Arsip Kategori: Teknologi Informasi

Susahnya Memproses Big Data

Di era informasi ini kita kebanjiran dengan data. Dari data yang ukurannya raksasa-raksasa ini – big data – kita dapat mencoba mencari makna. Misalnya, adanya data status dari Facebook atau Twitter kita dapat mencoba memahami mood dari orang di Indonesia. Hanya saja ternyata untuk memproses data yang sangat besar ini tidak mudah.

Masalah yang dihadapi itu bukan kita tidak tahu rumusnya, tetapi jumlah data yang sangat banyak. Ini yang sulit dipahami oleh orang banyak. Scale does matter. Kan rumusnya sudah ada. Lantas apa susahnya untuk menghitungnya? Kalau lambat, ya tambahi komputer yang digunakan untuk menghitung. Sayangnya tidak demikian  mudah solusinya dengan hanya menambahkan hardware saja.

Sebagai contoh, menghitung rata-rata dari 10 buah bilangan dapat dikatakan mudah. Menghitung rata-rata dari 70 juta bilangan dapat dikatakan tidak mudah. he he he.

Itulah sebabnya akhir-akhir ini IEEE banyak membahas tentang big data ini. Memang ini eranya dan memang masih ada masalah (sumber daya komputasi) untuk memproses big data ini.


Ingin Punya Handphone Baru?

Flash back dulu ya. Sejak pertama kali melihat iklan Samsung Galaxy S3,. saya langsung ngiler. Ingin punya handphone ini. Ada beberapa alasan kenapa saya ingin punya perangkat ini.

Yang pertama adalah saya ingin punya handphone yang merangkap bisa menjadi kamera digital. Artinya kualitas kameranya harus baik. Yang kedua, saya ingin melakukan eksplorasi sistem operasi Android. Maklum, sebagai orang yang senang ngoprek komputer saya ingin sekali ngoprek Android. Yang ketiga, ukuran handphonenya tidak terlalu kecil (karena mata saya susah baca huruf yang kecil) dan tidak terlalu besar (harus cukup masuk ke saku celana). S3 cocok untuk ini semua – dan bahkan melewati syarat minimal di atas.

Setiap ke toko elektronik, saya melihat-lihat S3 ini. Layarnya keren banget. Jadi tambah pengen saja. Hadoh.

Eh, ternyata anak saya membeli Samsung Galaxy S3 ini. Saya minta dia memotret dan mengirimkan hasilnya. Ternyata memang hasil fotonya tidak mengecewakan. Bagus sekali. Jadi semakin menguatkan keinginan saya untuk memilikinya.

Nah, sebelum saya sempat beli – eh sebetulnya sudah sempat beli juga tetapi ditebus keponakan – sekarang sudah muncul Samsung Galaxy S4, yang notabene adalah versi baru dari S3. Tentu saja fitur-fitur lamanya masih ada dan malah bertambah lebih bagus lagi. Kerenlah. Saking pengen punya, saya lihat iklan-iklannya di YouTube. Coba lihat deh. Menarik.

Selain yang itu masih ada iklan yang lucu. Silahkan search di YouTube :)

Sekarang kalau ke toko elektronik, saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat Samsung Galaxy S4 ini. Saya baru tahu bahwa ternyata ada program Galaxy EuFOURia. (Saya tampilkan gambarnya di sini. Sumber / info lengkapnya ada di URL itu.)

How to play #GalaxyEuFOURia (1)

Galaxy EuFOURia ini adalah sebuah program yang data kita ikuti untuk mendapatkan Samsung Galaxy S4 secara gratis! (Iya … gratis!) Caranya cukup simpel. Anda pergi ke Samsung Experiential Shop (SES). Ini ada beberapa contoh lokasinya. (Lengkapnya ada di web.)

  1. Medan. (a) SES at Sun Plaza; (b) SES at Hermes Palace
  2. Surabaya. (a) SES at Ciputra World; (b) SES at Tunjungan Plaza
  3. Jakarta. (a) SES at Mall Taman Anggrek; (b) SES at Senayan City; (c) SES at Summarecon Mall Serpong; (d) SES at Grand Indonesia; (e) SES at Pondok Indah Mall; (f) SES at Emporium

Di SES ini Anda bisa mencoba-coba Samsung Galaxy S4. Setelah itu Anda diminta untuk menuliskan pengalaman Anda. Semacam testimonial gitu. Hanya itu saja. Gak susah. Ada satu Samsung Galaxy S4 setiap minggunya untuk pemenang. Waw!

Jadi kapan mau ke sana dan mencoba?


Bolehkah Pakai Handphone di Pesawat?

Tadi pagi saya diwawancara via telepon oleh sebuah radio swasta di Jakarta. Pertanyaannya adalah seputar pemakaian handphone di pesawat. Bolehkah? Kalau tidak boleh kenapa?

Jawaban singkat saya, matikan handphone di pesawat.

Jawaban panjangnya begini. Memang benar bahwa sistem handphone memiliki frekuensi kerja yang berbeda dengan sistem komunikasi (dan navigasi) pesawat. Teorinya mereka tidak saling berinterferensi. Itu teorinya lho. Bagaimana dengan implementasinya?

Perangkat atau sistem komunikasi diimplementasikan dengan menggunakan rakaian elektronik serta lengkap dengan kabel-kabelnya. Sering implementasi menghasilkan interferensi jika diimplementasikan tidak sempurna. Untuk rangkaian yang sederhana dan yang beroperasi dengan frekuensi rendah tidak terlalu masalah, tetapi untuk rangkaian dengan frekuensi tinggi (seperti yang digunakan di handphone dan sistem komunikasi lainnya) kebocoran frekuensi dapat terjadi.

Masih ingat jaman dahulu ketika masih hobby radio amatir ada istilah spleteran … he he he. Desain amplifier gak beres dan sinyal bocor kemana-mana (bukan di frekuensi yang dikehendaki saja). Pada marah-marah. he he he.

Mungkin kita pernah pergi ke acara kawinan atau acara musik yang menggunakan speaker besar. Eh, terdengar radio masuk ke dalam sound system yang digunakan. Padahal sound system ini tidak dirancang untuk jadi radio kan? he he he. Toh nyatanya terjadi juga interferensi seperti itu. Yang salah bisa jadi sound system-nya (atau bahkan cara menggelar kabel-kabelnya).

Beberapa tahun yang lalu saya coba eksperimen (dan mungkin sekarang masih bisa?). Dekatkan handphone Anda dengan monitor komputer (yang masih menggunakan CRT) atau layar TV (yang menggunakan CRT) yang sedang hidup. Lantas coba Anda panggil (telepon) handphone Anda. Maka layar komputer akan berdansa! Terganggu! Nah. Bayangkan jika layar itu digunakan di pesawat. he he he.

Atau, pernahkah Anda mendengarkan pidato / ceramah yang tiba-tiba ada suara keras “kretek kretek kretek” karena handphone sang pembicara ditelepon dan sinyalnya masuk ke microphone? Ini untuk menunjukkan bahwa interferensi itu terjadi.

Alat-alat elektronik yang beredar seharusnya mendapatkan sertifikasi pengujian lolos interferensi itu. Kenyataannya kan tidak. Anda membeli handphone atau tablet dari luar negeri terus dibawa ke Indonesia. Nah. Gimana tuh.

Airplane mode? Ah ini saya bahas di lain kesempatan saja.

Singkatnya, matikan handphone di pesawat.


Statistik Internet 2012

Baru nemu slide presentasi dari KPCB (Kleiner Perkins Caufield Byers) tentang trend internet (2012? – tahun lalu) di Slideshare. Lihat materinya di sini. KPCB adalah salah satu kelompok pemodal (venture capital) yang terkenal di Amerika.

Yang menarik bagi saya adalah di banyak tempat nama Indonesia masuk ke dalam bagian dari statistik itu. Ada dua hal yang mengganjal bagi saya. (1) Para investor ini belum paham betul apa yang terjadi di Indonesia karena mereka hanya mengamatinya dari jarak jauh; (2) Apakah momen ini dapat menjadi kesempatan bagi para entrepreneur Indonesia untuk menjadi juara di bidang ini?


SMS Tidak Cocok Untuk Ini

Ini adalah waktunya untuk mengumpulkan tugas-tugas kuliah. Dan tentu saja ada banyak mahasiswa yang baru menanyakan judul tugasnya. he he he. Maka mulailah mereka mengirimkan SMS.

Repotnya, SMS tidak didesain untuk ini. Atau lebih tepatnya handphone saya tidak didesain untuk menangani SMS dengan model thread. Maklum, handphone saya adalah Nokia Asha murah meriah (yang paling murah). Maka begitu SMS datang, saya tidak tahu ini dari siapa. Tentu saja nomor mahasiswa tidak saya simpan. Kalau saya simpan, bakalan jebol daftar kontaknya. Lah kelas ini saja ada 150 mahasiswa

Singkatnya SMS tidak cocok untuk ini, yaitu komunikasi dengan jumlah pengguna yang banyak. Nampaknya saya harus maju ke depan dengan menggunakan gadget yang lebih baru :)


Seharian Tanpa Handphone

Hari ini (hampir) seharian saya tidak dapat menggunakan handphone saya. Bukannya saya tidak mau, tapi sinyal dari operator seluler saya tidak nongol. Ini terjadi di tiga tempat hari ini. Akibatnya, orang-orang (kebanyakan mahasiswa) yang mencari saya tidak dapat menghubungi saya. Bukannya saya tidak mau dihubungi, tapi operatorlah yang membuat demikian. Bukannya semakin ke sini semestinya kualitas semakin lebih baik?

Makanya kebanyakan orang menggunakan (minimal) 2 nomor seluler sekarang. The Indonesian way …


Entrepreneur atau bukan

Ada perbedaan yang mendasar antara seorang entrepreneur (innovator? creator?) atau bukan. Entrepreneur akan mencoba merealisasikan ide, sementara yang bukan selalu mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya. Sangat gamblang sekali perbedaannya.

Suatu ketika saya melemparkan ide sebuah pekerjaan. (Ide tersebut sebetulnya bukan dari saya tetapi dari rekan saya. Dia sedang mencari orang yang sanggup merealisasikan idenya – dengan dibayar tentunya. Saya pikir idenya keren, hanya saja tim saya sedang overloaded.) Respon yang saya peroleh dari kebanyakan orang adalah alasan untuk tidak tertarik; ah ide itu kan sudah ada, kayaknya tidak bisa diimplementasikan, dan sejenisnya. Padahal tinggal dikerjakan dan ada duitnya pula. Terlihat mereka tidak antusias. Ya sudah. Percuma kalau saya ajak mereka untuk merealisasikan ide itu.

Salah satu “kehebatan” dari seorang entrepreneur adalah “kebodohan” dia bahwa apa yang akan dilakukan itu menurut para “pakar” tidak dapat dilakukan. Dan berkali-kali para “pakar” itu salah. Sebagai contoh, dulu para pakar mengatakan tidak mungkin membuat komputer lebih kecil karena ada banyak chips yang dibutuhkan untuk mengimplementasikannya. Steve Wozniak tidak tahu bahwa itu tidak bisa (kata para pakar) dan langsung membuatnya saja. Ternyata, bisa!


eKTP rusak difotocopy? Ah yang bener …

Belakangan ini ada ribut-ribut soal eKTP. Katanya eKTP rusak kalau difotocopy. Aneh bagi saja. Alasannya apa? Apa yang merusak? Sinar dari mesin fotocopy? Gelombang magnetik? Tidak dijelaskan. Kalau fotocopy merusak, apa mesih fotocopy tidak berbahaya bagi kesehatan? Nah lho. Nanti apa eKTP tidak boleh discan, tidak boleh difoto pakai blitz, dan seterusnya. Banyak sekali isu palsu tentang ini.

Jika memang benar eKTP gampang rusak, maka desainnya demikian buruk! Mosok senggol dikit rusak. Padahal KTP kan harus reliable. Dia harus bisa dikantongi (dalam dompet, kantong yang lembab) atau ter-abuse (kena panas, dingin, dan seterusnya). Bayangkan, kartu-kartu lain (kartu bank) kok bisa tidak rusak? hi hi hi.

Kalau eKTP tidak dapat dicopy dalam artian di-cloning. Nah itu saya baru setuju. Harusnya demikian.

Bacaan lain:


Akademik vs. Populer

Saat ini saya menugaskan mahasiswa untuk membuat makalah sebagai bagian dari penilaian kuliah keamanan informasi (information security). Saya meminta mahasiswa untuk membuat makalah yang akademik, bukan artikel populer. Resminya sih namanya technical report. Ternyata mahasiswa banyak yang bingung karena belum mengerti maksudnya artikel yang akademik. Maklum mereka mungkin belum pernah menulis makalah untuk seminar atau jurnal.

Ukuran tingkat kesulitan dari makalah tersebut kira-kira begini. Tulisan tersebut kalau dikirimkan ke majalah – bahkan majalah komputerpun – akan dianggap terlalu teknis dan tidak ada pembacanya. Tulisan akan ditolak editor. Sementara itu kalau makalah dikirimkan ke jurnal akan dianggap terlalu rendah (tidak ada kebaharuan).

Makalah juga tidak boleh menjelaskan secara normatif. Kalimat di bawah ini kurang kena (seperti politisi saja – hi hi hi):

Penggunaan kartu kredit memiliki risiko sehingga pengamanan harus dilakukan dengan baik.

Jika kalimat di atas hanya digunakan sebagai kalimat pembuka tentu saja boleh, tetapi kalau pembahasannya hanya sebatas itu maka tidak boleh. Kurang teknis. Kurang akademik. Pembahasan yang saya maksud misalnya adalah menggunakan kriptografi sehingga brute force attack terhadap passwordnya membutuhkan 2^299 kombinasi. Something like that … Adanya persamaan matematik juga dapat menunjukkan ke-akademik-annya. hi hi hji.

Tentu saja maksud saya bukan membuat makalah menjadi lebih pelik dengan menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti. Banyak orang yang melakukan hal ini dengan tujuan untuk membingungkan. Bingung = akademik? Salah. Ini juga akan mengurangi penilaian karena sisi kejelasan (clarity) akan mendapatkan nilai kecil.

Tulisan ini jelas tidak akademik. Ini masuk ke kategori tulisan populer.


Menolak Untuk Menjadi Bebek

Satu hal yang akhir-akhir ini banyak membuat saya jengkel adalah kebiasaan orang meneruskan (forward) berita-berita dari internet baik di milis maupun di media sosial. Biasanya hal ini ini dilakukan tanpa pikir panjang. Pokoknya forward. Mengenai beritanya benar atau tidak, baru atau basi, tidak peduli. Forward dulu, urusan belakangan.

Hal ini semakin diperparah dengan kemudahaan aplikasi / situs untuk melakukan forward. Tinggal tekan tombol atau linkshare“, maka tulisan langsung diteruskan. (Kadang malah dalam sebuah milis ada dua orang yang meneruskan berita yang sama.)

Akibat dari ini saya menjadi bosan karena di milis, di media sosial, situs web, topik yang dibahas juga sama semua. Itu lagi itu lagi. Kalau sekarang yang sedang ngetren misalnya “pengusiran orang cakep di Timur Tengah”, “dosen abal-abal”, apa lagi? Bosen. Mbok ya buat topik baru gitu.

Satu hal yang tidak terpikirkan oleh banyak orang adalah kebiasaan ini membuat kita tidak kreatif. Kita hanya bisa meneruskan, membebek, ngikut, alias tidak kreatif.

Saya menolak untuk menjadi bebek. he he he.


Internet Cepat?

Internet (ter)cepat. Begitu kata iklan operator seluler; 3G dan CDMA sama saja. Saya hanya bisa meringis. Masalahnya, sinyal sang operator tidak hadir. Jangankan internet, untuk telepon atau SMS saja tidak bisa.

Iklannya sih tidak salah, tetapi juga gak bener.


Belajar Menulis (dengan tablet)

Satu hal yang masih mengganjal saya dalam menggunakan iPad (atau tablet secara umum) adalah menulis dengan tangan. Tulisan saya sangat buruk. Jadinya ini mengingatkan saya akan orang tua yang sering marah-marah kalau melihat tulisan anaknya yang jelek. Masalahnya (sang orang tua ini) lupa bahwa belajar itu tidak mudah. Lihat saja tulisan kita di tablet. Super jelek.

Kita lupa bahwa anak-anak itu belum bisa menulis dan kemudian diperkenalkan dengan media kertas untuk menuangkan tulisannya. Sama seperti kita yang masih gagap dengan tablet. Kalau belum biasa tentunya hasilnya belum dapat dikatakan bagus. Ini normal, kan?

Saya mau belajar menulis halus di tablet ah. Ada aplikasi yang disarankan? (Saya pakai iPad dan Android – di handphone.)

Update: memenuhi permintaan, berikut saya tampilkan contoh tulisan tangan saya (menggunakan jari) di smartphone.

Foto2005 tulisan tangan 1000


at-twitter memang lucu …

Beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja saya melihat buku “at-twitter” di sebuah toko buku. Ini buku karangan Pidi Baiq, dosen lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB yang kocak itu. Lihat saja sampul bukunya.

at-twitter: Google menjawan semuanya, Pidi Baiq menjawab semaunya”

Foto1993 at-twitter 1000

Buku ini berisi kumpulan tulisan / twit Pidi Baiq (@pidibaiq). Dia diberi judul “at-twitter” supaya agak bernuansa seperti kitab penting. Jadi mengingatkan saya akan surat at taubah. he he he.

Tadinya saya pikir isi bukunya ringan-ringan dan bisa dibaca cepat. Yaah seperti buku humor yang banyak beredar. Sekedar tahu sajalah. Apalagi ini kan hanya koleksi twit yang maksimum 140 karakter saja.  Eh, ternyata isinya = meskipun lucu – berbobot juga. Maksudnya, humornya itu humor yang berat yang pakai mikir. Just the way I like it. Witty.  Berikut ini beberapa contoh isinya.

Bagiku, meja, lemari, buffet, sofa, untuk apakah kubeli? Untuk mengatur ruangan agar pembantuku tidak terlalu luas mengepel!

Aku juga rindu, pagi-pagi diam di balik pohon di taman depan rumahku. Menunggu tukang korang melempar koran untuk kuambil, lalu kulempar lagi ke dia.

Aku juga rindu bawa gitar menemui pengamen di depan rumahku. Mengiringi dia menyanyu. Bayarannya dibagi dua lalu dia ketawa. Aku tidak. Aku serius.

Terus terang, saya nyengir sendiri membayangkan hal-hal di atas itu. hi hi hi. Jahil banget.

Ada orang yang berusaha keras untuk menjadi lucu. Dan ada orang yang memang lucu. Pidi Baiq ini masuk kategori yang terakhir. Memang lucu. he he he. Buku memang pantas untuk dibeli.


Bingung (dengan account twitter pimpinan negara)

Saya kok bingung dengan keberadaan account twitter pak SBY. Pertama, why? Mengapa? Jangan jawab soal pencitraan karena mosok hanya itu sih? Apakah se-dangkal itu?

Tentu saja sebagai orang yang bergelut di bidang teknologi informasi, saya senang dengan semakin banyaknya orang Indonesia bergabung menjadi warga internet. Bahkan saya ikut menganjurkan orang memiliki account internet, termasuk account facebook dan twitter. Hanya saja, untuk kasus ini saya agak bingung.

Bagaimana menurut Anda?

Oh ya, sebagai tambahan, ada beberapa bot yang ingin mendompleng account-account orang terknal.  Bot yang menyaru sebagai account pak SBY, misalnya. Saya sudah harus menghapus beberapa komen yang tidak pantas.


IT Security Untuk Perpustakaan

Saya sedang membuat materi presentasi tentang IT security untuk perpustakaan. Ternyata tidak mudah. Salah satu hal yang menjadi ganjelan saya adalah, apa saja aset teknologi informasi perpustakaan?

  1. Perangkat (devices, komputer, dll. dicuri / dirusak);
  2. Data anggota (dicuri? dijual? adakah nilainya?);
  3. Sistem perpustakaan diterobos (sehingga data buku pinjaman kita dihapus?);
  4. eBooks / online journals (apakah memang ada perpustakaan di Indonesia yang menyediakan eBooks? Masalah HaKI?);
  5. Sistem IT (termasuk network, digunakan untuk menyerang pihak lain);
  6. Apa lagi ya?

Masih berpikir keras (dan akan menambahkan data di daftar itu). Selain itu saya akan juga tambahkan dengan ancaman terhadap aset itu.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.126 pengikut lainnya.