Tag Archives: buku

(Rak) Buku

Saya sering kagum melihat rumah / kantor orang yang rapi. Khususnya koleksi bukunya. Soalnya, buku-buku saya bertebaran di mana-mana. Kalaupun saya simpan dalam lemari (rak), mereka tidak tersusun rapi. Berantakan juga. Ini contohnya. hi hi hi.

IMG_3850 rakbuku 1000

Oh ya. Ini termasuk bagian yang rapi. hi hihi. Bagaimana yang tidak rapinya? Ah, yang penting bukunya bisa dibaca.


Rayuan Buku

Wahai buku-buku,
Aku tahu apa yang kalian perbuat
Kalian bersekongkol
Merayu kami
Untuk sekedar melihat-lihat
Memungut
Kemudian membawa kalian pulang
(dan mengucapkan selamat tinggal
kepada uang yang sebelumnya menghuni dompet)

IMG_3619 books 1000


Draft Buku Tentang Twitter

Baru saja saya upload draft tulisan (buku) tentang Penggunaan “Twitter Yang Baik Dan Benar“. Silahkan unduh dari tempat berikut:

http://www.scribd.com/doc/169350630/Twitter-Baik-dan-Benar

Selamat menikmati.

Oh ya, saya masih mencari tempat lain untuk upload draft buku ini. Ada saran? (Maunya yang bisa menimpa versi lamanya supaya versi yang terbaru yang didownload.)


Di Sebuah Toko Buku

Tak tahan aku melihat toko buku pagi ini. Seharusnya aku tidak ke sana, tetapi kaki langsung melangkah memasukinya. Mata langsung menikmati serakan buku. Sampul buku yang berwarna-warni mencari perhatianku.

IMG_0947 bookstore

Ijinkan aku menikmati semuanya ini.

Tangan mendekap erat dompet di saku celana. Berharap uang tidak menyelinap keluar, menukarkan diri dengan buku.

Harapan tinggal harapan. Tiga buku berpindah dari tumpukan ke kantong plastik yang kujinjing. Ah, seharusnya tadi tidak perlu dimasukkan ke dalam kantong plastik. Semoga manfaat.


Buku Kuning

Ini bukan tentang kitab yang terkenal itu. Ini tentang buku-buku saya yang kertasnya mulai berubah menjadi kuning dan berjamur. Lihat saja fotonya di bawah ini.

CIMG5233 buku kuning 1000

CIMG5236 buku kuning 1000

Ya memang ini salah saya juga karena membiarkan mereka dalam lemari di luar. Habis bagaimana lagi? Lemari-lemari di dalam sudah penuh dengan buku-buku yang lain. Bagusnya eBooks adalah mereka tidak bakalan mengalami kasus kertas menjadi kuning ini. hi hi hi.

Maafkan aku wahai buku … :(


Sialan Salman!

Entah kenapa, dua buku yang terakhir saya miliki – “at-twitter” dari Pidi Baiq dan “Sialan Salman!” dari Salman Aditya – ternyata ditulis oleh orang-orang yang “sinting”. (Punten ah.)  Yang saya maksud dengan sinting di sini sebetulnya lebih ke arah mbeling, aneh, lucu, kacau, dan hiperbol. Hmmm… jangan-jangan memang mereka sesungguhnya memang memliki kelainan dalam artian sebenarnya. hi hi hi.

CIMG4653 salman 1000

Pertama, tentu saja judulnya sudah menimbulkan pertanyaan. Siapa Salman? Dan kenapa sialan? Untuk pertanyaan pertama gampang jawabannya. Siapa Salman? Ya dia yang menulis buku ini Salman Aditya. Tadinya saya berpikir ini tentang Salman yang namanya diabadikan jadi nama masjid di kampus ITB. Eh, jangan-jangan memang ide nama Salman ini datang dari sana juga karena bapaknya Salman – yang Aditya lho, bukan yang orang Persia – itu dosen ITB. Yang membuat saya heran adalah bapaknya itu orangnya serius, anaknya kok bisa jadi kayak gini ya? he he he. Ampun pak dosen :)

Kedua, saya sering heran dan kagum terhadap kemampuan orang memilih kata-kata. Ada buku yang pemilihan kata-katanya indah. Kalau buku yang ini, pemilihan kata-katanya mbeling, aneh, lucu, kacau, dan hiperbol. he he he. Ini yang justru membuatnya menjadi seru. Otak kita dibawa ke arah yang tidak lazim. Saya yakin otak mereka memang agak miring sehingga dapat melihat kata-kata di kamus yang memang hanya bisa dilihat kalau agak miring. Kalau yang ajeg kayak saya ini munculnya kata – eh, data – yang membosankan. Sialan!

Maka sialan Salman pun menjadi sebuah cerita komedi yang seru.

Oh ya, more thing, karya-karya yang kreatif seperti ini harus dihargai, didukung. Encourage them to create more. Kalau kata orang Sunda, “sok dibeli atuh”.

Mau tahu lebih banyak tentang buku ini? Silahkan lihat di sialansalman.com/books


at-twitter memang lucu …

Beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja saya melihat buku “at-twitter” di sebuah toko buku. Ini buku karangan Pidi Baiq, dosen lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB yang kocak itu. Lihat saja sampul bukunya.

at-twitter: Google menjawan semuanya, Pidi Baiq menjawab semaunya”

Foto1993 at-twitter 1000

Buku ini berisi kumpulan tulisan / twit Pidi Baiq (@pidibaiq). Dia diberi judul “at-twitter” supaya agak bernuansa seperti kitab penting. Jadi mengingatkan saya akan surat at taubah. he he he.

Tadinya saya pikir isi bukunya ringan-ringan dan bisa dibaca cepat. Yaah seperti buku humor yang banyak beredar. Sekedar tahu sajalah. Apalagi ini kan hanya koleksi twit yang maksimum 140 karakter saja.  Eh, ternyata isinya = meskipun lucu – berbobot juga. Maksudnya, humornya itu humor yang berat yang pakai mikir. Just the way I like it. Witty.  Berikut ini beberapa contoh isinya.

Bagiku, meja, lemari, buffet, sofa, untuk apakah kubeli? Untuk mengatur ruangan agar pembantuku tidak terlalu luas mengepel!

Aku juga rindu, pagi-pagi diam di balik pohon di taman depan rumahku. Menunggu tukang korang melempar koran untuk kuambil, lalu kulempar lagi ke dia.

Aku juga rindu bawa gitar menemui pengamen di depan rumahku. Mengiringi dia menyanyu. Bayarannya dibagi dua lalu dia ketawa. Aku tidak. Aku serius.

Terus terang, saya nyengir sendiri membayangkan hal-hal di atas itu. hi hi hi. Jahil banget.

Ada orang yang berusaha keras untuk menjadi lucu. Dan ada orang yang memang lucu. Pidi Baiq ini masuk kategori yang terakhir. Memang lucu. he he he. Buku memang pantas untuk dibeli.


Update Buku

Menulis buku ternyata tidak mudah. Saya sudah mencoba dan saat ini saya baru punya 3 buku yang terbit (dan kemudian menghilang dari pasaran – he he he). Kali ini saya mau cerita tentang draft buku yang sedang saya buat.

Saya ingin membuat buku tentang musik sebagai referensi buat saya sendiri. Akhirnya tahun 2002 saya mulai menulis “Membedah Classic Rock”. Sampai sekarang (2012) – 10 tahun kemudian – buku ini belum selesai juga. Halah. Mungkin memang buku seperti ini tidak ada selesainya ya?

Tadi pagi, sehabis subuh, saya lanjutkan menulis buku ini. Versi 2.13 saya upload ke sini (di scribd). Silahkan download di sana. Selamat menikmati.


Pegawai Toko Buku

Iseng-iseng tadi mampir ke sebuah toko buku. (Sedang berbelanja, belok sebentar.) Saya berani ke toko buku karena sudah tahu ada banyak eBook yang belum saya baca dan belum berani beli buku lagi. Ini hanya sekedar lihat-lihat saja.

Saya perhatikan pegawai toko buku ini berdiri diam saja. Melamun-melamun. Memang toko sedang sepi. Mungkin karena waktunya siang hari dan lebih banyak orang di rumah atau sedang cari makan. Entahlah. Yang menjadi perhatian saya adalah para pegawai toko buku ini. Mengapa mereka bosan ya? Padahal toko buku ini … ya banyak buku :)

Maksud saya begini. Saya senang ke toko buku atau ke perpustakaan hanya untuk sekedar melihat-lihat atau browsing buku saja. Betapa senangnya kalau saya punya toko buku. Yang terbayang oleh saya adalah asyiknya bisa baca buku macam-macam. Tidak ada habisnya. Tidak membosankan. Nah, mengapa para pegawai ini tampak bosan ya?

Salah satu dugaan saya adalah para pegawai ini bekerja di toko buku ini bukan karena suka buku, tetapi karena dapat pekerjaan sebagai pegawai saja. Buku mungkin bukan minat (passion) mereka. Jadi bagi mereka ini mungkin tidak ada bedanya dengan dagang buah-buahan atau material. Tidak ada yang menarik. Sekedar bekerja saja. Betapa menyedihkannya. Mereka bekerja tidak dengan suka cita tetapi dengan penuh kebosanan dan mungkin penderitaan. Padahal bagi saya, toko buku tidak pernah membosankan. Mereka semestinya kerja di tempat lain saja yang membuat mereka lebih bahagia.

Hmmm …


Lihat-lihat Buku

Salah satu kesukaan saya adalah melihat-lihat buku di toko buku. Kesukaan ini juga berbahaya buat kantong, karena tiba-tiba jadi terbeli buku. Padahal masih ada tumpukan buku yang ingin (dan harus) dibaca.

Nah, sekarang saya punya kesukaan lain yaitu melihat-lihat buku di library.nu. Yang menariknya lagi adalah kita bisa mengunduh (download) buku tersebut dari sana. Tentu saja saya tidak berani mengambil semua buku yang ada di sana karena untuk apa (menghabiskan disk+bandwidth) dan kapan juga membacanya. Mengumpulkan ebooks yang tidak jelas adalah mengundang penyakit. he he he. Yang menjadi masalah adalah kalau ebooksnya jelas alias bagus. Nah, itu jadi masalah karena bahan bacaan menjadi tambah banyak dan tambah stress (kapan bacanya). he he he.

Oh ya … sebelumnya saya harus memperingatkan Anda, lihat-lihat buku di  library. nu itu bisa jadi kecanduan. Sungguh.


9 Summers 10 Autumns: resensi

Baru saja saya selesai membaca buku “9 Summers 10 Autumns” (atau saya sebut saja 9/10) karangan Iwan Setyawan. Buku ini saya beli beberapa hari yang lalu dan sekarang sudah tamat. Artinya buku ini saya sukai karena bisa mengalahkan kebosanan saya dalam membaca :)  Ada banyak buku, novel, yang menurut orang bagus-bagus tapi belum selesai saya baca.

Buku ini bercerita mengenai diri Iwan sendiri, sebuah otobiografi. Lucunya, di dalam buku ini Iwan becerita kepada seorang anak kecil yang mula-mula dia temui ketika dia dirampok di New York. Mengapa bercerita kepada anak kecil? Saya hanya bisa menduga-duga.

Bercerita kepada seorang anak kecil yang dekat kepada kita akan menghilangkan kesan arogan (menceritakan kehebatan kita) dan menghilangkan kesulitan bercerita mengenai hal-hal yang bersifat privat (yang sulit diungkapkan). Sebagai contoh, Iwan lebih mudah untuk mengatakan “Aku kangen bapak“, kepada anak kecil itu daripada dia langsung berkata kepada pembaca. Bagian “aku kangen bapak” merupakan bagian yang paling saya sukai dalam buku ini.

Ah, saya baru ingat. Saya ingin membuat otobiografi saya dan tidak pernah berhasil. Ada banyak hal yang sulit saya ceritakan. Mungkin menggunakan media anak kecil ini merupakan sebuah solusi? Entahlah. Penggunaan anak kecil ini juga mengingatkan saya akan film The Kid, yang dibintangi oleh Bruce Willis.

Enough about the kid. Mari kita diskusikan hal lain.

Cara Iwan bercerita berkesan seperti dia sudah sering menulis buku! Tidak terlalu bertele-tele tapi juga tidak kering. Ini berbeda dengan cara saya menulis yang terlalu to the point (dan akibatnya menjadi kering). ha! Lihat saja resensi ini untuk melihat cara saya menulis. ha lagi! Cara Iwan menulis mungkin yang membuat saya bisa menyelesaikan buku ini dengan cepat, tetapi tidak terlalu buru-buru.

Buku ini membuat saya bersemangat untuk menulis buku lagi. Saya pikir riwayat hidup saya juga banyak yang menarik (dan bahkan lebih banyak yang bisa diceritakan). Saya tadinya berpikir bahwa kehidupan saya tidak menarik bagi orang lain, tetapi setelah membaca buku Iwan saya jadi banting setir. Banyak yang bisa saya ceritakan dari kehidupan saya. Hanya saja saya masih harus belajar untuk becerita.

Tentu saja bagi yang berharap buku ini memiliki ketegangan ala cerita action akan kecewa. Buku ini lebih kalem. Membaca buku ini seperti mendengarkan lagu-lagu opera yang dibawakan oleh Pavarotti daripada mendengarkan musik cadas band Kiss. Oh ya, dari cerita di buku ini saya jadi tahu bahwa Iwan memang menyukai teater dan opera. Bahkan teaterlah yang menjadi obat untuk mengatasi tekanan atas kemiskinan masa kecilnya.

Hal lain yang menarik bagi saya adalah saya menangkap kesan kesepian (loneliness) dalam kehidupan Iwan di Amerika. Ketika saya baru memulai hidup di Kanada, saya merasakan hal yang sama. Hal ini sukar untuk saya ceritakan kepada orang yang belum pernah mengalaminya. Kebanyakan orang tinggal di luar negeri untuk jangka waktu yang “singkat”, 2 atau 3 tahun. Bagi yang tinggal lebih lama, katakanlah 10 tahun, maka hal ini dapat dirasakan dan dimengerti.

Hmmm … sebetulnya tulisan ini berisi tentang resensi buku Iwan atau tentang diri saya sih? Hal yang menarik dari membaca buku atau mendengarkan musik adalah kita menjadikannya sebagai hal yang personal, yang menjadikan bagian dari sejarah kehidupan kita. Kita mengguratnya di sebuah titik dalam perjalanan waktu (time space). Apa artinya, that book made a dent in somebody’s life. Iwan, selamat atas keberhasilan ini.

Mengenai ceritanya? Ya tentang Iwan. Dia dilahirkan dari keluarga sopir yang di kota Batu, Jawa Timur, (kota Apel). Dengan keterbatasan yang ada, sangat sulit untuk diramalkan bahwa akhirnya dia bisa menjadi salah seorang manager di perusahaan raksasa di New York (The Big Apple). Bagaimana mungkin? Cerita tentang perjuangan dia dan keluarganya dapat menjadi insipirasi atau motivasi bagi para pembaca. Daripada saya menceritakan detailnya di sini, silahkan baca bukunya saja deh. Tentu saja lebih bagus ceritanya di sana :)

Nilai akhir? Bagi saya buku ini bernilai 4,5 dari skala maksimum 5. Mengapa tidak bernilai 5? Sebetulnya alasannya mungkin agak silly. Kalau saya berikan nilai 5, atau nilai maksimum, maka hal ini akan menjadi bumerang bagi Iwan. Dia akan mengalami stress untuk membuat buku lagi yang bisa mengalahkan buku ini. How do you top 5 out of 5? Akibatnya mungkin Iwan tidak mamu membuat buku lagi. Padahal kita semua menantikan buku berikutnya. Nah, kalau diberi nilai 4,5 kan berarti masih bisa buat buku yang nilainya 5. ha ha ha.

I take it back. Buku ini 5 / 5. Direkomendasikan.

Hmm… baru kepikiran. Kayaknya buku ini pantas juga diangkat ke layar lebar.


Membuat Buku Koleksi Lagu

Sudah lama keinginan saya untuk membuat buku koleksi lagu tertahan. Kayaknya haru dieksekusi. Nah, sekarang saya sedang melihat-lihat program yang digunakan untuk typesetting lagu-lagu tersebut. Kebutuhan saya adalah adanya lirik dan chord (tidak perlu gambar chordnya). Pilihannya:

  • Microsoft Word
  • OpenOffice Write
  • LaTeX dengan Songbook style (ini yang paling cocok sementara ini, outputnya persis yang saya maui; silahkan lihat hasil ini untuk percobaan saya menggunakan Songbook untuk menuliskan lagu Gino Vannelli – I Just Wanna Stop)
  • GuitarTex (yang ini belum sempat dieksplorasi, nampaknya mirip dengan Songbook di atas)
  • LilyPond (yang ini kayaknya agak kompleks tetapi bisa mengeluarkan tampilan not baloknya, lebih ke arah music sheet)
  • Tulis tangan saja (saya punya beberapa koleksi lirik dan chord yang ditulis tangan!)

Ada sararan?

Update: tadi mencoba Songbook style. Ternyata dibutuhkan waktu yang cukup lama juga untuk membuat satu lagu. Saya menghabiskan sekitar 1 jam untuk membuatnya. Maklum, itu dilakukan sambil membaca dokumentasinya. Kalau untuk satu lagu saja, nampaknya wordprocessor merupakan alternatif yang paling menarik. Nah kalau lagunya ratusan, saya belum tahu. Songbook mungkin bisa lebih menarik karena daftar isi, indeks, dan lain-lain dihasilkan dengan kualitas yang bagus. Jadi pilihannya bagaimana? … terserah Anda :D


Sedang baca komik kidstuff

Sekarang saya sedang baca buku komik “kid stuff” karangan Tita “esduren”. Buku ini, yang disebut “graphic diary” oleh pengarangnya – yang dosen FSRD ITB, berisi cerita sehari-hari yang dialami Tita dan sekeluarganya. Seru juga. :-)

Karena saya gak bisa menggambar, saya menulis blog saja :-) Mungkin suatu saat harus minta bantuan Tita untuk membuatkan gambar untuk tulisan-tulisan di blog saya (atau malah cerita bersambung itu).


Aura Biru: catatan para pelaku sejarah ITB

Hari Senin, 12 Juli 2010, kemarin ada acara peluncuran buku di Aula Timur ITB. Judul bukunya adalah “Aura Biru: catatan para pelaku sejarah ITB“. Buku ini berisi tulisan para pensiunan ITB, para pelaku sejarah ITB. Wah, menarik, saya harus datang. Kebetulan sya senang dengan hal-hal yang berbau sejarah ini. Belajar dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan.

Saya sendiri sebetulnya tahu acara ini karena secara tidak sengaja ketemu dengan pak Boy di bookstore beberapa hari sebelumnya. Saya diberitahu adanya acara ini. Wah, undangan nampaknya belum sampai ke meja saya. Tidak mengapa. Saya akan langsung datang saja. Maka Senin pagi saya langsung menuju Aula Timur. Di sana sudah terpasang beberapa poster.

Ternyata acaranya adalah siang hari. Maka siang harinya saya datang lagi ke Aula Timur. Kali ini Aula Timur sudah dipadati orang yang baru selesai dari acara di Aula Barat dan sedang menikmati makan siang. Saya sendiri sudah makan sebelum datang ke acara ini, karena yang menarik bagi saya adalah acara bedah bukunya. Jadinya acaranya molor dari jadwal waktunya karena menunggu orang selesai makan. Ternyata setelah selesai makan, kebanyakan juga kabur dari tempat menyisakan banyak tempat bagi saya dan dosen-dosen lain yang masih ingin mendengarkan bedah bukunya.


[Ibu dosen-dosen ITB]

Setelah dibuka oleh pak Rektor, maka acara pun dimulai. Pembicara-pembicara mulai naik ke panggung. Pembicara pertama adalah pak Pirous. Beliau bercerita mengenai “aura warna” ITB dan beberapa cerita tentang sejarah ITB (mengenai kertas piagam, simbol Ganesha yang digunakan ITB, dan seterusnya). Eh, saya lupa ada berapa warna ya? Tujuh?

Sayangnya saya harus meninggalkan tempat karena ada acara lain. Padahal saya ingin mendengarkan cerita, dongeng, dan wisdom dari guru-guru kita ini.

Buku yang tebal ini sudah di tangan saya. Tadi buku dibagikan secara gratis. Yayyy. Nasib baik datang ke acara ini. Nah, tinggal kapan bacanya ya?


maka … menyerahlah saya

Di hadapan saya ada dua buku yang nampaknya bagus isinya. [Belum ada fotonya.]

Tadi pagi ketika saya membereskan lemari buku, saya melihat salah satu buku ini. Saya ambil dan saya tumpuk dengan kawannya, buku yang sama topiknya.

Barusan saya lihat daftar isinya. Wow! Bagus banget! Isinya mengenai security. Lebih tepatnya, isinya adalah tentang CISSP. (Apa itu? Silahkan gunakan google untuk mencarinya :).) Ingin saya membaca semua yang ada di buku ini. Masalahnya hanya satu, tebalnya buku ini lebih dari 1000 halaman! Masing-masing … Hadoh!

maka … menyerahlah saya … sekarang saya mau tidur aja ah …


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.903 pengikut lainnya.