Arsip Kategori: Start-up

Jangan Tergesa-gesa (Membuat PT)

Dahulu sekali saya ingin punya perusahaan (PT / Perseroan Terbatas). Rasanya keren sekali kalau punya PT, namanya ada di PT, atau bahkan menjadi direkturnya. Ini sebelum tahu apa yang terjadi di belakang layar, yaitu kerja keras. Nah, sekarang saya tahu bahwa sebaiknya kita jangan tergesa-gesa membuat perusahaan. Begini.

Ketika kita membuat perusahaan, maka ada kewajiban-kewajiban yang harus kita lakukan. Salah satu kewajiban yang merepotkan adalah urusan pajak. Setiap bulan kita harus melaporkan pajak (meskipun nihil), demikian pula akhir tahun. Repot banget. Kalau perusahaan kita jalan dan lancar hal ini tidak masalah, tetapi kalau perusahaan gagal bagaimana?

Tadinya saya pikir kalau perusahaan gagal, tinggal kita tutup saja. Ternyata tinggal itu tidak hanya tinggal. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Nah, ternyata untuk menutup perusahaan dibutuhkan biaya yang cukup besar juga. Padahal kita menutup perusahaan karena gagal (dan mungkin tidak punya duit atau malah ribut antara sesama pemilik saham). Akhirnya jauh lebih mudah membiarkan perusahaan hidup tetapi tidak ada kegiatan. Ini tidak melepaskan kewajiban untuk urusan pajak dan surat-surat lainnya. Pokoknya repot saja.

Analogi terbaik yang pernah saya dengar adalah membuat perusahaan itu seperti punya anak. Tidak bisa kita berkata, “gak jadi” :)


Kesulitan Startup Hardware

Beberapa waktu yang lalu ada yang bertanya kepada saya, apa kesulitan yang dihadapi oleh perusahaan (atau kalau kita memulai usaha – starting up) yang bergerak di bidang hardware (baca elektronik). Menurut saya ada tiga masalah (1) sumber daya manusia (SDM), (2) biaya untuk manufakturing (dalam skala besar), dan (3) masalah distribusi produk.

Yang pertama adalah soal SDM. Saat ini susah sekali untuk mendapatkan SDM bagus di bidang hardware / elektronik. Sebagai contoh, di perguruan tinggi kebanyakan mahasiswa memilih informatika (computer science) dibandingkan elektro. Bahkan di dalam elektro sendiri, banyak mahasiswa yang akhirnya tugas akhirnya menjadi pemrograman web atau sejenisnya.

Pernah saya tanya kepada mahasiswa saya (kebetulan saya dosen di Teknik Elektro), mengapa dia mengambil topik tugas akhir pemrograman. Alasan sang mahasiswa adalah programming lebih mudah dibandingkan membuat hardware. Saya bilang bahwa itu karena programming yang dia lakukan bukan programming yang sesungguhnya (hanya main-main). Serious programming sama sukarnya dengan membuat rangkaian.

Singkat kata, hardware dianggap lebih susah sehingga tidak banyak orang yang mau menekuni itu. Sebagai perusahaan, apa lagi startup, kita tentu saja harus harus mendapatkan orang hardware yang bagus. Lebih susah lagi. Susah mendapatkan SDM hardware.

Biaya yang lebih mahal. Untuk membuat produk software, modalnya hanya komputer saja. Sementara untuk membuat produk hardware ada bahan baku (komponen) yang harus dibeli. Salah sedikit, harus keluar uang lagi untuk beli komponen. Akibatnya, untuk membuat prototype saja harus keluar uang banyak.

Katakanlah kita sudah berhasil membuat sebuah produk yang bagus. Untuk membuat produksi dalam skala besar ternyata menjadi masalah selanjutnya. Misalnya, ada yang minta dibuatkan perangkat dalam jumlah 100.000. Kita belum sanggup membuat produk hardware dengan skala yang besar. Biasanya untuk hal seperti ini kita outsource ke perusahaan di Cina. Selain mereka memiliki sistem manufakturing yang bagus, harganya juga menjadi lebih murah.

Distribusi produk. Adanya internet membuat produk software menjadi sangat murah untuk didistribusikan. (Hampir) zero cost. Sementara untuk menjual produk hardware, ada benda fisik yang harus dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Ada biaya – dan kadang mahal juga. Distribusi produk hardware merupakan hambatan tersendiri yang membuat startup hardware menjadi susah.

Selain ketiga hal di atas masih ada tantangan lain bagi perusahaan yang bergerak di bidang hardware, tetapi tiga di atas menurut saya merupakan hal yang terberat. Selain tantangan tentu saja ada banyak hal juga yang membuat startup di hardware menarik, yaitu … tidak banyak saingan (karena jarang yang mau). Jadi, tertarik untuk membuat startup hardware?


Bandung Digital Valley

Hari ini, PT Telkom meresmikan program mereka yang diberi nama Bandung Digital Valley. Tempatnya ada di RDC Telkom (dahulu Risti?) yang di jalan Geger Kalong. Sukses kepada PT Telkom.

Ada yang tahu informasi lebih lengkapnya?


Mahasiswa dan Entrepreneurship

Minggu-minggu terakhir ini saya banyak diminta untuk berbicara soal entrepreneurship, khususnya yang terkait dengan tenologi – technopreneurship. Yang mengelola acara-acara ini kebetulan adalah mahasiswa ITB, misalnya IF association dan Himpunan Mahasiswa Elektro (HME). Dengan senang hati saya bercerita mengenai pengalaman saya dalam mendirikan perusahaan. Tentu saja ceritanya tidak semua hal yang menyenangkan.

[foto sertifikat dari IF Association dan HME ITB]

Hal yang saya tekankan adalah pentingnya mencoba untuk menjadi entrepreneur ketika menjadi mahasiswa. Alasannya adalah kesalahan atau kegagalan lebih dapat ditolerir ketika menjadi mahasiswa. Oh, mahasiswa ya. Langsung dimaklumi. Sementara kalau seseorang sudah lulus, maka harapan dari banyak pihak (orang tua, keluarga, masyarakat) adalah untuk menghasilkan uang. Sementara kalau kita memulai entrepreneurship, belum tentu usaha yang kita mulai itu langsung sukses.

Ada pertanyaan yang menarik, apakah kalau kita mencoba menjadi entrepreneur ketika mahasiswa akan mengganggu nilai kuliah? Secara jujur, saya jawab … ya. Bagi seorang dosen, hal ini memberatkan bagi saya. Saya ingin mahasiswa saya lulus dengan tepat waktu dan dengan nilai yang maksimal (kalau bisa A semua). Sayangnya kurikulum yang ada saat ini umumnya tidak mendukung entrepreneurship. Mahasiswa terlalu dibebani dengan tugas-tugas kuliah sehingga jika waktunya tercuri untuk melakukan usaha entrepreneurship pastinya akan ada efeknya terhadap perkuliahan.

Yang lebih repot lagi, contoh-contoh pengusaha yang sukses banyak yang bahkan drop out dari kuliahnya. Hadoh. Meskipun lebih banyak lagi yang kuliahnya juga sukses dan bahkan sampai S3. Yang ini perlu kita diskusikan lagi :)


Catatan Mengenai Blog, Facebook, Twitter, dan lain-lain

Sudah lama saya ingin membuat tulisan yang komprehensif mengenai pengamatan saya tentang beberapa layanan internet yang populer saat ini; blog, facebook, twitter, dan lain-lain. Sayangnya saya selalu kehilangan waktu untuk menulisnya. Daripada tidak jadi-jadi, saya tuliskan saja dalam bentuk tulisan di blog ini ya.

Saya suka bereksperimen dengan layanan internet. Hampir semua layanan internet yang ada saya coba. Begitu ada layanan baru, langsung langganan. Mungkin saya termasuk early adopter. Setelah itu biasanya tidak banyak yang saya gunakan. Ada beberapa hal yang menarik yang mungkin bisa disimak.

Blog

Pada mulanya ada situs web (web site), atau seringkali dia juga disebut home page. Layanan ini digunakan untuk menuliskan apa saja. Namun sayangnya pembuatan situs web membutuhkan kemampuan teknis tertentu, seperti pemahaman atas bahasa HTML Akhirnya memang tidak banyak yang menggunakan. Kemudian muncul blog yang membuat semuanya menjadi mudah. Untuk membuat blog, seseorang tinggal mengetikkan opininya. Hal-hal yang teknis dilakukan oleh software di belakang layar. Maka blog mulai populer.

Saya sendiri menggunakan blog entah sejak dari kapan (mungkin tahun 2002?). Ada banyak blog yang saya gunakan. Yang paling sering saya perbaharui memang yang rahard.wordpress.com (tempat tulisan ini saya buat). Pada mulanya pengunjung blog ini cukup ramai, di atas 2000 pengunjung setiap harinya. Mungkin karena waktu itu tidak terlalu banyak pilihan blog, maka blog ini cukup populer. Sekarang blog ini masih dikunjungi di atas 1000 (rata-rata sekitar 1200) setiap harinya.

Di tengah-tengah hiruk pikuk facebook, twitter, dan lain-lain, ternyata blog masih punya kehidupan. Setidaknya ini yang saya amati.

Facebook

Memang Facebook merupakan layanan yang paling populer di Indonesia. Nampaknya dia pas sekali dengan kultur orang Indonesia, yang senang bersosialisasi :)  Begitu facebook dibuka, saya juga menjadi pelanggannya. Dan hebatnya, langsung banyak orang yang ingin menjadi friends. Dalam waktu yang tidak lama, sudah ada 5000 orang friends saya. (Dan masih ada 1000 orang lagi yang meminta untuk menjadi friends tetapi tidak dapat saya layani karena facebook membatasi jumlah friends sampai 5000 orang saja.) Dengan kata lain, facebook memang merupakan tempat yang paling populer.

Facebook fan page

Salah satu cara saya untuk mengatasi batasan 5000 friends itu adalah dengan membuat (dahulu namanya) fan page. Pada halaman itu orang bisa membaca status saya yang ditulis di sana. Hanya saja ternyata fan page itu tidak terlalu populer. Sampai sekarang di fan page saya hanya ada sekitar 560 orang di fan page saya. Padahal ada 1000 orang lagi yang ingin menjadi friends tetapi tidak bisa saya tambahkan. Anehnya 1000 orang ini tidak berminat untuk mendaftarkan di halaman Budi Rahardjo tersebut. Mungkin karena istilah fan page? Atau apa? Singkatnya, fan page tidak populer.

Twitter

Layanan twitter memang berbeda dengan blog atau facebook karena dia hanya memberikan peluang untuk menuliskan (maksimum) 140 karakter. Pengikut dari twiter kita disebut follower. Saya memiliki twitter account: @rahard . Sampai saat ini saya hanya memiliki 1800 follower. Setiap hari hanya bertambah satu atau dua orang. Artinya twitter di Indonesia masih kalah populer dengan facebook.

Gplus (Google plus)

Google akhirnya membuat layanan yang mirip dengan facebook / twitter, yaitu gplus. Di sini kawanan kita disebut circle. Orang yang menambahkan saya pada circlenya saat ini ada 1440 orang. Entah ini karena masih baru atau memang jumlah pengguna layanan google di Indonesia masih kurang dibandingkan facebook, maka yang memasukkan saya ke circlenya juga masih terbatas.

Layanan lain

Ada banyak layanan lain yang saya ikuti. Umumnya yang menarik bagi saya adalah tempat untuk menyimpan foto. Untuk layanan ini ada juga fitur friends atau follower. Umumnya untuk layanan ini saya hanya punya friends / follower di bawah 10 orang. Jadi yang ini sangat spesifik sekali. Tidak terlalu populer.

Rangkuman

Meskipun ukuran dari masing-masing yang saya tampilkan di atas tidak dapat dikorelasikan secara langsung, tetapi gambaran berikut mungkin bisa menjadi perhatian.

Blog: 1200 pengunjung/hari
Facebook:  5000 friends (dan > 1000 dalam waiting list)
Facebook fan page: 560 orang
Twitter: 1800 orang
Gplus: 1440 orang

Semoga bermanfaat.


Futsal, Ngeband, Startup

Hari Sabtu ini merupakan hari yang cukup sibuk bagi saya. Acara hari ini dimulai dengan futsal ceria bergembira di Tiger Futsal, Cimahi. Ini acara rutin kami. Jadi sulit untuk ditinggalkan :)  Seharusnya futsal dari jam 8 sampai jam 10, tetapi rencananya saya ikut BanDos manggung di GSG ITB jam 10:30. Jadi jam 9:15 saya keluar lapangan, mandi, dan langsung kabur ke ITB.

Sampai di ITB ternyata masih ada acara-acara lain. Kami direncanakan main jam 11:30. Untung saja karena saya tadi kena macet dalam perjalanan menuju ITB dan baru sampai sekitar jam 11 kurang sedikit. Ngeband beres sekitar jam 12:15. Ada waktu untuk shalat dan dilanjutkan ke acara berikutnya.

Jam 13 saya memberikan presentasi tentang “product development” di IF association (ini asosiasi alumni IF ITB ya? Ada banyak yang sudah membuka usaha sendiri.). Lumayan juga yang hadir. (Materi presentasi saya ada dalam postingan saya sebelum ini.) Diskusi juga cukup panjang lebar. Kapan-kapan saya bahas tentang beberapa pertanyaan yang muncul. Acara berhenti jam 15. Ini foto pemberikan plakat. (Foto diambil dan diemailkan oleh Puja Pramudya. Terima kasih.)

Lepas dari situ saya ke gedung PAU karena ada pertemuan untuk membicarakan kerjasama antara Pusat Mikroelektronika dengan kawan-kawan di Batam. Cerita yang ini lain kali saja ya. Selesai-selesai mendekati jam 5 sore. Wah, ini hari liburan atau hari kerja ya?


Cerita Sukses dari Marvell

Kemarin, di kampus (ITB), pak Gani Jusuf datang lagi. Pak Gani, mewakili perusahaan Marvell, memberikan talk show mengenai perusahaan Marvell. Ini bukan perusahaan komik lho, tapi perusahaan elektronik yang cukup besar di Silicon Valley. Yang membuat kita tertarik dengan cerita sukses dari Marvell adalah pendiri dari Marvell adalah orang Indonesia, Sehat Sutardja dan Pantas Sutardja. Pak Gani sendiri juga merupakan salah satu (dari 7) pegawai awal dari Marvell.

Pak Gani menceritakan status perusahaan Marvell sekarang, yang selalu untung dari segi finansial dan memiliki banyak produk yang menarik. (Lihat situs webnya untuk melihat produk-produknya.)

Produk awal dari Marvell adalah chip untuk Read Channel yang digunakan untuk membaca data dari fisik harddisk dan kemudian mengubahnya menjadi bentuk digital. Penemuan ini membuat mereka menjadi sukses dan dominan di dunia disk. Setelah itu mereka banyak membuat produk (chips) yang lain; networking, client (tablet, handphone), printers, green energy, dan seterusnya.

Marvell merupakan perusahaan fabless, yang artinya adalah mereka tidak punya pabrik. Yang mereka hasilkan adalah desain (dan tentunya sampai kepada prototipe untuk meyakinkan klien bahwa produknya memang berfungsi). Itulah sebabnya sebagian besar pekerjanya bergerak di bagian penelitian (R&D) dan umumnya memiliki gelar S2 ke atas.

[mahasiswa yang mendengarkan talk show, dan perwakilan Marvell di Singapura - saya lupa namanya]

Hal yang menyenangkan bagi saya tentang kedatangan pak Gani dan Marvell ini adalah adanya bukti bahwa orang yang bergerak di bidang hardware pun bisa sukses. Sekarang kebanyakan mahasiswa – bahkan mahasiswa elektro / elektronika pun – lebih menyukai pemrograman web :)  Bukan berarti bahwa software tidak penting (di Marvell software juga penting karena harus dapat menujukkan fungsi chips sampai ke aplikasi), tetapi bidang hardware masih sangat menarik. Bahkan, pak Gani mengatakan bahwa kalau kita punya skill hardware maka saingan kita lebih sedikit. Betul juga ya …


Dari Perguruan Tinggi Menuju Industri

Baru saja saya membaca sebuah artikel dari IEEE Software, edisi September/Oktober 2011. Judulnya adalah “Technology Transfer: A Software Security Marketplace Case Study”. Artikel ini menceritakan pengalaman Gary McGraw, founder dari Cigital, memulai sebuah riset di tahun 1992 sampai akhirnya menjadi perusahaan yang kemudian dibeli oleh HP pada bulan September 2010.

Perjalanan sebuah teknologi yang dikembangan di perguruan tinggi atau kemudian keluar menjadi startup company sampai menjadi sebuah perusahaan besar (atau bahkan industri) tidak mudah. Sebagian besar justru gagal. Kebanyakan teknologi yang dihasilkan hanya menjadi onggokan tulisan saja, yaitu makalah dalam seminar atau jurnal. Yang berhasil sampai ke tahap startup pun kebanyakan mati di perjalanannya. (Bisa baca juga tulisan ini, “Driving innovation across the valley of death“.)

Ada upaya-upaya untuk membuat perjalanan lebih selamat. Salah satu yang dialami oleh Cigital adalah adanya bantuan dari pemerintah dalam bentuk pendanaan (misalnya untuk memajukan paten, dan sejenisnya). Hasil dari bantuan itu membuat perusahaan mereka menjadi hidup dan akhirnya dilirik oleh venture capital. Setelah didanai oleh VC pun masih ada kemungkinan mati di tengah jalan. Untungnya untuk cerita Cigital ini, perusahaan yang kemudian dibangun bisa lebih maju dan pada akhirnya dibelih oleh HP.

Pelajaran apa yang dapat diperoleh dari cerita di atas? (1) Perjuangan dari penemuan teknologi sampai menjadi perusahaan ternyata masih berat dan membutuhkan waktu yang lama; (2) pemerintah bisa membantu perusahaan agar memiliki kesempatan hidup yang lebih panjang dengan berbagai program; (3) dibutuhkan kesabaran.


Dibayar Dengan Tweet

Saya baru saja melihat layanan gratisan yang “dibayar” dengan melakukan tweet. Isi dari tweet tersebut tentunya terkait (mengandung) @ID dan hashtag dari penyedia layanan gratisan tersebut. Lucu juga ya. Tweet bisa dijadikan untuk alat bayar. Menarik …

Kayaknya saya mau memulai hashtag #rahard ah. he he he.


Gado-Gado

Tulisan ini bukan tentang makanan gado-gado, tetapi tulisan dengan topik campur aduk. Seperti gado-gado, memang. Tulisan ini hanya sekedar kumpulan perjalanan, pemikiran, atau catatan yang saya lakukan hari ini.

Hari ini saya mulai dengan membuka internet. Ini hari Sabtu. Saya pikir tadinya saya mau baca sedikit email terus dilanjutkan dengan ngoprek rangkaian Arduino. Ternyata akhirnya berbeda. hi hi hi.

Startup, bisnis, passion. Bermula dari diskusi di milis StartupLokal tentang “tujuan dari bisnis”, saya pikir ada baiknya jika saya berbagi pendapat mengenai topik ini. Ada baiknya jika saya tuliskan saja di blog ini (dan mungkin kemudian hari bisa menjadi bagian dari buku?). Maka jadilah artikelnya. (Silahkan baca di post terdahulu.)

Sambil menulis tentu saja saya browsing internet. Mencari tambahan informasi. Akhirnya saya terdampar ke Library.nu. Ini tempat koleksi buku-buku dalam format yang bisa diunduh. Silahkan ke sana tetapi jangan marah ke saya kalau jadi kecanduan. he he he.

Buku-buku yang saya baca tentunya terkait dengan topik startup, teknologi, Silicon Valley, bisnis, dan sejenisnya. Maka akhirnya saya melihat buku-buku ini; “New New Thing: A Silicon Valley Story” (saya sebetulnya punya 2 buah buku aslinya – ini tentang bagaimana Jim Clark memulai Netscape, salah satu buku kesukaan saya), “Hackers: Heroes of the Computer Revolution“, “Apple Confidential 2.0“, “Founders at Work: Stories at Startup“, dan banyak lagi.

Masalah baru muncul: kapan membaca buku-buku tersebut ya? Nampaknya saya menemukan rumus baru:

kecepatan mendapatkan (download) eBooks lebih cepat daripada membaca eBooks-eBooks tersebut

Nah. Siapa yang bisa membuat pembuktiannya? hi hi hi.

His story. Sebagai bagian dari mencari informasi, saya juga mencoba mencari sejarah-sejarah tentang komputer dan internet. Salah satunya adalah sejarah World Wide Web (WWW). Oh saya baru ingat, saya juga ikut menjadi bagian (setidaknya sebagai pelengkap penderita) dari sejarah ini.

Ketika Tim Berners-Lee mengembangkan WWW di sekitar tahun 1991, saya sedang bekerja di Computer Services, University of Manitoba (tempat saya mengambil S2 dan S3). Kebetulan kala itu semua orang menyukai Sun workstations. Sayangnya, saya tidak kebagian. Hanya ada 2 NeXT workstation di pojok yang akhirnya saya ambil sebagai workstation kerja saya. NeXT computer adalah produk yang luar biasa indahnya! Sayang sekali dia harus mati. Dan, Anda tahu siapa yang menjadi bagian dari NeXT computer? Tidak lain adalah Steve Jobs! Ya, setelah ditendang dari Apple dia mendirikan NeXT computer.

Singkatnya saya mulai ngoprek komputer NeXT ini. Mencari software untuknya, yang bukan standar UNIX biasa. Akhirnya saya melihat apa yang dikerjakan oleh Tim Berners-Lee dengan WWW-nya. Maka saya pun ikut download softwarenye, compile, dan jalankan di NeXT workstation saya. Maka mulailah saya terpikat dengan WWW. Mau lihat tampilan layar Tim Berners-Lee dengan browser WWW pada waktu itu (1991)? Bisa dilihat di sini. Keren kan?

Menariknya adalah waktu itu orang-orang tidak tertarik ke WWW karena sudah ada FTP dan Gopher. Untuk apa WWW? Maka kami-kami harus mempromosikan kehebatan WWW. Perlu diingat bahwa ini masih awal dari WWW. Hal yang terhebat dari WWW pada saat itu adalah membuat text kedap-kedip (blinking). ha ha ha. Itu saja sudah membuat orang excited. Web site pertama yang saya buat adalah “The Ultimate Indonesian Homepage“.

Ah, menarik sejarah. Saya pernah ingin mendokumentasikan semua yang saya lalui dalam buku yang saya beri judul “Budi Rahardjo and His Story“. Ya, memang ada plesetannya di sana. hi hi hi. Saya bahkan sempat membuat draftnya (dengan software Framemaker waktu dulu). Sayangnya, draftnya hilang. Oh well…

Ah iya. Jadi lupa mau ngoprek Arduino.


Tujuan Dari Bisnis Adalah …

Jika saya lemparkan pertanyaan

apa tujuan dari  bisnis?

sebagian besar akan menjawab “untuk mencari uang” atau “mencari keuntungan”. Saya rasa ini jawaban yang natural, tetapi menurut saya kurang tepat. Tujuan utama bisnis dari orang-orang sukses yang saya ketahui bukan untuk mencari uang tetapi hal lain.

Ketika Steve Jobs (Apple), Bill Gates (Microsoft), Jerry Yang (Yahoo!), dan seterusnya, ditanya kenapa membuat perusahaan yang mereka buat, jawabannya adalah “to change the world“. Tentunya maksudnya membuat dunia menjadi lebih baik. Luar biasa bukan?

Uang bagi mereka bukan tujuan utama membuat bisnis. Uang akan datang sebagai konsekuensi logis. Bukan tujuan utama. Passion (dan mungkin juga mulanya adalah hobby) merupakan dorongan utamanya. Mereka melakukannya karena kecintaan mereka pada bidang mereka.

Steve Jobs mengatakan bahwa waktu masih muda dia tidak peduli terhadap uang, karena tidak punya uang (he he he). Setelah sukses dia juga tidak peduli kepada uang, karena uangnya banyak. But, we did not do it because of money. Begitulah.

Jika kita membuat bisnis yang kita sukai, maka itulah sukses. Seorang yang senang nonton, membuat bisnis bioskop. Seorang yang senang musik, membuat studio musik, mengembangkan bisnis musik, sekolah musik, dan sejenisnya.  Orang yang senang olah raga mengembangkan bisnis toko alat olah raga, sekolah olah raga. Semuanya menyenangkan. Bisnis tidak menjadi beban, tetapi menjadi hal yang menyenangkan.

Bisa disimak potongan wawancara dengan Bill Gates dan Steve Jobs di sini:

Steve Jobs:  Yeah, people say you have a lot of passion for what you are doing, and it’s totally true and the reason is because it’s so hard that if you don’t, any rational person would give up.
It’s really hard and you have to do it over a sustained period of time.  So if you don’t love it, if you’re not having fun doing it, if you don’t absolutely love it, you’re going to give up. And that’s what happens to most people, actually.

Atau pendapat Tony Hsieh (CEO Zappos):

“What would you be passionate about doing for 10 years even if you never made a dime?”

Jika tujuan seseorang memulai usaha adalah untuk mencari uang, maka sebetulnya ada banyak jalan lain yang lebih mudah dan aman untuk mendapat uang banyak. Itulah sebabnya sebagian besar orang menjadi pekerja (bekerja di perusahaan multi nasional menghasilkan gaji yang luar biasa besar), menjadi PNS (dengan gaji yang terjamin – meski mungkin tidak bisa kaya raya), atau menjadi anggota dewan (nah ini yang menjadi trend he he he). Uang lebih banyak di situ dibandingkan dari membuka usaha sendiri.

Guru saya, almarhum Chandra Liem, mendefinisikan tujuan bisnis adalah “to give what the people want“. Begitu katanya.

Tentu saja kita bisa berbeda pendapat. Ini hanya opini saya. Semoga bermanfaat.

[ack. thanks untuk reinx atas link-nya]


Perguruan Tinggi, Penelitian, Spin Off

Salah satu peran perguruan tinggi adalah melakukan penelitian. (Sayangnya kalau di Indonesia, perguruan tinggi lebih ke arah pendidikan, pengajaran, atau lebih parah lagi tempat mendapatkan gelar dan ijasah semata.) Penelitian dilakukan oleh dosen yang merangkap sebagai peneliti, mahasiswa, dan juga peneliti yang memang peneliti (yang ini agak jarang). Pendanaan diperoleh dari berbagai sumber, dari pemerintah, industri (jarang di Indonesia), dan dari dosen / peneliti (sebagai bagian dari pekerjaan yang dilakukan di tempat lain).

Sayangnya kebanyakan penelitian yang terjadi di Indonesia adalah penelitian yang hanya bertujuan untuk menyerap dana penelitian yang sudah dialokasikan oleh pemerintah saja. Ini seperti menambah gaji / honor dosen dan memberi uang saku kepada mahasiswa. Maka hasilnya hanya untuk memenuhi persyaratan saja, yang biasanya berupa makalah. Setelah itu, ya selesai.

Ada memang penelitian yang sungguh-sungguh dilakukan untuk menghasilkan teknologi dan produk. Nah, kalau ini terjadi, justru malah kebingungan yang ada. Mau diapakan? Dipatenkan? Oleh siapa? Siapa yang membayari dan mengerjakan? Peneliti dapat bagian berapa dari royality-nya? Perguruan Tinggi dapat bagian berapa? Seringkali pada situasi seperti ini perguruan tinggi mengambil posisi serakah, mau banyak (padahal yang lebih penting adalah penelitinya). Ada risiko juga kalau mengambil bagian terlalu besar. Hasilnya seringkali menjadi keributan dan tidak jadi apa-apa.

Seyogyanya hasil penelitian tersebut bisa memicu spin off, perusahaan yang dibuat untuk mengeksploitasi aspek komersial dari penemuan tersebut. Start up. Untuk membuat perusahaan dibutuhkan orang yang berjiwa entrepreneur. Biasanya peneliti dan orang-orang kampus tidak memiliki karakter yang cukup untuk membuat perusahaan spin off ini menjadi besar. Ada terlalu banyak risiko dan kerja keras di sana. (Sementara menjadi dosen / peneliti lebih kecil risikonya.) Akibatnya seringkali pendekatan spin off ini gagal juga. Gagal maning, gagal maning.

Cerita di atas itu yang terjadi di Indonesia. Kalau di luar negeri kenapa bisa lebih mulus ya?


Membujuk Perusahaan Besar Untuk Hadir di Indonesia

Minggu lalu saya bilang bahwa saya akan menceritakan pertemuan saya dengan Mike Orgill dari Google. Salah satu topik yang saya utarakan adalah keinginan saya agar ada perusahaan besar untuk hadir di Indonesia, khususnya Bandung.  (Topik ini selalu saya utarakan kepada berbagai tamu dari luar.) Mengapa ini penting dalam konteks munculnya perusahaan start up yang bernuansa teknologi?

Salah satu referensi yang saya gunakan adalah sebuah artikel Wieners & Hillner di majalah Wired (1998). Artikel ini membahas Siliconia, yaitu daerah-daerah yang ingin meniru Silicon Valley di dunia. Ternyata ada banyak dan ternyata kebanyakan memang gagal. Menurut artikel itu ada empat (4) critical success factors:

  1. the ability of the area’s university and research facilities to train skilled workers or develop new technologies;
  2. the presence of established multinational companies as anchors to provide economic stability;
  3. the population’s entrepreneurial drive; and
  4. the availability of financial support in form of venture capitals

Dalam tulisan ini saya hanya ingin menyoroti poin kedua, bahwa di tempat Siliconia itu harus ada perusahaan yang bisa menjadi jaring pengaman. Kira-kira begini skenarionya.

Saya bekerja di perusahaan besar ini. Pada suatu saat saya punya ide untuk perusahaan start up. Saya kemudian keluar dari perusahaan ini untuk merealisasikan ide (bisnis, layanan, produk, dll.) tersebut. Jika berhasil, bagus. Jika tidak, maka saya menutup usaha ini dan … kembali menjadi pegawai di perusahaan besar ini. Perusahaan besar ini dengan kata lain menjadi “jaring pengaman”. Para entrepreneur tidak takut untuk memulai usahanya karena jika gagal pun dia tidak akan kelaparan. Ada pekerjaan. Nanti, di kemudian hari, jika ada ide lagi maka saya bisa keluar dan starting-up lagi.

Mengapa perusahaan besar? Karena bagi perusahaan besar, keluar atau masuknya satu orang tidak terlalu berpengaruh. Jaring pengaman ini tidak bisa PNS atau perusahaan BUMN atau perusahaan yang kaku seperti yang ada di Indonesia. (Kalau kita keluar, mana bisa kita balik lagi.) Ini hanya bisa dilakukan oleh perusahaan multi nationa companies, yang hanya melihat talent. Jika kita punya talent, maka kita akan diterima (meskipun kita sebelumnya sudah keluar).

Perusahaan besar tersebut tidak harus serta merta membuat kantor yang besar juga di Indonesia. Ini bisa dimulai dengan research center yang berisi 5 orang saja. Yang penting mereka ada di sini dulu.

Sebetulnya di Bandung dulu saya berharap IPTN dapat menjadi jangkar perusahaan ini di Bandung, sebagaimana halnya Lockheed di Silicon Valley dulu. (Menarik ya? Dua-duanya sama-sama perusahaan yang terkait dengan pesawat terbang.) Sayangnya IPTN tutup. Sekarang kita masih harus berusaha keras.


Startup: Buat PT atau tidak?

Kemarin siang ada dua mahasiswa datang ke saya untuk meminta advis. Mereka (berlima?) memulai usaha untuk membuat sebuah layanan IT. Pertanyaan mereka adalah “bagaimana membuat Perseroan Terbatas (PT)”.

Sebelum menjawab itu, saya bertanya; “kenapa mau membuat PT?” Jawaban mereka adalah untuk kredibilitas. Salah satu hal yang dilakukan oleh pelanggan adalah membayar melalui transfer. Bagaimana meyakinkan pelanggan kalau mereka transfer uangnya ke rekening atas nama pribadi, bukan atas nama perusahaan? Begitu latar belakang mereka.

Menurut saya, tunda pembuatan PT sampai betul-betul dibutuhkan. Ada banyak kondisi dimana kita sudah dapat melakukan bisnis (termasuk transaksi finansial) tanpa menggunakan PT. Memang benar keberadaan PT dapat menambahkan kredibilitas, tetapi ada banyak hal mengapa sebaiknya tidak buru-buru membuat PT.

Pertama, membuat PT membutuhkan uang. (Saya tidak tahu tepatnya besar biaya yang harus dipersiapkan. Untuk Bandung, dugaan saya setidaknya adalah Rp. 10 juta.) Sayang uang jika tidak benar-benar dimanfaatkan. Ingat, kita masih dalam state starting up. Berhemat itu penting.

Kedua, setelah membuat PT maka akan banyak urusan administratif lain yang harus diselesaikan. Setidaknya adalah harus siap untuk membuat pembukuan, laporan pajak, dan seterusnya. Artinya harus disiapkan orang yang menangani hal ini. Biasanya orang teknis tidak suka mengurusi hal ini dan akibatnya akan terbengkalai. Selain untuk mendaftarkan PT, ada dokumen-dokumen lain yang harus diurusi seperti SIUP, TDP, Domisili, dan lain-lain. Saran saya, untuk hal ini juga buat ketika dibutuhkan. Jika belum dibutuhkan, tunda dulu. (Sebagai catatan, yang sering bermasalah adalah domisili karena biasanya startup dimulai dari tempat koskosan.)

Ketiga, pastikan bahwa memang pihak-pihak yang ingin membuat PT (para pemegang saham) sudah sehati. Ada banyak kejadian dimana ada founder yang kemudian beda pendapat dan ingin berpisah, tetapi karena terkait dengan PT jadi repot. Sebagai contoh, misal ada 5 orang membuat PT. Kemudian salah seorangnya bikin gara-gara, tidak disukai oleh yang lainnya dan harus ditendang agar PT bisa maju. Masalahnya adalah harus mengeluarkan orang ini dari PT. Untuk mengubah hal ini harus ada RUPS dan nantinya disahkan lagi oleh notaris. Artinya uang lagi. Ya kalau yang bersangkutan bersedia untuk keluar dengan suka rela. Kalau dia ngotot tidak mau (dan minta uang untuk dikeluarkan)? Akibatnya maka perusahaan tidak bisa maju karena dirongrong oleh “ulat bulu” ini. Pembuatan PT justru mempersulit. Maka pastikan bahwa para founder memang sudah ingin hidup mati bersama :)

Keempat, menutup perusahan bukan hal yang mudah dan tentu saja harus keluar uang lagi.

Ada kalanya memang PT (atau badan hukum lainnya) benar-benar dibutuhkan; (1) untuk melakukan tender pekerjaan, dan (2) untuk menerima pendanaan dari perusahaan / pemerintah / badan hukum lainnya. Jika demikian, PT memang harus dibuat. Hanya saja, perlu diperhatikan hal-hal di atas.

Semoga bermanfaat.


Kultur Kerja di Start-up

Tempat bekerja itu bisa berbeda-beda jenisnya. Salah satunya adalah perusahaan (berjenis) start-up. Yang saya sebutkan dengan start-up adalah perusahaan yang “baru” dibuat (dilihat dari skala waktu), memiliki revenue yang relatif “kecil”, dan pola kerja yang berbeda. Saya akan soroti yang terakhir saja.

Pola kerja di start-up akan terlihat tidak teratur dibandingkan instansi perkantoran, misalnya kantor pemerintahaan. Paling gampang dilihat dari jam kerja. Kalau instansi pemerintahan jam kerjanya sudah jelas. Misalnya jam kerja dari jam 9 sampai jam 5 sore (9-to-5), maka apapun yang terjadi (termasuk kerjaan tidak selesai, ditunggu oleh klien) jam 5 sore tutup. Patokannya hanya waktu saja. Itulah sebabnya kepuasan klien biasanya kecil terhadap layanan yang diberikan instansi seperti ini.

Ini berbeda dengan kerja di start-up.

Salah satu ciri dari pekerja start-up, karena dianggap masih pemula, maka dia akan bekerja lebih keras untuk memperolah hasil yang lebih baik dari kompetitor perusahaannya. Meskipun jam kerja dikatakan jam 5, tetapi jika kerjaan belum selesai maka itu akan dia selesaikan. Pelangganlah yang puas. Itulah sebabnya susah mengalahkan daya juang start-up.

Nah, tentu saja model pekerja untuk kedua jenis tempat bekerja itu juga beda.

Apa yang menarik dari pekerja startup? Salah satunya adalah bisa membuat aktualisasi diri, memberikan kontribusi pribadi lebih banyak. Jadi bagi seorang yang ingin berkarya, akan lebih mudah melakukannya dengan wahana startup.

Oh ya, banyak perusahan yang sudah mapan tetapi masih memiliki semangat juang start-up. Banyak rekan-rekan saya, yang sudah jadi top manager dari perusahaan besar pun, masih tidak menganut jam kerja 9-to-5. Jadi, kalau berharap mau kerja kantoran dengan jam yang kaku, nampaknya susah.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.078 pengikut lainnya.