Arsip Tag: opini

Cerita Lebih Penting

Dalam sebuah diskusi ada seorang mahasiswa yang bertanya bagaimana menyikapi kelemahan infrastruktur IT di Indonesia sehingga sulit untuk mengembangkan aplikasi (dalam hal ini games) yang high quality (dari segi kualitas suara, gambar, dan sejenisnya). Dia mengatakan bahwa gara-gara infrastruktur yang kurang baguslah kita sulit untuk mengembangkan karya yang bagus. Sulit untuk mendapatkan pengguna atau penggemar.

Jawaban saya saya peroleh dari nara sumber adalah bahwa tidak benar kualitas itu menentukan kepopuleran. Bahwa yang penting adalah ceritanya. Contoh, kita tetap menonton film dari CD/DVD bajakan dengan kualitas yang rendah. Yang kita kejar adalah ceritanya. Tentu saja kalau kualitas gambar dan suaranya lebih bagus kita lebih suka, tetapi dengan kualitas yang seadanya pun kita tetap akan menonton. Saya setuju dengan pendapat ini.

Ini lebih menguatkan pendapat bahwa cerita itu lebih penting. Dan tentunya cara menceritakannya – how to tell the story – itu juga penting. Sayangnya ini tidak diajarkan di sekolah. Terpaksa kita harus belajar sendiri. Mari kita belajar untuk membuat cerita dan menceritakannya dengan menarik.


Harus Baca Buku

Bagaimana kita menjadi semakin lebih baik (pintar) di bidang kita? Salah satu caranya adalah dengan membaca buku. Masalahnya adalah membaca buku menjadi semakin kurang digemari. Apalagi dengan adanya internet yang membuat kita ingin cepat mengetahui tentang sesuatu topik dengan hanya membaca twitter. he he he. Mana bisa menjadi pakar dengan hanya membaca twitter.

Mengapa buku? Karena buku memungkinkan pembahasan yang mendalam. Apa yang kita baca di berita (news) atau artikel di internet – termasuk blog ini – biasanya hanya membahas kulitnya atau hanya membahas kesimpulannya saja. Bahasan yang lebih dalam atau bagaimana sang penulis sampai kepada kesimpulan tersebut tidak dapat (jarang sekali) dibahas dalam artikel online. Kalaupun dituliskan dalam blog, misalnya, kemungkinan tidak ada yang tertarik untuk membaca. Apakah Anda mau membaca tulisan di blog yang panjangnya 75 halaman (screen, layar)? he he he. Saya yakin jawabannya adalah tidak!

Menulis buku juga tidak mudah. Buku yang bagus maksudnya :)   . Sang penulis harus mengumpulkan data untuk isnya, merangkumkan, membuat analisis, dan memilih kata-kata yang pas agar menyenangkan untuk dibaca. Tidak seperti menulis di blog ini yang asal mangap. Eh, asal ketik. hi hi hi. Yakinlah bahwa menulis buku itu bukan sebuah pekerjaan yang main-main. Ini tercermin dalam produknya; buku.

Oleh sebab, maka, daripada itu, … membaca buku masih merupakan sebuah keharusan.

Buku apa yang sedang Anda baca? (Atau, buku apa yang terakhir Anda baca? Kapan?)


Dukung Ridwan Kamil

Hari Minggu kemarin, saya menghadiri acara fund raising untuk Ridwan Kamil sebagai calon walikota Bandung. Sebetulnya sih kehadiran saya adalah dalam rangka untuk manggung dengan BanDos, seperti di postingan terakhir, tetapi kesempatan ini saya gunakan juga untuk mengenali apa yang ditawarkan oleh Ridwan Kamil.

CIMG4723 bandung juara 1000

Ridwan Kamil memberi presentasi mengenai program kerjanya dia. Menurut saya apa yang ditawarkan tidak muluk-muluk, dapat diimplementasikan, dan memang dibutuhkan oleh warga kota Bandung. Jalan yang rusak, berlubang, dan buruk kondisinya harus diperbaiki. Ridwan Kamil dan kawan-kawan juga tidak hanya janji-janji saja karena mereka sudah mengerjakan hal ini (perbaikan jalan). Kemudian mereka juga memperbaiki taman-taman yang dibutuhkan oleh anak-anak (dan tentunya juga orang tuanya) agar mereka ada tempat bermain. Dan masih banyak lainnya.

[Kalau ada rekan-rekan yang punya materi presentasinya, mohon diberitahu link-nya.]

Terus terang, saya adalah orang yang apatis terhadap pemilu-pemilu. Sama dengan banyak orang lainnya. Namun untuk kali ini, saya berpendapat bahwa Ridwan Kamil pantas untuk didukung. Kita sudah muak dipermalukan dengan kondisi Bandung. Untuk membuktikan dukungan, saya akan transfer uang ke rekening kampanye Ridwan Kamil. Semoga penduduk kota Bandung – dan juga bukan penduduk kota Bandung (misalnya rekan-rekan dari Jakarta yang sering datang ke Bandung dan kesal dengan jalan-jalan Bandung yang buruk) – ikut mendukung Ridwan Kamil.

Bandung, Juara … Juara … Juara … Juara …


Tidak Logis

Salah satu hal yang sering membuat saya kesal adalah kalau orang membuat keputusan yang tidak logis, tidak runut, tidak masuk akal. Mungkin ini gara-gara latar belakang engineering saya sehingga semuanya harus logis.

Saya tidak dapat mengatakan bahwa jumlah pengguna internet Indonesia ada sekitar 20% tanpa ada data yang jelas. Saya tidak boleh mengatakan bahwa itu “menurut saya”. Suka-suka saya. Tidak bisa.

Baru saja saya ngomel melihat orang membuat pernyataan “10 situs web terpopuler (menurut xyz)”. Pasalnya ada banyak situs web yang lebih populer dari yang ada di daftar tersebut. Mengapa mereka tidak dimasukkan? Saya tanyakan bagaimana metodologinya, data setnya, dan hal-hal yang terkait. Jawabannya tidak memuaskan. Intinya adalah ya itu menurut saya (xyz). Ini bagi saya tidak masuk akal dan cenderung menyesatkan.

Mahasiswa memberikan presentasi tentang tugas akhir | thesis | disertasi. Saya tanyakan bagaimana dia yakin bahwa sistem yang dia buat itu berfungsi (sesuai dengan spesifikasinya). Jawabannya sering tidak masuk akal. Ya dicoba saja. He he he. Dicoba itu harus jelas. Data masukan (input) yang diberikan itu apa? Keluarannya seperti apa? Dilakukan berapa kali? dan seterusnya. Lagi-lagi tidak logis.

Berdiskusi tentang sebuah rancangan regulasi yang akan dikeluarkan pemerintah. Ada beberapa hal yang saya tanyakan; mengapa ada pasal | ayat ini dan itu. Membuat regulasi itu tidak asal-asalan. Jangan memalukan. Untungnya teman-teman mengakomodasi hal ini. Saya sering lihat ada banyak keputusan pemerintah (atau pimpinan) yang nggak logis. Bahkan di lingkungan perguruan tinggipun kadang ada hal-hal yang tidak logis. Bikin kesel aja.

Oleh sebab maka dari itu … kalau membuat sesuatu, buat yang logis ya. Kalau tidak, nanti saya kritik. hi hi hi.


Menolak Untuk Menjadi Bebek

Satu hal yang akhir-akhir ini banyak membuat saya jengkel adalah kebiasaan orang meneruskan (forward) berita-berita dari internet baik di milis maupun di media sosial. Biasanya hal ini ini dilakukan tanpa pikir panjang. Pokoknya forward. Mengenai beritanya benar atau tidak, baru atau basi, tidak peduli. Forward dulu, urusan belakangan.

Hal ini semakin diperparah dengan kemudahaan aplikasi / situs untuk melakukan forward. Tinggal tekan tombol atau linkshare“, maka tulisan langsung diteruskan. (Kadang malah dalam sebuah milis ada dua orang yang meneruskan berita yang sama.)

Akibat dari ini saya menjadi bosan karena di milis, di media sosial, situs web, topik yang dibahas juga sama semua. Itu lagi itu lagi. Kalau sekarang yang sedang ngetren misalnya “pengusiran orang cakep di Timur Tengah”, “dosen abal-abal”, apa lagi? Bosen. Mbok ya buat topik baru gitu.

Satu hal yang tidak terpikirkan oleh banyak orang adalah kebiasaan ini membuat kita tidak kreatif. Kita hanya bisa meneruskan, membebek, ngikut, alias tidak kreatif.

Saya menolak untuk menjadi bebek. he he he.


Sialan Salman!

Entah kenapa, dua buku yang terakhir saya miliki – “at-twitter” dari Pidi Baiq dan “Sialan Salman!” dari Salman Aditya – ternyata ditulis oleh orang-orang yang “sinting”. (Punten ah.)  Yang saya maksud dengan sinting di sini sebetulnya lebih ke arah mbeling, aneh, lucu, kacau, dan hiperbol. Hmmm… jangan-jangan memang mereka sesungguhnya memang memliki kelainan dalam artian sebenarnya. hi hi hi.

CIMG4653 salman 1000

Pertama, tentu saja judulnya sudah menimbulkan pertanyaan. Siapa Salman? Dan kenapa sialan? Untuk pertanyaan pertama gampang jawabannya. Siapa Salman? Ya dia yang menulis buku ini Salman Aditya. Tadinya saya berpikir ini tentang Salman yang namanya diabadikan jadi nama masjid di kampus ITB. Eh, jangan-jangan memang ide nama Salman ini datang dari sana juga karena bapaknya Salman – yang Aditya lho, bukan yang orang Persia – itu dosen ITB. Yang membuat saya heran adalah bapaknya itu orangnya serius, anaknya kok bisa jadi kayak gini ya? he he he. Ampun pak dosen :)

Kedua, saya sering heran dan kagum terhadap kemampuan orang memilih kata-kata. Ada buku yang pemilihan kata-katanya indah. Kalau buku yang ini, pemilihan kata-katanya mbeling, aneh, lucu, kacau, dan hiperbol. he he he. Ini yang justru membuatnya menjadi seru. Otak kita dibawa ke arah yang tidak lazim. Saya yakin otak mereka memang agak miring sehingga dapat melihat kata-kata di kamus yang memang hanya bisa dilihat kalau agak miring. Kalau yang ajeg kayak saya ini munculnya kata – eh, data – yang membosankan. Sialan!

Maka sialan Salman pun menjadi sebuah cerita komedi yang seru.

Oh ya, more thing, karya-karya yang kreatif seperti ini harus dihargai, didukung. Encourage them to create more. Kalau kata orang Sunda, “sok dibeli atuh”.

Mau tahu lebih banyak tentang buku ini? Silahkan lihat di sialansalman.com/books


Mengajari Membaca Buku

Pertanyaan yang sering saya lemparkan kepada mahasiswa saya adalah “buku apa yang sedang kalian baca”. Seringnya dijawab dengan pandangan yang kosong. Kemudian dilengkapi dengan alasan sibuk tugas kuliah. Yaelah…

Membaca mungkin belum menjadi budaya bangsa kita ya? Yang saya maksudkan dengan membaca di sini bukan membaca buku teks atau buku pelajaran, tetapi buku-buku (atau apa saja) dengan topik yang bervariasi. Liar.

Mungkin memang budaya baca adalah budaya orang Barat. Sementara itu kita memiliki budaya Timur. Beda saja. Bukan berarti budaya Barat lebih bagus bukan? Hanya saja saya merasa bahwa seharusnya kebiasaan membaca ini dapat kita jadikan budaya kita.

Kalau dahulu kita kesulitan akses terhadap bahan bacaan. Buku-buku yang bagus banyak beredar di luar Indonesia. Akses terhadap buku itu susah dan kalaupun dapat bukunya harganya mahal sekali. Perpustakaan di Indonesia juga kualitasnya buruk sekali. Maka hanya sebagian orang saja yang dapat menyisihkan uang untuk membeli buku. Maka makin sedikit yang membaca buku. Ini menjadi siklus yang makin menjauhkan orang Indonesia dari kebiasaan membaca.

Sekarang dengan adanya internet sangat mudah untuk mendapatkan buku, baik secara legal ataupun tidak. (hi hi hi.) Intinya adalah sekarang akses ke buku apapun lebih mudah. Ini bukan masalah seperti jaman dahulu.

Saya ingin mengajak mahasiswa saya untuk menggemari membaca. Tapi bagaimana caranya ya? Salah satu cara yang saya lakukan adalah menunjukkan – mencotohkan – kepada mereka buku-buku yang sedang saya baca. Semoga mereka ketularan dan dapat merasakan nikmatnya serta manfaatnya membaca.

Ya, membaca memang nampaknya masih harus diajarkan. Dibutuhkan waktu yang lama serta kesabaran yang luar biasa untuk mengubah budaya.

[baca buku dulu ah.]


Kehilangan Idealisme

Sedih juga melihat beberapa anak muda yang kehilangan idealisme. Mereka melakukan sesuatu hanya untuk jangka dekat dan pragmatis sekali. Padahal lingkungan mereka memberikan kemungkinan untuk berlatih dan mengembangkan idealisme.

Sebagai contoh di lingkungan kampus saya mencoba mengajak mahasiswa saya untuk melatih diri menjadi idealis. Ujian tidak perlu nyontek karena kalau tidak lulus nanti ada perbaikan (remedial) sampai lulus. Yang dibutuhkan hanya kemauan diri untuk melakukannya.

Di luar kampus nanti akan ada banyak tantangan. Salah satunya adalah lingkungan yang tidak idealis. Jika di dalam kampus saja tidak berusaha untuk melatih diri mengembangkan idealisme, bagaimana nanti di luar sana ya?

Beberapa anak muda ini juga mencoba mengembangkan bisnis tanpa mengindahkan etika. Selama menghasilkan uang yang lebih banyak apapun dilakukannya. Padahal pengalaman saya – dan juga pengalaman banyak orang yang berhasil – etika itu sangat penting. Bahkan dalam bisnis sekalipun. Ada banyak hal yang tidak dapat diukur dengan uang. Pertemanan, sebagai salah satu contohnya. Dalam bisnispun aspek pertemanan ini sangat penting. Lebih baik kehilangan uang sedikit tetapi mendapat teman (tetap berteman), daripada mendapatkan uang yang lebih tetapi kehilangan teman.

Dicari: idealisme


Mencari Popularitas?

Ada beberapa orang yang bertanya kepada saya bagaimana caranya agar populer (di internet, via blog). Saya kemudian bertanya

setelah terkenal, lantas mau apa?

Banyak orang yang tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Dalam pikirannya terkenal itu enak. Padahal itu adalah fatamorgana yang diciptakan oleh media massa saja.

Pernahkan terpikirkan oleh kita hal-hal yang tidak menyenangkan kalau kita terkenal? Biasanya sih tidak. hi hi hi.

Kembali kepada inti permasalahannya. Banyak orang yang ingin terkenal. Padahal dari orang-orang yang sukses, saya mendapat pelajaran bahwa mereka tidak mencari popularitas atau ketenaran. Mereka berkarya dan karena karyanya bagus, maka mereka terkenal. Jadi terkenal itu hanya efek sampingan. Bukan tujuan.


Traffic Palsu

Banyak orang yang bertanya bagaimana cara untuk mendapatkan banyak kunjungan ke halaman web (situs, facebook, dan sejenisnya). How to generate traffic? Jawabannya umumnya adalah SEO (search engine optimization), adwords, dan beli traffic. Sangat mudah untuk membuat robot yang menghasilkan traffic.

Jawaban di atas menurut saya adalah jawaban semu. Orang lupa bahwa sesungguhnya yang dicari bukan lalu lintasnya, melainkan orang beli barang yang ada di situs kita, atau orang menjadi lebih tertarik kepada isinya, belajar lebih banyak, terjadi diskusi, atau hal-hal yang sesungguhnya menjadi tujuan utama dari keberadaan situs kita. Bahwa harus ada traffic itu satu hal, tetapi menghasilkan traffic semu tidak akan mencapai tujuan yang kita harapkan. Memangnya kalau banyak like itu apa bisa mencapai tujuan kalau yang nge-like itu robot (program) he he he.

Jawaban saya untuk pertanyaan awal, how to generate traffic, adalah membuat tulisan yang menarik dan banyak. Tulisan harus sering diubah sehingga orang akan datang lagi. Atau tampilan diubah. Kalau tulisannya tetap sama, tampilan tetap sama, maka orang tidak akan datang berkali-kali. Toh tetap sama saja. Mengapa harus datang berkali-kali?

Yang saya lakukan pada blog ini ya seperti itu, menulis banyak (rutin). Itu saja. Tulisannya pun tidak hebat-hebat amat. Isinya adalah hal-hal yang terkait dengan saya. Itu saja.


Kini, Sekarang, Saat Ini

Jejaring sosial mengubah ekspektasi seseorang. Misalnya ketika saya menampilkan sebuah foto di sebuah tempat, orang lantas berpendapat bahwa saya sedang berada di tempat tersebut. Padahal foto tersebut saya ambil beberapa hari yang lalu.

Kemudian muncul komentar atau pertanyaan apakah saya sedang berada di tempat tersebut. Tentu saja pertanyaan ini tidak salah. Namanya juga bertanya. Apalagi mereka tidak tahu sekarang saya sedang berada di mana. Hanya saja saya menjadi bosan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Ini hanya masalah perbedaan harapan (ekspektasi) dari penulis dan pembaca.

Status di facebook juga “mengharuskan” ini adalah kondisi sekarang. Namanya juga status ya? Demikian pula twitter diharapkan bercerita tentang yang sekarang. Pokoknya urusannya adalah sekarang. Untung blog masih memberikan keleluasaan waktu.

Padahal sering saya ingin mengangkat tulisan dan foto yang bukan saat ini. Mungkin jejaring sosial bukan tempatnya? Mungkin itu sebabnya saya lebih suka menulis di blog?


Kasihanilah Saya

Ada satu sifat buruk yang saya lihat di beberapa (banyak) orang, yaitu sifat minta dikasihani. Saya ini dan itu. Susah. Kasihanilah saya. Dia hanya bisa mengomel ini dan itu. Usaha untuk melakukan perbaikan tidak dilakukan. Ataupun kalau ada usaha, itu dilakukan secara tidak maksimal. Sekedarnya saja.

Ketika sedang ada kesulitan, bukannya berusaha untuk menghadapi (menyelesaikan) masalah tersebut malah menghindari dan mengeluh.

Kenapa seperti ini ya? Lantas, apa perlu kita kasihani orang-orang semacam ini?


Jangan Cepat-Cepat Lulus

“Jangan cepat-cepat lulus”, demikianlah saran saya kepada mahasiswa di kelas. Mereka terbelalak. Tidak percaya saya menyarankan demikian. Saran ini ada alasannya.

Pertama, begitu Anda lulus maka akan ada tuntutan ini dan itu dari keluarga dan masyarakat. Tuntutan pertama adalah Anda harus menghasilkan uang. Bagaimana mungkin? Wong baru lulus kok harus menghasilkan uang. Ya, Anda dituntut untuk bekerja yang langsung menghasilkan uang. Ini merupakan tekanan bagi para lulusan. Percayalah.

Salah sendiri cepat-cepat lulus. Semestinya ketika Anda masih jadi mahasiswa Anda sudah mulai mencari pekerjaan. Atau sebetulnya lebih bagus lagi adalah Anda membuat portfolio sehingga pekerjaan yang mencari Anda. Lakukan itu ketika masih menjadi mahasiswa.

Kedua, begitu Anda lulus maka keberadaan Anda di kampus tidak dikehendaki oleh pimpinan atau pengelola kampus. You are not welcome. Apa status Anda? Anda kan bukan mahasiswa? Ngapain luntang lantung di sini. Sana pergi cari kerja. Padahal Anda di kampus ini dalam rangka mencari kerja.

Karena Anda tidak boleh di kampus, maka Anda akan sulit menggunakan fasilitas kampus. Tidak boleh! Padahal kampus adalah tempat yang paling cocok untuk memulai startup company. Lihatlah perusahaan-perusahaan startup yang sukses. Banyak yang dimulai dari kampus.

Maka dari itu, jangan cepat-cepat lulus.

Tetapi ingat juga, Anda harus tetap lulus. Jangan karena berlambat-lambat lulus dan akhirnya malah lupa lulus alias drop out. Wogh.


Kurang Isi Berbahasa Indonesia

Banyak orang ingin membuat portal berita, forum, milis (mailing list), blog, dan seterusnya. Setelah mereka buat ternyata sepi pengunjung. Mereka lupa bahwa yang membuat sebuah tempat hidup adalah adanya interaksi atau isi (content). Bahwa menyediakan tempat saja itu tidak cukup.

Bayangkan kalau kita membuat sebuah toko, katakanlah toko buku, yang isinya itu-itu saja. Tidak berubah selama berbulan-bulan. Pasti toko ini hanya ramai di awalnya saja. Setelah itu orang tidak mau berkunjung kembali. Untuk apa? Toh akan tetap seperti itu-itu saja. Tidak ada yang baru.

Hal serupa juga terjadi di dunia digital. Orang akan malas datang ke blog | portal | situs kita jika tidak ada yang baru. Apa artinya ini? Artinya adalah kita harus rajin mengisi dengan cara menulis.

Saya mengikuti beberapa milis. Kebanyakan mati. Milis yang hidup adalah milis yang memiliki orang yang rajin untuk menulis. Jika tidak ada yang berdiskusi, maka dia mengisi.

Sekarang kita bicara soal tulisan yang original atau tidak. Kebanyakan orang sekarang lebih senang melakukan repost | retwit | copy-paste tulisan. Ini sangat tidak menarik. Pasalnya orang sudah mendapatkan isi tersebut dari tempat lain. Akan muak dia kalau melihat tulisan yang sama di tempat kita juga. Maka dari itu, tulisan orisinal (biarpun lebih buruk dari segi kualitas) lebih menarik daripada repost.

Percayalah.

Lihat saja tulisan ini. Dari segi isi dan tulisan rasanya tidak ada hebat-hebatnya, tetapi yang menarik adalah … orisinal (dan tidak main stream). Orang tidak bosan. Meskipun bisa jadi tidak menarik juga. he he he.

Sebenarnya saya ingin membuat masterpiece. Tidak sekedar hanya membuat tulisan saja. Untuk membuat masterpiece nampaknya harus dimulai dari membuat yang biasa-biasa saja dahulu.


Buanglah Sampah Pada Tempatnya

Test Sampah 400Kesal sekali kalau melihat orang membuang sampah sembarangan. Terlebih lagi di jalan. Apa orang-orang ini mengira bahwa sampah yang mereka buang di jalan itu akan hilang dengan sendirinya?

Kebanyakan sampah ini berakhir di selokan. Hujan datang dan membawa sampah-sampah tersebut masuk ke selokan. Akibatnya selokan menjadi mampet dan air meluap ke jalan. Banjir jadinya.

Kalau sudah banjir seperti ini maka orang mulai berkeluh kesah. Padahal dia sendiri yang menjadi sumber banjir itu sendiri.

Pada suatu saat ada anak-anak yang sedang makan snack di dekat rumah kami. Ketika kami tanya di mana buang sampahnya, mereka dengan polosnya mengatakan selokan. Nampaknya mereka tidak diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya.

Tempat sampah juga sering tidak ada dekat kita. Kebanyakan orang malas untuk berjalan sedikit mencari tempat sampah. Atau kalau tempat sampah tidak tersedia, simpan dulu. Nanti kalau sudah ketemu tempat sampah baru dibuang. Bukan main lempar saja dari jendela ke jalan raya.

Tadinya saya pikir yang tidak mengerti hal ini hanya anak-anak saja, tetapi saya seringkali melihat orang yang mobilnya mewah melakukan itu. Mereka tidak ingin mobilnya kotor, jadi buang saja sampahnya di jalan! Seenaknya. Yang seperti ini mungkin bukan masalah pendidikan, tetapi pemalas! (Atau apa ya istilah yang lebih tepat?)

Mari kita buang sampah pada tempatnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.075 pengikut lainnya.