Arsip Tag: Start-up

Oleh-oleh Dari InnovFest 2014

Tulisan ini harus saya kerjakan secepatnya. Mumpung masih hangat dan tidak terdesak dengan kegiatan lain, yang boleh jadi prioritasnya tadinya rendah tetapi tiba-tiba menyundul.

Hari Senin saya berangkat ke Singapura untuk mengikuti InnovFest 2014, yang sub-judulnya kali ini adalah “Asian Innovations Going Global“. Saya belum pernah mengikuti kegiatan ini tahun-tahun sebelumnya sehingga belum tahu apa yang diharapkan. Tiba-tiba langsung diminta untuk menjadi salah satu pembicara. Saya sanggupi karena melihat topiknya, terkait dengan entrepreneurship dan teknologi, sangat menarik buat saya.

innovfest 2014 speaksers

IMG_4367 innovfest BR name tag 1000

Salah satu hal yang menarik adalah organizer susah memasukkan saya kepada kategori apa dan dari afiliasi apa. Biasanya di name tag dituliskan afiliasinya. Di name tag saya, kosong. hi hi hi. Ini nantinya saya jadikan sebagai salah satu poin di presentasi saya. Yeah! This is why Asia is in different category. You just cannot categorize Asia in a Western categorical system. aha.

Hari Senin malam ada acara reception untuk para pembicara dan sponsor dari acara. Acara dilakukan di National Museum. Saya sudah pernah ke sini sebelumnya hanya untuk melihat-lihat musium. Acara reception ini lebih banyak untuk networking, berkenalan dan saling tukar kartu nama. Tidak ada orang yang saya kenal di sana. Besoknya saya baru mengetahui siapa-siapa mereka. Dan ternyata mereka hebat-hebat.

Hari Selasa acara dibuka oleh CEO dari NUS Enterprise, Lily Chan. Kata pengantar (speech) yang diberikan bagus sekali. Bukan sekedar basa basi. Sayangnya tidak saya miliki. Kemudian ada presentasi yang sangat menarik, tentang desain nursing home. Keren juga! Setelah itu ada presentasi dari Ike Lee, seorang innovator (dan sekarang investor juga) dari Korea Selatan yang sukses di Amerika. Lucu banget karena bahasa Inggrisnya yang pas-pasan tapi dia sukses besar di Silicon Valley. Satu point yang dia sampaikan adalah bahwa sekarang yang disebut “global” adalah Asia. Kita berada di tempat yang benar. We are in the right place! Orang-orang Amerika berharap bisa hadir di sini. Sekarang adalah waktunya. Right Now. (Saya lantas keinget lagu Van Halen – Right Now. Jadi kepikiran kalau besok akan saya gunakan lagu ini sebagai soundtrack dari presentasi saya. hi hi hi.) Nah. Wah. Acara baru dimulai dan keren-keren materinya. Setelah itu ada coffee break dan acara dibagi menjadi dua sesi paralel.

Di luar ada pameran poster-poster (riset-riset dari perguruan tinggi; NUS, NTU, Politeknik, dll.) dan booth-booth startup yang dibiayai oleh NUS Enterprise. Oh ya, setiap peserta diberi “uang” yang kita investasikan di salah satu dari booth tersebut. Nantinya booth yang paling banyak mendapatkan investasi akan mendapatkan penghargaan. Orang yang invest juga (diundi) untuk mendapatkan hadiah. Kreatif juga idenya.

IMG_4421 uang innovfest 1000

Setelah coffee break saya masuk ke sesi “Start-Ups & Enterpreneurs: Stories of Local Successes: Homegrown Heroes’ Road to Singapore Exits“. Pada sesi ini dibahas tentang pengalaman tiga buah start-ups di Singapura. Mereka menceritakan awalnya sampai ke akhirnya mereka mendapat dana dengan cara dibeli oleh perusahaan yang lebih besar. Kelihatannya strategi keluar (exit strategy) dari start-up di Singapura adalah dibeli (diakusisi) oleh perusahaan lain. Belum ada cerita sukses perusahaan tersebut di pasar modal (via IPO). Besoknya saya mendapat data tambahan bahwa memang belum ada cerita sukses via IPO. Ini berbeda dengan di Amerika! Nah.

Minggu lalu saya berdiskusi dengan salah seorang investor dari Jepang. Dia berkata bahwa start up di Jepang dapat berjalan karena capital market-nya sudah disiapkan sebelumnya. Mereka harus melakukan perombakan (meniru Amerika?) sehingga memungkinkan untuk melakukan invetasi di perusahaan start up. Ah. Nampaknya dia benar. Indonesia belum siap untuk itu. Nampaknya bahkan Singapura juga belum siap. Itulah sebabnya exit strategy yang masuk akal kali ini hanya dibeli oleh perusahaan besar. Ini membutuhkan diskusi yang lebih panjang. Harus buat thread terpisah untuk ini.

Sesi selanjutnya saya mengikuti “Urbanisation and Future Cities“. Ceritanya lain kali ya. Intinya adalah desain kota masa depan (dengan permasalahan yang dihadapi dunia saat ini). Ada contoh kota yang dikembangkan oleh Singapura dan China. Keren.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pitching dari beberapa start-ups. Pitching pertama, sebetulnya dari segi visi dan ide bagus tetapi cara presentasinya salah. Saya bertanya, “what products are you making? It’s not clear to me“. Dia menjelaskan kemudian bertanya “Is it clear?” dan saya jawab “Not really“. Salah satu kesalahan start up adalah tidak tahu cara pitching. Jadi kesannya adalah wasting our time. Suatu saat saya harus ajari mereka caranya.

Hasil dari hari ini membuat saya berpikir bahwa materi presentasi saya untuk keesokan harinya harus saya ubah. Pivot, kalau istilah anak-anak sekarang. hi hi hi. Maka setelah acara celebration dinner malam itu saya asyik mengubah materi presentasi. Harus lebih jreng!

Oh ya, di acara dinner itu yang paling banyak dibicarakan adalah success story. Di Singapura yang lagi rame adalah bagaimana Zopim – sebuah start-up – baru saja dibeli oleh Zendesk sekitar $30 juta. Foundernya terlihat happy dan ketika diminta untuk memberikan presentasi agak mabok. hi hi hi. Tapi dia bercerita apa adanya tentang perjalanan start up-nya. Saya bisa mengatakan bahwa apa yang mereka lalui mirip dengan apa yang pernah saya lalui juga. hi hi hi. Kapan-kapan saya akan cerita tentang itu.

Besoknya saya memberikan materi presentasi saya tentang “A new dawn of technological innovation: Is the Sun Rising in the East?” Intinya adalah ini: apakah inovasi terjadi di Timur, di Asia (atau Asean lebih tepatnya)? Apakah inovasi hanya terjadi di dunia Barat? Jawaban saya adalah: YA! meskipun pada awalnya saya katakan Tidak. hi hi hi. Kemudian para peserta saya bawa naik roler coaster perjalanan saya mengembangkan start ups di Kanada. Gagal semua. Tetapi saya jelaskan bahwa di sana, kami mengembangkan teknologi. Bukan hanya me too – layanan yang nyontek yang sudah ada. Saya katakan bahwa di dunia Timur, kita pun harus mengembangkan teknologi yang khas untuk memecahkan masalah kita. Ada beberapa hambatan yang harus kita lalui. Pokoknya serulah presentasi saya. hi hi hi. Materi presentasi akan saya upload dan link-nya akan saya pasang di sini.

Setelah selesai presentasi banyak yang ngajak diskusi dengan saya, berbagai topik. Yang paling banyak adalah yang meminta bantuan untuk mendapatkan pengembang (developers, programmers) untuk mengimplementasikan ide-ide mereka. Whoa! Saya harus berpikir keras karena di Bandung ini ternyata kita juga masih kekurangan programmer.

Masih banyak yang ingin saya ceritakan di sini. Sudah kepanjangan. Nanti bosan. Harusnya saya buat ini menjadi beberapa seri. Naaahhh … Semoga bermanfaat.


Memilih Topik Start-up

Salah satu pertanyaan yang sering saya terima adalah memilih topik (ide) start-up. Bagaimana memilihnya? Atau apakah start-up saya ini memiliki potensi? Jawaban saya adalah pilih topik yang sangat dekat dengan kita, yang memecahkan masalah kita. Dearest to our heart. Sesuatu yang kita pikirkan siang dan malam. Contohnya tadi ada yang konsultasi tentang produk untuk ngecek lemak susu sapi, maka pertanyaan saya adalah mengapa dia mengambil ide itu. Apakah keluarganya punya banyak sapi? Atau bagaimana? Bahwa sesuatu itu baik belum tentu jadi alasan untuk menjadikannya start-up.

Jika sesuatu itu memang merupakan masalah kita, maka mau dibayar atau tidak, kita tetap akan mencari solusi untuk masalah kita. Kebetulan solusi itu kita jadikan start-up. Begitu.


Proposal Startup di Tahun 2000

Sedang bersih-bersih ruang kerja. Banyak dokumen-dokumen yang sudah pantas untuk dibuang. Eh, menemukan proposal untuk pembuatan perusahaan (startup) di tahun 2000. Proposal ini mengusulkan sebuah perusahaan yang mengembangkan aplikasi untuk handphone. Ingat, di tahun 2000, belum ada perusahaan yang mengembangkan aplikasi di handphone. Semua aplikasi yang ada di handphone sudah built-in dari pabriknya. Nah.

startup-proposal-2000-page1

startup-proposal-2000-page2

Sayangnya karena saya belum memiliki sumber daya yang memadai pada saat ini, maka startup yang itu tidak sempat saya buat. Kalau sekarang, perusahaan yang membuat aplikasi untuk mobil sudah banyak ya? Kalau sekarang, ide saya sudah lain lagi. hi hi hi.


(Bandung) Startupfest

Saya kepikiran untuk membuat sebuah event besar, di mana berbagai aspek dari starting-up ditampilkan. Bentuknya ada pameran (booth untuk para startup yang mencari pemodal), presentasi (penjelasan dan pengalaman dari berbagai pakar / entrepreneur / pemodal), kompetisi mengembangkan produk (mostly coding, similar to code fest), pitching in (langsung presentasi di depan pemodal).

Yang datang kira-kira:

  • Inventor / innovator yang ingin memamerkan produk / layanannya (dan mencari pemodal);
  • Pemodal yang ingin melihat ke siapa modal ditanamkan (misal GDP, SJV, bank, angel investors);
  • Inkubator yang melihat potensi startup (misal BTP, Mak);
  • Infrastruktur dan teknologi yang melihat potensi penggunaan infrastrukturnya (technopark, PT Telkom, operator, ISP, web hosting, Google);
  • Entrepreneur yang dapat berbagai cerita (pengalaman) (misal Founder Institute dan para startups yang sudah agak berhasil, StartupLokal) dan sekalian mencari orang teknis;
  • Perguruan tinggi (dengan teori-teori bisnis-nya);
  • Pemerintah yang merencanakan regulasi-regulasi (bagaimana pak Ridwan Kamil? hi hi hi, Kominfo, Industri, Perdagangan);
  • Mahasiswa, umum, komunitas, and dreamers … yang ingin melihat masa depan dan sekedar untuk kodar (kopi darat).

Acaranya diselenggarakan dua atau tiga hari dan diselenggarakan dengan track yang paralel:

  • Ideas … (well, plenty of crazy ideas);
  • Teknis (how to develop products, outsourcing, new technology showcase);
  • Bisnis (model, canvas, monetize, partnering);
  • Management (cash flow management, human resources management);
  • Pitching in (peserta yang terpilih langsung bisa presentasi di depan investor);
  • Tempat untuk ketemuan antara orang teknis dan bisnis – saling merekrut.

Tempatnya di Bandung lah … he he he. Bisa di ITB atau di Bandung Techno Park atau di Baros IT Center. Pokoknya seputaran Bandung.

Menarik gak ya? Kalau menarik, kita keroyok rame-rame yuk kerjaan ini.


Jangan Cepat-Cepat Lulus

“Jangan cepat-cepat lulus”, demikianlah saran saya kepada mahasiswa di kelas. Mereka terbelalak. Tidak percaya saya menyarankan demikian. Saran ini ada alasannya.

Pertama, begitu Anda lulus maka akan ada tuntutan ini dan itu dari keluarga dan masyarakat. Tuntutan pertama adalah Anda harus menghasilkan uang. Bagaimana mungkin? Wong baru lulus kok harus menghasilkan uang. Ya, Anda dituntut untuk bekerja yang langsung menghasilkan uang. Ini merupakan tekanan bagi para lulusan. Percayalah.

Salah sendiri cepat-cepat lulus. Semestinya ketika Anda masih jadi mahasiswa Anda sudah mulai mencari pekerjaan. Atau sebetulnya lebih bagus lagi adalah Anda membuat portfolio sehingga pekerjaan yang mencari Anda. Lakukan itu ketika masih menjadi mahasiswa.

Kedua, begitu Anda lulus maka keberadaan Anda di kampus tidak dikehendaki oleh pimpinan atau pengelola kampus. You are not welcome. Apa status Anda? Anda kan bukan mahasiswa? Ngapain luntang lantung di sini. Sana pergi cari kerja. Padahal Anda di kampus ini dalam rangka mencari kerja.

Karena Anda tidak boleh di kampus, maka Anda akan sulit menggunakan fasilitas kampus. Tidak boleh! Padahal kampus adalah tempat yang paling cocok untuk memulai startup company. Lihatlah perusahaan-perusahaan startup yang sukses. Banyak yang dimulai dari kampus.

Maka dari itu, jangan cepat-cepat lulus.

Tetapi ingat juga, Anda harus tetap lulus. Jangan karena berlambat-lambat lulus dan akhirnya malah lupa lulus alias drop out. Wogh.


Menjual Mimpi

Salah satu masalah yang dihadapi start up adalah mendapatkan SDM yang bagus. Start up, sesuai namanya, adalah pemula dalam bisnis. Dia belum memiliki kemampuan finansial yang bagus untuk mendapatkan pekerja dan membayar mereka dengan cukup (mahal). Lantas bagaimana start up mendapatkan SDM?

Salah satu cara yang lazim dilakukan adalah menjual mimpi. We are selling dreams. (Sebetulnya yang lebih tepat adalah menjual visi. Hanya saja pada tahap ini visi sama seperti mimpi, yang masih belum jelas kapan terlaksananya.) Maka start up harus dapat mengartikulasikan, apa mimpi yang dijual. Jika mimpi ini biasa-biasa saja, maka orang tidak akan tertarik dan lebih memilih bekerja di perusahaan lain saja. Dream big!

Ketika start up terbentuk, maka dia berisi kumpulan orang-orang yang memiliki vision, values, dan passion yang sama. Ini juga harus didefinisikan (meskipun nanti dia akan dapat berubah dalam perjalanannya). Jika ini tidak terjadi, maka start up yang dibentuk akan sulit untuk sukses. Masing-masing punya agenda sendiri-sendiri dan begitu dipicu oleh satu masalah, langsung bubar.

Kembali kepada topik, Anda jualan mimpi apa?


(Dari Ide ke) Resep Rahasia

Dalam tulisan terdahulu saya bercerita tentang murahnya ide. Kali ini saya akan lanjutkan ceritanya.

Apa yang membuat pelaksanaan atau eksekusi sebuah ide lebih unggul dari yang lain? Menurut saya salah satu kuncinya ada pada resep rahasianya. The secret souce.

Apa yang membuat yamien {ayam bakar|nasi goreng|makanan lain} di satu warung lebih enak – dan akibatnya lebih laris – dari warung lainnya? Ya resepnya itu. Hal yang sama juga ada pada bisnis lain, termasuk bisnis berbasis teknologi informasi. Kita boleh punya ide portal komunitas yang sama, tetapi kenyataannya kaskus tetap yang paling populer.

Resep di sistem IT juga dapat bervariasi; ada pilihan sistem operasi, bahasa pemrograman, database, topologi jaringan, konfigurasi server, tampilan, dan seterusnya. Sebagai contoh, jika Anda hanya boleh memilih dua hal, mana yang Anda prioritaskan? (1) Jenis prosesor, (2) besarnya memory, (3) besarnya harddisk, dan (4) kecepatan jaringan? Idealnya sih dibaguskan semua, tetapi sebagai sebuah startup yang baru mulai dengan ide tentunya Anda tidak memiliki uang untuk memenuhi keinginan Anda tersebut. Kalaupun punya uang dan Anda gelontorkan semua ke sistem Anda, maka layanan Anda kan mahal hargnya.

Akibatnya akan ada banyak kombinasi atau permutasi yang menghasilkan resep rahasia untuk layanan Anda tersebut. Oh ya, kadang-kadang, kita tidak tahu resep rahasia kita! Ha ha ha. Misalnya kita tidak sadar bahwa air yang kita gunakan untuk memasak makanan kita itulah yang sebetulnya membuat makanan kita enak. (Katanya inilah yang membuat tahu Sumedang tidak bisa dibuat di tempat lain. Hal yang sama dengan champagne.)

Itu baru soal “hardware/software” atau yang terkait dengan bahan bakunya. Cara kita memberikan layanan juga ternyata merupakan kunci juga. Itu yang menyebabkan Starbucks terkenal. Kalau soal kopi sih banyak tempat lain yang kopinya lebih unggul, tapi tetap Startbucks yang terkenal. Ini yang ingin saya katakan adalah resep rahasia juga bisa terletak pada proses dan manusianya.

Jika ide saya katakan murah, maka resep rahasia ini tidak murah. Itulah sebabnya Coca Cola menjaga resep rahasianya dalam bentuk rahasia dagang (trade secrets). Resep rahasia ini ditemukan dengan susah payah setelah melalui masa coba-coba.

Ternyata bahkan kadang ada juga orang yang membuka resep rahasia ini. Open source contohnya. Bahkan resep pun tidak perlu dirahasiakan. Yang menjadi kunci adalah bagaimana kita memberikan layanannya (berarti dapat dikatakan masuk ke proses dan manusia). Yang diuntungkan jelas konsumer. Kalau ini digeneralisir, yang diuntungkan adalah umat manusia.

Nah … semoga tulisan ini dapat memberi pencerahan (khususnya pada pelaku startup).


Potret ICT Indonesia

Dalam lomba APICTA 2012 kemarin tim Indonesia dari kategori mahasiswa dan siswa mendapatkan beberapa penghargaan, bahkan di kategori Tertiary School Project menjadi juara (Lexipal). Juara kedua, Veda, juga sebetulnya dari Indonesia tetapi karena tidak ada juara kedua maka masuknya ke Merit Awards. Yang juga mendapat Merit Awards di kategori ini adalah eMart. Jadi dari tiga tim yang masuk, tiga-tiganya mendapat penghargaan. Di kategori yang lain, Secondary School Project ada dua SMK yang mendapatkan Merit Award.

CIMG3634 apicta 1000

Apa artinya ini? Menurut saya ini dapat diartikan bahwa siswa dan mahasiswa Indonesia memiliki level yang baik sekali di lingkungan Asia Pasifik.

Sementara itu di kategori bisnis kita hanya mendapatkan 1 juara (Aksara) dan 1 merit (Kuassa). Saya mengartikan ini sebagai sisi industri yang masih kalah dengan rekan-rekan kita. Entah karena packagingnya, kurangnya dukungan dan ketertarikan untuk ikut lomba (saya tahu ini karena sesungguhnya kami juga memiliki produk yang dapat ditandingkan hanya kami tidak mengikuti), atau memang kita masih kalah saja.

Melihat ini saya beropini bahwa bahan baku kita (SDM) sebetulnya sudah bagus. Sangat kompetitif atau bahkan dapat dikatakan juara. Nah, sekarang bagaimana memanfaatkan SDM ini untuk menghasilkan bisnis ICT yang sukses dan juga bermanfaat. Secara riilnya, apakah adik-adik para pemenang ini kita arahkan untuk membuat start up companies?

Demikian kira-kira oleh-oleh saya dari menjadi juri di APICTA awards 2012.


Perguruan Tinggi, Penelitian, Spin Off

Salah satu peran perguruan tinggi adalah melakukan penelitian. (Sayangnya kalau di Indonesia, perguruan tinggi lebih ke arah pendidikan, pengajaran, atau lebih parah lagi tempat mendapatkan gelar dan ijasah semata.) Penelitian dilakukan oleh dosen yang merangkap sebagai peneliti, mahasiswa, dan juga peneliti yang memang peneliti (yang ini agak jarang). Pendanaan diperoleh dari berbagai sumber, dari pemerintah, industri (jarang di Indonesia), dan dari dosen / peneliti (sebagai bagian dari pekerjaan yang dilakukan di tempat lain).

Sayangnya kebanyakan penelitian yang terjadi di Indonesia adalah penelitian yang hanya bertujuan untuk menyerap dana penelitian yang sudah dialokasikan oleh pemerintah saja. Ini seperti menambah gaji / honor dosen dan memberi uang saku kepada mahasiswa. Maka hasilnya hanya untuk memenuhi persyaratan saja, yang biasanya berupa makalah. Setelah itu, ya selesai.

Ada memang penelitian yang sungguh-sungguh dilakukan untuk menghasilkan teknologi dan produk. Nah, kalau ini terjadi, justru malah kebingungan yang ada. Mau diapakan? Dipatenkan? Oleh siapa? Siapa yang membayari dan mengerjakan? Peneliti dapat bagian berapa dari royality-nya? Perguruan Tinggi dapat bagian berapa? Seringkali pada situasi seperti ini perguruan tinggi mengambil posisi serakah, mau banyak (padahal yang lebih penting adalah penelitinya). Ada risiko juga kalau mengambil bagian terlalu besar. Hasilnya seringkali menjadi keributan dan tidak jadi apa-apa.

Seyogyanya hasil penelitian tersebut bisa memicu spin off, perusahaan yang dibuat untuk mengeksploitasi aspek komersial dari penemuan tersebut. Start up. Untuk membuat perusahaan dibutuhkan orang yang berjiwa entrepreneur. Biasanya peneliti dan orang-orang kampus tidak memiliki karakter yang cukup untuk membuat perusahaan spin off ini menjadi besar. Ada terlalu banyak risiko dan kerja keras di sana. (Sementara menjadi dosen / peneliti lebih kecil risikonya.) Akibatnya seringkali pendekatan spin off ini gagal juga. Gagal maning, gagal maning.

Cerita di atas itu yang terjadi di Indonesia. Kalau di luar negeri kenapa bisa lebih mulus ya?


Terganjal Urusan Administratif Perusahaan

Mumpung sekarang masih digalakkannya entrepreneurship, saya ingin mengungkapkan kesulitan-kesulitannya. Ini semua untuk menjadi pelajaran, bukan untuk menakut-nakuti.

Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam membuat sebuah perusahaan (start-up) adalah urusan administrasi. Secara formal, ada beberapa jenis bentuk perusahaan. Pemilihannya disesuaikan dengan kondisi dan targetan ke depan. Biasanya sih bentuk yang diinginkan adalah Perseroan Terbatas (PT).  Setelah itu terbentuk, masih ada surat-surat lain yang harus diurus seperti misalnya domisili, dan seterusnya.

Nah, untuk urusan administratif ini diperlukan biaya yang tidak sedikit. Selain itu juga dibutuhkan waktu dan pikiran juga.

Bayangkan sebuah perusahaan yang didirikan oleh 3 orang mahasiswa, yang datang ke Bandung dengan kondisi sebagai mahasiswa kos-kosan. Kebayang gak? Pertama, uang yang digunakan untuk urusan administratif ini mungkin lebih bermanfaat jika digunakan untuk pengembangan (R&D) dari produk / aplikasinya. Kemudian untuk urusan domisili perusahaannya, dimana? Kan mereka sekarang kos-kosan.

Di sinilah pernah dari inkubator bisnis, mentor, jaringan pertemanan dan perkenalan. Mereka dapat membantu mengambil alih kepusingan ini dari para inventor-inventor yang ingin membuat perusahaan baru (start-up). Nah adakah bantuan semacam ini?


Apakabar Game Kurusetra?

Membaca sepintas di milis tentang bagaimana perguruan tinggi di Amerika menjadi tempat untuk munculnya start-up companies. Langsung ada yang nyeletuk bahwa di ITB pun ada. Contohnya adalah game Kurusetra.

Hah? Langsung teringat jaman games Kurusetra ngetop di kampus ITB dan kemudian di-spin-off keluar (waktu itu dibawa ke mweb ya?). Sayangnya mweb mati dan juga kurusetra kayaknya kebawa mati. Aang sang kreator sudah keburu kerja di Telkomsel. (Apa kabar Aang? Masih di sana? hi hi hi.)

Sayang juga ya. Nampaknya belum ada success story dari kampus.

Daun lontar, anybody?

[daun lontar adalah alat tukar yang sah di kurusetra :) ]


Mencari Perusahaan Untuk Dibesarkan

Beberapa hari yang lalu saya ditelepon seorang kawan baik saya. Ceritanya dia dihubungi kawannya lagi yang merupakan bagian dari tim investasi perusahaan di Amerika. Mereka sedang mencari perusahaan yang sudah pada growth stage dan ingin dibesarkan.

Perusahaan yang mereka cari adalah perusahaan yang sudah melalui stage start-up dan membutuhkan dana untuk masuk ke liga yang lebih besar lagi. Sebagai gambaran yang dicari adalah perusahaan yang revenue-nya sudah US$ 5 juta (atau lebih) setahunnya.

Ternyata tidak mudah untuk mencari perusahaan sekelas itu di Indonesia. Hadoh. Apa ya? Yang terbayang oleh saya hanya Detik.com. Selebihnya rasanya masih belum. (Meskipun saya melihat ada potensi di perusahaan yang menghasilkan konten kreatif seperti anmasi. Hanya saja mereka belum sampai ke taraf 5 juta US/tahun karena mereka masih baru.) Mereka (para investor tersebut) bisa menemukan perusahaan seperti itu di India, misalnya. Jadi memang harus kita akui bahwa kita masih kelas “warteg” ya? :) hi hi hi.


Teknologi & Entrepreneurship

Hari ini saya akan memberikan presentasi (atau lebih tepatnya terlibat dalam talk show) tentang teknologi dan entrepreneurship. Acara ini merupakan bagian dari kegiatan yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa (gabungan dari Elektro dan Sekolah Bisnis) ITB. Kayaknya menarik.

Saya dipilih menjadi salah satu nara sumber mungkin karena keseringan buat start-up ya? hi hi hi.

Doakan agar sukses!

Update. Acara sudah berlangsung dengan cukup sukses, menurut saya. Materi presentasi saya sudah saya upload ke situs web saya (budi.insan.co.id) di bagian presentations. Silahkan ambil di sana saja ya. Sebagai catatan, materi presentasi saya agak susah dimengerti tanpa saya bicara karena saya menggunakan “lessig-style” (hanya point saja yang ditampilkan – elaborasi langsung dilakukan pada saat presentasi).

Tadi mikir juga, kapan saya mulai terjun ke usaha sendiri? Pertama kali membuat perusahaan sendiri mungkin waktu di Kanada. Rasanya itu mungkin tahun 1989? Halah … Itu sudah 20 tahun yang lalu. hi hi hi. Semenjak itu entah sudah berapa perusahaan teknologi yang sudah saya buat.

Ada dua orang pembicara di acara tersebut, saya dan Rendy Maulanan. Rendy adalah founder dari web hosting Qwords.com. Saya kenal Rendy sudah cukup lama juga karena sering kopi-darat. (Sudah lama kita tidak kopdar ya? Yuk kita set waktu untuk ngopi.)

Rendy juga bercerita tentang pengalamannya menjadi entrepreneur. Intinya adalah tidak mudah untuk menjadi entrepreneur. Kalau gak bener niat, bakalan kandas di tengah jalan.

Ini foto Rendy sedang memberikan presentasinya. Foto saya sambil dari depan pangung. Gak sopan ya? hi hi hi. Demi blog lah. Sekalian supaya Anda tahu sudut pandang dari panggung.

From People

Setelah presentasi ada acara tanya jawab. Sayangnya acara tanya jawab hanya bisa menampung enam (6) orang penanya. Masalahnya kita dibatasi waktu. Lain kali mungkin kita buat waktu tanya jawabnya yang lebih lama lagi ya. Senang juga melihat peserta yang antusias sampai acara berakhir.


Bekerja di Start-up

Bekerja di perusahaan kecil (start-up, meskipun tidak tepat definisinya) sering menyenangkan. Di tempat kami, kerja dan bermain itu kadang tidak ada bedanya. Ini mungkin mirip dengan peer kami di luar negeri. Kawan di sana menggunakan mantra ini

if work is so much fun, why take a holiday

Tuh kan. Oh ya, ini bukan berarti kerja kami kualitasnya main-main. Semua tetap dikerjakan secara serius, bahkan super serius. Integritas adalah nomor satu.

Lagi-lagi ini foto kalau kami meeting. Apa perlu diabsen lagi blognya? :) Soalnya semua punya blog.

Saya dimana? Saya di sini … hi hi hi (biasanya dekat dengan makanan, bantal, atau gitar – gitar di sebelah tidak kefoto).

Kadang setelah rapat, kami betulan makan di luar. Yang ini bikin pusing akuntan kami karena budget makan-makannya luar biasa besarnya. he he he. Itulah sebabnya mungkin prosedur untuk staf baru adalah ditimbang dan diukur pinggangnya ketika baru mulai kerja dan diukur kembali setelah satu tahun. he he he. Oleh karena daripada itu (bahasanya ini lho, hi hi hi) harus ada program olah raga rutin. Kami memilih futsal. Kalau tidak olah raga … waaahhh, bisa kebayang gendut-gendutnya.

Mengenai tempat kerja kami, bisa baca testimoni dari Andhi yang dulu sempat kerja di sini.


Ide Bisnis

Dalam persentasi saya hari Jum’at lalu, ada pertanyaan mengenai ide bisnis. Bagaimana mencari ide bisnis? Hmm… Apakah memang demikian sukarnya mencari ide? Saya sendiri sampai sekarang malah kebanyakan ide, sehingga frustasi sendiri karena tidak bisa mengimplementasikannya. Tidak bisa di sinis lebih karena tidak adanya waktu dan SDM yang bisa mendukung.

Baru saja saya baca di milis netsains tentang ceramah yang diberikan oleh Jawed Karim, salah satu founder dari YouTube.com, di University of Illinois, Amerika. Jawed ini drop out dari sana karena ikutan di startup PayPal, dan kemudian pada akhirnya mendirikan YouTube. Dia ini masih anak muda sehingga apa yang dia katakan bisa lebih berkorelasi dengan Anda-Anda yang masih muda. Ada juga videonya di sini:

Part 1: http://youtube.com/watch?v=rk8MU5u84FE
Part 2: http://youtube.com/watch?v=24yglUYbKXE&feature=related

(Saya hanya membaca hasil transcribe-nya saja. Ada yang punya URL-nya untuk teksnya saja? Ataukah harus saya simpan di sebuah tempat saja?)

Silahkan dibaca (atau dilihat dan didengarkan) bagaimana mereka memulai YouTube. Coba saja lihat bagaimana mereka juga mencari-cari, tetapi tidak diam dan menyerah kepada situasi. Yang saya perhatikan, biasanya ide bisnis ini muncul karena ada kebutuhan kita pribadi. (Necesity is the mother of invention.) Masih ada banyak pelajaran lain yang bisa dipetik.

Dalam tulisan terdahul saya telah menceritakan bagaimana mencari ide tulisan. Hal yang sama juga dapat diaplikasikan terhadap ide bisnis. Terlalu banyak ide, euy.

Ide-ide yang kita miliki hampir selalu pasti dikatakan buruk oleh para expert. Dan … selalu the experts are ALWAYS wrong. Dulu dalam kasus mulai terjadinya industri personal computer ini terjadi. Dalam kasus YouTube pun ini terjadi. Jadi, teruslah jalan dengan ide Anda.

Berikut ini adalah beberapa ide saya yang belum bisa direalisasikan. (Catatan: yang saya sebut “ide saya” ini bukan berarti saya satu-satunya yang punya ide, atau ide ini berasal dari saya pribadi. Maksudnya adalah … ide ini yang ada di kepala saya, entah datangnya darimana.)

  1. Membuat sistem atau software untuk mengelola sendratari. Jika di dunia musik ada MIDI dan ada banyak software untuk membuat komposisi lagu, maka di dunia tari menari belum ada softwarenya. Ini mungkin lebih kompleks dari software untuk melakukan rendering animasi film! Nanti orang bisa tukar menukar hasil karya tariannya, sebagaimana kita bertukar MP3.
  2. Membuat sistem untuk memperagakan tarian melalui jarak jauh. Penampilan melalui video saja tidak cukup, harus 3 dimensi. Bayangkan, Anda menyaksikan tarian Hanoman Obong [atau apa pun] dengan latar belakang candi di rumah Anda! (Mungkin harus menggunakan teknologi hologram?)
  3. Membuat sistem untuk memudahkan orang membuat cerita (direkam suaranya) kemudian diupload seperti YouTube (tapi hanya suara saja). Mungkin idenya mirip dengan podcasting, tapi lebih difokuskan kepada handphone (platform yang paling besar di Indonesia). Orang-orang di daerah bisa upload cerita atau dongeng khas daerahnya masing-masing. Kita bisa mendengarkannya dengan murah atau gratis! (Saya kesulitan cari bed time stories untuk anak-anak!) Ini bisa memberdayakan orang di daerah dan menjadi bagian dari USO.
  4. Personal Digital Assistant – dalam artian software cerdas (AI) yang membantu kita memantau kegiatan digital kita. Dia melihat kebiasaan kita membaca email, melakukan archiving email-email kita yang jarang kita baca, mengubah konfigurasi milis, dan seterusnya. Rasanya kita terlalu banyak menghabiskan waktu dalam mengelola email (nanti akan banyak *sampah email*, email yang kita simpan tapi tidak pernah kita baca). Software yang ada masih kurang smart. Dia masih seperti mesin ketik saja. Mesin ketik on steroids :) he he he.
  5. Ada beberapa ide lagi yang terkait dengan Digital Beat Store (yang ada di Blitzmegaplex itu). By the way, Blitzmegaplex baru buka lagi di Pacific Place. Wah, saya harus ke sana untuk melihat toko kami yang baru. he he he.
  6. Masih banyak lagi … malas ngetiknya saja. (Ada yang sukar diketik karena harus digambar. Ada beberapa yang sudah saya ceritakan kepada beberapa kawan, tapi belum ada yang eksekusi.)

Ada juga mahasiswa / orang yang datang ke saya untuk menceritakan bisnisnya, yaitu system integrator serba bisa atau “apa yang loe mau, gua ada”. Atau ada juga yang ingin buat software house dengan produk “sistem informasi” (atau accounting, inventory, atau sejenisnya) yang sudah ada di pasaran. Yang seperti ini tidak menarik bagi saya dan tidak ada nilai inovasinya. (Apa kebaharuan sistem accounting ini dibanding dengan Zahir Accounting, misalnya?) Menurut saya, yang seperti ini akan sulit berkembang. Tapi … seperti saya sudah ceritakan di atas, the experts are always wrong! So, prove me wrong!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.595 pengikut lainnya.