Arsip Tag: Bisnis

Say No to Walled Garden

Konsep bisnis di internet memang masih membingungkan. Salah satu ide yang pernah diusulkan adalah membuat layanan yang hanya dapat diakses oleh member saja. Misalnya sebuah operator atau penyedia jasa internet memiliki sebuah situs yang hanya dapat diakses oleh membernya. Pelanggan lain tidak bisa mengakses. Tujuannya jelas, yaitu agar orang berlangganan. Konsep ini dikenal dengan nama “walled garden“.

Ide walled garden adalah seolah-olah kita punya kebun yang ditutupi oleh pagar. Hanya orang-orang yang diberi ijin saja, misalnya pelanggan atau yang bayar, yang dapat masuk dan melihat kebun itu.

Pengamatan saya, konsep walled garden ini kurang cocok dan kurang berhasil untuk bisnis berorientasi internet. Jaman internet ini semua berharap mendapatkan akses secara gratis (atau sangat murah). Konsep yang menutup-nutupi seperti ini bertentangan dengan produk teknologi informasi, yang mana produk digital sangat mudah diduplikasi. Pasti saja bocor. Kenapa kita harus berlangganan walled garden?

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kesuksesan saat ini lebih banyak kepada konsep berbagi. Sharing. Menutup-nutupi adalah upaya yang sia-sia. Walled garden akan sulit diterima dan sulit untuk sukses.

Herannya, ketika diskusi dengan anak-anak muda yang ingin memulai bisnis, kebanyakan mereka cenderung ketakutan idenya dicuri atau sejenisnya sehingga mereka condong kepada walled garden. Padahal mereka, kalau berada di posisi sebagai pengguna, tidak suka dengan hal itu. Aneh juga. Mengapa membuat layanan dengan konsep yang mereka sendiri tidak suka.

Saya sebagai generasi lama, malah cenderung untuk berbagi. Atau mungkin saya termasuk yang anomali ya? Saya lihat kawan-kawan yang sukses juga adalah orang-orang yang cenderung anti walled garden. Hmm…


Nama Domain Kurang Relevan Lagi

Sekarang sedang ramai-ramainya diskusi tentang ICANN yang membuka top-level domain. Google kemudian mengajukan lebih dari 100 nama domain (top level domain).

Menurut saya, nama domain yang cantik tidak sepenting jaman dahulu. Pasalnya orang mengunjungi situs tidak dengan mengingat-ingat nama domain tetapi dengan menggunakan search engine. Jadi sebetulnya nama domain kita apa saja, selama dapat ditemukan oleh search engine, akan oke saja. Tentu saja nama yang ngaco atau susah njlimet tidak baik, tetapi selain dari itu sih tidak perlu khawatir.

Ini sebenarnya sama dengan nama jalan di dalam kehidupan nyata kita. Selama pak pos dapat mengantarkan surat dan paket ke alamat kita dengan cepat dan yang lebih penting, tidak nyasar, kita senang.

Banyak-banyakan nama jalan juga sudah tidak penting lagi. Jadi jumlah domain di sebuah TLD juga tidak terlalu penting lagi.

Banyaknya top level domain yang baru ini bikin susah! Bagi perusahaan, semakin banyak top level domain, semakin bikin susah! Alasannya adalah perusahaan harus mendaftarkan nama perusahaan dan merek terkenal kita di semua domain tersebut. Sebagai contoh, Google / Apple / IBM / … terpaksa mengambil nama-nama itu di domain yang baru. Bagi mereka sih tidak masalah. Bagi pengusaha kecil (UKM), mosok kita harus mendaftarkan nama perusahaan (web) kita ke semua top level domain yang baru itu? Wah ekonomi berbiaya tinggi nih namanya.


Mencari Uang Dari Bisnis Digital

Warga digital Indonesia sudah mencapai jumlah yang cukup besar untuk sebuah komunitas. Bayangkan saja, jumlah pengguna Kaskus sudah lebih dari 4 juta orang. Pengguna Facebook dari Indonesia sudah di atas 30 juta. Bandingkan ini dengan penduduk Singapura yang mungkin hanya 5 juta orang. Adalah sangat wajar jika kita berharap ada transaksi bisnis yang terjadi di komunitas tersebut.

Namun pada kenyataannya jumlah transaksi yang terjadi di komunitas digital Indonesia belum banyak. Salah satu dugaan penyebabnya adalah tidak adanya mekanisme atau alat pembayaran yang pas di komunitas tersebut. Sebetulnya kalau dikatakan tidak ada juga kurang tepat karena ada. Bahkan ada beberapa metoda pembayaran (termasuk micropayment). Mungkin lebih tepat kalau dikatakan bahwa skala dari masing-masing metoda pembayaran tersebut masih terlalu kecil. Seharusnya mereka berkolaborasi untuk menciptakan satu pembayaran yang lebih besar.

Saya menduga hal lain, yaitu sistem pembayaran elektronik yang ada saat ini masih belum pas dengan situasi dan kultur kita. Sebagai contoh, warga digital Indonesia kebanyakan adalah anak muda yang tidak memiliki kartu kredit atau bank account. Selain itu sebagian besar orang Indonesia tidak terlalu berani menggunakan kartu kredit untuk pembayaran online. (Masalah kepercayaan. Distrust society?) Akibatnya kita harus mencari sistem pembayaran yang khas Indonesia. Nah, ini perlu penelitian, yang mungkin hanya dapat dilakukan oleh orang Indonesia karena orang Indonesialah yang mengerti kondisinya.

Back to the question, how do we monetize our digital lives?


Untuk Juara-juaraan Saja

Beberapa waktu yang lalu ada yang bertanya di sebuah milis, “apakah ada contoh business plan yang memenangkan lomba?”  Saya jadi bingung, kenapa harus yang memenangkan lomba? Mengapa yang dicari bukan business plan dari sebuah perusahaan (kecil) yang sudah sukses? Memang saya melihat ada beberapa kompetisi bisnis yang membutuhkan business plan dari pesertanya, tetapi sesungguhnya kompetisi ini ditujukan agar para pesertanya menjadi entrepreneur bukan menjadi juara pembuat business plan.

Oh ya, saya cek kawan-kawan yang sukses dalam bisnisnya, tidak jarang yang tidak memiliki business plan secara formal tetapi mereka tahu yang mereka inginkan dan dapat menjabarkannya secara rinci. Dengan kata lain, mereka lebih menjiwai bisnis tersebut daripada orang yang membuat business plan hanya sekedar untuk menjadi juara dalam kompetisi business plan. Jadi saya khawatir ini hanya untuk juara-juaraan saja.


Pendanaan Startup di Bidang ICT

Besok, tanggal 24 April 2012 pukul 13:00, saya akan memberikan presentasi (dan sekaligus menjadi moderator nampaknya) di acara e-Indonesia Initiatives. Tempat di Aula Barat, ITB. Sesi saya adalah tentang ICT dan Venture Capital. Materi presentasi dapat diunduh di scribd:

Bagi yang kesulitan melihat dokumen di atas, dapat mengambil dokumen di sini.

Semoga bermanfaat.

Link terkait: berita di Daily Social.


Dibeli Untuk Dimatikan?

Baru saja ada kabar tentang instagram dibeli oleh facebook. Bagi pembuat instagram ini berita baik. Soalnya dibelinya juga dengan tidak murah, alias US$ 1 milyar. Pendirinya langsung kaya raya. Bagaimana dengan pengguna instagram?

Sebagai pengguna layanan tersebut, pengguna boleh was-was. Pasalnya kita tidak tahu bahwa layanan itu dibeli untuk dibesarkan (dan kemudian dijual lagi?) atau dibeli untuk dimatikan (karena dianggap sebagai pesaing atau menguntungkan pesaing). Ada yang mengatakan dulu snaptu dibeli oleh facebook karena snaptu banyak meningkatkan pengguna twitter, yang notabene dianggap sebagai musuh dari facebook. Saya dulu rajin menggunakan snaptu di handphone sampai akhirnya dia hilang dan harus menggunakan facebook di handphone. Grrr…

Ada banyak cerita lain yang sejenis, seperti delicious yang dibeli oleh Yahoo! tetapi Yahoo! sendiri sudah memiliki layanan bookmark. Akhirnya delicious juga hilang.

Jika Anda pendiri perusahaan seperti yang diceritakan di atas, bagaimana perasaan Anda? Senang (karena dapat banyak uang)? Sedih karena ide Anda, your baby, dibeli untuk dimatikan?


Dicari: aplikasi yang khas Indonesia

Teknologi informasi (IT) sedang naik daun lagi. Banyak yang membuat perusahaan baru (startup) dengan basis layanan IT. Hanya saja sayangnya aplikasi yang ada hanya meniru-niru aplikasi yang sedang populer di Amerika. Padahal ada banyak aplikasi yang khas Indonesia. Maksud saya adalah aplikasi yang sesuai dengan kultur orang Indonesia. Saya akan coba bahas lebih jauh.

Akui saja bahwa bangsa kita bukan bangsa yang senang membaca. (Meskipun ini mungkin berubah.) Lihat saja di sekeliling kita. Di berbagai tempat di luar negeri, kalau orang berpergian maka yang dibawa salah satunya adalah buku. Di perjalanan mereka asyik membaca buku. Di dalam transportasi umum mereka membaca. Sementara di kita, orang cenderung ngobrol. Bukan berarti ngobrol lebih buruk daripada membaca lho. Beda. Itu saja. Sekali lagi, beda.

Dalam pertemuan-pertemuan di luar negeri, hampir selalu ada risalah pertemuan (minutes of meeting, MoM). Bahkan di kelompok organisasi kecil pun ada MoM ini. Di kita? Jarang ditemui kelompok yang menggunakan MoM. MoM biasanya terjadi di pertemuan yang formal, seperti di perusahaan-perusahaan. Di rapat RT atau organisasi mahasiswa, jarang ada risalah pertemuan. Di tempat kerja kami, ada MoM yang selain dicatat juga direkam.

Rekam. Ini merupakan sebuah pendekatan kultural. Karena kita malas menulis, maka kira rekam saja. Teknologi sudah memungkinkan hal tersebut. Kalau dahulu, ketika voice recorder masih mahal, maka pendekatan rekam ini hampir tidak masuk akal. Sekarang dengan menggunakan mp3 player atau handphone hal ini memungkinkan.

Kembali ke topik. Karena di luar negeri mode yang digunakan adalah baca/tulis maka aplikasi yang muncul adalah aplikasi baca/tulis. Web dan blog merupakan aplikasi baca/tulis. Bahkan, aplikasi pencari – search engine – yang paling banyak digunakan orang pun adalah yang terkait dengan baca/tulis. Yahoo! dan Google mencari data berdasarkan tulisan (teks).

Kalau kita ingin mengacu kepada kultur kita, maka dibutuhkan layanan yang dapat (1) menyimpan rekaman pertemuan (minutes of meeting in audio format), (2) melakukan pencarian (audio search engine – yang mencari isi dari audio! bukan sekedar nama berkasnya saja), dan (3) menampilkannya dalam bentuk yang mudah. Aplikasi atau layanan seperti ini dahulu tidak memungkinkan karena ukuran storage yang dibutuhkan pasti sangat besar. Sekarang ini sudah memungkinkan. (Youtube saja menyimpan video yang ukurannya lebih besar dari audio.) Kecepatan jaringan juga sudah memungkinkan.

Aplikasi semacam ini mungkin tidak terlalu menjadi perhatian di luar sana (baca: Amerika) karena ini tidak memecahkan masalah mereka. Mereka tidak punya masalah dengan baca/tulis. Tentu saja. Kita punya masalah. Jadi yang mengembangkan aplikasi seperti ini harusnya kita-kita. Tentu saja ini tidak mudah. (Searching audio content is not easy!) Justru di sinilah menariknya. This is the road less travelled. Any takers?


Mahasiswa dan Entrepreneurship

Minggu-minggu terakhir ini saya banyak diminta untuk berbicara soal entrepreneurship, khususnya yang terkait dengan tenologi – technopreneurship. Yang mengelola acara-acara ini kebetulan adalah mahasiswa ITB, misalnya IF association dan Himpunan Mahasiswa Elektro (HME). Dengan senang hati saya bercerita mengenai pengalaman saya dalam mendirikan perusahaan. Tentu saja ceritanya tidak semua hal yang menyenangkan.

[foto sertifikat dari IF Association dan HME ITB]

Hal yang saya tekankan adalah pentingnya mencoba untuk menjadi entrepreneur ketika menjadi mahasiswa. Alasannya adalah kesalahan atau kegagalan lebih dapat ditolerir ketika menjadi mahasiswa. Oh, mahasiswa ya. Langsung dimaklumi. Sementara kalau seseorang sudah lulus, maka harapan dari banyak pihak (orang tua, keluarga, masyarakat) adalah untuk menghasilkan uang. Sementara kalau kita memulai entrepreneurship, belum tentu usaha yang kita mulai itu langsung sukses.

Ada pertanyaan yang menarik, apakah kalau kita mencoba menjadi entrepreneur ketika mahasiswa akan mengganggu nilai kuliah? Secara jujur, saya jawab … ya. Bagi seorang dosen, hal ini memberatkan bagi saya. Saya ingin mahasiswa saya lulus dengan tepat waktu dan dengan nilai yang maksimal (kalau bisa A semua). Sayangnya kurikulum yang ada saat ini umumnya tidak mendukung entrepreneurship. Mahasiswa terlalu dibebani dengan tugas-tugas kuliah sehingga jika waktunya tercuri untuk melakukan usaha entrepreneurship pastinya akan ada efeknya terhadap perkuliahan.

Yang lebih repot lagi, contoh-contoh pengusaha yang sukses banyak yang bahkan drop out dari kuliahnya. Hadoh. Meskipun lebih banyak lagi yang kuliahnya juga sukses dan bahkan sampai S3. Yang ini perlu kita diskusikan lagi :)


Seputar (bisnis) Mikroprosesor

Saya mengikuti twitter dari seorang sohib saya yang dulunya bekerja di Intel, Santa Clara, sana. Sekarang saya tidak tahu apakah dia masih di sana atau sudah pindah ke tempat lain. Kadang dia menuliskan sebaris kalimat tentang Intel atau kondisi di Silicon Valley. Salah satu yang menarik bagi saya adalah pertanyaannya tentang di mana Intel berada saat ini?

Kalau kita perhatikan, prosesor produksi Intel sempat menjadi juara dunia. Sebagian besar prosesor di komputer diproduksi oleh Intel (dan saingannya AMD). Ini juga didorong dengan adanya sistem operasi Microsoft Windows yang sebagian besar memang berada di platform Intel. Itu jamannya komputer masih merajai dunia. Sekarang jaman sudah berubah. Handphone menguasai dunia dan sebentar lagi tablet juga akan meningkat populasinya. Perhatikan bahwa untuk platform handphone dan tablet ini hampir tidak ada yang menggunakan prosesor intel. Kebanyakan mereka menggunakan arm-based processor. Hmmm…

Hal kedua yang menarik perhatian saya adalah masih akan berkembangnya bisnis mikroprosesor. Tadinya saya mengira bisnis proses sudah jenuh. Adanya prosesor Intel yang hebat, disertai dengan multiple core, maka kemampuan komputasi meningkat dengan luar biasa. Siapa yang membutuhkan komputasi? Toh komputer kita paling kita gunakan untuk menulis (wordprocessor), sedikit menghitung (spreadsheet), dan multimedia (memainkan musik, video, dan sejenisnya). Prosesor yang ada sudah lebih dari cukup. Mengapa kita perlu beli lagi (upgrade) processor?

Perusahaan pembuat prosesor berpikir keras agar orang mau upgrade. Akhirnya ketemu juga “jawabannya”. Harus ada aplikasi-aplikasi yang super intensif komputasinya. Salah satunya adalah aplikasi yang menggunakan bahasa Java. Karena sifatnya yang menggunakan virtual machine, maka Java membutuhkan prosesor yang lebih bagus agar terasa nyaman. Nah, bisa jualan lagi.

Setelah Java, apa lagi ya? Ternyata ada lagi, yaitu adanya javascript dan pemrograman web yang interaktif. Saat ini aplikasi berbasis web mulai lebih interaktif. Salah satu cara untuk mengimplementasiannya adalah dengan menggunakan javascript yang berjalan di dalam browser pengguna. Javascript, JSON, dan kawan-kawan ini bisa mendorong orang untuk upgrade prosesor (komputer) lagi.

Maka … menarik nafas legalah para pembuat mikroprosesor. Orang masih (terpaksa) upgrade prosesor. hi hi hi.


Cerita Sukses dari Marvell

Kemarin, di kampus (ITB), pak Gani Jusuf datang lagi. Pak Gani, mewakili perusahaan Marvell, memberikan talk show mengenai perusahaan Marvell. Ini bukan perusahaan komik lho, tapi perusahaan elektronik yang cukup besar di Silicon Valley. Yang membuat kita tertarik dengan cerita sukses dari Marvell adalah pendiri dari Marvell adalah orang Indonesia, Sehat Sutardja dan Pantas Sutardja. Pak Gani sendiri juga merupakan salah satu (dari 7) pegawai awal dari Marvell.

Pak Gani menceritakan status perusahaan Marvell sekarang, yang selalu untung dari segi finansial dan memiliki banyak produk yang menarik. (Lihat situs webnya untuk melihat produk-produknya.)

Produk awal dari Marvell adalah chip untuk Read Channel yang digunakan untuk membaca data dari fisik harddisk dan kemudian mengubahnya menjadi bentuk digital. Penemuan ini membuat mereka menjadi sukses dan dominan di dunia disk. Setelah itu mereka banyak membuat produk (chips) yang lain; networking, client (tablet, handphone), printers, green energy, dan seterusnya.

Marvell merupakan perusahaan fabless, yang artinya adalah mereka tidak punya pabrik. Yang mereka hasilkan adalah desain (dan tentunya sampai kepada prototipe untuk meyakinkan klien bahwa produknya memang berfungsi). Itulah sebabnya sebagian besar pekerjanya bergerak di bagian penelitian (R&D) dan umumnya memiliki gelar S2 ke atas.

[mahasiswa yang mendengarkan talk show, dan perwakilan Marvell di Singapura - saya lupa namanya]

Hal yang menyenangkan bagi saya tentang kedatangan pak Gani dan Marvell ini adalah adanya bukti bahwa orang yang bergerak di bidang hardware pun bisa sukses. Sekarang kebanyakan mahasiswa – bahkan mahasiswa elektro / elektronika pun – lebih menyukai pemrograman web :)  Bukan berarti bahwa software tidak penting (di Marvell software juga penting karena harus dapat menujukkan fungsi chips sampai ke aplikasi), tetapi bidang hardware masih sangat menarik. Bahkan, pak Gani mengatakan bahwa kalau kita punya skill hardware maka saingan kita lebih sedikit. Betul juga ya …


Dibayar Dengan Tweet

Saya baru saja melihat layanan gratisan yang “dibayar” dengan melakukan tweet. Isi dari tweet tersebut tentunya terkait (mengandung) @ID dan hashtag dari penyedia layanan gratisan tersebut. Lucu juga ya. Tweet bisa dijadikan untuk alat bayar. Menarik …

Kayaknya saya mau memulai hashtag #rahard ah. he he he.


Tujuan Dari Bisnis Adalah …

Jika saya lemparkan pertanyaan

apa tujuan dari  bisnis?

sebagian besar akan menjawab “untuk mencari uang” atau “mencari keuntungan”. Saya rasa ini jawaban yang natural, tetapi menurut saya kurang tepat. Tujuan utama bisnis dari orang-orang sukses yang saya ketahui bukan untuk mencari uang tetapi hal lain.

Ketika Steve Jobs (Apple), Bill Gates (Microsoft), Jerry Yang (Yahoo!), dan seterusnya, ditanya kenapa membuat perusahaan yang mereka buat, jawabannya adalah “to change the world“. Tentunya maksudnya membuat dunia menjadi lebih baik. Luar biasa bukan?

Uang bagi mereka bukan tujuan utama membuat bisnis. Uang akan datang sebagai konsekuensi logis. Bukan tujuan utama. Passion (dan mungkin juga mulanya adalah hobby) merupakan dorongan utamanya. Mereka melakukannya karena kecintaan mereka pada bidang mereka.

Steve Jobs mengatakan bahwa waktu masih muda dia tidak peduli terhadap uang, karena tidak punya uang (he he he). Setelah sukses dia juga tidak peduli kepada uang, karena uangnya banyak. But, we did not do it because of money. Begitulah.

Jika kita membuat bisnis yang kita sukai, maka itulah sukses. Seorang yang senang nonton, membuat bisnis bioskop. Seorang yang senang musik, membuat studio musik, mengembangkan bisnis musik, sekolah musik, dan sejenisnya.  Orang yang senang olah raga mengembangkan bisnis toko alat olah raga, sekolah olah raga. Semuanya menyenangkan. Bisnis tidak menjadi beban, tetapi menjadi hal yang menyenangkan.

Bisa disimak potongan wawancara dengan Bill Gates dan Steve Jobs di sini:

Steve Jobs:  Yeah, people say you have a lot of passion for what you are doing, and it’s totally true and the reason is because it’s so hard that if you don’t, any rational person would give up.
It’s really hard and you have to do it over a sustained period of time.  So if you don’t love it, if you’re not having fun doing it, if you don’t absolutely love it, you’re going to give up. And that’s what happens to most people, actually.

Atau pendapat Tony Hsieh (CEO Zappos):

“What would you be passionate about doing for 10 years even if you never made a dime?”

Jika tujuan seseorang memulai usaha adalah untuk mencari uang, maka sebetulnya ada banyak jalan lain yang lebih mudah dan aman untuk mendapat uang banyak. Itulah sebabnya sebagian besar orang menjadi pekerja (bekerja di perusahaan multi nasional menghasilkan gaji yang luar biasa besar), menjadi PNS (dengan gaji yang terjamin – meski mungkin tidak bisa kaya raya), atau menjadi anggota dewan (nah ini yang menjadi trend he he he). Uang lebih banyak di situ dibandingkan dari membuka usaha sendiri.

Guru saya, almarhum Chandra Liem, mendefinisikan tujuan bisnis adalah “to give what the people want“. Begitu katanya.

Tentu saja kita bisa berbeda pendapat. Ini hanya opini saya. Semoga bermanfaat.

[ack. thanks untuk reinx atas link-nya]


Membujuk Perusahaan Besar Untuk Hadir di Indonesia

Minggu lalu saya bilang bahwa saya akan menceritakan pertemuan saya dengan Mike Orgill dari Google. Salah satu topik yang saya utarakan adalah keinginan saya agar ada perusahaan besar untuk hadir di Indonesia, khususnya Bandung.  (Topik ini selalu saya utarakan kepada berbagai tamu dari luar.) Mengapa ini penting dalam konteks munculnya perusahaan start up yang bernuansa teknologi?

Salah satu referensi yang saya gunakan adalah sebuah artikel Wieners & Hillner di majalah Wired (1998). Artikel ini membahas Siliconia, yaitu daerah-daerah yang ingin meniru Silicon Valley di dunia. Ternyata ada banyak dan ternyata kebanyakan memang gagal. Menurut artikel itu ada empat (4) critical success factors:

  1. the ability of the area’s university and research facilities to train skilled workers or develop new technologies;
  2. the presence of established multinational companies as anchors to provide economic stability;
  3. the population’s entrepreneurial drive; and
  4. the availability of financial support in form of venture capitals

Dalam tulisan ini saya hanya ingin menyoroti poin kedua, bahwa di tempat Siliconia itu harus ada perusahaan yang bisa menjadi jaring pengaman. Kira-kira begini skenarionya.

Saya bekerja di perusahaan besar ini. Pada suatu saat saya punya ide untuk perusahaan start up. Saya kemudian keluar dari perusahaan ini untuk merealisasikan ide (bisnis, layanan, produk, dll.) tersebut. Jika berhasil, bagus. Jika tidak, maka saya menutup usaha ini dan … kembali menjadi pegawai di perusahaan besar ini. Perusahaan besar ini dengan kata lain menjadi “jaring pengaman”. Para entrepreneur tidak takut untuk memulai usahanya karena jika gagal pun dia tidak akan kelaparan. Ada pekerjaan. Nanti, di kemudian hari, jika ada ide lagi maka saya bisa keluar dan starting-up lagi.

Mengapa perusahaan besar? Karena bagi perusahaan besar, keluar atau masuknya satu orang tidak terlalu berpengaruh. Jaring pengaman ini tidak bisa PNS atau perusahaan BUMN atau perusahaan yang kaku seperti yang ada di Indonesia. (Kalau kita keluar, mana bisa kita balik lagi.) Ini hanya bisa dilakukan oleh perusahaan multi nationa companies, yang hanya melihat talent. Jika kita punya talent, maka kita akan diterima (meskipun kita sebelumnya sudah keluar).

Perusahaan besar tersebut tidak harus serta merta membuat kantor yang besar juga di Indonesia. Ini bisa dimulai dengan research center yang berisi 5 orang saja. Yang penting mereka ada di sini dulu.

Sebetulnya di Bandung dulu saya berharap IPTN dapat menjadi jangkar perusahaan ini di Bandung, sebagaimana halnya Lockheed di Silicon Valley dulu. (Menarik ya? Dua-duanya sama-sama perusahaan yang terkait dengan pesawat terbang.) Sayangnya IPTN tutup. Sekarang kita masih harus berusaha keras.


Startup: Buat PT atau tidak?

Kemarin siang ada dua mahasiswa datang ke saya untuk meminta advis. Mereka (berlima?) memulai usaha untuk membuat sebuah layanan IT. Pertanyaan mereka adalah “bagaimana membuat Perseroan Terbatas (PT)”.

Sebelum menjawab itu, saya bertanya; “kenapa mau membuat PT?” Jawaban mereka adalah untuk kredibilitas. Salah satu hal yang dilakukan oleh pelanggan adalah membayar melalui transfer. Bagaimana meyakinkan pelanggan kalau mereka transfer uangnya ke rekening atas nama pribadi, bukan atas nama perusahaan? Begitu latar belakang mereka.

Menurut saya, tunda pembuatan PT sampai betul-betul dibutuhkan. Ada banyak kondisi dimana kita sudah dapat melakukan bisnis (termasuk transaksi finansial) tanpa menggunakan PT. Memang benar keberadaan PT dapat menambahkan kredibilitas, tetapi ada banyak hal mengapa sebaiknya tidak buru-buru membuat PT.

Pertama, membuat PT membutuhkan uang. (Saya tidak tahu tepatnya besar biaya yang harus dipersiapkan. Untuk Bandung, dugaan saya setidaknya adalah Rp. 10 juta.) Sayang uang jika tidak benar-benar dimanfaatkan. Ingat, kita masih dalam state starting up. Berhemat itu penting.

Kedua, setelah membuat PT maka akan banyak urusan administratif lain yang harus diselesaikan. Setidaknya adalah harus siap untuk membuat pembukuan, laporan pajak, dan seterusnya. Artinya harus disiapkan orang yang menangani hal ini. Biasanya orang teknis tidak suka mengurusi hal ini dan akibatnya akan terbengkalai. Selain untuk mendaftarkan PT, ada dokumen-dokumen lain yang harus diurusi seperti SIUP, TDP, Domisili, dan lain-lain. Saran saya, untuk hal ini juga buat ketika dibutuhkan. Jika belum dibutuhkan, tunda dulu. (Sebagai catatan, yang sering bermasalah adalah domisili karena biasanya startup dimulai dari tempat koskosan.)

Ketiga, pastikan bahwa memang pihak-pihak yang ingin membuat PT (para pemegang saham) sudah sehati. Ada banyak kejadian dimana ada founder yang kemudian beda pendapat dan ingin berpisah, tetapi karena terkait dengan PT jadi repot. Sebagai contoh, misal ada 5 orang membuat PT. Kemudian salah seorangnya bikin gara-gara, tidak disukai oleh yang lainnya dan harus ditendang agar PT bisa maju. Masalahnya adalah harus mengeluarkan orang ini dari PT. Untuk mengubah hal ini harus ada RUPS dan nantinya disahkan lagi oleh notaris. Artinya uang lagi. Ya kalau yang bersangkutan bersedia untuk keluar dengan suka rela. Kalau dia ngotot tidak mau (dan minta uang untuk dikeluarkan)? Akibatnya maka perusahaan tidak bisa maju karena dirongrong oleh “ulat bulu” ini. Pembuatan PT justru mempersulit. Maka pastikan bahwa para founder memang sudah ingin hidup mati bersama :)

Keempat, menutup perusahan bukan hal yang mudah dan tentu saja harus keluar uang lagi.

Ada kalanya memang PT (atau badan hukum lainnya) benar-benar dibutuhkan; (1) untuk melakukan tender pekerjaan, dan (2) untuk menerima pendanaan dari perusahaan / pemerintah / badan hukum lainnya. Jika demikian, PT memang harus dibuat. Hanya saja, perlu diperhatikan hal-hal di atas.

Semoga bermanfaat.


Dapatkah Google+ Mengalahkan Facebook?

Google baru-baru ini mengeluarkan layanan baru, Google Plus. Di dalamnya ada banyak fitur, seperti Circle yang mengumpulkan teman-teman seperti Facebook. Bahkan ada yang menduga G+ ini mau mencoba terjun ke dunia jejaring sosial. Pertanyaannya adalah

Dapatkah Google mengalahkan Facebook?

Terlalu awal untuk menjawab pertanyaan ini, tetapi saya akan coba memberikan sedikit opini.

Agar sebuah layanan dapat diterima di lingkungan orang Indonesia dia harus murah dan mudah. Untuk Facebook dan G+ keduanya gratisan. Jadi keduanya murah. Pengguna memang masih harus keluar uang untuk biaya telekomunikasi (menggunakan internetnya), tetapi sekarang akses internet sudah relatif murah.

Soal mudah, ini urusannya lain. Mudah ini ada banyak parameternya. Saya akan soroti dua hal saja, aplikasi dan perangkat. Yang membuat Facebook diterima oleh orang Indonesia adalah karena aplikasinya mudah digunakan. Mau menceritakan kondisi kita – mengubah status – tinggal ketik. Mau komentar, tinggal ketik juga. Mau menampilkan foto, tinggal jepret dan upload. Dan seterusnya.

Soal perangkat, Facebook book bisa diakses dari komputer, handphone, dan tablet. Bahkan khusus untuk Indonesia, perangkat handphone itu yang memegang peranan penting. Kombinasi Blackberry dan Facebook merupakan killer package. (Bahkan ada yang mengatakan bahwa kombinasi itu ditambah dengan ibu-ibu yang menggunakannya merupakan pendorong populernya Facebook dan Blackberry.) Kombinasi antara perangkat handphone dan Facebook merupakan siklus (feedback) yang saling memperkuat. Sekarang ini mulai goyah dengan adanya tablet dan Android.

Kemudahan di atas (aplikasi dan perangkat) belum terjadi dengan G+.

Ada hal lain yang membuat Facebook diterima oleh orang Indonesia; (1) kemudahan menemukan teman lama [dan kemudian menjadi reuni-reuni]; (2) kemudahan menemukan teman baru [yang satu ide/kesukaan]; dan (3) games!

Selama hal-hal di atas belum diperhatikan oleh G+, Facebook masih akan merajai Indonesia.

Oh ya, tentu saja saya bisa salah :)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.085 pengikut lainnya.