Arsip Tag: penelitian

Memilih Tempat S3

Salah satu pertanyaan yang sering saya terima adalah memilih tempat S3. Berikut ini adalah opini saya. Perlu saya garis bawahi kata opini karena mungkin pendapat saya berbeda dengan kebanyakan orang.

Yang pertama, saya mengusulkan agar memilih tempat S3 di luar negeri. Alasan pertama adalah untuk menambah wawasan. Global. Banyak orang yang hanya hidup di Indonesia sehingga sulit mendapatkan wawasan tentang hal-hal yang terjadi di luar negeri. Bersekolah selama beberapa tahun di luar negeri tentunya berbeda dengan wisata 2 minggu. Jauh berbeda. Ketika kita di luar negeri dan berinteraksi dengan orang setempat barulah kita dapat mengerti berbagai hal. Banyak hal yang dapat kita bawa pulang, seperti misalnya kebiasaan (sabar) mengantri, budaya meneliti, kebiasaan membaca, menghargai orang dan pendapatnya, dan seterusnya.

Yang kedua, pendidikan S3 jauh berbeda dengan S2 dan S1. S3 dituntut untuk menjadi mandiri karena kita harus melakukan penelitian sendiri, mencari literatur sendiri, membaca sendiri, mencoba mengerti sendiri, dan seterusnya. Ini menjadi masalah ketika kita tidak mengerti sesuatu (stuck). Kita membutuhkan tempat untuk berdiskusi. Di perguruan tinggi di LN, potensi kita untuk menemukan teman diskusi dalam level S3 lebih besar di bandingan di Indonesia. Mahasiswa S3 di Indonesia ada banyak yang bekerja sambilan (sebagai dosen, pejabat, dan seterusnya) sehingga tidak ada di tempat untuk diskusi. Dahulu ketika saya sedang S3, sering saya berdiskusi dengan kawan ketika sedang makan siang (hence, the back of napkin-kinda-theory) atau ketika malam hari masih di kampus (sambil menunggu redanya salju).

Internet memang bisa menjembatani hal ini, tetapi ketemu secara fisik dan berdiskusi secara langsung (sambil bawa buku, referensi, corat coret) lebih efektif. Kita bisa langsung ketemu dan membahas sesuatu, 30 menit selesai. Kalau diskusi ini dilakukan melalui internet, kemungkinan kita akan selesai dalam 3 hari. Ya tentu saja masih mendingan bisa selesai daripada tidak, bukan? Tetapi kepusingan dalam 30 menit jauh lebih baik dari pusing 3 hari.

Ketiga, penelitian S3 juga membutuhkan infrastruktur pendukung yang kadang sulit ditemukan di Indonesia. Untuk bidang tertentu yang khas Indonesia, biodiversity, bisa jadi fasilitas di Indonesia lebih bagus tetapi secara umum fasilitas di luar negeri lebih baik. Itulah sebabnya pilih perguruan tinggi dengan infrastruktur pendukung penelitian bidang kita yang memadai.

Perpustakaan perguruan tinggi di luar negeri juga lebih baik. Penelitian S3 sangat intensif dalam penggunaan pustaka. Ini merupakan hal yang esensial. Sekarang internet sangat membantu dalam hal ini. Dahulu, saya sangat kesulitan untuk mendapatkan referensi-referensi. Padahal saya sudah di luar negeri (Canada). Meskipun sudah ada internet, keberadaan fasilitas perpustakaan yang prima masih menjadi sesuatu yang sangat penting bagi S3.

Keempat, menjalankan S3 membutuhkan waktu dan atensi yang luar biasa. Kalau kita tinggal di Indonesia, seringkali banyak “gangguan” yang membuat penelitian menjadi lambat. Misalnya, kita diminta untuk mengajar, menjadi pejabat, membimbing mahasiswa, menjadi ketua RT, dan seterusnya. Semua ini membutuhkan waktu dan atensi yang seharusnya dapat digunakan untuk S3. Akibatnya S3 di Indonesia dapat menjadi sangat lambat selesainya.

Kelima, S3 (dan semestinya pendidikan lainnya) menjadi tempat untuk menjalin pertemanan. Teman-teman S3 ini dapat bermanfaat di kemudian hari ketika kita melakukan penelitian atau membutuhkan reviewer. Karena S3 di luar negeri, teman-teman kita juga biasanya global, tidak hanya dari tempat lokal saja. Memiliki perteman dalam lingkup global sangat membantu dalam dunia yang global ini.

Bagaimana mencari tempat dan pembimbing S3 yang pas? Cara yang paling mudah adalah melihat ke sekeliling. Itulah sebabnya mengambil S2 di luar negeri menjadi penting karena dia bisa menjadi jembatan untuk S3. Maksudnya ketika kita sedang mengerjakan S2 kita juga sudah lihat-lihat siapa yang cocok untuk menjadi pembimbing dan promotor S3 kita.

Cara lain yang juga lazim dilakukan adalah menghubungi profesor yang bersangkutan. Ini tentunya setelah kita melakukan riset melalui internet atau mendapatkan referensi dari rekan-rekan. Cari kampus-kampus yang punya profesor yang bagus. Kalau jaman sekarang kita dapat mengirimkan email kepada profesor bersangkutan (dengan sopan tentunya). Katakan bahwa kita tertarik untuk menjadi mahasiswa S3-nya. Umumnya responnya baik. Hal yang terburuk, ditolak. Tidak mengapa bukan?

Tidak banyak orang yang mau S3 sehingga kandidat S3 sebetulnya sangat dicari oleh berbagai universitas di dunia. Kecuali bidang tertentu yang dibatasi mahasiswa asingnya (seperti kedokteran dan hukum), biasanya perguruan tinggi di seluruh dunia sangat aktif dalam mencari mahasiswa S3. Susah mendapatkan mahasiswa S3. Itulah sebabnya kalau Anda ingin melanjutkan S3 sebetulnya ada banyak tempat yang kosong. Anda bisa memilih-milih.

Semoga tulisan ini dapat membantu Anda dalam memilih tempat untuk S3.


Penelitian

Salah satu hal yang menarik dari melakukan penelitian adalah menemukan hal-hal yang baru. Maksudnya yang baru ini bisa jadi bukan hal yang baru bagi peneliti yang sudah meneliti bidang tersebut terlebih dahulu, tetapi baru bagi kami yang baru terjun ke topik tersebut. Hal baru, ini yang membuatnya menarik.

Sering kali juga kita mengalami kebuntuan. Nah, kalau ini terjadi memang kita menjadi kesal, tetapi di sisi lain kita tertantang untuk mencari jalan keluarnya. Lagi-lagi ini yang membuat penelitian menjadi menarik.

Yang menyedihkan adalah ada orang yang meneliti hanya untuk mencari dana penelitiannya saja. Sesunguhnya dia tidak tertarik untuk meneliti. Tidak excited. Kalau ini yang terjadi, sungguh sangat menyedihkan.


Mengurutkan Daftar Pustaka

Penulisan daftar pustaka dalam karya ilmiah tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Ada standar atau aturan yang harus diikuti. Banyak mahasiswa yang tidak tahu (dan tidak mau tahu) tentang cara penulisan daftar pustaka ini. Kali ini kita bahas tentang urutan daftar pustaka.

Pengurutan daftar pustaka dapat dilakukan berdasarkan:

  1. urutan kemunculannya;
  2. nama keluarga (family name) dari pengarangnya.

Masih banyak yang mengurutkan daftar pustaka seenaknya karena ketika membuat tulisan tersebut daftar pustakanya berkembang. Jadi urutannya berubah terus. Akhirnya penulis tidak mengurutkan. Ini salah besar. Ada juga yang mengurutkan berdasarkan nama pertama dari penulisnya. Ini jarang saya temukan, tetapi ini tidak lazim.

Sekarang Anda sudah tahu tentang hal ini, maka tidak ada maaf lagi kalau Anda salah mengurutkan daftar pustaka. :D


Perlukah Saya Mengambil S3?

Ada beberapa orang yang menanyakan saya soal S3. Setelah saya jawab satu persatu ternyata pertanyaannya berulang. Untuk itu saya coba tuliskan di sini saja ya. Apa yang saya tuliskan ini adalah opini pribadi saya saat ini. Sayangnya mungkin opini ini bertentangan dengan beberapa pihak (dan juga keinginan saya sendiri). Saya tuliskan apa adanya.

Pertama, perlu tidaknya S3. Menurut saya jika Anda berencana untuk menjadi dosen atau peneliti (researcher), maka nampaknya S3 merupakan sesuatu yang pantas untuk dikejar. Selain dari itu menurut saya tidak perlu S3. S3 hanya menghabiskan waktu yang bisa Anda gunakan untuk hal yang lain (karir, menghasilkan produk, pengalaman, dan lain-lain).

Katakanlah memang Anda memang sudah ingin S3, ke mana sebaiknya? Untuk pertanyaan ini ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, S3 itu membutuhkan kemandirian dan lingkungan yang mendukung S3 kita. Yang pertama adalah adanya promotor yang mendukung. Lupakan hal yang lain jika ini tidak terpenuhi. Hidup Anda akan susah dengan promotor yang tidak mendukung dan bahkan merongrong. Di Indonesia ada banyak promotor yang sulit ditemui. Ini menjadi masalah.

Hal berikutnya adalah keberadaan infrastruktur dan lingkungan yang mendukung. Kalau dahulu, sebelum jaman internet, keberadaan perpustakaan sangat penting. Itulah sebabnya akan sangat susah S3 di Indonesia yang perpustakaannya kurang baik. Untuk penelitian yang membutuhkan peralatan, pastikan tempat yang dituju memiliki peralatan tersebut.

Di karenakan hal yang di atas, maka saya biasanya menyarankan mahasiswa untuk mengambil S3 di luar negeri. Sayang sekali memang – SDM Indonesia lari ke luar negeri. Apa boleh buat. Daripada saya menjerumuskan Anda? Kemudian Anda “terpenjara” dengan S3 Anda yang di Indonesia?

Hal lain yang penting juga adalah “network” dengan sesama peneliti. Lagi-lagi hal ini lebih menguntungkan Anda jika Anda berada di luar negeri yang memiliki banyak peneliti. Ini merupakan hal yang penting karena ketika mengerjaan S3 Anda membutuhkan teman untuk berdiskusi. Seriously.

S3 di luar negeri juga memberikan wawasan tentang hidup di negara lain. Ini dapat membuka mata kita tentang bagaimana kehidupan yang lebih baik. Pengalaman baik bisa dibawa pulang. Tentu saja yang buruk ditinggalkan.

Namun ada kalanya Anda terpaksa mengambil S3 di Indonesia, seperti misalnya Anda harus mengajar dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan mengajar. Atau Anda memiliki keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Nah untuk hal seperti ini terpaksa Anda melakukan S3 di Indonesia. Hanya saja perlu saya wanti-wanti siapkan mental. S3 mungkin 10 atau 100 kali lebih susah dari S1 atau S2. Siapkah Anda (dan keluarga)?


Riset, Diskusi Teknis, dan Hal-hal Terkait

Saat ini saya dan kawan-kawan sedang berdiskusi tentang pekerjaan yang sangat kental nuansa teknisnya. Diskusinya sebetulnya lebih mirip ke diskusi riset yang dilakukan di research center di luar negeri. Kami berdebat tentang masalah teknis.

Saya menyukai hal-hal yang seperti ini karena menstimulasi (challenge) kemampuan intelektual. Kita selalu diasah dengan pertanyaan atau permasalahan yang baru dan seru. Sering kali kita menemukan masalah yang belum tahu jalan keluarnya. Bisa jadi karena kemampuan sumber daya yang kita miliki terbatas (misalnya, butuh 1000 server untuk memproses datanya) atau memang karena masalah yang dihadapi sangat sulit (kompleksitas atau big-Oh nya eksponensial).

Seringkali kita juga harus melihat (membaca) makalah teknis. Ada teori yang harus dipelajari juga. Bahkan juga harus lari ke teori matematis.

Yang susah juga adalah mencari orang-orang yang mau dan mampu untuk diajak berdiskusi. Ini bukan diskusi b*llsh*t mau cari muka, tetapi benar-benar mengadu ide untuk mencari solusi. Seru!


Keynote on Computational Intelligence

Pagi tadi saya ditelepon dan diminta untuk jadi keynote speaker pengganti di sebuah seminar. Keynote speaker-nya mendadak tidak bisa hadir padahal acaranya adalah hari ini. Kebetulan waktu yang diminta ternyata saya bisa. Jadi langsung saya sanggupi dan saya siapkan materi presentasinya.

Ini dari keynote saya adalah ada beberapa topik penelitian masa depan yang terkait computational intelligence. Yang pertama adalah hal-hal yang terkait dengan dunia jejaring sosial. Saya melihat dunia jejaring sosial akan mirip dengan dunia nyata. Di sana ada kehidupan dan tentunya akan banyak masalah (sosial). Pemahaman atas masalah sosial ini mungkin dapat dipahami dengan menggunakan model yang dapat dipecahkan dengan menggunakan computational intelligence.

Barricelli’s universe saya ambil sebagai contoh untuk menjelaskan betapa belum mengertinya kita tentang banyak hal. Barricelli membuat penelitian di tahun 1954 – sebuah simulasi yang dijalankan di atas komputer pertama ketika von Neuman dan kawan-kawan sedang tidak menggunakan CPU cycle-nya – tentang sebuah digital paleontology. Hasilnya cukup menarik. Ada kode dari Barricelli yang tidak dimengerti operator dan belum dijalankan. Ini menunjukkan betapa belum mengertinya kita.

Kemudian saya menunjukkan penelitian twitter kami, yang mana kami mencoba memahami struktur jejaring yang dibentuk oleh orang Indonesia di dunia twitter. Saya tampilkan program kecil yang sedang berjalan dan hasil penelitian sebelumnya. Cukup menarik rasanya.

Yang kedua, salah satu hal yang menarik dari layanan jejaring sosial adalah games. (Games tentu saja tersedia di luar jejaring sosial.) Games sekarang semakin menarik dengan kemampuan artificial intelligence yang membuat pemain ingin kembali main.

Wah, saya lupa juga untuk mengangkat topik layanan Siri yang terbaru ya.

Hal terakhir yang saya singgung adalah dunia security. Model computational intelligence dapat digunakan untuk mendeteksi serangan atau penyusupan dengan mencari pola serangan dari log intrusion detection system (IDS). Hasilnya memang belum terlalu menggembirakan meskipun dapat dikatakan positif.

Begitulah kira-kira apa yang saya sampaikan dalam keynote tadi siang.


Dokumentasi, Dokumentasi, Dokumentasi

Baru saja saya melihat video presentasi George Dyson di TEDtalks tentang lahirnya komputer. Silahkan dilihat. Sangat menarik, khususnya bagi saya yang memang menyukai sejarah terkait dengan komputer. Yang paling menarik bagi saya adalah George Dyson dapat menceritakan tentang sejarah kelahiran komputer karena adanya dokumentasi yang dibuat oleh para peneliti dan pengembangnya.

Hal yang lazim bagi peneliti ketika melakukan penelitian adalah membuat logbook. Semua dicatat dalam logbook. Bahkan keluh kesah, lawakan, corat coret, doodle, dan hal yang mungkin tidak terlihat terkait langsung dengan penelitian tersebut dicatat. Semua terdokumentasi. Hal ini memudahkan peneliti selanjutnya untuk meneruskan peneltian dan juga memudahkan untuk meminta perlindungan hak intelektual (seperti paten, misalnya).

Saya tertawa ngakak melihat beberapa bagian yang lucu dari catatan logbook tersebut. Ada banyak humor di sana. Saya sarankan Anda melihatnya. Sangat lucu.

Herannya, di Indonesia, banyak peneliti yang tidak mendokumentasikan penelitiannya. Semuanya dilakukan di kepala dan baru dituliskan ketika diminta untuk memberikan laporan penelitian kepada penyandang dana. Maka yang terjadi adalah dokumen instan. Banyak yang tidak tercatat karena sudah lupa. Dokumen itu pun dibuat kalau diminta. Kalau tidak diminta, maka tidak ada dokumentasi yang bisa digunakan oleh peneliti selanjutnya. Mungkin ini kultur orang Indonesia yang kurang senang membuat dokumentasi tertulis?

Sekarang dengan adanya kemajuan teknologi informasi semestinya lebih mudah untuk melakukan dokumentasi, bukan? Maka oleh sebab dari pada itu … dokumentasikan semua kegiatan Anda. Kalau tetap tidak mau juga, ya … mau bagaimana lagi?

URL terkait:
http://www.ted.com/talks/george_dyson_at_the_birth_of_the_computer.html
Jika link di atas tidak bekerja (karena di belakang proxy, misalnya), gunakan link berikut dair YouTube: http://www.youtube.com/watch?v=EF692dBzWAs


Perlukah Jurnal Berbahasa Indonesia

Publikasi merupakan kewajiban di dunia pendidikan dan penelitian. Jurnal yang terakreditasi, misal oleh scopus, merupakan kasta tertinggi untuk tempat publikasi. Nah, masalahnya jurnal yang terakreditasi tersebut umumnya menggunakan bahasa Inggris. Artinya peneliti kita harus membuat artikelnya dalam bahasa Inggris. Ini sebetulnya bukan masalah. Masalah, tapi tidak terlalu besar.

Yang menjadi masalah bagi kita, orang Indonesia, adalah hilangnya dorongan atau insentif untuk menulis artikel dalam bahasa Indonesia. Nilai untuk mempublikasikannya menjadi kecil atau bahkan tidak ada. Padahal untuk bangsa dan negara yang memiliki ukuran sangat besar seperti Indonesia, seharusnya kita punya bargaining power untuk tetap menulis dalam bahasa Indonesia. Pembaca orang Indonesia mestinya banyak juga kan? (Atau sebetulnya sangat sedikit?)

Saya juga ingin tahu pengalaman negara lain seperti China, Jepang, dan sejenisnya. Apakah mereka juga memiliki jurnal-jurnal dalam bahasa sendiri yang terakreditasi?


Cerita Sukses dari Marvell

Kemarin, di kampus (ITB), pak Gani Jusuf datang lagi. Pak Gani, mewakili perusahaan Marvell, memberikan talk show mengenai perusahaan Marvell. Ini bukan perusahaan komik lho, tapi perusahaan elektronik yang cukup besar di Silicon Valley. Yang membuat kita tertarik dengan cerita sukses dari Marvell adalah pendiri dari Marvell adalah orang Indonesia, Sehat Sutardja dan Pantas Sutardja. Pak Gani sendiri juga merupakan salah satu (dari 7) pegawai awal dari Marvell.

Pak Gani menceritakan status perusahaan Marvell sekarang, yang selalu untung dari segi finansial dan memiliki banyak produk yang menarik. (Lihat situs webnya untuk melihat produk-produknya.)

Produk awal dari Marvell adalah chip untuk Read Channel yang digunakan untuk membaca data dari fisik harddisk dan kemudian mengubahnya menjadi bentuk digital. Penemuan ini membuat mereka menjadi sukses dan dominan di dunia disk. Setelah itu mereka banyak membuat produk (chips) yang lain; networking, client (tablet, handphone), printers, green energy, dan seterusnya.

Marvell merupakan perusahaan fabless, yang artinya adalah mereka tidak punya pabrik. Yang mereka hasilkan adalah desain (dan tentunya sampai kepada prototipe untuk meyakinkan klien bahwa produknya memang berfungsi). Itulah sebabnya sebagian besar pekerjanya bergerak di bagian penelitian (R&D) dan umumnya memiliki gelar S2 ke atas.

[mahasiswa yang mendengarkan talk show, dan perwakilan Marvell di Singapura - saya lupa namanya]

Hal yang menyenangkan bagi saya tentang kedatangan pak Gani dan Marvell ini adalah adanya bukti bahwa orang yang bergerak di bidang hardware pun bisa sukses. Sekarang kebanyakan mahasiswa – bahkan mahasiswa elektro / elektronika pun – lebih menyukai pemrograman web :)  Bukan berarti bahwa software tidak penting (di Marvell software juga penting karena harus dapat menujukkan fungsi chips sampai ke aplikasi), tetapi bidang hardware masih sangat menarik. Bahkan, pak Gani mengatakan bahwa kalau kita punya skill hardware maka saingan kita lebih sedikit. Betul juga ya …


Tekun

Kemarin di acara presentasi hasil penelitian ada yang lucu. Ada seorang ibu peneliti yang hebat sekali penelitiannya (saya tidak berani menyebutkan detailnya karena ada hal yang menyangkut paten) dalam bidang kosmetik. Nah, beliau mengajukan usulan topik penelitian selanjutnya terkait dengan biodisel! Hadoh. Kok meloncat jauh. Lucu juga, dari muka ke bahan bakar mobil. he he he. (Si ibu peneliti kemudian menjelaskan alasannya, yaitu terkait dengan byproduct.)

Di tempat yang sama saya tidak melihat peneliti-peneliti lain dari institusi saya yang tadinya sama-sama mendapatkan dana penelitian. Nampaknya peneliti ini gugur di tengah jalan karena mungkin pindah topik atau tidak bisa menghasilkan luaran yang ditargetkan.

Pindah topik merupakan salah satu situasi yang sering dilakukan oleh peneliti. Begitu ada pendanaan untuk topik lain / baru, maka langsung buat proposal untuk topik itu. Jadi sesungguhnya dia tidak tekun terhadap bidang yang ingin dia kuasai, tetapi lebih melihat ada dana di bidang apa. Dan, selalu bidang lain terlihat lebih menarik.

Saya sendiri sering mendapat tawaran untuk mengerjakan ini dan itu. Meskipun masih di lingkup teknologi informasi, saya masih menolak jika itu tidak terkait dengan security. Harus tetap tekun di security saja.

Susah memang untuk tekun.


Pengujian Karya

Saya baru selesai menguji thesis mahasiswa S2. Kebetulan penelitiannya terkait dengan membuat aplikasi. Semuanya baik kecuali pada bagian pengujian. Kemarin juga ketika menguji ada masalah yang sama dengan pengujian. Nampaknya memang pengujian karya (ilmiah) memang masih belum dipahami.

Pengujian bisa kita bagi menjadi dua: (1) fungsional, dan (2) non-fungsional. Pengujian fungsional dilakukan untuk menguji apakah sistem / aplikasi / karya / ide sudah sesuai dengan fungsi yang diberikan. Sebagai contoh, kalau kita membuat sebuah sistem pendeteksi obyek (manusia, mobil, dll.) maka sistem harus kita uji apakah bisa mendeteksi obyek yang dimaksud.

Pengujian fungsional ini dimulai dengan menggunakan data (set) yang standar. Biasanya untuk aplikasi atau sistem tertentu ada kumpulan data (test cases) yang sudah dibuat untuk menguji fungsi tertentu. Penggunaan data yang standar ini memungkinkan kita untuk membandingkan ide / metoda / produk / karya kita dengan karya orang lain. Kalau di dunia image processing ada foto Lena, baboon, dan seterusnya. Di bidang lain tentunya ada data set yang standar juga.

Pengujian fungsional kemudian dapat dilakukan dengan data yang sesungguhnya, misalnya data di target evnvironment. Pengujian ini dilakukan untuk mengevaluasi apakah sistem dapat digunakan (applied).

Hasil pengujian sebaiknya ditampilkan dalam bentuk tabel. Ini untuk mempermudah penilaian.

Pengujian non-fungsional antara lain yang terkait dengan kinerja (performance). Contohnya adalah seberapa lama waktu yang dibutuh untuk memproses data atau seberapa banyak data yang dapat diproses oleh aplikasi.

Demikianlah secara singkat mengenai pengujian. Jadi, lain kali saya menguji karya / tugas akhir / thesis / disertasi, Anda sudah tahu apa yang akan saya tanyakan :)


Perguruan Tinggi, Penelitian, Spin Off

Salah satu peran perguruan tinggi adalah melakukan penelitian. (Sayangnya kalau di Indonesia, perguruan tinggi lebih ke arah pendidikan, pengajaran, atau lebih parah lagi tempat mendapatkan gelar dan ijasah semata.) Penelitian dilakukan oleh dosen yang merangkap sebagai peneliti, mahasiswa, dan juga peneliti yang memang peneliti (yang ini agak jarang). Pendanaan diperoleh dari berbagai sumber, dari pemerintah, industri (jarang di Indonesia), dan dari dosen / peneliti (sebagai bagian dari pekerjaan yang dilakukan di tempat lain).

Sayangnya kebanyakan penelitian yang terjadi di Indonesia adalah penelitian yang hanya bertujuan untuk menyerap dana penelitian yang sudah dialokasikan oleh pemerintah saja. Ini seperti menambah gaji / honor dosen dan memberi uang saku kepada mahasiswa. Maka hasilnya hanya untuk memenuhi persyaratan saja, yang biasanya berupa makalah. Setelah itu, ya selesai.

Ada memang penelitian yang sungguh-sungguh dilakukan untuk menghasilkan teknologi dan produk. Nah, kalau ini terjadi, justru malah kebingungan yang ada. Mau diapakan? Dipatenkan? Oleh siapa? Siapa yang membayari dan mengerjakan? Peneliti dapat bagian berapa dari royality-nya? Perguruan Tinggi dapat bagian berapa? Seringkali pada situasi seperti ini perguruan tinggi mengambil posisi serakah, mau banyak (padahal yang lebih penting adalah penelitinya). Ada risiko juga kalau mengambil bagian terlalu besar. Hasilnya seringkali menjadi keributan dan tidak jadi apa-apa.

Seyogyanya hasil penelitian tersebut bisa memicu spin off, perusahaan yang dibuat untuk mengeksploitasi aspek komersial dari penemuan tersebut. Start up. Untuk membuat perusahaan dibutuhkan orang yang berjiwa entrepreneur. Biasanya peneliti dan orang-orang kampus tidak memiliki karakter yang cukup untuk membuat perusahaan spin off ini menjadi besar. Ada terlalu banyak risiko dan kerja keras di sana. (Sementara menjadi dosen / peneliti lebih kecil risikonya.) Akibatnya seringkali pendekatan spin off ini gagal juga. Gagal maning, gagal maning.

Cerita di atas itu yang terjadi di Indonesia. Kalau di luar negeri kenapa bisa lebih mulus ya?


Selamat Datang di Dunia Nyata Penelitian

Minggu lalu saya menguji mahasiswa (S2). Dia mengerjakan banyak hal dan kesemuanya mau dimasukkan dalam (rencana) tesisnya. Saya bilang ambil salah satu dan fokus di sana. Namun itu bukan berarti bahwa dia hanya akan mengerjakan satu hal saja. Dia akan mengerjakan banyak hal tetapi hanya satu saja yang diklaim (difokuskan) sebagai topik tesisnya. Saya akan ambil contoh.

Penelitian S2 saya dulu (akhir tahun 80-an menjelang awal 90-an di Kanada) adalah tentang analisis suara pasien. Fokus dari penelitian saya adalah tentang analisis pola dari sinyal suaranya. Namun untuk mendapatkan suara dalam bentuk digital (yang bisa dimasukkan ke dalam komputer) saya harus membuat sebuah Analog to Digital Converter (ADC) card. Waktu itu belum ada soundcard. Creative Labs baru mau akan muncul dengan Soundblaster-nya.

ADC saya buat dengan menggunakan wirewrap di sebuah board kosong yang dipasang pada komputer PC (waktu itu saya lupa apakah masih menggunakan PC berbasis Intel 286 atau sudah Intel 386/SX). Kemudian saya harus membuat program dalam bahasa assembly untuk membaca data dari card tersebut dan menyimpannya ke dalam memory. Pekerjaan ini sendiri mungkin merupakan sebuah tesis tersendiri, tetapi ini bukan fokus dari penelitian saya. Jadi ini tidak diklaim terlalu banyak di dalam buku tesisnya. Padahal … kerjanya juga banyak (mungkin malah sesungguhnya lebih banyak dari tesis saya). Fokus dari penelitian saya adalah di algoritma untuk melakukan analisis pola suaranya. (Ini juga mendapat bantuan ide dari advisor saya, seorang profesor dari Bulgaria.)

Kalau penelitian saya dulu dikerjakan sekarang, mungkin tinggal buat software saja. Gampang. Jreng! Satu atau dua bulan juga selesai. Dahulu? Saya harus melakukan banyak hal (dan menghabiskan banyak waktu) sebelum bisa melakukan penelitian sesungguhnya. Hik hik hik. Sedih? Tidak. Ini mengajarkan saya tentang kehidupan dan tentang penelitian.

Dalam melakukan penelitian, kita menggunakan sumber daya (resources) yang kita miliki dan biasanya selalu jauh dari harapan. Sebagian besar penelitian yang saya tahu memang dilakukan dengan resources yang terbatas. (Bahkan Apollo pun bisa selamat karena menggunakan duct tape. he he he.)  Inilah dunia nyata penelitian. Tidak di Indonesia, tidak di luar negeri. Sama semua. Resources selalu terbatas.

Selamat datang di dunia nyata penelitian


Pemilihan Warna Untuk Grafik

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan dalam menulis sebuah laporan (karya ilmiah, tugas, thesis, dan disertasi) adalah pemilihan warna untuk grafik. Lihat contoh berikut ini.

Banyak penulis yang mengandalkan kepada warna untuk membisahkan grafik. Warna ini tidak nampak jika dokumen tersebut dicetak hitam putih atau di-fotocopy. Hasilnya seperti contoh gambar di atas.

Pada contoh gambar di atas kita masih beruntung karena hanya ada tiga (3) jenis warna kelabu. Masih bisa dibedakan meskipun harus dengan menebak. Semakin banyak jenis data yang harus dipisahkan, maka penggunaan warna menjadi kurang pas.

Salah satu solusinya adalah menggunakan arsiran sebagai ganti dari warna. Misalnya ada bagian yang diarsir dengan garis horizontal ke kanan, ada yang garis tegak ke atas, ada yang kotak-kotak, dan seterusnya. Apakah tools yang Anda gunakan bisa melakukan hal tersebut (menggunakan arsiran)?


Logbook harus ditulis tangan

Di kampus, kami mendapatkan pendanaan untuk penelitian kami. Salah satu bagian dari pelaporan kegiatan penelitian adalah adanya buku catatan penelitian (logbook). Logbook ini digunakan untuk mencatat kegiatan penelitian.

Nah, ketika kami dievaluasi tahun lalu, saya meminta maaf karena belum sempat membuat berkas elektronik (MS Word doc) untuk buku catatan. Catatan kami masih dalam format corat-coret di buku. (Kami memang selalu mencatat kegiatan penelitian kami.) Sungguh terkejut saya karena justru logbook yang ditulis tangan yang dianggap sah. Hah???

Minggu lalu juga saya melihat peneliti lain terkejut ketika diminta untuk membuat logbook dengan tulisan tangan. (Saya tidak terkejut karena sudah tahu itu tahun lalu. he he he.)

Apakah memang logbook harus ditulis tangan? Mengapa masih harus ditulis tangan? Semestinya tidak harus ya? Kan sudah ada teknologi yang bisa digunakan untuk mencatat. Notebook bisa dibawa-bawa. Apalagi sekarang sudah ada tablet. Tinggal masukkan catatan penelitian ke blog. Gitu kan?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.127 pengikut lainnya.