Tag Archives: startup

Entrepreneur itu beda-beda

Tadi pagi, saya mengisi kuliah di Sekolah Bisnis dan Management (SBM) ITB program  CCE. Saya menceritakan sisi pandang saya sebagai seorang entreprenenur. Selain saya ada mentor-mentor lain yang memberi pandanganannya yang berbeda dengan saya. Nah itu dia. Entrepreneur itu beda-beda. Tidak ada yang sama.

Kalau Anda membaca buku biografi para entrepreneur, Anda dapat melihat bahwa merekapun berbeda-beda. Pusing tidak? Mestinya sih tidak. hi hi hi.

Anda – sebagai seorang entrepreneur – tentu saja berbeda juga. Maka hal yang dipetik dari para mentor harus disesuaikan dengan Anda. Apakah artinya para mentor itu tidak bermanfaat? Sebaliknya. Para mentor itu bermanfaat untuk dipelajari kesalahan-kesalahannya sehingga Anda tidak perlu terjerumus ke dalam lubang masalah yang sama.


Kapan Memberikan Brosur?

[Seri tulisan entrepreneurship]

Ceritanya begini. Anda sering melihat orang-orang membagikan brosur yang menawarkan produk atau layanan, bukan? Saya juga. Kadang kita sebal karena orang yang menawarkan brosur tersebut tampak maksa. Padahal kita tidak tertarik. Nah, saya akan memberikan pandangan dari sisi lain – dari sisi yang memberikan brosur tersebut.

Selebaran brosur itu bermanfaat untuk memberikan informasi kepada (calon) pelanggan mengenai produk atau layanan kita. Seringkali orang malu atau enggan bertanya. Mereka hanya melihat tulisan atau banner tetapi masih banyak pertanyaan. Sayangnya mereka sungkan untuk bertanya. Nah, untuk orang-orang seperti ini brosur sangat tepat.

Memberikan brosur kepada orang yang tidak memerlukan merupakan hal yang tidak efektif. Selain itu, brosur yang terbuang ini akan menjadi sampah dan tidak ramah lingkungan. Pegawai kadang diberikan target untuk memberikan brosur. Mereka tidak peduli tepat atau tidaknya. Yang penting brosur habis. Ini yang salah. Uang untuk brosur jadi tidak manfaat.

Mengenai kepada siapa brosur tersebut diberikan ternyata tidak mudah. Seperti tadi pagi, di acara Bandung Car Free Day, kami membuka lapak Insan Music Store. Kami juga membagi-bagikan brosur tetapi selektif kepada orang yang kelihatan berminat saja. Menentukan orang yang berminat ini yang susah. Jadi, saya melihat orang-orang yang lewat. Kalau mereka membaca banner kami dengan waktu yang cukup lama dan kelihatan tertarik barulah saya mendekat dan membagikan brosur. Kebanyakan orang hanya melengos saja. (Ini juga mungkin karena sulitnya penempatan banner kami. Di masa yang akan datang, enaknya kami membawa layar komputer yang besar dan biar mereka melihat sendiri saja. Ini lebih menarik.) Akibat pendekatan ini brosur tidak banyak yang kami bagikan, tetapi nampaknya efektif. Itu yang penting.

Next time: bawa genset + layar besar + sound system. Eh, ini mah buat panggung sendiri saja ya? hi hi hi.


SDM Kurang Inisiatif

Berbincang-bincang dengan beberapa orang pegusaha tentang sumber daya manusia (SDM). Salah satu masalah terbesar yang dihadapi ternyata adalah sebagian besar SDM kurang memiliki inisiatif. Mereka harus disuruh dulu baru bekerja. Mengapa demikian ya? Beberapa kemungkinan penyebabnya:

  1. Takut salah. Ada banyak orang yang menunggu diperintah karena takut salah kalau berinsiatif. Padahal kalau saya sih lebih baik orang berinisiatif dan salah daripada tidak berinisiatif sama sekali. Kalau salah kan bisa diperbaiki dan berikutnya tidak salah lagi. Kalau tidak dikerjakan, bagaimana tahu itu benar atau salah?
    Mungkin ini disebabkan pendidikan di kita yang memberi hukuman jika siswa berbuat salah? Atau ini hanya alasan saja?
  2. Terlalu lambat. Sebetulnya SDM ini mau berinisiatif tetapi terlalu lambat. Mungkin terlalu banyak pertimbangan (karena takut salah seperti di atas) atau bagaimana sehingga lambat sekali terlihat kemajuannya. Bagi saya lebih baik jadi 60% sekarang, daripada 80% minggu depan (atau bulan depan). Lebih baik ada progress.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda termasuk yang kurang inisiatif? Atau berani mengambil inisiatif?


Lagu Super Lawas

Seperti yang sudah-sudah, tadi pagi kami buka lapak Insan Music Store di Bandung Car Free Day (CFD). Saya berdiri di pinggir jalan dengan mengalungi gitar. Pura-puranya ngamen gitu.

Untuk ketiga kalinya ada seorang tua yang datang ke tempat kami. Dia mengira saya menerima permintaan untuk menyanyikan lagu. Maka mulailah dia menyanyikan lagu super lawas. Kalau sebelumnya, yang diminta adalah lagu “Masiro ki Fujino”(?) maka kali ini adalah lagu “Saputangan Bandung Selatan”. Saya pernah mendengar kedua lagu tersebut ketika masih kecil. (SD?) Maka dengan terbata-bata saya mencoba menyanyikan lagu itu dengan mereka.

Ternyata ada pasar lagu super lawas untuk orang-orang seperti mereka. Mereka ingin mengenang masa lalu, ketika mereka masih muda atau masa perjuangan dahulu. Sayangnya lagu-lagu seperti itu tidak ada di toko dan tidak ada lagi orang yang memainkannya. Diputar di radio? Rasanya sangat jarang atau bahkan tidak pernah. Maka begitu ada yang menyanyikan lagu tersebut, mereka senang sekali. Ada rasa senang juga karena membuat mereka senang. They have contributed a lot to this country. The very least we can do is to make them happy. At least for a moment.

Jenis lagu yang dekat dengan lagu-lagu yang mereka sukai mungkin adalah keroncong. Hmmm


Kuliah Entrepreneurship Menghasilkan Entrepreneur?

Dalam sebuah seminar tentang entrepreneurship ada sebuah komentar (dan pertanyaan) dari peserta. Dia mengajar kuliah entrepreneurship dan ternyata tidak banyak yang menjadi entrepreneur. Adakah kiat-kiat untuk meningkatkan jumlah lulusan yang menjadi entrepreneur?

Saya jadi teringat jaman dahuluuu … waktu saya masih kuliah S1 di ITB. Salah satu mata kuliah yang populer waktu itu adalah kuliah Agama Budha. Setahu saya, kawan-kawan yang mengambil kuliah tersebut bukan ingin mempelajari agama Budha tetapi karena potensi mendapatkan nilai “A”-nya sangat besar. Jadi mereka mengambil kuliah tersebut karena nilainya, bukan karena isinya. Saya menduga kuliah-kuliah yang lainpun sebagian besar dipilih karena ini. Termasuk kuliah sang penanya tersebut.

Saya banyak memberikan presentasi, kuliah, dan mentoring yang terkait dengan entrepreneurship. Memang terlihat sebagian besar hanya ingin mengetahui kuliahnya. Siapa tahu di kemudian hari mereka ingin menjadi entrepreneur. Yang langsung memang serius ingin menjadi entrepreneur saat itu juga nampaknya minoritas. Perkiraan saya kurang dari 10%. Ini hanya perkiraan saya saja ya karena saya belum mengumpulkan data sungguhan.

Ada yang mengatakan untuk menjadi entrepreneur tidak perlu harus kuliah-kuliahan. Langsung saja jadi entrepreneur. “Kuliah” diperoleh dari pengalaman. On the street. Pendapat ini ada benarnya, tetapi kalau kita mengetahui teorinya seharusnya potensi kegagalan dapat dikurangi. Saya sendiri termasuk yang menganut “kerjakan dahulu, baru cari teorinya”. hi hi hi. Perlu ditekankan bahwa saya tertarik mencari teori dari apa yang saya kerjakan sehingga dapat bereaksi dengan lebih baik (terhadap situasi yang dihadapi).

Saya jadi teringat ada orang yang merasa bahwa kuliah computer science / ilmu komputer / informatika itu tidak penting. Langsung saja belajar dari “idiot guide to programming” atau “programming xyz in 21 days”. hi hi hi. Iya sih kalau hanya sekedar membuat program sih bisa saja, tetapi begitu kita menghadapi sistem yang besar maka teori itu penting. Sama seperti membuat rumah. Kalau membuat rumah satu tingkat, ngasal aja juga bisa. Tapi kalau kita mau buat hotel 100 tingkat, yang ini harus punya ilmunya.

Kembali ke topik utama. Jadi bagaimana agar kuliah entrepreneurship dapat menghasilkan lebih banyak entrepreneur ya?


Insan Music Store

Progress dari toko musik digital kami.

Pertama, situs web sudah siap di www.insanmusic.com. Masih sederhana dan akan diperbaharui secara berkala. Yang penting up and running dulu. hi hi hi.

Kedua, hari Minggu ini (4 Mei 2014) kami akan buka lapak kembali di Bandung Car Free Day (CFD). Tempatnya di depan Bank BRI. Acaranya jam 7 pagi sampai jam 10 pagi. Jika Anda memiliki lagu dan siap untukj didistribusikan melalui toko musik kami, bawa langsung ke sana dan tanda tangan kontrak di sana.


Apakah Perlu Inkubator Bisnis?

Ini saya baru pulang dari reception untuk para pembicara dan undangan dari luar negeri di acara Innovation Festival Asia yan diselenggarakan oleh NUS (National University Singapore). Acaranya makan malam dan networking, ngobrol cari teman baru. Salah satu pertanyaan yang bolak-balik muncul adalah apakah saya dari sebuah inkubator bisnis (startup)? Saya jawab tidak. Saya kemudian berpikir, apakah sebetulnya inkubator bisnis itu diperlukan?

Inkubator bisnis itu mengambil analogi inkubator untuk bayi. Ada bayi yang begitu lahir harus dimasukkan ke inkubator dahulu karena satu dan lain hal. Inkubator ini memperbesar peluang mereka untuk menghadapi dunia yang baru mereka masuki. Hal yang sama juga terjadi untuk bisnis. Ada bisnis yang harus melalui inkubator. Namun kita lupa bahwa sebetulnya kita berharap bahwa bayi-bayi yang lahir itu tidak harus melalui inkubator. Inkubator itu hanya kasus khusus saja. Bukan yang umum.

Saya mendapati ada kecenderungan startup ingin melalui proses masuk inkubator bisnis. Kalau kita lihat analoginya dengan bayi, kita tentunya tidak ingin bayi kita melalui proses inkubator jika memang tidak harus. Bukankah begitu? Mengapa kalau urusan bisnis kita justru ingin masuk ke inkubator? Aneh saja.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.785 pengikut lainnya.