Tag Archives: postaday2013

Kok Bisa Males-Malesan?

Kenapa ya ada orang yang bisa males-malesan? Duduk-duduk kebingungan mau mengerjakan apa.

Sementara itu, di sini, saya ingin melakukan banyak hal tetapi tidak cukup waktu untuk melakukannya. Ini contoh beberapa yang ada di hadapan saya dan di kepala saya. Saya ingin menulis tentang mengapa masih perlu ada sekolah IT. Saya ingin ngoprek queue seperti rabbitmq, ngoprek graph database, mencari library untuk melakukan visualisasi database yang saya miliki, mempelajari algoritma graph (walk), ngoprek koding python terkait dengan library finite field. Selain itu ada setumpuk buku yang ingin (dan harus) saya baca. Belum lagi saya harus memeriksa tugas mahasiswa. Wadaw.

Bisa gak ya kerjaan saya itu di-outsource ke yang lagi duduk-duduk itu?

Atau mungkin saya yang bodoh tidak bisa menikmati hidup dengan berleha-leha?


Semakin Banyak Belajar, Semakin Tahu Tidak Tahu

Beberapa hari terakhir ini saya ngoprek koding. Saya membuat sebuah program – lebih tepatnya kumpulan skrip – yang melakukan query ke twitter dan mengambil informasi mengenai user dan follower-nya. Sebuah twitter crawler. Awalnya skrip ini ditulis dalam bahasa Python oleh beberapa orang. Karena skripnya kadang crash tanpa saya ketahui di mana masalahnya, akhirnya saya tulis ulang idenya dalam bentuk Perl script. Saya lebih familier dengan Perl :)

Pada akhirnya saya memiliki beberapa skrip Perl, database dengan MongoDB dan flat file (Perl Tie::File), dan seterusnya. Singkatnya program berjalan sesuai dengan apa yang saya inginkan. Hanya saja sekarang bentuknya adalah skrip-skrip yang mengimplementasikan satu fungsi tertentu. Mereka bukan sebuah program yang monolitik. Komunikasi antar skrip ini melalui file. Tentu saja ini menjadi tidak efisien, tetapi bagusnya bisa saya debug di setiap tahap.

Proof of concept sudah jadi. Sekarang program ini seharusnya dibersihkan, yaitu ditulis ulang :)  Kemungkinan besar dia harus didesain dengan konsep distributed, bukan lagi dari satu program.

Selain itu ternyata ada beberapa kendala. Kendala utama adalah adanya batasan dari twitter untuk mengakses sistemnya. Ada batas jumlah akses per satuan waktu (rate limiting). Akibatnya jumlah query yang saya inginkan tidak tercapai. Terpikir oleh saya untuk melakukan query secara paralel. Artinya akses ke database pun harus dilakukan secara paralel. Hal yang terbayang oleh saya adalah menggunakan queue seperti rabbitmq. Yang ini mesti belajar lagi.

Tambahan lagi, saya melihat bahwa database MongoDB pun masih dapat diperbaiki lagi dengan graph database seperti Neo4j. Belum lagi saya melihat flockDB yang dikembangkan oleh Twitter. Artinya masih banyak hal yang harus dipelajari. Semakin banyak belajar, semakin tahu bahwa makin banyak lagi yang harus dipelajari. Wah.


Mengulang Tulisan

Baru saja saya membuat sebuah tulisan. Setengah jalan, baru terpikir oleh saya bahwa kemungkinan saya sudah pernah menuliskan topik yang sama. Walah. Terus terang saya enggan untuk membaca tulisan saya sendiri. Ada perasaan “bagaimana” gitu. Maksudnya “bagaimana” itu kurang puas, malu, dan hal-hal yang negatif. Akibatnya nanti malah saya menjadi takut untuk menulis. Takut salahlah, takut kurang baik, dan takut-takut lainnya. Akhirnya saya ambil pakem tulis dan lupakan. hi hi hi.

Buruknya pendekatan ini ya seperti tadi. Saya menemukan diri saya menuliskan topik yang sama lebih dari satu kali. Kalaupun sadar, kadang sudah setengah jalan tulisannya. Hilang waktu terbuang dengan percuma. (Seharusnya sih tidak percuma karena ini dapat dilihat sebagai latihan.)

Jadi bagaimana? Jadi … saya beri peringatan kepada Anda, bahwa kapan-kapan Anda (sudah dan) akan menemukan tulisan saya yang berulang. Jangan heran. Biarkan saja. Maafkan sajalah. hi hi hi.


Kurang Produktif

Saya perhatikan postingan saya di blog ini. Nampaknya saya masih kurang sering menulis. Hal kedua adalah nampaknya saya kurang menampilkan foto-foto lagi. Yang ini saya lihat juga di media sosial saya (facebook dan twitter). Postingan foto saya jumlahnya menurun. Memang dalam keseharian saya dapati saya menjadi kurang memotret. Wah, saya menjadi kurang produktif begini.

Pakem yang saya anut masih tetap 10.000 jam atau 10 tahun untuk menjadi seorang yang mahir di sebuah bidang. Untuk menulis di blog memang saya sudah melewati jumlah itu. Bolehlah dibilang mahir. Tetapi tentunya saya tidak boleh terlena dan kemudian kendor dalam menulis. Ternyata memang susah untuk mempertahankan tempo dan konsisten menulis. Untuk potret-memotret, saya belum sampai 10.000 jam atau 10 tahun. Masih belajar.

Sebetulnya ada alasan saya menjadi kurang memotret. Yang pertama adalah saya tidak (sulit) menemukan obyek yang layak untuk dipotret. Ini sebetulnya adalah alasan. hi hi hi. Sebetulnya kalau mau kan bisa dibuat. Direkayasa. Males saja!

Yang kedua, yang lebih sering terjadi, sering ada obyek yang menarik tetapi saya sedang mengemudikan kendaraan. Tidak ada kesempatan untuk berhenti dan memotret momen itu. Jadinya ya lewat saja momennya. Saya pernah coba memotret sambil jalan. Hasilnya super jelek. Kabur. Memang masih pemula sih.

Yang ketiga, saya lebih suka memotret obyek yang “diam” seperti makanan, langit, dan alam secara umum. Untuk memotret makanan, karena makanan saya itu-itu saja, nanti yang melihat potretnya bosan. Kok itu lagi, itu lagi. Ya memang jenis makanan saya itu lagi itu lagi. hi hi hi. Begitulah. Lagian sekarang sudah banyak orang yang memotret makanan. Sudah mainstream. Padahal saya anti-mainstream. hi hi hi.

Semua di atas sebetulnya merupakan alasan atau pembenaran kepada diri saya sendiri. Saya harus lebih produktif. Itu saja.

Update. Sebagai bonus, saya sertakan foto makanan saja untuk menunjukkan bahwa saya tetap semangat berusaha untuk menjadi produktif.

IMG_3609 nasi ayam 1000


Tulisan Terlalu Pedas

Baru saja saya mengutarakan sebuah opini di mailing list. Tulisan saya mengeritik sebuah kebijakan di lingkungan kami. Setelah saya baca ulang, tulisan saya nampaknya terlalu pedas. Judulnya saja sudah “Aku Bukan Keledai”. hi hi hi.

Saya masih sulit untuk membuat tulisan yang pesannya keras tetapi dituliskan dengan bahasa yang lebih santun. Tulisan saya biasanya selalu langsung kepada pokok permasalahan. To the point. Kesannya menjadi menohok (pihak-pihak tertentu). Hadoh. Semoga tidak ada yang marah.

Blog ini sebetulnya merupakan salah satu cara saya untuk belajar menulis dengan lebih santun. Nampaknya saya masih harus banyak belajar karena tulisan saya tadi masih terlalu keras.

Belajar, belajar, belajas. Sinau, sinau, sinau …


Futsal vs. Hujan

Hari-hari ini selalu hujan di Bandung. Hujan jatuhnya siang sampai malam. Ini sebetulnya masih untung karena setidaknya cucian masih sempat mendapatkan matahari. hi hi hi.

Yang repot adalah acara futsal kami yang diadakan sore hari. Para pemain harus menerobos hujan untuk sampai ke tempat lapangan. Untungnya jumlah pemainnya masih cukup untuk dua timlah. Jadi kami masih bisa bermain sendiri tanpa perlu mencari-cari lawan di lapangan tetangga.

Dapat dimengerti yang tidak dapat hadir. Futsal kan tujuannya olah raga. Kalau harus menerjang hujan, risikonya memang bisa sakit sehingga tujuan untuk olah raganya malah tidak tercapai.

Mau mengeluh soal hujan juga kok rasanya gimana gitu. Kan hujan juga karunia dari Yang Maha Kuasa. Nah.


Menjelaskan Itu Harus Sabar

Menjelaskan sesuatu – termasuk juga mengajarkan sebuah topik – ternyata membutuhkan kesabaran, yang kadang kadarnya harus luar biasa. Seringkali kita tidak dapat menjelaskan sekali saja langsung dapat dimengerti. Kadang-kadang setelah berkali-kali mencoba menjelaskan ternyata tetap tidak dimengerti. Kalau sudah begini, seringkali kita  malah jadi frustasi dan marah-marah. he he he.

Ada beberapa alasan mengapa orang tidak dapat menerima apa yang kita sampaikan: (1) belum cukup ilmu untuk dapat memahami / mengerti pentingnya apa yang kita ajarkan, (2) penjelasan kita kurang baik, dan (3) memang yang bersangkutan tidak mau mengerti (misalnya, karena sudah punya pemahaman yang berbeda). Ketika kita  mengajar, mungkin yang paling sering dihadapi adalah yang nomor satu. Dulu ketika saya belajar Fourier Transform (dan Fast Fourier Transform, FFT), saya tidak tahu untuk apa. Ilmu saya belum cukup. Setelah lulus, bertahun-tahun kemudian, baru mengerti untuk apa dan mengapa itu penting. ha ha ha.

Yang paling repot adalah yang nomor tiga, tidak mau mengerti. Yang ini malah kadang orangnya sudah memiliki ilmu yang cukup tinggi. Mestinya sih dia dapat mengerti, tapi tidak mau ajsa. Kalau sudah begini ya kita punya dua pilihan, menyerah atau menambahkan tingkat kesabaran. hi hi hi.

Sabar, sabar, sabar.


Mau?

Sudah lama tidak posting mau :)  Padahal saya sudah banyak memotret makanan. Hanya saja saya belum sempat memproses fotonya.

IMG_3585 red coffee 1000

IMG_3561 kopi tarik 1000

Kali ini memang temanya adalah kopi :)  Ya karena kebetulan saja yang terlihat di layar adalah foto-foto kopi, maka itulah yang saya pasang. Foto makanan yang lainnya menyusul. hi hi hi.


Mengetik Dalam Kegelapan

Tulisan ini dibuat karena judulnya terlalu keren untuk dilewatkan, tidak dijadikan judul tulisan. Ini sebetulnya bermula dari kejadian sesungguhnya. Tadi malam saya membuka notebook untuk memeriksa email. Karena semalam hujan dan banyak laron, maka tempat saya menggunakan notebook itu lampunya dimatikan. Maka saya bekerja di tengah kegelapan, hanya ditemani dengan nyalanya layar notebook.

Ternyata mengetik dalam kegelapan itu tidak mudah. Padahal sebetulnya tidak gelap 100% karena masih ada cahaya dari layar notebook, tetapi kenyataannya memang masih sulit bagi saya. Kadang kalau mengetik saya masih membutuhkan orientasi dari jari. Entah ini perasaan saja atau sesungguhnya terjadi karena pada saat tulisan ini saya buat, saya mengetik juga tanpa melihat jari saya di atas keyboard. Saya hanya melihat di layar saja. Semestinya tanpa lampupun saya dapat mengetik ya? Mungkin kegelapan itu yang membuat saya tidak percaya diri. Entahlah.

Dalam hal lain, judul ini – kalau diubah sedikit menjadi “menulis dalam kegelapan” – dapat menjadi topik yang lebih menarik untuk dibahas. Banyak orang yang menulis asal-asalan tanpa didukung dengan fakta. Itu boleh jadi kita sebut menulis dalam kegelapan. hi hi hi.


Kejar Tayang Akhir Tahun

Nampaknya semua orang sedang panik sibuk kejar tayang akhir tahun. Banyak program kegiatan yang harus dilaksanakan terkait dengan rancangan kegiatan tahun 2013. Yang lebih banyak adalah kegiatan untuk menghabiskan budget! He he he. Anda mungkin termasuk kategori itu ya? hi hi hi. (Ingin rasanya membuat tulisan yang membahas tentang kacaunya perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan keuangan untuk berbagai kegiatan ini.) Eh, kalau di luar negeri apa masalah kejar tayang seperti kita tidak ya?

Saya sendiri juga punya program kejar tayang terkait dengan perkuliahan. Semua topik yang belum sempat diajarkan di kelas terpaksa ditugaskan untuk dipelajari sendiri oleh mahasiswa. Nah, mahasiswa yang ketiban pulung dijejali materi-materi dari semua dosen. (Nasib. Kalau kata orang Sunda, wayahna … he he he.) Yang harus saya kerjakan juga adalah menilai UTS kemarin (untuk memperkirakan keberhasilan / kegagalan mahasiswa) dan menyiapkan materi UAS. Hadoh.

Banyak orang yang mengira mengajar kuliah itu gampang. Kalau sekedar nongol di kelas sih gampang, tetapi sesungguhnya ada hal-hal lain yang membutuhkan kerja keras. Membuat soal. memeriksa hasil ujian, dan kemudian memberi nilai itulah yang paling melelahkan dari tugas mengajar. Percayalah ini tidak mudah. (Oleh karena maka dari itu … pikir-pikir dulu kalau mau jadi guru atau dosen.)

Mari kita kejar-kejaran …


Tanda-Tanda Sibuk

Saya benar-benar sibuk akhir-akhir ini. Tanda-tanda kalau saya sibuk adalah tidak sempat update blog. hi hi hi. Mungkin ini seperti yang mengada-ada, tetapi ini betulan. Saya mempunyai target untuk menulis blog setiap hari. Kalau tidak bisa, berarti memang saya sedang sibuk atau kecapekan (akibat dari sibuk itu).

Tulisan ini juga saya buat disela-sela kecapekan dan kesibukan. Sambil mata sudah mau merem saya ketikkan ini. (Sementara itu materi presentasi masih belum selesai. Hadoh.)


Bersiap Diri Untuk Industri Kreatif

Jargon “industri kreatif” sudah banyak kita dengar dan bahkan sudah dibuatkan instansi formalnya. Artinya, kita diarahkan untuk menuju industri kreatif. Pertanyaannya adalah siapkah kita?

Jika kita berbicara tentang sebuah industri, yang terbayang oleh saya adalah skalanya yang besar. Jika pelakunya hanya belasan orang atau ratusan orang, mungkin belum bisa disebut industri ya? Bisnis ya, tapi industri mungkin bukan. Tentu saja ada definisi industri yang lebih tepat dari ini. Saya hanya mencoba menyoroti skalanya saja. Untuk memasok jumlah sumber daya manusia yang banyak ini bagaimana caranya?

Sekolah-sekolah yang ada saat ini tidak memberikan nafas “kreatif” dalam proses pendidikannya. (Maha)siswa diajarkan untuk memecahkan masalah sebagaimana pekerja pabrik menyalakan mesin; prosedural dan bahkan terkesan seperti robot. Materi pelajaran diajarkan seperti instruksi. Kemudian pemahamannya diujikan berdasarkan pertanyaan yang berbentuk pilihan berganda (multiple choice). Di mana letak kreatifnya ya? Mereka diajarkan untuk menjadi robot dan robot tidak kreatif.

Katakanlah kita sudah berhasil menghasilkan SDM yang kreatif. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita mengelola (to manage) mereka? Pengelolan SDM kreatif akan berbeda dengan SDM yang hanya mengikuti instruksi. Apakah para pekerja ini dibiarkan semuanya menjadi “artisan” yang tidak dapat diatur? Sulitlah mengembangkan bisnis – apalagi industri – jika tidak ada pengelolaan yang baik. Silahkan tanya rumah produksi atau software house untuk melihat betapa susahnya mengelola SDM kreatif. Nampaknya ini harus dipelajari dengan lebih serius.

Lantas ada masalah di sisi manusianya sendiri. Apakah ada jenjang karir dari pekerjaan yang kreatif ini? Apakah ada “kasta” orang kreatif? Bagaimana membina mereka agar terjadi pertumbuhan?

Masih ada banyak pertanyaan saya. Sementara ini saya cukupkan ini dulu saja. Melihat ini semua, saya kok masih ragu kita sanggup membuat sebuah industri kreatif. Hadoh.


Media dan Konten

Apa beda antara “media” dan “konten”? Berikut ini adalah sketsa yang ada di kepala saya.

content and media 1000

Media adalah wadah, wahana, tempat, cangkang. Konten adalah isi yang berada dalam wadah tersebut. Media dapat berbentuk berita, blog, media sosial (nah ini namanya saja sudah media) seperti twitter. Konten adalah tulisan, gambar, audio, dan video yang disampaikan dalam media tersebut.

Bagaimana menurut Anda? Apakah pemahaman saya ini sudah benar?


Masih Perlukah Kartu Nama Kertas?

Setiap ada acara pasti ada pertukaran kartu nama. Anda apakan kartu nama yang Anda terima?

Terus terang, untuk saya, kartu nama itu langsung masuk ke kotak – tidak saya buang – dan tidak pernah saya sentuh lagi. Idenya sih siapa tahu kalau nanti dibutuhkan bisa saya kontak lagi via kartu nama tersebut, tetapi pada kenyataannya seringkali orang sudah pindah perusahaan sehingga kartu nama tersebut menjadi tidak relevan lagi. Lagi pula saya terima sangat banyak kartu nama karena saya sering memberikan presentasi, ikut pertemuan / rapat ini dan itu. Dalam satu kali pertemuan mungkin dapat 20 kartu nama dan dalam satu minggu mungkin ada 2 kalai pertemuan. Jadi dalam satu bulan mungkin ada sekitar 100 kartu nama. Nah.

Jaman digital seperti ini mengapa kita tidak menggunakan kartu nama digital saja ya? Tinggal kita “tempelkan” handphone kita dengan handphone pihak lain untuk bertukar kartu nama. Semestinya tidak susahkan?

Saya sendiri saat ini jarang membawa kartu nama. Akhirnya yang sering dilakukan adalah tukar menukar nomor handphone dan alamat email pribadi (yang tidak terikat dengan perusahaan atau instansi). Cukup dengan itu saja.

Jadi, masih perlukah kartu nama kertas?


Mengajari Pop Culture

Ada sebuah keinginan saya untuk mengajari pop culture kepada mahasiswa saya. Setidaknya saya ingin mahasiswa saya melek terhadapa kultur di luar Indonesia. Bukan untuk menerima kultur dari luar tersebut, tetapi sekedar melek saja.

Salah satu cara untuk mempelajari hal ini adalah dengan melihat acara TV yang menjadi populer di luar negeri. Maka tadi sore saya memutar satu film dari Fresh Prince of Bell Air, yang bintangnya adalah Will Smith. Saya pilih ini karena mahasiswa mengenal Will Smith. Hanya saja mereka mengenal Will setelah menjadi bintang film yang populer, yang keren. Kalau di dalam film seri Fresh Prince itu Will Smith masih mudah dan masih culun. he he he. Hal lain mengapa saya pilih seri ini adalah karena lucu.

Kita dapat belajar banyak hal dari lawakan karena lawakan sangat sarat dengan kultur setempat selain bahasa yang digunakan tentunya. Kalau kita tidak mengerti konteksnya, ada banyak hal yang menjadi tidak lucu. Kalau kita dapat tertawa karena sebuah lelucon, maka kita dapat dikatakan sedikit memahami bahasa dan kultur / konteks dari pelawak tersebut. Saya sendiri belajar Bahasa Inggris melalui lelucon dalam bahasa Inggris, yang umumnya berbentuk standup comedian. (Maka dari itu sedikit banyak cara presentasi saya juga mengikuti pakem ini. he he he.)

Lumayanlah tadi bisa ketawa-ketiwi di kuliah. Maklum, kuliah sudah sore dan sudah lelah. Lebih baik kita tertawa dan nilai kuliah tetap bagus. Bukankah begitu?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.903 pengikut lainnya.