Tag Archives: penelitian

Seven 2013: day 2

Gone are the days of “pair programming”. This is “quad programming”. Four heads are better than 1 or even 2.

BR day 2 quad programming 1000

It was the regular (crypto) research meeting. This time we decided to start coding, writing python code to do simple point arithmetic in elliptic curve.

This is the actual photo: wenny, rudy, mirza, and ardo.

IMG_2994 quad programming 1000


Kesabaran Dalam Menjelaskan

Salah satu kelemahan dari engineer – mungkin tidak hanya engineer ya? – adalah ketidaksabaran dalam menjelaskan. Seringkali mereka menuliskan data – yang kadang kala dalam jumlah yang banyak – tetapi tidak memberikan penjelasan apa maksudnya. Mereka merasa bahwa orang lain harusnya sudah tahu / mengerti apa yang terjadi dari data yang mereka berikan. Mosok begitu saja tidak tahu? Padahal sering kali tidak tahu.

Untuk menjelaskan hal yang teknis dibutuhkan kesabaran yang luar biasa. Seringkali pendengar atau pembaca belum (tidak) mengerti data yang kita berikan. Mereka bukan orang yang bodoh, tetapi belum mengerti saja. Misalnya, kalau saya berikan keluaran hasil scanning dari program nmap, orang yang pandai sekalipun – misal profesor di bidang Biologi – belum tentu dapat memahami maknanya. Mereka bukan orang yang bodoh, tetapi karena bukan domainnya, mereka tidak tahu. Jangankan kepada orang di bidang Biologi, orang di bidang Teknologi Informasi pun jika tidak menggeluti bidang security atau jaringan tidak akan paham keluaran dari program nmap. Setelah kita jelaskan, mereka akan paham.

port 21/tcp open …

Menjelaskan ini ternyata merupakan sebuah seni (art). Bagaimana kita dapat menjelaskan sesuatu kepada seseorang sehingga dia memahaminya, tanpa perlu harus terlalu dalam (dan lama) menjelaskannya dan pada saat yang sama tidak membuat penjelasan tersebut terlalu enteng (ringan, encer, watered down)? Kalau terlalu ringan jadinya malah diremehkan. Itu dia …

Ini semua yang membuat penulisan dokumen teknis (report writing) merupakan sebuah kemampuan yang langka.


Susahnya Memproses Big Data

Di era informasi ini kita kebanjiran dengan data. Dari data yang ukurannya raksasa-raksasa ini – big data – kita dapat mencoba mencari makna. Misalnya, adanya data status dari Facebook atau Twitter kita dapat mencoba memahami mood dari orang di Indonesia. Hanya saja ternyata untuk memproses data yang sangat besar ini tidak mudah.

Masalah yang dihadapi itu bukan kita tidak tahu rumusnya, tetapi jumlah data yang sangat banyak. Ini yang sulit dipahami oleh orang banyak. Scale does matter. Kan rumusnya sudah ada. Lantas apa susahnya untuk menghitungnya? Kalau lambat, ya tambahi komputer yang digunakan untuk menghitung. Sayangnya tidak demikian  mudah solusinya dengan hanya menambahkan hardware saja.

Sebagai contoh, menghitung rata-rata dari 10 buah bilangan dapat dikatakan mudah. Menghitung rata-rata dari 70 juta bilangan dapat dikatakan tidak mudah. he he he.

Itulah sebabnya akhir-akhir ini IEEE banyak membahas tentang big data ini. Memang ini eranya dan memang masih ada masalah (sumber daya komputasi) untuk memproses big data ini.


Topik Minggu Ini, Kriptografi

Entah kenapa, topik yang paling banyak saya bahas di kelas dan juga dalam bimbingan mahasiswa adalah kriptografi. Kebetulan memang kuliah yang saya ajarkan adalah kuliah keamanan, tetapi keamanan tidak selalu identik dengan kriptografi. Mungkin saja memang ini hanya kebetulan, karena ini sudah memasuki pertengahan perkuliahan.

Pembahasan kriptografi yang saya lakukan mulai dari sejarahnya dulu, kemudian beranjak ke konsep yang lebih susah. Mulai dari kriptografi kunci privat sampai ke kriptografi kunci publik. Mulai dari algoritma DES sampai ke RSA. ECC hanya disentuh sedikit di kelas tetapi banyak didiskusikan pada peneltian. Ada beberapa mahasiswa yang akan meneliti soal ini. Kelompok penelitian kami pun sedang melakukan penelitian tentang serangan terhadap ECC dengan menggunakan metoda Pollard rho dan/atau Pollard lamda. Seru dan pusing. Untungnya tim kami terdiri dari orang dengan berbagai latar belakang.

Yang bikin puyeng juga adalah menjelaskannya kepada mahasiswa. Ada beberapa hal yang menurut saya sangat gamblang ternyata membingungkan bagi banyak orang. Memang dulu saya juga sempat bingung dan sekarang lupa lagi. he he he. Mencoba untuk membuat kriptografi mudah dipahami dan menyenangkan. Mari ah.


Asal Mengutip

Lucu juga membaca tulisan mahasiswa yang asal mengutip. Sebetulnya buku lucu, mungkin lebih tepatnya meringis. hi hi hi. Ada mahasiswa yang asal mengutip dalam tulisan di makalahnya. Dia tidak tahu bahwa kutipannya salah. Sebetulnya apakah dia memang benar-benar membaca tulisan yang dia kutip tersebut? Atau, dia mengutip tanpa membaca naskah aslinya dan sekedar mengandalkan pendapat orang.

Ada juga orang takut salah dalam memahami kutipan, maka dia tulis semua yang dia kutip. Setiap katanya. Lengkap dengan titik komanya. Sayangnya yang ini justru menunjukkan bahwa dia tidak mampu untuk memahami tulisan tersebut. Alih-alih takut salah, malah dianggap tidak mampu.

Jadi bagaimana cara yang baik dalam mengutip? Pertama, baca dulu tulisannya. Kemudian coba pahami maksudnya. Baca lagi. Pahami lagi. Coba tuliskan pemahaman kita dengan bahasa kita. Kalau perlu, diskusikan dengan teman-teman secara informal. (Inilah mengapa perlu mencari teman seperjalanan dalam penelitian.)  Jadi mengutip itu tidak sekedar copy-and-paste saja.

Mengutip itu merupakan hal yang umum. Tidak mungkin kita melakukan penelitian semuanya berasal dari diri kita sendiri. Pasti ada hasil-hasil peneliti lain yang kita rujuk. Sebagai rasa hormat, maka etikanya adalah kita berikan penghargaan kepada mereka-mereka yang kita kutip. Maka, kemampuan mengutip itu sangat esensial.


(mahasiswa dan) Menulis Makalah

Saya sedang memeriksa tugas makalah mahasiswa sebagai bagian dari tugas mereka. Sayang sekali hasilnya tidak begitu baik. Misalnya masalah yang sering muncul adalah tidak mengerti bagaimana menggunakan referensi; tidak tahu cara mengutip dan menuliskan referensi. Padahal ini adalah bagian yang paling penting dalam dunia akademik.

Untuk mengetahui cara mengutip makalah dan menuliskannya dalam daftar referensi dapat dilakukan dengan membaca banyak makalah. Untuk mahasiswa pasca sarjana (S2, S3) tidak ada alasan untuk tidak membaca makalah. Kalau kita membaca banyak makalah, terbayanglah bagaimana pakem-pakem untuk menggunakan makalah. Kemudian kita baca aturan yang digunakan untuk kuliah / konferensi / jurnal yang bersangkutan. Ini semua ada aturannya. Tidang ngasal. Kalau tidak pernah baca makalah, ya bagaimana mau tahu? Setidaknya bacalah 100 makalah, gitu.

Mengutip juga harus dipelajari. Pengetahuan ini tidak dapat timbul dengan serta merta. Harus banyak berlatih. Salah mengutip dapat dianggap sebagai plagiat. Yang ini fatal akibatnya. Sayangnya hal ini sering dianggap remeh.

Mengutip itu tidak sama dengan menerjemahkan. Ada mahasiswa yang nekad mencoba menerjemahkan makalah. Memangnya tidak ketahuan? he he he. Ini sama dengan anak SD Indonesia yang mencoba menerjemahkan tulisan dari bahasa Perancis, misalnya. Ya bakalan ketahuanlah kalau menerjemahkan. he he he. Kalau hanya sekedar menerjemahkan sudah ada Google.

Di dunia akademik, Anda dinilai dari tulisannya. Tidak dapat menulis sama dengan tidak lulus. Titik.

Bagi mahasiswa saya yang sedang saya periksa tugasnya, silahkan perbaiki dahulu sebelum saya nilai.


Salah Presentasi (Mahasiswa)

Dalam penjurian APICTA, saya duduk menjadi juri di bagian proyek mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Asia Pasifik. Berbagai hasil karya mahasiswa dipresentasikan; mulai dari desain web, games, sampai robot dan aplikasi embedded system lainnya. Hasil karyanya sebagian besar bagus-bagus. Masalahnya adalah dalam presentasi mereka.

Sebagian besar, atau malah boleh dikatakan hampir semua, peserta mengalami masalah dalam presentasinya. Yang paling sering terjadi adalah salah arah (misguided). Saya ambil contoh agar lebih jelas saja. Mahasiswa mempresentasikan topik keamanan dalam berkendaraan (atau kendaraan yang memiliki fitur keamanan), yaitu mendeteksi kalau pengemudinya mabuk atau lelah. Salah satu hal yang mereka lakukan adalah mengamati jalan dan membantu mobil mengamati jalannya. Untuk itu mereka harus membuat sebuah jalur. Path finder, kira-kiranya.

Sebetulnya inovasi mereka adalah pada ide, algoritma, dan trik dalam membuat jalur tersebut. Semestinya ini yang mereka tampilkan. Fokus. Namun mahasiswa mempresentasikan bahwa sistem mereka membantu keamanan pengendara. Pada presentasinya pun tidak dijelaskan kaitan antara path finder mereka dengan keamanan. Jadi mereka lebih banyak cerita kepada konteks, tetapi tidak pada inovasi mereka sendiri. Padahal yang dinilai adalah inovasi mereka.

Ada banyak contoh lain yang serupa. Mungkin mahasiswa ini ketakutan karyanya dianggap kecil efek atau manfaatnya? Padahal justru¬† yang kecil-kecil, tetapi cerdas (clever), inilah yang menarik dari karya mahasiswa. Kita tahu bahwa mereka tidak akan membuat produk yang setingkat dengan kualitas buatan perusahaan. Di sisi lain, kita juga sadar bahwa seringkali mahasiswa menemukan ide yang lebih cerdas dari perusahaan. Coba saja kalau sang mahasiswa fokus kepada inovasinya…

Begitu oleh-oleh dari penjurian kali ini.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.836 pengikut lainnya.