Perlukah Menyimpan Foto Makanan?

Banyak orang, termasuk saya, yang suka memotret makanan. Ini dilakukan bukan sebagai seorang profesional, melainkan amatiran saja. Nah, masalahnya adalah ada banyak sekali foto makanan yang sudah saya kumpulkan. Apakah perlu foto-foto ini tetap saya simpan? Saya masih belum melihat pemanfaatannya selain sekali menampilkan foto ini di media sosial.

IMG_20200117_133949

Harddisk memang makin murah harganya. Yang saya lakukan biasanya menyimpan berkas tersebut, terus kemudian melupakannya. Jadi kalaupun foto ini saya simpan, mungkin dia akan menjadi “sampah digital”. (Apakah sampah digital ini dapat dijadikan uang? Itu menjadi bahasan terpisah.)

Saya dan Rush

Ceritanya setelah lulus dari ITB, saya gamang tentang apa yang mau saya lakukan. Saya ingin sekolah di luar negeri. Tiba-tiba ada tawaran sekolah S2 di Kanada. Tentu saja saya tertarik. Saya tanya, apa syaratnya? Tinggal tanda tangan saja. Ah, lebih menarik lagi. Ha ha ha.

Sebelum penentuan, saya diwawancara dahulu. Salah satu pertanyaannya adalah, “apa yang Anda ketahui tentang Kanada”? Nah … Hayo. Kalau Anda ditanya dengan pertanyaan tersebut, jawabannya apa?

Saya tidak tahu banyak soal Kanada. Setelah berpikir sejenak, saya jawab “RUSH”. Ha ha ha. Bagi yang belum tahu, Rush adalah group band musik (keras) dari Kanada. Ini adalah salah satu supergroup. Ketika masih SMA, ini adalah salah satu grup favorit saya.

Yang mewawancara mesem dan tertawa. You’re accepted katanya. Ha ha ha. Tentu saja ada pertanyaan-pertanyaan lain dan mestinya jawaban saya oke juga sehingga saya diterima, tetapi dalam benak saya ini adalah jawaban yang membuat saya diterima di Kanada. Rush got me into Canada.

Akhirnya saya tinggal di Kanada; sekolah dan bekerja. Yang tadinya berencana tinggal hanya 2 tahun akhirnya menjadi 10 tahun lebih (mendekati 11 tahun). Alhamdulillah.

Terima kasih Rush.

Tulisan ini saya buat dalam rangka untuk mengenang Neil Peart, drummer Rush yang baru meninggal kemarin. May you rest in peace, professor. Neil Peart adalah dummer pilihan drummers. Demikian hebatnya dia. Itulah sebabnya dia mendapat julukan the Professor.

Belajar dari biografi

Biografi. Perjalanan hidup seseorang. Wah. Ini salah satu bacaan yang paling saya sukai. Untuk mengetahui mengapa dia melakukan sesuatu, saya perlu belajar dari perjalanan hidupnya. Dan seringkali setelah mengetahui itu saya menjadi lebih apresiasi terhadap karya-karyanya.

Biografi dari orang asing selalu lebih menyenangkan karena yang diceritakan bukan hanya keberhasilannya saja, tetapi kegagalan demi kegagalan juga. Malah, seringkali porsi kegagalan ini jauh lebih banyak dari suksesnya. Mungkin kalau orang Indonesia, malu untuk menceritakan kegagalan ya?

Dahulu saya melakukan ini dengan membaca buku-buku. Sekarang sudah ada YouTube dan Netflix yang mendokumentasikan ini semua. Asyik. Waktu untuk belajarnya jauh lebih singkat, meskipun banyak detail yang dihilangkan. Jadi buku memang selalu lebih baik. Asal kita punya waktu lebih banyak saja. Tapi memang menonton video jauh lebih mudah. Sayangnya video-video masih jarang tersedia secara gratisan. Saya terpaksa menontonnya di Netflix yang berbayar. Itu salah satu alasan saya berlangganan Netflix. Sayang sekali, saat ini Netflix difilter oleh ISP Indihome.

Biografi yang baru-baru ini saya lihat antara lain:

  • Annie Leibovitz: fotografer terkenal. Awalnya dia terkenal sebagai fotografer dari Rolling Stones (band dan majalah). Foto-fotonya banyak yang menjadi legendaris.
  • Dolly Parton: penyanyi country legendaris dengan suara yang khas dan potongan rambut (wig) yang khas juga.
  • Quncy Jones: produser legendaris. Saya baru sadar bahwa dia termasuk generasi “lawas”, yaitu generasi masa Miles Davis, Frank Sinatra, dan seterusnya. Perkenalan saya sebetulnya melalui album-album yang lebih “baru”, seperti albumnya Michael Jackson. Etika kerjanya luar biasa. Saya yang super sibuk saja mungkin tidak sanggup mengalahkan kekuatan fisiknya.

Biografi siapa lagi yang pantas untuk ditonton?

Belajar itu buang-buang waktu

Sudah lama saya ingin membahas tentang topik ini tetapi selalu tidak sempat karena saya sibuk “buang-buang waktu” untuk belajar. Ini semacam pembuktian bahwa belajar itu adalah “masalah”. Ha ha ha. Mungkin ini semua terlalu saya besar-besarkan. Mungkin. Tetapi ini sudah menjadi pertanyaan yang lama menghantui saja.

Saya ingin membuat tulisan (dan video) yang membahas tentang topik “belajar dan buang-buang waktu” ini secara tuntas dan baik, tetapi karena tidak punya waktu akhirnya tidak bakal selesai. Ya sudah, saya menyerah dan membuat tulisan ini yang mungkin tidak tuntas dan tidak sesuai dengan harapan saya. Mungkin hanya 60% dari yang saya harapkan. Tetapi baiklah, 60% ada sekarang lebih baik dari 90% tetapi entah kapan selesainya. Ini sesuai dengan motto saya.

Begini. Saya menyukai belajar. Ya, memang tidak semua orang suka belajar. Saya juga dulu tidak sesuka ini dalam belajar. Bahkan seringkali belajar merupakan sebuah kegiatan yang menyebalkan. Semakin berusia, saya semakin menyukai belajar. Belajar apa saja. Semakin saya banyak belajar semakin saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa. Akibatnya semakin ingin belajar saja. Hambatannya hanya satu, waktu. Waktu yang terbatas.

Cara kita – atau mungkin tidak perlu saya generalisir, saya saja – belajar adalah dengan membaca, melihat, mendengar, dan mengalami sendiri. Semuanya menggunakan indera kita. Cara yang paling lazim digunakan – dan yang saya gunakan – adalah dengan membaca. Ada banyak buku, majalah, jurnal, surat kabar, newsletter, surat, dan sekarang blog yang dapat dibaca. Membaca menggunakan mata. Ternyata kemampuan membaca saya sangat lambat. Selain mata, juga pemahaman memperlambat proses ini. Kecepatan datangnya buku (dan bahan bacaan lain) lebih cepat dari kecepatan saya membaca. Akibatnya terjadi tumpukan bahan bacaan – secara fisik dan elektronik. Tetapi yang menjadi masalah tetap sama, waktu adalah musuh utama.

Itu baru yang berbentuk bacaan. Sekarang saya juga senang melihat video-video di YouTube. Ada banyak video-video yang memberikan pencerahan. Saya belajar juga dari sana. Sama seperti membaca, untuk menonton video ini dibutuhkan waktu. Waktu juga yang menjadi musuh utama.

Beberapa waktu yang lalu saya melihat video wawancara dengan Elon Musk. Pada satu segmen dia mengatakan bahwa yang menjadi masalah dengan kita (manusia) dibandingkan dengan mesin (AI, Artificial Intelligence) adalah keterbatasan “bandwidth” (lebar pita) dari transfer data kita. Wah. Benar juga. “Bandwidth” belajar kita terbatas. Lambat sekali.

Analogi yang dapat saya bagikan adalah “bandwidth” belajar kita saat ini seperti kecepatan komunikasi data jaman dahulu, 1200 bps. (Bagi yang belum tahu seperti apa lambatnya ini, silahkan lihat video-videonya di internet.) Dengan kecepatan seperti itu, untuk mengunduh sebuah lagu sebesar 3 MBytes saja sudah tidak manusiawi lambatnya. Waktu adalah musuh. Kita membutuhkan kecepatan Mbps (Mega bits per second) atau bahkan Gbps.

Jadi sebetulnya musuh kita bukanlah waktu, melainkan kita harus memiliki teknologi untuk melebarkan bandwidth penyerapan ilmu. Salah satu yang sedang diuji adalah Neurolink, yang mana ini diharapkan dapat menghubungkan otak kita dengan dunia luar dengan lebih cepat. Kita bypass mata dan telinga yang memiliki bandwidth kecil. Jadi belajar kita semacam mengirim data dari flashdisk ke otak kita. Tinggal copy saja. Itu kalau mau versi yang cepat tanpa perlu merasakan belajarnya. Mari kita tunggu hasil dari Neurolink. (Ada yang mau mencoba?)

Untuk sementara ini, selama “bandwidth” kita masih kecil maka belajar masih membutuhkan waktu yang lama. Nah, jadi saya masih terpaku kepada kesulitan ini, “belajar itu membuang-buang waktu”. Masalahnya, kalau saya tidak belajar maka saya tetap menjadi bodoh. Pilih mana?

Perayaan Tahun Baru Dengan Tidur

Mungkin saya termasuk minoritas, yaitu orang yang jarang merayakan hari ini itu. Bahkan untuk ulang tahunpun dirayakan dengan biasa saja. Ya mungkin ada makanan yang lebih dari biasanya saja. Hal ini saya lakukan bukan karena dogma ini dan itu, tetapi ya karena saya merasa seperti ganti hari biasa saja. Ha ha ha.

Perubahan tahun baru juga merupakan hal yang “biasa” bagi saya. Tahun baru sebelum-sebelumnya ada yang kami lewati dengan bermain (game board), kumpul-kumpul keluarga (BBQ), atau lebih seringnya adalah … tidur seperti biasa. Ha ha ha. Seingat saya, tahun lalu juga saya lewati dengan tidur seperti biasa. Maka tahun ini, kelihatannya juga mau saya lewatkan dengan tidur saja. Atau mau baca buku? Atau main game?

Gagal Ngeblog di Jalan

Ceritanya saya mau nyoba ngeblog sambil jalan-jalan. Seminggu lebih sedikit kami sekeluarga jalan-jalan ke Malaysia dan Singapura. Rencana saya sih mau cerita setiap hari di perjalanan. Sudah lama saya tidak pergi liburan. Jadi harusnya akan banyak cerita di jalan.

Karena banyak bawaan dan bakalan meninggalkan komputer di hotel, maka saya tidak membawa Macbook yang biasanya saya gunakan sehari-hari tetapi membawa notebook kecil yang jarang saya gunakan.

Sebagai persiapan, saya mencoba login di notebook yang akan saya bawa itu. Saya coba login ke akun Google, Facebook, WordPress, dan seterusnya. Karena takut notebook ini hilang maka saya tidak simpan password akun-akun tersebut di notebook tersebut. Jadi saya coba mengingat-ingat saja. Password akun tersebut hanya saya tanam di komputer desktop di rumah (yang saya gunakan saat ini untuk menulis ini).

Hari pertama di perjalanan. Saya berhasil login ke akun Google dan Facebook saya tetapi gagal untuk login di WordPress. Katanya password-nya salah. Lah. Perasaan sudah benar passwordnya. Walhasil, saya gagal ngeblog di jalan karena lupa password. Jadi batal untuk bercerita setiap hari. Yaaahhh.

Nah sekarang sudah sampai di rumah lagi dan baru bisa ngeblog lagi. Sayangnya mood untuk bercerita sudah hilang. Mana sudah lupa mau cerita apa juga. Yaaahhh. Jadi nanti kalau mood sudah datang lagi, saya akan cerita tentang jalan-jalan kemarin ya.

Sukses Adalah Keberuntungan

Baru saja saya beres melihat film dokumenter tentang kesuksesan beberapa film, seperti Die Hard dan Home Alone. Salah satu kesamaan dari kesuksesan film-film tersebut adalah keberuntungan. Luck. Ada banyak kejadian yang dapat membuat film itu batal jadi atau gagal. Keberuntunganlah yang membuat mereka sukses.

Selain menonton film dokumenter tersebut, saya juga menonton film dokumenter tentang sejarah musik Hip Hop. Di sana juga banyak keberuntungan yang membuat seseorang atau sebuah usaha sukses. Sama juga ternyata.

Keberuntungan tidak datang begitu saja. Keberuntungan akan lebih mungkin datang kalau kita bekerja keras. Kesemua contoh yang saya sebutkan di atas dibarengi dengan kerja keras. Kerja keras di luar standar yang umum. Atau, jangan-jangan kerja keras inilah yang membuat sukses. Keberuntungan atau luck itu bukan penyebabnya. Mungkin juga. Namun kalau kita dengar komentar dari semua orang yang terlibat dalam kesuksesan tersebut, maka mereka semua sepakat mengatakan bahwa itu adalah sebuah keberuntungan. Nah.