Arsip Tag: opini

Buanglah Sampah Pada Tempatnya

Test Sampah 400Kesal sekali kalau melihat orang membuang sampah sembarangan. Terlebih lagi di jalan. Apa orang-orang ini mengira bahwa sampah yang mereka buang di jalan itu akan hilang dengan sendirinya?

Kebanyakan sampah ini berakhir di selokan. Hujan datang dan membawa sampah-sampah tersebut masuk ke selokan. Akibatnya selokan menjadi mampet dan air meluap ke jalan. Banjir jadinya.

Kalau sudah banjir seperti ini maka orang mulai berkeluh kesah. Padahal dia sendiri yang menjadi sumber banjir itu sendiri.

Pada suatu saat ada anak-anak yang sedang makan snack di dekat rumah kami. Ketika kami tanya di mana buang sampahnya, mereka dengan polosnya mengatakan selokan. Nampaknya mereka tidak diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya.

Tempat sampah juga sering tidak ada dekat kita. Kebanyakan orang malas untuk berjalan sedikit mencari tempat sampah. Atau kalau tempat sampah tidak tersedia, simpan dulu. Nanti kalau sudah ketemu tempat sampah baru dibuang. Bukan main lempar saja dari jendela ke jalan raya.

Tadinya saya pikir yang tidak mengerti hal ini hanya anak-anak saja, tetapi saya seringkali melihat orang yang mobilnya mewah melakukan itu. Mereka tidak ingin mobilnya kotor, jadi buang saja sampahnya di jalan! Seenaknya. Yang seperti ini mungkin bukan masalah pendidikan, tetapi pemalas! (Atau apa ya istilah yang lebih tepat?)

Mari kita buang sampah pada tempatnya.


Sukses Instan!

Barusan mau ketawa ngakak melihat iklan jualan sukses secara instan. Kali ini yang dijual adalah sebuah buku, tetapi jualannya bisa sapa saja. Ada yang memberikan pelatihan agar dapat sukses bisnis secara instan. Padahal mungkin yang memberikan pelatihan dapat pemasukannya ya dari pelatihannya itu sendiri. hi hi hi.

Kemudian saya lihat anak muda yang membuat situs web kemudian berharap akan dapat pengunjung banyak secara mendadak. Lah? Emangnya siapa kamu? Kalau selebriti atau anggota parpol mungkin banyak yang berkunjung secara mendadak.

Tidak ada sukses yang instan. Kalau kopi instan sih ada. Mari kita menyeduh kopi dulu…


Ribut Hacking

Ya ampun … pada ribut soal hacking, defacing (mengubah tampilan situs web), dan seterusnya. Minggu lalu bahkan saya ditelepon wartawan asing soal defacing-defacing-an ini. Ya saya tidak dapat menjawab kalau soal kasus kemarin itu.

Seberapa susahnya sih melakukan defacing? Hmmm … Mungkin saya jawab dengan menggunakan analogi saja ya. Seberapa susah membuat grafiti – mebuat corat-coret di dinding – pada sebuah bangunan? Jawabannya tentu bergantung kepada bangunan yang dimaksudkan. Grafiti di rumah sendiri, bisa dilakukan tetapi bakalan digaplok orang tua. he he he.

Grafiti di rumah tetangga sebelah? Mungkin tidak susah, tapi tidak keren dan kasihan. Rumah mereka yang sederhana kok dicorat-coret. Orangnya baik kok. Apalagi kalau rumah tetangga itu milik nenek-nenek jompo. Kasihan ah. Gampang, tapi mungkin tidak kita lakukan. Malah kita malu kalau melakukannya.

Grafiti di bangunan milik publik? Tergantung. Kalau bangunan publik ini adalah kantor yang sudah lama tidak ditinggali, kayaknya sih gampang. Tinggal berani lawan sama hantu yang sudah terlanjur tinggal di sana. he he he. Kalau bangunan publik yang masih digunakan, tetapi pegawainya tidak peduli, nampaknya tidak terlalu susah. Ya itu dia. Pegawainya tidak peduli. Kita bawa kaleng cat pun mereka nonton saja. Gedung bangunan milik pemerintah yang dirawat dan pegawainya peduli, nah … ini susah. Secara teknis bisa saja sih, tapi kita bakalan ketahuan.

Begitulah kira-kiranya. Kita dapat melanjutkan cerita di atas dengan gedung yang sangat penting, gedung tempat kita melakukan transaksi (bank), gedung sekolahan kita, masjid (nekad?), dan seterusnya. Silahkan dibayangkan dan dikhayalkan.

Jadi seberapa susah melakukan defacing (grafiti)? … nah …


Murahnya Ide

Dalam pembicaraan mengenai pengembangan sebuah startup, sering dikatikan dengan ide. Dari mana mendapatkan ide bisnis? Ide ini dianggap penting dalam sebuah binis. Bagi saya ide memang penting karena tanpa ide lantas kita ingin membuat apa, tetapi tidak sepenting eksekusi membuat ide itu menjadi kenyataan. Eksekusi itulah yang paling penting.

Ide itu murah. Ideas are cheap. Banyak yang tidak percaya ini. Kalau ide itu tidak murah, maka mungkin saya sudah kaya luar biasa karena saya punya banyak ide. Yang membuat saya tidak kaya raya adalah karena ide-ide tersebut tidak saya eksekusi menjadi kenyataan. Berikut ini adalah beberapa ide yang pernah saya miliki.

  1. Membuat sistem (hardware & software) yang membantu dokter untuk melakukan operasi (laparoscopy surgical system) dengan bantuan alat pendeteksi gerakan bola mata. Sempat dieksekusi. Kehabisan uang dan juga ide terlalu advanced. Terlalu cepat untuk waktunya. Ini sekitar tahun 1988an. Sehingga harus ditutup.
  2. Membuat software untuk mendeteksi penyakit (expert system). (Sekitar tahun 1989) Gagal dieksekusi karena waktu itu tidak memiliki uang untuk membayar programmer.
  3. Membuat hardware/software untuk melakukan pitch detection sehingga musik bisa mengikuti note/nada yang dinyanyikan penyanyi. Waktu itu sempat buat kodenya dengan menggunakan IBM PC XT. (Lupa tahun berapa. Mungkin sekitar tahun 1990?) Sempat juga buat VLSI chipnya. Tetapi karena waktu itu teknologinya masih mahal sehingga tidak terlaksanan. Ada perusahaan lain yang akhirnya membuat produk yang saya inginkan.
  4. Membuat browser yang mudah digunakan. Ini jaman ketika Tim Berners-Lee masih mengembangkan WWW. Waktu itu browser yang ada sangat minimal. Ini jaman sebelum Marc Andreessen mengembangan Mosaic, yang menjadi awal dari Netscape, yang menjadi awal dari Mozilla. Tidak saya eksekusi karena waktu itu belum banyak orang yang mengerti WWW dan saya sedang sibuk sekolah.
  5. Membuat perusahaan komersil yang mendukung Linux. Ide ini saya lontarkan ke kawan ketika dahulu mengoprek Linux di awal-awal pembuatannya (bahkan X Window / X11 pun belum jalan di Linux). Tidak kami eksekusi karena kami sibuk dengan sekolahan. Ini jaman sebelum ada perusahaan seperti Redhat.
  6. Membuat personal digital assistant, yang berupa sebuah software untuk memantau dan mengelola kegiatan email-email saya. Misalnya ketika mailbox saya mulai membengkak, dia akan mengarchive mail-mail lama, mengunsubscribe milis yang jarang saya baca, dan seterusnya. Saya menerima 500 s/d 1000 email setiap harinya. Yang ini sudah pernah saya coba buat tetapi macet. Terbengkalai.
  7. Mekanisme pembayaran dengan menggunakan pulsa. Ide ini saya lontarkan di tahun 1997 ke beberapa operator seluler, tetapi tidak ada yang menanggapi karena belum mengerti dan ketakutan (terhadap aturan).
  8. Menjual musik MP3 legal. Ide ini saya lontarkan sebelum ada iTunes. Sudah saya buat beserta kawan-kawan (Digital Beat Store), tetapi harus ditutup karena kesalahan dalam eksekusi. Akan saya buat lagi dalam bentuk yang lain.
  9. Membuat program yang menghasilkan topik-topik / ide-ide baru :) Yang ini kalah cepat dengan Plinky. Saya sudah buat software kecil-kecilan untuk mainan pribadi saja.
  10. Membuat car stereo dengan menggunakan embeded system atau komputer kecil. Dulu belum ada Arduino atau Raspberry Pi. Belum diekesekusi karena gak punya waktu.
  11. Menggabungkan steganography dan cryptography. Ada beberapa ide yang mungkin sebetulnya dapat dipatenkan. Sayangnya orang yang diajak mikir tentang ini sudah kabur ke luar negeri (untuk sekolah). Tidak sanggup untuk mengembangkan ide ini menjadi kenyataan.
  12. Membuat software untuk membuat tarian semudah orang membuat musik. Musik punya MIDI. Sendratari punya apa ya? Lanjutan dari ini adalah membuat Digital Mahabarata, di mana ratusan orang bisa memerankan cerita tersebut secara online.
  13. Membuat sistem untuk mengelola lawakan, bed-time stories, dan sejenisnya. “Bodor dot net”? wk wk wk. Orang tinggal telepon ke sebuah nomor, melawak atau ngoceh, lantas ocehan ini masuk ke database. Kalau ada orang lain yang dengar (mendengarkan humor atau cerita bobo untuk anak-anak), maka yang bercerita dapat duit (atau pulsa?). Yah Rp 100,- lah. Semacam app store tapi isinya adalah lawakan atau dongeng. Yang ini malah saya sudah punya corat-corentnya dan bahkan sudah saya presentasikan (misalnya di talk saya di Tedx Bandung).
  14. Jualan lagu digital di SPBU (via bluetooth / WiFi). Jadi orang ngisi bensin sekalian ngisi lagu. Bensin 100 rebu, lagu 7 biji.

Selain ide-ide di atas, saya masih punya banyak ide. BANYAK SEKALI! Mungkin saya harus buat software untuk membantu saya menuliskan ide-ide tersebut. Saking banyaknya. ha ha ha.

Kalau saja ide-ide tidak murah, mestinya saya sudah kaya raya. hi hi hi. Karena ide murah, saya tidak terlalu takut berbagi ide dengan orang-orang. Maka dari itu saya sebetulnya tidak setuju dengan mengunci ide melalui intellectual property rights. Ini topik bahasan lain kali ya.

Ide itu bukannya tidak penting. Dia penting, tetapi lebih penting eksekusinya. Mungkin ide itu dapat dianalogikannya dengan niat. Misalnya Anda punya niat untuk pergi ke Singapura, tetapi Anda tidak melakukan apa-apa maka tidak bakalan sampai ke Singapura. Tentu saja orang lain yang tidak punya niat ke Singapura pun mungkin tidak sampai di Singapura, tetapi ke Jakarta, Kuala Lumpur, Sydney, dan bulan(?). Anda pun tidak boleh marah kalau ada orang yang pergi dan sampai ke Singapura. Kan Anda hanya niat saja :)   Demikian pula Anda tidak boleh iri ketika orang sukses mengeksekusi sebuah ide menjadi kenyataan meskipun ide tersebut mirip atau sama dengan ide Anda.

Mengapa saya punya banyak ide? Saya selalu melatih diri saya untuk mencari ide *setiap hari*. Ini adalah bagian dari saya untuk melatih kreatifitas. Perlu diingat bahwa kreatifitas tidak hanya untuk bisnis saja, tetapi dia menjadi kebutuhan untuk dunia seni (menciptakan lagu, tulisan, cerita, novel) dan untuk memecahkan masalah (business problems, research problems).


Bekerja Seadanya Saja

Salah satu kebiasaan buruk yang saya amati adalah bekerja seadanya. Bekerja sekedar memenuhi kewajiban administratif. Kalau disuruh buat laporan, ya buat laporan asal ada laporan. Dia tidak ingin membuat laporan yang excellent. Tidak ingin membuat laporannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Mungkin kebiasaan ini dibina sejak jadi mahasiswa, yaitu dibiasakan mengerjakan tugas seadanya. Asal kumpul tugas. Ketika mahasiswa diajari bahwa yang kerja ekstra dan kerja asal-asalan nilainya sama saja. Ngapain juga kerja ekstra? Ini kemudian terbawa juga setelah bekerja.

Padahal orang akan menilai beda; orang yang asal-asalan dan orang yang serius dan mencintai pekerjaannya. Jelas berbeda!


Want Something, But Do Nothing

Saya melihat banyak orang yang banyak maunya tapi tidak mau bekerja untuk mencapai itu. Mereka hanya ingin mendapatkan suksesnya tanpa mau berjuang untuk mendapatkannya. Misalnya, ada yang bingung kenapa dua orang bisa membuat Yahoo! atau Google. Padahal kalau diikuti, ya tidak ada anehnya. Mereka mengerjakan banyak hal. Do something. Correction, do many things!

Ada banyak startup yang berhasil. Lebih banyak lagi yang gagal. Sebagian besar kegagalan karena kurang usaha. Tetapi tentu saja ada faktor keberuntungan. Maka lantas kita ramai-ramai menyalahkan keberuntungan yang tidak mampir ke tempat kita. Tapi orang lupa bahwa keberuntungan hanya datang kepada orang yang berusaha. Banyak berusaha.

Ambil contoh blog. Banyak orang yang menginginkan punya blog dengan pagerank yang tinggi, seperti blog saya ini, tetapi mereka tidak mau menulis artikel. Lah? Mana bisa? Ya kalau ingin blognya ramai dikunjungi tentu saja kita harus rajin menulis. Berapa banyak artikel yang sudah Anda tulis? Saya yakin kalau Anda sudah menulis 4000 artikel, pasti pengunjungnya juga banyak. Kalau kita berusaha keras, maka kesuksesan dan keberuntungan akan datang.

Sesederhana itu.


Budaya Repost

Layanan media sosial yang ada saat ini memperkenankan seseorang untuk menampilkan-ulang (repost) karya orang lain, yang dapat berbentuk foto, musik, tulisan, berita dan lain-lain. Repost ini dapat dilakukan dengan sangat mudah. Pada tampilan ada tombol untuk “berbagi”, “pin”, dan sejenisnya.

Saya ingin mengambil contoh foto dulu saja. Banyak foto yang di-repost. Terus terang saya agak khawatir dengan fenomena ini. Saya khawatir lama kelamaan orang lebih memilih untuk melakukan repost daripada membuat karya original. Lama-kelamaan dia menjadi kebiasaan, kebudayaan.

Saya sendiri lebih menyukai menampilkan foto buatan sendiri meskipun kualitasnya ala kadarnya. Yang penting orisinal.

Bagaimana menurut Anda?


Pengantar Tulisan Yang Berlebihan

Saya paling tidak sabar untuk membaca tulisan yang terlalu bertele-tele. Demikian pula saya tidak terlalu baik dalam menilai tulisan (makalah) yang terlalu panjang bagian pengantarnya. Ada banyak tulisan yang tidak perlu ditampilkan dalam bagian itu. Kriterianya kira-kira begini. Jika bagian tersebut ditiadakan, pemahaman pembaca tidak terganggu.

Ada kecenderungan dari penulis untuk menuliskan semuanya. Padahal semuanya tidak penting. Misalnya Anda diminta untuk membuat tulisan tentang Indonesia, maka mungkin Anda tidak perlu menceritakan tentang sejarah dunia. Ada banyak hal yang kita anggap pembaca sudah mengetahui, atau jika belum maka mereka diminta untuk membaca di referensi lain saja. Bukan pada tulisan ini.

Pada penulisan makalah, biasanya pengantar dapat dituliskan secara bertele-tele. Ini menghabiskan banyak halaman dan justru topik utamanya kehilangan tempat. Sebagai contoh, saya sedang memeriksa makalah mahasiswa. Topik sesunggunya baru muncul di halaman 21. Bayangkan. Halaman-halaman sebelumnya isinya apa? Saya sudah tidak sabar untuk membaca inti (point) yang ingin disampaikan oleh mahasiswa. Keburu cape dan males. Nilai akhirnya menjadi buruk.

Bertele-tele ini juga dapat dilihat ketika orang mengajukan pertanyaan. Lihat saja di acara-acara. Kalau penanya berkata:

Sebagaimana kita ketahui, … [dan seterusnya, dan seterusnya] …

maka dapat kita pastikan bahwa yang bersangkutan akan bertele-tele dalam bertanya. Kemungkinan juga jika dia diminta untuk menulis, tulisannya juga bertele-tele. Atau mungkin kalau diajak berdiskusi, kemungkinan bertele-tele juga. Ini mungkin terkait dengan pola pikir? Entahlah.


Perlukah Pelajaran XYZ?

Di sebuah milis saya mengikuti perdebatan tentang kurikulum. Berbagai masalah dilontarkan. Salah satunya adalah perlukah pelajaran tertentu, sebut saja XYZ, diajarkan? Perdebatan kemudian terjadi karena ada orang yang menginginkan mata pelajaran / kuliah tertentu hadir dengan jumlah SKS tertentu. Sementara itu ada batas SKS maksimum yang diambil oleh mahasiswa. Memilih mana yang perlu dan mana yang tidak ternyata sulit.

Saya melantur. Mencoba mengerti lebih jauh. Perlukah sebuah pengetahuan tertentu diajarkan? Kalau pertanyaannya perlu, mungkin jawabannya adalah memang perlu. Hanya masalahnya apakah dia perlu diajarkan secara formal dalam bentuk sebuah mata pelajaran atau tidak? Itu kan masalahnya.

Ini juga sebetulnya terkait dengan harapan keluaran yang diinginkan. Yang ini juga ternyata masih menjadi perdebatan.

Saya dapat membayangkan ada beberapa pengetahuan yang nampaknya akan terdesak, yaitu hal-hal yang sulit sekali secara teknis (sehingga tidak banyak peminatnya) dan hal-hal yang dianggap remeh. Kesusasteraan, misalnya, tidak mungkin akan muncul dalam bidang ilmu teknis. Padahal menurut banyak orang, hal ini sangat penting. Liberal arts mulai mendapat porsi yang besar di luar negeri.

Saya berpikir, apakah “English Literature” akan mendapat porsi di Indonesia? Demikian pula dengan “World History”? Dugaan saya jawabannya adalah TIDAK! (Dengan tanda seru.) Ini budaya Barat yang tidak penting amat untuk dipelajari. Apalagi dimengerti.

Padahal ada banyak hal di dunia teknis sekalipun yang terpengaruh oleh budaya Barat. Di dunia saya ada banyak pengaruh tulisan science fiction yang mempengarui teknologi. 1984? 2001 Space Oddysey? Bahkan skit Monty Python pun menyebabkan munculnya istilah spam di email. Beberapa pemikiran pengarang seperti Asimov juga mempengaruhi banyak hal. Belum lagi soal Star Trek :)

Saya beruntung karena pernah bersinggungan dengan budaya Barat untuk waktu yang cukup lama, lebih dari 10 tahun, ketika saya mengambil S2 dan S3 di Kanada. Ada banyak hal yang akhirnya saya ketahui dan itu memudahkan saya untuk memahami dan berdiskusi dengan kolega-kolega di luar negeri.

Pemahaman World Culture menurut saya semetinya penting untuk diajarkan. Nah, apakah kita perlu juga membaca Shakespeare? Hmm…


Iri Hati Dalam Bekerja

Hari-hari ini adalah hari yang terjepit di antara liburan. Ada yang libur, tetapi ada juga yang bekerja. Maka sering timbul perasaan iri; mengapa saya harus bekerja sementara dia libur? Perasaan iri hati ini memang manusiawi, tetapi sebetulnya dapat diatasi.

Kita merasa iri kepada orang yang berlibur karena bekerja kita anggap sebagai siksaan. he he he. Itu dia masalahnya. Coba kalau bekerja itu sama seperti bermain, atau makan, atau hal yang kita sukai, pasti kita tidak iri bahkan diiri. Contohnya pemain sepak bola. Kalau kita diturunkan main sepak bola tentu kita bakalan lelah, tetapi pemain bola tidak suka kalau dia disuruh duduk di bangku cadangan. Bayaran tetap sama, tapi tidak main. Pasti kalau ditanya, mereka lebih suka main alias bekerja. Bahkan ada pemain bola yang ngamuk dan pindah klub gara-gara lebih sering duduk di bangku cadangan. Contoh lain adalah artis musik. Mereka juga akan lebih suka tampil lebih lama daripada lebih lama duduk di belakang panggung.

Inti utamanya adalah bagaimana kita membuat bekerja menjadi menyenangkan. Pekerjaan kita harus sesuatu yang kita sukai. Lingkungannya juga yang coock dengan kita. Begitulah. Make it fun. Buatlah menjadi menyenangkan sehingga kita tidak terlalu iri untuk melihat orang lain berlibur. Saya jadi ingat kata-kata teman saya:

If work is so much fun, why take a holiday?


Kerja Keras

Suatu ketika ada mahasiswa yang ingin mendiskusikan ide proposal sebuah lomba dengan saya. Setelah mendengarkan presentasinya saya melihat masih ada beberapa kelemahan yang dapat diperbaiki. Saya minta dia untuk melakukan survey apakah sudah ada inisiatif serupa dan siapa saja pemain yang menggeluti bidang itu. Nampaknya sang mahasiswa ini belum mengerti. Saya jelaskan kembali. Salah satu caranya adalah dengan melakukan pencarian di internet. Seharusnya ini lebih mudah dibandingkan jaman dahulu sebelum ada internet.

Sang mahasiswa akhirnya paham dengan yang saya maksud dan mulai berpikir keras karena dia mulai sadar ada banyak hal yang harus dia kerjakan. Dia mulai mempertimbangkan teman-temannya yang tidak ikutan lomba dan dapat berleha-leha dalam liburan ini, sementara dia harus bekerja untuk mencari data yang dimaksudkan. Ya, saya katakan dia harus bekerja keras.

Cara yang paling sederhana dari implementasi kerja keras adalah kerja dengan waktu yang lebih lama. Sering saya tanya kepada mahasiswa, berapa lama Anda tidur seharinya? Kalau Anda tidur lebih lama dari saya maka Anda kurang kerja keras. Ini hanya salah satu ukuran. Bisa juga kita gunakan ukuran kerja keras yang lain, misalnya terkait dengan usaha yang membutuhkan otot yang lebih kekar.

Jika kita ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang lain tentu saja usaha kita harus lebih banyak. Atau dengan kata lain, harus bekerja lebih keras. Masalahnya adalah mau atau tidak. Kebanyakan orang jawabannya adalah tidak. Mau hasilnya tapi tidak mau usahanya. Lah bagaimana bisa?

Ada yang kemudian mengusulkan kerja lebih cerdas. Lah kerja lebih keras saja sudah susah dilakukan (dalam artian malas dilakukan), apalagi kerja cerdas. Yang terakhir ini membutuhkan pemikiran. Berpikir itu lebih sukar dari sekedar menggerakan otot atau melakukan sesuatu dalam kurun waktu yang lebih lama – kerja keras. Kalau bisa kerja cerdas memang bagus, tapi saya mengusulkan kerja keras dulu lah yang lebih mudah. Siap?


Mengatakan … TIDAK!

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan ternyata adalah mengatakan tidak. Saying NO. Poin in saya sampaikan di depan para calon technopreneur. Mengapa hal ini perlu saya angkat? Karena dalam perjalanan untuk menjadi entrepreneur selalu ada “gangguan”.

Sebagai contoh, Anda sudah memutuskan untuk membuat sebuah perusahaan startup setelah lulus S1. Niat sudah bulat. Eh, tiba-tiba ada tawaran beasiswa untuk S2. Nah lho. Bagaimana? Untuk membuat situasi lebih sulit lagi, S2-nya di luar negeri di universitas yang bagus (terkenal). Mampus deh! Langsung gamang. Apakah jadi menjalankan usaha? Atau tunda dulu?

Kebanyakan orang ketika dihadapkan kepada situasi ini akhirnya memilih menunda dulu. Tentu saja ini pilihan yang sah. Tidak salah. Ini adalah pilihan hidup. It’s a choice.

Hanya saja kalau Anda beranggapan bahwa setelah itu tidak ada “gangguan” lagi, Anda salah. Misalnya Anda menyelesaikan S2 dan kemudian teringat kembali untuk menjadi wiraswasta. Sekarang ada beban tambahan. Orang-orang akan lebih menyudutkan Anda dengan mengatakan “lulusan S2 kok hanya buat usaha seperti itu”. Nah lho.

Tambahan lagi. Tiba-tiba ada tawaran dari kawan Anda yang membuka sekolah tinggi. Bagaimana kalau Anda mengajar saja di sana? Gaji tetap lho. Maka Anda goyah lah. Yang lebih sakit adalah kalau tiba-tiba ada tawaran yang lebih “hebat”, seperti menjadi pejabat (Dirjen, Menteri, Walikota, Bupati, dan seterusnya). Maka, sanggupkah Anda mengatakan TIDAK???

Ada banyak “gangguan” dalam perjalanan hidup kita. Jika kita tidak tahu apa yang kita inginkan, tidak tahu cita-cita kita, dan tidak teguh dalam memegang cita-cita itu maka gangguan ini akan selalu menang. Dan Anda akan selalu mengorbankan cita-cita dengan kepragmatisan kini.

Suatu ketika, ketika Anda sudah tua, teringatlah Anda akan cita-cita Anda. Rasa sesal mulai muncul.

Kemampuan untuk mengatakan TIDAK harus dimulai dari dini. Harus belajar. Katakan … TIDAK untuk “gangguan” yang tidak sesuai dengan cita-cita Anda. Semoga kita dapat melakukan hal ini.


Kerja Asal-Asalan

Beberapa kali saya mendapati kondisi pekerja yang kerjanya asal-asalan. Maksudnya, dia bekerja hanya sekedar untuk memenuhi persyaratan administratif bahwa dia bekerja, tetapi sesungguhnya dia tidak peduli dengan apa yang dikerjakan. Contohnya begini.

Suatu saat saya ke counter yang menjual sebuah produk. Saya menanyakan dimana tempat servis produk tersebut di kota Bandung atau adakah yang dapat memberikan servis di gedung ini (kejadiannya di BEC, Bandung). Sang penjaga counter ini tidak dapat menjawab apa-apa karena bagi dia mungkin yang penting adalah duduk di belakang counter. Bagi dia bekerja adalah duduk di belakang counter. Mengenai produknya sendiri, dia tidak peduli. Berbeda dengan penjaga lain yang berada di toko yang lain. Ketika ditanya, dia dapat memberi tahu tempat servis resminya, servis di lokal, dan perkiraan harganya kalau harus bayar. Dengan kata lain dia mau belajar tentang produk yang dia jual.

Tentu saja kerja asal-asalan ini juga terjadi di industri / instansi lain. Banyak orang yang merasa bahwa bekerja itu adalah hadir. Sesunguhnya dia tidak menyukai apa yang dia kerjakan dan dia merasa tidak nyaman atau bahkan tersiksa. Dia tidak peduli dengan kualitas pekerjaannya, apa lagi untuk meningkatkan kualitas hasil dan layanannya.

Sebagai contoh, ketika orang membuat laporan (report, dokumen) maka ada kecederungan dia membuat seadanya. Asal ada saja dokumen itu untuk memenuhi syarat. Isinya? Ya seadaanya saja. Tidak banyak orang yang memikirkan isinya, bagaimana membuat isi laporan tersebut lebih mudah dimengerti, lebih cepat dibaca, lebih bermanfaat, dan seterusnya. Ada orang yang seperti ini – berbuat lebih – tetapi tidak banyak. Sebagian besar ya kerjanya asal-asalan saja.

Lantas apa maunya orang seperti ini? Dia berpikir bahwa dia dapat bekerja di tempat lain dan mendapat apresiasi yang berbeda (lebih). Sesungguhnya di tempat lainpun dia tidak akan dihargai. Pemberi kerja akan menghargai orang yang berusaha bekerja sesungguh hati. Bahkan dalam tingkat pesuruh pun akan menjadi rebutan orang banyak. Orang yang bekerja dengan sepenuh hati tidak akan mendapat kesulitan mencari pekerjaan karena bukan dia yang mencari, tetapi orang atau pekerjaan yang mencari dia.

Mentalitas seperti ini mungkin sudah muncul ketika menjadi mahasiswa. Banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas asal-asalan. Asal ada saja. Asal selesai. Dia tidak ingin membuat tugas yang bagus. Padahal ini tercermin dalam hasilnya. Akhirnya mahasiswa ini terbiasa dengan seadanya dan ketika luluspun kebiasaan ini terbawa. Hadoh.

Bagaimana dengan Anda?


Belajar Memotret

Belajar memotret sekarang sangat mudah dan murah. Kamera digital harganya sudah sangat terjangkau; hanya ratusan ribu rupiah. Bahkan hampir semua handphone sekarang dilengkapi dengan kamera meskipun kualitasnya tidak begitu bagus.

Jaman dahulu, kalau mau belajar memotret sangat mahal biayanya. Kita harus beli kamera yang tidak murah dan – yang paling penting – biaya operasionalnya yang mahal. Kita harus membeli film dan mencetaknya. Sudah begitu harus menunggu sampai foto dicetak untuk mengetahui bahwa foto kita jelek hasilnya.

Sekarang? Tinggal jepret, jepret, jepret. Tidak suka? Jelek? Tinggal hapus (delete). Selesai. Atau untuk satu obyek bisa kita potret berkali-kali sampai sesuai dengan yang kita inginkan. Proses belajar juga dapat diulang-ulang sebanyak mungkin. Sampai bisa. Jadi semestinya tidak ada alasan lagi bagi yang ingin belajar memotret. Sekarang tinggal tertarik atau tidaknya.

Namun kemampuan asal jepret ini juga membuat proses belajar menjadi agak kacau. Kalau dahulu, kita harus berpikir panjang sebelum memutuskan untuk mengambil foto tersebut. Foto yang diambil mungkin lebih baik karena dipikirkan secara masak-masak. Shoot to kill. Kita hanya diberi kesempatan terbatas untuk memotret ini. Salah? Ya mahal harganya. Jadinya orang yang belajar memotret memang lebih serius.

Itu sebabnya saya tidak belajar memotret dulu-dulu. Mahal. Ha ha ha. Nah sekarang tidak ada alasan lagi ya? Kalau begitu saya mau njepret-njepret dulu ah.

[gloomy tree]

[red]


Bangga Menjadi Insinyur

Pagi ini saya mencoba membaca tumpukan buku dan majalah yang sudah menanti giliran untuk dibaca. Kali ini saya mulai dengan beberapa majalah IEEE. Dimulai dari majalah IEEE Spectrum dahulu.

Untuk pembaca yang non-Elektro, IEEE ini merupakan asosiasi dari orang-orang Elektro di seluruh dunia. Saya menjadi anggota ini ketika masih menjadi mahasiswa. Sekarang masih menjadi anggota, meskipun masih meminta diskon karena berpenghasilan rendah. Hey, standar gaji dosen ITB BHMN tidak dapat dibandingkan dengan dosen di luar negeri tentunya :) Which reminds me, I have to renew my IEEE membership.

Membaca majalah IEEE ini membangkitkan lagi semangat kenapa saya menyukai bidang engineering. Bangga menjadi engineer. (Wah, nanti bangga dianggap sama dengan arogan ya? he he he) Masih teringat grafiti di kampus dulu; Engineers Rule! (I’d say, some proudness are necessary.)

Kali ini yang menarik adalah cerita tentang Steve Furber, seorang profesor dari University of Manchester. Sebelumnya dia adalah peneliti di bidang aerodynamics di Univ. of Cambridge. Kemudian dia ditarik perusahaan Acorn Computers (ini di Inggris) untuk mengembangkan prosesor ARM. Lo and behold, prosesor ARM ini merajai dunia. Nyaris semua handphone menggunakan prosesor ARM ini. Intel? Mampus.

(Ada diskusi tambahan; ARM memang merajai dunia handphone / embedded system, tetapi di dunia server Intel masih rajanya. Nah sekarang ARM mau masuk ke dunia server dan Intel juga masih tetap berusaha masuk ke dunia gadget meskipun sudah pernah gagal. Kita lihat nanti hasilnya.)

Yang membuat saya mesem-mesem adalah saya sempat ketemu dengan profesor ini karena dulu dia adalah salah satu pakar di bidang penelitian saya, asynchronous systems. Groupnya menciptakan Asynchronous ARM processor. Seru juga. Mengembalikan kenangan lama.

Betapa menyenangkannya menjadi engineer. Menciptakan hal-hal untuk membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. To me the world a better place to live.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.083 pengikut lainnya.