Tag Archives: twitter

Banyak-banyakan Follower

Entah kenapa saya mendapat kesan banyak orang yang berusaha untuk mendapat banyak follower di akun twitternya. Kenapa? Untuk apa? Apakah kalau seseorang itu lebih banyak followernya berarti dia lebih populer? Lebih keren? Lebih apa gitu?

Di sisi bisnis memang saya melihat ada tren pemanfaatan twitter untuk promosi. Orang yang banyak followernya dianggap memiliki jumlah pemirsa yang banyak sehingga cocok untuk tempat beriklan. Apakah dalam hal ini follower dari twitter dapat dianggap sama dengan pengunjung blog?

Maka akibatnya ada orang-orang yang melakukan berbagai hal – termasuk yang nyerempet masalah etika – untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya follower. Anda juga mau / sudah melakukan hal tersebut?

Yang lucu itu begini:

Karena ingin banyak follower, maka seseorang dia¬† buat akun-akun palsu yang banyaaakkk sekali. Kemudian akun-akun palsu ini memfollow dirinya sendiri (akun aslinya). Hasilnya jumlah followernya jadi banyak. Horeee. Setelah banyak, dia kepikiran. Hmm… bagaimana kalau aku mengiklankan kepada followersnya sendiri. Maka mulailah dia mentwit iklan di akunnya. Harapannya followernya banyak yang beli produk yang diiklankannya.

Kemudian dia pas login ke akun-akun palsunya, kok banyak iklan yang menarik. Maka belilah dia produk-produk yang dia tawarkan itu. Dua-duanya happy. he he he. Betul kan?


Tidak Kultwit

Entah kenapa saya kok kurang sreg dengan kultwit, yaitu “kuliah” dengan menggunakan twitter. Tentu saja ini bukan seperti kuliah konvensional.

Apa ya yang membuat saya kurang sreg?

Yang pertama adalah ada perasaan kita “merendahkan” (watered down) materi yang ingin kita sampaikan. Bahkan dengan pertemuan tatap muka yang langsung mengajarkan materi saja sudah sulit diserap, ini apalagi dengan menggunakan medium yang hanya 140 karakter. Saya sebetulnya menyukai hal-hal yang baru, maju, terdepan, avant garde, tetapi ini sudah berlebihan.

Yang kedua, twitter adalah media yang sifatnya sekarang. Setelah itu, hilang. Maksudnya begini. Kalau kita ingin melihat catatan “kuliah” kita yang lalu bagaimana? Apakah kita menyimpan apa yang kita tuliskan 6 bulan yang lalu? Yang seperti ini lebih mudah dengan menggunakan blog, misalnya.

Yang ketiga, saya merasa banyak yang melakukan kultwit hanya bertujuan untuk menambahkan jumlah follower. Lah? Bukankah fungsi utama dari kultwit itu adalah “kuliah”? Yaitu mengajari.

Jadi gimana ya? No kultwit for me. At least, for now.


Twit Yang Ke 10.000

Barusan saya menuliskan twit saya yang ke 10.000! Horeee … Ini snapshot dari tampilan profil saya (@rahard) di web twitter.

Katanya kalau sudah melakukan sesuatu sebanyak 10.000 kali (atau 10 tahun), maka seseorang dapat dikatakan pakar (expert). Jadi, saya sekarang bisa bilang bahwa saya pakar nge-twit. he he he.

Padahal banyak orang yang sudah dari kapan-kapan mencapai 10.000. Kalau yang itu namanya bawel. ha ha ha.

Pertanyaan berikutnya adalah kapan blog saya mencapai 10.000 tulisan ya? Kalau setiap hari 1 tulisan, berarti dibutuhkan 10.000 hari ya? Hadoh. Berapa tahun itu? Seagai catatan untuk sekarang saja (sekitar 3000-an), saya membutuhkan waktu sekitar 10 tahun!


Twitter Ngaco

Entah kenapa, tiba-tiba jumlah twit saya dikorting oleh twitter menjadi sekitar 150-an (dan sekarang mungkin sudah 170-an). Padahal sebelumnya jumlah twit saya sudah mencapai lebih dari 2000. Saya ingat ini karena pernah membuat sebuah “target” bahwa jumlah twit saya harus dua kali jumlah followers. (Target nggak nyambung.) Waktu itu jumlah follower-nya sekitar 1000-an dan saya berhasil meng-twit lebih dari 2000 :)

Untungnya twit saya tidak penting, tetapi ada orang-orang yang menggunakan twitter sebagai mekanisme untuk mengajar, memberikan informasi, atau mencatat URL (atau hal-hal kecil – menjadikan twitter seperti notes). Untuk hal-hal seperti itu catatan (archive) dari twit mereka mungkin penting. Itulah sebabnya lebih baik menggunakan blog untuk hal itu. Twitter untuk hal-hal yang tidak penting saja?

Tapi tidak apa-apa. Pengortingan ini bisa jadi alasan untuk ngamuk meng-twit lagi. he he he. Yuk mari …

Sementara itu … setelah saya pikir-pikir, hasilnya seperti ini:

you can measure one’s unproductive time by counting the number tweets they produce

he he he …

[Membaca kembali tulisan saya di atas agak lucu juga. Banyak kata-kata yang kalau dibaca 10 tahun yang lalu mungkin tidak bisa dimengerti. Apa itu twit? hi hi hi. Nampaknya akan banyak kata-kata teknis yang bakalan masuk ke kamuas.]


Pengguna Twitter Indonesia no #1 di Asia Pasifik

Kata berita di sini, penetrasi pengguna twitter dari Indonesia menduduki ranking nomor satu di Asia-Pacific (20.8%)

http://www.zdnetasia.com/indonesia-has-highest-twitter-penetration-62202044.htm

waaahhh… Setelah facebook, kini kita juga mendapat ranking di twitter. Keplok? Senang? Sedih? Jedotin kepala ke dinding? :-)

Ternyata statistik ini yang digunakan oleh BBC ketika mewawancarai saya tadi sore. (Katanya ditayangkan hari ini di radio dan web.) Saya tadinya tidak percaya, karena terdengarnya seolah-oleh nomor satu di dunia. Eh, ternyata nomor satunya di Asia-Pacific. Nah, kalau itu baru percaya.


Twit dipantau

Baru saja saya nge-twit (di twitter.com) tentang lagu Girl-nya Beatles. Eh, langsung “The Beatles (Beatles Twit)” followed. Itu account twitter yang isinya tentang Beatles. Hah? Jadi seperti itu ya caranya? Langsung ditambahkan.

Pernah juga saya cerita tentang arti dari sebuah lagu (songmeaning), langsung juga ada yang followed dari songmeaning. Jadi kelihatannya ada program yang memperhatikan konten dari twitter (yang memiliki kata-kata tertentu) kemudian menambahkan orang tersebut ke dalam daftar yang kita ikuti (follow). Ada yang tahu programmnya?

Tapi pikir-pikir mereka akan cape sendiri ngikutin twit saya karena isi twit-nya tidak tentang Beatles atau lagu, tapi bervariasi. Dalam bahasa Indonesia pula. hi hi hi. Biarin deh. Biar mereka puyeng sendiri. Salah sendiri nge-follow. he he he.


Sambungkan Blog Ini Dengan Twitter?

Saya lihat di beberapa tempat ada saran untuk mempublikasikan blog melalui twitter. Saya sendiri punya account twitter, tetapi account itu saya gunakan ketika sedang mood saja. Isinya juga tidak terlalu penting. Tapi … menyambungkan dengan blog (ini dan blog lainnya)? Saya khawatir nanti follower di sana malah muntah.

Lagi pula, tujuan menyambungkan blog dengan twitter adalah untuk mempopulerkan atau memperkenalkan blog. Nah, saya (soknya) tidak memiliki tujuan itu. Jadi gimana ya?

Bagaimana menurut Anda? Apakah memang sebaiknya blog ini disambungkan dengan twitter saya?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.768 pengikut lainnya.