Tag Archives: entrepreneur

Menjadi Entrepreneur

Kemarin pagi, saya harus bangun pagi sekali. Setelah Subuh, saya memasukkan barang-barang ke mobil. Semalam barang-barang tersebut sudah disiapkan. Penuh sesak mobil dengan gitar (5 biji), meja, kursi plastik, notebook music store, kamera, dan seterusnya. Setelah itu berangkat menuju jalan Dago untuk bukan stand di Car Free Day (CFD).

Saya membayangkan para entrepreneur yang lain juga melakukan hal yang sama. Bangun pagi dan bekerja dengan keras. Kalau tidak punya keinginan untuk menjadi entrepreneur, sudah pasti lebih enak tidur lagi di hari Minggu ini. Bangun agak siangan. hi hi hi.

Teringat kata-kata seorang entrepreneur, “There are too many reasons to quit. Any normal person would just quit.” Menjadi entrepreneur itu pantang menyerah. Ada terlalu banyak tantangan. Lebih mudah dan lebih masuk akal untuk menyerah dan menjadi pegawai saja.


Mengatakan … TIDAK!

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan ternyata adalah mengatakan tidak. Saying NO. Poin in saya sampaikan di depan para calon technopreneur. Mengapa hal ini perlu saya angkat? Karena dalam perjalanan untuk menjadi entrepreneur selalu ada “gangguan”.

Sebagai contoh, Anda sudah memutuskan untuk membuat sebuah perusahaan startup setelah lulus S1. Niat sudah bulat. Eh, tiba-tiba ada tawaran beasiswa untuk S2. Nah lho. Bagaimana? Untuk membuat situasi lebih sulit lagi, S2-nya di luar negeri di universitas yang bagus (terkenal). Mampus deh! Langsung gamang. Apakah jadi menjalankan usaha? Atau tunda dulu?

Kebanyakan orang ketika dihadapkan kepada situasi ini akhirnya memilih menunda dulu. Tentu saja ini pilihan yang sah. Tidak salah. Ini adalah pilihan hidup. It’s a choice.

Hanya saja kalau Anda beranggapan bahwa setelah itu tidak ada “gangguan” lagi, Anda salah. Misalnya Anda menyelesaikan S2 dan kemudian teringat kembali untuk menjadi wiraswasta. Sekarang ada beban tambahan. Orang-orang akan lebih menyudutkan Anda dengan mengatakan “lulusan S2 kok hanya buat usaha seperti itu”. Nah lho.

Tambahan lagi. Tiba-tiba ada tawaran dari kawan Anda yang membuka sekolah tinggi. Bagaimana kalau Anda mengajar saja di sana? Gaji tetap lho. Maka Anda goyah lah. Yang lebih sakit adalah kalau tiba-tiba ada tawaran yang lebih “hebat”, seperti menjadi pejabat (Dirjen, Menteri, Walikota, Bupati, dan seterusnya). Maka, sanggupkah Anda mengatakan TIDAK???

Ada banyak “gangguan” dalam perjalanan hidup kita. Jika kita tidak tahu apa yang kita inginkan, tidak tahu cita-cita kita, dan tidak teguh dalam memegang cita-cita itu maka gangguan ini akan selalu menang. Dan Anda akan selalu mengorbankan cita-cita dengan kepragmatisan kini.

Suatu ketika, ketika Anda sudah tua, teringatlah Anda akan cita-cita Anda. Rasa sesal mulai muncul.

Kemampuan untuk mengatakan TIDAK harus dimulai dari dini. Harus belajar. Katakan … TIDAK untuk “gangguan” yang tidak sesuai dengan cita-cita Anda. Semoga kita dapat melakukan hal ini.


Mencari Perusahaan Untuk Dibesarkan

Beberapa hari yang lalu saya ditelepon seorang kawan baik saya. Ceritanya dia dihubungi kawannya lagi yang merupakan bagian dari tim investasi perusahaan di Amerika. Mereka sedang mencari perusahaan yang sudah pada growth stage dan ingin dibesarkan.

Perusahaan yang mereka cari adalah perusahaan yang sudah melalui stage start-up dan membutuhkan dana untuk masuk ke liga yang lebih besar lagi. Sebagai gambaran yang dicari adalah perusahaan yang revenue-nya sudah US$ 5 juta (atau lebih) setahunnya.

Ternyata tidak mudah untuk mencari perusahaan sekelas itu di Indonesia. Hadoh. Apa ya? Yang terbayang oleh saya hanya Detik.com. Selebihnya rasanya masih belum. (Meskipun saya melihat ada potensi di perusahaan yang menghasilkan konten kreatif seperti anmasi. Hanya saja mereka belum sampai ke taraf 5 juta US/tahun karena mereka masih baru.) Mereka (para investor tersebut) bisa menemukan perusahaan seperti itu di India, misalnya. Jadi memang harus kita akui bahwa kita masih kelas “warteg” ya? :) hi hi hi.


Kuliah pak Buntoro: Entrepreneurship

Kuliah dari pak Buntoro (di kuliah Elektronika Industri) jadi dilakukan tadi siang di Aula Barat ITB. Acara agak sedikit terlambat karena ruangan belum ditata dan mahasiswa ada yang baru pindah dari kuliah di kelas lain.

Setelah saya memperkenalkan secara singkat tentang pak Buntoro, pak Buntoro mulai memberikan presentasinya. Intinya adalah tentang entrepreneurship. Berikut ini beberapa catatan yang saya ingat. (Maklum saya hanya mengandalkan ingatan karena tidak sempat mencatat.)

Yang pertama adalah ada perbedaan antara wirausaha dan entrepreneur. Contoh yang paling mengena buat saya adalah tukang bakso (contoh wirausaha) dangan Bakmi GM (contoh entrepreneur). Saya juga cukup kaget bahwa perputaran uang tukang bakso bisa Rp 100 juta/tahun. Tentunya Bakmi GM 1000 kalinya dari itu.

Presentasinya informal dan kadang saya menimpali dari sisi sebelah kiri, ala dagelan.


Pak Buntoro memberikan buku biografinya kepada ketua kelas, Sabrina. Janjinya Sabrina membaca (atau mahasiswa lain membaca) dan memberikan komentar ke pak Buntoro.

Pak Buntoro menjawab pertanyaan. Ada beberapa pertanyaan dari mahasiswa. Saya lupa pertanyaannya apa saja. Ini yang teringat.


Apakah bapak pernah gagal? Bagaimana kiatnya mengatasi itu?

Tentu saja saya pernah gagal. Banyak entrepreneur yang sukses yang tidak menceritakan masa kelamnya. Sebagai contoh, saya dulu memiliki usaha membuat bemper mobil ketika mobil masih menggunakan karoseri. Pada suatu saat mobil berubah (cbu?) dan tidak membutuhkan bemper dari karesori lagi. Perusahaan kami mati mendadak. Sudden death.

Untuk itu sekarang kami tidak ingin mati mendadak dan menerapkan aji rawe rontek. Kami memiliki banyak produk alternatif. Mati satu tumbuh lagi.


Pak, saya kok tidak merasa terpanggil menjadi entrepreneur. Bagaimana ini?

Jawaban pak Buntoro adalah pada prinsipnya ini adalah masalah tak kenal maka tak sayang. Bagi yang belum merasakan nikmatnya menjadi entrepreneur akan susah memahami karena menjadi entrepreneur yang sukses itu tidak mudah. Kegagalan untuk menjadai entrepreneur adalah 99,9%. Suksesnya hanya 0,1%. Jadi harus dicoba dahulu agar bisa mengenal. Nanti setelah mengenal mungkin suka.

Nah, mumpung menjadi mahasiswa silahkan dicoba untuk memulai, misalnya dengan usaha jual pulsa telepon. Kalau saya dulu memulai dengan kerja membobok dinding dan memasang kabel listrik. Kalau sekarang mungkin lebih mudah. Ya dengan jualan pulsa telepon dulu. Mungkin suatu saat bisa membeli


Sebetulnya seberapa penting keberadaan entrepreneur itu?

Pak Buntoro menjawab dengan mengambil kutipan dari pak Ciputra, bahwa di Indonesia dibutuhkan sekitar 4 juta entrepreneur (yaitu 2% dari populasi Indonesia). Saat ini baru ada sekitar 400 ribu orang.

Mengapa penting? Karena keberadaan mereka membuat lapangan pekerjaan dan memberantas kemiskinan di Indonesia. Ini yang mestinya dipahami oleh pemerintah.  Bayangkan apabila seorang entrepreneur bisa mempekerjakan 1 orang, atau 2 orang, atau 3 orang. Apalagi bila lebih.

Inilah pentingnya keberadaan entrepreneurs di Indonesia. Dan mumpung kalian masih muda, harus dimulai dari sekarang.

.

Bagaimana pendapat bapak mengenai biopreneur?

Satu lagi adalah tentang masalah pendanaan atau modal. Bagaimana mendapatkan modal bagi kami yang baru memulai?

Biopreneur harus dikaji lebih teliti. Masalahnya adalah kita memiliki keterbatasan lahan. Seberapa banyak lahan yang bisa kita tanami dengan kelapa sawit atau padi, misalnya. Sementara itu untuk industri, pemanfaatan lahan bisa dbuat seefisien mungkin.

Untuk permodalan, jika Anda berkeinginan untuk meminjam dari bank, maka Anda harus memiliki track record. Mulai dari menabung sehingga ada sejarahnya. Bank akan memberikan pinjaman jika Anda mempunya catatan yang baik. Bayangkan jika Anda yang menjadi bank dan tiba-tiba ada seseorang yang mungkin IPnya 3 koma sekian ingin meminjam uang karena dia memiliki ide yang bagus. Anda belum tentu memberi pinjaman jika orang ini tidak memiliki track record yang bagus bukan?

Begitulah sesi tanya jawab yang saya ingat.


Pada bagian akhir, saya menyerahkan kenang-kenangan berupa buku saya.

Terima kasih pak Buntoro. Jangan kapok ya.


Teknologi & Entrepreneurship

Hari ini saya akan memberikan presentasi (atau lebih tepatnya terlibat dalam talk show) tentang teknologi dan entrepreneurship. Acara ini merupakan bagian dari kegiatan yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa (gabungan dari Elektro dan Sekolah Bisnis) ITB. Kayaknya menarik.

Saya dipilih menjadi salah satu nara sumber mungkin karena keseringan buat start-up ya? hi hi hi.

Doakan agar sukses!

Update. Acara sudah berlangsung dengan cukup sukses, menurut saya. Materi presentasi saya sudah saya upload ke situs web saya (budi.insan.co.id) di bagian presentations. Silahkan ambil di sana saja ya. Sebagai catatan, materi presentasi saya agak susah dimengerti tanpa saya bicara karena saya menggunakan “lessig-style” (hanya point saja yang ditampilkan – elaborasi langsung dilakukan pada saat presentasi).

Tadi mikir juga, kapan saya mulai terjun ke usaha sendiri? Pertama kali membuat perusahaan sendiri mungkin waktu di Kanada. Rasanya itu mungkin tahun 1989? Halah … Itu sudah 20 tahun yang lalu. hi hi hi. Semenjak itu entah sudah berapa perusahaan teknologi yang sudah saya buat.

Ada dua orang pembicara di acara tersebut, saya dan Rendy Maulanan. Rendy adalah founder dari web hosting Qwords.com. Saya kenal Rendy sudah cukup lama juga karena sering kopi-darat. (Sudah lama kita tidak kopdar ya? Yuk kita set waktu untuk ngopi.)

Rendy juga bercerita tentang pengalamannya menjadi entrepreneur. Intinya adalah tidak mudah untuk menjadi entrepreneur. Kalau gak bener niat, bakalan kandas di tengah jalan.

Ini foto Rendy sedang memberikan presentasinya. Foto saya sambil dari depan pangung. Gak sopan ya? hi hi hi. Demi blog lah. Sekalian supaya Anda tahu sudut pandang dari panggung.

From People

Setelah presentasi ada acara tanya jawab. Sayangnya acara tanya jawab hanya bisa menampung enam (6) orang penanya. Masalahnya kita dibatasi waktu. Lain kali mungkin kita buat waktu tanya jawabnya yang lebih lama lagi ya. Senang juga melihat peserta yang antusias sampai acara berakhir.


Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS): lowongan kerja

Saya lihat bahwa tulisan yang banyak dikunjungi di wordpress ini adalah tulisan yang terkait dengan lowongan pekerjaan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sedih juga melihat hal ini. Ini menunjukkan bahwa keinginan untuk menjadi PNS itu sangat besar.

Mengapa sedih? Apakah menjadi PNS itu salah? Tentu saja tidak, jika tujuannya benar. Sebagian besar (asumsi saya tentunya) orang ingin menjadi PNS adalah agar mendapat gaji tetap. Ada jaminan. Itu saja. Itu kalau mau jujur lho. Saya belum pernah mendengar orang menjadi PNS karena ingin mengabdi (kepada siapa ya? kepada negara?).

Pernah suatu ketika saya diskusi dengan mantan mahasiswa saya. Dia ingin bekerja di perusahaan yang baru berdiri, start-up company, tetapi tidak diijinkan oleh orang tuanya. Belum lagi ketika dia mau melamar, calon mertuanya tidak mengijinkan hanya karena “masa depannya tidak jelas”. Lantas dia melamar di perusahaan BUMN. Barulah orang tuannya dan mertuanya setuju.

Sayang sekali. Orang bekerja hanya ingin untuk digaji buta dan menjadi beban! Seharusnya lebih banyak orang yang memikirkan untuk membuka lapangan pekerjaan atau menjadi profesional di bidang pekerjaan, bukan sekedar menjadi pegawai yang duduk ongkang-ongkang dan digaji (besar pula). Nah, kalau digaji kecil … kemudian bingung mencari tambahan, dan akhirnya terjerumus kepada korupsi. Sudah tahu dari awal, bahwa meskipun gaji ada terus, jumlahnya tidak banyak.

Ah, kemana negeri ini menuju? (Ataukah pola pikir saya yang salah?)

Maaf bagi yang merasa tersinggung dengan tulisan ini ya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.728 pengikut lainnya.