Arsip Tag: politik

Republik Sinetron

Sebetulnya saya tidak suka menulis blog dengan topik yang sedang ngetrend. Harus topik yang lain. Namun kali ini saya terpaksa menulis sesuatu yang sedang ngetrend. Ini tentang pencalonan Gubernur Jawa Barat.

Kalau dilihat dari daftar calon, ternyata kebanyakan adalah artis. Tanpa bermaksud mengecilkan para artis ini, saya hanya bertanya-tanya mengapa demikian? Apakah mereka tidak punya pekerjaan lain? Saya pikir tadinya passion mereka adalah di seni. Secara mereka sebagai aktor / aktris begitu. Apakah pekerjaan mereka sebelumnya itu hanya dolanan? Mengapa mereka tidak menekuni hal itu sampai akhir hayatnya?

Cara para artis ini menjadi calon bagi partai politik itu juga menurut saya mengecilkan peran kader-kader parpol yang sudah membina karir mereka di sana. Bahkan bisa jadi politik memang passion dari para kader ini. Setidaknya, para kader ini lebih lama menimba ilmu politiknya. Tiba-tiba mereka terdepak begitu saja? Demi partai, demikian mungkin alasannya? Saya yakin banyak yang sakit hati.

Mungkin memang Indonesia kita ini adalah Republik Sinetron. Hanya itu alasan logis yang dapat saya terima.


Diskusi Ekonomi dan Politik

Akhir-akhir ini berbagai mailing list dibahas tentang topik ekonomi dan politik. Adalah diskusi tentang neolib (what the heck is that? do I have to care?). Mungkin karena mendekati pemilihan presiden sehingga topik ini dibahas?

Terus terang topik tersebut tidak terlalu menarik bagi saya karena sudah terlalu banyak yang membahasnya dengan tidak jelas. Belum lagi yang membahasnya adalah orang-orang yang bukan bidangnya. ha ha ha. Ditambah lagi diskusinya dilakukan di milis umum, yang bukan spesifik untuk membahas masalah itu. Akhirnya, saya selalu menekan tombol delete untuk setiap email yang bersubyek seperti itu.

Delete, delete, delete …


Gundah Melihat Parpol

Sebetulnya saya sedikit gundah melihat poster partai politik, yang mana mereka merepresentasikan calon orang-orang yang merepresentasikan kita. Saya yakin sebagian besar kita tidak peduli dengan mereka. Apakah ini hal yang baik (tidak peduli)? Jika awalnya sudah seperti dagelan, apakah kita bisa berharap mereka akan serius?

Mau peduli juga kita sudah lelah. Capek. Soalnya yang serius saja hasilnya juga dagelan. he he he. Maaafff… guyon saja.

Jadi bagaimana baiknya?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.081 pengikut lainnya.