Kematian Privasi?

Kematian Privasi ?
Yuk, simak ulasan dari pakarnya.
Buruan daftar, tempat terbatas

nyantrik BR

***
Budi Rahardjo adalah pendiri dan ketua ID-CERT (Indonesia Computer Emergency Response Team) yang berdiri tahun 1998. ID-CERT merupakan tim koordinasi teknis berbasis komunitas independen dan non profit. ID-CERT berawal dari “kenekatan”, karena belum ada CERT di Indonesia pada saat itu. ID-CERT bersama JP-CERT (Jepang) , AusCERT (Australia) dan CERT negara-negara lain di regional Asia Pacific adalah pendiri forum APCERT tahun 2001.

Beberapa insiden yang dilaporkan masyarakat ke ID-CERT antara lain pembajakan akun medsos, pembajakan pengelolaan nama domain, deface, Web/Phishing, spam dan aktivitas internet abuse lainnya. Sebagai pimpinan ID-CERT Budi Rahardjo melihat dan mengalami langsung pasang naik (dan tak pernah surut) beragam insiden keamanan internet di Indonesia.

Melihat ke belakang, Pak Budi, demikian para mahasiswa di ITB memanggilnya, adalah orang Indonesia pertama yang membuat website (dahulu disebut “homepage”) . “The Ultimate Indonesian homepage” adalah halaman web pertama tentang indonesia yang numpang di server University of Manitoba, Canada, tempat Pak Budi bersekolah dan bekerja di awal tahun 90-an. Sebagai informasi halaman web pertama di dunia dibuat oleh Tim Berners-Lee di Swiss pada 6 Agustus 1991 yang berjalan di atas komputer NeXT. Secara kebetulan komputer Pak Budi waktu itu juga NeXT. Singkat cerita, sampai sekarang, belajar dan ngoprek, adalah his way of life.

Malam ini, Kamis 06 Agustus 2020, Jam 19.30, Pak Budi akan mengajak kita untuk berdikusi tentang sesuatu yang (dulu?) menjadi barang berharga kita, yaitu privasi. Apakah benar privasi telah mati di era internet ini? Kami tunggu Anda.

Catatan: Kami membatasi jumlah peserta zoom sebanyak 50-an orang, agar setiap peserta punya kesempatan untuk berdiskusi. Namun jangan khawatir, Anda tetap bisa mengikuti keseruan diskusi secara LIVE di Youtube Channel Budi Rahardjo.

ya mbok google dulu

muncul lagi. itu klaim kepakaran seseorang yang tak berbasis.
aneh juga di jaman internet ini orang malas mencari informasi.
ya mbok google dulu.

banyak yang mewawancara saya tanpa mengetahui siapa saya.
lakukan pekerjaan rumah dahulu.
ya mbok google dulu.

pak budi tahu sistem operasi bernama linux?
ya mbok google dulu.
(yang ini mungkin tidak ketemu karena informasi untuk kalangan terbatas?)

Masih Tak Berpuisi

Masih belum berhasil membuat lirik lagu atau puisi yang bagus. Bagaimana mau bisa? Wong latihan juga jarang atau tidak pernah. Ha ha ha. Ini seperti ingin menjadi programmer yang handal tapi jarang membuat kode.

Ya, ya, ya, saya tahu saya harus sering latihan menulis. Terlalu banyak alasan untuk tidak menulis. Tadinya blog ini merupakan salah satu tempat latian saya untuk menulis. Dojo-nya saya. Tapi saya terlalu malu untuk menampilkan kedunguan saya di sini. Ha ha ha.

(Mencari kertas untuk dicorat-coret dulu dan kemudian dibuang.)

Memantau Temperatur Secara Daring

Beberapa hari yang lalu katanya Bandung dingin. Pagi hari temperaturnya bisa mencapai 15C. Wah. Yang bener? Akhirnya saya iseng dan memasang sensor temperatur (DHT-22) yang saya hubungkan ke perangkat IoT (ESP 8266). Data dari sensor ini dapat diakses secara daring (online), meskipun masih internal di jaringan LAN kami. Videonya ada di sini.

Hasil dari pembacaan sensor kemudian saya plot dalam bentuk grafik. Hasilnya kok ada yang aneh. Ada lonjakkan pada jam tertentu. Apa ya? Lihat pada bagian kiri di grafik berikut ini. Ada bagian yang meloncat.

suhu

Akhirnya tadi pagi, saya tongkrongi pas jam segitu. Apa yang terjadi? Eh, ternyata sensor terkena sinar matahari secara langsung. Ha ha ha. Pantas saja ada lonjakan data. Maka sensor saya pindahkan, tapi masih di bawah atap. Hasilnya tidak ada lonjakan lagi, tapi temperatur Bandung masih terlihat tinggi.

photo6127252777890589447

Sekalian saya pindahkan ke tempat yang lebih adem saja. Di sini saja. Mari kita amati perubahannya. Secara cepat saya amati, bedanya 1 derajat Celcius. Beda jarak 1 meter sudah beda hasilnya. Masalahnya adalah lebih ke arah di bawah atap yang berbeda. Saya akan amati lebih lanjut.

Online Terus

Salah satu efek dari COVID-19 ini ternyata adalah makin banyaknya diskusi / seminar / talkshow / acara-acara daring (online). Kalau dahulu saya banyak menolak acara karena datang secara fisik membutuhkan waktu. Sekarang semuanya dapat dilakukan secara daring sehingga tidak bisa menolak. Tidak ada alasan untuk menolak. Ha ha ha.

Seberapa sibuknya atau seberapa seringnya? Berikut ini saya tampilkan contoh-contoh poster acara-acara saya.

digitalisasi kopi BR Ferly

ITEBA BR pelatihan IoT

Beberapa acara ini ada yang terbuka untuk publik dan ada juga yang tertutup. Untuk yang terbukan biasanya saya sampaikan di Facebook & Twitter saya. Sementara itu yang tertutup, ya tentu saja tidak dapat saya bagikan. Ataupun kalau mau diceritakan biasanya saya ceritakan setelah acaranya selesai. Ha ha ha.

Jadi kalau saya katakan bahwa saya sibuk, ya betulan sibuk. Lihat saja itu ada yang acaranya Sabtu malam atau Minggu malam. Itu sebetulnya karena saya sudah tidak bisa pada hari-hari lainnya. Begitu.

Semangat!

Mendokumentasikan Sejarah Internet Indonesia

Minggu lalu saya terlibat dalam sebuah diskusi online tentang “sejarah internet Indonesia”. Salah satu usulan yang muncul adalah bagaimana jika kita mendokumentasikan ini dalam bentuk buku. Jawaban saya pada waktu itu adalah orang Indonesia kurang suka membaca, jadi mungkin lebih baik sejarah itu didokumentasikan dalam bentuk video saja yang kemudian dapat diunggah ke YouTube.

Di video saya tersebut ada beberapa yang berkomentar bahwa dokumentasi dalam bentuk tulisan (buku, blog, wiki, dll.) masih tetap dibutuhkan. Memang benar. Ada orang-orang yang lebih suka membaca daripada melihat video. Lagi pula membaca bisa langsung menuju ke poin yang dicari. Tulisan juga lebih ringan (dari sisi penggunaan bandwidth). Maklum internet di Indonesia masih terbatas kualitasnya.

Nampaknya suatu saat saya perlu juga bercerita di blog ini tentang perjalanan saya – keterlibatan saya – dengan perkembangan internet di Indonesia dan dunia. Nah, masalahnya waktu untuk menuliskannya itu. Eh, tapi ini menarik tidak ya? Sekarang yang mengunjungi blog ini juga makin menurun. ha ha ha.

Membahas Opini Geblek

Jika ada sebuah opini yang jelas-jelas “geblek“, sebaiknya tidak usah dibahas. Aneh juga melihat orang-orang membahas opini tersebut, menunjukkan letak ke-geblek-an dari opini tersebut. Dibahas. Ditunjukkan. Diuraikan. Hal semacam ini justru malah menghina intelegensia kita. Seolah-olah kita tidak tahu dan perlu diberitahu. Hentikan! Stop it!

“Tapi kan mungkin ada orang yang tidak paham bahwa opini itu salah”, demikian kata sebuah sanggahan. Ya biarkan saja. Jika orang tersebut memang percaya kepada opini yang geblek itu, dia memang geblek. Apapun penjelasan Anda tidak akan mengubah ke-geblekan-nya. Lupakan untuk memberi pencerahan kepadanya. Dia tidak akan tercerahkan dan Anda malah akan menjadi kesal sendiri. Hentikan! Stop it!

48yclu

Kesibukan Minggu Ini

Saya punya banyak kerjaan, tapi tidak punya waktu
Kamu punya banyak waktu, tapi tidak punya pekerjaan

Masih soal kesibukan. Minggu ini – eh, sebetulnya sudah dimulai dari beberapa hari yang lalu – adalah urusan pemrograman. Kami mendapat tugas untuk melakukan porting teknologi AI Face Recognition kami ke komputer yang menggunakan CPU berarsitektur ARM 64-bit. Ini barang baru sehingga banyak pustaka (library) dan kakas (tools) yang belum tersedia. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah.

Saya sedang baca-baca blognya Ariya (di sini) tentang cross-compiling. Jadi saya melakuan proses perakitan (compiling) di komputer saya – yang menggunakan CPU Intel x86 – untuk target perangkat yang menggunakan ARM 64-bit itu. Tulisan Ariya Hidayat ini sangat bagus dan mudah dimengerti oleh saya. Terima kasih.

Di luar tugas ini saya masih harus memberikan presentasi di sana-sini. Kalau sekarang “di sana-sini” ini hanya secara virtual. Saya-nya sendiri masih tetap di rumah. Ha ha ha. Jangan salah, lelahnya tetap sama. Bahkan kadang saya merasa memberikan presentasi secara virtual ini lebih melelahkan daripada memberikan presentasi secara fisik. Mungkin ini hanya perasaan saya saja.

Sekarang saya harus kembali bekerja, memeriksa beberapa dokumen yang harus saya baca dan koreksi. Plus masih ada kerjaan kodingan lainnya. uhuk.

Minggu Pagi

Hari Minggu ini mau ngapain ya? Eh, ternyata ada banyak hal yang harus dikerjakan. Ha ha ha. Mau leha-leha jadi tidak bisa. Oke lah. Mari kita buat hari Minggu ini menjadi produktif. Santai tapi produktif. Jreng!

107791339_10157446825826526_1567370339887067067_o

Jadinya pagi ini dimulai dengan memikirkan kode. Ada sebuah tugas untuk melakukan parsing data absensi. Data ini dari sistem absensi yang berbasis teknologi Face Recognition yang kami kembangkan. Data ada di sistem dan sekarang data ini harus dibuat menjadi laporan (untuk diteruskan ke bagian SDM). Maka mulai menyingsingkan lengan baju dan mulai ngoprek Python, Pandas, dan seterusnya.

Berhenti sejenak. Ada rekomendasi untuk membaca buku “Surveillance Capitalism” karangan Shoshana Zuboff (profesor Harvard). Hmmm. Saya memang banyak terlibat dalam pengembangan teknologi yang dapat digunakan untuk melakukan surveillance. Nampaknya harus membaca buku yang memberikan kritik terhadap kegiatan ini. Sementara ini lihat videonya dahulu.

Terus ada lagi kebutuhan untuk mencoba portability dari kode biner yang dihasilkan dengan menggunakan  bahasa Golang. Komputer desktop saya menggunakan Linux Mint yang sudah agak kadaluwarsa, tetapi compiler toolset saya termasuk yang terbaru. Jadi saya menggunakan desktop ini untuk menghasilkan kode yang belum tentu dapat jalan di tempat lain. Ada sebuah alat (digital signage) yang saya kembangkan. Nah, saya harus cek dulu apakah kode-kode saya dapat berjalan di sana. Kode ini membutuhkan OpenCV pula untuk membaca kamera.

Oh ya, tadi sempat memperbaharui web site saya (budi.rahardjo.id) dengan data mahasiswa bimbingan saya. Belum semua. Tadi baru sempat upload satu tesis mahasiswa bimbingan. Mengerjakan seperti ini membutuhkan waktu juga. Ada 3 mahasiswa saya yang baru lulus. Harus saya upload semua tesisnya agar dapat digunakan oleh seluruh masyarakat.

Dan masih banyak lainnya, yang kalau saya tuliskan dapat menghabiskan hari Minggu saya. Whoa!

Jadi saya masih terheran-heran dengan adanya orang yang tidak tahu harus ngapain. Saya tidak punya waktu untuk mengerjakan hal-hal yang ingin (dan harus) saya kerjakan. Sementara mereka bisa leha-leha. Nampaknya saya salah memilih lifestyle? ha ha ha

Kesibukan Multi-dimensi

Mungkin sudah bosan mendengarkan alasan saya soal sibuk ya? Habis bagaimana lagi? Ini alasan sesungguhnya. Untuk mengetahui saya sibuk atau tidak, tinggal lihat blog ini (dan facebook). Kalau tidak ada update, artinya saya (super) sibuk.

Masalahnya saya mengerjakan banyak hal dalam satu saat. Ya memang karena saya orangnya seperti itu. Sebagian besar orang memang tidak demikian. Good for them (you). Ini adalah kekuatan saya dan juga my curse.

Hal yang saya kerjakan juga biasanya pada domain yang berbeda sehingga memang tidak terdeteksi kalau Anda (atau orang lain) hanya berada pada domain atau dimensi tersebut. Ada dimensi blog (yang ini). Ada dimensi YouTube, Twitter, WA, Telegram, dan dunia nyata. Di dunia nyatapun ada macam-macam lagi; futsal, musik, kuliah, profesional, komunitas, hobby (programming dll.). Saya pun paham tidak ada orang yang tertarik untuk mengikuti dimensi-dimensi saya itu. Paling banter hanya 2 dimensi saja.

BR sibuk

Banyak orang yang akhirnya kalau menghubungi saya via WA / email dan tidak mendapat jawaban maka dalam benaknya saya tidak mau merespon. Sebetulnya bukan itu. Yang lebih tepat adalah saya tidak dapat merespon lagi karena WA-nya sudah terdesak ke bawah oleh pesan-pesan baru lainnya. Solusinya bagaimana? Ya kirim pesan lagi saja. Ha ha ha.

Saya harus kembali ke dunia nyata dulu. Baru saja merusakkan printer di Sabtu pagi ini. Kesal. Ya sudah. Menertawakan diri dulu saja.

Absensi Online Semudah Selfie

Salah satu masalah dalam kehidupan dengan COVID-19 adalah kita harus berada di tempat-tempat kita sendiri. Work from Home (WfH). Bekerja dari rumah. Kuliah dari rumah. Dan seterunya. Bagaimana dengan masalah absensi? (Kata “absensi” ini sebetulnya kurang tepat, lebih tepatnya adalah kehadiran atau presensi, tetapi saya gunakan kata ini karena ini yang lebih umum digunakan.)

Kebayakan dari kita masih menggunakan absensi konvensional, yaitu tanda tangan di atas kertas yang diedarkan di kertas. Atau yang paling “maju” sekalipun adalah menggunakan mesin sidik jari. Sekarang mesin sidik jarinya di kantor / di kampus, sementara kita berada di rumah. Kalaupun kita berada di kampus, sekarang agak ngeri dengan menyentuh alat yang disentuh oleh banyak orang. Hiiii… ngeriii… Maka dibutuhkan solusi terhadap masalah ini.

Jangan khawatir. Sekarang sudah ada teknologi Artificial Intelligence (AI) yang dapat mengenali wajah sehingga kita dapat melakukan absensi dengan mudah. “Absensi semudah selfie” Nah. Bagaimana cara kerjanya? Berikut ini adalah video dari teknologi Face Recognition (FR) yang dikembangkan oleh Riset.AI (PT Riset Kecerdasan Buatan).

Sistem ini sudah digunakan oleh beberapa pihak. Di tempat saya sendiri, sistem ini digunakan untuk absensi setiap hari.

Belajar Tidak Selalu Berhasil

Seharian ini saya mencoba ngoprek pemrograman lagi. Coding. Sebetulnya saya hanya ingin mencoba menggunakan bahasa pemrograman Golang untuk membaca webcam saya melalui OpenCV. Masalahnya versi OpenCV yang didukung Golang adalah versi terbaru yang tidak ada di komputer saya. Artinya saya harus mengunduh dan merakit (compile) sendiri. Oke lah.

Dahulu saya biasa merakit sendiri berbagai paket program dari kode sumbernya. Tidak masalah. Namun sekarang ternyata proses perakitannya menjadi lebih kompleks. Ini disebabkan kode sumbernya juga semakin kompleks dan platform yang digunakan orang juga bervariasi sehingga ada banyak konfigurasi yang harus dilakukan. Ternyata konfigurasi bawaan dari paket ini tidak cocok dengan sistem operasi yang saya gunakan (Linux Mint 18.1 Serena).

Setelah ngoprek nyaris seharian – dari pagi sampai menjelang Maghrib ini – ternyata hasilnya tidak ada, alias gagal. Ya begitulah. Belajar kadang memang harus seperti ini. Banyak gagalnya dahulu. Tidak selalu harus berhasil. Kesel memang. (Ini ngetiknya juga sambil kesel.) Habis mau gimana lagi? Keselnya saya adalah karena menghabiskan waktu yang seharusnya dapat saya gunakan untuk belajar yang lainnya. Grrr.

Anggap saja ini adalah upaya saya untuk menambah “jam terbang” ngoprek Linux. (Padahal saya ngoprek Linux sejak pertama kali dia dibuat Linus. ha ha ha.)

Berikut layar terakhir hari ini sebelum saya berhenti dulu. “100% tapi gagal”. Heu.

Oh ya, versi videonya ada di YouTube channel saya. Ini dia.

Bekerja Adalah Bergembira

Bagi sebagian besar orang (?), bekerja adalah hukuman. Bekerja adalah penderitaan. Ini karena dalam kepalanya di bekerja karena terpaksa. Padahal ini dapat diubah dengan cara pikir yang berbeda dan dengan sedikit keberuntungan.

Setiap orang pasti punya kesenangan. Setidaknya, sebagian besar orang lah. Soalnya saya pernah melihat sebuah video tentang seseorang yang tidak punya keinginan apa-apa. Agak aneh, tapi ada. Untungnya ini bukan sebagian besar orang. Katakan ada orang yang suka mencoba berbagai makanan. Eh, ternyata dapat pekerjaan untuk menguji berbagai makanan. Lah cocok banget. Ada orang yang senang main bola basket (sepak bola) dan kemudian dibayar untuk main bola basket (sepak bola). Dan seterusnya. Sangat menyenangkan bukan?

Tadinya mau bilang bahwa kalau bekerja malah merasa tertekan, sebaiknya pindah tempat kerja. Tapi, jaman sekarang ini susah mendapat pekerjaan. Ya kalau dapat pekerjaan, disyukuri saja dan serius dalam bekerja. Itu sebabnya sangat beruntung bagi orang yang mendapatkan kerja sesuai dengan minat atau hobbynya. Beruntung. Lucky.

Maka, bekerja adalah bergembira.

Oh ya, ada video saya tentang hal ini di channel YouTube saya. (Ayolah subscribe. ha ha ha.) Video ini menyitir soal bekerja di startup seperti yang saya lakukan. Ketika orang lain berlibur, ini saya malah bekerja. Soalnya, bekerja itu menyenangkan. Itu video dibuat ketika tanggalan merah.

If work is so much fun, why take a holiday.