Arsip Tag: Menulis

Draft Buku Tentang Twitter

Baru saja saya upload draft tulisan (buku) tentang Penggunaan “Twitter Yang Baik Dan Benar“. Silahkan unduh dari tempat berikut:

http://www.scribd.com/doc/169350630/Twitter-Baik-dan-Benar

Selamat menikmati.

Oh ya, saya masih mencari tempat lain untuk upload draft buku ini. Ada saran? (Maunya yang bisa menimpa versi lamanya supaya versi yang terbaru yang didownload.)


Haus Guyonan Dan Tidak Kreatif

Membaca guyonan / joke / lawakan / lelucon tentang cara Vicky berbicara di berbagai media sosial akhir-akhir ini menunjukkan kepada saya bahwa

  1. masyarakat kita haus huyonan;
  2. kita tidak kreatif.

Mosok yang gitu saja dianggap sebagai guyonan (yang bagus karena di-broadcast ke mana-mana)? Padahal itu kan kelemahan dia (dan juga musibah bagi orang lain). Bagi saya, itu tidak lucu.

Ini juga menunjukkan bahwa kita tidak kreatif. Kita tidak bisa menciptakan bodoran-bodoran lain yang lebih lucu. he he he. Padahal katanya ini jaman kreatif dan kita adalah creative society.

Ayo dong, yang pandai membuat lelucon … turun tangan!

 


Serpihan Ide

Sejujurnya ini adalah catatan diri dalam berusaha untuk menulis. Tadi ada beberapa ide tulisan blog. Karena satu dan lain hal, saya menunda untuk menuliskannya. Sekarang, ide-ide tersebut buyar. Bertebaran. Mereka menjadi serpihan ide.

Kalau saya kumpulkan, serpihan-serpihan ide itu bertuliskan kata-kata seperti berikut.

makalah, deadline, grafik, set, foto, hash, rainbow, security, food, budget, seminar, laporan, dana, lambat, tanggung jawab, musik, raspberry pi, gitar, teori, praktek, dropbox, leadership, update, pemrograman, URL, generator, woles, kopi, mainstream.

Mungkin bisa dibuatkan sebuah program untuk membuat sebuah cerita berdasarkan kata-kata di atas? Hmm…


Kesabaran Dalam Menjelaskan

Salah satu kelemahan dari engineer – mungkin tidak hanya engineer ya? – adalah ketidaksabaran dalam menjelaskan. Seringkali mereka menuliskan data – yang kadang kala dalam jumlah yang banyak – tetapi tidak memberikan penjelasan apa maksudnya. Mereka merasa bahwa orang lain harusnya sudah tahu / mengerti apa yang terjadi dari data yang mereka berikan. Mosok begitu saja tidak tahu? Padahal sering kali tidak tahu.

Untuk menjelaskan hal yang teknis dibutuhkan kesabaran yang luar biasa. Seringkali pendengar atau pembaca belum (tidak) mengerti data yang kita berikan. Mereka bukan orang yang bodoh, tetapi belum mengerti saja. Misalnya, kalau saya berikan keluaran hasil scanning dari program nmap, orang yang pandai sekalipun – misal profesor di bidang Biologi – belum tentu dapat memahami maknanya. Mereka bukan orang yang bodoh, tetapi karena bukan domainnya, mereka tidak tahu. Jangankan kepada orang di bidang Biologi, orang di bidang Teknologi Informasi pun jika tidak menggeluti bidang security atau jaringan tidak akan paham keluaran dari program nmap. Setelah kita jelaskan, mereka akan paham.

port 21/tcp open …

Menjelaskan ini ternyata merupakan sebuah seni (art). Bagaimana kita dapat menjelaskan sesuatu kepada seseorang sehingga dia memahaminya, tanpa perlu harus terlalu dalam (dan lama) menjelaskannya dan pada saat yang sama tidak membuat penjelasan tersebut terlalu enteng (ringan, encer, watered down)? Kalau terlalu ringan jadinya malah diremehkan. Itu dia …

Ini semua yang membuat penulisan dokumen teknis (report writing) merupakan sebuah kemampuan yang langka.


Krisis Penulis

Di tempat kami sedang ribut karena ada banyak pekerjaan tetapi kekurangan orang. Salah satu yang paling sering dikeluhkan adalah kekurang penulis. Technical writer. Untuk penulis yang bisa menulis dalam bahasa Indonesia saja sudah kekurangan apalagi yang bisa menulis dalam bahasa Inggris juga. Hadoh.

Kalau Anda dapat menulis dengan baik, pasti akan ada banyak kerjaan untuk Anda. Anda tidak kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan. (Kalau honor, itu cerita lain. he he he. Just kidding.)

Kemampuan menulis tidak akan muncul secara instan. Dia harus diasah terus menerus. Saya saja yang sudah tahunan menulis sering merasa iri melihat tulisan orang-orang, terutama tulisan fiksi. Tapi ini cerita lain. Sebetulnya tulisan teknis maupun fiksi sama saja. Kemampuan untuk menulis memang harus diasah. Saya beritahu sebuah rahasia. Blog ini sebetulnya adalah tempat saya untuk belajar menulis. hi hi hi. There you go. Now you know a secret. (Kok kayak lagunya the Beatles saja.)

Kebanyakan orang yang memiliki kemampuan teknis sering tidak suka menulis. Mereka hanya fokus kepada data. Kalaupun disuruh menulis, hasilnya hanya satu baris atau bahkan hanya dalam bentuk point form. Untuk mengembangkan poin tadi menjadi tulisan susahnya setengah mati. Tentu saja ini disebabkan mereka tidak pernah berlatih. Coba saja mereka berlatih, pasti lebih mudah. Bukan gampang, tetapi lebih mudah.

Ada terlalu banyak alasan untuk tidak berlatih menulis. Alasan yang paling banyak digunakan adalah sibuk. hi hi hi. Sibuk? Tapi facebook-an kok masih sempat? ha ha ha.

Sementara itu nampaknya krisis ini akan masih bertahan …


… saya ingin bercerita

Baru saja saya nonton serial Castle di TV. Seru pokoknya. Ini cerita yang mana Castle akhir ketemu bapaknya tanpa direncanakan. Yang paling saya sukai justru pada bagian akhirnya, di mana si Castle berkata kepada ibunya, “You know mom, I have something to tell you.” dan kemudian berhenti. Hi hi hi. Pemirsa diharapkan melanjutkan sendiri.

Kalau di sinetron Indonesia, akhirnya tidak begitu tetapi sang jagoan (dalam hal ini si Castle-nya) berkata kepada ibunya: “Ibu, tahukah ibu bahwa saya ketemu bapak“. he he he. Semuanya harus dikatakan secara eksplisit. Patronizing. Tidak percaya kepada kita bahwa kita dapat memikirkan alur cerita yang lebih menarik di kepala masing-masing.

Padahal yang justru menarik adalah jika ceritanya dibuat menggantung. Ini memberikan kesempatan kepada pemirsa untuk mengkhayal. Bagaimana ya si Castle akan cerita ke ibunya? Bagaimana ya respon ibunya? Gembira? Sedih? Itu adalah hak yang pantas dinikmati oleh pemirsa. Hak untuk mengkhayal.

Jadi, begini ya para pembaca sekalian, saya ingin bercerita …


Gambar di Makalah

Salah satu kesalahan yang sering terjadi pada makalah (mahasiswa) adalah menggunakan gambar dengan seenaknya. Sebagai contoh ini adalah tampilan sebuah makalah yang sedang saya periksa. Apa kesalahannya?

tugas mahasiswa gambar

Gambar nampaknya diambil (di-scan atau di-screenshot) dari makalah lain. Terlihat latar belakang yang berbeda (berwarna gelap) dan tulisan (fonts) yang kabur. Seharusnya gambar ini dibuat ulang. Atau kalau memang ingin menggunakan gambar dari sumber lain, buat kualitasnya yang bagus sehingga masih terbaca. Apa gunanya gambar yang  tidak terbaca?

Kesalahan kedua, yang tidak dapat dilihat dari gambar di atas tetapi dapat dilihat pada makalah sesungguhnya, adalah penulis tidak menyebutkan sumbernya. Alih-alih ini dapat dianggap sebagai pelanggaran hak cipta atau malah plagiat.


Setiap Hari Menulis Buku

Lagi mendengarkan lagu dari Elvis Costello dengan judul “Everyday I write the book“. Langsung saya menghayal, bisa tidak ya kalau saya setiap hari menulis buku?

Ini menulis blog saja, yang notabene bisa seenaknya, sudah terseok-seok. Apalagi harus menulis buku setiap hari. Hadoh. Apa yang diceritakan ya?

Oh iya, sebetulnya setiap hari selalu ada kejadian yang berbeda dan unik sehingga bisa menjadi tulisan. Mestinya. Kalau setiap hari sama saja, betapa membosankannya hidup kita ya? Eh, jangan-jangan kehidupan kalian begitu. Lempeng saja. Bosen dong?

Kembali ke menulis buku setiap hari, saya masih belum sanggup. Mulai dari ngeblog setiap hari dulu saja ah. hi hi hi.


Cerita Lebih Penting

Dalam sebuah diskusi ada seorang mahasiswa yang bertanya bagaimana menyikapi kelemahan infrastruktur IT di Indonesia sehingga sulit untuk mengembangkan aplikasi (dalam hal ini games) yang high quality (dari segi kualitas suara, gambar, dan sejenisnya). Dia mengatakan bahwa gara-gara infrastruktur yang kurang baguslah kita sulit untuk mengembangkan karya yang bagus. Sulit untuk mendapatkan pengguna atau penggemar.

Jawaban saya saya peroleh dari nara sumber adalah bahwa tidak benar kualitas itu menentukan kepopuleran. Bahwa yang penting adalah ceritanya. Contoh, kita tetap menonton film dari CD/DVD bajakan dengan kualitas yang rendah. Yang kita kejar adalah ceritanya. Tentu saja kalau kualitas gambar dan suaranya lebih bagus kita lebih suka, tetapi dengan kualitas yang seadanya pun kita tetap akan menonton. Saya setuju dengan pendapat ini.

Ini lebih menguatkan pendapat bahwa cerita itu lebih penting. Dan tentunya cara menceritakannya – how to tell the story – itu juga penting. Sayangnya ini tidak diajarkan di sekolah. Terpaksa kita harus belajar sendiri. Mari kita belajar untuk membuat cerita dan menceritakannya dengan menarik.


Kredibilitas Makalah

Ada mahasiswa yang bertanya apakah cukup menggunakan dua referensi di makalahnya. Wah. Hanya dua? Menurut saya ini kurang. Kesannya hanya menerjemahkan dari dua referensi tersebut.

Saya tidak tahu apakah kurangnya referensi ini karena memang topiknya demikian baru dan susah sehingga jarang (belum ada) orang yang menulis atau karena sang mahasiswa belum optimal (baca: malas) dalam mencari referensi. Jaman sebelum ada internet, kesulitan mencari referensi memang dapat dimengerti. Hanya tempat yang memiliki perpustakaan yang bagus saja yang tidak memiliki masalah. Kalau sekarang? Hampir semuanya dapat diakses melalui internet sehingga tidak ada alasan untuk tidak mendapatkan referensi. (Ada kasus-kasus tertentu, tetapi ini anomali.)

Kredibilitas dari sebuah makalah salah satunya ditentukan dengan referensi yang digunakannya. Memang jumlah bukanlah satu-satunya ukuran yang dapat digunakan. Biarpun jumlahnya banyak tetapi referensinya tidak bagus hasilnya juga tidak bagus. Hanya saja, kalau dua itu nampaknya masih kurang.


Kesabaran Dalam Menulis

Saya nampaknya termasuk orang yang kurang sabar dalam menulis. Yang saya maksud dengan kesabaran di sini adalah kedalaman ketika kita menjabarkan sebuah obyek. Sebagai contoh, ketika menceritakan sebuah pohon maka saya akan menulis pohon jambu yang berada di depan rumah saya. Titik. Begitu saja. Saya tidak punya cukup kesabaran untuk menceritakan lebih lanjut mengenai pohon tersebut; apakah dia banyak buahnya, sudah berapa lama pohon tersebut tumbuh, atau bahkan saya tidak cukup sabar untuk menjelaskan bahwa jambu yang saya maksud adalah jambu air bukan jambu bol. he he he. Akibatnya tulisan saya menjadi terlalu singkat. Plot saja.

Mungkin saya termasuk yang kurang suka dengan cerita yang terlalu berbunga-bunga. Saya lebih suka mendapatkan inti dari alur ceritanya kemudian mengembangkan sendiri cerita itu dalam kepala saya. Mengkhayal. Itulah sebabnya saya lebih suka cerita yang tidak terlalu menyuapi pembacanya dengan rincian. Berikan pembaca secukupnya dan biarkan mereka mengkhayal. Itu yang terbaik menurut saya.

Namun saya sadar bahwa yang terbaik menurut saya bukan berarti yang terbaik menurut banyak orang. Maka dari itu seharusnya saya belajar untuk lebih sabar dalam menulis. Harus berlatih. (Mencari latihan menulis.)


Akademik vs. Populer

Saat ini saya menugaskan mahasiswa untuk membuat makalah sebagai bagian dari penilaian kuliah keamanan informasi (information security). Saya meminta mahasiswa untuk membuat makalah yang akademik, bukan artikel populer. Resminya sih namanya technical report. Ternyata mahasiswa banyak yang bingung karena belum mengerti maksudnya artikel yang akademik. Maklum mereka mungkin belum pernah menulis makalah untuk seminar atau jurnal.

Ukuran tingkat kesulitan dari makalah tersebut kira-kira begini. Tulisan tersebut kalau dikirimkan ke majalah – bahkan majalah komputerpun – akan dianggap terlalu teknis dan tidak ada pembacanya. Tulisan akan ditolak editor. Sementara itu kalau makalah dikirimkan ke jurnal akan dianggap terlalu rendah (tidak ada kebaharuan).

Makalah juga tidak boleh menjelaskan secara normatif. Kalimat di bawah ini kurang kena (seperti politisi saja – hi hi hi):

Penggunaan kartu kredit memiliki risiko sehingga pengamanan harus dilakukan dengan baik.

Jika kalimat di atas hanya digunakan sebagai kalimat pembuka tentu saja boleh, tetapi kalau pembahasannya hanya sebatas itu maka tidak boleh. Kurang teknis. Kurang akademik. Pembahasan yang saya maksud misalnya adalah menggunakan kriptografi sehingga brute force attack terhadap passwordnya membutuhkan 2^299 kombinasi. Something like that … Adanya persamaan matematik juga dapat menunjukkan ke-akademik-annya. hi hi hji.

Tentu saja maksud saya bukan membuat makalah menjadi lebih pelik dengan menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti. Banyak orang yang melakukan hal ini dengan tujuan untuk membingungkan. Bingung = akademik? Salah. Ini juga akan mengurangi penilaian karena sisi kejelasan (clarity) akan mendapatkan nilai kecil.

Tulisan ini jelas tidak akademik. Ini masuk ke kategori tulisan populer.


Sialan Salman!

Entah kenapa, dua buku yang terakhir saya miliki – “at-twitter” dari Pidi Baiq dan “Sialan Salman!” dari Salman Aditya – ternyata ditulis oleh orang-orang yang “sinting”. (Punten ah.)  Yang saya maksud dengan sinting di sini sebetulnya lebih ke arah mbeling, aneh, lucu, kacau, dan hiperbol. Hmmm… jangan-jangan memang mereka sesungguhnya memang memliki kelainan dalam artian sebenarnya. hi hi hi.

CIMG4653 salman 1000

Pertama, tentu saja judulnya sudah menimbulkan pertanyaan. Siapa Salman? Dan kenapa sialan? Untuk pertanyaan pertama gampang jawabannya. Siapa Salman? Ya dia yang menulis buku ini Salman Aditya. Tadinya saya berpikir ini tentang Salman yang namanya diabadikan jadi nama masjid di kampus ITB. Eh, jangan-jangan memang ide nama Salman ini datang dari sana juga karena bapaknya Salman – yang Aditya lho, bukan yang orang Persia – itu dosen ITB. Yang membuat saya heran adalah bapaknya itu orangnya serius, anaknya kok bisa jadi kayak gini ya? he he he. Ampun pak dosen :)

Kedua, saya sering heran dan kagum terhadap kemampuan orang memilih kata-kata. Ada buku yang pemilihan kata-katanya indah. Kalau buku yang ini, pemilihan kata-katanya mbeling, aneh, lucu, kacau, dan hiperbol. he he he. Ini yang justru membuatnya menjadi seru. Otak kita dibawa ke arah yang tidak lazim. Saya yakin otak mereka memang agak miring sehingga dapat melihat kata-kata di kamus yang memang hanya bisa dilihat kalau agak miring. Kalau yang ajeg kayak saya ini munculnya kata – eh, data – yang membosankan. Sialan!

Maka sialan Salman pun menjadi sebuah cerita komedi yang seru.

Oh ya, more thing, karya-karya yang kreatif seperti ini harus dihargai, didukung. Encourage them to create more. Kalau kata orang Sunda, “sok dibeli atuh”.

Mau tahu lebih banyak tentang buku ini? Silahkan lihat di sialansalman.com/books


Belajar Menulis (dengan tablet)

Satu hal yang masih mengganjal saya dalam menggunakan iPad (atau tablet secara umum) adalah menulis dengan tangan. Tulisan saya sangat buruk. Jadinya ini mengingatkan saya akan orang tua yang sering marah-marah kalau melihat tulisan anaknya yang jelek. Masalahnya (sang orang tua ini) lupa bahwa belajar itu tidak mudah. Lihat saja tulisan kita di tablet. Super jelek.

Kita lupa bahwa anak-anak itu belum bisa menulis dan kemudian diperkenalkan dengan media kertas untuk menuangkan tulisannya. Sama seperti kita yang masih gagap dengan tablet. Kalau belum biasa tentunya hasilnya belum dapat dikatakan bagus. Ini normal, kan?

Saya mau belajar menulis halus di tablet ah. Ada aplikasi yang disarankan? (Saya pakai iPad dan Android – di handphone.)

Update: memenuhi permintaan, berikut saya tampilkan contoh tulisan tangan saya (menggunakan jari) di smartphone.

Foto2005 tulisan tangan 1000


Kisah Mahasiswa Bimbingan

Sang dosen menatap mahasiswa bimbingannya yang mencoba menjelaskan idenya. Bulir-bulir keringat mulai terlihat di dahinya. Hi hi hi. Sang dosen ingin tertawa tapi  tidak sampai hati. Jangan-jangan aku juga dulu begitu, gumamnya.

Mahasiswa selesai menjelaskan. Dosen terdiam sejenak. Pasang muka serius.

Wah, ini salah besar dik“.

Dosen terdiam sejenak untuk melihat ekspresi mahasiswa. Sang mahasiswa terkejut. Cemas. Bulir-bulir keringat menampakkan dirinya. Mengalir.

Eh, sudah benar ding“, sang dosen akhirnya berkata.

Diam sejenak. Mahasiswa masih tegang. Hi hi hi. Cukup penyiksaan ini.

Begini, dik. Kita … ” dan seterusnya, dan seterusnya.

Diskusipun kembali berlangsung. Mahasiswa sudah tenang. Dosen pembimbing pun serius mengarahkan mahasiswa. Bulir-bulir keringat menghilang. Berganti dengan asap yang mengepul dari kepala mahasiswa dan dosen.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.586 pengikut lainnya.