Bacaan Yang Pantas Dibaca

Ada berapa buku yang diterbitkan setiap harinya? Saya tidak tahu statistiknya. Semestinya banyak. Dari buku-buku yang diterbitkan ini, berapa persen yang bagus dan layak untuk dibaca? Nah, ini lagi-lagi saya tidak tahu, tetapi saya menduga jumlahnya tidak banyak. Ini berdasarkan pengalaman pribadi dikecewakan membeli buku. Mungkin ketidaksukaan saya pada beberapa buku adalah masalah selera, tetapi saya yakin memang banyak buku yang tidak layak untuk dibaca. Memboroskan waktu saja.

Bagaimana mencari buku yang pantas dibaca? Untuk itu ada beberapa situs yang memberikan resensi dari para pembaca buku. Bukan dari penerbit / penjual buku. Review dari mereka dapat membantu kita memilih buku yang pantas dibaca.

Sekarang dengan teknologi informasi (IT) makin banyak bahan bacaan lagi. Ada banyak blog, situs, situs berita, dan juga media sosial. Dari ini semua, seberapa banyak yang memang pantas untuk ditukarkan dengan waktu kita? Saya yakin, tidak banyak. Lantas, mengapa kita masih membuang waktu kita untuk membaca, mengomentari, dan bahkan mencari bacaan yang tidak manfaat itu?

Carilah bacaan yang manfaat, yang membuat kita menjadi lebih baik dan bahagia. Bukan bacaan yang membuat kita marah-marah, meningkatkan tekanan darah, dan membuat permusuhan. Lebih baik cari bacaan yang positif lah. Memang tidak banyak, tetapi ada. Hargai waktu kita.


Terima Kasih, David Letterman

Beberapa hari yang lalu, David Letterman mengakhiri acara “Late Night” di CBS setelah 33(?) tahun mengudara. Letterman merupakan salah satu sosok pembaharu acara talk show setelah Johnny Carson.

Bagi saya, David Letterman merupakan seorang “mentor” yang mengajari saya bahasa Inggris dan pop culture. He is one of my heroes.

Ketika saya berangkat ke Kanada tahun 1987, saya sebetulnya sudah bisa berbahasa Inggris tetapi penguasaan bahasa Inggris saya masih formal. Setelah sampai di Kanada saya tinggal di asrama (dorm). Dan tentu saja budaya mahasiswa mulai menjadi bagian dari saya; pop culture. Salah satunya adalah acara Late Night-nya David Letterman ini. Yeah, for better or worse, I am Westernized.

Lawakan si Dave ini lucu, nakal, synical, dan intelektual. (Entah kenapa, saya merasa perlu memberi penekanan kepada kata “intelektual”.) Satu hal lagi adalah apa yang dia lakukan tidak palsu (fake). Ini yang kemudian menjadi panutan saya. Jadi, kalau Anda melihat saya melucu (secara intelektual) di panggung itu adalah gara-gara David Letterman. Secara tidak langsung, dia adalah “mentor” saya. (And if you see me wearing boots and suits, at one point I saw Dave wearing his basket ball shoes and suits. So, it’s okay, I am thinking. I am wearing boots most of the time.)

Jangan salah, banyak komedian lain yang mengakui David Letterman sebagai mentornya. Silahkan sebut nama komedian favorit Anda, pasti David Letterman masuk sebagi bagian dari idola / mentornya. Ini adalah contoh-contohnya. (Yeah, I am collecting these so that you know how he impacted those comedians.):

Kembali ke Indonesia, salah satu kehilangan saya adalah menonton “Late Night”-nya David Letterman ini. Sekarang, tidak hanya saya saja yang kehilangan, tetapi orang banyak. Lihat ini selebritis yang sangat menyayangi Dave Letterman. Look for the love and respect they show to him:

Sekali lagi, terima kasih, David Letterman. We love you. You don’t think that you have a fan here in Indonesia, do you? Thank you for making us better (and funny) persons.


Bekerja di Tempat Liburan? Menyebalkan!

Seringkali saya diundung untuk menjadi pembicara atau mengikuti seminar di tempat-tempat liburan, seperti di Bali atau luar negeri. Terus terang saya tidak terlalu tertarik. Pasalnya adalah sudah jauh-jauh pergi ke tempat itu, saya harus kerja sambil lihat orang yang bisa santai-santai. Sebel banget. Iri dengki.

Mungkin salah satu tujuan mengadakan acara tersebut di tempat-tempat liburan adalah sebagai daya tarik. Tapi, sampai di sana juga saya tidak bisa menikmati tempatnya. Harus kerja. Kecuali saya kabur dari termpat kerja. (Mungkin ini yang banyak dilakukan orang-orang?) Seringnya malah saya harus berada di ruang pertemuan / seminar seharian. Acara dimulai setelah sarapan, kemudian selesai malam. Sudah letih. Mak keluar juga hanya sempat untuk makan malam dan harus kembali ke hotelĀ  untuk menyiapkan materi acara besoknya.

Kalau ke tempat liburan itu enaknya ya … liburan. he he he. Leha-leha. Santai. Baca buku. Tidur-tiduran. Jalan-jalan. Makan. Dan sejenisnya. Tapi siapa yang mau membayari kita untuk pergi liburan?


Ke(tidak)amanan Perangkat Digital

Apakah benar perangkat digital – seperti handphone, tablet, notebook, dan teman-temannya – tidak aman? Kita mendengar berita tentang penyadapan handphone dari pejabat-pejabat Indonesia (dan dunia). Apakah sedemikian mudahnya disadap? Jawaban siangkatnya adalah “YA”.

Baru-baru ini kabel yang digunakan untuk men-charge dan transfer data iPhone saya rusak. Saya membeli kabel yang bukan asli, meskipun harganya masih mahal juga – 200 ribu rupaih. Beberapa minggu dia jalan, kemudian tiba-tiba tidak jalan. Si iPhone marah-marah dan mengatakan bahwa perangkat (kabel) saya tidak didukung oleh iPhone. Saya terpaksa beli lagi yang harganya 150 ribu rupiah. Lagi-lagi dia jalan untuk beberapa minggu dan kemudian tidka jalan lagi.

Bagaimana si iPhone tahu bahwa kabel saya ini kw, bukan asli? Cari info ke sana kemari, akhirnya tahu bahwa di kabel untuk men-charge iPhone itu ternyata ada sebuah chip. Kecil sekali bentuknya sehingga terlihat seperti colokan kabel USB biasa saja. Chip ini mengidentifikasi bahwa kabel itu resmi mendukung produk Apple atau tidak. Halah!

Link terkait:

Pikir-pikir, kalau sekarang dia bisa mengidentifikasikan perangkat maka apa yang menghalangi dia untuk mengirimkan data ke pihak lain? Katakanlah ke NSA di Amerika. Hadoh.

Kayaknya kita bisa buat charger yang ngambil data dari handphone yang menggunakan charger itu. Nah.


Ngeblog Amatiran Saja

Membaca koran Pikiran Rakyat hari ini (Minggu, 17 Mei 2015), ceritanya tentang ngeblog. Judulnya “Bisnis manis menulis blog”. Hmmm…

IMG_8408 bisni blog

Mungkin saya agak berbeda pandangan dengan mereka yang menulis blog untuk tujuan komersial ya. Saya sih menulis blog untuk tujuan lain – salah satunya adalah belajar menulis dengan baik – bukan semata untuk berbisnis. Kalau ada duitnya ya bagus tetapi bukan itu tujuan utamanya.

Sudah ada banyak orang yang bertanya mengapa blog ini tidak saya komersialkan, mislnya dengan memasang iklan secara pribadi atau melalui Google. Jawaban saya adalah saya belum tertarik. Jawaban sebetulnya adalah karena males aja. Ngeblog amatiran saja ah.

Kalau menulis seperti sekarang ini bebas tanpa tekanan (dari diri sendiri). Tidak ada aturan atau targetan khusus yang ingin saya capai. Topik atau judul tulisan juga sesuka saya. Tidak perlu dikemas sedemikian rupa sehingga ramai dikunjungi orang (SEO stuff). Ada banyak yang baca ya Alhamdulillah. Tidak ada yang baca, juga tidak masalah. Entah ini baik atau buruk, yang pasti menyenangkan bagi saya. he he he. Itu yang penting, bukan?


Pembatasan Waktu Kuliah di Perguruan Tinggi

Apakah perlu ada batas waktu di perguruan tinggi? Misalnya, setelah melewati waktu tertentu (x) maka yang bersangkutan di-DO (drop out). Alasannya kenapa ya?

Jaman dahuluuuu sekali tidak ada aturan ini. Jaman saya kuliah dulu ada yang kulihanya 10 tahun. Maka ada istilah “mahasiswa abadi”. hi hi hi. Waktu itu ini bisa terjadi karena tempat di perguruan tinggi masih banyak tersedia. Jadi tidak perlu ada pembatasan waktu kuliah. Toh mahasiswanya juga tidak menjadi membebani sumber daya (resources) perguruan tinggi. Dia hanya menjadi angka statistik saja (yang mana ini mungkin tidak disukai perguruan tinggi atau pemerintah).

Majukan waktu. Fast forward. Semakin banyak siswa yang ingin masuk ke perguruan tinggi sementara tempat tetap terbatas. Mulailah menjadi masalah. Maka mulailah dibatasi waktu studi di perguruan tinggi – meskipun waktunya masih agak longgar juga. Kalau lewat batas waktu itu, maka mahasiswa diancam DO juga.

Pada saat yang sama terjadi “inflasi” gelar. Kalau dahulu bergelar S1 sudah menjadi “jaminan” untuk mendapatkan pekerjaan, sekarang pekerjaan yang sama membutuhkan gelar S2. Apaan sih ini? Akibatnya gelar diperjualbelikan.

Majukan waktu lagi. Batas waktu diperketat lagi. Sekarang katanya kalau lewat dari 5 tahun di perguruan tinggi bakal kena DO. Nah, ini malah sumber masalah. Mahasiswa dan perguruan tinggi tidak mau terjadi DO. Ini mimpi buruk bagi keduanya. Bagi sang mahasiswa (dan orang tuanya) sudah jelas ini mimpi buruk. Bagi perguruan tinggi? Ini juga mimpi buruk. Mana ada perguruan tinggi yang mau menunjukkan statistik DO-nya. Bayangkan jika ada perguruan tinggi yang mengatakan bahwa 50% mahasiswanya drop out. Ada yang mau daftar? (Padahal ini seharusnya tidak masalah.)

Untuk menghindari DO ini maka muncullah upaya-upaya nakal. Salah satunya adalah menurunkan kualitas. Pokoknya kalau bisa seluruh mahasiswa lulus! Soal-soal ujian dipermudah. Everybody is happy. Ancur bukan? Dosen yang tidak meluluskan mahasiswa malah akan mendapat masalah, meskipun sang mahasiswa tidak layak untuk lulus. Biarkan saja nanti dunia bisnis / industri yang menerima akibatnya. Nah lho.

Atau, upaya nakal lain adalah berbuat curang. Bagi mahasiswa yang bermasalah ini adalah pilihan yang terpaksa mereka lakukan. Kalau tidak berbuat curang dan gagal, di-DO. Kalau berbuat curang dan ketahuan di-DO. Itu kalau ketahuan. Kalau tidak? Ya selamat. Kalau dilihat dari pertimbangan ini, maka melakukan kecurangan lebih prospektif daripada berbuat jujur. Padahal di perguruan tinggi satu hal yang justru TIDAK BOLEH dilakukan adalah curang. Gagal boleh. Curang tidak boleh. Nah perarturan ini menjadikan gagal tidak boleh. Maka curang menjadi alternatif yang lebih menjanjikan.

Bagi saya ada masalah yang lebih besar. Jika batas waktu itu semakin diperketat sehingga tidak ada ruang bagi mahasiswa untuk melakukan hal lain selain kuliah dan ujian saja. Padahal mahasiswa harus belajar untuk bersosialisasi, berinteraksi dengan masyarakat, berorganisasi, mencoba membuat usaha (startup), dan seterusnya. Alasan “saya masih mahasiswa” akan lebih mudah diterima ketika dia gagal dalam membuat usaha / berinteraksi, dan seterusnya. Kalau sudah lulus, tidak ada alasan untuk gagal. Masyarakat menuntut keberhasilan. Kapan dia belajar untuk gagal? Untuk jagoan dalam mengendarai sepeda pasti pernah jatuh. Lebih baik jatuh ketika sedang belajar naik sepeda daripada tidak pernah jatuh dan justru terjatuh ketika ngebut naik sepeda.

Saya sering menasihati mahasiswa saya untuk tidak cepat-cepat lulus. Buat apa cepat lulus dan setelah itu pusing cari kerjaan? Perusahaan pun pusing menerima lulusan yang tidak siap kerja. Bukankah lebih baik mencari pengalaman kerja ketika menjadi mahasiswa sehingga ketika lulus dia sudah siap.

Mahasiswa tetap berada di kampus pun sebetulnya tidak menambah beban kampus. Dia hanya menjadi tambahan entry di dalam database saja, bukan? Kalau dia mau mengambil kuliah, maka dia memang harus membayar sejumlah mata kuliah (SKS) yang dia ambil. Biaya (cost) terpenuhi sehingga tidak terlalu menjadi beban.

Singkatnya, saya melihat lebih banyak masalah atau mudarat daripada manfaat dalam pembatasan waktu kuliah yang terlalu ketat.


Seni Mengemudikan Kendaraan

Mengemudikan kendaraan – mobil, motor, bahkan sepeda – membutuhkan kemampuan. Tidak bisa seseorang yang bisa naik motor langsung turun ke jalan raya. Ada seni untuk mengemudikan kendaraan. The art of driving / riding.

Salah satu faktor yang harus dimiliki oleh seorang pengendara adalah kemampuan memprediksi perilaku pengendara dan pengguna jalan lainnya. Motor di depan ini mau terus atau belok. Atau bahkan berhenti. Mobil angkot (angkutan kota) di depan ini kayaknya akan berhenti menunggu calon penumpang. Ngetem.

Di sisi lain, kita sebagai pengendara juga memberi sinyal-sinyal kepada pengendara dan pengguna jalan lainnya. Ada tanda yang sangat eksplisit, misalnya dengan menyalakan tanda belok (kiri atau kanan). Ada juga dang gesture badan kalau mengendarai motor – misal menengok atau melihat kaca spion. Pokoknya ada indikasi-indikasi yang membuat orang lain tahu apa yang akan kita lakukan. Seperti menari mungkin? Atau kalau dalam musik jazz, memberikan tanda kepada pemainĀ lain untuk masuk / berimproviasi.

Sekarang ini ada banyak pengemudi yang lempeng aja. Mungkin dia fokus kepada diri sendiri dan tidak peduli kepada orang lain. Kaca spion diarahkan kepada dirinya. Untuk ngaca? Tidak mau memperhatikan orang lain dan tidak memberikan tanda-tanda kepada orang lain. Tiba-tiba berhenti saja. ATau belok. Ini berbahaya. Membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.

Kemampuan – skill & art – dari mengemudi kendaraan ini belum dimiliki oleh anak kecil. Itulah sebabnya anak-anak belum boleh mengendarai kendaraan di jalan raya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya.