Tag Archives: postaday2012

Traffic Palsu

Banyak orang yang bertanya bagaimana cara untuk mendapatkan banyak kunjungan ke halaman web (situs, facebook, dan sejenisnya). How to generate traffic? Jawabannya umumnya adalah SEO (search engine optimization), adwords, dan beli traffic. Sangat mudah untuk membuat robot yang menghasilkan traffic.

Jawaban di atas menurut saya adalah jawaban semu. Orang lupa bahwa sesungguhnya yang dicari bukan lalu lintasnya, melainkan orang beli barang yang ada di situs kita, atau orang menjadi lebih tertarik kepada isinya, belajar lebih banyak, terjadi diskusi, atau hal-hal yang sesungguhnya menjadi tujuan utama dari keberadaan situs kita. Bahwa harus ada traffic itu satu hal, tetapi menghasilkan traffic semu tidak akan mencapai tujuan yang kita harapkan. Memangnya kalau banyak like itu apa bisa mencapai tujuan kalau yang nge-like itu robot (program) he he he.

Jawaban saya untuk pertanyaan awal, how to generate traffic, adalah membuat tulisan yang menarik dan banyak. Tulisan harus sering diubah sehingga orang akan datang lagi. Atau tampilan diubah. Kalau tulisannya tetap sama, tampilan tetap sama, maka orang tidak akan datang berkali-kali. Toh tetap sama saja. Mengapa harus datang berkali-kali?

Yang saya lakukan pada blog ini ya seperti itu, menulis banyak (rutin). Itu saja. Tulisannya pun tidak hebat-hebat amat. Isinya adalah hal-hal yang terkait dengan saya. Itu saja.


Pemutar MP3 Portable Yang Mana?

Situasinya begini. Koleksi lagu-lagu saya sudah pindah dari bentuk fisik kaset+CD ke bentuk digital (MP3 dan sebagian ada yang FLAC). Berkas-berkas MP3 ini ada banyak – sekitar 180 GB – sekali sehingga saya simpan di dalam satu komputer, yang sekarang adalah komputer desktop berbasis Ubuntu. Kalau saya ingin mendengarkan lagu, terpaksa saya nyalakan komputer tersebut.

Problemnya adalah menyalakan komputer itu butuh waktu, tidak bisa dalam 2 detik bisa langsung memutar lagu. Jadi kalau mau mendengarkan sebuah lagu harus sabar dulu sampai semuanya nyala. Masalah kedua adalah saya harus duduk di depan komputer untuk mendengarkan lagu. Saya tidak dapat mendengarkan lagu di mobil misalnya. Tidak portable. Masalah ketiga, yang ini sangat tergabung kepada setup saya, adalah kebetulan disk dari komputer desktop saya ini saya pasang secara eksternal. Kotak dari disk ini membutuhkan power supply dan kipas, yang sayangnya bising sekali bunyinya. Alih-alih mau mendengarkan lagu, malah mendengarkan suara kipas seperti kapal terbang!

Saya sekarang ingin mencari pemutar MP3 yang agak portable. Syarat yang utamanya adalah:

  • kualitas suaranya bagus;
  • dapat memputar MP3 (dan kalau bisa juga FLAC);
  • memiliki storage yang cukup besar (di atas 180 GB) – yang ini kalau tidak bisa sebesar itu ya tidak apa-apa tetapi saya harus repot memindah-mindahkan lagu yang diinginkan, setidaknya di atas 32 GB lah.

Sementara ini yang terbayang oleh saya adalah Apple iPod versi yang pertama dulu, yang disknya besar itu. Tapi itu kan dulu. Mungkin sekarang sudah ada yang lebih bagus lagi. Kalau handphone dan sejenisnya, storagenya sangat kecil (mungkin hanya 8 GB). Ini terlalu kecil.

Ada saran?


Perlukah Pelajaran XYZ?

Di sebuah milis saya mengikuti perdebatan tentang kurikulum. Berbagai masalah dilontarkan. Salah satunya adalah perlukah pelajaran tertentu, sebut saja XYZ, diajarkan? Perdebatan kemudian terjadi karena ada orang yang menginginkan mata pelajaran / kuliah tertentu hadir dengan jumlah SKS tertentu. Sementara itu ada batas SKS maksimum yang diambil oleh mahasiswa. Memilih mana yang perlu dan mana yang tidak ternyata sulit.

Saya melantur. Mencoba mengerti lebih jauh. Perlukah sebuah pengetahuan tertentu diajarkan? Kalau pertanyaannya perlu, mungkin jawabannya adalah memang perlu. Hanya masalahnya apakah dia perlu diajarkan secara formal dalam bentuk sebuah mata pelajaran atau tidak? Itu kan masalahnya.

Ini juga sebetulnya terkait dengan harapan keluaran yang diinginkan. Yang ini juga ternyata masih menjadi perdebatan.

Saya dapat membayangkan ada beberapa pengetahuan yang nampaknya akan terdesak, yaitu hal-hal yang sulit sekali secara teknis (sehingga tidak banyak peminatnya) dan hal-hal yang dianggap remeh. Kesusasteraan, misalnya, tidak mungkin akan muncul dalam bidang ilmu teknis. Padahal menurut banyak orang, hal ini sangat penting. Liberal arts mulai mendapat porsi yang besar di luar negeri.

Saya berpikir, apakah “English Literature” akan mendapat porsi di Indonesia? Demikian pula dengan “World History”? Dugaan saya jawabannya adalah TIDAK! (Dengan tanda seru.) Ini budaya Barat yang tidak penting amat untuk dipelajari. Apalagi dimengerti.

Padahal ada banyak hal di dunia teknis sekalipun yang terpengaruh oleh budaya Barat. Di dunia saya ada banyak pengaruh tulisan science fiction yang mempengarui teknologi. 1984? 2001 Space Oddysey? Bahkan skit Monty Python pun menyebabkan munculnya istilah spam di email. Beberapa pemikiran pengarang seperti Asimov juga mempengaruhi banyak hal. Belum lagi soal Star Trek :)

Saya beruntung karena pernah bersinggungan dengan budaya Barat untuk waktu yang cukup lama, lebih dari 10 tahun, ketika saya mengambil S2 dan S3 di Kanada. Ada banyak hal yang akhirnya saya ketahui dan itu memudahkan saya untuk memahami dan berdiskusi dengan kolega-kolega di luar negeri.

Pemahaman World Culture menurut saya semetinya penting untuk diajarkan. Nah, apakah kita perlu juga membaca Shakespeare? Hmm…


Kaos Usang

Semakin lama kaos (T-shirt) dipakai, semakin enak rasanya. Tentu saja kaosnya menjadi semakin usang. Repotnya adalah semakin kita sayang. Mau dibuang sayang sekali. Mau dipakai ke luar, malu-maluin. Ya sudah akhirnya dipakai di rumah saja. he he he. Anda pasti punya kaos yang seperti itu kan?

Ini adalah gambar depan kaos kesukaan saya yang sekarang mulai usang. Kaos yang sudah menemani beberapa kali manggung.

Foto1488 led zep 1000

Sudah waktunya beli kaos lagi?


Berhenti Belajar

Banyak orang yang tidak mau belajar. Mereka merasa sudah tahu semua dan merasa dirinya yang paling benar. Padahal, belajar itu semestinya adalah sebuah perjalanan yang tiada akhir. Sampai ke liang kubur.

Apa yang dapat dipelajari? Ah tentu saja banyak.. Namun yang paling sulit adalah belajar tentang diri sendiri. Melihat kekurangan diri dan kemudian belajar untuk memperbaikinya. Misalnya, apa yang membuat orang tidak suka dengan kita, bagaimana cara kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang, dan seterusnya.

Saya banyak belajar dari orang lain; melalui buku dan cerita tentang perjuangan orang-orang untuk mencapai keberhasilannya (itu untuk orang yang sudah sukses) dan melalui interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitar (mengenai tantangan yang harus mereka lalui). Dari situ saya melihat bahwa tidak ada yang mudah. Nothing comes easy. Sayangnya banyak orang yang merasa dirinyalah yang paling susah. hi hi hi. Padahal ada banyak – jutaan – orang lain yang tingkat tantangan yang dihadapinya jauh lebih sulit. Dan mereka tegar dalam menghadapinya.

Kalau yang berhenti belajar adalah orang yang sudah sukses (dengan definisi yang berbeda-beda) mungkin dapat dimengerti, tetapi justru yang banyak berhenti belajar adalah orang yang belum sukses. Mungkin lebih tepatnya mereka menyerah. Padahal belajar itu adalah hal yang semestinya paling mudah ya? Dibandingkan mengajari, coba?

Itulah sebabnya tagline saya adalah …


Internet (masih) Lambat

Bagi sebagian kecil orang, akses internet sudah cukup cepat. Bagi saya, belum. Sebagai contoh, saya mau nonton (history) di YouTube tetapi tidak jadi saya lakukan karena internetnya sedang (akan) digunakan oleh yang lain. Saya tahu kalau saya akses YouTube maka yang lain akan terngganggu juga. Harus tepo seliro. Tunda dulu.

Sebetulnya saya punya juga akses 3G & CDMA, tetapi entah kenapa mereka juga lambat. Mereka hanya berguna untuk akses email saja. Kalau digunakan untuk YouTube-an ternyata lambat banget. Biasanya saya download dulu baru saya tonton secara off-line.

Saya yakin saya bukan satu-satunya yang akses internetnya masih lambat. Kapan ya akses internet cukup cepat sehingga seluruh penghuni rumah ini bisa streaming sendiri-sendiri.


Kualitas Jalan Yang Menyedihkan

Kami tinggal di Kabupaten, meskipun dapat dikatakan dekat dengan Kotamadya. Jalan yang menuju rumah kami sering rusak. Baru-baru ini jalan ini diaspal. Belum sampai satu minggu umurnya, aspalnya hilang tersapu hujan yang hampir setiap hari mengguyur kota Bandung. Belum sampai satu minggu! Mungkin malah baru 3 hari. Jalan jadi bocel-bocel. (Sayang sekali saya belum dapat memasang potretnya di sini.)

Memang hujan yang hadir ini kadang deras sekali sehingga air dari selokan meluap ke jalan. Akibatnya air yang deras ini menggerus jalan dan membawa aspal yang baru dipasang. Apakah ini alasannya?

Yang saya masih belum mengerti, apakah memang kualitas jalan sekarang seperti ini? Hanya kurang dari satu minggu umurnya. Padahal jaman dahulu, bahkan jaman penjajahan Belanda, jalan-jalannya ada yang masih bisa kita nikmati. Apakah ini masalah keilmuan? Atau implementasi di lapangan? Apakah kita semakin bodoh? Atau bagaimana?

Sedih. Bingung.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.739 pengikut lainnya.