Memilih Topik Start-up

Salah satu pertanyaan yang sering saya terima adalah memilih topik (ide) start-up. Bagaimana memilihnya? Atau apakah start-up saya ini memiliki potensi? Jawaban saya adalah pilih topik yang sangat dekat dengan kita, yang memecahkan masalah kita. Dearest to our heart. Sesuatu yang kita pikirkan siang dan malam. Contohnya tadi ada yang konsultasi tentang produk untuk ngecek lemak susu sapi, maka pertanyaan saya adalah mengapa dia mengambil ide itu. Apakah keluarganya punya banyak sapi? Atau bagaimana? Bahwa sesuatu itu baik belum tentu jadi alasan untuk menjadikannya start-up.

Jika sesuatu itu memang merupakan masalah kita, maka mau dibayar atau tidak, kita tetap akan mencari solusi untuk masalah kita. Kebetulan solusi itu kita jadikan start-up. Begitu.


Apakah Perlu Inkubator Bisnis?

Ini saya baru pulang dari reception untuk para pembicara dan undangan dari luar negeri di acara Innovation Festival Asia yan diselenggarakan oleh NUS (National University Singapore). Acaranya makan malam dan networking, ngobrol cari teman baru. Salah satu pertanyaan yang bolak-balik muncul adalah apakah saya dari sebuah inkubator bisnis (startup)? Saya jawab tidak. Saya kemudian berpikir, apakah sebetulnya inkubator bisnis itu diperlukan?

Inkubator bisnis itu mengambil analogi inkubator untuk bayi. Ada bayi yang begitu lahir harus dimasukkan ke inkubator dahulu karena satu dan lain hal. Inkubator ini memperbesar peluang mereka untuk menghadapi dunia yang baru mereka masuki. Hal yang sama juga terjadi untuk bisnis. Ada bisnis yang harus melalui inkubator. Namun kita lupa bahwa sebetulnya kita berharap bahwa bayi-bayi yang lahir itu tidak harus melalui inkubator. Inkubator itu hanya kasus khusus saja. Bukan yang umum.

Saya mendapati ada kecenderungan startup ingin melalui proses masuk inkubator bisnis. Kalau kita lihat analoginya dengan bayi, kita tentunya tidak ingin bayi kita melalui proses inkubator jika memang tidak harus. Bukankah begitu? Mengapa kalau urusan bisnis kita justru ingin masuk ke inkubator? Aneh saja.


Inovasi Dari Indonesia?

Diskusi (atau mungkin lebih tepatnya debat kusir) yang sedang ramai kali ini adalah masalah politik. Bosen ah. Lebih baik kita diskusi topik lain saja. Saya mau mengangkat topik inovasi. Mumpung lusa saya akan berbicara tentang hal ini.

Pertanyaan saya adalah “apa ada inovasi yang muncul dari Indonesia?”.

Sebagai contoh, saya melihat beberapa “inovasi” yang terkait dengan start up di Indonesia lebih ke arah menjiplak yang sudah ada. Misalnya ada yang membuat sesuatu yang mirip Facebook, Twitter, Groupon, dan seterusnya. Saya belum melihat sesuatu yang betul-betul baru. Inovasi. Ada contoh?

Yang kedua, mengapa inovasi pada jaman sekarang banyak datang dari Amerika? Padahal orang-orang yang cerdas banyak di Asia. Apakah ini terkait dengan cara pendidikan di Asia? Atau faktor lain? Lingkungan? Alam? Budaya? Agama? Atau apa ya?


Refleksi Pileg 2014

Ini merupakan catatan saya terhadap pileg 2014. Saya bukan pelaku politik. Bahkan pengamat yang cermatpun bukan. Jadi ini hanya sekedar catatan pribadi yang mungkin menarik bagi sebagian orang. Apa yang saya tuliskan tentunya menjadi sangat subyektif. Sah-sah saja jika Anda tidak sependapat.

Yang pertama dahulu. Banyak orang yang menginginkan Jokowi menjadi presiden tetapi tidak ingin memilih PDIP sebagai partai pilihannya. Ini merupakan hal yang sulit. Bagaimana kalau golput (tidak memilih partai) dan PDIP tidak mendapatkan suara yang cukup sehingga tidak dapat mengajukan Jokowi? Atau lebih parah lagi memilih partai lain dan kemudian partai lain ini mengusuk calon presiden yang tidak kita inginkan. Maka banyak orang yang  terpaksa memilih PDIP. Dugaan saya sih lebih banyak yang golput untuk urusan ini.

Coba saja partai lain mengajukan Jokowi sebagai capresnya, saya menduga akan banyak suara yang mengalir ke mereka. Eh, malah partai lain tersebut mengajukan calon yang mboten-mboten. hi hi hi. Coba saja PBB, PKB, atau PPP mengajukan – atau bahkan sekedar mengindikasikan – Jokowi jadi calon presiden mereka, mungkin mereka mendapat tambahan suara dari orang yang ingin Jokowi tapi tidak PDIP.

Hal kedua, banyak simpatisan PKS yang nampaknya sekarang tidak menjadi simpatisan lagi. Mereka saya duga memilih untuk menjadi golput atau memilih partai Islam lainnya, mungkin ke PKB. Jangankan untuk menjadi juara, untuk mengalahkan Golkar saja tidak bisa. hi hi hi. Jangankan Golkar, yang lainnya juga tidak bisa.

Saya melihat PKS menjadi kurang simpatik, terlalu arogan dan eksklusif. Sebagai contoh, mereka merasa bakal mendapatkan suara sangat banyak. Padahal sudah diberitahu oleh simpatisannya bahwa mereka tidak memilih PKS lagi. Ada perbedaan antara memiliki target dan arogan. hi hi hi. PKS memang sedang kena gempur berbagai kasus. Sebetulnya kalau saja mereka mengakui kekurangan dan kesalahan yang ada dan melakukan perubahan dan berjanji tidak lagi, bukannya mencari-cari alasan atau pembenaran, maka simpatisan akan memaafkan mereka. Dan akan memilih mereka lagi. Para simpatisan ini tahu bahwa banyak orang PKS yang baik-baik dan sungguh-sungguh. Hanya saja di jajaran atasannya yang parah. Masih ada kesempatan bagi PKS untuk memperbaiki dan mendapatkan dukungan dari rakyat.

Selesai pileg. Sekarang pilpres, menurut saya sudah mudah. Saya tidak perlu sebutkan capresnya, kan? :)


Memilih Prioritas Kegiatan

Saya super sibuk dan banyak orang yang tidak percaya dengan itu. Percayalah. hi hi hi. Yang menjadi masalah bagi saya adalah memilih kegiatan / aktifitas mana yang harus saya kerjakan. Sebagai contoh, dalam satu hari ada beberapa kegiatan yang saling berebut; mengajar (kuliah) di ITB, bimbingan mahasiswa, permintaan presentasi di Jakarta, permintaan presentasi oleh mahasiswa oleh sebuah kampus di Jawa Timur, shooting video untuk kelas online, latihan band, dan pertemuan dengan calon klien perusahaan. Dalam seminggu, mungkin ada tiga hari seperti itu. hi hi hi.

Algoritma saya adalah membuat prioritas, tetapi inipun masih belum ada rumus bakunya. Yang pertama saya lakukan adalah menghapus yang tidak kritis dan tidak penting amat. Misalnya kalau ada permintaan muncul di TV, maka itu yang saya coret dulu. hi hi hi. Kemudian kalau ada yang dapat ditunda ke hari lain, minggu lain, bulan depan, maka itu diturunkan prioritasnya. Misalnya untuk sekedar diskusi dengan klien dapat saya tunda. Baru kemudian yang harus dilakukan pada saat itu juga ditambah prioritasnya. Misalnya kelas (yang sudah beberapa kali ditinggalkan) harus diadakan karena sulit bagi mahasiswa untuk sering-sering membuat skedul. Ini yang seringkali membuat prioritas mengajar menjadi paling atas. Kelas pun kadang (tidak sering) saya tunda karena ada seminar yang memang harus dilaksanakannya hari itu juga atau sidang mahasiswa yang memang harinya sudah tidak dapat diganti lagi.

Begitulah … p u y e n g


Teknologi Saham

Akhir-akhir ini saya berusaha banyak belajar tentang pemanfaatan teknologi informasi dalam urusan jual beli saham. Ternyata menarik juga. Banyak hal baru yang saya pelajari. Hal yang membuat saya menarik adalah pemanfaatan IT ini ternyata masih boleh dibilang “baru” juga. Mungkin sekitar akhir tahun 90-an (awal 2000-an) penggunaan IT ini baru mulai terlihat signifikan.

Yang juga menarik untuk saya adalah aspek kebaharuan yang muncul, seperti misalnya ada yang namanya algorithmic trading dan high frequency trading (HFT). Komputer digunakan secara ekstensif untuk memutuskan kapan jual dan beli saham. Karena ini dilakukan oleh komputer, dia dapat dilakukan secara otomatis tanpa interferensi manusia dan dalam kecepatan yang sangat tinggi. Hal-hal tersebut tidak dapat terjadi tanpa adanya teknologi informasi. Bagi yang tidak menggunakan teknologi informasi ada kemungkinan akan tertinggal.

Keuntungan yang mungkin tinggi ini dibarengi dengan risiko yang tinggi. High risk, high gain. Nah, bagaimana caranya membuat risiko sekecil mungkin. Itu adalah salah satu hal yang perlu diperhatikan. Maklum, kacamata saya adalah aspek keamanannya (security).


Ketika Spek Komputer Tidak Ditemukan

Penjaga toko komputer: Mau cari apa, pak?

Saya: Notebook, prosesor i5, RAM 4 GB. (Dalam hati saya berpikir bahwa spesifikasi komputer seperti ini semestinya mudah tersedia. Sebetulnya kebutuhannya sih prosesor i7 atau Xeon, memory minimal 8 GB dan desktop.)

Penjaga: Adanya netbook dengan prosesor Atom dan memori 256 MB, pak. Mau?

Saya: Wah nggak cukup itu.

Penjaga: Memangnya untuk apa pak kok sampai tidak cukup?

Saya: Untuk main Dota 2. (Padahal sebetulnya komputer itu akan digunakan untuk memproses data yang banyak, big data, dengan Javascript, Node.js, dan lain-lain yang membutuhkan komputasi cukup besar di komputer. Tapi nanti kalau disebutkan alasan sesungguhnya, sang penjaga mungkin gak ngeh.)

Penjaga: Adanya hanya netbook pak

Saya: Memangnya bisa dipake untuk keperluan saya?

Penjaga (ragi-ragu): Bisa pak, tapi harus penuh dengan kesabaran.

Saya: Wah mendingan main tetris saja kali ya? (Ngeloyor pergi.)

Kalau Anda, apakah Anda akan beli juga itu netbook? Cerita ini dapat juga dianalogikan dengan keberadaan partai politik dan calegnya. Mereka masih netbook dengan prosesor Atom.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.597 pengikut lainnya.