Tag Archives: kuliah

Gambar di Makalah

Salah satu kesalahan yang sering terjadi pada makalah (mahasiswa) adalah menggunakan gambar dengan seenaknya. Sebagai contoh ini adalah tampilan sebuah makalah yang sedang saya periksa. Apa kesalahannya?

tugas mahasiswa gambar

Gambar nampaknya diambil (di-scan atau di-screenshot) dari makalah lain. Terlihat latar belakang yang berbeda (berwarna gelap) dan tulisan (fonts) yang kabur. Seharusnya gambar ini dibuat ulang. Atau kalau memang ingin menggunakan gambar dari sumber lain, buat kualitasnya yang bagus sehingga masih terbaca. Apa gunanya gambar yang  tidak terbaca?

Kesalahan kedua, yang tidak dapat dilihat dari gambar di atas tetapi dapat dilihat pada makalah sesungguhnya, adalah penulis tidak menyebutkan sumbernya. Alih-alih ini dapat dianggap sebagai pelanggaran hak cipta atau malah plagiat.


Kredibilitas Makalah

Ada mahasiswa yang bertanya apakah cukup menggunakan dua referensi di makalahnya. Wah. Hanya dua? Menurut saya ini kurang. Kesannya hanya menerjemahkan dari dua referensi tersebut.

Saya tidak tahu apakah kurangnya referensi ini karena memang topiknya demikian baru dan susah sehingga jarang (belum ada) orang yang menulis atau karena sang mahasiswa belum optimal (baca: malas) dalam mencari referensi. Jaman sebelum ada internet, kesulitan mencari referensi memang dapat dimengerti. Hanya tempat yang memiliki perpustakaan yang bagus saja yang tidak memiliki masalah. Kalau sekarang? Hampir semuanya dapat diakses melalui internet sehingga tidak ada alasan untuk tidak mendapatkan referensi. (Ada kasus-kasus tertentu, tetapi ini anomali.)

Kredibilitas dari sebuah makalah salah satunya ditentukan dengan referensi yang digunakannya. Memang jumlah bukanlah satu-satunya ukuran yang dapat digunakan. Biarpun jumlahnya banyak tetapi referensinya tidak bagus hasilnya juga tidak bagus. Hanya saja, kalau dua itu nampaknya masih kurang.


Akademik vs. Populer

Saat ini saya menugaskan mahasiswa untuk membuat makalah sebagai bagian dari penilaian kuliah keamanan informasi (information security). Saya meminta mahasiswa untuk membuat makalah yang akademik, bukan artikel populer. Resminya sih namanya technical report. Ternyata mahasiswa banyak yang bingung karena belum mengerti maksudnya artikel yang akademik. Maklum mereka mungkin belum pernah menulis makalah untuk seminar atau jurnal.

Ukuran tingkat kesulitan dari makalah tersebut kira-kira begini. Tulisan tersebut kalau dikirimkan ke majalah – bahkan majalah komputerpun – akan dianggap terlalu teknis dan tidak ada pembacanya. Tulisan akan ditolak editor. Sementara itu kalau makalah dikirimkan ke jurnal akan dianggap terlalu rendah (tidak ada kebaharuan).

Makalah juga tidak boleh menjelaskan secara normatif. Kalimat di bawah ini kurang kena (seperti politisi saja – hi hi hi):

Penggunaan kartu kredit memiliki risiko sehingga pengamanan harus dilakukan dengan baik.

Jika kalimat di atas hanya digunakan sebagai kalimat pembuka tentu saja boleh, tetapi kalau pembahasannya hanya sebatas itu maka tidak boleh. Kurang teknis. Kurang akademik. Pembahasan yang saya maksud misalnya adalah menggunakan kriptografi sehingga brute force attack terhadap passwordnya membutuhkan 2^299 kombinasi. Something like that … Adanya persamaan matematik juga dapat menunjukkan ke-akademik-annya. hi hi hji.

Tentu saja maksud saya bukan membuat makalah menjadi lebih pelik dengan menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti. Banyak orang yang melakukan hal ini dengan tujuan untuk membingungkan. Bingung = akademik? Salah. Ini juga akan mengurangi penilaian karena sisi kejelasan (clarity) akan mendapatkan nilai kecil.

Tulisan ini jelas tidak akademik. Ini masuk ke kategori tulisan populer.


Topik Minggu Ini, Kriptografi

Entah kenapa, topik yang paling banyak saya bahas di kelas dan juga dalam bimbingan mahasiswa adalah kriptografi. Kebetulan memang kuliah yang saya ajarkan adalah kuliah keamanan, tetapi keamanan tidak selalu identik dengan kriptografi. Mungkin saja memang ini hanya kebetulan, karena ini sudah memasuki pertengahan perkuliahan.

Pembahasan kriptografi yang saya lakukan mulai dari sejarahnya dulu, kemudian beranjak ke konsep yang lebih susah. Mulai dari kriptografi kunci privat sampai ke kriptografi kunci publik. Mulai dari algoritma DES sampai ke RSA. ECC hanya disentuh sedikit di kelas tetapi banyak didiskusikan pada peneltian. Ada beberapa mahasiswa yang akan meneliti soal ini. Kelompok penelitian kami pun sedang melakukan penelitian tentang serangan terhadap ECC dengan menggunakan metoda Pollard rho dan/atau Pollard lamda. Seru dan pusing. Untungnya tim kami terdiri dari orang dengan berbagai latar belakang.

Yang bikin puyeng juga adalah menjelaskannya kepada mahasiswa. Ada beberapa hal yang menurut saya sangat gamblang ternyata membingungkan bagi banyak orang. Memang dulu saya juga sempat bingung dan sekarang lupa lagi. he he he. Mencoba untuk membuat kriptografi mudah dipahami dan menyenangkan. Mari ah.


Pengalaman Ujian Online

Tadi pagi saya menyelenggarakan UTS (Ujian Tengah Semester) secara online. Kami menggunakan sistem yang berbasis Moodle.

Sebetulnya mahasiswa dapat mengakses sistem dari mana saja karena sistem kami ini dapat diakses melalui internet. Hanya saja karena saya tidak yakin semua mahasiswa memiliki akses internet di tempat tinggalnya masing-masing, maka saya menyediakan fasilitas untuk ujiannya.

Kelas saya cukup besar, 160 orang! Maka saya meminjam lab komputer. Dua lab komputer. Gabungan dari kedua lab tersebut memberikan 120 komputer. Masih kurang 40 komputer lagi. Tidak apa-apa. Ujian pagi ini saya menduga akan ada yang telat. Kalau yang telatnya adalah 40 orang maka pas lah :)  Atau kalau tidak ada yang telat, mahasiswa dapat bergantian ujian.

Waktu yang saya berikan untuk ujian adalah 90 menit. Sementara soal yang saya buat ada 34 buah dan dapat dikerjakan kurang dari 30 menit. Itu dengan asumsi mahasiswanya paham apa yang saya tanyakan. Kenyataannya memang demikian. Banyak mahasiswa yang dengan cepat menyelesaikan UTS sehingga yang menunggu untuk ujian hanya beberapa orang. Itu pun menunggu kurang dari 10 menit.

Foto1891 mhs antri ttd 1000

[Foto mahasiswa ngantri untuk mengisi daftar hadir. Lebih lama mengantri ini daripada mengerjakaan soalnya sendiri.]

Poin pertama yang ingin saya sampaikan adalah kita harus menyediakan jumlah komputer yang cukup untuk melakukan ujian online.

Ketika ujian ada beberapa kejadian. Ada satu baris komputer, 4 komputer, yang tiba-tiba mati listriknya. Ternyata mahasiswa yang duduk di dekat dinding secara tidak sengaja kursinya menekan switch on/off dari power bar di dinding. Maka matilah 4 komputer tersebut. Setelah dinyalakan maka keempat mahasiswa tersebut harus mengulang kembali ujainnya. Untung sistem yang digunakan memperkenankan itu.

Ada juga mahasiswa yang komputernya tiba-tiba restart. Ada juga mahasiswa yang datang dengan membawa notebook dan minta ijin untuk menggunakan notebook tersebut daripada menunggu giliran mendapatkan komputer. Saya perkenankan. Eh, ternyata akses wifinya tidak stabil. Jadi mereka harus mengulang ujian dua kali. Akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan komputer desktop yang mulai ditinggalkan oleh mahasiswa yang sudah selesai.

Poin yang ingin disampaikan adalah infrastruktur harus reliable.

Ada masalah besar dalam menyelenggarakan ujian online. Saya ingin ujiannya bersifat “closed book”, tetapi bagaimana caranya? Browser yang digunakan kan bisa diarahkan ke Google untuk mencari jawaban di internet. Lebih parah lagi, di sistem blended learning yang saya gunakan untuk UTS ini juga saya gunakan untuk menyimpan materi kuliah dalam bentuk berkas presentasi. Mereka dapat melihat berkas ini untuk mencari jawaban.

Untuk itulah saya memberikan instruksi di kelas bahwa (1) mereka hanya diperkenankan untuk membuka UTS saja, (2) mereka harus memiliki kejujuran 100%. Bagaimana cara untuk memastikan hal ini secara teknis? Saya tidak tahu. Saya hanya mengingatkan mereka bahwa nilai dari UTS ini nilainya tidak terlalu penting dibandingkan dengan nilai kejujuran mereka. (Bobot dari nilai UTS ini akan sangat kecil.) Dengan kata lain mereka ujian terhadap diri sendiri. Jika mereka tidak dapat jujur kepada diri sendiri di lingkungan kampus yang notabene steril, bagaimana mereka dapat jujur di luar nanti?

Ujian ini adalah ujian terhadap kejujuran. Luluskah Anda?


UTS Kuliah II3062

Hari ini saya menyiapkan soal-soal untuk UTS kuliah II 3062 (Keamanan Informasi) yang akan dilakukan besok pagi, 19 Juli Maret 2013. Bagi mahasiswa saya, silahkan lihat instruksinya di halaman kuliah di server Blended Learning (BL).


Kumpul Kelas Online

Tadi pagi, akhirnya jadi juga kelas saya kumpul online. Sebelumnya saya sudah memberitahu mahasiswa untuk kumpul di channel IRC tertentu. Pagi tadi banyak yang hadir.

(Mengapa kami memutuskan menggunakan IRC telah dibahas di tempat lain. Singkatnya, IRC dipilih karena ini merupakan platform yang paling stabil untuk diskusi dengan jumlah orang yang banyak dan dengan kebutuhan sumber daya yang tidak begitu besar. Mahasiswa kelas saya ini jumlahnya sekitar 170 orang.)

Masalah pertama yang kami hadapi adalah identitas di IRC. Repot untuk mengasosiasikan identitas di IRC, dalam hal ini adalah nick name, dengan identitas mahasiswa sesungguhnya di kampus. Untuk itu disepakati untuk menggunakan id “NAMA-NIM”. Adanya NIM sangat membantu untuk menghubungkan kedua identitas tersebut.

Sebetulnya bisa juga digunakan “NIM-NAMA” (NIM duluan), tetapi nampaknya kurang elegan. NIM di belakang juga tidak apa-apa. Yang penting nanti dapat digunakan regular expression untuk memisahkan NIM dari identitas tersebut. Tinggal buat sebuah program untuk membuat konversi ke spreadsheet.

Masalah kedua adalah cara untuk menggantikan “mengangkat tangan” (polling) dalam bentuk digital. Misalnya, saya ingin bertanya seberapa banyak mahasiswa yang menggunakan WEB sebagai cara untuk mengakses IRC. Kalau ada mekanisme “angkat tangan digital” tentunya sangat memudahkan. Tinggal dihitung saja. Sekarang ini tidak ada. Mungkin harus membuat sebuah bot untuk melakukan hal tersebut. Jika mekanisme voting ini dilakukan di luar platform IRC maka akan repot bagi yang mengakses IRC dengan menggunakan handphone misalnya. Dia harus menjalankan aplikasi lain lagi hanya untuk voting dan kemudian kembali lagi ke IRC. Tidak natural.

Hal ketiga … IRC itu sangat “cerewet” (verbose). Mahasiswa ingin menyimak (membaca) tulisan saya saja. Mereka tidak ingin melihat ada tulisan yang mengatakan si-abc login / logout. Nah. Mungkin harus dibuatkan FAQ (frequently asked questions) terkait dengan penggunaan IRC sebagai mekanisme kumpul kelas. Hmmm…


[10:27] * FT__ (caf9191a@gateway/web/freenode/ip.202.249.25.26) has joined #kuliah-br
[10:28] * evecrest (~androirc@120.168.1.10) has joined #kuliah-br
[10:28] * pltobing (~patricklt@202.152.202.103) has joined #kuliah-br
[10:28] * stephanie182 (b6092e79@gateway/web/freenode/ip.182.9.46.121) has joined #kuliah-br
[10:28] * stephanie182 (b6092e79@gateway/web/freenode/ip.182.9.46.121) Quit (Client Quit)
[10:29] * evecrest (~androirc@120.168.1.10) Quit (Client Quit)
[10:29] * mgemaakbar (~mgemaakba@202.152.202.103) has joined #kuliah-br
[10:29] * mario_135 (c0ace279@gateway/web/freenode/ip.192.172.226.121) Quit (Ping timeout: 245 seconds)
[10:29] * damiannmm_135 (27d59e76@gateway/web/freenode/ip.39.213.158.118) has joined #kuliah-br

Demikian cerita pengalaman singkat kumpul kelas online.


Foto Kelas

Ini foto di awal kelas pagi (pukul 7 pagi!)

CIMG4161 kelas pagi 1000

Ini foto di akhir kelas (pukul 9 pagi)

CIMG4162 kelas akhir 1000

Ini belum semua mahasiswa hadir. Kadang ada yang duduk di lantai depan :)


Tidak Kultwit

Entah kenapa saya kok kurang sreg dengan kultwit, yaitu “kuliah” dengan menggunakan twitter. Tentu saja ini bukan seperti kuliah konvensional.

Apa ya yang membuat saya kurang sreg?

Yang pertama adalah ada perasaan kita “merendahkan” (watered down) materi yang ingin kita sampaikan. Bahkan dengan pertemuan tatap muka yang langsung mengajarkan materi saja sudah sulit diserap, ini apalagi dengan menggunakan medium yang hanya 140 karakter. Saya sebetulnya menyukai hal-hal yang baru, maju, terdepan, avant garde, tetapi ini sudah berlebihan.

Yang kedua, twitter adalah media yang sifatnya sekarang. Setelah itu, hilang. Maksudnya begini. Kalau kita ingin melihat catatan “kuliah” kita yang lalu bagaimana? Apakah kita menyimpan apa yang kita tuliskan 6 bulan yang lalu? Yang seperti ini lebih mudah dengan menggunakan blog, misalnya.

Yang ketiga, saya merasa banyak yang melakukan kultwit hanya bertujuan untuk menambahkan jumlah follower. Lah? Bukankah fungsi utama dari kultwit itu adalah “kuliah”? Yaitu mengajari.

Jadi gimana ya? No kultwit for me. At least, for now.


Bukti Hadir Secara Digital

Salah satu syarat untuk mengikuti ujian di perkuliahan adalah hadir minimal 80%. Nah, kalau kita menggunakan sistem e-learning, apa bukti kehadiran mahasiswa?

  • Mendownload materi? Apakah setiap hadir harus download?;
  • Check-in dengan mengunakan sebuah program/aplikasi tertentu (setelah itu check-out)?;
  • Menuliskan sesuatu di forum, daftar hadir online?;
  • Hadir di forum chat? (Berarti instruktur harus online juga);
  • Apa lagi ya? Mohon usulannya.

Atau memang syarat kehadiran sudah tidak diperlukan lagi? Jika demikian maka harus ada peraturan dari institusi untuk menyatakan hal itu.

Dua minggu lagi saya akan meminta mahasiswa saya hadir secara online. Sementara ini saya masih mencari cara untuk menunjukkan bahwa mereka “hadir” sebagai pengganti tanda tangan di daftar hadir konvensional.

Update. Saya lupa memberitahukan bahwa kelas saya ini pesertanya > 120 orang. Jadi rasanya tidak mungkin (dengan teknologi sekarang dan kualitas jaringan yang tersedia) kalau semuanya harus login dengan menggunakan video :). Untuk sekedar chatting dengan 120 orang saja sudah merupakan tantangan berat.


Tuhan dan Komputer

Ada seorang dosen yang memberikan tugas pengamanan sistem informasi kemahasiswaan kepada mahasiswanya. Sang mahasiswa harus membuat sebuah access control list (ACL) yang membatasi akses ke transkrip mahasiswa. Berikut adalah potongan kode yang dibuat oleh mahasiswa.
if "student" then allow;
if "dosen" then allow;
if "God" then allow;
else deny

Sang dosen kemudian memanggil mahasiswa tersebut.

“Tolong jelaskan ini!”, sambil menujuk baris yang ada kata “God”.
“Ada masalah apa, pak?” tanya sang mahasiswa.
“Ya, ini. Kok ada God?”
“Loh kan Tuhan ada di mana-mana pak. Mosok Tuhan tidak ada di komputer?”

[dosen pingsan ...]


(Foto) Kelas Pagi Ini

Kalau kemarin saya lupa memotret situasi kelas, maka tadi pagi (eh kalau jam 11 itu sudah termasuk siang ya?) saya potret kelas Keamanan Informasi Lanjut (S2). Ini dia hasilnya.

Foto1626 mahasiswa 1000 Foto1627 mahasiswa 1000

Mahasiswa masih bisa tersenyum karena perkuliahan baru dimulai. Belum ada tugas-tugas. Nah mungkin minggu-minggu depan senyum mulai menghilang dan dinggantikan dengan sakit kepala. He he he.

Selamat belajara.


Kuliah Hari Ini

Hari ini adalah hari pertama kuliah. Mulainya pagi sekali, pukul 7 pagi. Berarti saya harus berangkat dari rumah pukul 6 pagi. Tidak terlalu masalah.

Yang menarik adalah kelas saya pesertanya banyak sekali. Menurut daftar yang saya miliki ada 161 mahasiswa! Ini sih jadi mini konser. he he he. Itu belum lagi ada tambahan mahasiswa yang mau mendaftar (via PRS).

Di kampus kami jumlah kelas dengan kursi yang banyak terbatas sekali. Akhirnya tadi ada beberapa mahasiswa yang duduk di lantai. Padahal tadi yang hadir hanya 141 orang. Nampaknya harus ada 30 orang yang tidak hadir baru kelas ini bisa beroperasi. 30 orang itu sama seperti satu kelas. he he he.

Sayangnya saya kelupaan untuk memotret tadi. Waaa.


Apa Maksud Kalimat Ini?

Beberapa kali saya membuat tulisan tentang makalah mahasiswa yang isinya kacau balau. (Ceuk basa Sunda mah kacau bulao? he he he.) Pada tulisan tersebut saya tidak menampilkan contohnya sehingga mungkin kurang dapat diresapi oleh para pembaca (dan mahasiswa). Kali ini saya akan coba tampilkan beberapa contoh. Coba Anda apa maksud kalimat-kalimat berikut. (Sumber dari beberapa makalah. Bukan dari satu makalah. Tulisan ditampilkan persis apa adanya.)

  1. Perkembangan teknologi kendaraan yang telah dilengkapi system perangkat sambungan membuat semakin rentan terhadap celah keamanan cyber ini disebabkan perangkat seperti smart phone yang telah disusupi virus atau malware ketika tersambung ke perangkat kendaraan akan menginvasi system yang ada di kendaraan.
  2. Relai mesh adalah jaringan distribusi data. Menghubungkan relai RTP dari semua peserta dan pulau multicast menggunakan protokol RTP. Ancaman terhadap relai mesh dapat dipecah menjadi dua kelas: yang berhubungan dengan protokol RTP dan yang terkait dengan multicast IP yang digunakan untuk mengirimkan data ke peserta.
  3. Rangkuman sketsa trafik sangat penting untuk melakukan deteksi serangan, meskipun jumlah pengguna voip yang cukup dinamis, sketsa dapat memastikan bahwa sinyal lalu lintas baku dari semua periode pengambilan sampel adalah panjang yang sama, yang menyediakan kemudahan untuk melakukan deteksi berdasarkan wavelet.
  4. … Pertama karena tidak membawa perubahan yang besar terhadap HD, serangan tersebut mampu meminta ambang batas lebih tinggi dari pada menjalankan HD melebihi ambang batas. Kedua ketika serangan itu berakhir, hal itu menyebabkan penurunan secara tiba-tiba terhadap keseluruhan trafik jaringan dan konsekuensinya perubahan distribusi jaringan.
  5. … Lain konsep keamanan penting adalah kolusi dan resistensi statelessness. Sebuah skema kolusi penuh tahan yang kuat terhadap kolusi sejumlah pengguna dicabut. …
  6. Semenjak keamanan menyebar dalam konsep, berlaku juga untuk berbagai entitas, dimana dapat didistribusikan dan secara virtual (misalnya, seperti yang terjadi dalam kasus Cloud komputasi Grid atau arsitektur), pemahaman pengembangan yang tepat yang berhubungan dengan energi implikasinya dapat tidak layak jika tidak dibagi ke dalam lingkup kompleksitas rendah.

(Belum selesai. Nanti akan saya tambahkan contoh-contoh lain.)


(mahasiswa dan) Menulis Makalah

Saya sedang memeriksa tugas makalah mahasiswa sebagai bagian dari tugas mereka. Sayang sekali hasilnya tidak begitu baik. Misalnya masalah yang sering muncul adalah tidak mengerti bagaimana menggunakan referensi; tidak tahu cara mengutip dan menuliskan referensi. Padahal ini adalah bagian yang paling penting dalam dunia akademik.

Untuk mengetahui cara mengutip makalah dan menuliskannya dalam daftar referensi dapat dilakukan dengan membaca banyak makalah. Untuk mahasiswa pasca sarjana (S2, S3) tidak ada alasan untuk tidak membaca makalah. Kalau kita membaca banyak makalah, terbayanglah bagaimana pakem-pakem untuk menggunakan makalah. Kemudian kita baca aturan yang digunakan untuk kuliah / konferensi / jurnal yang bersangkutan. Ini semua ada aturannya. Tidang ngasal. Kalau tidak pernah baca makalah, ya bagaimana mau tahu? Setidaknya bacalah 100 makalah, gitu.

Mengutip juga harus dipelajari. Pengetahuan ini tidak dapat timbul dengan serta merta. Harus banyak berlatih. Salah mengutip dapat dianggap sebagai plagiat. Yang ini fatal akibatnya. Sayangnya hal ini sering dianggap remeh.

Mengutip itu tidak sama dengan menerjemahkan. Ada mahasiswa yang nekad mencoba menerjemahkan makalah. Memangnya tidak ketahuan? he he he. Ini sama dengan anak SD Indonesia yang mencoba menerjemahkan tulisan dari bahasa Perancis, misalnya. Ya bakalan ketahuanlah kalau menerjemahkan. he he he. Kalau hanya sekedar menerjemahkan sudah ada Google.

Di dunia akademik, Anda dinilai dari tulisannya. Tidak dapat menulis sama dengan tidak lulus. Titik.

Bagi mahasiswa saya yang sedang saya periksa tugasnya, silahkan perbaiki dahulu sebelum saya nilai.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.839 pengikut lainnya.