Kuliah Dimulai

Minggu ini (mulai dari tanggal 22 Agustus 2016 kemarin) dimulai perkuliahan di ITB. Untuk semester ini saya mengajar dua kuliah saja; Keamanan Jaringan & Informasi (S2) dan Pengantar Teknologi Informasi (S1).

Kuliah Keamanan Jaringan dan Informasi bertemu di pagi hari. Kami membicarakan tentang administrasi perkuliahan. Salah satu masalah yang kami hadapi adalah tempat untuk berbagi materi dan kordinasi. Nampaknya kami akan menggunakan Trello karena tempat e-learning yang ada saat ini masih bermasalah. (Ada banyak masalah yang nanti akan saya tulisan secara terpisah.) Kordinasi mungkin menggunakan aplikasi Telegram atau Slack. Kita lihat apakah konfigurasi seperti ini bisa berjalan.

Kuliah kedua, Pengantar Teknologi Informasi, seharusnya sudah dimulai tetapi ketika saya datang ke kelas … mahasiswanya tidak hadir. Saya menunggu satu jaman sambil membaca dokumen dan internetan. (Kalau tidak ada internet mungkin saya sudah bete duluan. he he he.) Akhirnya kelas saya anggap WO. Kita lihat minggu depan.

14054350_10153805227926526_4904123483812699040_o

Ini foto kelas yang kosong itu

Semangat … Eh, ada mahasiswa kelas yang sedang berlangsung saat ini yang membaca tulisan ini?


Konsistensi (Futsal)

Saya penggemar olah raga futsal. Entah kapan mulainya saya menyukai olah raga ini (yang pasti lebih dari 7 atau 8 tahun yang lalu, mungkin 10 tahun yang lalu?). Pada mulainya sih saya hanya bisa main 5 atau 10 menit. Setelah itu berkunang-kunang. hi hi hi. Sekarang saya bisa bermain 2 jam full.

Sebetulnya yang membuat saya bisa bermain lama ada dua hal. Pertama, rutin melakukannya. Seminggu saya bermain futsal dua kali dan itu saya lakukan secara konsisten tahunan. Yang kedua, saya bermain futsal bukan untuk mencari prestasi tetapi untuk berolah raga. Sebagai orang yang sudah berusia, saya membutuhkan olah raga. Kebetulan cocoknya futsal. Karena tujuannya tidak untuk mencari prestasi, maka saya tidak menjadi sok jago. ha ha ha. Main menjadi lepas dan menyenangkan.

Sering saya melihat orang yang tidak konsisten. Dan ke futsal hanya sekali-sekali. Kemudian ingin menonjol pula. Ha ha ha. Yang ini menggelikan bagi saya.  Meskipun mungkin mereka lebih mahir dalam bermain, tetapi saya lebih menghargai orang yang konsisten hadir latihan secara rutin. Apa lagi yang berharap punya stamina tinggi tetapi datang sekehendak sendiri. Ha ha ha.

Team work itu sangat penting. Ini dapat terlihat di luar lapangan juga. Ini membentuk karakter seseorang. Tidak percaya?


Mainan IoT

Lagi seru-serunya topik IoT (Internet of Things). Maka saya pun tak mau ketinggalan ngoprek IoT. Pada dasarnya IoT ini adalah menghubungkan “things” ke internet. “Things” yang dimaksud di sini bisa apa saja. Biasanya sih dimulai dengan menghubungkan sensor (misal sensor temperatur) ke internet.

Beginilah konfigurasi yang saya gunakan saat ini. (Corat-coret di kertas bekas.)

14080070_10153796588911526_1526882988396792016_n

Untuk sensor, kali ini saya menggunakan SensorTag dari Texas Instrument. SensorTag ini memiliki banyak sensor; temperatur, kelembaban, akselerasi, tombol yang dapat ditekan dan seterusnya. Versi yang saya gunakan ini menggunakan Bluetooth (tepatnya BLE, Bluetooth Low Energy) untuk berkomunikasi.

Saat ini ada aplikasi bawan (untuk handphone iOS dan Android) yang dapat digunakan untuk memantau sensor-sensor tersebut. Aplikasinya bagus sekali. Nah, saya ingin membuat aplikasi serupa sehingga data dari sensor dapat saya proses sesukanya. (Misal mau dikirim ke server sendiri.) Saat ini selain dapat memantau data sensor, aplikasi ini dapat juga mengirimkan data tersebut melalui protokol MQTT ke server IBM. (Nampaknya TI ini memiliki partnership dengan IBM.) Saya mencoba menghubungkan aplikasi ini ke server MQTT lainnya tetapi belum berhasil. Ini juga salah satu alasan mengapa saya harus membuat aplikasi sendiri.

Untuk membuat aplikasi di handphone, ternyata ada tools yang menarik dari Evothings. Mereka membuat semacam interface sehingga kita dapat melakukan pemrograman di komputer desktop kita, kemudian mengirimkan kodenya ke handphone (yang dipasangi aplikasi Evothings Viewer). Maka aplikasi langsung dijalankan di handphone. Ini mengurangi kesulitan upload program ke handphone. (Sebetulnya kita bisa juga setup web server sendiri sih.)

Pemrograman di handphone tersebut ternyata menggunakan bahasa Javascript. Ada beberapa library yang perlu digunakan untuk mengakses sensor melalui BLE. Saya sudah mencoba beberapa library tersebut, belum ada yang sukses. Tidak ada error, tetapi outputnya masih kosong. (Harus melakukan debugging dulu dan saya belum terbiasa melakukan debugging dalam bahasa Javascript.)

Alternatif lain yang sedang saya pikirkan adalah menghubungkan sensor tersebut langsung dengan single board computer (SBC) semacam Raspberry Pi. Ternyata ada orang-orang yang juga sukses melakukan pendekatan itu. Saat ini saya tidak punya Raspberry Pi tetapi malah punya yang dari Getchip.com. Ini keren banget, $9 chip dan sudah bisa langsung jalan Linux di atasnya. Sudah ada Bluetooth 4.0 juga. Jadi hal lain yang ingin saya lakukan adalah melakukan pairing antara SensorTag TI ini dengan SBC dari Getchip.com ini. (Ini foto kedua benda tersebut yang saya ambil dari meja saya.)

13987404_10153796571416526_4784112517654812880_o

Saya masih belum berhasil mainan dengan getchip.com secara stabil. Entah kenapa koneksi ke benda ini via WiFi kok tidak stabil. Tersendat-sendat. Jadi malas juga koding langsung di sini. Ide lain adalah via komputer desktop saya dulu saja. Toh sama-sama Linux.

(Update: kalau saya sambungkan SBC getchip ini dengan USB ke Macbook, saya bisa akses dengan nama “chip.local”. Jadi saya bisa “ssh root@chip.local” dengan password default “chip”. Setelah itu saya bisa masuk ke console linux dengan koneksi yang lebih stabil. Saya bisa main-main dengan getchip ini seperti tutorial yang ada di sini. Misal, saya bisa sambungkan kabel ke ground untuk coba seperti switch dan dibaca via GPIO. Atau harusnya mainan dengan LED, tapi saya tidak punya breadboard dan LED.

root@chip:/sys/class/gpio# echo 415 > export
root@chip:/sys/class/gpio# cat gpio415/direction
in
root@chip:/sys/class/gpio# cat gpio415/value
1
root@chip:/sys/class/gpio# cat gpio415/value
0

)

Tadi saya pasang Bluetooth dongle yang 4.0 di komputer desktop saya (running Linux Mint). Kemudian menggunakan berbagai tools (bluez, dll.) untuk mencoba pairing dengan SensorTag ini. Belum berhasil. (Saya menggunakan panduan dari sini dan membaca data di sini. Saya lihat ada juga yang mencoba menggunakan python untuk ini.)

[To Do: Javascript vs Python. Pilih bahasa apa untuk kodingnya?]

Jika data sudah sampai di server MQTT – ini di cloud – maka saya akan dapat membuat berbagai aplikasi sendiri. Jadi tujuan akhirnya adalah saya dapat memantau sensor dari internet.

Nah, sekarang belum ada yang jalan … ha ha ha. Jadi masih ada banyak yang harus dikerjakan. Saya akan pilah-pilah dulu. (Divide and conquer.)

Selain itu dalam 2 atau 3 minggu ke dapan saya akan dapat IoT board lain dengan sensor yang langsung dihubungkan dengan boardnya. (Lihat board Espresso di smkholding.com dan DycodeX.)  Ini akan jadi thread yang berbeda. Asyik. Banyak oprekan.


Kewarganegaraan 1.0

Setiap bercerita di depan kelas, atau memulai presentasi, sering saya bercerita tentang perjalanan hidup saya. Saat ini saya sedang dalam versi “3.3”. Ha ha ha. Kayak software saja. Tapi begitulah. Penomoran ini sebetulnya terinsipirasi dari buku karangan Thomas Friedman. (Dia mengarang banyak buku, seperti “The World is Flat” and “The Lexus and Olive Tree”. Tentang globalisasi.)

Friedman bercerita bahwa globalisasi memiliki versi. Pada versi 1.0, globalisasi ditandai dengan keinginan orang untuk menjadi warga negara lain, yaitu warga negera besar seperti Amerika Serikat, Inggris, dan seterusnya. Ini jaman dahulu kala. Kalau kita baca sejarah Indonesia, ada banyak orang Indonesia yang ingin bergabung menjadi bangsa penjajah (“Londo”) karena sangat menyedihkan kalau kita menjadi warga negara terjajah. Ini kewarganegaraan 1.0.

Globalisasi 2.0 terjadi dan kewarganegaraan tidak penting lagi. Yang penting adalah tempat kita bekerja, yaitu multinational companies. Maka banyak mahasiswa yang ditanya kalau lulus mau kerja dimana, jawabannya adalah perusahaan besar seperti Schlumberger, IBM, Citibank, Microsoft, General Electric, dan seterusnya. Dalam perusahaan besar tersebut kewarganegaraan tidak penting lagi. Menjadi “warga negara” perusahaan besar menjadi lebih penting.

Globalisasi 3.0 terjadi karena adanya internet dan pemanfaatan teknologi informasi. Batas fisik dunia tidak ada lagi. Maka tidak penting lagi kewarganegaraan dan perusahaan tempat bekerja, tetapi yang penting adalah diri kita sendiri. You! Maknanya adalah yang lebih penting lagi adalah apa kontribusi Anda ke dunia. What’s your contribution to society.

Maka kalau sekarang kita masih meributkan tentang kewarganegaraan maka sebetulnya kita masih berada pada globalisasi 1.0. Sudah ketinggalan jaman.


CodeMeetUp()

Di Bandung, setiap Senin siang kami mengadakan CodeMeetUp(). Isi diskusinya macem-macem. Tadi siang di Telkomsel Digilife Dago Bandung (depan hotel Holiday Inn) yang mengisi adalah Didit dari Labtek Indie. Topiknya adalah “Developing VR in Unity”. Didit ini salah satu certified Unity Developers. Keren.

DSC_6314 0001

Yang diceritakan adalah tentang apa saja yang tersedia saat ini untuk membuat (aplikasi) VR (Virtual Reality) dengan Unity. Pro dan kontra teknologi yang tersedia dan beberapa hal yang perlu dicermati. Termasuk masalah-masalah yang dihadapi ketika membuat aplikasi VR.

Senangnya mengikuti acara-acara CodeMeetUp() ini adalah kita bisa belajar terus. Dari yang memang jagoan pula di bidang itu. Asyiiik.


Jangan Ingin Terkenal

Banyak orang yang melakukan sesuatu – apa saja, sekolah, kerja, bahkan menulis di blog – karena ingin terkenal. Tadi saya menemukan gambar ini di internet.

12672161_10156635370855411_1312928337569313377_o

Wah. Pas banget.

Kita melakukan sesuatu bukan karena ingin mendapat pujian. (Dalam bahasa Sunda, “pupujieun“.) Kita melakukannya karena memang ingin melakukannya. Seperti ilustrasi gambar di atas, kita ingin mendaki puncak gunung karena ingin meliha dunia. Bukan karena ingin dilihat oleh orang lain.

Itulah sebabnya saya sering menasihati anak-anak muda yang baru menjadi terkenal (mungkin karena karyanya atau presentasinya) untuk jangan sering-sering muncul di media. hi hi hi. Itu bakal menjadi distraction. Pengalih fokus kita. Akhirnya malah jadi sibuk dengan pencitraan.

Oh ya, banyak orang yang mengira saya menulis blog ini agar jadi terkenal. Salah. Sombongnya sih … saya sudah terkenal dulu, baru nulis blog. Ha ha ha. Anywaaayyy … Mari kita kembali ke topik.


Memotret Itu Gampang, Tapi

Dulunya memotret itu susah. Eh, sebetulnya tidak susah karena tinggal tekan tombol di kamera saja. Maksudnya susah itu karena pakai mikir dulu. Kalau dulu apa lagi, mikirnya harus lebih banyak karena harga film (klise) itu mahal. Sekali cekrek, film kepakai dan nanti kalau habis harus beli lagi. Belum lagi nanti ada biaya cetaknya. Sebelum menekan tombol potret itu harus berpikir panjang.

Sekarang, memotret itu gampang. Bahkan hampir semua handphone dilengkapi dengan kamera. Sekarang hasil potret disimpan dalam memori yang mudah untuk dihapus. Kalau ada hasil jepretan yang tidak disukai, tinggal hapus (delete). Selesai. Tempatnya kosong lagi dan dapat digantikan oleh foto yang lain. Harga memori juga semakin murah sehingga jumlah foto yang kita ambil juga lebih banyak.

Jadi semestinya tidak ada masalah dalam hal potret memotret lagi bukan? Eh, ternyata masih ada. Sekarang saya menghadapi masalah itu, yaitu … kebanyakan foto. Karena saking mudahnya untuk memotret, enteng saja kita jepret sana jepret sini. Hasilnya banyak sekali foto di dalam kamera atau handphone kita. Problem saya adalah memroses dan menyimpan foto-foto tersebut. Saya harus memilah-milah foto mana yang layak untuk disimpan dan mana yang tinggal hapus. Pada kenyataannya hampir semua saya simpan. Yang jelek sekalipun. Masalahnya adalah disk tempat penyimpanan foto menjadi cepat habis.

Foto-foto itu juga sekarang saya proses. Biasanya saya crop untuk membuatnya lebih bercerita. Bagian-bagian yang tidak perlu (noise) dihilangkan dari foto tersebut. Selain itu juga kontras warna, vignette, dan seterusnya dilakukan (ditambahkan) pada foto-foto tersebut. Yang ini membutuhkan (banyak) waktu. Justru ini masalah saya. Hadoh.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.894 pengikut lainnya