Tag Archives: Prosa

Kadal

jika aku menjadi kadal
maka aku ingin menjadi kadal yang manfaat
bukan kadal yang kerjanya meng-kadal-i orang

jika aku menjadi kadal
akan kutangkapi serangga yang mengganggu manusia
sehingga meng-kadal-i justru disukai

jika aku menjadi kadal
aku kadal yang bersendal
karena aku bukan begundal

jika engkau menjadi kadal
apa yang akan kau perbuat?


Tulisan Yang Tidak Selesai

Memiliki tulisan yang tidak selesai – eh, belum selesai – mungkin bukan masalah saya sendiri tetapi masalah umum bagi penulis. Apa yang dilakukan oleh para penulis terkenal dalam menghadapi hal ini ya?

Saya sih mengabaikannya. Kalau tidak selesai, ya tidak selesai. Hilang. Poof. Dissapear. Kalau memang tulisan itu layak untuk tayang, dia akan muncul kembali. Bahwa dia akan hadir melalui jemari saya atau orang lain, itu persoalan lain. Itu masalah keberuntungan saja. Itu masalah perang ego.

Yang membuat saya kesal adalah saya merasa potongan tulisan – atau bahkan sekedar potongan ide – luar biasa bagusnya. Bukan hanya sekedar pantas untuk dibagi, tetapi *harus* dibagi. Hanya saja dalam bentuknya yang potongan tersebut maknanya masih belum terkumpul secara sempurna. Ide yang ada di kepala saya tidak sampai kepada pembaca. Eh, bukankah itu hal yang bagus juga? Interpretasi yang berbeda merupakan hal yang menarik juga.

[contoh potongan prosa; unfinished poem?]


people are afraid of fading away

but, fading away we must

[soundtrack: Camel - Long Goodbyes ...]


Parodi Superhero (3)

Spiderman baru sampai kamarnya. Rebahan sebentar ah. Capek. Sambil rebahan dia melirik pintu. Eh, ada kertas di bawah pintu. Nampaknya disodorkan ketika dia sedang pergi.

Sambil malas-malas dia bangun dan mengambil kertas itu. Ternyata ini undangan untuk pemilihan presiden. Wah dapat juga undangan nyoblos. Tertera namanya, spiderman. Sebetulnya dia sedang mikir juga, darimana KPU tahu dia tinggal di sini? Tetapi karena dia sedang senang untuk ikutan pilpres ini, dia tidak peduli. Sebelum-sebelumnya dia termasuk yang golput. Kali ini dia gagal golput. hi hi hi.

Zzz … saking lelahnya, spiderman tertidur dengan menggenggam kertas itu di tangannya. Menggenggam sebuah harapan.

Pagi hari menjelang. Spiderman melemaskan ototnya dengan sedikit berolah raga di atas atap gedung. Hari yang baik. Hari yang membuat perubahan. Nyoblos hari ini. Yeah, yeah, yeah. Loncat sana, loncat sini.

Jam 10 pagi spiderman mulai berangkat menuju TPS yang tertera pada kertas panggilan nyoblos. Tidak jauh dari tempat tinggalnya. Bisa jalan santai saja. Tidak perlu heboh loncat dari satu gedung ke gedung lainnya. Melenggang dia berjalan.

Sepanjang jalan dia melihat orang-orang ceria. Mereka nampaknya menuju TPS masing-masing. Beberapa di antaranya melambaikan tangan. Spiderman melambaikan tangan lagi. Aura perayaan hadir.

Sesampainya di TPS, spiderman menyodorkan kertas panggilan yang dia bawa kepada petugas TPS. Petugas TPS melihat nama yang tertera. Tertegun. Spiderman sudah merasa gede rumangsa (ge-er) dulu. Pasti petugas sudah tahu siapa dia. Petugas mengerutkan dahinya.

“Ada masalah?”, tanya spiderman. Waswas.
“Nganu. Mas bawa identitas tidak?”, jawab petugas.

Spiderman tersentak. Baru kali ini dia ditanya identitasnya. Bukankah sudah jelas?

“Ini mas”, kata spiderman sambil menunjukkan baju pakaiannya dari kepala ke kaki. Berharap sang petugas dapat menerima identitasnya.

Petugas menggelengkan kepala. “Tidak bisa mas”.

“Lho, kenapa? Kan saya sudah jelas saya spiderman”, jawab spiderman.

“Dan mereka juga”, kata sang petugas sambil menunjuk tiga anak kecil yang berpakaian spiderman. Menari-nari sambil menunjuk-nunjuk spiderman. Nampaknya mereka diajak oleh orang tuanya ke TPS dengan memakai pakaian spiderman.

Spiderman pusing … Ngelu … memikirkan cara untuk membuktikan bahwa dia benar-benar spiderman. Tadinya terpikir untuk membuka kedoknya dan menunjukkan bahwa dia adalah Peter Parker, tapi nanti jadi ketahuan siapa dia. Lagi pula yang diundang untuk pemilu adalah spiderman, bukan Peter Parker. Kemudian dia punya ide.

“Mas, tapi mereka kan gak bisa begini”, kata spiderman sambil meloncat ke gedung. Menjulurkan tangannya. Jala keluar dari tangannya. Berayun dia dari satu gedung ke gedung yang lain. Yiiihaaa … Orang-orang bersorak sorai. Spiderman mendarat kembali ke depan petugas.

“Bagaimana mas?”

Petugas celingukan. Melihat ke orang-orang di sekitar dan saksi. Semuanya mengangguk. Persetujuan.

“Ok mas spiderman. Silahkan menunggu panggilan”

Spiderman pun bernafas lega. Yaaayyy. Kali ini aku tidak lagi golput. Jayalah negaraku.

[Seri parodi superhero: 1, 2, 3]


Tidak Boleh Berhenti (Untuk Berbuat Baik)

Aku lelah
Ketika ku mencoba berbuat baik
Olok-olok yang kudapat

Aku ingin berhenti
Untuk berbuat baik

(namun)
Ketika ku lihat orang itu
Tidak lelah berbuat baik
Meski olok-olok yang dia dapat

Aku malu berhenti
Untuk berbuat baik

Aku tidak boleh berhenti
Untuk berbuat baik


adakah

kami tidak membuhkan orang bergelar yang tinggi
tetapi orang yang berpendidikan
dapatkah kau bedakan?

kami tidak membutuhkan seorang ksatria
yang tidak memiliki jiwa satria
dapatkah kau lihat?

kami membutuhkan orang biasa saja
seperti engkau dan saya
yang mau mendengar
menemani keluh kesah kami

kami membutuhkanmu
adakah kau di sana?


Rayuan Buku

Wahai buku-buku,
Aku tahu apa yang kalian perbuat
Kalian bersekongkol
Merayu kami
Untuk sekedar melihat-lihat
Memungut
Kemudian membawa kalian pulang
(dan mengucapkan selamat tinggal
kepada uang yang sebelumnya menghuni dompet)

IMG_3619 books 1000


Engkau Berubah

Semenjak mendapatkan jabatan itu, engkau berubah.
Untuk menjawab pertanyaanku pun engkau menerapkan protokoler yang super kompleks.
Cita-citamu pun berubah untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi.

Semenjak engkau terkenal, engkau berubah.
Tak mau lagi engkau nangkring di warung pinggir jalan.
Dandananmu pun harus yang mahal dan bermerek.

Menarik sekali untuk melihat perilaku seseorang setelah fame and fortune menghampiri mereka. Sedih melihatnya. Padahal jabatan dan ketenaran itu hanya sesaat saja. Setelah itu mereka kembali menjadi manusia biasa lagi. Setelah itu baru mereka ingin berubah menjadi biasa lagi tetapi sudah terlambat. The damage is already done.

Tidak banyak orang yang tetap bersahaja seperti sebelumnya. Lihatlah sekeliling kita. Berubahkah kita?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.837 pengikut lainnya.