Masalah Saya Adalah Kebanyakan Ide

Judulnya sengaja dibuat seperti itu. Ha ha ha. Iya, masalah saya adalah kebanyakan ide dan terbatasnya waktu. Akibatnya kebanyakan ide itu tidak dapat direalisasikan sekarang. Saat ini di kepala saya ada banyak ide dan bertambah terus. Pusing jadinya.

Sementara itu kebanyakan orang kelihatannya adalah tidak punya ide tapi punya banyak waktu. Hasilnya adalah banyak orang yang bengong, duduk tidak tahu mau mengerjakan apa. Kalau disuruh baru dia mulai bekerja. Setelah selesai yang ditugaskan, kembali dia duduk termenung. Pokoknya tidak proaktif, lah.

Ide mau nulis tentang ini saja sudah nyangkut di kepala sejak lama, tetapi masalahnya adalah belum sempat menuliskannya saja. Pas mau dituliskan, banyak detail yang sudah lupa lagi. Sementara itu sudah ada ide tulisan baru lagi.

Hayaaahhh…

Iklan

Minggu Pertama Perkuliahan

Minggu lalu adalah minggu pertama perkuliahan semester ini di ITB. Sebagaimana sudah saya antisipasi, jadwal saya kacau balau. hi hi hi. Berikut ini adalah daftar kuliah yang saya ajar semester ini.

BR kuliah 2018

Terlalu banyak bukan? Biasanya dalam satu semester saya hanya mengajar dua mata kuliah. Jadwal di atas belum pasti karena ada dua mata kuliah yang hanya dua orang pesertanya. Kuliah tersebut juga sebenarnya harusnya diberikan semester depan. Ada kemungkinan kedua kuliah tersebut saya batalkan.

Untuk kuliah yang bisnis, itu dijalankan oleh tiga orang dosen beserta beberapa mentor. (Mentornya hebat-hebat.) Jadi saya tidak harus selalu berada di kelas pada hari itu. (Biasanya ada pertemuan – mentoring – di luar jam kelas tersebut,)

Mudah-mudahan minggu ini sudah lebih jelas lagi jadwal perkuliahannya.

Materi Presentasi

Dalam tulisan sebelumnya (“Minta Materi Presentasi“), saya menunjukkan banyaknya permintaan akan materi presentasi saya. Materi presentasi saya umumnya dapat diperoleh di berbagai tempat (slide share, web saya, dan panitia acara). Yang belum saya ceritakan adalah bahwa materi presentasi saya mungkin kurang bermanfaat jika dibaca saja tanpa hadir di acaranya. Mengapa demikian? Karena yang saya tampilkan dalam slide saya biasanya hanya poin utamanya tanpa ada pembahasan.

Saya menganut paham bahwa materi presentasi hanyalah pendukung dari sebuah presentasi. Hal yang utama adalah sang presenter sendiri. Apa yang dia ceritakan dan seterusnya. Jadi fokus dari sebuah presentasi adalah sang presenternya sendiri.

Akibat dari paham seperti ini, maka materi presentasi saya isinya hanya poin yang ingin saya sampaikan. Misalnya slide saya hanya berisi kata-kata “Sejarah Artificial Intelligence“. Itu saja. Pada presentasinya saya sesungguhnya, saya akan bercerita panjang lebar. Jika Anda hanya membaca slide saya itu saja tanpa berada di tempat presentasi maka Anda akan kehilangan banyak pemahaman dan makna yang ingin saya sampaikan.

Kalau ada slide yang hanya berisi tulisan “Sejarah Artificial Intelligence”, apa yang ada di kepala Anda? Apa yang dapat Anda peroleh dari slide itu?

Dengan kata lain, slide saya tanpa kehadiran di tempat presentasinya mungkin kurang bermanfaat. Ini seperti sebuah buku yang hanya berisi “Daftar Isi” saja. ha ha ha.

Begitu.

Indonesia Darurat Menulis

(Hampir) setiap minggu, di kantor kami ada acara sesi berbagi dimana topik yang ditampilkan sangat bervariasi. Minggu lalu saya mengangkat topik “Menulis”. Ini adalah sedikit cerita tentang itu, meskipun judulnya agak sedikit bombastis.

menulisSebagai seorang dosen, salah satu pekerjaan saya adalah memeriksa tugas mahasiswa. Tugas yang saya berikan kebanyakan adalah membuat makalah. Menulis. Hasilnya? Sudah dapat ditebak, sangat tidak memuaskan. Ternyata mahasiswa Indonesia tidak dapat menulis! Hadoh.

Di luar kampus, saya terlibat dalam berbagai perusahaan (yang umumnya bernuansa teknologi). Lagi-lagi saya melihat sulitnya mencari sumber daya manusia yang dapat menulis. Padahal salah satu aspek utama di dalam perusahaan adalah adanya tulisan; antara lain berupa proposal, laporan pekerjaan, paten, dan seterusnya. Bahkan salah satu bottleneck di perusahaan kami adalah penulisan laporan.

Menulis itu pada dasarnya adalah menyampaikan gagasan kepada pembaca. Ada beberapa kata kunci di sana. Yang pertama adalah pembaca. Kita harus tahu siapa yang akan membaca tulisan kita. Untuk tulisan yang terkait dengan urusan akademik, pembacanya adalah peneliti lain atau dosen penguji. Untuk tulisan yang terkait dengan bisnis, pembacanya adalah calon klien (bohir). Untuk tulisan di majalah atau surat kabar, pembacanya adalah orang awan. Untuk tulisan dalam buku cerita anak-anak, pembacanya adalah anak-anak. Dan seterusnya.

Perbedaan pembaca inilah yang membuat tulisan kita juga berbeda-beda. Untuk tulisan yang akademik, adanya rumus matematik merupakan hal yang penting (dan menguntungkan bagi penulis). Sementara itu jika tulisan yang akan kita berikan ke surat kabar ternyata ada rumus matematiknya, kemungkinan besar akan ditolak.

Kata kunci kedua adalah gagasan. Apa yang ingin kita sampaikan? Seringkali ada banyak gagasan yang ingin dituangkan sekaligus. Hasilnya? Ya membingungkan. Batasi gagasan yang ingin kita sampaikan. Biasanya maksimal dalam satu tulisan ada tiga (3) gagasan. Lebih dari itu sebaiknya dipecah menjadi beberapa tulisan saja.

Kata kunci ketiga adalah menyampaikan. Bagaimana cara menyampaikannya lagi-lagi terkait dengan media yang digunakan oleh pembaca. Jika medianya adalah jurnal akademik, maka cara penyampaiannya juga sanga formal dan bahkan harus sesuai dengan standar yang ada. Seringkali mahasiswa tidak mengetahui hal ini. Ketika ditanya “mengapa format judul seperti itu” mereka tidak dapat menjawab. Kalaupun menjawab adalah karena perkiraan mereka atau karena melihat yang lain, tapi mau mencaritahu standar yang sesungguhnya digunakan.

Demikian pula ketika kita menulis di surat kabar, maka ada tata cara penyampaiannya. Ada batasan jumlah kata yang diperkenankan dalam satu artikel. Penggunaan bahasanya pun juga lebih luwes.

Menulis merupakan sebuah kemampuan (skill) yang harus dilatih. Dia harus dilatih secara rutin dan sering. Ketika kita memulai latihan menulis, pasti kualitasnya jelek. Namanya juga baru latihan. Sama seperti kalau kita mulai belajar naik sepeda. Tidak bisa langsung bisa. Ada jatuh bangunnya. Demikian pula dalam menulis. Maka salah satu pekerjaan rumah (PR) yang saya berikan kepada peserta kemarin (dan Anda juga) adalah berlatih menulis SETIAP HARI. (Terpaksa itu saya tulis dalam huruf besar dan cetak tebal.) Mari kita menulis satu paragraf setiap hari. Mari kita mulai dari kuantitas dahulu. Setelah itu tercapai, barulah kita bicara soal kualitas.

Ada satu hal lagi yang harus dibahas, yaitu penggunaan Bahasa Indonesa yang baik dan benar. Ah, ini sebaiknya menjadi topik yang terpisah. Sudah terlalu banyak gagasan yang ingin saya sampaikan. Nah.

Sampah Email

Memiliki server email sendiri itu banyak masalah. Salah satunya adalah banyaknya spam. Ini contoh tampilan mailbox saya. Lihat. Ada lebih dari 20 ribu email! Kebanyakan email tersebut adalah spam. Nyebelin.

BR-mailbox-edit

Kalau pasang filter spam di server sendiri bebannya berat sekali. Ini masih harus diukur lagi. Dahulu CPU bisa terpakai banyak untuk ini sehingga email sampai menjadi tertunda. Belum lagi nanti harus memperbaharui (update) filter spam tersebut. Tambah kerjaan saja.

Kalau menggunakan server orang lain, seperti Gmail, enaknya spam sudah difilter. Kita tinggal mendapati email yang sudah “bersih”, meskipun kadang-kadang ada email yang nyasar ke folder spam. Setidaknya waktu kita tidak habis untuk mengurusi spam. Lebih produktif. Sementara ini saya masih menimbang-nimbang apakah memasang kembali filter spam di server mail kami.

Bandung Dingin

Beberapa hari ini kata orang Bandung terasa dingin. Menurut saya juga. Bagaimana sesungguhnya? Kebetulan Bandung memiliki beberapa sensor cuaca yang dapat diakses secara online. (Saat ini layanan ini belum diluncurkan sehingga URL-nya belum dapat saya tampilkan di sini. Sebentar lagi akan beres dan akan dibuka untuk publik melalui API.)

Sebaran dari sensor-sensor tersebut dapat dilihat pada gambar-gambar berikut ini.

weather-1-allplaces
Sensor cuaca di kota Bandung

Daftar namanya adalah sebagai berikut.

weather-2-allsensors_0001_01
Daftar sensor cuaca di kota Bandung

Mari kita lihat kondisi Bandung pada pagi ini. Berikut ini adalah gambar sensor yang berada di kantor CBN Bandung, yang berada di jalan Pasir Kaliki. Ada hal yang menarik bahwa terjadi kenaikan temperatur sebelum jam 8 pagi. Temperatur di bawah 20 derajat Celcius dan kemudian melonjak.

weather-3-cbn_0001
Temperatur di depan kantor CBN Bandung

Sebagai perbandingan, berikut ini adalah situasi di rumah saya (Insan Music Store), yang letaknya di sekitar Bandung Timur Laut.

weather-4-insan_0001
Temperatur di kantor Insan Music Store

Saya cek data dari sensor-sensor lain, ternyata mirip. Mereka semua mengalami kenaikan setelah pukul 7:20 pagi. (Data rinciannya di database. Kapan-kapan mau dioprek ah.)

weather-5-paledang_0001
Temperatur di Kelurahan Paledang, Bandung

Jadi kesimpulan sementara, memang tadi pagi Bandung cukup dingin, yaitu di bawah 18 derajat Celcius. (Kalau di Lembang katanya di bawah 14 derajat Celcius. Wow!)

Mengapa Bandung dingin akhir-akhir ini, sudah ada pembahasannya di tempat lain. Nanti akan saya sampaikan tautannya di sini.