Tag Archives: Bisnis

Nambah Artis dan Lagu

Baru saja saya selesai menandatangani kontrak dengan pak Bambang, yang membawa enam (6) artis / band untuk dimasukkan ke Insan Music Store. Masih ada tiga (3) band lagi yang akan dimasukkan segera. Mungkin lusa. Yang baru masuk adalah Manic Band, Shieraru Band, Parasti Band, Aya Agasi, Randa Hutagalung, dan Haji Atik Kobe. Keren!

DSC_3507 bambang br 1000

Selain berdiskusi tentang artis / band tersebut, kami juga membahas hal lain seperti buku, produk multimedia, dan banyak lagi. Ada banyak yang dapat disinergikan. Pak Bambang ini ternyata super sibuk juga dengan berbagai komunitasnya; mulai dari musik, teater, buku, sampai juga agama. Keren. Mungkin ke depannya kita bisa menyelenggarakan event bersama.

Artis / band yang lain masih ditunggu. Semoga kita sukses bersama.


Karakteristik Bandung Car Free Day

Hari ini untuk kedua kalinya kami buka lapak toko musik digital kami (Insan Music Store) di Bandung Car Free Day (CFD). Tujuannya masih seperti sebelumnya, yaitu untuk memperkenalkan layanan kami. To test the market, sort of speak.

Saya melihat bahwa tujuan mayoritas dari pengunjung CFD adalah untuk berjalan-jalan. Berolahraga sambil rileks dengan keluarga atau teman. Tadinya saya pikir kebanyakan adalah duduk nongkrong beli ini dan itu. Ternyata mereka tidak membeli. Mereka berjalan. Saya perhatikan yang jualan minuman di samping stand kami tidak berhasil menjual minumannya. Sebetulnya terjual tetapi nampaknya tidak seperti yang dia harapkan. Di depannya, jualan es lilin, demikian pula. Samping kanan jauh, jualan otak-otak juga demikian. Ada yang beli tetapi tidak banyak.

Untungnya tujuan kami berada di sana bukan – belum – untuk berjualan tetapi justru untuk mendapatkan lagu-lagu dari artis / band yang sudah memiliki lagu dalam format digital. Nampaknya kalau untuk berjualan, mungkin CFD bukan tempatnya. Entahlah kalau kami nanti sudah mulai menggelar lapak digital kami; lengkap dengan access point dan notebook untuk mendengarkan musik. We’ll see.

Saya belum tahu apakah yang berjualan di Gasibu (sekarang seberangnya, yang lebih dekat ke Unpad) memiliki karakterisik yang sama atau tidak. Mungkin ada yang tahu? Sementara ini kalau Anda ingin berjualan dengan skala yang besar di CFD, pikir-pikir dulu.


Oleh-oleh Dari InnovFest 2014

Tulisan ini harus saya kerjakan secepatnya. Mumpung masih hangat dan tidak terdesak dengan kegiatan lain, yang boleh jadi prioritasnya tadinya rendah tetapi tiba-tiba menyundul.

Hari Senin saya berangkat ke Singapura untuk mengikuti InnovFest 2014, yang sub-judulnya kali ini adalah “Asian Innovations Going Global“. Saya belum pernah mengikuti kegiatan ini tahun-tahun sebelumnya sehingga belum tahu apa yang diharapkan. Tiba-tiba langsung diminta untuk menjadi salah satu pembicara. Saya sanggupi karena melihat topiknya, terkait dengan entrepreneurship dan teknologi, sangat menarik buat saya.

innovfest 2014 speaksers

IMG_4367 innovfest BR name tag 1000

Salah satu hal yang menarik adalah organizer susah memasukkan saya kepada kategori apa dan dari afiliasi apa. Biasanya di name tag dituliskan afiliasinya. Di name tag saya, kosong. hi hi hi. Ini nantinya saya jadikan sebagai salah satu poin di presentasi saya. Yeah! This is why Asia is in different category. You just cannot categorize Asia in a Western categorical system. aha.

Hari Senin malam ada acara reception untuk para pembicara dan sponsor dari acara. Acara dilakukan di National Museum. Saya sudah pernah ke sini sebelumnya hanya untuk melihat-lihat musium. Acara reception ini lebih banyak untuk networking, berkenalan dan saling tukar kartu nama. Tidak ada orang yang saya kenal di sana. Besoknya saya baru mengetahui siapa-siapa mereka. Dan ternyata mereka hebat-hebat.

Hari Selasa acara dibuka oleh CEO dari NUS Enterprise, Lily Chan. Kata pengantar (speech) yang diberikan bagus sekali. Bukan sekedar basa basi. Sayangnya tidak saya miliki. Kemudian ada presentasi yang sangat menarik, tentang desain nursing home. Keren juga! Setelah itu ada presentasi dari Ike Lee, seorang innovator (dan sekarang investor juga) dari Korea Selatan yang sukses di Amerika. Lucu banget karena bahasa Inggrisnya yang pas-pasan tapi dia sukses besar di Silicon Valley. Satu point yang dia sampaikan adalah bahwa sekarang yang disebut “global” adalah Asia. Kita berada di tempat yang benar. We are in the right place! Orang-orang Amerika berharap bisa hadir di sini. Sekarang adalah waktunya. Right Now. (Saya lantas keinget lagu Van Halen – Right Now. Jadi kepikiran kalau besok akan saya gunakan lagu ini sebagai soundtrack dari presentasi saya. hi hi hi.) Nah. Wah. Acara baru dimulai dan keren-keren materinya. Setelah itu ada coffee break dan acara dibagi menjadi dua sesi paralel.

Di luar ada pameran poster-poster (riset-riset dari perguruan tinggi; NUS, NTU, Politeknik, dll.) dan booth-booth startup yang dibiayai oleh NUS Enterprise. Oh ya, setiap peserta diberi “uang” yang kita investasikan di salah satu dari booth tersebut. Nantinya booth yang paling banyak mendapatkan investasi akan mendapatkan penghargaan. Orang yang invest juga (diundi) untuk mendapatkan hadiah. Kreatif juga idenya.

IMG_4421 uang innovfest 1000

Setelah coffee break saya masuk ke sesi “Start-Ups & Enterpreneurs: Stories of Local Successes: Homegrown Heroes’ Road to Singapore Exits“. Pada sesi ini dibahas tentang pengalaman tiga buah start-ups di Singapura. Mereka menceritakan awalnya sampai ke akhirnya mereka mendapat dana dengan cara dibeli oleh perusahaan yang lebih besar. Kelihatannya strategi keluar (exit strategy) dari start-up di Singapura adalah dibeli (diakusisi) oleh perusahaan lain. Belum ada cerita sukses perusahaan tersebut di pasar modal (via IPO). Besoknya saya mendapat data tambahan bahwa memang belum ada cerita sukses via IPO. Ini berbeda dengan di Amerika! Nah.

Minggu lalu saya berdiskusi dengan salah seorang investor dari Jepang. Dia berkata bahwa start up di Jepang dapat berjalan karena capital market-nya sudah disiapkan sebelumnya. Mereka harus melakukan perombakan (meniru Amerika?) sehingga memungkinkan untuk melakukan invetasi di perusahaan start up. Ah. Nampaknya dia benar. Indonesia belum siap untuk itu. Nampaknya bahkan Singapura juga belum siap. Itulah sebabnya exit strategy yang masuk akal kali ini hanya dibeli oleh perusahaan besar. Ini membutuhkan diskusi yang lebih panjang. Harus buat thread terpisah untuk ini.

Sesi selanjutnya saya mengikuti “Urbanisation and Future Cities“. Ceritanya lain kali ya. Intinya adalah desain kota masa depan (dengan permasalahan yang dihadapi dunia saat ini). Ada contoh kota yang dikembangkan oleh Singapura dan China. Keren.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pitching dari beberapa start-ups. Pitching pertama, sebetulnya dari segi visi dan ide bagus tetapi cara presentasinya salah. Saya bertanya, “what products are you making? It’s not clear to me“. Dia menjelaskan kemudian bertanya “Is it clear?” dan saya jawab “Not really“. Salah satu kesalahan start up adalah tidak tahu cara pitching. Jadi kesannya adalah wasting our time. Suatu saat saya harus ajari mereka caranya.

Hasil dari hari ini membuat saya berpikir bahwa materi presentasi saya untuk keesokan harinya harus saya ubah. Pivot, kalau istilah anak-anak sekarang. hi hi hi. Maka setelah acara celebration dinner malam itu saya asyik mengubah materi presentasi. Harus lebih jreng!

Oh ya, di acara dinner itu yang paling banyak dibicarakan adalah success story. Di Singapura yang lagi rame adalah bagaimana Zopim – sebuah start-up – baru saja dibeli oleh Zendesk sekitar $30 juta. Foundernya terlihat happy dan ketika diminta untuk memberikan presentasi agak mabok. hi hi hi. Tapi dia bercerita apa adanya tentang perjalanan start up-nya. Saya bisa mengatakan bahwa apa yang mereka lalui mirip dengan apa yang pernah saya lalui juga. hi hi hi. Kapan-kapan saya akan cerita tentang itu.

Besoknya saya memberikan materi presentasi saya tentang “A new dawn of technological innovation: Is the Sun Rising in the East?” Intinya adalah ini: apakah inovasi terjadi di Timur, di Asia (atau Asean lebih tepatnya)? Apakah inovasi hanya terjadi di dunia Barat? Jawaban saya adalah: YA! meskipun pada awalnya saya katakan Tidak. hi hi hi. Kemudian para peserta saya bawa naik roler coaster perjalanan saya mengembangkan start ups di Kanada. Gagal semua. Tetapi saya jelaskan bahwa di sana, kami mengembangkan teknologi. Bukan hanya me too – layanan yang nyontek yang sudah ada. Saya katakan bahwa di dunia Timur, kita pun harus mengembangkan teknologi yang khas untuk memecahkan masalah kita. Ada beberapa hambatan yang harus kita lalui. Pokoknya serulah presentasi saya. hi hi hi. Materi presentasi akan saya upload dan link-nya akan saya pasang di sini.

Setelah selesai presentasi banyak yang ngajak diskusi dengan saya, berbagai topik. Yang paling banyak adalah yang meminta bantuan untuk mendapatkan pengembang (developers, programmers) untuk mengimplementasikan ide-ide mereka. Whoa! Saya harus berpikir keras karena di Bandung ini ternyata kita juga masih kekurangan programmer.

Masih banyak yang ingin saya ceritakan di sini. Sudah kepanjangan. Nanti bosan. Harusnya saya buat ini menjadi beberapa seri. Naaahhh … Semoga bermanfaat.


Memilih Topik Start-up

Salah satu pertanyaan yang sering saya terima adalah memilih topik (ide) start-up. Bagaimana memilihnya? Atau apakah start-up saya ini memiliki potensi? Jawaban saya adalah pilih topik yang sangat dekat dengan kita, yang memecahkan masalah kita. Dearest to our heart. Sesuatu yang kita pikirkan siang dan malam. Contohnya tadi ada yang konsultasi tentang produk untuk ngecek lemak susu sapi, maka pertanyaan saya adalah mengapa dia mengambil ide itu. Apakah keluarganya punya banyak sapi? Atau bagaimana? Bahwa sesuatu itu baik belum tentu jadi alasan untuk menjadikannya start-up.

Jika sesuatu itu memang merupakan masalah kita, maka mau dibayar atau tidak, kita tetap akan mencari solusi untuk masalah kita. Kebetulan solusi itu kita jadikan start-up. Begitu.


Apakah Perlu Inkubator Bisnis?

Ini saya baru pulang dari reception untuk para pembicara dan undangan dari luar negeri di acara Innovation Festival Asia yan diselenggarakan oleh NUS (National University Singapore). Acaranya makan malam dan networking, ngobrol cari teman baru. Salah satu pertanyaan yang bolak-balik muncul adalah apakah saya dari sebuah inkubator bisnis (startup)? Saya jawab tidak. Saya kemudian berpikir, apakah sebetulnya inkubator bisnis itu diperlukan?

Inkubator bisnis itu mengambil analogi inkubator untuk bayi. Ada bayi yang begitu lahir harus dimasukkan ke inkubator dahulu karena satu dan lain hal. Inkubator ini memperbesar peluang mereka untuk menghadapi dunia yang baru mereka masuki. Hal yang sama juga terjadi untuk bisnis. Ada bisnis yang harus melalui inkubator. Namun kita lupa bahwa sebetulnya kita berharap bahwa bayi-bayi yang lahir itu tidak harus melalui inkubator. Inkubator itu hanya kasus khusus saja. Bukan yang umum.

Saya mendapati ada kecenderungan startup ingin melalui proses masuk inkubator bisnis. Kalau kita lihat analoginya dengan bayi, kita tentunya tidak ingin bayi kita melalui proses inkubator jika memang tidak harus. Bukankah begitu? Mengapa kalau urusan bisnis kita justru ingin masuk ke inkubator? Aneh saja.


Teknologi Saham

Akhir-akhir ini saya berusaha banyak belajar tentang pemanfaatan teknologi informasi dalam urusan jual beli saham. Ternyata menarik juga. Banyak hal baru yang saya pelajari. Hal yang membuat saya menarik adalah pemanfaatan IT ini ternyata masih boleh dibilang “baru” juga. Mungkin sekitar akhir tahun 90-an (awal 2000-an) penggunaan IT ini baru mulai terlihat signifikan.

Yang juga menarik untuk saya adalah aspek kebaharuan yang muncul, seperti misalnya ada yang namanya algorithmic trading dan high frequency trading (HFT). Komputer digunakan secara ekstensif untuk memutuskan kapan jual dan beli saham. Karena ini dilakukan oleh komputer, dia dapat dilakukan secara otomatis tanpa interferensi manusia dan dalam kecepatan yang sangat tinggi. Hal-hal tersebut tidak dapat terjadi tanpa adanya teknologi informasi. Bagi yang tidak menggunakan teknologi informasi ada kemungkinan akan tertinggal.

Keuntungan yang mungkin tinggi ini dibarengi dengan risiko yang tinggi. High risk, high gain. Nah, bagaimana caranya membuat risiko sekecil mungkin. Itu adalah salah satu hal yang perlu diperhatikan. Maklum, kacamata saya adalah aspek keamanannya (security).


Masih Soal Toko Musik Digital

Beberapa hari ini saya masih memikirkan soal toko musik digital kami. Hari Minggu – ya, betul, besok! – kami mau buka lapak di Bandung Car Free Day. Ini sih modal nekad saja. Pasalnya kalau tidak diniatkan dan dinekadkan begini mungkin tidak maju-maju. Jadi besok mau buka lapak saja.

Tujuan utama besok adalah untuk melihat situasi pasar, memperkenalkan diri, dan mencari band / artis / musisi yang berminat memasukkan lagunya di toko musik kami. Itu saja. Jadi hari ini saya masih kirim email ke sana ke mari untuk memberitahu soal ini. Dadakan juga sih. Soalnya hari-hari sebelumnya saya disibukkan oleh urusan kuliah dan sejenisnya.

Semoga lancar besok. Jreng!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.783 pengikut lainnya.