Arsip Tag: Prosa

Rayuan Buku

Wahai buku-buku,
Aku tahu apa yang kalian perbuat
Kalian bersekongkol
Merayu kami
Untuk sekedar melihat-lihat
Memungut
Kemudian membawa kalian pulang
(dan mengucapkan selamat tinggal
kepada uang yang sebelumnya menghuni dompet)

IMG_3619 books 1000


Engkau Berubah

Semenjak mendapatkan jabatan itu, engkau berubah.
Untuk menjawab pertanyaanku pun engkau menerapkan protokoler yang super kompleks.
Cita-citamu pun berubah untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi.

Semenjak engkau terkenal, engkau berubah.
Tak mau lagi engkau nangkring di warung pinggir jalan.
Dandananmu pun harus yang mahal dan bermerek.

Menarik sekali untuk melihat perilaku seseorang setelah fame and fortune menghampiri mereka. Sedih melihatnya. Padahal jabatan dan ketenaran itu hanya sesaat saja. Setelah itu mereka kembali menjadi manusia biasa lagi. Setelah itu baru mereka ingin berubah menjadi biasa lagi tetapi sudah terlambat. The damage is already done.

Tidak banyak orang yang tetap bersahaja seperti sebelumnya. Lihatlah sekeliling kita. Berubahkah kita?


Ijinkanlah …

ya Allah…
Sang Maha Pengasih dan Penyayang
ijinkan aku mencintaiMu
karena aku tahu betapa besarnya sayangMu kepada aku

ya Allah…
sembahanku
ijinkan aku menjadi budakMu
yang selalu tunduk, patuh, dan setia kepadaMu


Parodi Superhero (2)

Hujan rintik-rintik membuat malam ini lebih dingin dari biasanya. Sebagian besar orang – dan bahkan nyamuk – memilih untuk mengurung diri di rumahnya masing-masing. Nampaknya tak ada kejahatan malam ini. Benar-benar sepi.

“Hatsyiii”

Kembali senyap. (Eh, suara bersin itu seperi apa sih ya?)

“Hatsyiiim. Hatsyiiiimmm”
(Alhamdulillah)

Bersin itu kembali memecah keheningan, tetapi tidak ada seorang pun yang mendengarkan.

Terduduk berselonjoran di atap gedung pencakar langit ini seseorang dengan memakai baju seperti laba-laba. Spiderman! Sebetulnya dia tidak ingin mebiarkan dirinya kehujanan. Dia ingin berteduh. Tetapi dia harus mengawasi kota ini. Sambil menggigil dia tetap terduduk.

“Sudah. Kamu pulang aja”, tiba-tiba terdengar suara di dekat situ.

Spiderman terkejut. Mencari asal suara sambil terheran-heran mengapa dia tidak mendengar suara orang mendekat. Mungkin hujan ini. Mungkin juga karena flu-nya. Samar-samar dia melihat bayangan hitam dengan jubah di belakangnya. Ooo, ternyata Batman. Sesama superhero. Pantesan tidak terdengar.

“Wah aku harus jagain kota”, kata Spiderman

“Biar aku yang gantiin”

“Ah, tapi ngapain pulang juga. Gak ada yang bisa kerokin”

“Serius? Kamu mau kerokan? Sini tak kerokin”

Spiderman kemudian berpikir. Gimana caranya kerokan pake baju superhero seperti ini. Harus buka baju. Kalau bajunya dibuka, nanti ketahuan siapa dia aslinya.

“Gak mau ah. Nanti aku ketahuan aslinya”

“Yah. Segitunya. Anonimity is so overrated“, kata Batman.

“Kata siapa? Buktinya pak Budi punya mahasiswa yang sedang meneliti soal anonimity ini”, kata Spiderman. Tahu-tahunya dia. (He he he. Numpang promosi. wk wk wk.)

“Jadi gimana? Mau kerokan gak?”

“Gak mau kalau sama kamu”

Mereka kemudian terdiam. Mikir. Batman kepikiran Spiderman bisa dikerokin sama Alfred, butler kepercayaannya. Jadi dia tidak perlu tahu siapa sesungguhnya Spiderman, tapi kalau begitu berarti Spiderman bisa tahu siapa dia aslinya dari menelusuri Alfred. Belum lagi nanti kalau dia tahu tempat persembunyiannya. Gak jadi ah.

“Gini aja. Kamu pulang, minum tolak angin aja”

“Minuman orang pintar ya?”, Spiderman nyengir sambil mengutip iklan tolak angin yang dibintangi Rhenald Kasali.

“Mau minum yang untuk orang bejo juga boleh”, Batman gak mau kalah. Keduanya terkekeh. Spiderman lebih susah ketawanya.

“Ya udah, aku pulang. Titip kota ya”, kata Spiderman.

Batman mengangguk. Spiderman merayap pulang. Sungguhan merayap karena nampaknya untuk berdiripun dia sudah gak sanggup.

“Hatsyiiimmm” …

[Seri parodi superhero: 1, 2]


in search of …

thinking
ideas
pondering
smiling
frowning
back to square one

in search of ways to inspire …


Sahabat

DSC_0217 friends 1000 bw

sungguh sangat beruntung
bagi sesiapa yang memiliki sahabat

sedihnya sepi
bagi sesiapa yang tidak memilikinya

[Tuliskan kata-katamu tentang sahabat / persahabatan.]


Jika Lautan Terbuat Dari Kopi

Jika lautan terbuat dari kopi
Aku ingin dia seperti kopi tubruk, hitam dan pekat
Agar dia membuatku terjaga
Menjaga dunia ini

Jika lautan terbuat dari kopi
Dia sama seperti air garam
Tidak dapat kuteguk begitu saja
Ah, mengapa perutku demikian sensitif?

Jika lautan terbuat dari kopi
Aku rasa orang akan membuang sampah ke sana
Karena sampah tidak terlihat
Bahkan rasanyapun mungkin tertupi oleh rasa kopi


Di Sebuah Toko Buku

Tak tahan aku melihat toko buku pagi ini. Seharusnya aku tidak ke sana, tetapi kaki langsung melangkah memasukinya. Mata langsung menikmati serakan buku. Sampul buku yang berwarna-warni mencari perhatianku.

IMG_0947 bookstore

Ijinkan aku menikmati semuanya ini.

Tangan mendekap erat dompet di saku celana. Berharap uang tidak menyelinap keluar, menukarkan diri dengan buku.

Harapan tinggal harapan. Tiga buku berpindah dari tumpukan ke kantong plastik yang kujinjing. Ah, seharusnya tadi tidak perlu dimasukkan ke dalam kantong plastik. Semoga manfaat.


Terus Berlari

aku berlari …
dan terus berlari

jika aku berhenti
penat akan datang
mendapati diriku
menghentikan diriku

aku harus terus berlari …


Di sudut sana

Di sudut sana
Kulihat kau terduduk di atas sajadah
Air mata membahasahi mukenah yang dikenakannya
Berdoa

Di atas tanas kering ini
Aku berdiri
Kuangkat tangan mengamini doamu, ibu
Amiiinnn

Kuikatkan tali sepatu boots yang terlepas
Kadang engkau mengikatkan tali ini
Kuangkat ransel dan rapatkan jaket
Melangkah


(sementara itu, di balik pepohonan)
Sepasang mata memandangi sang pemuda
Air mata membasai jaket yang dikenakannya
Menyeka air mata


haus

kering
tenggorokan
air putih
(asal jangan es!)
minuman segar
juice, mungkin?
teh hangat
air putih
air putih


Kisah Mahasiswa Bimbingan

Sang dosen menatap mahasiswa bimbingannya yang mencoba menjelaskan idenya. Bulir-bulir keringat mulai terlihat di dahinya. Hi hi hi. Sang dosen ingin tertawa tapiĀ  tidak sampai hati. Jangan-jangan aku juga dulu begitu, gumamnya.

Mahasiswa selesai menjelaskan. Dosen terdiam sejenak. Pasang muka serius.

Wah, ini salah besar dik“.

Dosen terdiam sejenak untuk melihat ekspresi mahasiswa. Sang mahasiswa terkejut. Cemas. Bulir-bulir keringat menampakkan dirinya. Mengalir.

Eh, sudah benar ding“, sang dosen akhirnya berkata.

Diam sejenak. Mahasiswa masih tegang. Hi hi hi. Cukup penyiksaan ini.

Begini, dik. Kita … ” dan seterusnya, dan seterusnya.

Diskusipun kembali berlangsung. Mahasiswa sudah tenang. Dosen pembimbing pun serius mengarahkan mahasiswa. Bulir-bulir keringat menghilang. Berganti dengan asap yang mengepul dari kepala mahasiswa dan dosen.


Tuhan dan Komputer

Ada seorang dosen yang memberikan tugas pengamanan sistem informasi kemahasiswaan kepada mahasiswanya. Sang mahasiswa harus membuat sebuah access control list (ACL) yang membatasi akses ke transkrip mahasiswa. Berikut adalah potongan kode yang dibuat oleh mahasiswa.
if "student" then allow;
if "dosen" then allow;
if "God" then allow;
else deny

Sang dosen kemudian memanggil mahasiswa tersebut.

“Tolong jelaskan ini!”, sambil menujuk baris yang ada kata “God”.
“Ada masalah apa, pak?” tanya sang mahasiswa.
“Ya, ini. Kok ada God?”
“Loh kan Tuhan ada di mana-mana pak. Mosok Tuhan tidak ada di komputer?”

[dosen pingsan ...]


Hari Pahlawan

Hari ini hari pahlawan
Masih adakah pahlawan hari ini?

Tak perlu superhero
Sekedar manusia biasa saja
Yang masih mencintai Indonesia
Melebihi dirinya sendiri

 

[bandung, 10 november 2012]


I am Titanium

Aku terduduk. Memandangi kota di malam hari. Lampu-lampu menerangi rumah. Menjauhkan kegelapan dan ketakutan. Seharusnya city lights membuat suasana yang indah, tetapi untuk seorang diri ini merupakan sebuah siksaan. Tak dapat membagi keindahan. Sigh.

Angin dingin menembus kemeja dan T-shirt yang kukenakan. Tangan merapikan kemeja, memasukkan anak kancing ke lubangnya. Tidak sengaja tangan menyentuh bagian tubuh yang keras bagai baja. Titanium tepatnya.

Benda ini berada di sana sebagai upaya untuk menyelamatkan diriku ketika mengalami kecelakaan. Nenek, seorang dokter peneliti jenius, yang memasangkannya. Selain itu ada banyak hal yang dilakukan nenek untukku. Tak banyak yang tahu bahwa sesungguhnya setengah tubuhku adalah titanium. Tak ada bedanya dengan sebuah robot.

Kecelakaan itu juga mengubah hidupku karena pada hari itu aku kehilangan kedua orang tuaku. Hanya nenek satu-satunya yang kumiliki. Kesedihan yang memuncak juga membuat hatiku menjadi lebih keras dari Titanium. Maybe this is for the best.

Ah, sudah waktunya makan malam. Nenek pasti sudah menungguku. Menghela nafas, seraya lirih berkata …

I am Titanium.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.595 pengikut lainnya.