Mengapa Golput?

Bagaimana mungkin saya memilih partai (dan caleg) dalam pemilihan umum caleg minggu depan ini?

  1. Untuk memilih nomor urutan caleg ini ditentukan oleh partai. Mau menentukan diri sendiri saja di dalam partainya sendiri saja sudah tidak bisa. Apakah yang seperti ini sanggup mengurusi negara? (Itulah sebabnya saya juga tidak menuruti anjuran untuk memilih caleg bukan urutan teratas.)
  2. Semua partai memiliki masalah internal yang luar biasa banyaknya. Untuk membenahi partainya sendiri saja sudah tidak bisa, apalagi mau mengurusi negara. Partai ini merongrong calegnya. Jeratan partai ini sulit dilawan.
  3. Caleg yang terlihat baik, setelah menduduki kursi belum tentu tetap menjadi baik. Kursi (jabatan) mengubah orang. Sebagian besar orang yang saya lihat berubah begitu menduduki jabatan / kursi. Tujuan mereka menjadi bagaimana mempertahankan kursi tersebut (dengan berbagai alasan dan pembenaran). Mereka lupa dari mana mereka berasal. Mereka lupa kepada kita-kita rakya biasa. Saya melihat ini di berbagai tempat. Di perguruan tinggi, baru jadi ketuaj jurusan sudah berubah. Padahal belum jadi dekan, jadi wakil rektor, jadi rektor. Apa lagi kalau nanti naik jenjang. Di perusahaan, baru jadi manager sudah petantang petenteng (belum jadi direktur, direktur utama). Di pemerintahan juga begitu, baru jadi direktur sudah berubah tidak kenal. Belum jadi dirjen, menteri. Dan seterusnya. Maka dari itu kita perlu apresiasi orang-orang yang tidak berubah sifatnya, kesederhanaannya setelah dia menjabat.

Ini semua membutuhkan leadership yang tidak saya lihat dari para caleg. Partai akan berkuasa atas mereka. Maka dari itu, saya memilih untuk golput saja di pemilihan caleg ini.

 


Jual Beli Musik Digital

Setelah vakum (2 tahun?) saya akan mulai jual beli musik digital (MP3) lagi. Aplikasi sistem pengelolaan jual beli musik digital ini sudah siap dan hari Minggu ini akan kita cobakan di tempat Bandung Car Free Day. Bagi Anda (band, pemusik, dll.) yang telah memiliki lagu-lagu dalam format MP3 dan siap dijualkan, silahkan hadir di sana.

Insan Musik FAQ


Aplikasi Buatan Indonesia

Baru saja saya membaca berita ini, “Facebook dkk. Sedot Rp 19 triliun dari Indonesia“. Dikatakan bahwa Indonesia seharusnya membuat aplikasi seperti facebook dan kawan-kawan itu. Apakah jika sudah memiliki aplikasi buatan sendiri maka pengguna Facebook, Twitter, akan turun? Jawabannya adalah TIDAK.

Saat ini sudah banyak aplikasi serupa. Lihat saja Zohib yang punya aplikasi percobaan mirip – bahkan terlalu mirip – dengan facebook dan twitter. Penggunanya? Tidak banyak. Mengapa demikian? Ada banyak alasan. Contoh lain yang buatan Indonesia juga adalah Mindtalk. Yang ini penggunanya sudah lumayan banyak.

Pertama, sudah terlalu banyak teman dan keluarga kita di Facebook. Tidak mudah pindah dari sebuah layanan ke layanan lain. Namanya juga media sosial. Aspek sosialnya yang kental. Di mana yang lebih banyak kerumunannya maka di situlah orang semakin tertarik untuk bergabung.

Mendapatkan pengguna juga tidak mudah. Biaya marketing untuk mendapatkan pengguna itu tidak mudah. Apalagi kalau diinginkan pengguna yang menetap (sticky), bukan yang hanya sekedar daftar kemudian tidak pernah berkunjung lagi. Inilah sebabnya WhatsApp dibeli mahal, karena jumlah penggunanya banyak.

Kedua, orang Indonesia kelihatannya lebih menyukai buatan luar negeri daripada buatan Indonesia sendiri. Padahal ada banyak produk dan layanan yang buatan Indonesia jauh lebih baik kualitasnya. Mungkin kalau buatan Indonesia kurang keren ya? Ayo cintai buatan Indonesia. Yang ini masih merupakan pekerjaan rumah kita bersama.

Ketiga, penyedia layanan Indonesia sering kurang baik dalam melayani pelanggannya. Lambat, kurang responsif, defensif, dan hal-hal yang negatif lainnya. Padahal semestinya kita dapat memberikan layanan yang terbaik untuk pelanggan kita sendiri.

Jadi bagaimana? Masih mau pakai buatan Indonesia? Atau apakah memang perlu menggunakan buatan Indonesia? Atau mungkin kita tidak peduli? Selama kita bisa bayar, biarin saja. Mau buatan Indonesia atau luar negeri kek. Kan saya yang bayar. Hadoh.


Materi Presentasi Diperiksa Dahulu

Salah satu pekerjaan saya adalah memberikan presentasi. Mungkin malah ini pekerjaan utama saya. hi hi hi. Umumnya saya sangat bebas dalam memberikan presentasi, tetapi ada beberapa klien yang kadang minta draft materi presentasinya dahulu. Biasanya yang gini adalah perusahaan besar. Mungkin untuk memastikan materinya cocok? Atau tidak percaya kepada kemampuan pembicara untuk memberikan topik tersebut? Mungkin mereka pernah terkecoh sebelumnya? Atau bagaimana?

Bagi saya sebetulnya hal ini merupakan hal yang agak sulit. Pertama karena saya harus membuat materi jauh hari sebelum hari h-nya. Padahal kebiasaan saya adalah membuat materi mepet sebelum hari h-nya. hi hi hi. I work better under pressure. Kalaupun materi dibuat jauh hari, pas mendekati hari h-nya saya ubah lagi. hi hi hi.

Hal kedua, ada beberapa hal yang ingin saya buat suprise pada presentasinya. Kalau ini sudah disampaikan sebelumnya, ya tidak menarik lagi. Atau bagian ini mungkin tidak perlu saya tampilkan dalam versi draft-nya ya?

Sekarang sedang membuat materi presentasi. ihik.


Menulis Itu Tidak Mudah

Baru saja saya menulis sebuah email. Tidak panjang. Ternyata habis waktu hampir 30 menit untuk menuliskan email tersebut. Padahal sebelumnya saya sudah memiliki catatan poin-poin yang ingin saya sampaikan dalam email tersebut. Kebayang kalau belum ada.

Mengapa bisa lama? Ada waktu untuk menuliskan kalimat, kemudian diubah kembali karena kalimatnya kurang cocok. Ada kalimat yang membuat orang tersinggung. Ada kalimat yang terlalu njlimet sehingga orang sulit untuk memahaminya. Atau ada juga kalimat yang kurang menggigit tetapi saya tidak tahu lagi harus diapakan. Dan seterusnya. Ini belum termasuk mencari kata yang pas. Yang ini sih saya sudah tahu jawabannya, sulit menemukan kata yang pas. Akhirnya saya tetap berjalan dengan kata yang seadanya – itulah sebabnya kumpulan kata saya tidak maju-maju. Tapi itu cerita lain.

Itu baru menulis email saja sudah kelimpungan. Bagaimana mau menulis yang lebih panjang, seperti menulis novel. Hi hi hi. Sudah terbayang banyaknya waktu yang dibutuhkan. Belum lagi memikirkan plot dan emosi yang ingin dibawa. Menulis data saja sudah susah. Apalagi menulis cerita. Tapi kalau memang mau menulis bagaimana lagi? Dilakukan saja ya.

Menulis itu memang tidak mudah. Ternyata.

Eh, tapi ini jangan dijadikan alasan untuk tidak menulis atau ngeblog. ha ha ha.


Gagal Ngeblog

Ini untuk kesekian kalinya saya gagal ngeblog. Alasannya masih klasik, tidak ada waktu dan agak kurang sehat.

Hari Senin kemarin saya harus ke Jakarta. Mengingat itu hari Senin maka saya barus berangkat super pagi. Bangun sebelum pukul 3 pagi hari dan mengendarai kendaraan sendiri pukul 3:30 pagi. Singkat cerita, di Jakarta penuh dengan acara dan kembali malam harinya. Sampai di rumah sekitar pukul 23 malam hari. 20 jam non-stop. Tidak mungkin ngeblog.

Gara-gara capek hari Senin, hari Selasanya saya kurang enak badan. Padahal hari itu saya harus mengajar dua kelas dan kemudian dilanjutkan dengan pertemuan dengan orang Jepang yang ingin membuka perusahaan di Bandung. Maka Selasa pun saya sudah tidak sanggup lagi untuk ngeblog.

Rabu saya sudah agak sehat. Namun hari Rabu saya harus recover dari dua hari kemarinnya. Setelah mengajar, meeting, bimbingan mahasiswa saya punya waktu untuk futsal. Saya butuh futsal untuk menjaga kesehatan. Lepas futsal sudah malam dan juga tidak ada waktu lagi untuk ngeblog. Duh.

Maka Kamis pagi ini saya baru sempat membuka internet untuk ngeblog. Topik yang ingin di tulis sudah dicorat-coret di kertas yang ada di tas. Belum sempat menulis yang lebih serius dari sekedar curhatan ini. hi hi hi.


Valuasi Perusahaan IT

Baru-baru ini banyak orang terperangah ketika Facebook membeli WhatsApp dengan nilai yang fantastis. Yang menarik adalah WhatsApp adalah layanan yang belum menghasilkan revenue besar. Penghasilannya dari mana? Bagaimana menilai perusahaan (layanan) seperti WhatsApp ini? Mulailah muncul spekulasi dan teori. Saya akan menawarkan pemahaman saya.

Salah satu upaya perusahaan untuk mendapatkan pelanggan (customer) adalah melakukan marketing. Ada biaya untuk melakukan itu. Ada “cost of acquiring customer“. Berapa besarnya ini? Ini masih menjadi perdebatan. Katakanlah biayanya adalah US$20 (atau ada yang mengatakan boleh jadi US$50), maka nilai sebuah layanan adalah jumlah pelanggan dikalikan dengan biaya tersebut. Jadi katakanlah saya punya sebuah layanan dengan 100 juta pelanggan, maka sebetulnya perusahaan saya memiliki nilai US$ 2 milyar. Ini kalau dilihat dari kacamata mendapatkan pelanggan.

Cara menilai seperti ini tentunya masih belum dapat diterima oleh semua pihak. Jumlah pelanggan tidak selalu berkorelasi dengan sales, revenue. Tentu saja. Dia baru dapat dikatakan sebagai potensi. Namun ini sudah menjadi sebuah value. Bahkan ada yang mengatakan bahwa “user is the new currency”. Nah.

Ada cara pandang lain mengenai valuasi dari perusahaan IT, tetapi itu untuk topik tulisan lain kali ya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.594 pengikut lainnya.