Kebanjiran Informasi

Salah satu masalah – di antara banyak masalah lainnya – pada masa kini adalah kebanjiran informasi. Saat ini setiap orang ingin meneruskan (forward, share) informasi-informasi yang terkait dengan virus korona dan penyakit yang terkait (corona virus, covid-19). Di setiap media sosial dan terutama group WA (WhatsApp) ada banyak informasi.

Ada beberapa group WA yang ketika saya membuka handphone terlihat lebih dari 300 pesan yang belum terbaca. Sebetulnya mungkin lebih dari 500 pesan. Saya buka group WA tersebut, bukan untuk membaca, tetapi untuk scroll sampai di akhir group supaya semua pesan ditandai sudah dibaca kemudian saya keluar. Sejam kemudian saya buka handphone lagi dan ada 300 pesan lagi yang belum dibaca dari group tersebut. Ini baru satu group WA. Bayangkan saya (dan Anda) masuk ke banyak group WA.

Idenya memang baik. Semua ingin berbagi informasi. Sayangnya informasi tersebut tidak disaring dengan baik. Begitu dapat sebuah informasi / pesan, langsung diteruskan ke berbagai group. Boleh jadi di group tersebut sudah ada pesan yang sama. Anggota dari group tersebut kemungkinan besar juga sudah mendapatkan pesan yang sama dari group-group lainnya.

Banjir informasi. Banjir, banjir, banjir. Yang namanya banjir tidak ada yang bagus.

Hari ini saya memutuskan untuk keluar dari berbagai group WA yang terlalu banyak memberikan pesan. Toh tidak manfaat juga bagi saya karena tidak saya baca pesan-pesannya.

Bagi Anda yang ingin berbagi pesan, sebaiknya tahan dulu satu atau dua hari (bahkan kalau pakem saya sih tunggu 3 hari) sebelum meneruskan pesan tersebut. Selektiflah dalam berbagi,

Duduk Mengajar

Dikarenakan wabah virus corona, maka perkuliahan di ITB (dan dimana-mana) terpaksa harus dilakukan secara daring (online). Saya sendiri sebetulnya sudah terbiasa mengajar kelas secara online. Ada kelas saya yang dilakukan di dua tempat bersamaan; di kampus Ganesha (ITB) dan di kampus ITB yang di Jatinangor. Ada kelas yang dilakukan secara online tetapi tidak real-time, dalam artian saya tidak langsung mengajar pada saat yang besamaan, misalnya yang di IndonesiaX. Ada juga kelas yang memang benar-benar saya lakukan secara menyeluruh online seperti yang saya lakukan di President University. Ada juga channel YouTube, tetapi ini cerita yang berbeda. Intinya, mengajar online bukan hal yang baru bagi saya, Hanya kali ini sedikit berbeda karena semua kegiatan ajar-mengajar dilakukan secara online.

Ternyata salah satu hal yang melelahkan bagi saya adalah duduk mengajar. Kalau di kelas biasa, kelas tatap muka secara fisik, saya biasanya mengajar sambil berdiri dan berjalan di depan kelas. Melakukan ini juga melelahkan, tetapi ternyata duduk itu lebih membuat badan ini pegal-pegal. Sebelum tulisan ini ditulis, saya baru beres mengajar dua kelas dan melakukan satu rapat secara online. Terus menerus dari pukul 9 pagi sampai pukul 15 sore. Bayangkan. Ternyata pegel linux juga. Ha ha ha.

Situasi ketika mengajar online

Kursi yang saya gunakan sudah cukup bagus. Bagus. Jadi ini bukan salah kursinya, tetapi memang bekerja secara online itu tetap melelahkan. Hmm. Mungkin saya yang salah. Mungkin seharusnya cara saya mengajar online-pun harus saya lakukan dengan berdiri ya? Hmmm. Nampaknya saya akan mencoba ini. Saya harus membuat dudukan untuk webcam yang lebih fleksibel. Akan dicoba di skedul kelas berikutnya. Sementara itu, sekarang saya mau istirahat dulu. Nonton TV (dokumenter) dulu ah.

(dan kembali lagi) Sibuk

Tadinya saya pikir kalau semester ini kerjaan bakal berkurang. Eh, malah jadi tambah sibuk. Sibuk ngapain saja itu yang juga menjadi pertanyaan saya. Tanda-tandanya saya sibuk adalah kalau blog ini tidak diperbaharui. Ha ha ha.

Contoh kesibukan saya hari ini. Pagi ini ada Quiz untuk kelas saya. Ini Quiz menjadi pengganti UTS karena saya memutuskan kelas ini tidak ada UTS. Nah, quiz ini dilakukan pas di jam UTS yaitu jam 7 pagi. Artinya saya harus berangkat dari rumah jam 6 pagi. Artinya jam 5 pagi saya harus sudah mulai siap-siap. Habis Subuh tidak bisa tidur lagi. Langsung beberes.

Setelah quiz dan kuliah ada mahasiswa bimbingan saya yang maju sidang. Ini pukul 10 pagi. Jadi saya hanya punya waktu sekitar 30 menitan untuk bersiap-siap. Itu saya gunakan untuk membalas pesan-pesan yang urgen. Hanya yang urgen saja. Yang lainnya ditunda nanti.

Selesai dari sidang thesis ini saya sudah ditunggu mahasiswa yang mau bimbingan. Jadi bimbingan dilakukan sambil jalan dari ruang sidang ke kantor saya (di gedung PAU). Bimbingan pun terus berlangsung. Lepas bimbingan sudah pukul 12. Waktu shalat dan makan siang.

Setelah itu selesai, pukul 12:30-an siang saya pindah ruangan untuk siap-siap melakukan mentoring startup / entrepreneurship. Sudah ada yang menunggu di depan pintu. Kegiatannya sendiri sih dimulai pukul 13, tetapi kan saya harus siap-siap dulu. Ini juga sudah ada yang menunggu di depan pintu.

Mentoring hari ini berlangsung dengan seru sampai pukul 15 lebih sedikit. Ini juga diselesaikan karena ruang rapat ini mau dipakai kelas. Mahasiswa kelas selanjutnya sudah ngintip-ngintip di depan pintu karena kami masih sibuk seru berdiskusi. Jadi diskusinya masih dilakukan sambil berjalan keluar ruangan. Ada alasan lain mengapa acara ini harus selesai pukul 15, yaitu saya ada futsal pukul 16 sd 18 di YPKP. Maka saya buru-buru dari sana menuju YPKP. Biasanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menitan untuk sampai ke sana. Jadi sampai di sana bisa Ashar bentar terus ke lapangan.

Selesai futsal baru menuju ke rumah dan baru bisa leha-leha. Ini baru waktunya membuka pesan-pesan (WA, Telegram, dll.). Jadi yang tadi pagi mengirimkan pesan, ya baru malam ini dibukanya.

Sebetulnya sekarang pun saya harusnya membuat persiapan untuk presentasi besok pagi, tetapi saya ambil sedikit waktu untuk menuliskan ini. (Menuliskan ini juga butuh waktu kan? Biasanya jenis tulisan yang seperti ini saya tuliskan sekali jalan. Jreng saja. Mengalir. Tanpa rencana. Tanpa edit-editan. Apa adanya. Jadi yang Anda baca ini langsung mengalir dari kepala saya ke jari-jari tangan.)

Oh ya, kemarin juga kesibukannya mirip juga. Besok juga dugaan saya sama. Tinggal lihat saja, apakah saya menulis di blog ini atau tidak. Kalau tidak, artinya saya sedang sibuk luar biasa.

Kembali ke laptop …

Dan Terjadi Lagi

Pukul 2 pagi. Seharusnya orang sudah tertidur, ini malah terjaga. Ada banyak ide yang ingin dikerjakan dan ada banyak lagi yang harusnya dikerjakan. Kalau ide tulisan ingin dikerjakan, maka bisa sampai pagi nulisnya. Padahal pagi harus mengajar. Lantas saya harus bagaimana? Melepaskan ide itu (lagi)?

Virus Corona: Efeknya terhadap bisnis dan minuman teh sebagai penangkalnya

Sebetulnya topik ini adalah topik sampingan dari kumpul-kumpulnya kami di rumah saya. Kebetulan ini ada beberapa kawan yang berkumpul untuk mendiskusikan soal kopi, atau lebih tepatnya alat roasting kopi. Sambil menunggu yang lainnya (belum datang), maka kami ngobrol tentang topik yang sedang naik daun; virus Corona.

Diskusi ini saya rekam dan sudah saya unggah ke YouTube. Silahkan simak videonya di sini.

Ceritanya dalam bentuk tulisan akan saya sampaikan di sini. Singkatnya begini, kita boleh waspada terhadap virus Corona ini tetapi jangan panikan. Sikap kita kepada China (Tiongkok) juga harus dipikirkan dengan baik-baik. Perhatikan aspek humanity.

Kemudian kami minum white tea, yang menurut mas Pudjo dapat menguatkan badan sehingga membantu menangkal virus. Enak banget teh-nya. Yang mau pesan, bakalan susah karena saya sendiri sudah pesan dari tahun lalu belum dapat juga. ha ha ha.

Mengejar Belajar

Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka ingin (ikut) belajar ini dan itu. Ketika saya mengatakan bahwa saya memberikan pelajaran ini dan itu (dan itu terbuka untuk umum), banyak yang bilang ingin ikutan. Hampir semua hanya sekedar bicara saja, tetapi tidak ada aksinya. Jadi kalau ada yang bilang, pak saya ingin ikutan ini dan itu, saya hanya tertawa. Yeah, right.

Belajar itu susah. Belajar itu mahal. Belajar itu membutuhkan waktu. Belajar itu membutuhkan usaha. Masih ada hambatan lain (lebih tepatnya alasan) dalam berusaha untuk (tidak) belajar. Ini baru pada tahap berusahanya dulu lho, belum sampai pada hasilnya.

Ketika ada orang yang hebat, maka saya kejar mereka untuk belajar. Saya satroni. Saya sisihkan waktu saya untuk mendatangi yang bersangkutan. Alasan-asalan saya tebas, hanya untuk memastikan bahwa saya bisa belajar.

Sebagai contoh, beberapa hari yang lalu saya mengundang beberapa orang yang jagoan dalam bidang perkopian (dalam artian mereka memiliki usaha di bidang tersebut) dan beberapa orang penggemar kopi. Tujuannya adalah untuk berdiskusi soal alat kopi. Kali ini memang topik utamanya adalah itu, meskipun pada kenyataannya ada banyak topik yang dibicarakan. Alhamdulillah ada banyak yang datang. Ini foto sebagian yang datang.

Bandung Connection: Coffee moguls in Bandung

Saya senang sekali dapat belajar ke mereka. Luar biasa ilmu-ilmunya.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah jika ingin belajar, ya harus mau usaha. Harus dikejar. Itu saja. Sebagian besar orang, tidak mau usaha.

Perlukah Kegilaan?

Jawaban singkatnya adalah perlu. Lah? Maksudnya bagaimana? Memang harus ada konteksnya dulu ya.

Jadi ceritanya saya mengajarkan entrepreneurship (apa terjemahannya betul kewirausahaan?). Salah satu sifat yang perlu dimiliki adalah tidak menyerah. Grit. Bahkan sifat ini dapat didorong lagi menjadi sedikit “gila” dalam arti nekad. Tetap teguh dalam menjalankan usahanya meskipun banyak tantangan.

Bagaimana caranya agar kita dapat tetap teguh meskipun dianggap gila? Salah satu solusinya adalah bergabung dengan orang gila lainnya. Ha ha ha. Jadinya kita merasa “normal”. Ternyata ada yang lebih gila dari kita.

Percakapan antara orang gila mungkin begini.

A: “Kamu mau kemana?”
B: “Saya tadi sudah makan kok”
A: “Oh yang di sana ya?”
B: “Iya enak”

Dan keduanya bahagia.