Mencari Pola Kerja Lagi

Kok akhir-akhir ini pola kerja saya berubah lagi. Waktu untuk membaca dan berkontemplasi menjadi tidak ada. Padahal untuk menambah ilmu harus ada waktu untuk membaca. Waktu saya ternyata banyak habis untuk menyelesaikan berbagai hal yang sifatnya harus dikerjakan sekarang juga (alias urgen). Contohnya, hari-hari ini banyak memberikan bimbingan kepada mahasiswa yang batas waktu perkuliahannya sudah hampir habis.

Sampai di rumah juga saya sudah sedemikian lelahnya sehingga sulit untuk menyisihkan waktu untuk membaca tadi. Menulis blog ini juga terpaksa dilakukan menjelang tengah malam. Ugh. Nampaknya saya masih harus menemukan pola kerja yang lebih baik.


Ford SYNC2

Salah satu teknologi yang ditunjukkan pada kunjungan kami ke Ford Design Centre di Melbourne, Australia, beberapa waktu yang lalu adalah SYNC2. SYNC2 adalah teknologi in-car connectivity system, yang pada intinya adalah sistem untuk membantu mengelola berbagai informasi dengan lebih nyaman (dan aman).

Otak dari SYNC2 adalah sebuah perangkat yang biasanya menempati posisi car stereo di mobil kita. Ada layar 8 inci yang dilengkapi dengan touch screen untuk mengendalikan radio, handphone, temperatur, dan penunjuk jalan (peta, arah, dll.). Selain bisa dikomando dengan menggunakan touch screen itu, SYNC2 juga dapat menerima perintah melalui voice. Ketika kita mengemudikan kendaraan, kita bisa memerintahkan SYNC2 untuk menghidupkan radio dan memilih radio yang kita sukai. Atau dia juga dapat digunakan untuk menelepon seseorang, yang dalam hal ini SYNC2 berkomunikasi dengan handphone kita melalui bluetooth.

Tempat pengembangan ini dilakukan di sebuah rangka mobil yang lengkap (tapi tanpa mesin). Jadi kita bisa duduk di kursi pengemudi, nyetir, terus memberi komando ke SYNC2. Keren juga.

IMGP0132 sync2 1000

IMGP0133 sync2 1000

IMGP0134 sync2 1000

Ada yang mengatakan (siapa ya? apa Aris) bahwa orang Indonesia sering kesulitan dimengerti oleh voice recognition system jika mengatakan “zero”, “two”, … (lupa lagi). Mari kita coba. hi hi hi. Ternyata ketika salah satu dari kami mengatakan “two” memangĀ  agak kesulitan dimengerti oleh sistem. hi hi hi.

IMGP0136 sync2 indra 1000

[Indra dari dapurpacu.com mencoba SYNC2]

Semoga bermanfaat.


Kapan Memberikan Brosur?

[Seri tulisan entrepreneurship]

Ceritanya begini. Anda sering melihat orang-orang membagikan brosur yang menawarkan produk atau layanan, bukan? Saya juga. Kadang kita sebal karena orang yang menawarkan brosur tersebut tampak maksa. Padahal kita tidak tertarik. Nah, saya akan memberikan pandangan dari sisi lain – dari sisi yang memberikan brosur tersebut.

Selebaran brosur itu bermanfaat untuk memberikan informasi kepada (calon) pelanggan mengenai produk atau layanan kita. Seringkali orang malu atau enggan bertanya. Mereka hanya melihat tulisan atau banner tetapi masih banyak pertanyaan. Sayangnya mereka sungkan untuk bertanya. Nah, untuk orang-orang seperti ini brosur sangat tepat.

Memberikan brosur kepada orang yang tidak memerlukan merupakan hal yang tidak efektif. Selain itu, brosur yang terbuang ini akan menjadi sampah dan tidak ramah lingkungan. Pegawai kadang diberikan target untuk memberikan brosur. Mereka tidak peduli tepat atau tidaknya. Yang penting brosur habis. Ini yang salah. Uang untuk brosur jadi tidak manfaat.

Mengenai kepada siapa brosur tersebut diberikan ternyata tidak mudah. Seperti tadi pagi, di acara Bandung Car Free Day, kami membuka lapak Insan Music Store. Kami juga membagi-bagikan brosur tetapi selektif kepada orang yang kelihatan berminat saja. Menentukan orang yang berminat ini yang susah. Jadi, saya melihat orang-orang yang lewat. Kalau mereka membaca banner kami dengan waktu yang cukup lama dan kelihatan tertarik barulah saya mendekat dan membagikan brosur. Kebanyakan orang hanya melengos saja. (Ini juga mungkin karena sulitnya penempatan banner kami. Di masa yang akan datang, enaknya kami membawa layar komputer yang besar dan biar mereka melihat sendiri saja. Ini lebih menarik.) Akibat pendekatan ini brosur tidak banyak yang kami bagikan, tetapi nampaknya efektif. Itu yang penting.

Next time: bawa genset + layar besar + sound system. Eh, ini mah buat panggung sendiri saja ya? hi hi hi.


Tulisan Yang Tidak Selesai

Memiliki tulisan yang tidak selesai – eh, belum selesai – mungkin bukan masalah saya sendiri tetapi masalah umum bagi penulis. Apa yang dilakukan oleh para penulis terkenal dalam menghadapi hal ini ya?

Saya sih mengabaikannya. Kalau tidak selesai, ya tidak selesai. Hilang. Poof. Dissapear. Kalau memang tulisan itu layak untuk tayang, dia akan muncul kembali. Bahwa dia akan hadir melalui jemari saya atau orang lain, itu persoalan lain. Itu masalah keberuntungan saja. Itu masalah perang ego.

Yang membuat saya kesal adalah saya merasa potongan tulisan – atau bahkan sekedar potongan ide – luar biasa bagusnya. Bukan hanya sekedar pantas untuk dibagi, tetapi *harus* dibagi. Hanya saja dalam bentuknya yang potongan tersebut maknanya masih belum terkumpul secara sempurna. Ide yang ada di kepala saya tidak sampai kepada pembaca. Eh, bukankah itu hal yang bagus juga? Interpretasi yang berbeda merupakan hal yang menarik juga.

[contoh potongan prosa; unfinished poem?]


people are afraid of fading away

but, fading away we must

[soundtrack: Camel - Long Goodbyes ...]


Teknologi Informasi Itu Liar!

Kemarin, saya mengajar kuliah pengantar teknologi informasi (introduction to information and communication technology). Yang diajarkan adalah prinsip-prinsip dasar teknologi informasi dan pemanfaatannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengapa ini perlu diajarkan? Menurut saya salah satu alasannya adalah karena teknologi informasi itu liar! Wild!

Bagi Anda yang mengikuti berita terakhir di dunia internet mungkin mengetahui kasus Florence Sihombing. Bagi yang belum, singkatnya begini. Florence menuliskan kata-kata di status Path-nya yang dianggap menghina orang-orang Jogja. Tidak saja dia kemudian di-bully di media sosial, tetapi juga ada yang kemudian mengadukannya ke Polisi sehingga dia sempat mampir di bui. Lepas dari pro dan kontranya, ini adalah salah satu contoh liarnya pemanfaatan teknologi informasi.

Bayangkan begini. Bagi Anda yang punya anak kecil, katakanlah yang masih SD, beranikah Anda melepas anak Anda di jalan tol dengan motor sendirian? Bayangkan, di jalan tol, banyak kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. Sementara anak Anda baru saja mendapatkan motornya satu atau dua hari yang lalu. Seram bukan?

Penggunakan teknologi informasi – misalnya, internet – juga begitu. Anda berikan handphone atau komputer kepada anak Anda dan Anda lepas anak Anda tersebut di internet tanpa pengawasan (pada awalnya). Seram! Salah-salah, tidak hanya sekedar di-bully tetapi bisa masuk bui juga. Hadoh! Maka dari itu pengetahuan tentang teknologi informasi dan pemanfaatannya yang baik dan benar perlu diajarkan.


Strategi Upload Foto

Sebetulnya mau disebut strategi tidak terlalu cocok. Mungkin lebih cocoknya adalah cara (dan kesulitan) saya dalam melakukan upload foto ke media sosial di internet.

Biasanya kumpulan potretan saya agak banyak dan tidak semua layak untuk dipasang di internet. Misalnya, kemarin waktu ke Australia ada banyak foto yang saya ambil. Mereka harus diedit dulu – dikecilkan ukurannya (saya menggunakan standar lebar 1000 pixel) dengan cara resize atau crop (jika ada bagian yang harus dibuang), dan ditambahkan efek (diterangkan atau digelapkan dan diberi vignetting) – baru kemudian di-upload. Ini semua membutuhkan waktu. Akibatnya foto yang datang lebih cepat daripada foto yang sudah terupload.

Repotnya kalau upload foto dengan urutan yang seadanya maka flow dan mood di social media jadi kacau. Upload foto makanan, perjalanan, terus tiba-tiba disela foto bunga, terus kembali lagi ke perjalanan, terus makanan. mBingungi. Jadinya saya terpaksa bertahan dengan upload foto sesuai dengan urutannya. Jadi saja terlambat update foto-fotonya.

DSC_4347 kembang api 1000

[kembang api di rock show God Bless semalam (30 Agustus 2013)]

IMG_5921 coffee 1000

[kopi pagi ini]

Mungkin ini karena strategi yang saya lakukan salah juga. Kebanyakan maunya kali ya? ha ha ha. Biar saja ah. Saya nyaman dengan cara seperti ini.


Jadi Bahan Guyonan

Semenjak nama saya muncul di “seleksi calon menteri”, maka jadilah saya bahan guyonan. Ketika ada yang memperkenalkan saya, misal di kelas atau di acara pertemuan, selalu dibumbuhi dengan “ini dia calon menkominfo”. Ya ampuuunnn …

Saya hanya bisa meringis saja. hi hi hi. *meringis* … aing mah euy … :D


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.764 pengikut lainnya.