Terus Berlari

aku berlari …
dan terus berlari

jika aku berhenti
penat akan datang
mendapati diriku
menghentikan diriku

aku harus terus berlari …


Cocok-cocokan Sepatu

Sepatu futsal saya sudah mulai tipis. Entah sudah berapa tahun umur sepatu ini. Akhirnya beberapa minggu yang lalu (dua bulan yang lalu?) saya membeli sepatu futsal yang baru. Kali ini saya beli yang bagusan merek Puma. Harganya pun lebih mahal dari sepatu sebelumnya.

Setelah saya beli saya belum sempat pakai secara ekstensif karena dipake anak saya. hi hi hi. Dua minggu yang lalu sempat saya coba sepatu ini. Enak juga pakainya, tetapi setelah selesai main futsal baru kerasa telapak kaki sakit karena ada blister (kapalan?). Hmm… nampaknya sepatu ini kurang cocok ya? Saya akan coba nanti. Atau saya harus beli sepatu lagi yang model lama?

Sepatu-sepatu futsal saya sebelumnya – mungkin sudah 3 set yang saya gunakan sampai rusak, maklum saya sudah main futsal cukup lama – adalah dari merek Diadora. Saya cocok dengan sepatu dari Diadora karena desainnya yang cocok dengan kaki saya dan harganya termasuk murah. Hanya memang dari segi desain dia tidak se-nge-jreng sepatu-sepatu lain. Dia ya seperti sepatu biasa saja. Tidak ada yang aneh. Mungkin ini juga yang membuat harganya tidak mahal, yang mana ini sebetulnya bagus untuk kantong saya. hi hi hi. Nampaknya saya harus beli sepatu Diadora lagi. (Alasan untuk beli sepatu futsal lagi.)

Sepatu memang cocok-cocokan. Harga mahal tidak jadi jaminan cocok.


Akademik vs. Populer

Saat ini saya menugaskan mahasiswa untuk membuat makalah sebagai bagian dari penilaian kuliah keamanan informasi (information security). Saya meminta mahasiswa untuk membuat makalah yang akademik, bukan artikel populer. Resminya sih namanya technical report. Ternyata mahasiswa banyak yang bingung karena belum mengerti maksudnya artikel yang akademik. Maklum mereka mungkin belum pernah menulis makalah untuk seminar atau jurnal.

Ukuran tingkat kesulitan dari makalah tersebut kira-kira begini. Tulisan tersebut kalau dikirimkan ke majalah – bahkan majalah komputerpun – akan dianggap terlalu teknis dan tidak ada pembacanya. Tulisan akan ditolak editor. Sementara itu kalau makalah dikirimkan ke jurnal akan dianggap terlalu rendah (tidak ada kebaharuan).

Makalah juga tidak boleh menjelaskan secara normatif. Kalimat di bawah ini kurang kena (seperti politisi saja – hi hi hi):

Penggunaan kartu kredit memiliki risiko sehingga pengamanan harus dilakukan dengan baik.

Jika kalimat di atas hanya digunakan sebagai kalimat pembuka tentu saja boleh, tetapi kalau pembahasannya hanya sebatas itu maka tidak boleh. Kurang teknis. Kurang akademik. Pembahasan yang saya maksud misalnya adalah menggunakan kriptografi sehingga brute force attack terhadap passwordnya membutuhkan 2^299 kombinasi. Something like that … Adanya persamaan matematik juga dapat menunjukkan ke-akademik-annya. hi hi hji.

Tentu saja maksud saya bukan membuat makalah menjadi lebih pelik dengan menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti. Banyak orang yang melakukan hal ini dengan tujuan untuk membingungkan. Bingung = akademik? Salah. Ini juga akan mengurangi penilaian karena sisi kejelasan (clarity) akan mendapatkan nilai kecil.

Tulisan ini jelas tidak akademik. Ini masuk ke kategori tulisan populer.


Pendidik < Buruh

Kemarin ramai sekali dibicarakan tentang Hari Buruh. Hari ini, Hari Pendidikan, sepi-sepi saja. Saya yakin sebagian besar orang Indonesia lupa. Ingatkah Anda?

Pertanyaan selanjutnya adalah memang ada apa dengan hari pendidikan? Ya memang tidak ada apa-apa. Sepi-sepi saja. Demikianlah potret yang ada.

Di sisi lain saya menangkap kesan bahwa pendidik (guru, dosen, …) ternyata menganggap dirinya juga sebagai buruh. Mungkin sebentara lagi juga akan ada tuntutan kenaikan gaji. he he he. Dan ndilalah, ada cuplikan pembicaraan di radio yang saya dengarkan dalam perjalanan menuju kampus. Sang pembicara – saya tidak tahu siapa dia karena mendengarkannya di tengah-tengah – mengatakan bahwa ruh pendidikan sudah hilang dari para pendidik. Yang dipikirkannya adalah imbalannya. Padahal sebanyak apapun gaji atau imbalan yang diperoleh pasti tidak cukup. Nah …

Saya pikir memang kita tidak perlu menafikkan atau mengharamkan uang. Bukan itu poinnya. Yang menjadi masalah adalah kalau itu menjadi hal yang utama sehingga menjadi pikiran terus. Nah itu masalah.

Dipikir-pikir nampaknya pendidik < buruh?


Terserah …

Terserah. Sak karepmu (Jawa). Kumaha dinya wae (Sunda) …

Begitulah kira-kira perasaan saya terhadap apa-apa yang dilakukan pemerintahan saat ini. Keputusan-keputusan yang diambil oleh pemerintah tidak jelas, plin plan, dan … ya begitulah (karena saya kehabisan kata-kata).

Tak ada leadership sama sekali. Tikus berlari ke sana kemari. Mencuri. Sementara itu kucingnya seperti Garfield, yang memilih untuk tidur atau makan pizza atau lasagna. Tak berguna. Anjingnya, ya seperti Odie. Bloon. Sementara itu kita harus memelihara mereka. Ya, supaya ada-adaan ajalah. eaaahhh …

Kali ini tulisan blog saya berbau negatif tapi dikemas dengan cengengesan. hi hi hi.


Tidak Logis

Salah satu hal yang sering membuat saya kesal adalah kalau orang membuat keputusan yang tidak logis, tidak runut, tidak masuk akal. Mungkin ini gara-gara latar belakang engineering saya sehingga semuanya harus logis.

Saya tidak dapat mengatakan bahwa jumlah pengguna internet Indonesia ada sekitar 20% tanpa ada data yang jelas. Saya tidak boleh mengatakan bahwa itu “menurut saya”. Suka-suka saya. Tidak bisa.

Baru saja saya ngomel melihat orang membuat pernyataan “10 situs web terpopuler (menurut xyz)”. Pasalnya ada banyak situs web yang lebih populer dari yang ada di daftar tersebut. Mengapa mereka tidak dimasukkan? Saya tanyakan bagaimana metodologinya, data setnya, dan hal-hal yang terkait. Jawabannya tidak memuaskan. Intinya adalah ya itu menurut saya (xyz). Ini bagi saya tidak masuk akal dan cenderung menyesatkan.

Mahasiswa memberikan presentasi tentang tugas akhir | thesis | disertasi. Saya tanyakan bagaimana dia yakin bahwa sistem yang dia buat itu berfungsi (sesuai dengan spesifikasinya). Jawabannya sering tidak masuk akal. Ya dicoba saja. He he he. Dicoba itu harus jelas. Data masukan (input) yang diberikan itu apa? Keluarannya seperti apa? Dilakukan berapa kali? dan seterusnya. Lagi-lagi tidak logis.

Berdiskusi tentang sebuah rancangan regulasi yang akan dikeluarkan pemerintah. Ada beberapa hal yang saya tanyakan; mengapa ada pasal | ayat ini dan itu. Membuat regulasi itu tidak asal-asalan. Jangan memalukan. Untungnya teman-teman mengakomodasi hal ini. Saya sering lihat ada banyak keputusan pemerintah (atau pimpinan) yang nggak logis. Bahkan di lingkungan perguruan tinggipun kadang ada hal-hal yang tidak logis. Bikin kesel aja.

Oleh sebab maka dari itu … kalau membuat sesuatu, buat yang logis ya. Kalau tidak, nanti saya kritik. hi hi hi.


Di sudut sana

Di sudut sana
Kulihat kau terduduk di atas sajadah
Air mata membahasahi mukenah yang dikenakannya
Berdoa

Di atas tanas kering ini
Aku berdiri
Kuangkat tangan mengamini doamu, ibu
Amiiinnn

Kuikatkan tali sepatu boots yang terlepas
Kadang engkau mengikatkan tali ini
Kuangkat ransel dan rapatkan jaket
Melangkah


(sementara itu, di balik pepohonan)
Sepasang mata memandangi sang pemuda
Air mata membasai jaket yang dikenakannya
Menyeka air mata


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.077 pengikut lainnya.