Tag Archives: teknologi

Dengan Teknologi …

Salah satu hal yang membuat saya mencintai bidang engineering adalah adanya semangat untuk membuat kehidupan kita lebih baik dengan teknologi. Ada semangat “manusia melawan alam”. Mankind against nature. hi hi hi.

Ada banyak teknologi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Kita menggunakan kendaraan agar dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan lebih cepat dan dengan tenaga yang seminimal mungkin. Tanpa kendaraan, kita harus berjalan untuk mencapai tempat lain. Bahkan kita tidak mungkin dapat menyeberangi lautan. Jangan lupa bahwa teknologi untuk mencetak juga membuat kehidupan kita menjadi baik. Bayangkan kalau buku masih harus ditulis tangan, satu-persatu!

Bagaimana dengan teknologi informasi? Apakah kehidupan kita menjadi lebih baik? Atau malah menjadi buruk? Bagaimana menurut Anda? Salah satu hal yang sering diangkat adalah kita menjadi penyendiri, sibuk dengan gadget kita. Ah …


Industri TV Yang Tidak Kreatif

Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah wawancara. Kalau tidak salah yang diwawancara adalah will.i.am. Topik yang dibahas adalah tentang kreativitas. Salah satu yang dijadikan contoh tidak kreatif adalah TV.

Sejak dari jaman dahulu sampai sekarang tidak ada perubahaan isi / acara TV. Setelah saya pikir-pikir, benar juga. Acara berita di TV dari jaman dahulu (saya ingatnya tahun 70-an) sampai sekarang masih tetap sama. Inovasi yang terjadi di dunia TV hanya MTV. Setelah itu apa lagi?

Kalau para pelaku yang berada di industri TV adalah kreatif, mereka tentunya yang meghasilkan Facebook. Contoh lain yang juga seru adalah masalah popularitas. Lihatlah fenomena Psy dengan Gangnam Style-nya. Sudah lebih dari 700 juta view! Bayangkan. Acara TV mana yang memiliki pepularitas seperti itu?

Hmm… menarik, bukan?


Sulit Menerima Inovasi

Untuk apa ada internet banking? Demikian kata beberapa orang ketika menanggapi layanan baru dari perbankan. Bagi sebagaian orang, layanan perbankan kita sudah cukup. Mengapa pula perlu internet banking? Mereka tidak sadar bahwa ketika ATM diluncurkan, pertanyaan yang sama juga terjadi; “untuk apa ada ATM? Bukankah kita dapat mengambil uang dengan mudah melalui kantor cabang?”. Bagi kebanyakan orang, ATM sudah merupakan kebutuhan dan mungkin tidak percaya bahwa dahulu dibutuhkan waktu untuk meyakinkan orang bahwa ATM itu penting.

Inovasi memang tidak mudah diterima. Dibutuhkan kesabaran untuk mengajarkan produk baru.

Saya ingat ketika mencoba mempopulerkan keberadaan World Wide Web (WWW) di awal tahun 90an(?) muncul pertanyaan yang sama; “Untuk apa ada WWW? Kita kan sudah punya Gopher, FTP, …”  Sekarang? Nampaknya sulit membayangkan dunia tanpa WWW.

Atau mungkin saya yang terlalu cepat ya?


Tanpa Uang Kertas

Jaman sekarang adalah jaman serba digital elektronik. Demikian pula uang katanya akan menuju ke uang elektronik (e-money). Namun karena kita sudah terlanjur banyak menggunakan uang kertas, maka perubahan kebiasaan ternyata tidak mudah.

Salah satu masalah yang dihadapi oleh uang digital adalah aspek anonim. Uang kertas memungkinkan transaksi anonim. Kita memberikan uang jajan kepada anak-anak, cucu, dan keponakan masih menggunakan uang kertas. Kalau di luar negeri, tips di restoran juga masih menggunakan uang kertas (atau logam). Di Indonesia, memberi uang untuk pengemis juga masih menggunakan uang kertas (logam). Belum lagi untuk transaksi di bawah tangan. Padahal katanya jumlah transaksi seperti ini masih cukup besar. Artinya, perubahan ke uang digital masih membutuhkan waktu yang cukup lama.

Di majalah IEEE diceritakan tentang pengalaman seseorang (di Amerika) yang mencoba hidup satu tahun tanpa menggunakan uang kertas. Nah, ada yang berani mencoba ini di Indonesia? Naik angkutan umum bisa gak ya pakai kartu? he he he

Uang kertas (logam) sebetulnya sangat bermasalah. Untuk membuat dan mendistribusikan uang kertas itu sangat mahal. Mungkin uang 2000-an kita itu biaya pembuatannya lebih dari itu. Belum lagi ada masalah dengan uang palsu. Jadi uang digital sebetulnya sangat dinantikan baik oleh regulator ataupun kita sebagai pengguna. Masanya akan datang. Tinggal, kapannya?


Buku Kertas

Ternyata perlu usaha keras untuk menyelesaikan membaca dokumen di layar komputer ini. Baru satu berkas PDF yang saya selesaikan. Ada beberapa lagi yang harus saya baca sebelum merangkumkannya menjadi cerita yang lain. Saya tidak yakin dapat menyelesaikan bacaan ini. Masalahnya adalah, saya lebih suka membaca buku dalam format yang konvensional. Buku kertas.

Apakah ini karena saya berasal dari generasi analog? Bisa jadi. Atau ini hanyalah masalah romantisme masa lalu. Tak dapatkah kita berubah dan menerima teknologi? Sebagai seorang yang termasuk golongan early adopter, nampak aneh jika saya masih mengalami hambatan dalam membaca dengan menggunakan komputer (atau tablet). Namun, ini kenyataan.

Masalah saya dengan buku kertas adalah mereka membutuhkan tempat untuk disimpan. Rumah saya bak kapal pecah untuk soal bahan bacaan. Buku, majalah, print out berserakan di mana-mana. Kecuali saya memiliki rumah yang sangat besar sehingga ada ruang perpustakaan yang juga sangat besar, rasanya memang saya sudah harus beralih ke format elektronik.

Hal lain juga adalah buku kertas menghabiskan … kertas. Tentu saja. Demi alam, nampaknya saya harus ikut menghemat penggunaan kertas dan beralih ke ebook. Waaa…

[masih berjuang keras untuk membaca ...]


Tanggung jawab desainer?

Apakah seorang desainer bertanggung jawab terhadap produk yang dia buat? Pertanyaan ini muncul karena baru saja saya membaca materi presentasi (sebetulnya flash card) yang menceritakan bagaimana desainer dapat menciptakan atau mengubah atau mengarahkan behaviour dari pengguna produknya. Terus kepikiran, bagaimana kalau desainer itu membuat sebuah produk yang hasilnya menimbulkan kebiasaan buruk? Mestinya dia ikut bertanggungjawab ya?

Nah, kalau saya membuat produk teknologi informasi (hardware dan software) yang menimbulkan kebiasaan buruk apakah saya harus bertanggungjawab? Misalnya, saya membuat sebuah layanan social network di mana orang boleh mengumpat-umpat. (Tujuannya adalah sebagai outlet untuk melepaskan kekesalan.) Akibat dari layanan ini ternyata orang jadi terbiasa mengumpat. Nah lho. Bagaimana ya?

Contoh yang paling dekat dengan kita adalah SMS. Gara-gara SMS yang terbatas jumlah karakternya maka muncullah orang yang senang menyingkat tulisannya. aq mo k situ.

Kalau saya membuat produk atau layanan yang bisa bikin orang tertawa mungkin dapat pahala ya? he he he.


Distribusi Produk Digital

Tadi pagi saya ikut bagian dari acara Ganesha Film Festival. Saya ikut diskusi di Focus Group Discussion. Sebetulnya saya diminta untuk memberikan opini tentang teknologi yang terkait dengan produksi film, tetapi diskusi mengarah ke hal-hal lain seperti distribusi.

Saya jadi ingat “topi” saya yang lain, yaitu yang terkait dengan penjualan atau distribusi musik digital. Saya pikir topik ini lebih relevan dengan yang datang, yaitu para pembuat film indie.

Ceritanya panjang, tetapi saya buat rangkumannya saja ya.

Yang pertama, saya mengajak pala pembuat film ini untuk memperhatikan masa depan distribusi film yang bernuansa teknologi. Semestinya kita bisa belajar dari kesalahan dan benarnya kita dalam mendistribusikan musik dalam bentuk digital. Jangan terpaku dengan bioskop sebagai outlet. Masih banyak outlet lain seperti youtube :) Dunianya sekarang sudah bukan dunia MTV lagi tetapi sudah dunia YouTube.

Yang kedua adalah untuk mestikan keinginan diri kita sendiri. Apakah kita ingin menghasilkan karya yang merupakan bagian dari industri atau kita ingin lebih mengutamakan aspek seninya. (Biarlah saya menggunakan dikotomi ini.) Apa yang diinginkan? Popularitas? Uang (sebagai pengganti ongkos produksi)? Atau lebih ke aspek penyampaian pesan? Budaya? Perbedaan ini akan menentukan strategi.

Yang ketiga, pasti akan ada kebutuhan peralatan (teknologi) yang  terkait dengan pembuatan film. Ya, peralatan ini memang dibutuhkan. Ada yang murah dan ada yang mahal, tetapi saya tidak ingin agar mereka menjadi cengeng dan berkeluh kesah dengan harus bayar ini dan itu untuk menyewa peralatan. Ada banyak jalan yang harus ditempuh. Misalnya shared resources, ajak-ajak orang (kelompok) yang suka teknologi untuk menggeluti teknologi film. Di luar negeri juga begitu :)

Yang keempat, … selamat berkreasi. Produktif!


Cyberlaw Untuk Wormhole

Salah satu masalah yang terkait dengan hukum adalah batasan ruang dan waktu (time and space – lho kok terjemahaan nggak urut ya?). Jaringan komputer seperti internet menghapuskan batas ruang dan waktu. Maka hukum pun harus diperbaharui dengan yang namanya cyberlaw.

Hukum sekarang harus memperhatikan teknologi karena teknologi sudah mempengaruhi kehidupan manusia.

Baru saja saya melihat acara tv National Geographic Channel tentang wormhole. Kita bisa melewati jalan pintas untuk ruang dan waktu yang berjauhan. Nah … kalau nanti wormhole menjadi kenyataan maka hukum akan terpengaruh lagi. Wah, nampaknya pakar hukum harus melek teknologi juga. Mungkin bahkan tidak sekedar melek saja tetapi paham benar dengan teknologi.

Eh, wormhole itu apa ya? hi hi hi


Yang Terbaca

Akhirnya ada kesempatan untuk membaca satu majalah dari tumpukan yang harus dibaca. Asyik juga membaca di front porch sambil berjemur. Yang terbaca adalah majalah IEEE Spectrum (edisi 05.09). Berikut ini adalah beberapa hal yang terbaca oleh saya.

Ada perusahaan yang mencoba membuat cara untuk mengirimkan listrik secara wireless. Katanya teknologinya berbasis magnetic resonance. (Halah? Apa itu? Gak ngarti. Biarin.)

Kemudian di bagian “geek life” ada cerita tentang David X. Cohen “Futurama“. Ini adalah salah satu episode di seri The Simpsons. Wah saya belum nonton. Sudah lama tidak nonton The Simpsons. Harus cari Futurama ini. Ceritanya adalah ada robot yang bernama Bender. Nah, kepala dari si Bender ini di X-Ray (atau kalau di cerita ini di F-Ray) ternyata dia dijalankan dengan mikroprosesor 6502.

Bagi old geek seperti saya, 6502 ini memiliki kenangan khusus. Dia adalah mikroprosesor yang digunakan di komputer Apple ][ jaman dahulu. Nah, editor majalah IEEE Spectrum ini kemudian mewawancara David X. Cohen tentang kenapa ada 6502 di situ. Ternyata Cohen juga seorang geek! hi hi hi. Wah susah menceritakan betapa senangnya geek ketemu geek seperti ini.

6502 rules!

Kemudian ada artikel singkat  tentang games "Time Engineer" dimana anak-anak diajari untuk memecahkan masalah (sampai jaman kuno) dengan menggunakan apa yang ada. Misalnya, bagaimana membangun piramid? Wah, kayaknya menarik games ini. Ada yang sudah pernah memainkan?

Sekarang saya sedang membaca tentang kompetisi yang dilakukan oleh Netflix, yaitu mencari algoritma yang paling bagus untuk mengetahui film kesenangan orang. Netflix menyewakan film melalui internet. Salah satu fitur yang ada di sana adalah adanya saran (suggestion) film yang cocok untuk pelanggan. Seperti fitur yang ada di Amazon.com. Bagaimana menentukan film yang cocok ini?

Ada berbagai algoritma. Misalnya, kita bisa melihat pelanggan lain yang memiliki kesukaan film yang sama (mirip) kemudian melihat film lain yang belum ditonton oleh pelanggan ini (yang ratingnya juga tinggi), dan seterusnya. Ada banyak algoritma atau ide lain. Nah, ternyata mencari algoritma yang bagus ini tidak mudah sampai-sampai Netflix membuat sayembara dengan hadiah US$ 1 juta. Wuih.

[Masih membaca. Isinya asyik semua. Great Sunday morning.]


Bagaimana Membuatmu Jatuh Hati

Begitulah mungkin judul yang akan saya berikan untuk presentasi saya tanggal 2 Februari di Netsains. (Kata Merry, ibu yang melahirkan netsains.com itu, 2-2-2 mas. Lho? Maksudnya tanggal 2, bulan 2, jam 2. Bagus juga ya? You know how I love numbers. he he he.) Sebetulnya judul lengkapnya adalah “Bagaimana Membuatmu Jatuh Hati Pada Sains dan Teknologi“, tetapi kepanjangan ya? Jadi katanya dibuat berhenti saja, sehingga bisa multi interpretasi. hi hi hi. Itupun kalau belum diubah oleh Merry.

Acara itu mungkin merupakan presentasi publik pertama saya untuk tahun 2008. (Kecuali kalau tiba-tiba saya harus presentasi karena sudah ada bookingan menjadi MC/presenter itu. hi hi hi. Alih profesi bener nih.)

Eh, acaranya ada di STC Senayan. (Dimana itu ya?) Katanya sih di acaranya hanya disediakan 30 tempat duduk. Saya tanya kalau ada yang mau datang (nonton dan sekaligus kopdar?) terus berdiri boleh nggak? Lagi mau ditanyakan kepada panitia. Jadi kalau Anda mau datang, kasih tahu ya, biar saya teruskan ke panitia.


Meramal Tahun 2008

Ada beberapa media yang meminta saya untuk menuliskan “Ramalan IT 2008″. Istilah kerennya sih “Trend IT 2008“. Sayangnya bulan Desember ini saya terlalu sibuk sehingga tidak dapat memenuhi permintaan tersebut. Ada juga yang mewawancarai saja.

Sebetulnya ada beberapa pemikiran saya tentang IT di tahun 2008, yaitu … ehm, … eh, … anu, … hmm … begini, … waduh … [titik-titik]

Bagini saja, isi sendiri titik-titiknya ya?

Kalau menurut Anda, bagaimana perkiraan IT 2008?

[Foto diambil oleh mas Julianto, tengah malam di gedung Cyber. Ada puluhan - ah mungkin lebih dari 100 foto yang diambil malam itu. Mas Jul jarang memotret laki-laki. Kebanyakan obyeknya adalah perempuan. Lihat saja situs webnya. Kayaknya saya dijadikan eksperimennya. Repot kalau saya diminta pose seperti perempuan. Waduh. Gak mau ah. ... Sedikit demi sedikit saya upload. Tapi ada foto yang mungkin terlalu wah ... narsis. he he he. Nanti saya tampilkan juga deh. Ini merupakan salah satu cara untuk membersihkan sampah digital juga. Lah, kok malah jadi out of topic begini? Cerita fotonya malah lebih panjang dari isi tulisannya. Inilah yang namanya bungkus lebih mentereng daripada isi. hi hi hi. Yang penting asal mangap. Bungkuuusss...]


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.