak selesai download. Kira-kira yang dapat nilai bagus siapa ya? Salah anaknya? Salah internet yang lambat!

Salah satu layanan yang juga sekarang mulai lazim digunakan adalah Dropbox. Dropbox digunakan oleh mahasiswa untuk backup tugas-tugasnya. Ada satu mahasiswa yang nyaris stress karena notebook yang dia gunakan untuk mengerjakan tugas akhir tercuri. Dia belum melakukan backup, sementara teman-temannya menggunakan Dropbox untuk backup tulisan tugas akhirnya. Kami menggunakan Dropbox untuk  mengerjakan makalah bersama-sama. Silahkan cek di kampus-kampus, Dropbox sekarang menempati posisi yang tinggi juga. Dapat dibayangkan apabila layanan internet super lambat. Kampus yang bersangkutan akan punya masalah kredibilitas.

Ini baru bidang pendidikan. Bidang lain, hampir sama. Internet itu merupakan infrastruktur. Sama seperti jalan. Kita tidak boleh hanya puas dengan jalan yang berbatu – bahkan mungkin lumpur – yang hanya dapat dilewati motor atau sepeda saja. Dibutuhkan jalan untuk angkutan umum, bis sekolah, truk untuk mengangkut barang dagangan, dan seterusnya. Jalan harus lebar dan mulus. Internet juga harus demikian.

[sementara itu saya sedang pusing update OS dan aplikasi dari perangkat-perangkat saya karena gak selesai-selesai; gara-gara internetnya lambat! ini masalah nyata saya, sebagai fakir bandwidth. dan untuk download ISO OS - masing-masing sekian GigaBytes ukurannya - sementara harus tunda dulu sampai ke tempat yang internetnya lebih cepat (atau ada mirrornya). Yang repot itu kalau upgrade desktop, ya gak bisa dibawa pergi komputernya. Ini dia screenshot "apt-get upgrade" di komputer desktop saya yang menggunakan Linux Mint.]

apt-get-upgrade-crop


Budaya Komentar

Melihat tampilan di media sosial seperti Facebook, saya melihat sebuah pola; kebanyakan orang menampilkan tulisan dari media lain (seperti Detik, Kompasiana, YouTube, dan lain-lan) dan kemudian memberi komentar. Ternyata kebisaan kebanyakan orang Indonesia adalah membuat komentar. Ini cukup memprihatinkan. (Ya, terpaksa saya menggunakan kata itu juga.) Komentar biasanya berukuran pendek, satu kalimat atau bahkan hanya beberapa kata saja.

Ini menunjukkan kurangnya kemampuan kita – orang Indonesia – untuk menulis dalam ukuran yang lebih panjang. Atau kalau mau kita generalisir, kemampuan analisis kita ternyata masih minim. Eh, jangan-jangan kita memang tidak mampu menulis. Maka dari itu kita harus banyak belajar dan berlatih untuk melakukan analisis dan menulis. Jika tidak, maka kita memang hanya jagoan komentar saja. Sayangnya di sekolah-sekolah, yang diajarkan adalah kemampuan menjawab pertanyaan, bukan melakukan analisis, sintesa, dan menulis. Bahkan untuk sekedar mengkhayal dan menuliskannyapun kita tidak mampu. Hadoh!


Kuliah Semester Ini

Semester baru sudah dimulai di ITB. Ini sudah memasuki minggu kedua. Tentu saja langsung kesibukan datang. Tapi, lebih baik sibuk dengan pekerjaan daripada tidak ada pekerjaan, bukan?

Semester ini ternyata saya mengajar kuliah yang terkait dengan security saja. Ada tiga kuliah, (1) Keamanan Informasi (untuk S1), (2) network security (untuk S2), dan (3) incident handling (untuk S2 juga). Sebetulnya ada satu kuliah lagi – security juga, Security Architecture – tetapi saya batalkan karena saya sudah banyak mengajar dan pesertanya hanya 4 orang (sebelum PRS).

Mengajar tiga kuliah sudah cukup berat bagi saya. Saya heran ada dosen yang mengajar banyak kuliah. Entah mereka serius mengajarnya atau hanya ingin mendapatkan hal lain, seperti honor tambahan atau kenaikan pangkat atau pujian karena mengajar banyak. Entahlah.

Dan mulailah sibuk saya memperbaiki materi kuliah. Waduh.


Tidak Bertanya Artinya Tidak Mengerti

Biasanya orang bertanya karena tidak mengerti. Saya sekarang justru berpendapat bahwa orang yang tidak bertanya sebetulnya justru yang tidak mengerti. Mereka tidak bertanya karena tidak mengerti sehingga tidak tahu apa yang akan ditanyakan. Itu dia. Benar tidak ya logika saya ini?

Ada perbedaan antara mengajar anak-anak Indonesia (dan mungkin Asia secara umum) dengan mengajar anak-anak di luar negeri (notabene North American). Di sana, yang tidak mengerti akan bertanya. Pengajarpun tidak merasa aneh jika ada yang bertanya. Biasa-biasa saja. Di Indonesia, pengajar merasa terintimidasi jika ditanya. Aneh juga. Siswa pun tidak bertanya meskipun mereka tidak mengerti. Ini yang membuat saya berpikiran bahwa tidak bertanya bukan berarti sudah mengerti, tetapi justru karena tidak mengerti. Paham?


Lagi-lagi Soal Pengujian

Seharian ini urusan saya adalah menguji thesis mahasiswa. Salah satu hal yang saya temui berulang kali adalah mahasiswa belum paham yang namanya pengujian. Hampir selalu yang dilakukan mahasiswa adalah menjalankan aplikasi (sistem) yang dia buat sekali dan kemudian mengatakan bahwa itu jalan. Wah ini salah besar. Bahwa sesuatu itu jalan belum tentu dia jalan benar. Topik ini rasanya sudah pernah saya tulis, tapi nampaknya perlu saya tulis berulang kali :)

Pengujian fungsional yang baik pada awalnya dilakukan dengan menggunakan data yang terkendali (controlled environment). Misalnya kita membuat aplikasi untuk menghitung jumlah kata dalam sebuah dokumen, maka kita buat beberapa dokumen dengan jumlah kata yang kita ketahui. Kita jalankan aplikasi ini beberapa kali dengan data yang sama dan kemudian dengan data yang berbeda. Ini untuk data yang normal. Kemudian kita coba lagi dengan data yang abnormal, misalnya dokumen tanpa kata atau dokumen dengan satu kata yang superpanjang. Begitulah seterusnya. (Baca lebih lanjut tentang regression.) Jadi pengujian itu tidak hanya satu kali jalan kemudian dikatakan berfungsi dengan baik :)

Setelah yakin bahwa aplikasi berjalan dengan baik di lingkungan dan data yang terkendali, baru kita “lepas” aplikasi di lingkungan sesungguhnya. Di lingkungan ini kita uji juga. Pengujiannya juga mirip seperti sebelumnya tetapi ada banyak hal yang kadang di luar kendali kita. Ada dokument yang corrupt atau tidak sesuai dengan spek dan seterusnya. Begitulah.

Sebetulnya masih banyak hal lagi tentang pengujian fungsional tetapi yang utama seperti yang saya uraikan di atas. Nanti kalau kebanyakan uraiannya malah jadi tambah pusing. Hadoh.

Di luar pengujian fungsional masih ada pengujian kinerja dan security. Ini topik pembahasan lain kali saja ya. Sekarang kita fokus kepada aspek fungsional dulu.

Untuk hasil penelitian yang bentuknya bukan sesuatu yang dapat dijalankan (executable), seperti misalnya yang masih dalam bentuk rancangan (atau bahkan requirement) tetap harus diuji, tetapi caranya tentunya lain lagi. Demikian pula yang hasil penelitiannya berbentuk kebijakan atau pedoman harus juga diuji. Nah, bagaimana mengujinya?

 


Manusia 1/2 Dimensi

Dalam sebuah tes (PISA) baru-baru ini didapati anak-anak Indonesia berada di ranking paling bawah. Ada yang tidak setuju dengan hasil ini dengan berbagai alasan. Saya agak sepakat dengan hasil tes ini jika melihat kondisi yang ada di Indonesia.

Lingkungan di Indonesia membuat anak-anak Indonesia menjadi seperti katak dalam tempurung. Mereka tidak tahu apa yang ada di luar sana. Pengetahuan, selain yang diajarkan di sekolah, sangat terbatas. Mereka hanya fokus kepada sekolah dan ujian yang akan dihadapi. Itu saja. Itupun hanya fokus kepada ujiannya. Mana mereka tahu sejarah dunia (world history).

Dalam sebuah episode Indonesian Idol yang kebetulan tertonton (saya belum pernah nonton sebelumnya), Ahmad Dhani sebagai salah satu juri meminta kepada beberapa kontestan untuk menyebutkan 10 nama penyanyi wanita dari luar negeri. Hasilnya banyak yang tidak bisa! HAH!!! Aneh juga mereka tidak bisa. Harusnya mereka bisa. Jika seseorang ingin menjadi penyanyi / musisi, semestinya dia mempelajari seluk beluk dunia itu. Sebagai contoh, akan aneh bagi seorang penggemar sepak bola kalau tidak dapat menyebutkan 10 nama pemain sepak bola. Lantas yang ada di kepala mereka apa ya?

Saya memiliki pendekatan yang sama. Ketika saya mengajari atau membimbing mahasiswa saya ke dalam satu topik, saya minta mereka mencari tahu siapa tokoh-tokoh (saya sebut dengan istilah “gate keeper”) dalam bidang itu. Istilah kerennya sih studi literatur, tetapi salah satu intinya adalah mengetahui siapa yang mbahurekso di bidang itu.

Jangankan untuk mendapatkan multi dimensi, wawasan satu dimensi saja mungkin anak-anak ini masih kurang. Mungkin sistem pendidikan dan lingkungan kita juga yang membuat demikian.  Anak-anak ini kita jadikan manusia 1/2 dimensi. Relakah kita?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.