Hari Terbaik Untuk Ngeblog

Berdasarkan statistik yang saya miliki dari blog ini, hari yang terbaik untuk menuliskan (menampilkan) blog adalah Senin pagi menjelang siang. Orang terbanyak mengakses blog ini menjelang atau sekitar makan siang.

Meskipun akses internet bisa lewat handphone pribadi, nampaknya orang masih banyak mengakses internet – setidaknya, blog – dari kantor atau kampus. Itulah sebabnya, setelah liburan Sabtu dan Minggu, orang kembali ke kantor untuk memulai kerja. Pas jam makan siang mereka mau istirahat, menghela nafas sejenak. Ini waktu untuk membuka blog. Nah, jika Anda ingin mendapatkan traffic terbaik ke blog Anda, tampilkan pas jam makan siang hari Senin.

Hari Senin juga merupakan hari kerja yang paling bahagia. Katanya. Setelah kita di-charge pada weekend, maka hari Senin masih ada sisa kebahagiaan … he he he. Sebelum dihajar oleh pekerjaan, kuliah, dan tugas-tugas lainnya. Jadi, kalau mau nagih hutang, lakukan hari Senin. Mumpung masih bahagia. wk wk wk.

Sayangnya, hari Senin (dan Selasa) bagi saya di semester ini adalah hari yang paling sibuk! Dari pagi sampai malam ada saja pekerjaan yang harus saya selesaikan. Akibatnya, saya tidak bisa ngeblog di prime time. uhuk. Tulisan ini saja saya buat di antara kesibukan (sehabis ngajar, sebelum mentoring / bimbingan mahasiswa). Begitulah ceritanya.


Menuliskan Konsep

Mengapa ya kita – orang Indonesia – kurang suka menulis? Ada yang mengatakan ini budaya. Bukankah budaya dapat kita ubah? Jika kita mau berubah tentunya. Atau, memang sesungguhnya kita tidak ingin berubah?

Saya sering menugaskan mahasiswa untuk menulis. Hasilnya kurang maksimal. Mahasiswa ternyata tidak siap untuk menulis. Saya perhatikan juga tulisan-tulisan mereka yang seharusnya formal tetapi keluarnya menjadi “alay“. hi hi hi.

Saat ini mahasiswa sedang ramai berdemo. Berteriak-teriak menyuarakan ini dan itu. Saya belum melihat mereka menghasilkan semacam “buku putih”, atau apalah, yang berisi konsep pemikiran mereka tentang apa-apa yang terjadi saat ini dan kemungknan solusinya. Saya tidak tahu apakah masalahnya hanya pada penulisannya saja atau – malah lebih menyeramkan lagi – mereka tidak memiliki konsep. Ah, bahkan membuat memikirkan soal konsep pun mungkin bangsa kita sudah tidak sanggup. Kering.

Mengkhayal? Mungkin itu pun sudah merupakan sebuah hal yang “mahal”. Padahal mengkhayal merupakan hal yang paling murah dan mudah.

Mungkin harapan saya agar mereka (kita?) mulai menulis konsep dengan baik terlalu berlebihan. Berteriak-teriak memang lebih mudah.


Masalah iPhone

iPhone 5 saya mulai bermasalah. Batrenya mulai terasa cepat habis. Pagi hari batre penuh 100% (karena sudah dicharge semalam). Siang-siang batrenya sudah di bawah 50%. Bahkan kadang-kadang pukul 2 siang batre sudah tinggal 20%. Hadoh!

Memang iPhone ini saya gunakan untuk mengakses messaging (whatsapp, telegram) dengan menggunakan layanan 3G (dari sebuah operator yang tidak perlu saya sebutkan namanya). Selain messaging itu, rasanya tidak ada aplikasi lain yang saya gunakan secara penuh. Kadang, kalau lagi iseng aja, saya jalankan Nike+ yang menyalakan GPS dan ini sudah pasti menguras batre lebih deras lagi. Semua saya matikan kecuali 3G itu saja. Saya menduga efek dari sinyal operator yang bermasalah (kecil, kadang hilang) di tempat saya berada juga ikut andil dalam menguras batre.

Saya beli kabel untuk nge-charge iPhone 5 saya. Kabel aslinya mulai bermasalah (putus). Eh, iPhone ini gak mau dengan kabel yang murah meriah. Yang harganya 75 ribu rupiah tidak mau. Terpaksa saya beli yang 200 ribu. Kabel ini berjalan baik dengan charger-nya meskipun kadang muncul pesan yang mengatakan bahwa perangkat ini (kabel?) tidak didukung. Ngechage tetap jalan. Jadi saya tidak peduli. Sampai saya beli power bank. Eh, ternyata kalau saya pasang dengan kabel ini dia hanya ngecharge beberapa detik kemudian off lagi. Saya harus cabut dan pasang kabelnya lagi untuk ngecharge (beberapa detik) kemudian off lagi. Hayaaahhh. Mosok saya harus beli kabel asli dan power bank yang lebih bagus???

Saya baca-baca memang kayaknya masalah batre ini masalah umat manusia. he he he. Namun saya merasa kok iPhone saya ini seharusnya bisa lebih baik dari kondisi yang ada saat ini.


Minta Slidenya Dong

Saya sering memberikan presentasi. Setelah presentasi selesai, di media sosial ada banyak komentar. Salah satu komentar yang paling sering muncul adalah … “minta slidenya dong”. hi hi hi.

Pada prinsipnya saya tidak keberatan slide saya diminta. Secara, saya dari dulu sudah terbiasa berbagi materi presentasi saya. Selain materi presentasi, tulisan-tulisan saya pun tersedia online (di budi.insan.co.id). Sayang sekali akhir-akhir ini saya tidak punya waktu untuk memperbaharui situs saya itu. Akhirnya materi saya upload ke slideshare.net atau scribd.com.

Ada beberapa masalah yang membuat saya tidak dapat berbagi slide secara langsung. Masalah pertama, dalam presentasi (di dunia nyata, secara fisik) sering saya mengambil gambar-gambar yang saya peroleh dari internet. Permasalahannya adalah seringkali saya tidak teliti (kurang rajin) untuk menuliskan sumber dari gambar tersebut. Kalau materi ini kemudian saya bagi secara online, saya boleh dimarahi karena melanggar hak cipta dari pemilik gambar tersebut. Maka, cara terbaik adalah menghapuskan gambar-gambar tersebut dari materi presentasi saya. Akibatnya, materi presentasi jadi membosankan, dull, atau bahkan lebih gawatnya … tidak dapat dimengerti.

Tambahan lagi cara saya membuat materi presentasi mengikuti aliran zen atau Lessig-style. Dalam slide saya, yang muncul hanya kata-kata (keywords) saja. Kata-kata ini merupakan pengingat dan pointer bagi saya untuk bercerita. Isi sesungguhnya ada dalam presentasi saya. Jadi, kalau hanya melihat slide-nya saja akan sulit menangkap apa yang saya presentasikan. Itu sebabnya juga saya kurang tertarik untuk memasang slide yang isinya hanya kata-kata kunci saja. Tapi, mungkin nanti akan saya coba (eksperimenkan). Siapa tahu saya salah, bahwa sesungguhnya orang pun hanya tertarik kepada kata kuncinya saja.

Begitu … Nah, kalau ada yang berkomentar lagi … “minta slidenya dong”, harus saya jawab apa ya?


Perijinan Toko Online?

Apakah toko online harus mendapatkan ijin? Hmmm … Dalam dunia nyata apakah kita perlu mendapatkan ijin jika kita membuat sebuah tempat untuk berdagang? Mungkin iya jika kita membuat pasar ya? Kemana ijinnya? Apakah ke Kementrian Perdagangan?

Kita lihat pro dan kontranya tentang ijin toko online ini ya.

Kontra

  • Menghambat inovasi. Ada banyak UKM dan start-up yang mencoba mengembangkan toko online. Upaya ini belum tentu berhasil. Jika pada tahap awal sudah harus memiliki ijin ini dan itu, akan mengecilkan hati para inovator ini.
  • Ijin kemana? Berapa? (Ini sebetulnya terkait dengan sebelumnya.) Hal-hal yang terkait dengan teknologi informasi biasanya terkait dengan Kominfo, tetapi untuk perdagangan biasanya terkait dengan Kemendag.
  • Ini akan menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi.
  • Bagaimana jika toko online ini dibuat di luar negeri? Jika aturan ini diterapkan, maka akan banyak start-up yang membuka usahanya di luar negeri meskipun pasarnya di dalam negeri. (Alibaba.com misalnya.) Ini justru akan merugikan Indonesia. Pengawasan juga akan makin sulit. Mungkin lebih baik bukan meminta ijin akan tetapi mendaftarkan (agar terpantau dulu)?

Pro

  • Untuk memastikan bahwa pelaku perdagangan memang benar-benar serius dalam melakukan pekerjaannya.
  • Untuk mengurangi potensi terjadinya penipuan (fraud) yang banyak terjadi secara online. Bahkan Indonesia dianggap sebagai tempat yang banyak melakukan transaksi palsu. Stereotype ini yang harus kita perangi. (Atau memang ini sungguhan?)

Bagaimana pendapat Anda?


Kredibilitas Saya?

Barusan ada sebuah instansi (yang tidak perlu saya sebutkan) mempertanyakan kredibilitas saya di bidang teknologi informasi (IT) untuk sebuah pekerjaan yang sudah saya lakukan. Pertanyaan mereka adalah kenapa Budi Rahardjo. Waduh. Saya (tim saya) harus bilang apa ya? hi hi hi.

Saya memang paham bahwa tidak banyak orang yang mengenal saya secara pribadi, tetapi sebetulnya mereka bisa mencari informasi mengenai kredibilitas saya di bidang teknologi informasi. Kalau dahulu, sebelum jaman internet, sangat susah mencari informasi seperti itu. Kalau sekarang semestinya lebih mudah. Meskipun kita masih harus berhati-hati dalam menyikapi informasi yang kita terima. Kalau sumber informasinya kredibel, mestinya sih ok.

Mungkin ini salah saya juga karena saya jarang muncul di arena publik sebagaimana halnya selebrities. Saya tidak banyak muncul itu justru karena ada banyak kegiatan riil (di bidang teknologi informasi) yang harus saya kerjakan termasuk mengajar. Nah … Apa musti woro-woro (bragging) ya? wk wk wk.

[keluh kesah …]


Teka Teki Kriptografi

Apakah ada pesan tersembunyi di dalam barisan karakter yang terlihat random seperti ini?



GF03hD3rkwvt9CTbYL93UiUTGjCCsPCoTfFe0ado2axJ
4JTWFtssu4NB7pzFFA3bRr5tbWa87VOwPgf9SpNWgEM=
jPKW=MmpJ1z8snQiRSUxXDSZXptsbVwTClxVbkrjGyNL
mglQYWRqyAWLuWV4h0PSPff2BEmffmatkpx1HpaYC8jB
JCT92CUC2dZnG9HAbThO8hjiJvWZknSLKl=jbc8BX43k
9ypGd9WLUrXxi6xpsfBH8oUVlDKDgnRL4H1DB6CkxBi6
2l68XnOPzuwZjokYsKnPqcx5Ys0fa2bsz7en7PeYlGDj
1EEhXzdhv4qBlRgZtBBMqXI0j2xwxWzOu189f=u9r=1S
xNtXFQHZutGsiYYtljSXVM1cQodvCr6wRTDd6crqdh5P
EgBCxuhW82EeRGLHb8vFhjtcKb6IXs=IAa1uqEXpmkgN
TDFZ1WcaVvsz4A=MO=JwfGRUZClS9vIsSpi85eepHNeg
U2FsdGVkX18RgbSjoOwUuLO5sC2sHjA+1vkI2gUkouU=
42xkVb5G6KF69MoFrp8a45CVLOv6FtpW2uHW6hlm=0HY
j73dWO4eg3f=HnDi2JdRG4pb8SCUSfdxJyCGKv9Rc02P
ZjMbCzwj=inmwCcDvnIY7TRjpuW7IzLEyf62OlPg=uFO
G96oWfPDz0Pp6Y4sFC4FGd9w8Wx8b61ykjEpwB46Fca2


Jika ada, apa isi pesannya? Kalau ada. Boleh jadi sesungguhnya tidak ada pesan apa-apa. ha ha ha. Itu bisa jadi hanya sampah (noise) belaka.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.164 pengikut lainnya.