Tag Archives: Musik

Belajar Memotret Acara Musik

Memotret music show bukanlah pekerjaan yang mudah. Masalah yang dihadapi adalah cahaya yang sedikit (lemah) dan musisi yang banyak bergerak. hi hi hi. Sementara itu kamera saya juga yang masih kelas pemula. Eh, masalahnya bukan di kameranya saja, tetapi lebih karena saya baru pemula untuk urusan ini. Akibatnya, potret sering terlihat kabur.

Semalam saya hadir di acara musik “And then there were two for the show”, yang merupakan acara musik progressive rock Genesis dan Kansas. Sekalian karena saya menyukai musik ini, saya gunakan juga sebagai latihan memotret. Maka saya bawa Nikon D3100 saya.

Hasilnya lumayanlah. Untuk kelas pemula. hi hi hi. Foto-foto (mungkin lebih dari 60 buah) baru saja saya upload ke account Facebook saya. Nantinya akan saya upload ke Picasa juga sehingga bisa dinikmati tanpa harus berlangganan ke facebook atau sejenisnya.

DSC_0874 magnum 1000

Jreng!


Lagu Adalah Perjalanan Hidup

Secara tidak sengaja saya melihat film di TV, the Lake House. Iya itu yang pemeran utamanya adalah Sandra Bullock dan Keanu Reeves. Salah satu yang menarik bagi saya adalah lagu-lagu soundtracknya.

Ketika saya mendengar lagunya Carole King, It’s too late, langsung saya mengenali. Oke, itu lagunya Carole King. Terus tidak lama lagi ada lagunya Paul McCartney, This Never Happened Before. Saya juga mengenali lagu itu. Hmm… ada yang aneh. Ada kesan dejavu. Setelah saya pikir-pikir, nampaknya saya memang mengenali lagu itu ketika dulu nonton film ini. Jadi memang lagu-lagu ini dalam memori saya melekat dengan film itu.

Demikian pula dengan lagu-lagu lain. Mereka melekat dengan perjalanan hidup kita. Begitu mendengar lagu tertentu maka yang terbayang adalah kisah-kisah yang kita alami pada masa itu. Itulah sebabnya kalau kita seumuran, probabilitas mendengarkan lagu yang sama sangat besar. Jadi kalau ada acara reunian maka lagu-lagu itulah yang dikeluarkan karena lagu adalah perjalanan hidup.

Sekarang saya malah jadi berpikir, bagaimana data | memori disimpan dalam otak kita ya? Rasanya tidak mungkin kalau dia disimpan seperti dokumen dalam folder. Nampaknya dia disimpan secara berurutan berdasarkan waktu, seperti “time line” di facebook. Kemudian, ada semacam mekanisme pencarian (search) yang berbasis pola (pattern) yang agak samar-samar (fuzzy), bukan berbasiskan address. Lho kok jadi seperti kuliah arsitektur komputer begini. hi hi hi.


Jreng!

Tadi siang sampai dengan sore, kami (BanDos) manggung di Lawang Wangi Creative Artspace dalam rangka ikut meramaikan acara fund raising bagi Ridwan Kamil sebagai calon walikota Bandung. Komentar saya mengenai Ridwan Kamil akan saya tuliskan secara terpisah ya. Cerita tentang manggungnya dulu aja.

Manggungnya cukup sukses. Tentu saja ini menurut saya. Saya lupa berapa lagu yang kami mainkan, 20-an gitu? Masih banyak lagu-lagu kami yang belum sempat dibawakan. Untuk acara ini saja kami sudah latihan sekitar 40 lagu :)

CIMG4710 guitars 1000

Satu hal yang perlu saya catat adalah musik kami cukup keras (loud) meskipun jenis musiknya adalah pop / funky. Mungkin ini disebabkan karena kami full band dengan banyak personel pemain band dan penyanyinya. Mungkin juga style kami yang lebih ke arah show di tempat terbuka bukan di ruangan cafe.  Berikutnya nampaknya kami harus juga memiliki versi akustikan.

Jreng!


Pemutar MP3 Portable Yang Mana?

Situasinya begini. Koleksi lagu-lagu saya sudah pindah dari bentuk fisik kaset+CD ke bentuk digital (MP3 dan sebagian ada yang FLAC). Berkas-berkas MP3 ini ada banyak – sekitar 180 GB – sekali sehingga saya simpan di dalam satu komputer, yang sekarang adalah komputer desktop berbasis Ubuntu. Kalau saya ingin mendengarkan lagu, terpaksa saya nyalakan komputer tersebut.

Problemnya adalah menyalakan komputer itu butuh waktu, tidak bisa dalam 2 detik bisa langsung memutar lagu. Jadi kalau mau mendengarkan sebuah lagu harus sabar dulu sampai semuanya nyala. Masalah kedua adalah saya harus duduk di depan komputer untuk mendengarkan lagu. Saya tidak dapat mendengarkan lagu di mobil misalnya. Tidak portable. Masalah ketiga, yang ini sangat tergabung kepada setup saya, adalah kebetulan disk dari komputer desktop saya ini saya pasang secara eksternal. Kotak dari disk ini membutuhkan power supply dan kipas, yang sayangnya bising sekali bunyinya. Alih-alih mau mendengarkan lagu, malah mendengarkan suara kipas seperti kapal terbang!

Saya sekarang ingin mencari pemutar MP3 yang agak portable. Syarat yang utamanya adalah:

  • kualitas suaranya bagus;
  • dapat memputar MP3 (dan kalau bisa juga FLAC);
  • memiliki storage yang cukup besar (di atas 180 GB) – yang ini kalau tidak bisa sebesar itu ya tidak apa-apa tetapi saya harus repot memindah-mindahkan lagu yang diinginkan, setidaknya di atas 32 GB lah.

Sementara ini yang terbayang oleh saya adalah Apple iPod versi yang pertama dulu, yang disknya besar itu. Tapi itu kan dulu. Mungkin sekarang sudah ada yang lebih bagus lagi. Kalau handphone dan sejenisnya, storagenya sangat kecil (mungkin hanya 8 GB). Ini terlalu kecil.

Ada saran?


Hari Ibu

Dalam rangka merayakan hari Ibu, 22 Desember, saya upload lagu buatan saya. Judulnya adalah “Untuk Ibu“. Tersedia di Soundcloud.

Selamat menikmati dan selamat Hari Ibu.


the Voice

Sekarang saya sedang senang nonton the Voice. Itulho acara TV yang mencari bakat penyanyi, seperti American Idol, tetapi ada bedanya. (Silahkan lihat deh informasinya di Internet.)

Yang membuat saya suka adalah penyanyi-penyanyinya. Pada musim ketiga ini mereka mendapatkan penyanyi yang keren-keren. Berikut ini adalah penyanyi yang keren menurut saya.

Yang pertama adalah Nicholas David. Ini penyanyi yang tampangnya kelihatan seperti terlalu tua, dengan jenggotnya yang panjang dan tidak teratur. Ini mengingatkan saya kepada para artis jaman tahun 70an atau setidaknya band ZZ Top. he he he. Begitu dia nyanyi, wah kerasa sekali nuansa soul-nya. Cengkok-nya itu khas sekali. Soul. Bahkan gara-gara dia saya menjadi suka (kembali) lagunya Al Green – Let’s stay together. Dia ini adalah favorit utama saya di musim ini.

Yang kedua adalah Terry McDermmott. Pada awalnya saya merasa biasa-biasa saja, tetapi lama kelamaan saya suka karena konsistensi dia dalam jenis musik yang dia bawakan yaitu Classic Rock. You know me. Saya penggemar musik berjenis classic rock. Jadi selama dia ada di acara, saya akan mendengar lagu-lagu classic rock. A big plus. Yang paling saya sukai adalah ketika dia menyanyikan lagunya Wings / Paul McCartney, Maybe I’m Amazed. Keren.

Perlu diingat bahwa vokalis classic rock biasanya memiliki  suara yang tinggi. Kalau sekarang sih semakin rendah semakin bagus. Growling di musik metal misalnya. Nah, mencari penyanyi yang memiliki suara tinggi itu susah. Contoh jagoan saya dari jaman dulu adalah Steven Tyler (Aerosmith), Steve Perry (Journey), dan sejenisnya.

Go the Voice!


Riset Musik Pribadi

Hanya karena tertarik saja, saya mencoba memahami musik progressive rock. Baca buku dan dokumen sana sini. Ada banyak yang belum saya mengerti. Salah satunya adalah tentang multi-movement dan single-movement. Apa sih itu?

Sambil baca-baca saya corat-coret di kertas untuk mengumpulkan bahan-bahan lain, yang dalam hal ini berupa lagu-lagu. Ini dia contoh corat-coretan kertas saya (yang bakalan hilang kalau tidak saya potret – he he he). Nampaknya link-link ke lagu tersebut (setidaknya yang ada di YouTube) bagusnya saya tampilkan juga di halaman ini ya?


Musik dan Elektronik

Terpicu oleh sebuah diskusi di milis tentang musik, saya mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah saya lakukan terkait dengan musik. Latar belakang akademik saya terkait dengan elektronika dan komputer. Musik bagi saya adalah hobby tetapi juga passion. Saya belum berani melakukan hal-hal yang terkait dengan musik secara akademik. Namun itu bukan berarti saya tidak peduli lho.

Ketika bersekolah di Kanada dahulu saya sempat mengambil kuliah Computer Music, yang diselenggarakan di departemen musik. Saya ingin mengetahui banyak hal yang terkait dengan hal itu. Memang kuliahnya menarik. Kami diajari tentang sound. Ada tugas untuk mendengarkan karya John Cage, “musik” eksperimental itu. Avant-garde. Seru juga. Ini sangat jauh dari musik pop. Kemudian kami juga diajarkan tentang bagaimana menghasilkan suara instrumen secara elektronik, seperti yang digunakan pada synthesizers dan keyboard.

Saya juga sempat berkolaborasi dengan seorang musisi (gitaris) yang berencana untuk membuat software musik. Waktu itu kami sama-sama tertarik tentang bagaimana mendeteksi pitch secara real-time. Idenya adalah seorang penyanyi dapat mengendalikan keyboard (via MIDI) dengan cara bernyanyi. Harus ada sebuah alat yang melakukan pitch tracking.

Saya akhirnya harus membuat soundcard sendiri dengan menggunakan komponen elektronika yang tersedia dan melakukan wirewrap di PCB sendiri. Ini waktu jaman sebelum ada Soundblaster dari Creative Labs itu. Saya juga harus membuat driver softwarenya sendiri yang berjalan di atas MS-DOS. Akhirnya saya juga membuat chip untuk pitch tracking tetapi saya gunakan untuk aplikasi biomedik, yang ini kemudian menjadi basis penelitian S2 saya waktu itu. Dari musik dipelesetkan ke medis. hi hi hi.

Secara keilmuan nampaknya harus ada kolaborasi dari orang teknis – dengan latar belakang elektronika, pemrograman – dan orang musik ya. Sebetulnya ini bukan hal yang baru. Lihat saja Dr. Moog, yang terkenal dengan Moog synthesizersnya. Atau lihat juga Ray Kurzweil dengan keyboard Kurzweil yang memiliki sound luar biasa.

Sayangnya kolaborasi seperti ini belum terjadi di Indonesia. Suatu saat?


Musik Adalah Perjalanan Hidup

Kadang saya bertanya-tanya mengapa seseorang menyukai jenis musik tertentu, sementara orang lain jenis yang lain. Pertanyaan ini hadir karena saya merasa memiliki selera musik yang termasuk golongan minoritas. Saya menggemari musik jenis progressive rock atau classic rock, yang mana tidak begitu banyak penggemarnya di Indonesia. Jangankan di Indonesia, di dunia pun penggemar musik jenis ini sangat terbatas.

Setelah menelusuri ke sana ke mari, akhirnya saya berkesimpulan bahwa musik terkait dengan perjalanan hidup seseorang. Musik yang dia dengarkan ketika dia kecil atau ketika menderita ikut membekas dalam diri. Itulah sebabnya seseorang yang terekspos ke satu jenis musik tertentu akan menyenangi musik jenis itu.

“… music exists as a form of communication between people of a certain time, place, and culture…” (Pleasants & Small)

Saya mencoba mengingat-ingat perjalnan hidup saya. Ketika muda dahulu saya sering mendengarkan lagu-lagu American Top 40 dari radio Australia atau radio yang ditemukan melalui channel SW. Wah, ini jadul sekali. Kemudian di rumah kami tinggal banyak saudara yang notabene adalah mahasiswa. Pada tahun 70-an para mahasiswa ini menggemari musik jenis classic rock. Saya mulai terekspos musik-musik dari Yes, Genesis, Gentle Giant, dan yang lebih aneh-aneh lagi.

Bandung. Ini lagi. Di Indonesia ada dua kota yang nampaknya secara musik membekas bagi warganya, Bandung dan Malang. Di Bandung ada tempat membuat kaset dengan label “Yess”. Jangan bayangkan ini label yang legal menurut HaKI jaman sekarang tentunya. Lihat konteksnya ya. Yess ini memproduksi album-album band yang progressive / classic rock itu. Saya pun mulai mengoleksi kaset-kaset keluaran Yess ini.

Bahasa Inggris dan Kultur. Ini yang agak sedikit twisted. Musik jenis progressive rock bukanlah musik dari jenis yang bisa digunakan untuk menari, bergoyang. Kalau berlirik, liriknya menggunakan bahasa Inggris yang kental dengan cerita kultur orang Barat. Saya sendiri kursus bahasa Inggris sejak masih kecil (SD) sehingga bahasa Inggris bukan masalah bagi saya. Nah soal kultur Barat, itu yang tidak saya mengerti. Bagaimana saya dapat mengerti apa yang diceritakan dalam lagu-lagu progressive rock itu ya? Ini masih pertanyaan.

Ketika kawan-kawan saya di SMA mendengarkan lagu-lagu disko, saya asyik mendengarkan Rush. Bahkan lagu “subdivision” merupakan lagu anthem bagi saya. Ternyata di belahan dunia yang lain, anak-anak seumuran saya juga mengambil lagu ini sebagai anthem mereka. Maka tidak heran ketika di kemudian hari saya pindah ke Kanada dan menemui rekan-rekan seumuran yang memiliki interest yang sama. Ini sebetulnya bertentangan dengan pendapat Pleasants & Small di atas. Mungkin saya termasuk anomali untuk kebanyakan orang Indonesia. Heh?

Tapi saya tetap meyakini bahwa musik adalah perjalanan hidup.


Foto Hari Ini

Flowers for Blue Marble Sky.

Seperti biasa, begitu pagi cerah maka saya lari ke luar dengan menenteng kamera. Langit merupakan obyek yang paling menarik dan paling mudah untuk dipotret. Lukisan alam yang selalu berubah ini sangat menarik untuk dipotret. Kadang dia bagaikan riak-riak laut. Serasa tenggelam di lautan langit itu. Kali ini lukisannya bagaikan marble.

Koleksi kaset (jadul) YESS.

Beres beres kaset yang ada. Potret dulu ah. “Label lokal” Yess seperti yang ada pada foto di atas, merupakan label yang banyak digandrungi oleh mahasiswa pada tahun 70-an dan 80-an. Jenis musiknya seringkali adalah progressive rock / rock. Nama artisnya juga seringkali aneh. Semakin tidak dikenal artisnya, semakin seru mengumpulkan kasetnya. Wah sayangnya kaset-kaset ini, meskipun masih bagus dan hanya covernya saja yang rusak, sudah tidak berani diputar lagi karena takut pemutarnya  malah merusak kasetnya. Nampaknya harus cari versi digital dari lagu-lagu yang ada di kaset ini. Hmm…

Pada tahun 80-an kaset masih merajalela di Indonesia. Ada banyak label lokal yang merilis album-album luar negeri. Foto di atas menunjukkan contoh album-album jazz yang ada pada masa itu.

Maksud tulisan ini tadinya hanya untuk menampilkan foto-foto. Eh, malah jadi cerita soal musik ya? hi hi hi. Semua dipotret dengan menggunakan Casio Exilim ZR20.


Jreng!

Baru saja saya sampai rumah (Bandung) setelah manggung di Planet Hollywood, Jakarta. Inginnya mau ngeblog tadi, tetapi tadi harus nyetir Jakarta Bandung. Sampai rumah sudah lewat tengah malam. Langsung ngeblog mumpung masih mood dan masih keingat yang mau ditulis.

Salah satu kesulitan ketika manggung adalah kendali suara. Tadi sudah checksound dan meskipun masih kurang puas, tapi oke lah. Yang menjadi masalah adalah ketika menyanyi, suara saya tidak terdengar oleh saya karena speakers berada di depan menghadap ke penonton. Sementara itu speaker monitor juga tidak mengeluarkan suara penyanyi. Akibatnya kontrol suara berdasarkan perasaan bukan dari feedback suara kita. Jadi saya tadi tidak yakin kalau suara saya tidak fals. he he he. Ampun.

Sebetulnya saya ingin minta pengelola sound system untuk memperbaiki kondisi tadi, tapi kayaknya mereka juga keburu-buru. Waktu untuk setup agak kurang. Kami juga tidak punya sound engineer sendiri. Oh well. Lain kali harus lebih baik.


Tentang Steven Tyler

Gara-gara nonton American Idol saya cari lagu Steven Tyler, “I don’t want to miss a thing”. Di acara American Idol tersebut salah satu kontestan, Jessica, menyanyikannya. Setelah saya dengarkan, versi Steven Tyler lebih bagus :)  Penjiwaannya lebih mantap.

Menulis tentang Steven Tyler ini saya jadi senyum-senyum sendiri. Saya jadi teringat pernah membuat sebuat artikel tentang band Aerosmith untuk majalah dinding SMA. Itu mungkin sekitar tahun 1980 atau 1979? Whoa. Sudah 30 tahun yang lalu. Sekarang tulisan ini juga dipasang di “majalah dinding internet”. Kalau 30 tahun lagi majalah dindingnya seperti apa ya?

Kembali ke Steven Tyler, memang dia masih hebat suaranya.


Update Buku

Menulis buku ternyata tidak mudah. Saya sudah mencoba dan saat ini saya baru punya 3 buku yang terbit (dan kemudian menghilang dari pasaran – he he he). Kali ini saya mau cerita tentang draft buku yang sedang saya buat.

Saya ingin membuat buku tentang musik sebagai referensi buat saya sendiri. Akhirnya tahun 2002 saya mulai menulis “Membedah Classic Rock”. Sampai sekarang (2012) – 10 tahun kemudian – buku ini belum selesai juga. Halah. Mungkin memang buku seperti ini tidak ada selesainya ya?

Tadi pagi, sehabis subuh, saya lanjutkan menulis buku ini. Versi 2.13 saya upload ke sini (di scribd). Silahkan download di sana. Selamat menikmati.


Piringan Hitam

Bongkar-bongkar lemari. Melihat koleksi piringan hitam. Duh sudah lama tidak disetel karena sudah tidak punya pemutarnya lagi. Pengen beli yang murah meriah tapi bagus :)  Ini beberapa foto snapshot.

Sebagian besar bernuansa progressive rock. Misalnya yang ini adalah album Anthony Phillips yang saya sukai sejak SMA, album “The Geese and the Ghost“.

Eh ternyata saya juga punya piringan hitam Ebiet G. Ade, Camelia 4. hi hi hi. Jadul banget. Pada jamannya dahulu, Ebiet ini ngetop banget loh. Semua orang ingin jadi Ebiet.

ada juga Rick Astley. Hayah … he he he …

Dan tentu saja ada … Boston! Salah satu album kesukaan saya (sehingga saya punya kaset, piringan hitam, CD, MP3, …  nanti FLAC menyusul, he he he).


Menjadi Nyamuk Malaria?

Baru saja saya mendengarkan ulang lagu karangan alm. Harry Roesli, yang berjudul “Malaria“. Lagu ini juga dibawakan oleh Kikan dalam album Rockestra-nya Erwin Gutawa. Yang saya sukai dari lagu ini, selain melodinya, adalah liriknya. Luar biasa! Saya kutipkan di sini:

Sampai tempat tidurmu putih
Itu tandanya kau bersedih
Mengapa tidak kau tiduri
Kau hanya terus menangis

Apakah kau seekor monyet?
Yang hanya dapat bergaya
Kosong sudah hidup ini
Bila kau hanya bicara

Kini matamu kan bertanya
Apakah yang kau pikirkan nona
Kau hanya bawa air mata dan ketawa
Yang kau paksa

Lantai kamarmu kan berkata
Mengapa nona pengecut
Wujudkan saja hidup ini
Sebagai nyamuk malaria
Sebagai nyamuk malaria

Tidak banyak lagu seperti ini. Lagu-lagu sekarang kebanyakan lagu galau, aku cinta aku. Mengapa tidak banyak lagu seperti ini?

Bagi saya lagu ini sangat menginspirasi. Hidup kita di dunia harus manfaat. Jangan hanya sekedar hidup. Atau bahkan lebih menyedihkan lagi … menjadi nyamuk. Sudah nyamuk, menyebarkan malaria lagi. Sangat jahat!

Jangan jadikan hidup kita seperti nyamuk malaria!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.841 pengikut lainnya.