Tag Archives: Teknologi Informasi

Internetan di Singapura

Ini cerita tentang Internetan di Singapura lagi. Apa cara yang paling mudah dan murah untuk  internetan di Singapura?

Cara saya adalah dengan membeli kartu Starhub kemudian mengaktifkan paket internetan seminggu, 1 GB, Sing $7. Sebetulnya ada paket lain yang kurang dari seminggu tetapi menurut saya lebih murah pakai yang ini. Yang lain itu jumlah datanya kurang. hi hi hi.

Mungkin pola memakai internet saya (dan anak saya) yang cukup boros sehingga ternyata paket 1 GB itu habis kurang dalam 3 hari. he he he. Nah, bodohnya saya adalah saya tidak memeriksa sisa kuotanya sehingga begitu habis kuota maka dia akan menggerogoti pulsa. Habislah pulsa saya. Sing$ 10 habis. Uhuk. (Sama seperti operator di Indonesia. Uhuk.) Coba kalau diperpanjang, kan hanya butuh Sing$ 7. Masih sisa. Akhirnya saya beli lagi top up (voucher) card. Harganya Sing$ 18. Ampun. Kelalaian yang menghabiskan duit.

Sekarang saya mau internetan dulu ya. Ini juga diketik masih dalam perjalanan.


Mengajari Untuk Menjadi Dinosaurus

Minggu lalu saya mengajari orang-orang di tempat saya tentang pemrograman bahasa BASIC. Iya, bahasa BASIC. Ini bahasa pemrograman yang saya pelajari jaman tahun 1980-an dulu. hi hi hi. Sekarang bahasa BASIC ini sudah tidak ada yang mengajarkan. Apa lagi ada banyak orang yang berpendapat bahwa “GOTO” itu sangat berbahaya. (GOTO is considered harmful.) Padahal bahasa BASIC itu memiliki GOTO dan sangat lazim digunakan. hi hi hi.

Minggu ini saya berencana mengajari penggunakan editor “vi“. Ini juga editor teks yang cukup kuno. Saya masih menggunakan editor ini di berbagai platform; Linux, Windows, Mac OS. Kemana-mana saya masih menggunakan vi. Enaknya adalah di setiap platform pasti ada vi. Vi juga adalah editor yang sangat powerful. Regular expression di dalam vi sangat bermanfaat ketika saya melakukan pemrograman. (Saya lagi mencari vi reference card yang bagus.) Apakah mengajari cara pemrograman dengan teknik-teknik lama ini bermanfaat?

IMG_6825 dinosaurus 1000Apakah mengajari menjadi dinosaurus itu jelek? Dinosaurus masih menarik lho. Ini buktinya. Dinosaurus sisa dari Pasar Seni ITB 2014 kemarin masih tetap menjadi tontonan yang menarik di kampus ITB lho. Banyak orang yang potret-potretan dan selfie di depan Dinosaurus ini.

Mari menjadi Dinosaurus …


4 Pertemuan Dalam 1 Hari

Judulnya seperti judul dari sebuah film ya? Tapi, ini memang yang terjadi hari ini. Hari ini saya mengikuti empat pertemuan (meeting). Meskipun semuanya berhubungan dengan teknologi informasi, tetapi topik-topiknya berbeda. Kepala ini cukup cenut-cenut juga mengikuti topik-topik tersebut.

Di tengah-tengah pertemuan tersebut saya sempat juga melakukan coding. hi hi hi. Ada sesuatu yang ingin saya coba, yaitu tentang Multi User Dungeon and Dragon (MUD). Yang ini ceritanya menyusul. Sekarang ceritanya masih tentang lelahnya saya mengikuti pertemuan tersebut.

Sekarang saya punya kesempatan untuk tarik nafas dulu. Phew. . . .


Social Engineering

Tadi pagi saya memberikan presentasi tentang “social engineering” (rekayasa sosial). Apa itu seocial engineering?

Upaya-upaya atau kegiatan  membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam konteks keamanan informasi, social engineering ditujukan agar target membocorkan informasi rahasia (seperti misalnya password, PIN).

Target dari social engineering memang manusia. Ada tiga faktor dalam keamanan informasi; manusia, proses, dan teknologi. Aspek manusia seringkali merupakan aspek yang paling lemah dalam mata rantai pengamanan informasi,

Teknik-teknik yang digunakan dalam social engineering berbeda dengan teknik penyadapan data, misalnya. Untuk mengetahui password seseorang, kita dapat mengirimkan email yang mengatakan bahwa sistem email target sedang bermasalah sehingga target harus mengganti passwordnya. Ternyata banyak orang yang percaya terhadap email ini dan mengubah passwordnya sesuai dengan instruksi. Padahal instruksinya itu justru membocorkan passwordnya. Misalnya, target diminta untuk mengunjungi situs tertentu untuk mengubah passwodnya. Situs tertentu ini merupakan milik penyerang.

Cara lain yang juga dapat dilakukan adalah membuat berita-berita dengan topik yang sedang populer (trending topic). Target secara tidak sadar mengklik link tertentu yang mengantarkan mereka ke halaman yang berisi malware (malicious software). Tanpa mereka sadari, mereka memasang software trojan horse sehingga komputer mereka dapat dikendalikan dari jarak jauh,

Pencurian identitas (identity theft) juga merupakan salah satu teknik social engineering. Kalau di Indonesia, pencurian identitas ini banyak terjadi di Facebook. Apa yang dapat dilakukan setelah mendapatkan identitas seseorang? Yang lazim dilakukan penyerang adalah … meminta uang (berpura-pura ada yang sakit) atau meminta pulsa. hi hi hi.

Ada beberapa hal yang membuat manusia mudah diserang;

  • suka dipuji-puji – penyerang memulai dengan memuji-muji sehingga mendapat kepercayaan dari target;
  • sopan / sungkan / tidak tega / tidak ingin menyakiti orang – dimanfaatkan oleh penyerang yang tidak tahu malu dan mengeksploitasi “kelemahan” ini;
  • takut kepada atasan (authority) – penyarang berpura-pura jadi atasan (atau pihak yang berwenang) dan memberi instruksi tertentu.

Menjuri Di APICTA 2014

Beberapa hari ini saya menghilang dari blog karena super sibuk menjadi juri di APICTA 2014 yang diselenggarakan di Jakarta. Menjuri. he he he. Dari hari Kamis sampai Minggu, kami dikurung di hotel Harris Suite di FX.

IMG_6874 judgeSebetulnya ceritanya ada banyak, tetapi saya belum sempat menuliskannya dan sudah keburu banyak tugas lain yang harus diselesaikan. Ini juga baru sampai di kampus ITB, langsung dari stasiun kereta api.

Pada APICTA kali ini saya melihat kemajuan yang pesat dari peserta lain, misalnya dari Pakistan. Bagus-bagus. Sementara itu, yang dari Indonesia tertinggal cukup lumayan. Yang paling tertinggal adalah teknik presentasi dan bahasa Inggris dari peserta-peserta Indonesia. Peserta negara lain dengan percaya diri memberikan presentasinya. Para juri menjadi paham apa yang mereka sampaikan dan tentunya memberi nilai dengan baik. (Meskipun ada juga yang nilainya sangat buruk walaupun presentasinya baik. Kalau produknya buruk, ya tetap saja hasilnya buruk.)

Kembali ke soal teknik presentasi, nampaknya ini harus diajarkan kepada mahasiswa ya? Saya sebetulnya tanya ke coach (pelatih) dari tim Indonesia. Kata mereka, sebetulnya peserta Indonesia sudah di-coach, tetapi banyak yang tidak mau nurut kepada para coach itu rupanya. hi hi hi.

Lain kali lebih baik.

Oh btw, banyak peserta dan judge yang bilang saya judge yang menyenangkan karena selalu tersenyum dan murah nilai. hi hi hi

One more thing. Yang menarik dari acara APICTA adalah di acara pemberian award-nya, BandIT tampil. Jreng!


Menjadi Juri APICTA Lagi

Dalam dua (atau tiga) hari ke depan saya bakalan disibukkan dengan tugas untuk menjadi juri di APICTA, Asia Pacific ICT Award. Acara ini merupakan lomba karya ICT di berbagai bidang untuk orang-orang di lingkungan Asia Pacific. Tahun lalu acara ini digelar di Brunei.

Ada beberapa kategori yang dilombakan dan dengan peserta yang bervariasi (ada dari pendidikan, penelitian, sampai ke startup). Lengkapnya saya tidak ingat. hi hi hi. Nanti sambil jalan saya perbaharui tulisan ini dengan daftarnya. Saya sendiri menjadi juri di dua bidang.

Nah, sekarang saya mau membaca manual untuk para juri dahulu. Iya, ada manualnya. hi hi hi.

Doakan agar acaranya lancar ya … jreng! Lho kok jreng?


Video Tentang (nge)Blog Ini

Berikut ini tayangan di YouTube tentang cerita “ngeblog yang sukses”. Ini presentasi saya di acara Free Saturday Lesson (FSL), yang diselenggarakan oleh Comlabs ITB.

Selamat menikmati


Yahoo! Di Indonesia Tutup?

Dengar-dengar, Yahoo! di Indonesia tutup ya? Atau “dirampingkan”?

Menurut saya, jika target yang diterapkan adalah penjualan ya memang memungkinkan. Biar sajalah. Soalnya dari dulu saya hanya tertarik jika Yahoo!, Google, dll. membuka tempat pengembangan (development site) atau penelitian (research center). Bahwa Bandung adalah tempat yang cocok untuk itu. Sayang pembesar perusahaan besar tersebut masih belum dengar. Bawahannya yang berada di regional tidak(?) meneruskan ke bos mereka di Amerika sana. Atau, mungkin diteruskan tetapi bos di Amerikanya tidak yakin.

(Well, this is a trust issue. I get it. I just want to point out that here is a great place to do research and development. I am not just saying this. But hey, you don’t have to believe me. Just come here and smell the coffee.)

Begitu …


Menghubungkan Titik Titik

Dalam perjalanan pulang ke Bandung tadi, saya tidak dapat tidur di kereta api. Mungkin karena kebanyakan minum kopi? Entahlah. Saya putuskan untuk membaca saja. Akhirnya saya membaca buku “Creativity, Inc.” karangan Ed Catmul sambil mendengarkan dengan keras musik dari grup Boston dengan earphone. hi hi hi.

Buku itu menceritakan tentang pengalaman Ed Catmul, salah seorang pendiri perusahaan Pixar. Tahu kan Pixar itu perusahaan apa? Mereka yang membuat film Toy Story, dan beberapa film animasi yang keren lainnya. Oh ya, salah satu founder Pixar juga adalah Steve Jobs.

Ed Catmul bercerita megenai jalan hidupnya. Dia kuliah di University of Utah di bawah bimbingan Ivan Sutherland. Saya termanggu-manggu. Mengapa nama-nama itu seperti familer. Ya ampuuun. Saya ingat! Ivan Sutherland adalah pengarang makalah yang berjudul “Micropipeline“, yang menginspirasi disertasi S3 saya! Saya baru ingat juga bahwa saya sempat email-emailan dengan beberapa orang peneliti (dan dosen) dari sana. Ini adalah bidang sistem (rangkaian) asinkron (asynchronous circuits).

Salah satu diversion – pengalih fokus –  saya adalah computer music. Saya sempat mengikuti konferensi tentang computer music yang ternyata beririsan dengan seminar yang dihadiri oleh orang-orang di dunia animasi seperti Ed Catmul. Wogh. Ternyata demikian dekatnya ya. Sekarang merasa lebih memahami Pixar. ha ha ha.

Connecting the dots … Menghubungkan titik-titik. Meneruskan baca …


Kunjungan SPRING dan Start-up Singapura ke Indonesia

Tulisan ini harusnya saya postingkan minggu lalu tapi belum sempaaat. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak ada, kan?

Hari Kamis lalu ada kunjungan rombongan dari SPRING Singapore dan beberapa perusahaan start-up Singapura ke Bandung. Sebetulnya mereka ke Jakarta dahulu sebelum ke Bandung. Cerita ini adalah bagian yang di Bandungnya, karena saya hanya mengikuti sisi ini.

SPRING adalah organisasi pemerintah Singapura yang membantu para start-up. Salah satu caranya adalah membawa para start-up ini melebarkan sayap ke pasar lain di luar Singapura. Bagus sekali yang mereka lakukan. Ada dua misi utama dari rombongan ini; (1) mencari talenta (terutama orang teknis IT, programmer, analis, dan data analytics) untuk membantu mengembangkan produk-produk mereka, dan (2) mencoba masuk ke pasar Indonesia dengan produk dan layanan mereka.

Pagi hari, rombongan saya ajak ke Bandung Techno Park (BTP) yang berlokasi di Telkom University di Dayeuh Kolot. Siangnya mereka saya ajak ke ITB, ke MBA SBM ITB, untuk bertemu dengan para (calon) entrepreneur. Sayangnya tidak banyak mahasiswa STEI yang hadir di sana meskipun sudah saya coba undang melalui beberapa sumber. Sorenya, mereka saya ajak ke Bandung Digital Valley (BDV) yang berada di lingkungan R&D PT Telkom (dahulu RISTI) di Geger Kalong.

Saya sendang mencoba mencari daftar start-up yang mereka bawa kemarin. Siapa tahu ada para pembaca yang tertarik untuk bekerjasama dengan mereka.


Pemanfaatan Virtual Reality Dalam Desain Mobil

Melanjutkan cerita tentang perjalanan saya ke tempat desain mobil Ford di Melbourne yang tertinggal, kali ini saya akan menceritakan tentang pemanfaatan virtual reality dalam desain mobil. Sesungguhnya mungkin ini alasan utama mengundang saya ke sana, karena bidang saya yang terkait dengan teknologi informasi.

Setelah melihat SYNC2, kami pindah ke ruangan demo pemanfaatan VR untuk mendesain mobil. Nama labnya adalah Ford’s Immersive Vehichle Environment (FIVE). Di situ seorang desainer (atau juga pembeli mobil) dapat menggunakan sebuah peralatan yang dipasang di kepala – head mounted display, yang dugaan saya adalah produk Occulus Rift. Setelah dipasang, maka dia akan seperti berada di sebuah ruangan dengan sebuah mobil.

Dalam contoh yang kami coba, kami seakan-akan menginspeksi sebuah mobil yang baru didesain. Kami dapat melihat dashboardnya, melihat ke sekeliling, bahkan kami dapat “turun dari mobil” dan menginspeksi bawah mobilnya. Kami juga mencoba membuka kap mesin dan melihat mesin dari mobil tersebut. Desain warna mobil juga dapat diganti. Jadi kita bisa melihat kalau warna mobilnya biru metalik dengan latar belakang sunset cocok tidak. (Lingkungan sekitar juga dapat diubah-ubah; mau perkotaan, pantai, dan seterusnya.) Keren kan. Sebelum mobil betul-betul dibuat, mereka dapat melakukan perubahan terhadap desain sehingga dapat menghemat biaya.

IMGP0148 FiVE 1000

Foto di atas menunjukkan situasi di labnya. Kami dapat melihat apa yang dilihat oleh sang pengguna melalui layar lebar yang terpasang di dinding. (Aris Harvenda sedang mencoba, sementara Indra dari Dapurpacu.com sedang mengamati.)

Dari sisi komputasi, karena semuanya dilakukan secara 3D dan real-time, pasti tinggi sekali. Saya tidak tahu berapa besar kemampuan komputasi yang mereka miliki. Setahu saya, lab ini juga terhubung dengan lab-lab lainnya. Entah apakah CPU dari berbagai mesin di lab lain juga digunakan secara bersama-sama atau mereka hanya menggunakan CPU yang ada di tempat itu saja.

Menggunakan VR itu butuh penyesuaian. Agak bingung awalnya. (Bahkan di video-video yang saya lihat di internet, penggunaan VR itu bisa bikin pusing penggunanya sampai jatuh.) Sayangnya saya hanya sempat mencoba sebentar karena harus bergantian dengan yang lainnya. Cukup puaslah melihat teknologi yang ada di Ford ini.


Kekurangan SDM IT

Seperti biasa, selalu saja ada yang nanya ke saya apakah ada orang IT (yang bisa dipekerjakan di perusahaannya)? Biasanya yang bertanya ini sedang mengembangkan perusahaan baru – start up. Ternyata kebutuhan akan SDM IT masih tetap banyak. Repotnya, SDM tersebut tidak tersedia. Saya jadi bertanya-tanya, ke mana saja lulusan sekolahan IT (atau yang terkait) di Indonesia ya? Di Bandung saja ada banyak sekolah komputer.

Ada beberapa alasan mengapa sulit mencari SDM IT yang handal.

  1. Lulusan IT tersebut melanjutkan sekolahnya ke luar negeri (misal mengambil S2/S3 di luar negeri);
  2. Mereka sudah diijon oleh perusahaan besar (yang terlihat lebih memberikan jaminan finansial dan karir di bidang management);
  3. Akhirnya memilih bekerja di bidang non-IT (misal jadi pedagang, bukan warung, dll.);
  4. Lulusan IT itu ketika bersekolah hanya ingin menghabiskan waktu saja (daripada nganggur) ketimbang ingin menekuni bidang IT. Hasilnya ya mereka memang malas untuk bekerja;
  5. apa lagi ya?

Besok akan ada rombongan dari Singapura datang ke Bandung untuk mencari orang-orang IT. Dugaan saya mereka akan pulang dengan tangan hampa. Ugh.


Pendiri Facebook Ada di Indonesia

Ini sebetulnya bukan berita yang super baru karena mungkin Anda sudah membacanya di beberapat tempat yang lain. Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, berada di Indonesia sebagai bagian dari kegiatan internet.org. Salah satu acaranya adalah menemui pak Joko Widodo (Jokowi).

Yang menarik bagi saya dari acara ini adalah potret-potretnya. Salah satu potret yang membuat saya senyum-senyum adalah potret Jokowi mengajak Mark Zuckerberg (MZ) ke Tanah Abang. hi hi hi. Mark dibawa blusukan. Gak tahu juga apa dia nawar celana (jeans?) yang ditunjukkan oleh Jokowi kepadanya. ha ha ha. MZ juga termasuk orang yang sederhana dalam berpakaian.

10661930_327779680762500_680710807921295018_o

Sebelum ke Jakarta, Mark Zuckerberg ke Yogyakarta dulu. Tentunya salah satu obyek wisata yang dia kunjungi adalah Borobudur. Yang menarik adalah di sana ada turis-turis yang tidak kenal siapa itu MZ dan minta tolong kepada MZ untuk memotret mereka. Jadilah si MZ ini fotographer abal-abal. ha ha ha. Bagusnya adalah dia mau saja. Ini dia potretnya.

zuckerberg as photographer

Seru juga ya. Harusnya MZ ke Bandung. Kalau saja dia ke Bandung, saya ajak jalan-jalan seputar Bandung dan Lembang. Akan saya ajak juga lihat Tangkuban Perahu. Terus kami bisa ngobrol soal Internet dan Facebook (yang mulai menurun menurut saya). Eh, tapi biar sajalah dia menikmati liburan dan tidak membicarakan soal kerjaan. Have fun.


Akses Internet di Hotel

Nampaknya akses internet sudah menjadi kebutuhan kita sehari-hari. Eh, kebutuhan saya. Bahkan dulu saya pernah mengusulkan agar akses internet itu adalah hak asasi manusia. hi hi hi. (Ini sebetulnya bukan isapan jempol, jika kita menganggap internet adalah basic telephony.)

Yang menjadi masalah adalah kalau kita sedang berada di perjalanan atau luar kota, akses internet kadang sulit. Kasus khusus adalah di hotel. Seringkali hotel tidak memiliki akses internet yang bagus, atau kalau bagus harganya selangit. Tidak banyak hotel yang memberikan layanan internet gratis dengan kualitas yang cukup baik. Padahal kadang kita harus bekerja di tempat itu; download attachment email, kirim attachment email, mencari gambar untuk presentasi, dan seterusnya. Jangankan untuk kerjaan yang butuh bandwidth besar, bahkan untuk membaca emailnya (teksnya) saja kadang sudah susah. Itulah salah satu sebab saya tidak dapat ngeblog beberapa hari terakhir ini.

Hari ini kebetulan saya menginap di hotel dan ada akses internet yang cukup baik. Alhamdulillah. Ini hal yang jarang. Saya nikmati dulu untuk ngeblog ini.


Kode: Menampilkan Basis Bilangan 10, 2, 8, dan 16

Kuliah “Pengantar Teknologi Informasi” hari ini menjelaskan tentang basis bilangan. Manusia terbiasa dengan basis bilangan 10 atau desimal. Sementara itu, komputer bekerja dengan basis bilangan dua atau biner. Untuk memperjelas dan memberikan contoh bilangan yang sama tetapi ditampilkan dalam basis yang berbeda, saya buat skrip (perl) yang sederhana.

Berikut ini adalah skripnya. (Catatan: saya menuliskannya dengan pakem bahasa C.

#! /usr/bin/perl
# a simple counter to show numbers in 
# decimal, binary, octal, and hex
# Budi Rahardjo - br-paume.itb.ac.id - rahard
# 2014
$n=128;
print "decimal - binary - octal - hexadecimal\n";
print "========================================\n";

for ($i=0; $i <= $n ; $i++) {
   $decimal = sprintf("%04d", $i);
   $binary = sprintf("%08b", $i);
   $octal = sprintf("%08o", $i);
   $hex = sprintf("%08x", $i);
   print "$decimal - $binary - $octal - $hex\n";
   sleep 1; # pause for a second to enjoy the output :)
}

Jika dijalankan, potongan hasilnya seperti ini (sesungguhnya dia berjalan sampai mencapai 256):

decimal - binary - octal - hexadecimal
========================================
0000 - 00000000 - 00000000 - 00000000
0001 - 00000001 - 00000001 - 00000001
0002 - 00000010 - 00000002 - 00000002
0003 - 00000011 - 00000003 - 00000003
0004 - 00000100 - 00000004 - 00000004
0005 - 00000101 - 00000005 - 00000005
0006 - 00000110 - 00000006 - 00000006
0007 - 00000111 - 00000007 - 00000007
0008 - 00001000 - 00000010 - 00000008
0009 - 00001001 - 00000011 - 00000009
0010 - 00001010 - 00000012 - 0000000a
0011 - 00001011 - 00000013 - 0000000b
0012 - 00001100 - 00000014 - 0000000c
0013 - 00001101 - 00000015 - 0000000d
0014 - 00001110 - 00000016 - 0000000e
0015 - 00001111 - 00000017 - 0000000f
0016 - 00010000 - 00000020 - 00000010
0017 - 00010001 - 00000021 - 00000011
0018 - 00010010 - 00000022 - 00000012
0019 - 00010011 - 00000023 - 00000013

Saya kemudian dapat menjelaskan kepada mahasiswa contoh-contoh bilangan dalam beberapa basis. Selamat menikmati. Semoga bermanfaat.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.929 pengikut lainnya.