Arsip Kategori: TI

Entrepreneur atau bukan

Ada perbedaan yang mendasar antara seorang entrepreneur (innovator? creator?) atau bukan. Entrepreneur akan mencoba merealisasikan ide, sementara yang bukan selalu mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya. Sangat gamblang sekali perbedaannya.

Suatu ketika saya melemparkan ide sebuah pekerjaan. (Ide tersebut sebetulnya bukan dari saya tetapi dari rekan saya. Dia sedang mencari orang yang sanggup merealisasikan idenya – dengan dibayar tentunya. Saya pikir idenya keren, hanya saja tim saya sedang overloaded.) Respon yang saya peroleh dari kebanyakan orang adalah alasan untuk tidak tertarik; ah ide itu kan sudah ada, kayaknya tidak bisa diimplementasikan, dan sejenisnya. Padahal tinggal dikerjakan dan ada duitnya pula. Terlihat mereka tidak antusias. Ya sudah. Percuma kalau saya ajak mereka untuk merealisasikan ide itu.

Salah satu “kehebatan” dari seorang entrepreneur adalah “kebodohan” dia bahwa apa yang akan dilakukan itu menurut para “pakar” tidak dapat dilakukan. Dan berkali-kali para “pakar” itu salah. Sebagai contoh, dulu para pakar mengatakan tidak mungkin membuat komputer lebih kecil karena ada banyak chips yang dibutuhkan untuk mengimplementasikannya. Steve Wozniak tidak tahu bahwa itu tidak bisa (kata para pakar) dan langsung membuatnya saja. Ternyata, bisa!


eKTP rusak difotocopy? Ah yang bener …

Belakangan ini ada ribut-ribut soal eKTP. Katanya eKTP rusak kalau difotocopy. Aneh bagi saja. Alasannya apa? Apa yang merusak? Sinar dari mesin fotocopy? Gelombang magnetik? Tidak dijelaskan. Kalau fotocopy merusak, apa mesih fotocopy tidak berbahaya bagi kesehatan? Nah lho. Nanti apa eKTP tidak boleh discan, tidak boleh difoto pakai blitz, dan seterusnya. Banyak sekali isu palsu tentang ini.

Jika memang benar eKTP gampang rusak, maka desainnya demikian buruk! Mosok senggol dikit rusak. Padahal KTP kan harus reliable. Dia harus bisa dikantongi (dalam dompet, kantong yang lembab) atau ter-abuse (kena panas, dingin, dan seterusnya). Bayangkan, kartu-kartu lain (kartu bank) kok bisa tidak rusak? hi hi hi.

Kalau eKTP tidak dapat dicopy dalam artian di-cloning. Nah itu saya baru setuju. Harusnya demikian.

Bacaan lain:


Akademik vs. Populer

Saat ini saya menugaskan mahasiswa untuk membuat makalah sebagai bagian dari penilaian kuliah keamanan informasi (information security). Saya meminta mahasiswa untuk membuat makalah yang akademik, bukan artikel populer. Resminya sih namanya technical report. Ternyata mahasiswa banyak yang bingung karena belum mengerti maksudnya artikel yang akademik. Maklum mereka mungkin belum pernah menulis makalah untuk seminar atau jurnal.

Ukuran tingkat kesulitan dari makalah tersebut kira-kira begini. Tulisan tersebut kalau dikirimkan ke majalah – bahkan majalah komputerpun – akan dianggap terlalu teknis dan tidak ada pembacanya. Tulisan akan ditolak editor. Sementara itu kalau makalah dikirimkan ke jurnal akan dianggap terlalu rendah (tidak ada kebaharuan).

Makalah juga tidak boleh menjelaskan secara normatif. Kalimat di bawah ini kurang kena (seperti politisi saja – hi hi hi):

Penggunaan kartu kredit memiliki risiko sehingga pengamanan harus dilakukan dengan baik.

Jika kalimat di atas hanya digunakan sebagai kalimat pembuka tentu saja boleh, tetapi kalau pembahasannya hanya sebatas itu maka tidak boleh. Kurang teknis. Kurang akademik. Pembahasan yang saya maksud misalnya adalah menggunakan kriptografi sehingga brute force attack terhadap passwordnya membutuhkan 2^299 kombinasi. Something like that … Adanya persamaan matematik juga dapat menunjukkan ke-akademik-annya. hi hi hji.

Tentu saja maksud saya bukan membuat makalah menjadi lebih pelik dengan menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti. Banyak orang yang melakukan hal ini dengan tujuan untuk membingungkan. Bingung = akademik? Salah. Ini juga akan mengurangi penilaian karena sisi kejelasan (clarity) akan mendapatkan nilai kecil.

Tulisan ini jelas tidak akademik. Ini masuk ke kategori tulisan populer.


Menolak Untuk Menjadi Bebek

Satu hal yang akhir-akhir ini banyak membuat saya jengkel adalah kebiasaan orang meneruskan (forward) berita-berita dari internet baik di milis maupun di media sosial. Biasanya hal ini ini dilakukan tanpa pikir panjang. Pokoknya forward. Mengenai beritanya benar atau tidak, baru atau basi, tidak peduli. Forward dulu, urusan belakangan.

Hal ini semakin diperparah dengan kemudahaan aplikasi / situs untuk melakukan forward. Tinggal tekan tombol atau linkshare“, maka tulisan langsung diteruskan. (Kadang malah dalam sebuah milis ada dua orang yang meneruskan berita yang sama.)

Akibat dari ini saya menjadi bosan karena di milis, di media sosial, situs web, topik yang dibahas juga sama semua. Itu lagi itu lagi. Kalau sekarang yang sedang ngetren misalnya “pengusiran orang cakep di Timur Tengah”, “dosen abal-abal”, apa lagi? Bosen. Mbok ya buat topik baru gitu.

Satu hal yang tidak terpikirkan oleh banyak orang adalah kebiasaan ini membuat kita tidak kreatif. Kita hanya bisa meneruskan, membebek, ngikut, alias tidak kreatif.

Saya menolak untuk menjadi bebek. he he he.


Internet Cepat?

Internet (ter)cepat. Begitu kata iklan operator seluler; 3G dan CDMA sama saja. Saya hanya bisa meringis. Masalahnya, sinyal sang operator tidak hadir. Jangankan internet, untuk telepon atau SMS saja tidak bisa.

Iklannya sih tidak salah, tetapi juga gak bener.


Belajar Menulis (dengan tablet)

Satu hal yang masih mengganjal saya dalam menggunakan iPad (atau tablet secara umum) adalah menulis dengan tangan. Tulisan saya sangat buruk. Jadinya ini mengingatkan saya akan orang tua yang sering marah-marah kalau melihat tulisan anaknya yang jelek. Masalahnya (sang orang tua ini) lupa bahwa belajar itu tidak mudah. Lihat saja tulisan kita di tablet. Super jelek.

Kita lupa bahwa anak-anak itu belum bisa menulis dan kemudian diperkenalkan dengan media kertas untuk menuangkan tulisannya. Sama seperti kita yang masih gagap dengan tablet. Kalau belum biasa tentunya hasilnya belum dapat dikatakan bagus. Ini normal, kan?

Saya mau belajar menulis halus di tablet ah. Ada aplikasi yang disarankan? (Saya pakai iPad dan Android – di handphone.)

Update: memenuhi permintaan, berikut saya tampilkan contoh tulisan tangan saya (menggunakan jari) di smartphone.

Foto2005 tulisan tangan 1000


Bingung (dengan account twitter pimpinan negara)

Saya kok bingung dengan keberadaan account twitter pak SBY. Pertama, why? Mengapa? Jangan jawab soal pencitraan karena mosok hanya itu sih? Apakah se-dangkal itu?

Tentu saja sebagai orang yang bergelut di bidang teknologi informasi, saya senang dengan semakin banyaknya orang Indonesia bergabung menjadi warga internet. Bahkan saya ikut menganjurkan orang memiliki account internet, termasuk account facebook dan twitter. Hanya saja, untuk kasus ini saya agak bingung.

Bagaimana menurut Anda?

Oh ya, sebagai tambahan, ada beberapa bot yang ingin mendompleng account-account orang terknal.  Bot yang menyaru sebagai account pak SBY, misalnya. Saya sudah harus menghapus beberapa komen yang tidak pantas.


IT Security Untuk Perpustakaan

Saya sedang membuat materi presentasi tentang IT security untuk perpustakaan. Ternyata tidak mudah. Salah satu hal yang menjadi ganjelan saya adalah, apa saja aset teknologi informasi perpustakaan?

  1. Perangkat (devices, komputer, dll. dicuri / dirusak);
  2. Data anggota (dicuri? dijual? adakah nilainya?);
  3. Sistem perpustakaan diterobos (sehingga data buku pinjaman kita dihapus?);
  4. eBooks / online journals (apakah memang ada perpustakaan di Indonesia yang menyediakan eBooks? Masalah HaKI?);
  5. Sistem IT (termasuk network, digunakan untuk menyerang pihak lain);
  6. Apa lagi ya?

Masih berpikir keras (dan akan menambahkan data di daftar itu). Selain itu saya akan juga tambahkan dengan ancaman terhadap aset itu.


Dua Dunia Yang Berbeda

Tadi diskusi tentang penelitian dan entah kenapa menyinggung soal blog. Saya cerita bahwa tadi pagi saya kok lupa memberitahukan kepada mahasiswa di kelas saya bahwa blog saya ini ternominasi dan membutuhkan voting. Kidding. he he he. Saya tidak mau melakukan hal itu karena saya ngeblog bukan untuk cari juara-juaraan :)   Biarlah natural saja.

Anyway. Mahasiswa riset tadi tanya apa nama blog saya. Hmm… saya kemudian berpikir bahwa orang-orang yang kenal saya di dunia nyata – seperti contohnya mahasiswa saya ini – tidak tahu bahwa saya punya blog. Sementara saya amati, banyak pembaca blog ini yang tidak kenal saya di dunia nyata. hi hi hi. Lucu juga. Ini orang-orang dari dua dunia yang berbeda. Nampaknya  pemisahan dunia maya dan nyata memang masih ada.

Ada enaknya juga seperti ini karena saya bebas merdeka menulis di sini. Saya bisa santai blusukan di dunia nyata. hi hi hi.


Ternominasi

Membuka twitter, saya baru tahu bahwa blog saya ini dinominasi sebagai salah satu blog terbaik dalam Bahasa Indonesia oleh the Bob. Ternominasi karena mungkin tidak sengaja dinominasikan. ha ha ha. Apa sekarang saya harus membuat tulisan yang lebih bagus?

Voting di sini
http://thebobs.com/english/category/2013/best-blog-indonesian-2013

Tahun-tahun sebelumnya sih gak pernah menang. hi hi hi. Ya ngeramein aja lah.


Mari Kreatif

Saya merasa (belum punya data yang benar, maka saya tulis “merasa”) mahasiswa saya kurang kreatif. Sebagai contoh, kalau saya ajak brainstorming, maka kebanyakan hanya terdiam karena bingung. Ini tanda-tanda kurang kreatif. he he he. Mari kita coba brainstorming sedikit.

Saya ingin menamai komputer desktop saya yang berbasis Linux ini. Coba usulkan namanya. Kenapa Anda mengusulkan nama tersebut? Maknanya apa? Syaratnya adalah nama komputer ini harus satu kata. Silahkan. Saya ingin tahu apakah Anda-Anda ini kreatif. he he he.


Let’s Do Linux

Saya ingin kembali mengajak rekan-rekan untuk menggunakan Linux. Bagi yang sudah menggunakan Linux, tulisan ini boleh diloncat. Bagi yang belum menggunakan Linux, apa masalah yang Anda hadapi untuk tidak pindah ke Linux?

Saya sendiri sekarang puas dengan menggunakan Linux Mint untuk komputer desktop saya. Untuk server saya masih menggunakan Debian dan kalau terpaksa menggunakan Ubuntu.


Topik Minggu Ini, Kriptografi

Entah kenapa, topik yang paling banyak saya bahas di kelas dan juga dalam bimbingan mahasiswa adalah kriptografi. Kebetulan memang kuliah yang saya ajarkan adalah kuliah keamanan, tetapi keamanan tidak selalu identik dengan kriptografi. Mungkin saja memang ini hanya kebetulan, karena ini sudah memasuki pertengahan perkuliahan.

Pembahasan kriptografi yang saya lakukan mulai dari sejarahnya dulu, kemudian beranjak ke konsep yang lebih susah. Mulai dari kriptografi kunci privat sampai ke kriptografi kunci publik. Mulai dari algoritma DES sampai ke RSA. ECC hanya disentuh sedikit di kelas tetapi banyak didiskusikan pada peneltian. Ada beberapa mahasiswa yang akan meneliti soal ini. Kelompok penelitian kami pun sedang melakukan penelitian tentang serangan terhadap ECC dengan menggunakan metoda Pollard rho dan/atau Pollard lamda. Seru dan pusing. Untungnya tim kami terdiri dari orang dengan berbagai latar belakang.

Yang bikin puyeng juga adalah menjelaskannya kepada mahasiswa. Ada beberapa hal yang menurut saya sangat gamblang ternyata membingungkan bagi banyak orang. Memang dulu saya juga sempat bingung dan sekarang lupa lagi. he he he. Mencoba untuk membuat kriptografi mudah dipahami dan menyenangkan. Mari ah.


Buat Sistem Operasi Sendiri?

Topik sistem operasi (OS – operating system) buatan sendiri kembali ramai. Diberitakan Cina menggandeng Ubuntu untuk membuat sistem operasi sendiri. (Catatan: tahun 2000, kalau tidak salah, saya sempat pergi ke Cina dan melihat mereka mengembangkan OS sendiri berbasis Linux. Namanya Red Flag Linux kalau tidak lupa.)

Pertanyaannya adalah:

  1. Apakah membuat sistem operasi sendiri masih relevan?
  2. Apakah yang dimaksud dengan “sistem operasi sendiri”?
  3. Apakah kita memiliki kemampuan dan komitmen untuk melakukan hal itu?

Pertanyaan pertama adalah apakah kita perlu membuat sistem operasi sendiri? Mengapa kita perlu membuat *SENDIRI*? Kalau kita lihat, pasar justru lebih condong ke arah aplikasi. Sebagai contoh, sistem oeprasi Android sudah merajalela di platform handphone dan tablet. Nampaknya akan banyak dibutuhkan aplikasi di atasnya. Mungkin lebih menarik kalau kita mengembangkan banyak aplikasi di atas itu.

Mengembangkan sistem operasi sendiri masuk akal jika kita membutuhkan sistem operasi yang spesifik untuk kebutuhan tertentu, misalnya untuk kebutuhan keamanan. Itupun sebetulnya masih dapat menggunakan sistem operasi yang ada. Lantas apa alasan mengembangkan sistem operasi sendiri? Apakah hanya sekedar untuk gaya-gaya-an saja? Mengapa kita tidak bergabung dengan pengembang sistem operasi yang sudah ada saja dan berkontribusi di tingkat dunia? Selama kita tidak dapat menjawab mengapa-nya maka saya cenderung untuk mengatakan tidak usah.

Terkait dengan hal di atas adalah apa yang dimaksud dengan sistem operasi sendiri? Ada kalanya yang dimaksud dengan sistem operasi sendiri adalah sebuah customization terhadap sistem operasi yang sudah ada. Yang diganti adalah bahasanya atau tampilannya, misalnya. Apakah yang dimaksud adalah ini? Jika iya, mengapa tidak bergabung dengan sistem operasi yang sudah ada, Debian Linux misalnya, dan kemudian ikut mengembangkan berbagai proyek terjemahan (translation) saja?

Apakah sumber daya untuk mengembangkan sistem operasi sendiri itu ada? Kalau kita berbicara tentang sumber daya manusia (SDM) dalam tingkat individual, saya yakin jawabannya adalah ada. Kalau kita berbicara tentang skala (kapasitas, dalam tingkat komunitas) dan juga konsistensi, saya tidak yakin. Ada berapa orang Indonesia yang berkontribusi kepada pengembangan core sistem operasi Linux, misalnya? (Berapa orang yang menguasai ilmu sistem operasi ini? Saya lihat di kampus tidak banyak yang mengajarkan hal ini dan kalaupun ada mahasiswanya juga sedikit serta hanya cari nilai. hi hi hi.)

Untuk mencoba menjawab pertanyaan ternyata malah menghasilkan lebih banyak pertanyaan ya. Jawaban yang saya berikan juga cenderung mengarah kapada tidak usah buat sistem operasi sendiri.

Bagaimana menurut Anda?


Operator Seluler Nyebelin!

Sekarang saya mengerti mengapa banyak orang harus memiliki lebih dari satu nomor handphone. Ternyata masalah reliability dari para operator ini yang menjadi masalah. Saya mengalaminya.

Selular #1 (saya tidak dapat menyebutkan namanya) sudah saya gunakan dari dahulu. Sayang sekali kualitasnya kok malah menurun. Semakin buruk. Sinyalnya sering tidak muncul, atau kadang muncul dan kadang hilang. Lebih parahnya bagi saya, dua tempat di mana saya paling sering berada justru tempat yang paling parah secara sinyal. Akibatnya orang sering “marah-marah” karena saya tidak dapat ditelepon atau kalau ditelepon sering putus-putus.

Karena sinyal operator #1 sering hilang, dia tidak dapat saya gunakan untuk akses internet (3G). Padahal saya sudah coba berlangganan akses 3Gnya. Kalau sinyalnya ada, akses 3Gnya lumayan. Nah ini sinyalnya sering hilang.

Saya ambil nomor baru, operator selular #2. Eh, tapi ternyata di tempat lain dia masalah. Tadinya saya ingin menggunakan nomor ini secara permanen untuk cadangan karena saya masih ingin mempertahankan nomor #1 karena sudah terlanjur tersebar nomor itu. Ternyata kualitas operator #2 juga tidak lebih baik. Akhirnya saya mencoba operator #3 dan lebih diutamakan untuk akses internetnya.

Rangkumannya, inilah adalah kondisi Indonesia. Inilah sebabnya orang Indonesia memiliki lebih dari satu nomor seluler.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.071 pengikut lainnya.