Tag Archives: Curhat

Perlakuan Tidak Adil Mizone di Bandung Car Free Day

Seperti biasa, hari Minggu kami bersiap-siap untuk buka lapak toko kami di Bandung Car Free Day. Tempat kami di depan bank Muamalat, dekat dengan SMAN1.

Namun pagi ini ternyata kami tidak boleh berada di tempat tersebut oleh seseorang dari Mizone. Saya tanya kenapa. Katanya akan ada acara senam di depan SMAN1 Bandung dan pak Walikota Bandung, Ridwan Kamil – atau dikenal juga dengan nama Kang Emil, akan datang mengikuti senam yang mereka adakan itu.

Karena tidak mau ribut dan menghargai kang Emil, saya mengalah dan memasang banner kami jauh dari jalan. Saya kemudian menanyakan kepada rekan-rekan apakah benar memang kang Emil mau datang ke acara itu? Hasil ngobrol-ngobrol dengan teman-teman di Bandung Smart City Forum, ternyata kang Emil tidak ada acara ke sana. Nah lho. Jadi panitia ini mencatut nama Kang Emil? (Oh ya, pencatutan nama kang Emil ini sudah saya laporkan ke lapor.ukp.go.id)

Yang saya tidak terima adalah mengapa Mizone (sebagai perusahaan besar) mengusir para pedagang kecil (yang protes ke saya; ada penjual juice, minuman, dll.) dari tempat itu. Sementara mereka sendiri berjualan produk mereka??? Apakah ini adil? Mereka juga mengambil seluruh bagian jalan Dago yang menuju ke atas (di depan SMAN1) untuk acara mereka. Di mana letak keberpihakan kepada usaha kecil? Saya sendiri yang menjalankan usaha kreatif ikut terusir.

Ini gambar seorang petugas (entah dari mana) yang melarang pedagang masuk ke daerah di depan SMAN 1. Tadinya mau saya tanya dia dari mana dan mana surat tugasnya.

IMG_6319 body guard 1000

Saya bersabar saja dan tidak mau bikin ribut. Mosok saya harus bilang bahwa saya ini calon menteri – yang menolak. ha ha ha. Atau saya bilang bahwa saya adalah wakil ketua Bandung Smart City? Atau pakai atribut-atribut lain? Di sana, saya memakai topi saya sebagai orang kecil – agar saya dapat merasakan bagaimana sesungguhnya menjadi orang kecil. (Blusukan incognito?)

Akhirnya saya duduk di pinggir jalan dan melakukan marketing seperti biasa. Sementara itu pedagang lain tidak berani dan mereka menjauh atau malah gagal membuka lapak. Salah seorang bahkan mengeluhkan bahwa dia tidak dapat berjualan hari itu. Terusir. Dia berkata harusnya dia mendapat kompensasi. Saya dapat merasakan kegundahannya.

[biasanya di sebelah kami ada lapak bapak yang jualan mainan binatang dari plastik / karet seperti ini, tetapi tadi tidak ada. entah dia pindah ke mana.]

IMG_5985 lapak 1000

Seharusnya tidak apa-apa para pedagang kecil itu ikut berjualan di tempat biasanya. Toh ini namanya berbagi bersama. Tidak ada hak perusahaan besar lebih besar dari hak pedagang kecil. Itu tidak adil. Mengapa harus over acting seperti ini. (Jika ada rekan-rekan yang kenal dengan pimpinan Mizone, tolong beritahu ya. Tegur panitianya / korlap acaranya.)

Sebagai seseorang yang tadinya penggemar Mizone, saya sekarang berhenti beli Mizone ah.


Kekurangan SDM IT

Seperti biasa, selalu saja ada yang nanya ke saya apakah ada orang IT (yang bisa dipekerjakan di perusahaannya)? Biasanya yang bertanya ini sedang mengembangkan perusahaan baru – start up. Ternyata kebutuhan akan SDM IT masih tetap banyak. Repotnya, SDM tersebut tidak tersedia. Saya jadi bertanya-tanya, ke mana saja lulusan sekolahan IT (atau yang terkait) di Indonesia ya? Di Bandung saja ada banyak sekolah komputer.

Ada beberapa alasan mengapa sulit mencari SDM IT yang handal.

  1. Lulusan IT tersebut melanjutkan sekolahnya ke luar negeri (misal mengambil S2/S3 di luar negeri);
  2. Mereka sudah diijon oleh perusahaan besar (yang terlihat lebih memberikan jaminan finansial dan karir di bidang management);
  3. Akhirnya memilih bekerja di bidang non-IT (misal jadi pedagang, bukan warung, dll.);
  4. Lulusan IT itu ketika bersekolah hanya ingin menghabiskan waktu saja (daripada nganggur) ketimbang ingin menekuni bidang IT. Hasilnya ya mereka memang malas untuk bekerja;
  5. apa lagi ya?

Besok akan ada rombongan dari Singapura datang ke Bandung untuk mencari orang-orang IT. Dugaan saya mereka akan pulang dengan tangan hampa. Ugh.


Topik Hari-hari Ini

Singkat katanya, sibuk! Mulai dari hari Minggu, saya sudah sibuk dengan acara musik dan entrepreneurship. Hari Senin, saya di seminar berbicara tentang creative industry. Hari ini, Selasa, saya berbicara tentang cloud computing (security). Topik yang bervariasi.

Sampai rumah sudah mendekati tengah malam. (Sekarang pukul 23:15 dan tadi keluar dari rumah pukul 6:00an. 17 jam sudah di jalan.) Ngeblog sebentar. Besok urusannya adalah network security dan mentoring entrepreneurship. Busyet deh sibuknya. Maka dari itu ngeblog ini tidak boleh panjang-panjang supaya saya segera bisa tidur. Besok – mudah-mudahan kalau gak sibuk lagi wk wk wk – bisa ngeblog yang lebih panjang dan lebih bernas.

z z z


Inikah Cita-citamu? Menjadi PNS?

IMG_6173

[tanda ini saya potret tadi pagi di kampus ITB]

Belum pernah saya mendengar anak kecil yang bercita-cita menjadi PNS ketika dia masih kecil. Dalam perjalanan hidupnya, menjadi semakin tua, ada banyak yang kemudian bercita-cita menjadi PNS. Sesungguhnya, kebanyakan ini adalah cita-cita orang tuanya.

Apa yang dicari dari menjadi PNS? Pensiun. Ah, realitasnya dana pensiun tidak cukup untuk sekadar bisa hidup di hari tua. Sudah banyak cerita PNS yang hidupnya terlunta-lunta. Pensiun tidak seperti dulu lagi. Saya tidak menyalahkan untuk menjadi PNS. Yang saya salahkan adalah alasannya. Maka dari itu, apakah ini cita-citamu?


Siapkah Berkorban?

Kemarin adalah hari Idul Adha. Berkurban adalah topik utamanya. Namun yang menjadi sorotan kalau di kita adalah kurban domba dan sapi. Bagi sebagian orang, ini hal yang tidak terlalu sulit meskipun harganya sudah mahal. Bagi sebagian besar lagi, harga ini sudah tidak terjangkau.

Bagaimana dengan pengorbanan yang dilakukan oleh nabi Ibrahim (as)? Beliau diminta untuk mengorbankan sesuatu yang sangat berharga, anaknya. Sungguh sangat sukar untuk dibayangkan betapa sulitnya.

Bagaimana kalau kita diminta untuk mengorbankan sesuatu yang (paling) berharga bagi kita? Relakah? Coba pikirkan benda yang paling berharga yang Anda miliki – mungkin handphone, komputer, mobil, rumah, dan seterusnya. Relakah Anda mengorbankannya? Padahal ini hanya benda lho.

Nah, sekarang yang mungkin “mudah”. Maukah Anda berkorban ego? Tidak mau menang sendiri. Berempati kepada orang. Ini semestinya tidak sulit, tetapi nampaknya masih banyak yang tidak sanggup mengorbankan ego. Padahal hanya ego saja. Wah.


Menjadi Manusia Yang Manfaat

Menjadi manusia 3.0 adalah menjadi manusia yang bermanfaat bagi umat manusia. Apa kontribusimu kepada humanity?

Saya sedang mendengarkan lirik lagu “Malaria” karangan (alm) Harry Roesli. Maukah Anda menjadi nyamuk? Bukan sekedar nyamuk saja, tetapi nyamuk malaria. Yang bikin masalah bagi banyak orang. Itukah Anda?


Apakah kau se ekor monyet
Yang hanya dapat bergaya
Kosong sudah hidup ini

Lanjutkan saja hidup ini
Sebagai nyamuk Malaria

Saya ingin jadi manusia. Saya tidak ingin jadi nyamuk. Bukan hanya jadi manusia saja, tapi manusia yang manfaat bagi umat manusia. Aaamiin.

 


Gagal Ngeblog (part x)

Ini sebagai ungkapan maaf saya karena tidak berhasil ngeblog dalam beberapa hari terakhir ini. Dalam beberapa hari terakhir ini, saya harus bangun (terlalu) pagi untuk menyiapkan kegiatan hari itu. Biasanya kegiatan ini mulai pukulĀ  7 pagi. Sementara itu malamnya kegiatan saya baru selesai lewat pukul 22. (Sebagian dari malam harus saya gunakan untuk menyiapkan materi keesokan harinya.)

Yang lebih seru, ini semua berlangsung sampai ke akhir pekan (weekend) juga. Tadi pagi – ini hari Minggu – saya juga harus hadir di Bandung Car Free Day. Pukul 6 pagi saya harus sudah mulai loading barang-barang ke mobil dan menuju tempat. Lumayan juga capeknya.

Akibatnya, saya tidak sempat ngeblog. Maap. Punten. Sorry.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.821 pengikut lainnya.