Arsip Tag: Menulis

… saya ingin bercerita

Baru saja saya nonton serial Castle di TV. Seru pokoknya. Ini cerita yang mana Castle akhir ketemu bapaknya tanpa direncanakan. Yang paling saya sukai justru pada bagian akhirnya, di mana si Castle berkata kepada ibunya, “You know mom, I have something to tell you.” dan kemudian berhenti. Hi hi hi. Pemirsa diharapkan melanjutkan sendiri.

Kalau di sinetron Indonesia, akhirnya tidak begitu tetapi sang jagoan (dalam hal ini si Castle-nya) berkata kepada ibunya: “Ibu, tahukah ibu bahwa saya ketemu bapak“. he he he. Semuanya harus dikatakan secara eksplisit. Patronizing. Tidak percaya kepada kita bahwa kita dapat memikirkan alur cerita yang lebih menarik di kepala masing-masing.

Padahal yang justru menarik adalah jika ceritanya dibuat menggantung. Ini memberikan kesempatan kepada pemirsa untuk mengkhayal. Bagaimana ya si Castle akan cerita ke ibunya? Bagaimana ya respon ibunya? Gembira? Sedih? Itu adalah hak yang pantas dinikmati oleh pemirsa. Hak untuk mengkhayal.

Jadi, begini ya para pembaca sekalian, saya ingin bercerita …


Gambar di Makalah

Salah satu kesalahan yang sering terjadi pada makalah (mahasiswa) adalah menggunakan gambar dengan seenaknya. Sebagai contoh ini adalah tampilan sebuah makalah yang sedang saya periksa. Apa kesalahannya?

tugas mahasiswa gambar

Gambar nampaknya diambil (di-scan atau di-screenshot) dari makalah lain. Terlihat latar belakang yang berbeda (berwarna gelap) dan tulisan (fonts) yang kabur. Seharusnya gambar ini dibuat ulang. Atau kalau memang ingin menggunakan gambar dari sumber lain, buat kualitasnya yang bagus sehingga masih terbaca. Apa gunanya gambar yang  tidak terbaca?

Kesalahan kedua, yang tidak dapat dilihat dari gambar di atas tetapi dapat dilihat pada makalah sesungguhnya, adalah penulis tidak menyebutkan sumbernya. Alih-alih ini dapat dianggap sebagai pelanggaran hak cipta atau malah plagiat.


Setiap Hari Menulis Buku

Lagi mendengarkan lagu dari Elvis Costello dengan judul “Everyday I write the book“. Langsung saya menghayal, bisa tidak ya kalau saya setiap hari menulis buku?

Ini menulis blog saja, yang notabene bisa seenaknya, sudah terseok-seok. Apalagi harus menulis buku setiap hari. Hadoh. Apa yang diceritakan ya?

Oh iya, sebetulnya setiap hari selalu ada kejadian yang berbeda dan unik sehingga bisa menjadi tulisan. Mestinya. Kalau setiap hari sama saja, betapa membosankannya hidup kita ya? Eh, jangan-jangan kehidupan kalian begitu. Lempeng saja. Bosen dong?

Kembali ke menulis buku setiap hari, saya masih belum sanggup. Mulai dari ngeblog setiap hari dulu saja ah. hi hi hi.


Cerita Lebih Penting

Dalam sebuah diskusi ada seorang mahasiswa yang bertanya bagaimana menyikapi kelemahan infrastruktur IT di Indonesia sehingga sulit untuk mengembangkan aplikasi (dalam hal ini games) yang high quality (dari segi kualitas suara, gambar, dan sejenisnya). Dia mengatakan bahwa gara-gara infrastruktur yang kurang baguslah kita sulit untuk mengembangkan karya yang bagus. Sulit untuk mendapatkan pengguna atau penggemar.

Jawaban saya saya peroleh dari nara sumber adalah bahwa tidak benar kualitas itu menentukan kepopuleran. Bahwa yang penting adalah ceritanya. Contoh, kita tetap menonton film dari CD/DVD bajakan dengan kualitas yang rendah. Yang kita kejar adalah ceritanya. Tentu saja kalau kualitas gambar dan suaranya lebih bagus kita lebih suka, tetapi dengan kualitas yang seadanya pun kita tetap akan menonton. Saya setuju dengan pendapat ini.

Ini lebih menguatkan pendapat bahwa cerita itu lebih penting. Dan tentunya cara menceritakannya – how to tell the story – itu juga penting. Sayangnya ini tidak diajarkan di sekolah. Terpaksa kita harus belajar sendiri. Mari kita belajar untuk membuat cerita dan menceritakannya dengan menarik.


Kredibilitas Makalah

Ada mahasiswa yang bertanya apakah cukup menggunakan dua referensi di makalahnya. Wah. Hanya dua? Menurut saya ini kurang. Kesannya hanya menerjemahkan dari dua referensi tersebut.

Saya tidak tahu apakah kurangnya referensi ini karena memang topiknya demikian baru dan susah sehingga jarang (belum ada) orang yang menulis atau karena sang mahasiswa belum optimal (baca: malas) dalam mencari referensi. Jaman sebelum ada internet, kesulitan mencari referensi memang dapat dimengerti. Hanya tempat yang memiliki perpustakaan yang bagus saja yang tidak memiliki masalah. Kalau sekarang? Hampir semuanya dapat diakses melalui internet sehingga tidak ada alasan untuk tidak mendapatkan referensi. (Ada kasus-kasus tertentu, tetapi ini anomali.)

Kredibilitas dari sebuah makalah salah satunya ditentukan dengan referensi yang digunakannya. Memang jumlah bukanlah satu-satunya ukuran yang dapat digunakan. Biarpun jumlahnya banyak tetapi referensinya tidak bagus hasilnya juga tidak bagus. Hanya saja, kalau dua itu nampaknya masih kurang.


Kesabaran Dalam Menulis

Saya nampaknya termasuk orang yang kurang sabar dalam menulis. Yang saya maksud dengan kesabaran di sini adalah kedalaman ketika kita menjabarkan sebuah obyek. Sebagai contoh, ketika menceritakan sebuah pohon maka saya akan menulis pohon jambu yang berada di depan rumah saya. Titik. Begitu saja. Saya tidak punya cukup kesabaran untuk menceritakan lebih lanjut mengenai pohon tersebut; apakah dia banyak buahnya, sudah berapa lama pohon tersebut tumbuh, atau bahkan saya tidak cukup sabar untuk menjelaskan bahwa jambu yang saya maksud adalah jambu air bukan jambu bol. he he he. Akibatnya tulisan saya menjadi terlalu singkat. Plot saja.

Mungkin saya termasuk yang kurang suka dengan cerita yang terlalu berbunga-bunga. Saya lebih suka mendapatkan inti dari alur ceritanya kemudian mengembangkan sendiri cerita itu dalam kepala saya. Mengkhayal. Itulah sebabnya saya lebih suka cerita yang tidak terlalu menyuapi pembacanya dengan rincian. Berikan pembaca secukupnya dan biarkan mereka mengkhayal. Itu yang terbaik menurut saya.

Namun saya sadar bahwa yang terbaik menurut saya bukan berarti yang terbaik menurut banyak orang. Maka dari itu seharusnya saya belajar untuk lebih sabar dalam menulis. Harus berlatih. (Mencari latihan menulis.)


Akademik vs. Populer

Saat ini saya menugaskan mahasiswa untuk membuat makalah sebagai bagian dari penilaian kuliah keamanan informasi (information security). Saya meminta mahasiswa untuk membuat makalah yang akademik, bukan artikel populer. Resminya sih namanya technical report. Ternyata mahasiswa banyak yang bingung karena belum mengerti maksudnya artikel yang akademik. Maklum mereka mungkin belum pernah menulis makalah untuk seminar atau jurnal.

Ukuran tingkat kesulitan dari makalah tersebut kira-kira begini. Tulisan tersebut kalau dikirimkan ke majalah – bahkan majalah komputerpun – akan dianggap terlalu teknis dan tidak ada pembacanya. Tulisan akan ditolak editor. Sementara itu kalau makalah dikirimkan ke jurnal akan dianggap terlalu rendah (tidak ada kebaharuan).

Makalah juga tidak boleh menjelaskan secara normatif. Kalimat di bawah ini kurang kena (seperti politisi saja – hi hi hi):

Penggunaan kartu kredit memiliki risiko sehingga pengamanan harus dilakukan dengan baik.

Jika kalimat di atas hanya digunakan sebagai kalimat pembuka tentu saja boleh, tetapi kalau pembahasannya hanya sebatas itu maka tidak boleh. Kurang teknis. Kurang akademik. Pembahasan yang saya maksud misalnya adalah menggunakan kriptografi sehingga brute force attack terhadap passwordnya membutuhkan 2^299 kombinasi. Something like that … Adanya persamaan matematik juga dapat menunjukkan ke-akademik-annya. hi hi hji.

Tentu saja maksud saya bukan membuat makalah menjadi lebih pelik dengan menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti. Banyak orang yang melakukan hal ini dengan tujuan untuk membingungkan. Bingung = akademik? Salah. Ini juga akan mengurangi penilaian karena sisi kejelasan (clarity) akan mendapatkan nilai kecil.

Tulisan ini jelas tidak akademik. Ini masuk ke kategori tulisan populer.


Sialan Salman!

Entah kenapa, dua buku yang terakhir saya miliki – “at-twitter” dari Pidi Baiq dan “Sialan Salman!” dari Salman Aditya – ternyata ditulis oleh orang-orang yang “sinting”. (Punten ah.)  Yang saya maksud dengan sinting di sini sebetulnya lebih ke arah mbeling, aneh, lucu, kacau, dan hiperbol. Hmmm… jangan-jangan memang mereka sesungguhnya memang memliki kelainan dalam artian sebenarnya. hi hi hi.

CIMG4653 salman 1000

Pertama, tentu saja judulnya sudah menimbulkan pertanyaan. Siapa Salman? Dan kenapa sialan? Untuk pertanyaan pertama gampang jawabannya. Siapa Salman? Ya dia yang menulis buku ini Salman Aditya. Tadinya saya berpikir ini tentang Salman yang namanya diabadikan jadi nama masjid di kampus ITB. Eh, jangan-jangan memang ide nama Salman ini datang dari sana juga karena bapaknya Salman – yang Aditya lho, bukan yang orang Persia – itu dosen ITB. Yang membuat saya heran adalah bapaknya itu orangnya serius, anaknya kok bisa jadi kayak gini ya? he he he. Ampun pak dosen :)

Kedua, saya sering heran dan kagum terhadap kemampuan orang memilih kata-kata. Ada buku yang pemilihan kata-katanya indah. Kalau buku yang ini, pemilihan kata-katanya mbeling, aneh, lucu, kacau, dan hiperbol. he he he. Ini yang justru membuatnya menjadi seru. Otak kita dibawa ke arah yang tidak lazim. Saya yakin otak mereka memang agak miring sehingga dapat melihat kata-kata di kamus yang memang hanya bisa dilihat kalau agak miring. Kalau yang ajeg kayak saya ini munculnya kata – eh, data – yang membosankan. Sialan!

Maka sialan Salman pun menjadi sebuah cerita komedi yang seru.

Oh ya, more thing, karya-karya yang kreatif seperti ini harus dihargai, didukung. Encourage them to create more. Kalau kata orang Sunda, “sok dibeli atuh”.

Mau tahu lebih banyak tentang buku ini? Silahkan lihat di sialansalman.com/books


Belajar Menulis (dengan tablet)

Satu hal yang masih mengganjal saya dalam menggunakan iPad (atau tablet secara umum) adalah menulis dengan tangan. Tulisan saya sangat buruk. Jadinya ini mengingatkan saya akan orang tua yang sering marah-marah kalau melihat tulisan anaknya yang jelek. Masalahnya (sang orang tua ini) lupa bahwa belajar itu tidak mudah. Lihat saja tulisan kita di tablet. Super jelek.

Kita lupa bahwa anak-anak itu belum bisa menulis dan kemudian diperkenalkan dengan media kertas untuk menuangkan tulisannya. Sama seperti kita yang masih gagap dengan tablet. Kalau belum biasa tentunya hasilnya belum dapat dikatakan bagus. Ini normal, kan?

Saya mau belajar menulis halus di tablet ah. Ada aplikasi yang disarankan? (Saya pakai iPad dan Android – di handphone.)

Update: memenuhi permintaan, berikut saya tampilkan contoh tulisan tangan saya (menggunakan jari) di smartphone.

Foto2005 tulisan tangan 1000


Kisah Mahasiswa Bimbingan

Sang dosen menatap mahasiswa bimbingannya yang mencoba menjelaskan idenya. Bulir-bulir keringat mulai terlihat di dahinya. Hi hi hi. Sang dosen ingin tertawa tapi  tidak sampai hati. Jangan-jangan aku juga dulu begitu, gumamnya.

Mahasiswa selesai menjelaskan. Dosen terdiam sejenak. Pasang muka serius.

Wah, ini salah besar dik“.

Dosen terdiam sejenak untuk melihat ekspresi mahasiswa. Sang mahasiswa terkejut. Cemas. Bulir-bulir keringat menampakkan dirinya. Mengalir.

Eh, sudah benar ding“, sang dosen akhirnya berkata.

Diam sejenak. Mahasiswa masih tegang. Hi hi hi. Cukup penyiksaan ini.

Begini, dik. Kita … ” dan seterusnya, dan seterusnya.

Diskusipun kembali berlangsung. Mahasiswa sudah tenang. Dosen pembimbing pun serius mengarahkan mahasiswa. Bulir-bulir keringat menghilang. Berganti dengan asap yang mengepul dari kepala mahasiswa dan dosen.


Membuat Cerita Yang Menarik

Baru saja saya menonton sebuah seri (misteri, detektif, sains) di TV. Ceritanya menarik sekali. Saya menjadi iri. Bagaimana caranya agar saya dapat membuat cerita yang sama menariknya ya? Atau, mungkin sepersekiannya saja sudah cukup.

Saya coba bandingkan dengan cerita sinetron kita. Wah. Jauh sekali bandingannya, bagai bumi dan langit. (Eh, mungkin perumpamaan ini tidak tepat ya. Kalau diumpamakan bumi dan langit, maka mana yang bagus dan mana yang buruk? Apakah langit lebih bagus dari bumi? hi hi hi.)

Satu hal yang saya tandai adalah cerita-cerita kita itu sering berkesan “patronizing”. (Saya masih kesulitan mencari kata yang tepat.) Maksud saya adalah ceritanya sering berkesan menyuapi penonton. Mari kita ambil contoh.

Ceritanya ada satu tokoh yang menunggu sangat lama di depan pintu ruang operasi. Kalau di film “Barat”, yang ditampilkan adalah image sang tokoh yang berdiri tegar. Badan agak bergoyang sedikit. Nampaknya sudah pegal dia berdiri terus. Di tangannya ada kopi. Di dekatnya ada meja dan terlihat ada dua gelas kertas bekas kopi. Tidak ada kata-kata. Pemirsa diminta untuk membuat interpretasi sendiri, yang akhirnya menyimpulkan bahwa sang tokoh ini sudah lama berdiri menunggu (menantikan hasil operasi).

Kalau dalam sinetron Indonesia, cerita di atas ditampilkan sebagai berikut.

[Tokoh berdiri. Disorot mukanya.]
Tokoh berkata, “aku sudah di sini sejak dari pagi”.

he he he. Begitulah. Pemirsa dianggap sebagai orang bodoh dan harus diberitahu bahwa sang tokoh sudah berdiri cukup lama. Ini yang saya maksudkan dengan “patronizing“. Akibatnya ceritanya menjadi tidak menarik. Justru menariknya sebuah cerita adalah ketika sang pemirsa (atau pembaca buku dalam kasus baca buku) dapat membuat rekaan sendiri. Menyimpulkan sendiri.

Kembali kepada topik utama, bagaimana membuat cerita yang menarik ya? Cerita saya kok seringnya datar-datar saja. Kurang sentuhan perasaan atau kejutan. hi hi hi


Membuat Slide Presentasi

Baru selesai membuat slide materi presentasi. Fiyuh. Saya sadar bahwa membuat slide presentasi itu tidak mudah. Maksudnya adalah slide presentasi yang enak (indah) untuk dilihat dan tentunya mudah dimengerti.

Kebanyakan orang membuat materi presentasi asal-asalan. Pokoknya asal memenuhi syarat administratif saja, yaitu asal poin-poinnya nampak di materi presentasinya. Mereka tidak mempertimbangkan kata-kata yang digunakan.

Desainnya pun asal-asalan. Yang saya maksud dengan asal-asalan adalah yang terlalu banyak animasi atau gambar yang malah membuat bingung. Kalau isi dari presentasi kosong melompong, biar didesain bagus pun tetap akan kosong melompong. he he he.

Ada banyak tempat untuk melihat contoh-contoh slide yang bagus, misalnya Slide Share. Untuk yang di Indonesia ada presentonomics.


Aku Dan Saya

Pemilihan kata untuk menyatakan diri ini sungguh memusingkan. Sekarang ini kata “saya” lebih sering saya gunakan di blog ini. (Tuh kan, saya.) Entah kenapa saya merasa kata “saya” ini lebih netral meskipun berkesan agak formal.

Ketika menggunakan kata “aku”, ada kesan personalisasi, romantisme, dan kedekatan yang berlebihan. Bahkan untuk tulisan yang agak berbau fiksi sekalipun saya kadang enggan menggunakan kata “aku”. Padahal semestinya aku itu lebih cocok daripada saya.

Saya orang biasa

dan

Aku orang biasa

terasa berbeda, bukan? Lebih enak yang terakhir.

Saya sebetulnya ingin tahu pendapat pembaca ketika saya menggunakan kata “aku”. Bolehkah aku menjadi aku?


Karya Sastra

Sedang ada beberapa diskusi (keributan?) soal karya sastra. Katanya saat ini tidak ada lagi karya sastra yang bagus. Apa kriteria sebuah karya dapat disebut sebuah karya sastra (yang bagus tentunya)? Berkualitas? Siapa yang menentukan ini?

Ada yang mengatakan bahwa penulis-penulis sekarang kurang mampu menghasilkan karya yang setara dengan penulis-penulis jaman dahulu. Apakah ini benar? Saya sering menanyakan kepada mahasiswa siapa pengarang kesukaan Anda saat ini. Jawabannya seringkali adalah tidak tahu, ataupun kalau ada sangat bervariasi. Artinya memang tidak ada satu penulis yang sangat menonjol. Bagaimana menurut Anda?

Saya ingin membuat sebuah karya sastra yang bagus. Master piece. Tapi kalau hanya nulis di blog saja nampaknya hal ini hanya jadi impian atau halusinasi saja ya? Ah, setidaknya saya sudah memulai.


Kurang Isi Berbahasa Indonesia

Banyak orang ingin membuat portal berita, forum, milis (mailing list), blog, dan seterusnya. Setelah mereka buat ternyata sepi pengunjung. Mereka lupa bahwa yang membuat sebuah tempat hidup adalah adanya interaksi atau isi (content). Bahwa menyediakan tempat saja itu tidak cukup.

Bayangkan kalau kita membuat sebuah toko, katakanlah toko buku, yang isinya itu-itu saja. Tidak berubah selama berbulan-bulan. Pasti toko ini hanya ramai di awalnya saja. Setelah itu orang tidak mau berkunjung kembali. Untuk apa? Toh akan tetap seperti itu-itu saja. Tidak ada yang baru.

Hal serupa juga terjadi di dunia digital. Orang akan malas datang ke blog | portal | situs kita jika tidak ada yang baru. Apa artinya ini? Artinya adalah kita harus rajin mengisi dengan cara menulis.

Saya mengikuti beberapa milis. Kebanyakan mati. Milis yang hidup adalah milis yang memiliki orang yang rajin untuk menulis. Jika tidak ada yang berdiskusi, maka dia mengisi.

Sekarang kita bicara soal tulisan yang original atau tidak. Kebanyakan orang sekarang lebih senang melakukan repost | retwit | copy-paste tulisan. Ini sangat tidak menarik. Pasalnya orang sudah mendapatkan isi tersebut dari tempat lain. Akan muak dia kalau melihat tulisan yang sama di tempat kita juga. Maka dari itu, tulisan orisinal (biarpun lebih buruk dari segi kualitas) lebih menarik daripada repost.

Percayalah.

Lihat saja tulisan ini. Dari segi isi dan tulisan rasanya tidak ada hebat-hebatnya, tetapi yang menarik adalah … orisinal (dan tidak main stream). Orang tidak bosan. Meskipun bisa jadi tidak menarik juga. he he he.

Sebenarnya saya ingin membuat masterpiece. Tidak sekedar hanya membuat tulisan saja. Untuk membuat masterpiece nampaknya harus dimulai dari membuat yang biasa-biasa saja dahulu.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.125 pengikut lainnya.