Donasi Kopi (part 5): Distribusi di Jogja bersama PT MAK

Berikut ini adalah video dokumentasi distribusi Donasi Kopi dengan bantuan donatur PT MAK (Sleman, Jogja). Informasi mengenai PT MAK dapat diperoleh dari web sitenya: https://www.mak-techno.com/id/

Video dokumentasi distribusinya berikut ini.

Terima kasih PT MAK. Semoga donasi kopi ini dapat diterima dengan baik oleh para Nakes. Semoga kita selalu diberi kesehatan. Bagi yang ingin berkontribusi, ditunggu.

Donasi Kopi (part 4): video informasi

Untuk menjangkau lebih banyak donatur, maka saya buatkan video tentang informasi DONASI KOPI untuk Nakes ini di YouTube. Sebetulnya ini sama dengan tulisan yang ada di blog ini, tetapi mungkin saat ini lebih banyak orang yang lebih melihat YouTube dibandingkan blog (tulisan). Ini dia videonya.

Tantangan Diri: Ngevlog setiap hari selama 1 bulan

Seperti biasa, saya menantang! Yang ditantang ya diri sini. Ini adalah ciri seorang pemberani. Ha ha ha. Mungkin ini hanya mencari pembenaran, tetapi sesungguhnya ini adalah sesuatu yang berat. Sebelum menantang orang lain, tantanglah diri sendiri.

Kali ini saya menantang diri untuk membuat video YouTube (nge-vlog) setiap hari berturut-turut selama satu bulan. Nah. Sanggupkah?

Ada banyak masalah terkait dengan hal tersebut. Pertama, orang mempermasalahkan soal topik. Saya tidak. Kalau kita bicara 30 hari, maka harus memiliki setidaknya 30 topik. Ini bukan masalah bagi saya karena saya punya aplikasi – buatan sendiri tentunya – yang mengeluarkan (generate) topik baru setiap dijalankan. Nah. Bahkan setiap hari saya punya ide topik yang perlu dibahas. Jadi, ini bukan masalah.

Kedua adalah soal waktu. Ada banyak alasan orang untuk tidak menulis (ngeblog) atau membuat video (nge-vlog) dan “tidak ada waktu” adalah alasan yang cukup tinggi juga di urutannya. Memang membuat tulisan atau video yang bagus membutuhkan waktu. Nah, bagaimana kalau membuat tulisan / video yang tidak terlalu bagus saja? Kalau alasannya adalah karena kualitas, maka mari kita buat fokusnya ke kuantitas dulu. Kualitas kita tempatkan di urutan ke 17. Masih mau cari alasan lain?

Kembali ke tantangan saya tersebut – ngevlog selama sebulan – menurut saya, saya berhasil. Hanya ada 1 kali bolong yaitu kemarin. Ada alasannya tetapi itu sudah saya bahasa di vlog saya. Tuh kan, kegagalan saja bisa menjadi topik bahasan.

Tantangan berikutnya apa? Saya mau perpanjang tantangan ini. Meneruskan menjadi 2 bulan. Ha ha ha. Tadinya mau menantang diri untuk menjadikannya 1 tahun, tetapi itu merupakan tantangan yang terlalu berat. Naik jadi 2 bulan saja sudah seperti naik tangga. Steep. Bukan landai. Mari kita coba.

Semangat!

Donasi Kopi (part 3)

Berikut ini ada beberapa dokumentasi tentang pengirimkan kopi siap saji yang merupakan bagian dari inisiatif “Donasi Kopi Untuk Nakes” yang kami jalankan. Sebetulnya masih ada banyak foto-foto yang lain, tetapi ini semoga menjadi bagian dokumentasi singkat untuk menunjukkan apresiasi kami kepada para Nakes.

Donasi Kopi ke UPT. Puskesmas Puter
Kardus Donasi Kopi yang dikirimkan ke Sleman, Jogjakarta (PT MAK)

Terima kasih untuk partisipasi semuanya. Bagi rekan-rekan yang ingin ikut berpartisipasi, baik dalam menyumbang dana yang akan dijadikan kopi ataupun memberikan saran tempat untuk pengiriman kopi tersebut, silahkan lihat postingan saya sebelumnya di sini:

Harga Sebuah Komitmen

Jika Anda memiliki sebuah komitmen, katakanlah sebuah pekerjaan atau tanggungjawab, seberapa besarkan Anda menghargai itu? Seringkali memang uang menjadi sebuah tolok ukur sebuah tanggung jawab. Maka ada lawakan yang mengatakan “wani piro” (berani berapa).

Baru-baru ini, misalnya, saya diminta untuk menjadi seorang moderator (atau menjadi nara sumber) pada sebuah acara. Dijanjikan honor sekian juta (x juta atau kadang xy juta). Masalah saya adalah waktu yang diminta bersamaan dengan komitmen saya mengajar atau memberikan mentoring / bimbingan. Yang paling sering saya lakukan adalah menolak dengan sopan. Mohon maaf, saya sudah ada jadwal (mengajar, acara lain, atau apa lagi). Pernah juga kejadian saya tidak dapat mengajar karena komitmen untuk mengisi acara itu hadir sebelum jadwal mengajar ada. Jadi ya siapa duluan dia yang dapat.

Mungkin mahasiwa saya tidak dapat mengapresiasi bahwa untuk memberikan bimbingan atau mentoring kepada mereka sesungguhnya saya menolak kerjaan (singkat) sekian juta rupiah. Ha ha ha. Sampai sekarang pun mereka tidak akan tahu, kecuali kalau ada yang membaca ini. Blog ini sudah tidak terlalu populer sehingga saya yakin tidak ada yang baca. Ini hanya sekedar catatan di belakang layar.

Nah, kembali kepada pertanyaan awal, “berapa harga komitmen Anda”?

Donasi Kopi (part 2)

Seperti sudah dituliskan pada tulisan “Donasi Kopi”, sekarang mari kita dokumentasi perkembangannya. Kopi sudah diproduksi dan sekarang sudah didistribusikan. Berikut ini adalah dokumentasi cepat (sneak preview) dari distribusi kopi-kopi tersebut. Dokumentasi yang lebih baik (proper) sedang kami siapkan.

Kopi sudah diterima di RS Al Ihsan. Ini foto penyerahan secara simbolis. (Harus dituliskan siapa-siapa yang ada di foto ini. next update.)

Foto penerimaan box kopi dari Donasi Kopi secara simbolis.

Nakes di RS Mery sedang bersiap-siap menikmati kopi dari Kopi Donasi.

Melihat foto-foto di atas (dan masih banyak lagi foto yang kami terima – akan kami buatkan dokumentasi yang lebih proper), kami merasa bahagia dapat memberikan apresiasi kepada para nakes. Ini membuat kami dan para donatur ikut senang. Semoga usaha rekan-rekan sekalian mendapat gajaran yang jauh lebih baik. Semoga para nakes dilindungi kesehatannya.

Penerima Donasi Kopi yang sudah menerima adalah:

  • RS Al Ihsan
  • RS Mery Cileungsi

Secara khusus, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Protelindo sebagai salah satu donatur. Selain itu ada banyak donatur lainnya (yang tidak saya sebutkan karena saya belum meminta ijin dan ada banyak yang tidak mau disebutkan).

Bagi yang ingin ikut memberikan donasi dan juga memberikan informasi kemana sebaiknya Donasi Kopi diberikan, silahkan kontak saya melalui jalur pribadi. Berikut ini saya sampaikan juga posternya, agar tidak lupa. Jika Anda melakukan transfer, mohon konfirmasi kepada saya melalui jalur email ya.

Menjadi Matahari

Hanya memberi
Meski hanya sendiri

Tak boleh menaruh harapan
Agar orang paham akan

Karena tak semua orang mampu
Karena tak semua orang mau
Menjadi Matahari

Ketika hari gelap
Dan semua terlelap

Tak boleh berhenti
Meski sejenak

Karena engkau
Tetap harus
Menjadi Matahari

Suatu saat nanti
Ketika Yang Kuasa
Meminta kau untuk berhenti
Menjadi Matahari

Donasi Kopi

Semua industri terkena dampak pandemi COVID-19. Banyak bisnis yang harus berhenti atau tertunda karena dibatasi orang yang dapat berkumpul atau berinteraksi. Salah satu yang terdampak juga adalah dunia kopi. Supply chain kopi dari petani sampai ke kedai kopi semua terpengaruh. Kedai kopi terpaksa ditutup karena pelanggan tidak boleh duduk minum kopi di kedai. Satu-satunya penjualan adalah dengan take-away atau menggunakan jasa online, yang tidak dapat dilakukan oleh setiap orang.

Salah satu upaya yang ingin kami lakukan adalah menghidupkan dunia perkopian dengan membeli produk-produk kopi.

Pada saat yang sama, kita menyaksikan kerja keras para tenaga kesehatan (nakes) dalam menjaga kesehatan kita semua. Mulai dari dokter, perawat, petugas administrasi, petugas ambulans, penjagaa kebersihan, relawan, sampai ke penggali lubang kubur. Mereka bekerja keras, berjibaku dengan merisikokan kesehatan dan nyawa mereka sendiri. Mereka ini perlu diapresiasi.

Salah satu upaya yang ingin kami lakukan adalah memberikan kopi (siap seduh, praktis) sehingga mereka dapat menambah semangat, ketenangan, kebahagiaan ketika mereka sedang beristirahat ataupun ketika bekerja.

Kopi ini dapat juga dinikmati untuk pasien isolasi mandiri.

1 Kebaikan 2 Manfaat

Donasi dapat dikirimkan ke rekening BNI an. Budi Rahardjo: 1236439769. Konfirmasi pengiriman donasi ke email bungbr@gmail.com.

Semoga kita semua dilindungi Yang Maha Kuasa dan diberi kesehatan. Sehat, Indonesia!

Kopi Lanang

Pertama kali saya mencoba kopi Lanang itu dari sebuah pameran. Waktu itu acaranya di akhir pameran dan para peserta stand sudah mulai bongkar-bongkar stand mereka. Saya lihat ada satu stand kopi yang mau bongkar-bongkar. Eh, dia nawari kopi Lanang yang merupakan produksi dari mereka dengan harga yang sangat murah. Saya rasa daripada mereka pulang mebawa barang lagi, maka lebih baik dijual murah. Saya beli.

Sesampainya di rumah, kopi ini saya giling dan seduh. Wuih enak euy. Sayang sekali saya tidak tahu kemana mau beli kopi ini. Ya itu tadi, beli kopi itu juga agak ngasal karena harganya murah sehingga tidak bertanya kemana kalau mau beli lagi. Bungkus kopinya pun tidak memberikan informasi itu. Ya sudah, sampai di situ saja saya menikmati kopi lanangnya. Saya sendiri masih tidak tahu yang dimaksud kopi lanang itu apa.

Lama kelamaan saya diberi penjelasan dari kawan-kawan yang bergerak di bidang per-kopi-an tentang apa itu kopi lanang atau dikenal juga dengan nama peaberry. Nanti saya buatkan link tentang informasi itu di sini. Intinya adalah kopi ini cukup langka dari setiap panen sehingga harganya lebih mahal. Dari segi rasa selama ini kopi lanang selalu enak sekali. Jadi kalau ada pilihan kopi lanang, hampir selalu saya sikat. Belum pernah dikecewakan.

Minggu-minggu lalu saya mendapatkan dua kopi lanang ini; dari Glic dan dari Penyeo Kakopi. Tidak dapat disangkal kopinya enak sekali rasanya dan bau aromanya pun enak. Seringkali saya menemukan kopi yang enak sekali rasanya tetapi bau aromanya biasa saja. Aroma kopi itu ikut membuat selera minum kopi meningkat. Ada satu kopi celup dari Australia yang bau aromanya luar biasa sekali. Semerbak bau kopi enak kemana-mana. Soal rasa sih biasa-biasa saja. Setiap mau minum kopi yang itu selalu saya nikmati dulu baunya. Kembali ke kopi lanang ini, saat ini saya sedang menikmati keduanya. Yang Glic karena ukuran paketnya yang kecil, isinya sudah habis. ha ha ha. Yang satunya masih cukup banyak.

Peaberry coffee dari Glic
Kopi Lanang Penyoe Kakopi

Demikianlah review singkat saya tentang kopi lanang yang sedang saya nikmati. Kontak untuk Glic dan Penyoe Kakopi menyusul ya.

Review Kopi

Banyak yang meminta saya untuk membuat review tentang berbagai jenis kopi. Ini disebabkan saya sering mendapatkan kiriman kopi. Ini benar, setiap minggu saya mendapatkan berbagai jenis kopi sehingga koleksi kopi saya mungkin cukup untuk 1 tahun ke depan. Itu kalau semuanya saya minum sendiri. Kalau saya bagi-bagian tentunya lebih cepat habis. Saya juga penggemar kopi, sehingga katanya cocok juga lah untuk menjadi orang yang membuat review kopi.

Ini contoh kopi yang datang ke saya minggu ini

Masalahnya adalah saya tidak punya ilmu coffee tasting. Saya hanya penggemar kopi. Bagi saya kopi itu hanya ada dua kategori; enak dan enak sekali. Ha ha ha. Prinsip ini saya curi dari mantan mahasiswa saya, Andhi, yang bilang bahwa selain racun tikus, makanan itu hanya dua jenis; enak dan enak sekali. Jadinya nantinya isi review saya ya hanya bilang enak atau enak sekali.

Oke lah karena banyak yang memaksa, nanti akan saya coba buatkan review kopi yang lebih rutin. Selain itu juga mungkin akan saya coba buat content yang sama untuk kanal YouTube saya. Baiklah.

Kelangkaan Chips

Saat ini sedang terjadi kelangkaan chips (komponen kecil) sehingga industri otomotif kesulitan memproduksi mobil. Bukan hanya itu saja, barang-barang terkait dengan komputer seperti gadget dan game console pun terkena imbasnya. Harganya menjadi mahal – kalau ada. Sebetulnya masalah apa? Kenapa dapat terjadi seperti ini? Sampai kapan ini akan berlangsung? Apakah Indonesia dapat memanfaatkan kesempatan ini?

Jum’at malam yang baru lalu ada diskusi mengenai kelangkaan chips ini. Penjelasan dari kawan-kawan saya di Pusat Mikroelektronika sangat mencerahkan. Ini rekaman dari diskusi tersebut.

Materi presentasi dari diskusi ini tersedia di halaman berikut:

https://elektronika.stei.itb.ac.id/2021/06/20/chipageddon-global-chip-shortage/

Semoga bermanfaat.

Sibuk

Ini postingan tentang topik sibuk yang kesekian kalinya. Maklum, ini manusianya orang sibuk. Jadi topik yang paling sering muncul adalah sibuk. Hanya saja biasanya saya tidak menuliskan itu di sini. Maksudnya tidak sering-sering menuliskan itu.

Minggu ini hampir setiap hari saya ada meeting dan seminar (online) sampai pukul 9 malam. Kadang setelah itu dilanjutkan ikut (mendengarkan) meeting yang sedang berlangsung (sampai pukul 10). Belum lagi ada tugas untuk memeriksa makalah mahasiswa.

Tulisan ini dibuat sambil memeriksa tugas mahasiswa dan juga mempersiapkan materi Data Science with Python (hari kedua). Untuk materi besok, soal kelangkaan chips, baru akan saya siapkan Jum’at pagi. ha ha ha. Ini posternya.

Kata orang, “if you want to get the job done, give it to the person who is already busy”. What a concept. Ngeri kali. Ha ha ha.

Mengatasi Berita Bohong (Hoax)

Baru-baru ini saya mendapatkan sebuah pesan pribadi dari seseorang yang menanyakan bagaimana caranya untuk meluruskan sebuah berita bohong (hoax) yang sedang beredar di group WhatsApp yang diikutinya. Dia menyertakan beberapa potret (screenshots) dari berita yang dimaksudkan. Situasi seperti ini bukanlah yang pertama kali yang saya alami, karena memang keberadaan berita bohong di Indonesia sudah menjadi semacam wabah (penyakit). Pertanyaannya tetap sah, bagaimana mengatasinya? Berikut ini opini saya.

Pertama, jangan langsung didebat berita bohong tersebut di group WA karena debatan Anda akan tenggelam dalam pesan-pesan lainnya. Masalah dari group chat (dan media sosial secara umum) adalah mereka mudah hilang. Maksudnya sulit bagi kita menemukan data atau tulisan yang sudah lama, misal 3 bulan yang lalu. Jadi kalau ada yang mengirim ulang berita bohong (atau membuat modifikasi dari berita bohong lama), maka kita akan repot lagi karena jawaban kita sudah hilang. Maka salah satu cara untuk mengatasi ini adalah menyimpan sanggahan kita, klarifikasi dan seterusnya, ke sebuah situs web (atau blog) yang relatif lebih permanen dan lebih mudah dicari / diakses.

Kedua, perang dengan berita bohong adalah masalah keabsahan fakta. Darimana kita tahu bahwa yang cerita yang disampaikan itu adalah berita bohong? Maka data tersebut harus didokumentasikan, misalnya boleh dalam bentuk potret layar (screenshot) sehingga orang lain juga dapat melihat topik yang yang sedang dibahas. Jadi data atau “fakta” dari yang disebut berita bohong atau sanggahannya keduanya harus tersedia.

Ketiga, sanggahan atau pelurusan berita bohong ini harus mudah dicari dan juga diviralkan. Maka inilah perlunya ada organisasi semacam hoax buster. Nampaknya saya pun harus membuatkan daftarnya di sini sehingga mudah dicari oleh orang ya? (Nanti saya perbaharui tulisan ini secara berkala dengan daftar tersebut.)

Berikutnya lagi adalah orang yang membuat berita bohong ini akan terus membuat berita bohong. Maka perlu ada upaya untuk menangkap dan menyeret orang tersebut ke meja hijau. Harus diberi hukuman agar jera. Contoh-contoh kasus sebelumnya perlu juga ditampilkan. Saat ini kan lawakannya adalah (1) buat berita bohong, (2) kalau ditangkap nangis-nangis, (3) selesaikan dengan pernyataan yang disegel dengan meterai. Seperti itu belum cukup. Aspek jeranya kurang.

Tentu saja edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dengan berita bohong – dan bahkan ikut menyebarkan – perlu dilakukan. Seringkali orang tidak secara sadar ikut menyebarkan dengan meneruskan berita bohong tersebut dengan menambahi kata-kata “apakah ini benar?”. Mereka tidak sadar bahwa mereka sebetulnya ikut menyebarkan berita bohong tersebut. Sebelum menyebarkan dan menambahkan kata “apakah ini benar?” itu ada baiknya melakukan pencarian (checking) terlebih dahulu. Memang ini menjadi lebih repot daripada sekedar meneruskan berita bohong tersebut dengan menambahi kata “apakah ini benar?”. Intinya ya harus mau ikut repot. Ini yang susah. Orang malas untuk melakukan hal itu.

Sudah terlalu panjang. Nanti malah tidak dibaca kalau kepanjangan.

Daftar tempat untuk memeriksa berita bohong atau tidak:

  • (akan saya tambahkan)

Menjadi Outsider

Dari dulu saya merasa bahwa diri saya adalah seorang outsider. Maksudnya bagaimana sih? Mungkin definisi dari outsider itu harus diperjelas dulu ya? Langsung dari cerita saja ya. Mulainya entah sejak kapan. Saya ambil contoh random saja ya.

Ketika SMP atau SMA biasanya orang memiliki kelompok group. Saya kok merasa tidak punya ya. Hanya di SMA saja saya ada kelompok yang isinya hanya berempat orang saja. Selain itu tidak ada. Contohnya begini. Misalnya saya bisa main musik, tetapi di SMA saya tidak pernah ikut kelompok musik. Padahal untuk ukuran SMA mungkin kemampuan gitar saya oke lah. Eh, malah sekalinya diajak main musik ya malah menabuh drum di festival. Selain itu saya tidak pernah diajakin kelompok musik. Solusi saya, ya buat group musik sendiri. ha ha ha. Seingat saya ada beberapa kelompok amatiran yang saya ikuti, mulai dari musik eksperimen (splicing tape, slowing it down, dll.) sampai ke yang Beatles-an.

Main sepak bola juga sama. Saya tidak pernah diajakin ikut klub sepak bola. Yang ini saya tidak buat klub sepak bola sendiri, karena repotnya luar biasa. ha ha ha. (Kalau sekarang, futsal.)

Dari segi kelompok yang berasal dari strata ekonomi, juga tetap outsider. Tidak masuk ke group orang kaya. Tidak masuk group orang miskin. Tidak masuk group orang tengah. Mungkin kawan-kawan bingung, saya harusnya masuk ke kelompok mana. Walhasil, saya tidak termasuk kelompok mana-mana. Bagi semua group, saya adalah outsider.

Waktu menjadi mahasiswa juga sama saja. Di kampus juga ada kelompok band, tetapi lagi-lagi saya juga tidak diajakin. Ya buat band sendiri. Ya tetap juga tidak diajakin. Ya sudah, buat acara sendiri saja. Ha ha ha. Olah raga, politik, keilmuan, semuanya juga sama. Saya tetap jadi outsider.

Sampai sekarang kejadian outsider tetap berlangsung. Ini di semua lini; mulai dari olah raga, musik, bisnis, pendidikan, dan seterusnya. Ada acara alumni lah, itu lah, dan seterusnya, nama saya tidak pernah ada karena tidak pernah diajak. Saya ambil asumsi mereka mengira saya sibuk (padahal memang iya – ha ha ha). Atau mungkin dikiranya saya tidak atau tidak mampu. Apapun, saya tidak ikutan. Solusi saya juga gampang saja dan masih tetap sama, buat klub / kelompok sendiri. Buat acara sendiri. Happy-happy sendiri saja. ha ha ha. Jadi tidak perlu bergantung kepada orang lain.

Jadilah matahari.