Tag Archives: Curhat

Lupakan Penilaian Orang

Bolak-balik cari judul yang pas untuk tulisan ini, belum nemu juga. Akhirnya saya putuskan pakai judul ini saja.

Ceritanya begini. Ada banyak orang yang terlalu ketakutan ketika mengerjakan tugas (pekerjaannya). Dia takut dinilai buruk oleh atasannya atau orang lain. Atau berharap dapat pujian. Akhirnya banyak waktu dan pikiran yang habis hanya untuk memikirkan bagaimana penilaian orang terhadap kita. Takut gagal dan seterusnya.

Saya punya pendekatan lain. Ketika mengerjakan sebuah tugas atau pekerjaan, saya kerjakan dengan komitmen penuh. Seratus persen. Saya tidak terlalu peduli tentang penilaian orang – bahkan atasan – terhadap pekerjaan saya tersebut. Yang penting bagi saya adalah pekerjaan selesai dengan kualitas yang super bagus. Analogi lain adalah kalau saya diminta untuk memimpin rombongan (tentara, anak buah) dari satu tempat ke tempat lain, maka saya fokus kepada tugas itu. Bagaimana untuk mengantarkan mereka ke tempat tersebut dengan selamat. Mengenai apa kata orang, saya tidak terlalu peduli. Dengan cara ini, saya bisa fokus kepada tugas tersebut.

Jadi jangan bekerja karena ingin dipuji atau karena ingin terlihat lebih baik dari yang lain. Bekerja itu karena kita memang harus menyelesaikan tugas kita. Kalau kita dapat menyelesaikannya dengan baik, asyiiik. Great! Kalau kita agak gagal dalam menyelesaikannya (padahal kita sudah melakukannya sebaik mungkin), ya sudah. Terimalah. Pelajaran apa yang dapat kita peroleh dari kegagalan tersebut? Lain kali harus lebih baik.

Yang lebih asyik lagi adalah kalau pekerjaan atau tugas tersebut dapat kita buat menarik sehingga kita tambah senang mengerjakannya. Bagaimana cara agar kerja menyenangkan? Nah, itu sih topik lain kali. hi hi hi.


(oleh) Orang Indonesia Saja

Ada desas desus bahwa perusahaan BUMN boleh dipimpin oleh orang asing. Apa ya alasan utamanya?

Apa maksudnya kalau ada orang asing yang hebat dan mau digaji murah, boleh jadi pimpinan BUMN? (Harus ada klausul “mau digaji murah” dong. hi hi hi.) Mengapa tidak boleh? Kan jadi manfaat bagi BUMN-nya sendiri. Ada barang bagus, murah. Nah.

Atau, maksudnya memang tidak ada orang Indonesia yang kompeten? Lah kan ada banyak CEO-CEO yang jagoan di Indonesia ini. Saya pernah lihat halaman muka sebuah majalah bisnis yang bertajuk CEO handal Indonesia. Ambil saja salah satu dari mereka. Atau, dikompetisikan. Lomba CEO, begitu?

Atau, mungkin kalau dipimpin orang Indonesia terlalu banyak campur tangan dari kanan-kiri (umumnya keluarga) dan akhirnya jadi canggung (pekewuh)? Jadinya KKN gitu? Kalau dipimpin orang asing kan dia bisa cuek aja. he he he.

Sekarang kita serius dulu.
Kalau menurut saya sih sebaiknya BUMN Indonesia dipimpin oleh orang Indonesia saja. Ya kalau memang orang-orang Indonesia masih bodoh, ya tidak apa-apa. Kita ambil yang paling tidak bodohlah. Jadi tempat latihan. hi hi hi.
</serius off – cengengesan kembali>

Ya ampun. Ini postingan isinya pertanyaan melulu (dan ha ha ha hi hi hi). Namanya juga nebak-nebak. Itulah. Kalau mau tahu alasan sesungguhnya, tanya saja deh ke sumbernya. Tulisan ini hanya untuk cengengesan. Sekali-sekalilah ada cengengesan di blog ini.


Peran Bahasa Indonesia

Barusan membaca secara singkat tentang penelitian terkait dengan bahasa, yaitu bahasa mana yang dominan di dunia internet ini. Tentu saja yang paling dominan adalah bahasa Inggris. Pertanyaannya adalah setelah bahasa Inggris, bahasa apa? Kalau kita ingin belajar bahasa kedua, sebaiknya bahasa apa? [Silahkan baca di sini.]

Yang sedihnya adalah ternyata Bahasa Indonesia tidak termasuk bahasa yang dianggap penting. Setidaknya untuk dunia tulis menulis. Padahal jumlah orang Indonesia yang menggunakan internet sangat besar. Dugaan saya, jumlahnya sudah lebih dari 100 juta orang. Namun memang saya dapat mengerti peran 100 juta orang ini sangat sedikit dalam hal menyebarkan ide melalui tulisan. Orang Indonesia memang jarang membuat tulisan. Eh, ada … status di facebook dan twitter. hi hi hi.

Tulisan orang Indonesia kebanyakan ada di media tertutup dalam grup-grup seperti di WhatsApp, Telegram, BBM, Line, BeeTalk dan seterusnya. Yang begini memang sering tidak masuk hitungan dalam hal komunikasi ide. Seharusnya lebih banyak yang menulis di blog, tapi …

Ya begitulah …


Internetan di Singapura

Ini cerita tentang Internetan di Singapura lagi. Apa cara yang paling mudah dan murah untukĀ  internetan di Singapura?

Cara saya adalah dengan membeli kartu Starhub kemudian mengaktifkan paket internetan seminggu, 1 GB, Sing $7. Sebetulnya ada paket lain yang kurang dari seminggu tetapi menurut saya lebih murah pakai yang ini. Yang lain itu jumlah datanya kurang. hi hi hi.

Mungkin pola memakai internet saya (dan anak saya) yang cukup boros sehingga ternyata paket 1 GB itu habis kurang dalam 3 hari. he he he. Nah, bodohnya saya adalah saya tidak memeriksa sisa kuotanya sehingga begitu habis kuota maka dia akan menggerogoti pulsa. Habislah pulsa saya. Sing$ 10 habis. Uhuk. (Sama seperti operator di Indonesia. Uhuk.) Coba kalau diperpanjang, kan hanya butuh Sing$ 7. Masih sisa. Akhirnya saya beli lagi top up (voucher) card. Harganya Sing$ 18. Ampun. Kelalaian yang menghabiskan duit.

Sekarang saya mau internetan dulu ya. Ini juga diketik masih dalam perjalanan.


Buku Dan Perjalanan

Ternyata salah satu cara yang efektif untuk membaca buku adalah dalam perjalanan. Ada banyak buku yang belum berhasil saya baca. Seringkali buku bagus di depannya, kemudian mulai membosankan. Akibatnya buku tersebut berhenti dibaca. Yang seperti ini ada banyak di koleksi saya. Bingung saya, bagaimana menyelesaikannya. Eh, apa memang perlu diselesaikan? Kadang memang harus diselesaikan. Hanya saja saya harus mencari motivasi untuk menyelesaikannya.

Perjalanan sering memiliki jeda. Menunggu pesawat, kereta api, dan transportasi umum lainnya memberikan kesempatan kepada kita untuk membaca. Tentu saja, jeda waktu ini dapat disisi dengan … tidur. ha ha ha. Di dalam kendaraan juga memungkinkan kita untuk membaca. Itulah sebabnya saya lebih suka naik kereta api dibandingkan dengan naik mobil. Di kereta api saya dapat membaca buku.

Tulisan ini juga ditulis pada saat jeda di perjalanan. Ini ditulis di hotel. Mau baca buku lagi ah.


4 Pertemuan Dalam 1 Hari

Judulnya seperti judul dari sebuah film ya? Tapi, ini memang yang terjadi hari ini. Hari ini saya mengikuti empat pertemuan (meeting). Meskipun semuanya berhubungan dengan teknologi informasi, tetapi topik-topiknya berbeda. Kepala ini cukup cenut-cenut juga mengikuti topik-topik tersebut.

Di tengah-tengah pertemuan tersebut saya sempat juga melakukan coding. hi hi hi. Ada sesuatu yang ingin saya coba, yaitu tentang Multi User Dungeon and Dragon (MUD). Yang ini ceritanya menyusul. Sekarang ceritanya masih tentang lelahnya saya mengikuti pertemuan tersebut.

Sekarang saya punya kesempatan untuk tarik nafas dulu. Phew. . . .


Perlukah Diatur Sampai Rinci?

Gegap gempita dunia media sosial membahas peraturan-peraturan pemerintah yang baru; tentang PNS, dilarang membuat acara di hotel, usulan sajian makanan untuk rapat (yang katanya disarankan singkong – memangnya salah gitu?), dan sampai ke jumlah undangan jika membuat acara kondangan. Tentu saja ada yang pro dan kontra dalam setiap aturan yang dibuat. Dalam diri saya sendiripun ada pro dan kontra. Hi hi hi.

Di satu sisi, saya mempertanyakan mengapa yang begini mesti diatur sih? Apakah manusia Indonesia memang harus diatur sampai se-rinci begitu? Okelah kalau urusannya terkait dengan perkantoran. Kalau urusan pribadi, kondangan misalnya, mengapa mesti diatur? Nah itu dia. Saya juga ikut bertanya-tanya.

Di sisi lain. Sekembalinya dari luar negeri, saya mengalami culture shock juga. Terbiasa dengan keteraturan di luar negeri, balik ke Indonesia rasanya banyak yang chaos. Lama kelamaan saya dapat mengerti bahwa ini adalah budaya Indonesia. Mengerti belum tentu setuju lho. Perbedaan budaya itu sulit untuk dikatakan baik dan buruknya. Satu kata yang dapat kita sepakati, yaitu “beda“. Jambu dengan ayam tentu saja berbeda. he he he.

Saya melihat Indonesia yang sekarang berbeda dengan Indonesia yang dahulu. Entah karena kehidupan yang keras, maka manusia Indonesia yang sekarang lebih kurang ber-empati dan lebih mementingkan dirinya sendiri. Sebagai contoh, di musim kering banyak daerah yang susah air. Ada saja orang yang nyuci mobil dengan selang air yang berlebihan. Ketika ditegur, dia tidak terima. Lah ini air-air saya sendiri dan saya juga bayar. Dia kehilangan empati. Dia tidak dapat melihat tetangganya yang kesulitan air. Hal serupa juga terjadi di tempat umum, seperti misalnya toilet umum. Air dibiarkan mengalir. Mentang-mentang dia bukan yang membayar, maka dia tidak peduli. Contoh lagi, makan yang tidak dihabiskan. Ngambil makanan banyak, tapi tidak dihabiskan. Seharusnya mengambil secukupnya saja. Banyak orang yang kesulitan makanan. Buang sampah suka-suka dia. Dan seterunya. Maka untuk hal-hal seperti ini, perlulah aturan. Terlihat aneh, tapi begitulah.

Aturan-aturan yang baru muncul ini terlihat seperti itu. Terlalu mengatur. Untuk kondisi saat ini, nampaknya memang perlu aturan-aturan seperti itu. Nanti kalau kita sudah lebih “sadar”, lebih berempati, maka aturan-aturan tersebut tidak diperlukan lagi.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.939 pengikut lainnya.