Tag Archives: Bisnis

Proposal Startup di Tahun 2000

Sedang bersih-bersih ruang kerja. Banyak dokumen-dokumen yang sudah pantas untuk dibuang. Eh, menemukan proposal untuk pembuatan perusahaan (startup) di tahun 2000. Proposal ini mengusulkan sebuah perusahaan yang mengembangkan aplikasi untuk handphone. Ingat, di tahun 2000, belum ada perusahaan yang mengembangkan aplikasi di handphone. Semua aplikasi yang ada di handphone sudah built-in dari pabriknya. Nah.

startup-proposal-2000-page1

startup-proposal-2000-page2

Sayangnya karena saya belum memiliki sumber daya yang memadai pada saat ini, maka startup yang itu tidak sempat saya buat. Kalau sekarang, perusahaan yang membuat aplikasi untuk mobil sudah banyak ya? Kalau sekarang, ide saya sudah lain lagi. hi hi hi.


Banyak-banyakan Follower

Entah kenapa saya mendapat kesan banyak orang yang berusaha untuk mendapat banyak follower di akun twitternya. Kenapa? Untuk apa? Apakah kalau seseorang itu lebih banyak followernya berarti dia lebih populer? Lebih keren? Lebih apa gitu?

Di sisi bisnis memang saya melihat ada tren pemanfaatan twitter untuk promosi. Orang yang banyak followernya dianggap memiliki jumlah pemirsa yang banyak sehingga cocok untuk tempat beriklan. Apakah dalam hal ini follower dari twitter dapat dianggap sama dengan pengunjung blog?

Maka akibatnya ada orang-orang yang melakukan berbagai hal – termasuk yang nyerempet masalah etika – untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya follower. Anda juga mau / sudah melakukan hal tersebut?

Yang lucu itu begini:

Karena ingin banyak follower, maka seseorang dia  buat akun-akun palsu yang banyaaakkk sekali. Kemudian akun-akun palsu ini memfollow dirinya sendiri (akun aslinya). Hasilnya jumlah followernya jadi banyak. Horeee. Setelah banyak, dia kepikiran. Hmm… bagaimana kalau aku mengiklankan kepada followersnya sendiri. Maka mulailah dia mentwit iklan di akunnya. Harapannya followernya banyak yang beli produk yang diiklankannya.

Kemudian dia pas login ke akun-akun palsunya, kok banyak iklan yang menarik. Maka belilah dia produk-produk yang dia tawarkan itu. Dua-duanya happy. he he he. Betul kan?


Bersiap Diri Untuk Industri Kreatif

Jargon “industri kreatif” sudah banyak kita dengar dan bahkan sudah dibuatkan instansi formalnya. Artinya, kita diarahkan untuk menuju industri kreatif. Pertanyaannya adalah siapkah kita?

Jika kita berbicara tentang sebuah industri, yang terbayang oleh saya adalah skalanya yang besar. Jika pelakunya hanya belasan orang atau ratusan orang, mungkin belum bisa disebut industri ya? Bisnis ya, tapi industri mungkin bukan. Tentu saja ada definisi industri yang lebih tepat dari ini. Saya hanya mencoba menyoroti skalanya saja. Untuk memasok jumlah sumber daya manusia yang banyak ini bagaimana caranya?

Sekolah-sekolah yang ada saat ini tidak memberikan nafas “kreatif” dalam proses pendidikannya. (Maha)siswa diajarkan untuk memecahkan masalah sebagaimana pekerja pabrik menyalakan mesin; prosedural dan bahkan terkesan seperti robot. Materi pelajaran diajarkan seperti instruksi. Kemudian pemahamannya diujikan berdasarkan pertanyaan yang berbentuk pilihan berganda (multiple choice). Di mana letak kreatifnya ya? Mereka diajarkan untuk menjadi robot dan robot tidak kreatif.

Katakanlah kita sudah berhasil menghasilkan SDM yang kreatif. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita mengelola (to manage) mereka? Pengelolan SDM kreatif akan berbeda dengan SDM yang hanya mengikuti instruksi. Apakah para pekerja ini dibiarkan semuanya menjadi “artisan” yang tidak dapat diatur? Sulitlah mengembangkan bisnis – apalagi industri – jika tidak ada pengelolaan yang baik. Silahkan tanya rumah produksi atau software house untuk melihat betapa susahnya mengelola SDM kreatif. Nampaknya ini harus dipelajari dengan lebih serius.

Lantas ada masalah di sisi manusianya sendiri. Apakah ada jenjang karir dari pekerjaan yang kreatif ini? Apakah ada “kasta” orang kreatif? Bagaimana membina mereka agar terjadi pertumbuhan?

Masih ada banyak pertanyaan saya. Sementara ini saya cukupkan ini dulu saja. Melihat ini semua, saya kok masih ragu kita sanggup membuat sebuah industri kreatif. Hadoh.


Sulitnya Mendapatkan Pelanggan

Salah satu masalah dalam mengembangkan sebuah produk baru adalah mendapatkan pelanggan. Kita boleh saja memiliki produk yang bagus – atau setidaknya setara dengan kompetitor – tetapi tetap saja sulit untuk mendapatkan pelanggan.

Sebagai contoh, saat ini ada beberapa rekan yang sedang mengembangkan Zohib.com; situs sosial yang mirip dengan facebook dan twitter. Salah satu keuntungan dari zohib adalah lokasinya yang di Indonesia sehingga semestinya lebih lancar aksesnya (dan di belakang layar, penggunaan bandwidth semestinya menjadi lebih murah).

Setelah cukup stabil sistem ini beroperasi, saya belum melihat banyak penggunanya. Memang belum ada upaya promosi yang besar-besaran, tetapi seharusnya tetap ada pertambahan pelanggan. Saat ini nampaknya agak lambat. Memang sangat susah untuk memindahkan pelanggan dari satu tempat ke tempat lain, yang sudah terlanjur pakai facebook dan twitter misalnya.

Di sisi lain, lebih enak ada sistem yang kecil-kecilan saja. Jadi kayak punya situs pribadi. hi hi hi.


Teknis atau non-Teknis ya?

Baru saja saya membaca sebuah blog (lupa URL-nya) tentang keluhan seorang entrepreneur di Singapura. Intinya dia mengeluhkan soal susahnya memiliki talented engineering pool di Singapura. Perusahaan startup yang bernunansa teknologi membutuhkan engineers untuk mengimplementasikan ide-idenya. Namun ternyata susah mencari engineers ini.

Ada banyak alasan terjadinya masalah ini. Engineers yang bagus ditawari pekerjaan di Amerika dengan gaji yang lebih tinggi. Minggatlah mereka. Mengimpor engineers dari luar negeri juga harus memenuhi persyaratan gaji minimal (yang ditentukan oleh negara), yang mana biasanya terlalu mahal untuk kantong startup. Selain itu juga para engineers ini ditawari untuk menempati jabatan managerial, yang gajinya juga ternyata lebih tinggi dari gaji engineer. Lengkaplah penderitaan ini.

Saya hanya ingin menyoroti hal yang terakhir saja. Peta perjalanan karir orang teknis ternyata tidak terlalu cerah dibandingkan orang non-teknis. Cerah ini didefinisikan dengan kacamata finansial. Jarang ditemui engineers yang gajinya lebih tinggi atau sama-lah dengan bos-nya yang non-teknis. (Mungkin di Amerika sana bisa berbeda, tetapi ini kenyataan di Indonesia dan kelihatannya di Asia.)

Sedih juga kalau orang-orang yang otaknya cemerlang kemudian meninggalkan bidang teknis. Tapi alasan apa yang dapat mereka gunakan untuk tetap tinggal di teknis? Demikian pula, apa alasan saya untuk tetap mengajari mahasiswa saya tentang hal-hal yang teknis kalau nantinya juga akan ditinggalkan?

Saya sendiri ingin selalu menghargai orang teknis. Bahkan secara finansial mereka bisa lebih tinggi daripada orang teknis. Begitu …  Saya sendiri akan tetap tinggal di dunia teknis.


Nasib Juara-Juara

Baru-baru ini ada pertanyaan, kemana para juara-juara kompetisi entrepreneurship, business plan, ICT awards (semacam INAICTA), dan seterusnya? Semestinya mereka berhasil membuat perusahaan (startup). Pada kenyataannya hampir semua tumbang. Apa ya jawaban terhadap pertanyaan seperti ini?

Ada beberapa kemungkinan penyebab kegagalan ini. Yang pertama, para juara-juara ini memang hanya ingin ikut kompetisi. Target mereka adalah memenangkan kejuaraan. Setelah itu tidak penting lagi. Kemenangan kejuaraan ini menjadi bagian dari bio data. Nantinya ini digunakan untuk mencari pekerjaan. Nah lho. Padahal kalau menjadi entrepreneur kan tidak butuh bio data untuk melamar pekerjaan. Kan melamar pekerjaan kepada diri sendiri. hi hi hi.

Yang kedua, mengembangkan usaha itu berbeda dengan mengembangkan produk. Dibutuhkan orang dengan karakter yang berbeda. Orang bisnis akan beda dengan orang pengembang. Boleh jadi para pemenang ini tidak berhasil menemukan partner bisnisnya sehingga mereka (orang teknis) harus terjun menjalankan bisnis. Kemungkinan terjadinya kegagalan untuk hal ini sangat besar.

Yang ketiga, bisa jadi produk atau layanan yang dikembangkan itu belum memiliki pasar. Ahead of its time. Apa boleh buat, secara bisnis mereka gagal. Jika ini diluncurkan 5 tahun lagi kemungkinan bisa sukses secara bisnis.

Dan masih banyak alasan lain. Saya tidak ingin mencari-cari alasan untuk pembenaran, tetapi memang demikian adanya. Tidak mudah untuk membuat sebuah bisnis yang langgeng. Maka dari itu, kita perlu hargai usaha bisnis yang dapat bertahan cukup lama.

Sukses!


(terlalu membesar-besarkan) Nama Domain

Saat ini banyak orang yang masih terlalu membesar-besarkan nama domain. Mereka masih mencari-cari nama domain yang cantik. Lupa padahal yang lebih penting adalah layanan bisnis yang baik. (Kecuali memang bisnisnya adalah jual beli nama domain, para pencari traffic, atau SEO. he he he. Kalau ini lain cerita.)

Mengapa nama domain yang cantik tidak lagi sepenting dahulu? Pertama karena kebanyakan orang memulai dari search engine. Jarang orang yang mengingat-ingat nama, kecuali tempat-tempat yang sering dikunjungi – seperti Google, Yahoo, dan sejenisnya. Untuk sebuah namapun kita bisa mengingat sebagian kecil (partial) dari nama dan kemudian menggunakan search engine untuk mencarinya.

Sebetulnya kita juga dapat melihat fenomena ini dari nomor cantik handphone. Sekarang hal ini tidak sehebat dulu lagi. Pasalnya, sudah terlalu banyak orang yang menggunakan handphone. Semua kenalan kita menggunakan handphone. Mosok kita harus mengingat-ingat 100 nomor cantik? he he he. Untuk kasus ini, kita menggunakan address book, contact list, atau apapun namanya yang pada prinsipnya adalah phone book.

Jadi, kedua, dia menjadi tidak terlalu penting karena sudah terlalu banyak alamat (layanan) di internet. Sama seperti kasus nomor cantik handphone.

Nama domain itu sesungguhnya adalah mirip dengan nama jalan. Selama nama jalan itu wajar-wajar saja, cukup. Semestinya orang datang ke toko kita karena layanannya, bukan karena nama jalannya bukan? Saya melihat gadget di bhinneka.com bukan karena namanya tetapi karena layanannya.


(Bandung) Startupfest

Saya kepikiran untuk membuat sebuah event besar, di mana berbagai aspek dari starting-up ditampilkan. Bentuknya ada pameran (booth untuk para startup yang mencari pemodal), presentasi (penjelasan dan pengalaman dari berbagai pakar / entrepreneur / pemodal), kompetisi mengembangkan produk (mostly coding, similar to code fest), pitching in (langsung presentasi di depan pemodal).

Yang datang kira-kira:

  • Inventor / innovator yang ingin memamerkan produk / layanannya (dan mencari pemodal);
  • Pemodal yang ingin melihat ke siapa modal ditanamkan (misal GDP, SJV, bank, angel investors);
  • Inkubator yang melihat potensi startup (misal BTP, Mak);
  • Infrastruktur dan teknologi yang melihat potensi penggunaan infrastrukturnya (technopark, PT Telkom, operator, ISP, web hosting, Google);
  • Entrepreneur yang dapat berbagai cerita (pengalaman) (misal Founder Institute dan para startups yang sudah agak berhasil, StartupLokal) dan sekalian mencari orang teknis;
  • Perguruan tinggi (dengan teori-teori bisnis-nya);
  • Pemerintah yang merencanakan regulasi-regulasi (bagaimana pak Ridwan Kamil? hi hi hi, Kominfo, Industri, Perdagangan);
  • Mahasiswa, umum, komunitas, and dreamers … yang ingin melihat masa depan dan sekedar untuk kodar (kopi darat).

Acaranya diselenggarakan dua atau tiga hari dan diselenggarakan dengan track yang paralel:

  • Ideas … (well, plenty of crazy ideas);
  • Teknis (how to develop products, outsourcing, new technology showcase);
  • Bisnis (model, canvas, monetize, partnering);
  • Management (cash flow management, human resources management);
  • Pitching in (peserta yang terpilih langsung bisa presentasi di depan investor);
  • Tempat untuk ketemuan antara orang teknis dan bisnis – saling merekrut.

Tempatnya di Bandung lah … he he he. Bisa di ITB atau di Bandung Techno Park atau di Baros IT Center. Pokoknya seputaran Bandung.

Menarik gak ya? Kalau menarik, kita keroyok rame-rame yuk kerjaan ini.


Entrepreneur atau bukan

Ada perbedaan yang mendasar antara seorang entrepreneur (innovator? creator?) atau bukan. Entrepreneur akan mencoba merealisasikan ide, sementara yang bukan selalu mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya. Sangat gamblang sekali perbedaannya.

Suatu ketika saya melemparkan ide sebuah pekerjaan. (Ide tersebut sebetulnya bukan dari saya tetapi dari rekan saya. Dia sedang mencari orang yang sanggup merealisasikan idenya – dengan dibayar tentunya. Saya pikir idenya keren, hanya saja tim saya sedang overloaded.) Respon yang saya peroleh dari kebanyakan orang adalah alasan untuk tidak tertarik; ah ide itu kan sudah ada, kayaknya tidak bisa diimplementasikan, dan sejenisnya. Padahal tinggal dikerjakan dan ada duitnya pula. Terlihat mereka tidak antusias. Ya sudah. Percuma kalau saya ajak mereka untuk merealisasikan ide itu.

Salah satu “kehebatan” dari seorang entrepreneur adalah “kebodohan” dia bahwa apa yang akan dilakukan itu menurut para “pakar” tidak dapat dilakukan. Dan berkali-kali para “pakar” itu salah. Sebagai contoh, dulu para pakar mengatakan tidak mungkin membuat komputer lebih kecil karena ada banyak chips yang dibutuhkan untuk mengimplementasikannya. Steve Wozniak tidak tahu bahwa itu tidak bisa (kata para pakar) dan langsung membuatnya saja. Ternyata, bisa!


Traffic Palsu

Banyak orang yang bertanya bagaimana cara untuk mendapatkan banyak kunjungan ke halaman web (situs, facebook, dan sejenisnya). How to generate traffic? Jawabannya umumnya adalah SEO (search engine optimization), adwords, dan beli traffic. Sangat mudah untuk membuat robot yang menghasilkan traffic.

Jawaban di atas menurut saya adalah jawaban semu. Orang lupa bahwa sesungguhnya yang dicari bukan lalu lintasnya, melainkan orang beli barang yang ada di situs kita, atau orang menjadi lebih tertarik kepada isinya, belajar lebih banyak, terjadi diskusi, atau hal-hal yang sesungguhnya menjadi tujuan utama dari keberadaan situs kita. Bahwa harus ada traffic itu satu hal, tetapi menghasilkan traffic semu tidak akan mencapai tujuan yang kita harapkan. Memangnya kalau banyak like itu apa bisa mencapai tujuan kalau yang nge-like itu robot (program) he he he.

Jawaban saya untuk pertanyaan awal, how to generate traffic, adalah membuat tulisan yang menarik dan banyak. Tulisan harus sering diubah sehingga orang akan datang lagi. Atau tampilan diubah. Kalau tulisannya tetap sama, tampilan tetap sama, maka orang tidak akan datang berkali-kali. Toh tetap sama saja. Mengapa harus datang berkali-kali?

Yang saya lakukan pada blog ini ya seperti itu, menulis banyak (rutin). Itu saja. Tulisannya pun tidak hebat-hebat amat. Isinya adalah hal-hal yang terkait dengan saya. Itu saja.


Portal Berita Positif

Alhamdulillah sudah lama saya tidak membaca surat kabar lokal dan tidak menonton TV lokal. Alasannya? Beritanya begitu-begitu saja. Negatif. Diulang-ulang. Tidak jelas manfaatnya apa.

Tadinya saya berharap media berita digital dapat mengubah ini. Ternyata sama saja. Situs berita Indonesia isinya sama dengan surat kabar atau TV lokal. Ternyata mereka masih di-drive oleh media konvensional. Ampun.

Pikir-pikir ini peluang untuk membuat portal berita positif. Orang yang bosan membaca atau mendengar berita mainstream yang negatif-negatif dapat membaca berita di sini. Isinya antara lain kesuksesan bisnis dari perusahaan baru, biografi orang yang hebat-hebat, sejarah yang menarik, penemuan-penemuan baru, dan sejenisnya. Saya pikir ini akan menarik.

Blog saya sebetulnya menganut pakem teresebut. Hanya saja blog saya ini diisi oleh satu orang (dan komentator yang setia). Kurang banyak kontribusinya. Kalau ada portal yang diisi oleh orang banyak yang berpikiran positif semua, nampaknya oke juga. Blog saya yang gini-gini saja sudah ramai pengunjung, apalagi portal berita positif.

Silahkan …


Menjual Mimpi

Salah satu masalah yang dihadapi start up adalah mendapatkan SDM yang bagus. Start up, sesuai namanya, adalah pemula dalam bisnis. Dia belum memiliki kemampuan finansial yang bagus untuk mendapatkan pekerja dan membayar mereka dengan cukup (mahal). Lantas bagaimana start up mendapatkan SDM?

Salah satu cara yang lazim dilakukan adalah menjual mimpi. We are selling dreams. (Sebetulnya yang lebih tepat adalah menjual visi. Hanya saja pada tahap ini visi sama seperti mimpi, yang masih belum jelas kapan terlaksananya.) Maka start up harus dapat mengartikulasikan, apa mimpi yang dijual. Jika mimpi ini biasa-biasa saja, maka orang tidak akan tertarik dan lebih memilih bekerja di perusahaan lain saja. Dream big!

Ketika start up terbentuk, maka dia berisi kumpulan orang-orang yang memiliki vision, values, dan passion yang sama. Ini juga harus didefinisikan (meskipun nanti dia akan dapat berubah dalam perjalanannya). Jika ini tidak terjadi, maka start up yang dibentuk akan sulit untuk sukses. Masing-masing punya agenda sendiri-sendiri dan begitu dipicu oleh satu masalah, langsung bubar.

Kembali kepada topik, Anda jualan mimpi apa?


Sukses Instan!

Barusan mau ketawa ngakak melihat iklan jualan sukses secara instan. Kali ini yang dijual adalah sebuah buku, tetapi jualannya bisa sapa saja. Ada yang memberikan pelatihan agar dapat sukses bisnis secara instan. Padahal mungkin yang memberikan pelatihan dapat pemasukannya ya dari pelatihannya itu sendiri. hi hi hi.

Kemudian saya lihat anak muda yang membuat situs web kemudian berharap akan dapat pengunjung banyak secara mendadak. Lah? Emangnya siapa kamu? Kalau selebriti atau anggota parpol mungkin banyak yang berkunjung secara mendadak.

Tidak ada sukses yang instan. Kalau kopi instan sih ada. Mari kita menyeduh kopi dulu…


(Dari Ide ke) Resep Rahasia

Dalam tulisan terdahulu saya bercerita tentang murahnya ide. Kali ini saya akan lanjutkan ceritanya.

Apa yang membuat pelaksanaan atau eksekusi sebuah ide lebih unggul dari yang lain? Menurut saya salah satu kuncinya ada pada resep rahasianya. The secret souce.

Apa yang membuat yamien {ayam bakar|nasi goreng|makanan lain} di satu warung lebih enak – dan akibatnya lebih laris – dari warung lainnya? Ya resepnya itu. Hal yang sama juga ada pada bisnis lain, termasuk bisnis berbasis teknologi informasi. Kita boleh punya ide portal komunitas yang sama, tetapi kenyataannya kaskus tetap yang paling populer.

Resep di sistem IT juga dapat bervariasi; ada pilihan sistem operasi, bahasa pemrograman, database, topologi jaringan, konfigurasi server, tampilan, dan seterusnya. Sebagai contoh, jika Anda hanya boleh memilih dua hal, mana yang Anda prioritaskan? (1) Jenis prosesor, (2) besarnya memory, (3) besarnya harddisk, dan (4) kecepatan jaringan? Idealnya sih dibaguskan semua, tetapi sebagai sebuah startup yang baru mulai dengan ide tentunya Anda tidak memiliki uang untuk memenuhi keinginan Anda tersebut. Kalaupun punya uang dan Anda gelontorkan semua ke sistem Anda, maka layanan Anda kan mahal hargnya.

Akibatnya akan ada banyak kombinasi atau permutasi yang menghasilkan resep rahasia untuk layanan Anda tersebut. Oh ya, kadang-kadang, kita tidak tahu resep rahasia kita! Ha ha ha. Misalnya kita tidak sadar bahwa air yang kita gunakan untuk memasak makanan kita itulah yang sebetulnya membuat makanan kita enak. (Katanya inilah yang membuat tahu Sumedang tidak bisa dibuat di tempat lain. Hal yang sama dengan champagne.)

Itu baru soal “hardware/software” atau yang terkait dengan bahan bakunya. Cara kita memberikan layanan juga ternyata merupakan kunci juga. Itu yang menyebabkan Starbucks terkenal. Kalau soal kopi sih banyak tempat lain yang kopinya lebih unggul, tapi tetap Startbucks yang terkenal. Ini yang ingin saya katakan adalah resep rahasia juga bisa terletak pada proses dan manusianya.

Jika ide saya katakan murah, maka resep rahasia ini tidak murah. Itulah sebabnya Coca Cola menjaga resep rahasianya dalam bentuk rahasia dagang (trade secrets). Resep rahasia ini ditemukan dengan susah payah setelah melalui masa coba-coba.

Ternyata bahkan kadang ada juga orang yang membuka resep rahasia ini. Open source contohnya. Bahkan resep pun tidak perlu dirahasiakan. Yang menjadi kunci adalah bagaimana kita memberikan layanannya (berarti dapat dikatakan masuk ke proses dan manusia). Yang diuntungkan jelas konsumer. Kalau ini digeneralisir, yang diuntungkan adalah umat manusia.

Nah … semoga tulisan ini dapat memberi pencerahan (khususnya pada pelaku startup).


Murahnya Ide

Dalam pembicaraan mengenai pengembangan sebuah startup, sering dikatikan dengan ide. Dari mana mendapatkan ide bisnis? Ide ini dianggap penting dalam sebuah binis. Bagi saya ide memang penting karena tanpa ide lantas kita ingin membuat apa, tetapi tidak sepenting eksekusi membuat ide itu menjadi kenyataan. Eksekusi itulah yang paling penting.

Ide itu murah. Ideas are cheap. Banyak yang tidak percaya ini. Kalau ide itu tidak murah, maka mungkin saya sudah kaya luar biasa karena saya punya banyak ide. Yang membuat saya tidak kaya raya adalah karena ide-ide tersebut tidak saya eksekusi menjadi kenyataan. Berikut ini adalah beberapa ide yang pernah saya miliki.

  1. Membuat sistem (hardware & software) yang membantu dokter untuk melakukan operasi (laparoscopy surgical system) dengan bantuan alat pendeteksi gerakan bola mata. Sempat dieksekusi. Kehabisan uang dan juga ide terlalu advanced. Terlalu cepat untuk waktunya. Ini sekitar tahun 1988an. Sehingga harus ditutup.
  2. Membuat software untuk mendeteksi penyakit (expert system). (Sekitar tahun 1989) Gagal dieksekusi karena waktu itu tidak memiliki uang untuk membayar programmer.
  3. Membuat hardware/software untuk melakukan pitch detection sehingga musik bisa mengikuti note/nada yang dinyanyikan penyanyi. Waktu itu sempat buat kodenya dengan menggunakan IBM PC XT. (Lupa tahun berapa. Mungkin sekitar tahun 1990?) Sempat juga buat VLSI chipnya. Tetapi karena waktu itu teknologinya masih mahal sehingga tidak terlaksanan. Ada perusahaan lain yang akhirnya membuat produk yang saya inginkan.
  4. Membuat browser yang mudah digunakan. Ini jaman ketika Tim Berners-Lee masih mengembangkan WWW. Waktu itu browser yang ada sangat minimal. Ini jaman sebelum Marc Andreessen mengembangan Mosaic, yang menjadi awal dari Netscape, yang menjadi awal dari Mozilla. Tidak saya eksekusi karena waktu itu belum banyak orang yang mengerti WWW dan saya sedang sibuk sekolah.
  5. Membuat perusahaan komersil yang mendukung Linux. Ide ini saya lontarkan ke kawan ketika dahulu mengoprek Linux di awal-awal pembuatannya (bahkan X Window / X11 pun belum jalan di Linux). Tidak kami eksekusi karena kami sibuk dengan sekolahan. Ini jaman sebelum ada perusahaan seperti Redhat.
  6. Membuat personal digital assistant, yang berupa sebuah software untuk memantau dan mengelola kegiatan email-email saya. Misalnya ketika mailbox saya mulai membengkak, dia akan mengarchive mail-mail lama, mengunsubscribe milis yang jarang saya baca, dan seterusnya. Saya menerima 500 s/d 1000 email setiap harinya. Yang ini sudah pernah saya coba buat tetapi macet. Terbengkalai.
  7. Mekanisme pembayaran dengan menggunakan pulsa. Ide ini saya lontarkan di tahun 1997 ke beberapa operator seluler, tetapi tidak ada yang menanggapi karena belum mengerti dan ketakutan (terhadap aturan).
  8. Menjual musik MP3 legal. Ide ini saya lontarkan sebelum ada iTunes. Sudah saya buat beserta kawan-kawan (Digital Beat Store), tetapi harus ditutup karena kesalahan dalam eksekusi. Akan saya buat lagi dalam bentuk yang lain.
  9. Membuat program yang menghasilkan topik-topik / ide-ide baru :) Yang ini kalah cepat dengan Plinky. Saya sudah buat software kecil-kecilan untuk mainan pribadi saja.
  10. Membuat car stereo dengan menggunakan embeded system atau komputer kecil. Dulu belum ada Arduino atau Raspberry Pi. Belum diekesekusi karena gak punya waktu.
  11. Menggabungkan steganography dan cryptography. Ada beberapa ide yang mungkin sebetulnya dapat dipatenkan. Sayangnya orang yang diajak mikir tentang ini sudah kabur ke luar negeri (untuk sekolah). Tidak sanggup untuk mengembangkan ide ini menjadi kenyataan.
  12. Membuat software untuk membuat tarian semudah orang membuat musik. Musik punya MIDI. Sendratari punya apa ya? Lanjutan dari ini adalah membuat Digital Mahabarata, di mana ratusan orang bisa memerankan cerita tersebut secara online.
  13. Membuat sistem untuk mengelola lawakan, bed-time stories, dan sejenisnya. “Bodor dot net”? wk wk wk. Orang tinggal telepon ke sebuah nomor, melawak atau ngoceh, lantas ocehan ini masuk ke database. Kalau ada orang lain yang dengar (mendengarkan humor atau cerita bobo untuk anak-anak), maka yang bercerita dapat duit (atau pulsa?). Yah Rp 100,- lah. Semacam app store tapi isinya adalah lawakan atau dongeng. Yang ini malah saya sudah punya corat-corentnya dan bahkan sudah saya presentasikan (misalnya di talk saya di Tedx Bandung).
  14. Jualan lagu digital di SPBU (via bluetooth / WiFi). Jadi orang ngisi bensin sekalian ngisi lagu. Bensin 100 rebu, lagu 7 biji.

Selain ide-ide di atas, saya masih punya banyak ide. BANYAK SEKALI! Mungkin saya harus buat software untuk membantu saya menuliskan ide-ide tersebut. Saking banyaknya. ha ha ha.

Kalau saja ide-ide tidak murah, mestinya saya sudah kaya raya. hi hi hi. Karena ide murah, saya tidak terlalu takut berbagi ide dengan orang-orang. Maka dari itu saya sebetulnya tidak setuju dengan mengunci ide melalui intellectual property rights. Ini topik bahasan lain kali ya.

Ide itu bukannya tidak penting. Dia penting, tetapi lebih penting eksekusinya. Mungkin ide itu dapat dianalogikannya dengan niat. Misalnya Anda punya niat untuk pergi ke Singapura, tetapi Anda tidak melakukan apa-apa maka tidak bakalan sampai ke Singapura. Tentu saja orang lain yang tidak punya niat ke Singapura pun mungkin tidak sampai di Singapura, tetapi ke Jakarta, Kuala Lumpur, Sydney, dan bulan(?). Anda pun tidak boleh marah kalau ada orang yang pergi dan sampai ke Singapura. Kan Anda hanya niat saja :)  Demikian pula Anda tidak boleh iri ketika orang sukses mengeksekusi sebuah ide menjadi kenyataan meskipun ide tersebut mirip atau sama dengan ide Anda.

Mengapa saya punya banyak ide? Saya selalu melatih diri saya untuk mencari ide *setiap hari*. Ini adalah bagian dari saya untuk melatih kreatifitas. Perlu diingat bahwa kreatifitas tidak hanya untuk bisnis saja, tetapi dia menjadi kebutuhan untuk dunia seni (menciptakan lagu, tulisan, cerita, novel) dan untuk memecahkan masalah (business problems, research problems).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.