Tag Archives: Pendidikan

Cita-cita Jadi Presiden

Sah sudah pak Joko Widodo (Jokowi) menjadi presiden Republik Indonesia dan pak Jusuf Kalla sebagai wakilnya. Satu hal yang menarik bagi saya adalah peristiwa ini membuka mata kita bahwa siapapun dapat menjadi presiden. Pak Jokowi yang mengawali karirnya dari usaha mebel dapat menjadi presiden. Luar biasa.

Sekarang kita dapat berkata kepada anak-anak kita, kau bisa menjadi presiden.

Anak-anak di seluruh penjuru Indonesia dapat bercita-cita jadi presiden.

You can be anything you want to be, kid.

Ah betapa indahnya. Keep those dreams alive.

Soundtrack … “Jadi Presiden“.


Perang Informasi

Sebelumnya, saya ingin membuat tulisan tentang perang informasi (information war) tetapi agak kesulitan mencari contoh yang dekat dengan kita. Nah, sekarang ternyata banyak contoh yang hadir di hadapan kita. Event pemilihan presiden (pilpres) ini ternyata merupakan contoh yang paling nyata.

Pilpres kali ini diwarnai dengan kampanya negatif atau kampanye hitam. Informasi yang palsu dibuat dan disebarkan di internet. Informasi ini dapat berbentuk tulisan, gambar, dan bahkan video. Ada yang jenisnya hanya berupa lelucon, misleading, atau betul-betul informasi bohong yang dikarang khusus untuk menyesatkan pembaca. Ini dia salah satu contoh perang informasi.

Bahkan pada hari kemarin (9 Juli 2014), kita dibingungkan dengan hasil quick count yang berbeda dari berbagai lembaga survei. Mana yang benar?

Kita, sebagai pembaca, dibingkungkan dengan berbagai versi dari informasi. Seringkali sumbernya tidak jelas. Ada banyak yang menggunakan akun anonim. Ada juga yang informasinya “jelas”, dalam artian ada alamat web-nya, tetapi tidak jelas orangnya. Bagaimana kita menentukan kredibilitas sumber berita?

Ada juga yang berpendapat bahwa kalau sebuah “informasi” banyak disebarkan maka dia akan menjadi benar. he he he. Atau kalau halaman sebuah media sosial banyak diikuti (followed, liked) maka dia menjadi benar juga. Mungkin perlu kita coba membuat sebuah eksperimen. Katakanlah kita membuat sebuah informasi palsu, “Perang Diponegoro dimulai tahun 1801″, kemudian kita ramai-ramai menyimpan informasi tersebut di halaman internet kita masing-masing dan meneruskannya ke banyak orang. Apakah ini akan menjadi informasi yang dominan dan yang akan dipercaya oleh banyak orang (termasuk search engine)? Ini merupakan ide penelitian yang menarik. Yuk. [Hayo, ada yang masih ingat perang Diponegoro dari kapan sampai kapan?]

Nampaknya akan semakin banyak dibutuhkan orang teknis yang menguasai bidang forensic, orang sosial untuk memahami fenomena ini, dan orang hukum untuk mengatur dan menyelesaikan kasus-kasus ini.


Kuliah Entrepreneurship Menghasilkan Entrepreneur?

Dalam sebuah seminar tentang entrepreneurship ada sebuah komentar (dan pertanyaan) dari peserta. Dia mengajar kuliah entrepreneurship dan ternyata tidak banyak yang menjadi entrepreneur. Adakah kiat-kiat untuk meningkatkan jumlah lulusan yang menjadi entrepreneur?

Saya jadi teringat jaman dahuluuu … waktu saya masih kuliah S1 di ITB. Salah satu mata kuliah yang populer waktu itu adalah kuliah Agama Budha. Setahu saya, kawan-kawan yang mengambil kuliah tersebut bukan ingin mempelajari agama Budha tetapi karena potensi mendapatkan nilai “A”-nya sangat besar. Jadi mereka mengambil kuliah tersebut karena nilainya, bukan karena isinya. Saya menduga kuliah-kuliah yang lainpun sebagian besar dipilih karena ini. Termasuk kuliah sang penanya tersebut.

Saya banyak memberikan presentasi, kuliah, dan mentoring yang terkait dengan entrepreneurship. Memang terlihat sebagian besar hanya ingin mengetahui kuliahnya. Siapa tahu di kemudian hari mereka ingin menjadi entrepreneur. Yang langsung memang serius ingin menjadi entrepreneur saat itu juga nampaknya minoritas. Perkiraan saya kurang dari 10%. Ini hanya perkiraan saya saja ya karena saya belum mengumpulkan data sungguhan.

Ada yang mengatakan untuk menjadi entrepreneur tidak perlu harus kuliah-kuliahan. Langsung saja jadi entrepreneur. “Kuliah” diperoleh dari pengalaman. On the street. Pendapat ini ada benarnya, tetapi kalau kita mengetahui teorinya seharusnya potensi kegagalan dapat dikurangi. Saya sendiri termasuk yang menganut “kerjakan dahulu, baru cari teorinya”. hi hi hi. Perlu ditekankan bahwa saya tertarik mencari teori dari apa yang saya kerjakan sehingga dapat bereaksi dengan lebih baik (terhadap situasi yang dihadapi).

Saya jadi teringat ada orang yang merasa bahwa kuliah computer science / ilmu komputer / informatika itu tidak penting. Langsung saja belajar dari “idiot guide to programming” atau “programming xyz in 21 days”. hi hi hi. Iya sih kalau hanya sekedar membuat program sih bisa saja, tetapi begitu kita menghadapi sistem yang besar maka teori itu penting. Sama seperti membuat rumah. Kalau membuat rumah satu tingkat, ngasal aja juga bisa. Tapi kalau kita mau buat hotel 100 tingkat, yang ini harus punya ilmunya.

Kembali ke topik utama. Jadi bagaimana agar kuliah entrepreneurship dapat menghasilkan lebih banyak entrepreneur ya?


Internet Cepat Untuk Pendidikan

Tadi pagi saya memberikan presentasi tentang pemanfaatan teknologi informasi. Salah satu poin yang saya sampaikan adalah infrastruktur internet di Indonesia masih belum cepat dan belum merata. Pada acara tanya jawab ada yang bertanya, kalau internet cepat untuk pendidikan itu contohnya apa.

Salah satu situs favorit saya adalah TED.com. Situs ini berisi kumpulan video dari orang-orang yang kompeten di bidangnya dari seluruh dunia. Bidang-bidang yang ditampilkan di TED sangat bervariasi. Saya sendiri sering melihat di bagian pendidikan, desain, kepemimpinan (leadership), dan … banyak lagi. Karena situs ini berisi video, maka internet yang digunakan harus cukup cepat meskipun tidak harus super cepat. Saya sering kesulitan untuk mengakses situs ini dari layanan internet yang saya gunakan. Apalagi kalau saya akses dari handphone. hi hi hi. Sering saya akses TED dari kampus. Sayangnya di kampus ada quota jumlah data yang dapat didownload dalam satuan waktu. Kalau ini terlewati, biasanya ada surat cinta dari admin yang mengatakan bahwa saya mendownload terlalu banyak. hi hi hi.

TED.com ini hanya salah satu contoh situs yang terkait dengan pendidikan yang membutuhkan internet cepat. Oh ya, bahkan YouTube pun memiliki banyak video yang terkait dengan pendidikan. Sering saya diberikan (ditunjukkan) URL yang berisi tentang topik-topik tertentu. Misalnya ketika menjelaskan tentang sorting algorithms, ada video yang membandingkan berbagai jenis algoritma untuk mengurutkan data ini. Dengan melihat tampilan secara visual kita dapat memahami konsep yang dijelaskan dengan lebih baik.

Saya juga mulai mengumpulkan video kuliah yang saya buat sendiri. Beberapa tahun yang lalu sempat dibuatkan video kuliah security saya untuk kuliah jarak jauh. Seingat saya videonya adalah 8 DVD. Satu pertemuan menghasilkan 1 DVD. Nah kalau ini didownload dengan menggunakan internet yang lambat mungkin baru selesai harian. Padahal ini baru satu topik saja. Kalau kita mengambil beberapa mata kuliah, dapat dibayangkan kebutuhan internet kita.

Jadi internet yang cepat itu sebuah kebutuhan bagi pendidikan. Sama pentingnya dengan listrik. Mungkin seperti tidak nyambung ya, tetapi tanpa listrik sekarang sulit untuk menjalankan pendidikan. Silahkan coba kuliah tanpa menggunakan listrik :)

Nah, situs-situs pendidikan apa (yang membutuhkan internet cepat) yang biasanya Anda kunjungi?


Susahnya Membaca Jurnal

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa pasca sarjana adalah membaca makalah dari jurnal. Terlebih ini terjadi pada level S3. Ada banyak masalah di sini.

Pertama, seringkali makalah itu tidak dapat dimengerti dalam satu kali baca. Penulis makalah seringkali dibatasi oleh jumlah halaman dari jurnal sehingga harus menjelaskan bagian-bagian yang penting saja. Ada banyak bagian rinci (detail) yang terpaksa dilewatkan. (Kelebihan halaman harus dibayar oleh penulis dan itu tidak murah!) Maka sang pembaca kadang kebingungan ketika membaca makalah itu. Ada bagian yang hilang. Dibutuhkan waktu untuk mengerti itu. Makalah harus dibaca berulang kali. (Padahal waktu terbatas.)

Kadang memang ada peneliti yang meskipun sangat cerdas tetapi tidak mahir menulis sehingga tulisannya membingungkan. Atau, memang kadang (meski jarang) ada yang menutup-nutupi penelitiannya (misalnya karena ada bagian yang sedang / akan dia patenkan).

Kedua, dalam membaca makalah tersebut, sang mahasiswa membacanya sendirian. Dalam topik penelitian S3, seringkali dia adalah satu-satunya yang meneliti tentang itu di lingkungannya. Mau tanya kepada siapa? Mau tanya kepada pembimbing atau promotorpun kadang mereka tidak memahami sedetail yang ingin dibahas. Jadi dia frustasi sendirian. Mahasiswa S3 yang lainnya pun demikian. Jadi ini adalah kumpulan mahasiswa yang frustasi. ha ha ha.

Lebih parahnya lagi banyak orang yang menganggap membaca itu mudah. Mereka tidak dapat mengerti mengapa mahasiswa S3 lama selesai sekolahnya. Kan hanya membaca? Memang seberapa susahnya membaca sih? hi hi hi. Maka pusinglah sang mahasiswa S3 menjelaskan ini kepada keluarganya, koleganya, tetangganya, bahwa membaca (makalah jurnal) itu tidak mudah. he he he. Semakin frustasi dia … Hadoh.


Menulis Karya Ilmiah

Ya, saya masih memeriksa revisi tugas mahasiswa. Masih banyak – atau bahkan sebagian besar? – mahasiswa kita belum mahir menulis karya ilmiah. Mungkin dapat saya generalisir lebih lanjut, mahasiswa belum mahir menulis. Titik. Kejam amat ya?

Masalah utama bagi mahasiswa adalah mereka menyepelekan penulisan. Dianggapnya menulis itu hanya sekedar mengurutkan kata-kata. Atau lebih ekstrim lagi menulis itu mengurutkan huruf-huruf. a i u e o. Bagi mereka, memilih kata itu tidak penting. Padahal kata yang berbeda memiliki makna dan efek yang berbeda kepada pembaca. “Kamu salah!” atau “Anda kurang tepat” memiliki efek yang berbeda, bukan?

Menuangkan alur pemikiran dalam tulisan yang runut merupakan sebuah tantangan. Kita tidak dapat mencampurkan semuanya dalam satu bagian. Untuk makanan, gado-gado pun harus dipilih apa yang akan dicampur. Kalau gado-gado dicampur dengan cumi-cumi dan bajigur rasanya jadi kacau balau. he he he.

Bahkan untuk sekedar menuliskan dalam format yang konsistenpun ternyata banyak yang belum paham. Ngasal saja. Padahal tulisan yang tidak enak dipandang akan menghasilkan nilai yang buruk karena pembaca sudah antipati duluan. Seharusnya memang isi yang lebih penting, tetapi penampilan pada kenyataannya adalah yang membukakan pintu kepada pembaca. Setelah pintu terbuka, kita sodorkan isinya. Bagaimana pembaca atau penguji akan memeriksa tulisan kita jika “pintu” tertutup?

Lantas bagaimana caranya agar kita dapat menulis karya ilmiah yang baik (dan indah)? Latihan, latihan, dan latihan menulis. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar latihan-latihan ini menyenangkan sehingga kita melakukannya? Itu merupakan topik bahasan di lain kesempatan.


Menikmati Hidup

Beberapa hari terakhir ini ada beberapa orang (sebetulnya hanya 3) yang bertanya kepada saya kenapa saya terlihat happy-happy saja. Menikmati hidup. hi hi hi. Bahkan mas Sobur mengatakan bahwa bagi pak Budi ini semuanya adalah perayaan. ha ha ha.

Jawaban saya terhadap pertanyaan “kenapa” adalah mengapa tidak? Why not? ha ha ha. Ini jawaban model apa sih? Lha pertanyaannya adalah kenapa. Kalau pertanyaannya adalah “bagaimana agar dapat menikmati hidup”, jawabannya lebih susah. Saya sendiri sebetulnya belum tahu jawaban tepatnya.

Mungkin ini disebabkan karena saya melihat “1/2 gelas yang terisi” sedangkan orang lain banyak yang melihat “1/2 gelas kosong”. Dalam bahasa lain, saya lebih positive-thinking.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar kita dapat menjadi lebih positive-thinking? Yang saya lakukan adalah belajar dari orang lain. Melihat pengalaman-pengalaman orang lain. Atau malah lebih tepatnya adalah belajar dari kegagalan-kegagalan orang lain sehingga kita dapat lebih menghargai apa yang kita peroleh. Ada banyak biografi yang menceritakan kesulitan dalam hidup orang-orang yang sukses. Alhamdulillah kita tidak mengalami kesulitan yang mereka hadapi. Jika mereka dapat mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut dan kemudian menjadi sukses, mengapa kita tidak?

Hal lain yang saya lakukan adalah mencari orang-orang yang memiliki pemikiran atau values yang sejalan. Berkumpul dengan orang-orang yang waras. Eh, atau yang tidak waras ya? hi hi hi. Saya melihat bahwa ternyata kumpulan yang saya dekati adalah kumpulan orang-orang yang berpikiran positif juga. Nampaknya ini juga merupakan salah satu cara untuk lebih meningkatkan ke-positif-an kita. Reinforcement learning? Mungkin itu juga sebabnya Anda bergabung dengan blog ini? Agar lebih positif. hi hi hi.

Begitulah kira-kiranya cara saya agar dapat lebih menikmati hidup. Semoga bermanfaat.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.828 pengikut lainnya.