Memilih

rexgreymon tegas pilih2

ketika harus memilih …


Tidak Boleh Berhenti (Untuk Berbuat Baik)

Aku lelah
Ketika ku mencoba berbuat baik
Olok-olok yang kudapat

Aku ingin berhenti
Untuk berbuat baik

(namun)
Ketika ku lihat orang itu
Tidak lelah berbuat baik
Meski olok-olok yang dia dapat

Aku malu berhenti
Untuk berbuat baik

Aku tidak boleh berhenti
Untuk berbuat baik


Alasan Tidak Ngeblog, Ketiduran

Beberapa hari ini saya tidak berhasil ngeblog. Alasannya baru lagi, yaitu ketiduran. he he he. Sungguh. Sebetulnya ketidurannya itu merupakan akibat dari kelelahan. Sebagai contoh, hari Rabu kemarin saya harus bolak balik Bandung Jakarta. Berangkat dari Bandung pukul 3:30 pagi dan kembali dari Jakarta sore hari (tapi sampainya malam hari karena macet di jalan tol Cipularang). Sampai di rumah sudah tidak sanggup ngeblog.

Sebetulnya ada waktu untuk ngeblog tetapi waktunya kurang pas. Misalnya, pas saya terbangun lewat tengah malam – pukul 1 pagi – sebetulnya saya bisa ngeblog. Hanya saja saya sudah tidak mood untuk menulis. Kalaupun saya ngeblog, bisa-bisa saya tidak tertidur sampai pagi dan paginya malah tidak bisa kerja. Dilema. Akhirnya tidak ngeblog.

Waktu-waktu ke depan seharusnya kesibukan berkurang, tetapi seperti yang sudah-sudah ternyata tetap saja sibuk. Ya sudah. Semoga bisa mencari celah waktu untuk ngeblog sehingga target saya untuk ngeblog tiap hari tidak meleset terlalu jauh.


Adakah Orang Baik?

Konon, kita ini termasuk ke kategori distrust society. Maksudnya kita ini senengnya curiga. Curiga dulu baru setelah terbukti, percaya. Kalau di tempat lain, katakanlah di daerah Amerika Utara, mereka percaya kepada orang. Bahwa orang itu pada dasarnya baik, kecuali terbukti jahat.

Tadinya saya pikir kita ini bangsa yang ramah dan percaya kepada orang lain. Entah kapan kita menjadi berubah. Penyebabnya juga apa ya? Mungkin karena kita terlalu banyak ditipu sehingga kita menjadi begini?

Pertanyaan “adakah orang baik” di Indonesia ini mungkin dulu akan saya jawab, ada tapi susah. Jarang. Atau bahkan, tidak! Itu dulu ketika saya curigaan. Setelah di luar negeri saya melihat bahwa pada dasarnya justru orang itu baik. Saya berbalik. Kembali ke Indonesia pada awalnya saya juga ragu. Eh, tetapi ternyata saya menemukan orang-orang baik di Indonesia. Orang-orang yang “gila” (atau waras ya?) karena mau berbuat baik. Ada orang yang menggelontorkan uangnya untuk kepentingan komunitas. Dan hebatnya, ini ternyata tidak tergantung kepada kekayaan yang bersangkutan. Kaya atau miskin ternyata tetap saja ada orang yang gila bener baiknya. Akhirnya saya memilih untuk mendekat dengan orang-orang seperti ini.

Repotnya, sebagian besar orang Indonesia tidak percaya adanya orang yang baik. Belum apa-apa yang muncul adalah tuduhan ini dan itu. Yang paling sering sih tuduhan pencitraan. he he he. Dari mana kita tahu itu beneran atau bukan? Ya kita harus berinteraksi dengan yang bersangkutan untuk jangka waktu yang lama. he he he.

Untuk mengubah mind set dari banyak orang memang tidak mudah. Dibutuhkan keteguhan – atau kegilaan? – untuk menyadari bahwa ada orang baik di Indonesia ini. Mereka adalah orang yang berkarya membuat perubahaan meskipun diolok-olok. They keep my hope alive. And they make me want to be a better person.


Berbagi Kegembiraan

Kalau Anda perhatikan, di halaman media sosial saya (facebook dan twitter), kadang saya menampilkan tulisan / gambar / berita tentang copras-capres. Dalam hal ini saya tidak bermaksud untuk mengubah pendapat orang agar memilih sesuai dengan pilihan saya. Saya berpendapat bahwa setiap orang sudah punya pilihannya masing-masing. Nah, mengapa menuliskan status tentang salah satu capres? Apa tujuannya?

Tujuannya, bagi saya, ada berbagi kegembiraan. Sharing happiness. Berbagi kebahagiaan. Tentu saja ini sangat subyektif, akan tetapi ada hal yang penting yaitu tidak mungkin saya berbagi kebahagiaan kalau apa yang saya tulis berisi hal-hal yang menjelek-jelekkan orang lain. Bahagiakah Anda jika Anda mengolok-olok orang lain? Gembirakah Anda jika Anda menghina orang lain? Memfitnah? Bagi saya, tidak!

Maka daripada oleh sebab itu … hi hi hi … saya menahan diri untuk meneruskan (forward) berita-berita yang negatif. Kadang ada hal-hal “lucu” yang saya baca, tetapi itu tidak lucu bagi orang yang bersangkutan karena berisi olok-olok atau penghinaan. Maka saya tidak berminat untuk meneruskannya. Stop. Itu bukan berbagi kegembiraan.

Yang susah adalah meneruskan tulisan yang kritis. Ini sebetulnya masih oke, tetapi perlu hati-hati karena kadang ditanggapi dengan negatif (jika dibaca terlalu cepat dan tidak dipahami). Pertimbangan bahwa tulisan ini kritis harus dilakukan dengan masak-masak. Pikir ulang. Are you happy with it? Would others be happy with it?

Demokrasi seharusnya merupakan perayaan, maka marilah kita rayakan dengan kegembiraan bersama. Ini adalah PERAYAAN BERSAMA. It’s our celebration.


Mau?

IMG_5214 kerang 1000

IMG_5209 MG coffee 1000


Komentar Itu Mudah, Berkarya Itu Susah

Hal yang paling menyolok dari media sosial saat ini adalah banyaknya komentar, copy-paste berita, retweet, dan sejenisnya. Yang membuat tulisan / foto / video sendiri itu jarang. Pelajaran apa yang dapat ditarik dari fenomena ini? Ya seperti judul dari tulisan ini.

Membuat komentar itu mudah.
Berkarya itu susah.

Mengurutkan dua huruf sudah jadi komentar; “wk wk wk” atau “hi hi hi”. Mungkin kalau kita ketikkan dua huruf secara random-pun dapat menjadi komentar yang sah.

Saya khawatir kalau kebiasaan tidak berkarya ini diteruskan dia akan menjadi kebudayaan. Budaya tidak kreatif. Padahal katanya kita sudah masuk ke era ekonomi kreatif. Kalau kita tidak kreatif, kita bakalan dibantai lagi secara ekonomi. Penjajahan 3.0.

Untuk menjadi kreatif modalnya tidak susah kok. Murah. Hanya sekedar mengkhayal. Eh, jangan-jangan untuk sekedar mengkhayalpun kita tidak sanggup. Hadoh. Pingsan saya …


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.697 pengikut lainnya.