Tag Archives: startup

Kuliah Entrepreneurship Menghasilkan Entrepreneur?

Dalam sebuah seminar tentang entrepreneurship ada sebuah komentar (dan pertanyaan) dari peserta. Dia mengajar kuliah entrepreneurship dan ternyata tidak banyak yang menjadi entrepreneur. Adakah kiat-kiat untuk meningkatkan jumlah lulusan yang menjadi entrepreneur?

Saya jadi teringat jaman dahuluuu … waktu saya masih kuliah S1 di ITB. Salah satu mata kuliah yang populer waktu itu adalah kuliah Agama Budha. Setahu saya, kawan-kawan yang mengambil kuliah tersebut bukan ingin mempelajari agama Budha tetapi karena potensi mendapatkan nilai “A”-nya sangat besar. Jadi mereka mengambil kuliah tersebut karena nilainya, bukan karena isinya. Saya menduga kuliah-kuliah yang lainpun sebagian besar dipilih karena ini. Termasuk kuliah sang penanya tersebut.

Saya banyak memberikan presentasi, kuliah, dan mentoring yang terkait dengan entrepreneurship. Memang terlihat sebagian besar hanya ingin mengetahui kuliahnya. Siapa tahu di kemudian hari mereka ingin menjadi entrepreneur. Yang langsung memang serius ingin menjadi entrepreneur saat itu juga nampaknya minoritas. Perkiraan saya kurang dari 10%. Ini hanya perkiraan saya saja ya karena saya belum mengumpulkan data sungguhan.

Ada yang mengatakan untuk menjadi entrepreneur tidak perlu harus kuliah-kuliahan. Langsung saja jadi entrepreneur. “Kuliah” diperoleh dari pengalaman. On the street. Pendapat ini ada benarnya, tetapi kalau kita mengetahui teorinya seharusnya potensi kegagalan dapat dikurangi. Saya sendiri termasuk yang menganut “kerjakan dahulu, baru cari teorinya”. hi hi hi. Perlu ditekankan bahwa saya tertarik mencari teori dari apa yang saya kerjakan sehingga dapat bereaksi dengan lebih baik (terhadap situasi yang dihadapi).

Saya jadi teringat ada orang yang merasa bahwa kuliah computer science / ilmu komputer / informatika itu tidak penting. Langsung saja belajar dari “idiot guide to programming” atau “programming xyz in 21 days”. hi hi hi. Iya sih kalau hanya sekedar membuat program sih bisa saja, tetapi begitu kita menghadapi sistem yang besar maka teori itu penting. Sama seperti membuat rumah. Kalau membuat rumah satu tingkat, ngasal aja juga bisa. Tapi kalau kita mau buat hotel 100 tingkat, yang ini harus punya ilmunya.

Kembali ke topik utama. Jadi bagaimana agar kuliah entrepreneurship dapat menghasilkan lebih banyak entrepreneur ya?


Insan Music Store

Progress dari toko musik digital kami.

Pertama, situs web sudah siap di www.insanmusic.com. Masih sederhana dan akan diperbaharui secara berkala. Yang penting up and running dulu. hi hi hi.

Kedua, hari Minggu ini (4 Mei 2014) kami akan buka lapak kembali di Bandung Car Free Day (CFD). Tempatnya di depan Bank BRI. Acaranya jam 7 pagi sampai jam 10 pagi. Jika Anda memiliki lagu dan siap untukj didistribusikan melalui toko musik kami, bawa langsung ke sana dan tanda tangan kontrak di sana.


Apakah Perlu Inkubator Bisnis?

Ini saya baru pulang dari reception untuk para pembicara dan undangan dari luar negeri di acara Innovation Festival Asia yan diselenggarakan oleh NUS (National University Singapore). Acaranya makan malam dan networking, ngobrol cari teman baru. Salah satu pertanyaan yang bolak-balik muncul adalah apakah saya dari sebuah inkubator bisnis (startup)? Saya jawab tidak. Saya kemudian berpikir, apakah sebetulnya inkubator bisnis itu diperlukan?

Inkubator bisnis itu mengambil analogi inkubator untuk bayi. Ada bayi yang begitu lahir harus dimasukkan ke inkubator dahulu karena satu dan lain hal. Inkubator ini memperbesar peluang mereka untuk menghadapi dunia yang baru mereka masuki. Hal yang sama juga terjadi untuk bisnis. Ada bisnis yang harus melalui inkubator. Namun kita lupa bahwa sebetulnya kita berharap bahwa bayi-bayi yang lahir itu tidak harus melalui inkubator. Inkubator itu hanya kasus khusus saja. Bukan yang umum.

Saya mendapati ada kecenderungan startup ingin melalui proses masuk inkubator bisnis. Kalau kita lihat analoginya dengan bayi, kita tentunya tidak ingin bayi kita melalui proses inkubator jika memang tidak harus. Bukankah begitu? Mengapa kalau urusan bisnis kita justru ingin masuk ke inkubator? Aneh saja.


Masih Soal Toko Musik Digital

Beberapa hari ini saya masih memikirkan soal toko musik digital kami. Hari Minggu – ya, betul, besok! – kami mau buka lapak di Bandung Car Free Day. Ini sih modal nekad saja. Pasalnya kalau tidak diniatkan dan dinekadkan begini mungkin tidak maju-maju. Jadi besok mau buka lapak saja.

Tujuan utama besok adalah untuk melihat situasi pasar, memperkenalkan diri, dan mencari band / artis / musisi yang berminat memasukkan lagunya di toko musik kami. Itu saja. Jadi hari ini saya masih kirim email ke sana ke mari untuk memberitahu soal ini. Dadakan juga sih. Soalnya hari-hari sebelumnya saya disibukkan oleh urusan kuliah dan sejenisnya.

Semoga lancar besok. Jreng!


Aplikasi Buatan Indonesia

Baru saja saya membaca berita ini, “Facebook dkk. Sedot Rp 19 triliun dari Indonesia“. Dikatakan bahwa Indonesia seharusnya membuat aplikasi seperti facebook dan kawan-kawan itu. Apakah jika sudah memiliki aplikasi buatan sendiri maka pengguna Facebook, Twitter, akan turun? Jawabannya adalah TIDAK.

Saat ini sudah banyak aplikasi serupa. Lihat saja Zohib yang punya aplikasi percobaan mirip – bahkan terlalu mirip – dengan facebook dan twitter. Penggunanya? Tidak banyak. Mengapa demikian? Ada banyak alasan. Contoh lain yang buatan Indonesia juga adalah Mindtalk. Yang ini penggunanya sudah lumayan banyak.

Pertama, sudah terlalu banyak teman dan keluarga kita di Facebook. Tidak mudah pindah dari sebuah layanan ke layanan lain. Namanya juga media sosial. Aspek sosialnya yang kental. Di mana yang lebih banyak kerumunannya maka di situlah orang semakin tertarik untuk bergabung.

Mendapatkan pengguna juga tidak mudah. Biaya marketing untuk mendapatkan pengguna itu tidak mudah. Apalagi kalau diinginkan pengguna yang menetap (sticky), bukan yang hanya sekedar daftar kemudian tidak pernah berkunjung lagi. Inilah sebabnya WhatsApp dibeli mahal, karena jumlah penggunanya banyak.

Kedua, orang Indonesia kelihatannya lebih menyukai buatan luar negeri daripada buatan Indonesia sendiri. Padahal ada banyak produk dan layanan yang buatan Indonesia jauh lebih baik kualitasnya. Mungkin kalau buatan Indonesia kurang keren ya? Ayo cintai buatan Indonesia. Yang ini masih merupakan pekerjaan rumah kita bersama.

Ketiga, penyedia layanan Indonesia sering kurang baik dalam melayani pelanggannya. Lambat, kurang responsif, defensif, dan hal-hal yang negatif lainnya. Padahal semestinya kita dapat memberikan layanan yang terbaik untuk pelanggan kita sendiri.

Jadi bagaimana? Masih mau pakai buatan Indonesia? Atau apakah memang perlu menggunakan buatan Indonesia? Atau mungkin kita tidak peduli? Selama kita bisa bayar, biarin saja. Mau buatan Indonesia atau luar negeri kek. Kan saya yang bayar. Hadoh.


Valuasi Perusahaan IT

Baru-baru ini banyak orang terperangah ketika Facebook membeli WhatsApp dengan nilai yang fantastis. Yang menarik adalah WhatsApp adalah layanan yang belum menghasilkan revenue besar. Penghasilannya dari mana? Bagaimana menilai perusahaan (layanan) seperti WhatsApp ini? Mulailah muncul spekulasi dan teori. Saya akan menawarkan pemahaman saya.

Salah satu upaya perusahaan untuk mendapatkan pelanggan (customer) adalah melakukan marketing. Ada biaya untuk melakukan itu. Ada “cost of acquiring customer“. Berapa besarnya ini? Ini masih menjadi perdebatan. Katakanlah biayanya adalah US$20 (atau ada yang mengatakan boleh jadi US$50), maka nilai sebuah layanan adalah jumlah pelanggan dikalikan dengan biaya tersebut. Jadi katakanlah saya punya sebuah layanan dengan 100 juta pelanggan, maka sebetulnya perusahaan saya memiliki nilai US$ 2 milyar. Ini kalau dilihat dari kacamata mendapatkan pelanggan.

Cara menilai seperti ini tentunya masih belum dapat diterima oleh semua pihak. Jumlah pelanggan tidak selalu berkorelasi dengan sales, revenue. Tentu saja. Dia baru dapat dikatakan sebagai potensi. Namun ini sudah menjadi sebuah value. Bahkan ada yang mengatakan bahwa “user is the new currency”. Nah.

Ada cara pandang lain mengenai valuasi dari perusahaan IT, tetapi itu untuk topik tulisan lain kali ya.


Proposal Startup di Tahun 2000

Sedang bersih-bersih ruang kerja. Banyak dokumen-dokumen yang sudah pantas untuk dibuang. Eh, menemukan proposal untuk pembuatan perusahaan (startup) di tahun 2000. Proposal ini mengusulkan sebuah perusahaan yang mengembangkan aplikasi untuk handphone. Ingat, di tahun 2000, belum ada perusahaan yang mengembangkan aplikasi di handphone. Semua aplikasi yang ada di handphone sudah built-in dari pabriknya. Nah.

startup-proposal-2000-page1

startup-proposal-2000-page2

Sayangnya karena saya belum memiliki sumber daya yang memadai pada saat ini, maka startup yang itu tidak sempat saya buat. Kalau sekarang, perusahaan yang membuat aplikasi untuk mobil sudah banyak ya? Kalau sekarang, ide saya sudah lain lagi. hi hi hi.


Teknis atau non-Teknis ya?

Baru saja saya membaca sebuah blog (lupa URL-nya) tentang keluhan seorang entrepreneur di Singapura. Intinya dia mengeluhkan soal susahnya memiliki talented engineering pool di Singapura. Perusahaan startup yang bernunansa teknologi membutuhkan engineers untuk mengimplementasikan ide-idenya. Namun ternyata susah mencari engineers ini.

Ada banyak alasan terjadinya masalah ini. Engineers yang bagus ditawari pekerjaan di Amerika dengan gaji yang lebih tinggi. Minggatlah mereka. Mengimpor engineers dari luar negeri juga harus memenuhi persyaratan gaji minimal (yang ditentukan oleh negara), yang mana biasanya terlalu mahal untuk kantong startup. Selain itu juga para engineers ini ditawari untuk menempati jabatan managerial, yang gajinya juga ternyata lebih tinggi dari gaji engineer. Lengkaplah penderitaan ini.

Saya hanya ingin menyoroti hal yang terakhir saja. Peta perjalanan karir orang teknis ternyata tidak terlalu cerah dibandingkan orang non-teknis. Cerah ini didefinisikan dengan kacamata finansial. Jarang ditemui engineers yang gajinya lebih tinggi atau sama-lah dengan bos-nya yang non-teknis. (Mungkin di Amerika sana bisa berbeda, tetapi ini kenyataan di Indonesia dan kelihatannya di Asia.)

Sedih juga kalau orang-orang yang otaknya cemerlang kemudian meninggalkan bidang teknis. Tapi alasan apa yang dapat mereka gunakan untuk tetap tinggal di teknis? Demikian pula, apa alasan saya untuk tetap mengajari mahasiswa saya tentang hal-hal yang teknis kalau nantinya juga akan ditinggalkan?

Saya sendiri ingin selalu menghargai orang teknis. Bahkan secara finansial mereka bisa lebih tinggi daripada orang teknis. Begitu …¬† Saya sendiri akan tetap tinggal di dunia teknis.


Nasib Juara-Juara

Baru-baru ini ada pertanyaan, kemana para juara-juara kompetisi entrepreneurship, business plan, ICT awards (semacam INAICTA), dan seterusnya? Semestinya mereka berhasil membuat perusahaan (startup). Pada kenyataannya hampir semua tumbang. Apa ya jawaban terhadap pertanyaan seperti ini?

Ada beberapa kemungkinan penyebab kegagalan ini. Yang pertama, para juara-juara ini memang hanya ingin ikut kompetisi. Target mereka adalah memenangkan kejuaraan. Setelah itu tidak penting lagi. Kemenangan kejuaraan ini menjadi bagian dari bio data. Nantinya ini digunakan untuk mencari pekerjaan. Nah lho. Padahal kalau menjadi entrepreneur kan tidak butuh bio data untuk melamar pekerjaan. Kan melamar pekerjaan kepada diri sendiri. hi hi hi.

Yang kedua, mengembangkan usaha itu berbeda dengan mengembangkan produk. Dibutuhkan orang dengan karakter yang berbeda. Orang bisnis akan beda dengan orang pengembang. Boleh jadi para pemenang ini tidak berhasil menemukan partner bisnisnya sehingga mereka (orang teknis) harus terjun menjalankan bisnis. Kemungkinan terjadinya kegagalan untuk hal ini sangat besar.

Yang ketiga, bisa jadi produk atau layanan yang dikembangkan itu belum memiliki pasar. Ahead of its time. Apa boleh buat, secara bisnis mereka gagal. Jika ini diluncurkan 5 tahun lagi kemungkinan bisa sukses secara bisnis.

Dan masih banyak alasan lain. Saya tidak ingin mencari-cari alasan untuk pembenaran, tetapi memang demikian adanya. Tidak mudah untuk membuat sebuah bisnis yang langgeng. Maka dari itu, kita perlu hargai usaha bisnis yang dapat bertahan cukup lama.

Sukses!


Mencari Tempat Makan di Kampus

Tulisan ini merupakan tulisan yang terlambat karena sekarang sudah memasuki bulan Ramadhan, bulan puasa, tetapi daripada tidak dituliskan lebih baik saya tuliskan saja. Meskipun terlambat.

Begitu mahasiswa libur, jumlah mahasiswa di kampus berkurang secara drastis. Yang tinggal di kampus adalah mahasiswa yang menyelesaikan tugas akhir / thesis / disertasi atau yang mengambil kuliah semester pendek. Sebetulnya masih ada beberapa mahasiswa lain yang sibuk dengan kegiatan organisasi mahasiswa. Namun secara jumlah memang berkurang drastis.

Akibat dari jumlah mahasiswa yang berkurang, sebagian kantin ditutup. Awalnya digilir yang buka, setelah itu sebagian tutup sampai mulai semester baru. Yang repot adalah kami-kami, dosen, yang masih tinggal di kampus selama mahasiswa libur. Kami tidak libur. Nah, makan siang merupakan masalah tersendiri bagi yang makan di kantin. Kita harus tahu kantin mana yang buka.

Saya kepikiran adanya sebuah aplikasi (sosial) yang memberitahukan tempat makan yang buka dan kondisinya (ramai, sepi, ketersediaan makanan, dan seterusnya). Pengguna dapat memberikan informasi secara real-time mengenai kondisi tempat-tempat tersebut. Ada usulan?

Selain tempat makan, aplikasi ini juga dapat digunakan untuk memberitahukan tempat belajar yang kosong / tersedia / available. Seringkali mahasiswa kesulitan mencari tempat belajar. Setelah pergi ke tempat tersebut, ternyata tempatnya penuh atau malah ditutup.

Perlu diingat data aplikasi ini harus diperbaharui oleh pengguna, bukan oleh administrator. Crowd sourcing. Saya melihat beberapa program / apps sistem informasi kampus yang datanya dikelola oleh seorang admin. Begitu adminnya libur atau malas update data, maka aplikasi langsung ditinggalkan oleh pengguna.


Entrepreneur atau bukan

Ada perbedaan yang mendasar antara seorang entrepreneur (innovator? creator?) atau bukan. Entrepreneur akan mencoba merealisasikan ide, sementara yang bukan selalu mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya. Sangat gamblang sekali perbedaannya.

Suatu ketika saya melemparkan ide sebuah pekerjaan. (Ide tersebut sebetulnya bukan dari saya tetapi dari rekan saya. Dia sedang mencari orang yang sanggup merealisasikan idenya – dengan dibayar tentunya. Saya pikir idenya keren, hanya saja tim saya sedang overloaded.) Respon yang saya peroleh dari kebanyakan orang adalah alasan untuk tidak tertarik; ah ide itu kan sudah ada, kayaknya tidak bisa diimplementasikan, dan sejenisnya. Padahal tinggal dikerjakan dan ada duitnya pula. Terlihat mereka tidak antusias. Ya sudah. Percuma kalau saya ajak mereka untuk merealisasikan ide itu.

Salah satu “kehebatan” dari seorang entrepreneur adalah “kebodohan” dia bahwa apa yang akan dilakukan itu menurut para “pakar” tidak dapat dilakukan. Dan berkali-kali para “pakar” itu salah. Sebagai contoh, dulu para pakar mengatakan tidak mungkin membuat komputer lebih kecil karena ada banyak chips yang dibutuhkan untuk mengimplementasikannya. Steve Wozniak tidak tahu bahwa itu tidak bisa (kata para pakar) dan langsung membuatnya saja. Ternyata, bisa!


Portal Berita Positif

Alhamdulillah sudah lama saya tidak membaca surat kabar lokal dan tidak menonton TV lokal. Alasannya? Beritanya begitu-begitu saja. Negatif. Diulang-ulang. Tidak jelas manfaatnya apa.

Tadinya saya berharap media berita digital dapat mengubah ini. Ternyata sama saja. Situs berita Indonesia isinya sama dengan surat kabar atau TV lokal. Ternyata mereka masih di-drive oleh media konvensional. Ampun.

Pikir-pikir ini peluang untuk membuat portal berita positif. Orang yang bosan membaca atau mendengar berita mainstream yang negatif-negatif dapat membaca berita di sini. Isinya antara lain kesuksesan bisnis dari perusahaan baru, biografi orang yang hebat-hebat, sejarah yang menarik, penemuan-penemuan baru, dan sejenisnya. Saya pikir ini akan menarik.

Blog saya sebetulnya menganut pakem teresebut. Hanya saja blog saya ini diisi oleh satu orang (dan komentator yang setia). Kurang banyak kontribusinya. Kalau ada portal yang diisi oleh orang banyak yang berpikiran positif semua, nampaknya oke juga. Blog saya yang gini-gini saja sudah ramai pengunjung, apalagi portal berita positif.

Silahkan …


(Dari Ide ke) Resep Rahasia

Dalam tulisan terdahulu saya bercerita tentang murahnya ide. Kali ini saya akan lanjutkan ceritanya.

Apa yang membuat pelaksanaan atau eksekusi sebuah ide lebih unggul dari yang lain? Menurut saya salah satu kuncinya ada pada resep rahasianya. The secret souce.

Apa yang membuat yamien {ayam bakar|nasi goreng|makanan lain} di satu warung lebih enak – dan akibatnya lebih laris – dari warung lainnya? Ya resepnya itu. Hal yang sama juga ada pada bisnis lain, termasuk bisnis berbasis teknologi informasi. Kita boleh punya ide portal komunitas yang sama, tetapi kenyataannya kaskus tetap yang paling populer.

Resep di sistem IT juga dapat bervariasi; ada pilihan sistem operasi, bahasa pemrograman, database, topologi jaringan, konfigurasi server, tampilan, dan seterusnya. Sebagai contoh, jika Anda hanya boleh memilih dua hal, mana yang Anda prioritaskan? (1) Jenis prosesor, (2) besarnya memory, (3) besarnya harddisk, dan (4) kecepatan jaringan? Idealnya sih dibaguskan semua, tetapi sebagai sebuah startup yang baru mulai dengan ide tentunya Anda tidak memiliki uang untuk memenuhi keinginan Anda tersebut. Kalaupun punya uang dan Anda gelontorkan semua ke sistem Anda, maka layanan Anda kan mahal hargnya.

Akibatnya akan ada banyak kombinasi atau permutasi yang menghasilkan resep rahasia untuk layanan Anda tersebut. Oh ya, kadang-kadang, kita tidak tahu resep rahasia kita! Ha ha ha. Misalnya kita tidak sadar bahwa air yang kita gunakan untuk memasak makanan kita itulah yang sebetulnya membuat makanan kita enak. (Katanya inilah yang membuat tahu Sumedang tidak bisa dibuat di tempat lain. Hal yang sama dengan champagne.)

Itu baru soal “hardware/software” atau yang terkait dengan bahan bakunya. Cara kita memberikan layanan juga ternyata merupakan kunci juga. Itu yang menyebabkan Starbucks terkenal. Kalau soal kopi sih banyak tempat lain yang kopinya lebih unggul, tapi tetap Startbucks yang terkenal. Ini yang ingin saya katakan adalah resep rahasia juga bisa terletak pada proses dan manusianya.

Jika ide saya katakan murah, maka resep rahasia ini tidak murah. Itulah sebabnya Coca Cola menjaga resep rahasianya dalam bentuk rahasia dagang (trade secrets). Resep rahasia ini ditemukan dengan susah payah setelah melalui masa coba-coba.

Ternyata bahkan kadang ada juga orang yang membuka resep rahasia ini. Open source contohnya. Bahkan resep pun tidak perlu dirahasiakan. Yang menjadi kunci adalah bagaimana kita memberikan layanannya (berarti dapat dikatakan masuk ke proses dan manusia). Yang diuntungkan jelas konsumer. Kalau ini digeneralisir, yang diuntungkan adalah umat manusia.

Nah … semoga tulisan ini dapat memberi pencerahan (khususnya pada pelaku startup).


Kesulitan Menjalankan Startup

Kemarin saya memberikan presentasi di @America, Pacific Place, sebagai bagian dari pembukaan acara the Founder Institute (FI). (Paginya ngajar dulu. Selesai ngajar langsung menuju Jakarta ke acara ini.) Saya memberikan presentasi mengenai “Where Do Ideas Come From.” (Inti / kerangka dari materi presentasi akan saya postingkan. Ini masih kejar tayang kerjaan-kerjaan lain dahulu.)

BR at FI

[Foto diambil oleh Kuncoro]

Setelah saya memberikan presentasi, ada talk show dengan menampilkan beberapa lulusan FI dan juga ada dua orang founders dari startup yang bukan lulusan FI. Di akhir talk show ada tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang diajukan kepada para founders ini adalah apa yang paling sulit dalam menjalankan atau membangun startup mereka. Jawabannya hampir sama, yaitu berkisar kepada “finding the right team – with the same vision and values”, sumber daya manusia. Pengalaman saya juga demikian.

Masalah SDM ini merupakan masalah umum yang dihadapi startup. Masalahnya adalah startup masih perusahaan yang baru berdiri (bahkan kadang belum ada badan hukumnya). Mereka tidak punya uang untuk menggaji karyawan yang bagus-bagus. Karyawan yang bagus-bagus ini tentunya mendapat tawaran di tempat-tempat yang lebih menjanjikan secara finansial. Stock option juga tidak dikenal di Indonesia. Yang dapat dilakukan oleh para startup ini adalah menjual visi (mimpi?) bersama.

Sementara itu, bagi yang belum memulai usaha, yang sering dipermasalahkan adalah mencari funding. Memang benar dalam mencari funding itu tidak mudah, tetapi dia bukan masalah yang utama. Selain masalah SDM, masalah cash flow juga merupakan salah satu pembunuh startup. Ini cerita di lain kesempatan.

Sebenarnya masih banyak oleh-oleh lain dari acara kemarin, tetapi cukup sekian dulu. Supaya tidak bosan juga :)


Rontok …

Saya baru sadar implikasi atas bubarnya sebuah kelompok usaha yang tadinya banyak memberikan layanan blog gratisan di Indonesia. Tulisan banyak yang hilang tanpa jejak karena tidak sempat di-backup dahulu. (Jadi berpikir. Apakah sebaiknya punya beberapa – setidaknya lebih dari satu – blog untuk tulisan yang sama? Sekedar jaga-jaga kalau rontok juga.)

Sebelumnya  layanan multiply.com menutup bagian dari jurnalnya (blognya). Padahal tadinya saya kira ini yang menjadi daya tarik mereka. Rupanya bukan itu. Selain itu saya juga masih mempunya blog di beberapa tempat, yang mana sekarang sudah tinggal namanya saja. Sedih juga.

Tadi saya membaca ulang tulisan saya tentang perbandingan beberapa penyedia jasa blog. Sebagian besar layanan yang saya ulas tersebut sudah mati (atau menjadi zombie). Baru nyadar betapa cepatnya perubahan di internet.

Lantas saya jadi khawatir, sampai berapa lama wordpress.com dapat memberikan layanan ini? Hadoh.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.