Arsip Tag: Prosa

Terus Berlari

aku berlari …
dan terus berlari

jika aku berhenti
penat akan datang
mendapati diriku
menghentikan diriku

aku harus terus berlari …


Di sudut sana

Di sudut sana
Kulihat kau terduduk di atas sajadah
Air mata membahasahi mukenah yang dikenakannya
Berdoa

Di atas tanas kering ini
Aku berdiri
Kuangkat tangan mengamini doamu, ibu
Amiiinnn

Kuikatkan tali sepatu boots yang terlepas
Kadang engkau mengikatkan tali ini
Kuangkat ransel dan rapatkan jaket
Melangkah


(sementara itu, di balik pepohonan)
Sepasang mata memandangi sang pemuda
Air mata membasai jaket yang dikenakannya
Menyeka air mata


haus

kering
tenggorokan
air putih
(asal jangan es!)
minuman segar
juice, mungkin?
teh hangat
air putih
air putih


Kisah Mahasiswa Bimbingan

Sang dosen menatap mahasiswa bimbingannya yang mencoba menjelaskan idenya. Bulir-bulir keringat mulai terlihat di dahinya. Hi hi hi. Sang dosen ingin tertawa tapi  tidak sampai hati. Jangan-jangan aku juga dulu begitu, gumamnya.

Mahasiswa selesai menjelaskan. Dosen terdiam sejenak. Pasang muka serius.

Wah, ini salah besar dik“.

Dosen terdiam sejenak untuk melihat ekspresi mahasiswa. Sang mahasiswa terkejut. Cemas. Bulir-bulir keringat menampakkan dirinya. Mengalir.

Eh, sudah benar ding“, sang dosen akhirnya berkata.

Diam sejenak. Mahasiswa masih tegang. Hi hi hi. Cukup penyiksaan ini.

Begini, dik. Kita … ” dan seterusnya, dan seterusnya.

Diskusipun kembali berlangsung. Mahasiswa sudah tenang. Dosen pembimbing pun serius mengarahkan mahasiswa. Bulir-bulir keringat menghilang. Berganti dengan asap yang mengepul dari kepala mahasiswa dan dosen.


Tuhan dan Komputer

Ada seorang dosen yang memberikan tugas pengamanan sistem informasi kemahasiswaan kepada mahasiswanya. Sang mahasiswa harus membuat sebuah access control list (ACL) yang membatasi akses ke transkrip mahasiswa. Berikut adalah potongan kode yang dibuat oleh mahasiswa.
if "student" then allow;
if "dosen" then allow;
if "God" then allow;
else deny

Sang dosen kemudian memanggil mahasiswa tersebut.

“Tolong jelaskan ini!”, sambil menujuk baris yang ada kata “God”.
“Ada masalah apa, pak?” tanya sang mahasiswa.
“Ya, ini. Kok ada God?”
“Loh kan Tuhan ada di mana-mana pak. Mosok Tuhan tidak ada di komputer?”

[dosen pingsan ...]


Hari Pahlawan

Hari ini hari pahlawan
Masih adakah pahlawan hari ini?

Tak perlu superhero
Sekedar manusia biasa saja
Yang masih mencintai Indonesia
Melebihi dirinya sendiri

 

[bandung, 10 november 2012]


I am Titanium

Aku terduduk. Memandangi kota di malam hari. Lampu-lampu menerangi rumah. Menjauhkan kegelapan dan ketakutan. Seharusnya city lights membuat suasana yang indah, tetapi untuk seorang diri ini merupakan sebuah siksaan. Tak dapat membagi keindahan. Sigh.

Angin dingin menembus kemeja dan T-shirt yang kukenakan. Tangan merapikan kemeja, memasukkan anak kancing ke lubangnya. Tidak sengaja tangan menyentuh bagian tubuh yang keras bagai baja. Titanium tepatnya.

Benda ini berada di sana sebagai upaya untuk menyelamatkan diriku ketika mengalami kecelakaan. Nenek, seorang dokter peneliti jenius, yang memasangkannya. Selain itu ada banyak hal yang dilakukan nenek untukku. Tak banyak yang tahu bahwa sesungguhnya setengah tubuhku adalah titanium. Tak ada bedanya dengan sebuah robot.

Kecelakaan itu juga mengubah hidupku karena pada hari itu aku kehilangan kedua orang tuaku. Hanya nenek satu-satunya yang kumiliki. Kesedihan yang memuncak juga membuat hatiku menjadi lebih keras dari Titanium. Maybe this is for the best.

Ah, sudah waktunya makan malam. Nenek pasti sudah menungguku. Menghela nafas, seraya lirih berkata …

I am Titanium.


Selamat Jalan …

Perjumpaan kita
diawali dengan hormatmu
kepadaku yang bukan siapa-siapa.
Padahal kau, maestro,
layak untuk berkata siapa aku dan siapa kamu.
Respect deserves respect.

Karakter tidak dapat dibeli dan dipalsukan.
Tercermin dalam tingkah laku
dalam karya.
You are an educated man. Indeed.

Terkejut aku mendengar kabarmu.
Kau harus tinggalkan kami semua.
For a journey that we all have to take.

Selamat jalan, wahai manusia terbaik.
Doa kami menyertaimu.
Semoga cinta dan kasihNya selalu menyertaimu.
Always …

[rest in peace, mas Remy Soetansyah. salam hormat.]


Tidak Tahukah Kau (18)

Jek memarkir kendaraannya di depan garasi rumah Sar. Jek sedang mengobok-obok ranselnya untuk memastikan bawaannya aa di sana ketika Sar membukakan pintu depan rumahnya. Mengenakan sweater tebal, mata Sar terlihat sembab.

Jek: Waaa. Serius lu sakitnya ya?
Sar: Bawel! Cepetan masuk. Angin nih.

Dalam hati Sar ingin berkata bahwa kalau tidak sakit mana mungkin dia melewatkan bekarja sama dengan Jek. Mana suka dia melihat Jek gelundungan ke sana kemari sampai ada yang menawarkan kopi segala. Mata sembab? Entah karena sakitnya atau karena sisa menangis kesal.

Ruang tamu tidak terlalu nyaman untuk kerja bersama. Sar mengajak Jek untuk kerja di meja makan saja. Jek mulai mengeluarkan notebooknya, kertas-kertas coretannya, dan terakhir sebotol Lemon Water. Disodorkannya botol Lemon Water itu ke depan Sar.

Sar tertegun. Bagaimana Jek tahu Sar sedang menginginkan minuman ini? Jek tersenyum, seolah berkata. I just know, because you’re my best friend.

[di belakang terdengar sayup-sayup lagu dari Avril Lavigne - I will be]

[Seri tidak tahukah kau: 18, 171615141312, 1110987654321]


Tidak Tahukah Kau (17)

Bagi yang pernah membuat proposal pasti tahu betapa sulitnya untuk membuat proposal yang bagus. Tentu saja kalau hanya asal-asalan sih bisa saja. Meskipun bukn perfeksionis, Jek tidak ingin membuat proposal yang asal-asalan. Maka pagi ini dia ingin mengajak Sar untuk menyelesaikan proposal ini. Kemarin mereka sudah janjian untuk bertemu di kampus.

Hari masih pagi ketika Jek menginjakkan kaki ke kampus. Udara cerah dan segar. Menyelipkan earphone di telinga, Jek melangkah menuju ke kantin. Pojokan kantin dengan meja yang agak lebar nampaknya tempat yang sesuai. Tenang.

Jek baru membuka notebooknya ketika handphonenya berdering. Sar.

Jek: udah sampe mana, Sar?
Sar: [serak-serak] Aku gak jadi ke kampus, Jek. Gak enak badan.
Jek: yaaahhh [kecewa]
Sar: habis gimana lagi
Jek: ya udah, gak apa-apa, Sar. Istirahat aja ya. Kasih tahu kalau udah sehat. Biar aku beresin proposal ini.
Sar: sori ya Jek.

Jek menarik nafas. Ayo proposal. It’s between you and me. Mari kita selesaikan masalah kita. Maka tenggelamlah Jek dalam kesibukannya tanpa memperhatikan sekitarnya. Udara pagi yang cerah seharusnya lebih menarik daripada proposal.

Wah rajin. Suara Joko mengagetkan Jek.
Jek: ah elu [sambil kembali memperhatikan huruf-huruf di layar]
Joko: ngapain, Jek?
Jek: beresin proposal. Elu mau ngapain pagi-pagi?
Joko: janjian sama saudara
Baru selesai Joko bicara, datang Mira dengan membawa tas plastik kresek. Menyodorkan ke Joko.
Mira: ini titipan emak
Joko: sip. Thanks ya

Jek sebetulnya ingin bertanya apa isi tas plastik itu tapi dia lebih ingin menyelesaikan proposalnya. Harus selesai. Harus selesai. Harus selesai.

Mira: lagi buat apa? kok serius amat
Jek: ini. proposal. [mata masih tetap fokus di layar]

Joko memeriksa isi tas plastik, sementara Mira menatap kantin kemudian melangkah ke counter kantin. Jek masih mencoba merangkai kata-kata yang pas untuk proposal ini. Tidak perlu hebat. Toh yang baca juga tidak banyak. It’s not a book that will be read by many people. Tapi kalau tidak bagus bagaimana orang mau menyetujui proposal ini? Yah. Secukupnyalah.

Handphone Jek berdering kembali pas ketika Mira datang dengan dua cup kopi di tangannya.

Jek: halo Sar. udah baikan? he he he
Sar: ya belum. emangnya bisa instan. gimana proposalnya?

Mira (sambil menyodorkan cup kopi ke Jek): nih Jek, biar gak ngantuk

Sar: … heh? itu siapa???

Jek (ragu untuk menjawab): Mira …
Sar (nada kepo): ngapain dia di sana?
Jek: gak tahu nih, sama Joko

hening …
hening …
hening …

Sar: ke sini aja deh. kita beresin proposal di sini aja.
Jek: lu nular gak?
Sar (sewot): kalau nular emang napa?
Jek: ya gua mesti divaksin dulu
Sar: jadi mau ke sini gak???
Jek: tapi nanti lu gak istirahat?
Sar: kalau gak mau ya udah
Kalau sudah begini. Jek pasti menyerah.
Jek: oke oke oke … gua ke sana

Jek (ke Joko dan Mira): sori gua harus pergi dulu
Mira: kopinya?
Jek (sambil menutup notebook): buat Jok aja deh.

Jek cepat-cepat kabur. Sebetulnya dia menginginkan kopi itu, tapi nanti kalau dia minum atau dia bawa bakal jadi masalah lagi seperti kasus sandwich waktu itu. Eh, apa iya ya waktu itu sandwich bermasalah? Ah, daripada menebak-nebak, cari yang aman saja. Susah juga punya sahabat yang demanding seperti Sar. Sahabat tentu lebih penting daripada kopi, bukan?

Jek melangkah cepat menuju tempat parkir. Pagi masih cerah. Wish you were here …

 

[Seri tidak tahukah kau: 18, 171615141312, 1110987654321]


(Sang Merah Putih) Enggan Berkibar

sang merah putih enggan berkibar
sang angin pun enggan untuk datang menghampiri
dan membuatnya berkibar

negeriku …


Klinik Tong … Plak

Sekarang sedang rame-ramenya orang-orang membuat lawakan dengan judul “Klinik Tong Fang”. Entah siapa yang memulai dan saya sendiri tidak tahu sejarahnya. Lama kelamaan jadi cape juga sehingga ada orang yang membuat posting mengatakan cape kalau dengan Klinik Tong … *plak* ditampar. Ini percobaan saya.

Saya: Awas ya! Saya tempeleng kamu kalau bilang Klinik Tong … [*plak* menampar]
Dia: Aduh… Kok saya yang ditampar??? Padahal kamu kan yang bilang Klinik Tong … [*plak* ditampar lagi]
Dia meloncat. Mengelus pipi.
Saya: Maaf. Yang pertama tadi latihan. Yang kedua sudah jadi reflek.
Dia … kabur …


Aku Iri

aku iri
melihat sajadahmu yang lusuh
tempat bekas kaki dan sujud terlihat memudar
andai aku …

aku iri
melihat Al Qur’an yang kau bawa
kertasnya yang bergelombang tanda banyak dibaca
andai aku …


Coffee Shop

Seorang pembeli masuk ke sebuah coffee shop.

Pembeli: mas, saya mau coffee latte satu
Penjual: maaf, mesin kopinya rusak
Pembeli: jadi adanya apa?
Penjual (setelah berpikir sejenak): … shop?
Pembeli (berpikir sejenak juga): … buntut?


biarkanlah

putih
sejauh mata memandang

dingin
sekujur tubuh

berdiri
di atas glacier ini

terpana
melihat keindahannya

sedih
karena tak dapat berbagi

maka …

biarkanlah
aku membeku dan menyatu dengan es jutaan tahun ini


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.071 pengikut lainnya.