Melancong ke Kuala Lumpur

Beberapa hari terakhir ini saya memang tidak ngeblog. Alasannya adalah saya melancong ke Kuala Lumpur, Malaysia. Sekarang sih sudah di Indonesia lagi, tetapi kemarin-kemarin masih capek luar biasa dan juga langsung harus membereskan pekerjaan-pekerjaan yang terbengkalai. (Sebetulnya yang bikin capek berat itu perjalanan pulan dari Jakarta ke Bandung yang memakan waktu lebih dari 4 jam. Sampai di rumah menjelang pukul 2 pagi!)

Ke Malaysia sebetulnya adalah untuk seminar Cyber Intelligence Asia. Saya mewakili ID-CERT menceritakan tentang kondisi cyber security di Indonesia. Cerita tentang topik ini akan saya bahas di tulisan lain. (Mudah-mudahan tidak tersela oleh kegiatan lain ya. he he he.)

Dan tentu saja harus ada foto-foto makanan. ha ha ha. Sayang sekali tidak semua sempat saya foto. Keburu habis. ha ha ha.

P_20170314_143905 kari lamb_0001

Malaysia memang menarik makanannya. Berbeda rasanya dengan di Indonesia. Saya mencari makanan yang berjenis kari. Harga makanan di Malaysia relatif lebih murah dibandingkan dengan harga di Indonesia; maksudnya harga di Kuala Lumpur versus harga di Jakarta. (Kalau harga di kampung di Indonesia juga murah-murah.)

Sebagai contoh, umumnya makan di sana dapat RM 7 atau sekitar Rp. 21.000,-. Yang foto di atas kalau tidak salah RM 14 (atau sekitar Rp. 42.000,-). Tentu saja kalau di hotel ya jelas mahal. Kalau minuman – entah kenapa – dimana-mana juga mahal.

Cerita lainnya menyusul. Ini hanya sekedar untuk mengisi kehadiran di blog ini dahulu.

Foto Makanan

Tadi pas sarapan di hotel ini, saya lihat ada tiga meja yang memotret makanannya. ha ha ha. Jadi saya tidak malu-malu juga memotret makanan saya.

photo6217631620081493929

Saya akui, saya suka memotret makanan sejak jaman … kapan ya? Sudah lupa. Seingat saya sejak jaman selfie belum ada. Sejak jaman kamera handphone masih 2 Megapixels. (atau kelas VGA ya?) ha ha ha.

Koleksi foto makanan saya sudah lebih dari 1000 foto. Itu yang saya unggah. Yang di komputer saya lebih banyak lagi. Memotret makanan adalah hal yang paling gampang karena mereka tidak bergerak.

photo6215244786496022441

Kembali ke kerja. Eh, makan 🙂

Belajar, Belajar, dan Belajar

Di sebuah tempat. Melihat mahasiswa yang sedang berkerumun. Yang cowok duduk bergerombol, ketawa-ketawa, sambil merokok. Sementara itu yang cewek ada yang sedang berjalan sambil mendekap buku teks, map, dan buku catatan. Sementara itu saya lihat pandangan mereka kosong. Apa yang ada di dalam pikiran mereka ya?

Saya menduga-duga bahwa mereka ke kampus tidak dalam mode untuk belajar. Mereka ke kampus hanya sekedar untuk menghabiskan waktu saja. Dari pada di rumah nganggur, mendingan ke kampus (entah untuk ngapain). Demikian pula pikiran orang tuanya; dari pada anak saya nggak ada kerjaan di rumah, lebih baik dia ke kampus saja. Tidak ada semangat untuk *belajar*. Bahwa saya mau ke kampus untuk belajar.

Semangat untuk belajar ini sudah hilang. Keingintahuan (curiousity) menjadi barang yang langka.

Kalau ditanya sih mau belajar, tetapi berusaha untuk belajar itu tidak. Kalau mau berusaha itu harus pergi ke satu tempat, berguru. Jauh-jauh, berusaha untuk menemui guru yang terbaik. Bukan asal saja.

Contoh paling gampang. Ada training ini dan itu gratisan. Eh, yang datang sedikit. Alasan yang tidak datang adalah sibuk. ha ha ha. Semua orang juga sibuk. Itu sebetulnya alasan untuk tidak mau berusaha.

Sementara itu saya masih ingin belajar, belajar, dan belajar.

IoT Programming

Steve Jobs pernah berkata, “Untuk setiap penggemar hardware, ada 10 orang yang suka ngulik software. Software hobbyists”. Tidak persis benar, tetapi kira-kira begitulah kata-katanya. Itulah sebabnya dia (dan Steve Wozniak) membuat komputer Apple ][. Sebelumnya kalau mau ngoprek software, harus ngoprek kit komputer. Harus tahu hardware. Padahal ada orang yang tidak memiliki latar belakang hardware, tapi ingin ngoprek komputer.

Salah satu kesulitan ngoprek hardware adalah menyambung-nyambungkan komponen. Bahkan untuk sekedar menyambungkan LED juga tidak mudah. Padahal “hello world” di dunia hardware itu adalah blinking LED.

Jika menyambungkan 1 LED saja sudah susah, apalagi menyambungkan 6 LED (atau lebih). Itulah sebabnya jarang yang membuat tutorial untuk menyalakan LED lebih dari 1 buah.

Salah satu solusi yang kami tawarkan adalah  membuat LED board yang cocok dengan board yang umum ada di lapangan. Sebagai contoh, ini adalah tampilan ProcodeCG LED (6 buah LED) yang disambungkan dengan NodeMCU. Bersih kan? Tidak perlu ada kabel-kabel.

p_20170306_092518-nodemcu-procodecg-0001

Sekarang kita dapat membuat kode Knight Rider LED tanpa perlu pusing dengan kabel-kabelnya. Jadi orang yang gemar software tetapi tidak memiliki latar belakang hardware dapat juga ikut ngoprek IoT (Internet of Things).

[Nanti video dan kode untuk menyalakan LED tersebut akan saya unggah ke YouTube. Sekarang akses internet lagi lemot.]

Selamat ngoprek.

Tahan Tiga Hari Sebelum Berbagi

Beberapa hari yang lalu (Senin, 27 Februari 2017) saya diminta untuk memberikan presentasi terkait dengan mindset anti-hoax. Saat ini hoax sudah merajalela sehingga perlu dilakukan sesuatu. Acaranya dilakukan di Unikom, Bandung.

Presentasi saya dimulai dengan definisi dari hoax. Apa ya? Hoax saya definisikan sebagai sesuatu yang tidak benar tetapi direkayasa seolah-oleh sebuah fakta. Hoax asalnya bisa hanya sekedar guyonan. Main-main. Namun oleh beberapa orang (yang tidak memiliki sense of humor?) dianggap sebagai serius dan kemudian bergulir. Namun ada juga yang memang merekayasa “fakta” palsu ini untuk kepentingan tertentu (biasanya ujung-ujungnya duit juga).

Ada kesulitan dari banyak orang untuk membedakan fakta, opini, dan hoax. Mari saya ambilkan beberapa contoh.

  • Fakta: Persib adalah klub sepak bola kota Bandung
  • Opini: Persib adalah klub sepak bola terhebat
  • Hoax: Persib pernah menjuarai Liga Sepak Bola Inggris

Contoh-contoh di atas memang mudah dikenali karena sangat jelas bedanya. Ada banyak hal yang sulit dibedakan.

16903271_10154326694056526_6889321425773985855_o
[sumber: koran Pikiran Rakyat]
Untuk mendeteksi hoax harus memiliki ilmu dan wawasan. Sebagai contoh, bagaimana kita tahu bahwa “Persib pernah menjuarai Liga Inggris” itu membutuhkan pengetahuan dimana letak Inggris selain mengetahui bahwa Persib itu klub sepak bola Bandung. Tanpa pengetahuan ini tentu saja akan sulit untuk menentukan ini fakta atau bukan.

Bagaimana cara untuk meningkatkan kemampuan ini? Dibutuhkan banyak membaca dan piknik. hi hi hi.

Setelah mengetahui itu hoax, maka terserah kepada kita apakah kita akan ikut menyebarkannya atau menghentikannya. Memang sulit sekali untuk tidak ikut berbagi (share) di dunia media sosial. Satu klik saja sudah bisa berbagi. Padahal sebelum membagikan berita, kita perlu cek dulu apakah itu fakta atau hoax.

Salah satu tips saya adalah “Tahan Tiga Hari Sebelum Berbagi”.

Bagaimana dengan penanganan hoax yang memang sengaja dibuat? Itu cerita lain kali ya.

Bumi Datar (Flat Earth)

Kemarin di dua tempat terjadi perdebatan tentang apakah bumi itu bulat atau datar. Mungkin juga perdebatan tidak hanya terjadi di dua tempat itu saja. Ya, topik sedang ngetrend. Jadi ingat cover album Kansas ini, Point of Know Return. (Sambil juga ingat bukunya Friedman, the World is Flat.)

kansas_-_point_of_know_return

Menurut Anda tentang bumi datar itu opini atau hoax? Ada yang berpendapat bahwa ini adalah hoax karena bukan fakta. Sementara itu ada yang berpendapat bahwa ini adalah opini dan itu sah-sah saja. Nah lho.

Ngoprek IoT

Sudah seminggu ini (atau mungkin lebih?) saya ngoprek Internet of Things (IoT). Apa sih IoT itu? Pada dasarnya ini adalah perangkat keras (hardware) dalam ukuran kecil yang dapat diprogram untuk mengambil data (misal data temperatur) dan meneruskannya ke internet. Teknologi elektronika dan komputer berkembang dengan pesat sehingga perangkat dapat menjadi lebih kecil dan murah. Demikian pula kecepatan akses internet menjadi lebih cepat dan juga lebih murah. Kedua hal inilah yang menyebabkan populernya IoT.

p_20170220_075632-kopi-iot-01
NodeMCU boards

Latar belakang saya memang elektronika, sehingga seharusnya tidak banyak kesulitan dalam ngoprek IoT ini. Kenyataannya ada hal-hal yang sangat spesifik sehingga harus saya oprek dulu sebelum bisa jalan. Tadi malam saya ngoprek sampai jam 2 pagi (eh, 2 malam?). he he he.

Saya memiliki banyak development boards. Begitu ada yang baru, beli atau minta. (Yang terakhir itu yang menarik, minta. he he he.) Terus dioprek. Hasilnya saya masukkan ke YouTube dan kodenya saya simpan di Github supaya dapat dimanfaatkan orang lain. Ayo ngoprek IoT juga.