Arsip Tag: opini

Memupuk Kebencian

Perbedaan itu rahmat. Eh, tapi pada kenyataan tidak begitu. Nampaknya banyak orang yang tidak mudah menerima perbedaan, baik itu yang disebabkan oleh agama, kepercayaan, suku, ras, aliran politik, kelompok, pendapat, dan seterusnya. Mereka beranggapan bahwa orang lain yang berbeda itu mengancam dirinya. Maka, belum apa-apa mereka sudah pasang kuda-kuda. Defensif. Bahkan ada yang langsung offensif. Mungkin mereka penganut aliran “the best defence is offence“.

Media sosial mempermudah peruncingan perbedaan ini. Amati saja. Begitu seseorang dari kubu lain muncul – entah dalam pemberitaan, gambar, atau tulisan orang lain – langsung muncul komentar negatif. Sumpah serapah. Bahkan ada yang sengaja memulai dengan menampilkan potret jelek dari kubu lain. Proaktif dalam memupuk kebencian.

Misal, begitu ada berita tentang Jokowi, maka mereka yang anti-Jokowi mulai memberi komentar negatif. Demikian pula ketika ada berita tentang PKS, maka yang anti PKS (dan juga mungkin anti Islam) menuangkan serapah. Ketika ada yang memberi ucapan selamat natal kepada yang merayakannya, maka muncul serangan-serangan. Dan masih banyak lainnya. Perhatikan saja. (Maukah kita memperhatikan lingkungan kita dan  belajar?)

Mengapa kita tidak belajar untuk menerima perbedaan itu? Bahwa mereka yang berbeda itu bukan ancaman. Bahwa kita adalah kita dan mereka adalah mereka. Bukan musuh. Bahwa kita berbeda itu memang benar-benar rahmat. Indahnya warna warni. Semestinya internet dan media sosial dapat membuka wawasan kita dan lebih mudah menerima perbedaan itu. Harusnya.


Pimpinan Yang Tidak Pernah Turun Ke Bawah

Membaca (mendengar) berita akhir-akhir ini rasanya mau mules. Ada banyak menteri yang tidak tahu kondisi rakyat. Kasus terakhir adalah harga LPG 12 kg yang melejit naik. Eh, masih ada menteri yang bilang tidak tahu. Hardy har har. He he he. Kalau kata orang Sunda, kamana wungkul yeuuhhh

Inilah contoh pimpinan yang  tidak pernah turun ke bawah. Hanya duduk di kantor dan meeting-meeting. Kalau pun pergi, ya ke acara untuk memberikan sambutan ini dan itu. Pulang ke rumah juga hanya untuk tidur dan kembali ngantor lagi. Maka dia tidak pernah turun ke bawah. (Kalau turun ya kebawah? Mosok ada turun ke atas.) Tidak pernah ngobrol dengan rakyat biasa yang tidak difilter oleh bawahaan yang asal bapak senang. Apakah mereka hidup dalam tempurung ya?

Apa mereka tidak pendapat keluhan dari istirnya tentang kenaikan harga? Bagaimana dengan keluhan dari orang tuanya? Keluarganya? Kawan-kawannya? Mosok tidak pernah komunikasi dengan mereka?

Maka dari itu banyak orang yang mengelu-elukan Jokowi (Jakarta), Bu Risma (Surabaya), Ridwan Kamil (Bandung) karena mereka mau turun ke bawah. Hanya sekedar turun ke bawah. Apa susahnya sih?

Ternyata memang ada penyakit, yaitu penyakit pimpinan. Begitu pegang jabatan, maka dia sudah terlalu sibuk untuk turun ke bawah. Ya saya tahun Anda sibuk, tetapi setiap orang juga sibuk. Jangan mengira bahwa apa yang Anda kerjakan itu lebih penting dari pekerjaan orang lain. (Saya kerap menolak bertemu dengan bos / pimpinan jika tidak ada yang urgen dan yang saya kerjakan lebih penting. Bahkan sekedar mengajar di kelas boleh jadi lebih penting daripada sekedar ha ha hi hi dengan menteri.)

Penyakit ini saya temui di segala lini bidang. Bidang pendidikan pun sama saja. Lihat saja institusi-institusi pendidikan. Banyak “pimpinan” yang besar kepala karena menjadi ketua ini dan itu, Dekan, Rektor. Biasa sajalah. Maka dari itu saya cukup salut kepada orang yang tidak terkena penyakit ini. Semoga kita terhidar dari penyakit ini.


Kerja Karena Suka

Kadang kepikiran mengapa saya mau mengerjakan apa yang saya kerjakan? Mengapa saya mengerjakannya melebihi dari expectation (melebih dari apa yang harus dikerjakan)? Jawaban saya hanya satu yaitu karena saya suka mengerjakannya. Saya mengerjakannya bukan karena uang yang saya terima. Bukan berarti saya menolak atau tidak butuh uang, tetapi uang bukan tujuannya. Demikian pula, saya tidak mencari pujian. Not fame and fortune.

Sayangnya saya masih melihat banyak orang yang mengerjakan sesuatu karena melihat bayarannya. Yang begini akan mudah terpancing untuk membanding-bandingkan pendapatan dirinya dengan temannya (atau teman temannya). Kok saya sudah bekerja sekeras ini mendapatkan segini? Sementara si fulan yang kerjanya hanya sedikit mendapatkan jumlah yang sama? Atau si fulanah mendapatkan lebih banyak. Kemudian ini menjadikan dia tidak termotivasi untuk bekerja. Bekerja hanya secukupnya saja. Dan ini justru membuat siklus yang melemahkan karena dia tampak sama seperti yang lainnya, tidak ada nilai tambahnya. Sehingga akibatnya penghasilan dia juga tidak nambah.

Saya bersyukur bisa mengerjakan yang saya sukai. Tidak semua orang seberuntung ini. Betulkah? Ataukah ini hanya persepsi kita saja? Entahlah.


Membangun Argumentasi

Sering merasa geli melihat diskusi (atau membaca komentar di berbagai jejaring sosial) dengan argumentasi yang tidak masuk akal. Lucu. Terlihat alasan yang dikembangkan asal-asalan. Bahkan alasannya pun belum sempat berkembang atau memang sesungguhnya tidak memiliki potensi untuk berkembang. Lebih baik argumentasi yang digunakan super ngawur sehingga kita bisa tertawa bersama.

Bagaimana ya cara mengajari siswa untuk berpikir runut? Apakah ada tugas atau latihan untuk itu? Tentunya ini tidak dapat dikemas dalam bentuk ujian pilihan berganda ya? Kalau kemampuan ini tidak kita ajarkan kepada generasi muda, nanti yang ada adalah argumenatasi “pokoke”.

Awalnya lucu, tetapi kemudian bisa menjadi menyedihkan ketika yang bersangkutan tidak dapat mempertahankan argumentasinya dan kemudian mencari cara lain untuk melarikan diri, misalnya menjatuhkan orang lain. Yang ini tidak lucu. Sungguh.


Manusia Indonesia dan Simbol-simbol

Baru-baru ini, Wakil Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mempertanyakan mengapa ada kolom (field) dalam kartu tanda penduduk. Dia menyatakan lebih suka field tersebut dihilangkan. Kontan banyak tanggapan pro dan kontra di media – termasuk di media sosial. Berbagai argumentasi pro dan kontra dilontarkan oleh masing-masing pihak. Kebanyakan masuk akal, tetapi ada juga yang bikin kita mesem-mesem saja. Saya ingin melihat dari sudut pandang lain.

Mundur sejenak. Manusia Indonesia senang mengikatkan diri dengan simbol-simbol, baik itu simbol keturunan, keberhasilan (pendidikan), dan juga agama. Sebagai contoh, banyak orang yang masih bangga dengan keturunannya. Gelar kebangsawanan, seperti Raden, masih tetap menjadi sebuah hal yang penting. Memang hal ini  terjadi tidak hanya di Indonesia, di Inggris pun demikian.

Keterkaitan dengan simbol keberhasilan pendidikan misalnya muncul dalam penggunaan gelar-gelar lulusan perguruan tinggi dalam undangan-undangan yang tidak terkait dengan pendidikan. Undangan pernikahan, misalnya, perlu menyertakan gelarnya. Ada yang merasa risi, namun penyertaan gelar pendidikan ini merupakan hal yang lazim. Oh ya, gelar pendidikan saya pun ada di KTP saya. Entah bagaimana ceritanya itu bisa terjadi. Padahal saya termasuk yang risi mempertontonkan gelar, kecuali jika kita saya harus memberikan surat rekomendasi untuk mahasiswa saya – gelar saya pasang.

Hal yang sama juga dengan keagamaan. Banyak orang yang sehabis pulang dari mengerjakan ibadah haji, menyematkan gelar “Haji” (H.) atau “Hajjah” (Hj) di depan namanya. Bahkan untuk hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan keagamaan, dia akan menambahkan “H” tersebut. Dia akan marah jika orang tidak memanggilnya dengan sebutan pak Haji. Apalagi kalau dilarang menggunakannya.

Apakah hal-hal di atas tersebut buruk? Dilihat dari kacamata siapa dulu. Yang pasti mereka beda kalau dilihat dari kacamata orang berkultur Barat, misalnya. Beda bukan berarti buruk, bukan? Kita sepakati berhenti di kata “beda” saja.

Dengan memahami aspek sosial(?) seperti itu, maka kita dapat memahami kemarahan orang ketika kolom agama diusulkan untuk dihilangkan dari KTP. Penambahan atau penghilangan data agama dalam KTP tentu saja tidak menambah atau mengurangi keimanan seseorang. Namun kalau dilihat dari kacamata kultur, ini mungkin sama dengan tidak memperbolehkan orang menggunakan sebutan Haji sebagai bagian dari namanya. Akan banyak yang keberatan. Simbol agama di KTP itu ternyata penting bagi banyak orang Indonesia.

Jika demikian adanya, nampaknya lebih baik data agama tersebut dibiarkan ada dalam KTP. Perlu atau tidak ada data tersebut tidak penting. Simbol itu penting. Setidaknya, untuk kita orang Indonesia.

Hal ini juga menunjukkan bahwa orang Indonesia tidak mengenal masalah privasi. Di luar negeri, privasi merupakan hal yang sangat penting. Di Indonesia, tidak. Itulah sebabnya orang Indonesia tidak memiliki masalah dengan media sosial. Sekali lagi, ini bukan baik dan buruk, beda saja.

Oh ya, kita juga tidak perlu marah kepada orang yang berpendapat sebaliknya. Santai saja.

[Note: I wrote this in a hurry. Didn't have time to pick better, beautiful, smashing words. Need to get the idea across quickly]


Bersiap Diri Untuk Industri Kreatif

Jargon “industri kreatif” sudah banyak kita dengar dan bahkan sudah dibuatkan instansi formalnya. Artinya, kita diarahkan untuk menuju industri kreatif. Pertanyaannya adalah siapkah kita?

Jika kita berbicara tentang sebuah industri, yang terbayang oleh saya adalah skalanya yang besar. Jika pelakunya hanya belasan orang atau ratusan orang, mungkin belum bisa disebut industri ya? Bisnis ya, tapi industri mungkin bukan. Tentu saja ada definisi industri yang lebih tepat dari ini. Saya hanya mencoba menyoroti skalanya saja. Untuk memasok jumlah sumber daya manusia yang banyak ini bagaimana caranya?

Sekolah-sekolah yang ada saat ini tidak memberikan nafas “kreatif” dalam proses pendidikannya. (Maha)siswa diajarkan untuk memecahkan masalah sebagaimana pekerja pabrik menyalakan mesin; prosedural dan bahkan terkesan seperti robot. Materi pelajaran diajarkan seperti instruksi. Kemudian pemahamannya diujikan berdasarkan pertanyaan yang berbentuk pilihan berganda (multiple choice). Di mana letak kreatifnya ya? Mereka diajarkan untuk menjadi robot dan robot tidak kreatif.

Katakanlah kita sudah berhasil menghasilkan SDM yang kreatif. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita mengelola (to manage) mereka? Pengelolan SDM kreatif akan berbeda dengan SDM yang hanya mengikuti instruksi. Apakah para pekerja ini dibiarkan semuanya menjadi “artisan” yang tidak dapat diatur? Sulitlah mengembangkan bisnis – apalagi industri – jika tidak ada pengelolaan yang baik. Silahkan tanya rumah produksi atau software house untuk melihat betapa susahnya mengelola SDM kreatif. Nampaknya ini harus dipelajari dengan lebih serius.

Lantas ada masalah di sisi manusianya sendiri. Apakah ada jenjang karir dari pekerjaan yang kreatif ini? Apakah ada “kasta” orang kreatif? Bagaimana membina mereka agar terjadi pertumbuhan?

Masih ada banyak pertanyaan saya. Sementara ini saya cukupkan ini dulu saja. Melihat ini semua, saya kok masih ragu kita sanggup membuat sebuah industri kreatif. Hadoh.


Masih Perlukah Kartu Nama Kertas?

Setiap ada acara pasti ada pertukaran kartu nama. Anda apakan kartu nama yang Anda terima?

Terus terang, untuk saya, kartu nama itu langsung masuk ke kotak – tidak saya buang – dan tidak pernah saya sentuh lagi. Idenya sih siapa tahu kalau nanti dibutuhkan bisa saya kontak lagi via kartu nama tersebut, tetapi pada kenyataannya seringkali orang sudah pindah perusahaan sehingga kartu nama tersebut menjadi tidak relevan lagi. Lagi pula saya terima sangat banyak kartu nama karena saya sering memberikan presentasi, ikut pertemuan / rapat ini dan itu. Dalam satu kali pertemuan mungkin dapat 20 kartu nama dan dalam satu minggu mungkin ada 2 kalai pertemuan. Jadi dalam satu bulan mungkin ada sekitar 100 kartu nama. Nah.

Jaman digital seperti ini mengapa kita tidak menggunakan kartu nama digital saja ya? Tinggal kita “tempelkan” handphone kita dengan handphone pihak lain untuk bertukar kartu nama. Semestinya tidak susahkan?

Saya sendiri saat ini jarang membawa kartu nama. Akhirnya yang sering dilakukan adalah tukar menukar nomor handphone dan alamat email pribadi (yang tidak terikat dengan perusahaan atau instansi). Cukup dengan itu saja.

Jadi, masih perlukah kartu nama kertas?


Pengelana Macam Apakah Anda?

Terduduk di pojok sebuah kafe. Menanti penerbangan. Ngantuk luar biasa. Apa yang dapat dilakukan untuk menghindari kantuk ini? Setidaknya sampai naik ke pesawat. Apa ya? Apa? Apa? ya? ya?

Saya putuskan untuk mengamati para pengelana ini. Raut mukanya saja.

Ada yang kusut mukanya. Cemberut. Tegang. Marah-marah. Tetapi ada juga yang santai saja. Tersenyum. Katanya karakter seseorang muncul ketika kita berkelana bersama untuk waktu yang cukup lama. Aslinya keluar. hi hi hi. Kalau monster, ya jadilah dia monster. Kalau mau menang sendiri, ya kelihatan juga. Kalau yang sabar ya tetap sabar.

Kalau saya, yang saya cari adalah … tempat makan atau minum kopi. he he he. Kalau bisa, ya ada tempat internetan. Kalau itu semua ada, ya happy. Kalau gak ada? Ya … hi hi hi

Masuk kategori karakter yang seperti apakah Anda?


Masalah Pengendara / Pengemudi Muda

Akhir-akhir ini banyak berita tentang kecelakaan di jalan yang melibatkan pengendara motor atau pengemudi mobil yang berusia sangat muda. Berita yang terakhir ketika tulisan ini dibuat adalah tentang mahasiswa ITB yang tertabrak motor kemudian meninggal. Pengendara motor berusia 16 tahun. Mahasiswa yang meninggal belum sampai satu tahun di ITB. Bulan lalu ada kecelakaan di jalan Merdeka (Bandung). Pengendara motor, seorang pelajar yang buru-buru ke sekolah, menyerempet penyeberang jalan dan kemudian sang pengendara ini nampaknya entah terpental atau terjatuh sehingga mengenai tiang dan meninggal. Tragis.

Di sekitar tempat tinggal saya, sering saya dapati anak-anak berusia sangat muda – mungkin kelas 6 SD atau baru masuk SMP – yang mengendarai motor. Kadang mereka berboncengan sampai bertiga. Karena ini jalan di daerah “kampung” maka mereka tidak mengenakan helm. Seram pokoknya.

Anak-anak yang terlalu muda ini seharusnya tidak dilepas begitu saja ketika mengendarai mobil atau motornya. Mereka harus disertai dengan orang tua. Kalau di luar negeri itu ada “learner’s permit”. Ijin mengemudi untuk yang sedang belajar dan harus ditemani oleh orang yang sudah memiliki ijin. Mengapa anak-anak ini tidak boleh mengendarai sendiri?

Anak-anak ini masih muda dan tentunya berjiwa muda. Mereka belum mengenal apa yang disebut dengan “sabar”. Di jalan mereka tidak sabar untuk menunggu, antri, memberi jalan kepada orang lain, dan hal-hal lain yang terkait dengan kesabaran. Dipepet sedikit saja oleh orang lain, langsung panas dan ngajak balapan. Di tengah kemacetanpun, kalau bisa tidak berhenti. Padahal sebaiknya mengemudi itu “defensif driving“, yaitu tidak agresif. Sabar.

Anak muda masih belum dapat melihat situasi. Apakah pengendara di depan akan berhenti, belok, atau bahkan nekad ngaco? Apakah penyeberang akan nekat berlari menyeberang atau berhenti? Hal ini dapat dipelajari melalui pengalaman. Waktu. Jam terbang. Yang mana ini belum dimiliki oleh anak muda tersebut. Inilah sebabnya mereka harus ditemani dan diajari dahulu untuk menambah jam terbang.

Anak muda masih sering menghayal, misal menghayal jadi pembalap. Maka di jalan mereka merasa jadi pembalap dan tidak mengerti bahwa pembalap itu hanya bisa dilakukan di lintasan balapan, bukan di jalan raya/umum. Anak muda masih ingin menunjukkan jati dirinya. Saya jagoan. Saya bisa ngebut. Padahal memangnya asal bisa nginjek gas itu jagoan? (Ada beberapa cerita yang menunjukkan mereka memotret speedometer mereka untuk gaya-gaya-an.)

Bahwa seseorang dapat naik ke atas motor (atau duduk di belakang kemudi mobil), gas, pindah kopling (untuk yang manual), dan membelokkan setirnya bukan berarti dia lantas boleh masuk ke jalan (apalagi jalan raya). Kemampuan teknis saja belum cukup. Dibutuhkan kematangan emosional juga.

Sudah saatnya kita pro-aktif dalam melarang (anak-anak kita) dan menegur anak-anak yang masih belum cukup umur untuk mengendarai kendaraan. Mari kita selamatkan mereka dan pengguna jalan lainnya.


Pengemis Kok Diiri

Akhir-akhir ini ada banyak pembahasan tentang pengemis, khususnya di Bandung. Memang baru-baru ini ada kejadian yang lucu. Walikota Bandung, Ridwan Kamil, berdiskusi dengan para pengemis dan para pengemis ini minta digaji sekian juta untuk tidak mengemis di jalan. Aneh sekali memang.

Kemudian mulailah orang melakukan investigasi, berapa sebetulnya penghasilan seorang pengemis. Maka terkejutlah orang-orang ini ketika mengetahui pendapatan pengemis yang bisa berjuta-juta. Maka orang-orang mulai beteriak-teriak untuk tidak memberi uang kepada pengemis.

“Gila. Pendapatan mereka dua hari bisa sejuta rupiah. Jangan kasih mereka uang!”

Begitulah yang saya dengar. Saya coba tantang pernyataan ini dengan berkata “kenapa tidak boleh memberi mereka uang?” Jawabannya seringkali adalah karena mereka akan tetap malas. Saya tantang lagi, “lantas kenapa? kan mereka gak jahat?” Mulailah bingung. hi hi hi.

Mereka yang berteriak-teriak ini memang dari dulu sudah tidak memberi uang kepada pengemis, tetapi kesannya seperti mereka dulu memberi sekarang mau berhenti memberi. Padahal dari dulu juga mereka tidak memberi uang kepada pengemis.

Selalu yang dipermasalahkan adalah soal uang. Mereka, para pengemis yang malas ini, mendapatkan lebih banyak uang daripada kita-kita yang bekerja keras. Seolah-olah iri. Lah, kok pengemis diiri? Alasannya adalah mereka pemalas dan hanya mau mendapatkan uang dengan cara bermalas-malasan. Atas dasar inilah maka kita dilarang untuk memberi uang kepada pengemis. Padahal, ada pekerjaan lain yang mirip juga. Lihatlah “tidak perlu saya sebutkan instansinya’ yang kerjanya hanya duduk-duduk – bahkan tertidur – di ruang rapat dan kemudian digaji belasan bahkan puluhan juta rupiah. Apa pekerjaan mereka juga seharusnya dilarang? Mungkin bagus juga ya kalau mereka dibubarkan? hi hi hi.

Jangan salah. Saya juga tidak setuju dengan “pekerjaan” pengemis. Namun ketidaksetujuan saya bukan karena mereka mendapatkan lebih banyak uang tetapi ada kekhawatiran soal keselamatan dan kesehatan. Pasalnya, pengemis dapat dijadikan sebagai kedok untuk melakukan kejahatan seperti penodongan. Demikian pula para pengemis ini, yang banyak masih muda-muda, akan bermasalah dengan kesehatan mereka karena mengirup asap kendaraan, kehujanan, keanginan, debu, dan diserempet kendaraan. Ada banyak masalah di sini, tetapi … tidak perlu pengemis ini diiri. Memangnya Anda mau jadi pengemis?


Data Tanpa Cerita

Ceritanya saya sedang membaca dan menilai beberapa tulisan (artikel). Satu hal yang berulang-ulang saya temukan dalam tulisan ini adalah terlalu banyaknya data tanpa cerita. Contohnya seperti berikut.

Ada sebuah tulisan tentang teknologi informasi dan komunikasi menampilkan data statistik tentang jumlah pengguna internet Indonesia, tentang penggunan telepon seluler, tentang GDP, dan seterusnya, tetapi saya tidak melihat ceritanya. Ada sih ceritanya tetapi monoton. Itu-itu saja. Yang menjadi masalah adalah data tersebut tidak mendukung ceritanya. Bukankah sebenarnya yang lebih penting adalah ceritanya? Kemudian data yang ditampilkan adalah yang mendukung ceritanya.

Suatu ketika di Bandung, yang temperaturnya 21 derajat selsius, ada seorang pemuda bernama Fulan.

Dalam contoh di atas, apa fungsi temperatur 21 derajat selsius itu ya? Gak nyambung. Terus, kalau “21″ memangnya kenapa? Dingin? Panas? Atau bagaimana?

Kasus tulisan/artikel yang sedang saya review memiliki masalah yang sama. Bosan membacanya. Penilaian saya? Tentu saja rendah.


Kuliah dan T-shirt

Sedang ada diskusi di sebuah mailing list yang saya ikuti. Topiknya adalah seputar peraturan perkuliahan. Salah satunya adalah mengenai pakaian mahasiswa. Mahasiswa tidak boleh kuliah dengan menggunakan T-shirt. Hah???

Kenapa tidak boleh? Saya termasuk yang tidak setuju dengan aturan ini. Menurut saya aturannya cukup dengan mahasiswa diharuskan menggunakan pakaian yang sopan dan rapi. Itu saja. Mahasiswa bukan anak-anak yang harus diatur sampai ke hal-hal sekecil itu. (Ataukah harus?) Mahasiswa harus dapat menempatkan diri, kapan boleh menggunakan T-shirt dan kapan tidak. Kalau sedang wawancara untuk rekrutmen, misalnya, ya tentunya salah sendiri kalau tidak mendapat kesempatan karena menggunakan T-shirt. Kalau kuliah, saya tidak ada masalah dengan menggunakan T-shirt.

Bagaimana dengan kampus Anda? Pendapat Anda?


Ketergantungan Kepada Amerika

Saya baru sadar (setelah melihat status facebook) bahwa ada banyak layanan pemerintah Amerika Serikat yang tidak dapat diakses gara-gara pemerintah Amerika sedang mengalami krisis budget. Kantor-kantor pemerintahan mereka tutup. Yang aneh adalah web site beberapa layanan juga tutup. Salah satunya adalah web site NIST (National Institute of Standards and Technology) – badan standarisasinya Amerika.

NIST down

Mengerikan sekali. Padahal dua minggu lalu saya menugaskan mahasiswa saya untuk menggunakan standar yang dikeluarkan oleh mereka (SP 800-30) dengan cara mengunduh (download) berkasnya dari mereka. Hadoh. Coba saja kalau tugasnya baru sekarang, mereka bakalan kocar-kacir mencari dokumen itu.

Ini baru kasus yang akibatnya hanya tidak menyenangkan (annoying). Bayangkan kalau ada hal-hal lain yang akibatnya lebih parah, misalnya layanan kita tidak jalan. Bayangkan kalau Verisign, tiba-tiba diberangus oleh pemerintah Amerika Serikan sehingga kita tidak dapat menggunakan layanan sertifikat digitalnya. Atau, bagaimana jika otoritas pengelola domain, ICANN, juga dipaksa berhenti memberikan layanan. Hancurlah kita semua.

Nampaknya harus kita teliti ulang, apa-apa yang membuat kita tergantung kepada Amerika Serikat. Ini bagian dari kegiatan National Critical Infrastructure Protection.


Komedi Berdiri

Ini aslinya berjudul “stand-up comedy“. Karena ingin berbahasa Indonesia, saya terjemahkan jadi “komedi berdiri“. Aneh aja. he he he. Susah juga ya kalau menerjemahkan sesuatu ke bahasa Indonesia tapi kurang kena terjemahaannya. hi hi hi.

Tadi pagi saya baca tulisan tentang stand-up comedy ini di sebuah tempat jejaring sosial. Kemudian saya timpali bahwa saya sebetulnya ingin mencoba hal ini. Pikir-pikir, sebetulnya saya sering melakukan ini di depan kelas saya ya? Maka tadi sore pun saya mencoba stand-up comedy di kelas saya. Mahasiswa terpingkal-pingkal. Eh, tapi apakah mereka dapat memahami apa yang saya ceritakan atau ajarkan? Bagaimana kalau mereka tertawa tetapi tidak mengerti? Waduh.

Mengenai stand-up comedy ini banyak orang yang mengira ini mudah. Tinggal maju ke depan dan melucu. Wah, salah besar. Untuk melakukan komedi ini dibutuhkan persiapan. Kita harus membuat materinya terlebih dahulu dan kemudian mengujinya. Kalau tidak begitu, bisa-bisa kita sekarang lucu, besok dibantai oleh pendengar. Boooooo.

Hal lain, menurut saya, stand-up comedy ini sebetulnya kurang cocok dengan kebiasaan kita. Kalau di Indonesia, lawakan itu biasanya dilakukan secara keroyokan. Maka dari itu bentuknya adalah grup yang jumlah anggotanya bisa 3 atau 4 orang (atau bahkan lebih – kalau seperti Srimulat). Kalau sendirian, ini sih gaya Barat. Tapi memang sekarang tidak penting lagi Barat atau Timur. Yang penting adalah lucu.

Oh ya, tadi di kelas saya tunjukkan stand-up comedian yang saya ikuti jejaknya; Johnny Carson, David Letterman, … dan bahkan sampai yang sesungguhnya bukan pelawak tapi lucu yaitu Sir Ken Robinson. Mereka lucu-lucu. hi hi hi.


Teknis atau non-Teknis ya?

Baru saja saya membaca sebuah blog (lupa URL-nya) tentang keluhan seorang entrepreneur di Singapura. Intinya dia mengeluhkan soal susahnya memiliki talented engineering pool di Singapura. Perusahaan startup yang bernunansa teknologi membutuhkan engineers untuk mengimplementasikan ide-idenya. Namun ternyata susah mencari engineers ini.

Ada banyak alasan terjadinya masalah ini. Engineers yang bagus ditawari pekerjaan di Amerika dengan gaji yang lebih tinggi. Minggatlah mereka. Mengimpor engineers dari luar negeri juga harus memenuhi persyaratan gaji minimal (yang ditentukan oleh negara), yang mana biasanya terlalu mahal untuk kantong startup. Selain itu juga para engineers ini ditawari untuk menempati jabatan managerial, yang gajinya juga ternyata lebih tinggi dari gaji engineer. Lengkaplah penderitaan ini.

Saya hanya ingin menyoroti hal yang terakhir saja. Peta perjalanan karir orang teknis ternyata tidak terlalu cerah dibandingkan orang non-teknis. Cerah ini didefinisikan dengan kacamata finansial. Jarang ditemui engineers yang gajinya lebih tinggi atau sama-lah dengan bos-nya yang non-teknis. (Mungkin di Amerika sana bisa berbeda, tetapi ini kenyataan di Indonesia dan kelihatannya di Asia.)

Sedih juga kalau orang-orang yang otaknya cemerlang kemudian meninggalkan bidang teknis. Tapi alasan apa yang dapat mereka gunakan untuk tetap tinggal di teknis? Demikian pula, apa alasan saya untuk tetap mengajari mahasiswa saya tentang hal-hal yang teknis kalau nantinya juga akan ditinggalkan?

Saya sendiri ingin selalu menghargai orang teknis. Bahkan secara finansial mereka bisa lebih tinggi daripada orang teknis. Begitu …  Saya sendiri akan tetap tinggal di dunia teknis.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.586 pengikut lainnya.