Tag Archives: startup

SDM Kurang Inisiatif

Berbincang-bincang dengan beberapa orang pegusaha tentang sumber daya manusia (SDM). Salah satu masalah terbesar yang dihadapi ternyata adalah sebagian besar SDM kurang memiliki inisiatif. Mereka harus disuruh dulu baru bekerja. Mengapa demikian ya? Beberapa kemungkinan penyebabnya:

  1. Takut salah. Ada banyak orang yang menunggu diperintah karena takut salah kalau berinsiatif. Padahal kalau saya sih lebih baik orang berinisiatif dan salah daripada tidak berinisiatif sama sekali. Kalau salah kan bisa diperbaiki dan berikutnya tidak salah lagi. Kalau tidak dikerjakan, bagaimana tahu itu benar atau salah?
    Mungkin ini disebabkan pendidikan di kita yang memberi hukuman jika siswa berbuat salah? Atau ini hanya alasan saja?
  2. Terlalu lambat. Sebetulnya SDM ini mau berinisiatif tetapi terlalu lambat. Mungkin terlalu banyak pertimbangan (karena takut salah seperti di atas) atau bagaimana sehingga lambat sekali terlihat kemajuannya. Bagi saya lebih baik jadi 60% sekarang, daripada 80% minggu depan (atau bulan depan). Lebih baik ada progress.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda termasuk yang kurang inisiatif? Atau berani mengambil inisiatif?


Lagu Super Lawas

Seperti yang sudah-sudah, tadi pagi kami buka lapak Insan Music Store di Bandung Car Free Day (CFD). Saya berdiri di pinggir jalan dengan mengalungi gitar. Pura-puranya ngamen gitu.

Untuk ketiga kalinya ada seorang tua yang datang ke tempat kami. Dia mengira saya menerima permintaan untuk menyanyikan lagu. Maka mulailah dia menyanyikan lagu super lawas. Kalau sebelumnya, yang diminta adalah lagu “Masiro ki Fujino”(?) maka kali ini adalah lagu “Saputangan Bandung Selatan”. Saya pernah mendengar kedua lagu tersebut ketika masih kecil. (SD?) Maka dengan terbata-bata saya mencoba menyanyikan lagu itu dengan mereka.

Ternyata ada pasar lagu super lawas untuk orang-orang seperti mereka. Mereka ingin mengenang masa lalu, ketika mereka masih muda atau masa perjuangan dahulu. Sayangnya lagu-lagu seperti itu tidak ada di toko dan tidak ada lagi orang yang memainkannya. Diputar di radio? Rasanya sangat jarang atau bahkan tidak pernah. Maka begitu ada yang menyanyikan lagu tersebut, mereka senang sekali. Ada rasa senang juga karena membuat mereka senang. They have contributed a lot to this country. The very least we can do is to make them happy. At least for a moment.

Jenis lagu yang dekat dengan lagu-lagu yang mereka sukai mungkin adalah keroncong. Hmmm


Kuliah Entrepreneurship Menghasilkan Entrepreneur?

Dalam sebuah seminar tentang entrepreneurship ada sebuah komentar (dan pertanyaan) dari peserta. Dia mengajar kuliah entrepreneurship dan ternyata tidak banyak yang menjadi entrepreneur. Adakah kiat-kiat untuk meningkatkan jumlah lulusan yang menjadi entrepreneur?

Saya jadi teringat jaman dahuluuu … waktu saya masih kuliah S1 di ITB. Salah satu mata kuliah yang populer waktu itu adalah kuliah Agama Budha. Setahu saya, kawan-kawan yang mengambil kuliah tersebut bukan ingin mempelajari agama Budha tetapi karena potensi mendapatkan nilai “A”-nya sangat besar. Jadi mereka mengambil kuliah tersebut karena nilainya, bukan karena isinya. Saya menduga kuliah-kuliah yang lainpun sebagian besar dipilih karena ini. Termasuk kuliah sang penanya tersebut.

Saya banyak memberikan presentasi, kuliah, dan mentoring yang terkait dengan entrepreneurship. Memang terlihat sebagian besar hanya ingin mengetahui kuliahnya. Siapa tahu di kemudian hari mereka ingin menjadi entrepreneur. Yang langsung memang serius ingin menjadi entrepreneur saat itu juga nampaknya minoritas. Perkiraan saya kurang dari 10%. Ini hanya perkiraan saya saja ya karena saya belum mengumpulkan data sungguhan.

Ada yang mengatakan untuk menjadi entrepreneur tidak perlu harus kuliah-kuliahan. Langsung saja jadi entrepreneur. “Kuliah” diperoleh dari pengalaman. On the street. Pendapat ini ada benarnya, tetapi kalau kita mengetahui teorinya seharusnya potensi kegagalan dapat dikurangi. Saya sendiri termasuk yang menganut “kerjakan dahulu, baru cari teorinya”. hi hi hi. Perlu ditekankan bahwa saya tertarik mencari teori dari apa yang saya kerjakan sehingga dapat bereaksi dengan lebih baik (terhadap situasi yang dihadapi).

Saya jadi teringat ada orang yang merasa bahwa kuliah computer science / ilmu komputer / informatika itu tidak penting. Langsung saja belajar dari “idiot guide to programming” atau “programming xyz in 21 days”. hi hi hi. Iya sih kalau hanya sekedar membuat program sih bisa saja, tetapi begitu kita menghadapi sistem yang besar maka teori itu penting. Sama seperti membuat rumah. Kalau membuat rumah satu tingkat, ngasal aja juga bisa. Tapi kalau kita mau buat hotel 100 tingkat, yang ini harus punya ilmunya.

Kembali ke topik utama. Jadi bagaimana agar kuliah entrepreneurship dapat menghasilkan lebih banyak entrepreneur ya?


Insan Music Store

Progress dari toko musik digital kami.

Pertama, situs web sudah siap di www.insanmusic.com. Masih sederhana dan akan diperbaharui secara berkala. Yang penting up and running dulu. hi hi hi.

Kedua, hari Minggu ini (4 Mei 2014) kami akan buka lapak kembali di Bandung Car Free Day (CFD). Tempatnya di depan Bank BRI. Acaranya jam 7 pagi sampai jam 10 pagi. Jika Anda memiliki lagu dan siap untukj didistribusikan melalui toko musik kami, bawa langsung ke sana dan tanda tangan kontrak di sana.


Apakah Perlu Inkubator Bisnis?

Ini saya baru pulang dari reception untuk para pembicara dan undangan dari luar negeri di acara Innovation Festival Asia yan diselenggarakan oleh NUS (National University Singapore). Acaranya makan malam dan networking, ngobrol cari teman baru. Salah satu pertanyaan yang bolak-balik muncul adalah apakah saya dari sebuah inkubator bisnis (startup)? Saya jawab tidak. Saya kemudian berpikir, apakah sebetulnya inkubator bisnis itu diperlukan?

Inkubator bisnis itu mengambil analogi inkubator untuk bayi. Ada bayi yang begitu lahir harus dimasukkan ke inkubator dahulu karena satu dan lain hal. Inkubator ini memperbesar peluang mereka untuk menghadapi dunia yang baru mereka masuki. Hal yang sama juga terjadi untuk bisnis. Ada bisnis yang harus melalui inkubator. Namun kita lupa bahwa sebetulnya kita berharap bahwa bayi-bayi yang lahir itu tidak harus melalui inkubator. Inkubator itu hanya kasus khusus saja. Bukan yang umum.

Saya mendapati ada kecenderungan startup ingin melalui proses masuk inkubator bisnis. Kalau kita lihat analoginya dengan bayi, kita tentunya tidak ingin bayi kita melalui proses inkubator jika memang tidak harus. Bukankah begitu? Mengapa kalau urusan bisnis kita justru ingin masuk ke inkubator? Aneh saja.


Masih Soal Toko Musik Digital

Beberapa hari ini saya masih memikirkan soal toko musik digital kami. Hari Minggu – ya, betul, besok! – kami mau buka lapak di Bandung Car Free Day. Ini sih modal nekad saja. Pasalnya kalau tidak diniatkan dan dinekadkan begini mungkin tidak maju-maju. Jadi besok mau buka lapak saja.

Tujuan utama besok adalah untuk melihat situasi pasar, memperkenalkan diri, dan mencari band / artis / musisi yang berminat memasukkan lagunya di toko musik kami. Itu saja. Jadi hari ini saya masih kirim email ke sana ke mari untuk memberitahu soal ini. Dadakan juga sih. Soalnya hari-hari sebelumnya saya disibukkan oleh urusan kuliah dan sejenisnya.

Semoga lancar besok. Jreng!


Aplikasi Buatan Indonesia

Baru saja saya membaca berita ini, “Facebook dkk. Sedot Rp 19 triliun dari Indonesia“. Dikatakan bahwa Indonesia seharusnya membuat aplikasi seperti facebook dan kawan-kawan itu. Apakah jika sudah memiliki aplikasi buatan sendiri maka pengguna Facebook, Twitter, akan turun? Jawabannya adalah TIDAK.

Saat ini sudah banyak aplikasi serupa. Lihat saja Zohib yang punya aplikasi percobaan mirip – bahkan terlalu mirip – dengan facebook dan twitter. Penggunanya? Tidak banyak. Mengapa demikian? Ada banyak alasan. Contoh lain yang buatan Indonesia juga adalah Mindtalk. Yang ini penggunanya sudah lumayan banyak.

Pertama, sudah terlalu banyak teman dan keluarga kita di Facebook. Tidak mudah pindah dari sebuah layanan ke layanan lain. Namanya juga media sosial. Aspek sosialnya yang kental. Di mana yang lebih banyak kerumunannya maka di situlah orang semakin tertarik untuk bergabung.

Mendapatkan pengguna juga tidak mudah. Biaya marketing untuk mendapatkan pengguna itu tidak mudah. Apalagi kalau diinginkan pengguna yang menetap (sticky), bukan yang hanya sekedar daftar kemudian tidak pernah berkunjung lagi. Inilah sebabnya WhatsApp dibeli mahal, karena jumlah penggunanya banyak.

Kedua, orang Indonesia kelihatannya lebih menyukai buatan luar negeri daripada buatan Indonesia sendiri. Padahal ada banyak produk dan layanan yang buatan Indonesia jauh lebih baik kualitasnya. Mungkin kalau buatan Indonesia kurang keren ya? Ayo cintai buatan Indonesia. Yang ini masih merupakan pekerjaan rumah kita bersama.

Ketiga, penyedia layanan Indonesia sering kurang baik dalam melayani pelanggannya. Lambat, kurang responsif, defensif, dan hal-hal yang negatif lainnya. Padahal semestinya kita dapat memberikan layanan yang terbaik untuk pelanggan kita sendiri.

Jadi bagaimana? Masih mau pakai buatan Indonesia? Atau apakah memang perlu menggunakan buatan Indonesia? Atau mungkin kita tidak peduli? Selama kita bisa bayar, biarin saja. Mau buatan Indonesia atau luar negeri kek. Kan saya yang bayar. Hadoh.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.934 pengikut lainnya.