Arsip Tag: IT

Masalah Milis dan Alamat Email Yahoo

Baru-baru ini Yahoo! menerapkan kebijakan tentang penggunaan email yahoo.com. Singkatnya begini. Email yang menggunakan alamat “@yahoo.com” tetapi tidak dikirimkan dengan fasilitas web-nya yahoo (misal menggunakan program email sendiri) akan dianggap tidak jelas asalnya sehingga akan diblokir oleh sistem email yang menerapkan kebijakan DMARC (“Domain-based Message Authentication, Reporting & Conformance”). Yahoo juga termasuk yang menerapkan kebijakan itu. DMARC ini merupakan salah satu cara untuk mengurangi spam dan email palsu.

Akibat dari kebijakan ini beberapa milis akan bermasalah. Pelanggan yang menggunakan email yahoo.com tidak dapat mengirimkan email ke milis dan juga tidak dapat membaca email-email yang pengirimnya dari yahoo.com juga. Kira-kira alurnya seperti ini.

  1. Seorang pengguna dengan email yahoo.com mengirim email ke milis.
  2. Milis manager me-rewrite header dari email dan mengirimkannya dari domain sang milis. Akibat dari ini email yang berasal dari yahoo.com itu dianggap tidak lagi keluar dari web-smtp yahoo tapi dari domain si milis
  3. Email tersebut akhirnya difilter oleh sistem yang menerapkan DMARC (termasuk yahoo.com juga)

Solusi? Cara yang banyak dilakukan orang adalah memperbaiki / mengubah / update mailing list manager agar tidak melakukan rewrite header email untuk pengguna dari yahoo.com (atau domain lain yang menerapkan DMARC ini juga).

Nah, saya sekarang sedang pusing karena milis manager saya buatan saya sendiri. Belum tahu bagian mana yang harus saya ubah. hi hi hi.

 


Valuasi Perusahaan IT

Baru-baru ini banyak orang terperangah ketika Facebook membeli WhatsApp dengan nilai yang fantastis. Yang menarik adalah WhatsApp adalah layanan yang belum menghasilkan revenue besar. Penghasilannya dari mana? Bagaimana menilai perusahaan (layanan) seperti WhatsApp ini? Mulailah muncul spekulasi dan teori. Saya akan menawarkan pemahaman saya.

Salah satu upaya perusahaan untuk mendapatkan pelanggan (customer) adalah melakukan marketing. Ada biaya untuk melakukan itu. Ada “cost of acquiring customer“. Berapa besarnya ini? Ini masih menjadi perdebatan. Katakanlah biayanya adalah US$20 (atau ada yang mengatakan boleh jadi US$50), maka nilai sebuah layanan adalah jumlah pelanggan dikalikan dengan biaya tersebut. Jadi katakanlah saya punya sebuah layanan dengan 100 juta pelanggan, maka sebetulnya perusahaan saya memiliki nilai US$ 2 milyar. Ini kalau dilihat dari kacamata mendapatkan pelanggan.

Cara menilai seperti ini tentunya masih belum dapat diterima oleh semua pihak. Jumlah pelanggan tidak selalu berkorelasi dengan sales, revenue. Tentu saja. Dia baru dapat dikatakan sebagai potensi. Namun ini sudah menjadi sebuah value. Bahkan ada yang mengatakan bahwa “user is the new currency”. Nah.

Ada cara pandang lain mengenai valuasi dari perusahaan IT, tetapi itu untuk topik tulisan lain kali ya.


Mencoba Memahami Laporan Akamai

Secara berkala, Akamai mengeluarkan laporan mengenai layanan mereka. Salah satu bagian dari laporan mereka ini menyampaikan berapa besar serangan (attack) yang mereka terima. Akhir-akhir ini, laporan mereka menunjukkan bahwa banyak serangan berasal dari Indonesia. Secara umum, China merupakan peringkat pertama dan Indonesia merupakan peringkat kedua. Ini agak aneh menurut saya.

Mari kita amati laproan kwartal ketiga (Q3) dari 2013. Di sana ditunjukkan tabel ini.

Region % Attack Traffic Unique IP Addresses Avg. Connection Speed (Mbps) Peak Connection Speed (Mbps)
China 35% 115,336,684 2,9 11,3
India 1,9% 18,371,345 1,4 9,0
Indonesia 20% 5,804,419 1,5 9,7
Japan 0,8% 40,008,677 13,3 52,0
Malaysia 0,2% 2,137,032 3,2 24,9
Singapore 0,1% 1,566,346 7,8 50,1

Perhatikan bahwa jumlah serangan dari Indonesia adalah 20% dari total serangan. Ini sangat besar. Hanya China yang lebih besar (35%). Yang aneh adalah jumlah IP address yang menyerang dari Indonesia adalah hampir 6 juta saja. Bandingkan dengan yang lain. Untuk menghasilkan 35%, China membutuhkan 115 juta IP; hampir 20 kali Indonesia. India yang jumlah IP penyerangnya 3 kali kita pun hanya menghasilkan 1,9% serangan. Apa artinya?

  1. Serangan dari Indonesia lebih efektif? ha ha ha
  2. Penyerang itu berasal dari komputer-komputer yang terinfeksi malware dan sangat lambat untuk ditangani (jadi satu komputer menyerang lebih lama dibandingkan di negara lain).
  3. Penyerang dari Indonesia lebih berdedikasi? hi hi hi

Atau ada apa lagi ya? Nampaknya saya harus ketemu Akamai untuk klarifikasi hal ini.


Keamanan Industrial Control System

Dalam acara Cyber Intelligence Asia 2014 kemarin, salah satu topik yang dibahas adalah tentang kemanan (security) dari Industrial Control System (ICS). ICS adalah perangkat kendali (controller) di tempat-tempat seperti pabrik dan pembangkit listrik. Masalah keamanan dari ICS ini mulai muncul ketika ditemukannya malware Stuxnet yang menginfeksikan perangkat kendali dari Siemens. Menurut teori konspirasi, malware tersebut dibuat oleh Amerika untuk menyerang instalasi nuklir Iran. Begitu ceritanya.

Dalam diskusi kemarin dipahami bahwa ada banyak malware yang sebetulnya tidak ditargetkan kepada ICS tetapi menginfeksi ICS juga. Pasalnya, perangkat komputer di pabrik jarang diupdate (diupgrade). Untuk apa juga? Kalau peralatan berjalan dengan baik, mengapa perlu diutak-atik? Jangan-jangan kalau diupdate malah tidak jalan. Rugilah perusahaan. Jadi virus komputer yang sudah kuno pun bisa jadi masih dapat menginfeksikan peralatan di pabrik.

Hal lain yang perlu dipahami juga adalah mental atau cara pandang engineers di pabrik juga berbeda dengan di perusahaan (corporate). Di pabrik, tujuan utama adalah sistem hidup, berjalan, dan menghasilkan produk. Availability lebih utama dibandingkan confidentiality.

Begitulah kira-kira singkatnya tentang masalah keamanan ICS ini.


Screen Privacy Application

Saya sedang berada di sebuah seminar dan ingin membuka komputer tetapi saya khawatir orang-orang yang duduk di belakang saya dapat melihat apa yang ada di layar saya. Padahal saya mau buka email, menjawab email, membuat proposal, atau bahkan hanya facebook-an. he he he. Seriously, saya sebetulnya ingin memperbaiki materi presentasi saya (untuk besok). Kalau saya edit sekarang, nanti orang-orang bisa lihat dan mungkin mengganggu mereka.

Nampaknya dibutuhkan sebuah aplikasi yang membuat layar komputer (notebook) saya hanya dapat dilihat oleh saya sendiri; screen privacy application. Aplikasi pelindung layar komputer ini membuat layar kita menjadi acak atau gelap jika tidak dilihat dengan menggunakan kacamata tertentu, misalnya. Nah.

Saat ini karena belum saya miliki, maka saya membuka layar ini dan orang-orang di belakang saya bisa lihat saya sedang ngeblog. hi hi hi.


Linux: Nemo gagal, Nautilus bisa

Sudah lama tidak nulis tentang hal yang teknis. Kali ini mau nulis tentang Linux ah.

Ceritanya saya mau mem-backup beberapa berkas ke disk eksternal. Karena komputer bergerak saya adalah Macbook dengan Mac OS X, maka disk eksternal saya format dengan menggunakan file system HFSplus. Di Linux (Mint) saya pasang program yang dapat membaca dan menulis untuk file system HFSPLUS itu.

Keanehan muncul ketika saya ingin memindahkan berkas dari Linux ke disk tersebut. Katanya file system hanya dipasang read-only. Saya baca berbagai dokumentasi di internet. Katanya file system HFS yang digunakan jangan diset journaling. Saya memang spesifik tidak mengaktifkan fitur journaling ini ketika melakukan formatting disk di Mac OS X. Mestinya sudah ok.

Penasaran. Saya coba menggunakan terminal untuk menuliskan sesuatu di disk itu; “touch junk“. Eh, bisa. Artinya memang disk itu sudah dipasang baca tulis. Saya kemudian menduga ini masalah dengan file manager yang saya gunakan, Nemo. Akhirnya saya pasang file manager lain, Nautilus. Saya coba copy berkas tersebut. Bisa! Nah. Saya belum menemukan sumber masalahnya, kenapa-nya, tetapi setidaknya saya sudah dapat melakukan backup dengan Nautilus.

Semoga kalau ada yang punya masalah seperti yang saya jelaskan di atas dapat mengatasinya. Hidup Nautilus!

[Catatan tambahan: Saya belum mencoba untuk me-reboot komputer. Siapa tahu ada masalah dengan permission dari si Nemo yang menjadi betul lagi setelah di-reboot.]


Proposal Startup di Tahun 2000

Sedang bersih-bersih ruang kerja. Banyak dokumen-dokumen yang sudah pantas untuk dibuang. Eh, menemukan proposal untuk pembuatan perusahaan (startup) di tahun 2000. Proposal ini mengusulkan sebuah perusahaan yang mengembangkan aplikasi untuk handphone. Ingat, di tahun 2000, belum ada perusahaan yang mengembangkan aplikasi di handphone. Semua aplikasi yang ada di handphone sudah built-in dari pabriknya. Nah.

startup-proposal-2000-page1

startup-proposal-2000-page2

Sayangnya karena saya belum memiliki sumber daya yang memadai pada saat ini, maka startup yang itu tidak sempat saya buat. Kalau sekarang, perusahaan yang membuat aplikasi untuk mobil sudah banyak ya? Kalau sekarang, ide saya sudah lain lagi. hi hi hi.


Kebiasaan di Facebook

Wolfram Alpha ternyata memiliki sebuah layanan yang lumanya menarik, yaitu analisis akun facebook kita. Caranya adalah masuk ke situs WolframAlpha.com dan kemudian ketikkan “facebook report“. Tentunya nanti Anda diminta untuk login dengan menggunakan facebook. Hasilnya lumayan keren.

Salah satu analisisnya adalah distribusi kebiasaan kita. Ini salah satu contoh snapshot-nya.

facebook distribution

Dapat dilihat bahwa aktivitas saya – upload foto, status, dan seterusnya, kebanyakan dilakukan pada pagi hari (sekitar pukul 9 pagi) dan pada akhir pekan (weekend). Seru juga melihat diri sendiri. hi hi hi.

Bagaimana dengan kebiasaan Anda?


eKTP rusak difotocopy? Ah yang bener …

Belakangan ini ada ribut-ribut soal eKTP. Katanya eKTP rusak kalau difotocopy. Aneh bagi saja. Alasannya apa? Apa yang merusak? Sinar dari mesin fotocopy? Gelombang magnetik? Tidak dijelaskan. Kalau fotocopy merusak, apa mesih fotocopy tidak berbahaya bagi kesehatan? Nah lho. Nanti apa eKTP tidak boleh discan, tidak boleh difoto pakai blitz, dan seterusnya. Banyak sekali isu palsu tentang ini.

Jika memang benar eKTP gampang rusak, maka desainnya demikian buruk! Mosok senggol dikit rusak. Padahal KTP kan harus reliable. Dia harus bisa dikantongi (dalam dompet, kantong yang lembab) atau ter-abuse (kena panas, dingin, dan seterusnya). Bayangkan, kartu-kartu lain (kartu bank) kok bisa tidak rusak? hi hi hi.

Kalau eKTP tidak dapat dicopy dalam artian di-cloning. Nah itu saya baru setuju. Harusnya demikian.

Bacaan lain:


Buat Sistem Operasi Sendiri?

Topik sistem operasi (OS – operating system) buatan sendiri kembali ramai. Diberitakan Cina menggandeng Ubuntu untuk membuat sistem operasi sendiri. (Catatan: tahun 2000, kalau tidak salah, saya sempat pergi ke Cina dan melihat mereka mengembangkan OS sendiri berbasis Linux. Namanya Red Flag Linux kalau tidak lupa.)

Pertanyaannya adalah:

  1. Apakah membuat sistem operasi sendiri masih relevan?
  2. Apakah yang dimaksud dengan “sistem operasi sendiri”?
  3. Apakah kita memiliki kemampuan dan komitmen untuk melakukan hal itu?

Pertanyaan pertama adalah apakah kita perlu membuat sistem operasi sendiri? Mengapa kita perlu membuat *SENDIRI*? Kalau kita lihat, pasar justru lebih condong ke arah aplikasi. Sebagai contoh, sistem oeprasi Android sudah merajalela di platform handphone dan tablet. Nampaknya akan banyak dibutuhkan aplikasi di atasnya. Mungkin lebih menarik kalau kita mengembangkan banyak aplikasi di atas itu.

Mengembangkan sistem operasi sendiri masuk akal jika kita membutuhkan sistem operasi yang spesifik untuk kebutuhan tertentu, misalnya untuk kebutuhan keamanan. Itupun sebetulnya masih dapat menggunakan sistem operasi yang ada. Lantas apa alasan mengembangkan sistem operasi sendiri? Apakah hanya sekedar untuk gaya-gaya-an saja? Mengapa kita tidak bergabung dengan pengembang sistem operasi yang sudah ada saja dan berkontribusi di tingkat dunia? Selama kita tidak dapat menjawab mengapa-nya maka saya cenderung untuk mengatakan tidak usah.

Terkait dengan hal di atas adalah apa yang dimaksud dengan sistem operasi sendiri? Ada kalanya yang dimaksud dengan sistem operasi sendiri adalah sebuah customization terhadap sistem operasi yang sudah ada. Yang diganti adalah bahasanya atau tampilannya, misalnya. Apakah yang dimaksud adalah ini? Jika iya, mengapa tidak bergabung dengan sistem operasi yang sudah ada, Debian Linux misalnya, dan kemudian ikut mengembangkan berbagai proyek terjemahan (translation) saja?

Apakah sumber daya untuk mengembangkan sistem operasi sendiri itu ada? Kalau kita berbicara tentang sumber daya manusia (SDM) dalam tingkat individual, saya yakin jawabannya adalah ada. Kalau kita berbicara tentang skala (kapasitas, dalam tingkat komunitas) dan juga konsistensi, saya tidak yakin. Ada berapa orang Indonesia yang berkontribusi kepada pengembangan core sistem operasi Linux, misalnya? (Berapa orang yang menguasai ilmu sistem operasi ini? Saya lihat di kampus tidak banyak yang mengajarkan hal ini dan kalaupun ada mahasiswanya juga sedikit serta hanya cari nilai. hi hi hi.)

Untuk mencoba menjawab pertanyaan ternyata malah menghasilkan lebih banyak pertanyaan ya. Jawaban yang saya berikan juga cenderung mengarah kapada tidak usah buat sistem operasi sendiri.

Bagaimana menurut Anda?


Pengalaman Ujian Online

Tadi pagi saya menyelenggarakan UTS (Ujian Tengah Semester) secara online. Kami menggunakan sistem yang berbasis Moodle.

Sebetulnya mahasiswa dapat mengakses sistem dari mana saja karena sistem kami ini dapat diakses melalui internet. Hanya saja karena saya tidak yakin semua mahasiswa memiliki akses internet di tempat tinggalnya masing-masing, maka saya menyediakan fasilitas untuk ujiannya.

Kelas saya cukup besar, 160 orang! Maka saya meminjam lab komputer. Dua lab komputer. Gabungan dari kedua lab tersebut memberikan 120 komputer. Masih kurang 40 komputer lagi. Tidak apa-apa. Ujian pagi ini saya menduga akan ada yang telat. Kalau yang telatnya adalah 40 orang maka pas lah :)  Atau kalau tidak ada yang telat, mahasiswa dapat bergantian ujian.

Waktu yang saya berikan untuk ujian adalah 90 menit. Sementara soal yang saya buat ada 34 buah dan dapat dikerjakan kurang dari 30 menit. Itu dengan asumsi mahasiswanya paham apa yang saya tanyakan. Kenyataannya memang demikian. Banyak mahasiswa yang dengan cepat menyelesaikan UTS sehingga yang menunggu untuk ujian hanya beberapa orang. Itu pun menunggu kurang dari 10 menit.

Foto1891 mhs antri ttd 1000

[Foto mahasiswa ngantri untuk mengisi daftar hadir. Lebih lama mengantri ini daripada mengerjakaan soalnya sendiri.]

Poin pertama yang ingin saya sampaikan adalah kita harus menyediakan jumlah komputer yang cukup untuk melakukan ujian online.

Ketika ujian ada beberapa kejadian. Ada satu baris komputer, 4 komputer, yang tiba-tiba mati listriknya. Ternyata mahasiswa yang duduk di dekat dinding secara tidak sengaja kursinya menekan switch on/off dari power bar di dinding. Maka matilah 4 komputer tersebut. Setelah dinyalakan maka keempat mahasiswa tersebut harus mengulang kembali ujainnya. Untung sistem yang digunakan memperkenankan itu.

Ada juga mahasiswa yang komputernya tiba-tiba restart. Ada juga mahasiswa yang datang dengan membawa notebook dan minta ijin untuk menggunakan notebook tersebut daripada menunggu giliran mendapatkan komputer. Saya perkenankan. Eh, ternyata akses wifinya tidak stabil. Jadi mereka harus mengulang ujian dua kali. Akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan komputer desktop yang mulai ditinggalkan oleh mahasiswa yang sudah selesai.

Poin yang ingin disampaikan adalah infrastruktur harus reliable.

Ada masalah besar dalam menyelenggarakan ujian online. Saya ingin ujiannya bersifat “closed book”, tetapi bagaimana caranya? Browser yang digunakan kan bisa diarahkan ke Google untuk mencari jawaban di internet. Lebih parah lagi, di sistem blended learning yang saya gunakan untuk UTS ini juga saya gunakan untuk menyimpan materi kuliah dalam bentuk berkas presentasi. Mereka dapat melihat berkas ini untuk mencari jawaban.

Untuk itulah saya memberikan instruksi di kelas bahwa (1) mereka hanya diperkenankan untuk membuka UTS saja, (2) mereka harus memiliki kejujuran 100%. Bagaimana cara untuk memastikan hal ini secara teknis? Saya tidak tahu. Saya hanya mengingatkan mereka bahwa nilai dari UTS ini nilainya tidak terlalu penting dibandingkan dengan nilai kejujuran mereka. (Bobot dari nilai UTS ini akan sangat kecil.) Dengan kata lain mereka ujian terhadap diri sendiri. Jika mereka tidak dapat jujur kepada diri sendiri di lingkungan kampus yang notabene steril, bagaimana mereka dapat jujur di luar nanti?

Ujian ini adalah ujian terhadap kejujuran. Luluskah Anda?


Masalah IT Security di Asia

Saya sedang di acara Cyber Intelligence Asia, yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, mendengarkan beberapa presentasi tentang masalah keamanan IT di lingkungan Asia. Beberapa presentasi pagi ini bercerita tentang kondisi cyber security di Malaysia (di berbagai instansi pemerintah dan juga pemerintah daerah, dalam hal ini adalah Sabah).

Salah satu hal yang menarik adalah pemerintah Malaysia sudah membuat berbagai inisiatif untuk menyikapi masalah keamanan di dunia cyber. Sebagai contoh, pada tahun 2006 mereka membuat Cyber Security Policy yang baru dapat dieksekusi di tahun 2008. Setelah itu ada beberapa inisiatif yang telah mereka lakukan.

Selain pembicara dari Malaysia, ada juga pembicara dari Thailand, Kamboja, dan Jepang. Saya sendiri akan memberi presentasi tentang kondisi IT security di Indonesia berdasarkan data yang kami terima di ID-CERT. Ternyata permasalahan yang terjadi hampir sama; malware, phishing, network attack (terutama DDoS attack), dan berbagai penipuan lainnya. Ada beberapa kejadian yang dijelaskan secara gamblang. Misalnya bagaimana tim keamanan Hongkong memecahkan kasus pemerasan di internet. Seru juga.

Yang penting dalam acara ini adalah berbagi informasi dan pengalaman. Dan tentu saja untuk mengenal satu sama lainnya sehingga terjadi kordinasi.


Memasang Linux Mint

Komputer baru sudah datang. Dia datang kosong, tanpa sistem operasi. Sekarang kan toko komputer sudah tidak boleh lagi memasang sistem operasi bajakan. Hal ini tidak terlalu masalah dengan saya karena saya sendiri akan memasang sistem operasi Linux. Tinggal memilih Linux yang mana.

Ada tiga pilihan saya; Debian, Ubuntu, atau Linux Mint. Sebetulnya ada banyak Linux yang lain. Hanya tiga itu yang menarik bagi saya. Masing-masing punya alasan tersendiri. Sebelumnya saya hampir selalu menggunakan Debian. Untuk server, saya masih menggunakan Debian. Untuk desktop saya kemudian menggunakan Ubuntu. Nah, kali ini saya ingin mencoba Linux Mint.

Sebelumnya saya sudah memasang Linux Mint melalui virtual box di Macbook saya. Kelihatannya tampilannya lebih menarik dibandingkan Ubuntu. Saya hanya khawatir masalah dukungan (support) saja. Karena semua sebetulnya berbasis Debian, saya tidak terlalu khawatir kalau ada masalah. Worst case, saya bisa kembalikan ke Debian. Itulah sebabnya saya putuskan untuk memasang Linux Mint saja kali ini.

Pemasangan Linux Minta saya lakukan dengan menggunakan flashdisk. Komputer di-boot dengan menggunakan flashdisk melalui USB. Langsung Linux Mint hidup secara live. Kemudian saya tinggal memilih “Install Linux Mint” dan semuanya selesai.

Saya hanya menemukan satu masalah dalam instalasi Linux Mint ini, yaitu dia langsung menggunakan seluruh partisi hardisk saya (500 GB). Wah. Padahal biasanya saya mempartisi disk tersebut menjadi beberapa partisi. Alasan saya adalah kalau ada masalah (crash, tidak konsisten, dan sejenisnya) maka memperbaikinya (melalui fsck) maka tidak semua disk yang harus dibenahi. Paling-paling partisi yang bermasalah saja yang perlu di-fsck dan ini menghemat waktu.

Setelah terpasang, saya hanya perlu kembali memboot komputer dengan flashdisk instalasi lagi dan mengubah (resize) partisi dengan menggunakan program GParted yang sudah ada di menu Linux Mint. Beres.

Yang saya sukai dari pemasangan Linux Mint adalah kemudahan dan kecepatannya. Biasanya untuk memasang Debian atau Ubuntu saya harus mengambil (download) ini dan itu. Akibatnya proses instalasi dapat berlangsung semalaman. Maklum link internet saya kan terbatas. Linux Mint tidak demikian. Semuanya sudah terpasang. Tentunya nanti akan ada software yang akan saya pasang lagi, tetapi ini tidak dilakukan secara default. Setidaknya, saya sekarang sudah dapat bekerja. Ini saya langsung ngeblog :)

Jika tidak ada masalah dalam satu dua hari ke depan, maka saya akan menggunakan ini sebagai OS default. Data dari disk yang lama akan saya pindahkan ke sini. Saya mulai bekerja dengan menggunakan ini.

Kesimpulan, saya menyukai Linux Mint ini.


Editor Teks Terbaik

Apa editor teks terbaik?

Pertanyaan di atas mengundang perdebatan yang tak kunjung selesai. Ini seperti perdebatan agama apa yang terbaik? Setiap orang punya pilihannya sendiri-sendiri dan lengkap dengan alasannya.

Saya sendiri memilih editor “vi”. Ini editor yang kurang manusiawi. hi hi hi. Maksudnya, orang normal mungkin tidak akan memilih editor vi sebagai pilihan. Sayapun memilih ini karena sudah terlanjur menggunakan editor ini sejak pertama kali saya menggunakan sistem operasi UNIX. Perlu diingat saat itu tidak banyak editor yang dapat digunakan. Maka vi adalah pilihan yang paling natural.

Sekarang saya tetap menggunakan vi meskipun banyak editor yang katanya lebih “user friendly”. Bagi saya, vi lebih user friendly. hi hi hi. Saya dapat menggunakanya lebih efektif dibandingkan editor lain.


Pemutar MP3 Portable Yang Mana?

Situasinya begini. Koleksi lagu-lagu saya sudah pindah dari bentuk fisik kaset+CD ke bentuk digital (MP3 dan sebagian ada yang FLAC). Berkas-berkas MP3 ini ada banyak – sekitar 180 GB – sekali sehingga saya simpan di dalam satu komputer, yang sekarang adalah komputer desktop berbasis Ubuntu. Kalau saya ingin mendengarkan lagu, terpaksa saya nyalakan komputer tersebut.

Problemnya adalah menyalakan komputer itu butuh waktu, tidak bisa dalam 2 detik bisa langsung memutar lagu. Jadi kalau mau mendengarkan sebuah lagu harus sabar dulu sampai semuanya nyala. Masalah kedua adalah saya harus duduk di depan komputer untuk mendengarkan lagu. Saya tidak dapat mendengarkan lagu di mobil misalnya. Tidak portable. Masalah ketiga, yang ini sangat tergabung kepada setup saya, adalah kebetulan disk dari komputer desktop saya ini saya pasang secara eksternal. Kotak dari disk ini membutuhkan power supply dan kipas, yang sayangnya bising sekali bunyinya. Alih-alih mau mendengarkan lagu, malah mendengarkan suara kipas seperti kapal terbang!

Saya sekarang ingin mencari pemutar MP3 yang agak portable. Syarat yang utamanya adalah:

  • kualitas suaranya bagus;
  • dapat memputar MP3 (dan kalau bisa juga FLAC);
  • memiliki storage yang cukup besar (di atas 180 GB) – yang ini kalau tidak bisa sebesar itu ya tidak apa-apa tetapi saya harus repot memindah-mindahkan lagu yang diinginkan, setidaknya di atas 32 GB lah.

Sementara ini yang terbayang oleh saya adalah Apple iPod versi yang pertama dulu, yang disknya besar itu. Tapi itu kan dulu. Mungkin sekarang sudah ada yang lebih bagus lagi. Kalau handphone dan sejenisnya, storagenya sangat kecil (mungkin hanya 8 GB). Ini terlalu kecil.

Ada saran?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.595 pengikut lainnya.