Arsip Tag: IT

Potret ICT Indonesia

Dalam lomba APICTA 2012 kemarin tim Indonesia dari kategori mahasiswa dan siswa mendapatkan beberapa penghargaan, bahkan di kategori Tertiary School Project menjadi juara (Lexipal). Juara kedua, Veda, juga sebetulnya dari Indonesia tetapi karena tidak ada juara kedua maka masuknya ke Merit Awards. Yang juga mendapat Merit Awards di kategori ini adalah eMart. Jadi dari tiga tim yang masuk, tiga-tiganya mendapat penghargaan. Di kategori yang lain, Secondary School Project ada dua SMK yang mendapatkan Merit Award.

CIMG3634 apicta 1000

Apa artinya ini? Menurut saya ini dapat diartikan bahwa siswa dan mahasiswa Indonesia memiliki level yang baik sekali di lingkungan Asia Pasifik.

Sementara itu di kategori bisnis kita hanya mendapatkan 1 juara (Aksara) dan 1 merit (Kuassa). Saya mengartikan ini sebagai sisi industri yang masih kalah dengan rekan-rekan kita. Entah karena packagingnya, kurangnya dukungan dan ketertarikan untuk ikut lomba (saya tahu ini karena sesungguhnya kami juga memiliki produk yang dapat ditandingkan hanya kami tidak mengikuti), atau memang kita masih kalah saja.

Melihat ini saya beropini bahwa bahan baku kita (SDM) sebetulnya sudah bagus. Sangat kompetitif atau bahkan dapat dikatakan juara. Nah, sekarang bagaimana memanfaatkan SDM ini untuk menghasilkan bisnis ICT yang sukses dan juga bermanfaat. Secara riilnya, apakah adik-adik para pemenang ini kita arahkan untuk membuat start up companies?

Demikian kira-kira oleh-oleh saya dari menjadi juri di APICTA awards 2012.


(kebanyakan) Komputer Menyebabkan Obesitas?

Salah satu pertanyaan yang diberikan pada ujian tengah semester lalu di kuliah saya adalah penyakit atau masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh penggunaan komputer. Tentunya maksudnya adalah penggunaan yang berlebihan. Mahasiswa diminta untuk menyebutkan tiga buah contoh dan cara menghindarinya.

Salah satu jawaban yang diberikan adalah obesitas. Lah? Kenapa? Karena kalau kebanyakan duduk di depan komputer maka orang menjadi malas bergerak, kurang olah raga, dan bawaannya mau makan melulu. Wah. Harus sering-sering istirahat dari komputer nih.

Kalau kebanyakan menggunakan jejaring sosial apa akibatnya ya?


.ID vs .COM

Kemarin ada diskusi (lagi) mengenai domain “.ID” dan “.COM”. Mengapa lebih banyak orang Indonesia menggunakan domain .COM. Menurut saya, fenomena ini bukan khas Indonesia tetapi juga terjadi di tempat lain. Masalahnya, domain itu terkait dengan brand image. Dalam bayangan orang yang pertama muncul adalah “.COM”. Nah, apakah ini hanya masalah persepsi yang dapat diubah? Atau ini sebuah hal yang sulit untuk dilawan. Menurut saya sih yang terakhir, susah dilawan.

Katakanlah Anda (atau saya) memiliki kemampuan programming PHP. Kemudian saya (seorang diri) ingin membuat sebuah web untuk layanan belajar pemrograman bahasa PHP. Saya belum tahu apakah layanan ini akan gratis atau berbayar, dan mungkin ini juga tidak relevan. Apakah:

  1. Anda akan menggunakan domain .ID untuk web site tersebut?
  2. Domain apa yang Anda gunakan?

Kalau saya, yang mula-mula terbayang adalah domain .com. Saya langsung ambil domain “kursusPHP.com”, misalnya. Cari registrar yang pas, langsung daftar dan selesai.

Sebagai orang yang dulu ngurusi domain .ID tentu saja saya lebih suka orang menggunakan domain .ID, tetapi kenyataannya tidak demikian. Saya pikir kita tidak usah mengadu domain .ID dan .COM (atau gTLD yang lainnya). Yang penting adalah mengelola dan menata .ID yang rapi, nyaman, dan terpercaya. Tidak usah adu banyak-banyakan. Memangnya kalau banyak kenapa ya?

 


Buku (Catatan) Admin Server

Akhir-akhir ini kami banyak melakukan update / upgrade server. Seperti biasa, ada banyak hal yang ketinggalan ketika update. Misalnya, ketika sistem email diperbaharui ada beberapa mailing list yang tidak jalan. Atau baru saja saya ingin memastikan program saya jalan dengan membuat skrip kecil yang dijalankan di bawah cron. Ini juga lupa buat skripnya.

Hal-hal semacam ini nampaknya harus diotomatisasi dan didokumentasikan. Dulu saya menggunakan buku Nemeth & Snyder untuk melihat catatan-catatan atau trik untuk mengelola server (khususnya yang berbasis UNIX). Sayangnya buku tersebut sudah hilang (dan mungkin juga versinya sudah kadaluwara – ini sekitar 15 tahun yang lalu).

Sebetulnya internet sangat membantu. Hanya saja dibutuhkan waktu untuk melakukan search. Padahal apa yang diinginkan sudah tahu (hanya lupa) dan sudah pernah dikerjakan sebelumnya. Kalau pakai catatan sendiri bisa jadi lebih cepat.

Atau … nampaknya saya harus membuat buku catatan saya sendiri ya? Hmmm… more books to write


Tanpa Uang Kertas

Jaman sekarang adalah jaman serba digital elektronik. Demikian pula uang katanya akan menuju ke uang elektronik (e-money). Namun karena kita sudah terlanjur banyak menggunakan uang kertas, maka perubahan kebiasaan ternyata tidak mudah.

Salah satu masalah yang dihadapi oleh uang digital adalah aspek anonim. Uang kertas memungkinkan transaksi anonim. Kita memberikan uang jajan kepada anak-anak, cucu, dan keponakan masih menggunakan uang kertas. Kalau di luar negeri, tips di restoran juga masih menggunakan uang kertas (atau logam). Di Indonesia, memberi uang untuk pengemis juga masih menggunakan uang kertas (logam). Belum lagi untuk transaksi di bawah tangan. Padahal katanya jumlah transaksi seperti ini masih cukup besar. Artinya, perubahan ke uang digital masih membutuhkan waktu yang cukup lama.

Di majalah IEEE diceritakan tentang pengalaman seseorang (di Amerika) yang mencoba hidup satu tahun tanpa menggunakan uang kertas. Nah, ada yang berani mencoba ini di Indonesia? Naik angkutan umum bisa gak ya pakai kartu? he he he

Uang kertas (logam) sebetulnya sangat bermasalah. Untuk membuat dan mendistribusikan uang kertas itu sangat mahal. Mungkin uang 2000-an kita itu biaya pembuatannya lebih dari itu. Belum lagi ada masalah dengan uang palsu. Jadi uang digital sebetulnya sangat dinantikan baik oleh regulator ataupun kita sebagai pengguna. Masanya akan datang. Tinggal, kapannya?


Musik dan Elektronik

Terpicu oleh sebuah diskusi di milis tentang musik, saya mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah saya lakukan terkait dengan musik. Latar belakang akademik saya terkait dengan elektronika dan komputer. Musik bagi saya adalah hobby tetapi juga passion. Saya belum berani melakukan hal-hal yang terkait dengan musik secara akademik. Namun itu bukan berarti saya tidak peduli lho.

Ketika bersekolah di Kanada dahulu saya sempat mengambil kuliah Computer Music, yang diselenggarakan di departemen musik. Saya ingin mengetahui banyak hal yang terkait dengan hal itu. Memang kuliahnya menarik. Kami diajari tentang sound. Ada tugas untuk mendengarkan karya John Cage, “musik” eksperimental itu. Avant-garde. Seru juga. Ini sangat jauh dari musik pop. Kemudian kami juga diajarkan tentang bagaimana menghasilkan suara instrumen secara elektronik, seperti yang digunakan pada synthesizers dan keyboard.

Saya juga sempat berkolaborasi dengan seorang musisi (gitaris) yang berencana untuk membuat software musik. Waktu itu kami sama-sama tertarik tentang bagaimana mendeteksi pitch secara real-time. Idenya adalah seorang penyanyi dapat mengendalikan keyboard (via MIDI) dengan cara bernyanyi. Harus ada sebuah alat yang melakukan pitch tracking.

Saya akhirnya harus membuat soundcard sendiri dengan menggunakan komponen elektronika yang tersedia dan melakukan wirewrap di PCB sendiri. Ini waktu jaman sebelum ada Soundblaster dari Creative Labs itu. Saya juga harus membuat driver softwarenya sendiri yang berjalan di atas MS-DOS. Akhirnya saya juga membuat chip untuk pitch tracking tetapi saya gunakan untuk aplikasi biomedik, yang ini kemudian menjadi basis penelitian S2 saya waktu itu. Dari musik dipelesetkan ke medis. hi hi hi.

Secara keilmuan nampaknya harus ada kolaborasi dari orang teknis – dengan latar belakang elektronika, pemrograman – dan orang musik ya. Sebetulnya ini bukan hal yang baru. Lihat saja Dr. Moog, yang terkenal dengan Moog synthesizersnya. Atau lihat juga Ray Kurzweil dengan keyboard Kurzweil yang memiliki sound luar biasa.

Sayangnya kolaborasi seperti ini belum terjadi di Indonesia. Suatu saat?


Memetakan Komunitas Security di Indonesia

Salah satu hal yang sedang saya coba inisisasi adalah melakukan pemetaan kemampuan sumber daya manusia (SDM) IT Security di Indonesia. Ini terkait dengan kebutuhan dari industri dan persiapan pendidikan di perguruan tinggi. (Sebagai catatan, ITB akan membuka S2 khusus untuk IT Security tahun 2013.)

Sebagai awal, saya akan memulai membuat taksonomi secara umum. Kemudian nantinya akan saya revisi. Mohon masukan dan koreksi.

  1. Perguruan Tinggi (pendidikan & penelitian).
    ITB (Pendidikan S2, S3. Penelitian: hardware, software, kriptografi)
    IT Telkom (Pendidikan S2. Penelitian: kriptografi)
  2. Pemerintahan. Kominfo (Kaminfo / Gov-CSIRT, ID-SIRTII), Lembaga Sandi Negara, Badan Inteljen Negara, POLRI, …
  3. Organisasi: ID-CERT, …
  4. Komunitas: Jasakom, Echo, RNDC, … (mohon informasi yang masih aktif)

Saya akan membuat sebuah survey mengenai kemampuan ini. Sebagai contoh, saya ingin mengetahui komunitas-komunitas yang masih aktif; jumlah anggotanya, visi/binding values, skill set, obyektif, aktivitas, dan seterusnya. Untuk untuk pemerintahaan: tupoksi, jumlah SDM, dll. Pertanyaan-pertanyaan apa lagi yang perlu ditanyakan ya? Saya akan membuatkan form survey-nya.

Saya membutuhkan contact person untuk mendapatkan data yang lebih lengkap. Data ini akan saya anggap sebagai confidential dan hanya rangkuman (agregat) saja yang akan saya tampilkan.

Menanti masukan …

Form untuk memasukkan data (versi 0.1): Survey Organisasi IT Security


Ruang Anda = Ruang Publik

Hati-hati jika “berbicara” – lebih tepatnya, menulis – di dunia maya. Apa yang kita tulis di facebook, twitter, blog, dan sejenisnya adalah sama kalau kita berbicara di ruang publik. Baru-baru ini terjadi kasus di Singapura.

Seorang pegawai dari NTUC, Amy Cheong, mengutarakan perasaan kesalnya di halaman facebooknya. Perasaan kesal ini dianggap berbau SARA dan kemudian berakibat dipecatnya dia. (Lihat beritanya di sini.) Prosesnya juga sangat cepat sekali. Padahal mungkin yang bersangkutan tidak berpikir bahwa kasus ini akan berakibat pemecatan.

Kasus yang sama juga pernah terjadi di Indonesia. Itulah sebabnya kita harus berhati-hati dalam berbicara di dunia maya ini. Ternyata pernyataan “blog aing, kumaha aing” (Sunda, yang artinya “blog saya, terserah saya”) tidak dapat digunakan. Waduh.


Setup Komputer

Pindah desktop bagi saya artinya setup berbagai hal. Pertama, saya harus pasang software-software yang biasa saya pakai. Sebagai contoh, untuk browser saya harus pasang Google Chrome dulu. Setelah itu saya harus download add-ons yang biasa saya gunakan. Untungnya, Chrome bisa melakukan sinkronisasi konfigurasi saya begitu saya login. Ini artinya harus nyambung ke internet dengan lumayan bagus.

Hal berikutnya yang saya lakukan adalah download fonts yang biasa saya gunakan. Nah, yang ini saya belum punya daftar yang tetap. Seharusnya fonts-fonts ini saya download di satu tempat dan dipaketkan sehingga kalau pindah komputer langsung fonts ini bisa dipasang sekaligus. Sementara ini saya download satu persatu dari Dafonts.com atau tempat-tempat lain. Fonts yang biasanya saya gunakan antara lain Georgia (yang ini harus dipasang kalau komputer saya pakai Linux), JackInput (untuk fixed width fonts), Droid Serif, Droid Sans, Source Sans Pro. Setidaknya itu.

Fonts bagi saya cukup penting untuk mengubah suasana agar tidak membosankan. Sebagai contoh, untuk menulis blog saat ini saya menggunakan kombinasi dari Georgia dan JackInput. Nulis berikutnya mungkin sudah saya ganti fontsnya :)

Setelah itu ada aplikasi wajib lain yang biasa saya gunakan. Misalnya kalau di Windows, saya harus pasang putty (untuk ssh), Photoscape (untuk memproses foto), iTunes, Adobe Acrobat Reader, dan seterusnya. Lagi-lagi, harusnya ini semua saya buat paketnya yang tinggal dipasang kalau saya harus pindah ke komputer lain. Alasan tidak dilakukan, malas. Ha


Pameran Online

Kemarin saya sempatkan untuk melihat pameran Online Expo (saya lupa nama tepatnya) yang digelar di Graha Manggala Silihwangi, Bandung. Saya tahu keberadaan acara ini dari beberapa spanduk yang dipasang di beberapa sudut kota Bandung. Menarik. Mampir ah. Sore hari kemarin, mampir.

Setelah membayar Rp. 5000,- kami masuk ke ruangan pameran. Ada banyak booth. Sayangnya ada banyak booth yang kosong ditinggal oleh penjaganya. Tadinya mau saya potret tapi lupa. hi hi hi. Saya pikir tadinya ajang pameran ini bisa jadi tempat untuk kopdar (pertemuan) orang-orang yang tergabung ke berbagai grup di internet. Entah mungkin timing saya yang salah atau bagaimana tetapi saya melihat tidak banyak orang di sana. Atau, orang-orang memang lebih senang hidup di dunia online? Pertemuan fisik tidak terlalu menarik lagi?

Sebetulnya saya berharap ada banyak pameran yang bernuansa teknologi seperti ini di Bandung. Setiap minggu kita bisa melihat sesuatu yang baru. Belajar terus dan termotivasi. Semoga akan lebih banyak pameran dan lebih ramai lagi.


Cloud Computing Untuk Pendidikan

Hari ini Saya berpartisipasi pada acara seminar Cloud Computing yang diselenggarakan oleh Inixindo di Surabaya. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah “(aplikasi) apa dari cloud computing yang cocok untuk dunia pendidikan”? Kemudian ada pertanyaan lagi yang nampaknya terkait, “apakah cloud computing dapat digunakan untuk menjalankan aplikasi seperti Matlab”?

Saya pikir ini pertanyaan yang baik. Memang dunia pendidikan (dan penelitian) membutuhkan fasilitas komputasi yang kadang sulit untuk dimiliki sendiri. Sebagai contoh, dosen atau peneliti di bidang rekayasa membutuhkan fasilitas komputasi untuk aplikasi yang terkait dengan finite elemen. Bidang Biologi membutuhkan fasilitas komputasi untuk DNA sequencing. Bidang kriptografi membutuhkan komputasi yang besar untuk melakukan penyerangan (attack) terhadap algoritma tertentu. Peneliti jejaring sosial membutuhkan storage dan komputasi untuk melakukan analisis dengan jumlah data yang sangat besar. Intinya ada kebutuhan komputasi yang mungkin dapat diberikan oleh cloud computing.

Mengapa ini belum terjadi juga? Mungkin ini karena penyedia jasa cloud computing lebih membidik pelaku bisnis yang mampu membayar layanan mereka. Sementara itu dunia akademik tidak memiliki dana yang besar untuk membeli layanan itu. Jadi?


Computer User Interface

Kuliah Introduction to IT saya tadi siang membahas tentang perkembangan user interface (UI). Saya mulai dengan cerita tentang “command line“.

Pada awalnya, cara kita berkomunikasi dengan komputer pribadi dimulai dengan perintah-perintah yang kita ketikkan di atas keyboard. Di layar hanya ada urutan teks. UI ini sering disebut command line. Kelemahan command line adalah kita harus mengingat-ingat perintah yang digunakan. Misalnya, “DIR” untuk melihat isi direktori, dan seterusnya.

Kemudian muncullah “menu”. Berbagai perintah yang tadinya diketikkan oleh pengguna dapat dipilih melalui menu. Tampilan menu masih berupa teks biasa. Pada jaman itu tampilan grafis masih belum ada, atau lebih tepatnya terlalu mahal sehingga tidak umum. Belum lagi kecepatan komputasi dari komputer masih sangat terbatas. (Special graphic cards juga belum ada yang jualan.) Adanya “menu driven user interface” ini cukup membantu karena kita tidak perlu mengingat-ingat perintah.

Apple Macintosh muncul sebagai pendorong “graphical user interface” (GUI). Sebetulnya Apple bukanlah penemu awalnya, temuan ini sudah terjadi di Xerox Palo Alto Research Center, tetapi Apple-lah yang mempopulerkannya. Microsoft kemudian juga mengembangan Windows sebagai interface terhadap sistem operasinya.

Setelah GUI apa lagi? Berikutnya kemungkinan adalah UI yang menggunakan suara (speech). UI jenis ini cocok untuk perangkat yang sangat kecil sehingga sulit untuk menggunakan jari untuk memberikan perintahnya. Kita tinggal bicara dan komputer akan melakukan perintah yang kita berikan. Sekarang UI jenis ini mulai muncul. Siri anybody?

Setelah itu masih ada UI-UI lain yang baru lagi, seperti UI yang berinteraksi dengan bagian tubuh kita lainnya (mata, gesture, dan seterusnya). Bahkan ada yang mengusulkan dibuatnya alat yang langsung men-tap keinginan kita langsung dari otak, brain waves. Kita baru mikir, komputer sudah langsung mengeksekusi. Wah wah wah.

Demikianlah isi kuliah saya tadi siang.


Hardisk Rusak Mau Diapakan?

Tadi saya mau membackup Macbook. Ternyata disk backupnya bermasalah. Dugaan saya memang dia rusak. Nah, bagaimana memastikan disk ini rusak atau tidak ya?

Pertanyaan kedua, disk yang sudah rusak ini mau diapakan? Kalau rusaknya sebagian, mau diapakan? Soalnya kalau digunakan untuk backup jelas tidak mungkin karena backup harus handal dong. Apa memang sebaiknya dibuang saja? Sayang juga. Mungkin ada komponen (parts) yang dapat dimanfaatkan oleh tukang disk. Ada yang mau beli disk rusak ya?


Derita Fakir Bandwidth

Saya sedang memasang Linux Debian di salah satu komputer yang akan digunakan sebagai server di kampus. Instalasi saya lakukan di rumah dengan menggunakan jaringan internet yang ada di rumah (speedy rumahan). Hasilnya, saya harus menunggu sekian jam untuk proses instalasinya.

Ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, saya pasang banyak hal melalui tasksel. Biasanya saya pasang yang minimal kemudian lain-lainnya saya pasang secara manual saja (dengan menggunakan “apt-get install packagename”). Tasksel memang agak boros nampaknya. Saya pilih pakai tasksel tadi karena mau rapat dan dengan tasksel saya tinggal pilih di menu kemudian dia download lalu pasang sendiri. Yang kedua, saya menggunakan mirror kambing.ui.ac.id. Semestinya Speedy punya mirror Debian ya? Supaya lebih cepat gitu.

Sekarang saya hanya perlu bersabar. Ini di kota besar lho. Kebayang kalau di pelosok mana gitu. Kalau sudah gini, saya iri dengan negara lain yang infrastruktur internetnya lebih bagus. hik hik hi. Derita fakir bandwidth tiada akhir.


Social Network Itu Ilmunya Apa?

Jejaring sosial (social network) sekarang telah menjadi sebuah fenomena. Saya tertarik untuk meneliti itu dari segi keilmuan. Sudah ada mahasiswa saya yang meneliti itu dalam tingkat S1 dan S2. Sekarang saya sedang mulai membimbing mahasiswa S3 untuk meneliti bidang itu. Masalahnya adalah sebetulnya secara keilmuan “social network” itu masuk ke bagian ilmu apa?

Saya berpendapat bahwa ini adalah sebuah topik yang dapat digarap secara bersama dengan ilmu yang berbeda-beda. Sebagai contoh, kami mencoba melihatnya dari kacamata social network metric yang diterjemahkan secara formal dalam bentuk graph. Grup kami berada dalam kerangka Teknik Komputer. Menurut Anda, apakah bidang yang kami teliti ini sudah pas dengan keilmuan kami?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.592 pengikut lainnya.