Tag Archives: bandung

Budaya Buang Sampah Sembarangan

Di Bandung, ada upaya untuk mengajari memungut sampah. Walikota Bandung, pak Ridwan Kamil, secara berkala di media sosial dan di dunia nyata mengajak masyarakat untuk memungut sampah. Menurut saya ini merupakan hal yang penting karena mengubah budaya tidak dapat terjadi secara instan. Upaya untuk mengubah ini harus dilakukan terus menerus. Salah satunya adalah harus diucapkan, ditampilkan, dan di-brain-wash. Ini butuh kesabaran.

Yang masih perlu juga adalah upaya untuk mengubah budaya buang sampahnya. Kalau membuangnya sudah benar, tidak perlu memungut. Buanglah sampah pada tempatnya. Bukan di selokan ya … he he he. Soalnya saya pernah nanya ke anak-anak (SD) di dekat rumah saya – “dimana buang sampah?” – jawabannya adalah … “di selokan”. Hadoh. Pingsan … Mereka harus diajari bahwa sampah harus dibuang di tempat sampah.


Perlakuan Tidak Adil Mizone di Bandung Car Free Day

Seperti biasa, hari Minggu kami bersiap-siap untuk buka lapak toko kami di Bandung Car Free Day. Tempat kami di depan bank Muamalat, dekat dengan SMAN1.

Namun pagi ini ternyata kami tidak boleh berada di tempat tersebut oleh seseorang dari Mizone. Saya tanya kenapa. Katanya akan ada acara senam di depan SMAN1 Bandung dan pak Walikota Bandung, Ridwan Kamil – atau dikenal juga dengan nama Kang Emil, akan datang mengikuti senam yang mereka adakan itu.

Karena tidak mau ribut dan menghargai kang Emil, saya mengalah dan memasang banner kami jauh dari jalan. Saya kemudian menanyakan kepada rekan-rekan apakah benar memang kang Emil mau datang ke acara itu? Hasil ngobrol-ngobrol dengan teman-teman di Bandung Smart City Forum, ternyata kang Emil tidak ada acara ke sana. Nah lho. Jadi panitia ini mencatut nama Kang Emil? (Oh ya, pencatutan nama kang Emil ini sudah saya laporkan ke lapor.ukp.go.id)

Yang saya tidak terima adalah mengapa Mizone (sebagai perusahaan besar) mengusir para pedagang kecil (yang protes ke saya; ada penjual juice, minuman, dll.) dari tempat itu. Sementara mereka sendiri berjualan produk mereka??? Apakah ini adil? Mereka juga mengambil seluruh bagian jalan Dago yang menuju ke atas (di depan SMAN1) untuk acara mereka. Di mana letak keberpihakan kepada usaha kecil? Saya sendiri yang menjalankan usaha kreatif ikut terusir.

Ini gambar seorang petugas (entah dari mana) yang melarang pedagang masuk ke daerah di depan SMAN 1. Tadinya mau saya tanya dia dari mana dan mana surat tugasnya.

IMG_6319 body guard 1000

Saya bersabar saja dan tidak mau bikin ribut. Mosok saya harus bilang bahwa saya ini calon menteri – yang menolak. ha ha ha. Atau saya bilang bahwa saya adalah wakil ketua Bandung Smart City? Atau pakai atribut-atribut lain? Di sana, saya memakai topi saya sebagai orang kecil – agar saya dapat merasakan bagaimana sesungguhnya menjadi orang kecil. (Blusukan incognito?)

Akhirnya saya duduk di pinggir jalan dan melakukan marketing seperti biasa. Sementara itu pedagang lain tidak berani dan mereka menjauh atau malah gagal membuka lapak. Salah seorang bahkan mengeluhkan bahwa dia tidak dapat berjualan hari itu. Terusir. Dia berkata harusnya dia mendapat kompensasi. Saya dapat merasakan kegundahannya.

[biasanya di sebelah kami ada lapak bapak yang jualan mainan binatang dari plastik / karet seperti ini, tetapi tadi tidak ada. entah dia pindah ke mana.]

IMG_5985 lapak 1000

Seharusnya tidak apa-apa para pedagang kecil itu ikut berjualan di tempat biasanya. Toh ini namanya berbagi bersama. Tidak ada hak perusahaan besar lebih besar dari hak pedagang kecil. Itu tidak adil. Mengapa harus over acting seperti ini. (Jika ada rekan-rekan yang kenal dengan pimpinan Mizone, tolong beritahu ya. Tegur panitianya / korlap acaranya.)

Sebagai seseorang yang tadinya penggemar Mizone, saya sekarang berhenti beli Mizone ah.

Update: Tadi sore (22 Oktober 2014), organizer acara (dari Jakarta dan partnernya yang di Bandung) dan saya bertemu. Kami membahas mengenai kasus ini. Seharusnya memang ada sosialisasi terhadap para penjual yang berada di area tersebut 2 minggu dan 1 minggu sebelum acaranya. Kemudian ada kompensasi bagi pedagang yang ada di situ. Hal ini nampaknya kurang tereksekusi dengan sempurna. Hal lain, saya mengusulkan agar di kesempatan lain mereka tidak melakukan pemisahan diri dengan masyarakat (pedagang) lainnya. Toh para pedagang ini bukan kompetitor dari mereka dan juga tidak mengganggu. (Contoh: di depan hotel Regency juga ada acara senam bersama tanpa perlu mengalienasi pedagang lainnya.) Perlu dipikirkan lagi setingannya. Di tempat lain, yang luas, mungkin bisa dibuat pembatasan tetapi di Bandung CFD tidak bisa karena menghabiskan jalan, membuat choke point, serta membuat pemisahan. Harus dapat berbagi dengan para pedagangan lainnya. Ini adalah tempat bersama. Begitu.


Bandung Kota Cerdas?

Kemarin sore kami mengadakan pertemuan rutin terkait dengan program “Bandung Smart City”, Bandung Kota Cerdas. Ada banyak sekali hal-hal yang harus dilakukan. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah tentang persepsi orang terhadap kota Bandung.

Kalau menurut Anda, kota Bandung itu kota apa ya? Misalnya, kota Bandung itu mengingatkan Anda tentang apa? Fashion? Kuliner? Pendidikan? Atau apa ya? Apakah menurut Anda, Bandung itu kota cerdas? (Dengan definisi cerdas yang bebas.)

Kalau menurut Anda, kota-kota di Indonesia yang dapat disebut kota cerdas juga apa ya?


Karakteristik Bandung Car Free Day

Hari ini untuk kedua kalinya kami buka lapak toko musik digital kami (Insan Music Store) di Bandung Car Free Day (CFD). Tujuannya masih seperti sebelumnya, yaitu untuk memperkenalkan layanan kami. To test the market, sort of speak.

Saya melihat bahwa tujuan mayoritas dari pengunjung CFD adalah untuk berjalan-jalan. Berolahraga sambil rileks dengan keluarga atau teman. Tadinya saya pikir kebanyakan adalah duduk nongkrong beli ini dan itu. Ternyata mereka tidak membeli. Mereka berjalan. Saya perhatikan yang jualan minuman di samping stand kami tidak berhasil menjual minumannya. Sebetulnya terjual tetapi nampaknya tidak seperti yang dia harapkan. Di depannya, jualan es lilin, demikian pula. Samping kanan jauh, jualan otak-otak juga demikian. Ada yang beli tetapi tidak banyak.

Untungnya tujuan kami berada di sana bukan – belum – untuk berjualan tetapi justru untuk mendapatkan lagu-lagu dari artis / band yang sudah memiliki lagu dalam format digital. Nampaknya kalau untuk berjualan, mungkin CFD bukan tempatnya. Entahlah kalau kami nanti sudah mulai menggelar lapak digital kami; lengkap dengan access point dan notebook untuk mendengarkan musik. We’ll see.

Saya belum tahu apakah yang berjualan di Gasibu (sekarang seberangnya, yang lebih dekat ke Unpad) memiliki karakterisik yang sama atau tidak. Mungkin ada yang tahu? Sementara ini kalau Anda ingin berjualan dengan skala yang besar di CFD, pikir-pikir dulu.


Bandung dan Sampah

Topik yang sedang (sangat) hangat kali ini adalah kritikan tentang Bandung dan sampah. Orang Bandung suka buang sampah sembarangan dan tidak merasa terusik dengan keberadaan sampah itu. Saking kesalnya yang mengritik, sampai orang Bandung disebut sama seperti babi. Maka marahlah beberapa orang Bandung.

Saya sih hanya senyum-senyum sambil bersiul-siul. Du du du du du … Sudah lama ini menjadi sebuah topik yang mengesalkan bagi saya juga. (Hanya saya mungkin lebih sabar dan tidak menyamakan orang dengan babi. hi hi hi.) Dulu pun saya sempat menuliskan hal ini. Sekarang perlu diangkat lagi.

Ya, memang harus diakui bahwa Bandung punya masalah dengan sampah. Dan itu juga merupakan salah satu fokus dari walikota kita kali ini, pak Ridwan Kamil. Sudah ada upaya-upaya yang dilakukan oleh pemkot. Salah satunya – yang saya sukai – adalah adanya *banyak* tempat sampah (desain baru) di jalan-jalan. (Foto ada tapi saya belum sempat upload.) Namun upaya-upaya ini harus dibarengi dengan tindakan dari masyarakatnya sendiri. Kalau suka buang sampah sembarangan, ya keberhasilan dari program pemkot itu juga kurang maksimal atau bahkan gagal.

(Saya sudah pernah cerita ini, tetapi saya ulangi lagi ya.) Suatu saat saya bertanya kepada anak-anak SD yang sedang bermain di pinggir jalan sambil makan jajanan, “kalau buang sampah di mana?” Jawabannya adalah “di selokan”. Waduh. Itulah yang diajarkan kepada mereka. Itu juga yang dilihat dan dicontohkan kepada mereka.

Sudah waktunya kita berubah. Sudah saatnya kita tidak membuang sampah sembarangan. Sudah saatnya kita mau dan berani menegur orang yang membuang sampah sembarangan.


Tidak Paham Fungsi Jalur di Jalan

Ini mungkin perasaan saya saja. Saya merasa bahwa pengendara kendaraan (mobil dan motor) di Bandung tidak terlalu memperhatikan (batas) jalur jalan (lane). Banyak yang mengemudikan kendaraannya tidak di jalur. Jalur yang harusnya untuk 2 kendaraan menjadi 3 kendaraan. Atau kalaupun sendirian, jalan juga di tengah menghabiskan 2 jalur. Pokoknya asal aja. Padahal kalau di kota lain, yang tidak di lajurnya bakal disikat oleh kendaraan lain.

Mungkin hal ini terjadi karena banyak jalan di Bandung yang tidak memiliki tanda batas jalur. Lama kelamaan batas jalur pun tidak dianggap. Ya sekedar cat putih di tengah jalan. Waduh.

Kalau di kota Anda bagaimana?


Bandung Macet …

Beberapa hari terakhir ini Bandung luar biasa macetnya. Membuat saya berpikir apakah ini Bandung atau Jakarta ya? he he he.

Ada beberapa penyebab kemacetan ini. Yang saya amati adalah banyaknya anak libur sekolah dimanfaatkan untuk kunjungan-kunjngan. Salah satu tempat yang populer untuk kunjungan sambil belajar adalah museum Geologi, di jalan Diponegoro. Maka di pinggir jalan dekat dengan tempat itu ada banyak bis-bis berukuran besar. Bahkan pada suatu pagi saya menemukan lebih dari 10 bis. Jalan Bandung tidak terlalu lebar sehingga ini menimbulkan kemacetan.

Hal yang serupa ternyata terjadi di kebun binatang Bandung, yang berada di jalan Taman Sari. Pas di sebelah ITB. Jalannya juga super kecil. Biasanya hanya cukup untuk dua lajur; 1 kiri, 1 kanan. Begitu ada bis yang parkir, maka macetlah.

Belum lagi karena sekarang ini musim hujan maka banyak jalan yang rusak. Jalan Pasteur di depan BTC juga hancur. Seperti ada monster keluar dari dalam tanah. he he he. Macbret!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.935 pengikut lainnya.