Sang Pecundang

Pecudang! Loser! Ingin kuteriakkan kata-kata itu kepadamu. Engkau belagak seperti seorang pemenang, padahal sesungguhnya engkau sudah kalah telak. Bahkan sebelum memasuki gelanggangpun aku sudah tahu engkau bakalan kalah. Namun aku tak ingin mendahului kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa untuk mengatakan bahwa engkau akan kalah.

Kalah atau menang itu tidak masalah. Itu hanya merupakan sebuah permainan belaka. You win some, you lose some. Namun bagaimana kau menyikapi kekalahan atau kemenangan itulah yang utama. Pecudang itu lebih tepat untuk diterapkan kepada sikap itu.

Pecudang! Loser! Tak jadi kata-kata itu kuteriakkan kepadamu. Rasa kasihan muncul melebihi rasa amarah. Aku kasihan melihat dirimu yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya engkau itu memang sudah kalah tetapi engkau merasa seharusnya engkau menang. Seharusnya? Justru memang engkau seharusnya kalah. Logika dan perasaan hati pun, keduanya, mengatakan engkau memang belum saatnya untuk memenangkan pertandingan tadi. Maka aku kasihan kepadamu karena engkau belum dapat menerima itu.


Internet Cepat Untuk Apa

Ini masih tentang topik “internet cepat untuk apa“. Ada banyak orang yang memang tidak membutuhkan internet cepat. Bagi mereka internet memang hanya untuk bersosial saja; chatting dan mungkin berkirim foto. Bagi sebagian orang lain, internet dibutuhkan untuk kegiatan yang lebih produktif. Sebagian dari ini membutuhkan internet cepat.

Semalam saya nonton video kuliah dari Walter Lewin, seorang profesor (emeritus) dari MIT. Beliau mengajar Fisika dengan sangat menarik. Keren sekali. Silahkan lihat videonya di sini.

Nah saya coba download videonya dengan kualitas yang bagus (MP3, 720p). Ternyata ukurannya hampir 1 GB. Nah lho. Silahkan download ini dengan menggunakan koneksi GPRS atau EDGE. he he he. Saya download supaya dapat ditonton di kelas tanpa menggunakan internet (yang biasanya lambat). Juga agar supaya dapat di-copy oleh mahasiswa yang internetnya lelet.

Videonya menarik sekali. Kuliah memang harus seperti itu ya? Saya angkat topi atas dedikasi, komitmen, dan passion dari pak Walter Lewin ini. Untuk menyiapkan satu kuliah saja dia melakukan latihan (dry run) berkali-kali. Wedasss. Menjura.

Ini hanya salah satu contoh mengapa kami membutuhkan internet cepat. Bagi Anda, internet cepat untuk apa?


Kreatif Karena Kepepet

Bagaimana seseorang menemukan sesuatu yang baru atau melakukan inovasi? Salah satunya adalah dia kreatif dalam mencari solusi atas permasalahan yang dia hadapi. Ada orang yang menghindari masalah, tetapi ada juga orang yang menghadapi masalah. Nah, orang yang menghadapi masalah harus kreatif dalam mencari solusi. Kalau solusinya mudah, mungkin namanya juga masalah ya? he he he. Dan kalau tidak ada masalah, mungkin dia juga tidak kreatif.

Ini yang namanya kreatif karena kepepet. Tidak masalah. Yang penting, kreatif. hi hi hi.


Diam Bukan Pilihan (Lagi)

Seperti sudah saya katakan sebelumnya, urusan saya dengan pilpres selesai setelah saya nyoblos tanggal 9 Juli 2014 yang lalu. Saya kembali ke habitat saya. Banyak yang masih pro kontra, saya tidak ikutan. Berita, tulisan, video, apa saja yang saling mencela saya lewatkan saja. Lama kelamaan capek juga melihatnya. Nampaknya saat ini saya harus mengutarakan kekesalan saya karena nampaknya ini masih berkepanjangan. Diam bukan pilihan lagi. Sudah! Cukup!

Saya merasa partisipasi saya dalam pemilu kemarin seperti tidak dihargai. Puluhan juta orang seperti saya statusnya. Dianggap tidak ada. Seperti ada pihak-pihak yang memaksakan kehendak untuk terus merongrong proses pemilihan umum ini sehingga berkepanjangan. Masalahnya, kondisi saling mencela, mengejek, mengolok-olok ini masih terus berlangsung. Tidakkah kita sadar bahwa hal ini menimbulkan banyak keburukan (mudharat) dari pada manfaat?

Sudahlah! Cukup! Kami sudah muak dengan ini semua.


Koleksi Karya Ilmiah Mahasiswa

Setelah mahasiswa bimbingan lulus, saya meminta versi digital dari tugas akhir / thesis / disertasi – karya ilmiah – dari mahasiswa tersebut. Tujuannya adalah agar penelitian dari mahasiswa tersebut dapat diteruskan oleh mahasiswa selanjutnya. Mahasiswa penerus ini perlu membaca karya ilmiah dari mahasiswa yang sudah lulus tersebut.

Karya ilmiah tersebut – biasanya dalam format PDF – saya simpan secara pribadi di komputer saya. Ada juga sebagian yang saya simpan dalam akun Dropbox saya. Sayangnya akun dropbox saya hampir penuh. Saya juga menyimpan dalam web site pribadi saya.

Nah, saya kira ada banyak dosen-dosen lain yang melakukan hal yang sama (mengumpulkan karya mahasiswa bimbingannya). Kalau ini dilakukan secara masing-masing (ad hoc) menjadi tidak efisien. Nampaknya ada kebutuhan layanan penyimpanan dokumen ini secara besar-besaran. Sebuah database karya ilmiah mahasiswa Indonesia.

Ada dampak negatifnya, yaitu akan memudahkan plagiat. Orang yang jahat akan dapat melakukan copy-and-paste karya ilmiah tersebut. Untuk itu harus dibuatkan tools untuk menguji apakah karya ilmiah mahasiswa baru ini sudah ada atau mirip dengan karya-karya yang ada di dalam database ini. (Ini membutuhkan software baru. Ayo para pengembang software, silahkan buat ini.)

Berkas juga mungkin dapat dibuat dalam format image (djvu) sehingga tidak terlalu mudah untuk di-copy-and-paste. Atau ini kekhawatiran yang berlebihan?

Apakah ini dapat menjadi potensi sebuah start-up baru? Nah, silahkan.


Kopi

Ini jenis minuman yang sudah banyak dibahas di banyak tempat. Ada yang membahasnya secara serius, akademik, scientific. Ada juga yang menjadikannya sebagai subyek cerita fiksi. Potret tentang kopipun sangat banyak. Tulisan ini hanya menambahkan satu torehan saja. Tidak mengapa.

IMG_5478 tous les jours coffee 1000

Saya tidak ingat sejak kapan saya mulai menyukai kopi, dalam artian mengonsumi dengan jumlah yang banyak. Mungkin ketika saya sedang menyelesaikan S2 atau S3. Tidak ingat tepatnya, tetapi mungkin sekitar itu.

Apa yang menyebabkan saya memulai minum kopi juga tidak ingat. Rasanya awalnya adalah agar saya bisa tetap terjaga di pagi hari dan di (tengah) malam hari, mencoba menyelesaikan penelitian. Saya masih ingat pagi-pagi sekali harus mengambil kuliah matematika sehingga saya dan dua kawan bergantian membeli kopi (dan donat) untuk menghidupkan kita di kelas. Di tempat penelitian disediakan kopi gratis – bahkan gourmet coffee – meski harus menyeduh sendiri. Ya, masa-masa itulah saya mula merasa membutuhkan kopi.

Saya bukan maniak kopi, tetapi penikmat kopi biasa saja. Tidak hebat-hebat amat. Namun, alhamdulillah, saya mendapat banyak teman yang penggila kopi. Jadinya saya sering mendapat kopi yang enak-enak (meski enak menurut mereka kadang terlalu pahit bagi saya).

Sayangnya katanya saya tidak boleh banyak-banyak minum kopi. Asam urat. Waaah. Sedikit sih tidak apa-apa ya? Selain itu perut saya sering bermasalah dengan kopi. Jadi kopi yang saya minum tidak bisa sembarangan. Ada beberapa jenis kopi instan yang terlalu tajam untuk lambung saya. Kopi yang mahalpun belum tentu cocok. Nah lho. Ya cocok-cocokan sajalah.

Mari … sruuupuuuttt …


10000 foto

Baru saja saya memasang foto saya di beberapa media sosial. Ada beberapa sistem yang memberikan informasi mengenai jumlah foto yang sudah saya pasang. Di salah satu media, saya baru memasang sekitar 700-an foto. Sementara di tempat lain dugaan saya mungkin sudah ada lebih sedikit dari 1000 foto.

Salah satu pakem yang saya anut adalah untuk menjadi seorang pakar (expert) di sebuah bidang, maka dia harus berlatih selama setidaknya 10 tahun. Atau kalau coba cocok-cocokkan, ini setara dengan 10000 kali berlatih. Jadi, untuk menjadi jagoan memotret setidaknya saya harus pernah memotret 10 ribu kali. Nah lho.

Sebetulnya jika saya lihat counter (penomoran) nama berkas di kamera saya, sekarang dia sudah menunjukkan lebih dari 5000. Artinya, saya sudah menjepret lebih dari 5000 kali. Namun dari 5000 jepretan itu (atau malah lebih), hanya 1000 yang saya pasang. Artinya foto yang bagus itu hanya kurang dari 1/5-nya. Untuk satu foto yang bagus dibutuhkan setidaknya 5 jepretan. Wah, nampaknya saya masih perlu belajar lagi sehingga semua jepretan menghasilkan foto yang bagus.

Untungnya dengan teknologi yang ada saat ini, satu jepretan hanya satu berkas di memori. Tidak suka? Tinggal hapus. Tidak ada biaya. Kalau dulu, sekali jepret hasil direkam dalam film dan tidak dapat dihapuskan demikian saja. Setiap jepretan ada biayanya. Maka dari itu fotografer-fotografer jaman dahulu tidak sembarang jepret. Semuanya harus dipikir masak-masak. Maka dari itu hasilnya lebih bagus-bagus. Mungkin :)

Nah, sekarang saya akan lebih banyak memotret dan lebih hati-hati dalam memotret. Target: 10000 foto bagus!

IMG_5475 tous les jours 1000


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.726 pengikut lainnya.