Ini makan siang saya, nasi dan ayam bakar.
Katanya makanan yang bakar-bakaran dianggap kurang sehat ya? Jadi gimana dong? Mosok semua makanan harus dikukus / rebus?
Ini makan siang saya, nasi dan ayam bakar.
Katanya makanan yang bakar-bakaran dianggap kurang sehat ya? Jadi gimana dong? Mosok semua makanan harus dikukus / rebus?
Sudah lama tidak menampilkan foto-foto makanan
Ternyata ini sudah postingan tentang “mau?” yang ke 92. Banyak juga ya? Selamat ngiler. hi hi hi.
salad at Fish & Co, Bugis Junction
telor ceplok saja …
pasta (di pastamania dekat far east, singapore)
Nasi lemak, kantin borju ITB
Sudah lama tidak menampilkan foto makanan
Sarapan dengan salah satu yang di atas …
Yang di atas itu sehat, tapi susah nyarinya. Kebanyakan tempat makan tidak menyediakan itu.
Atau yang ini …
Dan tentu saja … yang di bawah ini. Jangan mikir kalorinya kalau makan yang ini. Kalau dipikir-pikir, bakalan gak jadi makannya.
Tema makanan saya ketika di Singapura kemarin adalah Nasi Lemak. Sebetulnya bukan maksud saya untuk sengaja mencari nasi lemak, tetapi entah kenapa dapatnya selalu nasi lemak. (Untuk mengetahui nasi lemak itu seperti apa, silahkan cari Google. Kalau menurut saya, nasi lemak ini mirip nasi uduk.)
Pertama, berangkat dari Bandung dengan menggunakan Air Asia. Makanan yang saya pesan (ketika booking) adalah nasi lemak. Saya tadinya menduga makanannya biasa saja atau tidak enak. Eh, ternyata cukup enak juga. Maksudnya, saya mungkin akan pesan nasi lemak lagi jika menggunakan Air Asia.
Nasi lemak kedua yang saya makan adalah ketika sarapan pagi di hotel. Ada pilihan sarapan buffet dengan harga Sing$28. Wah mahal sekali. Saya putuskan untuk memesan ala carte saja. Yang saya pesan, yang netral, adalah … nasi lemak. hi hi hi. Dan ternyata setelah dimakan, harganya adalah Sing$23,50. Yaaah mahal juga. Untungnya nasi lemaknya enak sekali sementara makanan buffet-nya kelihatannya tidak begitu menarik.
[ternyata ada foto nasi lemaknya]
Nasi lemak ketiga adalah ketika kembali lagi ke Bandung (masih dengan menggunakan Air Asia). Tentu saja makanan yang saya pesan adalah … nasi lemak. hi hi hi.
Kembali waktunya pasang foto-foto yang diambil beberapa hari yang lalu sampai sekarang.
Ketika di perjalanan kemarin, terpaksa saya sarapan di Starbucks. Berangkat dari rumah setelah subuh. Jadi belum sempat sarapan benar. Di jalan juga tidak bisa sarapan benar
dan tentu saja harganya juga lebih mahal daripada sarapan di rumah.
BandIT manggung di acara peluncuran buku J.B. Sumarlin (dan sekalian perayaan ulang tahun yang ke 80). Acara dilangsungkan kemarin – 16 Februari 2004 – di hotel Borobudur, Jakarta. Jreng!
Langit pagi ini di Bandung. (Diberi efek gloom.) Sebetulnya saat ini sedang kelabu. Ini masih untung menemukan warna biru di langit. Semoga hari ini lebih cerah.
Weekend adalah waktunya memasang foto di blog. Eh, sekalian juga waktunya untuk memotret. Pagi ini ada kesempatan ke luar, ke bengkel. Dalam perjalanan pulang berhenti sebentar untuk memotret langit ini. Tempatnya di dekat rumah saja.
Setelah itu lihat di meja makan ada ini. Mau? he he he.
Setelah ini mau motret apa lagi ya?
Kelihatannya enak ya? Ini tidak enak, tetapi … ueeenaaakkk banget. he he he. Hanya ada masalah bagi saya, yaitu cabenya. Perut saya tidak kuat terhadap cabe itu. Jadi saya hanya mengambil yang aman-aman saja, yang tanpa cabe. hik hik hik
Ini adalah beberapa foto makanan yang berhasil saya jepret hari-hari ini. Sebetulnya ada lebih banyak lagi fotonya. Hanya saja saya belum sempat untuk memproses dan meng-upload-nya.
Foto di atas adalah kopi tarik yang saya temukan di Bandara Huseinsastranegara, Bandung. Saya lupa nama kafenya, tetapi yang saya ingat adalah mereka menyajikan masakan Melayu / Malaysia. Ada nasi lemak, dan seterusnya. Nampaknya mereka hadir untuk mengantisipasi turis Malaysia. Makanan di sini enak-enak. Sayangnya makanan yang lain tadi tidak sempat saya potret karena sudah kelaparan dan main sikat saja. hi hi hi. Kopi tarik ini enak sekali. Hanya agak sedikit kemanisan bagi saya. Pikir-pikir, mosok kalau mau makanan Melayu saya harus ke bandara?
Nyokelat: Cokelat Nyunda. Terus terang saya tidak tahu maksudnya dari Sunda-nya apa, selain sampulnya yang menunjukkan gambar Gedung Sate (Bandung). Rasa dari dark chocolate-nya juga lumayan. Ini juga nemu di Bandara Huseinsastranegara juga.
Rasanya susah sekali untuk menahan diri agar tidak terlalu banyak makan yang kurang sehat. Ini sebetulnya hanya masalah kemampuan menahan diri, tetapi “hanya” di situ ternyata susah sekali.
Siang ini saya mencoba memaksakan diri agar makan sayur. Saya pilih salad saja. Ini dia fotonya.
Sorenya saya sakit perut. Tadinya saya menyangkan makanannya. Mungkin ada yang kurang bersih, tetapi bisa juga karena masuk angin. Saya menduga yang terakhir.
Kemarin di dekat lapangan futsal saya melihat ada orang yang jualan mie aneh. Tertulis “mie dingin rainbow”. Yang saya lihat di etalasenya adalah mie berwarna-warni; merah, kuning, hijau, biru, ungu, dan seterusnya. Seperti pelangi (rainbow). Mienya terlihat seperti udon yang dimasukkan ke dalam toples dengan air berwarna-warni itu. Ada tulisan besar, pewarnanya terbuat dari tumbuhan. Sayang sekali karena kemarin lagi buru-buru maka saya tidak beli.
Malam ini kami juga mendapatkan minuman berwarna=warni; rainbow juga. Nampaknya setelah sukses dengan rainbow cake, di Bandung ini makanan menjadi beraliran rainbow. Setelah ini apa lagi ya? Nasi timbel rainbow?
Kemarin sore akhirnya ada kesempatan untuk berjalan-jalan seputar hotel di acara APICTA 2012. Sambil olah raga – maklum, seharian di ruangan duduk mendengarkan presentasi – saya gunakan waktu ini untuk memotret dengan pocket camera Casio Exilim saya.
Sunset
Di salah satu sisi hotel ini ada pantai. Saya pikir sangat menarik untuk memotret sunset di pantai. Sayangnya, sisi yang menghadap sunset tidak mudah dilihat. Saya harus berjalan melalui jalan setapak yang cukup lumayan jauh juga. Hitung-hitung olah raga. Sampai di sana, pemandangan cukup bagus tapi sepi orang. Sayang sekali. Kalau sisi yang menampakkan sunset ini lebih mudah dicapai, mungkin akan lebih banyak orang yang akan duduk-duduk menikmati sunset. Entah kenapa aspek ini kurang dieksploitasi oleh pengelola hotel.
Hotel (dilihat dari sisi tempat melihat sunset). Cukup jauh juga bukan? Mestinya dari sisi depan hotel pengunjung sudah dapat melihat sunset.
Salah satu hal yang menarik juga di Brunei ini adalah adanya durian yang berwarna. Kalau di Indonesia biasanya durian berwarna kuning, maka di sini ada durian yang berwarna oranye dan bahkan mereah. Sayangnya kemarin saya tidak sempat mencoba karena hanya menemukan satu yang berwarna oranye dan ukurannya sangat kecil. Lihat foto di atas, hanya ada 1 biji buah dalam satu bukaan. Harganya satu biji berkisar 5 dolar Brunei.
Ini hari kedua penjurian APICTA 2012. Hari dimulai dengan sarapan. Ini dia fotonya.
Yang ditampilkan foto sarapan yang buah-buahan. Padahal piring satunya, yang berisi daging dan kawan-kawannya, tidak ditampilkan. hi hi hi.
Setelah sarapan kami langsung masuk ke ruang penjurian lagi dan langsung bekerja. Ceritanya? Menyusullah. Takutnya peserta membaca tulisan ini. Nanti kan jadi gak fair. hi hi hi. Yang pasti, topiknya sangat bervariasi. Seru juga.
Hari ini proses penjurian sudah dimulai. Skedulnya cukup padat, setidaknya skedul saya. Jadi meskipun ada akses internet di ruang penjurian, saya susah browsing-browsing. Nggak lucu kalau jurinya tidak memberi perhatian kepada peserta yang presentasi bukan?
Saya kebagian menjadi juri di karya-karya mahasiswa. Yang disampaikan mereka bervariasi, mulai dari masalah yang trivial sampai ke masalah yang luar biasa rumitnya. Hasilnya juga menarik. Sayang sekali saya belum bisa bercerita banyak. Nanti setelah ada hasilnya baru saya bisa memberikan komentar atau bercerita dengan lebih detail lagi.
Kembali melakukan penjurian … Oh ya ini makan malamnya, nasi goreng