Salah satu pertanyaan yang sering saya terima adalah memilih tempat S3. Berikut ini adalah opini saya. Perlu saya garis bawahi kata opini karena mungkin pendapat saya berbeda dengan kebanyakan orang.
Yang pertama, saya mengusulkan agar memilih tempat S3 di luar negeri. Alasan pertama adalah untuk menambah wawasan. Global. Banyak orang yang hanya hidup di Indonesia sehingga sulit mendapatkan wawasan tentang hal-hal yang terjadi di luar negeri. Bersekolah selama beberapa tahun di luar negeri tentunya berbeda dengan wisata 2 minggu. Jauh berbeda. Ketika kita di luar negeri dan berinteraksi dengan orang setempat barulah kita dapat mengerti berbagai hal. Banyak hal yang dapat kita bawa pulang, seperti misalnya kebiasaan (sabar) mengantri, budaya meneliti, kebiasaan membaca, menghargai orang dan pendapatnya, dan seterusnya.
Yang kedua, pendidikan S3 jauh berbeda dengan S2 dan S1. S3 dituntut untuk menjadi mandiri karena kita harus melakukan penelitian sendiri, mencari literatur sendiri, membaca sendiri, mencoba mengerti sendiri, dan seterusnya. Ini menjadi masalah ketika kita tidak mengerti sesuatu (stuck). Kita membutuhkan tempat untuk berdiskusi. Di perguruan tinggi di LN, potensi kita untuk menemukan teman diskusi dalam level S3 lebih besar di bandingan di Indonesia. Mahasiswa S3 di Indonesia ada banyak yang bekerja sambilan (sebagai dosen, pejabat, dan seterusnya) sehingga tidak ada di tempat untuk diskusi. Dahulu ketika saya sedang S3, sering saya berdiskusi dengan kawan ketika sedang makan siang (hence, the back of napkin-kinda-theory) atau ketika malam hari masih di kampus (sambil menunggu redanya salju).
Internet memang bisa menjembatani hal ini, tetapi ketemu secara fisik dan berdiskusi secara langsung (sambil bawa buku, referensi, corat coret) lebih efektif. Kita bisa langsung ketemu dan membahas sesuatu, 30 menit selesai. Kalau diskusi ini dilakukan melalui internet, kemungkinan kita akan selesai dalam 3 hari. Ya tentu saja masih mendingan bisa selesai daripada tidak, bukan? Tetapi kepusingan dalam 30 menit jauh lebih baik dari pusing 3 hari.
Ketiga, penelitian S3 juga membutuhkan infrastruktur pendukung yang kadang sulit ditemukan di Indonesia. Untuk bidang tertentu yang khas Indonesia, biodiversity, bisa jadi fasilitas di Indonesia lebih bagus tetapi secara umum fasilitas di luar negeri lebih baik. Itulah sebabnya pilih perguruan tinggi dengan infrastruktur pendukung penelitian bidang kita yang memadai.
Perpustakaan perguruan tinggi di luar negeri juga lebih baik. Penelitian S3 sangat intensif dalam penggunaan pustaka. Ini merupakan hal yang esensial. Sekarang internet sangat membantu dalam hal ini. Dahulu, saya sangat kesulitan untuk mendapatkan referensi-referensi. Padahal saya sudah di luar negeri (Canada). Meskipun sudah ada internet, keberadaan fasilitas perpustakaan yang prima masih menjadi sesuatu yang sangat penting bagi S3.
Keempat, menjalankan S3 membutuhkan waktu dan atensi yang luar biasa. Kalau kita tinggal di Indonesia, seringkali banyak “gangguan” yang membuat penelitian menjadi lambat. Misalnya, kita diminta untuk mengajar, menjadi pejabat, membimbing mahasiswa, menjadi ketua RT, dan seterusnya. Semua ini membutuhkan waktu dan atensi yang seharusnya dapat digunakan untuk S3. Akibatnya S3 di Indonesia dapat menjadi sangat lambat selesainya.
Kelima, S3 (dan semestinya pendidikan lainnya) menjadi tempat untuk menjalin pertemanan. Teman-teman S3 ini dapat bermanfaat di kemudian hari ketika kita melakukan penelitian atau membutuhkan reviewer. Karena S3 di luar negeri, teman-teman kita juga biasanya global, tidak hanya dari tempat lokal saja. Memiliki perteman dalam lingkup global sangat membantu dalam dunia yang global ini.
Bagaimana mencari tempat dan pembimbing S3 yang pas? Cara yang paling mudah adalah melihat ke sekeliling. Itulah sebabnya mengambil S2 di luar negeri menjadi penting karena dia bisa menjadi jembatan untuk S3. Maksudnya ketika kita sedang mengerjakan S2 kita juga sudah lihat-lihat siapa yang cocok untuk menjadi pembimbing dan promotor S3 kita.
Cara lain yang juga lazim dilakukan adalah menghubungi profesor yang bersangkutan. Ini tentunya setelah kita melakukan riset melalui internet atau mendapatkan referensi dari rekan-rekan. Cari kampus-kampus yang punya profesor yang bagus. Kalau jaman sekarang kita dapat mengirimkan email kepada profesor bersangkutan (dengan sopan tentunya). Katakan bahwa kita tertarik untuk menjadi mahasiswa S3-nya. Umumnya responnya baik. Hal yang terburuk, ditolak. Tidak mengapa bukan?
Tidak banyak orang yang mau S3 sehingga kandidat S3 sebetulnya sangat dicari oleh berbagai universitas di dunia. Kecuali bidang tertentu yang dibatasi mahasiswa asingnya (seperti kedokteran dan hukum), biasanya perguruan tinggi di seluruh dunia sangat aktif dalam mencari mahasiswa S3. Susah mendapatkan mahasiswa S3. Itulah sebabnya kalau Anda ingin melanjutkan S3 sebetulnya ada banyak tempat yang kosong. Anda bisa memilih-milih.
Semoga tulisan ini dapat membantu Anda dalam memilih tempat untuk S3.




