Kuliah dari pak Buntoro (di kuliah Elektronika Industri) jadi dilakukan tadi siang di Aula Barat ITB. Acara agak sedikit terlambat karena ruangan belum ditata dan mahasiswa ada yang baru pindah dari kuliah di kelas lain.
Setelah saya memperkenalkan secara singkat tentang pak Buntoro, pak Buntoro mulai memberikan presentasinya. Intinya adalah tentang entrepreneurship. Berikut ini beberapa catatan yang saya ingat. (Maklum saya hanya mengandalkan ingatan karena tidak sempat mencatat.)

Yang pertama adalah ada perbedaan antara wirausaha dan entrepreneur. Contoh yang paling mengena buat saya adalah tukang bakso (contoh wirausaha) dangan Bakmi GM (contoh entrepreneur). Saya juga cukup kaget bahwa perputaran uang tukang bakso bisa Rp 100 juta/tahun. Tentunya Bakmi GM 1000 kalinya dari itu.


Presentasinya informal dan kadang saya menimpali dari sisi sebelah kiri, ala dagelan.


Pak Buntoro memberikan buku biografinya kepada ketua kelas, Sabrina. Janjinya Sabrina membaca (atau mahasiswa lain membaca) dan memberikan komentar ke pak Buntoro.

Pak Buntoro menjawab pertanyaan. Ada beberapa pertanyaan dari mahasiswa. Saya lupa pertanyaannya apa saja. Ini yang teringat.


Apakah bapak pernah gagal? Bagaimana kiatnya mengatasi itu?
Tentu saja saya pernah gagal. Banyak entrepreneur yang sukses yang tidak menceritakan masa kelamnya. Sebagai contoh, saya dulu memiliki usaha membuat bemper mobil ketika mobil masih menggunakan karoseri. Pada suatu saat mobil berubah (cbu?) dan tidak membutuhkan bemper dari karesori lagi. Perusahaan kami mati mendadak. Sudden death.
Untuk itu sekarang kami tidak ingin mati mendadak dan menerapkan aji rawe rontek. Kami memiliki banyak produk alternatif. Mati satu tumbuh lagi.

Pak, saya kok tidak merasa terpanggil menjadi entrepreneur. Bagaimana ini?
Jawaban pak Buntoro adalah pada prinsipnya ini adalah masalah tak kenal maka tak sayang. Bagi yang belum merasakan nikmatnya menjadi entrepreneur akan susah memahami karena menjadi entrepreneur yang sukses itu tidak mudah. Kegagalan untuk menjadai entrepreneur adalah 99,9%. Suksesnya hanya 0,1%. Jadi harus dicoba dahulu agar bisa mengenal. Nanti setelah mengenal mungkin suka.
Nah, mumpung menjadi mahasiswa silahkan dicoba untuk memulai, misalnya dengan usaha jual pulsa telepon. Kalau saya dulu memulai dengan kerja membobok dinding dan memasang kabel listrik. Kalau sekarang mungkin lebih mudah. Ya dengan jualan pulsa telepon dulu. Mungkin suatu saat bisa membeli

Sebetulnya seberapa penting keberadaan entrepreneur itu?
Pak Buntoro menjawab dengan mengambil kutipan dari pak Ciputra, bahwa di Indonesia dibutuhkan sekitar 4 juta entrepreneur (yaitu 2% dari populasi Indonesia). Saat ini baru ada sekitar 400 ribu orang.
Mengapa penting? Karena keberadaan mereka membuat lapangan pekerjaan dan memberantas kemiskinan di Indonesia. Ini yang mestinya dipahami oleh pemerintah. Bayangkan apabila seorang entrepreneur bisa mempekerjakan 1 orang, atau 2 orang, atau 3 orang. Apalagi bila lebih.
Inilah pentingnya keberadaan entrepreneurs di Indonesia. Dan mumpung kalian masih muda, harus dimulai dari sekarang.
.
Bagaimana pendapat bapak mengenai biopreneur?
Satu lagi adalah tentang masalah pendanaan atau modal. Bagaimana mendapatkan modal bagi kami yang baru memulai?
Biopreneur harus dikaji lebih teliti. Masalahnya adalah kita memiliki keterbatasan lahan. Seberapa banyak lahan yang bisa kita tanami dengan kelapa sawit atau padi, misalnya. Sementara itu untuk industri, pemanfaatan lahan bisa dbuat seefisien mungkin.
Untuk permodalan, jika Anda berkeinginan untuk meminjam dari bank, maka Anda harus memiliki track record. Mulai dari menabung sehingga ada sejarahnya. Bank akan memberikan pinjaman jika Anda mempunya catatan yang baik. Bayangkan jika Anda yang menjadi bank dan tiba-tiba ada seseorang yang mungkin IPnya 3 koma sekian ingin meminjam uang karena dia memiliki ide yang bagus. Anda belum tentu memberi pinjaman jika orang ini tidak memiliki track record yang bagus bukan?
Begitulah sesi tanya jawab yang saya ingat.

Pada bagian akhir, saya menyerahkan kenang-kenangan berupa buku saya.
Terima kasih pak Buntoro. Jangan kapok ya.