Category Archives: Pendidikan

Internet Cepat Untuk Pendidikan

Tadi pagi saya memberikan presentasi tentang pemanfaatan teknologi informasi. Salah satu poin yang saya sampaikan adalah infrastruktur internet di Indonesia masih belum cepat dan belum merata. Pada acara tanya jawab ada yang bertanya, kalau internet cepat untuk pendidikan itu contohnya apa.

Salah satu situs favorit saya adalah TED.com. Situs ini berisi kumpulan video dari orang-orang yang kompeten di bidangnya dari seluruh dunia. Bidang-bidang yang ditampilkan di TED sangat bervariasi. Saya sendiri sering melihat di bagian pendidikan, desain, kepemimpinan (leadership), dan … banyak lagi. Karena situs ini berisi video, maka internet yang digunakan harus cukup cepat meskipun tidak harus super cepat. Saya sering kesulitan untuk mengakses situs ini dari layanan internet yang saya gunakan. Apalagi kalau saya akses dari handphone. hi hi hi. Sering saya akses TED dari kampus. Sayangnya di kampus ada quota jumlah data yang dapat didownload dalam satuan waktu. Kalau ini terlewati, biasanya ada surat cinta dari admin yang mengatakan bahwa saya mendownload terlalu banyak. hi hi hi.

TED.com ini hanya salah satu contoh situs yang terkait dengan pendidikan yang membutuhkan internet cepat. Oh ya, bahkan YouTube pun memiliki banyak video yang terkait dengan pendidikan. Sering saya diberikan (ditunjukkan) URL yang berisi tentang topik-topik tertentu. Misalnya ketika menjelaskan tentang sorting algorithms, ada video yang membandingkan berbagai jenis algoritma untuk mengurutkan data ini. Dengan melihat tampilan secara visual kita dapat memahami konsep yang dijelaskan dengan lebih baik.

Saya juga mulai mengumpulkan video kuliah yang saya buat sendiri. Beberapa tahun yang lalu sempat dibuatkan video kuliah security saya untuk kuliah jarak jauh. Seingat saya videonya adalah 8 DVD. Satu pertemuan menghasilkan 1 DVD. Nah kalau ini didownload dengan menggunakan internet yang lambat mungkin baru selesai harian. Padahal ini baru satu topik saja. Kalau kita mengambil beberapa mata kuliah, dapat dibayangkan kebutuhan internet kita.

Jadi internet yang cepat itu sebuah kebutuhan bagi pendidikan. Sama pentingnya dengan listrik. Mungkin seperti tidak nyambung ya, tetapi tanpa listrik sekarang sulit untuk menjalankan pendidikan. Silahkan coba kuliah tanpa menggunakan listrik :)

Nah, situs-situs pendidikan apa (yang membutuhkan internet cepat) yang biasanya Anda kunjungi?


Susahnya Membaca Jurnal

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa pasca sarjana adalah membaca makalah dari jurnal. Terlebih ini terjadi pada level S3. Ada banyak masalah di sini.

Pertama, seringkali makalah itu tidak dapat dimengerti dalam satu kali baca. Penulis makalah seringkali dibatasi oleh jumlah halaman dari jurnal sehingga harus menjelaskan bagian-bagian yang penting saja. Ada banyak bagian rinci (detail) yang terpaksa dilewatkan. (Kelebihan halaman harus dibayar oleh penulis dan itu tidak murah!) Maka sang pembaca kadang kebingungan ketika membaca makalah itu. Ada bagian yang hilang. Dibutuhkan waktu untuk mengerti itu. Makalah harus dibaca berulang kali. (Padahal waktu terbatas.)

Kadang memang ada peneliti yang meskipun sangat cerdas tetapi tidak mahir menulis sehingga tulisannya membingungkan. Atau, memang kadang (meski jarang) ada yang menutup-nutupi penelitiannya (misalnya karena ada bagian yang sedang / akan dia patenkan).

Kedua, dalam membaca makalah tersebut, sang mahasiswa membacanya sendirian. Dalam topik penelitian S3, seringkali dia adalah satu-satunya yang meneliti tentang itu di lingkungannya. Mau tanya kepada siapa? Mau tanya kepada pembimbing atau promotorpun kadang mereka tidak memahami sedetail yang ingin dibahas. Jadi dia frustasi sendirian. Mahasiswa S3 yang lainnya pun demikian. Jadi ini adalah kumpulan mahasiswa yang frustasi. ha ha ha.

Lebih parahnya lagi banyak orang yang menganggap membaca itu mudah. Mereka tidak dapat mengerti mengapa mahasiswa S3 lama selesai sekolahnya. Kan hanya membaca? Memang seberapa susahnya membaca sih? hi hi hi. Maka pusinglah sang mahasiswa S3 menjelaskan ini kepada keluarganya, koleganya, tetangganya, bahwa membaca (makalah jurnal) itu tidak mudah. he he he. Semakin frustasi dia … Hadoh.


Menulis Karya Ilmiah

Ya, saya masih memeriksa revisi tugas mahasiswa. Masih banyak – atau bahkan sebagian besar? – mahasiswa kita belum mahir menulis karya ilmiah. Mungkin dapat saya generalisir lebih lanjut, mahasiswa belum mahir menulis. Titik. Kejam amat ya?

Masalah utama bagi mahasiswa adalah mereka menyepelekan penulisan. Dianggapnya menulis itu hanya sekedar mengurutkan kata-kata. Atau lebih ekstrim lagi menulis itu mengurutkan huruf-huruf. a i u e o. Bagi mereka, memilih kata itu tidak penting. Padahal kata yang berbeda memiliki makna dan efek yang berbeda kepada pembaca. “Kamu salah!” atau “Anda kurang tepat” memiliki efek yang berbeda, bukan?

Menuangkan alur pemikiran dalam tulisan yang runut merupakan sebuah tantangan. Kita tidak dapat mencampurkan semuanya dalam satu bagian. Untuk makanan, gado-gado pun harus dipilih apa yang akan dicampur. Kalau gado-gado dicampur dengan cumi-cumi dan bajigur rasanya jadi kacau balau. he he he.

Bahkan untuk sekedar menuliskan dalam format yang konsistenpun ternyata banyak yang belum paham. Ngasal saja. Padahal tulisan yang tidak enak dipandang akan menghasilkan nilai yang buruk karena pembaca sudah antipati duluan. Seharusnya memang isi yang lebih penting, tetapi penampilan pada kenyataannya adalah yang membukakan pintu kepada pembaca. Setelah pintu terbuka, kita sodorkan isinya. Bagaimana pembaca atau penguji akan memeriksa tulisan kita jika “pintu” tertutup?

Lantas bagaimana caranya agar kita dapat menulis karya ilmiah yang baik (dan indah)? Latihan, latihan, dan latihan menulis. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar latihan-latihan ini menyenangkan sehingga kita melakukannya? Itu merupakan topik bahasan di lain kesempatan.


Menikmati Hidup

Beberapa hari terakhir ini ada beberapa orang (sebetulnya hanya 3) yang bertanya kepada saya kenapa saya terlihat happy-happy saja. Menikmati hidup. hi hi hi. Bahkan mas Sobur mengatakan bahwa bagi pak Budi ini semuanya adalah perayaan. ha ha ha.

Jawaban saya terhadap pertanyaan “kenapa” adalah mengapa tidak? Why not? ha ha ha. Ini jawaban model apa sih? Lha pertanyaannya adalah kenapa. Kalau pertanyaannya adalah “bagaimana agar dapat menikmati hidup”, jawabannya lebih susah. Saya sendiri sebetulnya belum tahu jawaban tepatnya.

Mungkin ini disebabkan karena saya melihat “1/2 gelas yang terisi” sedangkan orang lain banyak yang melihat “1/2 gelas kosong”. Dalam bahasa lain, saya lebih positive-thinking.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar kita dapat menjadi lebih positive-thinking? Yang saya lakukan adalah belajar dari orang lain. Melihat pengalaman-pengalaman orang lain. Atau malah lebih tepatnya adalah belajar dari kegagalan-kegagalan orang lain sehingga kita dapat lebih menghargai apa yang kita peroleh. Ada banyak biografi yang menceritakan kesulitan dalam hidup orang-orang yang sukses. Alhamdulillah kita tidak mengalami kesulitan yang mereka hadapi. Jika mereka dapat mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut dan kemudian menjadi sukses, mengapa kita tidak?

Hal lain yang saya lakukan adalah mencari orang-orang yang memiliki pemikiran atau values yang sejalan. Berkumpul dengan orang-orang yang waras. Eh, atau yang tidak waras ya? hi hi hi. Saya melihat bahwa ternyata kumpulan yang saya dekati adalah kumpulan orang-orang yang berpikiran positif juga. Nampaknya ini juga merupakan salah satu cara untuk lebih meningkatkan ke-positif-an kita. Reinforcement learning? Mungkin itu juga sebabnya Anda bergabung dengan blog ini? Agar lebih positif. hi hi hi.

Begitulah kira-kiranya cara saya agar dapat lebih menikmati hidup. Semoga bermanfaat.


Hambatan Menjadi Entrepreneur

Salah satu hambatan terbesar untuk menjadi entrepreneur adalah mengatasi ego. Yang saya maksud dengan ego di sini adalah rasa arogansi, kebangsawanan, ketinggian, atau sejenisnya. Saya masih mencari kata yang lebih tepat. Contohnya begini, misalnya seorang lulusan perguruan tinggi dengan gelar S2 merasa malu kalau berjualan mie baso di pinggir jalan. Saya kan lulusan perguruan tinggi! Begitu kira-kira ekstrimnya.

Itulah sebabnya lulusan perguruan tinggi sering sulit untuk diajak menjadi entrepreneur. Saya kan sudah susah-susah sekolah, sudah bayar mahal, mengapa hanya jadi entrepreneur? “Hanya”? Nah itu dia. Padahal menjadi entrepreneur dapat menjadi solusi masalah ekonomi (dan sosial) di negara kita.

Bagaimana mengatasi ego ini? Atau setidaknya mengurangi rasa malu ini? Jawaban yang singkat adalah “just do it”. Langsung dikerjakan saja. Kalau berenang, langsung loncat ke kolam renang. he he he. Tentu saja ada cara-cara agar risiko kegagalan menjadi minimal. Misalnya kalau mau loncat ke kolam renang, ya setidaknya harus bisa ngambang lah. Jangan gaya batu. hi hi hi. Atau, ada penjaga kolam renang yang dapat menolong ketika kita akan karam.,

Sebetulnya ada latihan-latihan yang dapat dilakukan untuk mengurangi ego ini. Salah satu contohnya adalah mencoba dengan hal yang kecil. Ambil contoh begini. Beli kacang bungkus (atau permen, kertas tissue, atau apa saja yang mudah dibeli dan tidak rusak). Kemudian Anda coba jual itu di pasar malam, acara-acara, atau ke teman. Harganya buat sama dengan harga belinya. Tujuannya bukan untuk mencari keuntungan tetapi mencoba apakah Anda mau melakukannya. Sekedar “mau” saja. Itu saja. Latihan seperti ini dapat dilakukan untuk mengurangi rasa ego tersebut.

Semoga semakin banyak generasi muda entrepreneur yang sukses di Indonesia.


Latihan Presentasi

Dua atau tiga minggu terakhir ini saya disibukkan dengan sidang mahasiswa S2 dan S3. Untuk yang S2, ada sidang yang terkait dengan thesisnya mereka. Sementara itu untuk yang S3 ada sidang kualifikasi dan seminar kemajuan penelitian mereka. Dalam satu hari saya mendengarkan dua (2) sampai tujuh (7) presentasi. Pokoknya sampai kenyang dengan presentasi.

Hampir semuanya memiliki masalah dengan presentasi, yaitu mereka tidak tahu cara presentasi. Wah. Ada beberapa mahasiswa yang sempat mengikuti kuliah saya dan sempat mendengarkan kuliah teknik presentasi, tetapi ada juga yang tidak pernah.

Presentasi itu bukan hanya maju ke depan dan tinggal bicara. Asal mangap. ha ha ha. Presentasi yang baik dan menarik itu ada dasar-dasarnya. Sebagai contoh, ketepatan waktu dalam presentasi adalah sangat esensial. Presentasi TIDAK BOLEH MELEBIHI WAKTU yang sudah diberikan. Sengaja itu saya tulis dengan huruf besar dan bold. Begitu melewati waktu, maka nilai akan jatuh. Tetap saja ada mahasiswa yang melanggar hal ini. Misalnya, waktu kemarin itu mahasiswa diberi waktu sekitar 15 menit untuk mempresentasikan thesisnya. Eh, ada mahasiswa yang presentasi hampir 30 menit! Ya ampun! Padahal yang menguju sudah ngantuk, bosan, menguap, dan menunjukkan tanda-tanda ketidaksetujuan. Sayangnya sang mahasiswa asyik melihat ke layar sehingga dia tidak mengetahui ini. Nilai jadi buruk.

Kalau presentasi tidak menarik, 5 menitpun terasa lamaaa … sekali.

Bagaimana berdiri, menatap, meletakkan tangan, dan seterusnya saya ajarkan juga di kelas. Contoh saya ambil dari cara Steve Jobs – sang maestro – memberikan presentasi. Mungkin yang pernah ikutan teater menyadari pentingnya hal ini.

Hal yang juga sering diremehkan adalah persiapan. Ada orang yang mengatakan bahwa persiapan menentukan 50% kesuksesan dari presentasi. Ini ada benarnya. Tahukah Anda bahwa cerita, jokes, lawakan, yang dibawakan oleh presenter-presenter yang keren itu sebetulnya sudah dipersiapkan sebelumnya? Ini juga saya lakukan. Ada contoh lawakan yang probabilitasnya mengena untuk kawula muda dan ada juga yangĀ  hanya dapat dimengerti oleh penguji sidang. Dalam mempresentasikan thesis, misalnya, saya mengusulkan agar tidak menceritakan semua. Justru ada bagian-bagian yang kita buat seperti mengambang sehingga nanti ditanya. Kelihatannya kita tidak siap dengan itu. Padahal justru itu sudah dipersiapkan dari awal. hi hi hi.

Kalau itu semua sudah dilakukan apakah seseorang lantas bisa berubah menjadi jagoan presentasi? Belum. Harus berlatih, berlatih, dan berlatih. Berlatih dapat dilakukan di tempat sendiri dan dapat juga dilakukan di tempat sesungguhnya (jika memungkinkan). Itulah sebabnya ada gladiresik (dan gladikotor he he he). Kalau dalam bahasa Inggrisnya, rehersal. Mengambil contoh Steve Jobs, dia berlatih presentasi sampai berjam-jam. Dia tidak mau berhenti sebelum semuanya *sempurna*. Timing tepat. Warna tepat. Dan seterusnya. Memang dia perfectionist.

Contoh lain yang juga dapat dilihat adalah artis atau band. Mereka berlatih jam-jaman, eh bahkan berhari-hari, untuk sebuah konser. Bahkan artis / band yang sudah kawakanpun juga berlatih.

Maka dari itu, saya tersenyum-senyum ketika orang mempertanyakan salah satu capres yang berlatih debat. Justru itu harus dilakukan. That’s the way you do it. Semua harus melalui persiapan dan berlatih jika ingin mendapatkan hasil yang baik. Tidak bisa asal ngablak. hi hi hi.


Perlukah (Kebuasan) Orientasi Studi

Sebentara lagi kampus-kampus (dan sekolahan) akan kedatangan mahasiswa baru. Maka ritual tahunan itu akan muncul lagi. Ya, orientasi studi atau OS. Ini bukan OS operating system ya.

Saya pribadi sebetulnya saya setuju dengan OS, tetapi bukan jenis OS yang berorientasi kepada kekerasan. Banyak mahasiswa yang merasa bahwa leadership hanya muncul dari kekerasan OS. Kepemimpinan itu harus orang yang berbicara keras dalam format baris berbaris. (Saya pernah menulis tentang kelucuan “ketegasan” korlap di acara mahasiswa.)

Hasil dari OS yang berbasis kekerasan adalah kebuasan. Korban berjatuhan pada saat OS berlangsung dan trauma ini akan membekas di kemudian hari. Lihatlah yang terjadi di masyarakat kita. Masyarakat yang tempramental. Mudah marah, mencela, memfitnah, dan … marah lagi. Kekerasan muncul. Kebuasan. Itukah yang kita inginkan? (Itulah sebabnya saya tidak memilih calon presiden yang tempramental. hi hi hi.)

Kemampuan berdialog, berdiskusi, di meja (bundar) sekarang sangat dibutuhkan. Kita banyak kalah dalam deal-deal karena tidak memiliki kemampuan, kesabaran, kecerdasan dalam bernegosiasi. Sekarang bukan jamannya lagi menunjukkan kekerasan.

Sudah saatnya kita pikirkan OS yang lebih positif tanpa kekerasan. Atau, tidak ada OS sama sekali. Dapatkah?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.732 pengikut lainnya.