Tag Archives: Musik

Riset Musik Pribadi

Hanya karena tertarik saja, saya mencoba memahami musik progressive rock. Baca buku dan dokumen sana sini. Ada banyak yang belum saya mengerti. Salah satunya adalah tentang multi-movement dan single-movement. Apa sih itu?

Sambil baca-baca saya corat-coret di kertas untuk mengumpulkan bahan-bahan lain, yang dalam hal ini berupa lagu-lagu. Ini dia contoh corat-coretan kertas saya (yang bakalan hilang kalau tidak saya potret – he he he). Nampaknya link-link ke lagu tersebut (setidaknya yang ada di YouTube) bagusnya saya tampilkan juga di halaman ini ya?


Musik dan Elektronik

Terpicu oleh sebuah diskusi di milis tentang musik, saya mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah saya lakukan terkait dengan musik. Latar belakang akademik saya terkait dengan elektronika dan komputer. Musik bagi saya adalah hobby tetapi juga passion. Saya belum berani melakukan hal-hal yang terkait dengan musik secara akademik. Namun itu bukan berarti saya tidak peduli lho.

Ketika bersekolah di Kanada dahulu saya sempat mengambil kuliah Computer Music, yang diselenggarakan di departemen musik. Saya ingin mengetahui banyak hal yang terkait dengan hal itu. Memang kuliahnya menarik. Kami diajari tentang sound. Ada tugas untuk mendengarkan karya John Cage, “musik” eksperimental itu. Avant-garde. Seru juga. Ini sangat jauh dari musik pop. Kemudian kami juga diajarkan tentang bagaimana menghasilkan suara instrumen secara elektronik, seperti yang digunakan pada synthesizers dan keyboard.

Saya juga sempat berkolaborasi dengan seorang musisi (gitaris) yang berencana untuk membuat software musik. Waktu itu kami sama-sama tertarik tentang bagaimana mendeteksi pitch secara real-time. Idenya adalah seorang penyanyi dapat mengendalikan keyboard (via MIDI) dengan cara bernyanyi. Harus ada sebuah alat yang melakukan pitch tracking.

Saya akhirnya harus membuat soundcard sendiri dengan menggunakan komponen elektronika yang tersedia dan melakukan wirewrap di PCB sendiri. Ini waktu jaman sebelum ada Soundblaster dari Creative Labs itu. Saya juga harus membuat driver softwarenya sendiri yang berjalan di atas MS-DOS. Akhirnya saya juga membuat chip untuk pitch tracking tetapi saya gunakan untuk aplikasi biomedik, yang ini kemudian menjadi basis penelitian S2 saya waktu itu. Dari musik dipelesetkan ke medis. hi hi hi.

Secara keilmuan nampaknya harus ada kolaborasi dari orang teknis – dengan latar belakang elektronika, pemrograman – dan orang musik ya. Sebetulnya ini bukan hal yang baru. Lihat saja Dr. Moog, yang terkenal dengan Moog synthesizersnya. Atau lihat juga Ray Kurzweil dengan keyboard Kurzweil yang memiliki sound luar biasa.

Sayangnya kolaborasi seperti ini belum terjadi di Indonesia. Suatu saat?


Musik Adalah Perjalanan Hidup

Kadang saya bertanya-tanya mengapa seseorang menyukai jenis musik tertentu, sementara orang lain jenis yang lain. Pertanyaan ini hadir karena saya merasa memiliki selera musik yang termasuk golongan minoritas. Saya menggemari musik jenis progressive rock atau classic rock, yang mana tidak begitu banyak penggemarnya di Indonesia. Jangankan di Indonesia, di dunia pun penggemar musik jenis ini sangat terbatas.

Setelah menelusuri ke sana ke mari, akhirnya saya berkesimpulan bahwa musik terkait dengan perjalanan hidup seseorang. Musik yang dia dengarkan ketika dia kecil atau ketika menderita ikut membekas dalam diri. Itulah sebabnya seseorang yang terekspos ke satu jenis musik tertentu akan menyenangi musik jenis itu.

“… music exists as a form of communication between people of a certain time, place, and culture…” (Pleasants & Small)

Saya mencoba mengingat-ingat perjalnan hidup saya. Ketika muda dahulu saya sering mendengarkan lagu-lagu American Top 40 dari radio Australia atau radio yang ditemukan melalui channel SW. Wah, ini jadul sekali. Kemudian di rumah kami tinggal banyak saudara yang notabene adalah mahasiswa. Pada tahun 70-an para mahasiswa ini menggemari musik jenis classic rock. Saya mulai terekspos musik-musik dari Yes, Genesis, Gentle Giant, dan yang lebih aneh-aneh lagi.

Bandung. Ini lagi. Di Indonesia ada dua kota yang nampaknya secara musik membekas bagi warganya, Bandung dan Malang. Di Bandung ada tempat membuat kaset dengan label “Yess”. Jangan bayangkan ini label yang legal menurut HaKI jaman sekarang tentunya. Lihat konteksnya ya. Yess ini memproduksi album-album band yang progressive / classic rock itu. Saya pun mulai mengoleksi kaset-kaset keluaran Yess ini.

Bahasa Inggris dan Kultur. Ini yang agak sedikit twisted. Musik jenis progressive rock bukanlah musik dari jenis yang bisa digunakan untuk menari, bergoyang. Kalau berlirik, liriknya menggunakan bahasa Inggris yang kental dengan cerita kultur orang Barat. Saya sendiri kursus bahasa Inggris sejak masih kecil (SD) sehingga bahasa Inggris bukan masalah bagi saya. Nah soal kultur Barat, itu yang tidak saya mengerti. Bagaimana saya dapat mengerti apa yang diceritakan dalam lagu-lagu progressive rock itu ya? Ini masih pertanyaan.

Ketika kawan-kawan saya di SMA mendengarkan lagu-lagu disko, saya asyik mendengarkan Rush. Bahkan lagu “subdivision” merupakan lagu anthem bagi saya. Ternyata di belahan dunia yang lain, anak-anak seumuran saya juga mengambil lagu ini sebagai anthem mereka. Maka tidak heran ketika di kemudian hari saya pindah ke Kanada dan menemui rekan-rekan seumuran yang memiliki interest yang sama. Ini sebetulnya bertentangan dengan pendapat Pleasants & Small di atas. Mungkin saya termasuk anomali untuk kebanyakan orang Indonesia. Heh?

Tapi saya tetap meyakini bahwa musik adalah perjalanan hidup.


Foto Hari Ini

Flowers for Blue Marble Sky.

Seperti biasa, begitu pagi cerah maka saya lari ke luar dengan menenteng kamera. Langit merupakan obyek yang paling menarik dan paling mudah untuk dipotret. Lukisan alam yang selalu berubah ini sangat menarik untuk dipotret. Kadang dia bagaikan riak-riak laut. Serasa tenggelam di lautan langit itu. Kali ini lukisannya bagaikan marble.

Koleksi kaset (jadul) YESS.

Beres beres kaset yang ada. Potret dulu ah. “Label lokal” Yess seperti yang ada pada foto di atas, merupakan label yang banyak digandrungi oleh mahasiswa pada tahun 70-an dan 80-an. Jenis musiknya seringkali adalah progressive rock / rock. Nama artisnya juga seringkali aneh. Semakin tidak dikenal artisnya, semakin seru mengumpulkan kasetnya. Wah sayangnya kaset-kaset ini, meskipun masih bagus dan hanya covernya saja yang rusak, sudah tidak berani diputar lagi karena takut pemutarnya  malah merusak kasetnya. Nampaknya harus cari versi digital dari lagu-lagu yang ada di kaset ini. Hmm…

Pada tahun 80-an kaset masih merajalela di Indonesia. Ada banyak label lokal yang merilis album-album luar negeri. Foto di atas menunjukkan contoh album-album jazz yang ada pada masa itu.

Maksud tulisan ini tadinya hanya untuk menampilkan foto-foto. Eh, malah jadi cerita soal musik ya? hi hi hi. Semua dipotret dengan menggunakan Casio Exilim ZR20.


Jreng!

Baru saja saya sampai rumah (Bandung) setelah manggung di Planet Hollywood, Jakarta. Inginnya mau ngeblog tadi, tetapi tadi harus nyetir Jakarta Bandung. Sampai rumah sudah lewat tengah malam. Langsung ngeblog mumpung masih mood dan masih keingat yang mau ditulis.

Salah satu kesulitan ketika manggung adalah kendali suara. Tadi sudah checksound dan meskipun masih kurang puas, tapi oke lah. Yang menjadi masalah adalah ketika menyanyi, suara saya tidak terdengar oleh saya karena speakers berada di depan menghadap ke penonton. Sementara itu speaker monitor juga tidak mengeluarkan suara penyanyi. Akibatnya kontrol suara berdasarkan perasaan bukan dari feedback suara kita. Jadi saya tadi tidak yakin kalau suara saya tidak fals. he he he. Ampun.

Sebetulnya saya ingin minta pengelola sound system untuk memperbaiki kondisi tadi, tapi kayaknya mereka juga keburu-buru. Waktu untuk setup agak kurang. Kami juga tidak punya sound engineer sendiri. Oh well. Lain kali harus lebih baik.


Tentang Steven Tyler

Gara-gara nonton American Idol saya cari lagu Steven Tyler, “I don’t want to miss a thing”. Di acara American Idol tersebut salah satu kontestan, Jessica, menyanyikannya. Setelah saya dengarkan, versi Steven Tyler lebih bagus :)  Penjiwaannya lebih mantap.

Menulis tentang Steven Tyler ini saya jadi senyum-senyum sendiri. Saya jadi teringat pernah membuat sebuat artikel tentang band Aerosmith untuk majalah dinding SMA. Itu mungkin sekitar tahun 1980 atau 1979? Whoa. Sudah 30 tahun yang lalu. Sekarang tulisan ini juga dipasang di “majalah dinding internet”. Kalau 30 tahun lagi majalah dindingnya seperti apa ya?

Kembali ke Steven Tyler, memang dia masih hebat suaranya.


Update Buku

Menulis buku ternyata tidak mudah. Saya sudah mencoba dan saat ini saya baru punya 3 buku yang terbit (dan kemudian menghilang dari pasaran – he he he). Kali ini saya mau cerita tentang draft buku yang sedang saya buat.

Saya ingin membuat buku tentang musik sebagai referensi buat saya sendiri. Akhirnya tahun 2002 saya mulai menulis “Membedah Classic Rock”. Sampai sekarang (2012) – 10 tahun kemudian – buku ini belum selesai juga. Halah. Mungkin memang buku seperti ini tidak ada selesainya ya?

Tadi pagi, sehabis subuh, saya lanjutkan menulis buku ini. Versi 2.13 saya upload ke sini (di scribd). Silahkan download di sana. Selamat menikmati.


Piringan Hitam

Bongkar-bongkar lemari. Melihat koleksi piringan hitam. Duh sudah lama tidak disetel karena sudah tidak punya pemutarnya lagi. Pengen beli yang murah meriah tapi bagus :)  Ini beberapa foto snapshot.

Sebagian besar bernuansa progressive rock. Misalnya yang ini adalah album Anthony Phillips yang saya sukai sejak SMA, album “The Geese and the Ghost“.

Eh ternyata saya juga punya piringan hitam Ebiet G. Ade, Camelia 4. hi hi hi. Jadul banget. Pada jamannya dahulu, Ebiet ini ngetop banget loh. Semua orang ingin jadi Ebiet.

ada juga Rick Astley. Hayah … he he he …

Dan tentu saja ada … Boston! Salah satu album kesukaan saya (sehingga saya punya kaset, piringan hitam, CD, MP3, …  nanti FLAC menyusul, he he he).


Menjadi Nyamuk Malaria?

Baru saja saya mendengarkan ulang lagu karangan alm. Harry Roesli, yang berjudul “Malaria“. Lagu ini juga dibawakan oleh Kikan dalam album Rockestra-nya Erwin Gutawa. Yang saya sukai dari lagu ini, selain melodinya, adalah liriknya. Luar biasa! Saya kutipkan di sini:

Sampai tempat tidurmu putih
Itu tandanya kau bersedih
Mengapa tidak kau tiduri
Kau hanya terus menangis

Apakah kau seekor monyet?
Yang hanya dapat bergaya
Kosong sudah hidup ini
Bila kau hanya bicara

Kini matamu kan bertanya
Apakah yang kau pikirkan nona
Kau hanya bawa air mata dan ketawa
Yang kau paksa

Lantai kamarmu kan berkata
Mengapa nona pengecut
Wujudkan saja hidup ini
Sebagai nyamuk malaria
Sebagai nyamuk malaria

Tidak banyak lagu seperti ini. Lagu-lagu sekarang kebanyakan lagu galau, aku cinta aku. Mengapa tidak banyak lagu seperti ini?

Bagi saya lagu ini sangat menginspirasi. Hidup kita di dunia harus manfaat. Jangan hanya sekedar hidup. Atau bahkan lebih menyedihkan lagi … menjadi nyamuk. Sudah nyamuk, menyebarkan malaria lagi. Sangat jahat!

Jangan jadikan hidup kita seperti nyamuk malaria!


5 tahun BanDos

Hari Jum’at ini (16 Maret 2012) akan ada acara 5 tahun BanDos di lapangan basket ITB. Acara mulai dari pukul 5 sore sampai pukul 10 malam. Hadir ya …


Terjebak di Masa Lalu

Saya sedang mendengarkan lagu-lagu dan yang menarik (setidaknya bagi saya) adalah lagu-lagu yang sedang saya dengarkan berasal dari tahun 70-an. Misalnya, yang sedang saya dengarkan ketika mengetik tulisan ini adalah lagu-lagu dari band UFO; “Belladonna”, “Martian Landscape”, dan seterusnya. (Akhirnya memang terus ke tahun 80-an juga.)

Lagu karangan musisi pada masa itu memang luar biasa. Sudah 30 tahunan tetap saja mereka masih enak didengar. Liriknya pun banyak yang bagus-bagus. Kenapa lagu-lagu sekarang terlalu “enteng” ya?

Memang jenis musik dan selera selalu berubah dengan waktu. Saya tidak ingin mengatakan bahwa semua lagu sekarang itu buruk, tetapi dibandingkan lagu-lagu jaman saya muda dulu kok … gimana gitu ya. Mungkin karena waktu itu saya masih teenager sehingga lagu-lagu itulah yang melekat. Musik adalah perjalanan.

Mendengarkan musik lagi ah …

update. Sambil mendengarkan lagu-lagunya saya melihat sampul albumnya, cover art. Wah bagus-bagus. Seneng. Kalau album sekarang hanya foto artisnya aja. Bosen. Sekalian download cover art yang belum saya punya.


Proposal Studio Musik?

Saya diberi tugas untuk membuat proposal studio musik untuk BanDos / ITB. Ada yang punya contoh? Kemungkinan yang saya butuhkan adalah data mengenai:

  1. pembenahan akustik ruangan (satuannya apa? per meter persegi?);
  2. listrik, AC, … (berapa titik outlet listrik);
  3. sound system (speakers, amplifier, microphone untuk penyanyi / flute / brass, kabel-kabel);
  4. amplifier untuk alat musik;
  5. alat-alat musik (drums, keyboard, gitar);
  6. peralatan pendukung (meja partitur, kursi).

Apa lagi ya? Ada yang punya contoh? Misalnya proposal untuk studio musik yang direntalkan.


Manggung di Depan Ribuan Orang

Tadi siang (sore) akhirnya saya manggung di depan 3000 orang. Lebih tepatnya di depan 3000 mahasiswa TPB ITB :)  Saya manggung dengan BanDos (Band Dosen ITB) di Sasana Budaya Ganesha. Kami hanya sempat membawakan 4 lagu karena waktu yang terbatas. Padahal kumpulan lagu kami ada puluhan :)   Yang penting jam terbang nambah. Alhamdulillah …

Ini foto dari atas panggung yang saya ambil dengan menggunakan handphone. Sayang kurang bagus ya? Di sebelah kanan ada banyak penonton lagi (pakai kaos putih semua).


Mencari Keyboards

Saya sedang mencari keyboards yang bisa dipakai di rumah tetapi juga bisa dipakai manggung. Harganya juga jangan yang terlalu mahal.

Kemarin kami sempat lihat-lihat Yamaha seri PSR itu, tapi bingung juga mau yang mana. Kemarin sih lihat yang PSR 710. Katanya ada yang PSR 910 (tapi yang ini tidak tahu harganya). Selain itu saya sempat melihat Korg (seri PA?) dan Roland juga, tetapi kok kayaknya yang Yamaha yang menarik. (Padahal dahulu saya lebih suka sound dari Roland.)

Saran?


Dicari Komponen Gitar

Kemarin saya dan anak saya ngoprek (tepatnya mbongkar) gitar. Kebetulan yang dibongkar adalah pickup-nya. Nah kepikiran mau eksperimen dengan pickup gitar. Ada yang punya komponen gitar – terutama pickup – yang gak kepakai. Mau dicoba-coba dipasang, dibongkar, diganti magnetnya, lilitannya, dan seterusnya. Pokoknya lagi nyari komponen gitar yang bekas, gratis, atau murah.

Punya?


[itu foto benerannya. yang dioprek, gitar GM03]


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.698 pengikut lainnya.