Bagaimana memilih topik S3? Topik apa saja yang cocok untuk S3? Apakah topik S3 harus merupakan kelanjutan dari topik S2? Ini adalah beberapa contoh pertanyaan yang saya terima soal topik S3.
Pertama, soal memilih topik. Biasanya pemilihan topik itu dapat diberikan dari promotor / pembimbing. Anda, sebagai mahasiswa S3, tertarik dengan topik tersebut dan kemudian memilih topik itu. Pendekatan lain adalah calon mahasiswa S3 sudah memiliki sebuah topik kemudian mencari promotor yang dirasa sesuai dengan bidang itu. Atau bisa juga merupakan kombinasi dari keduanya. Umumnya, nanti di perjalanan akan ada perubahan yang disebabkan oleh temuan baru atau malah dinding yang sulit untuk didobrak. Jadi jangan terlalu ngotot di awal. Beri ruang untuk perubahan-perubahan. Tentu saja sebaiknya Anda tidak kosong (blank) soal topik ketika memulai S3. Harus ada perkiraan topik.
Kedua, topik apa saja yang cocok untuk S3? Kebanyakan orang tidak dapat membayangkan sejauh apa atau sedalam apa topik S3. Maklum, calon mahasiswa S3 ini kan belum pernah S3 dan S3 itu sangat jauh berbeda dengan S2. Untuk skala lebih susahnya, bisa saya katakan bahwa S3 itu bisa 3 sampai 10 kali lebih susah dari S2. Siapkan mental Anda (dan keluarga) untuk menghadapi itu.
Topik yang bersifat praktis biasanya kurang cocok untuk S3. Ada faktor akademik yang harus muncul dalam penelitian S3. Ambil contoh. Melakukan konfigurasi routing di sebuah router bisa sangat teknis sekali, tetapi ini belum cukup untuk dikatakan penelitian S3. Memodelkan routing dengan sebuah notasi formal (some kind of mathematical notation) kemudian menggunakannya untuk mencari algoritma shortest path antara dua node dalam jaringan (yang mungkin memiliki gangguan – sehingga harus mengubah routing, ada beda cost antara routing yang harus dicapai, dan ada batasan waktu untuk mengambil keputusan). Nah, yang ini barus bisa dikatakan sebuah topik penelitian S3.
Penelitian S3 harus memberikan sebuah kebaharuan. Nah ini yang paling sulit. Ketika kita memulai penelitian kita belum tahu peta rincinya. Setelah melakukan penelitian baru sadar bahwa apa yang akan kita lakukan sudah ada yang melakukannya dan bahkan lebih baik dari apa yang kita pikirkan! Hal ini mungkin baru kita sadari setelah 1/2 perjalanan. Mau berhenti sudah tanggung. Mau diteruskan, lantas kontribusinya apa? Kalau kita beruntung, kita dapat cepat lolos. Kalau belum beruntung, maka waktu yang ada menjadi siksaan bagi kita. Maka banyak mahasiswa S3 yang stress.
Apakah topik S3 harus merupakan kelanjutan topik S2? Tidak. Hanya saja kalau beda topik maka akan ada usaha untuk belajar foundation yang akan menghabiskan waktu. Kalau topik S3 merupakan kelanjutan topik S2, maka investasi belajar teori di S2 bisa dinikmati pada S3. Hanya saja saya melihat lebih banyak topik S3 yang berbeda dengan topik S2.
Demikian secara singkat tentang topik S3.
Oh ya, tidak semua orang harus S3. Kontribusi bisa dilakukan tanpa S3 dan umumnya demikian (tanpa S3).