Tag Archives: penelitian

Salah Presentasi (Mahasiswa)

Dalam penjurian APICTA, saya duduk menjadi juri di bagian proyek mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Asia Pasifik. Berbagai hasil karya mahasiswa dipresentasikan; mulai dari desain web, games, sampai robot dan aplikasi embedded system lainnya. Hasil karyanya sebagian besar bagus-bagus. Masalahnya adalah dalam presentasi mereka.

Sebagian besar, atau malah boleh dikatakan hampir semua, peserta mengalami masalah dalam presentasinya. Yang paling sering terjadi adalah salah arah (misguided). Saya ambil contoh agar lebih jelas saja. Mahasiswa mempresentasikan topik keamanan dalam berkendaraan (atau kendaraan yang memiliki fitur keamanan), yaitu mendeteksi kalau pengemudinya mabuk atau lelah. Salah satu hal yang mereka lakukan adalah mengamati jalan dan membantu mobil mengamati jalannya. Untuk itu mereka harus membuat sebuah jalur. Path finder, kira-kiranya.

Sebetulnya inovasi mereka adalah pada ide, algoritma, dan trik dalam membuat jalur tersebut. Semestinya ini yang mereka tampilkan. Fokus. Namun mahasiswa mempresentasikan bahwa sistem mereka membantu keamanan pengendara. Pada presentasinya pun tidak dijelaskan kaitan antara path finder mereka dengan keamanan. Jadi mereka lebih banyak cerita kepada konteks, tetapi tidak pada inovasi mereka sendiri. Padahal yang dinilai adalah inovasi mereka.

Ada banyak contoh lain yang serupa. Mungkin mahasiswa ini ketakutan karyanya dianggap kecil efek atau manfaatnya? Padahal justru¬† yang kecil-kecil, tetapi cerdas (clever), inilah yang menarik dari karya mahasiswa. Kita tahu bahwa mereka tidak akan membuat produk yang setingkat dengan kualitas buatan perusahaan. Di sisi lain, kita juga sadar bahwa seringkali mahasiswa menemukan ide yang lebih cerdas dari perusahaan. Coba saja kalau sang mahasiswa fokus kepada inovasinya…

Begitu oleh-oleh dari penjurian kali ini.


Jurnal Abal-Abal

Akhir-akhir ini saya sering mendapat email undangan untuk mengirimkan makalah ke berbagai jurnal. Yang membuat saya khawatir adalah kualitas dari jurnal ini. Saya khawatir jurnal-jurnal ini abal-abal.

Ada kejadian seorang kawan yang mengirimkan makalahnya ke sebuah jurnal dan setelah diterima baru tahu bahwa jurnalnya itu abal-abal (dan mungkin sudah masuk ke daftar hitam?). Jelas makalah ini tidak dapat diklaim ke dalam daftar publikasi kita. Bahkan kemudian ada tuduhan bahwa yang bersangkutan memang sengaja mengirimkan ke jurnal abal-abal agar daftar publikasinya bertambah. Padahal yang bersangkutan adalah korban. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Satu hal yang saya pegang saat ini adalah tidak mengirimkan ke jurnal yang tidak kita kenal. Setidaknya tanya-tanya dulu ke peneliti lain (yang satu bidang dengan kita) mengenai kualitas jurnal yang akan kita kirimkan. Lebih baik berhati-hati daripada kepala benjol kena tangga.


Topik (Penelitian) Yang Sedang Ngetop

Nampaknya sekarang ada (terlalu) banyak penelitian yang bertopik “social network”. Pokoknya semua dikait-kaitkan dengan media sosial. Lantas semua menjadi “pakar”. Hi hi hi.

Jadi ingat kalau jaman dahulu sempat juga terjadi tren topik penelitian “neural networks”. Those were the days. Sekarang pada kemana yang meneliti topik itu ya?


Musik dan Elektronik

Terpicu oleh sebuah diskusi di milis tentang musik, saya mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah saya lakukan terkait dengan musik. Latar belakang akademik saya terkait dengan elektronika dan komputer. Musik bagi saya adalah hobby tetapi juga passion. Saya belum berani melakukan hal-hal yang terkait dengan musik secara akademik. Namun itu bukan berarti saya tidak peduli lho.

Ketika bersekolah di Kanada dahulu saya sempat mengambil kuliah Computer Music, yang diselenggarakan di departemen musik. Saya ingin mengetahui banyak hal yang terkait dengan hal itu. Memang kuliahnya menarik. Kami diajari tentang sound. Ada tugas untuk mendengarkan karya John Cage, “musik” eksperimental itu. Avant-garde. Seru juga. Ini sangat jauh dari musik pop. Kemudian kami juga diajarkan tentang bagaimana menghasilkan suara instrumen secara elektronik, seperti yang digunakan pada synthesizers dan keyboard.

Saya juga sempat berkolaborasi dengan seorang musisi (gitaris) yang berencana untuk membuat software musik. Waktu itu kami sama-sama tertarik tentang bagaimana mendeteksi pitch secara real-time. Idenya adalah seorang penyanyi dapat mengendalikan keyboard (via MIDI) dengan cara bernyanyi. Harus ada sebuah alat yang melakukan pitch tracking.

Saya akhirnya harus membuat soundcard sendiri dengan menggunakan komponen elektronika yang tersedia dan melakukan wirewrap di PCB sendiri. Ini waktu jaman sebelum ada Soundblaster dari Creative Labs itu. Saya juga harus membuat driver softwarenya sendiri yang berjalan di atas MS-DOS. Akhirnya saya juga membuat chip untuk pitch tracking tetapi saya gunakan untuk aplikasi biomedik, yang ini kemudian menjadi basis penelitian S2 saya waktu itu. Dari musik dipelesetkan ke medis. hi hi hi.

Secara keilmuan nampaknya harus ada kolaborasi dari orang teknis – dengan latar belakang elektronika, pemrograman – dan orang musik ya. Sebetulnya ini bukan hal yang baru. Lihat saja Dr. Moog, yang terkenal dengan Moog synthesizersnya. Atau lihat juga Ray Kurzweil dengan keyboard Kurzweil yang memiliki sound luar biasa.

Sayangnya kolaborasi seperti ini belum terjadi di Indonesia. Suatu saat?


Masih Banyak Yang Harus Diteliti

Tadi diskusi dengan mahasiswa bimbingan (S2 dan S3). Ternyata masih banyak hal yang harus diteliti. Ini yang membuat penelitian menarik, yaitu selalu ada pertanyaan-pertanyaan baru. Bagi yang hanya menginginkan jawaban, mungkin hal ini akan menjadi hal yang menyebalkan, tetapi bagi seorang peneliti justru hal ini yang menjadi drive (pendorong) untuk bangun setiap hari. Hore … hari ini aku akan mencoba mencari jawaban atas pertanyaan anu.

Langsung banyak yang dipikirkan. Ide-ide, pertanyaan-pertanyaan, dan things-to-do ini harus didokumentasikan. Saat ini saya hanya mengandalkan kepada buku “logbook” fisik yang berisikan corat-coret tanpa struktur. Untuk sekedar memformulasikan pertanyaannyapun ternyata tidak mudah. Baiklah kalau begitu. If I have to do it, I have to do it.


Social Network Itu Ilmunya Apa?

Jejaring sosial (social network) sekarang telah menjadi sebuah fenomena. Saya tertarik untuk meneliti itu dari segi keilmuan. Sudah ada mahasiswa saya yang meneliti itu dalam tingkat S1 dan S2. Sekarang saya sedang mulai membimbing mahasiswa S3 untuk meneliti bidang itu. Masalahnya adalah sebetulnya secara keilmuan “social network” itu masuk ke bagian ilmu apa?

Saya berpendapat bahwa ini adalah sebuah topik yang dapat digarap secara bersama dengan ilmu yang berbeda-beda. Sebagai contoh, kami mencoba melihatnya dari kacamata social network metric yang diterjemahkan secara formal dalam bentuk graph. Grup kami berada dalam kerangka Teknik Komputer. Menurut Anda, apakah bidang yang kami teliti ini sudah pas dengan keilmuan kami?


(masih) Salah Menulis

Istirahat sejenak dalam memeriksa tugas mahasiswa. Phew.

Hampir semua kesalahan yang terjadi adalah (1) tidak tahu bagaimana mengutip, (2) tidak tahu cara menuliskan referensi, (3) tidak menyebutkan sumber gambar. Mari kita lihat satu persatu.

Tidak tahu cara mengutip. Sebagian besar makalah yang saya periksa memiliki daftar pustaka, tetapi tidak jelas kapan daftar pustaka itu dikutip (refer) di dalam tulisannya. Tidak ada kutipan satupun dalam tulisannya. Hebat sekali. Apakah semua ide yang ada pada tulisan itu semuanya ide sang penulis? Masalahnya, kalau sang penulis menuliskan sesuatu dan tidak menyebutkan sumbernya maka seolah-olah dialah yang memikirkannya. Klaim seperti ini berbahaya karena dapat dianggap sebagai penipuan atau plagiat.

Hal kedua adalah soal menuliskan daftar pustaka. Daftar pustaka ada di sana agar pembaca lain dapat menelusuri sumbernya. Kalau hanya saya tulis “Budi Rahardjo, Firewall”, maka Anda akan bingung. Ini apa buku? Makalah? Tesis? Artikel? Atau apa? Kemudian, bagaimana memperoleh referensi itu? Apakah ada di perpustakaan? Di internet? Atau dimana? Ada tata cara penulisan yang membuat pembaca mudah mengidentifikasi sumber referensi dan bagaimana mendapatkannya.

Hal yang terkait dengan kesalahan penulisan referensi adalah penggunaan referensi online. Meskipun referensi itu online, tetap kaidah yang baku harus digunakan. Ada PENULIS dan JUDUL dari tulisannya. Tidak boleh hanya sekedar URL saja.

Yang terakhir, soal menuliskan sumber gambar. Adanya internet dan search engine memudahkan kita untuk mencari gambar. Misalnya saya ingin memasukkan gambar “smartcard”, maka saya tinggal menggunakan internet dan memasang gambar tersebut di makalah saya. Ini merupakan pelanggaran. Yang bagus adalah kita minta ijin dulu kepada pemilik gambar tersebut dan kemudian menuliskan sumbernya dalam makalah kita. Sumber gambar juga harus lengkap, tidak bisa sekedar URL awal (base URL) saja.

Semoga tulisan kecil ini dapat membantu Anda dalam memperbaiki makalah Anda.


Ngarang Buat Alat

Di sebuah ujian tugas akhir mahasiswa.

Mahasiswa: saya membuat firewall yang bisa melakukan ini dan itu
Penguji: sudah pernah menggunakan atau melihat firewall beneran?
Mahasiswa: beluuummm
Penguji: ??? [pingsan]


Unit Pelayanan Karya Ilmiah

Disadari bahwa jumlah karya ilmiah (dalam bentuk makalah) kita masih sangat kurang. Ada usulan untuk meningkatkan jumlah karya ilmiah. Bahkan ada aturan yang mewajibkan penulisan karya ilmiah. Hal-hal ini semua berorientasi kepada hasil, yaitu jumlah karya ilmiah, tetapi tidak memperhatikan prosesnya. Tulisan ini mengusulkan sebuah ide untuk mendukung proses pembuatan karya ilmiah.

Idenya adalah adanya sebuah unit yang memberikan layanan untuk membantu pengembangan karya ilmiah. Unit ini seyogyanya dimiliki oleh setiap perguruan tinggi. Unit ini memberikan beberapa layanan.

Layanan Infrastruktur

  1. Menyediakan template untuk berbagai wordprocessor (MS Word, OpenOffice, LibreOffice) and text processing (lyx, latex) untuk berbagai jurnal populer dan jurnal setempat.
  2. Menyediakan buku-buku / referensi tentamg tata cara penulisan karya ilmiah dan tentang tata cara mengutip.

Layanan Pelatihan

  1. Menyediakan pelatihan penulisan karya ilmiah
  2. Menyediakan pelatihan Bahasa Indonesia untuk penulisan karya ilmiah
  3. Menyediakan pelatihan Bahasa Inggris untuk penulisan karya ilmiah

Layanan Konsultasi

  1. Menyediakan layanan review makalah (dari sisi struktur dan bahasa)
  2. Menyediakan layanan pencarian referensi (dengan bantuan pustakawan)

Unit ini dibuat secara permanen oleh pihak perguruan tinggi dengan pekerja yang profesional dan full time.

Adanya unit yang diusulkan di atas sangat membantu mahasiswa, dosen, dan perguruan tinggi dalam menghasilkan karya ilmiah. Harapannya adalah rintangan-rintangan yang ditemui dalam pembuatan makalah dapat dihindari sehingga civitas dapat lebih cepat menghasilkan karya ilmiah. Secara tidak langsung hal ini juga dapat meningkatkan jumlah karya ilmiah.


Acara Hari Ini: Open House KK Elektronika


Memilih Topik S3

Bagaimana memilih topik S3? Topik apa saja yang cocok untuk S3? Apakah topik S3 harus merupakan kelanjutan dari topik S2? Ini adalah beberapa contoh pertanyaan yang saya terima soal topik S3.

Pertama, soal memilih topik. Biasanya pemilihan topik itu dapat diberikan dari promotor / pembimbing. Anda, sebagai mahasiswa S3, tertarik dengan topik tersebut dan kemudian memilih topik itu. Pendekatan lain adalah calon mahasiswa S3 sudah memiliki sebuah topik kemudian mencari promotor yang dirasa sesuai dengan bidang itu. Atau bisa juga merupakan kombinasi dari keduanya. Umumnya, nanti di perjalanan akan ada perubahan yang disebabkan oleh temuan baru atau malah dinding yang sulit untuk didobrak. Jadi jangan terlalu ngotot di awal. Beri ruang untuk perubahan-perubahan. Tentu saja sebaiknya Anda tidak kosong (blank) soal topik ketika memulai S3. Harus ada perkiraan topik.

Kedua, topik apa saja yang cocok untuk S3? Kebanyakan orang tidak dapat membayangkan sejauh apa atau sedalam apa topik S3. Maklum, calon mahasiswa S3 ini kan belum pernah S3 dan S3 itu sangat jauh berbeda dengan S2. Untuk skala lebih susahnya, bisa saya katakan bahwa S3 itu bisa 3 sampai 10 kali lebih susah dari S2. Siapkan mental Anda (dan keluarga) untuk menghadapi itu.

Topik yang bersifat praktis biasanya kurang cocok untuk S3. Ada faktor akademik yang harus muncul dalam penelitian S3. Ambil contoh. Melakukan konfigurasi routing di sebuah router bisa sangat teknis sekali, tetapi ini belum cukup untuk dikatakan penelitian S3. Memodelkan routing dengan sebuah notasi formal (some kind of mathematical notation) kemudian menggunakannya untuk mencari algoritma shortest path antara dua node dalam jaringan (yang mungkin memiliki gangguan – sehingga harus mengubah routing, ada beda cost antara routing yang harus dicapai, dan ada batasan waktu untuk mengambil keputusan). Nah, yang ini barus bisa dikatakan sebuah topik penelitian S3.

Penelitian S3 harus memberikan sebuah kebaharuan. Nah ini yang paling sulit. Ketika kita memulai penelitian kita belum tahu peta rincinya. Setelah melakukan penelitian baru sadar bahwa apa yang akan kita lakukan sudah ada yang melakukannya dan bahkan lebih baik dari apa yang kita pikirkan! Hal ini mungkin baru kita sadari setelah 1/2 perjalanan. Mau berhenti sudah tanggung. Mau diteruskan, lantas kontribusinya apa? Kalau kita beruntung, kita dapat cepat lolos. Kalau belum beruntung, maka waktu yang ada menjadi siksaan bagi kita. Maka banyak mahasiswa S3 yang stress.

Apakah topik S3 harus merupakan kelanjutan topik S2? Tidak. Hanya saja kalau beda topik maka akan ada usaha untuk belajar foundation yang akan menghabiskan waktu. Kalau topik S3 merupakan kelanjutan topik S2, maka investasi belajar teori di S2 bisa dinikmati pada S3. Hanya saja saya melihat lebih banyak topik S3 yang berbeda dengan topik S2.

Demikian secara singkat tentang topik S3.

Oh ya, tidak semua orang harus S3. Kontribusi bisa dilakukan tanpa S3 dan umumnya demikian (tanpa S3).


Memilih Tempat S3

Salah satu pertanyaan yang sering saya terima adalah memilih tempat S3. Berikut ini adalah opini saya. Perlu saya garis bawahi kata opini karena mungkin pendapat saya berbeda dengan kebanyakan orang.

Yang pertama, saya mengusulkan agar memilih tempat S3 di luar negeri. Alasan pertama adalah untuk menambah wawasan. Global. Banyak orang yang hanya hidup di Indonesia sehingga sulit mendapatkan wawasan tentang hal-hal yang terjadi di luar negeri. Bersekolah selama beberapa tahun di luar negeri tentunya berbeda dengan wisata 2 minggu. Jauh berbeda. Ketika kita di luar negeri dan berinteraksi dengan orang setempat barulah kita dapat mengerti berbagai hal. Banyak hal yang dapat kita bawa pulang, seperti misalnya kebiasaan (sabar) mengantri, budaya meneliti, kebiasaan membaca, menghargai orang dan pendapatnya, dan seterusnya.

Yang kedua, pendidikan S3 jauh berbeda dengan S2 dan S1. S3 dituntut untuk menjadi mandiri karena kita harus melakukan penelitian sendiri, mencari literatur sendiri, membaca sendiri, mencoba mengerti sendiri, dan seterusnya. Ini menjadi masalah ketika kita tidak mengerti sesuatu (stuck). Kita membutuhkan tempat untuk berdiskusi. Di perguruan tinggi di LN, potensi kita untuk menemukan teman diskusi dalam level S3 lebih besar di bandingan di Indonesia. Mahasiswa S3 di Indonesia ada banyak yang bekerja sambilan (sebagai dosen, pejabat, dan seterusnya) sehingga tidak ada di tempat untuk diskusi. Dahulu ketika saya sedang S3, sering saya berdiskusi dengan kawan ketika sedang makan siang (hence, the back of napkin-kinda-theory) atau ketika malam hari masih di kampus (sambil menunggu redanya salju).

Internet memang bisa menjembatani hal ini, tetapi ketemu secara fisik dan berdiskusi secara langsung (sambil bawa buku, referensi, corat coret) lebih efektif. Kita bisa langsung ketemu dan membahas sesuatu, 30 menit selesai. Kalau diskusi ini dilakukan melalui internet, kemungkinan kita akan selesai dalam 3 hari. Ya tentu saja masih mendingan bisa selesai daripada tidak, bukan? Tetapi kepusingan dalam 30 menit jauh lebih baik dari pusing 3 hari.

Ketiga, penelitian S3 juga membutuhkan infrastruktur pendukung yang kadang sulit ditemukan di Indonesia. Untuk bidang tertentu yang khas Indonesia, biodiversity, bisa jadi fasilitas di Indonesia lebih bagus tetapi secara umum fasilitas di luar negeri lebih baik. Itulah sebabnya pilih perguruan tinggi dengan infrastruktur pendukung penelitian bidang kita yang memadai.

Perpustakaan perguruan tinggi di luar negeri juga lebih baik. Penelitian S3 sangat intensif dalam penggunaan pustaka. Ini merupakan hal yang esensial. Sekarang internet sangat membantu dalam hal ini. Dahulu, saya sangat kesulitan untuk mendapatkan referensi-referensi. Padahal saya sudah di luar negeri (Canada). Meskipun sudah ada internet, keberadaan fasilitas perpustakaan yang prima masih menjadi sesuatu yang sangat penting bagi S3.

Keempat, menjalankan S3 membutuhkan waktu dan atensi yang luar biasa. Kalau kita tinggal di Indonesia, seringkali banyak “gangguan” yang membuat penelitian menjadi lambat. Misalnya, kita diminta untuk mengajar, menjadi pejabat, membimbing mahasiswa, menjadi ketua RT, dan seterusnya. Semua ini membutuhkan waktu dan atensi yang seharusnya dapat digunakan untuk S3. Akibatnya S3 di Indonesia dapat menjadi sangat lambat selesainya.

Kelima, S3 (dan semestinya pendidikan lainnya) menjadi tempat untuk menjalin pertemanan. Teman-teman S3 ini dapat bermanfaat di kemudian hari ketika kita melakukan penelitian atau membutuhkan reviewer. Karena S3 di luar negeri, teman-teman kita juga biasanya global, tidak hanya dari tempat lokal saja. Memiliki perteman dalam lingkup global sangat membantu dalam dunia yang global ini.

Bagaimana mencari tempat dan pembimbing S3 yang pas? Cara yang paling mudah adalah melihat ke sekeliling. Itulah sebabnya mengambil S2 di luar negeri menjadi penting karena dia bisa menjadi jembatan untuk S3. Maksudnya ketika kita sedang mengerjakan S2 kita juga sudah lihat-lihat siapa yang cocok untuk menjadi pembimbing dan promotor S3 kita.

Cara lain yang juga lazim dilakukan adalah menghubungi profesor yang bersangkutan. Ini tentunya setelah kita melakukan riset melalui internet atau mendapatkan referensi dari rekan-rekan. Cari kampus-kampus yang punya profesor yang bagus. Kalau jaman sekarang kita dapat mengirimkan email kepada profesor bersangkutan (dengan sopan tentunya). Katakan bahwa kita tertarik untuk menjadi mahasiswa S3-nya. Umumnya responnya baik. Hal yang terburuk, ditolak. Tidak mengapa bukan?

Tidak banyak orang yang mau S3 sehingga kandidat S3 sebetulnya sangat dicari oleh berbagai universitas di dunia. Kecuali bidang tertentu yang dibatasi mahasiswa asingnya (seperti kedokteran dan hukum), biasanya perguruan tinggi di seluruh dunia sangat aktif dalam mencari mahasiswa S3. Susah mendapatkan mahasiswa S3. Itulah sebabnya kalau Anda ingin melanjutkan S3 sebetulnya ada banyak tempat yang kosong. Anda bisa memilih-milih.

Semoga tulisan ini dapat membantu Anda dalam memilih tempat untuk S3.


Penelitian

Salah satu hal yang menarik dari melakukan penelitian adalah menemukan hal-hal yang baru. Maksudnya yang baru ini bisa jadi bukan hal yang baru bagi peneliti yang sudah meneliti bidang tersebut terlebih dahulu, tetapi baru bagi kami yang baru terjun ke topik tersebut. Hal baru, ini yang membuatnya menarik.

Sering kali juga kita mengalami kebuntuan. Nah, kalau ini terjadi memang kita menjadi kesal, tetapi di sisi lain kita tertantang untuk mencari jalan keluarnya. Lagi-lagi ini yang membuat penelitian menjadi menarik.

Yang menyedihkan adalah ada orang yang meneliti hanya untuk mencari dana penelitiannya saja. Sesunguhnya dia tidak tertarik untuk meneliti. Tidak excited. Kalau ini yang terjadi, sungguh sangat menyedihkan.


Mengurutkan Daftar Pustaka

Penulisan daftar pustaka dalam karya ilmiah tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Ada standar atau aturan yang harus diikuti. Banyak mahasiswa yang tidak tahu (dan tidak mau tahu) tentang cara penulisan daftar pustaka ini. Kali ini kita bahas tentang urutan daftar pustaka.

Pengurutan daftar pustaka dapat dilakukan berdasarkan:

  1. urutan kemunculannya;
  2. nama keluarga (family name) dari pengarangnya.

Masih banyak yang mengurutkan daftar pustaka seenaknya karena ketika membuat tulisan tersebut daftar pustakanya berkembang. Jadi urutannya berubah terus. Akhirnya penulis tidak mengurutkan. Ini salah besar. Ada juga yang mengurutkan berdasarkan nama pertama dari penulisnya. Ini jarang saya temukan, tetapi ini tidak lazim.

Sekarang Anda sudah tahu tentang hal ini, maka tidak ada maaf lagi kalau Anda salah mengurutkan daftar pustaka. :D


Perlukah Saya Mengambil S3?

Ada beberapa orang yang menanyakan saya soal S3. Setelah saya jawab satu persatu ternyata pertanyaannya berulang. Untuk itu saya coba tuliskan di sini saja ya. Apa yang saya tuliskan ini adalah opini pribadi saya saat ini. Sayangnya mungkin opini ini bertentangan dengan beberapa pihak (dan juga keinginan saya sendiri). Saya tuliskan apa adanya.

Pertama, perlu tidaknya S3. Menurut saya jika Anda berencana untuk menjadi dosen atau peneliti (researcher), maka nampaknya S3 merupakan sesuatu yang pantas untuk dikejar. Selain dari itu menurut saya tidak perlu S3. S3 hanya menghabiskan waktu yang bisa Anda gunakan untuk hal yang lain (karir, menghasilkan produk, pengalaman, dan lain-lain).

Katakanlah memang Anda memang sudah ingin S3, ke mana sebaiknya? Untuk pertanyaan ini ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, S3 itu membutuhkan kemandirian dan lingkungan yang mendukung S3 kita. Yang pertama adalah adanya promotor yang mendukung. Lupakan hal yang lain jika ini tidak terpenuhi. Hidup Anda akan susah dengan promotor yang tidak mendukung dan bahkan merongrong. Di Indonesia ada banyak promotor yang sulit ditemui. Ini menjadi masalah.

Hal berikutnya adalah keberadaan infrastruktur dan lingkungan yang mendukung. Kalau dahulu, sebelum jaman internet, keberadaan perpustakaan sangat penting. Itulah sebabnya akan sangat susah S3 di Indonesia yang perpustakaannya kurang baik. Untuk penelitian yang membutuhkan peralatan, pastikan tempat yang dituju memiliki peralatan tersebut.

Di karenakan hal yang di atas, maka saya biasanya menyarankan mahasiswa untuk mengambil S3 di luar negeri. Sayang sekali memang – SDM Indonesia lari ke luar negeri. Apa boleh buat. Daripada saya menjerumuskan Anda? Kemudian Anda “terpenjara” dengan S3 Anda yang di Indonesia?

Hal lain yang penting juga adalah “network” dengan sesama peneliti. Lagi-lagi hal ini lebih menguntungkan Anda jika Anda berada di luar negeri yang memiliki banyak peneliti. Ini merupakan hal yang penting karena ketika mengerjaan S3 Anda membutuhkan teman untuk berdiskusi. Seriously.

S3 di luar negeri juga memberikan wawasan tentang hidup di negara lain. Ini dapat membuka mata kita tentang bagaimana kehidupan yang lebih baik. Pengalaman baik bisa dibawa pulang. Tentu saja yang buruk ditinggalkan.

Namun ada kalanya Anda terpaksa mengambil S3 di Indonesia, seperti misalnya Anda harus mengajar dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan mengajar. Atau Anda memiliki keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Nah untuk hal seperti ini terpaksa Anda melakukan S3 di Indonesia. Hanya saja perlu saya wanti-wanti siapkan mental. S3 mungkin 10 atau 100 kali lebih susah dari S1 atau S2. Siapkah Anda (dan keluarga)?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.931 pengikut lainnya.