Tag Archives: Pendidikan

Video Tentang (nge)Blog Ini

Berikut ini tayangan di YouTube tentang cerita “ngeblog yang sukses”. Ini presentasi saya di acara Free Saturday Lesson (FSL), yang diselenggarakan oleh Comlabs ITB.

Selamat menikmati


Bacaan Anda?

Ingin sekedar polling untuk mencari tahu seberapa besar minat baca orang Indonesia. Kata orang sono, “you are what you read“. Pertanyaannya:

Buku apa saja yang (sedang / sudah) Anda baca dalam satu (1) bulan terakhir ini?

Anda dapat menuliskannya secara singkat di bagian komentar. Silahkan …

Oh ya, yang sedang saya baca (antara lain):

  1. Ed Catmul – Creativity, Inc.
  2. Harper Lee – To kill a mockingbird
  3. Tom Kelly – The art of innovation

Perlukah Sekolah?

Topik yang sedang hangat saat ini adalah “apakah sekolah itu perlu?”. Ini dipicu dari beberapa contoh orang yang gagal sekolah (baca: dropout) tetapi sukses. Sebetulnya topik ini bukan topik baru. Sudah ada banyak bahasan. Berikut ini adalah opini saya.

Jawaban saya terhadap pertanyaan “apakah sekolah itu perlu” adalah YA. Bersekolah itu perlu. Dengan catatan bahwa yang bersekolah memang serius ingin bersekolah, bukan untuk sekedar mendapatkan selembar kertas ijazah. Banyak (kebanyakan?) mahasiswa yang saya temui pergi ke sekolah hanya karena (1) ingin mendapatkan selembar kertas itu atau (2) dari pada nganggur ya kuliah saja. Untuk yang seperti ini, menurut saya mau sekolah atau tidak sekolah menjadi tidak relevan. Kondisi ini, yang ngasal sekolah, itu nyata karena sebagai dosen sering saya temui fakta ini.

Mengapa bersekolah sampai tinggi itu penting? Mari kita ambil contoh. Kalau saya minta Anda untuk membangun sebuah garasi atau ruang tamu, saya yakin sebagian besar dari kita bisa. Tanpa sekolahanpun rasanya bisa. (Meskipun secara keilmuan tetap salah, tetapi secara kasat mata dapat ditunjukkan bahwa garasi atau ruang tamu itu bisa jadi.) Nah, sekarang saya minta Anda untuk membuat gedung 73 tingkat. he he he. Untuk yang ini yang membuat harus sekolahan.

Apakah lantas orang yang tidak sekolahan tidak bisa sukses? Oh bisa saja. Bahkan ada banyak contoh orang yang tidak sekolahan tetapi sukses. Hanya saja … yang sering dilupakan oleh orang … mereka harus bekerja 3, 4, 5 atau belasan kali lebih keras daripada kebanyakan orang. Saya ulangi lagi, MEREKA HARUS BEKERJA LEBIH KERAS untuk mencapai kesuksesan itu. Kebanyakan orang hanya melihat dari sisi hasilnya saja tanpa mau melihat betapa besarnya pengorbanan mereka untuk mencapai kesuksesan tersebut.

Kalau saya tanya kepada Anda, berapa jam sehari Anda tidur? Maukah Anda tidur kurang dari 5 jam setiap hari selama 5 tahun? Saya yakin sebagian besar akan mengatakan tidak. Berapa jam sehari Anda habiskan waktu untuk mendalami keahlian tertentu? Sudah berapa lama Anda menekuni hal itu? Orang yang tidak sekolahan, tetapi sudah menghabiskan setidaknya 10000 jam (atau 10 tahun) menekuni bidang tersebut, saya yakin dia lebih kompeten dibandingkan anak yang baru lulus kuliah. Maka jangan heran kalau ada orang yang dropout tetapi sukses dalam bidangnya. Ini wajar saja.

Tidak perlu lagi kita berdebat perlu sekolah atau tidak. Yang lebih penting lagi adalah mari kita berkarya dan memberi manfaat bagi umat manusia. 3.0


Entrepreneurship: Mentoring

Salah satu cara untuk mengajari entrepreneurship adalah melalui mentoring. Ada banyak pengetahuan dan pengalaman yang belum terkodekan dalam bentuk tulisan (atau video). Masih banyak pengetahuan dan pengalaman ini yang terekam dalam kepala orang yang bersangkutan. Tacit. Itulah sebabnya metoda mentoring dirasakan cukup efektif.

Kemarin saya menjadi mentor beberapa mahasiswa entrepreneurship – sekolah bisnis dan managemen ITB. Topik yang kami bahas kemarin adalah marketing. (Mengenai topiknya kapan-kapan saya tuliskan.) Ini foto di akhir mentoring.

IMG_6145 mentoring

Saya jadi teringat sebuah foto yang berisi venture capital dan beberapa pendiri (founder) beberapa startup yang didanai oleh VC tersebut. Keren banget. Semoga foto ini juga dapat jadi foto bersejarah karena mereka sukses dengan startups-nya. Aaamiiin.

Link terkait …

  • Syncosta: statistics
  • Patiama: modern Indonesian motif fashin
  • Arthurapple: marketing and advertising
  • Mobydick: Point of Sale
  • Sampeyan Motor: motorcycle sparepart & accessoris
  • Pedstreat: juice …

Soal Perkalian Itu: 6 × 4 vs. 4 × 6

Di media sosial sekarang sedang ramai diperdebatkan tentang perkalian. Apakah 6×4 itu sama dengan 4×6? Ini bermula dari keluhan seseorang karena adiknya disalahkan oleh gurunya. (Link menyusul.)

Sebetulnya menurut saya ini adalah masalah standar penulisan (notasi). Mana yang kita gunakan?

  • multiplier × multiplicand (Thailand, Singapura, Indonesia?)
  • multiplicand × multiplier (Jepang, Kanada,

Ternyata menurut tulisan di status Yohanes Nugroho ini, setiap negara memiliki standar yang berbeda-beda. Jadi ini adalah masalah standar. Kita mau pakai yang mana? Bayangkan kalau anak kita sekolah di luar negeri, nanti akan disalahkan. hi hi hi.

Menurut saya, jika kedua angka tersebut tidak memiliki unit (satuan) atau makna tertentu maka kedua bentuk perkalian tersebut sama. Perkalian skalar. Ketika salah satu angka tersebut memiliki unit atau makna tertentu, maka tentu saja menjadi tidak sama. Banyak orang yang memberi contoh resep obat “3×1″ dan “1×3″ yang berbeda. Mereka lupa bahwa salah satu angka tersebut memiliki makna, yaitu jumlah tablet (kapsul) yang harus diminum. Jadi kalau kita mau tuliskan secara benar, kedua penulisan tersebut akan sama.

  • 3 kali diminum masing-masing 1 kapsul: (3 × 1 kapsul)
  • 1 kapsul diminum tiga kali: (1 kapsul × 3)

Jika ditanyakan, berapa jumlah kapsul yang harus diberikan? Maka jawabannya adalah sama, 3 buah kapsul. Biasanya orang salah menggunakan analogi ini karena meletakkan “kapsul”nya sembarangan.

Contoh lain yang juga sama (perhatikan bahwa unit atau konteks tetap melekat pada angka yang bersangkutan):

  • 3 lembar uang seribuan rupiah (1000): 3 × 1000
  • uang seribuan rupiah (1000) sebanyak 3 lembar: 1000 × 3

Tentu saja kita tidak boleh sembarangan meletakkan unitnya, misalnya kalau dalam contoh di atas, uang (Rupiah) melekat kepada yang 1000 bukan yang 3.

Di dalam dunia engineering, label unit itu sangat penting. Saya selalu menekankan ini kepada mahasiswa yang sering membuat grafik tanpa unit. Sumbu x itu merepresentasikan apa? Waktu? Satuannya apa? detik? menit? jam? tahun? …

Nah, sekarang soal optimasi perkalian. Mana yang lebih cepat antara 6×4 dan 4×6? Dicontohkan adalah kalau kita mengangkat bata 6 sekaligus sebanyak 4 kali tentunya lebih cepat dari mengangkat 4 bata sebanyak 6 kali. Belum tentu! Boleh jadi mengangkat 6 bata sekaligus membutuhkan tenaga yang lebih banyak (misalnya, ngarang saja ini, tiga kali lebih banyak tenaganya) daripada mengangkat 4 bata sekaligus. Silahkan dikalikan, maka mengangkat 6 bata sekaligus menjadi lebih “mahal” dalam kacamata tenaga dan boleh jadi juga lebih lambat.

Umumnya perkalian diterjemahkan menjadi penjumlahan yang berulang, tetapi ada juga perkalian yang lebih mudah dilakukan dengan … well, perkalian. hi hi hi. Misalnya, perkalian dengan 2 atau doubling di komputer akan lebih mudah dilakukan dengan menggunakan operasi shift daripada dilakukan addition. Belum lagi kalau kita berbicara mengenai word-size.

Jadi ini adalah masalah standar dan konteks. Jangan lupa pula bahwa ini perkalian skalar. Kalau kita berbicara perkalian vektor atau matriks, tentu saja tidak dengan serta merta boleh dipertukarkan.

Update (tambahan).

Jika Anda diberikan soal berikut:

237 + 237 + 237 + 237 + 237 + 237 + 237 + 237 = …

Maka Anda menerjemahkannya apakah menjadi “8×237″ atau “237×8″?

Kemudian jika Anda mengalikannya dengan tangan, mana yang Anda letakkan di atas? Yang 8 atau 237?

CAM00025 perkalian 1000

Kalau di dalam otaknya komputer, jawabannya adalah mudah: digeser (shift) ke kiri tiga kali. Jadilah dikali 8. hi hi hi. Lebih mudah daripada menambahkan berkali-kali. Ini untuk menunjukkan bahwa perkalian tidak selalu lebih mudah (murah) dilakukan dengan penjumlahan. Tentu saja ini kasus khusus karena 8 adalah 2 pangkat 3 dan komputer bekerja berdasarkan bilangan biner. hi hi hi. (Dasar orang komputer.)

And for the kicker … (maaf, dalam bahasa Inggris. hi hi hi.)

Jika Anda diberikan perkalian berikut “237×2″ dan diminta untuk mengerjakannya dalam bentuk penjumlahan berulang, mana yang Anda tuliskan?

a. 2 + 2 + 2 + … (terus sampai jumlahnya 237 kali)
b. 237 + 237

Hi hi hi … Saya pilih yang (b) tentunya. Kalau kita maksa bahwa notasi “237×2″ harus dikerjakan dengan angka 2 sebanyak 237 kali, bakalan gempor menghitungnya.

Ada juga perkalian yang lebih mudah diuraikan dalam bentuk penjumlahan jika bentuknya adalah multiplicand × multiplier. Contohnya perkalian berikut ini

(1/2) × 4

Contoh di atas akan lebih mudah dituliskan sebagai

1/2 + 1/2 + 1/2 + 1/2

Inti yang ingin saya sampaikan adalah kita tidak boleh kaku dalam menyelesaikan hal ini. Konvensi dasar memang harus diajarkan. Hanya perlu ditekankan bahwa mengajarkannya juga harus benar sehingga tidak menimbulkan kebingungan dan juga tidak mematikan kreatifitas.

Oh, one more thing … (ala Steve Jobs), saya jadi ingat lelucon lama ini:

Pada suatu ketika pak Habibie meminta seorang pemuda untuk mengukur tinggi sebuah tiang bendera. Setelah bersusah payah memanjat tiang yang cukup tinggi tersebuh, sang pemuda kembali lagi. “Tingginya 15 meter, pak”.
Habibie: “Mengapa tiangnya tidak direbahkan saja dan diukur. Lebih mudah bukan?”
Pemuda: “Kalau itu panjang, pak, bukan tinggi”

Link lain yang terkait

  • Lihat video cara perkalian dari Khan Academy. Perhatikan bahwa dia awalnya menjelaskannya berbeda dengan di sini (multiplicant baru multiplier). Kemudian dia menjelaskan cara satunya lagi dan dikatakan sama. Catatan dengarkan juga katanya dia tentang perbedaan itu: “In the US …”
  • Tulisan pak Hendra Gunawan, “Heboh Perkalian dan Penjumlahan Berulang“. Pak Hendra ini dosen Matematika, ITB.
  • Video Proses 6 × 4 dan 4 × 6 dari Paman APIQ
  • Lihat video ini tentang cara orang Ethiopia melakukan perkalian. Beda banget tapi sama hasilnya! Ini untuk menunjukkan bahwa cara kita bukanlah satu-satunya cara untuk melakukan perkalian.
  • It’s Still Not Repeated Addition : tulisan ini mengatakan bahwa perkalian *BUKAN* penjumlahan yang berulang. Bahwa, perkalian merupakan sebuah “basic operation” yang sama basic-nya dengan penjumlahan. Bahwa untuk beberapa kasus memang perkalian dapat diterjemahkan menjadi penjumlahan yang berulang, tetapi tidak harus selalu begitu.

Kode: Menampilkan Basis Bilangan 10, 2, 8, dan 16

Kuliah “Pengantar Teknologi Informasi” hari ini menjelaskan tentang basis bilangan. Manusia terbiasa dengan basis bilangan 10 atau desimal. Sementara itu, komputer bekerja dengan basis bilangan dua atau biner. Untuk memperjelas dan memberikan contoh bilangan yang sama tetapi ditampilkan dalam basis yang berbeda, saya buat skrip (perl) yang sederhana.

Berikut ini adalah skripnya. (Catatan: saya menuliskannya dengan pakem bahasa C.

#! /usr/bin/perl
# a simple counter to show numbers in 
# decimal, binary, octal, and hex
# Budi Rahardjo - br-paume.itb.ac.id - rahard
# 2014
$n=128;
print "decimal - binary - octal - hexadecimal\n";
print "========================================\n";

for ($i=0; $i <= $n ; $i++) {
   $decimal = sprintf("%04d", $i);
   $binary = sprintf("%08b", $i);
   $octal = sprintf("%08o", $i);
   $hex = sprintf("%08x", $i);
   print "$decimal - $binary - $octal - $hex\n";
   sleep 1; # pause for a second to enjoy the output :)
}

Jika dijalankan, potongan hasilnya seperti ini (sesungguhnya dia berjalan sampai mencapai 256):

decimal - binary - octal - hexadecimal
========================================
0000 - 00000000 - 00000000 - 00000000
0001 - 00000001 - 00000001 - 00000001
0002 - 00000010 - 00000002 - 00000002
0003 - 00000011 - 00000003 - 00000003
0004 - 00000100 - 00000004 - 00000004
0005 - 00000101 - 00000005 - 00000005
0006 - 00000110 - 00000006 - 00000006
0007 - 00000111 - 00000007 - 00000007
0008 - 00001000 - 00000010 - 00000008
0009 - 00001001 - 00000011 - 00000009
0010 - 00001010 - 00000012 - 0000000a
0011 - 00001011 - 00000013 - 0000000b
0012 - 00001100 - 00000014 - 0000000c
0013 - 00001101 - 00000015 - 0000000d
0014 - 00001110 - 00000016 - 0000000e
0015 - 00001111 - 00000017 - 0000000f
0016 - 00010000 - 00000020 - 00000010
0017 - 00010001 - 00000021 - 00000011
0018 - 00010010 - 00000022 - 00000012
0019 - 00010011 - 00000023 - 00000013

Saya kemudian dapat menjelaskan kepada mahasiswa contoh-contoh bilangan dalam beberapa basis. Selamat menikmati. Semoga bermanfaat.


Teknologi Informasi Itu Liar!

Kemarin, saya mengajar kuliah pengantar teknologi informasi (introduction to information and communication technology). Yang diajarkan adalah prinsip-prinsip dasar teknologi informasi dan pemanfaatannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengapa ini perlu diajarkan? Menurut saya salah satu alasannya adalah karena teknologi informasi itu liar! Wild!

Bagi Anda yang mengikuti berita terakhir di dunia internet mungkin mengetahui kasus Florence Sihombing. Bagi yang belum, singkatnya begini. Florence menuliskan kata-kata di status Path-nya yang dianggap menghina orang-orang Jogja. Tidak saja dia kemudian di-bully di media sosial, tetapi juga ada yang kemudian mengadukannya ke Polisi sehingga dia sempat mampir di bui. Lepas dari pro dan kontranya, ini adalah salah satu contoh liarnya pemanfaatan teknologi informasi.

Bayangkan begini. Bagi Anda yang punya anak kecil, katakanlah yang masih SD, beranikah Anda melepas anak Anda di jalan tol dengan motor sendirian? Bayangkan, di jalan tol, banyak kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. Sementara anak Anda baru saja mendapatkan motornya satu atau dua hari yang lalu. Seram bukan?

Penggunakan teknologi informasi – misalnya, internet – juga begitu. Anda berikan handphone atau komputer kepada anak Anda dan Anda lepas anak Anda tersebut di internet tanpa pengawasan (pada awalnya). Seram! Salah-salah, tidak hanya sekedar di-bully tetapi bisa masuk bui juga. Hadoh! Maka dari itu pengetahuan tentang teknologi informasi dan pemanfaatannya yang baik dan benar perlu diajarkan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.939 pengikut lainnya.