Arsip Kategori: TI

Pengalaman Ujian Online

Tadi pagi saya menyelenggarakan UTS (Ujian Tengah Semester) secara online. Kami menggunakan sistem yang berbasis Moodle.

Sebetulnya mahasiswa dapat mengakses sistem dari mana saja karena sistem kami ini dapat diakses melalui internet. Hanya saja karena saya tidak yakin semua mahasiswa memiliki akses internet di tempat tinggalnya masing-masing, maka saya menyediakan fasilitas untuk ujiannya.

Kelas saya cukup besar, 160 orang! Maka saya meminjam lab komputer. Dua lab komputer. Gabungan dari kedua lab tersebut memberikan 120 komputer. Masih kurang 40 komputer lagi. Tidak apa-apa. Ujian pagi ini saya menduga akan ada yang telat. Kalau yang telatnya adalah 40 orang maka pas lah :)   Atau kalau tidak ada yang telat, mahasiswa dapat bergantian ujian.

Waktu yang saya berikan untuk ujian adalah 90 menit. Sementara soal yang saya buat ada 34 buah dan dapat dikerjakan kurang dari 30 menit. Itu dengan asumsi mahasiswanya paham apa yang saya tanyakan. Kenyataannya memang demikian. Banyak mahasiswa yang dengan cepat menyelesaikan UTS sehingga yang menunggu untuk ujian hanya beberapa orang. Itu pun menunggu kurang dari 10 menit.

Foto1891 mhs antri ttd 1000

[Foto mahasiswa ngantri untuk mengisi daftar hadir. Lebih lama mengantri ini daripada mengerjakaan soalnya sendiri.]

Poin pertama yang ingin saya sampaikan adalah kita harus menyediakan jumlah komputer yang cukup untuk melakukan ujian online.

Ketika ujian ada beberapa kejadian. Ada satu baris komputer, 4 komputer, yang tiba-tiba mati listriknya. Ternyata mahasiswa yang duduk di dekat dinding secara tidak sengaja kursinya menekan switch on/off dari power bar di dinding. Maka matilah 4 komputer tersebut. Setelah dinyalakan maka keempat mahasiswa tersebut harus mengulang kembali ujainnya. Untung sistem yang digunakan memperkenankan itu.

Ada juga mahasiswa yang komputernya tiba-tiba restart. Ada juga mahasiswa yang datang dengan membawa notebook dan minta ijin untuk menggunakan notebook tersebut daripada menunggu giliran mendapatkan komputer. Saya perkenankan. Eh, ternyata akses wifinya tidak stabil. Jadi mereka harus mengulang ujian dua kali. Akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan komputer desktop yang mulai ditinggalkan oleh mahasiswa yang sudah selesai.

Poin yang ingin disampaikan adalah infrastruktur harus reliable.

Ada masalah besar dalam menyelenggarakan ujian online. Saya ingin ujiannya bersifat “closed book”, tetapi bagaimana caranya? Browser yang digunakan kan bisa diarahkan ke Google untuk mencari jawaban di internet. Lebih parah lagi, di sistem blended learning yang saya gunakan untuk UTS ini juga saya gunakan untuk menyimpan materi kuliah dalam bentuk berkas presentasi. Mereka dapat melihat berkas ini untuk mencari jawaban.

Untuk itulah saya memberikan instruksi di kelas bahwa (1) mereka hanya diperkenankan untuk membuka UTS saja, (2) mereka harus memiliki kejujuran 100%. Bagaimana cara untuk memastikan hal ini secara teknis? Saya tidak tahu. Saya hanya mengingatkan mereka bahwa nilai dari UTS ini nilainya tidak terlalu penting dibandingkan dengan nilai kejujuran mereka. (Bobot dari nilai UTS ini akan sangat kecil.) Dengan kata lain mereka ujian terhadap diri sendiri. Jika mereka tidak dapat jujur kepada diri sendiri di lingkungan kampus yang notabene steril, bagaimana mereka dapat jujur di luar nanti?

Ujian ini adalah ujian terhadap kejujuran. Luluskah Anda?


UTS Kuliah II3062

Hari ini saya menyiapkan soal-soal untuk UTS kuliah II 3062 (Keamanan Informasi) yang akan dilakukan besok pagi, 19 Juli Maret 2013. Bagi mahasiswa saya, silahkan lihat instruksinya di halaman kuliah di server Blended Learning (BL).


(menjadi) Dinosaurus

Ada hal-hal yang menyebalkan bagi saya. Salah satunya adalah melihat “top posting” dalam mailing list. Bagi yang belum tahu apa itu “top posting”, silahkan cari informasinya di internet. Justru itulah yang membuat saya sebel. Ini adalah masalah etika dalam berkomunikasi di internet.

Masalahnya adalah banyak orang yang tidak tahu dan tidak mau tahu etika berkomunikasi di internet. Mungkin ini salah kita juga karena tidak mengajari mereka cara berkomunikasi yang baik. Kita beranggapan bahwa kalau sudah pakai internet atau handphone mereka sudah *pasti* tahu etikanya. Harus tahu! Padahal realitasnya tidak.

Dari mana mereka belajar tentang etika berkomunikasi ini? Dari mana Anda belajarnya? Umumnya orang hanya melihat orang lain. Meniru. Iya kalau yang ditiru itu yang benar. Bagaimana kalau yang ditiru itu juga yang tidak tahu? Nah justru yang terakhir inilah yang terjadi. Akibatnya banyak yang tidak tahu.

Atau … kalau dilihat dari kacamata lain, mungkin saya yang sudah ketinggalan jaman. Sudah menjadi dinosaurus di dunia baru ini. Sekarang etika sudah berubah. Semuanya serba aku, aku, dan aku. Peduli amat dengan orang lain? This is the new new thing.

I feel like I am a dinosaur. Heck. I AM a dinosaur!


Susah Akses Internet di Jalan

Ternyata untuk mendapat akses internet sebagai tamu di negara orang tidak mudah. Di sini, di Kuala Lumpur, ternyata saya juga mendapat kesulitan akses internet. Padahal sebelumnya saya sudah bersiap-siap. Maksudnya saya sudah search internet dulu. Sebagai contoh, begitu sampai di KL saya lansung beli kartu SIM dari DIGI. Harganya RM 26. Katanya akses internet seharinya adalah RM 3 dengan quota 150 MB. (Pengalaman saya ini kurang.)

Ternyata yang menjadi masalah adalah coverage dari 3G (HSDPA). Di banyak termpat di jalan, sinyal telepon ada tetapi tidak ada 3G. Artinya tidak ada akses internet. Quota penggunaan internet tidak terlewati karena aksesnya saja tidak bisa. he he he. Jadi ya merasa rugi saja.

Di hotel juga sama saja. Internetnya susah dan lambat. Padahal kalau ngobrol dengan penduduk lokal, akses internet mereka kencang-kencang. Artinya, tamu selalu susah. Kalau di Indonesia mungkin kebalikannya ya? hi hi hi.


Masalah IT Security di Asia

Saya sedang di acara Cyber Intelligence Asia, yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, mendengarkan beberapa presentasi tentang masalah keamanan IT di lingkungan Asia. Beberapa presentasi pagi ini bercerita tentang kondisi cyber security di Malaysia (di berbagai instansi pemerintah dan juga pemerintah daerah, dalam hal ini adalah Sabah).

Salah satu hal yang menarik adalah pemerintah Malaysia sudah membuat berbagai inisiatif untuk menyikapi masalah keamanan di dunia cyber. Sebagai contoh, pada tahun 2006 mereka membuat Cyber Security Policy yang baru dapat dieksekusi di tahun 2008. Setelah itu ada beberapa inisiatif yang telah mereka lakukan.

Selain pembicara dari Malaysia, ada juga pembicara dari Thailand, Kamboja, dan Jepang. Saya sendiri akan memberi presentasi tentang kondisi IT security di Indonesia berdasarkan data yang kami terima di ID-CERT. Ternyata permasalahan yang terjadi hampir sama; malware, phishing, network attack (terutama DDoS attack), dan berbagai penipuan lainnya. Ada beberapa kejadian yang dijelaskan secara gamblang. Misalnya bagaimana tim keamanan Hongkong memecahkan kasus pemerasan di internet. Seru juga.

Yang penting dalam acara ini adalah berbagi informasi dan pengalaman. Dan tentu saja untuk mengenal satu sama lainnya sehingga terjadi kordinasi.


Traffic Palsu

Banyak orang yang bertanya bagaimana cara untuk mendapatkan banyak kunjungan ke halaman web (situs, facebook, dan sejenisnya). How to generate traffic? Jawabannya umumnya adalah SEO (search engine optimization), adwords, dan beli traffic. Sangat mudah untuk membuat robot yang menghasilkan traffic.

Jawaban di atas menurut saya adalah jawaban semu. Orang lupa bahwa sesungguhnya yang dicari bukan lalu lintasnya, melainkan orang beli barang yang ada di situs kita, atau orang menjadi lebih tertarik kepada isinya, belajar lebih banyak, terjadi diskusi, atau hal-hal yang sesungguhnya menjadi tujuan utama dari keberadaan situs kita. Bahwa harus ada traffic itu satu hal, tetapi menghasilkan traffic semu tidak akan mencapai tujuan yang kita harapkan. Memangnya kalau banyak like itu apa bisa mencapai tujuan kalau yang nge-like itu robot (program) he he he.

Jawaban saya untuk pertanyaan awal, how to generate traffic, adalah membuat tulisan yang menarik dan banyak. Tulisan harus sering diubah sehingga orang akan datang lagi. Atau tampilan diubah. Kalau tulisannya tetap sama, tampilan tetap sama, maka orang tidak akan datang berkali-kali. Toh tetap sama saja. Mengapa harus datang berkali-kali?

Yang saya lakukan pada blog ini ya seperti itu, menulis banyak (rutin). Itu saja. Tulisannya pun tidak hebat-hebat amat. Isinya adalah hal-hal yang terkait dengan saya. Itu saja.


Belajar di Abad 21

Tadi pagi saya melihat status facebook kawan saya (Jay Diamond) yang sedang mendengarkan presentasi dari Tim O’Reilly di Stanford. Langsung saya bertanya bagaimana caranya untuk mendapatkan rekaman presentasinya. Eh, ternyata ada di situsnya (Stanford University’s Entrepreneurial Corner). Whoa. Langsung saya download. Sebetulnya tadinya saya dengarkan secara online, tetapi karena saking bagusnya saya download MP3-nya. Sekarang (menjelang tengah malam) saya dengarkan lagi.

Beginilah nampaknya belajar di abad 21.

Yang pertama adalah ketertarikan berasal dari sebuah status di facebook. Artinya media sosial memang dapat digunakan untuk memicu ketertarikan atas sebuah pelajaran. Hanya dari sebuah status.

Yang kedua adalah hilangnya batas fisik. Mungkin ini yang paling menarik. Saya dan kawan saya terpisah dalam jarak yang luar biasa jauhnya – di sisi lain dari dunia dengan beda waktu 12 jam – tetapi ternyata dapat belajar bersama. Saya yang berada jauh dari Stanford memiliki akses yang sama dengan orang yang secara fisik berada di sana. Luar biasa.


Programming Jaman Dulu

Lagi-lagi barusan melihat-lihat sejarah komputer. Saya jadi teringat ketika memulai belajar programming di tahun 1981 (atau 1982). Yang membuat saya mesem-mesem kecut adalah pada waktu itu kemampuan komputasi sangat terbatas. Sebagai contoh, memori komputer pada jaman itu hanya 8 KBytes. Iya betul KILO bytes. Bahkan handphone sekarang saja memori-nya sudah berkali-kali lipat di atas itu. hi hi hi.

Konsekuensinya, program yang ditulis pada masa itu harus kecil ukurannya. Apakah terbayang bagi Anda membuat program dengan batasan memori seperti itu? Terpaksa program harus ditulis dalam bahasa Assembly, atau lebih dahsyat lagi dalam bentuk machine code (langsung angka-angka). Baru kemudian mulai ramai digunakan bahasa BASIC.

Dan tentu saja sekarang saya melihat-lihat halaman Apple 2 dan Beagle Bros. (Silahkan cek internet dengan kata kunci “beagle bros”.) Those were the (good) days.


Jualan Buzzwords

Baru saja saya melihat tulisan tentang Smart-*(something) dan ini dikait-kaitkan dengan Teknologi Informasi. Sebelumnya kita banyak mendengar tentang *Cloud* ini dan itu (maksudnya cloud computing). Sebelumnya lagi kita mendengar tentang *Green* ini dan itu. Sebelumnya lagi … ah ada banyak. (Untuk ketiga di atas mungkin bisa digabungkan menjadi “Smart Green Cloud“? he he he.)

Yang saya sebetulnya agak risi adalah buzzwords ini muncul dan hilang tanpa bekas. They come and go without making any dent. Saya menjadi khawatir untuk mendukung ide-ide baru karena nantinya hanya jualan kata-kata saja dong.

Bagaimana menurut Anda?


Portal Berita Positif

Alhamdulillah sudah lama saya tidak membaca surat kabar lokal dan tidak menonton TV lokal. Alasannya? Beritanya begitu-begitu saja. Negatif. Diulang-ulang. Tidak jelas manfaatnya apa.

Tadinya saya berharap media berita digital dapat mengubah ini. Ternyata sama saja. Situs berita Indonesia isinya sama dengan surat kabar atau TV lokal. Ternyata mereka masih di-drive oleh media konvensional. Ampun.

Pikir-pikir ini peluang untuk membuat portal berita positif. Orang yang bosan membaca atau mendengar berita mainstream yang negatif-negatif dapat membaca berita di sini. Isinya antara lain kesuksesan bisnis dari perusahaan baru, biografi orang yang hebat-hebat, sejarah yang menarik, penemuan-penemuan baru, dan sejenisnya. Saya pikir ini akan menarik.

Blog saya sebetulnya menganut pakem teresebut. Hanya saja blog saya ini diisi oleh satu orang (dan komentator yang setia). Kurang banyak kontribusinya. Kalau ada portal yang diisi oleh orang banyak yang berpikiran positif semua, nampaknya oke juga. Blog saya yang gini-gini saja sudah ramai pengunjung, apalagi portal berita positif.

Silahkan …


Kumpul Kelas Online

Tadi pagi, akhirnya jadi juga kelas saya kumpul online. Sebelumnya saya sudah memberitahu mahasiswa untuk kumpul di channel IRC tertentu. Pagi tadi banyak yang hadir.

(Mengapa kami memutuskan menggunakan IRC telah dibahas di tempat lain. Singkatnya, IRC dipilih karena ini merupakan platform yang paling stabil untuk diskusi dengan jumlah orang yang banyak dan dengan kebutuhan sumber daya yang tidak begitu besar. Mahasiswa kelas saya ini jumlahnya sekitar 170 orang.)

Masalah pertama yang kami hadapi adalah identitas di IRC. Repot untuk mengasosiasikan identitas di IRC, dalam hal ini adalah nick name, dengan identitas mahasiswa sesungguhnya di kampus. Untuk itu disepakati untuk menggunakan id “NAMA-NIM”. Adanya NIM sangat membantu untuk menghubungkan kedua identitas tersebut.

Sebetulnya bisa juga digunakan “NIM-NAMA” (NIM duluan), tetapi nampaknya kurang elegan. NIM di belakang juga tidak apa-apa. Yang penting nanti dapat digunakan regular expression untuk memisahkan NIM dari identitas tersebut. Tinggal buat sebuah program untuk membuat konversi ke spreadsheet.

Masalah kedua adalah cara untuk menggantikan “mengangkat tangan” (polling) dalam bentuk digital. Misalnya, saya ingin bertanya seberapa banyak mahasiswa yang menggunakan WEB sebagai cara untuk mengakses IRC. Kalau ada mekanisme “angkat tangan digital” tentunya sangat memudahkan. Tinggal dihitung saja. Sekarang ini tidak ada. Mungkin harus membuat sebuah bot untuk melakukan hal tersebut. Jika mekanisme voting ini dilakukan di luar platform IRC maka akan repot bagi yang mengakses IRC dengan menggunakan handphone misalnya. Dia harus menjalankan aplikasi lain lagi hanya untuk voting dan kemudian kembali lagi ke IRC. Tidak natural.

Hal ketiga … IRC itu sangat “cerewet” (verbose). Mahasiswa ingin menyimak (membaca) tulisan saya saja. Mereka tidak ingin melihat ada tulisan yang mengatakan si-abc login / logout. Nah. Mungkin harus dibuatkan FAQ (frequently asked questions) terkait dengan penggunaan IRC sebagai mekanisme kumpul kelas. Hmmm…


[10:27] * FT__ (caf9191a@gateway/web/freenode/ip.202.249.25.26) has joined #kuliah-br
[10:28] * evecrest (~androirc@120.168.1.10) has joined #kuliah-br
[10:28] * pltobing (~patricklt@202.152.202.103) has joined #kuliah-br
[10:28] * stephanie182 (b6092e79@gateway/web/freenode/ip.182.9.46.121) has joined #kuliah-br
[10:28] * stephanie182 (b6092e79@gateway/web/freenode/ip.182.9.46.121) Quit (Client Quit)
[10:29] * evecrest (~androirc@120.168.1.10) Quit (Client Quit)
[10:29] * mgemaakbar (~mgemaakba@202.152.202.103) has joined #kuliah-br
[10:29] * mario_135 (c0ace279@gateway/web/freenode/ip.192.172.226.121) Quit (Ping timeout: 245 seconds)
[10:29] * damiannmm_135 (27d59e76@gateway/web/freenode/ip.39.213.158.118) has joined #kuliah-br

Demikian cerita pengalaman singkat kumpul kelas online.


Pertemuan Tahunan ID-CERT

Ingin mengumumkan bahwa akan ada pertemuan tahunan ID-CERT (Indonesia Computer Emergency Response Team). Terbuka untuk umum, tetapi harus mendaftar (untuk memastikan jumlah kehadiran). Informasi mengenai acara ini dapat dilihat di situs ID-CERT.

Silahkan …


(Dari Ide ke) Resep Rahasia

Dalam tulisan terdahulu saya bercerita tentang murahnya ide. Kali ini saya akan lanjutkan ceritanya.

Apa yang membuat pelaksanaan atau eksekusi sebuah ide lebih unggul dari yang lain? Menurut saya salah satu kuncinya ada pada resep rahasianya. The secret souce.

Apa yang membuat yamien {ayam bakar|nasi goreng|makanan lain} di satu warung lebih enak – dan akibatnya lebih laris – dari warung lainnya? Ya resepnya itu. Hal yang sama juga ada pada bisnis lain, termasuk bisnis berbasis teknologi informasi. Kita boleh punya ide portal komunitas yang sama, tetapi kenyataannya kaskus tetap yang paling populer.

Resep di sistem IT juga dapat bervariasi; ada pilihan sistem operasi, bahasa pemrograman, database, topologi jaringan, konfigurasi server, tampilan, dan seterusnya. Sebagai contoh, jika Anda hanya boleh memilih dua hal, mana yang Anda prioritaskan? (1) Jenis prosesor, (2) besarnya memory, (3) besarnya harddisk, dan (4) kecepatan jaringan? Idealnya sih dibaguskan semua, tetapi sebagai sebuah startup yang baru mulai dengan ide tentunya Anda tidak memiliki uang untuk memenuhi keinginan Anda tersebut. Kalaupun punya uang dan Anda gelontorkan semua ke sistem Anda, maka layanan Anda kan mahal hargnya.

Akibatnya akan ada banyak kombinasi atau permutasi yang menghasilkan resep rahasia untuk layanan Anda tersebut. Oh ya, kadang-kadang, kita tidak tahu resep rahasia kita! Ha ha ha. Misalnya kita tidak sadar bahwa air yang kita gunakan untuk memasak makanan kita itulah yang sebetulnya membuat makanan kita enak. (Katanya inilah yang membuat tahu Sumedang tidak bisa dibuat di tempat lain. Hal yang sama dengan champagne.)

Itu baru soal “hardware/software” atau yang terkait dengan bahan bakunya. Cara kita memberikan layanan juga ternyata merupakan kunci juga. Itu yang menyebabkan Starbucks terkenal. Kalau soal kopi sih banyak tempat lain yang kopinya lebih unggul, tapi tetap Startbucks yang terkenal. Ini yang ingin saya katakan adalah resep rahasia juga bisa terletak pada proses dan manusianya.

Jika ide saya katakan murah, maka resep rahasia ini tidak murah. Itulah sebabnya Coca Cola menjaga resep rahasianya dalam bentuk rahasia dagang (trade secrets). Resep rahasia ini ditemukan dengan susah payah setelah melalui masa coba-coba.

Ternyata bahkan kadang ada juga orang yang membuka resep rahasia ini. Open source contohnya. Bahkan resep pun tidak perlu dirahasiakan. Yang menjadi kunci adalah bagaimana kita memberikan layanannya (berarti dapat dikatakan masuk ke proses dan manusia). Yang diuntungkan jelas konsumer. Kalau ini digeneralisir, yang diuntungkan adalah umat manusia.

Nah … semoga tulisan ini dapat memberi pencerahan (khususnya pada pelaku startup).


Masih Tetap IRC

Minggu lalu saya memantau ID-CERT (Indonesia Computer Emergency Response Team) ketika mengikuti drill security yang diselenggarakan oleh AP-CERT (Asia Pacific Computer Emergency Response Team). Salah satu mekanisme komunikasi yang digunakan untuk berkoordinasi para CERT di seluruh Asia Pacific ini ternyata (masih) menggunakan Internet Relay Chat (IRC). Ternyata IRC masih dianggap sebagai cara komunikasi dengan banyak orang yang paling reliable.

Wah, ini cara komunikasi yang sudah jadul. Saya sampai lupa perintah-perintah IRC. Masih ada yang ingat ketika mIRC menjadi klien chat yang paling populer? Nampaknya harus belajar lagi nih.


Ribut Hacking

Ya ampun … pada ribut soal hacking, defacing (mengubah tampilan situs web), dan seterusnya. Minggu lalu bahkan saya ditelepon wartawan asing soal defacing-defacing-an ini. Ya saya tidak dapat menjawab kalau soal kasus kemarin itu.

Seberapa susahnya sih melakukan defacing? Hmmm … Mungkin saya jawab dengan menggunakan analogi saja ya. Seberapa susah membuat grafiti – mebuat corat-coret di dinding – pada sebuah bangunan? Jawabannya tentu bergantung kepada bangunan yang dimaksudkan. Grafiti di rumah sendiri, bisa dilakukan tetapi bakalan digaplok orang tua. he he he.

Grafiti di rumah tetangga sebelah? Mungkin tidak susah, tapi tidak keren dan kasihan. Rumah mereka yang sederhana kok dicorat-coret. Orangnya baik kok. Apalagi kalau rumah tetangga itu milik nenek-nenek jompo. Kasihan ah. Gampang, tapi mungkin tidak kita lakukan. Malah kita malu kalau melakukannya.

Grafiti di bangunan milik publik? Tergantung. Kalau bangunan publik ini adalah kantor yang sudah lama tidak ditinggali, kayaknya sih gampang. Tinggal berani lawan sama hantu yang sudah terlanjur tinggal di sana. he he he. Kalau bangunan publik yang masih digunakan, tetapi pegawainya tidak peduli, nampaknya tidak terlalu susah. Ya itu dia. Pegawainya tidak peduli. Kita bawa kaleng cat pun mereka nonton saja. Gedung bangunan milik pemerintah yang dirawat dan pegawainya peduli, nah … ini susah. Secara teknis bisa saja sih, tapi kita bakalan ketahuan.

Begitulah kira-kiranya. Kita dapat melanjutkan cerita di atas dengan gedung yang sangat penting, gedung tempat kita melakukan transaksi (bank), gedung sekolahan kita, masjid (nekad?), dan seterusnya. Silahkan dibayangkan dan dikhayalkan.

Jadi seberapa susah melakukan defacing (grafiti)? … nah …


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.078 pengikut lainnya.