Tag Archives: kuliah

Atensi Kepada Detail (dalam menulis)

Menulis, seperti pekerjaan lainnya, mencerminkan pola kerja kita. Pada tulisan ada komponen isi dan ada komponen tampilan visual. Pasalnya, tulisan itu harus dibaca dengan menggunakan mata. Maka komponen visual itu menjadi penting. (Ada audiobook, tetapi itu menjadi bahasan terpisah.)

Komponen visual ini sering dilupakan oleh banyak orang. Akibatnya, membacanya menjadi melelahkan, membosankan, menyebalkan. Bahkan untuk karya ilmiah, format tulisan menjadi sangat penting. Huruf besar atau kecil, tebal (bold) atau tidak, diletakkan di tengah atau pinggir, dan seterusnya menjadi hal yang sakral.

Saya ambil contoh buruk tulisan mahasiswa untuk lebih jelasnya.

IMG_5131 tugas mhs 1000

Perhatikan komentar-komentar saya di tulisan tersebut. Ada banyak hal detail yang dilupakan oleh penulis pada bagian referensi. Hal-hal semacam ini *SANGAT MENGGANGGU* dalam hal visual dari tulisan. Bahkan untuk hal ini, nilai menjadi buruk. Jika ini sebuah buku thesis atau disertasi, sudah pasti akan ditolak.

Jadi, sekali lagi, perhatikan detail dari tulisan Anda. Ok?


Nilai Kuliah Terpaksa T

Ternyata saya salah informasi mengenai batas waktu pemasukan nilai kuliah. Teryata nilai harus masuk hari ini! Wadoh. Padahal saya memberitahu mahasiswa bahwa batas akhir tugas masuk adalah Jum’at kemarin dan saya membutuhkan waktu dua minggu untuk menilai. Eh, salah dong. Akibatnya mahasiswa menyerahkan tugas hari Jum’at kemarin (selalu di batas akhir – hi hi hi) dan saya tidak punya kesempatan untuk memeriksa. Jadi, hari ini nilai saya masukkan “T” (incomplete). Mohon maaf kepada para mahasiswa.

Ada beberapa mahasiswa yang sudah saya periksa tugasnya. Mereka yang memasukkan tugas jauh sebelum batas akhir sehingga sudah sempat saya periksa. Untuk mahasiswa-mahasiswa ini ada yang sudah mendapat nilai “A” dan ada beberapa yang harus memperbaiki dulu sebelum mendapatkan nilai “A”.

Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan ini.


Menilai Tugas Mahasiswa

Dan tibalah saatnya saya harus menghadapi pekerjaan yang menyebalkan, menilai tugas mahasiswa. Kalau boleh sih, sambil tutup mata semuanya saya beri nilai “A” saja. Ha ha ha. Tapi ini tidak adil bagi yang sudah bekerja keras dalam belajar dan mengerjakan tugas. Mereka pantas untuk mendapatkan nilai “A”. Sisanya? Ya kurang dari A lah. Apalagi yang super malas, ya paling tinggi “C” lah. Atau, sekalian tidak diluluskan saja. wogh.

Kali ini saya salah perhitungan. Tadinya nilai terakhir masuk pertengahan bulan Juni. Eh, ternyata nilai masuk minggu depan. Senin! Padahal saya memberitahukan mahasiswa bahwa batas terakhir memasukkan tugas adalah lusa. Maka akhir pekan ini saya harus bekerja keras untuk memeriksa dan memberi nilai. Hadoh.

Derita dosen tiada akhir …


Kuliah Adalah Berkelompok

Hari ini saya disibukkan dengan beberapa mahasiswa S2 bimbingan yang siap-siap maju sidang thesis. Mereka seakan-akan dalam sebuah rombongan. Kemudian saya mengingat-ingat perjalan sejarah saya. Nampaknya memang perjalanan perkuliahan saya juga seperti ini.

Ketika S1 dulu, saya sempat sedikit tertunda di akhir kuliah. Tugas akhir sempat tertunda beberapa bulan. Apa yang saya lakukan adalah ke kampus tapi lebih banyak duduk-duduk di himpunan dan becanda dengan teman-teman. Tiba-tiba ada salah seorang dari kelompok kami yang siap maju sidang. Maka seperti ditampar, semuanya langsung kembali ke lab masing-masing dan mengerjakan tugas akhir. Akhirnya (sebagian dari) kami lulus bersamaan.

S2 saya di Kanada juga hampir seperti ini, meskipun kawan-kawan saya jumlahnya lebih sedikit. Yang berdekatan sidangnya juga teman satu kelompok, yang mana sekarang kawan-kawan saya ini tersebar di berbagai negara. Begitu salah satu menyelesaikan thesisnya maka ini memicu kami untuk cepat-cepat menyelesaikan thesis kami juga. S3 juga demikian, satu grup kami (yang jumlah anggotanya lebih kecil lagi) tiba-tiba ada yang disertasinya hampir selesai. Maka kami juga ngebut supaya bisa selesai sama-sama.

Kelompok, teman-teman ini, bagi saya bermanfaat untuk  memotivasi  menyelesaikan  tugas akhir, thesis, dan disertasi. Kalau sendirian, mungkin semangat untuk cepat-cepat selesainya menjadi rendah. Eh, mungkin ini karena sifat saya saja ya yang lebih suka berkelompok. Mungkin ada yang lebih suka kerja sendirian. Entahlah. Bagi saya, kuliah ada berkelompok. Siapa tahu strategi ini dapat mempercepat proses kelulusan Anda.


Tulisan Yang Akademik

Saat ini saya sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan mahasiswa terkait dengan tugas kuliah mereka, yaitu membuat makalah. Salah satu hal yang nampaknya mereka belum mengerti adalah bahwa makalah yang harus mereka buat harus bersifat akademik. Apa maksudnya “akademik” di sini? Nah itu dia.

Tingkat kesulitan dari makalah yang mereka buat kira-kira seperti ini. Jika makalah itu dikirimkan ke majalah komputer, maka makalah tersebut akan ditolak karena terlalu teknis. Pembaca akan pusing. Sementara itu jika makalah ini dikirim ke jurnal, maka makalah tersebut akan ditolak karena kurang aspek kebaharuannya atau kurang teknis. Jadi tingkat kesulitannya di antaranya.

Cara lain untuk mengukur apakah makalah kita itu akademik atau tidak adalah dengan melihat referensinya. Jika referensinya menggunakan artikel dari jurnal (yang kredibel), maka tulisan kita itu boleh jadi akademik. Jika referensinya tidak ada artikel jurnal, malah banyak menggunakan artikel majalah umum, maka ke-akademik-an dari makalah tersebut dapat dipertanyakan. Begitulah.

[Saya ingin memberi contoh yang lebih banyak, tapi belum sempat. Tulisan ini juga saya buat di dalam mobil di parkiran. hi hi hi]


Terlalu Pagi

Kadang saya datang ke kelas terlalu pagi untuk kelas yang memang pagi. Kelas di mulai pukul 7 dan saya berangkat dari rumah pukul 6. Berangkat pagi itu untuk menghindari macet dan marah-marah atas kemacetan itu. Energi negatif. Lebih baik berangkat lebih awal. Hasilnya ya datang kepagian. Tidak mengapa.

Ditemani oleh kopi yang dibeli sambil lewat, saya memiliki waktu untuk membuka internet dulu sambil mendengarkan lagu. Kadang saya tuliskan satu baris status di twitter atau facebook dulu.

coffee - empty class

Sebetulnya kuliah kali ini mahasiswanya cukup rajin. Tidak berapa lama biasanya sudah ada beberapa mahasiswa yang hadir. Tidak banyak, tetapi ini menunjukkan bahwa ada mahasiswa yang memang punya jam pagi juga.

Selamat pagi.


Dongeng Kesukaan Mahasiswa

Tadi siang, saya memberikan presentasi mengenai teknik mengajar saya. Dalam diskusi dibahas mengenai cara untuk memulai kelas dengan mendongeng dulu. Ternyata topik yang disukai oleh mahasiswa adalah dongeng tentang hantu dan cerita-cerita motivasi. Hantu? Iya. hi hi hi. Tipikal orang Indonesia ya?

Nah, kayaknya saya harus mengumpulkan humor-humor tentang hantu nih. hi hi hi.


Keysigning Party

Salah satu yang direncanakan pada kuliah saya tadi pagi adalah melakukan “keysigning party”. Setiap mahasiswa harus membuat pasangan kunci privat dan kunci publik. Kunci publik ini kemudian disimpan (upload) ke tempat tertentu. Kunci ini dapat “ditandatangani” oleh orang lain untuk meningkatkan keabsahannya. Jika saya menandatangani kunci tersebut, saya mengatakan bahwa kunci tersebut memang benar-benar diasosiasikan dengan orang ini. Demikian pula orang lain juga dapat menandatangani kunci publik saya untuk mengatakan bahwa memang kunci publik itu milik saya. Saling percaya ini menimbulkan kepercayaan yang disebut “web of trust”.

IMG_3954 keysign 1000

Foto di atas menunjukkan suasana kelas ketika melakukan keysigning ini. Hanya sayangnya network yang tersedia tidak mendukung untuk melakukan keysigning ini. Kami berada di belakang proxy yang membuat beberapa aplikasi (saya menggunakan GPG suite) sulit untuk melakukan proses keysigning ini. Sebetulnya bisa, tetapi manual dan laborious. he he he. Inginnya sih yang lebih otomatis. Lain kali kita akan mengadakan keysigning lagi ah.


Kuliah Semester Ini

Semester baru sudah dimulai di ITB. Ini sudah memasuki minggu kedua. Tentu saja langsung kesibukan datang. Tapi, lebih baik sibuk dengan pekerjaan daripada tidak ada pekerjaan, bukan?

Semester ini ternyata saya mengajar kuliah yang terkait dengan security saja. Ada tiga kuliah, (1) Keamanan Informasi (untuk S1), (2) network security (untuk S2), dan (3) incident handling (untuk S2 juga). Sebetulnya ada satu kuliah lagi – security juga, Security Architecture – tetapi saya batalkan karena saya sudah banyak mengajar dan pesertanya hanya 4 orang (sebelum PRS).

Mengajar tiga kuliah sudah cukup berat bagi saya. Saya heran ada dosen yang mengajar banyak kuliah. Entah mereka serius mengajarnya atau hanya ingin mendapatkan hal lain, seperti honor tambahan atau kenaikan pangkat atau pujian karena mengajar banyak. Entahlah.

Dan mulailah sibuk saya memperbaiki materi kuliah. Waduh.


Analog Media

Dua minggu yang lalu saya menjelaskan tentang analog dan digital media di kelas. Maka kemarin, saya bawa piringan hitam untuk menunjukkan kepada mahasiswa. Kebetulan yang saya bawa adalah album dari Boston dan Lionel Richie. Sayangnya saya tidak punya pemutarnya yang bisa dibawa ke kelas. Jadi pas muter lagu Boston, kurang terdengar garangnya. he he he. (Sebelum kelas dimulai, saya putar videonya Steven Wilson, Drive Home.)

vinyl 1000

[Ini foto kedua album tersebut. Dipotret di ruang kerja saya.]

Sebetulnya saya juga membawa kaset ke kelas, tetapi ini tidak begitu menarik. Mereka sudah tahu apa itu kaset dan tidak menarik bagi anak-anak sekarang, yang notabene mendengarkan MP3.

Sebetulnya saya ingin menunjukkan musik digital, yaitu dengan MIDI dan kawan-kawannya. Tapi persiapannya nampaknya harus lebih berat lagi. Ya kapan-kapan deh.


Kuliah dan T-shirt

Sedang ada diskusi di sebuah mailing list yang saya ikuti. Topiknya adalah seputar peraturan perkuliahan. Salah satunya adalah mengenai pakaian mahasiswa. Mahasiswa tidak boleh kuliah dengan menggunakan T-shirt. Hah???

Kenapa tidak boleh? Saya termasuk yang tidak setuju dengan aturan ini. Menurut saya aturannya cukup dengan mahasiswa diharuskan menggunakan pakaian yang sopan dan rapi. Itu saja. Mahasiswa bukan anak-anak yang harus diatur sampai ke hal-hal sekecil itu. (Ataukah harus?) Mahasiswa harus dapat menempatkan diri, kapan boleh menggunakan T-shirt dan kapan tidak. Kalau sedang wawancara untuk rekrutmen, misalnya, ya tentunya salah sendiri kalau tidak mendapat kesempatan karena menggunakan T-shirt. Kalau kuliah, saya tidak ada masalah dengan menggunakan T-shirt.

Bagaimana dengan kampus Anda? Pendapat Anda?


Siklus Terbuka Kuliah

Salah satu masalah terbesar dari perkuliahan – menurut saya tentunya – adalah tidak adanya siklus tertutup (closed loop). Kebanyakan pengajar (guru, dosen) mempersiapkan bagian awalnya. Kuliah dimulai dengan baik. Bahkan sampai tengah-tengah perkuliahanpun masih baik. Asumsinya begitulah. Untuk sementara kita lupakan dosen yang mangkir. Nah, begitu sampai di akhir, mulailah muncul masalah.

Pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji atau diukur pemahamannya dengan ujian. Setelah ujian diperiksa, nilai diberikan. Setelah itu? Ya selesai. Ada mahasiswa yang lulus dan ada mahasiswa yang harus mengulang. Mungkin juga ada yang diberi kesempatan mengulang pada kesempatan yang sama, remedial.

Yang menjadi masalah di sini adalah tidak ada diskusi setelah akhir kuliah. Padahal mestinya ada fase mendiskusikan hasilnya. Melakukan evaluasi atas semuanya, dari sisi mahasiswa maupun dosen. Apakah materi sudah cukup baik atau relevan? Bagaimana cara menyampaikan materi tersebut? Dan seterusnya. Mahasiswa sudah tidak tertarik untuk mendiskusikan hasilnya karena sudah akan menghadapi kuliah baru. Demikian pula dosennya juga tidak tertarik untuk melakukan pembahasan karena toh kuliah sudah selesai. Repot-repot amat harus kerja tambahan.

Nah … tahun depannya kita menghadapi masalah yang sama.


Tahun Ajaran Baru

Hari ini secara resmi tahun ajaran baru dimulai di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Katanya kurikulum baru, kurikulum 2013, akan diterapkan. Saya sendiri tidak tahu bedanya selain ada perubahaan nama kuliah dan penomorannya. hi hi hi. Yang pasti, hari ini – minggu ini – saya masih mencoba mengatur jadwal kuliah.

Semester ini saya mengajarkan kuliah baru, “Keamanan Perangkat Lunak” (Software Security) untuk S2 dan S3, dan kuliah yang sudah saya pegang sebelumnya (Pengantar Teknologi Informasi untuk kelas internasional). Nah untuk kuliah baru inilah saya yang harus mengatur skedul karena saya belum tahu siapa saja yang mengambil dan apakah jadwal waktunya bentrok dengan kuliah lainnya.

Sementara itu, baru saja saya dapat kabar bahwa kemungkinan kelas Pengantar Teknologi Informasi saya hanya ada satu orang mahasiswanya. Padahal sebelumnya dikabarkan akan ada 15 mahasiswa internasional. Jika memang hanya satu orang, maka dia saya minta untuk bergabung di kelas lain saja.

Selamat berkuliah …

 


Makalah Minim Referensi

Saya heran melihat makalah mahasiswa yang minim referensi. Dari 170 mahasiswa, hanya ada di bawah 20 orang yang tahu menggunakan referensi dengan baik dan benar. Ini hanya sekitar 10%. Hadoh. Parah ya? Padahal ini bukan mahasiswa tingkat pertama dan ada banyak mahasiswa yang sudah mau lulus. Kebayang bagi saya isi tugas akhir (TA) / thesis / skripsi-nya seperti apa ya?

Ada makalah yang referensinya hanya satu buah! Kok hanya satu??? Dalam tugas yang saya berikan ke mahasiswa, saya menyaratkan minimal tiga (3) referensi. Akhirnya ada banyak makalah yang referensinya hanya tiga! Ampun deh. Apakah mereka tidak tahu bahwa kredibilitas dari makalah ditentungan – salah satunya – adalah dari jumlah referensi yang digunakan. Tentu saja jumlah referensi bukan satu-satunya ukuran dan belum tentu menjamin, tetapi ini adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan kredibilitas makalah.

Hmm…


Gambar di Makalah

Salah satu kesalahan yang sering terjadi pada makalah (mahasiswa) adalah menggunakan gambar dengan seenaknya. Sebagai contoh ini adalah tampilan sebuah makalah yang sedang saya periksa. Apa kesalahannya?

tugas mahasiswa gambar

Gambar nampaknya diambil (di-scan atau di-screenshot) dari makalah lain. Terlihat latar belakang yang berbeda (berwarna gelap) dan tulisan (fonts) yang kabur. Seharusnya gambar ini dibuat ulang. Atau kalau memang ingin menggunakan gambar dari sumber lain, buat kualitasnya yang bagus sehingga masih terbaca. Apa gunanya gambar yang  tidak terbaca?

Kesalahan kedua, yang tidak dapat dilihat dari gambar di atas tetapi dapat dilihat pada makalah sesungguhnya, adalah penulis tidak menyebutkan sumbernya. Alih-alih ini dapat dianggap sebagai pelanggaran hak cipta atau malah plagiat.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.701 pengikut lainnya.