Tag Archives: Pendidikan

Internet Cepat Untuk Apa

Ini masih tentang topik “internet cepat untuk apa“. Ada banyak orang yang memang tidak membutuhkan internet cepat. Bagi mereka internet memang hanya untuk bersosial saja; chatting dan mungkin berkirim foto. Bagi sebagian orang lain, internet dibutuhkan untuk kegiatan yang lebih produktif. Sebagian dari ini membutuhkan internet cepat.

Semalam saya nonton video kuliah dari Walter Lewin, seorang profesor (emeritus) dari MIT. Beliau mengajar Fisika dengan sangat menarik. Keren sekali. Silahkan lihat videonya di sini.

Nah saya coba download videonya dengan kualitas yang bagus (MP3, 720p). Ternyata ukurannya hampir 1 GB. Nah lho. Silahkan download ini dengan menggunakan koneksi GPRS atau EDGE. he he he. Saya download supaya dapat ditonton di kelas tanpa menggunakan internet (yang biasanya lambat). Juga agar supaya dapat di-copy oleh mahasiswa yang internetnya lelet.

Videonya menarik sekali. Kuliah memang harus seperti itu ya? Saya angkat topi atas dedikasi, komitmen, dan passion dari pak Walter Lewin ini. Untuk menyiapkan satu kuliah saja dia melakukan latihan (dry run) berkali-kali. Wedasss. Menjura.

Ini hanya salah satu contoh mengapa kami membutuhkan internet cepat. Bagi Anda, internet cepat untuk apa?


Koleksi Karya Ilmiah Mahasiswa

Setelah mahasiswa bimbingan lulus, saya meminta versi digital dari tugas akhir / thesis / disertasi – karya ilmiah – dari mahasiswa tersebut. Tujuannya adalah agar penelitian dari mahasiswa tersebut dapat diteruskan oleh mahasiswa selanjutnya. Mahasiswa penerus ini perlu membaca karya ilmiah dari mahasiswa yang sudah lulus tersebut.

Karya ilmiah tersebut – biasanya dalam format PDF – saya simpan secara pribadi di komputer saya. Ada juga sebagian yang saya simpan dalam akun Dropbox saya. Sayangnya akun dropbox saya hampir penuh. Saya juga menyimpan dalam web site pribadi saya.

Nah, saya kira ada banyak dosen-dosen lain yang melakukan hal yang sama (mengumpulkan karya mahasiswa bimbingannya). Kalau ini dilakukan secara masing-masing (ad hoc) menjadi tidak efisien. Nampaknya ada kebutuhan layanan penyimpanan dokumen ini secara besar-besaran. Sebuah database karya ilmiah mahasiswa Indonesia.

Ada dampak negatifnya, yaitu akan memudahkan plagiat. Orang yang jahat akan dapat melakukan copy-and-paste karya ilmiah tersebut. Untuk itu harus dibuatkan tools untuk menguji apakah karya ilmiah mahasiswa baru ini sudah ada atau mirip dengan karya-karya yang ada di dalam database ini. (Ini membutuhkan software baru. Ayo para pengembang software, silahkan buat ini.)

Berkas juga mungkin dapat dibuat dalam format image (djvu) sehingga tidak terlalu mudah untuk di-copy-and-paste. Atau ini kekhawatiran yang berlebihan?

Apakah ini dapat menjadi potensi sebuah start-up baru? Nah, silahkan.


Linieritas Dalam Pendidikan

Sekarang sedang ramai dibahas tentang linieritas (kelinieran) dalam pendidikan. Maksudnya begini. Seseorang yang mengambil S1 di bidang Teknik Elektro tidak disarankan (atau malah dilarang?) untuk mengambil S2 di bidang Biologi dan mengambil S3 di bidang Ekonomi. Begitu.

Mungkin contoh di atas agak ekstrim, tetapi ada banyak orang yang mengambil jalur seperti itu. Contohnya:

  • S1 Elektro, S2 Management, S3 Hukum
  • S1 Informatika, S2 Matematika, S3 Matematika

Mungkin linieritas ini diterapkan karena ada orang-orang yang meng-abuse kemudahan mendapatkan S2 di bidang tertentu yang bukan bidangnya tetapi relatif lebih “mudah” untuk mendapatkannya hanya untuk mendapatkan kenaikan pangkat. Sebagai contoh ada teknisi lab yang mengambil S1 ekonomi (atau sastra) agar dia dapat naik pangkat. [Catatan: “mudah” di sini jangan dianggap mengecilkan bidang ilmu tersebut.]

Hal lain yang menyebabkan penerapan linieritas ini adalah untuk memastikan mahasiswa memiliki dasar yang kuat dibidang itu agar dapat menyelesaikan studinya. Misalnya, seseorang yang S1 di bidang Ekonomi akan sulit menyelesaikan S2 di bidang Teknik Elektro. Begitu.

Masalahnya sekarang bidang ilmu itu sulit untuk dikotak-kotakkan. Bahkan inovasi sering terjadi karena adanya multi disiplin. Cross pollination. Jika kita membuat kotak-kotak atau sekat-sekat yang terlalu ketat, maka sulit bagi kita untuk menghasilkan inovasi.

Memang umumnya sebagaian besar akan cederung linier, tetapi membatasi – dengan menerapkan linieritas ini – membuat orang-orang hebat yang seharusnya dapat berkarya secara multidisiplin menjadi tidak mungkin terjadi.

Nah. Pusing? Saya pribadi cenderung untuk tidak menerapkan linieritas.


Cita-cita Jadi Presiden

Sah sudah pak Joko Widodo (Jokowi) menjadi presiden Republik Indonesia dan pak Jusuf Kalla sebagai wakilnya. Satu hal yang menarik bagi saya adalah peristiwa ini membuka mata kita bahwa siapapun dapat menjadi presiden. Pak Jokowi yang mengawali karirnya dari usaha mebel dapat menjadi presiden. Luar biasa.

Sekarang kita dapat berkata kepada anak-anak kita, kau bisa menjadi presiden.

Anak-anak di seluruh penjuru Indonesia dapat bercita-cita jadi presiden.

You can be anything you want to be, kid.

Ah betapa indahnya. Keep those dreams alive.

Soundtrack … “Jadi Presiden“.


Perang Informasi

Sebelumnya, saya ingin membuat tulisan tentang perang informasi (information war) tetapi agak kesulitan mencari contoh yang dekat dengan kita. Nah, sekarang ternyata banyak contoh yang hadir di hadapan kita. Event pemilihan presiden (pilpres) ini ternyata merupakan contoh yang paling nyata.

Pilpres kali ini diwarnai dengan kampanya negatif atau kampanye hitam. Informasi yang palsu dibuat dan disebarkan di internet. Informasi ini dapat berbentuk tulisan, gambar, dan bahkan video. Ada yang jenisnya hanya berupa lelucon, misleading, atau betul-betul informasi bohong yang dikarang khusus untuk menyesatkan pembaca. Ini dia salah satu contoh perang informasi.

Bahkan pada hari kemarin (9 Juli 2014), kita dibingungkan dengan hasil quick count yang berbeda dari berbagai lembaga survei. Mana yang benar?

Kita, sebagai pembaca, dibingkungkan dengan berbagai versi dari informasi. Seringkali sumbernya tidak jelas. Ada banyak yang menggunakan akun anonim. Ada juga yang informasinya “jelas”, dalam artian ada alamat web-nya, tetapi tidak jelas orangnya. Bagaimana kita menentukan kredibilitas sumber berita?

Ada juga yang berpendapat bahwa kalau sebuah “informasi” banyak disebarkan maka dia akan menjadi benar. he he he. Atau kalau halaman sebuah media sosial banyak diikuti (followed, liked) maka dia menjadi benar juga. Mungkin perlu kita coba membuat sebuah eksperimen. Katakanlah kita membuat sebuah informasi palsu, “Perang Diponegoro dimulai tahun 1801″, kemudian kita ramai-ramai menyimpan informasi tersebut di halaman internet kita masing-masing dan meneruskannya ke banyak orang. Apakah ini akan menjadi informasi yang dominan dan yang akan dipercaya oleh banyak orang (termasuk search engine)? Ini merupakan ide penelitian yang menarik. Yuk. [Hayo, ada yang masih ingat perang Diponegoro dari kapan sampai kapan?]

Nampaknya akan semakin banyak dibutuhkan orang teknis yang menguasai bidang forensic, orang sosial untuk memahami fenomena ini, dan orang hukum untuk mengatur dan menyelesaikan kasus-kasus ini.


Kuliah Entrepreneurship Menghasilkan Entrepreneur?

Dalam sebuah seminar tentang entrepreneurship ada sebuah komentar (dan pertanyaan) dari peserta. Dia mengajar kuliah entrepreneurship dan ternyata tidak banyak yang menjadi entrepreneur. Adakah kiat-kiat untuk meningkatkan jumlah lulusan yang menjadi entrepreneur?

Saya jadi teringat jaman dahuluuu … waktu saya masih kuliah S1 di ITB. Salah satu mata kuliah yang populer waktu itu adalah kuliah Agama Budha. Setahu saya, kawan-kawan yang mengambil kuliah tersebut bukan ingin mempelajari agama Budha tetapi karena potensi mendapatkan nilai “A”-nya sangat besar. Jadi mereka mengambil kuliah tersebut karena nilainya, bukan karena isinya. Saya menduga kuliah-kuliah yang lainpun sebagian besar dipilih karena ini. Termasuk kuliah sang penanya tersebut.

Saya banyak memberikan presentasi, kuliah, dan mentoring yang terkait dengan entrepreneurship. Memang terlihat sebagian besar hanya ingin mengetahui kuliahnya. Siapa tahu di kemudian hari mereka ingin menjadi entrepreneur. Yang langsung memang serius ingin menjadi entrepreneur saat itu juga nampaknya minoritas. Perkiraan saya kurang dari 10%. Ini hanya perkiraan saya saja ya karena saya belum mengumpulkan data sungguhan.

Ada yang mengatakan untuk menjadi entrepreneur tidak perlu harus kuliah-kuliahan. Langsung saja jadi entrepreneur. “Kuliah” diperoleh dari pengalaman. On the street. Pendapat ini ada benarnya, tetapi kalau kita mengetahui teorinya seharusnya potensi kegagalan dapat dikurangi. Saya sendiri termasuk yang menganut “kerjakan dahulu, baru cari teorinya”. hi hi hi. Perlu ditekankan bahwa saya tertarik mencari teori dari apa yang saya kerjakan sehingga dapat bereaksi dengan lebih baik (terhadap situasi yang dihadapi).

Saya jadi teringat ada orang yang merasa bahwa kuliah computer science / ilmu komputer / informatika itu tidak penting. Langsung saja belajar dari “idiot guide to programming” atau “programming xyz in 21 days”. hi hi hi. Iya sih kalau hanya sekedar membuat program sih bisa saja, tetapi begitu kita menghadapi sistem yang besar maka teori itu penting. Sama seperti membuat rumah. Kalau membuat rumah satu tingkat, ngasal aja juga bisa. Tapi kalau kita mau buat hotel 100 tingkat, yang ini harus punya ilmunya.

Kembali ke topik utama. Jadi bagaimana agar kuliah entrepreneurship dapat menghasilkan lebih banyak entrepreneur ya?


Internet Cepat Untuk Pendidikan

Tadi pagi saya memberikan presentasi tentang pemanfaatan teknologi informasi. Salah satu poin yang saya sampaikan adalah infrastruktur internet di Indonesia masih belum cepat dan belum merata. Pada acara tanya jawab ada yang bertanya, kalau internet cepat untuk pendidikan itu contohnya apa.

Salah satu situs favorit saya adalah TED.com. Situs ini berisi kumpulan video dari orang-orang yang kompeten di bidangnya dari seluruh dunia. Bidang-bidang yang ditampilkan di TED sangat bervariasi. Saya sendiri sering melihat di bagian pendidikan, desain, kepemimpinan (leadership), dan … banyak lagi. Karena situs ini berisi video, maka internet yang digunakan harus cukup cepat meskipun tidak harus super cepat. Saya sering kesulitan untuk mengakses situs ini dari layanan internet yang saya gunakan. Apalagi kalau saya akses dari handphone. hi hi hi. Sering saya akses TED dari kampus. Sayangnya di kampus ada quota jumlah data yang dapat didownload dalam satuan waktu. Kalau ini terlewati, biasanya ada surat cinta dari admin yang mengatakan bahwa saya mendownload terlalu banyak. hi hi hi.

TED.com ini hanya salah satu contoh situs yang terkait dengan pendidikan yang membutuhkan internet cepat. Oh ya, bahkan YouTube pun memiliki banyak video yang terkait dengan pendidikan. Sering saya diberikan (ditunjukkan) URL yang berisi tentang topik-topik tertentu. Misalnya ketika menjelaskan tentang sorting algorithms, ada video yang membandingkan berbagai jenis algoritma untuk mengurutkan data ini. Dengan melihat tampilan secara visual kita dapat memahami konsep yang dijelaskan dengan lebih baik.

Saya juga mulai mengumpulkan video kuliah yang saya buat sendiri. Beberapa tahun yang lalu sempat dibuatkan video kuliah security saya untuk kuliah jarak jauh. Seingat saya videonya adalah 8 DVD. Satu pertemuan menghasilkan 1 DVD. Nah kalau ini didownload dengan menggunakan internet yang lambat mungkin baru selesai harian. Padahal ini baru satu topik saja. Kalau kita mengambil beberapa mata kuliah, dapat dibayangkan kebutuhan internet kita.

Jadi internet yang cepat itu sebuah kebutuhan bagi pendidikan. Sama pentingnya dengan listrik. Mungkin seperti tidak nyambung ya, tetapi tanpa listrik sekarang sulit untuk menjalankan pendidikan. Silahkan coba kuliah tanpa menggunakan listrik :)

Nah, situs-situs pendidikan apa (yang membutuhkan internet cepat) yang biasanya Anda kunjungi?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.935 pengikut lainnya.