Tag Archives: Menulis

Menulis Itu Tidak Mudah

Baru saja saya menulis sebuah email. Tidak panjang. Ternyata habis waktu hampir 30 menit untuk menuliskan email tersebut. Padahal sebelumnya saya sudah memiliki catatan poin-poin yang ingin saya sampaikan dalam email tersebut. Kebayang kalau belum ada.

Mengapa bisa lama? Ada waktu untuk menuliskan kalimat, kemudian diubah kembali karena kalimatnya kurang cocok. Ada kalimat yang membuat orang tersinggung. Ada kalimat yang terlalu njlimet sehingga orang sulit untuk memahaminya. Atau ada juga kalimat yang kurang menggigit tetapi saya tidak tahu lagi harus diapakan. Dan seterusnya. Ini belum termasuk mencari kata yang pas. Yang ini sih saya sudah tahu jawabannya, sulit menemukan kata yang pas. Akhirnya saya tetap berjalan dengan kata yang seadanya – itulah sebabnya kumpulan kata saya tidak maju-maju. Tapi itu cerita lain.

Itu baru menulis email saja sudah kelimpungan. Bagaimana mau menulis yang lebih panjang, seperti menulis novel. Hi hi hi. Sudah terbayang banyaknya waktu yang dibutuhkan. Belum lagi memikirkan plot dan emosi yang ingin dibawa. Menulis data saja sudah susah. Apalagi menulis cerita. Tapi kalau memang mau menulis bagaimana lagi? Dilakukan saja ya.

Menulis itu memang tidak mudah. Ternyata.

Eh, tapi ini jangan dijadikan alasan untuk tidak menulis atau ngeblog. ha ha ha.


Mengkhayalpun Harus Disuapi

Salah satu kehebatan cerita di buku adalah kita bisa mengkhayal. Jika diceritakan tentang seorang yang tinggi dan besar, maka apa yang ada di kepala saya dan Anda akan berbeda. Demikian juga deskripsi tentang lingkungan yang ada juga dapat berbeda jauh. Berbeda dengan film, yang mana apa yang ditampilkan di sana merupakan visualisasi dari pembuat filmnya.

Perbedaan visualiasi ini mungkin justru yang membuat seseorang menyukai (atau membenci) sebuah cerita. Mungkin apa yang diceritakan itu nyambung dengan perjalanan hidupnya, yang ketika itu sedang bergembira ria (atau berduka). Perbedaan visualisasi ini terkait dengan latar belakang sang pembaca (atau penonton untuk film, teater, opera). Orang yang berasal dari lingkungan terdidik di luar negeri mungkin akan mudah menangkap cerita yang futuristik, terbang ke luar angkasa. Sementara yang lingkungannya seperti kita mungkin lebih mudah menerima cerita mistik. hi hi hi.

Ada yang menarik perhatian saya dalam cara orang Barat dan Indonesia bercerita. Dalam cerita-cerita di Barat, seringkali tidak semuanya diceritakan secara harfiah. Pembaca diharapkan mengisi sendiri dengan interpretasinya. (Ini sudah pernah saya ceritakan sebelumnya.) Misalnya seseorang yang menunggu lamaaa sekali. Maka yang ditampilkan adalah seseorang yang kusut penampilannya. Duduk. Berdiri. Ada beberapa kaleng minuman di dekat situ. Mungkin juga ada bungkus makanan. Atau kalau dia merokok, ditampilkan asbak dengan banyak puntung rokok. Sementara cara orang Indonesia bercerita beda lagi; ditampilkan orang itu dan dia berkata “aku sudah menunggu lama di sini”. hi hi hi.

Bagi saya cara yang terakhir itu sangat menyebalkan. Membunuh khayalan. Patronizing. Memangnya saya tidak dapat menarik interpretasi sendiri? Grrr. Tapi mungkin saya salah. Mungkin kultur di Indonesia memang demikian. Semuanya harus dituntun atau disuapi. Bahkan mengkhayalpun harus disuapi? Ya Tuhan … (OMG)


Gagal Ngeblog

Saya baru sadar bahwa beberapa hari ini gagal ngeblog. Alasan klasiknya adalah sibuk. Alasan sesungguhnya adalah … sibuk. hi hi hi. Beberapa hari terarkhir ini memang acara cukup padat. Misalnya, pulang dari Jakarta sudah lelah dan keesokan harinya harus ngajar pukul 7 pagi. Jadi malamnya menyiapkan kuliah sedikit. Lantas paginya pukul 6 sudah harus berangkat dari rumah. Nah kalau barusan, kecapekan main futsal sehingga ketiduran. Bangun-bangun, tengah malam. Langsung ngeblog ini.

Banyak orang yang gagal ngeblog karena kebingunan dengan topik yang mau dibahas. Writer’s blocked. Saya kadang mengalami hal yang sama, tetapi seringkali tidak. Kegagalan saya biasanya adalah karena mau menulis sebuah topik tetapi kurang data pendukung. Sebagai contoh, saat ini sebetulnya saya ingin menulis tentang “pinholes glasses”. Itu lho kacamata yang kacanya diganti dengan lubang-lubang. Hanya saja untuk menulis tentang ini sayang ingin menampilkan foto kacamatanya. Artinya saya harus memotret kacamata yang baru saya beli ini. Belum sempat motretnya. Mosok tengah malam gini jeprat jepret motret dulu? hi hi hi.

Ada beberapa topik lain yang ingin saya tulis, seperti misalnya saya memulai kelas dengan memutar musik. Musik apa yang saya putar? Atau tentang apa kaitannya antara kebutuhan internet cepat dengan security. Atau tentang buku yang menceritakan IDEO. Atau … Pokoknya banyak deh. Intinya, soal topik saya tidak kekurangan. Yang kekurangan adalah waktu untuk memiliki data atau cerita yang lebih rinci.

Saya biasanya ngeblog harus dalam suasana tenang, yaitu malam hari. Mungkin saya harus mencoba ngeblog di siang hari, di sela-sela kesibukan. Perlu dicoba.


Menarik dan Mengikat Perhatian

Sering saya berada pada sebuah presentasi – seminar, sidang mahasiswa, kuliah, rapat, dan sejenisnya – yang isinya bagus tapi penyampaiannya kurang menarik. Saya lihat sang pembicara kehilangan perhatian dari para pendengarnya. Ingin rasanya berteriak dan mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh sang pembicara ini penting, tetapi situasi tidak memungkinkan. Sang pembicara salah karena tidak dapat menarik dan mengikat perhatian pendengar. Di sisi lain, pendengar hanya memiliki rentang waktu perhatian yang sangat singkat. Salahkah mereka?

Kesulitan menarik dan mengikat perhatian juga terjadi pada buku, film, acara tv,  musik, dan juga blog. Ada banyak buku yang topiknya sangat penting dan menarik tetapi disampaikan dengan cara yang tidak menarik. Baru baca beberapa halaman sudah bosan. Akhirnya buku disimpan di rak saja. Blog pun demikian. Baru baca beberapa kalimat, langsung ditinggalkan ke situs lainnya.

Lantas bagaimana cara menarik perhatian pendengar, pemirsa, dan pembaca? Setelah itu, bagaimana pula untuk mengikat perhatian mereka? Jawabannya adalah saya tidak punya. ha ha ha. Lah, sayapun sedang belajar. Sebetulnya ada beberapa hal yang saya duga dapat digunakan, tetapi ini belum saya buktikan. Namanya juga dugaan.

Pemilihan kata-kata merupakan satu hal yang saya duga sangat penting. Namun sayapun sering kesulitan untuk mencari kata-kata yang pas. Diksi saya terbatas. Saya sering terkagum-kagum melihat kepandaian orang dalam merangkai kata-kata. Luar biasa. Dari mana mereka mendapatkan inspirasi seperti itu? Kreatif sekali.

Karena saya tidak memiliki kemampuan merangkai kata-kata yang indah, maka saya ambil pendekatan dengan kejujuran. Saya mengungkapkan apa adanya saja. Namun yang saya ungkapkan bukanlah data atau fakta saja tetapi dengan emosi. Yang saya maksud dengan emosi ini bukan marah-marah, sebagaimana kebanyakan orang Indonesia. he he he. Maksud saya mungkin lebih tepatnya adalah “emotion”, “feeling”, atau apa ya? Rasa? Nah, ini merupakan salah satu contoh kesulitan saya (dalam mencari kata yang pas) dan cara saya menyelesaikannya (dengan menceritakan apa adanya, kejujuran). Pendekatan kejujuran dan rasa ini cocok untuk saya. Banyak orang yang mendengarkan ketika saya bicara.

Dugaan saya lagi adalah cara yang digunakan oleh setiap orang boleh jadi berbeda. Cara saya belum tentu cocok untuk Anda. Anda harus mencari cara yang pas. Sementara itu, saya masih harus terus belajar merangkai kata-kata.


Keterpurukan Media Indonesia

Ini sebetulnya di luar jangkauan saya. Di luar kelas saya. Out of my league. Tetapi saya menjadi malu sendiri melihat kualitas pemberitaan di media kita. Yang saya maksud dengan media di sini adalah media massa seperti surat kabar dan televisi.

Ada banyak kasus di sini. Media yang tidak melakukan verifikasi terhadap kebenaran berita sehingga akhirnya menjadi bulan-bulanan. (Contoh: PM Singapura unfried SBY di Facebook. Padahal sumbernya dari situs guyonan.) Media yang “dibeli” oleh pemiliknya untuk memberitakan kegiatan pemiliknya dalam rangka pemilu. Yang ini tidak perlu saya sebutkan contohnya, bukan? Masih ada (banyak?) yang lainnya, tetapi sudahlah. Berharap mereka berubah sama dengan menunggu … (apa ya? godot?). Kalau kata orang sono, “if pigs could fly” atau “when hell freezes over”. wk wk wk.

Yang menyedihkannya adalah media yang dianggap pembaharu, yang menggunakan situs internet, sekarang juga sudah terjun bebas. Judul berita dibuat bombastis dan tidak nyambung sehingga orang mengunjungi situs tersebut. Mereka memilih untuk menaikkan kunjungan semu ke situsnya. Belum lagi teknik mereka memotong berita sehingga menjadi dua atau tiga halaman. Lagi-lagi untuk meningkatkan jumlah kunjungan, sehingga nantinya bisa diceritakan kepada pemasang iklan bahwa kunjungan ke tempat mereka itu sekian banyak. Padahal semu.

Pembacapun banyak yang salah. Baca berita hanya baca judulnya kemudian komentar, atau meneruskan (forward / share). Akibatnya berita yang salah pun makin menyebar. Waks.

Situs blog seperti punya saya ini – yang katanya berfungsi sebagai citizen journalism – juga belum mampu menggantikan kekuasaan media konvensional. Kenapa? Karena, lagi-lagi demi untuk meningkatkan popularitas, banyak yang menulis dengan mengambil sumber berita dari media konvensional. hi hi hi. Defeat the purpose. Padahal jumlah yang ngeblog dengan tulisan yang original juga tidak banyak. Semakin nihil pengaruhnya. hi hi hi. Kalau lebih kecil dari nihil apa ya? Negatif ya?

Kemarin saya diwawancara (untuk sebuah radio via telepon). Salah satu yang saya keluhkan adalah kurangnya content yang positif untuk dibaca. Apalagi untuk anak-anak ya? Masih sangat kering. Itulah sebabnya kita punya tanggungjawab untuk berkreasi dalam menulis. Kita tidak hanya mengeluh, ngomel-ngomel, tetapi juga memberikan solusi.

Mari …


Budaya Komentar

Melihat tampilan di media sosial seperti Facebook, saya melihat sebuah pola; kebanyakan orang menampilkan tulisan dari media lain (seperti Detik, Kompasiana, YouTube, dan lain-lan) dan kemudian memberi komentar. Ternyata kebisaan kebanyakan orang Indonesia adalah membuat komentar. Ini cukup memprihatinkan. (Ya, terpaksa saya menggunakan kata itu juga.) Komentar biasanya berukuran pendek, satu kalimat atau bahkan hanya beberapa kata saja.

Ini menunjukkan kurangnya kemampuan kita – orang Indonesia – untuk menulis dalam ukuran yang lebih panjang. Atau kalau mau kita generalisir, kemampuan analisis kita ternyata masih minim. Eh, jangan-jangan kita memang tidak mampu menulis. Maka dari itu kita harus banyak belajar dan berlatih untuk melakukan analisis dan menulis. Jika tidak, maka kita memang hanya jagoan komentar saja. Sayangnya di sekolah-sekolah, yang diajarkan adalah kemampuan menjawab pertanyaan, bukan melakukan analisis, sintesa, dan menulis. Bahkan untuk sekedar mengkhayal dan menuliskannyapun kita tidak mampu. Hadoh!


Mengulang Tulisan

Baru saja saya membuat sebuah tulisan. Setengah jalan, baru terpikir oleh saya bahwa kemungkinan saya sudah pernah menuliskan topik yang sama. Walah. Terus terang saya enggan untuk membaca tulisan saya sendiri. Ada perasaan “bagaimana” gitu. Maksudnya “bagaimana” itu kurang puas, malu, dan hal-hal yang negatif. Akibatnya nanti malah saya menjadi takut untuk menulis. Takut salahlah, takut kurang baik, dan takut-takut lainnya. Akhirnya saya ambil pakem tulis dan lupakan. hi hi hi.

Buruknya pendekatan ini ya seperti tadi. Saya menemukan diri saya menuliskan topik yang sama lebih dari satu kali. Kalaupun sadar, kadang sudah setengah jalan tulisannya. Hilang waktu terbuang dengan percuma. (Seharusnya sih tidak percuma karena ini dapat dilihat sebagai latihan.)

Jadi bagaimana? Jadi … saya beri peringatan kepada Anda, bahwa kapan-kapan Anda (sudah dan) akan menemukan tulisan saya yang berulang. Jangan heran. Biarkan saja. Maafkan sajalah. hi hi hi.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.839 pengikut lainnya.