Perjalanan ke Sumatera Barat

Ada beberapa pertanyaan, “pak, kenapa belum update blog lagi?”. Jawabannya adalah karena saya sedang di perjalanan. Kali ini saya sedang di Sumatera Barat. Hari Minggu kemarin saya tiba di Padang dan langsung ke Bukittinggi. Leha-leha sebentar. (Foto-foto dulu.)

DSC_6172 jalan 0001

Kemudian saya kembali ke Padang untuk mengisi acara Seminar Nasional dengan topik “Fintech Security” di acara Lustrum 1 FTI, Universitas Andalas.

fintech security

Itulah sebabnya saya belum sempat ngeblog. Tulisan ini juga saya buat di kamar hotel.

Potensi Aplikasi Mobile di Indonesia

Banyaknya pengguna handphone di Indonesia merupakan kesempatan untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi mobile. Namun jika kita lihat, kesempatan ini belum dimanfaatkan oleh pengembang aplikasi mobile di Indonesia. Coba kita lihat daftar aplikasi yang paling populer.

  1. Daftar aplikasi terpopuler di Indonesia dari Google Playstore
  2. Daftar aplikasi terpopuler di Indonesia dari Apple Store

Dari daftar tersebut dapat kita lihat bahwa aplikasi mobile yang populer kebanyakan (hampir semua malahan) tidak dikembangkan oleh pengembang dari Indonesia. Walah.

Jika kita teliti lebih lanjut, aplikasi-aplikasi yang populer dari pengembang Indonesia biasanya terkait dengan bisnis pemilik aplikasi tersebut. Sebagai contoh, aplikasi Tokopedia merupakan pendukung dari market place Tokopedia. Demikian pula dengan Bukalapak, Go-jek, MyTelkomsel, dan seterusnya. Tidak ada aplikasi yang berdiri sendiri sebagai aplikasi.

Hal yang menarik lainnya adalah pasar aplikasi mobile di luar negeri didominasi oleh Games. Di Indonesia, meskipun sudah banyak yang berusaha, pasar ini malah belum barhasil dikuasai.

Hasil berbincang-bincang dengan berbagai pengembang aplikasi mobile, kebanyakan mereka mengembangkan aplikasi sesuai dengan kebutuhan klien. Misal ada klien yang berupa sebuah perusahaan yang minta dibuatkan aplikasi, maka aplikasinya ya memang khas untuk perusahaan tersebut, bukan untuk umum.

Jadi bagaimana masa depan pengembang aplikasi mobile di Indonesia?

Koding Atau Buat Dokumentasi

Sekian lama saya tidak ngeblog itu ada alasannya. Saya lagi (kebanyakan) koding. Membuat kode program untuk berbagai hal, terutama untuk aplikasi Internet of Things (IoT). Tentu saja ada kegiatan-kegiatan lain yang harus saya lakukan (dan bahkan mungkin juga yang lebih dominan), tetapi kali ini saya ingin menyoroti masalah koding.

Salah satu masalah yang sering dikeluhkan terhadap para koder (programmer) adalah kuranganya dokumentasi dari kode yang mereka buat. Ini betul. Sebagai seorang koder, saya juga sering mengalami dilema. Di satu sisi saya ingin membuat dokumentasi, tetapi di sisi lain saya masih harus meneruskan kodingan. Kalau tadi beres satu bagian, maka masih ada bagian lain yang harus dikodekan. Belum lagi kode bagian sebelumnya juga masih harus dimodifikasi. Akibatnya, waktu malah digunakan untuk membuat kode baru dibandingkan dengan membuat dokumentasi.

Yang menjadi masalah adalah banyak hal yang harus didokumentasikan. Design decisions, misalnya. Mengapa saya melakukannya seperti itu di sebuah kode? Ada alasannya. Kalau tidak didokumentasikan, maka koder selanjutnya akan kesulitan untuk memahami kode yang sudah saya buat. Jangankan koder lain, saya sendiripun kalau sudah lewat sekian bulan maka sudah lupa dengan kode-kode yang saya buat sebelumnya.

Singkatnya mengabaikan dokumentasi itu buruk! Iya semua orang tahu, tetapi tetap saja dilakukan. Sayapun tetap melakukannya. Nah, sebetulnya waktu yang saya gunakan untuk ngeblog ini dapat digunakan untuk membuat dokumentasi. Ini malah ngeblog. ha ha ha. Tapi kalau saya tidak memaksakan ngeblog, pasti ada saja yang lebih “penting”(?). Akibatnya ya blognya jadi kosong.

Dokumentasi harus menunggu. Ngeblog dahulu. Wah.

Kere Penjelajah Waktu

Pagi hari yang cerah. Waktunya menyapa matahari. Kurapikan tempat tidurku, yang sebenarnya hanya sebuah sleeping bag. Maklum, kamar yang kutinggali ini cukup mungil. Tidak cukup untuk sebuah tempat tidur yang ukurannya paling kecil sekalipun. Panjang kamar tidur ini hanya cukup untuk sleeping bag tadi dan sajadah. Itu sudah cukup bagiku. Aku tak punya banyak barang. Hanya ada satu ransel yang teronggok di ujung, berdekatan dengan sepasang sepatu boots.

Aku adalah seorang penjelajah waktu. A time traveller. Dalam artian sesungguhnya. Harfiah. Tentu saja banyak orang yang tidak percaya. Kamu percaya? Pasti tidak! Saya mengerti. Ada banyak hal yang tidak masuk akal pada saat ini. Ilmu yang kalian pelajari belum sampai ke sana. Akupun akan tidak percaya kalau tidak mengalaminya sendiri. Bagaimana ceritanya?

Pada suatu masa ketika aku baru menjadi mahasiswa, aku tinggal di sebuah tempat kos-kosan. Tinggalnya di sebuah gang yang sebenarnya cukup lebar. Ini adalah daerah tempat pekerja atau mahasiswa koskosan. Sebelah tempat kosku ada rumah yang agak kumuh. Di depannya ada becak yang nampaknya jarang digunakan. Sebetulnya becak itu masih bisa difungsikan, tapi aku belum pernah melihatnya pindah dari tempatnya.

Seingatku hari itu adalah hari Minggu pagi. Sebetulnya bukan pagi, menjelang Subuh. Semalaman aku tidak tidur, membaca buku. Penat membaca buku, aku keluar dan melihat becak itu. Hmm … tak ada orang. Kuberanikan diri masuk ke halaman tetangga itu dan kunaiki becak itu. Ah, nikmat juga becak ini.

Sambil mengkhayal, tanganku berpengangan ke pinggiran becak. Ayo ngebut. Becak zig-zak. Hi hi hi.

Tiba-tiba terpegang sebuah tombol. Apaan ini? Pencet aja ah …

Ziiii…ngggg … Whoa … tiba-tiba semua berubah mejadi cepat. Cahaya melewati kiri dan kanan … Whoaaaa … cengkeraman tangan makin kuat. Aaaa ….

Sebetulnya mungkin semuanya berlangsung hanya 10 detik, tetapi seakan-akan lama. Tiba-tiba ada yang aneh. Pemandangan di depan berubah … Aku berada di tempat lain. HAH??? Ini dimana???

… [bersambung] ….

Bandung Itu Jauh

Ini adalah keluh-kesah kesekian kalinya tentang Bandung. Curcol. Biarlah diulang lagi. Namanya juga ngeblog.

Untuk berbagai alasan, saya memilih untuk tinggal di Bandung. Sebetulnya alasan singkatnya sih karena saya suka Bandung. Itu saja. Mungkin juga karena saya sudah terlalu lama tinggal di Bandung sehingga susah lepas dari Bandung, meskipun saya sempat tinggal hampir 11 tahun di Kanada. Singkatnya, salah saya sendiri memilih Bandung.

Ada banyak acara yang lokasinya di luar Bandung. Kebanyakan acara-acara yang terkait dengan saya itu adanya di Jakarta. Ternyata jarak Bandung-Jakarta itu masih “jauh”. Dahulu Bandung-Jakarta itu 2 jam. Kemudian banyak kendaraan, jadinya lebih lama lagi. Kemudian ada jalan tol, 2 jam lagi. Eh, nambah kendaraan jadi lebih lama lagi. Bahkan akhir-akhir ini karena sedang ada pembangunan, maka Bandung-Jakarta (atau sebaliknya) bisa sampai 5 jam! Naik kereta api juga sekarang 3 jam.

Bayangkan, jika ada pertemuaan yang lamanya hanya 1 jam tetapi tempatnya di Jakarta maka untuk ke Jakarta dan kembali lagi setidaknya dibutuhkan waktu 5 jam (paling cepat – asumsi 2,5 jam satu arah). Naik kereta api, setidaknya 6 jam pp. Itu belum termasuk berhenti (ngaso dulu, makan dulu, shalat dulu) atau kalau naik kereta api nunggu dulu di stasiun. Sangat tidak masuk akal untuk 1 jam pertemuan saya harus menghabiskan waktu 6 – 9 jam untuk perjalanannya.

Itulah sebabnya – dengan berat hati (dan kadang disertai rasa malu) – saya sering tidak dapat menghadiri acara-acara di Jakarta. Alasannya sederhana: Bandung jauh dari mana-mana.

Tentang Pemblokiran Telegram

Beberapa hari yang lalu dunia siber Indonesia dihebohkan oleh keputusan pemerintah Indonesia (dalam hal ini Kominfo) yang memblokir layanan telegram. (Yang diblokir adalah layanan via web dulu, kemudian akan diblokir yang aplikasi mobile-nya.) Pengelola telegram dianggap tidak kooperatif dalam memblokir layanan telegram untuk group-group yang terkait dengan terorisme.

Saya termasuk yang tidak setuju dengan keputusan pemerintah ini. Menurut saya cara ini tidak efektif. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, telegram bukan satu-satunya media komunikasi yang digunakan oleh teroris. WhatsApp dan aplikasi lain juga digunakan. Mengapa hanya telegram yang diblokir? Fitur yang ada di WA pun sama dengan yang ada di telegram. (Dahulu memang WA tidak memiliki fitur enkripsi sehingga mudah disadap, sekarang dia memiliki fitur itu.)

Kedua, keputusan pemerintah ini malah menunjukkan bahwa pemerintah tidak mampu melakukan (counter-)intelligence terhadap pengguna telegram. Ini makin menunjukkan bahwa telegram merupakan platform yang bagus untuk digunakan karena tidak bisa diatasi oleh pemerintah Indonesia. Wah.

Ketiga, banyak orang (perusahaan, organisasi, individu) yang mengembangkan aplikasi di atas telegram ini. Aplikasi tersebut berbentuk “bot” (robot, chat-bot) yang dapat diprogram sesuai dengan perintah (teks) yang diberikan oleh pengguna. (Machine learning / artificial intelligence) Contohnya antara lain, early warning system, help desk, payment chatbot, dan seterusnya. Inovasi-inovasi ini terbunuh begitu saja. Telegram sekarang dapat dianggap sebagai “infrastruktur” seperti halnya YouTube.

my students_0001
sebagian dari topik penelitian mahasiswa saya. yang paling bawah tentang enkripsi yang digunakan oleh berbagai aplikasi chat

Terakhir, kalau sedikit-sedikit blokir – trigger friendly – maka ada kekhawatiran akan apa saja yang akan dilakukan di kemudian hari. Ketidak pastian. Ini buruk bagi bisnis (dan penelitian).

Syarat Untuk Menjadi Kreatif

Banyak orang yang ingin menjadi kreatif tetapi tidak tahu caranya. Banyak juga yang sudah tahu caranya tetapi tidak melakukannya. Baiklah. Ini adalah salah satu cara saya untuk menjadi kreatif.

Saya selalu menantang diri saya sendiri. Challenge myself. Salah satu caranya adalah menahan diri untuk tidak sering-sering membagikan ulang (reshare)  sesuatu di media sosial. Misalnya, saya hanya boleh melakukan sharing setelah saya membuat tulisan / gambar / foto / program / atau apapun yang buatan saya sendiri sebanyak 10 kali. Jadi rasio buatan kita sendiri dan buatan orang lain adalah 10:1.

P_20170712_092816-01
ngoprek IoT dulu sambil ngopi

Hal-hal kecil seperti ini membuat kita memutar otak. Kreatif. Silahkan dicoba deh. Melatih diri sendiri untuk menjadi kreatif.

Sekarang banyak orang yang hobby-nya hanya reshare. Apa hebatnya? Apa pentingnya? Ini mengajari kita untuk tidak kreatif.

J-POP (Jepang), K-POP (Korea), dan lain-lainnya tidak muncul dengan sendirinya. Ada program-program, kegiatan-kegiatan untuk menjadikannya kreatif. Indonesia bagaimana?

Ayo kreatif!