Mau Diapakan Majalah Ini?

Pertama, saya harus mengaku dulu. Saya tukang mengumpulkan majalah dan buku. Ada banyak majalah yang tidak dapat saya buang. Kalau buku mungkin mudah untuk menerima agar dia tetap disimpan. Nah kalau majalah? Sebagian besar orang akan membuang majalah. Saya menyimpannya. Untungnya majalah yang saya baca adalah majalah teknis, seperti IEEE Spectrum, IEEE Computer, dan seterusnya.

Ini adalah foto yang saya ambil beberapa menit yang lalu.

P_20160724_125325-01

Ini adalah tumpukan majalah IEEE Spectrum yang berada di lantai. Tadinya dia berada di atas meja kerja, tetapi saya turunkan karena mejanya mau dibersihkan dahulu. Masih ada banyak tumpukan lagi yang sejenis. Banyak sekali. (Tidak saya foto karena mengerikan. hi hi hi.)

Saya tahu bahwa majalah-majalah ini – misal yang IEEE itu – ada versi digitalnya, tetapi saya masih suka memegang versi fisiknya. Tampilannya lebih indah dan saya dapat membuka halaman-halaman dengan mudah. Kalau nanti bentuknya digital, saya khawatir akan susah menemukan mereka kembali. (Ya saya tahu ada fitur search dan sejenisnya, tetapi mereka tidak efektif kalau saya mencari tulisan di majalan dalam bentuk fisik ini.) Suatu saat saya akan pindah ke versi digital. Mungkin. Untuk sementara ini saya masih suka versi fisik.

Masalahnya adalah dimana saya dapat menyimpan mereka? Lemari buku saya sudah penuh dengan buku-buku. Bahkan buku-buku juga berterbaran di segala penjuru rumah. Sering saya heran kalau bertamu ke rumah orang dan melihat tidak ada buku di rumah mereka. Mungkin buku-bukunya sedang bersembunyi di ruang perpustakaan mereka?

Kembali ke masalah “menyampah” majalah ini. Jadi majalah-majalah ini harus saya apakan?

Tolong!


Pak Budi, ya?

Sebelum futsal kemarin sore, saya mau shalat dulu di mushola lapangan futsal YPKP. Ternyata kucuran airnya kecil. Jadi saya putuskan untuk shalat di masjid YPKP saja yang jaraknya tidak jauh dari situ. Sekalian, di sana ada Pokemon. ha ha ha.

Setelah shalat, saya duduk sebentar. Ah mau nangkap Pokemon dulu ah. hi hi hi. Tapi kok ada yang ngelihatin dari tadi. Wah, jangan-jangan dia mau menertawakan saya karena saya mainan Pokemon Go. hi hi hi.

Setelah mau beranjak ke luar masjid, ternyata dia mendatangi saya dan menegur.

“Pak Budi, ya?”

Ya ampun. Oh, ternyata dia berkata bahwa dia mengenali saya dari halaman blog ini. Kirain mau nanya kenapa saya mainan Pokemon Go. hi hi hi. Ngobrol sebentar sebelum saya kembali ke lapangan futsal. “Masih ngeblog tiap hari pak?” Wah, sekarang agak susah tiap hari. Niatnya sih masih ada, tapi kenyataannya kadang-kadang terpaksa molor.

Sudah beberapa kali kejadian mirip seperti ini. Pernah suatu saat (kalau tidak salah somewhere di Pondok Indah), saya kelaparan dan mencari warung di pinggir jalan. Makanlah saya di warung itu. Setelah selesai makan, ada yang menegur … “Pak Budi, ya?”. Ha ha ha. Hadoh.

Yang repot untuk situasi seperti ini adalah, dia mengenali saya dan saya tidak mengenali dia. Saya berada pada posisi yang susah dan membuat saya menjadi kikuk. Maklum, nanti disangka sok lah. Saya juga sulit menghafal nama. hi hi hi. Jadi kalau saya berada pada situasi seperti itu, mohon dimaafkan ya.


Ke(Tidak)harusan Merespon Chat

Sekarang banyak orang yang terjebak dalam keharusan merespon pesan-pesan yang muncul di aplikasi chat (seperti WhatsApp / WA, Telegram, dan sejenisnya). Setiap ada pesan yang muncul di program chat tersebut, maka dia merasa harus merespon dengan segera. Kalau tidak merespon, maka dia merasa tidak enak dengan orang yang mengirimkan pesan tersebut. Akibatnya, orang yang banyak memiliki group di WA atau Telegram akan disibukkan dengan merespon pesan-pesan tersebut sehingga dia terlalu fokus kepada handphonenya. Tidak memperdulikan sekelilingnya di dunia nyata.

Aplikasi chat sebetulnya didesain untuk komunikasi asinkron. Maksudnya, pihak-pihak yang berkomunikasi TIDAK HARUS online pada saat yang sama. Ini berbeda dengan telepon, yang mana kedua belah pihak yang bertelepon harus ada pada saat yang sama. Yang ini disebut sinkron. Artinya, pengguna aplikasi chat tersebut tidak harus merespon dengan segera karena sesungguhnya dia asinkron.

Kalau dahulu sebelum ada aplikasi WA/Telegram itu kita sebenarnya sudah mempunyai SMS yang juga sifatnya asinkron. Tetapi karena SMS itu berbayar, maka pihak-pihak yang berkomunikasi sadar bahwa respon tidak harus segera dan harus dipikirkan dulu. Bayar soalnya. Respon harus singkat dan kalau bisa tidak banyak-banyak. Mahal. Sekarang aplikasi WA/Telegram dapat dianggap “gratis”, meskipun sesungguhnya kita bayar akses internetnya. Gratis ini karena dilihat bayarnya bukan dari jumlah pesan yang kita kirim atau terima. Akibatnya “tuntutan” menjawab segera dan banyak itu terasa ada. Kenapa kamu tidak membalas segera? Kan gratis.

Usul saya, kita harus menggunakan aplikasi WA/Telegram itu secara wajar saja. Jika perlu direspon segera, ya segera. Tetapi kebanyakan pesan di WA/Telegram – terutama di group-group yang tidak terlalu penting, yang hanya ngobrol ngalor ngidul – tidak perlu harus direspon segera. Tahan diri untuk berkomentar. Seperti di dunia nyata, Anda juga tidak perlu harus berkomentar (dan cerewet) untuk semua hal. Yang wajar-wajar saja. Secukupnya saja.

Berikan waktu yang lebih banyak untuk berkomunikasi dan berinteraksi di dunia nyata.


Keamanan Aplikasi Pokemon Go

Saat ini aplikasi Pokemon Go sedang mendapat sorotan. Aplikasi ini membuat berbagai “kegaduhan” di berbagai negara. Pengguna atau pemain aplikasi Pokemon Go ini sering terlalu serius dalam berburu monster (Pokemon) sehingga melupakan berbagai aspek, termasuk keselamatan dirinya. Saya jadi ingat masa kecil bermain layang-layang dan berburu layangan yang putus ke jalan tanpa mengindahkan keselamatan diri. hi hi hi.

Di Indonesia sendiri aplikasi Pokemon Go ini belum diluncurkan secara resmi, tetapi ini tidak menghalangi orang-orang untuk mencari aplikasi dari tempat-tempat yang tidak resmi. Jumlah pemain Pokemon Go dari Indonesia ini belum diketahui secara resmi, tetapi jumlahnya pasti *BANYAK SEKALI*. (Sampai saya tulis dengan huruf besar dan bold. ha ha ha.)

Tulisan ini akan menyoroti masalah keamanan (security) dari aplikasi Pokemon Go karena saat ini mulai muncul berbagai isyu tentang keamanannya. Bahkan tadi saya mendengar berita tentang adanya larangan bagi Polisi & Tentara untuk menggunakan aplikasi Pokemon Go ini sehingga ada yang kena razia segala. Sebelum ini menjadi hal-hal yang terlalu berlebihan (kasihan yang terkena razia), nampaknya perlu saya buat tulisan ini. Jadi ini latar belakangnya.

Beberapa hal yang menjadi alasan keamanan aplikasi ini, antara lain:

  1. Aplikasi menggunakan GPS untuk mengetahui lokasi (koordinat) pengguna. Lokasi ini dikirimkan ke server untuk digunakan sebagai bagian dari permainannya. Dikhawatirkan pihak pengelola server menggunakan data ini untuk hal-hal yang tidak semestinya (surveillance, misalnya).
  2. Aplikasi mengunakan kamera untuk mengambil gambar (foto, video) tentang lokasi sebagai bagian dari permainan. Dikhawatirkan data ini (foto, video) dikirimkan ke pengelola untuk hal-hal yang negatif juga. Bagaimana jika lokasi kita merupakan tempat yang sangat sensitif (rahasia)?

Itu hal-hal yang muncul di berbagai diskusi. Sebetulnya ada hal-hal lain yang juga dikhawatirkan tetapi menurut saya hal ini belum tentu benar, misalnya

  1. Aplikasi digunakan oleh Pemerintah Amerika Serikat (dalam hal ini CIA) untuk memantau orang-orang Indonesia. Untuk hal ini, langsung saya tanggapi saja. Tidak benar! Atau, belum tentu benar. Jadi begini. Aplikasi Pokemon Go dijalankan oleh sebuah perusahaan swasta. Perusahaan ini sangat menghargai kerahasiaan data penggunanya. Umumnya perusahaan tidak suka menyerahkan data ini ke pemerintah. Meskipun mereka kadang menjual data ini untuk keperluan bisnis lainnya (iklan, misalnya). Jadi, secara umum, perusahaan Nintendo tidak bekerjasama dengan CIA. (Catatan: di sisi lain, pihak intelligence Amerika memang terkenal melakukan penyadapan-penyadapan terhadap perusahaan-perusahaan Amerika juga. Jadi boleh jadi terjadi penyadapan, tetapi ini biasanya tanpa sepengetahuan perusahaan sendiri. Jadi terjadi spy-and-contra-spy antara mereka. Adu kepintaran. Untuk hal ini, memang terjadi. Ada beberapa catatan saya yang saya diskusikan di kelas Security yang saya ajarkan di ITB.)
  2. Pokemon Go dikembangkan oleh orang yang anti Islam. Wah ini sudah kejauhan teori konspirasinya. Alasannya karena banyak Pokemon di masjid. Jawaban terhadap hal ini adalah database untuk penempatan Pokemon itu berasal dari data aplikasi Ingress yang dikembangkan oleh Niantic Labs, perusahaan yang membuat kedua aplikasi tersebut. (Silahkan gunakan Google untuk mencari “Pokemon Ingress”.) Kebetulan saja, masjid adalah tempat banyaknya orang berkumpul dan terdata di Ingress. Itu saja. Jadi tidak ada konspirasi di sini.

Mari kita ke permasalahan utamanya. Apakah aplikasi Pokemon Go ini aman atau berbahaya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut harus dilakukan penelitian yang lebih mendalam, tetapi saya dapat mengajukan analogi seperti ini. Aplikasi Pokemon Go memang menambahkan celah keamanan (security hole), tetapi saat ini pun Anda sudah memiliki security hole yang lebih besar. Jadi kalau Anda mempermasalahkan keamanan dari celah lubang udara, sementara pintu rumah Anda sendiri sudah terbuka lebar, ya kurang tepat. You already have bigger problems.

Apa saja “masalah-masalah” yang sudah ada tersebut? Ada banyak, contohnya:

  1. Ada banyak aplikasi lain yang menggunakan GPS. Di Indonesia ada aplikasi Waze, Google Maps, Nike+, Swarm, Instagram, Twitter, Facebook, Go-Jek, dan seterusnya. Jika penggunaan GPS dipermasalahkan, maka aplikasi-aplikasi tersebut sama statusnya. Bahkan mereka lebih “mengerikan” dalam hal memberikan data ke penyedia jasa aplikasi tersebut.
  2. Ada banyak aplikasi yang menggunakan kamera; instagram, facebook, path, dan seterusnya. Orang Indonesia terkenal dengan potret-memotret dengan handphone, selfie. Beberapa aplikasi tersebut juga sudah menggabungkan informasi dari GPS untuk menandai lokasi dimana foto diambil. Ini juga sama statusnya dengan aplikasi Pokemon Go.
  3. Anda menggunakan layanan publik seperti Gmail, Yahoo!, dan seterusnya. Maka ini juga dapat dianggap sebagai “masalah”. Mereka malah menyimpan data email Anda. Jika Anda (dan bahkan instansi Anda) menggunakan layanan email-email ini, malah ini justru lebih berbahaya daripada aplikasi Pokemon Go. (Perhatikan bahwa ada banyak instansi pemerintahan yang menggunakan layanan ini!)
  4. Ketika memasang aplikasi Pokemon Go, aplikasi diperkenankan mengakses akun Google (Gmail) Anda secara penuh. Ya ini tergantung kepercayaan Anda kepada pengelola aplikasi Pokemon Go.  Lagi pula, dari mana Anda tahu bahwa aplikasi tersebut tidak tersusupi oleh virus / malware? Kan Anda belum mendapatkan itu secara resmi. Nah lho

Solusi?

Untuk orang-orang yang bekerja di lingkungan tertentu yang membutuhkan keamanan (Militer, Polisi, Penegak Hukum, dst.) maka seharusnya mereka menggunakan handphone khusus; secure handphone. Untuk pekerja seperti itu, mereka tidak boleh menggunakan handphone yang dijual secara umum dan tidak boleh menggunakan aplikasi yang belum disertifikasi. (Sebetulnya kami sudah mampu mengembangkan secure handphone sendiri. Silahkan hubungi kami untuk informasi lebih lanjut. Saya tidak ingin beriklan di tulisan ini.) Saat ini saya juga sedang membimbing mahasiswa (level S3) yang meneliti tentang secure mobile phone dan aplikasinya. Saya juga sedang terlibat pembahasan tentang evaluasi keamanan handphone beserta aplikasinya. Tunggu tanggal mainnya untuk yang ini ya.

Oh ya, jika para pembaca belum mengetahui latar belakang saya, memang salah satu bidang yang saya geluti adalah security.

Untuk orang-orang biasa? Ya, anggap saja Pokemon Go sebagai pemainan yang tidak aman. Kalau memang tidak ada yang dirahasiakan di handphone Anda dan dalam kehidupan Anda, nikmati saja. Tapi sadar saja bahwa tidak ada perlindungan keamanan di sana. Sama seperti aplikasi-aplikasi lainnya, termasuk media sosial yang Anda gunakan (Facebook, Path, Instagram, Twitter, dan seterusnya).

Jadi, sudah berhasil menangkap berapa Pokemon?

[Update: Bonus. Untuk “menakut-nakuti”, silahkan lihat video berikut ini]


Xiao Long Bao

Sudah lama saya tidak mampir ke restoran ini, Imperial Treasure di Plaza Indonesia, Jakarta. Menu yang menjadi pilihan saya adalah Xiao Long Bao. (Lihat foto.)

xiao-long-bao

Makanan ini di dalamnya seperti siomay tapi ada rasa jahenya sedikit. Di dalamnya ada airnya sehingga ketika digigit, maka air keluar dari “bungkusan”nya itu. Dimakan hangat-hangat (atau kalau gak sabar, panas … ha ha ha). Enak banget.

Makanan ini jarang di temukan di restoran-restoran dan kalaupun ada seringnya restorannya tidak halal. Jadi kalau ke Jakarta dan ke Plaza Indonesia pas jam makan, maka ini pilihan saya.

Sebetulnya tidak itu saja sih yang saya makan. “Teman”nya – yang sebetulnya malah lebih besar ukurannya adalah Lamian (Mie Tarik). Yang ini tidak perlu saya tampilkan fotonya kan? hi hi hi.


Sepak Bola Lagi

Pagi ini – ya betulan pagi, karena dimulai pukul 6 pagi – kami bermain sepak bola. Ini adalah pertama kali tim kami – Tim FRSS (Futsal Rabu & Sabtu Sore) – bermain sepak bola. Biasanya tim kami bermain futsal. Masalah di sepakbola adalah mengumpulkan ornag yang banyak dan sewa lapangan yang lumayan mahal.

Berangkat dari rumah habis Subuh, karena jarak ke lapangan cukup jauh. Tempatnya di Progresif Sports yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung. Jarak tempuh dari rumah hampir 40 menit dengan mobil.

Sampai di sana ternyata sudah banyak anggota tim FRSS yang datang. Tadinya agak khawatir yang datang sedikitan. Ternyata malah melampaui dugaan. (Entah berapa yang datang? 18 orang mungkin?)

DSC_5067 team 0001

Kali ini lawan tanding kami adalah tim Sharing Vision (SV). Biasanya saya malah main sepak bola dengan tim SV ini. Terima kasih mas Rayyan dari SV yang telah mengorganisir acara ini sehingga bisa sukses dan menyenangkan. Kayaknya harus dibuat rutin, sebulan sekali nih.

DSC_5070 0001

Lapangan sepak bola Progresif ini menggunakan rumput sintetis, tetapi tidak terlalu tajam untuk kulit kaki. Jadi masih enak lah. Untuk bermain dengan menggunakan sepatu futsalpun – jika terpaksa – masih bisa.

Kali ini tim kami unggul 3-1. Saya menyumbang satu assist. Tetapi yang lebih penting, segar setelah berolah raga. Semoga ini membuat kita tetap sehat.


Ini Pokemon Ku

Sekarang sedang heboh aplikasi permainan Pokemon Go. Banyak sekali orang yang menggunakan aplikasi tersebut meskipun secara resmi belum beredar di Indonesia. Saya sendiri tadinya mau ikutan pasang dan main, tetapi kata anak saya jangan dulu. Nanti kalau banyak yang melanggar, Indonesia bisa diban sama mereka. Jadinya belum main.

Nah, mainan “Pokemon” yang selalu saya mainkan adalah ini … hi hi hi.

IMG_0890

Sebetulnya permainan ini namanya Onet. Pasti banyak yang sudah tahu ya? Mainnya adalah mencocokkan gambar yang sama bersebelahan. Kebetulan saja gambarnya adalah Pokemon. (Sebetulnya ada gambar yang lain, tetapi saya memilih yang Pokemon. Saya sudah bertahun-tahun memainkan permainan ini di iPad saya. hi hi hi.

Gak mau kalah, saya juga main “Pokemon” kok. Tapi bukan yang “Go”. hi hi hi.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.843 pengikut lainnya