Category Archives: Prosa

Parodi Superhero (3)

Spiderman baru sampai kamarnya. Rebahan sebentar ah. Capek. Sambil rebahan dia melirik pintu. Eh, ada kertas di bawah pintu. Nampaknya disodorkan ketika dia sedang pergi.

Sambil malas-malas dia bangun dan mengambil kertas itu. Ternyata ini undangan untuk pemilihan presiden. Wah dapat juga undangan nyoblos. Tertera namanya, spiderman. Sebetulnya dia sedang mikir juga, darimana KPU tahu dia tinggal di sini? Tetapi karena dia sedang senang untuk ikutan pilpres ini, dia tidak peduli. Sebelum-sebelumnya dia termasuk yang golput. Kali ini dia gagal golput. hi hi hi.

Zzz … saking lelahnya, spiderman tertidur dengan menggenggam kertas itu di tangannya. Menggenggam sebuah harapan.

Pagi hari menjelang. Spiderman melemaskan ototnya dengan sedikit berolah raga di atas atap gedung. Hari yang baik. Hari yang membuat perubahan. Nyoblos hari ini. Yeah, yeah, yeah. Loncat sana, loncat sini.

Jam 10 pagi spiderman mulai berangkat menuju TPS yang tertera pada kertas panggilan nyoblos. Tidak jauh dari tempat tinggalnya. Bisa jalan santai saja. Tidak perlu heboh loncat dari satu gedung ke gedung lainnya. Melenggang dia berjalan.

Sepanjang jalan dia melihat orang-orang ceria. Mereka nampaknya menuju TPS masing-masing. Beberapa di antaranya melambaikan tangan. Spiderman melambaikan tangan lagi. Aura perayaan hadir.

Sesampainya di TPS, spiderman menyodorkan kertas panggilan yang dia bawa kepada petugas TPS. Petugas TPS melihat nama yang tertera. Tertegun. Spiderman sudah merasa gede rumangsa (ge-er) dulu. Pasti petugas sudah tahu siapa dia. Petugas mengerutkan dahinya.

“Ada masalah?”, tanya spiderman. Waswas.
“Nganu. Mas bawa identitas tidak?”, jawab petugas.

Spiderman tersentak. Baru kali ini dia ditanya identitasnya. Bukankah sudah jelas?

“Ini mas”, kata spiderman sambil menunjukkan baju pakaiannya dari kepala ke kaki. Berharap sang petugas dapat menerima identitasnya.

Petugas menggelengkan kepala. “Tidak bisa mas”.

“Lho, kenapa? Kan saya sudah jelas saya spiderman”, jawab spiderman.

“Dan mereka juga”, kata sang petugas sambil menunjuk tiga anak kecil yang berpakaian spiderman. Menari-nari sambil menunjuk-nunjuk spiderman. Nampaknya mereka diajak oleh orang tuanya ke TPS dengan memakai pakaian spiderman.

Spiderman pusing … Ngelu … memikirkan cara untuk membuktikan bahwa dia benar-benar spiderman. Tadinya terpikir untuk membuka kedoknya dan menunjukkan bahwa dia adalah Peter Parker, tapi nanti jadi ketahuan siapa dia. Lagi pula yang diundang untuk pemilu adalah spiderman, bukan Peter Parker. Kemudian dia punya ide.

“Mas, tapi mereka kan gak bisa begini”, kata spiderman sambil meloncat ke gedung. Menjulurkan tangannya. Jala keluar dari tangannya. Berayun dia dari satu gedung ke gedung yang lain. Yiiihaaa … Orang-orang bersorak sorai. Spiderman mendarat kembali ke depan petugas.

“Bagaimana mas?”

Petugas celingukan. Melihat ke orang-orang di sekitar dan saksi. Semuanya mengangguk. Persetujuan.

“Ok mas spiderman. Silahkan menunggu panggilan”

Spiderman pun bernafas lega. Yaaayyy. Kali ini aku tidak lagi golput. Jayalah negaraku.

[Seri parodi superhero: 1, 2, 3]


Tidak Boleh Berhenti (Untuk Berbuat Baik)

Aku lelah
Ketika ku mencoba berbuat baik
Olok-olok yang kudapat

Aku ingin berhenti
Untuk berbuat baik

(namun)
Ketika ku lihat orang itu
Tidak lelah berbuat baik
Meski olok-olok yang dia dapat

Aku malu berhenti
Untuk berbuat baik

Aku tidak boleh berhenti
Untuk berbuat baik


adakah

kami tidak membuhkan orang bergelar yang tinggi
tetapi orang yang berpendidikan
dapatkah kau bedakan?

kami tidak membutuhkan seorang ksatria
yang tidak memiliki jiwa satria
dapatkah kau lihat?

kami membutuhkan orang biasa saja
seperti engkau dan saya
yang mau mendengar
menemani keluh kesah kami

kami membutuhkanmu
adakah kau di sana?


Engkau Berubah

Semenjak mendapatkan jabatan itu, engkau berubah.
Untuk menjawab pertanyaanku pun engkau menerapkan protokoler yang super kompleks.
Cita-citamu pun berubah untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi.

Semenjak engkau terkenal, engkau berubah.
Tak mau lagi engkau nangkring di warung pinggir jalan.
Dandananmu pun harus yang mahal dan bermerek.

Menarik sekali untuk melihat perilaku seseorang setelah fame and fortune menghampiri mereka. Sedih melihatnya. Padahal jabatan dan ketenaran itu hanya sesaat saja. Setelah itu mereka kembali menjadi manusia biasa lagi. Setelah itu baru mereka ingin berubah menjadi biasa lagi tetapi sudah terlambat. The damage is already done.

Tidak banyak orang yang tetap bersahaja seperti sebelumnya. Lihatlah sekeliling kita. Berubahkah kita?


Ijinkanlah …

ya Allah…
Sang Maha Pengasih dan Penyayang
ijinkan aku mencintaiMu
karena aku tahu betapa besarnya sayangMu kepada aku

ya Allah…
sembahanku
ijinkan aku menjadi budakMu
yang selalu tunduk, patuh, dan setia kepadaMu


Parodi Superhero (2)

Hujan rintik-rintik membuat malam ini lebih dingin dari biasanya. Sebagian besar orang – dan bahkan nyamuk – memilih untuk mengurung diri di rumahnya masing-masing. Nampaknya tak ada kejahatan malam ini. Benar-benar sepi.

“Hatsyiii”

Kembali senyap. (Eh, suara bersin itu seperi apa sih ya?)

“Hatsyiiim. Hatsyiiiimmm”
(Alhamdulillah)

Bersin itu kembali memecah keheningan, tetapi tidak ada seorang pun yang mendengarkan.

Terduduk berselonjoran di atap gedung pencakar langit ini seseorang dengan memakai baju seperti laba-laba. Spiderman! Sebetulnya dia tidak ingin mebiarkan dirinya kehujanan. Dia ingin berteduh. Tetapi dia harus mengawasi kota ini. Sambil menggigil dia tetap terduduk.

“Sudah. Kamu pulang aja”, tiba-tiba terdengar suara di dekat situ.

Spiderman terkejut. Mencari asal suara sambil terheran-heran mengapa dia tidak mendengar suara orang mendekat. Mungkin hujan ini. Mungkin juga karena flu-nya. Samar-samar dia melihat bayangan hitam dengan jubah di belakangnya. Ooo, ternyata Batman. Sesama superhero. Pantesan tidak terdengar.

“Wah aku harus jagain kota”, kata Spiderman

“Biar aku yang gantiin”

“Ah, tapi ngapain pulang juga. Gak ada yang bisa kerokin”

“Serius? Kamu mau kerokan? Sini tak kerokin”

Spiderman kemudian berpikir. Gimana caranya kerokan pake baju superhero seperti ini. Harus buka baju. Kalau bajunya dibuka, nanti ketahuan siapa dia aslinya.

“Gak mau ah. Nanti aku ketahuan aslinya”

“Yah. Segitunya. Anonimity is so overrated“, kata Batman.

“Kata siapa? Buktinya pak Budi punya mahasiswa yang sedang meneliti soal anonimity ini”, kata Spiderman. Tahu-tahunya dia. (He he he. Numpang promosi. wk wk wk.)

“Jadi gimana? Mau kerokan gak?”

“Gak mau kalau sama kamu”

Mereka kemudian terdiam. Mikir. Batman kepikiran Spiderman bisa dikerokin sama Alfred, butler kepercayaannya. Jadi dia tidak perlu tahu siapa sesungguhnya Spiderman, tapi kalau begitu berarti Spiderman bisa tahu siapa dia aslinya dari menelusuri Alfred. Belum lagi nanti kalau dia tahu tempat persembunyiannya. Gak jadi ah.

“Gini aja. Kamu pulang, minum tolak angin aja”

“Minuman orang pintar ya?”, Spiderman nyengir sambil mengutip iklan tolak angin yang dibintangi Rhenald Kasali.

“Mau minum yang untuk orang bejo juga boleh”, Batman gak mau kalah. Keduanya terkekeh. Spiderman lebih susah ketawanya.

“Ya udah, aku pulang. Titip kota ya”, kata Spiderman.

Batman mengangguk. Spiderman merayap pulang. Sungguhan merayap karena nampaknya untuk berdiripun dia sudah gak sanggup.

“Hatsyiiimmm” …

[Seri parodi superhero: 1, 2, 3]


in search of …

thinking
ideas
pondering
smiling
frowning
back to square one

in search of ways to inspire …


Jika Lautan Terbuat Dari Kopi

Jika lautan terbuat dari kopi
Aku ingin dia seperti kopi tubruk, hitam dan pekat
Agar dia membuatku terjaga
Menjaga dunia ini

Jika lautan terbuat dari kopi
Dia sama seperti air garam
Tidak dapat kuteguk begitu saja
Ah, mengapa perutku demikian sensitif?

Jika lautan terbuat dari kopi
Aku rasa orang akan membuang sampah ke sana
Karena sampah tidak terlihat
Bahkan rasanyapun mungkin tertupi oleh rasa kopi


Di Sebuah Toko Buku

Tak tahan aku melihat toko buku pagi ini. Seharusnya aku tidak ke sana, tetapi kaki langsung melangkah memasukinya. Mata langsung menikmati serakan buku. Sampul buku yang berwarna-warni mencari perhatianku.

IMG_0947 bookstore

Ijinkan aku menikmati semuanya ini.

Tangan mendekap erat dompet di saku celana. Berharap uang tidak menyelinap keluar, menukarkan diri dengan buku.

Harapan tinggal harapan. Tiga buku berpindah dari tumpukan ke kantong plastik yang kujinjing. Ah, seharusnya tadi tidak perlu dimasukkan ke dalam kantong plastik. Semoga manfaat.


Terus Berlari

aku berlari …
dan terus berlari

jika aku berhenti
penat akan datang
mendapati diriku
menghentikan diriku

aku harus terus berlari …


Di sudut sana

Di sudut sana
Kulihat kau terduduk di atas sajadah
Air mata membahasahi mukenah yang dikenakannya
Berdoa

Di atas tanas kering ini
Aku berdiri
Kuangkat tangan mengamini doamu, ibu
Amiiinnn

Kuikatkan tali sepatu boots yang terlepas
Kadang engkau mengikatkan tali ini
Kuangkat ransel dan rapatkan jaket
Melangkah


(sementara itu, di balik pepohonan)
Sepasang mata memandangi sang pemuda
Air mata membasai jaket yang dikenakannya
Menyeka air mata


haus

kering
tenggorokan
air putih
(asal jangan es!)
minuman segar
juice, mungkin?
teh hangat
air putih
air putih


Kisah Mahasiswa Bimbingan

Sang dosen menatap mahasiswa bimbingannya yang mencoba menjelaskan idenya. Bulir-bulir keringat mulai terlihat di dahinya. Hi hi hi. Sang dosen ingin tertawa tapiĀ  tidak sampai hati. Jangan-jangan aku juga dulu begitu, gumamnya.

Mahasiswa selesai menjelaskan. Dosen terdiam sejenak. Pasang muka serius.

Wah, ini salah besar dik“.

Dosen terdiam sejenak untuk melihat ekspresi mahasiswa. Sang mahasiswa terkejut. Cemas. Bulir-bulir keringat menampakkan dirinya. Mengalir.

Eh, sudah benar ding“, sang dosen akhirnya berkata.

Diam sejenak. Mahasiswa masih tegang. Hi hi hi. Cukup penyiksaan ini.

Begini, dik. Kita … ” dan seterusnya, dan seterusnya.

Diskusipun kembali berlangsung. Mahasiswa sudah tenang. Dosen pembimbing pun serius mengarahkan mahasiswa. Bulir-bulir keringat menghilang. Berganti dengan asap yang mengepul dari kepala mahasiswa dan dosen.


Tuhan dan Komputer

Ada seorang dosen yang memberikan tugas pengamanan sistem informasi kemahasiswaan kepada mahasiswanya. Sang mahasiswa harus membuat sebuah access control list (ACL) yang membatasi akses ke transkrip mahasiswa. Berikut adalah potongan kode yang dibuat oleh mahasiswa.
if "student" then allow;
if "dosen" then allow;
if "God" then allow;
else deny

Sang dosen kemudian memanggil mahasiswa tersebut.

“Tolong jelaskan ini!”, sambil menujuk baris yang ada kata “God”.
“Ada masalah apa, pak?” tanya sang mahasiswa.
“Ya, ini. Kok ada God?”
“Loh kan Tuhan ada di mana-mana pak. Mosok Tuhan tidak ada di komputer?”

[dosen pingsan ...]


Hari Pahlawan

Hari ini hari pahlawan
Masih adakah pahlawan hari ini?

Tak perlu superhero
Sekedar manusia biasa saja
Yang masih mencintai Indonesia
Melebihi dirinya sendiri

 

[bandung, 10 november 2012]


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.