Tag Archives: etika

Ternyata Belum Tahu Etikanya

Kembali minggu lalu saya menguji mahasiswa kuliah intro ICT saya. Pertanyaan yang saya ajukan masih tetap sama;

Mengapa tidak boleh mengirim sms atau email dengan MENGGUNAKAN HURUF BESAR SEMUANYA?

Ternyata tidak ada yang bisa menjawab! Hadoh! Dan jawaban “lucu” tetap ada; “karena lebih mahal”. hi hi hi. Pusing deh. Ternyata hal yang sederhana seperti ini tetap harus diajarkan. Itu kesimpulan saya.

Banyak orang diberikan tools (dalam hal ini komputer, internet, handphone) tetapi tidak dibekali dengan cara pakainya. Maksud saya bukan buku atau manual user guide, tetapi tata cara memakainya. Kita selalu berasumsi bahwa orang sudah tahu cara menggunakannya. Atau kita berharap bahwa mereka belajar sendiri.

Yang terjadi adalah mereka belajar dengan melihat orang lain. Langsung on-the-spot. Jadi kalau lingkungan mereka tidak benar, maka mereka menjadi tidak benar juga tanpa tahu yang seharusnya.

Saya jadi ingat seseorang yang karena baru tinggal di Bandung dan lingkungannya agak aneh maka dia selalu menggunakan kata “aing” sebagai kata ganti bagi dirinya. Dia tidak tahu bahwa kata itu kurang sopan dalam bahasa Sunda.

Aing mah euy … he he he

[memaksa mahasiswa untuk mempelajari netiket / netiquette.]


Etika Berinternet

Belakangan ini mulai muncul beberapa keluhan (dan bahkan kasus) tentang perbuatan yang tidak menyenangkan di Internet. Tanpa bermaksud membuat generalisasi atau menyalahkan siapa-siapa, saya ingin menyoroti masalah ini dari sisi etika.

Ketika internet masih kecil dan penggunanya terbatas, ada banyak panduan mengenai tata cara penggunaan internet. Masing teringat oleh saya yang namanya FAQ (Frequently Asked Questions). Apa masih ada FAQ sekarang ini? hi hi hi.

Saat ini semakin banyak orang menggunakan internet, tetapi tidak ada panduannya. Asumsinya adalah setiap orang yang menggunakan internet sudah tahu etikanya. Padahal … belum tentu. Bahkan, saya cenderung mengatakan sebagian besar tidak tahu.

Salah satu contoh, penggunaan email. Saya melihat banyak orang yang tidak menghapus bagian email yang tidak penting sebagai bagian dari kutipannya. Kalau dulu, jangankan tidak menghapus bagian yang tidak penting, top posting pun bisa ditegur. (Hayo apa itu “top posting”?)

Pernah saya tanya ke mahasiswa saya mengapa sebaiknya kita tidak menggunakan HURUF BESAR SEMUA dalam tulisan kita? Salah satu jawabannya adalah … huruf besar menghabiskan bandwidth lebih banyak. ha ha ha. :D

Demikian pula saya melihat ada orang-orang yang memberikan komen seenaknya di berbagai tempat (blog), tanpa memperhatikan etika.

Nampaknya perlu ada pelajaran “etika internet 101″ :D


Etika Ngeblog Bagi Profesional

Saya mendapat pertanyaan dari beberapa orang profesional, yaitu orang yang bekerja di perusahaan atau institusi yang bergengsi. (Definisi bergengsi kita abaikan dulu lah. Pokoknya mereka profesional.)

Adakah rambu-rambu atau etika bagi para profesional itu jika mereka nge-blog atau ikut di social network (seperti facebook)?

Masalahnya, meskipun mereka menuliskan opininya dalam kapasitas sebagai pribadi, akan tetapi nama institusi juga ikut terseret. Mereka ingin mengeluarkan opini sebagai pribadi, tetapi kadang ini sulit. Akibatnya mereka menjadi ragu-ragu. Demikian pula institusi tempat mereka bernaung juga kebingungan dalam menentukan kebijakan.

Apakah cukup jika mereka menuliskan (di bagian mana? kalau di email ada di bagian footer) bahwa opini yang mereka sampaikan bukan merupakan opini institusi atau perusahaan di mana mereka bekerja?

Ada saran, pengalaman, hints, pointers, komentar?


(kesal dengan) Email Yang Terlalu Banyak Kutipannya

Akhir-akhir ini saya sering kesal melihat banyak email yang tidak menghapus kutipan di bawahnya. Hal ini banyak terjadi di mailing list. (Istilah “kerennya” adalah top posting.) Contohnya…

Ini contoh baris baru yang ditulis oleh penjawab email. Di bawahnya ada kutipan yang nantinya mengutip kutipan lain, dan seterusnya.
> Iya ini contoh kutipan
> dari email terdahulu
>> sementara itu ini adalah kutipan dari kutipan
>> iya ya
>>> nah ini ada kutipan dari kutipan dari kutipan
>>> ... dan seterusnya

Contoh di atas masih lumayan karena tulisan “baru”nya cukup panjang. Ada yang tulisan barunya hanya satu baris atau satu kata (ok!) dan sisanya adalah kutipan yang sebetulnya sudah bisa kita peroleh dari email sebelumnya. Grrr…

Bagi saya hal ini membuat kesal karena:

  1. memboroskan penggunaan jaringan;
  2. jika saya buka dengan pembaca email di handphone (misalnya dengan menggunakan gmail di hp), email tersebut menjadi panjang (karena kutipan yang disertakan) sehingga membuat saya harus scrolling ke bawah.

Saya menduga-duga alasan banyak orang yang membiarkan kutipan dari kutipan dari kutipan … (dan seterusnya). Mungkin…

  1. program email yang mereka gunakan menyulitkan (merepotkan) untuk menghapus kutipan tersebut (ini yang dilakukan oleh program email di handphone saya – teks dari email sebelumnya susah di hapus, kalau tidak salah blackberry juga memiliki sifat seperti ini);
  2. program email yang digunakan meng-hide kutipan sehingga sang pengguna tidak sadar bahwa ada kutipan di dalamnya;
  3. pengguna tidak tahu bahwa kutipan berkutipan berkutipan itu menyebalkan :) ;
  4. pengguna tidak paham etika beremail.

Jadi… saya hanya bisa menggerutu dalam hati. Apa ada orang lain yang juga merasa sebal dengan kondisi ini?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.696 pengikut lainnya.