Category Archives: TI

Kapan Memberikan Brosur?

[Seri tulisan entrepreneurship]

Ceritanya begini. Anda sering melihat orang-orang membagikan brosur yang menawarkan produk atau layanan, bukan? Saya juga. Kadang kita sebal karena orang yang menawarkan brosur tersebut tampak maksa. Padahal kita tidak tertarik. Nah, saya akan memberikan pandangan dari sisi lain – dari sisi yang memberikan brosur tersebut.

Selebaran brosur itu bermanfaat untuk memberikan informasi kepada (calon) pelanggan mengenai produk atau layanan kita. Seringkali orang malu atau enggan bertanya. Mereka hanya melihat tulisan atau banner tetapi masih banyak pertanyaan. Sayangnya mereka sungkan untuk bertanya. Nah, untuk orang-orang seperti ini brosur sangat tepat.

Memberikan brosur kepada orang yang tidak memerlukan merupakan hal yang tidak efektif. Selain itu, brosur yang terbuang ini akan menjadi sampah dan tidak ramah lingkungan. Pegawai kadang diberikan target untuk memberikan brosur. Mereka tidak peduli tepat atau tidaknya. Yang penting brosur habis. Ini yang salah. Uang untuk brosur jadi tidak manfaat.

Mengenai kepada siapa brosur tersebut diberikan ternyata tidak mudah. Seperti tadi pagi, di acara Bandung Car Free Day, kami membuka lapak Insan Music Store. Kami juga membagi-bagikan brosur tetapi selektif kepada orang yang kelihatan berminat saja. Menentukan orang yang berminat ini yang susah. Jadi, saya melihat orang-orang yang lewat. Kalau mereka membaca banner kami dengan waktu yang cukup lama dan kelihatan tertarik barulah saya mendekat dan membagikan brosur. Kebanyakan orang hanya melengos saja. (Ini juga mungkin karena sulitnya penempatan banner kami. Di masa yang akan datang, enaknya kami membawa layar komputer yang besar dan biar mereka melihat sendiri saja. Ini lebih menarik.) Akibat pendekatan ini brosur tidak banyak yang kami bagikan, tetapi nampaknya efektif. Itu yang penting.

Next time: bawa genset + layar besar + sound system. Eh, ini mah buat panggung sendiri saja ya? hi hi hi.


Teknologi Informasi Itu Liar!

Kemarin, saya mengajar kuliah pengantar teknologi informasi (introduction to information and communication technology). Yang diajarkan adalah prinsip-prinsip dasar teknologi informasi dan pemanfaatannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengapa ini perlu diajarkan? Menurut saya salah satu alasannya adalah karena teknologi informasi itu liar! Wild!

Bagi Anda yang mengikuti berita terakhir di dunia internet mungkin mengetahui kasus Florence Sihombing. Bagi yang belum, singkatnya begini. Florence menuliskan kata-kata di status Path-nya yang dianggap menghina orang-orang Jogja. Tidak saja dia kemudian di-bully di media sosial, tetapi juga ada yang kemudian mengadukannya ke Polisi sehingga dia sempat mampir di bui. Lepas dari pro dan kontranya, ini adalah salah satu contoh liarnya pemanfaatan teknologi informasi.

Bayangkan begini. Bagi Anda yang punya anak kecil, katakanlah yang masih SD, beranikah Anda melepas anak Anda di jalan tol dengan motor sendirian? Bayangkan, di jalan tol, banyak kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. Sementara anak Anda baru saja mendapatkan motornya satu atau dua hari yang lalu. Seram bukan?

Penggunakan teknologi informasi – misalnya, internet – juga begitu. Anda berikan handphone atau komputer kepada anak Anda dan Anda lepas anak Anda tersebut di internet tanpa pengawasan (pada awalnya). Seram! Salah-salah, tidak hanya sekedar di-bully tetapi bisa masuk bui juga. Hadoh! Maka dari itu pengetahuan tentang teknologi informasi dan pemanfaatannya yang baik dan benar perlu diajarkan.


(mencoba memahami) Teknologi di Belakang Mobil Ford

Hari ini dan besok, saya diajak melihat teknologi di belakang pengembangan mobil Ford. Sebagai orang yang tertarik dengan teknologi, tentu saja saya tertarik. Terlebih lagi ada bagian dari teknologi yang ditampilkan terkait dengan teknologi informasi; virtual reality.Tempatnya juga menarik, Melbourne, Australia.

Pagi ini kami dijemput dari hotel dan dibawa ke Ford Asia Pacific Product Development Centre. Sesampainya di sana, kami harus menyerahkan handphone dan kamera harus didaftar. Maklum, di tempat itu banyak penelitian yang bersifat rahasia. Foto hanya boleh diambil di tempat-tempat tertentu saja. Wuih.

Acara pertama adalah presentasi tentang bagaimana mereka mendesain mobil. Untuk kasus ini mereka menampilkan konsep desain mobil Ford Everest, yaitu sebuah SUV. Presenter pertama, Steve Crosby (chief engineer, body) bercerita bahwa biasanya mereka tidak mengundang mereka. Kami adalah bagian dari group pertama yang diperkenalkan dengan proses ini. Proses pengembangan dilakukan secara global (Amerika, Eropa, dan Asia Pacific). Todd Wiling (design director) menceritakan fasilitas yang digunakan di Ford tadi.

Presenter kemudian tambah menarik. Max Tran, seorang desainer muda (umurnya kalau tidak salah 27 tahun! saya tanya langsung ke dia), menceritakan bagaimana mereka mendesain mobil Everest tersebut. Proses ini dimulai dari market & consumer requirement; dalam hal ini diinginkan mobil yang gagah perkasa (tough) tapi juga sophisticated. Setelah itu dibuat sketch-nya dan dilakukan proses review. Ada banyak (ratusan) sketch. Setelah dipilih, maka dibuatlah model dengan menggunakan clay (tanah liat?). Awalnya sih dibuat dengan menggunakan styrofoam dan ditambahkan tanah liat. Printer 3D juga digunakan untuk membuat hal yang detail, seperti misalnya spion. Pokoknya keren-lah melihat prosesnya.

Kemudian presentasi dilanjutkan oleh Minh Huynh (color & materials, designer). Diceritakan bagaimana proses mencari warna dan bahan yang pas untuk keinginan pengguna. Ini juga keren. (Foto-fotonya menyusul.) Hal yang menarik dari mereka adalah para desainer ini masih muda!

IMG_5759 notes 1000

Acara siangnya dilanjutkan dengan demonstrasi dari berbagai teknologi yang telah dikembangkan oleh Ford; seatbelt untuk penumpang di belakang yang bisa mengembang (inflatable, seperti airbag tapi beda), teknologi untuk membantu pengemudi dalam memarkirkan kendaraan, dan pemanfaatan virtual reality (VR) untuk mereview (dan mendesain) mobil dalam sebuah lingkungan yang disebut Ford Immersive Virtual Environment (FiVE). Yang ini ceritanya menyusul ya. Ini sudah hampir tengah malam dan besok harus bangun pagi sekali untuk melihat yang lainnya.

Terima kasih kepada Ford yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk memahami proses di belakang pengembangan mobil.


Internet Cepat Untuk Apa

Ini masih tentang topik “internet cepat untuk apa“. Ada banyak orang yang memang tidak membutuhkan internet cepat. Bagi mereka internet memang hanya untuk bersosial saja; chatting dan mungkin berkirim foto. Bagi sebagian orang lain, internet dibutuhkan untuk kegiatan yang lebih produktif. Sebagian dari ini membutuhkan internet cepat.

Semalam saya nonton video kuliah dari Walter Lewin, seorang profesor (emeritus) dari MIT. Beliau mengajar Fisika dengan sangat menarik. Keren sekali. Silahkan lihat videonya di sini.

Nah saya coba download videonya dengan kualitas yang bagus (MP3, 720p). Ternyata ukurannya hampir 1 GB. Nah lho. Silahkan download ini dengan menggunakan koneksi GPRS atau EDGE. he he he. Saya download supaya dapat ditonton di kelas tanpa menggunakan internet (yang biasanya lambat). Juga agar supaya dapat di-copy oleh mahasiswa yang internetnya lelet.

Videonya menarik sekali. Kuliah memang harus seperti itu ya? Saya angkat topi atas dedikasi, komitmen, dan passion dari pak Walter Lewin ini. Untuk menyiapkan satu kuliah saja dia melakukan latihan (dry run) berkali-kali. Wedasss. Menjura.

Ini hanya salah satu contoh mengapa kami membutuhkan internet cepat. Bagi Anda, internet cepat untuk apa?


Nasib Jadi Sysadmin

Tadi pagi saya ke kampus untuk restart (reboot) salah satu server kami, yang merupakan sebuah server email. Dari rumah, server tidak dalah saya akses. Kalau dia tidak dapat diakses, berarti email tidak akan diterima. Macet dan menumpuk di server utama kami. Biasanya kalau sudah begini, kami – para admin – akan menerima email pemberitahuan.

Sampai di kampus ITB ternyata kampus masih tertutup. Saya bisa masuk ke gedung saya setelah memberitahu satpam bahwa saya akan reboot server. Satpamnya pun sudah kenal saya. Pas saya datang ada juga admin lain yang datang karena dia kebagian piket. Beginilah nasib para administrator sistem (system administratorsysadmin). Ketika yang lain santai berlibur, kami harus tetap menjaga server supaya tetap dapat melayani.

Sayangnya masalah yang saya hadapi hari ini bukan di server kami tetapi di gatewaynya. Nampaknya pernah mati lampu dan gateway tidak mau nyala lagi. Kadang memang ada kejadian seperti ini. Gatewaynya harus dinyalakan secara manual. Artinya harus menekan tombol on di depan gateway itu. Saya tidak punya akses fisik ke gateway tersebut. Jadi percuma saja saya restart server kami. Nampaknya harus menunggu sampai adminnya datang ke kampus. (Entah kapan. Senin?)

Eh, ngomong-ngomong beberapa hari yang lalu ada sysadmin day ya?


WiFi gratis, tapi …

Sekarang WiFi merupakan sebuah kebutuhan. WiFi harus ada dan gratis. Anak-anak sekarang kalau ke tempat makan yang dicari adalah WiFi gratisan dulu. Mereka akan merasa aneh kalau tidak ada layanan WiFi gratisan. Semua tempat – kafe, restoran, hotel, rumah sakit, bandara udara, … bahkan warteg (warung tegal) – menampilkan logo WiFi.

[di sebuah warteg berlogo free WiFi]

“Mas, kok WiFi-nya gak jalan”, tanya salah seorang pengunjung warteg.
“Iya nih, restoran di belakang WiFinya gak beres melulu”, jawab pemilik warteg.
Ternyata WiFi-nya ndompleng. hi hi hi.

Sayangnya WiFi gratisan ini seringkali tidak berfungsi. Hotel kemarin juga begitu. Kafe semalam juga begitu. Ini saya sedang di sebuah kedai kopi dan WiFi-nya tidak jalan. Maka saya menggunakan handphone saya untuk mengakses internet. Tethering. Jadi sesungguhnya kita harus ngemodal sendiri.

WiFi gratis, tapi gak jalan. Yaelah


Kabar Gembira

Ada kabar gembira untuk Anda sekalian. Bukan, bukan ekstrak kulit manggis tetapi anak-anak muda Indonesia berkarya!

Salah satu karya yang sedang ramai diperbincangkan adalah karya kumpulan anak muda, yang dimotori oleh Ainun dan kawan-kawannya, kawalpemilu.org. Ini adalah situs yang mengambil data form C1 dari situs KPU dan melakukan konversi dari gambar hasil scan menjadi angka dan melakukan operasi penjumlahan hasil pilpres. Ini merupakan sebuah implementasi nyata dari open data, open government, dan memberdayakan warga (empowering people). Keren sekali.

Hal-hal seperti ini yang membuat saya kembali yakin akan masa depan Indonesia yang cerah. Hebat.

Untuk anak-anak muda seperti Ainun dan kawan-kawan, semoga tidak menjadi lupa diri, sombong, arogan, merasa serba tahu, dan sejenisnya. Tetap gunakan ilmu padi. Oh ya, jangan keseringan masuk berita juga sih. hi hi hi. Keep low profile. I know it’s hard to say no to all the spotlights, but you have to say no. Keep on creating master piece(s).

Oh ya, perlu juga kita apresiasi upaya-upaya yang dikerjakan oleh kelompok-kelompok lain seperti terlihat dalam daftar berikut (dari Kaskus). Keren! You guys rock!

Update: nambah lagi www.pilpres2014.org
The data is obtained by automatic crawling http://pilpres2014.kpu.go.id/ periodically and updated every 6-12 hours. This site is built on top of Windows Azure USA cloud technology and many open source technologies such as KnockoutJS, JQuery, .NET Framework, HTML5, GitHub, Visual Studio 2013, D3 Visualization.
The source-code is shared in Pilpres2014 GitHub under APACHE 2.0 license. Made by Indonesian Microsofties, Henry Tan, Ph.D in Comp Sci, held several patents, previously in Bing team, now working in Microsoft Research.


Internet di Jalan

Beberapa hari terakhir ini saya tidak ngeblog karena saya sedang di jalan. Bandung – Singapura – Jakarta – dan kembali ke Bandung lagi. Selama di perjalanan, selain tidak sempat ngeblog, akses internet juga sering sulit. Pas lagi mau ngeblog tidak punya akses internet. Pas ada akses internet, waktunya yang tidak sempat. Ampun deh.

Akses internet di Indonesia tidak perlu saya ceritakan ya? Soalnya kita sudah sama-sama tahu. Lambat. ha ha ha. Sebetulnya akses internet di Indonesia termasuk cukup baik kalau lagi baik. Maksudnya sinyal ada dan bandwidth juga ada. Harga akses internet di Indonesia termasuk cukup murah untuk akses yang biasa-biasa saja. Kalau untuk yang cepat, nah itu saya tidak tahu. Di Indonesia rata-rata saya gunakan paket internet yang 1 bulan, Rp. 50 ribu (ke bawah), dengan kuota 1 GB (meski kadang ada yang kasih lebih).

Akses internet di Singapura – kalau dilihat dari kacamata pengunjung – dapat dibilang cukup baik, meskipun lebih mahal dibandingkan di Indonesia. Awalnya saya tidak tahu bagaimana akses internet di Singapura. Di beberapa tempat, seperti di airport Changi, akses internet mudah dan berlimpah. Ada banyak terminal yang dapat kita gunakan secara gratis – meski dibatasi 15 menit. Toh kita bisa login lagi setelah 15 menit. Di tempat lain, nah ternyata tidak mudah. Saya mencoba berbagai macam kombinasi sampai akhirnya yang paling pas dengan saya adalah paket Starthub.

Ada dua jenis paket Starhub. Paket yang hanya data saja, Sing$ 18 dengan bandwidth yang besar tapi saya lupa berapa kuotanya (1 GB?). Dia dapat digunakan selama seminggu kalau tidak salah. Sayangnya paket yang itu tidak dapat digunakan untuk telepon / SMS. Padahal kadang saya butuh telepon dan SMS di Singapura. Maka saya ambil simcard perdana Starhub yang biasa. (Saya lupa harganya sekarang, rasanya agak mahal. Kalau dulu Sing$ 28.) Dengan paket itu kita dapat aktifkan akses internet seperti halnya dengan operator-operator seluler di Indonesia. Saya biasanya megaktifkan paket 1 GB, 7 hari, Sing$ 7. Kalau dikonversikan ke Indonesia, ini sama dengan paket 1 bulan di Indonesia. Tuh kan, internet di Indonesia sebetulnya murah. Hanya saja kalau di Singapura, internetnya cepat! Nah itu dia bedanya.

Indonesia: Murah, lambat, perioda aktif lama.
Singapura: Mahal, kenceng, perioda aktif lebih singkat.

Perbedaan lain lagi. Di Indonesia, biasanya di hotel akses internetnya gratis. Kalau di Singapura, akses internet di hotel itu biasanya berbayar dan mahal! (Untungnya kemarin kami dapat akses internet gratis di hotel.)

Begitulah observasi singkat saya.


Perang Informasi

Sebelumnya, saya ingin membuat tulisan tentang perang informasi (information war) tetapi agak kesulitan mencari contoh yang dekat dengan kita. Nah, sekarang ternyata banyak contoh yang hadir di hadapan kita. Event pemilihan presiden (pilpres) ini ternyata merupakan contoh yang paling nyata.

Pilpres kali ini diwarnai dengan kampanya negatif atau kampanye hitam. Informasi yang palsu dibuat dan disebarkan di internet. Informasi ini dapat berbentuk tulisan, gambar, dan bahkan video. Ada yang jenisnya hanya berupa lelucon, misleading, atau betul-betul informasi bohong yang dikarang khusus untuk menyesatkan pembaca. Ini dia salah satu contoh perang informasi.

Bahkan pada hari kemarin (9 Juli 2014), kita dibingungkan dengan hasil quick count yang berbeda dari berbagai lembaga survei. Mana yang benar?

Kita, sebagai pembaca, dibingkungkan dengan berbagai versi dari informasi. Seringkali sumbernya tidak jelas. Ada banyak yang menggunakan akun anonim. Ada juga yang informasinya “jelas”, dalam artian ada alamat web-nya, tetapi tidak jelas orangnya. Bagaimana kita menentukan kredibilitas sumber berita?

Ada juga yang berpendapat bahwa kalau sebuah “informasi” banyak disebarkan maka dia akan menjadi benar. he he he. Atau kalau halaman sebuah media sosial banyak diikuti (followed, liked) maka dia menjadi benar juga. Mungkin perlu kita coba membuat sebuah eksperimen. Katakanlah kita membuat sebuah informasi palsu, “Perang Diponegoro dimulai tahun 1801″, kemudian kita ramai-ramai menyimpan informasi tersebut di halaman internet kita masing-masing dan meneruskannya ke banyak orang. Apakah ini akan menjadi informasi yang dominan dan yang akan dipercaya oleh banyak orang (termasuk search engine)? Ini merupakan ide penelitian yang menarik. Yuk. [Hayo, ada yang masih ingat perang Diponegoro dari kapan sampai kapan?]

Nampaknya akan semakin banyak dibutuhkan orang teknis yang menguasai bidang forensic, orang sosial untuk memahami fenomena ini, dan orang hukum untuk mengatur dan menyelesaikan kasus-kasus ini.


Kuliah Entrepreneurship Menghasilkan Entrepreneur?

Dalam sebuah seminar tentang entrepreneurship ada sebuah komentar (dan pertanyaan) dari peserta. Dia mengajar kuliah entrepreneurship dan ternyata tidak banyak yang menjadi entrepreneur. Adakah kiat-kiat untuk meningkatkan jumlah lulusan yang menjadi entrepreneur?

Saya jadi teringat jaman dahuluuu … waktu saya masih kuliah S1 di ITB. Salah satu mata kuliah yang populer waktu itu adalah kuliah Agama Budha. Setahu saya, kawan-kawan yang mengambil kuliah tersebut bukan ingin mempelajari agama Budha tetapi karena potensi mendapatkan nilai “A”-nya sangat besar. Jadi mereka mengambil kuliah tersebut karena nilainya, bukan karena isinya. Saya menduga kuliah-kuliah yang lainpun sebagian besar dipilih karena ini. Termasuk kuliah sang penanya tersebut.

Saya banyak memberikan presentasi, kuliah, dan mentoring yang terkait dengan entrepreneurship. Memang terlihat sebagian besar hanya ingin mengetahui kuliahnya. Siapa tahu di kemudian hari mereka ingin menjadi entrepreneur. Yang langsung memang serius ingin menjadi entrepreneur saat itu juga nampaknya minoritas. Perkiraan saya kurang dari 10%. Ini hanya perkiraan saya saja ya karena saya belum mengumpulkan data sungguhan.

Ada yang mengatakan untuk menjadi entrepreneur tidak perlu harus kuliah-kuliahan. Langsung saja jadi entrepreneur. “Kuliah” diperoleh dari pengalaman. On the street. Pendapat ini ada benarnya, tetapi kalau kita mengetahui teorinya seharusnya potensi kegagalan dapat dikurangi. Saya sendiri termasuk yang menganut “kerjakan dahulu, baru cari teorinya”. hi hi hi. Perlu ditekankan bahwa saya tertarik mencari teori dari apa yang saya kerjakan sehingga dapat bereaksi dengan lebih baik (terhadap situasi yang dihadapi).

Saya jadi teringat ada orang yang merasa bahwa kuliah computer science / ilmu komputer / informatika itu tidak penting. Langsung saja belajar dari “idiot guide to programming” atau “programming xyz in 21 days”. hi hi hi. Iya sih kalau hanya sekedar membuat program sih bisa saja, tetapi begitu kita menghadapi sistem yang besar maka teori itu penting. Sama seperti membuat rumah. Kalau membuat rumah satu tingkat, ngasal aja juga bisa. Tapi kalau kita mau buat hotel 100 tingkat, yang ini harus punya ilmunya.

Kembali ke topik utama. Jadi bagaimana agar kuliah entrepreneurship dapat menghasilkan lebih banyak entrepreneur ya?


Internet Cepat Untuk Pendidikan

Tadi pagi saya memberikan presentasi tentang pemanfaatan teknologi informasi. Salah satu poin yang saya sampaikan adalah infrastruktur internet di Indonesia masih belum cepat dan belum merata. Pada acara tanya jawab ada yang bertanya, kalau internet cepat untuk pendidikan itu contohnya apa.

Salah satu situs favorit saya adalah TED.com. Situs ini berisi kumpulan video dari orang-orang yang kompeten di bidangnya dari seluruh dunia. Bidang-bidang yang ditampilkan di TED sangat bervariasi. Saya sendiri sering melihat di bagian pendidikan, desain, kepemimpinan (leadership), dan … banyak lagi. Karena situs ini berisi video, maka internet yang digunakan harus cukup cepat meskipun tidak harus super cepat. Saya sering kesulitan untuk mengakses situs ini dari layanan internet yang saya gunakan. Apalagi kalau saya akses dari handphone. hi hi hi. Sering saya akses TED dari kampus. Sayangnya di kampus ada quota jumlah data yang dapat didownload dalam satuan waktu. Kalau ini terlewati, biasanya ada surat cinta dari admin yang mengatakan bahwa saya mendownload terlalu banyak. hi hi hi.

TED.com ini hanya salah satu contoh situs yang terkait dengan pendidikan yang membutuhkan internet cepat. Oh ya, bahkan YouTube pun memiliki banyak video yang terkait dengan pendidikan. Sering saya diberikan (ditunjukkan) URL yang berisi tentang topik-topik tertentu. Misalnya ketika menjelaskan tentang sorting algorithms, ada video yang membandingkan berbagai jenis algoritma untuk mengurutkan data ini. Dengan melihat tampilan secara visual kita dapat memahami konsep yang dijelaskan dengan lebih baik.

Saya juga mulai mengumpulkan video kuliah yang saya buat sendiri. Beberapa tahun yang lalu sempat dibuatkan video kuliah security saya untuk kuliah jarak jauh. Seingat saya videonya adalah 8 DVD. Satu pertemuan menghasilkan 1 DVD. Nah kalau ini didownload dengan menggunakan internet yang lambat mungkin baru selesai harian. Padahal ini baru satu topik saja. Kalau kita mengambil beberapa mata kuliah, dapat dibayangkan kebutuhan internet kita.

Jadi internet yang cepat itu sebuah kebutuhan bagi pendidikan. Sama pentingnya dengan listrik. Mungkin seperti tidak nyambung ya, tetapi tanpa listrik sekarang sulit untuk menjalankan pendidikan. Silahkan coba kuliah tanpa menggunakan listrik :)

Nah, situs-situs pendidikan apa (yang membutuhkan internet cepat) yang biasanya Anda kunjungi?


Berapa Jam di Media Sosial?

Sebetulnya berapa jam waktu yang kita habiskan di media sosial, seperti facebook, twitter, dan sejenisnya? Saya merasa kebanyakan waktu saya terbuang ke sana. Apabila waktu tersebut kita gunakan untuk membaca buku, sudah berapa buku yang kita tamatkan?

Saya tidak mengatakan bahwa waktu yang kita gunakan di media sosial hilang dengan percuma. Eh, mungkin sebaiknya memang dikatakan ya? hi hi hi. Produktifitas kita turun gara-gara media sosial. Apalagi sekarang dengan adanya pemilihan presiden.

Eh, apakah ada aplikasi (mungkin plugin di browser) yang dapat mengukur waktu yang kita habiskan untuk situs-situs tertentu? Mungkin menarik untuk mendapatkan statistiknya ya.


Kredibilitas Sumber Berita Online

Kualitas dari sebuah karya ilmiah (makalah, artikel, atau tulisan secara umum) bergantung kepada referensi yang digunakan. Salah satu cara yang lazim digunakan oleh reviewer adalah melihat daftar referensinya. Jika referensinya dari sumber-sumber yang terpercaya dan pakar di bidangnya, maka karya ilmiah tersebut memiliki potensi untuk mendapat nilai baik. Jika sumbernya tidak terpercaya, lemah, meragukan, atau tidak dapat ditelusuri kebenarannya maka karya ilmiah tersebut diragukan untuk mendapat penilaian yang baik.

Salah satu masalah yang dihadapi saat ini adalah kredibilitas dari sumber online. Banyak jurnal dan bahkan institusi pendidikan yang tidak memperkenankan mahasiswa menggunakan Wikipedia sebagai sumber rujukan. Bahkan dapat digeneralisir, penggunaan sumber online tidak disarankan. (Frowned upon.) Salah satu alasan yang digunakan adalah ketidakjelasan orang (sumber) yang mengisi data di Wikipedia. Hal berikutnya adalah sumber di Wikipedia sering berubah. Akan menjadi masalah jika pada saat ini fakta yang ditulis adalah A dan kemudian pada saat yang lain faktanya adalag B (non-A). Mana yang benar? Yang terakhir? Atau yang mana?

Terlebih lagi sekarang marak bermunculan situs-situs “berita” yang sebetulnya adalah situs yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ada yang bentuknya memang sungguhan main-main (parodi), tetapi tidak sedikit yang sebetulnya palsu dan seolah-olah sungguhan. Yang terakhir ini yang berbahaya karena informasinya dapat menyesatkan. Sayangnya justru sekarang banyak orang yang tidak mau sedikit meluangkan waktu untuk memeriksa kredibilitas sumber informasinya. Entah tidak mau atau mungkin tidak memiliki kemampuan (skill, kesabaran) untuk melakukan itu. Dia tidak sadar bahwa orang dapat menilai kualitasnya berdasarkan sumber informasinya itu. You are what you read. Akan sangat menyedihkan jika semakin banyak orang yang terjerumus kepada kebodohan ini. Saran saya, cobalah luangkan sedikit waktu untuk memeriksa kredibilitas dari sumber informasi yang Anda gunakan.

Semakin banyak masalah dengan sumber berita online, semakin menjadi pembenaran bahwa sumber online memang tidak memiliki kredibilitas untuk digunakan sebagai referensi dalam karya ilmiah. Nampaknya Wikipedia bakalan tetap sulit untuk diperkenankan sebagai sumber referensi karya ilmiah. Wah. Padahal isinya sangat membantu bagi mahasiswa yang mencari sumber rujukan. Mosok kita masih dibatasi denganĀ  penggunaan jurunal dan buku konvensional sebagai rujukan?


Hari Ini

Hari ini saya dijadwalkan untuk memberikan presentasi tentang IT untuk staf non-IT di Bursa Efek Indonesia. Karena tempatnya di Jakarta dan saya tinggal di Bandung, maka saya harus berangkat super pagi sekali. Pukul 3:30 saya mulai mengemudikan kendaraan dari rumah. Waktu itu saya pilih agar dapat shalat Subuh di jalan, sebelum masuk ke Jakarta.

Alhamdulillah hari ini perjalanan lancar sehingga saya sampai di tempat sebelum pukul 7. Kadang, meskipun sudah berangkat pagi ada saja kepadatan di jalan sehingga sampai di tempat di Jakartanya lewat dari waktu yang direncanakan. Masalahnya di Jakarta kan ada 3-in-1 yang dimulai pukul 7. Jadi saya harus sampai di tempat, yang kebetulan kena 3-in-1, harus sebelum pukul 7.

Selain harus bangun lebih awal dan tentunya mempersiapkan diri juga, masalah kedua adalah sarapan. Kalau kepagian seperti ini, masih susah cari sarapan yang dekat dengan tempat acara. Pukul 6:30 pagi, mall belum buka. Untungnya saya akhirnya menemukan beberapa tempat yang sudah buka pagi. Di gedung Bursa Efek, ada coffee shop yang sudah buka. Pagi ini saya ke Daily Bread yang sudah buka. Sarapan omelete dan kopi dulu. Sambil menyiapkan materi presentasi. (Presentasi berjalan dengan baik dan menyenangkan – ceritanya menyusul. Kalau ingat. ha ha ha.)

IMG_4999 kopi 1000

Selamat pagi, Jakarta.


Seperti Partai Politik Saja

Saya punya analogi khusus untuk menggantikan kata ilusi (atau halusinasi?), yaitu “seperti partai politik saja“. hi hi hi. Kata-kata ini saya gunakan ketika ada seorang calon start-up yang membuat sebuah aplikasi dan merasa bahwa aplikasinya itu bakal populer. Dengan sok pastinya, sang (calon) entrepreneur mengatakan bahwa aplikasinya akan digunakan sekian puluh ribu orang. Ini sama dengan partai politik yang merasa pasti bahwa dia akan mendapatkan kemenangan karena mendapatkan dukungan yang banyak. hi hi hi.

Masalahnya adalah cara mereka untuk mengukur diterimanya aplikasi (atau partai politik) oleh masyarakat itu salah. Mereka melakukan survey di lingkungan mereka sendiri. Partai politik A melakukan survey ketika sedang melakukan musyawarah partai A. Ya sudah jelas semuanya akan pilih partai A. ha ha ha. Demikian pula yang terjadi dengan survey kepopuleran aplikasi tersebut, yang salah adalah bagaimana mereka melakukan surveynya.

Akhir-akhir ini media sosial seperti facebook dan twitter ramai orang mempromosikan (dan lebih banyak lagi yang menjelek-jelekkan) calon presidennya. Begitu ada yang me-like, mereka berpikir bahwa mereka mendapat dukungan. Ya iyalah. Yang memberikan dukungan jelas dari lingkungannya sendiri (seperti contoh survey di acara musyawarah partai itu sendiri di atas). ha ha ha. Ini adalah ilusi. Analogi ini yang saya gunakan untuk start-up.

Orang juga berpikir bahwa dengan menuliskan sesuatu di internet, mereka dapat mengubah pemikiran (pilihan) orang. Padahal ini tidak terjadi. Apalagi yang terjadi dalam media sosial bukanlah diskusi (untuk mendapat masukan tentang apa yang dituliskan) tetapi adalah berdebat tentang ego dari orang-orang itu. Content tidak jadi bahan diskusi. You won’t get anything new from when you started. Ini hanya pertarungan ego – siapa yang lebih tahan berdebat saja. Itu saja. It doesn’t prove anything (related to the content).

Kembali ke soal calon start-up yang ingin mendapatkan masukan mengenai produk (aplikasi) yang mereka kembangkan, mereka harus melakukan survey dengan cara yang benar. Ini ada ilmunya. (Calling Syaiful from MBA SBM ITB.) Jadi jangan “seperti partai politik saja” ya.

Oh ya, bagi yang membacanya terburu-buru, ini tulisan lebih tentang entrepeneurship bukan tentang politik lho.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.904 pengikut lainnya.