Kesulitan Kerja Remote: Disiplin

Kemajuan teknologi informasi membuat orang dapat bekerja dari jarak jauh. Remote worker. Seseorang tidak perlu berada secara fisik di kantor, tetapi dapat mengerjakan tugas-tugas kantor yang harus dikerjakan. Secara teknis, tidak ada masalah yang signifikan. Tentu saja ada hal rinci yang harus dikerjakan atau dibereskan, tetapi ini ada solusinya.

Yang menjadi masalah adalah etos kerja. Disiplin. Setelah saya perhatikan ternyata banyak orang (mungkin malah sebagian besar?) orang Indonesia sulit memiliki disiplin dalam bekerja. Jangankan bekerja dari jarak jauh. Bekerja secara fisik di kantor pun sudah memiliki masalah.

Salah satu ujian yang saya berikan (meskipun tidak secara eksplisit saya katakan bahwa ini ujian) adalah kehadiran di kantor untuk 3 bulan pertama. Biasanya untuk pekerja baru, mahasiswa kerja praktek / magang, dan sejenisnya, saya haruskan mereka hadir setiap hari ke kantor. Ini untuk mengajari tentang disiplin. Jika disiplin ini sudah ada, maka bekerja di tempat lain merupakan langkah selanjutnya.

Ternyata hanya untuk hadir secara rutinpun sudah menjadi masalah. Seminggu rajin, minggu-minggu berikutnya mulai berat. Bulan kedua mulai terlihat mana yang memiliki disiplin dan mana yang tidak / belum.

Jadi, saya masih belum yakin bahwa bekerja dari jarak jauh (remote worker) akan dapat dilakuan di Indonesia. Ini pendapat umum. Tentu saja ada yang bisa. Di tempat saya, ada banyak yang memang dapat bekerja secara remote.

Iklan

Aturan Lokasi Data

Salah satu yang didobrak oleh pemanfaatan teknologi informasi adalah batasan ruang dan waktu. Sekarang sulit untuk mendefinisikan ruang dan waktu untuk hal-hal yang terkait dengan aplikasi atau layanan yang menggunakan teknologi informasi. Sebagai contoh, sebuah perusahaan di Indonesia menggunakan layanan dari perusahaan Singapura yang memiliki pusat data (data center) di Amerika. Klien (nasabah) dari perusahaan itu warga negara Perancis yang sedang berada di Inggris. Ketika terjadi transaksi, hukum (aturan) mana yang mau dipakai? Indonesia? Singapura? Amerika? Perancis? Inggris?

Sekarang tambah lebih rumit lagi dengan keberadaan layanan “cloud”, yang pada prinsipnya kita tidak perlu tahu lagi lokasi fisik keberadaan data (atau server) kita. Contoh sederhananya adalah kalau kita membuka email kita di Gmail, sebetulnya secara fisik itu data kita berada dimana ya? (Ini belum membicarakan soal backup dan disaster recovery center / DRC.)

Secara bisnis, keberadaan layanan seperti cloud itu memudahkan (dan bahkan lebih murah). Namun secara hukum agak sulit. Sebagai contoh, kalau kita memiliki data transaksi yang bersifat rahasia dan data tersebut secara fisik berada di negara lain, maka akan sulit ketika terjadi masalah atau sengketa. Pengadilan, misalnya, meminta data transaksi tetapi negara dimana data tersebut secara fisik berada tidak memperkenankan datanya diberikan ke pihak lain (aturan privasi di negara tersebut, misalnya). Maka data tidak tersedia. Inilah sebabnya peraturan di berbagai negara (termasuk Indonesia) mewajibkan letak data secara fisik di negaranya.

Di satu sisi, ini dapat “merugikan” secara bisnis. Layanan penyimpanan data di luar negeri boleh jadi lebih murah. Namun, dilihat dari kacamata keamanan (sebagaimana diuraikan di atas), ini bermasalah. Jika kita memilih keamanan (dan sovereignty) dari data kita lebih penting, maka peraturan yang mengharuskan letak data secara fisik harus di Indonesia.

Tambahan lagi adalah pendekatan ini juga menghidupkan bisnis terkait di Indonesia. Keberpihakan ini sangat penting di era persaingan yang kurang seimbang ini. Negara lainpun melakukannya.

Pendapat saya, untuk saat ini lebih baik letak data secara fisik harus berada di Indonesia.

Machine Learning: Pengenalan Wajah

Salah satu aplikasi dari Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning adalah dalam pengenalan wajah seseorang. Salah satu perusahaan saya (PT Riset Kecerdasan Buatan) sedang mengembangkan model untuk melakukan hal ini.

Salah satu langkah yang penting dalam machine learning adalah ketersedian data untuk pelatihan (training). Data ini yang akan digunakan untuk mendeteksi orang yang bersangkutan. Proses pengambilan data ini kami sebut proses registrasi. Ada banyak cara melakukan proses registrasi. Yang kami lakukan adalah dengan mengambil video dari orang yang akan dideteksi.

Berikut ini adalah video salah satu kegiatan kami dalam proses registrasi yang disebutkan di atas. Ini kami ambil ketika ProcodeCG sedang memberikan workshop tentang machine learning di Bandung Digital Valley (BDV).

Semoga video singkat ini dapat menunjukkan apa yang kami lakukan di perusahaan kami.

Ketekunan

Tidak ada bosannya saya menulis tentang topik ini. Ini sekedar mengingatkan bagi yang lupa atau malah belum tahu (kayaknya tidak mungkin ya?).

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah ketekunan dalam belajar, bekerja, berkarya, berolahraga, berkesenian. beragama, dan ber-ber lainnya lagi. Sebagian besar orang mudah menyerah dan menggunakan berbagai alasan untuk pembenaran. Padahal sesungguhnya tantangan terbesar adalah dalam diri kita sendiri.

Sebagai contoh, saya rajin berolahraga. Dalam hal ini saya memilih futsal. Seminggu setidaknya saya dua kali futsal. Sekarang malahan tiga kali seminggu futsalnya. Saya memang suka futsal, tetapi untuk berangkat ke tempat futsal selalu ada banyak tantangan. Kesibukan, ngantuk, hujan, dan banyak hal lainnya. Kadang ketika mau berangkat terasa sangat malas sekali. Kadang hujan besar. Ah, ada alasan untuk tidak futsal. Ketika dijalani, eh, ternyata tidak terlalu sulit. Semua ada di kepala. Seringkali saya melihat orang yang tidak hadir ke futsal karena banyak alasan. ha ha ha.

Belajar juga demikian. Saya termasuk yang selalu bersemangat belajar. Kepada siapapun saya belajar. Bahkan saya termasuk yang mengejar belajar. Ada yang mau mengajari ini atau itu, maka saya mencoba hadir ke sana. Biar jauh juga. Biar sudah lelah juga. Sementara itu banyak orang yang inginnya disuapi. Hanya bilang ingin belajar, tetapi ketika disediakan materinya dan pembicaranya, mereka tidak hadir dengan berbagai alasan. Jadi kalau ada orang yang ingin belajar kepada saya, saya hanya tertawa saja. ha ha ha. Serius? (Saya akan bahas topik ini dengan lebih panjang lebar lagi.)

Lantas kalau tidak tekun, mau jadi pandai / jagoan dari mana? Dari Hongkong? ha ha ha.

Perjalanan Sejarah Musik Saya

Sebagai kelanjutan dari video sebelumnya – “Siapa Pahlawan Musik Indonesia Pilihanmu” – kali ini kami membuat video tentang perkenalan kami dengan musik. Kami di sini maksudnya adalah personil dari Insan Music Project Band.

Video kali ini adalah tentang latar belakang musik saya. Kapan saya mengenal musik pertama kali? Seingat saya adalah sejak kecil (SD). Pada waktu itu ada banyak saudara yang tinggal di rumah kami. Seperti keluarga-keluarga Indonesia lainnya, orang tua saya menerima keponakan dan saudara-saudara yang ingin sekolah di Bandung. Sejak kecil ada sepupu, om, dan saudara lainnya yang tinggal. Salah satunya sekolah di Seni Rupa ITB. Pada masa itu, mahasiswa menggemari musik yang aneh-aneh. Dalam hal iniĀ  musik Progressive Rock sering diputar. Jadi sejak kecil saya sudah sering mendengar musik dari group Yes, Genesis, Gong, Pink Floyd, dan seterusnya.

Eh, kok malah bercerita di sini. Silahkan simak videonya saja ya. Ini sejarah perjalanan musik saya, yang panjangnya mungkin sama dengan sejarah perjuangan Indonesia sejak jaman Majapahit. ha ha ha.

Dan tentu saja, sebagaimana YouTuber lainnya, kalau suka mohon ikutan berlangganan (subscribe). Ha ha ha. Saya sedang mencoba menguji teori saya, tentang akuisisi pelanggan yang mana saya menargetkan untuk mendapatkan 1000 pelanggan (subscribers) di YouTube. Nampaknya ini akan menjadi cerita tersendiri.

Mengundang Saya Menjadi Pembicara

Ada banyak undangan yang meminta saya menjadi pembicara atau nara sumber di berbagai acara. (Hari ini saja saya menerima 5 permohonan sebagai pembicara.) Seringkali ini saya tolak. Ada banyak alasan. Saya akan coba urai satu persatu.

Sibuk. Super sibuk. Banyak orang yang mengenal saya dalam satu dimensi saja (dosen saja, information security expert saja, hardware / IoT expert, musician, futsal player, dan seterusnya). Padahal saya adalah orang yang multidimensi dengan kesibukan yang pol dan total commitment. Sebagai contoh, saya latihan futsal 3 sampai 4 kali seminggu. Manggung band sekitar sekali atau dua kali sebulan. Bimbingan mahasiswa saya resminya hanya belasan orang (karena dibatasi oleh kampus), meskipun realitasnya mendekati 30 orang! Itu yang dari kampus ITB saja. Belum lagi yang melakukan mentoring entrepreneurship (yang kadang hanya 1 orang, kadang 30 orang lagi).

Saya adalah orang yang serius dalam pekerjaan. Sebagai contoh, sebagai dosen, jadwal mengajar saya hampir penuh. Kemungkinan saya hanya satu kali tidak hadir. Sementara itu saya melihat banyak dosen yang seringkali menjadi pembicara di sana sini. Lantas kapan ngajarnya? Atau yang ngajar adalah asistennya.

Adalagi waktu-waktu tertentu yang mana saya harus menyediakan waktu

Alasan yang kedua adalah waktu yang tidak seimbang antara waktu yang digunakan untuk memberikan presentasi dan waktu untuk perjalanan. Sebagai contoh, kalau saya memberikan presentasi di Jakarta maka waktu presentasinya adalah 30 menit (atau maksimal 1 jam) sementara perjalanan ke Jakarta paling cepat dengan kereta api adalah 3,5 jam (bolak balik 7 jam). Itu juga belum waktu perjalanan dari rumah ke stasiun, menunggu di stasiun, dan seterusnya. Walhasil, untuk presentasi 30 menit di Jakarta saya kehilangan waktu 1 hari. Belum lagi kalau harus berangkat pagi sekali (sebelum Subuh) dan pulang malam hari sekali, maka hari besoknya saya sudah capek sehingga hari berikutnya juga tidak produktif. Dua hari hilang hanya untuk 30 menit presentasi.

Contoh di atas adalah untuk presentasi di Jakarta. Bagaimana presentasi di luar kota lainnya? Biasanya ada 1 hari perjalanan menuju kota yang bersangkutan, 1 hari habis untuk presentasi, dan sering kali harus menginap lagi maka tambah 1 hari lagi. Total waktu yang dihabiskan adalah 3 hari. Itu pergi tanpa jalan-jalan. Padahal menariknya travelling adalah jalan-jalannya. Dengan kata lain, kalau dihitung waktunya maka dia menjadi tidak efektif.

Lantas kalau saya memenuhi undangan menjadi pembicara itu, kapan saya mengajar? Kapan saya belajar? Kapan saya membuat materi presentasinya? Kapan saya mengerjakan hal=hal lainnya?

Jadi itulah sebabnya saya banyak menolak untuk menjadi pembicara atau nara sumber. Jadi kalau permohonan Anda saya tolak, Anda tahu alasannya.

Pahlawan Musik Indonesia

Hari Pahlawan baru saja lewat beberapa hari yang lalu. Pahlawan tidak harus selalu identik dengan senjata dan perang fisik, tetapi dapat juga melakukan “pertempuran” di dunia yang berbeda. Di dunia musikpun ada pahlawan-pahlawannya.

Sehabis latihan band, kami (Insan Music Band) ngobrol-ngobrol. Topik yang kami angkat kali ini adalah tentang “Siapa Pahlawan Musik Indonesia” menurut pendapat masing-masing. Latar belakang yang berbeda – usia, pendidikan, kawan main, tempat tinggal – akan mengusung nama-nama yang berbeda pula. Karena namanya juga ngobrol-ngobrol santai, mohon dimaafkan guyonan kami (disambi makan dan ngopi pula). hi hi hi. Silahkan simak videonya.

Begitulah pahlawan musik Indonesia menurut kami. Kalau saya, sebetulnya ada banyak, tetapi yang melekat di kepala saya adalah Koes Plus. Maklum, saya besar dengan mendengarkan musik Koes Plus (dan progressive rock – ha ha ha).

Jadi, siapa pahlawan musik Indonesia menurut Anda?