Arsip Tag: Musik

Tentang Steven Tyler

Gara-gara nonton American Idol saya cari lagu Steven Tyler, “I don’t want to miss a thing”. Di acara American Idol tersebut salah satu kontestan, Jessica, menyanyikannya. Setelah saya dengarkan, versi Steven Tyler lebih bagus :)  Penjiwaannya lebih mantap.

Menulis tentang Steven Tyler ini saya jadi senyum-senyum sendiri. Saya jadi teringat pernah membuat sebuat artikel tentang band Aerosmith untuk majalah dinding SMA. Itu mungkin sekitar tahun 1980 atau 1979? Whoa. Sudah 30 tahun yang lalu. Sekarang tulisan ini juga dipasang di “majalah dinding internet”. Kalau 30 tahun lagi majalah dindingnya seperti apa ya?

Kembali ke Steven Tyler, memang dia masih hebat suaranya.


Update Buku

Menulis buku ternyata tidak mudah. Saya sudah mencoba dan saat ini saya baru punya 3 buku yang terbit (dan kemudian menghilang dari pasaran – he he he). Kali ini saya mau cerita tentang draft buku yang sedang saya buat.

Saya ingin membuat buku tentang musik sebagai referensi buat saya sendiri. Akhirnya tahun 2002 saya mulai menulis “Membedah Classic Rock”. Sampai sekarang (2012) – 10 tahun kemudian – buku ini belum selesai juga. Halah. Mungkin memang buku seperti ini tidak ada selesainya ya?

Tadi pagi, sehabis subuh, saya lanjutkan menulis buku ini. Versi 2.13 saya upload ke sini (di scribd). Silahkan download di sana. Selamat menikmati.


Piringan Hitam

Bongkar-bongkar lemari. Melihat koleksi piringan hitam. Duh sudah lama tidak disetel karena sudah tidak punya pemutarnya lagi. Pengen beli yang murah meriah tapi bagus :)  Ini beberapa foto snapshot.

Sebagian besar bernuansa progressive rock. Misalnya yang ini adalah album Anthony Phillips yang saya sukai sejak SMA, album “The Geese and the Ghost“.

Eh ternyata saya juga punya piringan hitam Ebiet G. Ade, Camelia 4. hi hi hi. Jadul banget. Pada jamannya dahulu, Ebiet ini ngetop banget loh. Semua orang ingin jadi Ebiet.

ada juga Rick Astley. Hayah … he he he …

Dan tentu saja ada … Boston! Salah satu album kesukaan saya (sehingga saya punya kaset, piringan hitam, CD, MP3, …  nanti FLAC menyusul, he he he).


Menjadi Nyamuk Malaria?

Baru saja saya mendengarkan ulang lagu karangan alm. Harry Roesli, yang berjudul “Malaria“. Lagu ini juga dibawakan oleh Kikan dalam album Rockestra-nya Erwin Gutawa. Yang saya sukai dari lagu ini, selain melodinya, adalah liriknya. Luar biasa! Saya kutipkan di sini:

Sampai tempat tidurmu putih
Itu tandanya kau bersedih
Mengapa tidak kau tiduri
Kau hanya terus menangis

Apakah kau seekor monyet?
Yang hanya dapat bergaya
Kosong sudah hidup ini
Bila kau hanya bicara

Kini matamu kan bertanya
Apakah yang kau pikirkan nona
Kau hanya bawa air mata dan ketawa
Yang kau paksa

Lantai kamarmu kan berkata
Mengapa nona pengecut
Wujudkan saja hidup ini
Sebagai nyamuk malaria
Sebagai nyamuk malaria

Tidak banyak lagu seperti ini. Lagu-lagu sekarang kebanyakan lagu galau, aku cinta aku. Mengapa tidak banyak lagu seperti ini?

Bagi saya lagu ini sangat menginspirasi. Hidup kita di dunia harus manfaat. Jangan hanya sekedar hidup. Atau bahkan lebih menyedihkan lagi … menjadi nyamuk. Sudah nyamuk, menyebarkan malaria lagi. Sangat jahat!

Jangan jadikan hidup kita seperti nyamuk malaria!


5 tahun BanDos

Hari Jum’at ini (16 Maret 2012) akan ada acara 5 tahun BanDos di lapangan basket ITB. Acara mulai dari pukul 5 sore sampai pukul 10 malam. Hadir ya …


Terjebak di Masa Lalu

Saya sedang mendengarkan lagu-lagu dan yang menarik (setidaknya bagi saya) adalah lagu-lagu yang sedang saya dengarkan berasal dari tahun 70-an. Misalnya, yang sedang saya dengarkan ketika mengetik tulisan ini adalah lagu-lagu dari band UFO; “Belladonna”, “Martian Landscape”, dan seterusnya. (Akhirnya memang terus ke tahun 80-an juga.)

Lagu karangan musisi pada masa itu memang luar biasa. Sudah 30 tahunan tetap saja mereka masih enak didengar. Liriknya pun banyak yang bagus-bagus. Kenapa lagu-lagu sekarang terlalu “enteng” ya?

Memang jenis musik dan selera selalu berubah dengan waktu. Saya tidak ingin mengatakan bahwa semua lagu sekarang itu buruk, tetapi dibandingkan lagu-lagu jaman saya muda dulu kok … gimana gitu ya. Mungkin karena waktu itu saya masih teenager sehingga lagu-lagu itulah yang melekat. Musik adalah perjalanan.

Mendengarkan musik lagi ah …

update. Sambil mendengarkan lagu-lagunya saya melihat sampul albumnya, cover art. Wah bagus-bagus. Seneng. Kalau album sekarang hanya foto artisnya aja. Bosen. Sekalian download cover art yang belum saya punya.


Proposal Studio Musik?

Saya diberi tugas untuk membuat proposal studio musik untuk BanDos / ITB. Ada yang punya contoh? Kemungkinan yang saya butuhkan adalah data mengenai:

  1. pembenahan akustik ruangan (satuannya apa? per meter persegi?);
  2. listrik, AC, … (berapa titik outlet listrik);
  3. sound system (speakers, amplifier, microphone untuk penyanyi / flute / brass, kabel-kabel);
  4. amplifier untuk alat musik;
  5. alat-alat musik (drums, keyboard, gitar);
  6. peralatan pendukung (meja partitur, kursi).

Apa lagi ya? Ada yang punya contoh? Misalnya proposal untuk studio musik yang direntalkan.


Manggung di Depan Ribuan Orang

Tadi siang (sore) akhirnya saya manggung di depan 3000 orang. Lebih tepatnya di depan 3000 mahasiswa TPB ITB :)  Saya manggung dengan BanDos (Band Dosen ITB) di Sasana Budaya Ganesha. Kami hanya sempat membawakan 4 lagu karena waktu yang terbatas. Padahal kumpulan lagu kami ada puluhan :)   Yang penting jam terbang nambah. Alhamdulillah …

Ini foto dari atas panggung yang saya ambil dengan menggunakan handphone. Sayang kurang bagus ya? Di sebelah kanan ada banyak penonton lagi (pakai kaos putih semua).


Mencari Keyboards

Saya sedang mencari keyboards yang bisa dipakai di rumah tetapi juga bisa dipakai manggung. Harganya juga jangan yang terlalu mahal.

Kemarin kami sempat lihat-lihat Yamaha seri PSR itu, tapi bingung juga mau yang mana. Kemarin sih lihat yang PSR 710. Katanya ada yang PSR 910 (tapi yang ini tidak tahu harganya). Selain itu saya sempat melihat Korg (seri PA?) dan Roland juga, tetapi kok kayaknya yang Yamaha yang menarik. (Padahal dahulu saya lebih suka sound dari Roland.)

Saran?


Dicari Komponen Gitar

Kemarin saya dan anak saya ngoprek (tepatnya mbongkar) gitar. Kebetulan yang dibongkar adalah pickup-nya. Nah kepikiran mau eksperimen dengan pickup gitar. Ada yang punya komponen gitar – terutama pickup – yang gak kepakai. Mau dicoba-coba dipasang, dibongkar, diganti magnetnya, lilitannya, dan seterusnya. Pokoknya lagi nyari komponen gitar yang bekas, gratis, atau murah.

Punya?


[itu foto benerannya. yang dioprek, gitar GM03]


Kebiasaan Mendengarkan Lagu

Menyimak komentar-komentar di tulisan saya terdahulu, saya melihat ada dua kebiasaan yang berbeda dalam mendengarkan lagu; (1) yang senang lagu diacak, dan (2) yang senang lagu diurut. Saya lebih ke arah yang terakhir, terurut.

Kalau mendengarkan lagu biasanya saya mencari temanya. Misalnya, jika saya ingin yang bersemangat maka saya akan mainkan lagu-lagu rock yang bersemangat. Jika saya ingin memulai hari dengan tenang maka saya dengarkan lagu-lagu jazz-nya Bob James. Jika saya ingin menikmati musik, maka saya putar lagu-lagu progressive rock kesukaan saya. Atau kadang saya ingin mendengarkan lagu-lagu dari artis tertentu. Dan seterusnya. Pokoknya bertema begitu.

Memang kadang saya juga mendengarkan lagu secara acak, tapi jarang. Menarik juga melihat kebiasaan yang berbeda.


Mendengarkan Koleksi Musik

Saya perhatikan bahwa koleksi musik saya sekarang terfokus di komputer desktop. Kalau mau mendengarkan musik, terpaksa saya harus menghidupkan komputer dan duduk di depan komputer. Padahal duduk di depan komputer kan tidak terlalu nyaman untuk mendengarkan musik. Kadang ingin juga mendengarkan musik sambil selonjoran baca buku misalnya.

Saya sudah mencoba menggunakan MP3 player untuk memainkan lagu-lagu, tetapi ada banyak masalah. Awalnya saya menggunakan ipod versi pertama. Yang ini memorinya kecil dan akhirnya rusak batrenya. Kemudian saya menggunakan beberapa MP3 player murah meriah. Hasilnya juga buruk, yaitu kualitas suaranya jelek dan juga batrenya rusak juga. Mau beli MP3 player lagi atau ipod masih mikir-mikir. Masalah utamanya tetap sama, batre yang tidak tahan lama dan juga memorinya kecil.

Ada ide solusi?


Urusan Gitar

Pas hari Minggu, senar gitar putus. Sudah waktunya untuk mengganti senar gitar.

Kendorin senar dan lepas senar-senarnya. Sesekali ujung senar yang tajam nancep ke jari. Lumayan sakit juga. Setelah itu gitar dibersihkan (dilap-lap). Mumpung senarnya sedang tidak ada.

Menyiapkan senar baru. Pakai yang light saja supaya jari tidak terlalu berat :)

Beres … Senin bisa dipakai. Ternyata sekedar untuk mengganti senar gitar membutuhkan kesabaran.


Collins Goes To School

Beberapa hari yang lalu saya memberikan kuliah tentang “Kreatifitas dan Inovasi di Bisnis Digital”. Saya mencoba menjelaskan apa itu teknologi digital. Contoh yang saya ambil adalah dari dunia musik.

Dahulu industri musik dimulai dengan penjualan piringan hitam (vinyl records), yang notabene adalah teknologi analog. Kemudian muncul kaset, yang meskipun masih analog dan memiliki kualitas lebih buruk daripada piringan hitam tetapi menguasai pasar karena murahnya biaya reproduksi. Kemudian muncullah teknologi digital dengan compact disc (CD). Maka mulai terjadi perubahan industri musik. Terlebih lagi setelah muncul teknologi CD RW. Tambah lagi, muncul MP3 dan internet. Maka semakin menarik peta industri musik.

Agar mahasiswa paham tentang apa itu piringan hitam, maka saya bawa salah satu koleksi saya ke kelas untuk show and tell. Maka terjadilah potret ini, “(Phil) Collins Goes To School“.

Sayang sekali pemutar piringan hitam saya rusak jarumnya. Kayaknya mesti cari tempat untuk memperbaikinya di Bandung ya? Saya ingin menunjukkan (memperdengarkan) suara piringan hitam yang jauh lebih baik daripada CD sekalipun.

Oh ya, efek dari teknologi informasi tidak hanya muncul di industri musik saja tetapi juga di dunia perfilman (video), dan nantinya juga buku (penerbitan). Selamat datang teknologi digital …


Jreng!

Sebelum mengajar pagi (siang) ini, BanDos (Band Dosen) manggung dulu di Aula Timur. Sayang sekali waktunya mepet, 30 menit saja. Kami hanya sempat memainkan 5 lagu saja. Wah! Padahal tadinya kami sudah menyiapkan 10 lagu. Hadoh. Lain kali mudah-mudahan dapat kesempatan yang lebih lama :)

Jreng!

[Setelah itu simpan gitar, masuk ke kelas, mengajar :) ]


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.592 pengikut lainnya.