Tag Archives: e-learning

Bukti Hadir Secara Digital

Salah satu syarat untuk mengikuti ujian di perkuliahan adalah hadir minimal 80%. Nah, kalau kita menggunakan sistem e-learning, apa bukti kehadiran mahasiswa?

  • Mendownload materi? Apakah setiap hadir harus download?;
  • Check-in dengan mengunakan sebuah program/aplikasi tertentu (setelah itu check-out)?;
  • Menuliskan sesuatu di forum, daftar hadir online?;
  • Hadir di forum chat? (Berarti instruktur harus online juga);
  • Apa lagi ya? Mohon usulannya.

Atau memang syarat kehadiran sudah tidak diperlukan lagi? Jika demikian maka harus ada peraturan dari institusi untuk menyatakan hal itu.

Dua minggu lagi saya akan meminta mahasiswa saya hadir secara online. Sementara ini saya masih mencari cara untuk menunjukkan bahwa mereka “hadir” sebagai pengganti tanda tangan di daftar hadir konvensional.

Update. Saya lupa memberitahukan bahwa kelas saya ini pesertanya > 120 orang. Jadi rasanya tidak mungkin (dengan teknologi sekarang dan kualitas jaringan yang tersedia) kalau semuanya harus login dengan menggunakan video :). Untuk sekedar chatting dengan 120 orang saja sudah merupakan tantangan berat.


e-Learning

Entah kenapa topik e-learning muncul minggu-minggu ini. Mungkin karena ini akhir tahun ajaran dan banyak orang yang ingin mempersiapkan diri ke arah sana.

Saya lihat-lihat koleksi tulisan saya yang terkait dengan topik ini. Eh, ternyata ada materi di tahun 2003. Wow! Itu 9 tahun yang lalu! (Satu bulan lagi menjadi 10 tahun yang lalu.) Saya baca ulang. Lucu juga rasanya. Ada hal-hal yang masih relevan (misalnya saya mempertanyakan soal keberadaan content dan access). Ada juga yang sekarang sudah terpecahkan, yaitu mulai banyaknya tools untuk e-learning.

Nah, sekarang mulai membuat catatan tentang pengalaman saya menggunakan tools e-learning. Nanti kalau sudah selesai baru bisa saya bagi.


Sejauh mana teknologi dapat membantu?

Saya sedang terlibat dalam diskusi mengenai peranan teknologi dalam pendidikan. Sudah banyak diskusi tentang e-learning dan mobile learning, tapi sampai sekarang saya masih belum melihat hasilnya yang konsisten dan signifikan. Sejauh manakah teknologi, khususnya teknologi informasi, dapat membantu pendidikan?

Yang saya maksudkan dengan membantu bisa diartikan sebagai peningkatan kualitas, pelebaran jangkauan, atau bahkan sekedar mengurangi beban pengajar. Jadi ada banyak ukuran yang bisa kita gunakan. Secara teori semestinya kesemuanya bisa ditingkatkan, tetapi pada kenyataannya kita masih tertatih-tatih. Apa yang ada sebagian besar masih berupa gembar gembor yang belum teruji, terutama dari aspek konsistensi.

Teknologi informasi dikembangkan dari lingkungan pendidikan dan penelitian. Justru aneh bahwa pemanfaatannya yang paling sulit atau lambat. Pemanfaatan IT yang paling terlihat adalah di dunia bisnis.

Kalau saya berkesan negatif atau pesimis bukan berarti saya tidak melakukannya. Saya sudah melakukan beberapa uji coba dan tetap akan melakukannya. Sebagai contoh, materi kuliah saya sudah saya onlinekan sejak … wah kapan ya, lupa … sejak saya menggunakan web site (mungkin tahun 94?). Mahasiswa saya sekarang wajib menggunakan blog untuk mengirimkan tugasnya. Beberapa kelas saya dibuatkan filmnya dan sempat juga dilakukan pengajaran secara online (dengan mahasiswa dari beberapa kota di penjuru Indonesia). Responsi atau tanya jawab sudah pernah saya lakukan melalui MSN (karena mahasiswanya banyak yang pakai itu, bukan pakai YM!), dan ternyata repot. (Pernahkah Anda melakukan chatting bersama atau conference dengan belasan atau puluhan orang?) Bahkan, semester kemarin saya menggunakan media online untuk melakukan UTS. Namun sayangnya saya masih belum menemukan resep yang pas, yang bisa ditiru oleh dosen / guru lain.

Kadang saya berpikir, kuliah tatap muka saja masih susah diserap oleh mahasiswa ilmunya, apalagi yang lewat jarak jauh? he he he.

… masih terus berusaha dan pantang menyerah …


Mempelajari sistem e-learning

Saat ini beberapa dosen diminta untuk menggunakan sistem e-learning (learning management system / LMS) dalam perkuliahannya. Memang sistem e-learning ini tidak menggantikan perkulihan biasa atau konvensional, melainkan sebagai suplemen. Untuk itu saya harus mempelajari LMS ini. Bahkan saya diminta ikut untuk mempelajari roadmap dari LMS ini. Hadoh.

Waktunya untuk belajar …

Oh ya, saat ini kami menggunakan moodle sebagai basis dari LMS.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.839 pengikut lainnya.