Tag Archives: startup

Valuasi Perusahaan IT

Baru-baru ini banyak orang terperangah ketika Facebook membeli WhatsApp dengan nilai yang fantastis. Yang menarik adalah WhatsApp adalah layanan yang belum menghasilkan revenue besar. Penghasilannya dari mana? Bagaimana menilai perusahaan (layanan) seperti WhatsApp ini? Mulailah muncul spekulasi dan teori. Saya akan menawarkan pemahaman saya.

Salah satu upaya perusahaan untuk mendapatkan pelanggan (customer) adalah melakukan marketing. Ada biaya untuk melakukan itu. Ada “cost of acquiring customer“. Berapa besarnya ini? Ini masih menjadi perdebatan. Katakanlah biayanya adalah US$20 (atau ada yang mengatakan boleh jadi US$50), maka nilai sebuah layanan adalah jumlah pelanggan dikalikan dengan biaya tersebut. Jadi katakanlah saya punya sebuah layanan dengan 100 juta pelanggan, maka sebetulnya perusahaan saya memiliki nilai US$ 2 milyar. Ini kalau dilihat dari kacamata mendapatkan pelanggan.

Cara menilai seperti ini tentunya masih belum dapat diterima oleh semua pihak. Jumlah pelanggan tidak selalu berkorelasi dengan sales, revenue. Tentu saja. Dia baru dapat dikatakan sebagai potensi. Namun ini sudah menjadi sebuah value. Bahkan ada yang mengatakan bahwa “user is the new currency”. Nah.

Ada cara pandang lain mengenai valuasi dari perusahaan IT, tetapi itu untuk topik tulisan lain kali ya.


Proposal Startup di Tahun 2000

Sedang bersih-bersih ruang kerja. Banyak dokumen-dokumen yang sudah pantas untuk dibuang. Eh, menemukan proposal untuk pembuatan perusahaan (startup) di tahun 2000. Proposal ini mengusulkan sebuah perusahaan yang mengembangkan aplikasi untuk handphone. Ingat, di tahun 2000, belum ada perusahaan yang mengembangkan aplikasi di handphone. Semua aplikasi yang ada di handphone sudah built-in dari pabriknya. Nah.

startup-proposal-2000-page1

startup-proposal-2000-page2

Sayangnya karena saya belum memiliki sumber daya yang memadai pada saat ini, maka startup yang itu tidak sempat saya buat. Kalau sekarang, perusahaan yang membuat aplikasi untuk mobil sudah banyak ya? Kalau sekarang, ide saya sudah lain lagi. hi hi hi.


Teknis atau non-Teknis ya?

Baru saja saya membaca sebuah blog (lupa URL-nya) tentang keluhan seorang entrepreneur di Singapura. Intinya dia mengeluhkan soal susahnya memiliki talented engineering pool di Singapura. Perusahaan startup yang bernunansa teknologi membutuhkan engineers untuk mengimplementasikan ide-idenya. Namun ternyata susah mencari engineers ini.

Ada banyak alasan terjadinya masalah ini. Engineers yang bagus ditawari pekerjaan di Amerika dengan gaji yang lebih tinggi. Minggatlah mereka. Mengimpor engineers dari luar negeri juga harus memenuhi persyaratan gaji minimal (yang ditentukan oleh negara), yang mana biasanya terlalu mahal untuk kantong startup. Selain itu juga para engineers ini ditawari untuk menempati jabatan managerial, yang gajinya juga ternyata lebih tinggi dari gaji engineer. Lengkaplah penderitaan ini.

Saya hanya ingin menyoroti hal yang terakhir saja. Peta perjalanan karir orang teknis ternyata tidak terlalu cerah dibandingkan orang non-teknis. Cerah ini didefinisikan dengan kacamata finansial. Jarang ditemui engineers yang gajinya lebih tinggi atau sama-lah dengan bos-nya yang non-teknis. (Mungkin di Amerika sana bisa berbeda, tetapi ini kenyataan di Indonesia dan kelihatannya di Asia.)

Sedih juga kalau orang-orang yang otaknya cemerlang kemudian meninggalkan bidang teknis. Tapi alasan apa yang dapat mereka gunakan untuk tetap tinggal di teknis? Demikian pula, apa alasan saya untuk tetap mengajari mahasiswa saya tentang hal-hal yang teknis kalau nantinya juga akan ditinggalkan?

Saya sendiri ingin selalu menghargai orang teknis. Bahkan secara finansial mereka bisa lebih tinggi daripada orang teknis. Begitu …  Saya sendiri akan tetap tinggal di dunia teknis.


Nasib Juara-Juara

Baru-baru ini ada pertanyaan, kemana para juara-juara kompetisi entrepreneurship, business plan, ICT awards (semacam INAICTA), dan seterusnya? Semestinya mereka berhasil membuat perusahaan (startup). Pada kenyataannya hampir semua tumbang. Apa ya jawaban terhadap pertanyaan seperti ini?

Ada beberapa kemungkinan penyebab kegagalan ini. Yang pertama, para juara-juara ini memang hanya ingin ikut kompetisi. Target mereka adalah memenangkan kejuaraan. Setelah itu tidak penting lagi. Kemenangan kejuaraan ini menjadi bagian dari bio data. Nantinya ini digunakan untuk mencari pekerjaan. Nah lho. Padahal kalau menjadi entrepreneur kan tidak butuh bio data untuk melamar pekerjaan. Kan melamar pekerjaan kepada diri sendiri. hi hi hi.

Yang kedua, mengembangkan usaha itu berbeda dengan mengembangkan produk. Dibutuhkan orang dengan karakter yang berbeda. Orang bisnis akan beda dengan orang pengembang. Boleh jadi para pemenang ini tidak berhasil menemukan partner bisnisnya sehingga mereka (orang teknis) harus terjun menjalankan bisnis. Kemungkinan terjadinya kegagalan untuk hal ini sangat besar.

Yang ketiga, bisa jadi produk atau layanan yang dikembangkan itu belum memiliki pasar. Ahead of its time. Apa boleh buat, secara bisnis mereka gagal. Jika ini diluncurkan 5 tahun lagi kemungkinan bisa sukses secara bisnis.

Dan masih banyak alasan lain. Saya tidak ingin mencari-cari alasan untuk pembenaran, tetapi memang demikian adanya. Tidak mudah untuk membuat sebuah bisnis yang langgeng. Maka dari itu, kita perlu hargai usaha bisnis yang dapat bertahan cukup lama.

Sukses!


Mencari Tempat Makan di Kampus

Tulisan ini merupakan tulisan yang terlambat karena sekarang sudah memasuki bulan Ramadhan, bulan puasa, tetapi daripada tidak dituliskan lebih baik saya tuliskan saja. Meskipun terlambat.

Begitu mahasiswa libur, jumlah mahasiswa di kampus berkurang secara drastis. Yang tinggal di kampus adalah mahasiswa yang menyelesaikan tugas akhir / thesis / disertasi atau yang mengambil kuliah semester pendek. Sebetulnya masih ada beberapa mahasiswa lain yang sibuk dengan kegiatan organisasi mahasiswa. Namun secara jumlah memang berkurang drastis.

Akibat dari jumlah mahasiswa yang berkurang, sebagian kantin ditutup. Awalnya digilir yang buka, setelah itu sebagian tutup sampai mulai semester baru. Yang repot adalah kami-kami, dosen, yang masih tinggal di kampus selama mahasiswa libur. Kami tidak libur. Nah, makan siang merupakan masalah tersendiri bagi yang makan di kantin. Kita harus tahu kantin mana yang buka.

Saya kepikiran adanya sebuah aplikasi (sosial) yang memberitahukan tempat makan yang buka dan kondisinya (ramai, sepi, ketersediaan makanan, dan seterusnya). Pengguna dapat memberikan informasi secara real-time mengenai kondisi tempat-tempat tersebut. Ada usulan?

Selain tempat makan, aplikasi ini juga dapat digunakan untuk memberitahukan tempat belajar yang kosong / tersedia / available. Seringkali mahasiswa kesulitan mencari tempat belajar. Setelah pergi ke tempat tersebut, ternyata tempatnya penuh atau malah ditutup.

Perlu diingat data aplikasi ini harus diperbaharui oleh pengguna, bukan oleh administrator. Crowd sourcing. Saya melihat beberapa program / apps sistem informasi kampus yang datanya dikelola oleh seorang admin. Begitu adminnya libur atau malas update data, maka aplikasi langsung ditinggalkan oleh pengguna.


Entrepreneur atau bukan

Ada perbedaan yang mendasar antara seorang entrepreneur (innovator? creator?) atau bukan. Entrepreneur akan mencoba merealisasikan ide, sementara yang bukan selalu mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya. Sangat gamblang sekali perbedaannya.

Suatu ketika saya melemparkan ide sebuah pekerjaan. (Ide tersebut sebetulnya bukan dari saya tetapi dari rekan saya. Dia sedang mencari orang yang sanggup merealisasikan idenya – dengan dibayar tentunya. Saya pikir idenya keren, hanya saja tim saya sedang overloaded.) Respon yang saya peroleh dari kebanyakan orang adalah alasan untuk tidak tertarik; ah ide itu kan sudah ada, kayaknya tidak bisa diimplementasikan, dan sejenisnya. Padahal tinggal dikerjakan dan ada duitnya pula. Terlihat mereka tidak antusias. Ya sudah. Percuma kalau saya ajak mereka untuk merealisasikan ide itu.

Salah satu “kehebatan” dari seorang entrepreneur adalah “kebodohan” dia bahwa apa yang akan dilakukan itu menurut para “pakar” tidak dapat dilakukan. Dan berkali-kali para “pakar” itu salah. Sebagai contoh, dulu para pakar mengatakan tidak mungkin membuat komputer lebih kecil karena ada banyak chips yang dibutuhkan untuk mengimplementasikannya. Steve Wozniak tidak tahu bahwa itu tidak bisa (kata para pakar) dan langsung membuatnya saja. Ternyata, bisa!


Portal Berita Positif

Alhamdulillah sudah lama saya tidak membaca surat kabar lokal dan tidak menonton TV lokal. Alasannya? Beritanya begitu-begitu saja. Negatif. Diulang-ulang. Tidak jelas manfaatnya apa.

Tadinya saya berharap media berita digital dapat mengubah ini. Ternyata sama saja. Situs berita Indonesia isinya sama dengan surat kabar atau TV lokal. Ternyata mereka masih di-drive oleh media konvensional. Ampun.

Pikir-pikir ini peluang untuk membuat portal berita positif. Orang yang bosan membaca atau mendengar berita mainstream yang negatif-negatif dapat membaca berita di sini. Isinya antara lain kesuksesan bisnis dari perusahaan baru, biografi orang yang hebat-hebat, sejarah yang menarik, penemuan-penemuan baru, dan sejenisnya. Saya pikir ini akan menarik.

Blog saya sebetulnya menganut pakem teresebut. Hanya saja blog saya ini diisi oleh satu orang (dan komentator yang setia). Kurang banyak kontribusinya. Kalau ada portal yang diisi oleh orang banyak yang berpikiran positif semua, nampaknya oke juga. Blog saya yang gini-gini saja sudah ramai pengunjung, apalagi portal berita positif.

Silahkan …


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.742 pengikut lainnya.