Kemarin menemukan gambar ini di salah satu media sosial (mungkin Facebook?). Yang menarik dari gambar di bawah ini adalah bagian yang ada “Are we there yet?”.
Di dunia “Barat” kata-kata “Are we there yet?” itu lazim dikatakan oleh anak-anak yang sedang dalam perjalanan di kendaraan atau bahkan kereta api. Memang harus dimaklumi bahwa anak-anak itu sering tidak memiliki kesabaran dalam hal jalan-jalan. Jadi mereka selalu menanyakan “apakah kita sudah sampai?” ini.
Tadinya saya hanya mengira ini hanya lawakan saja, sampai akhirnya bulan lalu dalam perjalanan kereta api cepat dari London ke Edinburgh kami menemukan kejadian ini. Jadi di belakang tempat duduk kami ada seorang bapak dengan dua anaknya yang masih kecil-kecil, satu perempuan (kakaknya) dan satu laki-laki (adiknya). Dalam perjalanan, sang anak laki-laki ini mengatakan … “are we there yet?” itu berkali-kali sampai bapaknya diam tidak mau meladeni lagi. Ha ha ha. Dan itu diulangi lagi nantinya. Di salam hati saya ketawa karena akhirnya menemukan kejadian “are we there yet” ini. Ha ha ha.
Sebagai orang yang senang teknologi, saya sebetulnya ingin membeli semua perangkat (devices) yang baru, tetapi saya sadar bahwa teknologi berubah dengan cepat sehingga perangkat akan menjadi kadaluwarsa (obsolete) dengan cepat. Jadinya saya harus ngerem kalau melihat hal yang baru. Untungnya bisa.
Sebagai contoh, ini adalah foto dari perangkat untuk membaca yang ada di meja saya. Ada iPad lama (masih 16GB), ada Samsung tablet, dan iPad mini (yang sudah 128GB). Semuanya sudah kadaluwarsa sehingga tidak dapat diupgrade sistem operasinya. Ini semua hanya digunakan untuk membaca.
Sementara itu, saya melihat banyak kawan yang menggunakan Kindle untuk membaca. Kelihatannya enak sekali dibandingkan perangkat yang saya miliki. Jadi pengen. he he he. Di perangkat ini saya juga menggunakan aplikasi Kindle untuk membaca buku. Tapi kan yang saya inginkan adalah perangkat Kindle sesungguhnya. Rasanya kurang bertanggungjawab kalau beli satu perangkat lagi. Nanti dia juga menjadi kadaluwarsa juga kan? Pasti ada Kindle versi terbaru yang lebih hebat dan lebih murah. Hadoh. Gimana dong? Tolong.
Beberapa tahun yang lalu ada seorang kawan saya yang kesulitan untuk menjadi profesor. Salah satu alasan yang saya dengar adalah dia “terlalu muda” untuk menjadi profesor. Alasan ini membuat saya tertawa (atau lebih tepatnya meringis?) karena agak aneh saja. Karya ilmiah yang bersangkutan sangat banyak. Sudah lebih dari cukup. Apa lagi yang kurang? Usia?
Saya juga pernah memimpin sebuah organisasi, yang mana ketika saya turun saya menginginkan diganti dengan anak muda. Banyak yang keberatan dan menginginkan agar saya tetap bertahan memimpin organisasi tersebut. Bagi saya organisasi ini harus terus maju (progressing) dan dipimpin oleh anak muda. Harus ada regenerasi.
Seringkali sebuah pekerjaan atau posisi dibatasi karena terlalu tua. Ada yang karena urusan administrasi dipensiunkan karena sudah di atas 70 tahun. Atau ada juga yang memang sudah tidak bisa mencapai puncaknya lagi seperti di bidang olah raga. Atlet sepak bola berusia 70 tahun pasti kalah dengan pemain yang berusia 21 tahun. Ha ha ha. Ini sangat masuk akal bagi saya. Tapi terlalu muda?
Alasan kebanyakan orang adalah kalau terlalu muda adalah dia akan membuat kesalahan karena belum banyak jam terbangnya. Memang bertambahnya usia itu sering membuat orang menjadi lebih bijak dan terlihat “lebih pintar”. Ini bukan karena beneran lebih pintar, tapi karena lebih sering melihat saja. Tapi jangan salah lho, ada orang yang semakin tua tetapi tidak semakin bijak. Malah semakin “sok tahu”. Sayangnya yang ini juga tidak sedikit.
Kalau saya sih tidak takut melihat anak muda salah. Justru ini tugas yang lebih tua untuk menyelamatkan organisasi tersebut atau anak muda tersebut jika dia membuat kesalahan.
Ini adalah hari memulainya perjalanan kami kembali ke Indonesia. Dari Edinburgh naik pesawat ke Heathrow (London) dan dari sana menggunakan Qatar Air ke Jakarta via Doha.
Perjalanan dimulai dengan taksi yang sudah dipesana semalam. Bagus sekali taksinya. Besar dan cukup untuk membawa kami ke bandara Edinburgh. Ini pagi sekali sehingga kami belum sempat sholat Subuh. Belum ada waktunya.
Sampai di bandara untungnya kami sudah bisa checkin ke maskapai British Airways. Langsung cepat dan kemudian mencari tempat untuk sholat. Ternyata di dekat situ ada ruangan untuk sholat. Ini memang tidak spesifik untuk agama Islam, tetapi praying room untuk berbagai agama. Di sana sudah ada orang yang sholat. Maka kami langsung sholat di sana. Alhamdulillah aman. Subuh dapat. Perjalanan kali ini kami banyak dimudahkan untuk urusan sholat dll.
Kemudian kami mulai masuk dan menunggu pesawat di Cafe Nero, karena sebelumnya pengalaman kami cukup cocok dengan coffee shop ini. Tentu saja ramai orang tetapi kami mendapatkan juga tempat duduk yang dekat dengan pintu untuk boarding.
Pesawat mulai boarding dan kami naik ke pesawat. Ternyata di dalam pesawat kami diberitahukan bahwa cuaca di kota London kurang baik sehingga pesawat harus menunggu dulu. Maka menunggulah kami di dalam pesawat selama hampir 1 jam. Untungnya saya merasa rileks sehingga tidak perlu ke toilet atau sejenisnya. Sambil merem melek menunggu. Yang sabar saja. Akhirnya pesawat diperkenankan berangkat. Untung juga kami mengambil jadwal yang pagi sehingga ada banyak waktu di Heathrow untuk pindah terminal dan check in di Qatar airways.
Checkin menggunakan mesin tetapi harus dibantu oleh orang karena agak membingungkan juga. Untungnya mesin kami jalannya lancar.
Sesampainya di Heathrow kami harus pindah terminal dengan menggunakan kereta api. Untungnya bisa gampang prosesnya karena sudah tahu sebelumnya. Dari terminal 5 ke terminal 4 (via terminal 2 & 3, menggunakan Heathrow express). Di terminal ini ada tempat untuk shalat juga. Kali ini tempatnya memang besar dan memang khusus untuk shalat. Ada tempat untuk wudhu-nya juga. Jadi kami bergantian sholat sambil makan yang dibeli dari salah satu tempat di situ.
Perjalanan dilanjutkan dengan naik pesawat dan tidur di pesawat. Sesampainya di Doha kami turun dan pindah pesawat. Untungnya kami tidak perlu melalui pemeriksaan barang-barang lagi yang membutuhkan waktu. Jadinya kami bisa pindah ke gate berikutnya dengan banyak waktu yang kosong.
Alhamdulillah semuanya lancar sampai ke Jakarta.
Demikianlah cerita perjalanan kami ke UK: London dan Edinburgh. Menyenangkan. Di atas ekspektasi saya.
Waktu perjalanan kami ke UK ini sangat singkat. Hari ini adalah hari terakhir di Edinbvrgh, maka ini waktunya untuk eksplorasi. Anak-anak mencari tempat untuk oleh-oleh, sementara saya sebetulnya ingin mencari toko-toko yang aneh-aneh, misal toko musik. Sebetulnya dari waktu di London saya ingin mencari toko musik tetapi tidak berhasil karena waktunya yang tidak sempat. Sekarang mumpung ada waktu, cari ah.
Di dekat AirBnB katanya ada toko musik yang kecil. Maka jalanlah saya ke sana. Ketemu juga. Ini toko yang menarik (dari luar) karena isinya adalah indie musik. Sayangnya saya melihat bahwa isinya adalah piringan hitam (vinyl, record). Nah, ini tidak mungkin saya bawa karena mengingat koper yang kemungkinan bakalan melendung. Piringan hitam bisa pecah. Eh kalau orang beli piringan hitam apa di bawa ke cabin pesawat ya?
Di toko itu juga ada makanan. Vegan friendly. Wah menarik ini, tetapi kami harus jalan mengejar yang lain-lainnya. Akhirnya tidak jadi makan di sana – bahkan tidak jadi masuk ke tokonya – dan langsung menuju ke Princess street, salah satu jalan utama di Edinburgh. Saya melihat beberapa toko dan masuk ke HMV. Ternyata di dalamnya banyak jualan musik dan produk Korea. Wuih hebat juga nih K-pop.
Dari sana, kami putuskan untuk jalan ke Edinburgh castle dan University of Edinburg. Sambil jalan menuju ke Edinburg castle, kami melewati bagian dari university of Edinburgh. Ini bangunan yang kuno. Salah satu school-nya kalau tidak salah.
Jalan terus. Akhirnya sampai juga ke Edinburgh Castle. Sudah banyak turis di sana. Kami tidak masuk dan hanya berpotretan di luarnya saja. Sebetulnya cuacanya juga agak gerimis sedikit tetapi ini tidak menghalangi turis untuk berdatangan.
Ada tempat jualan souvenir di dekat situ. Maka masuklah kami ke sana. Saya menemukan jaket ber-style Scottish yang agak sedikit kebesaran tetapi harganya dibanting. Hanya GBP 9,9. Ternyata resletingnya gak ada kepalanya. Okelah ini bisa diperbaiki di Indonesia. Langsung ambil saja. ha ha ha. Soalnya jaket saya saat ini sebetulnya adalah jaket winter untuk perempuan. ha ha ha.
Mencari makan di sekitar University of Edinburgh. Menemukan sebuah restoran Malaysia yang halal di dekat situ. Namanya Nanyang Malaysian Cuisine. Ini restoran yang bukan fast food. Jadi restoran beneran dengan harga yang relatif agak mahal tapi ternyata makanannya enak. Jadi recommended. Ini sekalian mencari makanan yang bersifat nasi. Ha ha ha. Dasar orang Indonesia, mencari nasi juga.
Dari sana kami sebetulnya mau melihat-lihat lagi University of Edinburgh. Tempat ini sebetulnya sudah di pinggiran (atau malah sudah menjadi bagian) dari University of Edinburgh. Masalahnya adalah hujan. Memang tidak deras sekali tetapi tetap membuat jaket basah. Kami harus menembus hujan dan melipir. Akhirnya hanya bisa ke bagian dari kampus dan tidak masuk lebih ke dalam. Melipir saja.
Nampaknya lebih baik pulang dan packing karena besok pagi sekali harus ke airport untuk menuju ke London lagi.
Dari kampus ini kami mencoba mencari Grab. Ini hujan gerimis jadi susah kalau menunggu di pinggir jalan. Sementara ini mobil Grab tidak masuk ke kampus. Jadi kami harus jalan menuju ke pinggir jalan dan begitu mobil dekat kami ke pinggir jalan. Ternyata di depan kampus ini ada masjid. Wah, tidak sempat melihat ke dalamnya. Kami hanya di pelatarannya saja sambil menunggu Grab.
Masjid di Edinburgh. Di depan kampus
Sampai di AirBnB kami mulai packing. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana menuju ke airport besok pagi sekali – habis Subuh – karena kami berlima dan bawaan koper yang besar. Ini masalah lama. ha ha ha. Akhirnya setelah melihat web, saya putuskan untuk mencoba menelepon taksi lokal dan booking taksi saja. Saya menelepon Citycabs dan disarankan pakai van. Saya sudah jelaskan bahwa kami berlima dan bawaannya lima koper. Mereka meyakinkan bahwa ini cukup. Paginya memang mobil van-nya cukup. Yang menarik adalah mereka tidak tanya ini itu karena saya menggunakan nomor telepon lokal (pakai SIMcard 3 yang dibeli di London itu). Jadi ini salah satu keuntungan untuk menggunakan nomor lokal. Besok paginya saya coba cek sampai dimana taksinya. Begitu saya menelepon nomor Citycabs langsung saya dijawab dengan mesin yang memberitahu status taksi saya. Wuih asyik. Bagus. Recommended. Next time ke UK, ambil nomor telepon lokal.
Ini adalah salah satu tujuan ke Edinburgh yang direncanakan agak dadakan juga. Ada banyak tujuan sekitar Edinburgh yang ingin dilihat tetapi waktunya tidak memungkinan. Misal, kami ingin ke Stonehedge. Dari ngobrol-ngobrol dengan abang Eddy beberapa hari yang lalu, dia mengatakan bahwa bagusan ikut tur dari Rabbie’s saja. Akhirnya kami melihat web-nya dan memang ada beberapa pilihan. Karena kami hanya punya waktu 1 hari saja, akhirnya kami memilih tur 1 hari ke Loch Ness saja. Alasannya adalah karena banyak yang dilihat-lihat. Ini adalah tur satu hari dari pagi sampai malam.
Pagi hari kami harus ke ke station bis untuk ketemuan dengan tim dari Rabbie’s itu. Jalan dari rumah jam 7 pagi setelah subuh. Karena tempat AirBnB ini hanya ada 1 kamar mandi, jadi kami harus siap-siap lebih pagi lagi. Aman lah karena waktunya masih banyak. Untungnya ke stasiun bis ini bisa jalan kaki. Memang perjalanan ke Inggris kali ini kami memilih tempat yang banyak bisa dicapai dengan jalan kaki.
Sesampainya di stasiun bis, memang sudah banyak orang. Ada beberapa tujuan. Kami mencari pangkalan yang digunakan oleh tur Rabbie’s. Ketemu. Di sana sudah ada banyak orang berkumpul. Ternyata ada beberapa mobil yang berangkat bersamaan. Satu mobil berisi 15 orang plus 1 supir yang merangkap sebagai pemandu. Kami masuk group yang dipandu oleh Graeme. Good. Mencari apa yang bisa digunakan untuk ganjel di perjalanan tetapi tidak nemu. Vending machine hanya jualan minuman. Oke lah nanti mudah-mudahan ada di jalan.
Jam 7:45 berangkat dari station. Ini masih gelap dan agak gerimis. Graeme mulai memberikan penjelasan ke daerah-daerah yang dilalui sambil mobil berjalan menuju ke Utara. Ada beberapa bangunan “bersejarah” yang dilewati. Ada juga yang terkait dengan J.K. Rowlings dan Harry Potter.
Setelah berjalan (lupa berapa menit atau jam?) kami berhenti di village Pitlochry. Ini sebuah kota kecil sekali yang nampaknya memang untuk turis. Ada sebuah coffeeshop yang akhirnya diserbu oleh kami. Beli breakfast (scones, carrot cake), mocha dan hot chocolate. Oh ya di belakangnya ada toilet umum yang berbayar. Tempatnya ditunggui oleh ibu-ibu tua yang menerima bayaran 50 pence untuk setiap orang yang ke toilet. Untungnya pas kami datang belum ramai (oleh turis-turis lain yang juga melalui daerah ini). Toilet oke lah tetapi tidak sebersih toilet di London.
Perhentian tadi tidak lama karena perjalanan masih panjang. Jadi makanan dan minuman dibawa ke mobil. Langsung jalan lagi. Graeme terus bercerita tentang berbagai sejarah yang terkait dengan Inggris dan Scotlandia. Ada beberapa nama yang memang saya kenal karena terkait dengan bidang keilmuan saya. Untuk meluruskan kami, kami berhenti di air terjun Pattack. Berpotret sebentar. Dari segi keindahan, ini sebetulnya sama dengan beberapa tempat di Indonesia. Yang di sini tetap terjaga adalah kebersihannya.
Di perjalanan sempat tercetus diskusi soal “hairy coos”. Saya sendiri tidak mengerti apa yang dibicarakan. Bahkan namanya pun tidak tahu, sampai di akhir baru tahu bahwa yang mau dilihat adalah “hairy coos”. Apa itu? Ternyata ini adalah sapi yang rambutnya panjang. Itulah sebabnya namanya “hairy coos”. Kata “coos” ini merupakan plesetan (slang) dari “cows”.
Jadi mobil mampir ke sebuah rumah yang memiliki ternak sapi yang dekat ke pinggir jalan. Ternak sapinya ini memang memiliki bulu / rambut yang panjang. Orang-orang turun dari mobil dan berpotret. Saya karena kedinginan, tetap di dalam mobil. Ini karena kami tidak masuk sampai ke sapinya mungkin masih dianggap oke oleh pemilik ternak tersebut (yang tidak terlihat).
Lepas dari itu kami masuk mobil dan berjalan lagi. Graeme bercerita tentang daerah-daerahnya yang mana kami sudah memasuki daerah highland. Ada banyak cerita – dan bahkan film – tentang perjuangan di daerah ini. (Saya belum nonton filmnya.)
Akhirnya sampai juga kami ke Loch Ness. Di sini ada “danau” Ness – loch artinya danau, tetapi airnya bisa tawar atau asin. Loch Ness terkenal karena adanya issue monster di sana, meskipun ini belum ditemukan. Di sana ada perjalanan mengitari loch dengan perahu. Kami memilih tidak ikutan perjalanan ini dan memilih untuk makan.
Mencari tempat makan yang cocok (halal) agak susah, jadi kami mencari yang vegetarian saja. Di sana kami membutuhkan tempat untuk shalat juga karena acaranya ini sampai malam. Ternyata tempat makan di sana kecil-kecil ruangannya dan penuh. Untungnya ada Caledonial Canal Center yang cukup besar. Jadinya kami memilih makan di sana dan juga sholat di tempat makan. (Karena melihat kami sholat di tempat makan, manager-nya mengatakan ke saya kalau mau sholat di tempat yang lebih privat ada ruangan kalau mau. Ini contoh baiknya orang-orang di sana.)
Beres dari acara di Loch Ness, kami memulai perjalanan kembali ke Edinburgh. Di tengah jalan kami berhenti di beberapa tempat untuk meluruskan kaki dan juga ke toilet. Salah satu tempat pemberhentian adalah Commando’s memorial. Ini adalah tempat berlatih para tentara dari berbagai negara. Setelah meluruskan kaki, mobil jalan lagi.
Udaranya memang mendung tetapi bagusnya tidak hujan. Jadi kami bisa keluar mobil dan mengambil foto-foto. Dingin memang. Lupa berapa derajat celcius. Mungkin 11?
Berhenti di Glencoe, sebuah tempat dimana beberapa aspek sejarah Scotlandia ada di sana. Misal, ada rumah jaman dahulu. Di situ juga ada museum-nya dan juga ada ruangan yang memutar film tentang sejarah Glencoe itu. Sekalian di sini juga ada toilet yang bersih (dan gratis ha ha ha). Di sini berhenti beberapa menit.
Perjalanan dilanjutkan dan jika ada tempat-tempat yang terlihat menarik untuk difoto, kami berhenti. Memang pemandangannya indah-indah juga. Misalnya ada satu tempat yang sangat bagus yang mana di ujung sana ada rumah berwarna putih yang sering menjadi obyek di instagram. Tentu saja semua turun dari mobil dan potret-memotret.
Kemudian ada juga bukit yang disebut three sisters, karena ada 3 bukit. Yang ini saya tidak ikut turun dan hanya tinggal di mobil. Capek. he he he. Kemudian di tengah jalan kami mampir juga ke sebuah kota kecil untuk ke toilet. Karena sudah mulai malam, tempatnya sepi. Ini semacam tempat untuk community center. Toiletnya gratis.
Semuanya ini cukup panjang perjalanannya sehingga sampai di Edinburgh sudah jam 7 malam. Kami berhenti di pinggir jalan dekat dengan bus stop karena si Rabbie’s ini tidak boleh menurunkan penumpangnya di stasiun. Mungkin sedang ramai? Tapi tidak masalah. Tempatnya tetap dekat kok. Within walking distance.
Lapar. Maka kami mencari tempat makan yang mudah dan dekat dengan AirBnB kami. Ketemulah restoran kecil yang menjual pizza, kebab, dll. Namanya Yum Yum. Nantinya saya baru tahu bahwa ini sangat dekat dengan tempat AirBnB kami. Tapi karena sudah malam jadi saya tidak terlalu tanda. Mana agak gerimis sedikit sehingga saya buru-buru kembali ke AirBnB.
Pagi ini kami menuju Kings Crossing train station karena akan ke Edinburgh dengan menggunakan kereta api. Sebetulnya ada pesawat ke Edinburgh tetapi kami memilih kereta api untuk mencari pengalamannya, meskipun lebih lama sampai ke Edinburgh-nya. Dari airBnd satu grup menggunakan Uber (dengan 3 koper besar) dan satu grup lagi menunggunakan tubes. Ini sekalian menukarkan sisa saldo kartu Oyster. Di Edinburgh kartu Oyster sudah tidak dapat digunakan. Jadi lebih baik dijadikan duit lagi.
Sesampainya di Kings Crossing train station kami menanyakan bagaimana prosesnya. Tiket kami tidak usah diprint tetapi di masing-masing handphone nanti barcode-nya ditunjukkan ke mesin saja. Masih ada banyak waktu sebelum boleh masuk ke platform 9. Jadi kami duduk dulu di tempat tunggu lantai dua.
Banyak film yang menggunakan setingan Kings Crossing train station ini. Memang tempatnya cukup menarik sebagai exchange dari kereta api ke berbagai jurusan. Di seberang-nya ada juga jurusan yang ke arah Eropa lainnya; ke Paris misalnya. Di bagian ini adalah yang jurusannya ke bagian lain di UK, termasuk ke Edinburgh.
Ada beberapa jenis kereta dari London ke Edinburgh. Kami menggunakan kereta Azuma LNER. Waktu yang dibutuhkan 4 jam sekian menit. Sekitar 20 menit menjelang waktu keberangkatan ada panggilan dan kami sudah bisa masuk ke platform 9. Buru-buru kami ke sana dan memang ramai sekali. Ternyata keretanya padat sehingga tempat untuk menyimpan koper (di dekat pintu masuk) sudah pada penuh. Ada koper yang bisa juga disimpan di atas. Salah satu koper kami ternyata tidak ada tempatnya. Jika disimpan di atas tempat duduk dia terlalu besar dan khawatir jatuh. Jadi diselipkan di kaki penumpang saja. (Untungnya nanti di sebelah kosong sehingga anak saya bisa pindah ke sana selama 1/2 perjalanan.)
Sesampainya di stasiun kereta api Edinburgh, Waverly namanya, kami mencari jalan menuju tempat AirBnB. Katanya bisa jalan ke sana meskipun ini dingin banget dan kami agak kelaparan. Maka mulailah kami mencari tempat makan. Di dekat situ ada mall kecil. Ke sanalah kami dan makan di German Doner Kebab lagi karena ini yang sudah pasti halal.
Sambil makan di mall ini juga kami mencari toilet. Ternyata toiletnya harus membayar 30 pence. Ini ternyata bisa pakai Jenius. Tinggal ditap ke pintu masuknya saja. Seperti di Indonesia, toilet bayar. tapi ini bayarnya sudah pakai teknologi. WC-nya juga ok tetapi tidak sebersih di London.
Beres makan kami menuju Old Fisherman Close yang jaraknya belasan menit dari situ. Tapi ini harus diingat bahwa cuacanya dingin dan koper kami besar-besar. Sementara itu jalan di Edinburgh ini tidak rata (naik turun dan banyak yang berbatuan). Tapi tidak mengapa. Namanya juga pengalaman. Ini juga agak sedikit sisa gerimis jadi khawatir juga jalan agak licin.
Sampai di tempat AirBnB kami langsung bisa check-in karena diberikan kodenya. Masuk ke apartemennya menggunakan kode di pintu depan dan pintu apartemen. Jadi tidak perlu ketemuan dengan siapa-siapa. Check-in.
Meng-Uber Eats makanan Lebanon (nasi). Tidak keluar karena kedinginan dan sambil mencoba familier dengan tempat tinggal ini. Ini juga masih bingung bagaimana menghidupkan heater-nya. Jadi ada heater portable yang bergantian penggunaannya. Di dalam tempat ini ya temperaturnya cukup dingin juga, 19C. Pakai kaos kaki dan sweater. Aman. Besok pagi harus pagi-pagi sekali karena habis subuh kami akan melakukan perjalanan seharian ke Loch Ness.
Hari ini agenda utamanya adalah belanja oleh-oleh. Menuju Camden untuk belanja oleh-oleh di Aldi. Ternyata pagi itu terasa dingin. Di Aldi kami membeli banyak makanan khas Inggris. Saya juga mencoba membeli kopi di sini. Beli oleh-oleh ini juga masih tanda tanya karena kami masih ada perjalanan lagi ke Edinburgh. Jadi ini agak banyak ragu-ragunya.
Lapar karena pagi makan belum banyak. Maka kami mencari coffeeshop halal yang terdekat. Ada. Lumayan ramai dalamnya. Kami makan dulu untuk mengisi perut sambil juga memanaskan badan yang kedinginan. (Foto-fotonya menyusul.)
Setelah makan, group terpisah. Ada yang masih mau cari oleh-oleh dan saya ikut yang jalan menuju ke arah rumah. Tapi terlihat ada public library. Ke sana dulu saja.
Bagus librarynya tetapi penuh sekali dengan orang-orang (mahasiswa?) yang sedang mengerjakan tugas. Ada banyak tempat duduk dan semuanya penuh. Tadinya saya pikir bisa duduk-duduk di coffeeshop juga, tetapi penuh juga. Jadi di public library ini kami hanya sebentar. Ya sudah kami putuskan untuk mencari tempat untuk makan siang saja.
Ada restoran Turki di dekat situ, Antalya Restaurant namanya. Masuk ke dalam dan tempatnya elegan. Pasti mahal dan memang iya, tapi makanannya enak. Jadi menyenangkan juga lah.
Pulang dan packing karena besok paginya harus ke Edinburgh.
Hari ini ramalan cuaca untuk kota London adalah cerah. Ini yang dinanti-natikan karena jarang. Ini waktunya melakukan eksplorasi kota London. Salah satu yang menjadi incaran utama adalah Buckingham Palace. Disarankan untuk datang ke tempat ini pagi hari supaya belum ada banyak turis dan bisa berfoto-foto tanpa rebutan atau terhalang dengan turis yang lainnya. Maka hari ini dimulai dengan sangat pagi. Tidak masalah. Habis Subuh langsung sarapan singat di dapur terus langsung jalan.
Suhu pagi ini ternyata cukup dingin, 7C. Untungnya tidak ada angin, tetapi tetap dingin. Lagi-lagi kami mengambil tube. Keluar dari station kok ingin cari toilet. Ada tetapi ternyata harus membayar 50 pence dan kami tidak punya koin yang pas. Ya sudah, nanti cari di tempat lainnya.
Jalan dari tube station ke Buckingham Palace melalui park yang lagi-lagi bersih. Sesampainya di sana sudah banyak turis-turis yang mengambil foto, tetapi masih nyaman untuk mengambil foto. Yang difoto itu terutama penjaga palace yang khas Inggris itu. Memang di Inggris banyak tempat yang sangat bagus untuk difoto dan entah kenapa hasil fotonya lebih bagus dan tajam.
Cuaca pagi ini sangat mendukung. Ada matahari di pagi hari. Cerah! Langitnya biru. Hore. Meskipun tetap dingin tetapi ini membuat suasanya menjadi lebih menyenangkan. (Ini mengingatkan saya akan masa musim dingin di Winnipeg, Canada, dahulu. Bahwa langit cerah bukan berarti tidak dingin. Dulu di sana, ada matahari cerah, tetapi suhu tetap minus. Ha ha ha. Dan bahkan bisa jadi lebih dingin jika disertai dengan angin. Angin itu yang membuat dinginnya lebih dahsyat.)
Turis lokal dan asing mulai berdatangan. Ada juga rombongan sepeda yang nampaknya lokal London.
Setelah puas berfoto-foto kami mencari tempat untuk sarapan dan ngopi. Saya ingin mencoba kopi di sini. Maka berjalanlah kami menuju Travalgar square. Lagi-lagi melalui park yang bersih. Banyak tupai yang kelihatannya seperti jinak meminta makanan. Lumayan juga jalannya cukup jauh. (Belasan menit?) Di dekat situ kami juga menemukan kedutaan Kanada. Berfoto sebentar. Ha ha ha.
Sampai di Travalgar square. Sebelum melakukan eksplorasi, saya membutuhkan kopi. Di London ini saya melihat ada beberapa merek kedai kopi yang bolak-balik muncu; Costa, Pret A Manger, dan Nero. Melihat tampilan Caffe Nero yang bernafaskan Italian, saya memilih itu. Tempatnya juga super bersih dan cozy. Saya memilih tempat di pojok yang dapat untuk beramai-ramai.
Ada toilet di sini. Pas saya mau pakai hanya ada 1 orang di depan saya. Antri. Setelah saya masuk, ternyata toiletnya super bersih. Ini merupakan salah satu hal yang di luar ekspektasi saya. Ini kan toliet umum – ya maksudnya untuk pelanggan kedai kopi ini saja, tetapi ada juga orang yang bukan pelanggan sehingga ditegur oleh pegawai bahwa ada toilet di tempat lain (menyebutkan tempatnya) – dan biasanya toilet umum itu jorok, tetapi ini bersih. Catatan penting. Menyenangkan.
Kopi Americano yang saya pesan juga rasanya enak. Ini basisnya espresso yang beraliran Italian jadi berbeda dengan kopi yang biasa saya minum. Tetapi enaknya dia adalah pahitnya tidak sepahit kopi americano lainnya. Ini ada kesannya. (Sulit menjelaskannya ya.) Kemudian kami juga pesan muffin dan cake yang sedapat mungkin vegetarian. Potato chips – di sini disebutnya crisp – juga enak. Porsinya kecil sih tetapi cukup untuk menemani satu dudukan kopi. Singkatnya coffee shop Nero ini recommended.
Oh ya pas saya balik lagi ke counter untuk melihat-lihat, sebelum keluar, saya putuskan untuk membeli beans. Harganya juga tidak mahal GBP 3,95. Di menu saya lihat juga ada filtered coffee tapi melihat banyaknya yang datang, biasanya mereka tidak mau mengerjakan menu itu karena membutuhkan waktu. Jadi selama di London saya tidak mencoba manual brew. Beres sarapan, kami siap melakukan eksplorasi.
Di setiap sudut Travalgar square sudah ramai dengan turis. Potret memotret sudah mulai ada orang lain. Mungkin justru itu menambah bagusnya potret? Dari jauh sudah terlihat Big Ben. Mulailah kami menuju ke arah sana.
Setelah itu melihat London Eye dan Wesminister Abbey. Dan lagi-lagi potret memotret. Pokoknya banyak lah potretannya. Ha ha ha. Saya sendiri tidak begitu tertarik dengan foto-foto di obyek wisata seperti ini. Sekali dua kali jepret sudah cukup lah. Selebihnya dinikmati saja pengalaman melihat obyek wisata tersebut.
Hari ini juga rencananya adalah melihat Stanford Bridge, yaitu markasnya tim sepak bola Chelsea – tim favorit saya. Dahulu tim ini sempat menjadi luar biasa, yaitu ketika masih ada pemain seperti Frank Lampard, Didier Drogba, John Terry, Petr Cech, dan seterusnya. Sekarang mereka sdang terperosok. Bahkan kalau saya bermain bola atau futsal, saya mengenakan nomor 8, yaitu nomor yang dipakai oleh Frank Lampard. Jadi ke Stamford Bridge agak wajib hukumnya bagi saya. Ha ha ha.
Maka beres dari eksplorasi singkat, kami langsung menuju tube station yang ada di situ juga. Menuju ke arah Fullham broadway station. Sekalian mencari makan siang di daerah sana.
Sesampainya di daerah itu, ternyata vibes-nya juga sudah berbeda dengan tempat sebelumnya. Tempat tube keluar adalah sebuah mall. Iklan di daerah sini sudah mengarah ke klub sepak bola Chelsea. Klub sepak bola di Inggris itu seperti agama. Jadi kalau ada toko dengan iklan klub sepak bola lain di sini, bisa gawat itu toko.
Suasana di jalan yang menunjukkan dukungan kepada Chelsea FC
Daerah ini juga nampaknya lebih ke arah daerah perumahan yang di pinggiran. Lebih menyenangkan menurut saya. Mungkin juga lebih nyaman (dalam artian tidak ramai) untuk cari tempat makan. Setelah melihat-lihat, kami putuskan untuk makan di GDK – German Doner Kebab. Ini kedai kebab halal yang banyak outletnya di Inggris (mungkin Eropa lebih luasnya).
Ada berbagai pilihan menunya. Semuanya menarik dan ternyata memang enak. Kalau nanti susah cari tempat makan dan ada pilihan GDK, pilih ini saja. Recommended.
Stamford Bridge. Chelsea Football Club. Ini adalah salah satu tempat yang menjadi tujuan saya. Maklum, saya penggemar klub sepak bola Chelsea ini. Beres makan di GDK itu kami jalan ke Stamford Bridge yang letaknya tidak jauh. Tadinya saya pikir dia akan masuk ke daerah yang jauh dari perumahan, tetapi ternyata ini seperti di tengah perumahan saja. Setidaknya pintu masuknya. Memang nanti ke dalamnya luas sekali.
Di depan ada penjaga security yang memeriksa tas-tas kita dulu. Setelah itu, di lapangan juga sudah ada orang-orang berfoto dengan lambang Chelsea di dindingnya. Hari ini kayaknya agak sepi karena kemarin ada pertandingan antara Chelsea dan Arsenal (yang hasilnya imbang 2-2). Saya sebetulnya ingin nonton itu tetapi tidak jadi karena beberapa pertimbangan. Pertama, diperkirakan hujan pas jam segitu (dan memang iya). Padahal ini masih di awal perjalanan kami ke UK. Khawatirnya sakit karena kehujanan ini. Hujan dan dingin. Kedua, karena belum tahu situasi pertandingan bola di Inggris saya khawatir dengan hooliganisme (misal bentrok antara fans) meskipun kali ini posisi Chelsea sedang di bawah sehingga tidak terlalu heboh mestinya. Ketiga, belum tentu ada tiket tersedia (dengan harga sekitar GBP 140) karena ini kan dadakan. Keempat, kemarin saya belum tahu jalan ke sini. Dan seterusnya. Jadi saya tidak nonton.
Tentu saja saya excited dengan potret memotret di Stanford Bridge ini. Sayangnya saya tidak punya pemain kesukaan pada sesi ini. Pemain-pemain kesukaan saya, seperti Frank Lampard (8), sudah pada pensiun. Ha ha ha. Hanya ada satu gambar Didier Drogba yang ada di luar. Sebetulnya ada tour ke dalam stadiun juga tetapi waktunya yang tidak sempat. Berbayar GBP 38. Masalahnya adalah waktu. Bahkan untuk pergi ke toko yang jualan merchandise juga tidak sempat. Soalnya dijamin bakal lama dan bakal mengeruk kartu kredit. Ha ha ha. Ngeri. Lebih baik kabur saja.
Ada satu tujuan lagi yang juga penting bagi saya, yaitu Abbey Road.
Abbey Road merupakan sebuah jalan yang penting dikarenakan di jalan itu ada studio musik Abbey Road Studios yang digunakan oleh the Beatles untuk merekam albumnya. Bahkan di dekat akhir dari band the Beatles, dibuatkan sebuah album khusus – Abbey Road – dan juga nantinya dimainkan di atas atap salah satu gedung di sana. (Selain the Beatles ada band-band lain juga yang menggunakan Abbey Road Studios, antara lain Pink Floyd dan Oasis.) Cover dari album the Beatles menujukkan keempat anggotanya sedang menyeberangi jalan. Itulah sebabnya banyak orang yang menirukan itu. Ini menjadi semacam foto wajib di Abbey Road.
Tentu saja selain saya, masih banyak orang lain yang secara bergantian mengambil foto di jalanan itu. Ini adalah daerah perumahan biasa yang mana traffic tetap berjalan. Mestinya orang-orang di sana sudah biasa (dan juga mungkin kesal) dengan banyaknya pengunjung – tua muda – yang berpose di jalan itu.
Abbey Road Studios masih ada tetapi pagarnya ditutup. Di sebelahnya ada toko yang menjual gifts terkait dengan the Beatles (dan Abbey Road Studios itu, seperti Pink Floyd dan Oasis). Saya hanya cepat-cepat melihat ke toko itu karena khawatir akan menguras kantong atau kartu kredit. Ha ha ha. Jadinya saya tidak membeli apa-apa dari sana. Kami hanya membawa kenangan. I’ve been to Abbey Road.
Abbey Road beres. Kembali ke rumah dan memesan fish and chips dengan menggunakan Uber Eats. Makan malam di dapur AirBnB. Besok siap-siap dengan petualangan baru.
Hari ini ramalan cuaca akan hujan. Jadi rencana ke tempat yang bisa dilihat di dalam saja, misalnya museum. Itu rencana hari ini. Sekalian hari ini akan bertemu dengan abang Eddy beserta anaknya Rashif.
Pagi dimulai dengan sarapan dengan sisa makanan semalam – Nando’s, makanan dari coffeeshop di ujung jalan (yang ternyata enak) Ttine wa zaytoon – di dapur. Enaknya tinggal di AirBnB itu bisa rame-rame seperti ini. Kalau tinggalnya di hotel ya sarapan di restorannya hotel. Gak seru.
Perjalanan hari ini dimulai dengan Victoria and Albert museum. Ini salah satu museum yang gratis. Salah satu alasan memilih tempat AirBnB ini adalah dekat dengan tube station, Baker Street. Kemana-mana jadi mudah. Jadi kami jalan ke sana meskipun suasananya gloomy. Ternyata London memang demikian.
Tube memang membawa kita kemana-mana di London. Pakai kartu Oyster beres. Hanya saya tidak tahu sekali naik tube itu kena berapa. Jadi harus cek dan top-up kartu Oyster kita. Hal lain adalah platform mana ke arah mana itu yang saya belum hafal. Jadi saya ngikut rombongan saja.
Sampai di museum ternyata ada bagian yang berbayar dengan tema khusus dan ada yang gratis. Tempatnya bagus hanya saya kok mulai pengen ngopi. Jadi anak-anak pada melihat-lihat museum sementara saya hanya melihat yang dekat pintu masuk saja. Ada banyak peragaan yang menarik. Saya hanya sempat melihat beberapa saja.
Di situ kontak-kontakan dengan abang Eddy. Katanya dia juga sudah di museum tapi di sisi mana. Saya bilang saya saya di dekat Buddhism. Ternyata itu pun masih belum akurat karena ada beberapa tempat di sana yang memang terkait dengan Buddhism. Ha ha ha. Akhirnya ketemu juga.
Pertemuan dilanjutkan di coffeeshop. Sambil menunggu gerimis agak reda. Dan setelah dari situ kami jalan ke Royal Albert Hall. Di tengah jalan menuju ke sana melalui Imperial College London, salah satu sekolahan terbaik di Inggris, eh dunia.
Royal Albert Hall merupakan salah satu tempat yang terbaik untuk konser. Hanya group-group musik bagus saja yang pernah main di sana. Saya juga cerita ke abang Eddy bahwa saya lihat video Joe Bonamassa main di Royal Albert Hall. Bagus banget. Sayangnya pas hari-hari itu tidak ada konser di sana. Kalau ada pun mungkin harga tiketnya selangit. Jadi saya hanya berpose di depannya saja. Jreng.
Lepas dari sana dilanjutkan ke Borough market. Katanya ini tempat yang ramai. Ternyata malah super ramai sehingga tidak mungkin untuk makan di sana. Jadi harus cari tempat lain untuk makan. Nemu tempat yang namanya Yen’s burger. Makanlah kami di sana.
Beres makan, kami berpisah dengan abang Eddy dan Rashif. Kami pun menuju tube lagi. Nanti malamnya pada mau nonton Wicked. Sementara saya ada janjian dengan saudara sepupu saya yang ternyata ada di London. Kembali ke tube station dan mencari ke arah Baker Street. Pas di tempat perpindahan tubes ada tulisan ini Hammersmith. Jadi keinget pengen juga lihat Hammersmith Odeon ya, tempat band-band (rock) manggung. Gak sempat. Harus lebih lama di London nih.
Sambil jalan ke AirBnB, ternyata di dekat situ ada toko memorabilia the Beatles. Saya tidak masuk dan hanya berpose di depannya saja. Selain itu di sebelahnya ada Sherlock Holmes museum yang kecil juga. Interesting. Toko-toko di sini relatif kecil dan semuanya ditumpuk saja.
Bertemu dengan saudara di luar negeri merupakan hal yang berbeda. Apa lagi saya tahunya saudara saya ini tinggalnya di Italia. Setelah nyamper ke tempat AirBnB, akhirnya kami cari tempat untuk makan dan ngobrol. Ternyata tempat yang makanannya halal penuh semua. Akhirnya kami ngobrol di Starbucks saja. Pesan kopi dan cookies. Di sana ternyata bukanya hanya sampai jam 8 malam. Apa boleh buat kami ngobrol sampai jam segitu dan akhirnya berpisah di stasiun. Banyak cerita suka (dan banyak dukanya tinggal di luar negeri). Setelah itu saya kembali ke AirBnB.
Perjalanan ke London sesungguhnya baru dimulai. Hari dimulai dengan sarapan di Holiday Inn Express di Airport. Tadinya kami khawatir makanannya tidak cocok, tetapi ternyata makanannya dapat dimakan (dalam artian kami dapat mencari makanan yang tidak menggandung zat yang non-halal). Karena kami berlima, padahal jatah makan hanya untuk berempat, maka kami menambahkan satu orang lagi. Ternyata satu orang tidak mahal, GBP 18. Tadinya kalau mahal ya terpaksa beli roti dan makan di kamar saja ha ha ha. Ternyata ok.
Tempat makan di bawah ini ternyata sudah cukup ramai. Jam 7 pagi sudah banyak yang makan karena nampaknya ini hotel yang terdekat dengan terminal Heathrow. Terlihat banyak orang yang kemungkinan akan melanjutkan ke pekerjaan (business). Ruangan tempat makan luas dan ada banyak tempat duduk yang kosong. Tempatnya juga nyaman. Kami memilih yang bisa bersama-sama.
Pilihan makanan saya ya muffin dan scrambled eggs. Ada apple juice, teh, dan kopi (ada dua mesin kopi). Pilihan kopi juga bermacam-macam, mulai dari Americano (kopi hitam saja) sampai ke cappuccino. Semuanya bisa kita ambil bolak balik. (Tentu saja ada sosis dan lain-lain tetapi saya tidak berani ngambil karena kemungkinan tidak halal.) Ada juga buah-buahan; jeruk dan pisang. Breakfast aman.
Setelah selesai sarapan kami mandi dan kemudian bersiap-siap untuk pergi ke tengah kota London. Sebetulnya menuju ke tempat penginapan – yang dipesan melalui AirBnB – di daerah Baker Street. Lagi-lagi masalah transportasi menjadi pertanyaan bagi kami karena kami membawa koper yang besar-besar. Ada beberapa alternatif; taksi, kereta bawah tanah (tubes), bis, dan Uber. Kami belum menentukan tetapi yang penting kembali ke terminal 4 lagi untuk membeli kartu telepon (simcard) dan kartu Oyster untuk naik bis.
Soal kartu telepon (SIMcard). Ternyata ini sangat esensial dan kami salah pilih. Begini. Di setiap perjalanan ke luar negeri, saya nyaris selalu membeli SIMcard lokal. Ini disebabkan fitur roaming dari operator kita dahulu kurang menarik; lebih mahal dan jumlah kuota datanya lebih kecil. Terus untuk menelpon lokal (jika dibutuhkan) jatuhnya lebih mahal. Jadi pilihan membeli SIMcard lokal merupakan yang terbaik. (Sekarang paket roaming dari operator kita lebih kompetitif.)
Yang menjadi masalah adalah SIMcard lokal apa dan kalau ada paket-nya paket yang mana. Kalau ke Singapura saya sudah tahu yang mana karena beberapa kali salah pilih paket yang jatuhnya lebih mahal. Informasi tentang SIMcard Inggris ternyata kurang banyak.
Kembali ke terminal 4, kami menemukan tempat pembelian SIMcard. Di dekat situ juga ada vending machine yang menjual SIMcard. Ini merupakan solusi jika kita datang malam dan tempat penjualan SIMcard sudah tutup. Ada beberapa pilihan. Yang saya lihat adalah operator “3” yang sudah umum di Indonesia. Jadi saya tertarik itu. Ternyata kalau di Inggris lebih baik menggunakan operator “EE”. Operator “3” saya pilih karena harganya lebih murah, GBP 25, dibandingkan dengan EE yang GBP 35. Tapi ternyata coverage dari “3” lebih buruk dibandingkan dengan EE. Di beberapa tempat, termasuk tempat kami menginap (di daerah Baker Street) ternyata coverage-nya buruk. Bahkan internet di tempat kami menginap (AirBnB di London dan di Edinburgh) semuanya menggunakan layanan “3” juga. Jadi lengkaplah penderitaan internet lambat (bahkan tidak ada internet). Akhirnya saya juga mengaktifkan fitur roaming dari Telkomsel dengan membayar Rp. 300 ribu sebagai cadangan ketika “3” tidak ada. Jadinya dobel-dobel. Oh well.
Kartu Oyster. Di Inggris untuk menggunakan bisa dan tubes (kereta bawah tanah) harus menggunakan kartu Oyster. Ini beli juga di terminal T4 Heathrow. Masing-masing memiliki kartu Oyster.
Ok. Kartu-kartu beres. Siap-siap kami ke London. Sebetulnya kami ingin ke tempat penginapan AirBnB dahulu, tetapi standar di AirBnB adalah masuk jam 4 sore. Kami kontak apakah bisa masuk lebih awal. Mereka bilang akan cek lagi jam 11. Wah padahal ini masih pagi. Oke lah kami menuju ke arah sana. Naik apa? Lihat sana-sini ada banyak informasi soal Heathrow Express. Bahkan ketika di Hotel pun diberitahu bahwa bisa naik tubes sampai ke Paddington station tetapi kalau bisa pagi sebelum ramai. Akhirnya kami membeli tiket Heathrow Express yang relatif mahal. Nantinya kami baru tahu bahwa sebetulnya bisa juga menggunakan Elizabeth line yang jauh lebih murah tetapi berhenti dimana-mana dan kemungkinan ramai (meskipun ini masih pagi sehingga mestinya belum ramai). Yang membingungkan adalah ke platform mana naik Heathrow Express itu.
Heathrow Express kereta api yang sangat bagus. Sangat bersih. Ada tempat untuk menyimpan bagasi koper. Kebetulan karena masih pagi maka satu gerbong kami itu kosong. Hanya kami saja. Sehingga kami bisa nyaman di sana. Ini langsung dari Heathrow ke Paddington station.
Sampai di Paddington Station. Wuih rame banget. Ternyata ini dapat dianggap exchange bagi banyak kereta api. Semua orang sibuk melihat tabel daftar kereta. Ini kami datang dengan menggeret koper-koper gede tampak tidak aneh karena sama dengan orang lainnya.
Dari sini mau kemana? Ternyata belum ada kabar lagi dari AirBnB. Sayang juga waktu yang ada terbuang. Okelah kita cari tempat penyimpanan koper dulu. Dekat sini ternyata ada, namanya Paddington Left Lef Luggage. Geret koper ke sana dan simpan di sana. (Lupa bayarnya berapa per koper.) Setelah itu langsung jalan-jalan.
Oh ya, mencoba menukarkan uang Rupiah di beberapa money changer di sini ternyata tidak ada yang mau. Jadi bagi yang mau menukarkan uang rupiah ke GBP, sebaiknya sebelum sampai ke sini. Tapi di sini pembayaran banyak menggunakan kartu kredit dan juga kartu yang lain. Ternyata yang paling mantap adalah menggunakan kartu Jenius-nya BTPN. Dapat dipakai dimana-mana, misalnya untuk belanja (seperti kartu kredit) dan di-tap ke device untuk masuk ke toilet (wc) yang berbayar 30p atau 50p. Sangat bermanfaat.
Tempat terdekat adalah Kensington Park. Memang kami senang pergi ke park-park. Jalanlah kami ke sana sambil menikmati London yang kelabu. Cuaca agak sedikit gerimis awalnya tetapi kemudian berhenti gerimisnya sehingga kami bisa jalan-jalan tanpa harus menggunakan payung atau jas hujan. Untuk pakaian, saya memilih untuk pakai kaos berlapis-lapis (2 kaos) kemudian di luarnya pakai sweater dan jaket biasa. Aman. Mungin temperatur masih di atas 11 atau 12C. Jadi masih bisa teratasi.
Umumnya taman-taman di Inggris ini bersih dan tidak ramai orang. Banyak orang yang berjalan-jalan (sendirian, bersama kawan, bersama anjing peliharaan). Tempatnya cukup indah untuk foto-foto meskipun ada banyak tempat lain yang lebih indah secara foto. Udaranya bersih. Maka berfoto-fotolah kami di sana.
Patung Edward Jenner penemu vaksin untuk smallpox (cacar?) di Kensington park.
Jalan terus melipir sampai akhirnya ke Hyde park. Di ujungnya harusnya ada tempat untuk orang berdiskusi (berdebat), speakers’ corner. Tapi karena ini masih pagi dan tadi gerimis jadi tidak ada orang di sana. Di lapangan yang dilewati juga ada anak-anak kecil sedang berlatih main sepak bola.
Mendekati makan siang, pas di sekitar Brompton street. Makan di Al Arez, sebuah restoran Lebanon. Di London ada banyak tempat makan yang halal seperti ini. Memang berkultur timur tengah. Ini restoran yang banyak cabangnya. Yang ini termasuk kecil tapi ramai terus. Harganya termasuk mahal untuk ukuran London. Perkiraan saya kalau makan GBP 7 itu normal. Di atas itu, misal GBP 12, termasuk mahal. Tapi karena kami makan ramai-ramai berlima, maka makan ambil yang enak. Mahal sedikit tidak apa-apa yang penting halal dan membuat kita sehat. Maklum ini kan baru memulai perjalanan. Dan makanannya memang enak! Recommended (meskipun agak mahal).
Dari sana kami kembali mengambil koper di tempat penyimpanan koper karena kami akan menuju k tempat AirBnb. Dari sana berjalan lagi ke sisi lain dari Hyde park, ke tempat Speakers’ corner. Karena ini agak gerimis nampaknya tempat ini tidak rame. Kata orang sih biasanya ini banyak orang berdiskusi. Saya lihat ada tempat untuk membeli kopi tapi kayaknya masih belum tertarik untuk beli kopinya karena kemungkinan sama saja.
Dari sana naik bis (dengan membawa koper besar-besar) ke arah Baker Street. Sempat salah bis juga tetapi akhirnya naik bis dari Paddington station (sisi yang lain) sampai ke Baker Street. Eh ternyata tetap harus nunggu jam 4 padahal ini masih jam 3. Masih harus nunggu 1 jam lagi. Kalau nunggu2 di pinggir jalan. Untungnya di dekat situ ada coffee shop yang menjual makanan halal. Kami memilih menunggu di sana. Sambil ngopi kemudian menunggu. Oh ya beli makanan juga untuk makan malam.
Untungnya pas jam 4 orang dari AirBnB datang dan memberikan kunci. Kami checkin dan mulai terkapar. Ternyata nantinya kami tidak tahu bagaimana menghidupkan heater. Sebetulnya bagi orang sini, ini masih belum masuk winter jadi masih belum dingin, tetapi bagi kami ini sudah dingin.
Hari mulai menjelang malam tetapi semuanya sudah capek dari banyak berjalan. Saya putuskan untuk membeli makan malam ke Nando’s yang dekat sini saja. Nando’s tempat jualan ayam yang halal dan enak. Saya baru sadar bahwa ini hari Jum’at malam sehingga tempatnya ramai sekali. Untungnya saya hanya membeli untuk dibawa pulang (take away, take out). Setelah menunggu 15 menitan saya bisa pulang.
Belanja di Nando’s menghabiskan lebih dari GBP 59. Tinggal dikalikan 20 ribu rupiah saja. Wuih. Lebih dari 1 juta rupiah. Kalau dipikirkan hal seperti ini bakalan gak makan ha ha ha. Ternyata makanan ini bisa dimakan untuk sarapan 3 hari. Jadi relatif okay.
(cukup sekian dulu – nanti diupdate dengan foto-fotonya)
Perjalanan dimulai dari apartemen tempat tinggal di Jakarta menuju bandara Soekarno-Hatta. Permasalahannya adalah kami berlima dengan lima koper yang besar-besar. Sebetulnya kopernya tidak besar sekali, tetapi koper-koper ini adalah koper dengan ukuran yang tidak bisa masuk kabin. Koper terpaksa besar karena ada jaket untuk winter (meskipun ini belum masuk winter sungguhan tetapi temperatur sudah sampai 9C) dan sepatu boots. Setengah koper isinya seperti itu. Artinya kami harus mengambil taksi yang cukup untuk kondisi koper yang banyak ini ini. Tambahan lagi, biasanya taksi cukup untuk berempat. Ini kami berlima. Jadi agak nanggung juga.
Setelah mencari informasi dan menelepon customer service dari Blue Bird, akhirnya kami memutuskan untuk mengambil taksi Inova saja. Pada perjalanan sebelumnya (lupa yang mana, rasanya waktu pulang dari Bali) kami pernah mencoba menggunakan taksi Alphard, tetapi ternyata tidak cukup. Awalnya saya masih tetap khawatir dengan pilihan Inova ini, tetapi ternyata ini memang pas sekali. Di tempat duduk tengah, berempat duduk merapat. Berdempet-dempetan. Okelah untuk perjalanan menuju bandara. Biayanya kalau tidak salah 260 ribu Rupiah.
Pemesanan taksi saya lakukan dengan menggunakan aplikasi MyBlueBird. Harganya Rp. 260 ribu. Pas pulangnya nanti – dari bandara kembali ke apartemen – dengan mengambil taksi Blue Bird yang sama, ternyata Rp. 360 ribu. Mungkin karena saya tidak menggunakan aplikasi MyBlueBird? Maklum keluar dari bandara kan agak sedikit ribet / rusuh. Jadi gak sabar untuk menggunakan aplikasi MyBlueBird. Langsung saja ke counter-nya. Ini masih perkiraan kenapa harganya beda. Jadi lebih baik menggunakan aplikasi MyBlueBird. Lumayan beda 100 ribu rupiah.
Kami berangkat dari rumah langsung habis sholat Subuh karena khawatir waktunya yang sangat mepet. Waktu itu Subuh agak “pagi”. Jadi bisa berangkat pukul 6 pagi. Alhamdulillah perjalanan ke bandar lancar dan di bandara bisa langsung check-in. Kami menggunakan Qatar Airways melalui terminal 3 ultimate.
Di bandara Soekarno-Hatta ada mesin-mesin yang membantu check-in secara mandiri (self-service). Boarding pass langsung bisa diprint di mesin ini meskipun sebelumnya boarding pass sudah kami buat via web check-in sehari sebelumnya. Demikian pula untuk bagasi dikerjakan sendiri. Ada mesin yang membantu untuk membuatkan tag yang dilekatkan di koper. Kemudian koper masuk. Kami tinggal langsung jalan melenggang dengan tas bawaan saja.
Imigrasi di bandara Soekarno-Hatta juga sudah canggih menggunakan alat otomatis. (Sayangnya saya tidak memotret karena khawatir tidak boleh memotret.) Passport kita scan sendiri di mesin kemudian kita menghadap ke layar untuk diambil foto wajahnya. Aplikasi kemudian mencocokkan wajah kita dengan foto wajah di passport. Jika cocok, pintu langsung membuka dan kita sudah menyelesaikan proses imigrasi. Sangat mudah dan efisien. Meskipun masih ada glitches. Salah seorang anggota keluarga kami masih harus melakukan imigrasi manual entah kenapa. Padahal pasport dibuat sama juga prosesnya. (Dugaan saya proses verifikasi wajah yang kurang lancar.)
Setelah proses imigrasi kami menuju kedai kopi untuk sarapan dulu. Maklum tadi buru-buru dari rumah sehingga belum sarapan. Asyiknya saya menemukan kopi manual brew (filter coffee) juga di sini. Asyik. Langsung pesan dong. Sarapan dengan cepat dan langsung menuju ke gate untuk pesawat kami. Tidak lama kemudian kami langsung menuju pesawat dan berangkat.
Kami menggunakan maskapai Qatar Airways karena waktunya yang paling cocok dan harganya juga sesuai dengan budget. Penerbangan melalui route Jakarta – Doha (8 jam) dan Doha – London (Heathrow airport) (6 jam). Penerbangan lain beda route dan bahkan ada yang langsung dari Jakarta ke London (tapi jadi tidak melakukan transit). Pilihan Qatar Airways ini juga untuk memastikan bahwa makanannya halal. Supaya tidak pusing-pusing. Ternyata memang jadwal ini yang paling bagus.
Transit di Doha ternyata harus pindah tempat untuk pindah kapal terbang. Repotnya ternyata pas pindah juga harus melalui screening barang-barang lagi. Lah. Jadi butuh waktu. Ternyata waktu yang ada hanya pas-pasan untuk langsung boarding lagi di pesawat berikutnya. Tidak sempat jalan-jalan mengeksplorasi bandara Doha. Okelah nanti pas pulangnya saja.
Sampai di Heathrow airport (London) sudah malam. (Lupa jamnya) Yang membuat kaget bagi saya adalah antrian di imigrasi. Semuanya manual! Saya lihat di ujung sana ada bagian yang memiliki alat seperti yang di Jakarta tapi nampaknya tidak dioperasikan. Jadi ada ratusan orang (mungkin 200 atau bahkan 300? orang yang ngantri). Waduh. Bakalan lama nih. Pekerjanya memang sangat efisien sekali, tetapi memang banyak saja orangnya. Rombongan keluarga dapat diproses secara bersamaan. Berbeda dengan di Singapura, yang memang harus satu persatu. (Tapi di Singapura juga ada mesin scanning passport.)
Setelah beres imigrasi – lupa berapa lama? 1 jam? – kami langsung menuju hotel. Hotel yang kami booking adalah Holiday Inn Express di aiport. Bingung juga. Akhirnya kami jalan ke luar menyusur jalan. Kurang dari 10 menit sudah sampai di hotel. Masalahnya adalah gerimis. Tapi masih bisa dilalui. Besoknya baru tahu ada sky walk (jalan di atas) dari hotel ke terminal 4 Heathrow itu. Tidak kena hujan dan lebih cepat. Ha ha ha. Ternyata selain hotel Holidah Inn ada juga hotel Prime di dekat situ yang bisa pakai skywalk ini juga. (Hotel Prime lebih murah sedikit dibandingkan Holiday Inn, tetapi saya sangat puas dengan Holiday Inn Express ini.)
Hotel Holiday Inn ini memang hotel untuk traveller, tidak terlalu luas ukurannya tetapi sangat bersih. Untuk ukuran hotel airport, saya sangat puas dengan hotel ini. Temperatur AC-nya juga tidak terlalu dingin sehingga kami bisa tidur dengan nyaman. Kesimpulan soal hotel ini, recommended.
Selesai cerita tentang hari (day) 1. Jika nanti ada pembaharuan, kemungkinan sedikit saja.
Tadinya saya ingin menuliskan perjalanan saya dan keluarga ke London (dan sekitarnya), tetapi ternyata di perjalanan susah mendapatkan akses internet. Akhirnya tidak jadi menulis apa-apa. Mudah-mudahan saya masih ingat apa saja yang kami lakukan dalam perjalanan ini. Soalnya mungkin pengalaman saya dapat menjadi panduan bagi orang lain yang ingin melakukan perjalanan yang sama.
Seringkali jadwal bangun dan tidur saya agak terbalik. Sebagai contoh, saat ini saya baru terbangun kembali setelah tadi tidur habis Maghrib. Yang saya maksud saat ini adalah pukul 11 malam WIB. Hal ini terjadi karena setelah Maghrib tadi saya merasa capek sekali. Biasanya ini terjadi kalau pagi sampai sorenya ada kegiatan. Ya bagaimana lagi, badan menuntut istirahat meskipun waktunya “salah”. Saya pasrah saja.
Yang repot adalah banyak orang yang meminta waktu saya untuk berdiskusi. Kalau saya beri waktu pukul 11 malam rasanya agak kurang pas juga. Aneh saja. Berkesan sok jago. Padahal ini termasuk jadwal “normal” saya. Di jadwal kerja yang “normal” untuk orang biasa, jadwal saya sudah padat. Bertumpuk-tumpuk. Bagaimana lagi? Soalnya “baju” atau “topi” saya banyak. Ya jadinya kegiatannya bertumpuk-tumpuk.
Nah, kalau Anda membutuhkan waktu berdiskusi dengan saya dan tidak keberatan dengan jadwal yang agak nyeleneh, mungkin malah lebih memungkinkan. Bagaimana?