Tag Archives: opini

Tidak Bersedia Menjadi Menteri

Ternyata ada beberapa orang yang menunjukkan kepada saya bahwa Detik.com membuat halaman “Seleksi Menteri” dan saya menjadi salah satu yang dicalonkan. hi hi hi. Ada-ada saja. Ini screenshot-nya.

BR dicalonkan menteri

Repot juga untuk menjawab satu persatu di media sosial (facebook dan twitter) dan email. Nampaknya lebih mudah kalau jawabannya saya tulis di ini.

Saya tidak bersedia dicalonkan untuk menjadi menteri.

Nah, sudah jelas kan? Sudah pakai huruf bold segala. hi hi hi.

Ada banyak alasan mengapa saya tidak bersedia. Yang paling utama adalah karena menjadi menteri bukan cita-cita saya. Setiap orang itu punya cita-cita dan cita-cita itu harus dikejar. Hal-hal lain yang tidak mengarah kepada cita-cita tersebut sebaiknya dihindari. They are distractions. You have to say “NO” to those distractions. Misalnya Anda bercita-cita untuk bepergian ke Bali dari Bandung. Maka, tawaran ke Singapura harus dihindari karena itu tidak sejalan dengan tujuan Anda. Teguh.

Saya masih punya banyak kegiatan yang harus diselesaikan. Saya masih ingin menjadi technopreneur, membangun usaha-usaha yang memiliki nuansa teknologi. Berkontribusi kepada Indonesia kan tidak harus menjadi menteri. Kalau semua menjadi pimpinan, siapa yang jadi rakyat? Kalau peribahasa orang di Amerika Utara, “all chiefs, no indians“. he he he.

Saya sadar bahwa kadang agak susah menjelaskan ini ke banyak orang. Banyak yang menilai saya gila untuk menolak tawaran ini. Banyak orang yang kasak-kusuk ingin jadi menteri. Saya, tidak tertarik. Bagi saya, keputusan mengatakan tidak adalah hal yang mudah. It’s very clear to me. I am not interested. Semoga ini merupakan keputusan yang baik dan direstui oleh Allah swt. Amin.


Lagu Kritik Sosial

Perhatikan lagu-lagu Indonesia saat ini. Perhatikan liriknya. Apa yang kita dapati? Kebanyakan liriknya bernuansa cinta. Bahkan lebih spesifik lagi, liriknya bertemaka “aku cinta aku”. hi hi hi. Ya, Anda tidak salah baca. Aku cinta aku. Narsis. hi hi hi.

Nampaknya lirik lagu yang bertemakan kritik sosial sudah hampir punah. Atau jangan-jangan memang sudah punah. Seniman sudah tergerus oleh jaman. Selling out. Menggadaikan diri kepada industri. Maka senimanpun tersingkirkan.

Barusan saya mendengarkan lagu ini, “Jesus He Knows Me” yang dibawakan oleh group Genesis. Lagu ini menceritakan komersialisasi agama. Ah, ternyata tidak hanya di Indonesia, di luar negeri pun sama saja. Agama sudah dikomersialisasikan. Ayat-ayat suci dijadikan pembenaran.

Kalau lagu seperti ini dibuat di Indonesia, mungkin artisnya bakalan digeruduk massa ya? Soalnya ini sangat menyindir “ustadz”. hi hi hi. Bagaimana menurut Anda?

Sebetulnya bukan tidak ada lagu-lagu yang berisi kritik sosial, tetapi langka. Apa lagu kesukaan Anda?


Kabar Gembira

Ada kabar gembira untuk Anda sekalian. Bukan, bukan ekstrak kulit manggis tetapi anak-anak muda Indonesia berkarya!

Salah satu karya yang sedang ramai diperbincangkan adalah karya kumpulan anak muda, yang dimotori oleh Ainun dan kawan-kawannya, kawalpemilu.org. Ini adalah situs yang mengambil data form C1 dari situs KPU dan melakukan konversi dari gambar hasil scan menjadi angka dan melakukan operasi penjumlahan hasil pilpres. Ini merupakan sebuah implementasi nyata dari open data, open government, dan memberdayakan warga (empowering people). Keren sekali.

Hal-hal seperti ini yang membuat saya kembali yakin akan masa depan Indonesia yang cerah. Hebat.

Untuk anak-anak muda seperti Ainun dan kawan-kawan, semoga tidak menjadi lupa diri, sombong, arogan, merasa serba tahu, dan sejenisnya. Tetap gunakan ilmu padi. Oh ya, jangan keseringan masuk berita juga sih. hi hi hi. Keep low profile. I know it’s hard to say no to all the spotlights, but you have to say no. Keep on creating master piece(s).

Oh ya, perlu juga kita apresiasi upaya-upaya yang dikerjakan oleh kelompok-kelompok lain seperti terlihat dalam daftar berikut (dari Kaskus). Keren! You guys rock!

Update: nambah lagi www.pilpres2014.org
The data is obtained by automatic crawling http://pilpres2014.kpu.go.id/ periodically and updated every 6-12 hours. This site is built on top of Windows Azure USA cloud technology and many open source technologies such as KnockoutJS, JQuery, .NET Framework, HTML5, GitHub, Visual Studio 2013, D3 Visualization.
The source-code is shared in Pilpres2014 GitHub under APACHE 2.0 license. Made by Indonesian Microsofties, Henry Tan, Ph.D in Comp Sci, held several patents, previously in Bing team, now working in Microsoft Research.


Terinspirasi

Great leaders inspire action

Terus terang saya sedang terkesima melihat kreatifitas yang muncul dengan fenomena Jokowi. Banyak pendukung Jokowi yang membuat komik, lagu (original song), musik, video, games, dan banyak lagi. Keren-keren. Hebatnya adalah bukan satu atau dua orang, tetapi banyak orang.

Saya mencoba mengingat-ingat kapan terakhir ada tokoh yang begitu menginspirasi banyak orang secara positif? Saya juga ikut terinspirasi untuk berbuat baik. Tetap positif. Keren.


Adakah Orang Baik?

Konon, kita ini termasuk ke kategori distrust society. Maksudnya kita ini senengnya curiga. Curiga dulu baru setelah terbukti, percaya. Kalau di tempat lain, katakanlah di daerah Amerika Utara, mereka percaya kepada orang. Bahwa orang itu pada dasarnya baik, kecuali terbukti jahat.

Tadinya saya pikir kita ini bangsa yang ramah dan percaya kepada orang lain. Entah kapan kita menjadi berubah. Penyebabnya juga apa ya? Mungkin karena kita terlalu banyak ditipu sehingga kita menjadi begini?

Pertanyaan “adakah orang baik” di Indonesia ini mungkin dulu akan saya jawab, ada tapi susah. Jarang. Atau bahkan, tidak! Itu dulu ketika saya curigaan. Setelah di luar negeri saya melihat bahwa pada dasarnya justru orang itu baik. Saya berbalik. Kembali ke Indonesia pada awalnya saya juga ragu. Eh, tetapi ternyata saya menemukan orang-orang baik di Indonesia. Orang-orang yang “gila” (atau waras ya?) karena mau berbuat baik. Ada orang yang menggelontorkan uangnya untuk kepentingan komunitas. Dan hebatnya, ini ternyata tidak tergantung kepada kekayaan yang bersangkutan. Kaya atau miskin ternyata tetap saja ada orang yang gila bener baiknya. Akhirnya saya memilih untuk mendekat dengan orang-orang seperti ini.

Repotnya, sebagian besar orang Indonesia tidak percaya adanya orang yang baik. Belum apa-apa yang muncul adalah tuduhan ini dan itu. Yang paling sering sih tuduhan pencitraan. he he he. Dari mana kita tahu itu beneran atau bukan? Ya kita harus berinteraksi dengan yang bersangkutan untuk jangka waktu yang lama. he he he.

Untuk mengubah mind set dari banyak orang memang tidak mudah. Dibutuhkan keteguhan – atau kegilaan? – untuk menyadari bahwa ada orang baik di Indonesia ini. Mereka adalah orang yang berkarya membuat perubahaan meskipun diolok-olok. They keep my hope alive. And they make me want to be a better person.


Menikmati Hidup

Beberapa hari terakhir ini ada beberapa orang (sebetulnya hanya 3) yang bertanya kepada saya kenapa saya terlihat happy-happy saja. Menikmati hidup. hi hi hi. Bahkan mas Sobur mengatakan bahwa bagi pak Budi ini semuanya adalah perayaan. ha ha ha.

Jawaban saya terhadap pertanyaan “kenapa” adalah mengapa tidak? Why not? ha ha ha. Ini jawaban model apa sih? Lha pertanyaannya adalah kenapa. Kalau pertanyaannya adalah “bagaimana agar dapat menikmati hidup”, jawabannya lebih susah. Saya sendiri sebetulnya belum tahu jawaban tepatnya.

Mungkin ini disebabkan karena saya melihat “1/2 gelas yang terisi” sedangkan orang lain banyak yang melihat “1/2 gelas kosong”. Dalam bahasa lain, saya lebih positive-thinking.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar kita dapat menjadi lebih positive-thinking? Yang saya lakukan adalah belajar dari orang lain. Melihat pengalaman-pengalaman orang lain. Atau malah lebih tepatnya adalah belajar dari kegagalan-kegagalan orang lain sehingga kita dapat lebih menghargai apa yang kita peroleh. Ada banyak biografi yang menceritakan kesulitan dalam hidup orang-orang yang sukses. Alhamdulillah kita tidak mengalami kesulitan yang mereka hadapi. Jika mereka dapat mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut dan kemudian menjadi sukses, mengapa kita tidak?

Hal lain yang saya lakukan adalah mencari orang-orang yang memiliki pemikiran atau values yang sejalan. Berkumpul dengan orang-orang yang waras. Eh, atau yang tidak waras ya? hi hi hi. Saya melihat bahwa ternyata kumpulan yang saya dekati adalah kumpulan orang-orang yang berpikiran positif juga. Nampaknya ini juga merupakan salah satu cara untuk lebih meningkatkan ke-positif-an kita. Reinforcement learning? Mungkin itu juga sebabnya Anda bergabung dengan blog ini? Agar lebih positif. hi hi hi.

Begitulah kira-kiranya cara saya agar dapat lebih menikmati hidup. Semoga bermanfaat.


Latihan Presentasi

Dua atau tiga minggu terakhir ini saya disibukkan dengan sidang mahasiswa S2 dan S3. Untuk yang S2, ada sidang yang terkait dengan thesisnya mereka. Sementara itu untuk yang S3 ada sidang kualifikasi dan seminar kemajuan penelitian mereka. Dalam satu hari saya mendengarkan dua (2) sampai tujuh (7) presentasi. Pokoknya sampai kenyang dengan presentasi.

Hampir semuanya memiliki masalah dengan presentasi, yaitu mereka tidak tahu cara presentasi. Wah. Ada beberapa mahasiswa yang sempat mengikuti kuliah saya dan sempat mendengarkan kuliah teknik presentasi, tetapi ada juga yang tidak pernah.

Presentasi itu bukan hanya maju ke depan dan tinggal bicara. Asal mangap. ha ha ha. Presentasi yang baik dan menarik itu ada dasar-dasarnya. Sebagai contoh, ketepatan waktu dalam presentasi adalah sangat esensial. Presentasi TIDAK BOLEH MELEBIHI WAKTU yang sudah diberikan. Sengaja itu saya tulis dengan huruf besar dan bold. Begitu melewati waktu, maka nilai akan jatuh. Tetap saja ada mahasiswa yang melanggar hal ini. Misalnya, waktu kemarin itu mahasiswa diberi waktu sekitar 15 menit untuk mempresentasikan thesisnya. Eh, ada mahasiswa yang presentasi hampir 30 menit! Ya ampun! Padahal yang menguju sudah ngantuk, bosan, menguap, dan menunjukkan tanda-tanda ketidaksetujuan. Sayangnya sang mahasiswa asyik melihat ke layar sehingga dia tidak mengetahui ini. Nilai jadi buruk.

Kalau presentasi tidak menarik, 5 menitpun terasa lamaaa … sekali.

Bagaimana berdiri, menatap, meletakkan tangan, dan seterusnya saya ajarkan juga di kelas. Contoh saya ambil dari cara Steve Jobs – sang maestro – memberikan presentasi. Mungkin yang pernah ikutan teater menyadari pentingnya hal ini.

Hal yang juga sering diremehkan adalah persiapan. Ada orang yang mengatakan bahwa persiapan menentukan 50% kesuksesan dari presentasi. Ini ada benarnya. Tahukah Anda bahwa cerita, jokes, lawakan, yang dibawakan oleh presenter-presenter yang keren itu sebetulnya sudah dipersiapkan sebelumnya? Ini juga saya lakukan. Ada contoh lawakan yang probabilitasnya mengena untuk kawula muda dan ada juga yang  hanya dapat dimengerti oleh penguji sidang. Dalam mempresentasikan thesis, misalnya, saya mengusulkan agar tidak menceritakan semua. Justru ada bagian-bagian yang kita buat seperti mengambang sehingga nanti ditanya. Kelihatannya kita tidak siap dengan itu. Padahal justru itu sudah dipersiapkan dari awal. hi hi hi.

Kalau itu semua sudah dilakukan apakah seseorang lantas bisa berubah menjadi jagoan presentasi? Belum. Harus berlatih, berlatih, dan berlatih. Berlatih dapat dilakukan di tempat sendiri dan dapat juga dilakukan di tempat sesungguhnya (jika memungkinkan). Itulah sebabnya ada gladiresik (dan gladikotor he he he). Kalau dalam bahasa Inggrisnya, rehersal. Mengambil contoh Steve Jobs, dia berlatih presentasi sampai berjam-jam. Dia tidak mau berhenti sebelum semuanya *sempurna*. Timing tepat. Warna tepat. Dan seterusnya. Memang dia perfectionist.

Contoh lain yang juga dapat dilihat adalah artis atau band. Mereka berlatih jam-jaman, eh bahkan berhari-hari, untuk sebuah konser. Bahkan artis / band yang sudah kawakanpun juga berlatih.

Maka dari itu, saya tersenyum-senyum ketika orang mempertanyakan salah satu capres yang berlatih debat. Justru itu harus dilakukan. That’s the way you do it. Semua harus melalui persiapan dan berlatih jika ingin mendapatkan hasil yang baik. Tidak bisa asal ngablak. hi hi hi.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.828 pengikut lainnya.