Tag Archives: Teknologi Informasi

Menghubungkan Titik Titik

Dalam perjalanan pulang ke Bandung tadi, saya tidak dapat tidur di kereta api. Mungkin karena kebanyakan minum kopi? Entahlah. Saya putuskan untuk membaca saja. Akhirnya saya membaca buku “Creativity, Inc.” karangan Ed Catmul sambil mendengarkan dengan keras musik dari grup Boston dengan earphone. hi hi hi.

Buku itu menceritakan tentang pengalaman Ed Catmul, salah seorang pendiri perusahaan Pixar. Tahu kan Pixar itu perusahaan apa? Mereka yang membuat film Toy Story, dan beberapa film animasi yang keren lainnya. Oh ya, salah satu founder Pixar juga adalah Steve Jobs.

Ed Catmul bercerita megenai jalan hidupnya. Dia kuliah di University of Utah di bawah bimbingan Ivan Sutherland. Saya termanggu-manggu. Mengapa nama-nama itu seperti familer. Ya ampuuun. Saya ingat! Ivan Sutherland adalah pengarang makalah yang berjudul “Micropipeline“, yang menginspirasi disertasi S3 saya! Saya baru ingat juga bahwa saya sempat email-emailan dengan beberapa orang peneliti (dan dosen) dari sana. Ini adalah bidang sistem (rangkaian) asinkron (asynchronous circuits).

Salah satu diversion – pengalih fokus –  saya adalah computer music. Saya sempat mengikuti konferensi tentang computer music yang ternyata beririsan dengan seminar yang dihadiri oleh orang-orang di dunia animasi seperti Ed Catmul. Wogh. Ternyata demikian dekatnya ya. Sekarang merasa lebih memahami Pixar. ha ha ha.

Connecting the dots … Menghubungkan titik-titik. Meneruskan baca …


Kunjungan SPRING dan Start-up Singapura ke Indonesia

Tulisan ini harusnya saya postingkan minggu lalu tapi belum sempaaat. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak ada, kan?

Hari Kamis lalu ada kunjungan rombongan dari SPRING Singapore dan beberapa perusahaan start-up Singapura ke Bandung. Sebetulnya mereka ke Jakarta dahulu sebelum ke Bandung. Cerita ini adalah bagian yang di Bandungnya, karena saya hanya mengikuti sisi ini.

SPRING adalah organisasi pemerintah Singapura yang membantu para start-up. Salah satu caranya adalah membawa para start-up ini melebarkan sayap ke pasar lain di luar Singapura. Bagus sekali yang mereka lakukan. Ada dua misi utama dari rombongan ini; (1) mencari talenta (terutama orang teknis IT, programmer, analis, dan data analytics) untuk membantu mengembangkan produk-produk mereka, dan (2) mencoba masuk ke pasar Indonesia dengan produk dan layanan mereka.

Pagi hari, rombongan saya ajak ke Bandung Techno Park (BTP) yang berlokasi di Telkom University di Dayeuh Kolot. Siangnya mereka saya ajak ke ITB, ke MBA SBM ITB, untuk bertemu dengan para (calon) entrepreneur. Sayangnya tidak banyak mahasiswa STEI yang hadir di sana meskipun sudah saya coba undang melalui beberapa sumber. Sorenya, mereka saya ajak ke Bandung Digital Valley (BDV) yang berada di lingkungan R&D PT Telkom (dahulu RISTI) di Geger Kalong.

Saya sendang mencoba mencari daftar start-up yang mereka bawa kemarin. Siapa tahu ada para pembaca yang tertarik untuk bekerjasama dengan mereka.


Pemanfaatan Virtual Reality Dalam Desain Mobil

Melanjutkan cerita tentang perjalanan saya ke tempat desain mobil Ford di Melbourne yang tertinggal, kali ini saya akan menceritakan tentang pemanfaatan virtual reality dalam desain mobil. Sesungguhnya mungkin ini alasan utama mengundang saya ke sana, karena bidang saya yang terkait dengan teknologi informasi.

Setelah melihat SYNC2, kami pindah ke ruangan demo pemanfaatan VR untuk mendesain mobil. Nama labnya adalah Ford’s Immersive Vehichle Environment (FIVE). Di situ seorang desainer (atau juga pembeli mobil) dapat menggunakan sebuah peralatan yang dipasang di kepala – head mounted display, yang dugaan saya adalah produk Occulus Rift. Setelah dipasang, maka dia akan seperti berada di sebuah ruangan dengan sebuah mobil.

Dalam contoh yang kami coba, kami seakan-akan menginspeksi sebuah mobil yang baru didesain. Kami dapat melihat dashboardnya, melihat ke sekeliling, bahkan kami dapat “turun dari mobil” dan menginspeksi bawah mobilnya. Kami juga mencoba membuka kap mesin dan melihat mesin dari mobil tersebut. Desain warna mobil juga dapat diganti. Jadi kita bisa melihat kalau warna mobilnya biru metalik dengan latar belakang sunset cocok tidak. (Lingkungan sekitar juga dapat diubah-ubah; mau perkotaan, pantai, dan seterusnya.) Keren kan. Sebelum mobil betul-betul dibuat, mereka dapat melakukan perubahan terhadap desain sehingga dapat menghemat biaya.

IMGP0148 FiVE 1000

Foto di atas menunjukkan situasi di labnya. Kami dapat melihat apa yang dilihat oleh sang pengguna melalui layar lebar yang terpasang di dinding. (Aris Harvenda sedang mencoba, sementara Indra dari Dapurpacu.com sedang mengamati.)

Dari sisi komputasi, karena semuanya dilakukan secara 3D dan real-time, pasti tinggi sekali. Saya tidak tahu berapa besar kemampuan komputasi yang mereka miliki. Setahu saya, lab ini juga terhubung dengan lab-lab lainnya. Entah apakah CPU dari berbagai mesin di lab lain juga digunakan secara bersama-sama atau mereka hanya menggunakan CPU yang ada di tempat itu saja.

Menggunakan VR itu butuh penyesuaian. Agak bingung awalnya. (Bahkan di video-video yang saya lihat di internet, penggunaan VR itu bisa bikin pusing penggunanya sampai jatuh.) Sayangnya saya hanya sempat mencoba sebentar karena harus bergantian dengan yang lainnya. Cukup puaslah melihat teknologi yang ada di Ford ini.


Kekurangan SDM IT

Seperti biasa, selalu saja ada yang nanya ke saya apakah ada orang IT (yang bisa dipekerjakan di perusahaannya)? Biasanya yang bertanya ini sedang mengembangkan perusahaan baru – start up. Ternyata kebutuhan akan SDM IT masih tetap banyak. Repotnya, SDM tersebut tidak tersedia. Saya jadi bertanya-tanya, ke mana saja lulusan sekolahan IT (atau yang terkait) di Indonesia ya? Di Bandung saja ada banyak sekolah komputer.

Ada beberapa alasan mengapa sulit mencari SDM IT yang handal.

  1. Lulusan IT tersebut melanjutkan sekolahnya ke luar negeri (misal mengambil S2/S3 di luar negeri);
  2. Mereka sudah diijon oleh perusahaan besar (yang terlihat lebih memberikan jaminan finansial dan karir di bidang management);
  3. Akhirnya memilih bekerja di bidang non-IT (misal jadi pedagang, bukan warung, dll.);
  4. Lulusan IT itu ketika bersekolah hanya ingin menghabiskan waktu saja (daripada nganggur) ketimbang ingin menekuni bidang IT. Hasilnya ya mereka memang malas untuk bekerja;
  5. apa lagi ya?

Besok akan ada rombongan dari Singapura datang ke Bandung untuk mencari orang-orang IT. Dugaan saya mereka akan pulang dengan tangan hampa. Ugh.


Pendiri Facebook Ada di Indonesia

Ini sebetulnya bukan berita yang super baru karena mungkin Anda sudah membacanya di beberapat tempat yang lain. Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, berada di Indonesia sebagai bagian dari kegiatan internet.org. Salah satu acaranya adalah menemui pak Joko Widodo (Jokowi).

Yang menarik bagi saya dari acara ini adalah potret-potretnya. Salah satu potret yang membuat saya senyum-senyum adalah potret Jokowi mengajak Mark Zuckerberg (MZ) ke Tanah Abang. hi hi hi. Mark dibawa blusukan. Gak tahu juga apa dia nawar celana (jeans?) yang ditunjukkan oleh Jokowi kepadanya. ha ha ha. MZ juga termasuk orang yang sederhana dalam berpakaian.

10661930_327779680762500_680710807921295018_o

Sebelum ke Jakarta, Mark Zuckerberg ke Yogyakarta dulu. Tentunya salah satu obyek wisata yang dia kunjungi adalah Borobudur. Yang menarik adalah di sana ada turis-turis yang tidak kenal siapa itu MZ dan minta tolong kepada MZ untuk memotret mereka. Jadilah si MZ ini fotographer abal-abal. ha ha ha. Bagusnya adalah dia mau saja. Ini dia potretnya.

zuckerberg as photographer

Seru juga ya. Harusnya MZ ke Bandung. Kalau saja dia ke Bandung, saya ajak jalan-jalan seputar Bandung dan Lembang. Akan saya ajak juga lihat Tangkuban Perahu. Terus kami bisa ngobrol soal Internet dan Facebook (yang mulai menurun menurut saya). Eh, tapi biar sajalah dia menikmati liburan dan tidak membicarakan soal kerjaan. Have fun.


Akses Internet di Hotel

Nampaknya akses internet sudah menjadi kebutuhan kita sehari-hari. Eh, kebutuhan saya. Bahkan dulu saya pernah mengusulkan agar akses internet itu adalah hak asasi manusia. hi hi hi. (Ini sebetulnya bukan isapan jempol, jika kita menganggap internet adalah basic telephony.)

Yang menjadi masalah adalah kalau kita sedang berada di perjalanan atau luar kota, akses internet kadang sulit. Kasus khusus adalah di hotel. Seringkali hotel tidak memiliki akses internet yang bagus, atau kalau bagus harganya selangit. Tidak banyak hotel yang memberikan layanan internet gratis dengan kualitas yang cukup baik. Padahal kadang kita harus bekerja di tempat itu; download attachment email, kirim attachment email, mencari gambar untuk presentasi, dan seterusnya. Jangankan untuk kerjaan yang butuh bandwidth besar, bahkan untuk membaca emailnya (teksnya) saja kadang sudah susah. Itulah salah satu sebab saya tidak dapat ngeblog beberapa hari terakhir ini.

Hari ini kebetulan saya menginap di hotel dan ada akses internet yang cukup baik. Alhamdulillah. Ini hal yang jarang. Saya nikmati dulu untuk ngeblog ini.


Kode: Menampilkan Basis Bilangan 10, 2, 8, dan 16

Kuliah “Pengantar Teknologi Informasi” hari ini menjelaskan tentang basis bilangan. Manusia terbiasa dengan basis bilangan 10 atau desimal. Sementara itu, komputer bekerja dengan basis bilangan dua atau biner. Untuk memperjelas dan memberikan contoh bilangan yang sama tetapi ditampilkan dalam basis yang berbeda, saya buat skrip (perl) yang sederhana.

Berikut ini adalah skripnya. (Catatan: saya menuliskannya dengan pakem bahasa C.

#! /usr/bin/perl
# a simple counter to show numbers in 
# decimal, binary, octal, and hex
# Budi Rahardjo - br-paume.itb.ac.id - rahard
# 2014
$n=128;
print "decimal - binary - octal - hexadecimal\n";
print "========================================\n";

for ($i=0; $i <= $n ; $i++) {
   $decimal = sprintf("%04d", $i);
   $binary = sprintf("%08b", $i);
   $octal = sprintf("%08o", $i);
   $hex = sprintf("%08x", $i);
   print "$decimal - $binary - $octal - $hex\n";
   sleep 1; # pause for a second to enjoy the output :)
}

Jika dijalankan, potongan hasilnya seperti ini (sesungguhnya dia berjalan sampai mencapai 256):

decimal - binary - octal - hexadecimal
========================================
0000 - 00000000 - 00000000 - 00000000
0001 - 00000001 - 00000001 - 00000001
0002 - 00000010 - 00000002 - 00000002
0003 - 00000011 - 00000003 - 00000003
0004 - 00000100 - 00000004 - 00000004
0005 - 00000101 - 00000005 - 00000005
0006 - 00000110 - 00000006 - 00000006
0007 - 00000111 - 00000007 - 00000007
0008 - 00001000 - 00000010 - 00000008
0009 - 00001001 - 00000011 - 00000009
0010 - 00001010 - 00000012 - 0000000a
0011 - 00001011 - 00000013 - 0000000b
0012 - 00001100 - 00000014 - 0000000c
0013 - 00001101 - 00000015 - 0000000d
0014 - 00001110 - 00000016 - 0000000e
0015 - 00001111 - 00000017 - 0000000f
0016 - 00010000 - 00000020 - 00000010
0017 - 00010001 - 00000021 - 00000011
0018 - 00010010 - 00000022 - 00000012
0019 - 00010011 - 00000023 - 00000013

Saya kemudian dapat menjelaskan kepada mahasiswa contoh-contoh bilangan dalam beberapa basis. Selamat menikmati. Semoga bermanfaat.


Kapan Memberikan Brosur?

[Seri tulisan entrepreneurship]

Ceritanya begini. Anda sering melihat orang-orang membagikan brosur yang menawarkan produk atau layanan, bukan? Saya juga. Kadang kita sebal karena orang yang menawarkan brosur tersebut tampak maksa. Padahal kita tidak tertarik. Nah, saya akan memberikan pandangan dari sisi lain – dari sisi yang memberikan brosur tersebut.

Selebaran brosur itu bermanfaat untuk memberikan informasi kepada (calon) pelanggan mengenai produk atau layanan kita. Seringkali orang malu atau enggan bertanya. Mereka hanya melihat tulisan atau banner tetapi masih banyak pertanyaan. Sayangnya mereka sungkan untuk bertanya. Nah, untuk orang-orang seperti ini brosur sangat tepat.

Memberikan brosur kepada orang yang tidak memerlukan merupakan hal yang tidak efektif. Selain itu, brosur yang terbuang ini akan menjadi sampah dan tidak ramah lingkungan. Pegawai kadang diberikan target untuk memberikan brosur. Mereka tidak peduli tepat atau tidaknya. Yang penting brosur habis. Ini yang salah. Uang untuk brosur jadi tidak manfaat.

Mengenai kepada siapa brosur tersebut diberikan ternyata tidak mudah. Seperti tadi pagi, di acara Bandung Car Free Day, kami membuka lapak Insan Music Store. Kami juga membagi-bagikan brosur tetapi selektif kepada orang yang kelihatan berminat saja. Menentukan orang yang berminat ini yang susah. Jadi, saya melihat orang-orang yang lewat. Kalau mereka membaca banner kami dengan waktu yang cukup lama dan kelihatan tertarik barulah saya mendekat dan membagikan brosur. Kebanyakan orang hanya melengos saja. (Ini juga mungkin karena sulitnya penempatan banner kami. Di masa yang akan datang, enaknya kami membawa layar komputer yang besar dan biar mereka melihat sendiri saja. Ini lebih menarik.) Akibat pendekatan ini brosur tidak banyak yang kami bagikan, tetapi nampaknya efektif. Itu yang penting.

Next time: bawa genset + layar besar + sound system. Eh, ini mah buat panggung sendiri saja ya? hi hi hi.


Teknologi Informasi Itu Liar!

Kemarin, saya mengajar kuliah pengantar teknologi informasi (introduction to information and communication technology). Yang diajarkan adalah prinsip-prinsip dasar teknologi informasi dan pemanfaatannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengapa ini perlu diajarkan? Menurut saya salah satu alasannya adalah karena teknologi informasi itu liar! Wild!

Bagi Anda yang mengikuti berita terakhir di dunia internet mungkin mengetahui kasus Florence Sihombing. Bagi yang belum, singkatnya begini. Florence menuliskan kata-kata di status Path-nya yang dianggap menghina orang-orang Jogja. Tidak saja dia kemudian di-bully di media sosial, tetapi juga ada yang kemudian mengadukannya ke Polisi sehingga dia sempat mampir di bui. Lepas dari pro dan kontranya, ini adalah salah satu contoh liarnya pemanfaatan teknologi informasi.

Bayangkan begini. Bagi Anda yang punya anak kecil, katakanlah yang masih SD, beranikah Anda melepas anak Anda di jalan tol dengan motor sendirian? Bayangkan, di jalan tol, banyak kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. Sementara anak Anda baru saja mendapatkan motornya satu atau dua hari yang lalu. Seram bukan?

Penggunakan teknologi informasi – misalnya, internet – juga begitu. Anda berikan handphone atau komputer kepada anak Anda dan Anda lepas anak Anda tersebut di internet tanpa pengawasan (pada awalnya). Seram! Salah-salah, tidak hanya sekedar di-bully tetapi bisa masuk bui juga. Hadoh! Maka dari itu pengetahuan tentang teknologi informasi dan pemanfaatannya yang baik dan benar perlu diajarkan.


Internet Cepat Untuk Apa

Ini masih tentang topik “internet cepat untuk apa“. Ada banyak orang yang memang tidak membutuhkan internet cepat. Bagi mereka internet memang hanya untuk bersosial saja; chatting dan mungkin berkirim foto. Bagi sebagian orang lain, internet dibutuhkan untuk kegiatan yang lebih produktif. Sebagian dari ini membutuhkan internet cepat.

Semalam saya nonton video kuliah dari Walter Lewin, seorang profesor (emeritus) dari MIT. Beliau mengajar Fisika dengan sangat menarik. Keren sekali. Silahkan lihat videonya di sini.

Nah saya coba download videonya dengan kualitas yang bagus (MP3, 720p). Ternyata ukurannya hampir 1 GB. Nah lho. Silahkan download ini dengan menggunakan koneksi GPRS atau EDGE. he he he. Saya download supaya dapat ditonton di kelas tanpa menggunakan internet (yang biasanya lambat). Juga agar supaya dapat di-copy oleh mahasiswa yang internetnya lelet.

Videonya menarik sekali. Kuliah memang harus seperti itu ya? Saya angkat topi atas dedikasi, komitmen, dan passion dari pak Walter Lewin ini. Untuk menyiapkan satu kuliah saja dia melakukan latihan (dry run) berkali-kali. Wedasss. Menjura.

Ini hanya salah satu contoh mengapa kami membutuhkan internet cepat. Bagi Anda, internet cepat untuk apa?


Koleksi Karya Ilmiah Mahasiswa

Setelah mahasiswa bimbingan lulus, saya meminta versi digital dari tugas akhir / thesis / disertasi – karya ilmiah – dari mahasiswa tersebut. Tujuannya adalah agar penelitian dari mahasiswa tersebut dapat diteruskan oleh mahasiswa selanjutnya. Mahasiswa penerus ini perlu membaca karya ilmiah dari mahasiswa yang sudah lulus tersebut.

Karya ilmiah tersebut – biasanya dalam format PDF – saya simpan secara pribadi di komputer saya. Ada juga sebagian yang saya simpan dalam akun Dropbox saya. Sayangnya akun dropbox saya hampir penuh. Saya juga menyimpan dalam web site pribadi saya.

Nah, saya kira ada banyak dosen-dosen lain yang melakukan hal yang sama (mengumpulkan karya mahasiswa bimbingannya). Kalau ini dilakukan secara masing-masing (ad hoc) menjadi tidak efisien. Nampaknya ada kebutuhan layanan penyimpanan dokumen ini secara besar-besaran. Sebuah database karya ilmiah mahasiswa Indonesia.

Ada dampak negatifnya, yaitu akan memudahkan plagiat. Orang yang jahat akan dapat melakukan copy-and-paste karya ilmiah tersebut. Untuk itu harus dibuatkan tools untuk menguji apakah karya ilmiah mahasiswa baru ini sudah ada atau mirip dengan karya-karya yang ada di dalam database ini. (Ini membutuhkan software baru. Ayo para pengembang software, silahkan buat ini.)

Berkas juga mungkin dapat dibuat dalam format image (djvu) sehingga tidak terlalu mudah untuk di-copy-and-paste. Atau ini kekhawatiran yang berlebihan?

Apakah ini dapat menjadi potensi sebuah start-up baru? Nah, silahkan.


Nasib Jadi Sysadmin

Tadi pagi saya ke kampus untuk restart (reboot) salah satu server kami, yang merupakan sebuah server email. Dari rumah, server tidak dalah saya akses. Kalau dia tidak dapat diakses, berarti email tidak akan diterima. Macet dan menumpuk di server utama kami. Biasanya kalau sudah begini, kami – para admin – akan menerima email pemberitahuan.

Sampai di kampus ITB ternyata kampus masih tertutup. Saya bisa masuk ke gedung saya setelah memberitahu satpam bahwa saya akan reboot server. Satpamnya pun sudah kenal saya. Pas saya datang ada juga admin lain yang datang karena dia kebagian piket. Beginilah nasib para administrator sistem (system administratorsysadmin). Ketika yang lain santai berlibur, kami harus tetap menjaga server supaya tetap dapat melayani.

Sayangnya masalah yang saya hadapi hari ini bukan di server kami tetapi di gatewaynya. Nampaknya pernah mati lampu dan gateway tidak mau nyala lagi. Kadang memang ada kejadian seperti ini. Gatewaynya harus dinyalakan secara manual. Artinya harus menekan tombol on di depan gateway itu. Saya tidak punya akses fisik ke gateway tersebut. Jadi percuma saja saya restart server kami. Nampaknya harus menunggu sampai adminnya datang ke kampus. (Entah kapan. Senin?)

Eh, ngomong-ngomong beberapa hari yang lalu ada sysadmin day ya?


WiFi gratis, tapi …

Sekarang WiFi merupakan sebuah kebutuhan. WiFi harus ada dan gratis. Anak-anak sekarang kalau ke tempat makan yang dicari adalah WiFi gratisan dulu. Mereka akan merasa aneh kalau tidak ada layanan WiFi gratisan. Semua tempat – kafe, restoran, hotel, rumah sakit, bandara udara, … bahkan warteg (warung tegal) – menampilkan logo WiFi.

[di sebuah warteg berlogo free WiFi]

“Mas, kok WiFi-nya gak jalan”, tanya salah seorang pengunjung warteg.
“Iya nih, restoran di belakang WiFinya gak beres melulu”, jawab pemilik warteg.
Ternyata WiFi-nya ndompleng. hi hi hi.

Sayangnya WiFi gratisan ini seringkali tidak berfungsi. Hotel kemarin juga begitu. Kafe semalam juga begitu. Ini saya sedang di sebuah kedai kopi dan WiFi-nya tidak jalan. Maka saya menggunakan handphone saya untuk mengakses internet. Tethering. Jadi sesungguhnya kita harus ngemodal sendiri.

WiFi gratis, tapi gak jalan. Yaelah


Sekarang Giliran Hacker

Ternyata copras capres masih ribut juga. Kali ini yang mendapat sorotan spotlight adalah … hacker. Ya ampun. Mulailah ada tuduhan-tuduhan bahwa suara digelembungkan oleh hacker. Bahkan sampai ada yang menggabungkan berita bahwa ada hacker asing yang tertangkap dan mereka menggelembungkan suara di KPU. Padahal kedua event itu tidak ada hubungannya. ha ha ha.

Terus mulai juga muncul cerita tentang kerentanan sistem KPU. Yang ini malah menyeret-nyeret nama saya untuk ikut berkomentar. Komentar saya adalah … tidak tahu. Lah wong saya betul-betul tidak tahu faktanya.

Sebagai orang teknis yang menyayangi bidang saya, saya tidak ingin asal komentar tanpa data. Saya harus melihat sistemnya, poke here and there, test this and that, baru bisa mengatakan sesuatu. Kalau sekarang, komentar saya tidak ada manfaatnya. As good as yours. Apakah saya tertarik untuk mengevaluasi ini? Tidak. Kecuali memang saya di-hire secara resmi untuk melakukan evaluasi. Setelah ada data, baru bisa komentar.

Sementara ini saya jadi penonton dulu saja. Sambil ngelus dada. Kemarin yang diobrak abrik adalah ilmu statistika. Sekarang, heker. Eh, information security.


Kabar Gembira

Ada kabar gembira untuk Anda sekalian. Bukan, bukan ekstrak kulit manggis tetapi anak-anak muda Indonesia berkarya!

Salah satu karya yang sedang ramai diperbincangkan adalah karya kumpulan anak muda, yang dimotori oleh Ainun dan kawan-kawannya, kawalpemilu.org. Ini adalah situs yang mengambil data form C1 dari situs KPU dan melakukan konversi dari gambar hasil scan menjadi angka dan melakukan operasi penjumlahan hasil pilpres. Ini merupakan sebuah implementasi nyata dari open data, open government, dan memberdayakan warga (empowering people). Keren sekali.

Hal-hal seperti ini yang membuat saya kembali yakin akan masa depan Indonesia yang cerah. Hebat.

Untuk anak-anak muda seperti Ainun dan kawan-kawan, semoga tidak menjadi lupa diri, sombong, arogan, merasa serba tahu, dan sejenisnya. Tetap gunakan ilmu padi. Oh ya, jangan keseringan masuk berita juga sih. hi hi hi. Keep low profile. I know it’s hard to say no to all the spotlights, but you have to say no. Keep on creating master piece(s).

Oh ya, perlu juga kita apresiasi upaya-upaya yang dikerjakan oleh kelompok-kelompok lain seperti terlihat dalam daftar berikut (dari Kaskus). Keren! You guys rock!

Update: nambah lagi www.pilpres2014.org
The data is obtained by automatic crawling http://pilpres2014.kpu.go.id/ periodically and updated every 6-12 hours. This site is built on top of Windows Azure USA cloud technology and many open source technologies such as KnockoutJS, JQuery, .NET Framework, HTML5, GitHub, Visual Studio 2013, D3 Visualization.
The source-code is shared in Pilpres2014 GitHub under APACHE 2.0 license. Made by Indonesian Microsofties, Henry Tan, Ph.D in Comp Sci, held several patents, previously in Bing team, now working in Microsoft Research.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.852 pengikut lainnya.