Arsip Tag: Pendidikan

Multitasking

Dalam tulisan terdahulu saya mengatakan bahwa generasi sekarang harus menghadapi masalah terkait dengan (kurangnya) atensi. Ada terlalu banyak distractions, seperti SMS / email / internet / media sosial. Generasi muda terlalu banyak melakukan multitasking. Ini menjadi masalah ketika mereka belajar. Para pendidik meminta mereka untuk fokus kepada satu hal dan tidak melakukan multitasking ini.

Saya justru berpendapat sebaliknya. Saya melihat banyak lulusan perguruan tinggi – para pekerja – sekarang yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan multitasking. Mereka hanya dapat mengerjakan satu hal saja. Padahal kemampuan multitasking ini sangat dibutuhkan. Terlebih lagi untuk kita yang tinggal di Indonesia. Di luar negeri, kita bisa hanya fokus kepada satu hal saja. Misalnya, kita bisa menjadi seorang peneliti (researcher) dan fokus kepada itu. Di Indonesia, selain menjadi peneliti kita juga harus mengajar, menjadi anggota ini dan itu, mengerjakan proyek ini dan itu, menjadi ketua RT, dan lain sebagainya. Harus multitasking.

Di lihat dari kacamata pekerjaan juga demikian. Seorang pekerja di industri yang high-tech harus dapat menghasilkan pekerjaan minimal senilai Rp. 100 juta (atau US $10.000) per-tahunnya. Harus lebih dari itu. Pekerja pijit refleksi saja mungkin menghasilkan lebih dari itu ya (kalau dilihat dari ongkos per-jamnya). Seorang peneliti di kampus atau lembaga penelitian harus mendapatkan dana penelitian minimal segitu. Jadi untuk sebuah penelitian dengan tiga (3) orang peneliti, sedikitnya harus mendapatkan dana sebesar Rp. 300 juta. Kenyataannya tidak demikian. Sulit untuk mendapatkan sebuah proyek penelitian sebesar itu. Akibatnya mereka harus melakukan dua (2) penelitian atau lebih. Harus bisa multitasking.

Masalahnya, kapan multitasking ini diajarkan? Apakah kemampuan ini dapat tumbuh demikian saja? Semestinya tidak. Maka seharusnya dia diajarkan. Harus terprogram. Saat ini tidak. Semua dianggap harus bisa saja. Nah.

Sebetulnya kita sudah melakukan multitasking dari dahulu. Hanya saya perpindahan dari satu task ke task berikutnya lebih cepat saja. Sebagai contoh, kalau dahulu mungkin bisa begini.

Kuliah 1 jam. Cek email 30 menit. Kuliah 1 jam lagi. dst. …

Task #1 | … | … | task #2 | … | task #3 | … | … | task #1 | … dst.

Kalau sekarang mungkin seperti ini:

perhatian ke kuliah 5 menit | cek email 5 menit | kembali fokus ke kuliah 5 menit | cek SMS 3 menit | kembali fokus ke kuliah lagi | dst.

Task #1 | #2 | #1 | #3 | #2 | #1

Yang menjadi masalah dengan semakin cepatnya perpindahan antar task tersebut adalah context switching. Dibutuhkan waktu dan usaha untuk melakukan context switching tersebut. Semakin cepat terjadinya context switching ini, semakin cepat membuat otak menjadi lelah. Mungkin. Apalagi bagi yang tidak terlatih. Jadi, memang mungkin perlu ada pelatihan untuk mempelajari multitasking.


Bagaimana Memperlakukan Mahasiswa

Dalam sebuah mailing list yang saya ikuti dibahas tentang sebuah kasus, mahasiswa titip absen. Istilah yang agak salah sebetulnya, tapi Anda tahu yang saya maksudkan. Mahasiswa tidak hadir, tetapi meminta kawannya untuk menandatangani daftar hadir untuk dirinya. Bagaimana kita seharusnya menyikapi fenomena “titip absen” ini?

Ada yang beranggapan bahwa ini merupakan cikal bakal kebiasaan menipu dan etos kerja yang buruk. Jangan-jangan nantinya kalau sudah lulus dan kerja, dia tidak hadir tapi tetap pura-pura hadir. Makan gaji buta? Sama seperti banyak orang di berbagai instansi (pemerintahan? legislatif?) yang tidak hadir di kantor tapi daftar hadir komplit. Mula-mula memang hanya “sekedar” titip absensi kuliah. Nantinya apa lagi?

Pembicaraan kemudian melebar ke pertanyaan, “apakah memang mahasiswa harus kita perlakukan seperti anak kecil?”. Kita periksa kehadiran di kuliahnya. Di ruang kuliahpun kita minta mereka duduk tertib. Kita periksa catatan kuliahnya? Kuliahnyapun kita suapi. Materi harus diberikan secara lengkap. Ujianpun harus dari bahan-bahan yang pernah diberikan. Kalau tidak demikian, tingkat kegagalan kuliah dapat menjadi tinggi. (So what?)

Bukankah seharusnya mahasiswa diajarkan untuk menjadi dewasa? Lengkap dengan pengalaman gagal sehingga mereka tahu betapa sakitnya gagal sehingga tidak mengulangi lagi di kemudian hari. Ini mestinya menjadi bagian dari pembentukan karakter mereka.

Nah, apakah para mahasiswa memahami hal ini ya? Ataukah mereka tidak peduli? Dan memang sesungguhnya mereka masih anak-anak sehingga perlu diperlakukan seperti anak-anak?

Sebetulnya para mahasiswa saat ini memiliki masalah besar yang hanya dapat dimengerti oleh mereka sendiri, yaitu masalah atensi (fokus). Saat ini terlalu banyak distractions, seperti SMS dan media sosial ini. Baru mau belajar sudah ada SMS (atau chat, BBM, WA, dll.). Ini sebetulnya tidak harus dijawab sekarang, tetapi entah kenapa seolah-olah ada kesulitan untuk melawan ini. Akibatnya anak muda terlihat seperti sulit fokus. Orang tua beranggapan bahwa semua ini adalah distractions dan harus dibuang / dihindari. Padahal, siapa tahu generasi yang sekarang memiliki cara yang khas untuk mengatasi masalah fokus ini. Tetapi siapa tahu memang ini masalah yang membutuhkan bantuan generasi lama untuk menghadapinya. (Jangan salah, orang tua pun dulunya ketika masih muda mengalami masalah yang sama. hi hi hi)


(Kemampuan) Menjawab Pertanyaan

Ini masih terkait dengan presentasi (thesis, desertasi) mahasiswa. Salah satu hal yang saya lihat sangat mendasar adalah kurangnya kemampuan mahasiswa dalam menjawab pertanyaan. Mungkin masalah ini tidak spesifik terhadap mahasiswa saja, tetapi bisa jadi umum juga.

Masalah pertama yang saya amati adalah mahasiswa tidak memahami pertanyaan yang diajukan. Yang ditanya apa, jawabnya tidak menjawab pertanyaan itu. Akibatnya mahasiswa dianggap tidak menguasai masalahnya. Padahal boleh jadi sang mahasiswa mengerti tetapi karena jawaban berbeda dari pertanyaan maka dianggap dia tidak mengerti. Jadi, pahami dahulu pertanyaannya. Boleh diulangi pertanyaannya dengan kalimat yang lain untuk memastikan bahwa itu yang ditanyakan.

Masalah kedua memang mahasiswa tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Kalau saya, saya akan jawab apa adanya :)  bukan dengan memutar-mutar, yang akhirnya ketahuan juga bahwa tidak mengerti. Saya biasanya menggunakan sesi tanya jawab untuk mendapatkan masukan dari penanya / penguji. Justru ini sangat bermanfaat. Kita bisa mengambil pemikiran dari para penguji itu. Sebagian besar justru menganggap ini sebagai sesi untuk menghakimi dan akibatnya malah ketakutan. Salah besar.

Nah …


Presentasi Thesis dan Disertasi

Tadinya saya pikir hari-hari ke depan saya hanya akan disibukkan dengan memasukkan nilai. Eh, ternyata hari-hari ke depan banyak sidang / seminar / presentasi dari thesis S2 dan disertasi S3. Sebehetulnya saya sudah ditunggu-tunggu untuk meeting di Jakarta, tetapi karena thesis dan disertasi ini saya harus berada di tempat, di Bandung.

Besok pagi saya harus menguji kualifikasi seorang mahasiswa S3. Berarti malam ini saya harus baca tulisannya dahulu. Hadoh. Padahal ini masih ada makalah mahasiswa untuk kuliah semester kemarin yang harus saya baca. Ya sudah. Diparalel saja bacanya :)


Pimpinan Yang Tidak Pernah Turun Ke Bawah

Membaca (mendengar) berita akhir-akhir ini rasanya mau mules. Ada banyak menteri yang tidak tahu kondisi rakyat. Kasus terakhir adalah harga LPG 12 kg yang melejit naik. Eh, masih ada menteri yang bilang tidak tahu. Hardy har har. He he he. Kalau kata orang Sunda, kamana wungkul yeuuhhh

Inilah contoh pimpinan yang  tidak pernah turun ke bawah. Hanya duduk di kantor dan meeting-meeting. Kalau pun pergi, ya ke acara untuk memberikan sambutan ini dan itu. Pulang ke rumah juga hanya untuk tidur dan kembali ngantor lagi. Maka dia tidak pernah turun ke bawah. (Kalau turun ya kebawah? Mosok ada turun ke atas.) Tidak pernah ngobrol dengan rakyat biasa yang tidak difilter oleh bawahaan yang asal bapak senang. Apakah mereka hidup dalam tempurung ya?

Apa mereka tidak pendapat keluhan dari istirnya tentang kenaikan harga? Bagaimana dengan keluhan dari orang tuanya? Keluarganya? Kawan-kawannya? Mosok tidak pernah komunikasi dengan mereka?

Maka dari itu banyak orang yang mengelu-elukan Jokowi (Jakarta), Bu Risma (Surabaya), Ridwan Kamil (Bandung) karena mereka mau turun ke bawah. Hanya sekedar turun ke bawah. Apa susahnya sih?

Ternyata memang ada penyakit, yaitu penyakit pimpinan. Begitu pegang jabatan, maka dia sudah terlalu sibuk untuk turun ke bawah. Ya saya tahun Anda sibuk, tetapi setiap orang juga sibuk. Jangan mengira bahwa apa yang Anda kerjakan itu lebih penting dari pekerjaan orang lain. (Saya kerap menolak bertemu dengan bos / pimpinan jika tidak ada yang urgen dan yang saya kerjakan lebih penting. Bahkan sekedar mengajar di kelas boleh jadi lebih penting daripada sekedar ha ha hi hi dengan menteri.)

Penyakit ini saya temui di segala lini bidang. Bidang pendidikan pun sama saja. Lihat saja institusi-institusi pendidikan. Banyak “pimpinan” yang besar kepala karena menjadi ketua ini dan itu, Dekan, Rektor. Biasa sajalah. Maka dari itu saya cukup salut kepada orang yang tidak terkena penyakit ini. Semoga kita terhidar dari penyakit ini.


Komitmen Dalam Mengajar

Mengajar itu tidak mudah. Yang paling susah dalam mengajar adalah komitmen pada waktunya. Begitu kita bilang sanggup mengajar, maka ada porsi waktu yang kita alokasikan untuk mengajar itu. Bagi saya ini sebuah hal yang besar karena dengan mengajar ini saya tidak dapat memenuhi permintaan dari banyak pihak untuk memberikan presentasi, rapat, konsultasi, dan seterusnya. Banyak orang yang tidak mengerti hal ini dan mungkin menganggap saya tidak mau karena tidak mau saja (atau malah dianggap sombong?), misal jika diminta untuk menjadi pembicara di kampus yang jauh dari kota Bandung, padahal saya tidak bisa karena ini akan mengganggu jadwal mengajar saya.

Kadang memang saya terpaksa gagal mengajar jika ada yang sangat penting sehingga saya harus hadir di tempat lain. Nah, sangat penting itu definisinya memang sangat luas, tetapi ini tetap dapat menjadi pegangan. Jika hanya untuk ketemu seorang pejabat -  biar menteri atau direktur perusahaan besar sekalipun – kalau saya tidak melihat yang didiskusikan sangat mendesak (urgent), maka biasanya saya menolak. Sementara itu saya tahu banyak orang yang justru ingin cari muka kepada bos-bos ini sehingga meninggalkan tugas mengajarnya.

Sayangnya banyak pihak yang tidak menghargai ini. Mahasiswa meremehkan kuliah, padahal kalau diukur dengan uang harusnya mereka bayar mahal untuk duduk di kelas saya. he he he. Jika saya memenuhi undangan pihak lain, kan ada honor dari sana. Lost opportunity. he he he. Pihak lain yang ingin mengundang saya menganggap apa susahnya sih hilang satu hari. (Ya kalau yang ngundangnya hanya satu, kalau banyak kan jadi banyak hari yang hilang juga. Dan saya buaanyaaak dapat undangan; meeting, keynote speaker, speaker, ngajar, konsultasi.)  Pihak institusi pendidikan juga tidak menghargai komitmen mengajar ini. hi hi hi.

Saya suka mengajar. That’s all that matters.


Teknologi Informasi dan Pendidikan

Sudah banyak orang mendiskusikan tentang pemanfaatan teknologi informasi (IT) dalam pendidikan. Entah kenapa nampaknya pemanfaatan IT di pendidikan justru yang paling terlambat dibandingkan bidang lain, seperti bisnis misalnya. Padahal IT pada awalnya dikembangkan di lingkungan pendidikan – atau tepatnya lembaga penelitian – dan militer. Mungkin dunia bisnis lebih cepat merangkul IT karena langsung terlihat manfaatnya.

Saya sudah mencoba memanfaatkan IT dalam proses ajar mengajar, tidak seperti orang lain yang hanya berwacana atau berteori. hi hi hi. Pengalaman saya menunjukkan bahwa masih ada banyak kesulitan yang sifatnya teknis, bukan prinsipil. Namun karena banyaknya kesulitan teknis ini membuat elearning (katakanlah demikian) belum benar-benar dapat diterima. Sebagai contoh, masalah skala. Kebanyakan sistem yang ada dapat digunakan untuk jumlah siswa yang tidak besar, begitu jumlah siswanya banyaaakkk sekali, maka sistem menjadi tidak dapat digunakan. Contoh, pernahkah Anda chatting dengan 75 orang bersamaan?

Saya akan coba berbagi beberapa pengalaman saya. Kali ini tentang kuliah online dan lebih spesifik lagi berdiskusi secara real-time, bersama-sama, sinkron. Perlu dicatat bahwa sebetulnya pemanfaatan IT itu lebih banyak ke arah asinkron, yaitu mahasiswa dan dosen tidak perlu online secara bersama-sama. Ini untuk yang sinkron.

Beberapa kali saya mencoba membuat kelas secara online. Mahasiswa diminta untuk online pada saat yang sama. Masalah pertama adalah teknologi atau aplikasi apa yang akan kita gunakan. Idealnya kita ingin menggunakan video conferencing, seperti penggunaan Skype atau Google Hangout, tetapi infrastruktur di Indonesia masih belum memungkinkan. Untuk berdiskusi satu-lawan-satu sih nampaknya masih bisa. Bayangkan kalau mahasiswanya ada 75 orang. Bisakah? Mungkin tidak untuk saat ini.

Hal lain yang penting adalah aplikasi harus dapat menggunakan keybooard. Akan sangat susah bagi saya untuk mengetik dengan menggunakan handphone. Dengan kata lain, BBM atau WhatsApp tidak dapat digunakan. Hasil diskusi dengan mahasiswa menyisakan beberapa alternatif: IRC, Yahoo! Messanger (YM), Googletalk, Line, dan Facebook. Maka saya coba pendekatan itu untuk beberapa kelas yang berbeda.

Kelas yang pertama disepakati untuk menggunakan Line. Kelas ini cukup kecil, kurang dari 30 orang. Ketika online pun mungkin hanya 20 orang. Ternyata penggunaan Line cukup berhasil. Saya menggunakan Line di komputer, sementara mahasiswa ada yang menggunakan handphone.

Kelas yang kedua disepakati untuk menggunakan IRC. Menariknya mereka adalah generasi yang belum pernah mendengar kata IRC. ha ha ha. Saya sudah tua. Agak berat kalau memaksa mereka untuk memasang aplikasi IRC client. Akhirnya saya usulkan untuk menggunakan web-based IRC client. Ada banyak. Silahkan di-google. IRC cukup berhasil, meskipun di awal banyak yang bingung bagaimana “berbicara” di IRC. IRC juga masih banyak digunakan sebagai media live di berbagai konferensi (yang biasanya terkait dengan IT).

Kelas yang berikutnya kemungkinan menggunakan Googletalk saja. Nanti kita lihat keberhasilannya. Ini baru akan saya lakukan hari Senin malam. (Semoga listrik tidak mati. hi hi hi.)

Masalah pertama dalam kelas online semacam ini adalah adanya “keributan” di ruang kelas. Jika ada yang baru bergabung maka akan ada pesan muncul di layar. Ini mengganggu jalannya diskusi. Demikian pula kalau ada yang nyeletuk atau iseng komentar. Mungkin harus dibuatkan dua ruangan (conference room), satu hanya untuk sang dosen yang boleh bicara atau mahasiswa yang mendapatkan giliran, satu lagi untuk aktifitas kasak-kusuknya.

Masalah kedua adalah mengidentifikasi mahasiswa yang hadir. Nama (identitas) dari mahasiswa sering berbeda dengan nama mahasiswa yang bersangkutan. Misalnya kalau ada mahasiswa yang identitasnya adalah “ucings duduk” itu nama aslinya siapa? he he he. Ini nanti dikaitkan dengan daftar hadir. Ini pun menjadi persoalan sendiri. Apakah kehadiran di ruang chat ini dapat disamakan dengan kehadiran di kelas? Bisa tidak syarat 80% hadir juga termasuk hadir di dunia cyber?

Oh ya, saat ini saya sedang mencari aplikasi untuk share materi presentasi (power point). Saya ingin mahasiswa untuk melihat materi ini bersama-sama dengan syarat tambahan adalah mahasiswa tidak bisa melihat halaman berikutnya. Jadi kita harus melihat halaman yang sama bersamaan. Nah.


Memberi Nilai Mahasiswa ITB

Dahulu … jamannya saya masih kuliah di ITB, nilai kuliah bervariasi dan cenderung pelit. Untuk mata kuliah tertentu, begitu mendapat nilai C maka kami berbahagia. Hi hi hi. Bahkan ada satu kuliah – tepatnya kuliah Teori Medan – yang saya bersyukur ketika mendapatkan nilai D. Yang penting adalah tidak perlu mengulang. he he he.

Maka pada masa itu nilai-nilai mahasiswa ITB sangat rendah dibandingkan dengan nilai-nilai mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Akibatnya dalam rekrutmen yang dilakukan oleh berbagai perusahaan, ada kemungkinan lulusan ITB tersingkir karena melihat nilai-nilainya yang rendah.

Belakangan ini saya melihat nilai-nilai mahasiswa ITB sudah jauh lebih baik dari dulu. Mungkin karena dosennya lebih murah dalam memberikan nilai, atau karena memang mahasiswa sekarang jauh lebih cerdas dari sebelumnya. Atau mungkin dua-duanya. Entahlah. Yang pasti, sekarang lebih banyak lulusan ITB yang lulus cum laude dibandingkan dulu.

Sekarang saya berpikiran lain. Agak nyeleneh. Begini. Mahasiswa ITB kan bahan bakunya memang sudah cerdas. Seharusnya mereka memang lulus dengan nilai A, kecuali kalau memang mahasiswanya aneh seperti misalnya tidak hadir ketika ujian. Jadi default nilai A. Kalau mahasiswa tidak mengerti dan nilainya jelek, berarti dosennya yang tidak becus. Karena saya dosen yang tidak jelek-jelek amat, maka seharusnya nilai mahasiswa adalah A semua. Maka saya beri nilai A semua. Boleh begitu? Hi hi hi


Mencari Bentuk OSPEK Yang Lebih Modern dan Manusiawi

Setiap tahun kita mendapat berita kecelakaan – dan bahkan kematian – yang ditimbulkan dari acara orientasi studi yang dijalankan oleh mahasiswa (OSPEK). Sudah waktunya kita semua duduk untuk mencari bentuk orientasi studi yang lebih modern dan manusiawi. Mosok kita tidak bisa menemukan bentuk yang non-perpeloncoan? Kurang cerdas kita kalau begitu, Ayo kita cari.

Pertama perlu kita ketahui dulu mengapa perlu ada orientasi studi ini? Apa yang ingin dicapai? Mengapa bentuk perpeloncoan, yang melibatkan kekerasan fisik dan mental, yang selalu menjadi pilihan? Apakah tidak ada bentuk lain? Ada catatan tambahan bahwa ospek ini biasanya terkait dengan himpunan mahasiswa (baik spesifik kepada sebuah prodi / departemen / fakultas, unit kegiatan, atau campus-wide / satu sekolah), bukan dikendalikan oleh institusi. Maka perlu ditanyakan kepada himpunan yang bersangkutan, mengapa perlu ada? Kalau tidak dapat menjawab, ya memang seharusnya tidak ada.

Kita mulai dari situ dulu. Sebagian besar pelaksana ospek tidak mengetahui apa alasannya. Ini hanya sebagai acara lucu-lucuan dan balas dendam saja. Mahasiswa yang modern, cerdas, maju, dan kreatif mestinya mau mencoba memahami alasannya dulu. Membebek itu ya seperti namanya, menjadi bebek. Bukan menjadi manusia.

Setelah alasan kita ketahui, misal untuk meneruskan beberapa nilai-nilai organisasi kepada mahasiswa baru, maka kita dapat mendesain metodologi yang lebih modern dan manusiawi. Misalnya, langsung saja kita program dengen telepati. he he he. Beres kan? Selebihnya, kita makan-makan. Kita nanti bisa brainstorming untuk mencari idenya. Apalagi sekarang dengan adanya teknologi informasi, banyak hal yang dapat dipermudah. Hadir pagi hari, misalnya, boleh dilakukan dengan check in (online). Kenapa tidak? :)

Nah, sebetulnya apa alasan adanya ospek ya?


Menjelaskan Itu Harus Sabar

Menjelaskan sesuatu – termasuk juga mengajarkan sebuah topik – ternyata membutuhkan kesabaran, yang kadang kadarnya harus luar biasa. Seringkali kita tidak dapat menjelaskan sekali saja langsung dapat dimengerti. Kadang-kadang setelah berkali-kali mencoba menjelaskan ternyata tetap tidak dimengerti. Kalau sudah begini, seringkali kita  malah jadi frustasi dan marah-marah. he he he.

Ada beberapa alasan mengapa orang tidak dapat menerima apa yang kita sampaikan: (1) belum cukup ilmu untuk dapat memahami / mengerti pentingnya apa yang kita ajarkan, (2) penjelasan kita kurang baik, dan (3) memang yang bersangkutan tidak mau mengerti (misalnya, karena sudah punya pemahaman yang berbeda). Ketika kita  mengajar, mungkin yang paling sering dihadapi adalah yang nomor satu. Dulu ketika saya belajar Fourier Transform (dan Fast Fourier Transform, FFT), saya tidak tahu untuk apa. Ilmu saya belum cukup. Setelah lulus, bertahun-tahun kemudian, baru mengerti untuk apa dan mengapa itu penting. ha ha ha.

Yang paling repot adalah yang nomor tiga, tidak mau mengerti. Yang ini malah kadang orangnya sudah memiliki ilmu yang cukup tinggi. Mestinya sih dia dapat mengerti, tapi tidak mau ajsa. Kalau sudah begini ya kita punya dua pilihan, menyerah atau menambahkan tingkat kesabaran. hi hi hi.

Sabar, sabar, sabar.


Kejar Tayang Akhir Tahun

Nampaknya semua orang sedang panik sibuk kejar tayang akhir tahun. Banyak program kegiatan yang harus dilaksanakan terkait dengan rancangan kegiatan tahun 2013. Yang lebih banyak adalah kegiatan untuk menghabiskan budget! He he he. Anda mungkin termasuk kategori itu ya? hi hi hi. (Ingin rasanya membuat tulisan yang membahas tentang kacaunya perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan keuangan untuk berbagai kegiatan ini.) Eh, kalau di luar negeri apa masalah kejar tayang seperti kita tidak ya?

Saya sendiri juga punya program kejar tayang terkait dengan perkuliahan. Semua topik yang belum sempat diajarkan di kelas terpaksa ditugaskan untuk dipelajari sendiri oleh mahasiswa. Nah, mahasiswa yang ketiban pulung dijejali materi-materi dari semua dosen. (Nasib. Kalau kata orang Sunda, wayahna … he he he.) Yang harus saya kerjakan juga adalah menilai UTS kemarin (untuk memperkirakan keberhasilan / kegagalan mahasiswa) dan menyiapkan materi UAS. Hadoh.

Banyak orang yang mengira mengajar kuliah itu gampang. Kalau sekedar nongol di kelas sih gampang, tetapi sesungguhnya ada hal-hal lain yang membutuhkan kerja keras. Membuat soal. memeriksa hasil ujian, dan kemudian memberi nilai itulah yang paling melelahkan dari tugas mengajar. Percayalah ini tidak mudah. (Oleh karena maka dari itu … pikir-pikir dulu kalau mau jadi guru atau dosen.)

Mari kita kejar-kejaran …


Bersiap Diri Untuk Industri Kreatif

Jargon “industri kreatif” sudah banyak kita dengar dan bahkan sudah dibuatkan instansi formalnya. Artinya, kita diarahkan untuk menuju industri kreatif. Pertanyaannya adalah siapkah kita?

Jika kita berbicara tentang sebuah industri, yang terbayang oleh saya adalah skalanya yang besar. Jika pelakunya hanya belasan orang atau ratusan orang, mungkin belum bisa disebut industri ya? Bisnis ya, tapi industri mungkin bukan. Tentu saja ada definisi industri yang lebih tepat dari ini. Saya hanya mencoba menyoroti skalanya saja. Untuk memasok jumlah sumber daya manusia yang banyak ini bagaimana caranya?

Sekolah-sekolah yang ada saat ini tidak memberikan nafas “kreatif” dalam proses pendidikannya. (Maha)siswa diajarkan untuk memecahkan masalah sebagaimana pekerja pabrik menyalakan mesin; prosedural dan bahkan terkesan seperti robot. Materi pelajaran diajarkan seperti instruksi. Kemudian pemahamannya diujikan berdasarkan pertanyaan yang berbentuk pilihan berganda (multiple choice). Di mana letak kreatifnya ya? Mereka diajarkan untuk menjadi robot dan robot tidak kreatif.

Katakanlah kita sudah berhasil menghasilkan SDM yang kreatif. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita mengelola (to manage) mereka? Pengelolan SDM kreatif akan berbeda dengan SDM yang hanya mengikuti instruksi. Apakah para pekerja ini dibiarkan semuanya menjadi “artisan” yang tidak dapat diatur? Sulitlah mengembangkan bisnis – apalagi industri – jika tidak ada pengelolaan yang baik. Silahkan tanya rumah produksi atau software house untuk melihat betapa susahnya mengelola SDM kreatif. Nampaknya ini harus dipelajari dengan lebih serius.

Lantas ada masalah di sisi manusianya sendiri. Apakah ada jenjang karir dari pekerjaan yang kreatif ini? Apakah ada “kasta” orang kreatif? Bagaimana membina mereka agar terjadi pertumbuhan?

Masih ada banyak pertanyaan saya. Sementara ini saya cukupkan ini dulu saja. Melihat ini semua, saya kok masih ragu kita sanggup membuat sebuah industri kreatif. Hadoh.


Mengajari Pop Culture

Ada sebuah keinginan saya untuk mengajari pop culture kepada mahasiswa saya. Setidaknya saya ingin mahasiswa saya melek terhadapa kultur di luar Indonesia. Bukan untuk menerima kultur dari luar tersebut, tetapi sekedar melek saja.

Salah satu cara untuk mempelajari hal ini adalah dengan melihat acara TV yang menjadi populer di luar negeri. Maka tadi sore saya memutar satu film dari Fresh Prince of Bell Air, yang bintangnya adalah Will Smith. Saya pilih ini karena mahasiswa mengenal Will Smith. Hanya saja mereka mengenal Will setelah menjadi bintang film yang populer, yang keren. Kalau di dalam film seri Fresh Prince itu Will Smith masih mudah dan masih culun. he he he. Hal lain mengapa saya pilih seri ini adalah karena lucu.

Kita dapat belajar banyak hal dari lawakan karena lawakan sangat sarat dengan kultur setempat selain bahasa yang digunakan tentunya. Kalau kita tidak mengerti konteksnya, ada banyak hal yang menjadi tidak lucu. Kalau kita dapat tertawa karena sebuah lelucon, maka kita dapat dikatakan sedikit memahami bahasa dan kultur / konteks dari pelawak tersebut. Saya sendiri belajar Bahasa Inggris melalui lelucon dalam bahasa Inggris, yang umumnya berbentuk standup comedian. (Maka dari itu sedikit banyak cara presentasi saya juga mengikuti pakem ini. he he he.)

Lumayanlah tadi bisa ketawa-ketiwi di kuliah. Maklum, kuliah sudah sore dan sudah lelah. Lebih baik kita tertawa dan nilai kuliah tetap bagus. Bukankah begitu?


Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar

Saya sedang membuat sebuah materi presentasi tentang “business content”. Bingung mencari kata yang pas untuk terjemahannya. Sementara ini saya gunakan “bisnis konten”. Masih kurang mengena sih, tetapi lumayanlah.

Saya cek dengan KBBI ternyata “konten” itu belum ada di bahasa Indonesia. Sementara itu diskusi di tempat lain mengatakan terjemahan “content” memang sudah tepat menjadi “konten” (dalam kasus ini). Bagaimana menurut Anda?


Analog Media

Dua minggu yang lalu saya menjelaskan tentang analog dan digital media di kelas. Maka kemarin, saya bawa piringan hitam untuk menunjukkan kepada mahasiswa. Kebetulan yang saya bawa adalah album dari Boston dan Lionel Richie. Sayangnya saya tidak punya pemutarnya yang bisa dibawa ke kelas. Jadi pas muter lagu Boston, kurang terdengar garangnya. he he he. (Sebelum kelas dimulai, saya putar videonya Steven Wilson, Drive Home.)

vinyl 1000

[Ini foto kedua album tersebut. Dipotret di ruang kerja saya.]

Sebetulnya saya juga membawa kaset ke kelas, tetapi ini tidak begitu menarik. Mereka sudah tahu apa itu kaset dan tidak menarik bagi anak-anak sekarang, yang notabene mendengarkan MP3.

Sebetulnya saya ingin menunjukkan musik digital, yaitu dengan MIDI dan kawan-kawannya. Tapi persiapannya nampaknya harus lebih berat lagi. Ya kapan-kapan deh.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.592 pengikut lainnya.