Category Archives: Start-up

Proposal Startup di Tahun 2000

Sedang bersih-bersih ruang kerja. Banyak dokumen-dokumen yang sudah pantas untuk dibuang. Eh, menemukan proposal untuk pembuatan perusahaan (startup) di tahun 2000. Proposal ini mengusulkan sebuah perusahaan yang mengembangkan aplikasi untuk handphone. Ingat, di tahun 2000, belum ada perusahaan yang mengembangkan aplikasi di handphone. Semua aplikasi yang ada di handphone sudah built-in dari pabriknya. Nah.

startup-proposal-2000-page1

startup-proposal-2000-page2

Sayangnya karena saya belum memiliki sumber daya yang memadai pada saat ini, maka startup yang itu tidak sempat saya buat. Kalau sekarang, perusahaan yang membuat aplikasi untuk mobil sudah banyak ya? Kalau sekarang, ide saya sudah lain lagi. hi hi hi.


Bersiap Diri Untuk Industri Kreatif

Jargon “industri kreatif” sudah banyak kita dengar dan bahkan sudah dibuatkan instansi formalnya. Artinya, kita diarahkan untuk menuju industri kreatif. Pertanyaannya adalah siapkah kita?

Jika kita berbicara tentang sebuah industri, yang terbayang oleh saya adalah skalanya yang besar. Jika pelakunya hanya belasan orang atau ratusan orang, mungkin belum bisa disebut industri ya? Bisnis ya, tapi industri mungkin bukan. Tentu saja ada definisi industri yang lebih tepat dari ini. Saya hanya mencoba menyoroti skalanya saja. Untuk memasok jumlah sumber daya manusia yang banyak ini bagaimana caranya?

Sekolah-sekolah yang ada saat ini tidak memberikan nafas “kreatif” dalam proses pendidikannya. (Maha)siswa diajarkan untuk memecahkan masalah sebagaimana pekerja pabrik menyalakan mesin; prosedural dan bahkan terkesan seperti robot. Materi pelajaran diajarkan seperti instruksi. Kemudian pemahamannya diujikan berdasarkan pertanyaan yang berbentuk pilihan berganda (multiple choice). Di mana letak kreatifnya ya? Mereka diajarkan untuk menjadi robot dan robot tidak kreatif.

Katakanlah kita sudah berhasil menghasilkan SDM yang kreatif. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita mengelola (to manage) mereka? Pengelolan SDM kreatif akan berbeda dengan SDM yang hanya mengikuti instruksi. Apakah para pekerja ini dibiarkan semuanya menjadi “artisan” yang tidak dapat diatur? Sulitlah mengembangkan bisnis – apalagi industri – jika tidak ada pengelolaan yang baik. Silahkan tanya rumah produksi atau software house untuk melihat betapa susahnya mengelola SDM kreatif. Nampaknya ini harus dipelajari dengan lebih serius.

Lantas ada masalah di sisi manusianya sendiri. Apakah ada jenjang karir dari pekerjaan yang kreatif ini? Apakah ada “kasta” orang kreatif? Bagaimana membina mereka agar terjadi pertumbuhan?

Masih ada banyak pertanyaan saya. Sementara ini saya cukupkan ini dulu saja. Melihat ini semua, saya kok masih ragu kita sanggup membuat sebuah industri kreatif. Hadoh.


Sulitnya Mendapatkan Pelanggan

Salah satu masalah dalam mengembangkan sebuah produk baru adalah mendapatkan pelanggan. Kita boleh saja memiliki produk yang bagus – atau setidaknya setara dengan kompetitor – tetapi tetap saja sulit untuk mendapatkan pelanggan.

Sebagai contoh, saat ini ada beberapa rekan yang sedang mengembangkan Zohib.com; situs sosial yang mirip dengan facebook dan twitter. Salah satu keuntungan dari zohib adalah lokasinya yang di Indonesia sehingga semestinya lebih lancar aksesnya (dan di belakang layar, penggunaan bandwidth semestinya menjadi lebih murah).

Setelah cukup stabil sistem ini beroperasi, saya belum melihat banyak penggunanya. Memang belum ada upaya promosi yang besar-besaran, tetapi seharusnya tetap ada pertambahan pelanggan. Saat ini nampaknya agak lambat. Memang sangat susah untuk memindahkan pelanggan dari satu tempat ke tempat lain, yang sudah terlanjur pakai facebook dan twitter misalnya.

Di sisi lain, lebih enak ada sistem yang kecil-kecilan saja. Jadi kayak punya situs pribadi. hi hi hi.


Bandung Kota Kreatif

Kemarin sore sampai habis Maghrib saya berada di Selasar Sunaryo Art Space atas undangan teman-teman. Ada tamu dari British Council yang tertarik dengan komunitas kreatif dari Bandung. Maka oleh Common Room dikumpulkanlah berbagai perwakilan komunitas di Bandung. Acaranya seru.

Acara yang seharusnya dimulai siang hari ternyata harus mulai sore karena perjalanan para tamu dari jalan Braga terhambat oleh macet. Ampun Bandung deh! Akhirnya acara baru dimulai sore hari. Setelah dimulai tarian jaipongan, maka satu persatu perwakilan dari komunitas menceritakan kegiatannya.

IMG_1961 selasar sunaryo

Gustaff dari Common Room menjabarkan secara umum kegiatan kreativitas orang Bandung. Kemudian Tita Larasati menceritakan tentang kegiatan Bandung Cerative City Forum (BCCF). Setelah itu Deden Siswanto bercerita soal fesyen kota Bandung. Rahmat Jabaril kemudian bercerita tentang proyek kampung kreatif dan seni di kampung. Musik diwakili oleh Gio Vitano dari Bandung Berisik / Atap Promotion. Saya sendiri mewakili Bandung High Tech Valley bercerita tentang industri hardware sofware, games, internet, dan yang berhubungan dengan teknologi. Lengkaplah, Arts & technologies.

Para tamu dari Inggris tercengang dengan banyaknya kegiatan masyarakat Bandung. Jangankan mereka, saya sendiri juga. ha ha ha. Meski banyak keterbatasan kota Bandung – infrastruktur yang tidak memadai, aturan pemerintah yang kurang kondusif, dan lain-lain – orang-orang kreatif di kota Bandung ini pantang menyerah. This is our city. And {arts, tech} is our passion. Tiada kata lain selain … berkarya!


Teknis atau non-Teknis ya?

Baru saja saya membaca sebuah blog (lupa URL-nya) tentang keluhan seorang entrepreneur di Singapura. Intinya dia mengeluhkan soal susahnya memiliki talented engineering pool di Singapura. Perusahaan startup yang bernunansa teknologi membutuhkan engineers untuk mengimplementasikan ide-idenya. Namun ternyata susah mencari engineers ini.

Ada banyak alasan terjadinya masalah ini. Engineers yang bagus ditawari pekerjaan di Amerika dengan gaji yang lebih tinggi. Minggatlah mereka. Mengimpor engineers dari luar negeri juga harus memenuhi persyaratan gaji minimal (yang ditentukan oleh negara), yang mana biasanya terlalu mahal untuk kantong startup. Selain itu juga para engineers ini ditawari untuk menempati jabatan managerial, yang gajinya juga ternyata lebih tinggi dari gaji engineer. Lengkaplah penderitaan ini.

Saya hanya ingin menyoroti hal yang terakhir saja. Peta perjalanan karir orang teknis ternyata tidak terlalu cerah dibandingkan orang non-teknis. Cerah ini didefinisikan dengan kacamata finansial. Jarang ditemui engineers yang gajinya lebih tinggi atau sama-lah dengan bos-nya yang non-teknis. (Mungkin di Amerika sana bisa berbeda, tetapi ini kenyataan di Indonesia dan kelihatannya di Asia.)

Sedih juga kalau orang-orang yang otaknya cemerlang kemudian meninggalkan bidang teknis. Tapi alasan apa yang dapat mereka gunakan untuk tetap tinggal di teknis? Demikian pula, apa alasan saya untuk tetap mengajari mahasiswa saya tentang hal-hal yang teknis kalau nantinya juga akan ditinggalkan?

Saya sendiri ingin selalu menghargai orang teknis. Bahkan secara finansial mereka bisa lebih tinggi daripada orang teknis. Begitu …  Saya sendiri akan tetap tinggal di dunia teknis.


Nasib Juara-Juara

Baru-baru ini ada pertanyaan, kemana para juara-juara kompetisi entrepreneurship, business plan, ICT awards (semacam INAICTA), dan seterusnya? Semestinya mereka berhasil membuat perusahaan (startup). Pada kenyataannya hampir semua tumbang. Apa ya jawaban terhadap pertanyaan seperti ini?

Ada beberapa kemungkinan penyebab kegagalan ini. Yang pertama, para juara-juara ini memang hanya ingin ikut kompetisi. Target mereka adalah memenangkan kejuaraan. Setelah itu tidak penting lagi. Kemenangan kejuaraan ini menjadi bagian dari bio data. Nantinya ini digunakan untuk mencari pekerjaan. Nah lho. Padahal kalau menjadi entrepreneur kan tidak butuh bio data untuk melamar pekerjaan. Kan melamar pekerjaan kepada diri sendiri. hi hi hi.

Yang kedua, mengembangkan usaha itu berbeda dengan mengembangkan produk. Dibutuhkan orang dengan karakter yang berbeda. Orang bisnis akan beda dengan orang pengembang. Boleh jadi para pemenang ini tidak berhasil menemukan partner bisnisnya sehingga mereka (orang teknis) harus terjun menjalankan bisnis. Kemungkinan terjadinya kegagalan untuk hal ini sangat besar.

Yang ketiga, bisa jadi produk atau layanan yang dikembangkan itu belum memiliki pasar. Ahead of its time. Apa boleh buat, secara bisnis mereka gagal. Jika ini diluncurkan 5 tahun lagi kemungkinan bisa sukses secara bisnis.

Dan masih banyak alasan lain. Saya tidak ingin mencari-cari alasan untuk pembenaran, tetapi memang demikian adanya. Tidak mudah untuk membuat sebuah bisnis yang langgeng. Maka dari itu, kita perlu hargai usaha bisnis yang dapat bertahan cukup lama.

Sukses!


(terlalu membesar-besarkan) Nama Domain

Saat ini banyak orang yang masih terlalu membesar-besarkan nama domain. Mereka masih mencari-cari nama domain yang cantik. Lupa padahal yang lebih penting adalah layanan bisnis yang baik. (Kecuali memang bisnisnya adalah jual beli nama domain, para pencari traffic, atau SEO. he he he. Kalau ini lain cerita.)

Mengapa nama domain yang cantik tidak lagi sepenting dahulu? Pertama karena kebanyakan orang memulai dari search engine. Jarang orang yang mengingat-ingat nama, kecuali tempat-tempat yang sering dikunjungi – seperti Google, Yahoo, dan sejenisnya. Untuk sebuah namapun kita bisa mengingat sebagian kecil (partial) dari nama dan kemudian menggunakan search engine untuk mencarinya.

Sebetulnya kita juga dapat melihat fenomena ini dari nomor cantik handphone. Sekarang hal ini tidak sehebat dulu lagi. Pasalnya, sudah terlalu banyak orang yang menggunakan handphone. Semua kenalan kita menggunakan handphone. Mosok kita harus mengingat-ingat 100 nomor cantik? he he he. Untuk kasus ini, kita menggunakan address book, contact list, atau apapun namanya yang pada prinsipnya adalah phone book.

Jadi, kedua, dia menjadi tidak terlalu penting karena sudah terlalu banyak alamat (layanan) di internet. Sama seperti kasus nomor cantik handphone.

Nama domain itu sesungguhnya adalah mirip dengan nama jalan. Selama nama jalan itu wajar-wajar saja, cukup. Semestinya orang datang ke toko kita karena layanannya, bukan karena nama jalannya bukan? Saya melihat gadget di bhinneka.com bukan karena namanya tetapi karena layanannya.


(Bandung) Startupfest

Saya kepikiran untuk membuat sebuah event besar, di mana berbagai aspek dari starting-up ditampilkan. Bentuknya ada pameran (booth untuk para startup yang mencari pemodal), presentasi (penjelasan dan pengalaman dari berbagai pakar / entrepreneur / pemodal), kompetisi mengembangkan produk (mostly coding, similar to code fest), pitching in (langsung presentasi di depan pemodal).

Yang datang kira-kira:

  • Inventor / innovator yang ingin memamerkan produk / layanannya (dan mencari pemodal);
  • Pemodal yang ingin melihat ke siapa modal ditanamkan (misal GDP, SJV, bank, angel investors);
  • Inkubator yang melihat potensi startup (misal BTP, Mak);
  • Infrastruktur dan teknologi yang melihat potensi penggunaan infrastrukturnya (technopark, PT Telkom, operator, ISP, web hosting, Google);
  • Entrepreneur yang dapat berbagai cerita (pengalaman) (misal Founder Institute dan para startups yang sudah agak berhasil, StartupLokal) dan sekalian mencari orang teknis;
  • Perguruan tinggi (dengan teori-teori bisnis-nya);
  • Pemerintah yang merencanakan regulasi-regulasi (bagaimana pak Ridwan Kamil? hi hi hi, Kominfo, Industri, Perdagangan);
  • Mahasiswa, umum, komunitas, and dreamers … yang ingin melihat masa depan dan sekedar untuk kodar (kopi darat).

Acaranya diselenggarakan dua atau tiga hari dan diselenggarakan dengan track yang paralel:

  • Ideas … (well, plenty of crazy ideas);
  • Teknis (how to develop products, outsourcing, new technology showcase);
  • Bisnis (model, canvas, monetize, partnering);
  • Management (cash flow management, human resources management);
  • Pitching in (peserta yang terpilih langsung bisa presentasi di depan investor);
  • Tempat untuk ketemuan antara orang teknis dan bisnis – saling merekrut.

Tempatnya di Bandung lah … he he he. Bisa di ITB atau di Bandung Techno Park atau di Baros IT Center. Pokoknya seputaran Bandung.

Menarik gak ya? Kalau menarik, kita keroyok rame-rame yuk kerjaan ini.


Mencari Tempat Makan di Kampus

Tulisan ini merupakan tulisan yang terlambat karena sekarang sudah memasuki bulan Ramadhan, bulan puasa, tetapi daripada tidak dituliskan lebih baik saya tuliskan saja. Meskipun terlambat.

Begitu mahasiswa libur, jumlah mahasiswa di kampus berkurang secara drastis. Yang tinggal di kampus adalah mahasiswa yang menyelesaikan tugas akhir / thesis / disertasi atau yang mengambil kuliah semester pendek. Sebetulnya masih ada beberapa mahasiswa lain yang sibuk dengan kegiatan organisasi mahasiswa. Namun secara jumlah memang berkurang drastis.

Akibat dari jumlah mahasiswa yang berkurang, sebagian kantin ditutup. Awalnya digilir yang buka, setelah itu sebagian tutup sampai mulai semester baru. Yang repot adalah kami-kami, dosen, yang masih tinggal di kampus selama mahasiswa libur. Kami tidak libur. Nah, makan siang merupakan masalah tersendiri bagi yang makan di kantin. Kita harus tahu kantin mana yang buka.

Saya kepikiran adanya sebuah aplikasi (sosial) yang memberitahukan tempat makan yang buka dan kondisinya (ramai, sepi, ketersediaan makanan, dan seterusnya). Pengguna dapat memberikan informasi secara real-time mengenai kondisi tempat-tempat tersebut. Ada usulan?

Selain tempat makan, aplikasi ini juga dapat digunakan untuk memberitahukan tempat belajar yang kosong / tersedia / available. Seringkali mahasiswa kesulitan mencari tempat belajar. Setelah pergi ke tempat tersebut, ternyata tempatnya penuh atau malah ditutup.

Perlu diingat data aplikasi ini harus diperbaharui oleh pengguna, bukan oleh administrator. Crowd sourcing. Saya melihat beberapa program / apps sistem informasi kampus yang datanya dikelola oleh seorang admin. Begitu adminnya libur atau malas update data, maka aplikasi langsung ditinggalkan oleh pengguna.


Statistik Internet 2012

Baru nemu slide presentasi dari KPCB (Kleiner Perkins Caufield Byers) tentang trend internet (2012? – tahun lalu) di Slideshare. Lihat materinya di sini. KPCB adalah salah satu kelompok pemodal (venture capital) yang terkenal di Amerika.

Yang menarik bagi saya adalah di banyak tempat nama Indonesia masuk ke dalam bagian dari statistik itu. Ada dua hal yang mengganjal bagi saya. (1) Para investor ini belum paham betul apa yang terjadi di Indonesia karena mereka hanya mengamatinya dari jarak jauh; (2) Apakah momen ini dapat menjadi kesempatan bagi para entrepreneur Indonesia untuk menjadi juara di bidang ini?


Entrepreneur atau bukan

Ada perbedaan yang mendasar antara seorang entrepreneur (innovator? creator?) atau bukan. Entrepreneur akan mencoba merealisasikan ide, sementara yang bukan selalu mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya. Sangat gamblang sekali perbedaannya.

Suatu ketika saya melemparkan ide sebuah pekerjaan. (Ide tersebut sebetulnya bukan dari saya tetapi dari rekan saya. Dia sedang mencari orang yang sanggup merealisasikan idenya – dengan dibayar tentunya. Saya pikir idenya keren, hanya saja tim saya sedang overloaded.) Respon yang saya peroleh dari kebanyakan orang adalah alasan untuk tidak tertarik; ah ide itu kan sudah ada, kayaknya tidak bisa diimplementasikan, dan sejenisnya. Padahal tinggal dikerjakan dan ada duitnya pula. Terlihat mereka tidak antusias. Ya sudah. Percuma kalau saya ajak mereka untuk merealisasikan ide itu.

Salah satu “kehebatan” dari seorang entrepreneur adalah “kebodohan” dia bahwa apa yang akan dilakukan itu menurut para “pakar” tidak dapat dilakukan. Dan berkali-kali para “pakar” itu salah. Sebagai contoh, dulu para pakar mengatakan tidak mungkin membuat komputer lebih kecil karena ada banyak chips yang dibutuhkan untuk mengimplementasikannya. Steve Wozniak tidak tahu bahwa itu tidak bisa (kata para pakar) dan langsung membuatnya saja. Ternyata, bisa!


Jangan Cepat-Cepat Lulus

“Jangan cepat-cepat lulus”, demikianlah saran saya kepada mahasiswa di kelas. Mereka terbelalak. Tidak percaya saya menyarankan demikian. Saran ini ada alasannya.

Pertama, begitu Anda lulus maka akan ada tuntutan ini dan itu dari keluarga dan masyarakat. Tuntutan pertama adalah Anda harus menghasilkan uang. Bagaimana mungkin? Wong baru lulus kok harus menghasilkan uang. Ya, Anda dituntut untuk bekerja yang langsung menghasilkan uang. Ini merupakan tekanan bagi para lulusan. Percayalah.

Salah sendiri cepat-cepat lulus. Semestinya ketika Anda masih jadi mahasiswa Anda sudah mulai mencari pekerjaan. Atau sebetulnya lebih bagus lagi adalah Anda membuat portfolio sehingga pekerjaan yang mencari Anda. Lakukan itu ketika masih menjadi mahasiswa.

Kedua, begitu Anda lulus maka keberadaan Anda di kampus tidak dikehendaki oleh pimpinan atau pengelola kampus. You are not welcome. Apa status Anda? Anda kan bukan mahasiswa? Ngapain luntang lantung di sini. Sana pergi cari kerja. Padahal Anda di kampus ini dalam rangka mencari kerja.

Karena Anda tidak boleh di kampus, maka Anda akan sulit menggunakan fasilitas kampus. Tidak boleh! Padahal kampus adalah tempat yang paling cocok untuk memulai startup company. Lihatlah perusahaan-perusahaan startup yang sukses. Banyak yang dimulai dari kampus.

Maka dari itu, jangan cepat-cepat lulus.

Tetapi ingat juga, Anda harus tetap lulus. Jangan karena berlambat-lambat lulus dan akhirnya malah lupa lulus alias drop out. Wogh.


Portal Berita Positif

Alhamdulillah sudah lama saya tidak membaca surat kabar lokal dan tidak menonton TV lokal. Alasannya? Beritanya begitu-begitu saja. Negatif. Diulang-ulang. Tidak jelas manfaatnya apa.

Tadinya saya berharap media berita digital dapat mengubah ini. Ternyata sama saja. Situs berita Indonesia isinya sama dengan surat kabar atau TV lokal. Ternyata mereka masih di-drive oleh media konvensional. Ampun.

Pikir-pikir ini peluang untuk membuat portal berita positif. Orang yang bosan membaca atau mendengar berita mainstream yang negatif-negatif dapat membaca berita di sini. Isinya antara lain kesuksesan bisnis dari perusahaan baru, biografi orang yang hebat-hebat, sejarah yang menarik, penemuan-penemuan baru, dan sejenisnya. Saya pikir ini akan menarik.

Blog saya sebetulnya menganut pakem teresebut. Hanya saja blog saya ini diisi oleh satu orang (dan komentator yang setia). Kurang banyak kontribusinya. Kalau ada portal yang diisi oleh orang banyak yang berpikiran positif semua, nampaknya oke juga. Blog saya yang gini-gini saja sudah ramai pengunjung, apalagi portal berita positif.

Silahkan …


Menjual Mimpi

Salah satu masalah yang dihadapi start up adalah mendapatkan SDM yang bagus. Start up, sesuai namanya, adalah pemula dalam bisnis. Dia belum memiliki kemampuan finansial yang bagus untuk mendapatkan pekerja dan membayar mereka dengan cukup (mahal). Lantas bagaimana start up mendapatkan SDM?

Salah satu cara yang lazim dilakukan adalah menjual mimpi. We are selling dreams. (Sebetulnya yang lebih tepat adalah menjual visi. Hanya saja pada tahap ini visi sama seperti mimpi, yang masih belum jelas kapan terlaksananya.) Maka start up harus dapat mengartikulasikan, apa mimpi yang dijual. Jika mimpi ini biasa-biasa saja, maka orang tidak akan tertarik dan lebih memilih bekerja di perusahaan lain saja. Dream big!

Ketika start up terbentuk, maka dia berisi kumpulan orang-orang yang memiliki vision, values, dan passion yang sama. Ini juga harus didefinisikan (meskipun nanti dia akan dapat berubah dalam perjalanannya). Jika ini tidak terjadi, maka start up yang dibentuk akan sulit untuk sukses. Masing-masing punya agenda sendiri-sendiri dan begitu dipicu oleh satu masalah, langsung bubar.

Kembali kepada topik, Anda jualan mimpi apa?


(Dari Ide ke) Resep Rahasia

Dalam tulisan terdahulu saya bercerita tentang murahnya ide. Kali ini saya akan lanjutkan ceritanya.

Apa yang membuat pelaksanaan atau eksekusi sebuah ide lebih unggul dari yang lain? Menurut saya salah satu kuncinya ada pada resep rahasianya. The secret souce.

Apa yang membuat yamien {ayam bakar|nasi goreng|makanan lain} di satu warung lebih enak – dan akibatnya lebih laris – dari warung lainnya? Ya resepnya itu. Hal yang sama juga ada pada bisnis lain, termasuk bisnis berbasis teknologi informasi. Kita boleh punya ide portal komunitas yang sama, tetapi kenyataannya kaskus tetap yang paling populer.

Resep di sistem IT juga dapat bervariasi; ada pilihan sistem operasi, bahasa pemrograman, database, topologi jaringan, konfigurasi server, tampilan, dan seterusnya. Sebagai contoh, jika Anda hanya boleh memilih dua hal, mana yang Anda prioritaskan? (1) Jenis prosesor, (2) besarnya memory, (3) besarnya harddisk, dan (4) kecepatan jaringan? Idealnya sih dibaguskan semua, tetapi sebagai sebuah startup yang baru mulai dengan ide tentunya Anda tidak memiliki uang untuk memenuhi keinginan Anda tersebut. Kalaupun punya uang dan Anda gelontorkan semua ke sistem Anda, maka layanan Anda kan mahal hargnya.

Akibatnya akan ada banyak kombinasi atau permutasi yang menghasilkan resep rahasia untuk layanan Anda tersebut. Oh ya, kadang-kadang, kita tidak tahu resep rahasia kita! Ha ha ha. Misalnya kita tidak sadar bahwa air yang kita gunakan untuk memasak makanan kita itulah yang sebetulnya membuat makanan kita enak. (Katanya inilah yang membuat tahu Sumedang tidak bisa dibuat di tempat lain. Hal yang sama dengan champagne.)

Itu baru soal “hardware/software” atau yang terkait dengan bahan bakunya. Cara kita memberikan layanan juga ternyata merupakan kunci juga. Itu yang menyebabkan Starbucks terkenal. Kalau soal kopi sih banyak tempat lain yang kopinya lebih unggul, tapi tetap Startbucks yang terkenal. Ini yang ingin saya katakan adalah resep rahasia juga bisa terletak pada proses dan manusianya.

Jika ide saya katakan murah, maka resep rahasia ini tidak murah. Itulah sebabnya Coca Cola menjaga resep rahasianya dalam bentuk rahasia dagang (trade secrets). Resep rahasia ini ditemukan dengan susah payah setelah melalui masa coba-coba.

Ternyata bahkan kadang ada juga orang yang membuka resep rahasia ini. Open source contohnya. Bahkan resep pun tidak perlu dirahasiakan. Yang menjadi kunci adalah bagaimana kita memberikan layanannya (berarti dapat dikatakan masuk ke proses dan manusia). Yang diuntungkan jelas konsumer. Kalau ini digeneralisir, yang diuntungkan adalah umat manusia.

Nah … semoga tulisan ini dapat memberi pencerahan (khususnya pada pelaku startup).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.697 pengikut lainnya.