Arsip Kategori: TI

Berkarya (itu) Untuk Diri Sendiri

Twitter crawler yang saya buat beberapa waktu yang lalu berhenti bekerja. Pesannya (error message) tidak jelas. Saya tidak tahu apa sebabnya. Dalam pertemuan penelitian minggu lalu, Andry (mahasiswa saya yang juga meneliti tentang ini) mengatakan bahwa ternyata akses ke twitter sekarang diharuskan menggunakan SSL/TLS. Oh begitu toh. Baru hari ini saya punya kesempatan untuk melihat kode saya dan mengaktifkan SSL, yang ternyata hanya 1 baris saja perubahannya. Beres. Jalan lagi.

Saya membuat crawler ini untuk sebuah penelitian, tetapi sesungguhnya saya membuatnya untuk diri sendiri. Saya tertarik dengan data dari twitter. Khususnya yang saya cari adalah struktur dari follower saya. Maka saya membuat kode twitter itu. Setelah data terkumpul nanti saya akan buatkan ceritanya. Saya akan menulis makalah tentang ini, tetapi sesungguhnya saya membuat ini juga untuk diri sendiri. Out of curiousity.

Di luar ini semua, banyak orang yang hanya pandai berteori dan tidak menghasilkan karya. Mahasiswa juga hanya pandai kuliah tetapi tidak menghasilkan karya. Bagaimana perusahaan calon tempat bekerja mereka dapat menilai kualitas mereka? Kalau hanya sekedar melihat ijasah saja tidak ada bedanya. Karya merupakan salah satu bukti. Karya untuk diri sendiri merupakan hal yang terbaik sebab ini menunjukkan passion yang bersangkutan. Why can’t they – the students – see this?


Untuk Apa Internet Cepat?

Sebuah pertanyaan yang agak aneh bagi saya; “untuk apa internet cepat?”. Bagi saya itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban, tetapi mungkin jawaban pertanyaan ini tidak terlalu mudah dilihat bagi banyak orang. Baiklah, saya coba jawab.

Ada banyak aplikasi yang membutuhkan layanan internet cepat. Saya ambil satu contoh saja ya, bidang pendidikan.

Di negara-negara maju, pemanfaatan teknologi informasi untuk pendidikan sudah menjadi hal yang umum. Bahkan saat ini online learning dalam skala yang masif sedang menjadi tren. Perguruan tinggi seperti MIT membuat kuliah-kuliahnya online. Atau Khan Academy yang sangat ekstensif menggunakan YouTube. Start up di bidang ini juga mulai bermunculan, Coursera, misalnya. Di Indonesia juga sudah ada beberapa yang memulai.

Salah satu kebutuhan dari online learning adalah adanya jaringan internet yang stabil (reliable) dan cepat. Sebagai contoh, banyak materi yang membutuhkan layanan video. Bagaimana kita dapat menonton video yang ukurannya ratusan Megabytes jika internet kita lambat dan putus-putus? Sebagai contoh, saya suka menonton presentasi yang ada di TED.com. Luar biasa bagus-bagus. Hanya saja saya tidak dapat menonton secara streaming karena internet di tempat saya agak lambat. Yang saya lakukan adalah mengunduh (download) videonya dulu dan kemudian ditonton setelah semuanya berhasil saya peroleh. Bergantung kepada kecepatan internet saat itu, kadang saya harus nunggu cukup lama. Orang lain (siswa lain) di negara yang sudah maju sudah berhasil mendengarkan presentasi 10 kali, di sini mungkin baru selesai download. Belum lagi kalau ada situs yang tidak memperkenankan videonya diunduh, mampuslah kita.

Okelah, mungkin saya masih mengkhayal untuk bisa sampai menggunakan video untuk belajar, meskipun di negara maju ini bukan lagi khayalan. Untuk menyediakan layanan download berkas kuliah dengan jumlah siswa yang besar pun sudah menjadi masalah. Perlu diingat skala siswa Indonesia yang jauh sangat besar jumlahnya. Belum lagi jangkauannya yang sangat luas.

Kondisi internet saya memang tidak begitu cepat. Ini di kota besar di Indonesia, bung! Bayangkan kondisinya di kota yang kecil atau daerah-daerah yang terpelosok. Maka itu dia ada istilah “digital divide“. Yang kaya, yang memiliki akses digital dengan cepat akan semakin maju, sementara yang fakir bandwidth akan semakin tertinggal. Mungkin kalau dianalogikan, siswa di Indonesia hanya bisa baca 3 halaman buku sementara itu siswa di luar negeri bisa baca 300 buku. Mau dibandingkan hasilnya?

Misalnya, anak Anda dapat tugas dari sekolah untuk membuat tulisan tentang punahnya dinosaurus; lengkap dengan gambar kalau perlu. Maka anak yang punya akses internet cepat dapat mengerjakan itu dalam waktu kurang dari satu jam. Cari ceritanya di internet, cari gambarnya, tonton videonya, kemudian mulai mengarang ceritanya. Sementara itu anak yang hanya punya akses GPRS … tiga hari tiga malam begadang tidak selesai download. Kira-kira yang dapat nilai bagus siapa ya? Salah anaknya? Salah internet yang lambat!

Salah satu layanan yang juga sekarang mulai lazim digunakan adalah Dropbox. Dropbox digunakan oleh mahasiswa untuk backup tugas-tugasnya. Ada satu mahasiswa yang nyaris stress karena notebook yang dia gunakan untuk mengerjakan tugas akhir tercuri. Dia belum melakukan backup, sementara teman-temannya menggunakan Dropbox untuk backup tulisan tugas akhirnya. Kami menggunakan Dropbox untuk  mengerjakan makalah bersama-sama. Silahkan cek di kampus-kampus, Dropbox sekarang menempati posisi yang tinggi juga. Dapat dibayangkan apabila layanan internet super lambat. Kampus yang bersangkutan akan punya masalah kredibilitas.

Ini baru bidang pendidikan. Bidang lain, hampir sama. Internet itu merupakan infrastruktur. Sama seperti jalan. Kita tidak boleh hanya puas dengan jalan yang berbatu – bahkan mungkin lumpur – yang hanya dapat dilewati motor atau sepeda saja. Dibutuhkan jalan untuk angkutan umum, bis sekolah, truk untuk mengangkut barang dagangan, dan seterusnya. Jalan harus lebar dan mulus. Internet juga harus demikian.

[sementara itu saya sedang pusing update OS dan aplikasi dari perangkat-perangkat saya karena gak selesai-selesai; gara-gara internetnya lambat! ini masalah nyata saya, sebagai fakir bandwidth. dan untuk download ISO OS - masing-masing sekian GigaBytes ukurannya - sementara harus tunda dulu sampai ke tempat yang internetnya lebih cepat (atau ada mirrornya). Yang repot itu kalau upgrade desktop, ya gak bisa dibawa pergi komputernya. Ini dia screenshot "apt-get upgrade" di komputer desktop saya yang menggunakan Linux Mint.]

apt-get-upgrade-crop


Kuliah Semester Ini

Semester baru sudah dimulai di ITB. Ini sudah memasuki minggu kedua. Tentu saja langsung kesibukan datang. Tapi, lebih baik sibuk dengan pekerjaan daripada tidak ada pekerjaan, bukan?

Semester ini ternyata saya mengajar kuliah yang terkait dengan security saja. Ada tiga kuliah, (1) Keamanan Informasi (untuk S1), (2) network security (untuk S2), dan (3) incident handling (untuk S2 juga). Sebetulnya ada satu kuliah lagi – security juga, Security Architecture – tetapi saya batalkan karena saya sudah banyak mengajar dan pesertanya hanya 4 orang (sebelum PRS).

Mengajar tiga kuliah sudah cukup berat bagi saya. Saya heran ada dosen yang mengajar banyak kuliah. Entah mereka serius mengajarnya atau hanya ingin mendapatkan hal lain, seperti honor tambahan atau kenaikan pangkat atau pujian karena mengajar banyak. Entahlah.

Dan mulailah sibuk saya memperbaiki materi kuliah. Waduh.


Tergesa-gesa Membaca

Di jaman sekarang ini nampaknya kebanyakan orang tergesa-gesa. Makan, ada fastfood. Sekolah, beli gelar. Blog, baca yang singkat-singkat seperti blog ini. he he he. Membaca pun tergesa-gesa sehingga sering kali  salah mengerti apa yang dibacanya. Saya ambil satu contoh yang sedang populer saat ini.

Baru-baru ini ada komentar yang bertanya kepada bu Ani Yudhoyono tentang perangkat kameranya:

Ini kamera yang ibu pakai buat foto di instagram, punya pribadi atau puny (punya) Negara bu?

Kemudian dijawab oleh bu Ani:

@adhityaanp pertanyaan anda agak keterlaluan, tapi akan saya jawab biar gamblang. Yang dipakai oleh biro pers, kemungkinan punya Negara. Kalau yang dipakai saya tentu milik pribadi. Ingat jauh sebelum jadi ibu Negara, pada tahun 1976 saya mendapat hadiah perkawinan sebuah tustel dari ortu (orang tua). Paham?

Tulisan bu Ani dibaca orang dengan tergesa-gesa. Maka muncul kesan bahwa kamera SLR yang digunakan bu Ani adalah hadiah perkawinan tahun 1976. Maka mulailah muncul olok-olok lanjutan. Mosok tahun 1976 sudah ada SLR dan seterusnya. Padahal menurut saya orang-orang tidak cermat membaca tulisan bu Ani. Saya bukannya membela bu Ani, tapi cobalah baca sekali lagi. Jangan tergesa-gesa. Bagaimana? Sudah?

Bu Ani mengatakan bahwa tahun 1976 sudah mendapatkan hadiah kamera. Tentu saja bukan yang SLR dipakai sekarang ini. (Di mana dikatakan kamera yang sekarang ini yang merupakan kado tahun 1976?) Tersirat di sana bahwa bu Ani sudah lama menggunakan kamera dan bukan anak kemarin sore. Punya kamera sendiri juga sudah biasa. Layaklah kalau sekarang menggunakan kamera. Bahkan lebih dari sekedar layak.

Menurut saya, jika bu Ani memang sudah rajin memotret sejak 1976 maka memang tidak pantas untuk diejek-ejek. Lagi pula untuk beli kamera seperti yang digunakannya pastilah mampu. Mosok yang kayak gini perlu ditanyakan. (BTW, menurut saya sebaiknya bu Ani tidak usah menjawab pertanyaan yang seperti ini. Itulah sebabnya kebijakan saya adalah untuk tidak membalas komentar. hi hi hi.)

Tentang kata “Paham?” di akhir komentarnya itu nampaknya sekarang menjadi masuk akal karena banyak orang yang tidak dapat membaca apa yang ditulis. Tidak paham. Mungkin tergesa-gesa membacanya.

Paham?


Menemukan Sound System Lama (Pioneer, Sansui, Akai)

Bongkar-bongkar gudang, eh nemu sound system lama saya yang dulu saya gunakan ketika SMA sampai dengan mahasiswa. Sound system ini masuk gudang rumah orang tua saya ketika saya sekolah ke Kanada untuk waktu yang cukup lama. Terakhir saya pakai sound system ini di tahun 1987. Sudah lebih dari 20 tahun! Dan selama ini dia berada di gudang.

Peralatan sound system saya ini ternyata masuk kategori “vintage solid state”. Pastinya “vintage” karena sudah kuno. ha ha ha. Tetapi secara serius, peralatan ini cukup bagus untuk jamannya. Saya yakin suaranya juga lebih mantap dari ampli-ampli murahan sekarang.

Yang pertama adalah amplifier Pioneer SA-500. (Foto di bawah.) Suaranya boleh juga lah. Dia memiliki beberapa input yang bisa dipilih. Dulu saya gunakan untuk tape deck dan turn table (pemutar piringan hitam).

DSC_2207 ampli 1000

Yang kedua adalah equalizer Sansui SE-5. Dulu, Sansui ini cukup terkenal untuk equalizer.

DSC_2218 sansui 1000

Yang ketiga adalah reel-to-reel player Akai X-150D. Sayang sekali saya sudah tidak punya reel (pita yang digulung) yang bisa dipasang untuk perangkat ini. Kalau dijual berapa ya harganya? Oh ya, belum saya cek juga dia masih jalan atau tidak karena ini banyak mekaniknya. Dulu ini saya pakai untuk merekam. Lumayan, bisa 4 track … eh, atau hanya dua track tapi bisa rekam kiri dan kanan secara terpisah gitu?

DSC_2234 akai 1000

Sayang juga kalau sound system ini hanya teronggok di gudang ya. Dugaan saya, kecuali yang reel to reel player, mereka masih berfungsi. Nanti harus saya coba lagi. Kalau tidak jalan pun mereka masih bisa bermanfaat sebagai parts bagi yang membutuhkannya. Saya akan mencoba menyalakan amplifier dan equalizernya. Soalnya saya juga menemukan kembali turn table (pemutar piringan hitam) saya. Dia membutuhkan amplifier ini. Hanya saja turn table saya jarumnya sudah hilang. Hayah.

Vintage sound system memang keren euy.


Penyadapan Internasional oleh NSA

Kali ini Der Spiegel membeberkan informasi yang mengatakan bahwa NSA melakukan penyadapan secara global dengan berbagai cara. Yang menarik bagi saya adalah tadinya saya berpikiran bahwa penyadapan dilakukan terhadap orang-orang tertentu (target) yang memang memiliki nilai untuk disadap. Orang-orang yang “tidak penting” – misal ABG yang sedang ngobrol – bukanlah obyek yang akan disadap. Ternyata salah. Penyadapan ternyata dilakukan terhadap *semua orang*. Mana yang penting nanti dilihat ketika dibutuhkan. Wedaaasss. Apalagi kalau Anda seorang Muslim yang pernah browsing ke situs-situs yang dianggap berbahaya, sudah pasti Anda termonitor.

Dalam berita yang disampaikan, dan juga dalam video yang ada pada bagian akhir dari berita ini, semua software dan hardware ternyata ditargetkan. Apapun perangkat Anda dan softwarenya, semua dapat dimonitor dan bahkan dikendalikan dari jarak jauh. Ngeri sekali. Banyak perusahaan yang kaget karena ternyata produk-produk mereka memiliki kelemahan (security hole) yang kemudian dieksploitasi tanpa pemberitahuan. Mampuslah perusahaan-perusahaan Amerika. Mereka merasa dikadali di negara mereka sendiri. Pusing tujuh keliling. Pelanggan dunia mana mau beli produk mereka lagi. (Apple baru-baru ini membuat press rilis dan mengatakan NSA adalah “malicious hackers”. he he he.)

Oh ya, apakah kita memiliki kemampuan untuk menangkalnya? Dalam skala yang besar seperti ini? Bahkan perusahaan besar sekalipun kebingungan. Apalagi kita ya? Kita santai saja? Toh tidak ada yang penting dalam kehidupan kita. hi hi hi. (Apa iya?)

Ah, tentu saja halaman blog ini juga mestinya sudah di-archive di sana ya? Hi, guys.


Teknologi Informasi dan Pendidikan

Sudah banyak orang mendiskusikan tentang pemanfaatan teknologi informasi (IT) dalam pendidikan. Entah kenapa nampaknya pemanfaatan IT di pendidikan justru yang paling terlambat dibandingkan bidang lain, seperti bisnis misalnya. Padahal IT pada awalnya dikembangkan di lingkungan pendidikan – atau tepatnya lembaga penelitian – dan militer. Mungkin dunia bisnis lebih cepat merangkul IT karena langsung terlihat manfaatnya.

Saya sudah mencoba memanfaatkan IT dalam proses ajar mengajar, tidak seperti orang lain yang hanya berwacana atau berteori. hi hi hi. Pengalaman saya menunjukkan bahwa masih ada banyak kesulitan yang sifatnya teknis, bukan prinsipil. Namun karena banyaknya kesulitan teknis ini membuat elearning (katakanlah demikian) belum benar-benar dapat diterima. Sebagai contoh, masalah skala. Kebanyakan sistem yang ada dapat digunakan untuk jumlah siswa yang tidak besar, begitu jumlah siswanya banyaaakkk sekali, maka sistem menjadi tidak dapat digunakan. Contoh, pernahkah Anda chatting dengan 75 orang bersamaan?

Saya akan coba berbagi beberapa pengalaman saya. Kali ini tentang kuliah online dan lebih spesifik lagi berdiskusi secara real-time, bersama-sama, sinkron. Perlu dicatat bahwa sebetulnya pemanfaatan IT itu lebih banyak ke arah asinkron, yaitu mahasiswa dan dosen tidak perlu online secara bersama-sama. Ini untuk yang sinkron.

Beberapa kali saya mencoba membuat kelas secara online. Mahasiswa diminta untuk online pada saat yang sama. Masalah pertama adalah teknologi atau aplikasi apa yang akan kita gunakan. Idealnya kita ingin menggunakan video conferencing, seperti penggunaan Skype atau Google Hangout, tetapi infrastruktur di Indonesia masih belum memungkinkan. Untuk berdiskusi satu-lawan-satu sih nampaknya masih bisa. Bayangkan kalau mahasiswanya ada 75 orang. Bisakah? Mungkin tidak untuk saat ini.

Hal lain yang penting adalah aplikasi harus dapat menggunakan keybooard. Akan sangat susah bagi saya untuk mengetik dengan menggunakan handphone. Dengan kata lain, BBM atau WhatsApp tidak dapat digunakan. Hasil diskusi dengan mahasiswa menyisakan beberapa alternatif: IRC, Yahoo! Messanger (YM), Googletalk, Line, dan Facebook. Maka saya coba pendekatan itu untuk beberapa kelas yang berbeda.

Kelas yang pertama disepakati untuk menggunakan Line. Kelas ini cukup kecil, kurang dari 30 orang. Ketika online pun mungkin hanya 20 orang. Ternyata penggunaan Line cukup berhasil. Saya menggunakan Line di komputer, sementara mahasiswa ada yang menggunakan handphone.

Kelas yang kedua disepakati untuk menggunakan IRC. Menariknya mereka adalah generasi yang belum pernah mendengar kata IRC. ha ha ha. Saya sudah tua. Agak berat kalau memaksa mereka untuk memasang aplikasi IRC client. Akhirnya saya usulkan untuk menggunakan web-based IRC client. Ada banyak. Silahkan di-google. IRC cukup berhasil, meskipun di awal banyak yang bingung bagaimana “berbicara” di IRC. IRC juga masih banyak digunakan sebagai media live di berbagai konferensi (yang biasanya terkait dengan IT).

Kelas yang berikutnya kemungkinan menggunakan Googletalk saja. Nanti kita lihat keberhasilannya. Ini baru akan saya lakukan hari Senin malam. (Semoga listrik tidak mati. hi hi hi.)

Masalah pertama dalam kelas online semacam ini adalah adanya “keributan” di ruang kelas. Jika ada yang baru bergabung maka akan ada pesan muncul di layar. Ini mengganggu jalannya diskusi. Demikian pula kalau ada yang nyeletuk atau iseng komentar. Mungkin harus dibuatkan dua ruangan (conference room), satu hanya untuk sang dosen yang boleh bicara atau mahasiswa yang mendapatkan giliran, satu lagi untuk aktifitas kasak-kusuknya.

Masalah kedua adalah mengidentifikasi mahasiswa yang hadir. Nama (identitas) dari mahasiswa sering berbeda dengan nama mahasiswa yang bersangkutan. Misalnya kalau ada mahasiswa yang identitasnya adalah “ucings duduk” itu nama aslinya siapa? he he he. Ini nanti dikaitkan dengan daftar hadir. Ini pun menjadi persoalan sendiri. Apakah kehadiran di ruang chat ini dapat disamakan dengan kehadiran di kelas? Bisa tidak syarat 80% hadir juga termasuk hadir di dunia cyber?

Oh ya, saat ini saya sedang mencari aplikasi untuk share materi presentasi (power point). Saya ingin mahasiswa untuk melihat materi ini bersama-sama dengan syarat tambahan adalah mahasiswa tidak bisa melihat halaman berikutnya. Jadi kita harus melihat halaman yang sama bersamaan. Nah.


Banyak-banyakan Follower

Entah kenapa saya mendapat kesan banyak orang yang berusaha untuk mendapat banyak follower di akun twitternya. Kenapa? Untuk apa? Apakah kalau seseorang itu lebih banyak followernya berarti dia lebih populer? Lebih keren? Lebih apa gitu?

Di sisi bisnis memang saya melihat ada tren pemanfaatan twitter untuk promosi. Orang yang banyak followernya dianggap memiliki jumlah pemirsa yang banyak sehingga cocok untuk tempat beriklan. Apakah dalam hal ini follower dari twitter dapat dianggap sama dengan pengunjung blog?

Maka akibatnya ada orang-orang yang melakukan berbagai hal – termasuk yang nyerempet masalah etika – untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya follower. Anda juga mau / sudah melakukan hal tersebut?

Yang lucu itu begini:

Karena ingin banyak follower, maka seseorang dia  buat akun-akun palsu yang banyaaakkk sekali. Kemudian akun-akun palsu ini memfollow dirinya sendiri (akun aslinya). Hasilnya jumlah followernya jadi banyak. Horeee. Setelah banyak, dia kepikiran. Hmm… bagaimana kalau aku mengiklankan kepada followersnya sendiri. Maka mulailah dia mentwit iklan di akunnya. Harapannya followernya banyak yang beli produk yang diiklankannya.

Kemudian dia pas login ke akun-akun palsunya, kok banyak iklan yang menarik. Maka belilah dia produk-produk yang dia tawarkan itu. Dua-duanya happy. he he he. Betul kan?


Kebanyakan Email

Ini untuk kesekian kalinya saya menulis tentang kebanyakan email. Ya, saya memang kebanyakan email. Sudah direm-rem pun masih kebanjiran email.

Sering ada yang mengirimkan email tetapi belum sempat saya respon (misal, minta rekomendasi, bertanya tentang sesuatu, diskusi, dll.) karena saat ini sedang ada yang lebih urgen untuk ditangani. Setelah selesai menangani yang urgen, saya mencari email yang tadi. Eh, email-email tersebut sudah terdesak oleh email-email yang baru lagi, yang isinya kira-kira juga sama dan kepentingannya juga sama. Maka sulitlah saya menerapkan FIFO (first in, first out). Yang ada adalah random access. he he he.

Jadi, bagi Anda yang merasa sudah mengirim email (untuk sesuatu yang penting tentunya) tetapi belum saya balas, sekarang Anda tahu kenapa belum saya balas. Silahkan kirim email lagi. Tidak masalah kok.


Keamanan (Algoritma) Kriptografi

Kadang orang terlalu mengandalkan kepercayaan kepada algoritma kriptografi yang digunakan. Padahal algoritma tersebut masih bergantung kepada banyak hal lainnya, misalnya ada ketergantungan kepada random number generator. Selain itu kelemahan juga dapat berada pada protokol yang menggunakan algoritma tersebut. Dengan kata lain, algoritmanya sendiri boleh jadi bagus tetapi pemanfaatannya yang kurang tepat.

Sebagai contoh, berikut ini adalah berita mengenai dugaan adanya pelemahan algoritma buatan RSA. (Silahkan baca berita ini.) Dalam kasus ini yang dilemahkan bukan algoritmanya tetapi pemanfaatan dari random number generator. Nah.

Ambil contoh pemilihan kunci. Biasanya kita menggunakan random number generator untuk menghasilkan kunci yang berbeda dengan orang lain. Bayangkan kalau random number generator yang kita gunakan sudah dipermak sedemikian rupa sehingga ternyata kunci yang dihasilkan itu hanya berkisar antara sejumlah angka saja. Nah! Bagi penyerang ya dia tinggal mencoba sejumlah kunci tersebut, bukan dari semua kombinasi kunci yang mungkin. Kombinasi semua kunci ini biasanya sangat besar sekali sehingga tidak mungkin dilakukan (serangan secara brute force). Ini hanya sebuah contoh saja.

Intinya adalah algoritma yang bagus saja boleh jadi belum cukup untuk mengamankan sistem kita.


Semakin Banyak Belajar, Semakin Tahu Tidak Tahu

Beberapa hari terakhir ini saya ngoprek koding. Saya membuat sebuah program – lebih tepatnya kumpulan skrip – yang melakukan query ke twitter dan mengambil informasi mengenai user dan follower-nya. Sebuah twitter crawler. Awalnya skrip ini ditulis dalam bahasa Python oleh beberapa orang. Karena skripnya kadang crash tanpa saya ketahui di mana masalahnya, akhirnya saya tulis ulang idenya dalam bentuk Perl script. Saya lebih familier dengan Perl :)

Pada akhirnya saya memiliki beberapa skrip Perl, database dengan MongoDB dan flat file (Perl Tie::File), dan seterusnya. Singkatnya program berjalan sesuai dengan apa yang saya inginkan. Hanya saja sekarang bentuknya adalah skrip-skrip yang mengimplementasikan satu fungsi tertentu. Mereka bukan sebuah program yang monolitik. Komunikasi antar skrip ini melalui file. Tentu saja ini menjadi tidak efisien, tetapi bagusnya bisa saya debug di setiap tahap.

Proof of concept sudah jadi. Sekarang program ini seharusnya dibersihkan, yaitu ditulis ulang :)  Kemungkinan besar dia harus didesain dengan konsep distributed, bukan lagi dari satu program.

Selain itu ternyata ada beberapa kendala. Kendala utama adalah adanya batasan dari twitter untuk mengakses sistemnya. Ada batas jumlah akses per satuan waktu (rate limiting). Akibatnya jumlah query yang saya inginkan tidak tercapai. Terpikir oleh saya untuk melakukan query secara paralel. Artinya akses ke database pun harus dilakukan secara paralel. Hal yang terbayang oleh saya adalah menggunakan queue seperti rabbitmq. Yang ini mesti belajar lagi.

Tambahan lagi, saya melihat bahwa database MongoDB pun masih dapat diperbaiki lagi dengan graph database seperti Neo4j. Belum lagi saya melihat flockDB yang dikembangkan oleh Twitter. Artinya masih banyak hal yang harus dipelajari. Semakin banyak belajar, semakin tahu bahwa makin banyak lagi yang harus dipelajari. Wah.


Bersiap Diri Untuk Industri Kreatif

Jargon “industri kreatif” sudah banyak kita dengar dan bahkan sudah dibuatkan instansi formalnya. Artinya, kita diarahkan untuk menuju industri kreatif. Pertanyaannya adalah siapkah kita?

Jika kita berbicara tentang sebuah industri, yang terbayang oleh saya adalah skalanya yang besar. Jika pelakunya hanya belasan orang atau ratusan orang, mungkin belum bisa disebut industri ya? Bisnis ya, tapi industri mungkin bukan. Tentu saja ada definisi industri yang lebih tepat dari ini. Saya hanya mencoba menyoroti skalanya saja. Untuk memasok jumlah sumber daya manusia yang banyak ini bagaimana caranya?

Sekolah-sekolah yang ada saat ini tidak memberikan nafas “kreatif” dalam proses pendidikannya. (Maha)siswa diajarkan untuk memecahkan masalah sebagaimana pekerja pabrik menyalakan mesin; prosedural dan bahkan terkesan seperti robot. Materi pelajaran diajarkan seperti instruksi. Kemudian pemahamannya diujikan berdasarkan pertanyaan yang berbentuk pilihan berganda (multiple choice). Di mana letak kreatifnya ya? Mereka diajarkan untuk menjadi robot dan robot tidak kreatif.

Katakanlah kita sudah berhasil menghasilkan SDM yang kreatif. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita mengelola (to manage) mereka? Pengelolan SDM kreatif akan berbeda dengan SDM yang hanya mengikuti instruksi. Apakah para pekerja ini dibiarkan semuanya menjadi “artisan” yang tidak dapat diatur? Sulitlah mengembangkan bisnis – apalagi industri – jika tidak ada pengelolaan yang baik. Silahkan tanya rumah produksi atau software house untuk melihat betapa susahnya mengelola SDM kreatif. Nampaknya ini harus dipelajari dengan lebih serius.

Lantas ada masalah di sisi manusianya sendiri. Apakah ada jenjang karir dari pekerjaan yang kreatif ini? Apakah ada “kasta” orang kreatif? Bagaimana membina mereka agar terjadi pertumbuhan?

Masih ada banyak pertanyaan saya. Sementara ini saya cukupkan ini dulu saja. Melihat ini semua, saya kok masih ragu kita sanggup membuat sebuah industri kreatif. Hadoh.


Media dan Konten

Apa beda antara “media” dan “konten”? Berikut ini adalah sketsa yang ada di kepala saya.

content and media 1000

Media adalah wadah, wahana, tempat, cangkang. Konten adalah isi yang berada dalam wadah tersebut. Media dapat berbentuk berita, blog, media sosial (nah ini namanya saja sudah media) seperti twitter. Konten adalah tulisan, gambar, audio, dan video yang disampaikan dalam media tersebut.

Bagaimana menurut Anda? Apakah pemahaman saya ini sudah benar?


Masih Perlukah Kartu Nama Kertas?

Setiap ada acara pasti ada pertukaran kartu nama. Anda apakan kartu nama yang Anda terima?

Terus terang, untuk saya, kartu nama itu langsung masuk ke kotak – tidak saya buang – dan tidak pernah saya sentuh lagi. Idenya sih siapa tahu kalau nanti dibutuhkan bisa saya kontak lagi via kartu nama tersebut, tetapi pada kenyataannya seringkali orang sudah pindah perusahaan sehingga kartu nama tersebut menjadi tidak relevan lagi. Lagi pula saya terima sangat banyak kartu nama karena saya sering memberikan presentasi, ikut pertemuan / rapat ini dan itu. Dalam satu kali pertemuan mungkin dapat 20 kartu nama dan dalam satu minggu mungkin ada 2 kalai pertemuan. Jadi dalam satu bulan mungkin ada sekitar 100 kartu nama. Nah.

Jaman digital seperti ini mengapa kita tidak menggunakan kartu nama digital saja ya? Tinggal kita “tempelkan” handphone kita dengan handphone pihak lain untuk bertukar kartu nama. Semestinya tidak susahkan?

Saya sendiri saat ini jarang membawa kartu nama. Akhirnya yang sering dilakukan adalah tukar menukar nomor handphone dan alamat email pribadi (yang tidak terikat dengan perusahaan atau instansi). Cukup dengan itu saja.

Jadi, masih perlukah kartu nama kertas?


Sulitnya Mendapatkan Pelanggan

Salah satu masalah dalam mengembangkan sebuah produk baru adalah mendapatkan pelanggan. Kita boleh saja memiliki produk yang bagus – atau setidaknya setara dengan kompetitor – tetapi tetap saja sulit untuk mendapatkan pelanggan.

Sebagai contoh, saat ini ada beberapa rekan yang sedang mengembangkan Zohib.com; situs sosial yang mirip dengan facebook dan twitter. Salah satu keuntungan dari zohib adalah lokasinya yang di Indonesia sehingga semestinya lebih lancar aksesnya (dan di belakang layar, penggunaan bandwidth semestinya menjadi lebih murah).

Setelah cukup stabil sistem ini beroperasi, saya belum melihat banyak penggunanya. Memang belum ada upaya promosi yang besar-besaran, tetapi seharusnya tetap ada pertambahan pelanggan. Saat ini nampaknya agak lambat. Memang sangat susah untuk memindahkan pelanggan dari satu tempat ke tempat lain, yang sudah terlanjur pakai facebook dan twitter misalnya.

Di sisi lain, lebih enak ada sistem yang kecil-kecilan saja. Jadi kayak punya situs pribadi. hi hi hi.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.592 pengikut lainnya.