Arsip Tag: IT

Ruang Anda = Ruang Publik

Hati-hati jika “berbicara” – lebih tepatnya, menulis – di dunia maya. Apa yang kita tulis di facebook, twitter, blog, dan sejenisnya adalah sama kalau kita berbicara di ruang publik. Baru-baru ini terjadi kasus di Singapura.

Seorang pegawai dari NTUC, Amy Cheong, mengutarakan perasaan kesalnya di halaman facebooknya. Perasaan kesal ini dianggap berbau SARA dan kemudian berakibat dipecatnya dia. (Lihat beritanya di sini.) Prosesnya juga sangat cepat sekali. Padahal mungkin yang bersangkutan tidak berpikir bahwa kasus ini akan berakibat pemecatan.

Kasus yang sama juga pernah terjadi di Indonesia. Itulah sebabnya kita harus berhati-hati dalam berbicara di dunia maya ini. Ternyata pernyataan “blog aing, kumaha aing” (Sunda, yang artinya “blog saya, terserah saya”) tidak dapat digunakan. Waduh.


Setup Komputer

Pindah desktop bagi saya artinya setup berbagai hal. Pertama, saya harus pasang software-software yang biasa saya pakai. Sebagai contoh, untuk browser saya harus pasang Google Chrome dulu. Setelah itu saya harus download add-ons yang biasa saya gunakan. Untungnya, Chrome bisa melakukan sinkronisasi konfigurasi saya begitu saya login. Ini artinya harus nyambung ke internet dengan lumayan bagus.

Hal berikutnya yang saya lakukan adalah download fonts yang biasa saya gunakan. Nah, yang ini saya belum punya daftar yang tetap. Seharusnya fonts-fonts ini saya download di satu tempat dan dipaketkan sehingga kalau pindah komputer langsung fonts ini bisa dipasang sekaligus. Sementara ini saya download satu persatu dari Dafonts.com atau tempat-tempat lain. Fonts yang biasanya saya gunakan antara lain Georgia (yang ini harus dipasang kalau komputer saya pakai Linux), JackInput (untuk fixed width fonts), Droid Serif, Droid Sans, Source Sans Pro. Setidaknya itu.

Fonts bagi saya cukup penting untuk mengubah suasana agar tidak membosankan. Sebagai contoh, untuk menulis blog saat ini saya menggunakan kombinasi dari Georgia dan JackInput. Nulis berikutnya mungkin sudah saya ganti fontsnya :)

Setelah itu ada aplikasi wajib lain yang biasa saya gunakan. Misalnya kalau di Windows, saya harus pasang putty (untuk ssh), Photoscape (untuk memproses foto), iTunes, Adobe Acrobat Reader, dan seterusnya. Lagi-lagi, harusnya ini semua saya buat paketnya yang tinggal dipasang kalau saya harus pindah ke komputer lain. Alasan tidak dilakukan, malas. Ha


Pameran Online

Kemarin saya sempatkan untuk melihat pameran Online Expo (saya lupa nama tepatnya) yang digelar di Graha Manggala Silihwangi, Bandung. Saya tahu keberadaan acara ini dari beberapa spanduk yang dipasang di beberapa sudut kota Bandung. Menarik. Mampir ah. Sore hari kemarin, mampir.

Setelah membayar Rp. 5000,- kami masuk ke ruangan pameran. Ada banyak booth. Sayangnya ada banyak booth yang kosong ditinggal oleh penjaganya. Tadinya mau saya potret tapi lupa. hi hi hi. Saya pikir tadinya ajang pameran ini bisa jadi tempat untuk kopdar (pertemuan) orang-orang yang tergabung ke berbagai grup di internet. Entah mungkin timing saya yang salah atau bagaimana tetapi saya melihat tidak banyak orang di sana. Atau, orang-orang memang lebih senang hidup di dunia online? Pertemuan fisik tidak terlalu menarik lagi?

Sebetulnya saya berharap ada banyak pameran yang bernuansa teknologi seperti ini di Bandung. Setiap minggu kita bisa melihat sesuatu yang baru. Belajar terus dan termotivasi. Semoga akan lebih banyak pameran dan lebih ramai lagi.


Cloud Computing Untuk Pendidikan

Hari ini Saya berpartisipasi pada acara seminar Cloud Computing yang diselenggarakan oleh Inixindo di Surabaya. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah “(aplikasi) apa dari cloud computing yang cocok untuk dunia pendidikan”? Kemudian ada pertanyaan lagi yang nampaknya terkait, “apakah cloud computing dapat digunakan untuk menjalankan aplikasi seperti Matlab”?

Saya pikir ini pertanyaan yang baik. Memang dunia pendidikan (dan penelitian) membutuhkan fasilitas komputasi yang kadang sulit untuk dimiliki sendiri. Sebagai contoh, dosen atau peneliti di bidang rekayasa membutuhkan fasilitas komputasi untuk aplikasi yang terkait dengan finite elemen. Bidang Biologi membutuhkan fasilitas komputasi untuk DNA sequencing. Bidang kriptografi membutuhkan komputasi yang besar untuk melakukan penyerangan (attack) terhadap algoritma tertentu. Peneliti jejaring sosial membutuhkan storage dan komputasi untuk melakukan analisis dengan jumlah data yang sangat besar. Intinya ada kebutuhan komputasi yang mungkin dapat diberikan oleh cloud computing.

Mengapa ini belum terjadi juga? Mungkin ini karena penyedia jasa cloud computing lebih membidik pelaku bisnis yang mampu membayar layanan mereka. Sementara itu dunia akademik tidak memiliki dana yang besar untuk membeli layanan itu. Jadi?


Computer User Interface

Kuliah Introduction to IT saya tadi siang membahas tentang perkembangan user interface (UI). Saya mulai dengan cerita tentang “command line“.

Pada awalnya, cara kita berkomunikasi dengan komputer pribadi dimulai dengan perintah-perintah yang kita ketikkan di atas keyboard. Di layar hanya ada urutan teks. UI ini sering disebut command line. Kelemahan command line adalah kita harus mengingat-ingat perintah yang digunakan. Misalnya, “DIR” untuk melihat isi direktori, dan seterusnya.

Kemudian muncullah “menu”. Berbagai perintah yang tadinya diketikkan oleh pengguna dapat dipilih melalui menu. Tampilan menu masih berupa teks biasa. Pada jaman itu tampilan grafis masih belum ada, atau lebih tepatnya terlalu mahal sehingga tidak umum. Belum lagi kecepatan komputasi dari komputer masih sangat terbatas. (Special graphic cards juga belum ada yang jualan.) Adanya “menu driven user interface” ini cukup membantu karena kita tidak perlu mengingat-ingat perintah.

Apple Macintosh muncul sebagai pendorong “graphical user interface” (GUI). Sebetulnya Apple bukanlah penemu awalnya, temuan ini sudah terjadi di Xerox Palo Alto Research Center, tetapi Apple-lah yang mempopulerkannya. Microsoft kemudian juga mengembangan Windows sebagai interface terhadap sistem operasinya.

Setelah GUI apa lagi? Berikutnya kemungkinan adalah UI yang menggunakan suara (speech). UI jenis ini cocok untuk perangkat yang sangat kecil sehingga sulit untuk menggunakan jari untuk memberikan perintahnya. Kita tinggal bicara dan komputer akan melakukan perintah yang kita berikan. Sekarang UI jenis ini mulai muncul. Siri anybody?

Setelah itu masih ada UI-UI lain yang baru lagi, seperti UI yang berinteraksi dengan bagian tubuh kita lainnya (mata, gesture, dan seterusnya). Bahkan ada yang mengusulkan dibuatnya alat yang langsung men-tap keinginan kita langsung dari otak, brain waves. Kita baru mikir, komputer sudah langsung mengeksekusi. Wah wah wah.

Demikianlah isi kuliah saya tadi siang.


Hardisk Rusak Mau Diapakan?

Tadi saya mau membackup Macbook. Ternyata disk backupnya bermasalah. Dugaan saya memang dia rusak. Nah, bagaimana memastikan disk ini rusak atau tidak ya?

Pertanyaan kedua, disk yang sudah rusak ini mau diapakan? Kalau rusaknya sebagian, mau diapakan? Soalnya kalau digunakan untuk backup jelas tidak mungkin karena backup harus handal dong. Apa memang sebaiknya dibuang saja? Sayang juga. Mungkin ada komponen (parts) yang dapat dimanfaatkan oleh tukang disk. Ada yang mau beli disk rusak ya?


Derita Fakir Bandwidth

Saya sedang memasang Linux Debian di salah satu komputer yang akan digunakan sebagai server di kampus. Instalasi saya lakukan di rumah dengan menggunakan jaringan internet yang ada di rumah (speedy rumahan). Hasilnya, saya harus menunggu sekian jam untuk proses instalasinya.

Ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, saya pasang banyak hal melalui tasksel. Biasanya saya pasang yang minimal kemudian lain-lainnya saya pasang secara manual saja (dengan menggunakan “apt-get install packagename”). Tasksel memang agak boros nampaknya. Saya pilih pakai tasksel tadi karena mau rapat dan dengan tasksel saya tinggal pilih di menu kemudian dia download lalu pasang sendiri. Yang kedua, saya menggunakan mirror kambing.ui.ac.id. Semestinya Speedy punya mirror Debian ya? Supaya lebih cepat gitu.

Sekarang saya hanya perlu bersabar. Ini di kota besar lho. Kebayang kalau di pelosok mana gitu. Kalau sudah gini, saya iri dengan negara lain yang infrastruktur internetnya lebih bagus. hik hik hi. Derita fakir bandwidth tiada akhir.


Social Network Itu Ilmunya Apa?

Jejaring sosial (social network) sekarang telah menjadi sebuah fenomena. Saya tertarik untuk meneliti itu dari segi keilmuan. Sudah ada mahasiswa saya yang meneliti itu dalam tingkat S1 dan S2. Sekarang saya sedang mulai membimbing mahasiswa S3 untuk meneliti bidang itu. Masalahnya adalah sebetulnya secara keilmuan “social network” itu masuk ke bagian ilmu apa?

Saya berpendapat bahwa ini adalah sebuah topik yang dapat digarap secara bersama dengan ilmu yang berbeda-beda. Sebagai contoh, kami mencoba melihatnya dari kacamata social network metric yang diterjemahkan secara formal dalam bentuk graph. Grup kami berada dalam kerangka Teknik Komputer. Menurut Anda, apakah bidang yang kami teliti ini sudah pas dengan keilmuan kami?


Bermain-main Dengan Fonts

Seperti telah saya tuliskan sebelumnya, saya mengubah-ubah tampilan situs di layar saya agar saya tidak bosan. Salah satu yang dapat saya ubah adalah penggunaan fontsnya. Dahulu mengubah ini agak susah. Sekarang hal ini mudah dilakukan dengan menggunakan Stylish. Berikut ini langkah-langkah yang saya lakukan.

Pertama, tentu saja pasang Stylish untuk browser Anda. Silahkan ambil ini dari userstyles.org. Untuk browser Firefox, Stylish ini menjadi add-ons.

Setelah Stylish terpasang, Anda sebetulnya dapat mengambil berbagai style dari userstyles.org untuk mengubah tampilan situs sesuai dengan apa yang Anda inginkan. Perubahan bisa signifikan, tidak hanya mengganti fonts saja.

Untuk mengubah tampilan fonts, saya membuat style sendiri. Isi dari style saya adalah sebagai berikut.

@-moz-document domain("rahard.wordpress.com") {
* { font-family: "JackInput", "HelveticaNeueLT Std", "Helvetica Neue", "Helvetica", "HelveticaNeue", Arial, sans-serif; !important;
text-shadow: none !important; }

Pada contoh di atas, saya mengubah fonts menjadi “JackInput” ketika browser mengunjungi / menampilkan situs rahard.wordpress.com. Untuk situs lain, Anda dapat menyesuaikan domain tersebut. Misalnya Anda ingin tampilan gmail dan twitter menggunakan fonts yang berbeda, tinggal ganti domain tersebut. Jika baris tersebut dihilangkan, maka semua situs akan ditampilkan dengan fonts tersebut.

Demikian. Selamat ngoprek.


Siapa Pembuat Tren Berita?

Katanya sekarang jaman citizen journalism dan social media. Katanya orang biasa dapat membuat berita yang menyaingi media massa “konvensional”. Terus terang saya masih ragu. Apakah memang demikian?

Kalau kita lihat, blog, facebook, twitter, masih dipengaruhi oleh trend berita media “konvensional”. Di koran ada berita apa, langsung ramai di internet. Media massa konvensional itu juga sudah memiliki situs internet dan situs-situs ini masih yang mendorong (drive) tren berita. Tulisan di account twitter mereka masih digemari untuk di-retweet.

Jadi, sebetulnya kita-kita ini masih dicocok hidungnya ya?  Cari topik yang beda sendiri ah. Males ngikut mainstream. hi hi hi.


Dari Facebook ke Twitter

Saya dengar dari orang-orang bahwa mereka sekarang mulai lebih banyak mengakses twitter dibandingkan facebook. Apakah Anda juga demikian? (Saya, tidak.) Statistik terakhir memang menunjukkan ada penurunan yang tajam dari jumlah pengguna facebook Indonesia. Akhir dari jaman kejayaan facebook?

Twitter memang lebih mudah diakses. Ukuran datanya yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan facebook memudahkan dia diakses oleh handphone yang paling sederhana sekalipun. Cepat diakses. Cepat berkicau :)

Atau karena sekarang sudah banyak outlet social media yang lain selain facebook, seperti misalnya Google Plus, pinterest, path, dan seterusnya sehingga atensi terpisah-pisah?


Terlalu Berlebihan

Beberapa hari ini ada berita tentang “kiamat internet”. Apaan sih? Ternyata yang diributkan adalah virus / malware DNSchanger, yang mengubah setingan DNS di komputer berbasis Windows dan mengarahkannya ke DNS server yang jahat. Akibatnya kalau terkena virus ini adalah situs web yang kita kunjungi bisa diarahkan ke situs lain (abal-abal). Itu saja. Perhatikan bahwa komputer yang menggunakan sistem operasi lain tidak terkena akibatnya.

Masalah ini memang tetap masalah, tetapi dia tidak mengakibatkan “kiamat” internet. Ini terlalu dibesar-besarkan. Mengapa media senang membesar-besarkan hal ini ya?


Nama Domain Kurang Relevan Lagi

Sekarang sedang ramai-ramainya diskusi tentang ICANN yang membuka top-level domain. Google kemudian mengajukan lebih dari 100 nama domain (top level domain).

Menurut saya, nama domain yang cantik tidak sepenting jaman dahulu. Pasalnya orang mengunjungi situs tidak dengan mengingat-ingat nama domain tetapi dengan menggunakan search engine. Jadi sebetulnya nama domain kita apa saja, selama dapat ditemukan oleh search engine, akan oke saja. Tentu saja nama yang ngaco atau susah njlimet tidak baik, tetapi selain dari itu sih tidak perlu khawatir.

Ini sebenarnya sama dengan nama jalan di dalam kehidupan nyata kita. Selama pak pos dapat mengantarkan surat dan paket ke alamat kita dengan cepat dan yang lebih penting, tidak nyasar, kita senang.

Banyak-banyakan nama jalan juga sudah tidak penting lagi. Jadi jumlah domain di sebuah TLD juga tidak terlalu penting lagi.

Banyaknya top level domain yang baru ini bikin susah! Bagi perusahaan, semakin banyak top level domain, semakin bikin susah! Alasannya adalah perusahaan harus mendaftarkan nama perusahaan dan merek terkenal kita di semua domain tersebut. Sebagai contoh, Google / Apple / IBM / … terpaksa mengambil nama-nama itu di domain yang baru. Bagi mereka sih tidak masalah. Bagi pengusaha kecil (UKM), mosok kita harus mendaftarkan nama perusahaan (web) kita ke semua top level domain yang baru itu? Wah ekonomi berbiaya tinggi nih namanya.


Menghukum Yang Tidak Salah

Di kita ini banyak solusi yang aneh. Sebagai contoh, jalan sudah dibuat bagus-bagus dan mulus, eh ditambahi dengan “polisi tidur”. Alasannya adalah karena ada yang ngebut. Akibat dari ini, orang yang tidak salah harus menanggung akibatnya. Padahal yang ngebut jauh lebih sedikit daripada yang menggunakan jalan dengan baik. Ini namanya menghukum yang tidak salah.

Baru-baru ini ada aturan baru bahwa SMS gratis tidak ada lagi. SMS harus berbayar. Alasannya adalah karena ada orang yang melakukan abuse dengan mengirimkan SMS iklan dan penipuan dengan menggunakan SMS gratis ini. Lah. Lucu saja. Kalau di negara lain pemerintah berusaha agar telekomunikasi menjadi lebih murah, ini malah dibuat agar lebih mahal. Mengapa – lagi-lagi – orang yang tidak salah malah harus menanggung beban dari sedikit orang yang salah?


Minggu Ini 3 Juta

Baru terlihat statistik di blog ini. Sekitar 7000 akses lagi maka blog ini sudah dibaca, setidaknya, 3 juta kali. Yay! Biasanya akses dalam satu hari di atas 1000 akses/orang. Maka dalam minggu ini blog ini akan mencapai 3 juta.

Perlu dirayakan? Secara virtual saja yah. Namanya  juga blog :) hi hi hi

Perjuangan menulis blog tidak mudah. Blog ini dimulai sekitar 10 tahun yang lalu dan terus diupdate (hampir) setiap hari. 10 tahun bukan waktu yang sedikit. Ini bukan instan. (Bagi yang ingin cari traffic instan, semoga belajar bahwa budaya instan itu tidak ada tempatnya di sini)  Dan tentu saja blog bukan tren sesaat. he he he.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.084 pengikut lainnya.