Tag Archives: spin off

Perguruan Tinggi, Penelitian, Spin Off

Salah satu peran perguruan tinggi adalah melakukan penelitian. (Sayangnya kalau di Indonesia, perguruan tinggi lebih ke arah pendidikan, pengajaran, atau lebih parah lagi tempat mendapatkan gelar dan ijasah semata.) Penelitian dilakukan oleh dosen yang merangkap sebagai peneliti, mahasiswa, dan juga peneliti yang memang peneliti (yang ini agak jarang). Pendanaan diperoleh dari berbagai sumber, dari pemerintah, industri (jarang di Indonesia), dan dari dosen / peneliti (sebagai bagian dari pekerjaan yang dilakukan di tempat lain).

Sayangnya kebanyakan penelitian yang terjadi di Indonesia adalah penelitian yang hanya bertujuan untuk menyerap dana penelitian yang sudah dialokasikan oleh pemerintah saja. Ini seperti menambah gaji / honor dosen dan memberi uang saku kepada mahasiswa. Maka hasilnya hanya untuk memenuhi persyaratan saja, yang biasanya berupa makalah. Setelah itu, ya selesai.

Ada memang penelitian yang sungguh-sungguh dilakukan untuk menghasilkan teknologi dan produk. Nah, kalau ini terjadi, justru malah kebingungan yang ada. Mau diapakan? Dipatenkan? Oleh siapa? Siapa yang membayari dan mengerjakan? Peneliti dapat bagian berapa dari royality-nya? Perguruan Tinggi dapat bagian berapa? Seringkali pada situasi seperti ini perguruan tinggi mengambil posisi serakah, mau banyak (padahal yang lebih penting adalah penelitinya). Ada risiko juga kalau mengambil bagian terlalu besar. Hasilnya seringkali menjadi keributan dan tidak jadi apa-apa.

Seyogyanya hasil penelitian tersebut bisa memicu spin off, perusahaan yang dibuat untuk mengeksploitasi aspek komersial dari penemuan tersebut. Start up. Untuk membuat perusahaan dibutuhkan orang yang berjiwa entrepreneur. Biasanya peneliti dan orang-orang kampus tidak memiliki karakter yang cukup untuk membuat perusahaan spin off ini menjadi besar. Ada terlalu banyak risiko dan kerja keras di sana. (Sementara menjadi dosen / peneliti lebih kecil risikonya.) Akibatnya seringkali pendekatan spin off ini gagal juga. Gagal maning, gagal maning.

Cerita di atas itu yang terjadi di Indonesia. Kalau di luar negeri kenapa bisa lebih mulus ya?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.742 pengikut lainnya.