Tag Archives: startup

Nasib Juara-Juara

Baru-baru ini ada pertanyaan, kemana para juara-juara kompetisi entrepreneurship, business plan, ICT awards (semacam INAICTA), dan seterusnya? Semestinya mereka berhasil membuat perusahaan (startup). Pada kenyataannya hampir semua tumbang. Apa ya jawaban terhadap pertanyaan seperti ini?

Ada beberapa kemungkinan penyebab kegagalan ini. Yang pertama, para juara-juara ini memang hanya ingin ikut kompetisi. Target mereka adalah memenangkan kejuaraan. Setelah itu tidak penting lagi. Kemenangan kejuaraan ini menjadi bagian dari bio data. Nantinya ini digunakan untuk mencari pekerjaan. Nah lho. Padahal kalau menjadi entrepreneur kan tidak butuh bio data untuk melamar pekerjaan. Kan melamar pekerjaan kepada diri sendiri. hi hi hi.

Yang kedua, mengembangkan usaha itu berbeda dengan mengembangkan produk. Dibutuhkan orang dengan karakter yang berbeda. Orang bisnis akan beda dengan orang pengembang. Boleh jadi para pemenang ini tidak berhasil menemukan partner bisnisnya sehingga mereka (orang teknis) harus terjun menjalankan bisnis. Kemungkinan terjadinya kegagalan untuk hal ini sangat besar.

Yang ketiga, bisa jadi produk atau layanan yang dikembangkan itu belum memiliki pasar. Ahead of its time. Apa boleh buat, secara bisnis mereka gagal. Jika ini diluncurkan 5 tahun lagi kemungkinan bisa sukses secara bisnis.

Dan masih banyak alasan lain. Saya tidak ingin mencari-cari alasan untuk pembenaran, tetapi memang demikian adanya. Tidak mudah untuk membuat sebuah bisnis yang langgeng. Maka dari itu, kita perlu hargai usaha bisnis yang dapat bertahan cukup lama.

Sukses!


Mencari Tempat Makan di Kampus

Tulisan ini merupakan tulisan yang terlambat karena sekarang sudah memasuki bulan Ramadhan, bulan puasa, tetapi daripada tidak dituliskan lebih baik saya tuliskan saja. Meskipun terlambat.

Begitu mahasiswa libur, jumlah mahasiswa di kampus berkurang secara drastis. Yang tinggal di kampus adalah mahasiswa yang menyelesaikan tugas akhir / thesis / disertasi atau yang mengambil kuliah semester pendek. Sebetulnya masih ada beberapa mahasiswa lain yang sibuk dengan kegiatan organisasi mahasiswa. Namun secara jumlah memang berkurang drastis.

Akibat dari jumlah mahasiswa yang berkurang, sebagian kantin ditutup. Awalnya digilir yang buka, setelah itu sebagian tutup sampai mulai semester baru. Yang repot adalah kami-kami, dosen, yang masih tinggal di kampus selama mahasiswa libur. Kami tidak libur. Nah, makan siang merupakan masalah tersendiri bagi yang makan di kantin. Kita harus tahu kantin mana yang buka.

Saya kepikiran adanya sebuah aplikasi (sosial) yang memberitahukan tempat makan yang buka dan kondisinya (ramai, sepi, ketersediaan makanan, dan seterusnya). Pengguna dapat memberikan informasi secara real-time mengenai kondisi tempat-tempat tersebut. Ada usulan?

Selain tempat makan, aplikasi ini juga dapat digunakan untuk memberitahukan tempat belajar yang kosong / tersedia / available. Seringkali mahasiswa kesulitan mencari tempat belajar. Setelah pergi ke tempat tersebut, ternyata tempatnya penuh atau malah ditutup.

Perlu diingat data aplikasi ini harus diperbaharui oleh pengguna, bukan oleh administrator. Crowd sourcing. Saya melihat beberapa program / apps sistem informasi kampus yang datanya dikelola oleh seorang admin. Begitu adminnya libur atau malas update data, maka aplikasi langsung ditinggalkan oleh pengguna.


Entrepreneur atau bukan

Ada perbedaan yang mendasar antara seorang entrepreneur (innovator? creator?) atau bukan. Entrepreneur akan mencoba merealisasikan ide, sementara yang bukan selalu mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya. Sangat gamblang sekali perbedaannya.

Suatu ketika saya melemparkan ide sebuah pekerjaan. (Ide tersebut sebetulnya bukan dari saya tetapi dari rekan saya. Dia sedang mencari orang yang sanggup merealisasikan idenya – dengan dibayar tentunya. Saya pikir idenya keren, hanya saja tim saya sedang overloaded.) Respon yang saya peroleh dari kebanyakan orang adalah alasan untuk tidak tertarik; ah ide itu kan sudah ada, kayaknya tidak bisa diimplementasikan, dan sejenisnya. Padahal tinggal dikerjakan dan ada duitnya pula. Terlihat mereka tidak antusias. Ya sudah. Percuma kalau saya ajak mereka untuk merealisasikan ide itu.

Salah satu “kehebatan” dari seorang entrepreneur adalah “kebodohan” dia bahwa apa yang akan dilakukan itu menurut para “pakar” tidak dapat dilakukan. Dan berkali-kali para “pakar” itu salah. Sebagai contoh, dulu para pakar mengatakan tidak mungkin membuat komputer lebih kecil karena ada banyak chips yang dibutuhkan untuk mengimplementasikannya. Steve Wozniak tidak tahu bahwa itu tidak bisa (kata para pakar) dan langsung membuatnya saja. Ternyata, bisa!


Portal Berita Positif

Alhamdulillah sudah lama saya tidak membaca surat kabar lokal dan tidak menonton TV lokal. Alasannya? Beritanya begitu-begitu saja. Negatif. Diulang-ulang. Tidak jelas manfaatnya apa.

Tadinya saya berharap media berita digital dapat mengubah ini. Ternyata sama saja. Situs berita Indonesia isinya sama dengan surat kabar atau TV lokal. Ternyata mereka masih di-drive oleh media konvensional. Ampun.

Pikir-pikir ini peluang untuk membuat portal berita positif. Orang yang bosan membaca atau mendengar berita mainstream yang negatif-negatif dapat membaca berita di sini. Isinya antara lain kesuksesan bisnis dari perusahaan baru, biografi orang yang hebat-hebat, sejarah yang menarik, penemuan-penemuan baru, dan sejenisnya. Saya pikir ini akan menarik.

Blog saya sebetulnya menganut pakem teresebut. Hanya saja blog saya ini diisi oleh satu orang (dan komentator yang setia). Kurang banyak kontribusinya. Kalau ada portal yang diisi oleh orang banyak yang berpikiran positif semua, nampaknya oke juga. Blog saya yang gini-gini saja sudah ramai pengunjung, apalagi portal berita positif.

Silahkan …


(Dari Ide ke) Resep Rahasia

Dalam tulisan terdahulu saya bercerita tentang murahnya ide. Kali ini saya akan lanjutkan ceritanya.

Apa yang membuat pelaksanaan atau eksekusi sebuah ide lebih unggul dari yang lain? Menurut saya salah satu kuncinya ada pada resep rahasianya. The secret souce.

Apa yang membuat yamien {ayam bakar|nasi goreng|makanan lain} di satu warung lebih enak – dan akibatnya lebih laris – dari warung lainnya? Ya resepnya itu. Hal yang sama juga ada pada bisnis lain, termasuk bisnis berbasis teknologi informasi. Kita boleh punya ide portal komunitas yang sama, tetapi kenyataannya kaskus tetap yang paling populer.

Resep di sistem IT juga dapat bervariasi; ada pilihan sistem operasi, bahasa pemrograman, database, topologi jaringan, konfigurasi server, tampilan, dan seterusnya. Sebagai contoh, jika Anda hanya boleh memilih dua hal, mana yang Anda prioritaskan? (1) Jenis prosesor, (2) besarnya memory, (3) besarnya harddisk, dan (4) kecepatan jaringan? Idealnya sih dibaguskan semua, tetapi sebagai sebuah startup yang baru mulai dengan ide tentunya Anda tidak memiliki uang untuk memenuhi keinginan Anda tersebut. Kalaupun punya uang dan Anda gelontorkan semua ke sistem Anda, maka layanan Anda kan mahal hargnya.

Akibatnya akan ada banyak kombinasi atau permutasi yang menghasilkan resep rahasia untuk layanan Anda tersebut. Oh ya, kadang-kadang, kita tidak tahu resep rahasia kita! Ha ha ha. Misalnya kita tidak sadar bahwa air yang kita gunakan untuk memasak makanan kita itulah yang sebetulnya membuat makanan kita enak. (Katanya inilah yang membuat tahu Sumedang tidak bisa dibuat di tempat lain. Hal yang sama dengan champagne.)

Itu baru soal “hardware/software” atau yang terkait dengan bahan bakunya. Cara kita memberikan layanan juga ternyata merupakan kunci juga. Itu yang menyebabkan Starbucks terkenal. Kalau soal kopi sih banyak tempat lain yang kopinya lebih unggul, tapi tetap Startbucks yang terkenal. Ini yang ingin saya katakan adalah resep rahasia juga bisa terletak pada proses dan manusianya.

Jika ide saya katakan murah, maka resep rahasia ini tidak murah. Itulah sebabnya Coca Cola menjaga resep rahasianya dalam bentuk rahasia dagang (trade secrets). Resep rahasia ini ditemukan dengan susah payah setelah melalui masa coba-coba.

Ternyata bahkan kadang ada juga orang yang membuka resep rahasia ini. Open source contohnya. Bahkan resep pun tidak perlu dirahasiakan. Yang menjadi kunci adalah bagaimana kita memberikan layanannya (berarti dapat dikatakan masuk ke proses dan manusia). Yang diuntungkan jelas konsumer. Kalau ini digeneralisir, yang diuntungkan adalah umat manusia.

Nah … semoga tulisan ini dapat memberi pencerahan (khususnya pada pelaku startup).


Kesulitan Menjalankan Startup

Kemarin saya memberikan presentasi di @America, Pacific Place, sebagai bagian dari pembukaan acara the Founder Institute (FI). (Paginya ngajar dulu. Selesai ngajar langsung menuju Jakarta ke acara ini.) Saya memberikan presentasi mengenai “Where Do Ideas Come From.” (Inti / kerangka dari materi presentasi akan saya postingkan. Ini masih kejar tayang kerjaan-kerjaan lain dahulu.)

BR at FI

[Foto diambil oleh Kuncoro]

Setelah saya memberikan presentasi, ada talk show dengan menampilkan beberapa lulusan FI dan juga ada dua orang founders dari startup yang bukan lulusan FI. Di akhir talk show ada tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang diajukan kepada para founders ini adalah apa yang paling sulit dalam menjalankan atau membangun startup mereka. Jawabannya hampir sama, yaitu berkisar kepada “finding the right team – with the same vision and values”, sumber daya manusia. Pengalaman saya juga demikian.

Masalah SDM ini merupakan masalah umum yang dihadapi startup. Masalahnya adalah startup masih perusahaan yang baru berdiri (bahkan kadang belum ada badan hukumnya). Mereka tidak punya uang untuk menggaji karyawan yang bagus-bagus. Karyawan yang bagus-bagus ini tentunya mendapat tawaran di tempat-tempat yang lebih menjanjikan secara finansial. Stock option juga tidak dikenal di Indonesia. Yang dapat dilakukan oleh para startup ini adalah menjual visi (mimpi?) bersama.

Sementara itu, bagi yang belum memulai usaha, yang sering dipermasalahkan adalah mencari funding. Memang benar dalam mencari funding itu tidak mudah, tetapi dia bukan masalah yang utama. Selain masalah SDM, masalah cash flow juga merupakan salah satu pembunuh startup. Ini cerita di lain kesempatan.

Sebenarnya masih banyak oleh-oleh lain dari acara kemarin, tetapi cukup sekian dulu. Supaya tidak bosan juga :)


Rontok …

Saya baru sadar implikasi atas bubarnya sebuah kelompok usaha yang tadinya banyak memberikan layanan blog gratisan di Indonesia. Tulisan banyak yang hilang tanpa jejak karena tidak sempat di-backup dahulu. (Jadi berpikir. Apakah sebaiknya punya beberapa – setidaknya lebih dari satu – blog untuk tulisan yang sama? Sekedar jaga-jaga kalau rontok juga.)

Sebelumnya  layanan multiply.com menutup bagian dari jurnalnya (blognya). Padahal tadinya saya kira ini yang menjadi daya tarik mereka. Rupanya bukan itu. Selain itu saya juga masih mempunya blog di beberapa tempat, yang mana sekarang sudah tinggal namanya saja. Sedih juga.

Tadi saya membaca ulang tulisan saya tentang perbandingan beberapa penyedia jasa blog. Sebagian besar layanan yang saya ulas tersebut sudah mati (atau menjadi zombie). Baru nyadar betapa cepatnya perubahan di internet.

Lantas saya jadi khawatir, sampai berapa lama wordpress.com dapat memberikan layanan ini? Hadoh.


Entrepreneurship (tidak mudah)

Baru saja saya selesai berdiskusi – via Skype – dengan seorang kawan di Amerika. Ini merupakan follow up dari diskusi-diskusi sebelumnya yang kami lakukan secara fisik di Bandung dan juga melalui media online. Kami sama-sama berniat mengembangkan startups di Indonesia.

Masalah yang sedang dia hadapi adalah legal structure di Amerika sana, yang mana saya tidak terlalu faham. Ada kesulitan-kesulitan yang menghalangi melakukan investasi secara institusi. Saya kurang familier saat ini dan kami akan terus mendiskusikannya. Sementara ini saya memang lebih tertarik kepada aspek teknis, engineering, dan pengembangan produk. Mungkin nantinya memang aspek legal ini harus dihadapi juga.

Menjadi entrepreneur memang tidak mudah. Hei, ini adalah pola hidup (lifestyle) yang kita pilih. Semua ada pro dan kontranya. I just love being an entrepreneur.


Perusahaan Besar Bukan Jaminan

Salah satu pembunuh utama dari startup atau perusahaan yang baru dibentuk adalah cash flow. Saya ambil contoh yang umum.

Sering terjadi sebuah startup mendapat pekerjaan dari perusahaan besar. Pekerjaan ini bayarannya cukup besar. Hanya saja ternyata pembayarannya dilakukan di belakang. Karena tergiur oleh uang yang besar – dan kemungkinan juga keuntungan yang besar – maka pekerjaan tersebut diambil. Mengenai term pembayaran yang dilakukan di belakang sebelumnya tidak dikehendaki oleh sang startup. Namun apa daya, perusahaan besarlah yang menentukan term ini. Terpaksa pekerjaan ini diterima. Lagi pula, mereka kan perusahaan besar. Apa yang perlu ditakutkan?

Dalam perjalanannya pekerjaan selesai dikerjakan dengan baik. Kemudian sang startup ini meminta pembayarannya. Nah, masalah mulai muncul. Perusahaan besar ini ternyata pembayarannya tidak lancar. (Saya perlu menuliskan hal ini dengan tulisan yang tebal.) Banyak yang tidak percaya pada awalnya. Bisa jadi hal ini terjadi karena birokrasi atau karena mereka juga punya masalah dengan cash flow mereka. Akibatnya pembayaran tadi tidak tepat waktu. Ini terjadi bukan sekali atau dua kali tetapi sering. Untuk itu, perlu perhatikan sejarah pembayaran mereka. Tanya kepada rekan-rekan lain yang sudah pernah berhubungan bisnis dengan mereka. Bagaimana pembayarannya? Lancar? Itu yang paling penting.

Bagi perusahaan yang cukup stabil, punya uang cadangan yang cukup besar, hal ini tidak terlalu masalah. Masih tetap masalah, tapi bukan masalah kritis. Bagi startup yang mengandalkan adanya uang ini untuk membayar gaji pegawai, sewa kantor, dan biaya operasional lainnya, hal ini merupakan masalah sangat besar. Bahkan bagi banyak startup, lambatnya pembayaran inilah yang membunuh startup itu.

Bayangkan, misalnya sebuah startup membutuhkan biaya operasional Rp. 25 jt/bulan dan dalam rekening hanya ada Rp. 100 juta. Kemudian klien dia – sang perusahaan besar – hutang Rp 300 jt, tapi dibayar tahun depan. Artinya sang startup ini harus berhutang dulu untuk operasional selama satu tahun itu. Mampuslah dia. Itupun kalau tahun depan tepat waktu pembayarannya. Kalau molor (lagi)???

Analoginya adalah cash flow ini seperti aliran darah atau oksigen. Darah harus mengalir terus. Normal. Teratur. Jangan mau ada aliran darah / oksigen yang besar, tapi tahun depan. he he he. Keburu mati kita. Lebih baik pembayaran kecil-kecil tapi reguler dan pasti daripada pembayaran besar tapi tidak terduga-duga. Bikin jantungan.

Itulah sebabnya sebagai startup, berhati-hatilah dalam menerima pekerjaan. Jangan tergiur oleh besarnya nilai proyek, tetapi kesanggupan kita. Bagi sebuah startup seperti contoh di atas, janganlah coba-coba ambil proyek yang bernilai Rp 10 milyar misalnya. Cash flow akan sangat berat sekali.

Hal lain yang sangat penting untuk dipegang, perusahaan besar bukan jaminan akan tepat waktu dalam membayar! Percayalah.


Say No to Walled Garden

Konsep bisnis di internet memang masih membingungkan. Salah satu ide yang pernah diusulkan adalah membuat layanan yang hanya dapat diakses oleh member saja. Misalnya sebuah operator atau penyedia jasa internet memiliki sebuah situs yang hanya dapat diakses oleh membernya. Pelanggan lain tidak bisa mengakses. Tujuannya jelas, yaitu agar orang berlangganan. Konsep ini dikenal dengan nama “walled garden“.

Ide walled garden adalah seolah-olah kita punya kebun yang ditutupi oleh pagar. Hanya orang-orang yang diberi ijin saja, misalnya pelanggan atau yang bayar, yang dapat masuk dan melihat kebun itu.

Pengamatan saya, konsep walled garden ini kurang cocok dan kurang berhasil untuk bisnis berorientasi internet. Jaman internet ini semua berharap mendapatkan akses secara gratis (atau sangat murah). Konsep yang menutup-nutupi seperti ini bertentangan dengan produk teknologi informasi, yang mana produk digital sangat mudah diduplikasi. Pasti saja bocor. Kenapa kita harus berlangganan walled garden?

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kesuksesan saat ini lebih banyak kepada konsep berbagi. Sharing. Menutup-nutupi adalah upaya yang sia-sia. Walled garden akan sulit diterima dan sulit untuk sukses.

Herannya, ketika diskusi dengan anak-anak muda yang ingin memulai bisnis, kebanyakan mereka cenderung ketakutan idenya dicuri atau sejenisnya sehingga mereka condong kepada walled garden. Padahal mereka, kalau berada di posisi sebagai pengguna, tidak suka dengan hal itu. Aneh juga. Mengapa membuat layanan dengan konsep yang mereka sendiri tidak suka.

Saya sebagai generasi lama, malah cenderung untuk berbagi. Atau mungkin saya termasuk yang anomali ya? Saya lihat kawan-kawan yang sukses juga adalah orang-orang yang cenderung anti walled garden. Hmm…


Pendanaan Startup di Bidang ICT

Besok, tanggal 24 April 2012 pukul 13:00, saya akan memberikan presentasi (dan sekaligus menjadi moderator nampaknya) di acara e-Indonesia Initiatives. Tempat di Aula Barat, ITB. Sesi saya adalah tentang ICT dan Venture Capital. Materi presentasi dapat diunduh di scribd:

Bagi yang kesulitan melihat dokumen di atas, dapat mengambil dokumen di sini.

Semoga bermanfaat.

Link terkait: berita di Daily Social.


Dibeli Untuk Dimatikan?

Baru saja ada kabar tentang instagram dibeli oleh facebook. Bagi pembuat instagram ini berita baik. Soalnya dibelinya juga dengan tidak murah, alias US$ 1 milyar. Pendirinya langsung kaya raya. Bagaimana dengan pengguna instagram?

Sebagai pengguna layanan tersebut, pengguna boleh was-was. Pasalnya kita tidak tahu bahwa layanan itu dibeli untuk dibesarkan (dan kemudian dijual lagi?) atau dibeli untuk dimatikan (karena dianggap sebagai pesaing atau menguntungkan pesaing). Ada yang mengatakan dulu snaptu dibeli oleh facebook karena snaptu banyak meningkatkan pengguna twitter, yang notabene dianggap sebagai musuh dari facebook. Saya dulu rajin menggunakan snaptu di handphone sampai akhirnya dia hilang dan harus menggunakan facebook di handphone. Grrr…

Ada banyak cerita lain yang sejenis, seperti delicious yang dibeli oleh Yahoo! tetapi Yahoo! sendiri sudah memiliki layanan bookmark. Akhirnya delicious juga hilang.

Jika Anda pendiri perusahaan seperti yang diceritakan di atas, bagaimana perasaan Anda? Senang (karena dapat banyak uang)? Sedih karena ide Anda, your baby, dibeli untuk dimatikan?


Lulusan Jakarta Founder Institute

Baru saja membaca email dari Novistiar di milis StartupLokal yang memberitakan tentang lulusan Jakarta Founder Institute. Berita lengkapnya ada di sini. Secara total, di skala dunia ada 72 new startups (dari 485 total). Selamat kepada para lulusan. Semoga startupnya maju dan sukses.

Novistiar juga memberikan statistik ini di emailnya (see the plug :) hi hi hi)

Statistik: 132 pendaftar, 43 diterima, 13 lulus dengan 8 startups
Lulusan terbaik: Antonius Taufan, Fokado (hadiah USD 1,000)
Mentor terbaik: Peter Vesterbacka, Izak Jenie, Budi Rahardjo
Hadiah: Rp. 5 juta dalam bentuk VPS dari Wowrack untuk setiap startup
Saya senang terlibat dalam program-program semacam ini. Sekali lagi, semoga sukses. Kami akan pantau dan bantu terus.

Dicari: aplikasi yang khas Indonesia

Teknologi informasi (IT) sedang naik daun lagi. Banyak yang membuat perusahaan baru (startup) dengan basis layanan IT. Hanya saja sayangnya aplikasi yang ada hanya meniru-niru aplikasi yang sedang populer di Amerika. Padahal ada banyak aplikasi yang khas Indonesia. Maksud saya adalah aplikasi yang sesuai dengan kultur orang Indonesia. Saya akan coba bahas lebih jauh.

Akui saja bahwa bangsa kita bukan bangsa yang senang membaca. (Meskipun ini mungkin berubah.) Lihat saja di sekeliling kita. Di berbagai tempat di luar negeri, kalau orang berpergian maka yang dibawa salah satunya adalah buku. Di perjalanan mereka asyik membaca buku. Di dalam transportasi umum mereka membaca. Sementara di kita, orang cenderung ngobrol. Bukan berarti ngobrol lebih buruk daripada membaca lho. Beda. Itu saja. Sekali lagi, beda.

Dalam pertemuan-pertemuan di luar negeri, hampir selalu ada risalah pertemuan (minutes of meeting, MoM). Bahkan di kelompok organisasi kecil pun ada MoM ini. Di kita? Jarang ditemui kelompok yang menggunakan MoM. MoM biasanya terjadi di pertemuan yang formal, seperti di perusahaan-perusahaan. Di rapat RT atau organisasi mahasiswa, jarang ada risalah pertemuan. Di tempat kerja kami, ada MoM yang selain dicatat juga direkam.

Rekam. Ini merupakan sebuah pendekatan kultural. Karena kita malas menulis, maka kira rekam saja. Teknologi sudah memungkinkan hal tersebut. Kalau dahulu, ketika voice recorder masih mahal, maka pendekatan rekam ini hampir tidak masuk akal. Sekarang dengan menggunakan mp3 player atau handphone hal ini memungkinkan.

Kembali ke topik. Karena di luar negeri mode yang digunakan adalah baca/tulis maka aplikasi yang muncul adalah aplikasi baca/tulis. Web dan blog merupakan aplikasi baca/tulis. Bahkan, aplikasi pencari – search engine – yang paling banyak digunakan orang pun adalah yang terkait dengan baca/tulis. Yahoo! dan Google mencari data berdasarkan tulisan (teks).

Kalau kita ingin mengacu kepada kultur kita, maka dibutuhkan layanan yang dapat (1) menyimpan rekaman pertemuan (minutes of meeting in audio format), (2) melakukan pencarian (audio search engine – yang mencari isi dari audio! bukan sekedar nama berkasnya saja), dan (3) menampilkannya dalam bentuk yang mudah. Aplikasi atau layanan seperti ini dahulu tidak memungkinkan karena ukuran storage yang dibutuhkan pasti sangat besar. Sekarang ini sudah memungkinkan. (Youtube saja menyimpan video yang ukurannya lebih besar dari audio.) Kecepatan jaringan juga sudah memungkinkan.

Aplikasi semacam ini mungkin tidak terlalu menjadi perhatian di luar sana (baca: Amerika) karena ini tidak memecahkan masalah mereka. Mereka tidak punya masalah dengan baca/tulis. Tentu saja. Kita punya masalah. Jadi yang mengembangkan aplikasi seperti ini harusnya kita-kita. Tentu saja ini tidak mudah. (Searching audio content is not easy!) Justru di sinilah menariknya. This is the road less travelled. Any takers?


Jangan Tergesa-gesa (Membuat PT)

Dahulu sekali saya ingin punya perusahaan (PT / Perseroan Terbatas). Rasanya keren sekali kalau punya PT, namanya ada di PT, atau bahkan menjadi direkturnya. Ini sebelum tahu apa yang terjadi di belakang layar, yaitu kerja keras. Nah, sekarang saya tahu bahwa sebaiknya kita jangan tergesa-gesa membuat perusahaan. Begini.

Ketika kita membuat perusahaan, maka ada kewajiban-kewajiban yang harus kita lakukan. Salah satu kewajiban yang merepotkan adalah urusan pajak. Setiap bulan kita harus melaporkan pajak (meskipun nihil), demikian pula akhir tahun. Repot banget. Kalau perusahaan kita jalan dan lancar hal ini tidak masalah, tetapi kalau perusahaan gagal bagaimana?

Tadinya saya pikir kalau perusahaan gagal, tinggal kita tutup saja. Ternyata tinggal itu tidak hanya tinggal. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Nah, ternyata untuk menutup perusahaan dibutuhkan biaya yang cukup besar juga. Padahal kita menutup perusahaan karena gagal (dan mungkin tidak punya duit atau malah ribut antara sesama pemilik saham). Akhirnya jauh lebih mudah membiarkan perusahaan hidup tetapi tidak ada kegiatan. Ini tidak melepaskan kewajiban untuk urusan pajak dan surat-surat lainnya. Pokoknya repot saja.

Analogi terbaik yang pernah saya dengar adalah membuat perusahaan itu seperti punya anak. Tidak bisa kita berkata, “gak jadi” :)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.852 pengikut lainnya.