Arsip Kategori: Pendidikan

Kumpul Kelas Online

Tadi pagi, akhirnya jadi juga kelas saya kumpul online. Sebelumnya saya sudah memberitahu mahasiswa untuk kumpul di channel IRC tertentu. Pagi tadi banyak yang hadir.

(Mengapa kami memutuskan menggunakan IRC telah dibahas di tempat lain. Singkatnya, IRC dipilih karena ini merupakan platform yang paling stabil untuk diskusi dengan jumlah orang yang banyak dan dengan kebutuhan sumber daya yang tidak begitu besar. Mahasiswa kelas saya ini jumlahnya sekitar 170 orang.)

Masalah pertama yang kami hadapi adalah identitas di IRC. Repot untuk mengasosiasikan identitas di IRC, dalam hal ini adalah nick name, dengan identitas mahasiswa sesungguhnya di kampus. Untuk itu disepakati untuk menggunakan id “NAMA-NIM”. Adanya NIM sangat membantu untuk menghubungkan kedua identitas tersebut.

Sebetulnya bisa juga digunakan “NIM-NAMA” (NIM duluan), tetapi nampaknya kurang elegan. NIM di belakang juga tidak apa-apa. Yang penting nanti dapat digunakan regular expression untuk memisahkan NIM dari identitas tersebut. Tinggal buat sebuah program untuk membuat konversi ke spreadsheet.

Masalah kedua adalah cara untuk menggantikan “mengangkat tangan” (polling) dalam bentuk digital. Misalnya, saya ingin bertanya seberapa banyak mahasiswa yang menggunakan WEB sebagai cara untuk mengakses IRC. Kalau ada mekanisme “angkat tangan digital” tentunya sangat memudahkan. Tinggal dihitung saja. Sekarang ini tidak ada. Mungkin harus membuat sebuah bot untuk melakukan hal tersebut. Jika mekanisme voting ini dilakukan di luar platform IRC maka akan repot bagi yang mengakses IRC dengan menggunakan handphone misalnya. Dia harus menjalankan aplikasi lain lagi hanya untuk voting dan kemudian kembali lagi ke IRC. Tidak natural.

Hal ketiga … IRC itu sangat “cerewet” (verbose). Mahasiswa ingin menyimak (membaca) tulisan saya saja. Mereka tidak ingin melihat ada tulisan yang mengatakan si-abc login / logout. Nah. Mungkin harus dibuatkan FAQ (frequently asked questions) terkait dengan penggunaan IRC sebagai mekanisme kumpul kelas. Hmmm…


[10:27] * FT__ (caf9191a@gateway/web/freenode/ip.202.249.25.26) has joined #kuliah-br
[10:28] * evecrest (~androirc@120.168.1.10) has joined #kuliah-br
[10:28] * pltobing (~patricklt@202.152.202.103) has joined #kuliah-br
[10:28] * stephanie182 (b6092e79@gateway/web/freenode/ip.182.9.46.121) has joined #kuliah-br
[10:28] * stephanie182 (b6092e79@gateway/web/freenode/ip.182.9.46.121) Quit (Client Quit)
[10:29] * evecrest (~androirc@120.168.1.10) Quit (Client Quit)
[10:29] * mgemaakbar (~mgemaakba@202.152.202.103) has joined #kuliah-br
[10:29] * mario_135 (c0ace279@gateway/web/freenode/ip.192.172.226.121) Quit (Ping timeout: 245 seconds)
[10:29] * damiannmm_135 (27d59e76@gateway/web/freenode/ip.39.213.158.118) has joined #kuliah-br

Demikian cerita pengalaman singkat kumpul kelas online.


Tidak Kultwit

Entah kenapa saya kok kurang sreg dengan kultwit, yaitu “kuliah” dengan menggunakan twitter. Tentu saja ini bukan seperti kuliah konvensional.

Apa ya yang membuat saya kurang sreg?

Yang pertama adalah ada perasaan kita “merendahkan” (watered down) materi yang ingin kita sampaikan. Bahkan dengan pertemuan tatap muka yang langsung mengajarkan materi saja sudah sulit diserap, ini apalagi dengan menggunakan medium yang hanya 140 karakter. Saya sebetulnya menyukai hal-hal yang baru, maju, terdepan, avant garde, tetapi ini sudah berlebihan.

Yang kedua, twitter adalah media yang sifatnya sekarang. Setelah itu, hilang. Maksudnya begini. Kalau kita ingin melihat catatan “kuliah” kita yang lalu bagaimana? Apakah kita menyimpan apa yang kita tuliskan 6 bulan yang lalu? Yang seperti ini lebih mudah dengan menggunakan blog, misalnya.

Yang ketiga, saya merasa banyak yang melakukan kultwit hanya bertujuan untuk menambahkan jumlah follower. Lah? Bukankah fungsi utama dari kultwit itu adalah “kuliah”? Yaitu mengajari.

Jadi gimana ya? No kultwit for me. At least, for now.


Bukti Hadir Secara Digital

Salah satu syarat untuk mengikuti ujian di perkuliahan adalah hadir minimal 80%. Nah, kalau kita menggunakan sistem e-learning, apa bukti kehadiran mahasiswa?

  • Mendownload materi? Apakah setiap hadir harus download?;
  • Check-in dengan mengunakan sebuah program/aplikasi tertentu (setelah itu check-out)?;
  • Menuliskan sesuatu di forum, daftar hadir online?;
  • Hadir di forum chat? (Berarti instruktur harus online juga);
  • Apa lagi ya? Mohon usulannya.

Atau memang syarat kehadiran sudah tidak diperlukan lagi? Jika demikian maka harus ada peraturan dari institusi untuk menyatakan hal itu.

Dua minggu lagi saya akan meminta mahasiswa saya hadir secara online. Sementara ini saya masih mencari cara untuk menunjukkan bahwa mereka “hadir” sebagai pengganti tanda tangan di daftar hadir konvensional.

Update. Saya lupa memberitahukan bahwa kelas saya ini pesertanya > 120 orang. Jadi rasanya tidak mungkin (dengan teknologi sekarang dan kualitas jaringan yang tersedia) kalau semuanya harus login dengan menggunakan video :) . Untuk sekedar chatting dengan 120 orang saja sudah merupakan tantangan berat.


Bekerja Seadanya Saja

Salah satu kebiasaan buruk yang saya amati adalah bekerja seadanya. Bekerja sekedar memenuhi kewajiban administratif. Kalau disuruh buat laporan, ya buat laporan asal ada laporan. Dia tidak ingin membuat laporan yang excellent. Tidak ingin membuat laporannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Mungkin kebiasaan ini dibina sejak jadi mahasiswa, yaitu dibiasakan mengerjakan tugas seadanya. Asal kumpul tugas. Ketika mahasiswa diajari bahwa yang kerja ekstra dan kerja asal-asalan nilainya sama saja. Ngapain juga kerja ekstra? Ini kemudian terbawa juga setelah bekerja.

Padahal orang akan menilai beda; orang yang asal-asalan dan orang yang serius dan mencintai pekerjaannya. Jelas berbeda!


Apa Maksud Kalimat Ini?

Beberapa kali saya membuat tulisan tentang makalah mahasiswa yang isinya kacau balau. (Ceuk basa Sunda mah kacau bulao? he he he.) Pada tulisan tersebut saya tidak menampilkan contohnya sehingga mungkin kurang dapat diresapi oleh para pembaca (dan mahasiswa). Kali ini saya akan coba tampilkan beberapa contoh. Coba Anda apa maksud kalimat-kalimat berikut. (Sumber dari beberapa makalah. Bukan dari satu makalah. Tulisan ditampilkan persis apa adanya.)

  1. Perkembangan teknologi kendaraan yang telah dilengkapi system perangkat sambungan membuat semakin rentan terhadap celah keamanan cyber ini disebabkan perangkat seperti smart phone yang telah disusupi virus atau malware ketika tersambung ke perangkat kendaraan akan menginvasi system yang ada di kendaraan.
  2. Relai mesh adalah jaringan distribusi data. Menghubungkan relai RTP dari semua peserta dan pulau multicast menggunakan protokol RTP. Ancaman terhadap relai mesh dapat dipecah menjadi dua kelas: yang berhubungan dengan protokol RTP dan yang terkait dengan multicast IP yang digunakan untuk mengirimkan data ke peserta.
  3. Rangkuman sketsa trafik sangat penting untuk melakukan deteksi serangan, meskipun jumlah pengguna voip yang cukup dinamis, sketsa dapat memastikan bahwa sinyal lalu lintas baku dari semua periode pengambilan sampel adalah panjang yang sama, yang menyediakan kemudahan untuk melakukan deteksi berdasarkan wavelet.
  4. … Pertama karena tidak membawa perubahan yang besar terhadap HD, serangan tersebut mampu meminta ambang batas lebih tinggi dari pada menjalankan HD melebihi ambang batas. Kedua ketika serangan itu berakhir, hal itu menyebabkan penurunan secara tiba-tiba terhadap keseluruhan trafik jaringan dan konsekuensinya perubahan distribusi jaringan.
  5. … Lain konsep keamanan penting adalah kolusi dan resistensi statelessness. Sebuah skema kolusi penuh tahan yang kuat terhadap kolusi sejumlah pengguna dicabut. …
  6. Semenjak keamanan menyebar dalam konsep, berlaku juga untuk berbagai entitas, dimana dapat didistribusikan dan secara virtual (misalnya, seperti yang terjadi dalam kasus Cloud komputasi Grid atau arsitektur), pemahaman pengembangan yang tepat yang berhubungan dengan energi implikasinya dapat tidak layak jika tidak dibagi ke dalam lingkup kompleksitas rendah.

(Belum selesai. Nanti akan saya tambahkan contoh-contoh lain.)


(mahasiswa dan) Menulis Makalah

Saya sedang memeriksa tugas makalah mahasiswa sebagai bagian dari tugas mereka. Sayang sekali hasilnya tidak begitu baik. Misalnya masalah yang sering muncul adalah tidak mengerti bagaimana menggunakan referensi; tidak tahu cara mengutip dan menuliskan referensi. Padahal ini adalah bagian yang paling penting dalam dunia akademik.

Untuk mengetahui cara mengutip makalah dan menuliskannya dalam daftar referensi dapat dilakukan dengan membaca banyak makalah. Untuk mahasiswa pasca sarjana (S2, S3) tidak ada alasan untuk tidak membaca makalah. Kalau kita membaca banyak makalah, terbayanglah bagaimana pakem-pakem untuk menggunakan makalah. Kemudian kita baca aturan yang digunakan untuk kuliah / konferensi / jurnal yang bersangkutan. Ini semua ada aturannya. Tidang ngasal. Kalau tidak pernah baca makalah, ya bagaimana mau tahu? Setidaknya bacalah 100 makalah, gitu.

Mengutip juga harus dipelajari. Pengetahuan ini tidak dapat timbul dengan serta merta. Harus banyak berlatih. Salah mengutip dapat dianggap sebagai plagiat. Yang ini fatal akibatnya. Sayangnya hal ini sering dianggap remeh.

Mengutip itu tidak sama dengan menerjemahkan. Ada mahasiswa yang nekad mencoba menerjemahkan makalah. Memangnya tidak ketahuan? he he he. Ini sama dengan anak SD Indonesia yang mencoba menerjemahkan tulisan dari bahasa Perancis, misalnya. Ya bakalan ketahuanlah kalau menerjemahkan. he he he. Kalau hanya sekedar menerjemahkan sudah ada Google.

Di dunia akademik, Anda dinilai dari tulisannya. Tidak dapat menulis sama dengan tidak lulus. Titik.

Bagi mahasiswa saya yang sedang saya periksa tugasnya, silahkan perbaiki dahulu sebelum saya nilai.


Susahnya Menilai

Salah satu hal yang tidak saya sukai sebagai dosen adalah bagian menilai. Ini adalah suatu pekerjaan yang tidak menyenangkan tetapi harus dilakukan.

Umumnya dosen ingin meluluskan semua mahasiswanya, sayangnya kadang mahasiswanya yang justru mempersulit hal ini. Misalnya, mahasiswa gagal ujian. Kadang gagalnya juga spektakuler. Bagaimana dosen dapat meluluskan? Alasannya apa?  Dosen harus dapat memastikan bahwa mahasiswa paham dengan apa yang diajarkan dan memenuhi tujuan dari kuliah tersebut. Itulah sebabnya perhatikan tujuan silabus dari kuliah. Di sana ada inti yang akan diujikan. Sayangnya mahasiswa tidak peduli.

Hal kedua adalah menilai dan melihat sebaran nilai. Tidak saja saya harus membuat daftar yang lulus (dan yang tidak), tetapi saya harus mengetahui sejauh mana mahasiswa memahami materi. Yang bagus diberi nilai A, sisanya menyesuaikan. Yang ini juga tidak mudah karena tidak ada panduan yang baku. Saya sih inginnya semua mendapat nilai maksimal (A), tetapi lagi-lagi kadang-kadang hal ini tidak memungkinkan.

Nah sekarang saya sedang dalam proses menilai. Hadoh. Derita dosen tiada akhir.


Buanglah Sampah Pada Tempatnya

Tulisan ini merupakan upaya saya untuk mengajak kita peduli terhadap lingkungan. Mungkin pesannya terlalu sederhana dan terlalu obvious. Semua orang juga sudah tahu. Pada kenyataannya tidak. tetapi sesungguhnya pesan-pesan seperti ini masih dibutuhkan.

Sering saya melihat orang berkendaraan – motor, mobil, bahkan mobil mewah sekalipun – yang melontarkan sampah ke jalan. Paham yang mereka anut adalah, mobil saya harus bersih dari sampah. Jalan? Ah terserah. Fenomena “not in my backyard“.

Bahwa membuang sampah pada tempatnya ternyata masih belum diresapi. Ini harus diajarkan sejak dini. Suatu ketika ada anak-anak, kecil-kecil, bermain di depan rumah kami. Mereka makan makanan kecil. Kami tanya, kalau buang sampah di mana? Dengan lugunya mereka menjawab: di selokan. Kami tersentak. Mereka nampaknya tidak diajari. Atau – lebih mengerikan lagi – mereka diajari untuk membuang sampah di selokan. Pantas saja kalau hujan selokan menjadi meluap karena aliran air tertutup oleh sampah-sampah yang susah hancur tersebut.

Pendidikan dapat terjadi di tiga tempat; (1) rumah, (2) sekolah, dan (3) masyarakat. Di luar negeri kita bisa lihat bahwa rumah mereka berantakan, sekolah pun tidak terlalu hebat, tetapi di masyarakat tetap ada “pelajaran-pelajaran”. Sebagai contoh, di kendaraan umum seperti bis ada petunjuk untuk memberikan tempat kepada orang tua atau yang membutuhkan. Ini merupakan pelajaran dari masyarakat. Untuk itu saya mengajak kita untuk membuat “pelajaran-pelajaran” di manapun kita bisa melakukannya. Termasuk di blog.

Untuk kali ini, pesan yang ingin saya sampaikan adalah

Buanglah sampah pada tempatnya

(Mungkin di lain kesempatan saya bisa menambahkan dengan ilistrasi grafis yang lebih menarik daripada sekedar teks saja.)


Perlukah Pelajaran XYZ?

Di sebuah milis saya mengikuti perdebatan tentang kurikulum. Berbagai masalah dilontarkan. Salah satunya adalah perlukah pelajaran tertentu, sebut saja XYZ, diajarkan? Perdebatan kemudian terjadi karena ada orang yang menginginkan mata pelajaran / kuliah tertentu hadir dengan jumlah SKS tertentu. Sementara itu ada batas SKS maksimum yang diambil oleh mahasiswa. Memilih mana yang perlu dan mana yang tidak ternyata sulit.

Saya melantur. Mencoba mengerti lebih jauh. Perlukah sebuah pengetahuan tertentu diajarkan? Kalau pertanyaannya perlu, mungkin jawabannya adalah memang perlu. Hanya masalahnya apakah dia perlu diajarkan secara formal dalam bentuk sebuah mata pelajaran atau tidak? Itu kan masalahnya.

Ini juga sebetulnya terkait dengan harapan keluaran yang diinginkan. Yang ini juga ternyata masih menjadi perdebatan.

Saya dapat membayangkan ada beberapa pengetahuan yang nampaknya akan terdesak, yaitu hal-hal yang sulit sekali secara teknis (sehingga tidak banyak peminatnya) dan hal-hal yang dianggap remeh. Kesusasteraan, misalnya, tidak mungkin akan muncul dalam bidang ilmu teknis. Padahal menurut banyak orang, hal ini sangat penting. Liberal arts mulai mendapat porsi yang besar di luar negeri.

Saya berpikir, apakah “English Literature” akan mendapat porsi di Indonesia? Demikian pula dengan “World History”? Dugaan saya jawabannya adalah TIDAK! (Dengan tanda seru.) Ini budaya Barat yang tidak penting amat untuk dipelajari. Apalagi dimengerti.

Padahal ada banyak hal di dunia teknis sekalipun yang terpengaruh oleh budaya Barat. Di dunia saya ada banyak pengaruh tulisan science fiction yang mempengarui teknologi. 1984? 2001 Space Oddysey? Bahkan skit Monty Python pun menyebabkan munculnya istilah spam di email. Beberapa pemikiran pengarang seperti Asimov juga mempengaruhi banyak hal. Belum lagi soal Star Trek :)

Saya beruntung karena pernah bersinggungan dengan budaya Barat untuk waktu yang cukup lama, lebih dari 10 tahun, ketika saya mengambil S2 dan S3 di Kanada. Ada banyak hal yang akhirnya saya ketahui dan itu memudahkan saya untuk memahami dan berdiskusi dengan kolega-kolega di luar negeri.

Pemahaman World Culture menurut saya semetinya penting untuk diajarkan. Nah, apakah kita perlu juga membaca Shakespeare? Hmm…


Siswa Tidak Siap

Salah satu prasyarat kesuksesan eLearning adalah kesiapan dari siswanya sendiri. Berbeda dengan jaman dahulu, di mana siswa “disuapi” oleh gurunya, sekarang siswa yang harus lebih pro-aktif. Sekarang pusatnya ada pada siswanya. “Student-centric” katanya. Kalau dahulu pada gurunya.

Saya lihat ini masalah terbesar di kita. Siswa cenderung untuk pasif dan mencari cara termudah untuk lulus ujian. Cara terbaiknya adalah dengan menghafal. Cara terburuk adalah curang. Itikad untuk belajar itu hilang. Bahkan untuk sekedar bertanyapun mereka tidak mau (atau tidak mampu?). Ini dapat kita lihat pada tingkatan dari SD sampai mahasiswa. Menyeramkan.

Mungkin ini juga bukan salah mereka karena lingkungan (sistem) yang mendorong ke arah itu. Sebagai contoh, kalau mereka gagal Ujian Nasional (atau ujian-ujian lain) maka mereka tersingkirkan. Akibatnya target mereka sebagai siswa adalah lulus ujian. Di luar itu? Tidak tertarik. Ataupun kalau tertarik, ya secukupnya saja.

Kembali kepada kesiapan siswa, bagaimana cara kita untuk mendorong mereka agar dapat lebih pro-aktif? Jika mereka tidak kita siapkan dari sejak dini, maka kemajuan dunia ini (termasuk keberadaan eLearning) justru akan membuat kita menjadi semakin terpuruk. Kita harus mulai dari sejak mereka kecil. Tapi bagaimana ya?


Persiapan eLearning: infrastruktur

Salah satu yang kadang kurang mendapat perhatian dalam persiapan eLearning adalah infrastruktur.

Ada infrastruktur backend yang harus dipersiapkan. Server harus dapat menampung kebutuhan pengguna. Sistem yang berjalan hanya untuk 30 orang belum tentu dapat berjalan untuk 100 orang. Sistem yang dapat berjalan untuk 100 orang belum tentu dapat digunakan untuk 500 orang, 1000 orang, dan seterusnya. Untuk itu perlu diketahui terlebih dahulu berapa jumlah orang yang akan dilayani dan dilakukan capacity planning untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Hal yang sering terjadi adalah server elearning dipersiapkan seadanya. Setelah dicoba oleh beberapa orang dan berjalan maka sistem dianggap sudah cukup. Padahal dalam kenyataannya server tidak sanggup untuk memberikan layanan sesungguhnya. Yang menjadi masalah seringkali kegagalan beroperasinya server justru ketika pada masa kritis, misalnya ketika sedang ujian. Akibatnya orang menjadi antipati terhadap sistem eLearning.

Infrstruktur di sisi pengguna juga harus diperhatikan. Sebagai contoh, perlu ada kelas yang dipersiapkan untuk pengguna. Jangan sampai ada diskriminasi. Ada mahasiswa yang tidak lulus karena tidak memiliki akses kepada sistem eLearning. Untuk kelas yang besar, ini menjadi masalah. Pihak penyelenggara (kampus) harus memiliki komitmen untuk menyediakan fasilitas ini. Seringkali ini luput dari perhatian.

Masih ada banyak hal lain lagi yang perlu diperhatikan dalam hal persiapan eLearning. Infrastruktur adalah salah satunya.


Mengatakan … TIDAK!

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan ternyata adalah mengatakan tidak. Saying NO. Poin in saya sampaikan di depan para calon technopreneur. Mengapa hal ini perlu saya angkat? Karena dalam perjalanan untuk menjadi entrepreneur selalu ada “gangguan”.

Sebagai contoh, Anda sudah memutuskan untuk membuat sebuah perusahaan startup setelah lulus S1. Niat sudah bulat. Eh, tiba-tiba ada tawaran beasiswa untuk S2. Nah lho. Bagaimana? Untuk membuat situasi lebih sulit lagi, S2-nya di luar negeri di universitas yang bagus (terkenal). Mampus deh! Langsung gamang. Apakah jadi menjalankan usaha? Atau tunda dulu?

Kebanyakan orang ketika dihadapkan kepada situasi ini akhirnya memilih menunda dulu. Tentu saja ini pilihan yang sah. Tidak salah. Ini adalah pilihan hidup. It’s a choice.

Hanya saja kalau Anda beranggapan bahwa setelah itu tidak ada “gangguan” lagi, Anda salah. Misalnya Anda menyelesaikan S2 dan kemudian teringat kembali untuk menjadi wiraswasta. Sekarang ada beban tambahan. Orang-orang akan lebih menyudutkan Anda dengan mengatakan “lulusan S2 kok hanya buat usaha seperti itu”. Nah lho.

Tambahan lagi. Tiba-tiba ada tawaran dari kawan Anda yang membuka sekolah tinggi. Bagaimana kalau Anda mengajar saja di sana? Gaji tetap lho. Maka Anda goyah lah. Yang lebih sakit adalah kalau tiba-tiba ada tawaran yang lebih “hebat”, seperti menjadi pejabat (Dirjen, Menteri, Walikota, Bupati, dan seterusnya). Maka, sanggupkah Anda mengatakan TIDAK???

Ada banyak “gangguan” dalam perjalanan hidup kita. Jika kita tidak tahu apa yang kita inginkan, tidak tahu cita-cita kita, dan tidak teguh dalam memegang cita-cita itu maka gangguan ini akan selalu menang. Dan Anda akan selalu mengorbankan cita-cita dengan kepragmatisan kini.

Suatu ketika, ketika Anda sudah tua, teringatlah Anda akan cita-cita Anda. Rasa sesal mulai muncul.

Kemampuan untuk mengatakan TIDAK harus dimulai dari dini. Harus belajar. Katakan … TIDAK untuk “gangguan” yang tidak sesuai dengan cita-cita Anda. Semoga kita dapat melakukan hal ini.


e-Learning

Entah kenapa topik e-learning muncul minggu-minggu ini. Mungkin karena ini akhir tahun ajaran dan banyak orang yang ingin mempersiapkan diri ke arah sana.

Saya lihat-lihat koleksi tulisan saya yang terkait dengan topik ini. Eh, ternyata ada materi di tahun 2003. Wow! Itu 9 tahun yang lalu! (Satu bulan lagi menjadi 10 tahun yang lalu.) Saya baca ulang. Lucu juga rasanya. Ada hal-hal yang masih relevan (misalnya saya mempertanyakan soal keberadaan content dan access). Ada juga yang sekarang sudah terpecahkan, yaitu mulai banyaknya tools untuk e-learning.

Nah, sekarang mulai membuat catatan tentang pengalaman saya menggunakan tools e-learning. Nanti kalau sudah selesai baru bisa saya bagi.


Salah Presentasi (Mahasiswa)

Dalam penjurian APICTA, saya duduk menjadi juri di bagian proyek mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Asia Pasifik. Berbagai hasil karya mahasiswa dipresentasikan; mulai dari desain web, games, sampai robot dan aplikasi embedded system lainnya. Hasil karyanya sebagian besar bagus-bagus. Masalahnya adalah dalam presentasi mereka.

Sebagian besar, atau malah boleh dikatakan hampir semua, peserta mengalami masalah dalam presentasinya. Yang paling sering terjadi adalah salah arah (misguided). Saya ambil contoh agar lebih jelas saja. Mahasiswa mempresentasikan topik keamanan dalam berkendaraan (atau kendaraan yang memiliki fitur keamanan), yaitu mendeteksi kalau pengemudinya mabuk atau lelah. Salah satu hal yang mereka lakukan adalah mengamati jalan dan membantu mobil mengamati jalannya. Untuk itu mereka harus membuat sebuah jalur. Path finder, kira-kiranya.

Sebetulnya inovasi mereka adalah pada ide, algoritma, dan trik dalam membuat jalur tersebut. Semestinya ini yang mereka tampilkan. Fokus. Namun mahasiswa mempresentasikan bahwa sistem mereka membantu keamanan pengendara. Pada presentasinya pun tidak dijelaskan kaitan antara path finder mereka dengan keamanan. Jadi mereka lebih banyak cerita kepada konteks, tetapi tidak pada inovasi mereka sendiri. Padahal yang dinilai adalah inovasi mereka.

Ada banyak contoh lain yang serupa. Mungkin mahasiswa ini ketakutan karyanya dianggap kecil efek atau manfaatnya? Padahal justru  yang kecil-kecil, tetapi cerdas (clever), inilah yang menarik dari karya mahasiswa. Kita tahu bahwa mereka tidak akan membuat produk yang setingkat dengan kualitas buatan perusahaan. Di sisi lain, kita juga sadar bahwa seringkali mahasiswa menemukan ide yang lebih cerdas dari perusahaan. Coba saja kalau sang mahasiswa fokus kepada inovasinya…

Begitu oleh-oleh dari penjurian kali ini.


Berkomunikasi Ala Orang Indonesia

Cara orang berkomunikasi ternyata terkait dengan kultur orang yang bersangkutan. Orang Amerika terbiasa berkata dengan blak-blakan. Orang Indonesia – dan mungkin Asia secara umum – cenderung tidak demikian. Kita cenderung berdiskusi di belakang layar.

Mari kita ambil contoh. Dalam perkuliahan, misalnya. Dosen sering bertanya kepada mahasiswa, “ada pertanyaan?” atau “ada yang belum dimengerti?”. Di Indonesia, biasanya pertanyaan seperti ini tidak mendapat tanggapan. Mahasiswa tertunduk, meskipun banyak yang belum mengerti. Setelah kuliah selesai barulah ada satu dua mahasiswa yang maju ke meja dosen dan bertanya. Halah. Mengapa tidak bertanya tadi-tadi? Kalau orang Amerika, biasanya bertanya ketika belum mengerti dan ada kesempatan untuk bertanya. Bahkan mereka akan mengacungkan tanya sebelum kita bertanya apakah ada yang ingin bertanya.

Ternyata kebiasaan ini terbawa juga ke dunia maya. Dalam sebuah mailing list, misalnya, ada diskusi. Kemudian ternyata ada yang berpendapat bahwa sebaiknya topik diskusi tersebut didiskusikan antar orang saja atau ketemuan di darat saja. Ini mirip seperti kondisi di kelas tadi. Yang mau nanya, nanti saja langsung ke dosennya. Kita tidak terbiasa berdiskusi di publik.

Dan ternyata kalau berdiskusi di publik pun, banyak yang ngaco. Masalahnya, mereka tidak terlatih untuk berdiskusi di publik. Adalah yang bicaranya muter-muter (lama sekali untuk mengatakan intinya), ngeyel kalau berdiskusi (berdebat), atau bahkan tidak fokus. Cape deh.

Ini masalah kultur. Tidak mungkin untuk diubah dalam waktu singkat. Entah apakah generasi nanti akan tetap sama atau berubah. Kalau melihat mahasiswa saya, nampaknya belum akan berubah. Oh well.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.071 pengikut lainnya.