Kereta Api Panoramic

Setelah melihat video-video turis yang terkagum-kagum dengan kereta api panoramic, akhirnya saya memutuskan untuk mencobanya. Ini juga sebetulnya karena terpaksa. Saya harus ke Yogyakarta dan ternyata dari Bandung ke Jogja hanya ada dua alternatif; kereta api atau mobil. Dahulu ada penerbangan dari Bandung ke Jogja. Sekarang karena airport Bandung dipindahkan, maka tidak ada lagi. Ya sudah, kemarin itu saya putuskan untuk naik kereta saja. Sekalian mencoba kereta api panoramic.

Kereta api panoramic itu adalah kereta api dengan layar kaca yang lebar – di samping (seperti biasa) dan di atas (yang luar biasa). Tujuannya adalah agar penumpang dapat melihat pemandangan dengan lebih leluasa.

Foto di dalam kereta api Panoramic

Ternyata memang kereta api panoramic ini enak ditumpangi. Kursinya nyaman. Tadinya saya khawatir bahwa akan panas karena saya berangkat dari Bandung pukul 7:40, sampai di Jogja mendekati pukul 14:00. Ternyata tidak panas karena bagian atas dapat ditutup (dan memang dibuka tutup). Bahkan di dalam kereta kami merasa kedinginan karena ada AC. (Berangkatnya AC-nya tidak terlalu “nyemprot” tetapi pulangnya karena penumpangnya lebih sedikit, saya sangat kedinginan.)

Harga tiket dari Bandung ke Yogyakarta (sampai ke Surabaya?) adalah Rp. 1,2 juta. Karena saya lansia, saya mendapatkan diskon (20%). Sementara dari Yogyakarta ke Bandung hanya Rp. 900 ribu (padahal yang tidak panoramic bisa sampai Rp. 700 ribu). Saya ambil itu karena dari Bandung di gerbong lain hampir penuh.

Kebetulan perjalanan Bandung – Yogyakarta pemandangannya cukup bagus. Ada banyak sawah-sawah yang menghijau. Betapa indahnya Indonesia. Saya ambil sisi kiri ketika menuju ke Yogyakarta. Jadi bisa mengambil banyak foto.

Oh ya, di kereta, kita juga diberikan makanan. Pertama dapat snacks yang isinya roti (donat?) dan popcorn disertai minuman Hydro dan air kemasan. Terus siang ada makan siang. Enak rasanya hanya saja saya tidak bisa makan pedas. Hik hik hik. Teh dan kopi tinggal minta.

Singkatnya, kereta api panoramic (dalam hal ini Argo Wilis) saya rekomendasikan. Tidak kecewa.

Drakor (5): Miss Night and Day

Mari kita membahas drama Korea (drakor) kembali. Kali ini kita bahas “Miss Night and Day” yang baru saja selesai saya tonton. Pasalnya, dua episode terakhir juga baru muncul beberapa hari yang lalu. Saya biasanya tidak mau nonton seri yang belum selesai episodenya. Khawatirnya pas lagi seru-serunya, eh harus nunggu minggu depan. Wah kesel deh. Sudah ngalami seperti itu. Jadi saya tunggu sampai semuanya selesai saja. Nah ini termasuk yang saya tonton (awalnya) sebelum semua episode tersedia.

Awalnya nonton ini adalah ketidaksengajaan. Dia muncul di halaman awal tanyangan Netflix saya. Ternyata algoritmanya Netflix canggih juga. Saya klik saja seri itu. Awalnya sih lambat. Ah, gak menarik. Eh, tapi kok lama-lama jadi menarik.

Ceritanya memang agak tidak masuk akal, tetapi justru yang seperti ini yang saya suka. Saya sudah tahu bahwa ini tidak masuk akal. Maka tidak perlu pembenaran. Sama seperti nonton film jagoan-jagoan dari Marvel atau Star Wars lah. 100% hiburan.

Ceritanya tentang seseorang yang secara tidak sengaja terkena “kutukan”. Di siang hari dia berubah menjadi seseorang yang tua, 50 tahun. Baru pada malam hari dia kembali menjadi dia sesungguhnya yang mungkin hanya 20-sekian tahun (?). Maka terjadilah kesulitan-kesulitan – situational comedy, sitcom – bagaimana dia masih tinggal dengan orang tuanya sementara dia mengalami hal ini. Demikian pula di tempat kerjanya, yang awalnya juga dia kesulitan mencari kerja. Selain itu banyak juga twist-twist yang tidak dapat saya ceritakan tanpa memberi bocoran. Lebih baik ditonton sajalah.

Yang lebih menarik bagi saya adalah para peran pembantunya; ibu dan bapaknya, sobatnya, kawan pemeran prianya, dan lain-lain. Lucu-lucu. Karakternya sangat pas. Ibunya mirip dengan Tika Panggabean dan kelucuannya. Bapaknya juga karakternya pas. Hi hi hi. Ini yang membuat saya ketawa terus. Lawakannya pas. Ceritanya (meskipun absurd) juga pas. Tidak bertele-tele juga. Tidak patronizing juga. Pas saja.

Nilainya? 10/10. Kalau boleh kasih nilai 11, saya kasih nilai 11. Ayo tonton!

Terbuka Kembali

Tadi pas mau buat tulisan, eh blog itu terblokir. (Ceritanya agak sedikit panjang.) Sekarang sudah terbuka lagi. Sayangnya, mood sudah hilang dan situasi tidak memungkinkan. Tulisan ini juga diketikkan dari sebuah kedai di Malioboro, Jogja dengan terburu-buru. Dengan menggunakan tethering karena internet di kedai ini tidak ada akses internetnya. Oh well.

Perjalanan ke Shenzhen (1)

Ini adalah catatan singkat saya mengenai perjalanan saya ke Shenzhen, China. Beberapa puluh tahun yang lalu (20 tahun? 25 tahun?), saya pernah ke Beijing tetapi itu saja. Pada saat itu, tahun 2000-an, China sedang berkembang (dengan pesat). Sekarang sudah terlihat perkembanganannya.

Perjalanan saya dimulai dari Singapore. Dari bandara Changi, saya menggunakan Shenzhen Airlines menuju Shenzhen. Penerbangan menempuh waktu sekitar 4 jam lebih sedikit. Pesawat yang digunakan tidak terlalu besar, 737. Mungkin ada sekitar 30 baris dengan 6 orang per barisnya (3 di kiri dan 3 di kanan). Penerbangan penuh! Biayanya? Sekitar Rp. 8 juta pulang pergi. Perjalanan berangkat dari pukul 12 siang waktu Singapura.

Sesampainya di Shenzhen turun pesawat tidak melalui balai-balai tetapi turun tangga biasa. Kemudian penumpang ditransfer dengan menggunakan bis. Seperti di Indonesia. Bandaranya cukup besar meskipun terlihat tidak terlalu ramai.

Imigrasi di Shenzhen masih dilakukan manual. Penumpang harus mengisi form custom yang diberikan di atas pesawat. Imigrasi tidak lama karena antrian tidak terlalu panjang. Mungkin hanya sekitar 10 sd 15 menit dari mengantri sampai selesai. Selepas itu tinggal mengambil bagasi yang juga tidak terlalu lama. Cukup efektif.

Dari bandara kami menggunakan layanan Didi – seperti Grab / GO-Car di Indonesia – untuk menuju hotel. Ada tempat pemberhentian khusus untuk kendaran-kendaraan ini. Ada nomor-nomornya. Jadi kami memberitahu pengemudi bahwa kami di stall nomor 31. Sayangnya orang-orang di Shenzhen ini tidak banyak yang bisa berbahasa Inggris. Jadi ini merepotkan. Agak ada sedikit kebingungan berkomunikasi. Akhirnya datang mobil kami dan kemudian menuju hotel. 30 menitan menuju hotel di daerah Nanshang. (Tambah Y11 untuk bayar tol.)

Sampai di hotel. Lelah. Setelah istirahat sebentar, harus cari makan dulu. (Menyusul updatenya.)

Teka Teki Pemrograman #1

Bagi yang katanya bisa koding, coba selesaikan permasalahan ini.

Diberikan sebuah set s = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9} dan rumus sum = p + q + r + s. Cari kombinasi p, q, r dan s sehingga sum = 27. Ada berapa kombinasi (bukan permutasi) (dengan dua kasus di bawah)?

a. Kasus pertama: p, q, r dan s semuanya harus berbeda. Tidak boleh ada yang sama.

b. Untuk kasus ini p, q, r dan s boleh ada yang sama.

Bonus. Bagi yang senang ngulik, coba buat grafik jumlah kombinasi sebagai fungsi dari sum. Apakah bisa diturunkan rumusnya?

Bonusnya bonus. Ini kompleksitas-nya seperti apa ya? Bagaimana kalau jumlah variabelnya tidak hanya 4 (bukan hanya p, q, r, s) tapi ada 20, misalnya. Mosok masih mau dibrute-force? he he he.

Memperbaiki Gitar

Ini gitar saya sudah lama bermasalah. Colokan (jack) tempat untuk menyambungkan kabel ke ampli seringkali “koclak” – longgar. Akhirnya ada suara kresek-kresek (noise) yang sangat mengganggu. Setelah diperhatikan, salah satu masalahnya adalah pelat yang memegang jack tersebut – namanya jack plate – ternyata pecah. Ya sudah harus diganti.

Masalah mengganti jack plate yang harusnya mudah ini tidak saya lakukan karena tidak sempat saja. Awalnya juga karena tidak tahu harus beli dimana jack plate-nya itu. Males kalau harus ke toko alat-alat musik. Eh, secara tidak sengaja ketemu itu di toko online. Akhirnya beli secara online saja. Mudah dan murah. Dalam beberapa hari datang. Langsung dipasang. Gampang juga masangnya. Selesai deh.

Ini beberapa fotonya.

Jack plate yang saya beli secara online. Beli dua buah, yang warna hitam dan silver.
Jack plate yang lama (yang pecah) dan penggantinya yang sudah terpasang di gitar.

Futsal 2024

Iyes. Saya masih main futsal di tahun 2024. Usia sudah mendekati 62 tahun, tetapi masih main futsal. Memang saya main futsal tidak mencari prestasi, tetapi mencari kesehatan. Jadinya saya main dengan teman-teman yang mainnya bagus-bagus. Mereka tidak perlu membuktikan diri. Just have fun.

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 8;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 36;

Drakor (4)

Entah kenapa kali ini tontonan draktor banyak yang agak kepolisian, thriller, dan sejenisnya. Tapi bagus juga sih supaya tidak terlalu menye-menye. He he he.

  • The Healer (2014). Ini muncul dalam suggestion di layar saya. Saya tunda-tunda, tapi akhirnya ditonton juga. Seri lama ini ternyata bagus banget dalam catatan saya. Lawakannya pas. Spin-nya pas. Ceritanya tidak terlalu lambat. Tidak ada shot yang dibuat agar lebih panjang filmnya. Pas saja. Pemeran prianya ngganteng tidak terlalu dipermak (apa ya istilahnya). Pemeran ceweknya juga sama kerennya. Cantik. Mungkin karena masih tahun 2014 ya? Jadi belum terlalu banyak “modifikasi” wajah. ha ha ha. Nilainya 10/10.
  • Military Prosecutor DOBERMAN (2022). Yang ini seru juga meskipun ada banyak yang mengada-ada. Lawakannya pun kadang agak berlebihan, tapi karena tahu ini hiperbol jadinya ya lucu aja. Awalnya melihat pemeran prianya yang kayaknya pernah lihat. Maklum, saya masih belum hafal nama-nama aktor Korea. Oh ternyata Ahn Bo-hyun yang menjadi pemeran di seri “Flex n Cop” yang bodorannya juga saya sukai. Pantes. Yang ini nilainya 9,8/10.

Tautan terkait

Sepi Dalam Perjalanan Ini

Saya mencoba memahami perjalanan beberapa orang yang sukses. Ini saya lakukan melalui membaca biografinya, nonton biografinya, membaca berita-berita terkait, dan berinteraksi (kalau kenal). Dari hasil in semua saya memahami bahwa perjalan mencapai kesuksesan ini sering harus dilalui secara sendiri. Sebagian besar orang tidak paham dengan apa yang kita lakukan sehingga tidak dapat memberikan apresiasi.

Saya ambil contoh seorang yang mengambil S3. Kerjaannya apa? Membaca makalah, buku, referensi-referensi lainnya, menulis (makalah, presentasi, dokumentasi lainnya), dan melakukan pengujian (jika ada). Masalahnya ada yang terlihat hanya duduk membaca saja. Atau merenung di depan komputer. Maka banyak orang yang tidak dapat mengapresiasi ini. Apa susahnya? Ngapain kerjaannya hanya begitu? Dan seterusnya. Padahal ini BEKERJA dan SUSAH. Bagi yang tidak pernah mengalami ini tentu saja tidak dapat mengapresiasi ini.

Demikian pula seseorang yang sedang mengembangkan usahanya. Dia memiliki banyak masalah, mulai dari urusan finansial, SDM (ini yang paling susah!), operasional, dokumenasi, pembukuan (cash flow dll.), kontrak, dan seterusnya. Pokoknya mumet. Sementara orang lain terlihat senang-senang saja. Bisa tidur dengan nyenyak. Hanya memikirkan gaji sendiri. Sementar ini harus memikirkan gaji karyawan. Pusing.

Ada banyak hal lain yang kalau saya uraikan bisa menjadi sebuah buku dengan ratusan halaman. Hmmm. Sesungguhnya ini ide bagus. Hanya saja melakukannya tidak semudah ini. Ha ha ha. Ini menuliskan pokok permasalahan dari tulisan ini saja sudah menghabiskan waktu 30 menit. Ini hanya menuliskan langsung jreng saja lho. Kalau tulisan ini harus diedit ulang, diperbaiki, dan seterusnya, tidak terbayang oleh saya berapa waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan.

Nah, sekarang saya harus kembali ke buku. Membaca dulu. Let me hit my books.

Menulis Lebih Susah Daripada Membuat Video

Ini adalah hal yang saya alami saat ini, menulis (untuk blog) lebih susah daripada membuat video (untuk youtube). Mungkin ini disebabkan karena harapan atau ekspektasi menulis itu harus lebih sempurna dibandingkan dengan membuat video. Setidaknya dengan cara saya. Memang cara saya membuat video untuk YouTube adalah “shoot and upload”, rekam dan unggah tanpa ada proses sunting.

Kalau dahulu membuat video lebih sukar karena perangkatnya lebih banyak, kemampuan memproses dari perangkat juga terbatas sehingga semua harus dilakukan pada perangkat yang berbeda-beda. Mengambil video, misalnya, harus menggunakan kamera yang bagus. Merekam suara harus menggunakan alat perekam yang bagus. Penyuntingan harus di komputer dengan kemampuan komputasi (CPU, memory, disk) yang bagus. Internet yang kencang. Sekarang ini semua bisa dilakukan dengan menggunakan handphone saja, meskipun saya menggunakan komputer untuk kesemuanya ini. Walhasil, membuat video dan mengunggahnya menjadi jauh lebih mudah.

Sebagai contoh, untuk membuat tulisan ini dibutuhkan waktu lebih dari 15 menit. Sementara itu untuk membuat video saya hanya membutuhkan waktu 10 menit (atau lebih, bergantung kepada durasi dari videonya) dan kemudian mengunggahnya. Untuk menulis, selain 15 menit ini saya masih butuh waktu lagi untuk menyunting kalau-kalau masih ada yang salah seperti misalnya salah ketik.

Akibatnya blog ini menjadi kurang terurus. Apa boleh buat. Ini adalah “kemajuan” jaman.

Mengajarkan AI kepada anak-anak

Dua minggu lalu saya sempat ke Singapura. Kalau ke Singapura, biasanya saya selalu mampir ke National Public Library yang di daerah Bras Basah. Sudah lama saya tidak ke sana sehingga waktu ke sana agak terpana dengan perubahannya. Sekarang sudah banyak bagian yang lebih banyak elektroniknya. Jadi ruangannya lebih lega. Saya tidak tahu koleksi buku-bukunya digeser kemana.

Ada satu bagian di pojok yang menarik perhatian saya. Ini pojok ada tulisan “AI”, Artificial Intelligence. Wah menarik ini. Ada apa ya?

Immersive room di National Public Library – Singapura

Ternyata di sini ada satu ruangan tempat anak-anak bermain yang disebut “Immersive Room”. Ceritanya di ruangan ini kita bisa membuat cerita yang dihasilkan dengan bantuan AI, AI-powered stories. Wah. Apa ini?

Memasuki ruangan

Ternyata di ruangan itu (di bagian kiri pada foto di atas) disediakan beberapa (3?) iPad yang bisa digunakan. Ada aplikasi yang membantu kita untuk membuat sebuah cerita. Aplikasi ini menanyakan kepada kita siapa tokohnya (kucing, anak bandel, …), alur ceritanya mau seperti apa (Red Riding Hood, the boy who cries wolf, …), lokasi ceritanya (hutan, perkotaan, …), dan seterusnya sampai ke akhir ceritanya (happy ending, sad, surprise me). Nanti setelah kita selesai, maka cerita kita akan ditampilkan secara visual di layar besar yang terpampang di ruangan.

Tampilan di layar. Dari kiri ke kanan ada beberapa layar besar.
Masih tampilan layar
Tampilan layar

Kita juga dapat mengunduh (download) cerita kita yang akan disimpan sampai beberapa hari. Setelah itu ceritanya akan dihapus.

Pelajaran apa yang dapat kita peroleh dari tempat ini? Yang pertama, ini adalah upaya untuk memperkenalkan AI – lebih spesifiknya adalah generative AI – kepada anak-anak. Anak-anak menjadi lebih familier dengan AI dan tidak takut terhadap teknologi ini. Yang kedua, anak-anak diajarkan untuk kreatif dalam mencari ide cerita. Mengasah kreativitas ini sangat perlu karena ini adalah aspek dari manusia yang belum bisa tergantikan oleh AI. Belum. Entah apakah nantinya akan tergantikan.

Drakor (3)

Kembali melanjutkan catatan mengenai drama Korea yang saya tonton. Kali ini saya menonton beberapa seri sekaligus.

  • Flex X Cop. Yang ini bercerita tentang anak dari keluarga kaya yang awalnya terpaksa dijadikan polisi supaya tidak bikin gara-gara karena kebanyakan flexing. Namun ternyata dari sana malah dia bisa jadi manfaat di tim polisinya karena kemampuan dia flexingnya. ha ha ha. Ada beberapa lawakan yang menurut saya mau dijadikan dark joke tapi jadi garing. he he he. Oke lah. Bagi saya ini nilainya 9,9/10. Nyaris sempurna. Hanya biasa, jagoannya terlalu klimis. Mosok berantem dan seterusnya tetap klimis.
  • Doctor Slump. Masih berlangsung. Kayaknya bagus. Entah kenapa ini saya tonton karena rekomendasi dari Netflix. Eh, pikir-pikir ini aktris-nya kok kayak pernah lihat di film lain. Maklum masih belum bisa membedakan aktor dan aktris. Di film Sisyphus (yang saya catatkan di drakor (2)). Namanya ternyata Park Shin-hye. Dan kata orang-orang dia paling bagus di seri Doctors. Akhirnya nonton Doctors juga.
    Update: akhirnya selesai juga nonton Doctor Slump. Saya kasih nilai 9/10 deh. Sebetulnya tidak ada yang terlalu istimewa, tetapi tidak ada jeleknya juga. Lawakannya – situasi komedi – masih oke juga lah. Jadi untuk tontonan yang tidak terlalu dibuat tegang dan sekedar untuk hiburan yang menyenangkan boleh lah.
  • Doctors. Seperti list di atas, ini gara-gara rekomendasi orang-orang terkati dengan aktris Park Shin-hye. Hampir selesai nontonnya. Nilai sementara 9/10. Bagus sih tetapi ada bagian yang agak kurang riil saja, seperti misalnya dokter ngantor pakai high-heels. Asa tidak mungkin. Memang secara visual bagus, tapi jadinya malah kurang riil.
  • Wedding Impossible. Masih ditonton. Belum selesai. Sementara ini nilainya bagus. Kita tunggu apakah terus bagus. Yang saya suka adalah lead actress-nya.

Tautan terkait

Pemilu 2024 Selesai

Akhirnya Pemilu (Pemilihan Umum) 2024 selesai juga. Tulisan ini untuk mendokumentasikan beberapa hal terkait dengan Pemilu 2024 ini dari kacamata saya yang menggeluti bidang teknologi dan tertarik kepada sains. Meskipun saya akan mencoba untuk obyektif, mungkin beberapa hal akan terkesan bias. Alasan saya mendokumentasikan ini adalah untuk memberikan pencerahan dan melawan kebodohan (ketidakpedulian?) terhadap sains dan teknologi.

Quick Count (QC). Pemilu berlangsung pada tanggal (?). Pada sore harinya ada beberapa lembaga (perusahaan) yang menyelenggarakan quick count mempublikasikan hasilnya. Meskipun ini adalah hasil sementara, mengingat data pemantauan mereka masih belum masuk semua, namun sudah memberikan gambaran akan hasil akhirnya. Hari-hari selanjutnya angka hasil dari berbagai lembaga QC ini makin solid.

Ada enam lembaga QC yang mempublikasikan hasilnya untuk umum. Diyakini ada beberapa lembaga lain yang melakukan perhitungan quick count untuk kebutuhan internal. Yang menarik adalah hasil dari semua lembaga QC ini mirip-mirip sehingga dapat dikatakan sama.

Hal yang cukup mengagetkan bagi banyak orang adalah pasangan 02 ternyata memperoleh hasil berkisar 56% sampai dengan 58%. Ini melampaui banyak prediksi sebelumnya yang berkisar antara 48% sampai dengan 51%. Perlu diingat bahwa pemilu dapat dikatakan selesai dalam satu putaran jika pemenangnya melebihi dari 50%. Maka kemenangan ini dapat dikatakan telak karena cukup jauh di atas 51%.

Ada orang-orang yang tidak mempercayai hasil dari QC ini. Mana mungkin hasil sampling menunjukkan hasil yang sama dengan hasil perhitungan sesungguhnya (yang akan dilakukan oleh KPU). Maka orang-orang ini tidak mempercayai hasil QC meskipun yang melakukan proses QC ini tidak hanya satu atau dua lembaga saja, melainkan banyak dan hasilnya konsisten. Bahkan kemenangan 56% – 58% itu di atas batas toleransi kesalahan perhitungan. Bagi saya, hasil QC ini menunjukkan bahwa pemilu 2024 sudah selesai meskipun belum resmi.

Tautan: hasil dari beberapa QC https://news.detik.com/pemilu/quickcount, https://pemilu.kompas.com/quickcount

Sumber: Kompas

QC lain dari sumber link Detik

Real Count (KPU). KPU juga melakukan perhitungan dengan basis form C1 yang diperoleh dari TPS-TPS. KPU menggunakan aplikasi yang bernama SIREKAP untuk melakukan rekapitulasi dengan data dari C1 tersebut. Hasil ditampilkan pada situs: https://pemilu2024.kpu.go.id/

Proses yang dilakukan cukup memakan waktu karena proses yang dilakukan tidak berjalan mulus. Ada permasalahan terkait dengan pemindaian (scanning) formulir C1. Ada banyak terjadi kesalahan pemindaian sehingga harus dilakukan koreksi. Atas hal ini ada orang-orang yang menyangsikan hasil SIREKAP. Bahkan ada yang menuduh bahwa aplikasi ini direkayasa untuk memenangkan pasangan calon 02. Sehingga akhirnya sistem di KPU ini tidak menayangkan hasil rekapitulasi tetapi hanya menayangkan data mentah foto C1.

Dalam perjalanannya, sebelum tidak menampilkan hasil rekapitulasi sementara, hasil yang ditampilkan (belum semua data) sejalan dengan hasil yang diperoleh melalui QC. Hal ini menyebabkan ada orang yang menduga bahwa perhitungan di KPU melalui SIREKAP ini dicocok-cocokkan dengan hasil QC. Hal ini menurut saya kurang masuk akal. Bahwa hasil dari SIREKAP ini memang mirip dengan hasil QC adalah memang karena kenyataannya datanya seperti itu.

Tayangan terakhir dari SIREKAP sebelum dinon-aktifkan tayangannya

Kawal Pemilu (Kawalpemilu.org). Kawal Pemilu (KP) adalah upaya crowd sourcing untuk melakukan perhitungan dengan basis data C1 di KPU dan data pelaporan dari masyarakat (crowd). Pada awalnya banyak yang tidak memperhatikan KP ini karena lebih ramai membicarakan QC dan SIREKAP, namun dikarenakan hasil perhitungan tidak ditampilkan di KPU maka KP menjadi alterantif. Hasil tampilan di KP tidak berbentuk grafik melainkan berbentuk tabel.

Pada akhirnya hasil terakhir dari KP (tidak 100%) mirip dengan hasil QC dan SIREKAP. Lagi-lagi hal ini memunculkan tuduhan bahwa KP merupakan rekayasa dari 02.

Secara singkatnya 6 QC, SIREKAP, dan KawalPemilu menghasilkan hasil perhitungan yang mirip dengan hasil yang sama, bahwa 02 mendapatkan nilai mendekati 58%. Kita tinggal menunggu hasil perhitungan manual yang berjenjang.

Hasil tampilan terakhir dari KawalPemilu yang menunjukkan kemenangan 02 dengan 58,47%.

Hasil perhitungan manual. Pada akhirnya KPU menetapkan hasil Pemilu 2024. Hasil ini menunjukkan data yang sama dengan 6 QC, Real Count (aka SIREKAP), dan KawalPemilu. Dengan kata lain, semuanya konsisten sama.

Selamat kepada Indonesia yang berhasil menggunakan sains dan teknologi dengan baik.

[more to come]

Manajemen Waktu (Time Management)

Salah satu pertanyaan yang sering saya terima adalah bagaimana mengatur waktu saya. Hal ini disebabkan saya memiliki banyak sekali kegiatan yang terkait dengan jabatan atau non-jabatan (seperti hobby). Jawaban saya kalau dipersingkat adalah: prioritas berbasis urgensi.

Apa yang saya lakukan disusun berdasarkan prioritas yang berbasis urgensi. Jadi yang ada deadline yang didahulukan. Pendekatan seperti ini bukan yang terbaik, bahkan cenderung jelek. Sesungguhnya yang terbaik adalah prioritas berdasarkan kepentingan (importance), tapi ini tidak saya sambil karena yang cocok dengan saya – yang hyper-multi-tasking – adalah yang berbasis urgensi. Ini adalah realitas. Bukan teori.

Nah pengelolaan waktu saya juga berbeda dengan orang lain. Jadwal kegiatan atau kehidupan saya berbeda dengan kebanyakan orang. Ini yang menurut saya harus dicari oleh kebanyakan orang. Carilah yang cocok dengan diri kita sendiri. Sebagai contoh, saya biasanya bekerja pada malam hari yang cenderung mendekati tengah malam. Tulisan ini saya buat pukul 23:53. (Nanti mungkin ketika saya “publish” sudah melewatu tengah malam dan bahkan sudah berganti hari.)

Kenapa waktu saya seperti ini? Karena kegiatan saya dimulai dari pagi sekali dan terus berlanjut sampai maghrib. Kadang ada 3 kelas. Kadang ada 2 kelas ditambah 2 rapat. Pokoknya padat lah. Setelah Maghrib maka saya sudah sangat lelah. Badan saya harus istirahat dulu. Maka saya istirahat dahulu. Itulah sebabnya saya baru dapat bangun lagi ketika sudah mendekati tengah malam.Jika saya ingin berubah, maka kegiatan harian saya harus sangat dikurangi. Misalnya hanya mengajar 1 kelas dan/atau 1 rapat saja. Maka pada siang hari saya memiliki banyak jeda waktu dan sore hari sudah bisa mengistirahatkan badan.

Lagi-lagi hal pola seperti ini hanya cocok untuk saya. Tidak disarankan untuk orang lain. Jika Anda mencoba cara saya ini, ada kemungkinan malah jadi kacau balau time management Anda. ha ha ha. Ini hanya untuk menunjukkan bahwa ada banyak jalan menuju Roma. Pilihlah jalan yang paling cocok untuk Anda.

Drakor (2)

Ini sekedar catatan saya tentang beberapa drama Korea (drakor) yang saya tonton. Ada beberapa orang yang bertanya kepada saya apa saja yang layak tonton. Kemarin-kemarin ada beberapa yang tidak saya catatkan jadi lupa.

Ini yang sedang saya tonton.

  • Sisyphus. Ini drakor science fiction. Saya suka, tapi banyak yang tidak suka karena lawakannya sedikit. Hal yang saya kurang suka adalah ada beberapa hal yang agak kayak ingin niru Ironman. Sementara ini nilai saya 9/10. Setelah sampai selesai, banyak yang agak membingungkan jadi nilainya turun menjadi 8/10.
  • Stranger. Awalnya menarik, kemudian kok jadi membosankan, tapi ditahan terus dan akhirnya menjadi menarik. Session 1 saya suka. Bahkan menurut saya ini malah bisa jam 9,5/10. Session 2 baru saya mulai tetapi kok jadi membosankan lagi ya.
  • Flex X Cop. Nunggu selesai episodenya.
  • Marry my husband. Juga nunggu selesai episodenya.

Yang sudah selesai ditonton.

  • Life on Mars. Sebetulnya ini perlu dibuatkan cerita tersendiri. Ini cerita seri yang sama dengan judul yang sama di Inggris dan Amerika. Semuanya bagus-bagus. Menurut saya sih ini 10/10. Ya kurang-kurang dikitlah. Tapi saya suka sekali. Versi yang paling bagus bagi saya adalah versi yang Amerika meskipun yang berkultural adalah versi yang Inggris. Jadi rankingnya adalah versi Amerika, Inggris, dan Korea. Semuanya bagus. 10/10.

Tautan terkait