Arsip Tag: postaday2013

Rindu Rasul

Hari ini libur dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad (saw). Tidak perlu perayaan yang berlebihan, tetapi bagi saya setidaknya perlu ingat akan hal ini. (Mengapa ulang tahun orang biasa saja diingat tetapi kelahiran Nabi Muhammad saw tidak?)

Untuk mengingat ini saya merujuk kepada sebuah lagu yang dibuat oleh group Bimbo, Rindu Rasul. Ini merupakan lagu yang sangat bagus dan menyentuh hati. Pernah saya mencoba menyanyikan lagu ini di sebuah acara, dan susah sekali membendung perasaan. Hadirin ada yang menangis dan sayapun ikut sembab (bertahan untuk tidak menangis). Ini link di YouTube terkait dengan lagu itu.

Rindu kami padamu Ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu Ya Rasul
Serasa dikau disini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya surga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Shalawat …


Komitmen Dalam Mengajar

Mengajar itu tidak mudah. Yang paling susah dalam mengajar adalah komitmen pada waktunya. Begitu kita bilang sanggup mengajar, maka ada porsi waktu yang kita alokasikan untuk mengajar itu. Bagi saya ini sebuah hal yang besar karena dengan mengajar ini saya tidak dapat memenuhi permintaan dari banyak pihak untuk memberikan presentasi, rapat, konsultasi, dan seterusnya. Banyak orang yang tidak mengerti hal ini dan mungkin menganggap saya tidak mau karena tidak mau saja (atau malah dianggap sombong?), misal jika diminta untuk menjadi pembicara di kampus yang jauh dari kota Bandung, padahal saya tidak bisa karena ini akan mengganggu jadwal mengajar saya.

Kadang memang saya terpaksa gagal mengajar jika ada yang sangat penting sehingga saya harus hadir di tempat lain. Nah, sangat penting itu definisinya memang sangat luas, tetapi ini tetap dapat menjadi pegangan. Jika hanya untuk ketemu seorang pejabat -  biar menteri atau direktur perusahaan besar sekalipun – kalau saya tidak melihat yang didiskusikan sangat mendesak (urgent), maka biasanya saya menolak. Sementara itu saya tahu banyak orang yang justru ingin cari muka kepada bos-bos ini sehingga meninggalkan tugas mengajarnya.

Sayangnya banyak pihak yang tidak menghargai ini. Mahasiswa meremehkan kuliah, padahal kalau diukur dengan uang harusnya mereka bayar mahal untuk duduk di kelas saya. he he he. Jika saya memenuhi undangan pihak lain, kan ada honor dari sana. Lost opportunity. he he he. Pihak lain yang ingin mengundang saya menganggap apa susahnya sih hilang satu hari. (Ya kalau yang ngundangnya hanya satu, kalau banyak kan jadi banyak hari yang hilang juga. Dan saya buaanyaaak dapat undangan; meeting, keynote speaker, speaker, ngajar, konsultasi.)  Pihak institusi pendidikan juga tidak menghargai komitmen mengajar ini. hi hi hi.

Saya suka mengajar. That’s all that matters.


Teknologi Informasi dan Pendidikan

Sudah banyak orang mendiskusikan tentang pemanfaatan teknologi informasi (IT) dalam pendidikan. Entah kenapa nampaknya pemanfaatan IT di pendidikan justru yang paling terlambat dibandingkan bidang lain, seperti bisnis misalnya. Padahal IT pada awalnya dikembangkan di lingkungan pendidikan – atau tepatnya lembaga penelitian – dan militer. Mungkin dunia bisnis lebih cepat merangkul IT karena langsung terlihat manfaatnya.

Saya sudah mencoba memanfaatkan IT dalam proses ajar mengajar, tidak seperti orang lain yang hanya berwacana atau berteori. hi hi hi. Pengalaman saya menunjukkan bahwa masih ada banyak kesulitan yang sifatnya teknis, bukan prinsipil. Namun karena banyaknya kesulitan teknis ini membuat elearning (katakanlah demikian) belum benar-benar dapat diterima. Sebagai contoh, masalah skala. Kebanyakan sistem yang ada dapat digunakan untuk jumlah siswa yang tidak besar, begitu jumlah siswanya banyaaakkk sekali, maka sistem menjadi tidak dapat digunakan. Contoh, pernahkah Anda chatting dengan 75 orang bersamaan?

Saya akan coba berbagi beberapa pengalaman saya. Kali ini tentang kuliah online dan lebih spesifik lagi berdiskusi secara real-time, bersama-sama, sinkron. Perlu dicatat bahwa sebetulnya pemanfaatan IT itu lebih banyak ke arah asinkron, yaitu mahasiswa dan dosen tidak perlu online secara bersama-sama. Ini untuk yang sinkron.

Beberapa kali saya mencoba membuat kelas secara online. Mahasiswa diminta untuk online pada saat yang sama. Masalah pertama adalah teknologi atau aplikasi apa yang akan kita gunakan. Idealnya kita ingin menggunakan video conferencing, seperti penggunaan Skype atau Google Hangout, tetapi infrastruktur di Indonesia masih belum memungkinkan. Untuk berdiskusi satu-lawan-satu sih nampaknya masih bisa. Bayangkan kalau mahasiswanya ada 75 orang. Bisakah? Mungkin tidak untuk saat ini.

Hal lain yang penting adalah aplikasi harus dapat menggunakan keybooard. Akan sangat susah bagi saya untuk mengetik dengan menggunakan handphone. Dengan kata lain, BBM atau WhatsApp tidak dapat digunakan. Hasil diskusi dengan mahasiswa menyisakan beberapa alternatif: IRC, Yahoo! Messanger (YM), Googletalk, Line, dan Facebook. Maka saya coba pendekatan itu untuk beberapa kelas yang berbeda.

Kelas yang pertama disepakati untuk menggunakan Line. Kelas ini cukup kecil, kurang dari 30 orang. Ketika online pun mungkin hanya 20 orang. Ternyata penggunaan Line cukup berhasil. Saya menggunakan Line di komputer, sementara mahasiswa ada yang menggunakan handphone.

Kelas yang kedua disepakati untuk menggunakan IRC. Menariknya mereka adalah generasi yang belum pernah mendengar kata IRC. ha ha ha. Saya sudah tua. Agak berat kalau memaksa mereka untuk memasang aplikasi IRC client. Akhirnya saya usulkan untuk menggunakan web-based IRC client. Ada banyak. Silahkan di-google. IRC cukup berhasil, meskipun di awal banyak yang bingung bagaimana “berbicara” di IRC. IRC juga masih banyak digunakan sebagai media live di berbagai konferensi (yang biasanya terkait dengan IT).

Kelas yang berikutnya kemungkinan menggunakan Googletalk saja. Nanti kita lihat keberhasilannya. Ini baru akan saya lakukan hari Senin malam. (Semoga listrik tidak mati. hi hi hi.)

Masalah pertama dalam kelas online semacam ini adalah adanya “keributan” di ruang kelas. Jika ada yang baru bergabung maka akan ada pesan muncul di layar. Ini mengganggu jalannya diskusi. Demikian pula kalau ada yang nyeletuk atau iseng komentar. Mungkin harus dibuatkan dua ruangan (conference room), satu hanya untuk sang dosen yang boleh bicara atau mahasiswa yang mendapatkan giliran, satu lagi untuk aktifitas kasak-kusuknya.

Masalah kedua adalah mengidentifikasi mahasiswa yang hadir. Nama (identitas) dari mahasiswa sering berbeda dengan nama mahasiswa yang bersangkutan. Misalnya kalau ada mahasiswa yang identitasnya adalah “ucings duduk” itu nama aslinya siapa? he he he. Ini nanti dikaitkan dengan daftar hadir. Ini pun menjadi persoalan sendiri. Apakah kehadiran di ruang chat ini dapat disamakan dengan kehadiran di kelas? Bisa tidak syarat 80% hadir juga termasuk hadir di dunia cyber?

Oh ya, saat ini saya sedang mencari aplikasi untuk share materi presentasi (power point). Saya ingin mahasiswa untuk melihat materi ini bersama-sama dengan syarat tambahan adalah mahasiswa tidak bisa melihat halaman berikutnya. Jadi kita harus melihat halaman yang sama bersamaan. Nah.


Rayuan Buku

Wahai buku-buku,
Aku tahu apa yang kalian perbuat
Kalian bersekongkol
Merayu kami
Untuk sekedar melihat-lihat
Memungut
Kemudian membawa kalian pulang
(dan mengucapkan selamat tinggal
kepada uang yang sebelumnya menghuni dompet)

IMG_3619 books 1000


Memberi Nilai Mahasiswa ITB

Dahulu … jamannya saya masih kuliah di ITB, nilai kuliah bervariasi dan cenderung pelit. Untuk mata kuliah tertentu, begitu mendapat nilai C maka kami berbahagia. Hi hi hi. Bahkan ada satu kuliah – tepatnya kuliah Teori Medan – yang saya bersyukur ketika mendapatkan nilai D. Yang penting adalah tidak perlu mengulang. he he he.

Maka pada masa itu nilai-nilai mahasiswa ITB sangat rendah dibandingkan dengan nilai-nilai mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Akibatnya dalam rekrutmen yang dilakukan oleh berbagai perusahaan, ada kemungkinan lulusan ITB tersingkir karena melihat nilai-nilainya yang rendah.

Belakangan ini saya melihat nilai-nilai mahasiswa ITB sudah jauh lebih baik dari dulu. Mungkin karena dosennya lebih murah dalam memberikan nilai, atau karena memang mahasiswa sekarang jauh lebih cerdas dari sebelumnya. Atau mungkin dua-duanya. Entahlah. Yang pasti, sekarang lebih banyak lulusan ITB yang lulus cum laude dibandingkan dulu.

Sekarang saya berpikiran lain. Agak nyeleneh. Begini. Mahasiswa ITB kan bahan bakunya memang sudah cerdas. Seharusnya mereka memang lulus dengan nilai A, kecuali kalau memang mahasiswanya aneh seperti misalnya tidak hadir ketika ujian. Jadi default nilai A. Kalau mahasiswa tidak mengerti dan nilainya jelek, berarti dosennya yang tidak becus. Karena saya dosen yang tidak jelek-jelek amat, maka seharusnya nilai mahasiswa adalah A semua. Maka saya beri nilai A semua. Boleh begitu? Hi hi hi


Kerja Karena Suka

Kadang kepikiran mengapa saya mau mengerjakan apa yang saya kerjakan? Mengapa saya mengerjakannya melebihi dari expectation (melebih dari apa yang harus dikerjakan)? Jawaban saya hanya satu yaitu karena saya suka mengerjakannya. Saya mengerjakannya bukan karena uang yang saya terima. Bukan berarti saya menolak atau tidak butuh uang, tetapi uang bukan tujuannya. Demikian pula, saya tidak mencari pujian. Not fame and fortune.

Sayangnya saya masih melihat banyak orang yang mengerjakan sesuatu karena melihat bayarannya. Yang begini akan mudah terpancing untuk membanding-bandingkan pendapatan dirinya dengan temannya (atau teman temannya). Kok saya sudah bekerja sekeras ini mendapatkan segini? Sementara si fulan yang kerjanya hanya sedikit mendapatkan jumlah yang sama? Atau si fulanah mendapatkan lebih banyak. Kemudian ini menjadikan dia tidak termotivasi untuk bekerja. Bekerja hanya secukupnya saja. Dan ini justru membuat siklus yang melemahkan karena dia tampak sama seperti yang lainnya, tidak ada nilai tambahnya. Sehingga akibatnya penghasilan dia juga tidak nambah.

Saya bersyukur bisa mengerjakan yang saya sukai. Tidak semua orang seberuntung ini. Betulkah? Ataukah ini hanya persepsi kita saja? Entahlah.


Mau?

IMG_3663 ravioli 1000

Ravioli for lunch …


Banyak-banyakan Follower

Entah kenapa saya mendapat kesan banyak orang yang berusaha untuk mendapat banyak follower di akun twitternya. Kenapa? Untuk apa? Apakah kalau seseorang itu lebih banyak followernya berarti dia lebih populer? Lebih keren? Lebih apa gitu?

Di sisi bisnis memang saya melihat ada tren pemanfaatan twitter untuk promosi. Orang yang banyak followernya dianggap memiliki jumlah pemirsa yang banyak sehingga cocok untuk tempat beriklan. Apakah dalam hal ini follower dari twitter dapat dianggap sama dengan pengunjung blog?

Maka akibatnya ada orang-orang yang melakukan berbagai hal – termasuk yang nyerempet masalah etika – untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya follower. Anda juga mau / sudah melakukan hal tersebut?

Yang lucu itu begini:

Karena ingin banyak follower, maka seseorang dia  buat akun-akun palsu yang banyaaakkk sekali. Kemudian akun-akun palsu ini memfollow dirinya sendiri (akun aslinya). Hasilnya jumlah followernya jadi banyak. Horeee. Setelah banyak, dia kepikiran. Hmm… bagaimana kalau aku mengiklankan kepada followersnya sendiri. Maka mulailah dia mentwit iklan di akunnya. Harapannya followernya banyak yang beli produk yang diiklankannya.

Kemudian dia pas login ke akun-akun palsunya, kok banyak iklan yang menarik. Maka belilah dia produk-produk yang dia tawarkan itu. Dua-duanya happy. he he he. Betul kan?


Kebanyakan Email

Ini untuk kesekian kalinya saya menulis tentang kebanyakan email. Ya, saya memang kebanyakan email. Sudah direm-rem pun masih kebanjiran email.

Sering ada yang mengirimkan email tetapi belum sempat saya respon (misal, minta rekomendasi, bertanya tentang sesuatu, diskusi, dll.) karena saat ini sedang ada yang lebih urgen untuk ditangani. Setelah selesai menangani yang urgen, saya mencari email yang tadi. Eh, email-email tersebut sudah terdesak oleh email-email yang baru lagi, yang isinya kira-kira juga sama dan kepentingannya juga sama. Maka sulitlah saya menerapkan FIFO (first in, first out). Yang ada adalah random access. he he he.

Jadi, bagi Anda yang merasa sudah mengirim email (untuk sesuatu yang penting tentunya) tetapi belum saya balas, sekarang Anda tahu kenapa belum saya balas. Silahkan kirim email lagi. Tidak masalah kok.


Keamanan (Algoritma) Kriptografi

Kadang orang terlalu mengandalkan kepercayaan kepada algoritma kriptografi yang digunakan. Padahal algoritma tersebut masih bergantung kepada banyak hal lainnya, misalnya ada ketergantungan kepada random number generator. Selain itu kelemahan juga dapat berada pada protokol yang menggunakan algoritma tersebut. Dengan kata lain, algoritmanya sendiri boleh jadi bagus tetapi pemanfaatannya yang kurang tepat.

Sebagai contoh, berikut ini adalah berita mengenai dugaan adanya pelemahan algoritma buatan RSA. (Silahkan baca berita ini.) Dalam kasus ini yang dilemahkan bukan algoritmanya tetapi pemanfaatan dari random number generator. Nah.

Ambil contoh pemilihan kunci. Biasanya kita menggunakan random number generator untuk menghasilkan kunci yang berbeda dengan orang lain. Bayangkan kalau random number generator yang kita gunakan sudah dipermak sedemikian rupa sehingga ternyata kunci yang dihasilkan itu hanya berkisar antara sejumlah angka saja. Nah! Bagi penyerang ya dia tinggal mencoba sejumlah kunci tersebut, bukan dari semua kombinasi kunci yang mungkin. Kombinasi semua kunci ini biasanya sangat besar sekali sehingga tidak mungkin dilakukan (serangan secara brute force). Ini hanya sebuah contoh saja.

Intinya adalah algoritma yang bagus saja boleh jadi belum cukup untuk mengamankan sistem kita.


Mencari Bentuk OSPEK Yang Lebih Modern dan Manusiawi

Setiap tahun kita mendapat berita kecelakaan – dan bahkan kematian – yang ditimbulkan dari acara orientasi studi yang dijalankan oleh mahasiswa (OSPEK). Sudah waktunya kita semua duduk untuk mencari bentuk orientasi studi yang lebih modern dan manusiawi. Mosok kita tidak bisa menemukan bentuk yang non-perpeloncoan? Kurang cerdas kita kalau begitu, Ayo kita cari.

Pertama perlu kita ketahui dulu mengapa perlu ada orientasi studi ini? Apa yang ingin dicapai? Mengapa bentuk perpeloncoan, yang melibatkan kekerasan fisik dan mental, yang selalu menjadi pilihan? Apakah tidak ada bentuk lain? Ada catatan tambahan bahwa ospek ini biasanya terkait dengan himpunan mahasiswa (baik spesifik kepada sebuah prodi / departemen / fakultas, unit kegiatan, atau campus-wide / satu sekolah), bukan dikendalikan oleh institusi. Maka perlu ditanyakan kepada himpunan yang bersangkutan, mengapa perlu ada? Kalau tidak dapat menjawab, ya memang seharusnya tidak ada.

Kita mulai dari situ dulu. Sebagian besar pelaksana ospek tidak mengetahui apa alasannya. Ini hanya sebagai acara lucu-lucuan dan balas dendam saja. Mahasiswa yang modern, cerdas, maju, dan kreatif mestinya mau mencoba memahami alasannya dulu. Membebek itu ya seperti namanya, menjadi bebek. Bukan menjadi manusia.

Setelah alasan kita ketahui, misal untuk meneruskan beberapa nilai-nilai organisasi kepada mahasiswa baru, maka kita dapat mendesain metodologi yang lebih modern dan manusiawi. Misalnya, langsung saja kita program dengen telepati. he he he. Beres kan? Selebihnya, kita makan-makan. Kita nanti bisa brainstorming untuk mencari idenya. Apalagi sekarang dengan adanya teknologi informasi, banyak hal yang dapat dipermudah. Hadir pagi hari, misalnya, boleh dilakukan dengan check in (online). Kenapa tidak? :)

Nah, sebetulnya apa alasan adanya ospek ya?


Membangun Argumentasi

Sering merasa geli melihat diskusi (atau membaca komentar di berbagai jejaring sosial) dengan argumentasi yang tidak masuk akal. Lucu. Terlihat alasan yang dikembangkan asal-asalan. Bahkan alasannya pun belum sempat berkembang atau memang sesungguhnya tidak memiliki potensi untuk berkembang. Lebih baik argumentasi yang digunakan super ngawur sehingga kita bisa tertawa bersama.

Bagaimana ya cara mengajari siswa untuk berpikir runut? Apakah ada tugas atau latihan untuk itu? Tentunya ini tidak dapat dikemas dalam bentuk ujian pilihan berganda ya? Kalau kemampuan ini tidak kita ajarkan kepada generasi muda, nanti yang ada adalah argumenatasi “pokoke”.

Awalnya lucu, tetapi kemudian bisa menjadi menyedihkan ketika yang bersangkutan tidak dapat mempertahankan argumentasinya dan kemudian mencari cara lain untuk melarikan diri, misalnya menjatuhkan orang lain. Yang ini tidak lucu. Sungguh.


Bandung Macet …

Beberapa hari terakhir ini Bandung luar biasa macetnya. Membuat saya berpikir apakah ini Bandung atau Jakarta ya? he he he.

Ada beberapa penyebab kemacetan ini. Yang saya amati adalah banyaknya anak libur sekolah dimanfaatkan untuk kunjungan-kunjngan. Salah satu tempat yang populer untuk kunjungan sambil belajar adalah museum Geologi, di jalan Diponegoro. Maka di pinggir jalan dekat dengan tempat itu ada banyak bis-bis berukuran besar. Bahkan pada suatu pagi saya menemukan lebih dari 10 bis. Jalan Bandung tidak terlalu lebar sehingga ini menimbulkan kemacetan.

Hal yang serupa ternyata terjadi di kebun binatang Bandung, yang berada di jalan Taman Sari. Pas di sebelah ITB. Jalannya juga super kecil. Biasanya hanya cukup untuk dua lajur; 1 kiri, 1 kanan. Begitu ada bis yang parkir, maka macetlah.

Belum lagi karena sekarang ini musim hujan maka banyak jalan yang rusak. Jalan Pasteur di depan BTC juga hancur. Seperti ada monster keluar dari dalam tanah. he he he. Macbret!


Manusia Indonesia dan Simbol-simbol

Baru-baru ini, Wakil Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mempertanyakan mengapa ada kolom (field) dalam kartu tanda penduduk. Dia menyatakan lebih suka field tersebut dihilangkan. Kontan banyak tanggapan pro dan kontra di media – termasuk di media sosial. Berbagai argumentasi pro dan kontra dilontarkan oleh masing-masing pihak. Kebanyakan masuk akal, tetapi ada juga yang bikin kita mesem-mesem saja. Saya ingin melihat dari sudut pandang lain.

Mundur sejenak. Manusia Indonesia senang mengikatkan diri dengan simbol-simbol, baik itu simbol keturunan, keberhasilan (pendidikan), dan juga agama. Sebagai contoh, banyak orang yang masih bangga dengan keturunannya. Gelar kebangsawanan, seperti Raden, masih tetap menjadi sebuah hal yang penting. Memang hal ini  terjadi tidak hanya di Indonesia, di Inggris pun demikian.

Keterkaitan dengan simbol keberhasilan pendidikan misalnya muncul dalam penggunaan gelar-gelar lulusan perguruan tinggi dalam undangan-undangan yang tidak terkait dengan pendidikan. Undangan pernikahan, misalnya, perlu menyertakan gelarnya. Ada yang merasa risi, namun penyertaan gelar pendidikan ini merupakan hal yang lazim. Oh ya, gelar pendidikan saya pun ada di KTP saya. Entah bagaimana ceritanya itu bisa terjadi. Padahal saya termasuk yang risi mempertontonkan gelar, kecuali jika kita saya harus memberikan surat rekomendasi untuk mahasiswa saya – gelar saya pasang.

Hal yang sama juga dengan keagamaan. Banyak orang yang sehabis pulang dari mengerjakan ibadah haji, menyematkan gelar “Haji” (H.) atau “Hajjah” (Hj) di depan namanya. Bahkan untuk hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan keagamaan, dia akan menambahkan “H” tersebut. Dia akan marah jika orang tidak memanggilnya dengan sebutan pak Haji. Apalagi kalau dilarang menggunakannya.

Apakah hal-hal di atas tersebut buruk? Dilihat dari kacamata siapa dulu. Yang pasti mereka beda kalau dilihat dari kacamata orang berkultur Barat, misalnya. Beda bukan berarti buruk, bukan? Kita sepakati berhenti di kata “beda” saja.

Dengan memahami aspek sosial(?) seperti itu, maka kita dapat memahami kemarahan orang ketika kolom agama diusulkan untuk dihilangkan dari KTP. Penambahan atau penghilangan data agama dalam KTP tentu saja tidak menambah atau mengurangi keimanan seseorang. Namun kalau dilihat dari kacamata kultur, ini mungkin sama dengan tidak memperbolehkan orang menggunakan sebutan Haji sebagai bagian dari namanya. Akan banyak yang keberatan. Simbol agama di KTP itu ternyata penting bagi banyak orang Indonesia.

Jika demikian adanya, nampaknya lebih baik data agama tersebut dibiarkan ada dalam KTP. Perlu atau tidak ada data tersebut tidak penting. Simbol itu penting. Setidaknya, untuk kita orang Indonesia.

Hal ini juga menunjukkan bahwa orang Indonesia tidak mengenal masalah privasi. Di luar negeri, privasi merupakan hal yang sangat penting. Di Indonesia, tidak. Itulah sebabnya orang Indonesia tidak memiliki masalah dengan media sosial. Sekali lagi, ini bukan baik dan buruk, beda saja.

Oh ya, kita juga tidak perlu marah kepada orang yang berpendapat sebaliknya. Santai saja.

[Note: I wrote this in a hurry. Didn't have time to pick better, beautiful, smashing words. Need to get the idea across quickly]


Kurang Inisiatif

Mengapa ya banyak orang (di Indonesia?) yang kurang inisiatif? Mereka maunya diberitahu; harus ini dan itu. Padahal semestinya mereka dapat mengambil inisiatif.

Saya bisa mengerti kalau ini hanya ada di kalangan orang yang tidak berpendidikan tinggi. Herannya ini juga saya temui dengan orang yang lulusan perguruan tinggi dan bahkan lebih tinggi lagi. Mereka hanya mau mengerjakan sesuatu kalau disuruh. Tidak ada inisiatif sama sekali.

Apa karena mereka takut salah? Padahal salah itu adalah hal yang biasa. Tidak perlu takut. Tidak perlu juga merasa defensif jika diberitahu itu salah. Biasa saja. Yang penting adalah menyadarinya kemudian memperbaikinya.

Nah, apakah Anda termasuk yang berani melakukan inisiatif? Ataukah harus disuruh-suruh?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.586 pengikut lainnya.