Tag Archives: Musik

Masih Soal Toko Musik Digital

Beberapa hari ini saya masih memikirkan soal toko musik digital kami. Hari Minggu – ya, betul, besok! – kami mau buka lapak di Bandung Car Free Day. Ini sih modal nekad saja. Pasalnya kalau tidak diniatkan dan dinekadkan begini mungkin tidak maju-maju. Jadi besok mau buka lapak saja.

Tujuan utama besok adalah untuk melihat situasi pasar, memperkenalkan diri, dan mencari band / artis / musisi yang berminat memasukkan lagunya di toko musik kami. Itu saja. Jadi hari ini saya masih kirim email ke sana ke mari untuk memberitahu soal ini. Dadakan juga sih. Soalnya hari-hari sebelumnya saya disibukkan oleh urusan kuliah dan sejenisnya.

Semoga lancar besok. Jreng!


Jual Beli Musik Digital

Setelah vakum (2 tahun?) saya akan mulai jual beli musik digital (MP3) lagi. Aplikasi sistem pengelolaan jual beli musik digital ini sudah siap dan hari Minggu ini akan kita cobakan di tempat Bandung Car Free Day. Bagi Anda (band, pemusik, dll.) yang telah memiliki lagu-lagu dalam format MP3 dan siap dijualkan, silahkan hadir di sana.

Insan Musik FAQ


Musik Yang Saya Dengarkan

Hebatnya teknologi informasi adalah dia dapat membantu untuk mengerti tentang diri kita sendiri. Saya ingin tahu sebetulnya musik apa saja yang saya dengarkan dan siapa saja yang saya sukai. Ada layanan “Last.fm” yang mencatat lagu-lagu apa saja yang saya dengarkan dan membuat statistik tentang hal itu. Berikut ini adalah top 5 artis / band yang saya dengarkan.

last-fm-2014

Saya tidak heran dengan hasilnya. Memang saya menggemari musik berjenis progressive rock. Maka dari itu tempat teratas adalah Genesis. Saya tidak perlu menjelaskan tentang Genesis ya karena dia sudah merupakan band yang sangat populer.

Dua band lagi, Blackfield dan Jadis juga memiliki jenis musik yang berbau progressive rock meskipun yang Blackfield sendiri lebih pop. Blackfield merupakan kolaborasi dari Steven Wilson (yang biasanya dikenal orang sebagai gitaris dan composer band Porcupine Tree) dan penyanyi Aviv Geffen. Bau-bau progressive rock muncul dari Steven Wilson – yang mana saya menyukai komposisinya. Jadis merupakan band dari gitaris Gary Chandler. Dia biasanya mengajak kawannya dari band IQ, yang merupakan band progressive rock. Jadi itulah warna progressive rocknya. Oh ya ini juga menunjukkan betapa saya menyukai komposisi yang dibuat oleh gitaris :)

Beatles? Tak perlu saya jelaskan meskipun saya sempat kaget anak-anak muda sekarang banyak yang tidak tahu siapa itu Beatles. Hadoh. Ampuuunnn deh.

Ada Band merupakan band favorit saya – sampai-sampai saya pernah membuat situs web untuk mendaftar lagunya. hi hi hi. Sayang sekali mereka tidak seproduktif dulu. (Saya juga menyayangkan Khrisna Balagita tidak di situ lagi, tetapi saya menyukai keduanya – karya Ada Band dan karya Khrisna. I just wish they can be together again.) Yang menarik dari statistik ini adalah ada band dari Indonesia yang ternyata mencuat di dalam statistik saya. Satu lagi yang dulunya menempati tempat teratas adalah Chrisye, tetapi sayangnya saya sekarang mulai jarang mendengarkan lagu Chrisye sehingga dia hanya ada di urutan nomor 10. Tapi jangan salah, saya selalu menyukai karya alm. Chrisye.

Jreng!


Analog Media

Dua minggu yang lalu saya menjelaskan tentang analog dan digital media di kelas. Maka kemarin, saya bawa piringan hitam untuk menunjukkan kepada mahasiswa. Kebetulan yang saya bawa adalah album dari Boston dan Lionel Richie. Sayangnya saya tidak punya pemutarnya yang bisa dibawa ke kelas. Jadi pas muter lagu Boston, kurang terdengar garangnya. he he he. (Sebelum kelas dimulai, saya putar videonya Steven Wilson, Drive Home.)

vinyl 1000

[Ini foto kedua album tersebut. Dipotret di ruang kerja saya.]

Sebetulnya saya juga membawa kaset ke kelas, tetapi ini tidak begitu menarik. Mereka sudah tahu apa itu kaset dan tidak menarik bagi anak-anak sekarang, yang notabene mendengarkan MP3.

Sebetulnya saya ingin menunjukkan musik digital, yaitu dengan MIDI dan kawan-kawannya. Tapi persiapannya nampaknya harus lebih berat lagi. Ya kapan-kapan deh.


Belajar Memotret Acara Musik

Memotret music show bukanlah pekerjaan yang mudah. Masalah yang dihadapi adalah cahaya yang sedikit (lemah) dan musisi yang banyak bergerak. hi hi hi. Sementara itu kamera saya juga yang masih kelas pemula. Eh, masalahnya bukan di kameranya saja, tetapi lebih karena saya baru pemula untuk urusan ini. Akibatnya, potret sering terlihat kabur.

Semalam saya hadir di acara musik “And then there were two for the show”, yang merupakan acara musik progressive rock Genesis dan Kansas. Sekalian karena saya menyukai musik ini, saya gunakan juga sebagai latihan memotret. Maka saya bawa Nikon D3100 saya.

Hasilnya lumayanlah. Untuk kelas pemula. hi hi hi. Foto-foto (mungkin lebih dari 60 buah) baru saja saya upload ke account Facebook saya. Nantinya akan saya upload ke Picasa juga sehingga bisa dinikmati tanpa harus berlangganan ke facebook atau sejenisnya.

DSC_0874 magnum 1000

Jreng!


Lagu Adalah Perjalanan Hidup

Secara tidak sengaja saya melihat film di TV, the Lake House. Iya itu yang pemeran utamanya adalah Sandra Bullock dan Keanu Reeves. Salah satu yang menarik bagi saya adalah lagu-lagu soundtracknya.

Ketika saya mendengar lagunya Carole King, It’s too late, langsung saya mengenali. Oke, itu lagunya Carole King. Terus tidak lama lagi ada lagunya Paul McCartney, This Never Happened Before. Saya juga mengenali lagu itu. Hmm… ada yang aneh. Ada kesan dejavu. Setelah saya pikir-pikir, nampaknya saya memang mengenali lagu itu ketika dulu nonton film ini. Jadi memang lagu-lagu ini dalam memori saya melekat dengan film itu.

Demikian pula dengan lagu-lagu lain. Mereka melekat dengan perjalanan hidup kita. Begitu mendengar lagu tertentu maka yang terbayang adalah kisah-kisah yang kita alami pada masa itu. Itulah sebabnya kalau kita seumuran, probabilitas mendengarkan lagu yang sama sangat besar. Jadi kalau ada acara reunian maka lagu-lagu itulah yang dikeluarkan karena lagu adalah perjalanan hidup.

Sekarang saya malah jadi berpikir, bagaimana data | memori disimpan dalam otak kita ya? Rasanya tidak mungkin kalau dia disimpan seperti dokumen dalam folder. Nampaknya dia disimpan secara berurutan berdasarkan waktu, seperti “time line” di facebook. Kemudian, ada semacam mekanisme pencarian (search) yang berbasis pola (pattern) yang agak samar-samar (fuzzy), bukan berbasiskan address. Lho kok jadi seperti kuliah arsitektur komputer begini. hi hi hi.


Jreng!

Tadi siang sampai dengan sore, kami (BanDos) manggung di Lawang Wangi Creative Artspace dalam rangka ikut meramaikan acara fund raising bagi Ridwan Kamil sebagai calon walikota Bandung. Komentar saya mengenai Ridwan Kamil akan saya tuliskan secara terpisah ya. Cerita tentang manggungnya dulu aja.

Manggungnya cukup sukses. Tentu saja ini menurut saya. Saya lupa berapa lagu yang kami mainkan, 20-an gitu? Masih banyak lagu-lagu kami yang belum sempat dibawakan. Untuk acara ini saja kami sudah latihan sekitar 40 lagu :)

CIMG4710 guitars 1000

Satu hal yang perlu saya catat adalah musik kami cukup keras (loud) meskipun jenis musiknya adalah pop / funky. Mungkin ini disebabkan karena kami full band dengan banyak personel pemain band dan penyanyinya. Mungkin juga style kami yang lebih ke arah show di tempat terbuka bukan di ruangan cafe.  Berikutnya nampaknya kami harus juga memiliki versi akustikan.

Jreng!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.740 pengikut lainnya.