Menyikapi Kasus Cuitan CEO Bukalapak

Semalam cuitan CEO Bukalapak menjadi viral. Ini tampilannya.

Cuitan yang sepertinya biasa-biasa itu ternyata menjadi viral karena kalimat yang terakhir yang memuat kata-kata “presiden baru“. Tahun ini memang banyak orang yang sensitif terhadap pemilihan presiden. Sebagian besar orang mengasosiasikan hal ini sebagai dukungan kepada calon presiden 02, Prabowo. Padahal dalam berbagai acara Bukalapak, presiden Jokowi diundang dan hadir. Banyak orang yang mengatakan bahwa Achmad Zaky tidak berterimakasih.

Mulailah dicari-cari kesalahan-kesalahan lain, seperti misalnya data tersebut adalah data tahun 2013 bukan 2016. (Ini sudah direvisi.) Dan banyaklah kesalahan lain yang dicari-cari.

Akibat dari ini maka muncullah gerakan untuk “uninstall” aplikasi Bukalapak (dengan tagarnya). Bahkan ada banyak komentar yang negatif di Playstore. Netizen memang kejam.

Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan semuanya. Santai saja.

Kebetulan, saya sedang mengajar kuliah “New Venture Management” di MBA Sekolah Bisnis & Manajemen (SBM) ITB. Mahasiswanya adalah para pendiri (dan biasanya CEO) dari usaha-usahanya. Kebetulan ada kasus ini yang dapat saya angkat sebagai studi di kelas.

Andai kita adalah Board of Directors (BoD) dari Bukalapak. Mari kita panggil CEO-nya dan minta pertanggungjawaban. Masalah sudah terjadi. Apa yang harus dilakukan? Itu adalah salah satu dari serangkaian pertanyaan yang saya berikan kepada mahasiswa. Apa usulannya?

Usulan pertama adalah adanya permintaan maaf. Itu sudah dilakukan (meskipun ada yang masih belum dapat menerima itu.) Ini adalah langkah klasik.

Usulan-usulan apa lagi? Yang out-of-the-box. Maka mulailah muncul ide-ide yang “cemerlang”. Berikut ini adalah beberapa usulan yang muncul.

Ada usulan untuk menggunakan momen ini untuk menerbitkan voucher khusus. Voucher “mintamaaf“. Saya usulkan namanya voucer “BukaMaaf“. ha ha ha. Orang Indonesia sangat pemaaf.

Usulan berikutnya adalah untuk memanfaatkan spotlight ini. Turn this bad publicity into a marketing stunt. Misalnya, justru gunakan momen ini untuk menjelaskan R&D yang sudah dilakukan di Bukalapak, dan seterusnya. Justru momen ini digunakan untuk lebih memperkenalkan sisi positif dari Bukalapak. Atau mungkin dapat digunakan untuk marketing lain yang lebih menjual. Mumpung lagi dapat sorotan.

Usulan lain lagi adalah membuat short movie. Bukalapak dikenal dengan iklan-iklannya yang berbau cerita. Misalnya dalam cerita ini dikisahkan Achmad Zaky dipecat dan Bukalapak bangkrut. Kemudian ditunjukkan kerugian yang terjadi bagi Indonesia. Saya malah menambahkan sedikit twist di plot ceritanya. Diceritakan Achmad Zaky pulang ke Solo dan ketemuan dengan Jokowi (yang kw saja – Jokowi kw – ha ha ha). Kemudian Zaky berkeluh kesah kepada Jokowi dan ditanggapi dengan baik. Bahkan di akhir ceritanya diberi sepeda. “Ini sepedanya”. he he he. (Dan sepedanya itu yang kemudian dibawa ke ITB untuk dijadikan sepeda di kampus ITB – yang sekarang sudah ada pun.)

Dan masih banyak usulan-usulan lainnya lagi. Serulah. Kelas menjadi menarik. Alhamdulillah ada kasus yang dapat dibahas di kelas.

Iklan

Pelaksanaan Hackathon IoT (di Bandung)

Pada tulisan sebelumnya (tautan akan saya pasang di sini), telah saya sampaikan akan adanya lomba untuk membuat aplikasi terkait dengan data cuaca yang ada di kota Bandung. Data tersebut berasal dari sensor (IoT) yang kami pasang di berbagai tempat di kota Bandung.

Pada tanggal 23 Januari 2019 acara dilangsungkan. Dari 38 tim yang memasukkan proposal, 15 tim dipanggil untuk berlomba. Mereka diberi waktu dari pagi sampai malam untuk mengembangkan aplikasinya. Ini ada video di awal sebelum acara dimulai.

Hackathon IoT: hackBDGweather

Di pembukaan acara, saya menceritakan mengenai latar belakang sensor cuaca ini dan bagaimana cara mengaksesnya. Setelah itu, tentu saja dilakukan potret bersama. (Apa lagi kalau bukan itu? ha ha ha.)

IMG_4975 hackathon_0001

Hari kedua, tanggal 24 Januari 2019, tim mempresentasikan karya mereka dan dinilai oleh juri. Hasilnya adalah tiga pemenang yang ditampilkan di web hackathon.cbn.id.

Senang sekali dengan kegiatan ini. Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi kota Bandung dan tempat-tempat lain di Indonesia. Langkah-langkah selanjutnya antara lain:

  • menerapkan hal yang sama di kota-kota (tempat-tempat) lain di Indonesia;
  • menambah data (sensor) yang dimasukkan (ada permintaan data terkait dengan tanah untuk pertanian dan perkebunan);
  • membuat aplikasi-aplikasi yang lebih menarik.

Ayo semangat! Ayo berpartisipasi.

Tautan terkait acara ini:

Brand Image

Dalam kuliah “New Venture Management” (NVM), saya mengangkat topik Key Performance Indicators (KPI). Bahwa setelah melewati proses inisiasi bisnis dan bisnis sudah berjalan dengan baik, maka mulai masuklah kita ke tahap pengelolaan bisnis dengan menerapkan manajemen yang baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mencatat dan mengukur berbagai indikator dari usaha kita.

Ada beberapa indikator yang dapat dicatat dan diukur, antara lain:

  1. Jumlah produk atau servis;
  2. Brand Image;
  3. Jumlah pelanggan (the number of customers);
  4. Penjualan (sales);
  5. Keuntungan (profit);
  6. Indikator keuangan lainnya (saham, nilai investasi);
  7. dan hal-hal yang terkait dengan organisasi (jumlah karyawan).

Tulisan kali ini akan menyoroti aspek “brand image saja”. Kalau menurut Anda, apa yang dimaksud dengan “brand image”?

Jawaban dari pertanyaan di atas bergantung kepada kapan dan kepada siapa ada bertanya. Saat ini, ketika saya tanyakan kepada mahasiswa, maka jawabannya terkait dengan Instagram dan YouTube. Seberapa populernya Anda di instagram. Kalau dahulu yang lebih banyak digunakan adalah Facebook dan/atau Twitter.

Ada banyak indikator kepopuleran seseorang pada instagram; jumlah pengikut (follower), jumlah yang menyukai (like) (untuk sebuah foto atau cerita), engagement, dan seterusnya. Ini masih dapat kita bahasa lebih panjang lebar lagi.

Pertanyaannya adalah apakah kepopuleran kita di instagram dapat dianggap sebagai salah satu tolok ukur dari brand image? Artikel jurnal mana yang menyatakan demikian? (Kebanyakan yang menyatakan demikian berasal dari artikel populer yang diragukan nilai akademiknya.) Dalam beberapa diskusi dengan kawan, brand image di dunia siber (misal di instagram) belum tentu sama dengan kepopuleran di dunia nyata. Nah lho.

[Saya potong dulu ya tulisannya. Nanti saya tambahkan]

Pekerjaan rumah saya kepada mahasiswa adalah mencatat kondisi media sosial masing-masing mahasiswa dan peningkatannya secara berkala (bulan depan). Kondisi saya saat ini (21 Januari 2019):

  • Instagram: 1881 followers
  • YouTube (rahard): 412 subscribers
  • WordPress: views/day atau views/month
  • Twitter: 4526 followers
  • Facebook: 5000+ followers (yang ini akan digantikan dengan Facebook Page saja)
  • Facebook Page: 1543 (like), 1539 (followers)

Data di atas akan saya pantau. Nanti pekerjaan rumah berikutnya adalah melakukan sesuatu dan melihat efeknya pada indikator-indikator tersebut.

Pidato, Debat, Presentasi, dan hal-hal terkait

Mumpung pas sedang ramai dibicarakan soal pidato dan debat dalam rangka pemilihan presiden maka saya angkat topik ini. Topik ini sebetulnya sudah banyak saya bahas – terutama di kelas – dalam kerangka presentasi, tetapi akan saya bahas kembali di sini.

Banyak orang yang mempertanyakan ketika salah satu pasangan calon (eh, atau bahkan semua) melakukan latihan pidato atau debat (atau dalam tulisan ini saya akan gunakan istilah “presentasi” secara umum). Konotasinya negatif. Justru saya malah melihat bahwa kebanyakan orang KURANG latihan presentasi. Termasuk para paslon itu kurang latihan presentasi. Ha ha ha.

Salah satu modal utama dari kebagusan presentasi adalah latihan. Ini merupakan bagian dari persiapan. Berapa kali Anda mencoba latihan mempresentasikan materi Anda? Satu atau dua kali? Saya usulkan 40 kali! Sebanyak itu? Iya, sebanyak itu. Kalau hanya sekali atau dua kali, itu masih jauh dari siap.

Orang-orang yang presentasinya bagus-bagus, termasuk Steve Jobs, berkali-kali mencoba presentasinya. Bukannya mereka tidak bisa, tetapi untuk membiasakan dengan materi tersebut. Excellence is not an act, but a habbit.

Oh ya, saya sering latihan presentasi karena terpaksa. Dalam satu bulan biasanya saya sedikitnya memberikan dua presentasi. Kadang kala ada dua presentasi dalam seminggu, sehingga totalnya 8 presentasi dalam sebulan. Dalam setahun, tinggal dikalikan saja, ada 96 kali presentasi. Itu belum termasuk mengajar 4 mata kuliah yang mana setiap minggu saya harus presentasi antara 4 sampai 8 kali. Satu bulan saya harus presentasi 12 sampai 30 kali. Satu tahun ada 300 kali presentasi. Dikalikan 10 tahun saja (padahal saya sudah mengajar lebih dari 20 tahun), maka ada 3000 kali saya presentasi yang sudah saya lakukan. Dan saya masih menghargai latihan presentasi.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda berlatih melakukan presentasi? Apakah Anda masih akan mencela latihan presentasi?

Lomba Pemrograman (IoT)

Internet of Things (IoT) sedang ramai dibicarakan. Salah satu pemanfaatan yang paling mudah dilakukan dengan IoT adalah untuk memantau temperatur, kelembaban, dan hal-hal yang terkait dengan lingkungan (cuaca? weather).

Di Bandung, kami sudah memasang beberapa (banyal) sensor yang terkait dengan cuaca ini. Weather sensors. Target awalnya adalah tersedia 150 sensor yang tersebar di kota Bandung. Data dari sensor-sensor tersebut kami kumpulkan dalam sebuah basis data. Nah, sekarang data tersebut kami buka.

Kami mengajak semua untuk mengembangkan aplikasi terkait dengan data cuaca tersebut dalam sebuah lomba. HackBDGWeather. Hackathon ini sekarang sudah dibuka dan kami menunggu proposal-proposal (ide-ide) dari Anda sekali. Silahkan kunjungi situs webnya di

https://hackathon.cbn.id


Ayo ramaikan. Kami tunggu proposalnya ya. Ditunggu sampai tanggal 15 Januari 2019.

Memulai Tahun 2019

Seharusnya tulisan ini saya buat minggu lalu, pas tanggal 1 Januari 2019, tetapi alasan klasik – sibuk – membuat saya baru bisa menuliskannya sekarang. Tahun baru 2019 ini saya mulai dengan bermain sepak bola. Persis tanggal 1 Januari 2019, pukul 5:30 pagi saya sudah berada di lapangan sepak bola Progressif (di Bandung). Mau masuk ke tempatnya juga harus membangunkan satpam yang tertidur dengan earphone melekat di telinganya. ha ha ha.

Sesampainya di lapangan, datang juga pak Ali (dari Galados ITB). Hari ini saya ikut tim yang tanding dengan Galados ITB. Seharusnya saya ikut Galados ITB ini, secara saya alumni ITB dan dosen ITB gitu. Ha ha ha. Tapi saya belum pernah latihan atau bermain bersama Galados. Eh, mungkin pernah sekali tapi itu sudah lama sekali.

IMG_20190101_054153-01
Bersama pak Ali di lapangan bola

Sudah satu tahun (atau lebih?) saya tidak bermain sepak bola karena terakhir bermain terjadi insiden. Saya ditabrak dari samping sehingga pingsan mungkin 5 menit. Semenjak itu saya trauma bermain bola lagi sehingga menggantungkan sepatu bola.

Kali ini saya mencoba memberanikan diri bermain lagi. Alhamdulillah masih bisa berlari dan bahkan ikut berkontribusi menghasilkan 1 gol.

IMG_20190101_065241-01
berpose di pinggir lapangan (sementara yang lain masih berada di lapangan)

Memulai tahun 2019 dengan kegembiraan. Semangat.

Media Sosial Bukan Tempat Diskusi Serius

Perkembangan teknologi informasi menghasilkan produk (dan servis) yang luar biasa. Salah satu hasilnya adalah media sosial. Karena namanya ada kata “sosial”nya maka saya berasumsi bahwa itu adalah tempat untuk kita bersosialisasi. Salah satunya mungkin bisa jadi tempat untuk berdiskusi serius. Ternyata saya salah.

Media sosial ternyata tidak mampu untuk menjadi tempat diskusi secara serius. Coba saja kita bahas tentang Lapindo, misalnya. Ini salah satu topik berat. Pasti langsung sepi. Krik, krik, krik. Cari topik serius lainnya lagi, masalah pendidikan. Hasilnya juga bakalan sama. Sepi.

Kalau topiknya yang hahaha hihihi … langsung ramai.

Nampaknya memang media sosial itu seperti warung kopi, tempat ngobrol ngalor ngidul. Jangan berharap akan melakukan diskusi seperti seminar di kampus-kampus.

Tersadarlah saya. Apakah Anda masih pingsan?