Tag Archives: startup

Rontok …

Saya baru sadar implikasi atas bubarnya sebuah kelompok usaha yang tadinya banyak memberikan layanan blog gratisan di Indonesia. Tulisan banyak yang hilang tanpa jejak karena tidak sempat di-backup dahulu. (Jadi berpikir. Apakah sebaiknya punya beberapa – setidaknya lebih dari satu – blog untuk tulisan yang sama? Sekedar jaga-jaga kalau rontok juga.)

Sebelumnya  layanan multiply.com menutup bagian dari jurnalnya (blognya). Padahal tadinya saya kira ini yang menjadi daya tarik mereka. Rupanya bukan itu. Selain itu saya juga masih mempunya blog di beberapa tempat, yang mana sekarang sudah tinggal namanya saja. Sedih juga.

Tadi saya membaca ulang tulisan saya tentang perbandingan beberapa penyedia jasa blog. Sebagian besar layanan yang saya ulas tersebut sudah mati (atau menjadi zombie). Baru nyadar betapa cepatnya perubahan di internet.

Lantas saya jadi khawatir, sampai berapa lama wordpress.com dapat memberikan layanan ini? Hadoh.


Entrepreneurship (tidak mudah)

Baru saja saya selesai berdiskusi – via Skype – dengan seorang kawan di Amerika. Ini merupakan follow up dari diskusi-diskusi sebelumnya yang kami lakukan secara fisik di Bandung dan juga melalui media online. Kami sama-sama berniat mengembangkan startups di Indonesia.

Masalah yang sedang dia hadapi adalah legal structure di Amerika sana, yang mana saya tidak terlalu faham. Ada kesulitan-kesulitan yang menghalangi melakukan investasi secara institusi. Saya kurang familier saat ini dan kami akan terus mendiskusikannya. Sementara ini saya memang lebih tertarik kepada aspek teknis, engineering, dan pengembangan produk. Mungkin nantinya memang aspek legal ini harus dihadapi juga.

Menjadi entrepreneur memang tidak mudah. Hei, ini adalah pola hidup (lifestyle) yang kita pilih. Semua ada pro dan kontranya. I just love being an entrepreneur.


Perusahaan Besar Bukan Jaminan

Salah satu pembunuh utama dari startup atau perusahaan yang baru dibentuk adalah cash flow. Saya ambil contoh yang umum.

Sering terjadi sebuah startup mendapat pekerjaan dari perusahaan besar. Pekerjaan ini bayarannya cukup besar. Hanya saja ternyata pembayarannya dilakukan di belakang. Karena tergiur oleh uang yang besar – dan kemungkinan juga keuntungan yang besar – maka pekerjaan tersebut diambil. Mengenai term pembayaran yang dilakukan di belakang sebelumnya tidak dikehendaki oleh sang startup. Namun apa daya, perusahaan besarlah yang menentukan term ini. Terpaksa pekerjaan ini diterima. Lagi pula, mereka kan perusahaan besar. Apa yang perlu ditakutkan?

Dalam perjalanannya pekerjaan selesai dikerjakan dengan baik. Kemudian sang startup ini meminta pembayarannya. Nah, masalah mulai muncul. Perusahaan besar ini ternyata pembayarannya tidak lancar. (Saya perlu menuliskan hal ini dengan tulisan yang tebal.) Banyak yang tidak percaya pada awalnya. Bisa jadi hal ini terjadi karena birokrasi atau karena mereka juga punya masalah dengan cash flow mereka. Akibatnya pembayaran tadi tidak tepat waktu. Ini terjadi bukan sekali atau dua kali tetapi sering. Untuk itu, perlu perhatikan sejarah pembayaran mereka. Tanya kepada rekan-rekan lain yang sudah pernah berhubungan bisnis dengan mereka. Bagaimana pembayarannya? Lancar? Itu yang paling penting.

Bagi perusahaan yang cukup stabil, punya uang cadangan yang cukup besar, hal ini tidak terlalu masalah. Masih tetap masalah, tapi bukan masalah kritis. Bagi startup yang mengandalkan adanya uang ini untuk membayar gaji pegawai, sewa kantor, dan biaya operasional lainnya, hal ini merupakan masalah sangat besar. Bahkan bagi banyak startup, lambatnya pembayaran inilah yang membunuh startup itu.

Bayangkan, misalnya sebuah startup membutuhkan biaya operasional Rp. 25 jt/bulan dan dalam rekening hanya ada Rp. 100 juta. Kemudian klien dia – sang perusahaan besar – hutang Rp 300 jt, tapi dibayar tahun depan. Artinya sang startup ini harus berhutang dulu untuk operasional selama satu tahun itu. Mampuslah dia. Itupun kalau tahun depan tepat waktu pembayarannya. Kalau molor (lagi)???

Analoginya adalah cash flow ini seperti aliran darah atau oksigen. Darah harus mengalir terus. Normal. Teratur. Jangan mau ada aliran darah / oksigen yang besar, tapi tahun depan. he he he. Keburu mati kita. Lebih baik pembayaran kecil-kecil tapi reguler dan pasti daripada pembayaran besar tapi tidak terduga-duga. Bikin jantungan.

Itulah sebabnya sebagai startup, berhati-hatilah dalam menerima pekerjaan. Jangan tergiur oleh besarnya nilai proyek, tetapi kesanggupan kita. Bagi sebuah startup seperti contoh di atas, janganlah coba-coba ambil proyek yang bernilai Rp 10 milyar misalnya. Cash flow akan sangat berat sekali.

Hal lain yang sangat penting untuk dipegang, perusahaan besar bukan jaminan akan tepat waktu dalam membayar! Percayalah.


Say No to Walled Garden

Konsep bisnis di internet memang masih membingungkan. Salah satu ide yang pernah diusulkan adalah membuat layanan yang hanya dapat diakses oleh member saja. Misalnya sebuah operator atau penyedia jasa internet memiliki sebuah situs yang hanya dapat diakses oleh membernya. Pelanggan lain tidak bisa mengakses. Tujuannya jelas, yaitu agar orang berlangganan. Konsep ini dikenal dengan nama “walled garden“.

Ide walled garden adalah seolah-olah kita punya kebun yang ditutupi oleh pagar. Hanya orang-orang yang diberi ijin saja, misalnya pelanggan atau yang bayar, yang dapat masuk dan melihat kebun itu.

Pengamatan saya, konsep walled garden ini kurang cocok dan kurang berhasil untuk bisnis berorientasi internet. Jaman internet ini semua berharap mendapatkan akses secara gratis (atau sangat murah). Konsep yang menutup-nutupi seperti ini bertentangan dengan produk teknologi informasi, yang mana produk digital sangat mudah diduplikasi. Pasti saja bocor. Kenapa kita harus berlangganan walled garden?

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kesuksesan saat ini lebih banyak kepada konsep berbagi. Sharing. Menutup-nutupi adalah upaya yang sia-sia. Walled garden akan sulit diterima dan sulit untuk sukses.

Herannya, ketika diskusi dengan anak-anak muda yang ingin memulai bisnis, kebanyakan mereka cenderung ketakutan idenya dicuri atau sejenisnya sehingga mereka condong kepada walled garden. Padahal mereka, kalau berada di posisi sebagai pengguna, tidak suka dengan hal itu. Aneh juga. Mengapa membuat layanan dengan konsep yang mereka sendiri tidak suka.

Saya sebagai generasi lama, malah cenderung untuk berbagi. Atau mungkin saya termasuk yang anomali ya? Saya lihat kawan-kawan yang sukses juga adalah orang-orang yang cenderung anti walled garden. Hmm…


Pendanaan Startup di Bidang ICT

Besok, tanggal 24 April 2012 pukul 13:00, saya akan memberikan presentasi (dan sekaligus menjadi moderator nampaknya) di acara e-Indonesia Initiatives. Tempat di Aula Barat, ITB. Sesi saya adalah tentang ICT dan Venture Capital. Materi presentasi dapat diunduh di scribd:

Bagi yang kesulitan melihat dokumen di atas, dapat mengambil dokumen di sini.

Semoga bermanfaat.

Link terkait: berita di Daily Social.


Dibeli Untuk Dimatikan?

Baru saja ada kabar tentang instagram dibeli oleh facebook. Bagi pembuat instagram ini berita baik. Soalnya dibelinya juga dengan tidak murah, alias US$ 1 milyar. Pendirinya langsung kaya raya. Bagaimana dengan pengguna instagram?

Sebagai pengguna layanan tersebut, pengguna boleh was-was. Pasalnya kita tidak tahu bahwa layanan itu dibeli untuk dibesarkan (dan kemudian dijual lagi?) atau dibeli untuk dimatikan (karena dianggap sebagai pesaing atau menguntungkan pesaing). Ada yang mengatakan dulu snaptu dibeli oleh facebook karena snaptu banyak meningkatkan pengguna twitter, yang notabene dianggap sebagai musuh dari facebook. Saya dulu rajin menggunakan snaptu di handphone sampai akhirnya dia hilang dan harus menggunakan facebook di handphone. Grrr…

Ada banyak cerita lain yang sejenis, seperti delicious yang dibeli oleh Yahoo! tetapi Yahoo! sendiri sudah memiliki layanan bookmark. Akhirnya delicious juga hilang.

Jika Anda pendiri perusahaan seperti yang diceritakan di atas, bagaimana perasaan Anda? Senang (karena dapat banyak uang)? Sedih karena ide Anda, your baby, dibeli untuk dimatikan?


Lulusan Jakarta Founder Institute

Baru saja membaca email dari Novistiar di milis StartupLokal yang memberitakan tentang lulusan Jakarta Founder Institute. Berita lengkapnya ada di sini. Secara total, di skala dunia ada 72 new startups (dari 485 total). Selamat kepada para lulusan. Semoga startupnya maju dan sukses.

Novistiar juga memberikan statistik ini di emailnya (see the plug :) hi hi hi)

Statistik: 132 pendaftar, 43 diterima, 13 lulus dengan 8 startups
Lulusan terbaik: Antonius Taufan, Fokado (hadiah USD 1,000)
Mentor terbaik: Peter Vesterbacka, Izak Jenie, Budi Rahardjo
Hadiah: Rp. 5 juta dalam bentuk VPS dari Wowrack untuk setiap startup
Saya senang terlibat dalam program-program semacam ini. Sekali lagi, semoga sukses. Kami akan pantau dan bantu terus.

Dicari: aplikasi yang khas Indonesia

Teknologi informasi (IT) sedang naik daun lagi. Banyak yang membuat perusahaan baru (startup) dengan basis layanan IT. Hanya saja sayangnya aplikasi yang ada hanya meniru-niru aplikasi yang sedang populer di Amerika. Padahal ada banyak aplikasi yang khas Indonesia. Maksud saya adalah aplikasi yang sesuai dengan kultur orang Indonesia. Saya akan coba bahas lebih jauh.

Akui saja bahwa bangsa kita bukan bangsa yang senang membaca. (Meskipun ini mungkin berubah.) Lihat saja di sekeliling kita. Di berbagai tempat di luar negeri, kalau orang berpergian maka yang dibawa salah satunya adalah buku. Di perjalanan mereka asyik membaca buku. Di dalam transportasi umum mereka membaca. Sementara di kita, orang cenderung ngobrol. Bukan berarti ngobrol lebih buruk daripada membaca lho. Beda. Itu saja. Sekali lagi, beda.

Dalam pertemuan-pertemuan di luar negeri, hampir selalu ada risalah pertemuan (minutes of meeting, MoM). Bahkan di kelompok organisasi kecil pun ada MoM ini. Di kita? Jarang ditemui kelompok yang menggunakan MoM. MoM biasanya terjadi di pertemuan yang formal, seperti di perusahaan-perusahaan. Di rapat RT atau organisasi mahasiswa, jarang ada risalah pertemuan. Di tempat kerja kami, ada MoM yang selain dicatat juga direkam.

Rekam. Ini merupakan sebuah pendekatan kultural. Karena kita malas menulis, maka kira rekam saja. Teknologi sudah memungkinkan hal tersebut. Kalau dahulu, ketika voice recorder masih mahal, maka pendekatan rekam ini hampir tidak masuk akal. Sekarang dengan menggunakan mp3 player atau handphone hal ini memungkinkan.

Kembali ke topik. Karena di luar negeri mode yang digunakan adalah baca/tulis maka aplikasi yang muncul adalah aplikasi baca/tulis. Web dan blog merupakan aplikasi baca/tulis. Bahkan, aplikasi pencari – search engine – yang paling banyak digunakan orang pun adalah yang terkait dengan baca/tulis. Yahoo! dan Google mencari data berdasarkan tulisan (teks).

Kalau kita ingin mengacu kepada kultur kita, maka dibutuhkan layanan yang dapat (1) menyimpan rekaman pertemuan (minutes of meeting in audio format), (2) melakukan pencarian (audio search engine – yang mencari isi dari audio! bukan sekedar nama berkasnya saja), dan (3) menampilkannya dalam bentuk yang mudah. Aplikasi atau layanan seperti ini dahulu tidak memungkinkan karena ukuran storage yang dibutuhkan pasti sangat besar. Sekarang ini sudah memungkinkan. (Youtube saja menyimpan video yang ukurannya lebih besar dari audio.) Kecepatan jaringan juga sudah memungkinkan.

Aplikasi semacam ini mungkin tidak terlalu menjadi perhatian di luar sana (baca: Amerika) karena ini tidak memecahkan masalah mereka. Mereka tidak punya masalah dengan baca/tulis. Tentu saja. Kita punya masalah. Jadi yang mengembangkan aplikasi seperti ini harusnya kita-kita. Tentu saja ini tidak mudah. (Searching audio content is not easy!) Justru di sinilah menariknya. This is the road less travelled. Any takers?


Jangan Tergesa-gesa (Membuat PT)

Dahulu sekali saya ingin punya perusahaan (PT / Perseroan Terbatas). Rasanya keren sekali kalau punya PT, namanya ada di PT, atau bahkan menjadi direkturnya. Ini sebelum tahu apa yang terjadi di belakang layar, yaitu kerja keras. Nah, sekarang saya tahu bahwa sebaiknya kita jangan tergesa-gesa membuat perusahaan. Begini.

Ketika kita membuat perusahaan, maka ada kewajiban-kewajiban yang harus kita lakukan. Salah satu kewajiban yang merepotkan adalah urusan pajak. Setiap bulan kita harus melaporkan pajak (meskipun nihil), demikian pula akhir tahun. Repot banget. Kalau perusahaan kita jalan dan lancar hal ini tidak masalah, tetapi kalau perusahaan gagal bagaimana?

Tadinya saya pikir kalau perusahaan gagal, tinggal kita tutup saja. Ternyata tinggal itu tidak hanya tinggal. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Nah, ternyata untuk menutup perusahaan dibutuhkan biaya yang cukup besar juga. Padahal kita menutup perusahaan karena gagal (dan mungkin tidak punya duit atau malah ribut antara sesama pemilik saham). Akhirnya jauh lebih mudah membiarkan perusahaan hidup tetapi tidak ada kegiatan. Ini tidak melepaskan kewajiban untuk urusan pajak dan surat-surat lainnya. Pokoknya repot saja.

Analogi terbaik yang pernah saya dengar adalah membuat perusahaan itu seperti punya anak. Tidak bisa kita berkata, “gak jadi” :)


Kesulitan Startup Hardware

Beberapa waktu yang lalu ada yang bertanya kepada saya, apa kesulitan yang dihadapi oleh perusahaan (atau kalau kita memulai usaha – starting up) yang bergerak di bidang hardware (baca elektronik). Menurut saya ada tiga masalah (1) sumber daya manusia (SDM), (2) biaya untuk manufakturing (dalam skala besar), dan (3) masalah distribusi produk.

Yang pertama adalah soal SDM. Saat ini susah sekali untuk mendapatkan SDM bagus di bidang hardware / elektronik. Sebagai contoh, di perguruan tinggi kebanyakan mahasiswa memilih informatika (computer science) dibandingkan elektro. Bahkan di dalam elektro sendiri, banyak mahasiswa yang akhirnya tugas akhirnya menjadi pemrograman web atau sejenisnya.

Pernah saya tanya kepada mahasiswa saya (kebetulan saya dosen di Teknik Elektro), mengapa dia mengambil topik tugas akhir pemrograman. Alasan sang mahasiswa adalah programming lebih mudah dibandingkan membuat hardware. Saya bilang bahwa itu karena programming yang dia lakukan bukan programming yang sesungguhnya (hanya main-main). Serious programming sama sukarnya dengan membuat rangkaian.

Singkat kata, hardware dianggap lebih susah sehingga tidak banyak orang yang mau menekuni itu. Sebagai perusahaan, apa lagi startup, kita tentu saja harus harus mendapatkan orang hardware yang bagus. Lebih susah lagi. Susah mendapatkan SDM hardware.

Biaya yang lebih mahal. Untuk membuat produk software, modalnya hanya komputer saja. Sementara untuk membuat produk hardware ada bahan baku (komponen) yang harus dibeli. Salah sedikit, harus keluar uang lagi untuk beli komponen. Akibatnya, untuk membuat prototype saja harus keluar uang banyak.

Katakanlah kita sudah berhasil membuat sebuah produk yang bagus. Untuk membuat produksi dalam skala besar ternyata menjadi masalah selanjutnya. Misalnya, ada yang minta dibuatkan perangkat dalam jumlah 100.000. Kita belum sanggup membuat produk hardware dengan skala yang besar. Biasanya untuk hal seperti ini kita outsource ke perusahaan di Cina. Selain mereka memiliki sistem manufakturing yang bagus, harganya juga menjadi lebih murah.

Distribusi produk. Adanya internet membuat produk software menjadi sangat murah untuk didistribusikan. (Hampir) zero cost. Sementara untuk menjual produk hardware, ada benda fisik yang harus dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Ada biaya – dan kadang mahal juga. Distribusi produk hardware merupakan hambatan tersendiri yang membuat startup hardware menjadi susah.

Selain ketiga hal di atas masih ada tantangan lain bagi perusahaan yang bergerak di bidang hardware, tetapi tiga di atas menurut saya merupakan hal yang terberat. Selain tantangan tentu saja ada banyak hal juga yang membuat startup di hardware menarik, yaitu … tidak banyak saingan (karena jarang yang mau). Jadi, tertarik untuk membuat startup hardware?


Mahasiswa dan Entrepreneurship

Minggu-minggu terakhir ini saya banyak diminta untuk berbicara soal entrepreneurship, khususnya yang terkait dengan tenologi – technopreneurship. Yang mengelola acara-acara ini kebetulan adalah mahasiswa ITB, misalnya IF association dan Himpunan Mahasiswa Elektro (HME). Dengan senang hati saya bercerita mengenai pengalaman saya dalam mendirikan perusahaan. Tentu saja ceritanya tidak semua hal yang menyenangkan.

[foto sertifikat dari IF Association dan HME ITB]

Hal yang saya tekankan adalah pentingnya mencoba untuk menjadi entrepreneur ketika menjadi mahasiswa. Alasannya adalah kesalahan atau kegagalan lebih dapat ditolerir ketika menjadi mahasiswa. Oh, mahasiswa ya. Langsung dimaklumi. Sementara kalau seseorang sudah lulus, maka harapan dari banyak pihak (orang tua, keluarga, masyarakat) adalah untuk menghasilkan uang. Sementara kalau kita memulai entrepreneurship, belum tentu usaha yang kita mulai itu langsung sukses.

Ada pertanyaan yang menarik, apakah kalau kita mencoba menjadi entrepreneur ketika mahasiswa akan mengganggu nilai kuliah? Secara jujur, saya jawab … ya. Bagi seorang dosen, hal ini memberatkan bagi saya. Saya ingin mahasiswa saya lulus dengan tepat waktu dan dengan nilai yang maksimal (kalau bisa A semua). Sayangnya kurikulum yang ada saat ini umumnya tidak mendukung entrepreneurship. Mahasiswa terlalu dibebani dengan tugas-tugas kuliah sehingga jika waktunya tercuri untuk melakukan usaha entrepreneurship pastinya akan ada efeknya terhadap perkuliahan.

Yang lebih repot lagi, contoh-contoh pengusaha yang sukses banyak yang bahkan drop out dari kuliahnya. Hadoh. Meskipun lebih banyak lagi yang kuliahnya juga sukses dan bahkan sampai S3. Yang ini perlu kita diskusikan lagi :)


Dari Perguruan Tinggi Menuju Industri

Baru saja saya membaca sebuah artikel dari IEEE Software, edisi September/Oktober 2011. Judulnya adalah “Technology Transfer: A Software Security Marketplace Case Study”. Artikel ini menceritakan pengalaman Gary McGraw, founder dari Cigital, memulai sebuah riset di tahun 1992 sampai akhirnya menjadi perusahaan yang kemudian dibeli oleh HP pada bulan September 2010.

Perjalanan sebuah teknologi yang dikembangan di perguruan tinggi atau kemudian keluar menjadi startup company sampai menjadi sebuah perusahaan besar (atau bahkan industri) tidak mudah. Sebagian besar justru gagal. Kebanyakan teknologi yang dihasilkan hanya menjadi onggokan tulisan saja, yaitu makalah dalam seminar atau jurnal. Yang berhasil sampai ke tahap startup pun kebanyakan mati di perjalanannya. (Bisa baca juga tulisan ini, “Driving innovation across the valley of death“.)

Ada upaya-upaya untuk membuat perjalanan lebih selamat. Salah satu yang dialami oleh Cigital adalah adanya bantuan dari pemerintah dalam bentuk pendanaan (misalnya untuk memajukan paten, dan sejenisnya). Hasil dari bantuan itu membuat perusahaan mereka menjadi hidup dan akhirnya dilirik oleh venture capital. Setelah didanai oleh VC pun masih ada kemungkinan mati di tengah jalan. Untungnya untuk cerita Cigital ini, perusahaan yang kemudian dibangun bisa lebih maju dan pada akhirnya dibelih oleh HP.

Pelajaran apa yang dapat diperoleh dari cerita di atas? (1) Perjuangan dari penemuan teknologi sampai menjadi perusahaan ternyata masih berat dan membutuhkan waktu yang lama; (2) pemerintah bisa membantu perusahaan agar memiliki kesempatan hidup yang lebih panjang dengan berbagai program; (3) dibutuhkan kesabaran.


Gado-Gado

Tulisan ini bukan tentang makanan gado-gado, tetapi tulisan dengan topik campur aduk. Seperti gado-gado, memang. Tulisan ini hanya sekedar kumpulan perjalanan, pemikiran, atau catatan yang saya lakukan hari ini.

Hari ini saya mulai dengan membuka internet. Ini hari Sabtu. Saya pikir tadinya saya mau baca sedikit email terus dilanjutkan dengan ngoprek rangkaian Arduino. Ternyata akhirnya berbeda. hi hi hi.

Startup, bisnis, passion. Bermula dari diskusi di milis StartupLokal tentang “tujuan dari bisnis”, saya pikir ada baiknya jika saya berbagi pendapat mengenai topik ini. Ada baiknya jika saya tuliskan saja di blog ini (dan mungkin kemudian hari bisa menjadi bagian dari buku?). Maka jadilah artikelnya. (Silahkan baca di post terdahulu.)

Sambil menulis tentu saja saya browsing internet. Mencari tambahan informasi. Akhirnya saya terdampar ke Library.nu. Ini tempat koleksi buku-buku dalam format yang bisa diunduh. Silahkan ke sana tetapi jangan marah ke saya kalau jadi kecanduan. he he he.

Buku-buku yang saya baca tentunya terkait dengan topik startup, teknologi, Silicon Valley, bisnis, dan sejenisnya. Maka akhirnya saya melihat buku-buku ini; “New New Thing: A Silicon Valley Story” (saya sebetulnya punya 2 buah buku aslinya – ini tentang bagaimana Jim Clark memulai Netscape, salah satu buku kesukaan saya), “Hackers: Heroes of the Computer Revolution“, “Apple Confidential 2.0“, “Founders at Work: Stories at Startup“, dan banyak lagi.

Masalah baru muncul: kapan membaca buku-buku tersebut ya? Nampaknya saya menemukan rumus baru:

kecepatan mendapatkan (download) eBooks lebih cepat daripada membaca eBooks-eBooks tersebut

Nah. Siapa yang bisa membuat pembuktiannya? hi hi hi.

His story. Sebagai bagian dari mencari informasi, saya juga mencoba mencari sejarah-sejarah tentang komputer dan internet. Salah satunya adalah sejarah World Wide Web (WWW). Oh saya baru ingat, saya juga ikut menjadi bagian (setidaknya sebagai pelengkap penderita) dari sejarah ini.

Ketika Tim Berners-Lee mengembangkan WWW di sekitar tahun 1991, saya sedang bekerja di Computer Services, University of Manitoba (tempat saya mengambil S2 dan S3). Kebetulan kala itu semua orang menyukai Sun workstations. Sayangnya, saya tidak kebagian. Hanya ada 2 NeXT workstation di pojok yang akhirnya saya ambil sebagai workstation kerja saya. NeXT computer adalah produk yang luar biasa indahnya! Sayang sekali dia harus mati. Dan, Anda tahu siapa yang menjadi bagian dari NeXT computer? Tidak lain adalah Steve Jobs! Ya, setelah ditendang dari Apple dia mendirikan NeXT computer.

Singkatnya saya mulai ngoprek komputer NeXT ini. Mencari software untuknya, yang bukan standar UNIX biasa. Akhirnya saya melihat apa yang dikerjakan oleh Tim Berners-Lee dengan WWW-nya. Maka saya pun ikut download softwarenye, compile, dan jalankan di NeXT workstation saya. Maka mulailah saya terpikat dengan WWW. Mau lihat tampilan layar Tim Berners-Lee dengan browser WWW pada waktu itu (1991)? Bisa dilihat di sini. Keren kan?

Menariknya adalah waktu itu orang-orang tidak tertarik ke WWW karena sudah ada FTP dan Gopher. Untuk apa WWW? Maka kami-kami harus mempromosikan kehebatan WWW. Perlu diingat bahwa ini masih awal dari WWW. Hal yang terhebat dari WWW pada saat itu adalah membuat text kedap-kedip (blinking). ha ha ha. Itu saja sudah membuat orang excited. Web site pertama yang saya buat adalah “The Ultimate Indonesian Homepage“.

Ah, menarik sejarah. Saya pernah ingin mendokumentasikan semua yang saya lalui dalam buku yang saya beri judul “Budi Rahardjo and His Story“. Ya, memang ada plesetannya di sana. hi hi hi. Saya bahkan sempat membuat draftnya (dengan software Framemaker waktu dulu). Sayangnya, draftnya hilang. Oh well…

Ah iya. Jadi lupa mau ngoprek Arduino.


Tujuan Dari Bisnis Adalah …

Jika saya lemparkan pertanyaan

apa tujuan dari  bisnis?

sebagian besar akan menjawab “untuk mencari uang” atau “mencari keuntungan”. Saya rasa ini jawaban yang natural, tetapi menurut saya kurang tepat. Tujuan utama bisnis dari orang-orang sukses yang saya ketahui bukan untuk mencari uang tetapi hal lain.

Ketika Steve Jobs (Apple), Bill Gates (Microsoft), Jerry Yang (Yahoo!), dan seterusnya, ditanya kenapa membuat perusahaan yang mereka buat, jawabannya adalah “to change the world“. Tentunya maksudnya membuat dunia menjadi lebih baik. Luar biasa bukan?

Uang bagi mereka bukan tujuan utama membuat bisnis. Uang akan datang sebagai konsekuensi logis. Bukan tujuan utama. Passion (dan mungkin juga mulanya adalah hobby) merupakan dorongan utamanya. Mereka melakukannya karena kecintaan mereka pada bidang mereka.

Steve Jobs mengatakan bahwa waktu masih muda dia tidak peduli terhadap uang, karena tidak punya uang (he he he). Setelah sukses dia juga tidak peduli kepada uang, karena uangnya banyak. But, we did not do it because of money. Begitulah.

Jika kita membuat bisnis yang kita sukai, maka itulah sukses. Seorang yang senang nonton, membuat bisnis bioskop. Seorang yang senang musik, membuat studio musik, mengembangkan bisnis musik, sekolah musik, dan sejenisnya.  Orang yang senang olah raga mengembangkan bisnis toko alat olah raga, sekolah olah raga. Semuanya menyenangkan. Bisnis tidak menjadi beban, tetapi menjadi hal yang menyenangkan.

Bisa disimak potongan wawancara dengan Bill Gates dan Steve Jobs di sini:

Steve Jobs:  Yeah, people say you have a lot of passion for what you are doing, and it’s totally true and the reason is because it’s so hard that if you don’t, any rational person would give up.
It’s really hard and you have to do it over a sustained period of time.  So if you don’t love it, if you’re not having fun doing it, if you don’t absolutely love it, you’re going to give up. And that’s what happens to most people, actually.

Atau pendapat Tony Hsieh (CEO Zappos):

“What would you be passionate about doing for 10 years even if you never made a dime?”

Jika tujuan seseorang memulai usaha adalah untuk mencari uang, maka sebetulnya ada banyak jalan lain yang lebih mudah dan aman untuk mendapat uang banyak. Itulah sebabnya sebagian besar orang menjadi pekerja (bekerja di perusahaan multi nasional menghasilkan gaji yang luar biasa besar), menjadi PNS (dengan gaji yang terjamin – meski mungkin tidak bisa kaya raya), atau menjadi anggota dewan (nah ini yang menjadi trend he he he). Uang lebih banyak di situ dibandingkan dari membuka usaha sendiri.

Guru saya, almarhum Chandra Liem, mendefinisikan tujuan bisnis adalah “to give what the people want“. Begitu katanya.

Tentu saja kita bisa berbeda pendapat. Ini hanya opini saya. Semoga bermanfaat.

[ack. thanks untuk reinx atas link-nya]


Membujuk Perusahaan Besar Untuk Hadir di Indonesia

Minggu lalu saya bilang bahwa saya akan menceritakan pertemuan saya dengan Mike Orgill dari Google. Salah satu topik yang saya utarakan adalah keinginan saya agar ada perusahaan besar untuk hadir di Indonesia, khususnya Bandung.  (Topik ini selalu saya utarakan kepada berbagai tamu dari luar.) Mengapa ini penting dalam konteks munculnya perusahaan start up yang bernuansa teknologi?

Salah satu referensi yang saya gunakan adalah sebuah artikel Wieners & Hillner di majalah Wired (1998). Artikel ini membahas Siliconia, yaitu daerah-daerah yang ingin meniru Silicon Valley di dunia. Ternyata ada banyak dan ternyata kebanyakan memang gagal. Menurut artikel itu ada empat (4) critical success factors:

  1. the ability of the area’s university and research facilities to train skilled workers or develop new technologies;
  2. the presence of established multinational companies as anchors to provide economic stability;
  3. the population’s entrepreneurial drive; and
  4. the availability of financial support in form of venture capitals

Dalam tulisan ini saya hanya ingin menyoroti poin kedua, bahwa di tempat Siliconia itu harus ada perusahaan yang bisa menjadi jaring pengaman. Kira-kira begini skenarionya.

Saya bekerja di perusahaan besar ini. Pada suatu saat saya punya ide untuk perusahaan start up. Saya kemudian keluar dari perusahaan ini untuk merealisasikan ide (bisnis, layanan, produk, dll.) tersebut. Jika berhasil, bagus. Jika tidak, maka saya menutup usaha ini dan … kembali menjadi pegawai di perusahaan besar ini. Perusahaan besar ini dengan kata lain menjadi “jaring pengaman”. Para entrepreneur tidak takut untuk memulai usahanya karena jika gagal pun dia tidak akan kelaparan. Ada pekerjaan. Nanti, di kemudian hari, jika ada ide lagi maka saya bisa keluar dan starting-up lagi.

Mengapa perusahaan besar? Karena bagi perusahaan besar, keluar atau masuknya satu orang tidak terlalu berpengaruh. Jaring pengaman ini tidak bisa PNS atau perusahaan BUMN atau perusahaan yang kaku seperti yang ada di Indonesia. (Kalau kita keluar, mana bisa kita balik lagi.) Ini hanya bisa dilakukan oleh perusahaan multi nationa companies, yang hanya melihat talent. Jika kita punya talent, maka kita akan diterima (meskipun kita sebelumnya sudah keluar).

Perusahaan besar tersebut tidak harus serta merta membuat kantor yang besar juga di Indonesia. Ini bisa dimulai dengan research center yang berisi 5 orang saja. Yang penting mereka ada di sini dulu.

Sebetulnya di Bandung dulu saya berharap IPTN dapat menjadi jangkar perusahaan ini di Bandung, sebagaimana halnya Lockheed di Silicon Valley dulu. (Menarik ya? Dua-duanya sama-sama perusahaan yang terkait dengan pesawat terbang.) Sayangnya IPTN tutup. Sekarang kita masih harus berusaha keras.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.728 pengikut lainnya.