Ngoprek IoT

Kata IoT – Internet of Things – sedang ngetop sekarang. Dimana-mana saya melihat kata ini sebagai bagian dari seminar, kompetisi, startup, dan seterusnya. Pokoknya seru saja. Nah, sayapun tidak mau ketinggalan.

Saya mencoba menggunakan Arduino UNO dan board buatan DycodeX untuk kode IoT ini. (Sebetulnya saya punya banyak board lainnya, tapi itu untuk cerita terpisah.) Selain board ini saya juga menggunakan LED board buatan ProcodeCG. Berikut ini adalah beberapa video yang saya buat untuk menunjukkan demo / contoh kode dengan board-board di atas.

Dalam dunia hardware, IoT, salah satu cara memulai atau mencoba adalah membuat demo “blinking LED”. Kalau di dunia software, ini adalah “Hello World” versi hardware. Biasanya sih blinking LED-nya hanya satu LED. Kali ini saya mencoba menggunakan beberapa LED biar lebih seru.

Video di bawah ini menunjukkan demo Knight Rider, yaitu LED yang bergerak dari kiri ke kanan dan sebaliknya. Nama ini diambil dari film seri Knight Rider (jaman dahulu dan versi barunya). Dalam film tersebut ada mobil cerdas yang bernama KITT. Kalau dia aktif, maka ada LED yang bergerak-gerak seperti ini.

Dalam video di bawah ini, saya membuat Knight Rider LED juga tetapi dengan menggunakan board Arduino UNO.

Video di bawah adalah demo untuk membuat LED seperti meter yang ada di radio (equalizer). Board yang digunakan adalah DycodeX ESpectro.

Oh ya, kode-kode untuk demo di atas dapat dilihat dan diunduh dari koleksi saya di github.com yaitu di: https://github.com/rahard/BRiot-stuff. Selamat ngoprek.


Mengambil Tanggungjawab

Kemarin saya bercerita tentang apa-apa yang saya lakukan di dunia internet Indonesia, seperti mengelola nama domain .ID, mendirikan ID-CERT, dan seterusnya. Saya melakukan hal ini bukan karena ingin mencari popularitas, tetapi karena harus melakukannya. Somebody has to do it.

Ini adalah masalah mengambil tanggungjawab. Take responsibility.

Banyak orang yang memang tidak mampu atau tidak mau mengambil tanggung jawab. Ada yang merasa bahwa tanggungjawab yang dibebankan kepada mereka sangat berat. Ha ha ha. Kalau saya jabarkan apa-apa saja yang saya lakukan maka mungkin baru sadar mereka. (Kadang memang ada yang bertanya kepada saya bagaimana saya membagi waktu dan perhatian untuk ini.) Saya sendiri sering melihat contoh orang-orang (yang tidak terkenal) tetapi menanggung tanggungjawab yang luar biasa. I am nothing compared to them. Akibatnya saya tidak menjadi cengeng soal tanggungjawab ini.

Kadang tanggungjawab yang diambil ini terlihat ringan atau cemen, sehingga tidak ada yang mau mengambil tanggungjawab ini. hi hi hi.

Terus yang serunya adalah setelah “sukses” maka banyak muncul “pahlawan kesiangan” yang kemudian mengambil sorotan lampu di panggung. Take the spotlight. Atau juga kemudian ada yang mengambil keuntungan dari ini semua. Untuk hal ini, saya biarkan saja. Toh saya melakukannya bukan karena ingin terkenal atau karena ingin kaya. Saya melakukannya karena memang harus dilakukan. Itu saja.

Tulisan ini untuk memberi semangat kepada anak-anak muda untuk berani mengambil tanggungjawab. Mari kita belajar bersama.


Indonesia Update 2016

Perjalanan saya ke Australia ini sebetulnya dalam rangka acara “Indonesia Update 2016” yang diselenggarakan oleh Australian National University (ANU) Indonesia Project. Topik dari acara tahun ini adalah Digital Indonesia. Itulah sebabnya saya diundang menjadi salah satu pembicara. Saya akan berbicara tentang “cyber security”.

Acaranya dilangsungkan di kampus ANU, di kota Canberra, selama dua hari. Presentasi saya adalah presentasi terakhir di hari terakhir. (Ini ada keuntungan tersendiri, yaitu saya bisa suka-suka saya. Meskipun tidak bisa sebebas yang saya pikirkan. hi hi hi.) Pembicara yang lain keren-keren juga.

p_20160917_063951-01-jadwal

Peserta dari acara ini ternyata sangat banyak. Ruangan yang digunakan, sebuah teater, berukuran hampir 500 orang. Dan peserta yang datang banyak sekali. Hampir memenuhi ruangan. Berarti mendekati 500 orang.

Di hari pertama saya hanya mendengarkan. Bayu pembicara kedua mengidekan situasi politik di Indonesia seperti trilogi start wars. Dias (lupa di sesi berapa) juga menyinggung soal star wars. Akhirnya saya putuskan untuk menutup acara tema star wars; the return of the Jedi. ha ha ha.

cshi2hhumaa-wjv-jedi

the return of the (code) jedi

Tadinya saya mencari apa yang bisa dipakai untuk baju (dan lightsaber) untuk manggung. Gak nemu. Akhirnya saya putuskan untuk menggunakan hoodie saja. Jadilah seperti foto di atas. Lumayanlah. Tema Star Wars terjadi juga. hi hi hi.

p_20160917_130953_bf-folks-0001

Foto para pembicara sesi terakhir. Potret sebelum bubar

Di kampus ini saya menginap di University House, semacam hotel / dorm untuk tamu-tamu dari universitas. Tempatnya sangat dekat dengan ruang acara. Jadi tidak perlu transportasi. Tinggal jalan 2 menit dari kamar ke tempat presentasi. Tempatnya asyik juga. [foto-foto menyusul]

Canberra ini ternyata masih dingin juga. Harusnya sih temperaturnya sudah naik tetapi masih dingin. Setelah acara selesai, hari Minggu di kampus ini kosong banget. Sepiii. [foto2 menyusul, lagi] Canberra, meskipun ibu kota, ternyata kecil dan sepi. hi hi hi.


Sydney

Pesawat mendarat di Sydney pagi hari. Smooth. Pilotnya jagoan euy. Garuda gitu lho. Airport Sydney okay. Tidak terlalu besar. Langsung menuju ke imigrasi dan berjalan sangat lancar. Mungkin karena masih pagi sehingga masih sepi dan orang-orangnya masih semangat. Positif.

Langkah pertama tentunya adalah mencari kartu telepon lokal. Ada dua booth, Vodafone dan Optus. Saya ambil ngasal saja, Vodafone. Saya pilih yang $30 dengan paket data 5 GB. Cukuplah untuk seminggu di Australia. Eh, ternyata dia juga bisa digunakan menelepon ke internasional gratis selama beberapa (banyak) menit. Mahal dibandingkan dengan telepon di Indonesia, tapi daripada menggunakan operator Indonesia di sini. Bisa bangkrut.

Langkah kedua adalah tukar uang. Kurs di airport ini tidak terlalu bagus. Seharusnya saya menukarkan uang di Bali kemarin. Di Bali bisa dapat Rp. 10.000,-. Di sini Rp. 11.400,-. Apa boleh buat. Tukar juga tidak banyak kok. Supaya cukup untuk naik bis dan sejenisnya.

Nah, sekarang bagaimana ke hotel. Hotel saya berada di dekat Central Railway Station. Dipilih di daerah itu karena besoknya harus naik bis ke Canberra yang lokasinya dekat di sana. Ada transport (semacam shuttle) dari airport ke hotel di daerah sana, AUS $22. Kalau taksi pasti mahal lah. Akhirnya saya pilih naik kereta saja (mirip dengan MRT di Singapura). Harus beli kartu dulu. Namanya Opal. Mau diisi berapa ya kartunya? Dari airport ke Central Station itu sekitar $16. Saya disarankan beli yang $30 karena bisa dipakai kemana-mana. Saya pikir bagus juga untuk menjelajah kota. Itu yang saya pilih. (Hadoh keluar uang lagi.)

Naik kereta menuju Central Station. Lumayan juga keretanya. (foto menyusul.) Sampai di Central Station saya langsung jalan menuju hotel. Eh, ternyata jauuuh juga. Sambil dorong atau tarik koper ini lho. Lupa berapa menit. 20 menit mungkin? Pokoknya sampai lah ke hotel yang lebih mirip motel. Eh, ternyata saya belum bisa check in juga. Kepagian. Ya sudah. Saya tinggal koper di sana dan saya jalan-jalan dulu.

Akhirnya saya jalan lagi ke Central Station. (Di kota ini saya akhirnya banyak jalan.) Kemana? Hmm … cari yang ke arah Opera House saja. Tujuannya adalah Circle Quay. Okay. Desain / denah dari stasiun keretanya membingungkan. Lebih jelas MRT di Singapura. (Atau karena sudah sering saja?) Naik kereta menuju Circle Quay.

Sampai di sana. Masih pagi dan mendung. Hadoh. Jalan dulu ah ke Opera House. Potret-potret dulu. Bosen. Akhirnya saya memilih duduk di cafe shop. Ngopi dulu. Kopi di Australia ini enak banget. Koreksi! Kopinya sebetulnya biasa saja, tetapi susunya yang luar biasa. Mantap. Saya pesan flat white. Di Australia ini saya selalu pesan flat white. Saya pernah coba kopi hitamnya, enakan di Bandung. hi hi hi.

p_20160914_103411-coffee-sydney-0001

Kopi dengan latar belakang Opera House, Sydney

Akhirnya saya habiskan waktu di Sydney untuk jalan-jalan. Siang saya kembali menuju hotel untuk check in. Di tengah perjalanan saya beli kebab dulu. (Halal!) Harganya lumayan mahal, $9.50. Kalau di Indonesiakan mungkin Rp. 100 ribu. Hadoh. Jangan dipikir Indonesianya. Ternyata ukurannya raksasa. Bisa dipakai dua kali makan. ha ha ha. Sampai di hotel, sudah bisa masuk ke kamar. Eh, ternyata kamar saya di lantai 3 dan tidak ada lift! Hadoh. Ngangkut koper deh.

Sampai di kamar, ternyata kamarnya sangat bersih! Yaaayyy. Penampilan dari luar memang tidak meyakinkan tapi tempat ini nyaman banget. Ukurannya juga besar. Makan kebab dulu sambil nonton tv. Setelah itu mau istirahat. Sore mau jalan lagi.

Yang aneh. Di Australia ini hotel itu (dan hotel yang sekarang saya tinggali di Canberra) tidak menyediakan sikat gigi. Hmmm… Untung saya bawa sikat gigi dan odol sendiri. Jadi tidak masalah. Kalau tidak bawa, repot juga.

Cerita lainnya (dan foto-foto) menyusul. Tulisan ini dibuat sambil keluar dari acara seminar. hi hi hi. Harus memaksakan diri untuk ngeblog memang.


Perjalanan …

Ini adalah cerita singkat perjalanan yang sedang saya lakukan menuju Australia. Perjalanan masih berlangsung. Ini saya tuliskan supaya tidak lupa saja (dan sudah malas menulisnya).

Malam sebelum keberangkatan siap-siap untuk melakukan web checkin. Eh, tidak bisa. Setelah bolak-bolak mencari informasi dan kontak Garuda, akhirnya saya tetap harus menunggu kabar dari travel agent. Kodenya ada di travel agent dan ternyata yang tiket yang terkirim ke saya adalah tiket yang lama. Pagi-pagi checkin, lancar. Alhamdulillah.

Pesawat terbang dari Bandung menuju Denpasar untuk transit dahulu sebelum diteruskan ke Sydney. Eh, ternyata pesawat tidak dapat mendarat di Denpasar karena cuaca yang buruk. Setelah menunggu (dan muter-muter di atas) selama 20 menit, akhirnya pesawat menuju Surabaya untuk diisi bahan bakarnya dulu. Mendarat. Isi bahan bakar. Berangkat lagi. Lancar. Alhamdulillah.

Semoga seterusnya lancar …


A Day in the Life

Saking sibuknya, sampai saya bolos ngeblog beberapa hari ini. (Wuih. Seminggu.) Ingin tahu kesibukan saya? Ini contohnya. Hari Kamis, 8 September 2016.

Hari itu, saya menjadi moderator di peluncuran “Connected Government Community“, yaitu sebuah portal untuk bertukar sesama penggiat atau pengamat eGovernment. Silahkan mendaftar di sana dan kita bisa langsung diskusi dan berbagi.

Acaranya dimulai pagi hari. Nah, saya berangkat dari Bandung pagi harinya. Karena khawatir kena macet, maka saya berangkat dari Bandung dengan mengendarai kendaraan sendiri pukul 3:30 pagi. Iya pagi sekali. (Bangunnya jam berapa coba?) Shalat Subuh dilakukan di rest area Km 42.

Sampai di Jakarta pukul 6:30 pagi. Jam segini belum banyak tempat yang buka (untuk sarapan). Jadinya saya ke McDonald’s Sarinah Thamrin. Sarapan di sana. (Foto sarapannya gak ada. Biasanya sih saya potret juga. hi hi hi.) Dari sana saya menuju tempat acara peluncuran di Bebek Bengil Menteng.

29561678755_40d5ef0f0d_o-0001

Talk show di peluncuran portal Connected Government Community

Setelah selesai acara dan makan siang, saya kembali menuju ke arah Sarinah. Sebetulnya ke jalan Sabang karena mau check in ke hotel dahulu. Mobil masih saya tinggal di Sarinah. Dari Bebek Bengil saya jalan kaki saja karena naik taksi terlalu dekat. Ojek juga ternyata gak ada. Setelah check in hotel, saya kembali menuju ke Sarinah untuk mengambil tas baju.

Sampai di Sarinah, kok haus. Ah, ke McDonald’s dulu aja beli minuman. Eh, begitu masuk terdengar nama saya dipanggil. Ternyata ada beberapa kawan yang tergabung dalam komunitas IoT (Internet of Things) Indonesia sedang berkumpul di sana. Langsung gabung jadinya.

p_20160908_142054_bf-iot

Sebetulnya saya janjian dengan kawan saya, Iman Fattah, untuk ngopi bersama. Saya dan Iman dulu menjalankan toko musik digital bersama. Selain itu kami juga punya selera musik yang aneh-aneh. he he he. Lagu-lagu karya Iman Fattah ada juga di Insan Music Store. Setelah kontak-kontakan, akhirnya Iman menuju coffee shop Excelso di sebelah. Jadinya saya ngopi dengan Iman.

28948378934_64593f1c46_o

Ngopi dengan Iman

Setelah dari sana saya baru masuk ke hotel. Setelah itu saya langsung ke Pacific Place karena janjian dengan mas Yockie Suryo Prayogo, sang maestro musik Indonesia. Lagi-lagi mau ngopi bersama. Akhirnya saya, mas Yockie, dan mbak Tiwie ketemuan di Coffee Bean di Pacific Place.

29480564971_6bebc42ae8_o

Ngopi dengan mas Yockie dan mbak Tiwie

Sebetulnya saya ke Pacific Place mau ke Hardrock Cafe. Ada cara Queen’s night, dan yang main adalah GOSS Band yang saya kenal lewat kang Diunk. Eh, ternyata sebelum ke sana ketemu dengan beberapa orang; mas Kadri, Once, Kelana. Akhirnya potret-potretan dulu dong.

28937799333_7920e93542_o

gerombolan apa ini?

Dari sana kami bersama menuju ke Hardrock Cafe. Nonton Queen’s night lah; Freddy for a day. Ini hari ulang tahun Freddy Mercury. Potretan dulu lagi dengan kang Diunk (Nur Sumintardja). Terima kasih, kang Diung, kami sudah diberi kesempatan ikutan nonton.

p_20160908_213648_bf-diunk

Yeah, yeah, yeah. Jreng!

Nonton acara Queen’s nightnya gak sempat sampai selesai karena saya besok paginya harus ke Bandung. Itu dari jam 3 pagi belum tidur. Jadi sekitar jam 11 malam saya balik ke hotel. Besok paginya, habis Subuh harus langsung menuju Bandung dan langsung menuju kelas di kampus ITB. Ngajar jam 8 pagi. hi hi hi.

Begitulah contoh kesibukan saya. Kali ini banyak ketemuan dengan orang-orang yang berhubungan dengan musik.

 

 


Haus Belajar

Saya adalah orang yang haus belajar. Belajar dan belajar lagi. Beneran serius ingin belajar. Kebanyakan orang yang mengatakan ingin belajar, tetapi sesungguhnya hanya ngomong saja. (Lip service.) Mereka hanya mau belajar kalau waktunya pas, kalau mereka sedang tidak sibuk, tidak berbayar, atau sejenisnya. Mereka tidak mau berusaha. Harus mau capek.

Ambil contoh. Ketika ada seseorang yang presentasi, saya memperhatikan. Kalau orang lain kebanyakan melihat dulu topiknya, kalau dirasa tidak sesuai dengan apa yang dia mau terus tidak mendengarkan. Sementara itu saya mencoba memperhatikan meskipun itu bukan bidang saya. Ini yang disebut belajar. Kalau sudah tahu, ya mungkin tidak belajar. Belajar itu kalau belum tahu. hi hi hi.

Dalam rapat (meeting) juga demikian. Biasanya kalau bukan topiknya, mereka kabur. Sementara saya mendengarkan. Belajar lagi.

Bagaimana dengan Anda?