Tag Archives: TI

Linux: Nemo gagal, Nautilus bisa

Sudah lama tidak nulis tentang hal yang teknis. Kali ini mau nulis tentang Linux ah.

Ceritanya saya mau mem-backup beberapa berkas ke disk eksternal. Karena komputer bergerak saya adalah Macbook dengan Mac OS X, maka disk eksternal saya format dengan menggunakan file system HFSplus. Di Linux (Mint) saya pasang program yang dapat membaca dan menulis untuk file system HFSPLUS itu.

Keanehan muncul ketika saya ingin memindahkan berkas dari Linux ke disk tersebut. Katanya file system hanya dipasang read-only. Saya baca berbagai dokumentasi di internet. Katanya file system HFS yang digunakan jangan diset journaling. Saya memang spesifik tidak mengaktifkan fitur journaling ini ketika melakukan formatting disk di Mac OS X. Mestinya sudah ok.

Penasaran. Saya coba menggunakan terminal untuk menuliskan sesuatu di disk itu; “touch junk“. Eh, bisa. Artinya memang disk itu sudah dipasang baca tulis. Saya kemudian menduga ini masalah dengan file manager yang saya gunakan, Nemo. Akhirnya saya pasang file manager lain, Nautilus. Saya coba copy berkas tersebut. Bisa! Nah. Saya belum menemukan sumber masalahnya, kenapa-nya, tetapi setidaknya saya sudah dapat melakukan backup dengan Nautilus.

Semoga kalau ada yang punya masalah seperti yang saya jelaskan di atas dapat mengatasinya. Hidup Nautilus!

[Catatan tambahan: Saya belum mencoba untuk me-reboot komputer. Siapa tahu ada masalah dengan permission dari si Nemo yang menjadi betul lagi setelah di-reboot.]


Memasang Linux Mint

Komputer baru sudah datang. Dia datang kosong, tanpa sistem operasi. Sekarang kan toko komputer sudah tidak boleh lagi memasang sistem operasi bajakan. Hal ini tidak terlalu masalah dengan saya karena saya sendiri akan memasang sistem operasi Linux. Tinggal memilih Linux yang mana.

Ada tiga pilihan saya; Debian, Ubuntu, atau Linux Mint. Sebetulnya ada banyak Linux yang lain. Hanya tiga itu yang menarik bagi saya. Masing-masing punya alasan tersendiri. Sebelumnya saya hampir selalu menggunakan Debian. Untuk server, saya masih menggunakan Debian. Untuk desktop saya kemudian menggunakan Ubuntu. Nah, kali ini saya ingin mencoba Linux Mint.

Sebelumnya saya sudah memasang Linux Mint melalui virtual box di Macbook saya. Kelihatannya tampilannya lebih menarik dibandingkan Ubuntu. Saya hanya khawatir masalah dukungan (support) saja. Karena semua sebetulnya berbasis Debian, saya tidak terlalu khawatir kalau ada masalah. Worst case, saya bisa kembalikan ke Debian. Itulah sebabnya saya putuskan untuk memasang Linux Mint saja kali ini.

Pemasangan Linux Minta saya lakukan dengan menggunakan flashdisk. Komputer di-boot dengan menggunakan flashdisk melalui USB. Langsung Linux Mint hidup secara live. Kemudian saya tinggal memilih “Install Linux Mint” dan semuanya selesai.

Saya hanya menemukan satu masalah dalam instalasi Linux Mint ini, yaitu dia langsung menggunakan seluruh partisi hardisk saya (500 GB). Wah. Padahal biasanya saya mempartisi disk tersebut menjadi beberapa partisi. Alasan saya adalah kalau ada masalah (crash, tidak konsisten, dan sejenisnya) maka memperbaikinya (melalui fsck) maka tidak semua disk yang harus dibenahi. Paling-paling partisi yang bermasalah saja yang perlu di-fsck dan ini menghemat waktu.

Setelah terpasang, saya hanya perlu kembali memboot komputer dengan flashdisk instalasi lagi dan mengubah (resize) partisi dengan menggunakan program GParted yang sudah ada di menu Linux Mint. Beres.

Yang saya sukai dari pemasangan Linux Mint adalah kemudahan dan kecepatannya. Biasanya untuk memasang Debian atau Ubuntu saya harus mengambil (download) ini dan itu. Akibatnya proses instalasi dapat berlangsung semalaman. Maklum link internet saya kan terbatas. Linux Mint tidak demikian. Semuanya sudah terpasang. Tentunya nanti akan ada software yang akan saya pasang lagi, tetapi ini tidak dilakukan secara default. Setidaknya, saya sekarang sudah dapat bekerja. Ini saya langsung ngeblog :)

Jika tidak ada masalah dalam satu dua hari ke depan, maka saya akan menggunakan ini sebagai OS default. Data dari disk yang lama akan saya pindahkan ke sini. Saya mulai bekerja dengan menggunakan ini.

Kesimpulan, saya menyukai Linux Mint ini.


Setup Komputer

Pindah desktop bagi saya artinya setup berbagai hal. Pertama, saya harus pasang software-software yang biasa saya pakai. Sebagai contoh, untuk browser saya harus pasang Google Chrome dulu. Setelah itu saya harus download add-ons yang biasa saya gunakan. Untungnya, Chrome bisa melakukan sinkronisasi konfigurasi saya begitu saya login. Ini artinya harus nyambung ke internet dengan lumayan bagus.

Hal berikutnya yang saya lakukan adalah download fonts yang biasa saya gunakan. Nah, yang ini saya belum punya daftar yang tetap. Seharusnya fonts-fonts ini saya download di satu tempat dan dipaketkan sehingga kalau pindah komputer langsung fonts ini bisa dipasang sekaligus. Sementara ini saya download satu persatu dari Dafonts.com atau tempat-tempat lain. Fonts yang biasanya saya gunakan antara lain Georgia (yang ini harus dipasang kalau komputer saya pakai Linux), JackInput (untuk fixed width fonts), Droid Serif, Droid Sans, Source Sans Pro. Setidaknya itu.

Fonts bagi saya cukup penting untuk mengubah suasana agar tidak membosankan. Sebagai contoh, untuk menulis blog saat ini saya menggunakan kombinasi dari Georgia dan JackInput. Nulis berikutnya mungkin sudah saya ganti fontsnya :)

Setelah itu ada aplikasi wajib lain yang biasa saya gunakan. Misalnya kalau di Windows, saya harus pasang putty (untuk ssh), Photoscape (untuk memproses foto), iTunes, Adobe Acrobat Reader, dan seterusnya. Lagi-lagi, harusnya ini semua saya buat paketnya yang tinggal dipasang kalau saya harus pindah ke komputer lain. Alasan tidak dilakukan, malas. Ha


Bermain-main Dengan Fonts

Seperti telah saya tuliskan sebelumnya, saya mengubah-ubah tampilan situs di layar saya agar saya tidak bosan. Salah satu yang dapat saya ubah adalah penggunaan fontsnya. Dahulu mengubah ini agak susah. Sekarang hal ini mudah dilakukan dengan menggunakan Stylish. Berikut ini langkah-langkah yang saya lakukan.

Pertama, tentu saja pasang Stylish untuk browser Anda. Silahkan ambil ini dari userstyles.org. Untuk browser Firefox, Stylish ini menjadi add-ons.

Setelah Stylish terpasang, Anda sebetulnya dapat mengambil berbagai style dari userstyles.org untuk mengubah tampilan situs sesuai dengan apa yang Anda inginkan. Perubahan bisa signifikan, tidak hanya mengganti fonts saja.

Untuk mengubah tampilan fonts, saya membuat style sendiri. Isi dari style saya adalah sebagai berikut.

@-moz-document domain("rahard.wordpress.com") {
* { font-family: "JackInput", "HelveticaNeueLT Std", "Helvetica Neue", "Helvetica", "HelveticaNeue", Arial, sans-serif; !important;
text-shadow: none !important; }

Pada contoh di atas, saya mengubah fonts menjadi “JackInput” ketika browser mengunjungi / menampilkan situs rahard.wordpress.com. Untuk situs lain, Anda dapat menyesuaikan domain tersebut. Misalnya Anda ingin tampilan gmail dan twitter menggunakan fonts yang berbeda, tinggal ganti domain tersebut. Jika baris tersebut dihilangkan, maka semua situs akan ditampilkan dengan fonts tersebut.

Demikian. Selamat ngoprek.


Dari Facebook ke Twitter

Saya dengar dari orang-orang bahwa mereka sekarang mulai lebih banyak mengakses twitter dibandingkan facebook. Apakah Anda juga demikian? (Saya, tidak.) Statistik terakhir memang menunjukkan ada penurunan yang tajam dari jumlah pengguna facebook Indonesia. Akhir dari jaman kejayaan facebook?

Twitter memang lebih mudah diakses. Ukuran datanya yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan facebook memudahkan dia diakses oleh handphone yang paling sederhana sekalipun. Cepat diakses. Cepat berkicau :)

Atau karena sekarang sudah banyak outlet social media yang lain selain facebook, seperti misalnya Google Plus, pinterest, path, dan seterusnya sehingga atensi terpisah-pisah?


Simpan Berkas Online

Siang nanti saya mau memberi presentasi (tentang Pusat Penelitian kami), tapi ternyata materi presentasinya tidak ada di notebook saya. Maklum, materi presentasi yang saya cari mungkin saya buat 5 tahun yang lalu dan mungkin ada di komputer desktop di rumah. Soalnya notebook saya, Macbook, usianya baru 3 tahun. Jadi berkas-berkas yang lama ada di desktop. Mungkin …

Kepikiran lagi untuk menyimpan berkas-berkas secara online. Ada usulan tempat? Maunya sih yang bisa menyimpan untuk privat (tidak untuk konsumsi publik juga). Memang materinya tidak rahasia sih, hanya saja memang tidak untuk konsumsi publik. (Misalnya, risalah rapat lab.) Apakah slideshare dan scribd cukup? (Dulu pernah mau coba adrive, tapi ditolak oleh proxy di kampus. he he he.)

Saran?

Sekarang saya membuat materi presentasi lagi …


MacBook Panas Kalau Dipangku

Aneh juga ya. Saya perhatikan, Macbook saya (yang casingnya terbuat dari aluminium, bukan yang putih) cepat panas kalau saya gunakan dengan dipangku. Dia tidak begitu panas kalau saya gunakan di atas meja kerja.

Apakah ini ada hubungannya dengan cara disipasi panasnya Macbook ini? Apakah badan notebook yang terbuat dari aluminium ini berfungsi sebagai heat sink?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.778 pengikut lainnya.