Perlukah Diatur Sampai Rinci?

Gegap gempita dunia media sosial membahas peraturan-peraturan pemerintah yang baru; tentang PNS, dilarang membuat acara di hotel, usulan sajian makanan untuk rapat (yang katanya disarankan singkong – memangnya salah gitu?), dan sampai ke jumlah undangan jika membuat acara kondangan. Tentu saja ada yang pro dan kontra dalam setiap aturan yang dibuat. Dalam diri saya sendiripun ada pro dan kontra. Hi hi hi.

Di satu sisi, saya mempertanyakan mengapa yang begini mesti diatur sih? Apakah manusia Indonesia memang harus diatur sampai se-rinci begitu? Okelah kalau urusannya terkait dengan perkantoran. Kalau urusan pribadi, kondangan misalnya, mengapa mesti diatur? Nah itu dia. Saya juga ikut bertanya-tanya.

Di sisi lain. Sekembalinya dari luar negeri, saya mengalami culture shock juga. Terbiasa dengan keteraturan di luar negeri, balik ke Indonesia rasanya banyak yang chaos. Lama kelamaan saya dapat mengerti bahwa ini adalah budaya Indonesia. Mengerti belum tentu setuju lho. Perbedaan budaya itu sulit untuk dikatakan baik dan buruknya. Satu kata yang dapat kita sepakati, yaitu “beda“. Jambu dengan ayam tentu saja berbeda. he he he.

Saya melihat Indonesia yang sekarang berbeda dengan Indonesia yang dahulu. Entah karena kehidupan yang keras, maka manusia Indonesia yang sekarang lebih kurang ber-empati dan lebih mementingkan dirinya sendiri. Sebagai contoh, di musim kering banyak daerah yang susah air. Ada saja orang yang nyuci mobil dengan selang air yang berlebihan. Ketika ditegur, dia tidak terima. Lah ini air-air saya sendiri dan saya juga bayar. Dia kehilangan empati. Dia tidak dapat melihat tetangganya yang kesulitan air. Hal serupa juga terjadi di tempat umum, seperti misalnya toilet umum. Air dibiarkan mengalir. Mentang-mentang dia bukan yang membayar, maka dia tidak peduli. Contoh lagi, makan yang tidak dihabiskan. Ngambil makanan banyak, tapi tidak dihabiskan. Seharusnya mengambil secukupnya saja. Banyak orang yang kesulitan makanan. Buang sampah suka-suka dia. Dan seterunya. Maka untuk hal-hal seperti ini, perlulah aturan. Terlihat aneh, tapi begitulah.

Aturan-aturan yang baru muncul ini terlihat seperti itu. Terlalu mengatur. Untuk kondisi saat ini, nampaknya memang perlu aturan-aturan seperti itu. Nanti kalau kita sudah lebih “sadar”, lebih berempati, maka aturan-aturan tersebut tidak diperlukan lagi.


Kegiatan Insan Music Store

Tadi pagi (Minggu, 7 Desember 2014), Insan Music Store hadir di Bandung Car Free Day. Kali ini suasananya agak mendung. Eh, ternyata malah ada *banyak* stand yang menampilkan senam sehingga sound systemnya saling bersahut-sahutan. Berisik. Namun kami juga akhirnya membuka stand juga.

IMG_6963 insan music store

Hari ini kami juga menandatangani kontrak dengan O2 (Observed Observer) di sana. Semoga kami bisa sukses bersama!

IMG_6969

Saya juga sempat berbincang-bicang dengan kang Yosef (lupa nama belakangnya atau institusinya). Kami ngobrol soal musik, kota Bandung, pendidikan, dan seterusnya. Kebetulan jenis musik yang kami sukai agak mirip-mirip. Dia juga banyak main musik, menjadi music director, producer, dan mengajar kesenian kepada banyak anak-anak. Karena kami juga berlatar belakang Bandung, jadi banyak hal juga yang nyambung. Mudah-mudahan ada kerjasama yang dapat kami lakukan.

Setiap minggu kami mendapatkan artis/band-band baru. Bagus bagus! Sabar ya. Satu persatu akan kami proses. Jreng!


Social Engineering

Tadi pagi saya memberikan presentasi tentang “social engineering” (rekayasa sosial). Apa itu seocial engineering?

Upaya-upaya atau kegiatan  membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam konteks keamanan informasi, social engineering ditujukan agar target membocorkan informasi rahasia (seperti misalnya password, PIN).

Target dari social engineering memang manusia. Ada tiga faktor dalam keamanan informasi; manusia, proses, dan teknologi. Aspek manusia seringkali merupakan aspek yang paling lemah dalam mata rantai pengamanan informasi,

Teknik-teknik yang digunakan dalam social engineering berbeda dengan teknik penyadapan data, misalnya. Untuk mengetahui password seseorang, kita dapat mengirimkan email yang mengatakan bahwa sistem email target sedang bermasalah sehingga target harus mengganti passwordnya. Ternyata banyak orang yang percaya terhadap email ini dan mengubah passwordnya sesuai dengan instruksi. Padahal instruksinya itu justru membocorkan passwordnya. Misalnya, target diminta untuk mengunjungi situs tertentu untuk mengubah passwodnya. Situs tertentu ini merupakan milik penyerang.

Cara lain yang juga dapat dilakukan adalah membuat berita-berita dengan topik yang sedang populer (trending topic). Target secara tidak sadar mengklik link tertentu yang mengantarkan mereka ke halaman yang berisi malware (malicious software). Tanpa mereka sadari, mereka memasang software trojan horse sehingga komputer mereka dapat dikendalikan dari jarak jauh,

Pencurian identitas (identity theft) juga merupakan salah satu teknik social engineering. Kalau di Indonesia, pencurian identitas ini banyak terjadi di Facebook. Apa yang dapat dilakukan setelah mendapatkan identitas seseorang? Yang lazim dilakukan penyerang adalah … meminta uang (berpura-pura ada yang sakit) atau meminta pulsa. hi hi hi.

Ada beberapa hal yang membuat manusia mudah diserang;

  • suka dipuji-puji – penyerang memulai dengan memuji-muji sehingga mendapat kepercayaan dari target;
  • sopan / sungkan / tidak tega / tidak ingin menyakiti orang – dimanfaatkan oleh penyerang yang tidak tahu malu dan mengeksploitasi “kelemahan” ini;
  • takut kepada atasan (authority) – penyarang berpura-pura jadi atasan (atau pihak yang berwenang) dan memberi instruksi tertentu.

Haus Tulisan Positif

Jika tulisan-tulisan positif yang ada di status facebook atau twitter dituliskan (disimpan) dalam blog, mungkin akan menjadi menarik. Akan ada lebih banyak lagi tulisan-tulisan yang positif.

Ngeblog juga tidak harus panjang-panjang. Satu atau dua kalimat saja juga sudah cukup. Bahkan kalau saya lihat di medium.com, model tulisannya malah yang pendek-pendek. Jadi tidak ada alasan bagi Anda untuk tidak menulis.

Satu hal yang menarik. Kalau di blog, kebanyakan tulisannya itu positif-positif, tetapi kalau di status facebook kenapa banyak yang negatif ya? hi hi hi.

Kalau judul tulisannya adalah “haus”, maka fotonya judulnya adalah “lapar”. Gak nyambung. Biar!

IMG_6943 snickers


Menjuri Di APICTA 2014

Beberapa hari ini saya menghilang dari blog karena super sibuk menjadi juri di APICTA 2014 yang diselenggarakan di Jakarta. Menjuri. he he he. Dari hari Kamis sampai Minggu, kami dikurung di hotel Harris Suite di FX.

IMG_6874 judgeSebetulnya ceritanya ada banyak, tetapi saya belum sempat menuliskannya dan sudah keburu banyak tugas lain yang harus diselesaikan. Ini juga baru sampai di kampus ITB, langsung dari stasiun kereta api.

Pada APICTA kali ini saya melihat kemajuan yang pesat dari peserta lain, misalnya dari Pakistan. Bagus-bagus. Sementara itu, yang dari Indonesia tertinggal cukup lumayan. Yang paling tertinggal adalah teknik presentasi dan bahasa Inggris dari peserta-peserta Indonesia. Peserta negara lain dengan percaya diri memberikan presentasinya. Para juri menjadi paham apa yang mereka sampaikan dan tentunya memberi nilai dengan baik. (Meskipun ada juga yang nilainya sangat buruk walaupun presentasinya baik. Kalau produknya buruk, ya tetap saja hasilnya buruk.)

Kembali ke soal teknik presentasi, nampaknya ini harus diajarkan kepada mahasiswa ya? Saya sebetulnya tanya ke coach (pelatih) dari tim Indonesia. Kata mereka, sebetulnya peserta Indonesia sudah di-coach, tetapi banyak yang tidak mau nurut kepada para coach itu rupanya. hi hi hi.

Lain kali lebih baik.

Oh btw, banyak peserta dan judge yang bilang saya judge yang menyenangkan karena selalu tersenyum dan murah nilai. hi hi hi

One more thing. Yang menarik dari acara APICTA adalah di acara pemberian award-nya, BandIT tampil. Jreng!


Super Macet

Baru kali ini saya melihat kemacetan Jakarta dari gedung tingkat tinggi. Ini jam 5 sore, haru Jum’at. Menyambut Friday night.

IMG_6879 macet 1000Sampai pukul 18:00 ternyata kemacetan bukannya menjadi berkurang tetapi malah menjadi semakin parah. Kami harus pergi dari FX Plasa ke tempat latihan band di ruko Permata Senayan, yang seharusnya tidak jauh dari situ.

Macetnya luar biasa sehingga taksi tidak ada. Jangankan taksi, ojek pun tidak ada. Hadoh. Akhirnya kami putuskan untuk jalan kaki. Mungkin ada 2 km kami berjalan kaki. Kalau tadi menunggu ojek atau bahkan taksi, boleh jadi kami masih harus menunggu dua jam lagi.

Tadi ketemu tamu yang berasal dari Brunei. Dia bilang, dia tidak mengerti ini. Memang di Brunei tidak ada kemacetan sih.

Setelah latihan band, kami kembali lagi ke FX plasa. Eh, jalan masih ramai juga. Ini sudah mendekati tengah malam. Di beberapa titik masih ada keramaian. Padat, tapi jalan. Sampai di FX, masih ramai juga. Oh ya, saya baru ingin ini Jum’at malam. Busyet. Inilah Jakarta.


Menjadi Juri APICTA Lagi

Dalam dua (atau tiga) hari ke depan saya bakalan disibukkan dengan tugas untuk menjadi juri di APICTA, Asia Pacific ICT Award. Acara ini merupakan lomba karya ICT di berbagai bidang untuk orang-orang di lingkungan Asia Pacific. Tahun lalu acara ini digelar di Brunei.

Ada beberapa kategori yang dilombakan dan dengan peserta yang bervariasi (ada dari pendidikan, penelitian, sampai ke startup). Lengkapnya saya tidak ingat. hi hi hi. Nanti sambil jalan saya perbaharui tulisan ini dengan daftarnya. Saya sendiri menjadi juri di dua bidang.

Nah, sekarang saya mau membaca manual untuk para juri dahulu. Iya, ada manualnya. hi hi hi.

Doakan agar acaranya lancar ya … jreng! Lho kok jreng?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.935 pengikut lainnya.