Tag Archives: ITB

Menilai Tugas Mahasiswa

Dan tibalah saatnya saya harus menghadapi pekerjaan yang menyebalkan, menilai tugas mahasiswa. Kalau boleh sih, sambil tutup mata semuanya saya beri nilai “A” saja. Ha ha ha. Tapi ini tidak adil bagi yang sudah bekerja keras dalam belajar dan mengerjakan tugas. Mereka pantas untuk mendapatkan nilai “A”. Sisanya? Ya kurang dari A lah. Apalagi yang super malas, ya paling tinggi “C” lah. Atau, sekalian tidak diluluskan saja. wogh.

Kali ini saya salah perhitungan. Tadinya nilai terakhir masuk pertengahan bulan Juni. Eh, ternyata nilai masuk minggu depan. Senin! Padahal saya memberitahukan mahasiswa bahwa batas terakhir memasukkan tugas adalah lusa. Maka akhir pekan ini saya harus bekerja keras untuk memeriksa dan memberi nilai. Hadoh.

Derita dosen tiada akhir …


Sarapan Gratis Untuk Mahasiswa ITB

Sudah beberapa bulan ini Koperasi Keluargha Pegawai (KKP) ITB dibawah asuhan pak Nana menyediakan sarapan pagi gratis bagi mahasiswa ITB. Saya beberapa kali hadir pukul 6:30 pagi untuk ikut menyeduh kopi dan melihat betapa mahasiswa merespon. Paket sarapan – saya kurang tahu jumlahnya, mungkin 200 paket – habis dalam waktu kurang dari 30 menit. Nampaknya memang mahasiswa membutuhkan ini; pagi-pagi harus kuliah dan belum sempat sarapan yang cukup baik.

Saya mengajak rekan-rekan yang memiliki rezeki untuk berbagi kepada mahasiswa ini melalui KKP. Sudah dibuatkan rekening untuk itu. Berikut ini adalah nomor rekeningnya.

Koperasi Keluarga Pegawai ITB No. 0331372279 BNI cab PTB Bandung

Semoga dapat membantu para mahasiswa. Kita pernah menjadi mahasiswa, bukan?


Sterilisasi Kampus?

Kemarin saya mendapat kabar bahwa Jokowi akan memberikan kuliah terbuka di kampus ITB hari ini. Maka setelah turun dari pesawat (saya baru kembali dari acara InnovFest 2014 di Singapura – cerita menyusul), saya menuju kampus ITB. Tadinya saya pikir acaranya biasa-biasa saja. Yang datang cukup satu aula (Barat atau Timur) saja lah. Biasanya kan kalau pejabat datang ke kampus ya segitu saja pesertanya. Eh, ternyata begitu sampai kampus heboh banget.

Banyak mahasiswa di luar yang mendemo kedatangan Jokowi ke kampus ITB. Katanya mungkin mendekati 100 orang. Ada spanduk dan ada yang berorasi di depan Aula Timur. Saya bergegas menuju pintu masuk yang sudah dikunci. Ada penjaga yang mengenal saya sebagai dosen dan memperbolehkan saya masuk. Maka saya masuk dan menuju bagian belakang aula yang sudah padat. Jumlahnya? Wuih gak tahu saya. Yang pasti, Aula Timur penuh sesak. Nampaknya yang mau mendengarkan Jokowi lebih banyak.

Pak Jokowi baru maju ke dapan setelah acara dibuka Rektor ITB. Setelah mengucapkan salam, pak Jokowi menjelaskan bahwa kedatangannya ke kampus adalah atas undangan ITB untuk menandatangani kerjasama ITB dengan DKI. Kesempatan ini digunakan pula untuk mengisi kuliah terbuka. Tetapi karena ada pro dan kontra dan agar tidak ada keributan di dalam, maka pak Jokowi memutuskan untuk tidak jadi mengisi kuliah terbuka. Begitu dia menutup. Mungkin kurang dari 5 menit. Wah. Bagi saya, sebetulnya perbedaan pendapat di kampus itu adalah yang biasa. Jokowi bisa saja memberikan kuliah tentang DKI.

Di akhir ada mahasiswa yang memberikan penjelasan (berorasi) bahwa mahasiswa tidak mendukung capres tertentu. Ok no problem. Yang heran adalah mahasiswa menginginkan sterilisasi kampus dari politik.

Hmmm… saya jadi berpikir puluhan tahun ke belakang. Akhir tahun 70-an terjadi kericuhan di kampus ITB (dan kampus-kampus lain di Indonesia), antara mahasiswa dengan militer. Pemerintah mencoba membuat kampus steril dari politik. Mahasiswa tentu saja tidak mau diatur oleh pemerintah. Maka para mahasiswa ini melawan. Kampus bahkan diduduki militer. Pada akhirnya kampus berhasil ditundukkan. Disterilkan.

Sangat terbalik dengan sekarang. Mahasiswa bahkan ingin memandulkan dirinya sendiri.

Saya ingat sebuah pendapat dari seorang Profesor (yang saya lupa sumbernya). Mahasiswa (ITB) tidak perlu terlibat politik praktis, tetapi mahasiswa tidak boleh buta/bodoh politik. Nah. Lantas bagaimana mahasiswa dapat mengerti politik jika tidak belajar di kampus? Hadirkan tokoh-tokoh di kampus. Treat them like a regular person. Biasa-biasa wae lah. Mengapa demikian ketakutannya mahasiswa dengan politik? Demikian lemahnyakah mahasiswa sekarang? Mahasiswa seharusnya dapat membuat dirinya kuat dan tidak terpengaruh dengan (partai) politik, tetapi tidak dengan membuat dirinya steril.

Nampaknya usaha pemerintah mengendalikan mahasiswa berhasil. Mahasiswa sekarang memang sudah menjadi anak baik yang fokus kepada kuliah dan lulus saja. Mahasiswa menjadi tidak relevan dan tidak perlu ditakuti oleh pemerintah lagi. Mahasiswa sudah menjadi kucing, bukan harimau. Kita tunggu saja nanti. Kekurangan pemimpin akan terus berlangsung. Golput akan tetap menjadi dominan.

Rasakno

Link serupa:

 


Keysigning Party

Salah satu yang direncanakan pada kuliah saya tadi pagi adalah melakukan “keysigning party”. Setiap mahasiswa harus membuat pasangan kunci privat dan kunci publik. Kunci publik ini kemudian disimpan (upload) ke tempat tertentu. Kunci ini dapat “ditandatangani” oleh orang lain untuk meningkatkan keabsahannya. Jika saya menandatangani kunci tersebut, saya mengatakan bahwa kunci tersebut memang benar-benar diasosiasikan dengan orang ini. Demikian pula orang lain juga dapat menandatangani kunci publik saya untuk mengatakan bahwa memang kunci publik itu milik saya. Saling percaya ini menimbulkan kepercayaan yang disebut “web of trust”.

IMG_3954 keysign 1000

Foto di atas menunjukkan suasana kelas ketika melakukan keysigning ini. Hanya sayangnya network yang tersedia tidak mendukung untuk melakukan keysigning ini. Kami berada di belakang proxy yang membuat beberapa aplikasi (saya menggunakan GPG suite) sulit untuk melakukan proses keysigning ini. Sebetulnya bisa, tetapi manual dan laborious. he he he. Inginnya sih yang lebih otomatis. Lain kali kita akan mengadakan keysigning lagi ah.


Memberi Nilai Mahasiswa ITB

Dahulu … jamannya saya masih kuliah di ITB, nilai kuliah bervariasi dan cenderung pelit. Untuk mata kuliah tertentu, begitu mendapat nilai C maka kami berbahagia. Hi hi hi. Bahkan ada satu kuliah – tepatnya kuliah Teori Medan – yang saya bersyukur ketika mendapatkan nilai D. Yang penting adalah tidak perlu mengulang. he he he.

Maka pada masa itu nilai-nilai mahasiswa ITB sangat rendah dibandingkan dengan nilai-nilai mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Akibatnya dalam rekrutmen yang dilakukan oleh berbagai perusahaan, ada kemungkinan lulusan ITB tersingkir karena melihat nilai-nilainya yang rendah.

Belakangan ini saya melihat nilai-nilai mahasiswa ITB sudah jauh lebih baik dari dulu. Mungkin karena dosennya lebih murah dalam memberikan nilai, atau karena memang mahasiswa sekarang jauh lebih cerdas dari sebelumnya. Atau mungkin dua-duanya. Entahlah. Yang pasti, sekarang lebih banyak lulusan ITB yang lulus cum laude dibandingkan dulu.

Sekarang saya berpikiran lain. Agak nyeleneh. Begini. Mahasiswa ITB kan bahan bakunya memang sudah cerdas. Seharusnya mereka memang lulus dengan nilai A, kecuali kalau memang mahasiswanya aneh seperti misalnya tidak hadir ketika ujian. Jadi default nilai A. Kalau mahasiswa tidak mengerti dan nilainya jelek, berarti dosennya yang tidak becus. Karena saya dosen yang tidak jelek-jelek amat, maka seharusnya nilai mahasiswa adalah A semua. Maka saya beri nilai A semua. Boleh begitu? Hi hi hi


UTS Kuliah II3062

Hari ini saya menyiapkan soal-soal untuk UTS kuliah II 3062 (Keamanan Informasi) yang akan dilakukan besok pagi, 19 Juli Maret 2013. Bagi mahasiswa saya, silahkan lihat instruksinya di halaman kuliah di server Blended Learning (BL).


Foto Kelas

Ini foto di awal kelas pagi (pukul 7 pagi!)

CIMG4161 kelas pagi 1000

Ini foto di akhir kelas (pukul 9 pagi)

CIMG4162 kelas akhir 1000

Ini belum semua mahasiswa hadir. Kadang ada yang duduk di lantai depan :)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.828 pengikut lainnya.