Tag Archives: opini

Perlukah (Kebuasan) Orientasi Studi

Sebentara lagi kampus-kampus (dan sekolahan) akan kedatangan mahasiswa baru. Maka ritual tahunan itu akan muncul lagi. Ya, orientasi studi atau OS. Ini bukan OS operating system ya.

Saya pribadi sebetulnya saya setuju dengan OS, tetapi bukan jenis OS yang berorientasi kepada kekerasan. Banyak mahasiswa yang merasa bahwa leadership hanya muncul dari kekerasan OS. Kepemimpinan itu harus orang yang berbicara keras dalam format baris berbaris. (Saya pernah menulis tentang kelucuan “ketegasan” korlap di acara mahasiswa.)

Hasil dari OS yang berbasis kekerasan adalah kebuasan. Korban berjatuhan pada saat OS berlangsung dan trauma ini akan membekas di kemudian hari. Lihatlah yang terjadi di masyarakat kita. Masyarakat yang tempramental. Mudah marah, mencela, memfitnah, dan … marah lagi. Kekerasan muncul. Kebuasan. Itukah yang kita inginkan? (Itulah sebabnya saya tidak memilih calon presiden yang tempramental. hi hi hi.)

Kemampuan berdialog, berdiskusi, di meja (bundar) sekarang sangat dibutuhkan. Kita banyak kalah dalam deal-deal karena tidak memiliki kemampuan, kesabaran, kecerdasan dalam bernegosiasi. Sekarang bukan jamannya lagi menunjukkan kekerasan.

Sudah saatnya kita pikirkan OS yang lebih positif tanpa kekerasan. Atau, tidak ada OS sama sekali. Dapatkah?


Kredibilitas Sumber Berita Online

Kualitas dari sebuah karya ilmiah (makalah, artikel, atau tulisan secara umum) bergantung kepada referensi yang digunakan. Salah satu cara yang lazim digunakan oleh reviewer adalah melihat daftar referensinya. Jika referensinya dari sumber-sumber yang terpercaya dan pakar di bidangnya, maka karya ilmiah tersebut memiliki potensi untuk mendapat nilai baik. Jika sumbernya tidak terpercaya, lemah, meragukan, atau tidak dapat ditelusuri kebenarannya maka karya ilmiah tersebut diragukan untuk mendapat penilaian yang baik.

Salah satu masalah yang dihadapi saat ini adalah kredibilitas dari sumber online. Banyak jurnal dan bahkan institusi pendidikan yang tidak memperkenankan mahasiswa menggunakan Wikipedia sebagai sumber rujukan. Bahkan dapat digeneralisir, penggunaan sumber online tidak disarankan. (Frowned upon.) Salah satu alasan yang digunakan adalah ketidakjelasan orang (sumber) yang mengisi data di Wikipedia. Hal berikutnya adalah sumber di Wikipedia sering berubah. Akan menjadi masalah jika pada saat ini fakta yang ditulis adalah A dan kemudian pada saat yang lain faktanya adalag B (non-A). Mana yang benar? Yang terakhir? Atau yang mana?

Terlebih lagi sekarang marak bermunculan situs-situs “berita” yang sebetulnya adalah situs yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ada yang bentuknya memang sungguhan main-main (parodi), tetapi tidak sedikit yang sebetulnya palsu dan seolah-olah sungguhan. Yang terakhir ini yang berbahaya karena informasinya dapat menyesatkan. Sayangnya justru sekarang banyak orang yang tidak mau sedikit meluangkan waktu untuk memeriksa kredibilitas sumber informasinya. Entah tidak mau atau mungkin tidak memiliki kemampuan (skill, kesabaran) untuk melakukan itu. Dia tidak sadar bahwa orang dapat menilai kualitasnya berdasarkan sumber informasinya itu. You are what you read. Akan sangat menyedihkan jika semakin banyak orang yang terjerumus kepada kebodohan ini. Saran saya, cobalah luangkan sedikit waktu untuk memeriksa kredibilitas dari sumber informasi yang Anda gunakan.

Semakin banyak masalah dengan sumber berita online, semakin menjadi pembenaran bahwa sumber online memang tidak memiliki kredibilitas untuk digunakan sebagai referensi dalam karya ilmiah. Nampaknya Wikipedia bakalan tetap sulit untuk diperkenankan sebagai sumber referensi karya ilmiah. Wah. Padahal isinya sangat membantu bagi mahasiswa yang mencari sumber rujukan. Mosok kita masih dibatasi dengan  penggunaan jurunal dan buku konvensional sebagai rujukan?


Kecenderungan

Ternyata ada satu hal yang sama dalam pekerjaan yaitu selalu berbeda. Banyak orang berharap semua pekerjaan adalah sama dan dapat diselesaikan dengan template. Ternyata kenyataannya berbeda. Setiap pekerjaan yang datang selalu berbeda. Maka dibutuhkan orang yang dapat memecahkan masalah dengan kondisi yang selalu berbeda.

Cara orang menyelesaikan masalah atau tugas memiliki kecenderungan-kecenderungan tertentu. Ada yang bersifat defensif dan menunggu. Ada yang agresif. Ada yang tertutup dan terbuka. Ada yang marah-marah. Ada yang sabar. Dan seterusnya. Kecenderungan ini juga merupakan hal yang selalu sama.

Bagaimana dengan kecenderunganmu?


Menjadi Lebih Terkurung Dengan Internet

Internet membuka dunia. Kalau dahulu kita hanya dapat mengakses informasi yang sifatnya lokal, atau paling jauh dengan bantuan surat kabar, sekarang kita dapat mendengar langsung kabar dari dunia yang sangat jauh. Langsung dari sumbernya. Seharusnya ini membuat orang menjadi lebih terbuka wawasannya. Menjadi lebih arif dan bijaksana. Sayangnya ini tidak terjadi.

Dalam memilih informasi yang kita baca, kita cenderung mencari informasi yang sesuai dengan yang kita inginkan. Sesuai dengan filter kacamata yang kita pakai. Jadi jika kita condong kepada warna (aliran, pendapat, style) A, maka sumber berita yang kita cari adalah yang memberikan konfirmasi kepada A. A itu bagus. Sementara itu sumber informasi yang memberikan warna B, C, D, dan seterusnya tidak disentuh.

Kalau dahulu kita seperti katak dalam tempurung, sekarang malah katak dalam bola besi. hi hi hi. Kalau tempurung masih dapat ditembus oleh sinyal handphone, bola besi seperti sangkar Faraday sehingga sinyal pembawa beritapun tidak masuk. Semakin tertutup pandangan atau pendengaran kita. Jadinya seperti ini, bertengkar terus di internet.


Serba Salah

Serba salah. Begitulah pengamatan saya terhadap situasi yang dihadapi pak Jokowi. Setidaknya itu yang saya amati di internet.

  • bertemu dengan duta negara Amerika dan Barat, dianggap antek kapitalis;
  • bertemu dengan duta dari negara Timur Tengah, dianggap antek Arab;
  • bertemu dengan pimpinan pesantren dan organisasi Islam, dianggap gak sopan;
  • bertemu dengan pimpinan agama non-Islam, tuh kaaannn;
  • bertemu dengan rakyat, dianggap pencitraan;
  • tidak menemui rakyat, dianggap membuat jarak dengan rakyat dan tidak mengayomi.

Jadi harusnya bagaimana? Tidak usah kerja. Duduk-duduk saja di rumah.

Saya jadi teringat sebuah cerita sufi tentang seorang bapak dan anaknya yang bepergian ke luar kota dengan menunggangi keledai. Berikut adalah komentar-komentar dari orang yang melihat

  • sang bapak naik keledai dan anak berjalan: orang tua gak sayang anak, mosok dia tega naik keledai dan membiarkan anaknya jalan?
  • sang anak naik keledai dan bapak berjalan:  anak kurang ajar. mosok orang tua disuruh jalan sementara dia enak-enak naik keledai
  • keduanya menaiki keledai: ini orang mikir gak sih? keledainya apa gak mampus tuh dinaiki dua orang
  • keduanya berjalan dan keledai dituntun: orang ini goblok, ada keledai kok tidak dipakai.

Ya sudah. Batalkan saja perjalanan. Tidur saja?

Sebagai seorang pemimpin, kita tidak boleh takut menjalankan apa yang kita anggap benar. Kita tidak bisa membuat semua orang senang. Yang penting adalah kita lakukan sesuai dengan kebenaran yang kita pahami.

 

 


Tekun

Salah satu topik obrolan kemarin dengan beberapa orang adalah tentang kesuksesan. Kerja keras harus dilakukan agar mencapai tingkat yang lebih tinggi, dari pekerja terus ke management terus ke owner. Saya bilang mungkin hanya sampai ke management saja ya. Soalnya menjadi owner itu mungkin jalurnya beda. Itu jalur entrepreneurship bukan jalur profesional. Hmm… benar gak ya?

Menurut saya, salah satu kunci kesuksesan – selain kerja keras – adalah tekun. Persisten. Terus menerus. Tidak menyerah. Istiqomah? Sering orang merasa sudah kerja keras dan sukses belum juga hadir. Dia kemudian menyerah. Padahal sedikit lagi saja dia bisa sukses. (Tahunya dari mana ya?)

Sebagai contoh ya blog ini. Banyak orang yang baru nulis satu, dua, sampai puluhan halaman blog, kemudian sudah menyerah. Maunya sukses seketika. Ya ndak bisa. Harus tekun. Tulisan ini adalah tulisan yang ke 4470. Yup, sudah lebih dari 4000 tulisan. Bayangkan kalau satu hari saya menulis satu tulisan, maka itu sudah lebih dari 10 tahun. hi hi hi. Kalau dijadikan buku, 4000 halaman itu setebal apa ya?

T e k u n . . .


Memahami Bahasa (dan Budaya?) Inggris

Baru saja saya mendengarkan beberapa lagu (aliran rock – hi hi hi) berbahasa Inggris. Salah satu lagu tersebut bercerita tentang Lord of the Rings. Lagu lainnya bercerita tentang hal-hal lain tetapi masih berkaitan dengan budaya Barat. Hal yang sama terjadi ketika saya menonton film dan membaca buku. Ada banyak konteks yang hilang jika kita tidak memahami bahasa dan budaya Barat itu. Lantas saya berpikir, apakah kita – orang Indonesia – perlu belajar bahasa Inggris dan memahami budaya Barat? Pertanyaan yang mirip pernah dilontarkan; apakah perlu kita belajar English literature?

Saya ingin menjawab dengan YA, tetapi itu untuk diri saya sendiri. Untuk keseluruhan Indonesia? Ah, nanti dulu. Mempelajari bahasa Indonesia dan sejarah Indonesia sendiri belum cukup untuk dipelajari, mengapa kita lantas seolah-olah ikutan menjadi ke-Barat-Baratan? Begitulah pertanyaan yang mungkin dilontarkan. Betul juga ya.

Di sisi lain, sebagai warga dunia, semestinya kita tidak membatasi diri untuk menjadi katak dalam tempurung. Dunia kan tidak hanya Indonesia saja. Memahami bahasa dan budaya asing memberi kita wawasan yang lebih luas dan bahkan dapat mengambil keputusan yang lebih baik secara lokal.

Bagaimana?


Lebih Dari Itu

Beberapa hari (minggu?) yang lalu saya betermu dengan seorang rekan yang mengeluhkan bahwa pegawai di kantornya hanya kerja sesuai dengan tugas administratifnya saja. Jika tugasnya sudah selesai – misalnya harus mengerjakan ini dan itu – maka berhentilah dia. Dia tidak mau bekerja lebih, meskipun dia bisa. Dia tidak termotivasi untuk berpikir lebih dari itu. Bahkan dalam menyelesaikan tugasnyapun dia harus diberitahu. Tidak ada inisiatif sama sekali. Kalau tugasnya adalah menyusun kursi, maka setelah kursi tersusun dia tidak mau mengerjakan hal lain; menyusun meja, memasang taplak meja, ngepel lantai, dan seterusnya. Kan tugas saya nyusun kursi sudah selesai. Lantas apa lagi?

Keluhan rekan ini dapat saya pahami. Bahkan saya dapat melihat masalah yang dia hadapi bukan hanya terjadi di tempatnya saja tetapi hampir di seluruh tempat di Indonesia. (Anda termasuk?)

Saya dapat membayangkan pertanyaan orang-orang tersebut, untuk apa saya bekerja lebih banyak? Toh gaji saya sama dengan yang lain (yang kerjanya pas-pasan saja). Nah itu dia. Tolok ukur yang mereka gunakan adalah aspek finansial. Mereka bekerja hanya mengharapkan dapat gaji saja. Tidak ada kepuasan diri dalam bekerja.

Orang-orang sukses yang saya kenal tidak pernah menggunakan aspek finsansial sebagai ukuran. Mereka berpikiran lain, seperti bagaimana kontribusinya terhadap masyarakat, bagaimana kontribusi mereka terhadap perusahaan / instansi. Bagaimana agar perusahaannya (instansinya) itu menjadi lebih baik, meski entitas itu bukan milik pribadinya. Lagi-lagi karena ukurannya bukan finansial. Mereka termotivasi oleh berkontribusi.

Mereka yang sukses ini juga tidak mengukur dirinya dengan orang lain. Mereka mengukur dirinya dengan dirinya sendiri. Be the yardstick. Kalau dibanding-bandingkan, orang lain puas bekerja 70% maka dia bekerja 150%. Bahkan lebih dari itu. Angka-angka orang lain ini tidak penting bagi mereka karena mereka mengukur dirinya sendiri.

Nah, masalahnya adalah bagaimana memotivasi mayoritas orang-orang yang hanya berpikir bekerja pas-pasan saja ya?


Pemimpin Pilihan Orang Indonesia

Setelah saya pikir-pikir dan amati, nampaknya tipe pemimpin pilihan orang Indonesia itu bukan tipe yang dapat menginspirasi kita tetapi yang dapat memecahkan masalah dalam jangka pendek. Fix short term problems.

Yang bisa menyelesaikan masalah kita tanpa kita ikut campur. Sebagai contoh, kita punya masalah dengan sampah, banjir, kemacetan, dan seterusnya. Kita mau cari pemimpin yang dapat memecahkan masalah itu tanpa kita peduli. Kita tidak perlu peduli dengan bagaimana kita membuang sampah. Kita lempar saja itu bekas botol aqua ke jalan. Atau, kalau di rumah, kita sapu itu sampah ke selokan. Itu bukan masalah kita lagi. Itu sudah masalah pemerintah. Demikian pula dalam bekendaraan kita tidak peduli dengan aturan lalu lintas; serobot saja, halangi jalan orang, tidak mau berbagi. Macet? Itu bukan salah kita. Itu salah pemerintah. Kita tidak mau memikirkan tentang resapan air. Semua tanah yang kita miliki, kita bangun gedung. Banjir? Bukan salah saya.

Kalaupun ada yang mau ikut berpartisipasi memecahkan masalah, yang dicari adalah pemimpin yang memberi instruksi (detail) bagaimana memecahkan masalah itu. Kita tidak mau memikirkan bagaimana memecahkan masalah itu. Kita minta diberitahu. Disuruh. Baru kita lakukan. Kita cari pemimpin yang penuh dengan instruksi-instruksi. Tanpa itu, kita tidak bergerak. Salah pemimpin tidak memberitahu kami.

Ya kalau tingkat pemikiran bangsa kita masih baru sampai segini, mosok kita perlu memilih pemimpin yang penuh dengan inspirasi, memiliki visi yang ke depan. Tidak perlulah. Bukankah begitu?

[sarcasm mode=off]


Mengamati Pengaruh Jejaring Sosial

Banyak orang yang merasa bahwa jejaring sosial / media sosial (seperti facebook dan twitter) itu demikian hebatnya. Wow banget. Padahal sesungguhnya kita belum tahu seberapa besar dampaknya. Mari kita amati beberapa hal.

Beberapa kali diskusi dengan pakar jejaring sosial membuat saya lebih memahami bahwa media konvensional – seperti televisi, surat kabar, majalah – sesungguhnya masih yang paling mempengaruhi masyarakat. Orang-orang yang menggeluti bidang teknologi informasi (ICT) merasa bahwa jejaring sosial sudah sedemikian hebatnya sehingga mempengaruhi orang banyak. Ternyata belum terbukti. Kita masih membutuhkan data dan penelitian yang lebih lanjut untuk menyatakan hal ini.

Citizen journalism yang dianggap akan memiliki peran dan dampak yang mendalam belum terbukti. Topik-topik yang dibahas dalam media sosial (facebook, twitter) sesungguhnya masih dimotivasi (driven) dari topik yang diangkat oleh media konvensional. Masih mainstream juga. (Itulah sebabnya blog ini mengambil topik-topik yang tidak mainstream. Berbeda dengan yang ada di media konvensional.) Blog ini belum punya pengaruh yang signifikan. hi hi hi.

Jadi jangan dulu percaya bahwa jejaring sosial itu sangat berpengaruh dalam branding (untuk bisnis dan politik). Kemungkinan besar memang ada pengaruhnya, tetapi tidak sehebat yang diperkirakan oleh orang IT. Jangan terlalu percaya bahwa kalau sesuatu itu heboh di jejaring sosial berarti dia heboh di dunia sesungguhnya. Masih terlalu dini untuk mempercayai itu. Jadi biarlah ada tim sukses ini dan itu di dunia politik cyber. Mereka belum tentu punya pengaruh :)


Karakteristik Bandung Car Free Day

Hari ini untuk kedua kalinya kami buka lapak toko musik digital kami (Insan Music Store) di Bandung Car Free Day (CFD). Tujuannya masih seperti sebelumnya, yaitu untuk memperkenalkan layanan kami. To test the market, sort of speak.

Saya melihat bahwa tujuan mayoritas dari pengunjung CFD adalah untuk berjalan-jalan. Berolahraga sambil rileks dengan keluarga atau teman. Tadinya saya pikir kebanyakan adalah duduk nongkrong beli ini dan itu. Ternyata mereka tidak membeli. Mereka berjalan. Saya perhatikan yang jualan minuman di samping stand kami tidak berhasil menjual minumannya. Sebetulnya terjual tetapi nampaknya tidak seperti yang dia harapkan. Di depannya, jualan es lilin, demikian pula. Samping kanan jauh, jualan otak-otak juga demikian. Ada yang beli tetapi tidak banyak.

Untungnya tujuan kami berada di sana bukan – belum – untuk berjualan tetapi justru untuk mendapatkan lagu-lagu dari artis / band yang sudah memiliki lagu dalam format digital. Nampaknya kalau untuk berjualan, mungkin CFD bukan tempatnya. Entahlah kalau kami nanti sudah mulai menggelar lapak digital kami; lengkap dengan access point dan notebook untuk mendengarkan musik. We’ll see.

Saya belum tahu apakah yang berjualan di Gasibu (sekarang seberangnya, yang lebih dekat ke Unpad) memiliki karakterisik yang sama atau tidak. Mungkin ada yang tahu? Sementara ini kalau Anda ingin berjualan dengan skala yang besar di CFD, pikir-pikir dulu.


Sterilisasi Kampus?

Kemarin saya mendapat kabar bahwa Jokowi akan memberikan kuliah terbuka di kampus ITB hari ini. Maka setelah turun dari pesawat (saya baru kembali dari acara InnovFest 2014 di Singapura – cerita menyusul), saya menuju kampus ITB. Tadinya saya pikir acaranya biasa-biasa saja. Yang datang cukup satu aula (Barat atau Timur) saja lah. Biasanya kan kalau pejabat datang ke kampus ya segitu saja pesertanya. Eh, ternyata begitu sampai kampus heboh banget.

Banyak mahasiswa di luar yang mendemo kedatangan Jokowi ke kampus ITB. Katanya mungkin mendekati 100 orang. Ada spanduk dan ada yang berorasi di depan Aula Timur. Saya bergegas menuju pintu masuk yang sudah dikunci. Ada penjaga yang mengenal saya sebagai dosen dan memperbolehkan saya masuk. Maka saya masuk dan menuju bagian belakang aula yang sudah padat. Jumlahnya? Wuih gak tahu saya. Yang pasti, Aula Timur penuh sesak. Nampaknya yang mau mendengarkan Jokowi lebih banyak.

Pak Jokowi baru maju ke dapan setelah acara dibuka Rektor ITB. Setelah mengucapkan salam, pak Jokowi menjelaskan bahwa kedatangannya ke kampus adalah atas undangan ITB untuk menandatangani kerjasama ITB dengan DKI. Kesempatan ini digunakan pula untuk mengisi kuliah terbuka. Tetapi karena ada pro dan kontra dan agar tidak ada keributan di dalam, maka pak Jokowi memutuskan untuk tidak jadi mengisi kuliah terbuka. Begitu dia menutup. Mungkin kurang dari 5 menit. Wah. Bagi saya, sebetulnya perbedaan pendapat di kampus itu adalah yang biasa. Jokowi bisa saja memberikan kuliah tentang DKI.

Di akhir ada mahasiswa yang memberikan penjelasan (berorasi) bahwa mahasiswa tidak mendukung capres tertentu. Ok no problem. Yang heran adalah mahasiswa menginginkan sterilisasi kampus dari politik.

Hmmm… saya jadi berpikir puluhan tahun ke belakang. Akhir tahun 70-an terjadi kericuhan di kampus ITB (dan kampus-kampus lain di Indonesia), antara mahasiswa dengan militer. Pemerintah mencoba membuat kampus steril dari politik. Mahasiswa tentu saja tidak mau diatur oleh pemerintah. Maka para mahasiswa ini melawan. Kampus bahkan diduduki militer. Pada akhirnya kampus berhasil ditundukkan. Disterilkan.

Sangat terbalik dengan sekarang. Mahasiswa bahkan ingin memandulkan dirinya sendiri.

Saya ingat sebuah pendapat dari seorang Profesor (yang saya lupa sumbernya). Mahasiswa (ITB) tidak perlu terlibat politik praktis, tetapi mahasiswa tidak boleh buta/bodoh politik. Nah. Lantas bagaimana mahasiswa dapat mengerti politik jika tidak belajar di kampus? Hadirkan tokoh-tokoh di kampus. Treat them like a regular person. Biasa-biasa wae lah. Mengapa demikian ketakutannya mahasiswa dengan politik? Demikian lemahnyakah mahasiswa sekarang? Mahasiswa seharusnya dapat membuat dirinya kuat dan tidak terpengaruh dengan (partai) politik, tetapi tidak dengan membuat dirinya steril.

Nampaknya usaha pemerintah mengendalikan mahasiswa berhasil. Mahasiswa sekarang memang sudah menjadi anak baik yang fokus kepada kuliah dan lulus saja. Mahasiswa menjadi tidak relevan dan tidak perlu ditakuti oleh pemerintah lagi. Mahasiswa sudah menjadi kucing, bukan harimau. Kita tunggu saja nanti. Kekurangan pemimpin akan terus berlangsung. Golput akan tetap menjadi dominan.

Rasakno

Link serupa:

 


Apakah Perlu Inkubator Bisnis?

Ini saya baru pulang dari reception untuk para pembicara dan undangan dari luar negeri di acara Innovation Festival Asia yan diselenggarakan oleh NUS (National University Singapore). Acaranya makan malam dan networking, ngobrol cari teman baru. Salah satu pertanyaan yang bolak-balik muncul adalah apakah saya dari sebuah inkubator bisnis (startup)? Saya jawab tidak. Saya kemudian berpikir, apakah sebetulnya inkubator bisnis itu diperlukan?

Inkubator bisnis itu mengambil analogi inkubator untuk bayi. Ada bayi yang begitu lahir harus dimasukkan ke inkubator dahulu karena satu dan lain hal. Inkubator ini memperbesar peluang mereka untuk menghadapi dunia yang baru mereka masuki. Hal yang sama juga terjadi untuk bisnis. Ada bisnis yang harus melalui inkubator. Namun kita lupa bahwa sebetulnya kita berharap bahwa bayi-bayi yang lahir itu tidak harus melalui inkubator. Inkubator itu hanya kasus khusus saja. Bukan yang umum.

Saya mendapati ada kecenderungan startup ingin melalui proses masuk inkubator bisnis. Kalau kita lihat analoginya dengan bayi, kita tentunya tidak ingin bayi kita melalui proses inkubator jika memang tidak harus. Bukankah begitu? Mengapa kalau urusan bisnis kita justru ingin masuk ke inkubator? Aneh saja.


Inovasi Dari Indonesia?

Diskusi (atau mungkin lebih tepatnya debat kusir) yang sedang ramai kali ini adalah masalah politik. Bosen ah. Lebih baik kita diskusi topik lain saja. Saya mau mengangkat topik inovasi. Mumpung lusa saya akan berbicara tentang hal ini.

Pertanyaan saya adalah “apa ada inovasi yang muncul dari Indonesia?”.

Sebagai contoh, saya melihat beberapa “inovasi” yang terkait dengan start up di Indonesia lebih ke arah menjiplak yang sudah ada. Misalnya ada yang membuat sesuatu yang mirip Facebook, Twitter, Groupon, dan seterusnya. Saya belum melihat sesuatu yang betul-betul baru. Inovasi. Ada contoh?

Yang kedua, mengapa inovasi pada jaman sekarang banyak datang dari Amerika? Padahal orang-orang yang cerdas banyak di Asia. Apakah ini terkait dengan cara pendidikan di Asia? Atau faktor lain? Lingkungan? Alam? Budaya? Agama? Atau apa ya?


Refleksi Pileg 2014

Ini merupakan catatan saya terhadap pileg 2014. Saya bukan pelaku politik. Bahkan pengamat yang cermatpun bukan. Jadi ini hanya sekedar catatan pribadi yang mungkin menarik bagi sebagian orang. Apa yang saya tuliskan tentunya menjadi sangat subyektif. Sah-sah saja jika Anda tidak sependapat.

Yang pertama dahulu. Banyak orang yang menginginkan Jokowi menjadi presiden tetapi tidak ingin memilih PDIP sebagai partai pilihannya. Ini merupakan hal yang sulit. Bagaimana kalau golput (tidak memilih partai) dan PDIP tidak mendapatkan suara yang cukup sehingga tidak dapat mengajukan Jokowi? Atau lebih parah lagi memilih partai lain dan kemudian partai lain ini mengusuk calon presiden yang tidak kita inginkan. Maka banyak orang yang  terpaksa memilih PDIP. Dugaan saya sih lebih banyak yang golput untuk urusan ini.

Coba saja partai lain mengajukan Jokowi sebagai capresnya, saya menduga akan banyak suara yang mengalir ke mereka. Eh, malah partai lain tersebut mengajukan calon yang mboten-mboten. hi hi hi. Coba saja PBB, PKB, atau PPP mengajukan – atau bahkan sekedar mengindikasikan – Jokowi jadi calon presiden mereka, mungkin mereka mendapat tambahan suara dari orang yang ingin Jokowi tapi tidak PDIP.

Hal kedua, banyak simpatisan PKS yang nampaknya sekarang tidak menjadi simpatisan lagi. Mereka saya duga memilih untuk menjadi golput atau memilih partai Islam lainnya, mungkin ke PKB. Jangankan untuk menjadi juara, untuk mengalahkan Golkar saja tidak bisa. hi hi hi. Jangankan Golkar, yang lainnya juga tidak bisa.

Saya melihat PKS menjadi kurang simpatik, terlalu arogan dan eksklusif. Sebagai contoh, mereka merasa bakal mendapatkan suara sangat banyak. Padahal sudah diberitahu oleh simpatisannya bahwa mereka tidak memilih PKS lagi. Ada perbedaan antara memiliki target dan arogan. hi hi hi. PKS memang sedang kena gempur berbagai kasus. Sebetulnya kalau saja mereka mengakui kekurangan dan kesalahan yang ada dan melakukan perubahan dan berjanji tidak lagi, bukannya mencari-cari alasan atau pembenaran, maka simpatisan akan memaafkan mereka. Dan akan memilih mereka lagi. Para simpatisan ini tahu bahwa banyak orang PKS yang baik-baik dan sungguh-sungguh. Hanya saja di jajaran atasannya yang parah. Masih ada kesempatan bagi PKS untuk memperbaiki dan mendapatkan dukungan dari rakyat.

Selesai pileg. Sekarang pilpres, menurut saya sudah mudah. Saya tidak perlu sebutkan capresnya, kan? :)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.839 pengikut lainnya.