Tag Archives: postaday2013

Rindu Rasul

Hari ini libur dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad (saw). Tidak perlu perayaan yang berlebihan, tetapi bagi saya setidaknya perlu ingat akan hal ini. (Mengapa ulang tahun orang biasa saja diingat tetapi kelahiran Nabi Muhammad saw tidak?)

Untuk mengingat ini saya merujuk kepada sebuah lagu yang dibuat oleh group Bimbo, Rindu Rasul. Ini merupakan lagu yang sangat bagus dan menyentuh hati. Pernah saya mencoba menyanyikan lagu ini di sebuah acara, dan susah sekali membendung perasaan. Hadirin ada yang menangis dan sayapun ikut sembab (bertahan untuk tidak menangis). Ini link di YouTube terkait dengan lagu itu.

Rindu kami padamu Ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu Ya Rasul
Serasa dikau disini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya surga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Shalawat …


Komitmen Dalam Mengajar

Mengajar itu tidak mudah. Yang paling susah dalam mengajar adalah komitmen pada waktunya. Begitu kita bilang sanggup mengajar, maka ada porsi waktu yang kita alokasikan untuk mengajar itu. Bagi saya ini sebuah hal yang besar karena dengan mengajar ini saya tidak dapat memenuhi permintaan dari banyak pihak untuk memberikan presentasi, rapat, konsultasi, dan seterusnya. Banyak orang yang tidak mengerti hal ini dan mungkin menganggap saya tidak mau karena tidak mau saja (atau malah dianggap sombong?), misal jika diminta untuk menjadi pembicara di kampus yang jauh dari kota Bandung, padahal saya tidak bisa karena ini akan mengganggu jadwal mengajar saya.

Kadang memang saya terpaksa gagal mengajar jika ada yang sangat penting sehingga saya harus hadir di tempat lain. Nah, sangat penting itu definisinya memang sangat luas, tetapi ini tetap dapat menjadi pegangan. Jika hanya untuk ketemu seorang pejabat –  biar menteri atau direktur perusahaan besar sekalipun – kalau saya tidak melihat yang didiskusikan sangat mendesak (urgent), maka biasanya saya menolak. Sementara itu saya tahu banyak orang yang justru ingin cari muka kepada bos-bos ini sehingga meninggalkan tugas mengajarnya.

Sayangnya banyak pihak yang tidak menghargai ini. Mahasiswa meremehkan kuliah, padahal kalau diukur dengan uang harusnya mereka bayar mahal untuk duduk di kelas saya. he he he. Jika saya memenuhi undangan pihak lain, kan ada honor dari sana. Lost opportunity. he he he. Pihak lain yang ingin mengundang saya menganggap apa susahnya sih hilang satu hari. (Ya kalau yang ngundangnya hanya satu, kalau banyak kan jadi banyak hari yang hilang juga. Dan saya buaanyaaak dapat undangan; meeting, keynote speaker, speaker, ngajar, konsultasi.)  Pihak institusi pendidikan juga tidak menghargai komitmen mengajar ini. hi hi hi.

Saya suka mengajar. That’s all that matters.


Teknologi Informasi dan Pendidikan

Sudah banyak orang mendiskusikan tentang pemanfaatan teknologi informasi (IT) dalam pendidikan. Entah kenapa nampaknya pemanfaatan IT di pendidikan justru yang paling terlambat dibandingkan bidang lain, seperti bisnis misalnya. Padahal IT pada awalnya dikembangkan di lingkungan pendidikan – atau tepatnya lembaga penelitian – dan militer. Mungkin dunia bisnis lebih cepat merangkul IT karena langsung terlihat manfaatnya.

Saya sudah mencoba memanfaatkan IT dalam proses ajar mengajar, tidak seperti orang lain yang hanya berwacana atau berteori. hi hi hi. Pengalaman saya menunjukkan bahwa masih ada banyak kesulitan yang sifatnya teknis, bukan prinsipil. Namun karena banyaknya kesulitan teknis ini membuat elearning (katakanlah demikian) belum benar-benar dapat diterima. Sebagai contoh, masalah skala. Kebanyakan sistem yang ada dapat digunakan untuk jumlah siswa yang tidak besar, begitu jumlah siswanya banyaaakkk sekali, maka sistem menjadi tidak dapat digunakan. Contoh, pernahkah Anda chatting dengan 75 orang bersamaan?

Saya akan coba berbagi beberapa pengalaman saya. Kali ini tentang kuliah online dan lebih spesifik lagi berdiskusi secara real-time, bersama-sama, sinkron. Perlu dicatat bahwa sebetulnya pemanfaatan IT itu lebih banyak ke arah asinkron, yaitu mahasiswa dan dosen tidak perlu online secara bersama-sama. Ini untuk yang sinkron.

Beberapa kali saya mencoba membuat kelas secara online. Mahasiswa diminta untuk online pada saat yang sama. Masalah pertama adalah teknologi atau aplikasi apa yang akan kita gunakan. Idealnya kita ingin menggunakan video conferencing, seperti penggunaan Skype atau Google Hangout, tetapi infrastruktur di Indonesia masih belum memungkinkan. Untuk berdiskusi satu-lawan-satu sih nampaknya masih bisa. Bayangkan kalau mahasiswanya ada 75 orang. Bisakah? Mungkin tidak untuk saat ini.

Hal lain yang penting adalah aplikasi harus dapat menggunakan keybooard. Akan sangat susah bagi saya untuk mengetik dengan menggunakan handphone. Dengan kata lain, BBM atau WhatsApp tidak dapat digunakan. Hasil diskusi dengan mahasiswa menyisakan beberapa alternatif: IRC, Yahoo! Messanger (YM), Googletalk, Line, dan Facebook. Maka saya coba pendekatan itu untuk beberapa kelas yang berbeda.

Kelas yang pertama disepakati untuk menggunakan Line. Kelas ini cukup kecil, kurang dari 30 orang. Ketika online pun mungkin hanya 20 orang. Ternyata penggunaan Line cukup berhasil. Saya menggunakan Line di komputer, sementara mahasiswa ada yang menggunakan handphone.

Kelas yang kedua disepakati untuk menggunakan IRC. Menariknya mereka adalah generasi yang belum pernah mendengar kata IRC. ha ha ha. Saya sudah tua. Agak berat kalau memaksa mereka untuk memasang aplikasi IRC client. Akhirnya saya usulkan untuk menggunakan web-based IRC client. Ada banyak. Silahkan di-google. IRC cukup berhasil, meskipun di awal banyak yang bingung bagaimana “berbicara” di IRC. IRC juga masih banyak digunakan sebagai media live di berbagai konferensi (yang biasanya terkait dengan IT).

Kelas yang berikutnya kemungkinan menggunakan Googletalk saja. Nanti kita lihat keberhasilannya. Ini baru akan saya lakukan hari Senin malam. (Semoga listrik tidak mati. hi hi hi.)

Masalah pertama dalam kelas online semacam ini adalah adanya “keributan” di ruang kelas. Jika ada yang baru bergabung maka akan ada pesan muncul di layar. Ini mengganggu jalannya diskusi. Demikian pula kalau ada yang nyeletuk atau iseng komentar. Mungkin harus dibuatkan dua ruangan (conference room), satu hanya untuk sang dosen yang boleh bicara atau mahasiswa yang mendapatkan giliran, satu lagi untuk aktifitas kasak-kusuknya.

Masalah kedua adalah mengidentifikasi mahasiswa yang hadir. Nama (identitas) dari mahasiswa sering berbeda dengan nama mahasiswa yang bersangkutan. Misalnya kalau ada mahasiswa yang identitasnya adalah “ucings duduk” itu nama aslinya siapa? he he he. Ini nanti dikaitkan dengan daftar hadir. Ini pun menjadi persoalan sendiri. Apakah kehadiran di ruang chat ini dapat disamakan dengan kehadiran di kelas? Bisa tidak syarat 80% hadir juga termasuk hadir di dunia cyber?

Oh ya, saat ini saya sedang mencari aplikasi untuk share materi presentasi (power point). Saya ingin mahasiswa untuk melihat materi ini bersama-sama dengan syarat tambahan adalah mahasiswa tidak bisa melihat halaman berikutnya. Jadi kita harus melihat halaman yang sama bersamaan. Nah.


Rayuan Buku

Wahai buku-buku,
Aku tahu apa yang kalian perbuat
Kalian bersekongkol
Merayu kami
Untuk sekedar melihat-lihat
Memungut
Kemudian membawa kalian pulang
(dan mengucapkan selamat tinggal
kepada uang yang sebelumnya menghuni dompet)

IMG_3619 books 1000


Memberi Nilai Mahasiswa ITB

Dahulu … jamannya saya masih kuliah di ITB, nilai kuliah bervariasi dan cenderung pelit. Untuk mata kuliah tertentu, begitu mendapat nilai C maka kami berbahagia. Hi hi hi. Bahkan ada satu kuliah – tepatnya kuliah Teori Medan – yang saya bersyukur ketika mendapatkan nilai D. Yang penting adalah tidak perlu mengulang. he he he.

Maka pada masa itu nilai-nilai mahasiswa ITB sangat rendah dibandingkan dengan nilai-nilai mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Akibatnya dalam rekrutmen yang dilakukan oleh berbagai perusahaan, ada kemungkinan lulusan ITB tersingkir karena melihat nilai-nilainya yang rendah.

Belakangan ini saya melihat nilai-nilai mahasiswa ITB sudah jauh lebih baik dari dulu. Mungkin karena dosennya lebih murah dalam memberikan nilai, atau karena memang mahasiswa sekarang jauh lebih cerdas dari sebelumnya. Atau mungkin dua-duanya. Entahlah. Yang pasti, sekarang lebih banyak lulusan ITB yang lulus cum laude dibandingkan dulu.

Sekarang saya berpikiran lain. Agak nyeleneh. Begini. Mahasiswa ITB kan bahan bakunya memang sudah cerdas. Seharusnya mereka memang lulus dengan nilai A, kecuali kalau memang mahasiswanya aneh seperti misalnya tidak hadir ketika ujian. Jadi default nilai A. Kalau mahasiswa tidak mengerti dan nilainya jelek, berarti dosennya yang tidak becus. Karena saya dosen yang tidak jelek-jelek amat, maka seharusnya nilai mahasiswa adalah A semua. Maka saya beri nilai A semua. Boleh begitu? Hi hi hi


Kerja Karena Suka

Kadang kepikiran mengapa saya mau mengerjakan apa yang saya kerjakan? Mengapa saya mengerjakannya melebihi dari expectation (melebih dari apa yang harus dikerjakan)? Jawaban saya hanya satu yaitu karena saya suka mengerjakannya. Saya mengerjakannya bukan karena uang yang saya terima. Bukan berarti saya menolak atau tidak butuh uang, tetapi uang bukan tujuannya. Demikian pula, saya tidak mencari pujian. Not fame and fortune.

Sayangnya saya masih melihat banyak orang yang mengerjakan sesuatu karena melihat bayarannya. Yang begini akan mudah terpancing untuk membanding-bandingkan pendapatan dirinya dengan temannya (atau teman temannya). Kok saya sudah bekerja sekeras ini mendapatkan segini? Sementara si fulan yang kerjanya hanya sedikit mendapatkan jumlah yang sama? Atau si fulanah mendapatkan lebih banyak. Kemudian ini menjadikan dia tidak termotivasi untuk bekerja. Bekerja hanya secukupnya saja. Dan ini justru membuat siklus yang melemahkan karena dia tampak sama seperti yang lainnya, tidak ada nilai tambahnya. Sehingga akibatnya penghasilan dia juga tidak nambah.

Saya bersyukur bisa mengerjakan yang saya sukai. Tidak semua orang seberuntung ini. Betulkah? Ataukah ini hanya persepsi kita saja? Entahlah.


Mau?

IMG_3663 ravioli 1000

Ravioli for lunch …


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.825 pengikut lainnya.