Tag Archives: opini

Latihan Presentasi

Dua atau tiga minggu terakhir ini saya disibukkan dengan sidang mahasiswa S2 dan S3. Untuk yang S2, ada sidang yang terkait dengan thesisnya mereka. Sementara itu untuk yang S3 ada sidang kualifikasi dan seminar kemajuan penelitian mereka. Dalam satu hari saya mendengarkan dua (2) sampai tujuh (7) presentasi. Pokoknya sampai kenyang dengan presentasi.

Hampir semuanya memiliki masalah dengan presentasi, yaitu mereka tidak tahu cara presentasi. Wah. Ada beberapa mahasiswa yang sempat mengikuti kuliah saya dan sempat mendengarkan kuliah teknik presentasi, tetapi ada juga yang tidak pernah.

Presentasi itu bukan hanya maju ke depan dan tinggal bicara. Asal mangap. ha ha ha. Presentasi yang baik dan menarik itu ada dasar-dasarnya. Sebagai contoh, ketepatan waktu dalam presentasi adalah sangat esensial. Presentasi TIDAK BOLEH MELEBIHI WAKTU yang sudah diberikan. Sengaja itu saya tulis dengan huruf besar dan bold. Begitu melewati waktu, maka nilai akan jatuh. Tetap saja ada mahasiswa yang melanggar hal ini. Misalnya, waktu kemarin itu mahasiswa diberi waktu sekitar 15 menit untuk mempresentasikan thesisnya. Eh, ada mahasiswa yang presentasi hampir 30 menit! Ya ampun! Padahal yang menguju sudah ngantuk, bosan, menguap, dan menunjukkan tanda-tanda ketidaksetujuan. Sayangnya sang mahasiswa asyik melihat ke layar sehingga dia tidak mengetahui ini. Nilai jadi buruk.

Kalau presentasi tidak menarik, 5 menitpun terasa lamaaa … sekali.

Bagaimana berdiri, menatap, meletakkan tangan, dan seterusnya saya ajarkan juga di kelas. Contoh saya ambil dari cara Steve Jobs – sang maestro – memberikan presentasi. Mungkin yang pernah ikutan teater menyadari pentingnya hal ini.

Hal yang juga sering diremehkan adalah persiapan. Ada orang yang mengatakan bahwa persiapan menentukan 50% kesuksesan dari presentasi. Ini ada benarnya. Tahukah Anda bahwa cerita, jokes, lawakan, yang dibawakan oleh presenter-presenter yang keren itu sebetulnya sudah dipersiapkan sebelumnya? Ini juga saya lakukan. Ada contoh lawakan yang probabilitasnya mengena untuk kawula muda dan ada juga yang  hanya dapat dimengerti oleh penguji sidang. Dalam mempresentasikan thesis, misalnya, saya mengusulkan agar tidak menceritakan semua. Justru ada bagian-bagian yang kita buat seperti mengambang sehingga nanti ditanya. Kelihatannya kita tidak siap dengan itu. Padahal justru itu sudah dipersiapkan dari awal. hi hi hi.

Kalau itu semua sudah dilakukan apakah seseorang lantas bisa berubah menjadi jagoan presentasi? Belum. Harus berlatih, berlatih, dan berlatih. Berlatih dapat dilakukan di tempat sendiri dan dapat juga dilakukan di tempat sesungguhnya (jika memungkinkan). Itulah sebabnya ada gladiresik (dan gladikotor he he he). Kalau dalam bahasa Inggrisnya, rehersal. Mengambil contoh Steve Jobs, dia berlatih presentasi sampai berjam-jam. Dia tidak mau berhenti sebelum semuanya *sempurna*. Timing tepat. Warna tepat. Dan seterusnya. Memang dia perfectionist.

Contoh lain yang juga dapat dilihat adalah artis atau band. Mereka berlatih jam-jaman, eh bahkan berhari-hari, untuk sebuah konser. Bahkan artis / band yang sudah kawakanpun juga berlatih.

Maka dari itu, saya tersenyum-senyum ketika orang mempertanyakan salah satu capres yang berlatih debat. Justru itu harus dilakukan. That’s the way you do it. Semua harus melalui persiapan dan berlatih jika ingin mendapatkan hasil yang baik. Tidak bisa asal ngablak. hi hi hi.


Gagal Golput Karena Jokowi

Posting kali ini bertema politik. Saya ingin menunjukkan di mana saya berdiri. Mohon maaf bagi yang tidak berkenan.

Pada awalnya saya berniat untuk golput, seperti yang sudah-sudah. Saya sudah antipati terhadap retorika-retorika politik. Kebanyakan politisi hanya pandai bicara tetapi tidak ada yang dilakukannya. Saya, sebagai rakyat biasa, hanya menjadi obyek. Pelengkap penderita, bahkan.

Namun rencana saya untuk menjadi golput ini batal gara-gara Jokowi mencalonkan diri.

gagak golput karena jokowi

Saya tidak ingin berkampanye untuk Jokowi atau bahkan menjelek-jelekkan Prabowo. Tidak. Ada banyak alasan saya untuk memilih Jokowi. Ada banyak hal yang saya tahu secara langsung dan kemudian menjadi fitnah. (Saya tahu 1st hand. Langsung.) Yang saya sedih juga adalah orang-orang yang saya duga baik ternyata termasuk yang menyebar fitnah. Luar biasa buasnya mereka menyebar fitnah. Maka saya memutuskan untuk memilih Jokowi. Tidak golput.

Satu suara saya mungkin tidak berpengaruh banyak dalam hasil, tetapi dalam hati saya tahu bahwa saya sudah memilih sesuai dengan hati nurani saya. I can make peace with myself. There.


Perlukah (Kebuasan) Orientasi Studi

Sebentara lagi kampus-kampus (dan sekolahan) akan kedatangan mahasiswa baru. Maka ritual tahunan itu akan muncul lagi. Ya, orientasi studi atau OS. Ini bukan OS operating system ya.

Saya pribadi sebetulnya saya setuju dengan OS, tetapi bukan jenis OS yang berorientasi kepada kekerasan. Banyak mahasiswa yang merasa bahwa leadership hanya muncul dari kekerasan OS. Kepemimpinan itu harus orang yang berbicara keras dalam format baris berbaris. (Saya pernah menulis tentang kelucuan “ketegasan” korlap di acara mahasiswa.)

Hasil dari OS yang berbasis kekerasan adalah kebuasan. Korban berjatuhan pada saat OS berlangsung dan trauma ini akan membekas di kemudian hari. Lihatlah yang terjadi di masyarakat kita. Masyarakat yang tempramental. Mudah marah, mencela, memfitnah, dan … marah lagi. Kekerasan muncul. Kebuasan. Itukah yang kita inginkan? (Itulah sebabnya saya tidak memilih calon presiden yang tempramental. hi hi hi.)

Kemampuan berdialog, berdiskusi, di meja (bundar) sekarang sangat dibutuhkan. Kita banyak kalah dalam deal-deal karena tidak memiliki kemampuan, kesabaran, kecerdasan dalam bernegosiasi. Sekarang bukan jamannya lagi menunjukkan kekerasan.

Sudah saatnya kita pikirkan OS yang lebih positif tanpa kekerasan. Atau, tidak ada OS sama sekali. Dapatkah?


Kredibilitas Sumber Berita Online

Kualitas dari sebuah karya ilmiah (makalah, artikel, atau tulisan secara umum) bergantung kepada referensi yang digunakan. Salah satu cara yang lazim digunakan oleh reviewer adalah melihat daftar referensinya. Jika referensinya dari sumber-sumber yang terpercaya dan pakar di bidangnya, maka karya ilmiah tersebut memiliki potensi untuk mendapat nilai baik. Jika sumbernya tidak terpercaya, lemah, meragukan, atau tidak dapat ditelusuri kebenarannya maka karya ilmiah tersebut diragukan untuk mendapat penilaian yang baik.

Salah satu masalah yang dihadapi saat ini adalah kredibilitas dari sumber online. Banyak jurnal dan bahkan institusi pendidikan yang tidak memperkenankan mahasiswa menggunakan Wikipedia sebagai sumber rujukan. Bahkan dapat digeneralisir, penggunaan sumber online tidak disarankan. (Frowned upon.) Salah satu alasan yang digunakan adalah ketidakjelasan orang (sumber) yang mengisi data di Wikipedia. Hal berikutnya adalah sumber di Wikipedia sering berubah. Akan menjadi masalah jika pada saat ini fakta yang ditulis adalah A dan kemudian pada saat yang lain faktanya adalag B (non-A). Mana yang benar? Yang terakhir? Atau yang mana?

Terlebih lagi sekarang marak bermunculan situs-situs “berita” yang sebetulnya adalah situs yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ada yang bentuknya memang sungguhan main-main (parodi), tetapi tidak sedikit yang sebetulnya palsu dan seolah-olah sungguhan. Yang terakhir ini yang berbahaya karena informasinya dapat menyesatkan. Sayangnya justru sekarang banyak orang yang tidak mau sedikit meluangkan waktu untuk memeriksa kredibilitas sumber informasinya. Entah tidak mau atau mungkin tidak memiliki kemampuan (skill, kesabaran) untuk melakukan itu. Dia tidak sadar bahwa orang dapat menilai kualitasnya berdasarkan sumber informasinya itu. You are what you read. Akan sangat menyedihkan jika semakin banyak orang yang terjerumus kepada kebodohan ini. Saran saya, cobalah luangkan sedikit waktu untuk memeriksa kredibilitas dari sumber informasi yang Anda gunakan.

Semakin banyak masalah dengan sumber berita online, semakin menjadi pembenaran bahwa sumber online memang tidak memiliki kredibilitas untuk digunakan sebagai referensi dalam karya ilmiah. Nampaknya Wikipedia bakalan tetap sulit untuk diperkenankan sebagai sumber referensi karya ilmiah. Wah. Padahal isinya sangat membantu bagi mahasiswa yang mencari sumber rujukan. Mosok kita masih dibatasi dengan  penggunaan jurunal dan buku konvensional sebagai rujukan?


Kecenderungan

Ternyata ada satu hal yang sama dalam pekerjaan yaitu selalu berbeda. Banyak orang berharap semua pekerjaan adalah sama dan dapat diselesaikan dengan template. Ternyata kenyataannya berbeda. Setiap pekerjaan yang datang selalu berbeda. Maka dibutuhkan orang yang dapat memecahkan masalah dengan kondisi yang selalu berbeda.

Cara orang menyelesaikan masalah atau tugas memiliki kecenderungan-kecenderungan tertentu. Ada yang bersifat defensif dan menunggu. Ada yang agresif. Ada yang tertutup dan terbuka. Ada yang marah-marah. Ada yang sabar. Dan seterusnya. Kecenderungan ini juga merupakan hal yang selalu sama.

Bagaimana dengan kecenderunganmu?


Menjadi Lebih Terkurung Dengan Internet

Internet membuka dunia. Kalau dahulu kita hanya dapat mengakses informasi yang sifatnya lokal, atau paling jauh dengan bantuan surat kabar, sekarang kita dapat mendengar langsung kabar dari dunia yang sangat jauh. Langsung dari sumbernya. Seharusnya ini membuat orang menjadi lebih terbuka wawasannya. Menjadi lebih arif dan bijaksana. Sayangnya ini tidak terjadi.

Dalam memilih informasi yang kita baca, kita cenderung mencari informasi yang sesuai dengan yang kita inginkan. Sesuai dengan filter kacamata yang kita pakai. Jadi jika kita condong kepada warna (aliran, pendapat, style) A, maka sumber berita yang kita cari adalah yang memberikan konfirmasi kepada A. A itu bagus. Sementara itu sumber informasi yang memberikan warna B, C, D, dan seterusnya tidak disentuh.

Kalau dahulu kita seperti katak dalam tempurung, sekarang malah katak dalam bola besi. hi hi hi. Kalau tempurung masih dapat ditembus oleh sinyal handphone, bola besi seperti sangkar Faraday sehingga sinyal pembawa beritapun tidak masuk. Semakin tertutup pandangan atau pendengaran kita. Jadinya seperti ini, bertengkar terus di internet.


Serba Salah

Serba salah. Begitulah pengamatan saya terhadap situasi yang dihadapi pak Jokowi. Setidaknya itu yang saya amati di internet.

  • bertemu dengan duta negara Amerika dan Barat, dianggap antek kapitalis;
  • bertemu dengan duta dari negara Timur Tengah, dianggap antek Arab;
  • bertemu dengan pimpinan pesantren dan organisasi Islam, dianggap gak sopan;
  • bertemu dengan pimpinan agama non-Islam, tuh kaaannn;
  • bertemu dengan rakyat, dianggap pencitraan;
  • tidak menemui rakyat, dianggap membuat jarak dengan rakyat dan tidak mengayomi.

Jadi harusnya bagaimana? Tidak usah kerja. Duduk-duduk saja di rumah.

Saya jadi teringat sebuah cerita sufi tentang seorang bapak dan anaknya yang bepergian ke luar kota dengan menunggangi keledai. Berikut adalah komentar-komentar dari orang yang melihat

  • sang bapak naik keledai dan anak berjalan: orang tua gak sayang anak, mosok dia tega naik keledai dan membiarkan anaknya jalan?
  • sang anak naik keledai dan bapak berjalan:  anak kurang ajar. mosok orang tua disuruh jalan sementara dia enak-enak naik keledai
  • keduanya menaiki keledai: ini orang mikir gak sih? keledainya apa gak mampus tuh dinaiki dua orang
  • keduanya berjalan dan keledai dituntun: orang ini goblok, ada keledai kok tidak dipakai.

Ya sudah. Batalkan saja perjalanan. Tidur saja?

Sebagai seorang pemimpin, kita tidak boleh takut menjalankan apa yang kita anggap benar. Kita tidak bisa membuat semua orang senang. Yang penting adalah kita lakukan sesuai dengan kebenaran yang kita pahami.

 

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.742 pengikut lainnya.