Tag Archives: Musik

Nambah Artis dan Lagu

Baru saja saya selesai menandatangani kontrak dengan pak Bambang, yang membawa enam (6) artis / band untuk dimasukkan ke Insan Music Store. Masih ada tiga (3) band lagi yang akan dimasukkan segera. Mungkin lusa. Yang baru masuk adalah Manic Band, Shieraru Band, Parasti Band, Aya Agasi, Randa Hutagalung, dan Haji Atik Kobe. Keren!

DSC_3507 bambang br 1000

Selain berdiskusi tentang artis / band tersebut, kami juga membahas hal lain seperti buku, produk multimedia, dan banyak lagi. Ada banyak yang dapat disinergikan. Pak Bambang ini ternyata super sibuk juga dengan berbagai komunitasnya; mulai dari musik, teater, buku, sampai juga agama. Keren. Mungkin ke depannya kita bisa menyelenggarakan event bersama.

Artis / band yang lain masih ditunggu. Semoga kita sukses bersama.


Buka Lapak Musik di Bandung CFD

Tadi, kami buka lapak (start up) toko musik digital kami Insan Music Store (twitter: @insanmusic, facebook: insan music store) lagi di Bandung Car Free Day. Kali ini lokasinya di depan kantor BRI (depan hotel Patra Jasa). Kebetulan rekan-rekan di sana mendukung kegiatan ini. Terima kasih BRI.

Kali ini acaranya merupakan gabungan dari tiga kegiatan; (1) Insan Music Store saya, (2) C-generation-nya pak Suhono, dan (3) Kelompok robotnya pak Soni AVRG. Acara ini juga didukung oleh Telkomsel (dengan Simpati Loop-nya). Seru acaranya. Pak Suhono dan pak Soni nanti biar cerita yang lainnya, saya mau cerita tentang lapak musik digital saya saja ya.

IMG_4625 robot avrg 1000

Robot (hexapod?) karya mahasiswa ITB asuhan pak Soni AVRG.

Kesempatan kali ini kami manfaatkan untuk manggung. Saya dan anak (Luqman) manggung 2 lagu, kemudian dilanjutkan dengan band Kasmaran (4 lagu), dan band Memories (2 lagu). Sebetulnya kami menunggu band-band lainnya untuk ikut tampil, tetapi acara kali ini terlalu singkat. Jadi lumayanlah tadi. Tiga band saja sudah habis waktunya. Lain kali kita buat waktunya yang lebih panjang sehingga bisa lebih banyak yang manggung ya.

DSC_3417 LR BR 1000

Father and Son Music

IMG_4629 kasmaran band 1000

Kasmaran Band

DSC_3456 memories band 1000

Memories Band

Sebagaian foto  dapat dilihat di akun twitter dan halaman facebook Insan Music Store. Foto-foto lainnya menyusul.

Minggu ini fokus kami memang masih pada pengenalan toko musik digital kami dan mencari band atau artis yang ingin bergabung. Dua minggu lagi kami akan mulai melakukan penjulan dan tentunya masih juga mencari lagu-lagu yang akan kami jualkan.

Sukses! Jreng!


Insan Music Store

Progress dari toko musik digital kami.

Pertama, situs web sudah siap di www.insanmusic.com. Masih sederhana dan akan diperbaharui secara berkala. Yang penting up and running dulu. hi hi hi.

Kedua, hari Minggu ini (4 Mei 2014) kami akan buka lapak kembali di Bandung Car Free Day (CFD). Tempatnya di depan Bank BRI. Acaranya jam 7 pagi sampai jam 10 pagi. Jika Anda memiliki lagu dan siap untukj didistribusikan melalui toko musik kami, bawa langsung ke sana dan tanda tangan kontrak di sana.


Software Musik Open Source

Kemarin saya memberikan presentasi tentang software-software musik open source di acara ICrOSS 2014 (Indonesia Creative Open Source Software), yang diselenggarakan di hotel Bumi Surabaya. Pada intinya sekarang sudah banyak software untuk musik yang berbasis open source; mulai dari music player, composer, MIDI sequencer, sampai ke untuk rekaman dengan kualitas studio.

Salah satu yang kami demokan di acara itu adalah Ardour. Lihat situs webnya deh. Ini sebuah aplikasi yang komplit, yang dapat digunakan untuk merekam lagu dalam bentuk audio dan MIDI. Kualitasnya tidak kalah dengan yang proprietary. Saya sendiri lebih sering menggunakan Audacity, untuk merekam genjrengan sendiri atau bahkan untuk mengubah dari kaset ke MP3. Sayangnya tidak banyak studio yang tahu tentang aplikasi-aplikasi ini. Kebanyakan masih menggunakan software bajakan atau menggunakan versi gratisannya yang terbatas.

Di akhir presentasi ada tanya jawab. Salah satu pertanyaannya adalah adakah komunitas yang ngoprek software musik open source ini di Indonesia?


Karakteristik Bandung Car Free Day

Hari ini untuk kedua kalinya kami buka lapak toko musik digital kami (Insan Music Store) di Bandung Car Free Day (CFD). Tujuannya masih seperti sebelumnya, yaitu untuk memperkenalkan layanan kami. To test the market, sort of speak.

Saya melihat bahwa tujuan mayoritas dari pengunjung CFD adalah untuk berjalan-jalan. Berolahraga sambil rileks dengan keluarga atau teman. Tadinya saya pikir kebanyakan adalah duduk nongkrong beli ini dan itu. Ternyata mereka tidak membeli. Mereka berjalan. Saya perhatikan yang jualan minuman di samping stand kami tidak berhasil menjual minumannya. Sebetulnya terjual tetapi nampaknya tidak seperti yang dia harapkan. Di depannya, jualan es lilin, demikian pula. Samping kanan jauh, jualan otak-otak juga demikian. Ada yang beli tetapi tidak banyak.

Untungnya tujuan kami berada di sana bukan – belum – untuk berjualan tetapi justru untuk mendapatkan lagu-lagu dari artis / band yang sudah memiliki lagu dalam format digital. Nampaknya kalau untuk berjualan, mungkin CFD bukan tempatnya. Entahlah kalau kami nanti sudah mulai menggelar lapak digital kami; lengkap dengan access point dan notebook untuk mendengarkan musik. We’ll see.

Saya belum tahu apakah yang berjualan di Gasibu (sekarang seberangnya, yang lebih dekat ke Unpad) memiliki karakterisik yang sama atau tidak. Mungkin ada yang tahu? Sementara ini kalau Anda ingin berjualan dengan skala yang besar di CFD, pikir-pikir dulu.


Masih Soal Toko Musik Digital

Beberapa hari ini saya masih memikirkan soal toko musik digital kami. Hari Minggu – ya, betul, besok! – kami mau buka lapak di Bandung Car Free Day. Ini sih modal nekad saja. Pasalnya kalau tidak diniatkan dan dinekadkan begini mungkin tidak maju-maju. Jadi besok mau buka lapak saja.

Tujuan utama besok adalah untuk melihat situasi pasar, memperkenalkan diri, dan mencari band / artis / musisi yang berminat memasukkan lagunya di toko musik kami. Itu saja. Jadi hari ini saya masih kirim email ke sana ke mari untuk memberitahu soal ini. Dadakan juga sih. Soalnya hari-hari sebelumnya saya disibukkan oleh urusan kuliah dan sejenisnya.

Semoga lancar besok. Jreng!


Jual Beli Musik Digital

Setelah vakum (2 tahun?) saya akan mulai jual beli musik digital (MP3) lagi. Aplikasi sistem pengelolaan jual beli musik digital ini sudah siap dan hari Minggu ini akan kita cobakan di tempat Bandung Car Free Day. Bagi Anda (band, pemusik, dll.) yang telah memiliki lagu-lagu dalam format MP3 dan siap dijualkan, silahkan hadir di sana.

Insan Musik FAQ


Musik Yang Saya Dengarkan

Hebatnya teknologi informasi adalah dia dapat membantu untuk mengerti tentang diri kita sendiri. Saya ingin tahu sebetulnya musik apa saja yang saya dengarkan dan siapa saja yang saya sukai. Ada layanan “Last.fm” yang mencatat lagu-lagu apa saja yang saya dengarkan dan membuat statistik tentang hal itu. Berikut ini adalah top 5 artis / band yang saya dengarkan.

last-fm-2014

Saya tidak heran dengan hasilnya. Memang saya menggemari musik berjenis progressive rock. Maka dari itu tempat teratas adalah Genesis. Saya tidak perlu menjelaskan tentang Genesis ya karena dia sudah merupakan band yang sangat populer.

Dua band lagi, Blackfield dan Jadis juga memiliki jenis musik yang berbau progressive rock meskipun yang Blackfield sendiri lebih pop. Blackfield merupakan kolaborasi dari Steven Wilson (yang biasanya dikenal orang sebagai gitaris dan composer band Porcupine Tree) dan penyanyi Aviv Geffen. Bau-bau progressive rock muncul dari Steven Wilson – yang mana saya menyukai komposisinya. Jadis merupakan band dari gitaris Gary Chandler. Dia biasanya mengajak kawannya dari band IQ, yang merupakan band progressive rock. Jadi itulah warna progressive rocknya. Oh ya ini juga menunjukkan betapa saya menyukai komposisi yang dibuat oleh gitaris :)

Beatles? Tak perlu saya jelaskan meskipun saya sempat kaget anak-anak muda sekarang banyak yang tidak tahu siapa itu Beatles. Hadoh. Ampuuunnn deh.

Ada Band merupakan band favorit saya – sampai-sampai saya pernah membuat situs web untuk mendaftar lagunya. hi hi hi. Sayang sekali mereka tidak seproduktif dulu. (Saya juga menyayangkan Khrisna Balagita tidak di situ lagi, tetapi saya menyukai keduanya – karya Ada Band dan karya Khrisna. I just wish they can be together again.) Yang menarik dari statistik ini adalah ada band dari Indonesia yang ternyata mencuat di dalam statistik saya. Satu lagi yang dulunya menempati tempat teratas adalah Chrisye, tetapi sayangnya saya sekarang mulai jarang mendengarkan lagu Chrisye sehingga dia hanya ada di urutan nomor 10. Tapi jangan salah, saya selalu menyukai karya alm. Chrisye.

Jreng!


Analog Media

Dua minggu yang lalu saya menjelaskan tentang analog dan digital media di kelas. Maka kemarin, saya bawa piringan hitam untuk menunjukkan kepada mahasiswa. Kebetulan yang saya bawa adalah album dari Boston dan Lionel Richie. Sayangnya saya tidak punya pemutarnya yang bisa dibawa ke kelas. Jadi pas muter lagu Boston, kurang terdengar garangnya. he he he. (Sebelum kelas dimulai, saya putar videonya Steven Wilson, Drive Home.)

vinyl 1000

[Ini foto kedua album tersebut. Dipotret di ruang kerja saya.]

Sebetulnya saya juga membawa kaset ke kelas, tetapi ini tidak begitu menarik. Mereka sudah tahu apa itu kaset dan tidak menarik bagi anak-anak sekarang, yang notabene mendengarkan MP3.

Sebetulnya saya ingin menunjukkan musik digital, yaitu dengan MIDI dan kawan-kawannya. Tapi persiapannya nampaknya harus lebih berat lagi. Ya kapan-kapan deh.


Belajar Memotret Acara Musik

Memotret music show bukanlah pekerjaan yang mudah. Masalah yang dihadapi adalah cahaya yang sedikit (lemah) dan musisi yang banyak bergerak. hi hi hi. Sementara itu kamera saya juga yang masih kelas pemula. Eh, masalahnya bukan di kameranya saja, tetapi lebih karena saya baru pemula untuk urusan ini. Akibatnya, potret sering terlihat kabur.

Semalam saya hadir di acara musik “And then there were two for the show”, yang merupakan acara musik progressive rock Genesis dan Kansas. Sekalian karena saya menyukai musik ini, saya gunakan juga sebagai latihan memotret. Maka saya bawa Nikon D3100 saya.

Hasilnya lumayanlah. Untuk kelas pemula. hi hi hi. Foto-foto (mungkin lebih dari 60 buah) baru saja saya upload ke account Facebook saya. Nantinya akan saya upload ke Picasa juga sehingga bisa dinikmati tanpa harus berlangganan ke facebook atau sejenisnya.

DSC_0874 magnum 1000

Jreng!


Lagu Adalah Perjalanan Hidup

Secara tidak sengaja saya melihat film di TV, the Lake House. Iya itu yang pemeran utamanya adalah Sandra Bullock dan Keanu Reeves. Salah satu yang menarik bagi saya adalah lagu-lagu soundtracknya.

Ketika saya mendengar lagunya Carole King, It’s too late, langsung saya mengenali. Oke, itu lagunya Carole King. Terus tidak lama lagi ada lagunya Paul McCartney, This Never Happened Before. Saya juga mengenali lagu itu. Hmm… ada yang aneh. Ada kesan dejavu. Setelah saya pikir-pikir, nampaknya saya memang mengenali lagu itu ketika dulu nonton film ini. Jadi memang lagu-lagu ini dalam memori saya melekat dengan film itu.

Demikian pula dengan lagu-lagu lain. Mereka melekat dengan perjalanan hidup kita. Begitu mendengar lagu tertentu maka yang terbayang adalah kisah-kisah yang kita alami pada masa itu. Itulah sebabnya kalau kita seumuran, probabilitas mendengarkan lagu yang sama sangat besar. Jadi kalau ada acara reunian maka lagu-lagu itulah yang dikeluarkan karena lagu adalah perjalanan hidup.

Sekarang saya malah jadi berpikir, bagaimana data | memori disimpan dalam otak kita ya? Rasanya tidak mungkin kalau dia disimpan seperti dokumen dalam folder. Nampaknya dia disimpan secara berurutan berdasarkan waktu, seperti “time line” di facebook. Kemudian, ada semacam mekanisme pencarian (search) yang berbasis pola (pattern) yang agak samar-samar (fuzzy), bukan berbasiskan address. Lho kok jadi seperti kuliah arsitektur komputer begini. hi hi hi.


Jreng!

Tadi siang sampai dengan sore, kami (BanDos) manggung di Lawang Wangi Creative Artspace dalam rangka ikut meramaikan acara fund raising bagi Ridwan Kamil sebagai calon walikota Bandung. Komentar saya mengenai Ridwan Kamil akan saya tuliskan secara terpisah ya. Cerita tentang manggungnya dulu aja.

Manggungnya cukup sukses. Tentu saja ini menurut saya. Saya lupa berapa lagu yang kami mainkan, 20-an gitu? Masih banyak lagu-lagu kami yang belum sempat dibawakan. Untuk acara ini saja kami sudah latihan sekitar 40 lagu :)

CIMG4710 guitars 1000

Satu hal yang perlu saya catat adalah musik kami cukup keras (loud) meskipun jenis musiknya adalah pop / funky. Mungkin ini disebabkan karena kami full band dengan banyak personel pemain band dan penyanyinya. Mungkin juga style kami yang lebih ke arah show di tempat terbuka bukan di ruangan cafe.  Berikutnya nampaknya kami harus juga memiliki versi akustikan.

Jreng!


Pemutar MP3 Portable Yang Mana?

Situasinya begini. Koleksi lagu-lagu saya sudah pindah dari bentuk fisik kaset+CD ke bentuk digital (MP3 dan sebagian ada yang FLAC). Berkas-berkas MP3 ini ada banyak – sekitar 180 GB – sekali sehingga saya simpan di dalam satu komputer, yang sekarang adalah komputer desktop berbasis Ubuntu. Kalau saya ingin mendengarkan lagu, terpaksa saya nyalakan komputer tersebut.

Problemnya adalah menyalakan komputer itu butuh waktu, tidak bisa dalam 2 detik bisa langsung memutar lagu. Jadi kalau mau mendengarkan sebuah lagu harus sabar dulu sampai semuanya nyala. Masalah kedua adalah saya harus duduk di depan komputer untuk mendengarkan lagu. Saya tidak dapat mendengarkan lagu di mobil misalnya. Tidak portable. Masalah ketiga, yang ini sangat tergabung kepada setup saya, adalah kebetulan disk dari komputer desktop saya ini saya pasang secara eksternal. Kotak dari disk ini membutuhkan power supply dan kipas, yang sayangnya bising sekali bunyinya. Alih-alih mau mendengarkan lagu, malah mendengarkan suara kipas seperti kapal terbang!

Saya sekarang ingin mencari pemutar MP3 yang agak portable. Syarat yang utamanya adalah:

  • kualitas suaranya bagus;
  • dapat memputar MP3 (dan kalau bisa juga FLAC);
  • memiliki storage yang cukup besar (di atas 180 GB) – yang ini kalau tidak bisa sebesar itu ya tidak apa-apa tetapi saya harus repot memindah-mindahkan lagu yang diinginkan, setidaknya di atas 32 GB lah.

Sementara ini yang terbayang oleh saya adalah Apple iPod versi yang pertama dulu, yang disknya besar itu. Tapi itu kan dulu. Mungkin sekarang sudah ada yang lebih bagus lagi. Kalau handphone dan sejenisnya, storagenya sangat kecil (mungkin hanya 8 GB). Ini terlalu kecil.

Ada saran?


Hari Ibu

Dalam rangka merayakan hari Ibu, 22 Desember, saya upload lagu buatan saya. Judulnya adalah “Untuk Ibu“. Tersedia di Soundcloud.

Selamat menikmati dan selamat Hari Ibu.


the Voice

Sekarang saya sedang senang nonton the Voice. Itulho acara TV yang mencari bakat penyanyi, seperti American Idol, tetapi ada bedanya. (Silahkan lihat deh informasinya di Internet.)

Yang membuat saya suka adalah penyanyi-penyanyinya. Pada musim ketiga ini mereka mendapatkan penyanyi yang keren-keren. Berikut ini adalah penyanyi yang keren menurut saya.

Yang pertama adalah Nicholas David. Ini penyanyi yang tampangnya kelihatan seperti terlalu tua, dengan jenggotnya yang panjang dan tidak teratur. Ini mengingatkan saya kepada para artis jaman tahun 70an atau setidaknya band ZZ Top. he he he. Begitu dia nyanyi, wah kerasa sekali nuansa soul-nya. Cengkok-nya itu khas sekali. Soul. Bahkan gara-gara dia saya menjadi suka (kembali) lagunya Al Green – Let’s stay together. Dia ini adalah favorit utama saya di musim ini.

Yang kedua adalah Terry McDermmott. Pada awalnya saya merasa biasa-biasa saja, tetapi lama kelamaan saya suka karena konsistensi dia dalam jenis musik yang dia bawakan yaitu Classic Rock. You know me. Saya penggemar musik berjenis classic rock. Jadi selama dia ada di acara, saya akan mendengar lagu-lagu classic rock. A big plus. Yang paling saya sukai adalah ketika dia menyanyikan lagunya Wings / Paul McCartney, Maybe I’m Amazed. Keren.

Perlu diingat bahwa vokalis classic rock biasanya memiliki  suara yang tinggi. Kalau sekarang sih semakin rendah semakin bagus. Growling di musik metal misalnya. Nah, mencari penyanyi yang memiliki suara tinggi itu susah. Contoh jagoan saya dari jaman dulu adalah Steven Tyler (Aerosmith), Steve Perry (Journey), dan sejenisnya.

Go the Voice!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.695 pengikut lainnya.