Tag Archives: opini

Adakah Orang Baik?

Konon, kita ini termasuk ke kategori distrust society. Maksudnya kita ini senengnya curiga. Curiga dulu baru setelah terbukti, percaya. Kalau di tempat lain, katakanlah di daerah Amerika Utara, mereka percaya kepada orang. Bahwa orang itu pada dasarnya baik, kecuali terbukti jahat.

Tadinya saya pikir kita ini bangsa yang ramah dan percaya kepada orang lain. Entah kapan kita menjadi berubah. Penyebabnya juga apa ya? Mungkin karena kita terlalu banyak ditipu sehingga kita menjadi begini?

Pertanyaan “adakah orang baik” di Indonesia ini mungkin dulu akan saya jawab, ada tapi susah. Jarang. Atau bahkan, tidak! Itu dulu ketika saya curigaan. Setelah di luar negeri saya melihat bahwa pada dasarnya justru orang itu baik. Saya berbalik. Kembali ke Indonesia pada awalnya saya juga ragu. Eh, tetapi ternyata saya menemukan orang-orang baik di Indonesia. Orang-orang yang “gila” (atau waras ya?) karena mau berbuat baik. Ada orang yang menggelontorkan uangnya untuk kepentingan komunitas. Dan hebatnya, ini ternyata tidak tergantung kepada kekayaan yang bersangkutan. Kaya atau miskin ternyata tetap saja ada orang yang gila bener baiknya. Akhirnya saya memilih untuk mendekat dengan orang-orang seperti ini.

Repotnya, sebagian besar orang Indonesia tidak percaya adanya orang yang baik. Belum apa-apa yang muncul adalah tuduhan ini dan itu. Yang paling sering sih tuduhan pencitraan. he he he. Dari mana kita tahu itu beneran atau bukan? Ya kita harus berinteraksi dengan yang bersangkutan untuk jangka waktu yang lama. he he he.

Untuk mengubah mind set dari banyak orang memang tidak mudah. Dibutuhkan keteguhan – atau kegilaan? – untuk menyadari bahwa ada orang baik di Indonesia ini. Mereka adalah orang yang berkarya membuat perubahaan meskipun diolok-olok. They keep my hope alive. And they make me want to be a better person.


Menikmati Hidup

Beberapa hari terakhir ini ada beberapa orang (sebetulnya hanya 3) yang bertanya kepada saya kenapa saya terlihat happy-happy saja. Menikmati hidup. hi hi hi. Bahkan mas Sobur mengatakan bahwa bagi pak Budi ini semuanya adalah perayaan. ha ha ha.

Jawaban saya terhadap pertanyaan “kenapa” adalah mengapa tidak? Why not? ha ha ha. Ini jawaban model apa sih? Lha pertanyaannya adalah kenapa. Kalau pertanyaannya adalah “bagaimana agar dapat menikmati hidup”, jawabannya lebih susah. Saya sendiri sebetulnya belum tahu jawaban tepatnya.

Mungkin ini disebabkan karena saya melihat “1/2 gelas yang terisi” sedangkan orang lain banyak yang melihat “1/2 gelas kosong”. Dalam bahasa lain, saya lebih positive-thinking.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar kita dapat menjadi lebih positive-thinking? Yang saya lakukan adalah belajar dari orang lain. Melihat pengalaman-pengalaman orang lain. Atau malah lebih tepatnya adalah belajar dari kegagalan-kegagalan orang lain sehingga kita dapat lebih menghargai apa yang kita peroleh. Ada banyak biografi yang menceritakan kesulitan dalam hidup orang-orang yang sukses. Alhamdulillah kita tidak mengalami kesulitan yang mereka hadapi. Jika mereka dapat mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut dan kemudian menjadi sukses, mengapa kita tidak?

Hal lain yang saya lakukan adalah mencari orang-orang yang memiliki pemikiran atau values yang sejalan. Berkumpul dengan orang-orang yang waras. Eh, atau yang tidak waras ya? hi hi hi. Saya melihat bahwa ternyata kumpulan yang saya dekati adalah kumpulan orang-orang yang berpikiran positif juga. Nampaknya ini juga merupakan salah satu cara untuk lebih meningkatkan ke-positif-an kita. Reinforcement learning? Mungkin itu juga sebabnya Anda bergabung dengan blog ini? Agar lebih positif. hi hi hi.

Begitulah kira-kiranya cara saya agar dapat lebih menikmati hidup. Semoga bermanfaat.


Latihan Presentasi

Dua atau tiga minggu terakhir ini saya disibukkan dengan sidang mahasiswa S2 dan S3. Untuk yang S2, ada sidang yang terkait dengan thesisnya mereka. Sementara itu untuk yang S3 ada sidang kualifikasi dan seminar kemajuan penelitian mereka. Dalam satu hari saya mendengarkan dua (2) sampai tujuh (7) presentasi. Pokoknya sampai kenyang dengan presentasi.

Hampir semuanya memiliki masalah dengan presentasi, yaitu mereka tidak tahu cara presentasi. Wah. Ada beberapa mahasiswa yang sempat mengikuti kuliah saya dan sempat mendengarkan kuliah teknik presentasi, tetapi ada juga yang tidak pernah.

Presentasi itu bukan hanya maju ke depan dan tinggal bicara. Asal mangap. ha ha ha. Presentasi yang baik dan menarik itu ada dasar-dasarnya. Sebagai contoh, ketepatan waktu dalam presentasi adalah sangat esensial. Presentasi TIDAK BOLEH MELEBIHI WAKTU yang sudah diberikan. Sengaja itu saya tulis dengan huruf besar dan bold. Begitu melewati waktu, maka nilai akan jatuh. Tetap saja ada mahasiswa yang melanggar hal ini. Misalnya, waktu kemarin itu mahasiswa diberi waktu sekitar 15 menit untuk mempresentasikan thesisnya. Eh, ada mahasiswa yang presentasi hampir 30 menit! Ya ampun! Padahal yang menguju sudah ngantuk, bosan, menguap, dan menunjukkan tanda-tanda ketidaksetujuan. Sayangnya sang mahasiswa asyik melihat ke layar sehingga dia tidak mengetahui ini. Nilai jadi buruk.

Kalau presentasi tidak menarik, 5 menitpun terasa lamaaa … sekali.

Bagaimana berdiri, menatap, meletakkan tangan, dan seterusnya saya ajarkan juga di kelas. Contoh saya ambil dari cara Steve Jobs – sang maestro – memberikan presentasi. Mungkin yang pernah ikutan teater menyadari pentingnya hal ini.

Hal yang juga sering diremehkan adalah persiapan. Ada orang yang mengatakan bahwa persiapan menentukan 50% kesuksesan dari presentasi. Ini ada benarnya. Tahukah Anda bahwa cerita, jokes, lawakan, yang dibawakan oleh presenter-presenter yang keren itu sebetulnya sudah dipersiapkan sebelumnya? Ini juga saya lakukan. Ada contoh lawakan yang probabilitasnya mengena untuk kawula muda dan ada juga yang  hanya dapat dimengerti oleh penguji sidang. Dalam mempresentasikan thesis, misalnya, saya mengusulkan agar tidak menceritakan semua. Justru ada bagian-bagian yang kita buat seperti mengambang sehingga nanti ditanya. Kelihatannya kita tidak siap dengan itu. Padahal justru itu sudah dipersiapkan dari awal. hi hi hi.

Kalau itu semua sudah dilakukan apakah seseorang lantas bisa berubah menjadi jagoan presentasi? Belum. Harus berlatih, berlatih, dan berlatih. Berlatih dapat dilakukan di tempat sendiri dan dapat juga dilakukan di tempat sesungguhnya (jika memungkinkan). Itulah sebabnya ada gladiresik (dan gladikotor he he he). Kalau dalam bahasa Inggrisnya, rehersal. Mengambil contoh Steve Jobs, dia berlatih presentasi sampai berjam-jam. Dia tidak mau berhenti sebelum semuanya *sempurna*. Timing tepat. Warna tepat. Dan seterusnya. Memang dia perfectionist.

Contoh lain yang juga dapat dilihat adalah artis atau band. Mereka berlatih jam-jaman, eh bahkan berhari-hari, untuk sebuah konser. Bahkan artis / band yang sudah kawakanpun juga berlatih.

Maka dari itu, saya tersenyum-senyum ketika orang mempertanyakan salah satu capres yang berlatih debat. Justru itu harus dilakukan. That’s the way you do it. Semua harus melalui persiapan dan berlatih jika ingin mendapatkan hasil yang baik. Tidak bisa asal ngablak. hi hi hi.


Gagal Golput Karena Jokowi

Posting kali ini bertema politik. Saya ingin menunjukkan di mana saya berdiri. Mohon maaf bagi yang tidak berkenan.

Pada awalnya saya berniat untuk golput, seperti yang sudah-sudah. Saya sudah antipati terhadap retorika-retorika politik. Kebanyakan politisi hanya pandai bicara tetapi tidak ada yang dilakukannya. Saya, sebagai rakyat biasa, hanya menjadi obyek. Pelengkap penderita, bahkan.

Namun rencana saya untuk menjadi golput ini batal gara-gara Jokowi mencalonkan diri.

gagak golput karena jokowi

Saya tidak ingin berkampanye untuk Jokowi atau bahkan menjelek-jelekkan Prabowo. Tidak. Ada banyak alasan saya untuk memilih Jokowi. Ada banyak hal yang saya tahu secara langsung dan kemudian menjadi fitnah. (Saya tahu 1st hand. Langsung.) Yang saya sedih juga adalah orang-orang yang saya duga baik ternyata termasuk yang menyebar fitnah. Luar biasa buasnya mereka menyebar fitnah. Maka saya memutuskan untuk memilih Jokowi. Tidak golput.

Satu suara saya mungkin tidak berpengaruh banyak dalam hasil, tetapi dalam hati saya tahu bahwa saya sudah memilih sesuai dengan hati nurani saya. I can make peace with myself. There.


Perlukah (Kebuasan) Orientasi Studi

Sebentara lagi kampus-kampus (dan sekolahan) akan kedatangan mahasiswa baru. Maka ritual tahunan itu akan muncul lagi. Ya, orientasi studi atau OS. Ini bukan OS operating system ya.

Saya pribadi sebetulnya saya setuju dengan OS, tetapi bukan jenis OS yang berorientasi kepada kekerasan. Banyak mahasiswa yang merasa bahwa leadership hanya muncul dari kekerasan OS. Kepemimpinan itu harus orang yang berbicara keras dalam format baris berbaris. (Saya pernah menulis tentang kelucuan “ketegasan” korlap di acara mahasiswa.)

Hasil dari OS yang berbasis kekerasan adalah kebuasan. Korban berjatuhan pada saat OS berlangsung dan trauma ini akan membekas di kemudian hari. Lihatlah yang terjadi di masyarakat kita. Masyarakat yang tempramental. Mudah marah, mencela, memfitnah, dan … marah lagi. Kekerasan muncul. Kebuasan. Itukah yang kita inginkan? (Itulah sebabnya saya tidak memilih calon presiden yang tempramental. hi hi hi.)

Kemampuan berdialog, berdiskusi, di meja (bundar) sekarang sangat dibutuhkan. Kita banyak kalah dalam deal-deal karena tidak memiliki kemampuan, kesabaran, kecerdasan dalam bernegosiasi. Sekarang bukan jamannya lagi menunjukkan kekerasan.

Sudah saatnya kita pikirkan OS yang lebih positif tanpa kekerasan. Atau, tidak ada OS sama sekali. Dapatkah?


Kredibilitas Sumber Berita Online

Kualitas dari sebuah karya ilmiah (makalah, artikel, atau tulisan secara umum) bergantung kepada referensi yang digunakan. Salah satu cara yang lazim digunakan oleh reviewer adalah melihat daftar referensinya. Jika referensinya dari sumber-sumber yang terpercaya dan pakar di bidangnya, maka karya ilmiah tersebut memiliki potensi untuk mendapat nilai baik. Jika sumbernya tidak terpercaya, lemah, meragukan, atau tidak dapat ditelusuri kebenarannya maka karya ilmiah tersebut diragukan untuk mendapat penilaian yang baik.

Salah satu masalah yang dihadapi saat ini adalah kredibilitas dari sumber online. Banyak jurnal dan bahkan institusi pendidikan yang tidak memperkenankan mahasiswa menggunakan Wikipedia sebagai sumber rujukan. Bahkan dapat digeneralisir, penggunaan sumber online tidak disarankan. (Frowned upon.) Salah satu alasan yang digunakan adalah ketidakjelasan orang (sumber) yang mengisi data di Wikipedia. Hal berikutnya adalah sumber di Wikipedia sering berubah. Akan menjadi masalah jika pada saat ini fakta yang ditulis adalah A dan kemudian pada saat yang lain faktanya adalag B (non-A). Mana yang benar? Yang terakhir? Atau yang mana?

Terlebih lagi sekarang marak bermunculan situs-situs “berita” yang sebetulnya adalah situs yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ada yang bentuknya memang sungguhan main-main (parodi), tetapi tidak sedikit yang sebetulnya palsu dan seolah-olah sungguhan. Yang terakhir ini yang berbahaya karena informasinya dapat menyesatkan. Sayangnya justru sekarang banyak orang yang tidak mau sedikit meluangkan waktu untuk memeriksa kredibilitas sumber informasinya. Entah tidak mau atau mungkin tidak memiliki kemampuan (skill, kesabaran) untuk melakukan itu. Dia tidak sadar bahwa orang dapat menilai kualitasnya berdasarkan sumber informasinya itu. You are what you read. Akan sangat menyedihkan jika semakin banyak orang yang terjerumus kepada kebodohan ini. Saran saya, cobalah luangkan sedikit waktu untuk memeriksa kredibilitas dari sumber informasi yang Anda gunakan.

Semakin banyak masalah dengan sumber berita online, semakin menjadi pembenaran bahwa sumber online memang tidak memiliki kredibilitas untuk digunakan sebagai referensi dalam karya ilmiah. Nampaknya Wikipedia bakalan tetap sulit untuk diperkenankan sebagai sumber referensi karya ilmiah. Wah. Padahal isinya sangat membantu bagi mahasiswa yang mencari sumber rujukan. Mosok kita masih dibatasi dengan  penggunaan jurunal dan buku konvensional sebagai rujukan?


Kecenderungan

Ternyata ada satu hal yang sama dalam pekerjaan yaitu selalu berbeda. Banyak orang berharap semua pekerjaan adalah sama dan dapat diselesaikan dengan template. Ternyata kenyataannya berbeda. Setiap pekerjaan yang datang selalu berbeda. Maka dibutuhkan orang yang dapat memecahkan masalah dengan kondisi yang selalu berbeda.

Cara orang menyelesaikan masalah atau tugas memiliki kecenderungan-kecenderungan tertentu. Ada yang bersifat defensif dan menunggu. Ada yang agresif. Ada yang tertutup dan terbuka. Ada yang marah-marah. Ada yang sabar. Dan seterusnya. Kecenderungan ini juga merupakan hal yang selalu sama.

Bagaimana dengan kecenderunganmu?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.763 pengikut lainnya.