Arsip Tag: startup

Dari Perguruan Tinggi Menuju Industri

Baru saja saya membaca sebuah artikel dari IEEE Software, edisi September/Oktober 2011. Judulnya adalah “Technology Transfer: A Software Security Marketplace Case Study”. Artikel ini menceritakan pengalaman Gary McGraw, founder dari Cigital, memulai sebuah riset di tahun 1992 sampai akhirnya menjadi perusahaan yang kemudian dibeli oleh HP pada bulan September 2010.

Perjalanan sebuah teknologi yang dikembangan di perguruan tinggi atau kemudian keluar menjadi startup company sampai menjadi sebuah perusahaan besar (atau bahkan industri) tidak mudah. Sebagian besar justru gagal. Kebanyakan teknologi yang dihasilkan hanya menjadi onggokan tulisan saja, yaitu makalah dalam seminar atau jurnal. Yang berhasil sampai ke tahap startup pun kebanyakan mati di perjalanannya. (Bisa baca juga tulisan ini, “Driving innovation across the valley of death“.)

Ada upaya-upaya untuk membuat perjalanan lebih selamat. Salah satu yang dialami oleh Cigital adalah adanya bantuan dari pemerintah dalam bentuk pendanaan (misalnya untuk memajukan paten, dan sejenisnya). Hasil dari bantuan itu membuat perusahaan mereka menjadi hidup dan akhirnya dilirik oleh venture capital. Setelah didanai oleh VC pun masih ada kemungkinan mati di tengah jalan. Untungnya untuk cerita Cigital ini, perusahaan yang kemudian dibangun bisa lebih maju dan pada akhirnya dibelih oleh HP.

Pelajaran apa yang dapat diperoleh dari cerita di atas? (1) Perjuangan dari penemuan teknologi sampai menjadi perusahaan ternyata masih berat dan membutuhkan waktu yang lama; (2) pemerintah bisa membantu perusahaan agar memiliki kesempatan hidup yang lebih panjang dengan berbagai program; (3) dibutuhkan kesabaran.


Gado-Gado

Tulisan ini bukan tentang makanan gado-gado, tetapi tulisan dengan topik campur aduk. Seperti gado-gado, memang. Tulisan ini hanya sekedar kumpulan perjalanan, pemikiran, atau catatan yang saya lakukan hari ini.

Hari ini saya mulai dengan membuka internet. Ini hari Sabtu. Saya pikir tadinya saya mau baca sedikit email terus dilanjutkan dengan ngoprek rangkaian Arduino. Ternyata akhirnya berbeda. hi hi hi.

Startup, bisnis, passion. Bermula dari diskusi di milis StartupLokal tentang “tujuan dari bisnis”, saya pikir ada baiknya jika saya berbagi pendapat mengenai topik ini. Ada baiknya jika saya tuliskan saja di blog ini (dan mungkin kemudian hari bisa menjadi bagian dari buku?). Maka jadilah artikelnya. (Silahkan baca di post terdahulu.)

Sambil menulis tentu saja saya browsing internet. Mencari tambahan informasi. Akhirnya saya terdampar ke Library.nu. Ini tempat koleksi buku-buku dalam format yang bisa diunduh. Silahkan ke sana tetapi jangan marah ke saya kalau jadi kecanduan. he he he.

Buku-buku yang saya baca tentunya terkait dengan topik startup, teknologi, Silicon Valley, bisnis, dan sejenisnya. Maka akhirnya saya melihat buku-buku ini; “New New Thing: A Silicon Valley Story” (saya sebetulnya punya 2 buah buku aslinya – ini tentang bagaimana Jim Clark memulai Netscape, salah satu buku kesukaan saya), “Hackers: Heroes of the Computer Revolution“, “Apple Confidential 2.0“, “Founders at Work: Stories at Startup“, dan banyak lagi.

Masalah baru muncul: kapan membaca buku-buku tersebut ya? Nampaknya saya menemukan rumus baru:

kecepatan mendapatkan (download) eBooks lebih cepat daripada membaca eBooks-eBooks tersebut

Nah. Siapa yang bisa membuat pembuktiannya? hi hi hi.

His story. Sebagai bagian dari mencari informasi, saya juga mencoba mencari sejarah-sejarah tentang komputer dan internet. Salah satunya adalah sejarah World Wide Web (WWW). Oh saya baru ingat, saya juga ikut menjadi bagian (setidaknya sebagai pelengkap penderita) dari sejarah ini.

Ketika Tim Berners-Lee mengembangkan WWW di sekitar tahun 1991, saya sedang bekerja di Computer Services, University of Manitoba (tempat saya mengambil S2 dan S3). Kebetulan kala itu semua orang menyukai Sun workstations. Sayangnya, saya tidak kebagian. Hanya ada 2 NeXT workstation di pojok yang akhirnya saya ambil sebagai workstation kerja saya. NeXT computer adalah produk yang luar biasa indahnya! Sayang sekali dia harus mati. Dan, Anda tahu siapa yang menjadi bagian dari NeXT computer? Tidak lain adalah Steve Jobs! Ya, setelah ditendang dari Apple dia mendirikan NeXT computer.

Singkatnya saya mulai ngoprek komputer NeXT ini. Mencari software untuknya, yang bukan standar UNIX biasa. Akhirnya saya melihat apa yang dikerjakan oleh Tim Berners-Lee dengan WWW-nya. Maka saya pun ikut download softwarenye, compile, dan jalankan di NeXT workstation saya. Maka mulailah saya terpikat dengan WWW. Mau lihat tampilan layar Tim Berners-Lee dengan browser WWW pada waktu itu (1991)? Bisa dilihat di sini. Keren kan?

Menariknya adalah waktu itu orang-orang tidak tertarik ke WWW karena sudah ada FTP dan Gopher. Untuk apa WWW? Maka kami-kami harus mempromosikan kehebatan WWW. Perlu diingat bahwa ini masih awal dari WWW. Hal yang terhebat dari WWW pada saat itu adalah membuat text kedap-kedip (blinking). ha ha ha. Itu saja sudah membuat orang excited. Web site pertama yang saya buat adalah “The Ultimate Indonesian Homepage“.

Ah, menarik sejarah. Saya pernah ingin mendokumentasikan semua yang saya lalui dalam buku yang saya beri judul “Budi Rahardjo and His Story“. Ya, memang ada plesetannya di sana. hi hi hi. Saya bahkan sempat membuat draftnya (dengan software Framemaker waktu dulu). Sayangnya, draftnya hilang. Oh well…

Ah iya. Jadi lupa mau ngoprek Arduino.


Tujuan Dari Bisnis Adalah …

Jika saya lemparkan pertanyaan

apa tujuan dari  bisnis?

sebagian besar akan menjawab “untuk mencari uang” atau “mencari keuntungan”. Saya rasa ini jawaban yang natural, tetapi menurut saya kurang tepat. Tujuan utama bisnis dari orang-orang sukses yang saya ketahui bukan untuk mencari uang tetapi hal lain.

Ketika Steve Jobs (Apple), Bill Gates (Microsoft), Jerry Yang (Yahoo!), dan seterusnya, ditanya kenapa membuat perusahaan yang mereka buat, jawabannya adalah “to change the world“. Tentunya maksudnya membuat dunia menjadi lebih baik. Luar biasa bukan?

Uang bagi mereka bukan tujuan utama membuat bisnis. Uang akan datang sebagai konsekuensi logis. Bukan tujuan utama. Passion (dan mungkin juga mulanya adalah hobby) merupakan dorongan utamanya. Mereka melakukannya karena kecintaan mereka pada bidang mereka.

Steve Jobs mengatakan bahwa waktu masih muda dia tidak peduli terhadap uang, karena tidak punya uang (he he he). Setelah sukses dia juga tidak peduli kepada uang, karena uangnya banyak. But, we did not do it because of money. Begitulah.

Jika kita membuat bisnis yang kita sukai, maka itulah sukses. Seorang yang senang nonton, membuat bisnis bioskop. Seorang yang senang musik, membuat studio musik, mengembangkan bisnis musik, sekolah musik, dan sejenisnya.  Orang yang senang olah raga mengembangkan bisnis toko alat olah raga, sekolah olah raga. Semuanya menyenangkan. Bisnis tidak menjadi beban, tetapi menjadi hal yang menyenangkan.

Bisa disimak potongan wawancara dengan Bill Gates dan Steve Jobs di sini:

Steve Jobs:  Yeah, people say you have a lot of passion for what you are doing, and it’s totally true and the reason is because it’s so hard that if you don’t, any rational person would give up.
It’s really hard and you have to do it over a sustained period of time.  So if you don’t love it, if you’re not having fun doing it, if you don’t absolutely love it, you’re going to give up. And that’s what happens to most people, actually.

Atau pendapat Tony Hsieh (CEO Zappos):

“What would you be passionate about doing for 10 years even if you never made a dime?”

Jika tujuan seseorang memulai usaha adalah untuk mencari uang, maka sebetulnya ada banyak jalan lain yang lebih mudah dan aman untuk mendapat uang banyak. Itulah sebabnya sebagian besar orang menjadi pekerja (bekerja di perusahaan multi nasional menghasilkan gaji yang luar biasa besar), menjadi PNS (dengan gaji yang terjamin – meski mungkin tidak bisa kaya raya), atau menjadi anggota dewan (nah ini yang menjadi trend he he he). Uang lebih banyak di situ dibandingkan dari membuka usaha sendiri.

Guru saya, almarhum Chandra Liem, mendefinisikan tujuan bisnis adalah “to give what the people want“. Begitu katanya.

Tentu saja kita bisa berbeda pendapat. Ini hanya opini saya. Semoga bermanfaat.

[ack. thanks untuk reinx atas link-nya]


Membujuk Perusahaan Besar Untuk Hadir di Indonesia

Minggu lalu saya bilang bahwa saya akan menceritakan pertemuan saya dengan Mike Orgill dari Google. Salah satu topik yang saya utarakan adalah keinginan saya agar ada perusahaan besar untuk hadir di Indonesia, khususnya Bandung.  (Topik ini selalu saya utarakan kepada berbagai tamu dari luar.) Mengapa ini penting dalam konteks munculnya perusahaan start up yang bernuansa teknologi?

Salah satu referensi yang saya gunakan adalah sebuah artikel Wieners & Hillner di majalah Wired (1998). Artikel ini membahas Siliconia, yaitu daerah-daerah yang ingin meniru Silicon Valley di dunia. Ternyata ada banyak dan ternyata kebanyakan memang gagal. Menurut artikel itu ada empat (4) critical success factors:

  1. the ability of the area’s university and research facilities to train skilled workers or develop new technologies;
  2. the presence of established multinational companies as anchors to provide economic stability;
  3. the population’s entrepreneurial drive; and
  4. the availability of financial support in form of venture capitals

Dalam tulisan ini saya hanya ingin menyoroti poin kedua, bahwa di tempat Siliconia itu harus ada perusahaan yang bisa menjadi jaring pengaman. Kira-kira begini skenarionya.

Saya bekerja di perusahaan besar ini. Pada suatu saat saya punya ide untuk perusahaan start up. Saya kemudian keluar dari perusahaan ini untuk merealisasikan ide (bisnis, layanan, produk, dll.) tersebut. Jika berhasil, bagus. Jika tidak, maka saya menutup usaha ini dan … kembali menjadi pegawai di perusahaan besar ini. Perusahaan besar ini dengan kata lain menjadi “jaring pengaman”. Para entrepreneur tidak takut untuk memulai usahanya karena jika gagal pun dia tidak akan kelaparan. Ada pekerjaan. Nanti, di kemudian hari, jika ada ide lagi maka saya bisa keluar dan starting-up lagi.

Mengapa perusahaan besar? Karena bagi perusahaan besar, keluar atau masuknya satu orang tidak terlalu berpengaruh. Jaring pengaman ini tidak bisa PNS atau perusahaan BUMN atau perusahaan yang kaku seperti yang ada di Indonesia. (Kalau kita keluar, mana bisa kita balik lagi.) Ini hanya bisa dilakukan oleh perusahaan multi nationa companies, yang hanya melihat talent. Jika kita punya talent, maka kita akan diterima (meskipun kita sebelumnya sudah keluar).

Perusahaan besar tersebut tidak harus serta merta membuat kantor yang besar juga di Indonesia. Ini bisa dimulai dengan research center yang berisi 5 orang saja. Yang penting mereka ada di sini dulu.

Sebetulnya di Bandung dulu saya berharap IPTN dapat menjadi jangkar perusahaan ini di Bandung, sebagaimana halnya Lockheed di Silicon Valley dulu. (Menarik ya? Dua-duanya sama-sama perusahaan yang terkait dengan pesawat terbang.) Sayangnya IPTN tutup. Sekarang kita masih harus berusaha keras.


Startup: Buat PT atau tidak?

Kemarin siang ada dua mahasiswa datang ke saya untuk meminta advis. Mereka (berlima?) memulai usaha untuk membuat sebuah layanan IT. Pertanyaan mereka adalah “bagaimana membuat Perseroan Terbatas (PT)”.

Sebelum menjawab itu, saya bertanya; “kenapa mau membuat PT?” Jawaban mereka adalah untuk kredibilitas. Salah satu hal yang dilakukan oleh pelanggan adalah membayar melalui transfer. Bagaimana meyakinkan pelanggan kalau mereka transfer uangnya ke rekening atas nama pribadi, bukan atas nama perusahaan? Begitu latar belakang mereka.

Menurut saya, tunda pembuatan PT sampai betul-betul dibutuhkan. Ada banyak kondisi dimana kita sudah dapat melakukan bisnis (termasuk transaksi finansial) tanpa menggunakan PT. Memang benar keberadaan PT dapat menambahkan kredibilitas, tetapi ada banyak hal mengapa sebaiknya tidak buru-buru membuat PT.

Pertama, membuat PT membutuhkan uang. (Saya tidak tahu tepatnya besar biaya yang harus dipersiapkan. Untuk Bandung, dugaan saya setidaknya adalah Rp. 10 juta.) Sayang uang jika tidak benar-benar dimanfaatkan. Ingat, kita masih dalam state starting up. Berhemat itu penting.

Kedua, setelah membuat PT maka akan banyak urusan administratif lain yang harus diselesaikan. Setidaknya adalah harus siap untuk membuat pembukuan, laporan pajak, dan seterusnya. Artinya harus disiapkan orang yang menangani hal ini. Biasanya orang teknis tidak suka mengurusi hal ini dan akibatnya akan terbengkalai. Selain untuk mendaftarkan PT, ada dokumen-dokumen lain yang harus diurusi seperti SIUP, TDP, Domisili, dan lain-lain. Saran saya, untuk hal ini juga buat ketika dibutuhkan. Jika belum dibutuhkan, tunda dulu. (Sebagai catatan, yang sering bermasalah adalah domisili karena biasanya startup dimulai dari tempat koskosan.)

Ketiga, pastikan bahwa memang pihak-pihak yang ingin membuat PT (para pemegang saham) sudah sehati. Ada banyak kejadian dimana ada founder yang kemudian beda pendapat dan ingin berpisah, tetapi karena terkait dengan PT jadi repot. Sebagai contoh, misal ada 5 orang membuat PT. Kemudian salah seorangnya bikin gara-gara, tidak disukai oleh yang lainnya dan harus ditendang agar PT bisa maju. Masalahnya adalah harus mengeluarkan orang ini dari PT. Untuk mengubah hal ini harus ada RUPS dan nantinya disahkan lagi oleh notaris. Artinya uang lagi. Ya kalau yang bersangkutan bersedia untuk keluar dengan suka rela. Kalau dia ngotot tidak mau (dan minta uang untuk dikeluarkan)? Akibatnya maka perusahaan tidak bisa maju karena dirongrong oleh “ulat bulu” ini. Pembuatan PT justru mempersulit. Maka pastikan bahwa para founder memang sudah ingin hidup mati bersama :)

Keempat, menutup perusahan bukan hal yang mudah dan tentu saja harus keluar uang lagi.

Ada kalanya memang PT (atau badan hukum lainnya) benar-benar dibutuhkan; (1) untuk melakukan tender pekerjaan, dan (2) untuk menerima pendanaan dari perusahaan / pemerintah / badan hukum lainnya. Jika demikian, PT memang harus dibuat. Hanya saja, perlu diperhatikan hal-hal di atas.

Semoga bermanfaat.


ITpreneurship

Pagi tadi saya memberikan presentasi mengenai ITpreneurship, entrepreneurship berbasis IT, di Aula Barat kampus ITB. Acara ini merupakan bagian dari Arkavadia 2.0 yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa Informatika ITB.

Saya bercerita mengenai pengalaman saya sebagai entrepreneur. Tentu saja yang diceritakan bukan hanya sukanya saja tetapi juga dukanya, agar peserta seminar dapat belajar dari kesalahan saya. Materi presentasi dan foto (kalau ada), nanti menyusul ya. Yang penting saya cerita dulu.

Nah … sekarang saya mau istirohat sejenak dulu :) hi hi hi. Pertanyaan-pertanyaan nanti akan saya coba jawab ya. Sekarang belum sempat.

Update: materi presentasi sudah saya upload ke slideshare dan scribd. (Kalau saya pasang link ke scribd ini apa mengganggu Anda? misalnya jadi lebih lambat aksesnya. Sebaiknya embeded seperti ini atau dituliskan URL-nya saja?)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.077 pengikut lainnya.