Arsip Tag: IT

eKTP rusak difotocopy? Ah yang bener …

Belakangan ini ada ribut-ribut soal eKTP. Katanya eKTP rusak kalau difotocopy. Aneh bagi saja. Alasannya apa? Apa yang merusak? Sinar dari mesin fotocopy? Gelombang magnetik? Tidak dijelaskan. Kalau fotocopy merusak, apa mesih fotocopy tidak berbahaya bagi kesehatan? Nah lho. Nanti apa eKTP tidak boleh discan, tidak boleh difoto pakai blitz, dan seterusnya. Banyak sekali isu palsu tentang ini.

Jika memang benar eKTP gampang rusak, maka desainnya demikian buruk! Mosok senggol dikit rusak. Padahal KTP kan harus reliable. Dia harus bisa dikantongi (dalam dompet, kantong yang lembab) atau ter-abuse (kena panas, dingin, dan seterusnya). Bayangkan, kartu-kartu lain (kartu bank) kok bisa tidak rusak? hi hi hi.

Kalau eKTP tidak dapat dicopy dalam artian di-cloning. Nah itu saya baru setuju. Harusnya demikian.

Bacaan lain:


Buat Sistem Operasi Sendiri?

Topik sistem operasi (OS – operating system) buatan sendiri kembali ramai. Diberitakan Cina menggandeng Ubuntu untuk membuat sistem operasi sendiri. (Catatan: tahun 2000, kalau tidak salah, saya sempat pergi ke Cina dan melihat mereka mengembangkan OS sendiri berbasis Linux. Namanya Red Flag Linux kalau tidak lupa.)

Pertanyaannya adalah:

  1. Apakah membuat sistem operasi sendiri masih relevan?
  2. Apakah yang dimaksud dengan “sistem operasi sendiri”?
  3. Apakah kita memiliki kemampuan dan komitmen untuk melakukan hal itu?

Pertanyaan pertama adalah apakah kita perlu membuat sistem operasi sendiri? Mengapa kita perlu membuat *SENDIRI*? Kalau kita lihat, pasar justru lebih condong ke arah aplikasi. Sebagai contoh, sistem oeprasi Android sudah merajalela di platform handphone dan tablet. Nampaknya akan banyak dibutuhkan aplikasi di atasnya. Mungkin lebih menarik kalau kita mengembangkan banyak aplikasi di atas itu.

Mengembangkan sistem operasi sendiri masuk akal jika kita membutuhkan sistem operasi yang spesifik untuk kebutuhan tertentu, misalnya untuk kebutuhan keamanan. Itupun sebetulnya masih dapat menggunakan sistem operasi yang ada. Lantas apa alasan mengembangkan sistem operasi sendiri? Apakah hanya sekedar untuk gaya-gaya-an saja? Mengapa kita tidak bergabung dengan pengembang sistem operasi yang sudah ada saja dan berkontribusi di tingkat dunia? Selama kita tidak dapat menjawab mengapa-nya maka saya cenderung untuk mengatakan tidak usah.

Terkait dengan hal di atas adalah apa yang dimaksud dengan sistem operasi sendiri? Ada kalanya yang dimaksud dengan sistem operasi sendiri adalah sebuah customization terhadap sistem operasi yang sudah ada. Yang diganti adalah bahasanya atau tampilannya, misalnya. Apakah yang dimaksud adalah ini? Jika iya, mengapa tidak bergabung dengan sistem operasi yang sudah ada, Debian Linux misalnya, dan kemudian ikut mengembangkan berbagai proyek terjemahan (translation) saja?

Apakah sumber daya untuk mengembangkan sistem operasi sendiri itu ada? Kalau kita berbicara tentang sumber daya manusia (SDM) dalam tingkat individual, saya yakin jawabannya adalah ada. Kalau kita berbicara tentang skala (kapasitas, dalam tingkat komunitas) dan juga konsistensi, saya tidak yakin. Ada berapa orang Indonesia yang berkontribusi kepada pengembangan core sistem operasi Linux, misalnya? (Berapa orang yang menguasai ilmu sistem operasi ini? Saya lihat di kampus tidak banyak yang mengajarkan hal ini dan kalaupun ada mahasiswanya juga sedikit serta hanya cari nilai. hi hi hi.)

Untuk mencoba menjawab pertanyaan ternyata malah menghasilkan lebih banyak pertanyaan ya. Jawaban yang saya berikan juga cenderung mengarah kapada tidak usah buat sistem operasi sendiri.

Bagaimana menurut Anda?


Pengalaman Ujian Online

Tadi pagi saya menyelenggarakan UTS (Ujian Tengah Semester) secara online. Kami menggunakan sistem yang berbasis Moodle.

Sebetulnya mahasiswa dapat mengakses sistem dari mana saja karena sistem kami ini dapat diakses melalui internet. Hanya saja karena saya tidak yakin semua mahasiswa memiliki akses internet di tempat tinggalnya masing-masing, maka saya menyediakan fasilitas untuk ujiannya.

Kelas saya cukup besar, 160 orang! Maka saya meminjam lab komputer. Dua lab komputer. Gabungan dari kedua lab tersebut memberikan 120 komputer. Masih kurang 40 komputer lagi. Tidak apa-apa. Ujian pagi ini saya menduga akan ada yang telat. Kalau yang telatnya adalah 40 orang maka pas lah :)   Atau kalau tidak ada yang telat, mahasiswa dapat bergantian ujian.

Waktu yang saya berikan untuk ujian adalah 90 menit. Sementara soal yang saya buat ada 34 buah dan dapat dikerjakan kurang dari 30 menit. Itu dengan asumsi mahasiswanya paham apa yang saya tanyakan. Kenyataannya memang demikian. Banyak mahasiswa yang dengan cepat menyelesaikan UTS sehingga yang menunggu untuk ujian hanya beberapa orang. Itu pun menunggu kurang dari 10 menit.

Foto1891 mhs antri ttd 1000

[Foto mahasiswa ngantri untuk mengisi daftar hadir. Lebih lama mengantri ini daripada mengerjakaan soalnya sendiri.]

Poin pertama yang ingin saya sampaikan adalah kita harus menyediakan jumlah komputer yang cukup untuk melakukan ujian online.

Ketika ujian ada beberapa kejadian. Ada satu baris komputer, 4 komputer, yang tiba-tiba mati listriknya. Ternyata mahasiswa yang duduk di dekat dinding secara tidak sengaja kursinya menekan switch on/off dari power bar di dinding. Maka matilah 4 komputer tersebut. Setelah dinyalakan maka keempat mahasiswa tersebut harus mengulang kembali ujainnya. Untung sistem yang digunakan memperkenankan itu.

Ada juga mahasiswa yang komputernya tiba-tiba restart. Ada juga mahasiswa yang datang dengan membawa notebook dan minta ijin untuk menggunakan notebook tersebut daripada menunggu giliran mendapatkan komputer. Saya perkenankan. Eh, ternyata akses wifinya tidak stabil. Jadi mereka harus mengulang ujian dua kali. Akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan komputer desktop yang mulai ditinggalkan oleh mahasiswa yang sudah selesai.

Poin yang ingin disampaikan adalah infrastruktur harus reliable.

Ada masalah besar dalam menyelenggarakan ujian online. Saya ingin ujiannya bersifat “closed book”, tetapi bagaimana caranya? Browser yang digunakan kan bisa diarahkan ke Google untuk mencari jawaban di internet. Lebih parah lagi, di sistem blended learning yang saya gunakan untuk UTS ini juga saya gunakan untuk menyimpan materi kuliah dalam bentuk berkas presentasi. Mereka dapat melihat berkas ini untuk mencari jawaban.

Untuk itulah saya memberikan instruksi di kelas bahwa (1) mereka hanya diperkenankan untuk membuka UTS saja, (2) mereka harus memiliki kejujuran 100%. Bagaimana cara untuk memastikan hal ini secara teknis? Saya tidak tahu. Saya hanya mengingatkan mereka bahwa nilai dari UTS ini nilainya tidak terlalu penting dibandingkan dengan nilai kejujuran mereka. (Bobot dari nilai UTS ini akan sangat kecil.) Dengan kata lain mereka ujian terhadap diri sendiri. Jika mereka tidak dapat jujur kepada diri sendiri di lingkungan kampus yang notabene steril, bagaimana mereka dapat jujur di luar nanti?

Ujian ini adalah ujian terhadap kejujuran. Luluskah Anda?


Masalah IT Security di Asia

Saya sedang di acara Cyber Intelligence Asia, yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, mendengarkan beberapa presentasi tentang masalah keamanan IT di lingkungan Asia. Beberapa presentasi pagi ini bercerita tentang kondisi cyber security di Malaysia (di berbagai instansi pemerintah dan juga pemerintah daerah, dalam hal ini adalah Sabah).

Salah satu hal yang menarik adalah pemerintah Malaysia sudah membuat berbagai inisiatif untuk menyikapi masalah keamanan di dunia cyber. Sebagai contoh, pada tahun 2006 mereka membuat Cyber Security Policy yang baru dapat dieksekusi di tahun 2008. Setelah itu ada beberapa inisiatif yang telah mereka lakukan.

Selain pembicara dari Malaysia, ada juga pembicara dari Thailand, Kamboja, dan Jepang. Saya sendiri akan memberi presentasi tentang kondisi IT security di Indonesia berdasarkan data yang kami terima di ID-CERT. Ternyata permasalahan yang terjadi hampir sama; malware, phishing, network attack (terutama DDoS attack), dan berbagai penipuan lainnya. Ada beberapa kejadian yang dijelaskan secara gamblang. Misalnya bagaimana tim keamanan Hongkong memecahkan kasus pemerasan di internet. Seru juga.

Yang penting dalam acara ini adalah berbagi informasi dan pengalaman. Dan tentu saja untuk mengenal satu sama lainnya sehingga terjadi kordinasi.


Memasang Linux Mint

Komputer baru sudah datang. Dia datang kosong, tanpa sistem operasi. Sekarang kan toko komputer sudah tidak boleh lagi memasang sistem operasi bajakan. Hal ini tidak terlalu masalah dengan saya karena saya sendiri akan memasang sistem operasi Linux. Tinggal memilih Linux yang mana.

Ada tiga pilihan saya; Debian, Ubuntu, atau Linux Mint. Sebetulnya ada banyak Linux yang lain. Hanya tiga itu yang menarik bagi saya. Masing-masing punya alasan tersendiri. Sebelumnya saya hampir selalu menggunakan Debian. Untuk server, saya masih menggunakan Debian. Untuk desktop saya kemudian menggunakan Ubuntu. Nah, kali ini saya ingin mencoba Linux Mint.

Sebelumnya saya sudah memasang Linux Mint melalui virtual box di Macbook saya. Kelihatannya tampilannya lebih menarik dibandingkan Ubuntu. Saya hanya khawatir masalah dukungan (support) saja. Karena semua sebetulnya berbasis Debian, saya tidak terlalu khawatir kalau ada masalah. Worst case, saya bisa kembalikan ke Debian. Itulah sebabnya saya putuskan untuk memasang Linux Mint saja kali ini.

Pemasangan Linux Minta saya lakukan dengan menggunakan flashdisk. Komputer di-boot dengan menggunakan flashdisk melalui USB. Langsung Linux Mint hidup secara live. Kemudian saya tinggal memilih “Install Linux Mint” dan semuanya selesai.

Saya hanya menemukan satu masalah dalam instalasi Linux Mint ini, yaitu dia langsung menggunakan seluruh partisi hardisk saya (500 GB). Wah. Padahal biasanya saya mempartisi disk tersebut menjadi beberapa partisi. Alasan saya adalah kalau ada masalah (crash, tidak konsisten, dan sejenisnya) maka memperbaikinya (melalui fsck) maka tidak semua disk yang harus dibenahi. Paling-paling partisi yang bermasalah saja yang perlu di-fsck dan ini menghemat waktu.

Setelah terpasang, saya hanya perlu kembali memboot komputer dengan flashdisk instalasi lagi dan mengubah (resize) partisi dengan menggunakan program GParted yang sudah ada di menu Linux Mint. Beres.

Yang saya sukai dari pemasangan Linux Mint adalah kemudahan dan kecepatannya. Biasanya untuk memasang Debian atau Ubuntu saya harus mengambil (download) ini dan itu. Akibatnya proses instalasi dapat berlangsung semalaman. Maklum link internet saya kan terbatas. Linux Mint tidak demikian. Semuanya sudah terpasang. Tentunya nanti akan ada software yang akan saya pasang lagi, tetapi ini tidak dilakukan secara default. Setidaknya, saya sekarang sudah dapat bekerja. Ini saya langsung ngeblog :)

Jika tidak ada masalah dalam satu dua hari ke depan, maka saya akan menggunakan ini sebagai OS default. Data dari disk yang lama akan saya pindahkan ke sini. Saya mulai bekerja dengan menggunakan ini.

Kesimpulan, saya menyukai Linux Mint ini.


Editor Teks Terbaik

Apa editor teks terbaik?

Pertanyaan di atas mengundang perdebatan yang tak kunjung selesai. Ini seperti perdebatan agama apa yang terbaik? Setiap orang punya pilihannya sendiri-sendiri dan lengkap dengan alasannya.

Saya sendiri memilih editor “vi”. Ini editor yang kurang manusiawi. hi hi hi. Maksudnya, orang normal mungkin tidak akan memilih editor vi sebagai pilihan. Sayapun memilih ini karena sudah terlanjur menggunakan editor ini sejak pertama kali saya menggunakan sistem operasi UNIX. Perlu diingat saat itu tidak banyak editor yang dapat digunakan. Maka vi adalah pilihan yang paling natural.

Sekarang saya tetap menggunakan vi meskipun banyak editor yang katanya lebih “user friendly”. Bagi saya, vi lebih user friendly. hi hi hi. Saya dapat menggunakanya lebih efektif dibandingkan editor lain.


Pemutar MP3 Portable Yang Mana?

Situasinya begini. Koleksi lagu-lagu saya sudah pindah dari bentuk fisik kaset+CD ke bentuk digital (MP3 dan sebagian ada yang FLAC). Berkas-berkas MP3 ini ada banyak – sekitar 180 GB – sekali sehingga saya simpan di dalam satu komputer, yang sekarang adalah komputer desktop berbasis Ubuntu. Kalau saya ingin mendengarkan lagu, terpaksa saya nyalakan komputer tersebut.

Problemnya adalah menyalakan komputer itu butuh waktu, tidak bisa dalam 2 detik bisa langsung memutar lagu. Jadi kalau mau mendengarkan sebuah lagu harus sabar dulu sampai semuanya nyala. Masalah kedua adalah saya harus duduk di depan komputer untuk mendengarkan lagu. Saya tidak dapat mendengarkan lagu di mobil misalnya. Tidak portable. Masalah ketiga, yang ini sangat tergabung kepada setup saya, adalah kebetulan disk dari komputer desktop saya ini saya pasang secara eksternal. Kotak dari disk ini membutuhkan power supply dan kipas, yang sayangnya bising sekali bunyinya. Alih-alih mau mendengarkan lagu, malah mendengarkan suara kipas seperti kapal terbang!

Saya sekarang ingin mencari pemutar MP3 yang agak portable. Syarat yang utamanya adalah:

  • kualitas suaranya bagus;
  • dapat memputar MP3 (dan kalau bisa juga FLAC);
  • memiliki storage yang cukup besar (di atas 180 GB) – yang ini kalau tidak bisa sebesar itu ya tidak apa-apa tetapi saya harus repot memindah-mindahkan lagu yang diinginkan, setidaknya di atas 32 GB lah.

Sementara ini yang terbayang oleh saya adalah Apple iPod versi yang pertama dulu, yang disknya besar itu. Tapi itu kan dulu. Mungkin sekarang sudah ada yang lebih bagus lagi. Kalau handphone dan sejenisnya, storagenya sangat kecil (mungkin hanya 8 GB). Ini terlalu kecil.

Ada saran?


Produk Ikut-Ikutan

Belakangan ini saya melihat ada banyak anak-anak muda yang mengembangkan berbagai program aplikasi. Sayangnya saya melihat ada banyak yang produknya adalah produk ikut-ikutan. Misalnya ada yang buat jejaring sosial mirip facebook, twitter, klout, dan sejenisnya. Meskipun produk yang dibuatnya bagus, saya tidak melihat nilai tambah dari karyanya ini. Mungkin kita bisa berdalih bahwa ini hanya untuk menunjukkan bahwa orang Indonesia bisa bikin juga. Tapi hanya sebatas itu saja.

Mungkin mereka tergiur ingin sukses seperti produk yang diikutinya?

Menurut saya ada banyak sekali masalah lain yang membutuhkan pemikiran kita. Misalnya, masalah pengelolaan sampah, lalu lintas, kesehatan, pendidikan, dan masih banyak lagi. Masih ada peran teknologi informasi di sana. Memang mungkin masalah ini tidak terlalu keren untuk dibahasa, tetapi mereka lebih memiliki makna.

Di kepala saya saja sudah ada beberapa ide yang tidak dapat saya implementasikan karena saya tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukannya. Saya yakin orang lain pun memiliki banyak ide yang lebih kreatif. Maka, hindari membuat produk ikut-ikutan. Oke?


Potret ICT Indonesia

Dalam lomba APICTA 2012 kemarin tim Indonesia dari kategori mahasiswa dan siswa mendapatkan beberapa penghargaan, bahkan di kategori Tertiary School Project menjadi juara (Lexipal). Juara kedua, Veda, juga sebetulnya dari Indonesia tetapi karena tidak ada juara kedua maka masuknya ke Merit Awards. Yang juga mendapat Merit Awards di kategori ini adalah eMart. Jadi dari tiga tim yang masuk, tiga-tiganya mendapat penghargaan. Di kategori yang lain, Secondary School Project ada dua SMK yang mendapatkan Merit Award.

CIMG3634 apicta 1000

Apa artinya ini? Menurut saya ini dapat diartikan bahwa siswa dan mahasiswa Indonesia memiliki level yang baik sekali di lingkungan Asia Pasifik.

Sementara itu di kategori bisnis kita hanya mendapatkan 1 juara (Aksara) dan 1 merit (Kuassa). Saya mengartikan ini sebagai sisi industri yang masih kalah dengan rekan-rekan kita. Entah karena packagingnya, kurangnya dukungan dan ketertarikan untuk ikut lomba (saya tahu ini karena sesungguhnya kami juga memiliki produk yang dapat ditandingkan hanya kami tidak mengikuti), atau memang kita masih kalah saja.

Melihat ini saya beropini bahwa bahan baku kita (SDM) sebetulnya sudah bagus. Sangat kompetitif atau bahkan dapat dikatakan juara. Nah, sekarang bagaimana memanfaatkan SDM ini untuk menghasilkan bisnis ICT yang sukses dan juga bermanfaat. Secara riilnya, apakah adik-adik para pemenang ini kita arahkan untuk membuat start up companies?

Demikian kira-kira oleh-oleh saya dari menjadi juri di APICTA awards 2012.


(kebanyakan) Komputer Menyebabkan Obesitas?

Salah satu pertanyaan yang diberikan pada ujian tengah semester lalu di kuliah saya adalah penyakit atau masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh penggunaan komputer. Tentunya maksudnya adalah penggunaan yang berlebihan. Mahasiswa diminta untuk menyebutkan tiga buah contoh dan cara menghindarinya.

Salah satu jawaban yang diberikan adalah obesitas. Lah? Kenapa? Karena kalau kebanyakan duduk di depan komputer maka orang menjadi malas bergerak, kurang olah raga, dan bawaannya mau makan melulu. Wah. Harus sering-sering istirahat dari komputer nih.

Kalau kebanyakan menggunakan jejaring sosial apa akibatnya ya?


.ID vs .COM

Kemarin ada diskusi (lagi) mengenai domain “.ID” dan “.COM”. Mengapa lebih banyak orang Indonesia menggunakan domain .COM. Menurut saya, fenomena ini bukan khas Indonesia tetapi juga terjadi di tempat lain. Masalahnya, domain itu terkait dengan brand image. Dalam bayangan orang yang pertama muncul adalah “.COM”. Nah, apakah ini hanya masalah persepsi yang dapat diubah? Atau ini sebuah hal yang sulit untuk dilawan. Menurut saya sih yang terakhir, susah dilawan.

Katakanlah Anda (atau saya) memiliki kemampuan programming PHP. Kemudian saya (seorang diri) ingin membuat sebuah web untuk layanan belajar pemrograman bahasa PHP. Saya belum tahu apakah layanan ini akan gratis atau berbayar, dan mungkin ini juga tidak relevan. Apakah:

  1. Anda akan menggunakan domain .ID untuk web site tersebut?
  2. Domain apa yang Anda gunakan?

Kalau saya, yang mula-mula terbayang adalah domain .com. Saya langsung ambil domain “kursusPHP.com”, misalnya. Cari registrar yang pas, langsung daftar dan selesai.

Sebagai orang yang dulu ngurusi domain .ID tentu saja saya lebih suka orang menggunakan domain .ID, tetapi kenyataannya tidak demikian. Saya pikir kita tidak usah mengadu domain .ID dan .COM (atau gTLD yang lainnya). Yang penting adalah mengelola dan menata .ID yang rapi, nyaman, dan terpercaya. Tidak usah adu banyak-banyakan. Memangnya kalau banyak kenapa ya?

 


Buku (Catatan) Admin Server

Akhir-akhir ini kami banyak melakukan update / upgrade server. Seperti biasa, ada banyak hal yang ketinggalan ketika update. Misalnya, ketika sistem email diperbaharui ada beberapa mailing list yang tidak jalan. Atau baru saja saya ingin memastikan program saya jalan dengan membuat skrip kecil yang dijalankan di bawah cron. Ini juga lupa buat skripnya.

Hal-hal semacam ini nampaknya harus diotomatisasi dan didokumentasikan. Dulu saya menggunakan buku Nemeth & Snyder untuk melihat catatan-catatan atau trik untuk mengelola server (khususnya yang berbasis UNIX). Sayangnya buku tersebut sudah hilang (dan mungkin juga versinya sudah kadaluwara – ini sekitar 15 tahun yang lalu).

Sebetulnya internet sangat membantu. Hanya saja dibutuhkan waktu untuk melakukan search. Padahal apa yang diinginkan sudah tahu (hanya lupa) dan sudah pernah dikerjakan sebelumnya. Kalau pakai catatan sendiri bisa jadi lebih cepat.

Atau … nampaknya saya harus membuat buku catatan saya sendiri ya? Hmmm… more books to write


Tanpa Uang Kertas

Jaman sekarang adalah jaman serba digital elektronik. Demikian pula uang katanya akan menuju ke uang elektronik (e-money). Namun karena kita sudah terlanjur banyak menggunakan uang kertas, maka perubahan kebiasaan ternyata tidak mudah.

Salah satu masalah yang dihadapi oleh uang digital adalah aspek anonim. Uang kertas memungkinkan transaksi anonim. Kita memberikan uang jajan kepada anak-anak, cucu, dan keponakan masih menggunakan uang kertas. Kalau di luar negeri, tips di restoran juga masih menggunakan uang kertas (atau logam). Di Indonesia, memberi uang untuk pengemis juga masih menggunakan uang kertas (logam). Belum lagi untuk transaksi di bawah tangan. Padahal katanya jumlah transaksi seperti ini masih cukup besar. Artinya, perubahan ke uang digital masih membutuhkan waktu yang cukup lama.

Di majalah IEEE diceritakan tentang pengalaman seseorang (di Amerika) yang mencoba hidup satu tahun tanpa menggunakan uang kertas. Nah, ada yang berani mencoba ini di Indonesia? Naik angkutan umum bisa gak ya pakai kartu? he he he

Uang kertas (logam) sebetulnya sangat bermasalah. Untuk membuat dan mendistribusikan uang kertas itu sangat mahal. Mungkin uang 2000-an kita itu biaya pembuatannya lebih dari itu. Belum lagi ada masalah dengan uang palsu. Jadi uang digital sebetulnya sangat dinantikan baik oleh regulator ataupun kita sebagai pengguna. Masanya akan datang. Tinggal, kapannya?


Musik dan Elektronik

Terpicu oleh sebuah diskusi di milis tentang musik, saya mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah saya lakukan terkait dengan musik. Latar belakang akademik saya terkait dengan elektronika dan komputer. Musik bagi saya adalah hobby tetapi juga passion. Saya belum berani melakukan hal-hal yang terkait dengan musik secara akademik. Namun itu bukan berarti saya tidak peduli lho.

Ketika bersekolah di Kanada dahulu saya sempat mengambil kuliah Computer Music, yang diselenggarakan di departemen musik. Saya ingin mengetahui banyak hal yang terkait dengan hal itu. Memang kuliahnya menarik. Kami diajari tentang sound. Ada tugas untuk mendengarkan karya John Cage, “musik” eksperimental itu. Avant-garde. Seru juga. Ini sangat jauh dari musik pop. Kemudian kami juga diajarkan tentang bagaimana menghasilkan suara instrumen secara elektronik, seperti yang digunakan pada synthesizers dan keyboard.

Saya juga sempat berkolaborasi dengan seorang musisi (gitaris) yang berencana untuk membuat software musik. Waktu itu kami sama-sama tertarik tentang bagaimana mendeteksi pitch secara real-time. Idenya adalah seorang penyanyi dapat mengendalikan keyboard (via MIDI) dengan cara bernyanyi. Harus ada sebuah alat yang melakukan pitch tracking.

Saya akhirnya harus membuat soundcard sendiri dengan menggunakan komponen elektronika yang tersedia dan melakukan wirewrap di PCB sendiri. Ini waktu jaman sebelum ada Soundblaster dari Creative Labs itu. Saya juga harus membuat driver softwarenya sendiri yang berjalan di atas MS-DOS. Akhirnya saya juga membuat chip untuk pitch tracking tetapi saya gunakan untuk aplikasi biomedik, yang ini kemudian menjadi basis penelitian S2 saya waktu itu. Dari musik dipelesetkan ke medis. hi hi hi.

Secara keilmuan nampaknya harus ada kolaborasi dari orang teknis – dengan latar belakang elektronika, pemrograman – dan orang musik ya. Sebetulnya ini bukan hal yang baru. Lihat saja Dr. Moog, yang terkenal dengan Moog synthesizersnya. Atau lihat juga Ray Kurzweil dengan keyboard Kurzweil yang memiliki sound luar biasa.

Sayangnya kolaborasi seperti ini belum terjadi di Indonesia. Suatu saat?


Memetakan Komunitas Security di Indonesia

Salah satu hal yang sedang saya coba inisisasi adalah melakukan pemetaan kemampuan sumber daya manusia (SDM) IT Security di Indonesia. Ini terkait dengan kebutuhan dari industri dan persiapan pendidikan di perguruan tinggi. (Sebagai catatan, ITB akan membuka S2 khusus untuk IT Security tahun 2013.)

Sebagai awal, saya akan memulai membuat taksonomi secara umum. Kemudian nantinya akan saya revisi. Mohon masukan dan koreksi.

  1. Perguruan Tinggi (pendidikan & penelitian).
    ITB (Pendidikan S2, S3. Penelitian: hardware, software, kriptografi)
    IT Telkom (Pendidikan S2. Penelitian: kriptografi)
  2. Pemerintahan. Kominfo (Kaminfo / Gov-CSIRT, ID-SIRTII), Lembaga Sandi Negara, Badan Inteljen Negara, POLRI, …
  3. Organisasi: ID-CERT, …
  4. Komunitas: Jasakom, Echo, RNDC, … (mohon informasi yang masih aktif)

Saya akan membuat sebuah survey mengenai kemampuan ini. Sebagai contoh, saya ingin mengetahui komunitas-komunitas yang masih aktif; jumlah anggotanya, visi/binding values, skill set, obyektif, aktivitas, dan seterusnya. Untuk untuk pemerintahaan: tupoksi, jumlah SDM, dll. Pertanyaan-pertanyaan apa lagi yang perlu ditanyakan ya? Saya akan membuatkan form survey-nya.

Saya membutuhkan contact person untuk mendapatkan data yang lebih lengkap. Data ini akan saya anggap sebagai confidential dan hanya rangkuman (agregat) saja yang akan saya tampilkan.

Menanti masukan …

Form untuk memasukkan data (versi 0.1): Survey Organisasi IT Security


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.084 pengikut lainnya.