Tag Archives: Menulis

Sang Pecundang

Pecudang! Loser! Ingin kuteriakkan kata-kata itu kepadamu. Engkau belagak seperti seorang pemenang, padahal sesungguhnya engkau sudah kalah telak. Bahkan sebelum memasuki gelanggangpun aku sudah tahu engkau bakalan kalah. Namun aku tak ingin mendahului kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa untuk mengatakan bahwa engkau akan kalah.

Kalah atau menang itu tidak masalah. Itu hanya merupakan sebuah permainan belaka. You win some, you lose some. Namun bagaimana kau menyikapi kekalahan atau kemenangan itulah yang utama. Pecudang itu lebih tepat untuk diterapkan kepada sikap itu.

Pecudang! Loser! Tak jadi kata-kata itu kuteriakkan kepadamu. Rasa kasihan muncul melebihi rasa amarah. Aku kasihan melihat dirimu yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya engkau itu memang sudah kalah tetapi engkau merasa seharusnya engkau menang. Seharusnya? Justru memang engkau seharusnya kalah. Logika dan perasaan hati pun, keduanya, mengatakan engkau memang belum saatnya untuk memenangkan pertandingan tadi. Maka aku kasihan kepadamu karena engkau belum dapat menerima itu.


Parodi Superhero (3)

Spiderman baru sampai kamarnya. Rebahan sebentar ah. Capek. Sambil rebahan dia melirik pintu. Eh, ada kertas di bawah pintu. Nampaknya disodorkan ketika dia sedang pergi.

Sambil malas-malas dia bangun dan mengambil kertas itu. Ternyata ini undangan untuk pemilihan presiden. Wah dapat juga undangan nyoblos. Tertera namanya, spiderman. Sebetulnya dia sedang mikir juga, darimana KPU tahu dia tinggal di sini? Tetapi karena dia sedang senang untuk ikutan pilpres ini, dia tidak peduli. Sebelum-sebelumnya dia termasuk yang golput. Kali ini dia gagal golput. hi hi hi.

Zzz … saking lelahnya, spiderman tertidur dengan menggenggam kertas itu di tangannya. Menggenggam sebuah harapan.

Pagi hari menjelang. Spiderman melemaskan ototnya dengan sedikit berolah raga di atas atap gedung. Hari yang baik. Hari yang membuat perubahan. Nyoblos hari ini. Yeah, yeah, yeah. Loncat sana, loncat sini.

Jam 10 pagi spiderman mulai berangkat menuju TPS yang tertera pada kertas panggilan nyoblos. Tidak jauh dari tempat tinggalnya. Bisa jalan santai saja. Tidak perlu heboh loncat dari satu gedung ke gedung lainnya. Melenggang dia berjalan.

Sepanjang jalan dia melihat orang-orang ceria. Mereka nampaknya menuju TPS masing-masing. Beberapa di antaranya melambaikan tangan. Spiderman melambaikan tangan lagi. Aura perayaan hadir.

Sesampainya di TPS, spiderman menyodorkan kertas panggilan yang dia bawa kepada petugas TPS. Petugas TPS melihat nama yang tertera. Tertegun. Spiderman sudah merasa gede rumangsa (ge-er) dulu. Pasti petugas sudah tahu siapa dia. Petugas mengerutkan dahinya.

“Ada masalah?”, tanya spiderman. Waswas.
“Nganu. Mas bawa identitas tidak?”, jawab petugas.

Spiderman tersentak. Baru kali ini dia ditanya identitasnya. Bukankah sudah jelas?

“Ini mas”, kata spiderman sambil menunjukkan baju pakaiannya dari kepala ke kaki. Berharap sang petugas dapat menerima identitasnya.

Petugas menggelengkan kepala. “Tidak bisa mas”.

“Lho, kenapa? Kan saya sudah jelas saya spiderman”, jawab spiderman.

“Dan mereka juga”, kata sang petugas sambil menunjuk tiga anak kecil yang berpakaian spiderman. Menari-nari sambil menunjuk-nunjuk spiderman. Nampaknya mereka diajak oleh orang tuanya ke TPS dengan memakai pakaian spiderman.

Spiderman pusing … Ngelu … memikirkan cara untuk membuktikan bahwa dia benar-benar spiderman. Tadinya terpikir untuk membuka kedoknya dan menunjukkan bahwa dia adalah Peter Parker, tapi nanti jadi ketahuan siapa dia. Lagi pula yang diundang untuk pemilu adalah spiderman, bukan Peter Parker. Kemudian dia punya ide.

“Mas, tapi mereka kan gak bisa begini”, kata spiderman sambil meloncat ke gedung. Menjulurkan tangannya. Jala keluar dari tangannya. Berayun dia dari satu gedung ke gedung yang lain. Yiiihaaa … Orang-orang bersorak sorai. Spiderman mendarat kembali ke depan petugas.

“Bagaimana mas?”

Petugas celingukan. Melihat ke orang-orang di sekitar dan saksi. Semuanya mengangguk. Persetujuan.

“Ok mas spiderman. Silahkan menunggu panggilan”

Spiderman pun bernafas lega. Yaaayyy. Kali ini aku tidak lagi golput. Jayalah negaraku.

[Seri parodi superhero: 1, 2, 3]


Tidak Boleh Berhenti (Untuk Berbuat Baik)

Aku lelah
Ketika ku mencoba berbuat baik
Olok-olok yang kudapat

Aku ingin berhenti
Untuk berbuat baik

(namun)
Ketika ku lihat orang itu
Tidak lelah berbuat baik
Meski olok-olok yang dia dapat

Aku malu berhenti
Untuk berbuat baik

Aku tidak boleh berhenti
Untuk berbuat baik


Menulis Karya Ilmiah

Ya, saya masih memeriksa revisi tugas mahasiswa. Masih banyak – atau bahkan sebagian besar? – mahasiswa kita belum mahir menulis karya ilmiah. Mungkin dapat saya generalisir lebih lanjut, mahasiswa belum mahir menulis. Titik. Kejam amat ya?

Masalah utama bagi mahasiswa adalah mereka menyepelekan penulisan. Dianggapnya menulis itu hanya sekedar mengurutkan kata-kata. Atau lebih ekstrim lagi menulis itu mengurutkan huruf-huruf. a i u e o. Bagi mereka, memilih kata itu tidak penting. Padahal kata yang berbeda memiliki makna dan efek yang berbeda kepada pembaca. “Kamu salah!” atau “Anda kurang tepat” memiliki efek yang berbeda, bukan?

Menuangkan alur pemikiran dalam tulisan yang runut merupakan sebuah tantangan. Kita tidak dapat mencampurkan semuanya dalam satu bagian. Untuk makanan, gado-gado pun harus dipilih apa yang akan dicampur. Kalau gado-gado dicampur dengan cumi-cumi dan bajigur rasanya jadi kacau balau. he he he.

Bahkan untuk sekedar menuliskan dalam format yang konsistenpun ternyata banyak yang belum paham. Ngasal saja. Padahal tulisan yang tidak enak dipandang akan menghasilkan nilai yang buruk karena pembaca sudah antipati duluan. Seharusnya memang isi yang lebih penting, tetapi penampilan pada kenyataannya adalah yang membukakan pintu kepada pembaca. Setelah pintu terbuka, kita sodorkan isinya. Bagaimana pembaca atau penguji akan memeriksa tulisan kita jika “pintu” tertutup?

Lantas bagaimana caranya agar kita dapat menulis karya ilmiah yang baik (dan indah)? Latihan, latihan, dan latihan menulis. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar latihan-latihan ini menyenangkan sehingga kita melakukannya? Itu merupakan topik bahasan di lain kesempatan.


Atensi Kepada Detail (dalam menulis)

Menulis, seperti pekerjaan lainnya, mencerminkan pola kerja kita. Pada tulisan ada komponen isi dan ada komponen tampilan visual. Pasalnya, tulisan itu harus dibaca dengan menggunakan mata. Maka komponen visual itu menjadi penting. (Ada audiobook, tetapi itu menjadi bahasan terpisah.)

Komponen visual ini sering dilupakan oleh banyak orang. Akibatnya, membacanya menjadi melelahkan, membosankan, menyebalkan. Bahkan untuk karya ilmiah, format tulisan menjadi sangat penting. Huruf besar atau kecil, tebal (bold) atau tidak, diletakkan di tengah atau pinggir, dan seterusnya menjadi hal yang sakral.

Saya ambil contoh buruk tulisan mahasiswa untuk lebih jelasnya.

IMG_5131 tugas mhs 1000

Perhatikan komentar-komentar saya di tulisan tersebut. Ada banyak hal detail yang dilupakan oleh penulis pada bagian referensi. Hal-hal semacam ini *SANGAT MENGGANGGU* dalam hal visual dari tulisan. Bahkan untuk hal ini, nilai menjadi buruk. Jika ini sebuah buku thesis atau disertasi, sudah pasti akan ditolak.

Jadi, sekali lagi, perhatikan detail dari tulisan Anda. Ok?


Minimnya Kemampuan Berkarya

Melihat kondisi di media sosial, saya menduga bahwa kemampuan berkarya kita memang masih minim. Mari kita ambil contoh. Kebanyakan masih pada tahap mengambil link dari sana sini (dan itu juga tidak dicek kredibilitasnya), copy-paste, dan paling banter membuat komentar. Itu urusan tulisan. Untuk gambar, foto, apalagi video sangat jarang sekali. Inilah yang membuat saya menduga bahwa kemampuan berkarya kita itu minimal.

Sebetulnya dugaan saya ini mungkin salah. Kemampuan itu mungkin ada, tetapi kemauan yang tidak ada. Skill ada tetapi willingness yang tidak ada. Hasilnya yang juga sama, tidak ada atau minim. Tetapi penyebabnya berbeda.

Masalah kemampuan atau skill itu dapat diajarkan, tetapi kalau tidak ada kemauan ya susah. Tidak mau! Malas! Kenapa mesti repot? Itu yang harus dilawan.

Perlu ada upaya untuk membujuk orang Indonesia untuk lebih menghasilkan karya. Sehingga hasilnya bukan hanya sekedar komentar, copy-paste, atau comot sana sini tetapi karya-karya yang dapat dinikmati dengan lebih utuh.

Ini kita baru berbicara soal membuat dulu ya. Soal adanya dulu.  Soal kualitas itu menyusul. Kalau belum apa-apa sudah terbebani dengan kualitas, bisa-bisa hilang lagi kemauan itu. he he he. Makanya kadang saya juga merasa bagaimana gitu dengan tulisan saya yang hanya begini-begini saja. Tetapi saya tetap memaksakan diri agar kemauan itu tidak hilang. Begitu.


Menulis Itu Tidak Mudah

Baru saja saya menulis sebuah email. Tidak panjang. Ternyata habis waktu hampir 30 menit untuk menuliskan email tersebut. Padahal sebelumnya saya sudah memiliki catatan poin-poin yang ingin saya sampaikan dalam email tersebut. Kebayang kalau belum ada.

Mengapa bisa lama? Ada waktu untuk menuliskan kalimat, kemudian diubah kembali karena kalimatnya kurang cocok. Ada kalimat yang membuat orang tersinggung. Ada kalimat yang terlalu njlimet sehingga orang sulit untuk memahaminya. Atau ada juga kalimat yang kurang menggigit tetapi saya tidak tahu lagi harus diapakan. Dan seterusnya. Ini belum termasuk mencari kata yang pas. Yang ini sih saya sudah tahu jawabannya, sulit menemukan kata yang pas. Akhirnya saya tetap berjalan dengan kata yang seadanya – itulah sebabnya kumpulan kata saya tidak maju-maju. Tapi itu cerita lain.

Itu baru menulis email saja sudah kelimpungan. Bagaimana mau menulis yang lebih panjang, seperti menulis novel. Hi hi hi. Sudah terbayang banyaknya waktu yang dibutuhkan. Belum lagi memikirkan plot dan emosi yang ingin dibawa. Menulis data saja sudah susah. Apalagi menulis cerita. Tapi kalau memang mau menulis bagaimana lagi? Dilakukan saja ya.

Menulis itu memang tidak mudah. Ternyata.

Eh, tapi ini jangan dijadikan alasan untuk tidak menulis atau ngeblog. ha ha ha.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.739 pengikut lainnya.