Arsip Tag: information technology

Oleh-oleh Dari InnovFest 2014

Tulisan ini harus saya kerjakan secepatnya. Mumpung masih hangat dan tidak terdesak dengan kegiatan lain, yang boleh jadi prioritasnya tadinya rendah tetapi tiba-tiba menyundul.

Hari Senin saya berangkat ke Singapura untuk mengikuti InnovFest 2014, yang sub-judulnya kali ini adalah “Asian Innovations Going Global“. Saya belum pernah mengikuti kegiatan ini tahun-tahun sebelumnya sehingga belum tahu apa yang diharapkan. Tiba-tiba langsung diminta untuk menjadi salah satu pembicara. Saya sanggupi karena melihat topiknya, terkait dengan entrepreneurship dan teknologi, sangat menarik buat saya.

innovfest 2014 speaksers

IMG_4367 innovfest BR name tag 1000

Salah satu hal yang menarik adalah organizer susah memasukkan saya kepada kategori apa dan dari afiliasi apa. Biasanya di name tag dituliskan afiliasinya. Di name tag saya, kosong. hi hi hi. Ini nantinya saya jadikan sebagai salah satu poin di presentasi saya. Yeah! This is why Asia is in different category. You just cannot categorize Asia in a Western categorical system. aha.

Hari Senin malam ada acara reception untuk para pembicara dan sponsor dari acara. Acara dilakukan di National Museum. Saya sudah pernah ke sini sebelumnya hanya untuk melihat-lihat musium. Acara reception ini lebih banyak untuk networking, berkenalan dan saling tukar kartu nama. Tidak ada orang yang saya kenal di sana. Besoknya saya baru mengetahui siapa-siapa mereka. Dan ternyata mereka hebat-hebat.

Hari Selasa acara dibuka oleh CEO dari NUS Enterprise, Lily Chan. Kata pengantar (speech) yang diberikan bagus sekali. Bukan sekedar basa basi. Sayangnya tidak saya miliki. Kemudian ada presentasi yang sangat menarik, tentang desain nursing home. Keren juga! Setelah itu ada presentasi dari Ike Lee, seorang innovator (dan sekarang investor juga) dari Korea Selatan yang sukses di Amerika. Lucu banget karena bahasa Inggrisnya yang pas-pasan tapi dia sukses besar di Silicon Valley. Satu point yang dia sampaikan adalah bahwa sekarang yang disebut “global” adalah Asia. Kita berada di tempat yang benar. We are in the right place! Orang-orang Amerika berharap bisa hadir di sini. Sekarang adalah waktunya. Right Now. (Saya lantas keinget lagu Van Halen – Right Now. Jadi kepikiran kalau besok akan saya gunakan lagu ini sebagai soundtrack dari presentasi saya. hi hi hi.) Nah. Wah. Acara baru dimulai dan keren-keren materinya. Setelah itu ada coffee break dan acara dibagi menjadi dua sesi paralel.

Di luar ada pameran poster-poster (riset-riset dari perguruan tinggi; NUS, NTU, Politeknik, dll.) dan booth-booth startup yang dibiayai oleh NUS Enterprise. Oh ya, setiap peserta diberi “uang” yang kita investasikan di salah satu dari booth tersebut. Nantinya booth yang paling banyak mendapatkan investasi akan mendapatkan penghargaan. Orang yang invest juga (diundi) untuk mendapatkan hadiah. Kreatif juga idenya.

IMG_4421 uang innovfest 1000

Setelah coffee break saya masuk ke sesi “Start-Ups & Enterpreneurs: Stories of Local Successes: Homegrown Heroes’ Road to Singapore Exits“. Pada sesi ini dibahas tentang pengalaman tiga buah start-ups di Singapura. Mereka menceritakan awalnya sampai ke akhirnya mereka mendapat dana dengan cara dibeli oleh perusahaan yang lebih besar. Kelihatannya strategi keluar (exit strategy) dari start-up di Singapura adalah dibeli (diakusisi) oleh perusahaan lain. Belum ada cerita sukses perusahaan tersebut di pasar modal (via IPO). Besoknya saya mendapat data tambahan bahwa memang belum ada cerita sukses via IPO. Ini berbeda dengan di Amerika! Nah.

Minggu lalu saya berdiskusi dengan salah seorang investor dari Jepang. Dia berkata bahwa start up di Jepang dapat berjalan karena capital market-nya sudah disiapkan sebelumnya. Mereka harus melakukan perombakan (meniru Amerika?) sehingga memungkinkan untuk melakukan invetasi di perusahaan start up. Ah. Nampaknya dia benar. Indonesia belum siap untuk itu. Nampaknya bahkan Singapura juga belum siap. Itulah sebabnya exit strategy yang masuk akal kali ini hanya dibeli oleh perusahaan besar. Ini membutuhkan diskusi yang lebih panjang. Harus buat thread terpisah untuk ini.

Sesi selanjutnya saya mengikuti “Urbanisation and Future Cities“. Ceritanya lain kali ya. Intinya adalah desain kota masa depan (dengan permasalahan yang dihadapi dunia saat ini). Ada contoh kota yang dikembangkan oleh Singapura dan China. Keren.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pitching dari beberapa start-ups. Pitching pertama, sebetulnya dari segi visi dan ide bagus tetapi cara presentasinya salah. Saya bertanya, “what products are you making? It’s not clear to me“. Dia menjelaskan kemudian bertanya “Is it clear?” dan saya jawab “Not really“. Salah satu kesalahan start up adalah tidak tahu cara pitching. Jadi kesannya adalah wasting our time. Suatu saat saya harus ajari mereka caranya.

Hasil dari hari ini membuat saya berpikir bahwa materi presentasi saya untuk keesokan harinya harus saya ubah. Pivot, kalau istilah anak-anak sekarang. hi hi hi. Maka setelah acara celebration dinner malam itu saya asyik mengubah materi presentasi. Harus lebih jreng!

Oh ya, di acara dinner itu yang paling banyak dibicarakan adalah success story. Di Singapura yang lagi rame adalah bagaimana Zopim – sebuah start-up – baru saja dibeli oleh Zendesk sekitar $30 juta. Foundernya terlihat happy dan ketika diminta untuk memberikan presentasi agak mabok. hi hi hi. Tapi dia bercerita apa adanya tentang perjalanan start up-nya. Saya bisa mengatakan bahwa apa yang mereka lalui mirip dengan apa yang pernah saya lalui juga. hi hi hi. Kapan-kapan saya akan cerita tentang itu.

Besoknya saya memberikan materi presentasi saya tentang “A new dawn of technological innovation: Is the Sun Rising in the East?” Intinya adalah ini: apakah inovasi terjadi di Timur, di Asia (atau Asean lebih tepatnya)? Apakah inovasi hanya terjadi di dunia Barat? Jawaban saya adalah: YA! meskipun pada awalnya saya katakan Tidak. hi hi hi. Kemudian para peserta saya bawa naik roler coaster perjalanan saya mengembangkan start ups di Kanada. Gagal semua. Tetapi saya jelaskan bahwa di sana, kami mengembangkan teknologi. Bukan hanya me too – layanan yang nyontek yang sudah ada. Saya katakan bahwa di dunia Timur, kita pun harus mengembangkan teknologi yang khas untuk memecahkan masalah kita. Ada beberapa hambatan yang harus kita lalui. Pokoknya serulah presentasi saya. hi hi hi. Materi presentasi akan saya upload dan link-nya akan saya pasang di sini.

Setelah selesai presentasi banyak yang ngajak diskusi dengan saya, berbagai topik. Yang paling banyak adalah yang meminta bantuan untuk mendapatkan pengembang (developers, programmers) untuk mengimplementasikan ide-ide mereka. Whoa! Saya harus berpikir keras karena di Bandung ini ternyata kita juga masih kekurangan programmer.

Masih banyak yang ingin saya ceritakan di sini. Sudah kepanjangan. Nanti bosan. Harusnya saya buat ini menjadi beberapa seri. Naaahhh … Semoga bermanfaat.


Gadget Tambahan?

Sekarang nampaknya ada kebutuhan gadget baru, power bank. Ini adalah perangkat – yang sebetulnya adalah batre – yang dapat digunakan untuk mengisi (men-charge) handphone. Kemana-mana saya melihat, orang-orang sekarang membawa power bank untuk mengisi batre handphone mereka. Bahkan tidak jarang saya melihat orang menggunakan handphone-nya sambil masih terhubung dengan power bank.

CIMG5148 power bank 1000

Nampaknya penggunaan handphone kita melebihi kemampuan batre dari handphone. Pembuat handphone tidak mengira orang Indonesia demikian intensifnya menggunakan handphone sehingga batre habis dan harus diisi saat itu juga. :)

Atau mungkin ini disebabkan sinyal operator seluler yang buruk sehingga menghabiskan batre? Handphone yang sama kalau di Indonesia harus diisi batrenya setiap malam. Kalau handphone ini saya bawa ke Singapura, dia bisa bertahan dua hari-an. Sinyal handphone ada dimana-mana. (Atau sebetulnya kalau di luar negeri kita jarang telepon / SMS sehingga penggunaan lebih sedikit dan otomatis batre lebih awet?)

Apapun alasannya, power bank merupakan barang terlaris saat ini. Orang luar negeri – Amerika, maksudnya – tidak dapat memahami pasar ini. Yang memahami pasar ini adalah China. Mereka yang sukses dengan menguasai pasar produk baru ini. Sementara itu kita hanya menjadi konsumer dan tempat pembuangan batre bekas. Yang terakhir ini merupakan topik bahasan di lain kesempatan.

Jadi, Anda sudah punya power bank?


Tuhan dan Komputer

Ada seorang dosen yang memberikan tugas pengamanan sistem informasi kemahasiswaan kepada mahasiswanya. Sang mahasiswa harus membuat sebuah access control list (ACL) yang membatasi akses ke transkrip mahasiswa. Berikut adalah potongan kode yang dibuat oleh mahasiswa.
if "student" then allow;
if "dosen" then allow;
if "God" then allow;
else deny

Sang dosen kemudian memanggil mahasiswa tersebut.

“Tolong jelaskan ini!”, sambil menujuk baris yang ada kata “God”.
“Ada masalah apa, pak?” tanya sang mahasiswa.
“Ya, ini. Kok ada God?”
“Loh kan Tuhan ada di mana-mana pak. Mosok Tuhan tidak ada di komputer?”

[dosen pingsan ...]


Apa Yang Diharapkan Dari Jejaring Sosial?

Ada pertanyaan yang menarik sebagai berikut

Ketika kita masuk ke jejaring sosial (seperti Facebook, twitter dan kawan-kawannya), sebetulnya apa yang kita harapkan?

Yang dimaksudkan dengan “harapkan” di atas itu mungkin lebih ke arah nantikan, ngarep, pengen. Misalnya, apakah Anda ingin melihat komentar yang ada terkait dengan perubahaan status Anda? Atau Anda tertarik dengan status kawan-kawan Anda? Atau Anda mencari yang lucu-lucu?

Terus terang, saya sendiri menggunakan jejaring sosial untuk mengetahui berita terkini. Saya tidak membaca surat kabar dan saya juga tidak menonton TV Indonesia. Alasannya adalah isinya sama dan terlalu bombastis. Mana seringkali yang membawa acaranya tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya dulu. (Know nothing about the subject.) Maka lebih efektif menggunakan jejaring sosial untuk skimming tentang kondisi yang ada saat ini :)

Jadi yang Anda nanti-nantikan ketika membuka jejaring sosial?


Dari Facebook ke Twitter

Saya dengar dari orang-orang bahwa mereka sekarang mulai lebih banyak mengakses twitter dibandingkan facebook. Apakah Anda juga demikian? (Saya, tidak.) Statistik terakhir memang menunjukkan ada penurunan yang tajam dari jumlah pengguna facebook Indonesia. Akhir dari jaman kejayaan facebook?

Twitter memang lebih mudah diakses. Ukuran datanya yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan facebook memudahkan dia diakses oleh handphone yang paling sederhana sekalipun. Cepat diakses. Cepat berkicau :)

Atau karena sekarang sudah banyak outlet social media yang lain selain facebook, seperti misalnya Google Plus, pinterest, path, dan seterusnya sehingga atensi terpisah-pisah?


Twit Yang Ke 10.000

Barusan saya menuliskan twit saya yang ke 10.000! Horeee … Ini snapshot dari tampilan profil saya (@rahard) di web twitter.

Katanya kalau sudah melakukan sesuatu sebanyak 10.000 kali (atau 10 tahun), maka seseorang dapat dikatakan pakar (expert). Jadi, saya sekarang bisa bilang bahwa saya pakar nge-twit. he he he.

Padahal banyak orang yang sudah dari kapan-kapan mencapai 10.000. Kalau yang itu namanya bawel. ha ha ha.

Pertanyaan berikutnya adalah kapan blog saya mencapai 10.000 tulisan ya? Kalau setiap hari 1 tulisan, berarti dibutuhkan 10.000 hari ya? Hadoh. Berapa tahun itu? Seagai catatan untuk sekarang saja (sekitar 3000-an), saya membutuhkan waktu sekitar 10 tahun!


Training Network Security

Maaf posting kali ini agak berbau iklan pribadi.

Tanggal 22 dan 23 November 2011 ini kami (indocisc) akan mengadakan training security. Silahkan lihat informasinya di training.indocisc.com. Isinya lebih ke aspek teknis (berbeda dengan kuliah kelas saya yang lebih banyak ke aspek prinsip). Isinya merupakan pengalaman yang kami lakukan selama memberikan layanan security kepada beberapa klien.

Begitu … See you there …


Flipboard theme for WordPress?

Okay I am blown by the look and feel of Flipboard (on iPad). I was wondering if anybody would be interested in developing wordpress theme that looks like Flipboard?

Please, please, pretty please …


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.594 pengikut lainnya.